Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 15033 | 07 Apr 2025
Klinis : Seorang remaja perempuan berusia 15 tahun bernama Nn. RY bersama orang tuanya mengunjungi RSUD Cempaka Putih dengan keluhan tidak mendapatkan menstruasi pertama pada usia 15 tahun dan tidak adanya perkembangan payudara atau karakteristik seks sekunder. Nn. RY terlihat cemas dan gelisah karena hal tersebut merasa dirinya berbeda dengan remaja pada umumnya dan takut akan hal buruk yang terjadi pada dirinya. Dalam pemeriksaan fisik, pasien menunjukkan TD: 119/82, N: 89 x/mnt, RR: 20 x/mnt, SpO2: 100%, obesitas dan perkembangan payudara yang sesuai dengan Tanner stage V, namun tidak ada tanda-tanda virilisasi atau kelainan pada genitalia eksternal. Menstruasi belum pernah terjadi, meskipun terdapat catatan percepatan pertumbuhan sekitar 1,5-2 tahun sebelum kunjungan. Analisis laboratorium menunjukkan hipogonadisme hipergonadotropik dengan tingkat oestradiol rendah, pemeriksaan pencitraan mendapati uterus kecil tanpa ovarium yang terdeteksi, dan pasien positif menderita amenorrhea primer.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosis keperawatan yang sesuai untuk kondisi Nn. RY adalah:
1. Diagnosis Keperawatan (SDKI): Gangguan Citra Tubuh
Penjelasan: Nn. RY mengalami gangguan citra tubuh ditandai dengan kecemasan dan kegelisahan karena merasa berbeda dengan remaja pada umumnya dan takut akan hal buruk yang terjadi pada dirinya. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya menstruasi pertama dan perkembangan karakteristik seks sekunder yang tidak sesuai dengan usia.
2. Diagnosis SLKI: Kesejahteraan Emosional Terganggu
Penjelasan: Nn. RY mengalami gangguan kesejahteraan emosional yang ditandai dengan kecemasan dan kegelisahan akibat kondisi medisnya yang belum jelas. Hal ini dapat mempengaruhi kemampuan Nn. RY dalam beradaptasi dan mengelola emosinya secara efektif.
3. Diagnosis SIKI: Manajemen Disfungsi Seksual
Penjelasan: Nn. RY mengalami disfungsi seksual berupa amenorrhea primer dan keterlambatan perkembangan karakteristik seks sekunder. Hal ini memerlukan intervensi keperawatan yang tepat untuk membantu Nn. RY dalam mengelola kondisi seksualnya dengan baik.
Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat dapat menggunakan standar praktik keperawatan (SDKI, SLKI, SIKI) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) sebagai panduan dalam menentukan diagnosis, intervensi, dan hasil yang diharapkan. Dengan pendekatan yang holistik dan berpusat pada pasien, perawat dapat membantu Nn. RY dalam mengatasi masalah kesehatan yang dihadapinya. -
Article No. 15034 | 07 Apr 2025
Klinis : SLKI: Perfusi serebral meningkat Indikator SLKI: Kesadaran membaik GCS meningkat Tanda vital stabil Tidak ada tanda peningkatan tekanan intrakranial SIKI: Manajemen Neurologis Intervensi & Rasional: Intervensi SIKI Rasional Pantau tingkat kesadaran (GCS) secara berkala Mengkaji perkembangan perfusi otak Observasi tanda vital dan status neurologis Perubahan dapat menunjukkan kondisi otak Posisi kepala 30 derajat Membantu menurunkan tekanan intrakranial Kolaborasi pemberian terapi oksigen Meningkatkan oksigenasi jaringan otak
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan: Perfusi Serebral Meningkat
Penjelasan singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Perfusi Serebral Meningkat merupakan kondisi individu dengan peningkatan aliran darah ke otak, ditandai dengan kesadaran membaik, peningkatan skor GCS, stabilnya tanda vital, dan tidak ada tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan pada kondisi ini adalah Perfusi Serebral Meningkat, dengan indikator SLKI yaitu kesadaran membaik, GCS meningkat, tanda vital stabil, dan tidak ada tanda peningkatan tekanan intrakranial.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang sesuai adalah Manajemen Neurologis, dengan rasional untuk memantau perkembangan perfusi otak melalui pemantauan tingkat kesadaran dan status neurologis, serta melakukan intervensi untuk mempertahankan dan meningkatkan perfusi serebral, seperti pengaturan posisi kepala dan kolaborasi pemberian terapi oksigen.
