Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 22715 | 11 Nov 2025
Klinis : Klien datang ke poliklinik kebidanan pada hari Kamis, 6 November 2025 pukul 09.00 WIB. Klien bermaksud berkonsultasi mengenai kehamilan ke-4 nya, karena klien mengatakan adanya ambeien, dengan karakteristik nyeri dirasakan ketika BAB, tidak berdarah, tetapi menonjol keluar ketika mengejan, kembali masuk spontan setelah tidak mengejan. Selain itu, klien mengatakan memiliki riwayat tekanan darah tinggi, yaitu ketika diperiksa berkisar di 130-160, bahkan sempat sampai 200. Klien mengatakan sering terasa sakit kepala ketika tekanan darah naik. Klien mengatakan tidak mengalami keluhan mengenai kehamilannya. Gejala dirasakan ketika bulan ke-2, yaitu mual dan sempat kurang nafsu makan.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Perifer
Kode SDKI: 0021
Deskripsi Singkat: Berisiko mengalami penurunan nutrisi dan oksigenasi pada tingkat kapiler, yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 2101
Deskripsi : Tekanan darah dalam rentang yang diharapkan. Tujuan utama dari luaran ini adalah untuk memastikan bahwa tekanan darah klien, yang memiliki riwayat hipertensi (bahkan mencapai 200 mmHg), dapat dikendalikan dan dipertahankan dalam batas yang aman untuk kehamilan, sehingga mencegah komplikasi seperti preeklampsia. Pencapaian luaran ini akan ditandai dengan pembacaan tekanan darah yang konsisten di bawah 140/90 mmHg (atau target yang ditetapkan oleh dokter), penurunan frekuensi dan intensitas keluhan sakit kepala, serta tidak adanya tanda-tanda gawat janin. Pemantauan tekanan darah yang ketat, baik di fasilitas kesehatan maupun secara mandiri, menjadi indikator kunci keberhasilan luaran ini.
Kode SIKI: 4210
Deskripsi : Manajemen Hipertensi. Intervensi ini berfokus pada serangkaian tindakan untuk membantu mengontrol tekanan darah klien. Pertama, perawat akan melakukan pemantauan tekanan darah secara teratur dan akurat, mencatat trennya, serta mengajarkan klien dan keluarganya cara memantau tekanan darah di rumah jika memungkinkan. Kedua, edukasi kesehatan merupakan pilar utama. Perawat akan memberikan penjelasan komprehensif tentang hipertensi dalam kehamilan, faktor risikonya, tanda dan gejala perburukan (seperti sakit kepala hebat, pandangan kabur, nyeri ulu hati), serta pentingnya kepatuhan terhadap terapi obat jika telah diresepkan. Klien juga akan diedukasi tentang modifikasi gaya hidup, termasuk manajemen diet rendah garam dan tinggi kalium, pentingnya hidrasi yang adequate, serta teknik relaksasi dan manajemen stres untuk mengendalikan pemicu kenaikan tekanan darah. Istirahat yang cukup, terutama tidur dalam posisi miring ke kiri untuk optimalkan aliran darah ke plasenta, juga akan dianjurkan. Seluruh intervensi ini dilakukan dengan koordinasi yang erat dengan bidan atau dokter kandungan untuk memastikan penanganan yang terintegrasi.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang timbul mendadak atau berlangsung kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 1601
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Luaran yang diharapkan adalah klien mampu mengendalikan nyeri yang dialami, khususnya nyeri pada daerah anus akibat wasir (hemoroid) saat buang air besar (BAB). Keberhasilan luaran ini ditunjukkan dengan laporan klien bahwa intensitas nyeri telah berkurang atau hilang, klien mampu menunjukkan perilaku untuk mencegah dan mengatasi nyeri (seperti tidak mengejan berlebihan), dan klien tampak nyaman, tidak gelisah, serta dapat beraktivitas tanpa terganggu oleh rasa nyeri. Skala nyeri yang dilaporkan klien akan menjadi alat ukur utama untuk mengevaluasi efektivitas manajemen nyeri.
Kode SIKI: 2160
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi ini dirancang untuk membantu klien dalam mengurangi dan mengatasi nyeri akibat wasir. Tindakan yang dilakukan meliputi: pertama, melakukan penilaian nyeri yang komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, dan faktor pemicu serta peredanya. Kedua, memberikan edukasi kepada klien tentang penyebab nyeri wasir dan langkah-langkah pencegahannya, seperti meningkatkan asupan serat dan cairan untuk melunakkan feses sehingga mengurangi kebutuhan untuk mengejan. Ketiga, menganjurkan rendam duduk (sitz bath) dengan air hangat untuk mengurangi nyeri dan ketidaknyamanan di daerah anus. Keempat, mendiskusikan posisi yang nyaman untuk duduk atau berbaring yang tidak memberikan tekanan berlebih pada daerah rektal. Kelima, kolaborasi dengan tenaga medis untuk pemberian obat topikal atau supositoria yang aman untuk ibu hamil guna mengurangi peradangan dan nyeri. Keenam, mengajarkan teknik distraksi dan relaksasi pernapasan untuk membantu mengalihkan perhatian dari sensasi nyeri selama BAB.
