Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 14956 | 02 Apr 2025
Klinis : Pasien mengeluh akhir akhir ini tidak nafsu makan bibir tampak pucat, dan perut terasa nyeri ketika ditekan bagian atas perut, pasien juga mengatakan bawa badan sring merasa lemas, kepala terasa berat ketika terbangun di tempat tidur, dan akhir ini pasien selalu dipukul oleh suaminya dan mengalami gejala ketakutan apa diagnosa medis perawat?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda sampaikan, berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI yang sesuai dengan standar Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
2. Nyeri Akut
3. Kelelahan
4. Risiko Cidera Fisik
Penjelasan:
1. Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
- SDKI: Ketidakseimbangan antara asupan dan kebutuhan nutrisi yang menyebabkan berat badan di bawah nilai normal.
- SLKI: Peningkatan berat badan, Peningkatan asupan nutrisi, Peningkatan nafsu makan.
- SIKI: Monitoring asupan nutrisi, Pemberian dukungan nutrisi, Edukasi terkait nutrisi.
2. Nyeri Akut
- SDKI: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial.
- SLKI: Penurunan nyeri, Peningkatan kemampuan mengatasi nyeri, Peningkatan kenyamanan.
- SIKI: Manajemen nyeri, Pemberian analgesik, Pengkajian nyeri.
3. Kelelahan
- SDKI: Pengalaman subyektif yang berkepanjangan dan tidak menyenangkan terkait dengan penurunan kapasitas untuk bekerja dan melakukan aktivitas.
- SLKI: Peningkatan energi, Peningkatan pemulihan, Peningkatan kemampuan beraktivitas.
- SIKI: Manajemen energi, Pemberian dukungan istirahat, Edukasi terkait manajemen kelelahan.
4. Risiko Cidera Fisik
- SDKI: Berada dalam kondisi yang dapat menyebabkan cedera fisik.
- SLKI: Peningkatan keamanan, Penurunan risiko cedera, Peningkatan perilaku mencegah cedera.
- SIKI: Pencegahan risiko cedera, Manajemen lingkungan aman, Edukasi terkait keamanan.
Berdasarkan kondisi yang dipaparkan, pasien tampaknya mengalami masalah gizi, nyeri, kelelahan, serta risiko cidera fisik akibat kekerasan dari suaminya. Oleh karena itu, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah sebagaimana tercantum di atas. Perawat perlu melakukan pengkajian komprehensif, intervensi yang sesuai, serta pemantauan yang berkala untuk membantu pasien mengatasi masalah kesehatannya. -
Article No. 14957 | 02 Apr 2025
Klinis : Seorang perempuan 70 tahun, dibawa ke IGD oleh keluarganya, setelah mengalami gejala BAK yang sangat banyak, dan rasa haus, dan ingin minum terus-menerus. Berdasarkan laporan keluarga, diketahui pasien telah dua minggu mengalami kehilangan nafsu makan, dan sebelumnya sehat, selain itu pasien memiliki riwayat diabetes mellitus yang terdiagnosis dalam satu bulan terakhir. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium jumlah leukosit, neutrofil, C-RP, glukosa darah dan enzim kardiovaskular mengalami peningkatan yang tinggi. Glukosa urin (+++), namun keton (-). Dari hasil pemeriksaan, pasien dinyatakan mengalami pneumonia. Hasil pemeriksaan fisik dan lab saat ini adalah sebagai berikut: Suhu tubuh = 39o C; HR = 110 x/menit, lemah; RR = 27x/menit; TD = 100/65 mmHg. Tingkat kesadaran mengalami penurunan. Leukosit 20.000/mm3, glukosa darah sewaktu = 800 mg/dl, serum osmolaritas = 342,1 mOsm/L, Na = 120 mEq/L, K = 4 mEq/L, BUN 56,5 mg/dL, creatinine 2,87 mg/dL. Turgor kulit menurun, membran mukosa kering. Seorang perempuan 70 tahun, dibawa ke IGD oleh keluarganya, setelah mengalami gejala BAK yang sangat banyak, dan rasa haus, dan ingin minum terus-menerus. Berdasarkan laporan keluarga, diketahui pasien telah dua minggu mengalami kehilangan nafsu makan, dan sebelumnya sehat, selain itu pasien memiliki riwayat diabetes mellitus yang terdiagnosis dalam satu bulan terakhir. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium jumlah leukosit, neutrofil, C-RP, glukosa darah dan enzim kardiovaskular mengalami peningkatan yang tinggi. Glukosa urin (+++), namun keton (-). Dari hasil pemeriksaan, pasien dinyatakan mengalami pneumonia. Hasil pemeriksaan fisik dan lab saat ini adalah sebagai berikut: Suhu tubuh = 39o C; HR = 110 x/menit, lemah; RR = 27x/menit; TD = 100/65 mmHg. Tingkat kesadaran mengalami penurunan. Leukosit 20.000/mm3, glukosa darah sewaktu = 800 mg/dl, serum osmolaritas = 342,1 mOsm/L, Na = 120 mEq/L, K = 4 mEq/L, BUN 56,5 mg/dL, creatinine 2,87 mg/dL. Turgor kulit menurun, membran mukosa kering.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang dipaparkan, saya dapat memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) sebagai berikut:
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan nafsu makan, status hiperglikemia, dan dehidrasi.
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan kondisi umum dan kelemahan.
3. Risiko infeksi berhubungan dengan pneumonia dan kondisi imunitas yang terganggu.
4. Risiko gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebihan.
Penjelasan Singkat:
1. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
- SDKI: Keadaan individu dengan asupan nutrisi yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
- SLKI: Pemulihan status nutrisi yang efektif.
- SIKI: Manajemen nutrisi, Asuhan keperawatan nutrisi.
2. Intoleransi aktivitas
- SDKI: Keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik yang diinginkan atau diperlukan, akibat ketidakcukupan energi.
- SLKI: Peningkatan toleransi aktivitas.
- SIKI: Manajemen energi, Manajemen aktivitas.
3. Risiko infeksi
- SDKI: Kerentanan individu terhadap invasi dan multiplikasi organisme patogen.
- SLKI: Pencegahan infeksi.
- SIKI: Manajemen infeksi, Terapi infeksi.
4. Risiko gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
- SDKI: Kerentanan individu terhadap perubahan volume cairan, elektrolit, dan asam-basa yang dapat mengancam kesehatan.
- SLKI: Pemulihan keseimbangan cairan dan elektrolit.
- SIKI: Manajemen cairan, Manajemen elektrolit.
Secara keseluruhan, kondisi pasien menunjukkan adanya komplikasi diabetes mellitus yang disertai pneumonia, sehingga perlu penatalaksanaan yang komprehensif terkait asupan nutrisi, aktivitas, manajemen infeksi, serta keseimbangan cairan dan elektrolit. -
Article No. 14958 | 02 Apr 2025
Klinis : Seorang laki laki mengeluh bahwa alat vital terasa sakit setelah berhubungan intim dengan pacarnya, setlah itu laki² tersebut juga menceritakan keluhan yng akhir² ini ia temui seperti sakit tenggorokan, pusing, dan badan terasa lemah tidak nafsu makan drastis, setalah diagnosis dokter bahwa laki-laki tersebut terjangkit hiv, apa diagnosa perawat untuk mencegah penyakit itu
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai seorang perawat profesional, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yang dikeluarkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi yang Anda paparkan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Infeksi terkait paparan penyakit menular seksual (HIV/AIDS) ditandai dengan adanya keluhan sakit pada alat vital setelah berhubungan intim, serta gejala-gejala tambahan seperti sakit tenggorokan, pusing, dan badan terasa lemah.
Penjelasan Singkat:
SDKI:
- Risiko Infeksi: Kerentanan terhadap invasi dan multiplikasi organisme patogen yang dapat menimbulkan kerusakan sel atau jaringan.
- Kriteria Diagnostik: Adanya paparan sumber infeksi, gejala-gejala infeksi, dan hasil pemeriksaan penunjang yang positif.