Perawat perlu melakukan pengkajian dan pemantauan yang komprehensif terhadap kondisi pasien untuk memastikan perfusi serebral tetap optimal dan mencegah komplikasi lebih lanjut. -
Article No. 15035 | 07 Apr 2025
Klinis : SLKI: Perfusi serebral meningkat Indikator SLKI: Kesadaran membaik GCS meningkat Tanda vital stabil Tidak ada tanda peningkatan tekanan intrakranial SIKI: Manajemen Neurologis Intervensi & Rasional: Intervensi SIKI Rasional Pantau tingkat kesadaran (GCS) secara berkala Mengkaji perkembangan perfusi otak Observasi tanda vital dan status neurologis Perubahan dapat menunjukkan kondisi otak Posisi kepala 30 derajat Membantu menurunkan tekanan intrakranial Kolaborasi pemberian terapi oksigen Meningkatkan oksigenasi jaringan otak
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan: Peningkatan Perfusi Serebral
Penjelasan singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Peningkatan perfusi serebral merupakan diagnosa keperawatan yang menggambarkan kondisi dimana terjadi peningkatan aliran darah ke otak, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti peningkatan tekanan darah, penurunan tekanan intrakranial, atau perbaikan kondisi neurologis.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan pada kondisi peningkatan perfusi serebral adalah:
1. Kesadaran membaik: Pasien menunjukkan peningkatan tingkat kesadaran yang dapat diukur dengan Glascow Coma Scale (GCS).
2. GCS meningkat: Skor GCS pasien mengalami peningkatan, menandakan perbaikan kondisi neurologis.
3. Tanda vital stabil: Tanda-tanda vital, seperti tekanan darah, nadi, dan respirasi, berada dalam rentang normal.
4. Tidak ada tanda peningkatan tekanan intrakranial: Tidak ditemukan gejala-gejala yang menunjukkan adanya peningkatan tekanan di dalam rongga tengkorak.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengelola peningkatan perfusi serebral adalah:
1. Pantau tingkat kesadaran (GCS) secara berkala: Untuk mengkaji perkembangan perfusi otak.
2. Observasi tanda vital dan status neurologis: Perubahan tanda vital dan kondisi neurologis dapat menunjukkan perubahan pada fungsi otak.
3. Posisikan kepala 30 derajat: Untuk membantu menurunkan tekanan intrakranial.
4. Kolaborasi pemberian terapi oksigen: Untuk meningkatkan oksigenasi jaringan otak.
Secara keseluruhan, pengelolaan kondisi peningkatan perfusi serebral berfokus pada pemantauan kondisi neurologis, pengaturan posisi, dan kolaborasi pemberian terapi yang bertujuan untuk menjaga stabilitas perfusi dan oksigenasi otak. -
Article No. 15036 | 07 Apr 2025
Klinis : SLKI: Perfusi serebral meningkat Indikator SLKI: Kesadaran membaik GCS meningkat Tanda vital stabil Tidak ada tanda peningkatan tekanan intrakranial SIKI: Manajemen Neurologis Intervensi & Rasional: Intervensi SIKI Rasional Pantau tingkat kesadaran (GCS) secara berkala Mengkaji perkembangan perfusi otak Observasi tanda vital dan status neurologis Perubahan dapat menunjukkan kondisi otak Posisi kepala 30 derajat Membantu menurunkan tekanan intrakranial Kolaborasi pemberian terapi oksigen Meningkatkan oksigenasi jaringan otak
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosis Keperawatan: Perbaikan Perfusi Serebral
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Perbaikan Perfusi Serebral adalah kemampuan untuk mempertahankan suplai darah dan oksigen yang adekuat ke otak.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Perfusi serebral meningkat ditandai dengan:
1. Kesadaran membaik
2. GCS meningkat
3. Tanda vital stabil
4. Tidak ada tanda peningkatan tekanan intrakranial
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Manajemen Neurologis adalah intervensi untuk mempertahankan dan meningkatkan fungsi neurologis.