Kondisi: Ketidakefektifan Pola Eliminasi Feses (Konstipasi Risiko Tinggi)
Kode SDKI: 0012
Deskripsi Singkat: Gangguan atau risiko gangguan pada defekasi yang ditandai dengan kesulitan atau penurunan frekuensi BAB, feses keras, atau rasa tidak tuntas setelah BAB.
Kode SLKI: 1202
Deskripsi : Eliminasi Feses. Luaran yang diharapkan adalah klien dapat mempertahankan pola eliminasi feses yang normal dan teratur tanpa mengejan berlebihan. Tanda tercapainya luaran ini adalah klien melaporkan frekuensi BAB yang normal (sesuai pola individu), konsistensi feses yang lunak dan mudah dikeluarkan, serta tidak adanya keluhan wasir yang menonjol atau nyeri saat BAB. Klien juga diharapkan mampu mendemonstrasikan perilaku yang mendukung eliminasi normal, seperti mengonsumsi makanan berserat dan minum air yang cukup.
Kode SIKI: 0460
Deskripsi : Manajemen Konstipasi. Intervensi ini bertujuan untuk mencegah dan mengatasi konstipasi yang menjadi faktor pencetus utama keluhan wasir pada klien. Tindakan yang dilakukan meliputi: pertama, memberikan edukasi nutrisi yang mendetail, yaitu menganjurkan peningkatan asupan serat dari sumber yang aman untuk ibu hamil seperti buah-buahan (pepaya, pir), sayuran (bayam, brokoli), dan biji-bijian utuh. Kedua, menekankan pentingnya hidrasi dengan merekomendasikan konsumsi air putih minimal 8-10 gelas per hari untuk melunakkan feses. Ketiga, mendorong aktivitas fisik ringan yang aman untuk kehamilan, seperti jalan kaki rutin, untuk merangsang peristaltik usus. Keempat, edukasi tentang kebiasaan BAB yang baik, yaitu tidak menunda-nunda keinginan BAB dan menghindari duduk terlalu lama atau mengejan dengan kuat di toilet. Kelima, memantau pola BAB klien dan mencatat setiap perubahan. Jika diperlukan dan atas anjuran tenaga medis, dapat dikolaborasikan pemberian laksatif atau pelunak feses yang aman untuk ibu hamil.
-
Article No. 22716 | 11 Nov 2025
Klinis : mengatakan sulit menelan , mengelu tersedak saat makan dan minum
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Aspirasi
Kode SDKI: 00106
Deskripsi Singkat: Risiko masuknya sekret, benda padat, atau cairan (misalnya makanan, air, air liur, atau muntahan) dari traktus gastrointestinal ke dalam trakeobronkial.
Kode SLKI: 0802
Deskripsi : Keamanan menelan dan aspirasi terpelihara. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: 1) Pasien mendemonstrasikan kemampuan menelan yang aman, ditandai dengan tidak adanya batuk, tersedak, atau suara 'gurgly' setelah minum atau makan. 2) Paru-paru bersih dari suara tambahan (ronkhi/wheezing) yang mengindikasikan aspirasi. 3) Saluran napas tetap paten. 4) Pasien dan/atau keluarga mampu mendemonstrasikan posisi dan teknik yang aman untuk makan dan minum, seperti posisi duduk tegak, mengekstensi kepala sedikit ke depan (chin tuck), dan memberikan makanan dengan tekstur yang sesuai (misalnya lunak atau semi-padat). 5) Tanda-tanda vital dalam rentang normal, khususnya tidak ada takipnea atau penurunan saturasi oksigen. 6) Pasien menunjukkan peningkatan kekuatan otot menelan yang dapat diobservasi. 7) Tidak ada episode aspirasi yang terjadi selama periode perawatan.