SLKI:
- Kontrol Infeksi: Kemampuan individu untuk mencegah atau mengendalikan infeksi.
- Hasil yang Diharapkan: Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi, tidak terjadi komplikasi, dan mampu melakukan tindakan pencegahan infeksi.
SIKI:
- Manajemen Risiko Infeksi: Intervensi untuk mengidentifikasi, menilai, dan mengurangi risiko infeksi pada klien.
- Aktivitas Keperawatan: Edukasi tentang pencegahan penularan penyakit menular seksual, promosi perilaku hidup sehat, dan pemantauan gejala infeksi.
Sebagai perawat, saya akan bekerja sama dengan tim kesehatan lainnya untuk memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan berfokus pada pencegahan penularan infeksi HIV/AIDS pada klien. Tujuannya adalah membantu klien mencapai kontrol infeksi yang optimal dan mencegah komplikasi yang dapat terjadi. -
Article No. 14959 | 02 Apr 2025
Klinis : Pasien datang dengan keluhan pusing akibat terbentur jatuh dari sepeda motor, dan ia mual muntah hasil pengkajian pasien juga mengatakan sedikit lupa ingatan kejadian dia jatuh dan mata terasa berkunang kunang
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Cedera Kepala Traumatik
Penjelasan: Pasien menunjukkan gejala-gejala yang mengindikasikan adanya kemungkinan cedera kepala traumatik akibat terjatuh dari sepeda motor, seperti pusing, mual-muntah, lupa ingatan, dan mata berkunang-kunang. Ini merupakan kondisi yang perlu mendapat perhatian dan penanganan keperawatan yang tepat.
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
- Definisi: Rentan mengalami kerusakan struktur dan fungsi otak akibat trauma eksternal.
- Karakteristik Utama: Manifestasi klinis cedera kepala, seperti pusing, mual-muntah, kehilangan kesadaran, dan perubahan perilaku.
- Faktor Risiko: Riwayat trauma kepala, jatuh, atau kecelakaan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan: Pasien tidak mengalami komplikasi akibat cedera kepala dan dapat kembali ke fungsi sebelumnya.
- Indikator: Tidak terjadi peningkatan tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial, tidak terjadi penurunan kesadaran, dan tidak terjadi komplikasi lainnya.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi Utama: Pemantauan tanda-tanda vital, pemantauan neurologis, manajemen nyeri, dan edukasi pasien/keluarga.
- Intervensi Lainnya: Pemberian oksigen, manajemen mual-muntah, dan mobilisasi dini yang aman.
Dengan pendekatan SDKI-SLKI-SIKI, perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan terstandar untuk mengatasi risiko cedera kepala traumatik pada pasien. -
Article No. 14960 | 02 Apr 2025
Klinis : Pasien datang dengan keluhan tidak bisa buang air kencing dikarenakan takut dan cemas, pasien juga mengatakan ia ingin dipasang kateter tetapi setelah dipasang alat vital pasien sedikit kurang nyaman dana da pendarahan saat pemasukan kateter pasien seperti keringat dingin jika dimalam hari, tekanan darah rendah dan kepala sedikit berat rasanya ngantuk dan ingin tidur menerus, pasien juga mengatakan ia merasa tidak lapar tetapi jika makan ia juga mengalami muntah terus menerus
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat dari SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) untuk kondisi pasien yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Retensio Urin berhubungan dengan cemas dan takut buang air kecil.
2. Ketidakefektifan Pengeluaran Urin berhubungan dengan rasa tidak nyaman dan pendarahan saat pemasangan kateter.
3. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan lemah, ngantuk, dan rendahnya tekanan darah.
4. Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh berhubungan dengan anoreksia dan muntah.
Penjelasan Singkat:
1. Retensio Urin berhubungan dengan cemas dan takut buang air kecil:
SDKI: Ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih secara lengkap.
SLKI: Kemampuan untuk mengosongkan kandung kemih secara lengkap.
SIKI: Intervensi yang dapat dilakukan adalah memberikan informasi, menurunkan kecemasan, dan memfasilitasi eliminasi urin.