Intervensi dan Rasional:
1. Pantau tingkat kesadaran (GCS) secara berkala
- Untuk mengkaji perkembangan perfusi otak
2. Observasi tanda vital dan status neurologis
- Perubahan dapat menunjukkan kondisi otak
3. Posisikan kepala 30 derajat
- Membantu menurunkan tekanan intrakranial
4. Kolaborasi pemberian terapi oksigen
- Meningkatkan oksigenasi jaringan otak
Tujuan intervensi ini adalah untuk mempertahankan dan meningkatkan perfusi serebral sehingga dapat memulihkan fungsi neurologis yang optimal. -
Article No. 15037 | 07 Apr 2025
Klinis : SLKI: Perfusi serebral meningkat Indikator SLKI: Kesadaran membaik GCS meningkat Tanda vital stabil Tidak ada tanda peningkatan tekanan intrakranial SIKI: Manajemen Neurologis Intervensi & Rasional: Intervensi SIKI Rasional Pantau tingkat kesadaran (GCS) secara berkala Mengkaji perkembangan perfusi otak Observasi tanda vital dan status neurologis Perubahan dapat menunjukkan kondisi otak Posisi kepala 30 derajat Membantu menurunkan tekanan intrakranial Kolaborasi pemberian terapi oksigen Meningkatkan oksigenasi jaringan otak
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang diberikan, dengan SLKI: Perfusi serebral meningkat dan indikatornya adalah:
1. Kesadaran membaik
2. GCS meningkat
3. Tanda vital stabil
4. Tidak ada tanda peningkatan tekanan intrakranial
Maka diagnosa keperawatan yang sesuai adalah:
SIKI: Manajemen Neurologis
Penjelasan singkat:
Diagnosa Keperawatan: Manajemen Neurologis
Definisi: Tindakan untuk mengidentifikasi dan mengendalikan gangguan pada fungsi saraf pusat.
Intervensi dan Rasional:
1. Pantau tingkat kesadaran (GCS) secara berkala
Rasional: Untuk mengkaji perkembangan perfusi otak.
2. Observasi tanda vital dan status neurologis
Rasional: Perubahan dapat menunjukkan kondisi otak.
3. Posisi kepala 30 derajat
Rasional: Membantu menurunkan tekanan intrakranial.
4. Kolaborasi pemberian terapi oksigen
Rasional: Meningkatkan oksigenasi jaringan otak.
Standar SDKI, SLKI, SIKI yang digunakan adalah standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). -
Article No. 15038 | 07 Apr 2025
Klinis : pasien datang dengan keluhan mual muntah sudah >5x, keluhan pusing lemas, bengkak pada kedua kaki sudah sejak beberapa hari, sebelumnya sekitar tanggal 17 maret - 20 maret pasien opname di RS kemudian HD, namun sampai saat ini pasien belum punya jadwal HD tetap. BAK sedikit, BAB tidak ada keluhan. RPD HT DM RPK disangkal RPO Insulin, Asam Folat, Isosorbid 5 mg, Calcium Carbonat 500 mg O: KU Lemas Kesadaran E4V5M5 CM TD 220/110 mmHg N : 93x/menit RR : 23x/menit S : 36.3*C SPO2 : 97 % on NK 3 lpm ureun dan creatinin tinggi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami kondisi sebagai berikut:
Diagnosa Keperawatan:
1. Kelebihan Volume Cairan
Penjelasan:
Pasien mengalami gejala-gejala kelebihan volume cairan, seperti mual, muntah, bengkak pada kedua kaki, serta BAK yang sedikit. Hal ini dapat disebabkan oleh kondisi penyakit yang sedang dialami pasien, seperti gagal ginjal kronis, yang menyebabkan tubuh tidak dapat membuang kelebihan cairan dengan baik.
2. Intoleransi Aktivitas
Penjelasan:
Pasien mengeluhkan kelemahan dan pusing, yang dapat menunjukkan adanya intoleransi aktivitas. Hal ini dapat disebabkan oleh kondisi penyakit yang sedang dialami pasien, seperti gagal jantung atau anemia, yang mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melakukan aktivitas.
Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang dapat digunakan untuk kondisi pasien ini:
SDKI:
- Kelebihan Volume Cairan
- Intoleransi Aktivitas
SLKI:
- Keseimbangan Cairan Terpelihara
- Toleransi Aktivitas Membaik
SIKI:
- Manajemen Cairan
- Manajemen Aktivitas
Penjelasan singkat:
- Manajemen Cairan: Intervensi keperawatan untuk memantau dan mengontrol masukan dan pengeluaran cairan dalam tubuh pasien, serta mengatasi masalah kelebihan cairan.
- Manajemen Aktivitas: Intervensi keperawatan untuk meningkatkan toleransi pasien terhadap aktivitas, serta membantu pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Catatan: Diagnosa keperawatan dan rencana asuhan keperawatan harus disesuaikan dengan kondisi klinis pasien yang lebih lengkap dan hasil pemeriksaan penunjang lainnya. -
Article No. 15001 | 06 Apr 2025
Klinis : VERNIX CASEOSA
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, saya akan memberikan kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis untuk kondisi "VERNIX CASEOSA" dengan format yang Anda minta.