Kode SIKI: 3240
Deskripsi : Manajemen Aspirasi. Intervensi keperawatan yang dilakukan untuk mencegah masuknya sekret, benda padat, atau cairan gastrointestinal ke dalam trakeobronkial. Tindakan ini meliputi: 1) Memposisikan pasien dalam posisi duduk tegak (90 derajat) atau setengah duduk (45-90 derajat) selama dan setidaknya 30-60 menit setelah makan. 2) Mengajarkan dan membantu pasien untuk melakukan manuver menelan yang aman, seperti menundukkan dagu (chin-tuck) sebelum dan selama menelan, yang membantu menutup saluran napas. 3) Memantau tanda-tanda aspirasi secara ketat selama makan, seperti batuk, tersedak, suara napas berbunyi (gurgling), sianosis, atau dispnea. 4) Memeriksa refleks menelan sebelum memberikan makanan atau obat oral. 5) Berkolaborasi dengan ahli gizi dan terapis wicara untuk menentukan konsistensi makanan dan cairan yang paling aman (misalnya makanan lunak, tumbuk, atau cairan kental) sesuai dengan kemampuan menelan pasien. 6) Menghisap sekret dari mulut dan faring dengan hati-hati jika diperlukan, tetapi menghindari penghisapan yang berlebihan yang dapat merangsang muntah. 7) Memberikan makan dalam porsi kecil dan suapan kecil, serta mengingatkan pasien untuk tidak berbicara saat makan. 8) Memastikan lingkungan makan yang tenang dan bebas gangguan untuk membantu konsentrasi pasien. 9) Mempertahankan kebersihan mulut yang optimal sebelum dan setelah makan untuk mengurangi risiko pneumonia aspirasi jika terjadi aspirasi sekret oral. 10) Memantau status pernapasan, termasuk suara napas dan saturasi oksigen, sebelum, selama, dan setelah makan. 11) Mendokumentasikan respons pasien terhadap makan, jenis dan jumlah makanan yang ditoleransi, serta setiap kejadian tersedak atau batuk. 12) Mengajarkan pada keluarga tentang teknik pemberian makan yang aman dan tanda-tanda aspirasi yang perlu diwaspadai.
-
Article No. 22717 | 11 Nov 2025
Klinis : natrium 120.2 mmol/L, klorida 86.6 mmol/L
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Hiponatremia dengan Hipokloremia
Kode ICD-10: E87.1
Deskripsi Singkat : Kondisi ini merujuk pada hiponatremia, yaitu kadar natrium dalam darah yang rendah (kurang dari 135 mmol/L), yang disertai dengan hipokloremia, yaitu kadar klorida dalam darah yang rendah. Nilai natrium 120.2 mmol/L dan klorida 86.6 mmol/L menunjukkan kondisi yang signifikan dan berpotensi serius. Kode ICD-10 E87.1 mengklasifikasikan "Gangguan keseimbangan elektrolit dan osmolaritas, tidak diklasifikasikan di tempat lain", yang secara spesifik mencakup hipo-osmolalitas dan hiponatremia. Hiponatremia dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti kelebihan cairan (misalnya pada SIADH, gagal jantung, sirosis), kehilangan natrium (misalnya dari diare, muntah, penggunaan diuretik), atau kondisi endokrin seperti insufisiensi adrenal. Gejalanya dapat bervariasi dari ringan (mual, sakit kepala, lemas) hingga berat (kebingungan, kejang, koma) tergantung pada tingkat keparahan dan kecepatan onset. Hipokloremia sering menyertai hiponatremia karena kedua elektrolit ini sering hilang atau terdilusi bersama-sama. Penanganan bergantung pada penyebab yang mendasari, status volume cairan pasien, dan ada tidaknya gejala neurologis yang parah, dan harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari koreksi yang terlalu cepat yang dapat menyebabkan komplikasi neurologis yang berbahaya seperti osmotic demyelination syndrome.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 22718 | 11 Nov 2025
Klinis : natrium 120.2 mmol/L, klorida 86.6 mmol/L
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hiponatremia
Kode SDKI: 0053
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SLKI: 1430
Deskripsi : Manajemen Hiponatremia. Intervensi keperawatan yang dilakukan untuk mengatasi kadar natrium serum yang rendah, termasuk memantau status neurologis, membatasi asupan cairan, memberikan larutan garam hipertonik sesuai resep, memantau respons dan komplikasi terapi, serta memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga. Perawat akan memantau tanda-tanda vital dan status mental pasien secara ketat karena hiponatremia dapat menyebabkan edema serebral. Asupan cairan akan dibatasi untuk mengurangi pengenceran natrium serum lebih lanjut. Jika diresepkan, pemberian larutan saline hipertonis (seperti NaCl 3%) dilakukan dengan sangat hati-hati melalui jalur intravena yang terkontrol, sambil terus memantau kadar natrium serum untuk menghindari koreksi yang terlalu cepat yang dapat menyebabkan komplikasi neurologis yang parah seperti mielinolisis pontin sentral. Keseimbangan cairan dipantau dengan ketat. Pasien dan keluarga juga diedukasi tentang pentingnya pembatasan cairan, tanda-tanda memburuknya kondisi yang harus diwaspadai, dan pentingnya follow-up.