2. Ketidakefektifan Pengeluaran Urin berhubungan dengan rasa tidak nyaman dan pendarahan saat pemasangan kateter:
SDKI: Gangguan dalam pengeluaran urin.
SLKI: Kemampuan untuk mengosongkan kandung kemih secara efektif.
SIKI: Intervensi yang dapat dilakukan adalah memasang kateter dengan teknik aseptik, memantau intake dan output, serta mengelola komplikasi terkait kateter.
3. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan lemah, ngantuk, dan rendahnya tekanan darah:
SDKI: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin.
SLKI: Kemampuan untuk melakukan aktivitas rutin.
SIKI: Intervensi yang dapat dilakukan adalah memantau tanda-tanda vital, mengatur aktivitas, dan memberikan dukungan.
4. Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh berhubungan dengan anoreksia dan muntah:
SDKI: Asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
SLKI: Keseimbangan antara asupan dan kebutuhan nutrisi.
SIKI: Intervensi yang dapat dilakukan adalah mengevaluasi asupan nutrisi, mengatasi mual dan muntah, serta memantau status nutrisi.
Harap diperhatikan bahwa diagnosis keperawatan dan penjelasan singkat ini didasarkan pada informasi yang Anda berikan. Evaluasi dan penanganan lebih lanjut harus dilakukan oleh perawat profesional setelah melakukan pengkajian yang lebih komprehensif terhadap kondisi pasien. -
Article No. 14934 | 01 Apr 2025
Klinis : pasien BAB cair > 5x sejak semalam, pagi ini muntah >3x setiap diberi makan. Pasien demam mulai pagi ini jam 7
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda paparkan, berikut adalah Diagnosa Keperawatan, penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Diare akut
2. Risiko dehidrasi
3. Intoleransi makanan
Penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI:
1. Diare akut
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Pengeluaran feses cair lebih dari 3 kali per hari dengan volume yang berlebihan.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Frekuensi BAB kembali normal, konsistensi feses kembali normal, dan tidak ada tanda-tanda dehidrasi.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Pemantauan tanda-tanda vital, pemberian cairan elektrolit, pengaturan diet, dan edukasi tentang diare.
2. Risiko dehidrasi
- SDKI: Kondisi yang menunjukkan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit yang berpotensi terjadi.
- SLKI: Keseimbangan cairan dan elektrolit terpenuhi, tanda-tanda vital dalam batas normal, dan tidak ada tanda-tanda dehidrasi.
- SIKI: Pemantauan tanda-tanda vital, pemberian cairan intravena, edukasi tentang dehidrasi, dan pengaturan diet.
3. Intoleransi makanan
- SDKI: Kondisi di mana tubuh menunjukkan respons negatif terhadap makanan atau zat gizi tertentu.
- SLKI: Tidak ada tanda-tanda intoleransi makanan, tidak ada mual atau muntah, dan asupan makanan sesuai dengan kebutuhan.
- SIKI: Pengaturan diet, pemberian antiemetik, pemantauan tanda-tanda vital, dan edukasi tentang intoleransi makanan.
Dengan tone = akademis, persona = pakar, dan nurse, diharapkan penjelasan ini dapat membantu Anda memahami Diagnosa Keperawatan dan standar SDKI - SLKI - SIKI yang sesuai dengan kondisi pasien. -
Article No. 14935 | 01 Apr 2025
Klinis : Ganguan mobilitas fisik
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi gangguan mobilitas fisik.
Diagnosa Keperawatan:
Gangguan Mobilitas Fisik
Definisi SDKI:
Gangguan Mobilitas Fisik adalah keterbatasan dalam pergerakan fisik yang disebabkan oleh adanya penurunan kekuatan, ketahanan, koordinasi, atau kontrol otot.