1. Kode ICD-10:
- Kode: P84
- Deskripsi: Kondisi lain yang berasal dari periode perinatal
Vernix caseosa adalah lapisan tipis lemak putih yang menutupi kulit bayi baru lahir. Hal ini normal dan merupakan bagian dari perkembangan bayi selama kehamilan. Vernix caseosa berfungsi untuk melindungi kulit bayi dari cairan amnion dan berperan dalam proses kelahiran.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
Tidak ada kode ICD-9-CM yang spesifik untuk vernix caseosa, karena kondisi ini merupakan bagian normal dari perkembangan bayi dan tidak memerlukan tindakan medis khusus.
Secara umum, perawatan bayi baru lahir dengan vernix caseosa dapat dilakukan dengan membiarkan vernix caseosa tetap ada pada kulit bayi dan membersihkannya perlahan saat memandikan bayi. Tidak diperlukan tindakan medis khusus untuk menangani kondisi ini. -
Article No. 15002 | 06 Apr 2025
Klinis : BLEFAROKONJUNGTIVITIS BAKTERi
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Sebagai dokter atau perekam medis, saya akan memberikan kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis yang sesuai dengan kondisi BLEFAROKONJUNGTIVITIS BAKTERI.
1. Kode ICD-10:
- Kode: H10.0
- Deskripsi: Blefarokonjungtivitis bakteri
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 95.02
- Deskripsi: Pemberian obat antiinfeksi mata topikal
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 H10.0 (Blefarokonjungtivitis bakteri):
- Kode H10.0 dalam ICD-10 digunakan untuk mengkodekan kondisi infeksi bakteri yang menyebabkan peradangan pada kelopak mata (blepharitis) dan konjungtiva (konjungtivitis).
- Kondisi ini umumnya ditandai dengan gejala seperti mata merah, nyeri, pembengkakan, dan adanya eksudat purulen (nanah) pada mata.
2. Kode ICD-9-CM Prosedur 95.02 (Pemberian obat antiinfeksi mata topikal):
- Kode 95.02 dalam ICD-9-CM digunakan untuk mengkodekan prosedur pemberian obat antiinfeksi (antibiotik, antiseptik, atau antiviral) dalam bentuk tetes atau salep mata.
- Pemberian obat antiinfeksi mata topikal merupakan salah satu intervensi terapeutik utama dalam penanganan blefarokonjungtivitis bakteri untuk mengatasi infeksi dan mengurangi gejala.
Jadi, kode yang tepat untuk BLEFAROKONJUNGTIVITIS BAKTERI adalah kode ICD-10 H10.0 dan kode ICD-9-CM prosedur 95.02 untuk pemberian obat antiinfeksi mata topikal. -
Article No. 15003 | 06 Apr 2025
Klinis : LUKA BAKAR
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Dengan senang hati saya akan memberikan informasi terkait kode ICD-10 untuk diagnosis, serta kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis yang berkaitan dengan kondisi LUKA BAKAR.
1. Kode ICD-10:
- Kode: T20-T32
- Deskripsi: Luka Bakar dan Korosi
Pada kode ICD-10, luka bakar diklasifikasikan dalam kategori T20-T32. Kategori ini mencakup berbagai derajat dan lokasi luka bakar, termasuk luka bakar pada permukaan tubuh (T20-T25), luka bakar pada saluran pernapasan dan organ dalam (T27-T28), dan luka bakar dengan komplikasi khusus (T30-T32).
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 86.0-86.8
- Deskripsi: Debridemen, transplantasi kulit, dan prosedur lain yang terkait dengan perawatan luka bakar.
Dalam sistem klasifikasi ICD-9-CM, terdapat beberapa kode prosedur yang dapat digunakan untuk tindakan medis yang berkaitan dengan luka bakar, seperti debridemen luka (86.0-86.2), transplantasi kulit (86.6-86.7), dan prosedur lainnya yang terkait dengan perawatan luka bakar.
Penjelasan lebih detail:
- Kode 86.0-86.2 mencakup debridemen luka bakar, baik secara kimiawi, mekanis, atau dengan menggunakan laser.
- Kode 86.6-86.7 mencakup transplantasi kulit, termasuk autograf, alograf, atau xenograf, yang sering digunakan dalam penanganan luka bakar.