Kode SIKI: 4301
Deskripsi : Monitor Tanda dan Gejala Hiponatremia. Tindakan sistematis untuk mengidentifikasi dan mendokumentasikan manifestasi klinis dari rendahnya kadar natrium dalam darah. Ini mencakup pemantauan terus-menerus terhadap status neurologis pasien, seperti tingkat kesadaran (dari letargi hingga koma), orientasi, kelemahan otot, sakit kepala, mual, muntah, agitasi, kejang, dan refleks tendon dalam. Perawat juga memantau tanda-tanda vital, khususnya pola pernapasan yang dapat mengindikasikan edema paru, dan denyut nadi. Pemeriksaan fisik difokuskan pada adanya edema perifer atau edema serebral. Pemantauan keseimbangan cairan (intake dan output) dilakukan secara akurat. Tindakan ini juga melibatkan pengamatan terhadap hasil pemeriksaan laboratorium, terutama kadar natrium serum dan osmolaritas serum, serta respons pasien terhadap terapi yang diberikan. Dokumentasi yang rinci dan berkelanjutan sangat penting untuk mengevaluasi tren kondisi pasien dan efektivitas intervensi yang dilakukan.
-
Article No. 22719 | 11 Nov 2025
Klinis : Jaringan tidak edektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Jaringan tidak efektif
Kode SDKI: 0023
Deskripsi Singkat: Jaringan tidak efektif adalah keadaan dimana seseorang mengalami gangguan pada struktur dan/atau fungsi jaringan tubuh, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti trauma, infeksi, iskemia, atau kondisi patologis lainnya. Gangguan ini mengakibatkan ketidakmampuan jaringan untuk melakukan perannya secara normal, baik sebagai pelindung, penunjang, maupun dalam proses metabolisme. Kondisi ini dapat terjadi pada berbagai jenis jaringan, termasuk kulit, mukosa, otot, tulang, dan organ dalam. Manifestasinya bervariasi, mulai dari luka terbuka (ulkus, luka bakar, luka tekan), edema, inflamasi, nekrosis, hingga gangguan integritas struktur seperti hernia atau ruptur. Diagnosa ini berfokus pada respons individu terhadap kerusakan jaringan, yang tidak hanya mencakup kerusakan fisik tetapi juga faktor-faktor yang memperlambat penyembuhan seperti status nutrisi, sirkulasi, dan adanya infeksi. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi kerentanan dan merencanakan intervensi yang komprehensif untuk memulihkan integritas jaringan sebanyak mungkin, mencegah komplikasi lebih lanjut seperti infeksi sistemik atau disfungsi organ, serta mempromosikan penyembuhan yang optimal dengan meminimalkan faktor risiko seperti tekanan berlebihan, gesekan, atau kelembaban yang tidak terkontrol.
Kode SLKI: 4201
Deskripsi : SLKI 4201 berfokus pada upaya untuk mencapai penyembuhan luka dan mengembalikan integritas jaringan. Intervensi keperawatan dalam kriteria hasil ini mencakup serangkaian tindakan yang sistematis dan terukur. Pertama, memantau karakteristik luka secara berkala, termasuk ukuran (panjang, lebar, kedalaman), warna jaringan (granulasi, slough, eschar), jumlah dan jenis eksudat (serous, serosanguinous, purulen), serta adanya bau. Kedua, melakukan perawatan luka dengan teknik aseptik untuk mencegah kontaminasi, yang meliputi pembersihan luka menggunakan larutan yang sesuai (seperti NaCl 0,9%), debridemen untuk mengangkat jaringan nekrotik yang dapat menghambat penyembuhan, dan memilih balutan yang tepat (hidrogel, foam, alginate) berdasarkan kondisi luka dan jumlah eksudat. Ketiga, melindungi kulit dan jaringan di sekitar luka dari kelembaban berlebih, gesekan, dan tekanan dengan menggunakan barrier cream atau film transparan. Keempat, memposisikan pasien untuk mendistribusikan tekanan secara merata dan menghindari titik tekanan, serta menggunakan alat bantu seperti bantal khusus atau kasur tekanan rendah/alternating. Kelima, memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai perawatan luka di rumah, tanda-tanda infeksi (kemerahan, bengkak, nyeri, panas, pus), dan pentingnya nutrisi serta hidrasi yang adekuat untuk mendukung proses regenerasi sel. Keenam, berkolaborasi dengan ahli gizi untuk memastikan asupan protein, vitamin C, dan zink yang cukup sebagai bahan baku pembentukan kolagen dan sel baru. Tindakan-tindakan ini dilakukan secara berkelanjutan dan dievaluasi perkembangannya untuk menilai efektivitas intervensi dan menentukan是否需要 perubahan rencana perawatan.