Faktor yang Berhubungan SDKI:
1. Gangguan muskuloskeletal
2. Gangguan neurologis
3. Gangguan kardiovaskular
4. Gangguan respirasi
5. Usia lanjut
Gejala dan Tanda SDKI:
1. Keterbatasan rentang gerak sendi
2. Penurunan kekuatan otot
3. Penurunan koordinasi gerak
4. Penurunan keseimbangan
5. Kelelahan yang mudah terjadi
Tujuan SLKI:
1. Meningkatkan kemampuan pergerakan fisik
2. Meningkatkan kemandirian dalam aktivitas sehari-hari
3. Mencegah komplikasi akibat immobilitas
Intervensi SIKI:
1. Latihan rentang gerak sendi
2. Latihan kekuatan otot
3. Latihan koordinasi gerak
4. Terapi posisi
5. Manajemen energi
Jadi, dalam kondisi gangguan mobilitas fisik, perawat dapat menggunakan SDKI, SLKI, dan SIKI sebagai panduan dalam menegakkan diagnosa, menetapkan tujuan, dan melakukan intervensi keperawatan yang tepat untuk membantu pasien meningkatkan kemampuan pergerakan fisik dan kemandirian dalam aktivitas sehari-hari. -
Article No. 14936 | 01 Apr 2025
Klinis : fase anger
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Dengan mempertimbangkan informasi yang Anda berikan, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis yang sesuai untuk kondisi fase anger:
1. Kode ICD-10:
- Kode: F43.8
- Deskripsi: Reaksi stres berat lainnya
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
Tidak ada kode ICD-9-CM spesifik untuk fase anger. Dalam kasus ini, penanganan yang mungkin dilakukan adalah terapi psikologis atau konseling, yang tidak memiliki kode prosedur ICD-9-CM yang spesifik.
Penjelasan:
- Kode ICD-10 F43.8 (Reaksi stres berat lainnya) adalah kategori yang mencakup berbagai reaksi stres berat, termasuk fase anger atau marah. Dalam konteks medis, fase anger dapat menjadi bagian dari respons stres yang parah, yang dapat mempengaruhi kesehatan mental dan fisik seseorang.
- Penanganan fase anger biasanya melibatkan intervensi psikologis, seperti terapi kognitif-perilaku, konseling, atau teknik manajemen stres. Namun, tidak ada kode ICD-9-CM prosedur yang secara spesifik mewakili penanganan fase anger, karena intervensi ini biasanya dilakukan oleh tenaga profesional kesehatan mental, seperti psikolog atau konselor, yang tidak selalu tercatat dalam rekam medis klinis. -
Article No. 14937 | 01 Apr 2025
Klinis : fase anger
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Kemarahan (Anger)
Definisi:
Kemarahan adalah perasaan emosional yang kuat dan intens yang disebabkan oleh perasaan terancam, terluka, atau frustrasi. Kemarahan dapat menyebabkan perilaku agresif, penarikan sosial, atau perilaku yang menghancurkan diri sendiri.
Etiologi:
1. Peristiwa atau situasi yang dipersepsikan sebagai ancaman, ketidakadilan, atau frustrasi.
2. Masalah kesehatan mental, seperti depresi atau gangguan bipolar.
3. Pengalaman masa lalu yang tidak terselesaikan.
4. Gaya koping yang tidak adaptif.
Karakteristik Definisi:
1. Perubahan fisiologis (misalnya, peningkatan nadi, tekanan darah, atau aktivitas otot).
2. Perubahan emosional (misalnya, perasaan frustrasi, tersinggung, atau marah).
3. Perubahan perilaku (misalnya, agresif, menarik diri, atau merusak).
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Manajemen Kemarahan
- Identifikasi pemicu kemarahan
- Ajarkan teknik relaksasi dan pengalihan
- Fasilitasi pengungkapan emosi secara konstruktif
- Ajarkan kemampuan komunikasi asertif
Hasil yang Diharapkan (SLKI):