- Kode lain dalam kategori 86.X dapat mencakup prosedur lain seperti irigasi, aplikasi salep atau dressing, dan tindakan lainnya yang terkait dengan perawatan luka bakar.
Pemilihan kode yang tepat akan bergantung pada jenis tindakan medis yang dilakukan, serta derajat dan lokasi luka bakar pada pasien. -
Article No. 15004 | 06 Apr 2025
Klinis : Identitas Pasien: • Istri: Wanita, 29 tahun • Suami: Laki-laki, 31 tahun Riwayat Penyakit Sekarang: Pasangan telah menikah selama 3 tahun dan berusaha untuk memiliki keturunan selama 2 tahun tanpa keberhasilan. Istri mengeluhkan siklus menstruasi yang tidak teratur sejak masa remaja, dengan interval menstruasi yang berkisar antara 45–60 hari dan kadang disertai perdarahan berkepanjangan. Pasien juga melaporkan adanya jerawat dan pertumbuhan rambut yang berlebihan (hirsutisme). Suami tidak mengeluhkan adanya masalah seksual atau ejakulasi, dan tidak ada riwayat penyakit menular seksual. Riwayat Penyakit Dahulu dan Riwayat Keluarga: • Istri memiliki riwayat berat badan berlebih sejak remaja (IMT 29 kg/m2) dan pernah mendapat pengobatan topikal untuk jerawat. • Tidak ada riwayat penyakit kronis yang signifikan pada suami. • Riwayat keluarga menunjukkan adanya kasus infertilitas dan gangguan menstruasi pada pihak ibu istri. Pemeriksaan Fisik: • Istri: o Vital sign dalam batas normal. o Ditemukan obesitas ringan dengan distribusi lemak sentral. o Tanda-tanda hirsutisme (Skala Ferriman-Gallwey meningkat). o Pemeriksaan perut dan pelvis: Rahim berukuran normal, tidak terdapat massa yang teraba jelas. • Suami: o Pemeriksaan fisik umum normal. o Tidak terdapat kelainan pada pemeriksaan genital eksternal. Pemeriksaan Penunjang: 1. Laboratorium (Istri): o Profil Hormon: ▪ LH:FSH rasio 3:1 (menunjukkan peningkatan LH) ▪ Kadar testosteron total dan bebas meningkat ▪ Kadar insulin basal cenderung tinggi, mengindikasikan resistensi insulin o Hemoglobin: Dalam batas normal meskipun terdapat riwayat perdarahan berkepanjangan. 2. USG Transvaginal (Istri): o Menunjukkan ukuran ovarium yang meningkat dengan banyak folikel kecil tersebar di seluruh ovarium (penampilan “string of pearls”), sesuai dengan kriteria PCOS. 3. Analisis Sperma (Suami): o Volume, konsentrasi, motilitas, dan morfologi sperma berada dalam parameter normal. Diagnosis Sementara: • Infertilitas primer pada pasangan dengan faktor ovulasi disebabkan oleh PCOS pada istri. • Analisis sperma suami normal, sehingga faktor laki-laki tampak tidak berkontribusi terhadap kondisi infertilitas ini.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi ini:
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan Pola Reproduksi berhubungan dengan gangguan ovulasi akibat Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS)
Penjelasan SDKI, SLKI, SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Definisi: Gangguan dalam kemampuan untuk berpartisipasi dalam dan menyelesaikan aktivitas reproduksi.
- Faktor Berhubungan: Gangguan ovulasi, penyakit hormonal, disfungsi seksual.
- Karakteristik Definisi: Ketidakteraturan siklus menstruasi, perdarahan berlebihan, infertilitas, riwayat keguguran berulang.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan: Pasien dapat mempertahankan fungsi reproduksi yang efektif.
- Indikator Hasil: Stabilitas siklus menstruasi, kemampuan konsepsi, kepuasan hubungan seksual.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi Keperawatan: Edukasi tentang PCOS dan pengaruhnya terhadap fertilitas, konseling kesuburan, kolaborasi dengan dokter untuk penanganan PCOS dan infertilitas.
- Aktivitas Keperawatan: Identifikasi faktor risiko, pemantauan siklus menstruasi, pemantauan kadar hormon, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain.
Kesimpulan: Diagnosa keperawatan utama adalah Ketidakefektifan Pola Reproduksi terkait gangguan ovulasi akibat PCOS pada istri, dengan penekanan pada edukasi, konseling, serta kolaborasi dengan dokter untuk penanganan kondisi ini.