Kode SIKI: 4201
Deskripsi : SIKI 4201 merinci tindakan-tindakan spesifik yang harus dilakukan perawat untuk menangani diagnosa jaringan tidak efektif. Intervensi ini dimulai dengan pengkajian yang komprehensif, yaitu mengkaji ulang faktor-faktor yang menyebabkan gangguan jaringan (tekanan, gesekan, shear force, iskemia, inokulasi bakteri) dan mengevaluasi status sirkulasi, sensasi, dan kelembaban kulit di area yang berisiko. Selanjutnya, perawat melakukan perawatan luka dengan prinsip bersih ke kotor, membersihkan luka dari pusat ke arah luar, dan menggunakan teknik non-touch atau steril untuk luka yang dalam atau berisiko tinggi infeksi. Tindakan debridemen (autolitik, enzimatik, mekanik, atau bedah) dipilih berdasarkan jenis jaringan nekrotik dan kebijakan institusi. Pemilihan balutan didasarkan pada prinsip TIME (Tissue, Infection/Inflammation, Moisture balance, Edge of wound), misalnya menggunakan balutan hidrogel untuk luka kering dan nekrotik, balutan alginat atau foam untuk luka dengan eksudat banyak, dan balutan silver untuk luka yang terkontaminasi atau terinfeksi. Perawat juga bertanggung jawab untuk meminimalkan tekanan dengan melakukan reposisi pasien setidaknya setiap 2 jam, menggunakan bantal pengganjal pada tumit, siku, dan tulang sakrum, serta merekomendasikan permukaan tempat tidur yang khusus. Intervensi penting lainnya adalah manajemen nyeri selama perawatan luka, yang dapat melibatkan pemberian analgesik sebelum mengganti balutan sesuai instruksi dokter. Perawat juga mendokumentasikan dengan detail semua temuan, intervensi yang dilakukan, dan respons pasien, termasuk pengukuran luka secara berkala dengan teknik fotografis atau pencetakan. Edukasi kepada pasien dan keluarga mencakup pentingnya mobilisasi sesuai kemampuan, menghindari posisi yang menimbulkan tekanan langsung pada luka, serta mengenali tanda-tanda deteriorasi luka. Kolaborasi dengan tim multidisiplin, seperti dokter untuk terapi antibiotik sistemik jika ada infeksi, ahli gizi untuk suplementasi nutrisi, atau terapis fisik untuk program mobilisasi, merupakan bagian integral dari intervensi ini untuk memastikan pendekatan holistik dalam manajemen jaringan yang tidak efektif.
-
Article No. 22720 | 11 Nov 2025
Klinis : pasien dengan diagnosis chf, tampak gelisah, cemas, merasa sesak, sering menangis, berulang kali mengatakan takut meninggal dan kesepian
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: 0018
Deskripsi Singkat: Ansietas adalah suatu keadaan dimana individu atau kelompok mengalami perasaan gelisah yang samar-samar dan ketidaknyamanan atau ketakutan yang disertai dengan respons otonom (sumbernya seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu), suatu perasaan khawatir yang diakibatkan oleh antisipasi akan bahaya. Ini adalah sinyal peringatan yang memperingatkan akan ancaman yang akan datang dan memungkinkan individu untuk mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman tersebut.
Kode SLKI: 2118
Deskripsi : SLKI untuk Ansietas berfokus pada upaya untuk mengurangi tingkat kecemasan pasien dan meningkatkan mekanisme koping yang adaptif. Tujuan utamanya adalah agar tingkat ansietas klien menurun. Intervensi keperawatan yang direncanakan harus dapat diukur dan diamati. Beberapa kriteria hasil yang spesifik meliputi: Klien mampu mengidentifikasi tanda dan gejala ansietas yang dialaminya, baik secara verbal maupun non-verbal. Klien dapat mengungkapkan perasaan cemas, takut, atau khawatir yang dialami secara terbuka kepada perawat atau keluarga. Klien mendemonstrasikan kemampuan menggunakan teknik relaksasi untuk mengurangi perasaan cemas, seperti latihan napas dalam, relaksasi otot progresif, atau distraksi. Klien menunjukkan penurunan tanda-tanda fisiologis ansietas seperti frekuensi nadi dan pernapasan yang menurun, tekanan darah yang stabil, dan penurunan ketegangan otot. Klien mampu mengidentifikasi sumber atau pemicu ansietas yang dialami. Klien melaporkan perasaan lebih tenang dan mampu mengontrol perasaannya. Klien berpartisipasi dalam aktivitas atau interaksi sosial yang sebelumnya dihindari karena kecemasan. Pada kasus pasien CHF, tujuan spesifiknya adalah agar klien dapat menyatakan perasaannya tentang penyakitnya dan prosedur pengobatan, serta menunjukkan perilaku kooperatif selama penanganan sesak napas.