1. Klien mampu mengidentifikasi pemicu kemarahan.
2. Klien mampu mengelola kemarahan dengan menggunakan teknik relaksasi dan pengalihan.
3. Klien mampu mengungkapkan emosi secara konstruktif.
4. Klien mampu berkomunikasi secara asertif.
Dokumentasi (SDKI):
1. Kemarahan
2. Perubahan fisiologis
3. Perubahan emosional
4. Perubahan perilaku
Penjelasan singkat:
Diagnosa keperawatan Kemarahan (Anger) merupakan respon emosional yang kuat dan intens yang dapat disebabkan oleh perasaan terancam, terluka, atau frustrasi. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah Manajemen Kemarahan, yang meliputi identifikasi pemicu kemarahan, pengajaran teknik relaksasi dan pengalihan, fasilitasi pengungkapan emosi secara konstruktif, serta pengajaran kemampuan komunikasi asertif. Hasil yang diharapkan adalah klien mampu mengidentifikasi pemicu kemarahan, mengelola kemarahan dengan teknik relaksasi dan pengalihan, mengungkapkan emosi secara konstruktif, serta berkomunikasi secara asertif. -
Article No. 14938 | 01 Apr 2025
Klinis : fase anger
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran yang diharapkan, serta intervensi keperawatan yang diperlukan untuk kondisi pasien yang mengalami fase anger, dengan tone akademis dan persona sebagai seorang pakar keperawatan.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai untuk Kondisi Fase Anger:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi pasien yang mengalami fase anger berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) adalah "Koping Tidak Efektif". Fase anger atau kemarahan merupakan salah satu dari lima tahap reaksi emosional yang dialami oleh individu yang menghadapi situasi sulit atau krisis, seperti yang diuraikan dalam teori tentang tahap-tahap berkabung. Koping Tidak Efektif didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk melakukan adaptasi kognitif, perilaku, dan/atau emosional yang bertujuan untuk mengatasi atau mengendalikan faktor penyebab stres.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah diberikan asuhan keperawatan yang komprehensif, diharapkan pasien dapat menunjukkan luaran sebagai berikut:
1. Ekspresi Emosi Terkendali: Pasien dapat menunjukkan ekspresi emosi yang tepat dan sesuai dengan situasi, tidak berlebihan atau meledak-ledak.
2. Koping Efektif: Pasien dapat menerapkan strategi koping yang adaptif untuk mengatasi perasaan marah atau kesal, sehingga dapat mengendalikan emosinya.
3. Kemampuan Pemecahan Masalah: Pasien dapat mengidentifikasi sumber masalah dan mencari solusi yang tepat untuk mengatasi situasi yang memicu kemarahan.
4. Stabilitas Emosional: Pasien dapat mencapai kondisi emosional yang stabil dan tidak mudah terprovokasi oleh rangsangan yang dapat memicu kemarahan.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai luaran yang diharapkan, berikut adalah intervensi keperawatan yang diperlukan berdasarkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI):
1. Terapi Kognitif: Membantu pasien mengidentifikasi dan memodifikasi pola pikir, persepsi, dan keyakinan yang maladaptif sehingga dapat mengurangi intensitas dan frekuensi perasaan marah.
2. Manajemen Stres: Memfasilitasi pasien untuk menerapkan teknik-teknik manajemen stres, seperti relaksasi, meditasi, atau aktivitas fisik, untuk mengelola perasaan marah dan mencapai kondisi emosional yang seimbang.
3. Komunikasi Terapeutik: Menjalin hubungan saling percaya dan komunikasi yang efektif dengan pasien, serta memfasilitasi pasien untuk mengekspresikan perasaan dan pemikirannya dengan cara yang konstruktif.
4. Konseling: Memberikan dukungan dan bimbingan kepada pasien untuk menemukan strategi koping yang sesuai dengan situasi yang memicu kemarahan, serta membantu pasien mengembangkan kemampuan pemecahan masalah.
5. Edukasi: Memberikan edukasi kepada pasien mengenai fase-fase reaksi emosional, dinamika emosi, serta pentingnya mengelola kemarahan dengan cara yang sehat dan adaptif.
Melalui penerapan intervensi keperawatan yang komprehensif dan berpusat pada pasien, diharapkan pasien dapat mencapai luaran yang diharapkan, yaitu ekspresi emosi yang terkendali, koping yang efektif, kemampuan pemecahan masalah, serta stabilitas emosional yang baik.