Kode SIKI: 4418
Deskripsi : SIKI untuk Ansietas mencakup serangkaian tindakan langsung dan kolaboratif yang dilakukan perawat untuk membantu klien mengelola kecemasannya. Tindakan-tindakan ini bersifat holistik, mencakup aspek psikologis, fisiologis, dan sosial. Pertama, perawat harus menciptakan lingkungan yang terapeutik dan menenangkan, dengan mengurangi stimulus yang tidak perlu, menjaga privasi, dan menggunakan nada suara yang lembut dan tenang. Kedua, membina hubungan saling percaya dengan menunjukkan penerimaan, empati, dan tidak menghakimi. Perawat harus mendengarkan secara aktif dan memberikan perhatian penuh ketika klien mengungkapkan ketakutannya, seperti perasaan takut meninggal dan kesepian. Ketiga, ajarkan teknik relaksasi sederhana seperti latihan napas dalam dan perlahan, yang sangat bermanfaat bagi pasien CHF yang juga mengalami sesak napas. Teknik ini dapat membantu mengatur pernapasan sekaligus mengurangi ketegangan. Keempat, lakukan pendekatan spiritual jika sesuai dengan keyakinan klien, seperti mendengarkan keluhannya, mendorong untuk beribadah, atau berdoa bersama, guna mengatasi perasaan takut akan kematian. Kelima, libatkan keluarga untuk memberikan dukungan emosional dan mengurangi perasaan kesepian. Beri penjelasan kepada keluarga tentang kondisi klien dan bagaimana cara mendukungnya. Keenam, berikan pendidikan kesehatan (edukasi) tentang CHF, penyebab sesak napas, dan penatalaksanaannya. Pemahaman yang baik tentang penyakitnya dapat mengurangi kecemasan akibat ketidaktahuan. Ketujuh, kolaborasi dengan tim medis untuk manajemen farmakologis jika ansietas sangat berat dan mengganggu, misalnya pemberian anxiolytic yang aman untuk kondisi jantungnya. Kedelapan, bantu klien mengidentifikasi mekanisme koping yang adaptif yang pernah berhasil digunakan di masa lalu dan dorong untuk menerapkannya kembali. Semua tindakan ini harus didokumentasikan dan dievaluasi secara berkala untuk menilai efektivitasnya dalam menurunkan tingkat ansietas klien.
-
Article No. 22721 | 11 Nov 2025
Klinis : Pasien wanita, usia 60 tahun, datang dengan keluhan puasing, mual, dan sesak napas dengan SPO 78%.. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas.. Diagnosis awal perfusi perifer tidak efektif berhubungan dengan penurunan konsentrasi hemoglobin
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Perfusi Perifer Tidak Efektif
Kode SDKI: 00087
Deskripsi Singkat: Perfusi Perifer Tidak Efektif adalah suatu keadaan dimana seorang individu mengalami penurunan suplai darah pada tingkat kapiler, yang dapat mengancam kehidupan, kesehatan, atau bagian tubuh. Kondisi ini ditandai dengan penurunan tekanan darah, penurunan tekanan nadi, penurunan curah jantung, penurunan saturasi oksigen vena sentral (SvO2), peningkatan resistensi pembuluh darah sistemik, kulit pucat atau sianosis, dingin, dan penurunan pengisian kapiler. Pada kasus ini, kondisi pasien yang mengalami sesak napas dengan saturasi oksigen (SpO2) sangat rendah yaitu 78%, serta keluhan pusing dan mual, sangat konsisten dengan gambaran perfusi yang tidak adekuat. Penurunan konsentrasi hemoglobin yang disebutkan dalam diagnosis awal merupakan faktor penyebab utama. Hemoglobin adalah molekul pembawa oksigen dalam darah. Ketika kadarnya rendah, kapasitas darah untuk mengangkut oksigen ke jaringan perifer seluruh tubuh, termasuk otak (menyebabkan pusing) dan organ-organ lainnya, menjadi sangat berkurang. Suara napas bronkial di paru kanan atas juga dapat mengindikasikan adanya konsolidasi (seperti pada pneumonia) yang semakin memperparah pertukaran gas dan memperberat beban kerja jantung untuk memompa darah yang sudah miskin oksigen. Kombinasi dari hipoksemia (SpO2 78%) dan anemia ini menciptakan siklus ganas dimana jantung harus bekerja lebih keras dengan sumber daya oksigen yang minimal, yang pada akhirnya menyebabkan kegagalan sistem kardiovaskular untuk memberikan darah yang kaya oksigen ke jaringan perifer, sehingga diagnosa keperawatan Perfusi Perifer Tidak Efektif sangat tepat.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) dengan kode 0801 untuk diagnosa Perfusi Perifer Tidak Efektif berfokus pada pencapaian status perfusi yang memadai. Luaran yang diharapkan meliputi peningkatan saturasi oksigen arteri hingga dalam rentang normal yang diharapkan (misalnya >95%), stabilnya tekanan darah dan denyut nadi dalam rentang normal untuk pasien, kulit hangat dan kering dengan pengisian kapiler kurang dari 2-3 detik, serta tidak adanya keluhan pusing, nyeri dada, atau dispnea (sesak napas) pada tingkat aktivitas yang wajar. Secara khusus untuk pasien ini, tujuan utamanya adalah menaikkan SpO2 dari 78% ke tingkat yang aman di atas 90% secara konsisten. Selain itu, luaran juga mencakup penurunan atau hilangnya keluhan mual dan pusing, yang merupakan manifestasi dari hipoksia serebral dan sistemik. Parameter hemodinamik seperti tekanan darah, denyut nadi, dan frekuensi pernapasan harus dimonitor ketat untuk memastikan tidak terjadi syok. Warna kulit dan suhu ekstremitas juga menjadi indikator penting; dari yang mungkin pucat, sianotik, dan dingin menjadi lebih merah muda dan hangat. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan dan medis berhasil dalam mengoptimalkan volume sirkulasi, meningkatkan daya angkut oksigen darah, dan memastikan distribusi oksigen yang memadai ke jaringan perifer.
Kode SIKI: 2120
Deskripsi : SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dengan kode 2120 untuk manajemen perfusi perifer merupakan serangkaian tindakan yang terencana dan sistematis. Intervensi ini dimulai dengan pemantauan ketat tanda-tanda vital, termasuk tekanan darah, nadi, pernapasan, dan suhu, serta saturasi oksigen secara berkelanjutan. Pemberian terapi oksigen sesuai indikasi dan resep dokter adalah tindakan prioritas mutlak untuk mengatasi hipoksemia berat (SpO2 78%). Oksigen diberikan dengan alat seperti kanul nasal atau masker dengan aliran tinggi untuk mencapai target saturasi. Posisi pasien diatur untuk memaksimalkan ventilasi dan perfusi, misalnya dengan posisi semi-Fowler atau Fowler jika tidak ada kontraindikasi, untuk memudahkan ekspansi paru. Mempertahankan kepatenan jalan napas dengan teknik batuk efektif atau suctioning juga penting, terutama dengan temuan suara napas abnormal yang mengarah pada kemungkinan adanya sekret. Memonitor warna kulit, kelembaban, suhu, dan pengisian kapiler memberikan umpan balik langsung tentang efektivitas perfusi. Kolaborasi dengan tim medis sangat krusial, terutama dalam pemberian transfusi darah atau cairan intravena untuk mengatasi anemia dan meningkatkan volume intravaskular, serta pemberian obat-obatan seperti inotropik jika diperlukan untuk mendukung fungsi jantung. Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya menghemat energi (teknik penghematan energi) dan melaporkan segera jika ada perburukan gejala seperti sesak yang bertambah atau pusing juga merupakan bagian dari intervensi keperawatan yang holistik. Tindakan-tindakan ini dilakukan secara terintegrasi untuk mendukung pencapaian luaran yang ditargetkan dalam SLKI.
-
Article No. 22722 | 11 Nov 2025
Klinis : Pasien mengatakan merasa tidak dipahami oleh orang lain. - Pasien mengatakan tidak pernah mengobrol dengan orang lain karena sering disalahkan. - Pasien mengatakan tidak ingat sekarang hari apa dan dimana - Pasien mengatakan dirinya sedang di rumahnya di Imogiri Bantul - Pasien mengatakan tidak pernah mengikuti keterampilan karena sudah lupa Nilai MMSE didapat skore 5 dengan definitive gangguan kognitif - Pasien sering mengulangi pertanyaan yang sama - Pasien tidak pernah mengikuti kegiatan di panti selain senam - Skore SPMSQ 8 yang berarti fungsi intelektual kerusakan sedang - Pasien tidak mampu melakukan kemampuan ynag dipelajari sebelumnya
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Proses Pikir
Kode SDKI: D.0051
Deskripsi Singkat: Kondisi di mana seorang individu mengalami gangguan dalam proses mental membentuk pikiran, membuat keputusan, dan berkomunikasi, yang dapat memengaruhi persepsi, memori, dan interaksi sosial. Kondisi ini ditandai dengan ketidakmampuan untuk berpikir logis, disorientasi, dan gangguan memori, seperti yang terlihat pada pasien dengan skor MMSE 5 dan SPMSQ 8 yang menunjukkan gangguan kognitif dan intelektual sedang.
Kode SLKI: L.15037
Deskripsi : SLKI L.15037 berfokus pada meningkatkan fungsi kognitif pasien melalui intervensi yang terstruktur. Tujuannya adalah membantu pasien dalam mengorientasikan diri terhadap realitas, meningkatkan memori, dan mendorong partisipasi dalam aktivitas yang bermakna. Intervensi ini melibatkan pendekatan seperti terapi orientasi realitas, di mana perawat secara konsisten mengingatkan pasien tentang waktu, tempat, dan situasi saat ini untuk mengurangi disorientasi. Selain itu, perawat akan melatih pasien dengan teknik memori sederhana, seperti menggunakan pengingat visual atau jadwal harian, untuk meningkatkan daya ingat. Partisipasi dalam kegiatan kelompok, seperti senam atau terapi okupasi, juga didorong untuk merangsang interaksi sosial dan fungsi kognitif. Evaluasi kemajuan dilakukan dengan memantau peningkatan skor MMSE atau pengurangan perilaku mengulang pertanyaan, serta menilai kemampuan pasien dalam mengikuti kegiatan sehari-hari. SLKI ini penting karena gangguan proses pikir dapat menyebabkan isolasi sosial dan penurunan kualitas hidup, sehingga intervensi ini bertujuan memulihkan kemandirian pasien secara bertahap.
Kode SIKI: I.15037
Deskripsi : SIKI I.15037 mencakup serangkaian intervensi keperawatan yang spesifik dan terukur untuk menangani gangguan proses pikir. Pertama, perawat akan melakukan asesmen menyeluruh terhadap tingkat disorientasi dan gangguan memori pasien, menggunakan alat seperti MMSE atau SPMSQ secara berkala. Kemudian, perawat menerapkan terapi orientasi realitas dengan cara mengingatkan pasien tentang informasi dasar (seperti nama, tanggal, dan lokasi) setiap hari, serta menggunakan kalender atau jam yang mudah dilihat. Untuk meningkatkan memori, perawat melatih pasien dengan teknik repetisi, seperti mengulang informasi penting, dan menggunakan alat bantu seperti catatan atau foto. Intervensi komunikasi juga dilakukan dengan berbicara perlahan, menggunakan kalimat sederhana, dan menghindari konfrontasi untuk mengurangi perasaan tidak dipahami. Perawat mendorong partisipasi dalam aktivitas terstruktur, seperti senam atau keterampilan ringan, yang disesuaikan dengan kemampuan pasien untuk mencegah frustrasi. Selain itu, perawat berkolaborasi dengan keluarga atau pengasuh untuk menciptakan lingkungan yang mendukung, seperti mengurangi kebisingan dan menyediakan rutinitas yang konsisten. Evaluasi intervensi ini dilakukan dengan memantau perubahan perilaku, seperti penurunan frekuensi mengulang pertanyaan atau peningkatan keterlibatan dalam kegiatan. SIKI ini dirancang untuk memberikan pendekatan holistik yang memprioritaskan kenyamanan dan kemajuan pasien, dengan penekanan pada empati dan kesabaran selama proses perawatan.
-
Article No. 22723 | 11 Nov 2025
Klinis : Seorang laki-laki berusia 26 tahun dibawa oleh keluarganya ke Unit Gawat Darurat Rumah Sakit dengan keluhan nyeri kepala setelah kecelakaan lalu lintas. Pasien tidak sadarkan diri selama 5 menit dan mengalami kejang satu kali. Setelah kejang, pasien sadar kembali dan mengeluh nyeri kepala serta muntah. Pemeriksaan status neurologis dalam batas normal. Pemeriksaan CT-Scan kepala ditemukan fraktur linear disertai gambaran perdarahan epidural (EDH) 59,34 cc pada parietal kanan, dan midline shift ke kiri. Pasien mendapatkan penatalaksanaan konservatif berupa manitol. Pasien juga menjalani penatalaksanaan operatif berupa kraniotomi dekompresif untuk evakuasi hematoma
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Penurunan Perfusi Jaringan Otak
Kode SDKI: D.0013
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah yang menyebabkan nutrisi dan oksigen ke jaringan otak tidak mencukupi untuk mempertahankan fungsi jaringan.
Kode SLKI: L.14018
Deskripsi : Perfusi jaringan otak membaik. Tujuan keperawatan yang diharapkan adalah: tingkat kesadaran membaik (GCS 14-15), tanda-tanda vital dalam batas normal, tidak ada keluhan sakit kepala hebat, tidak ada mual dan muntah, tidak ada kejang, hasil pemeriksaan diagnostik (seperti CT Scan) menunjukkan tidak ada perburukan hematoma atau edema serebral, dan fungsi kognitif serta sensorik dalam batas normal.
Kode SIKI: I.05041
Deskripsi : Intervensi untuk mempertahankan dan meningkatkan perfusi jaringan otak. Tindakan keperawatan yang dilakukan meliputi: memonitor status neurologis secara ketat dan berkelanjutan menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS), memantau tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) untuk mendeteksi tanda peningkatan tekanan intrakranial (seperti hipertensi, bradikardia, pernapasan tidak teratur), mempertahankan posisi kepala tempat tidur 30 derajat untuk memfasilitasi aliran balik vena dan menurunkan tekanan intrakranial, memastikan jalan napas tetap paten untuk mencegah hipoksia yang dapat memperburuk edema otak, memberikan terapi oksigen sesuai kebutuhan untuk memastikan kecukupan oksigenasi otak, memonitor asupan dan haluaran cairan untuk menjaga keseimbangan cairan dan mencegah edema serebral yang diperberat, memberikan obat-obatan sesuai resep dokter seperti manitol (obat diuretik osmotik) untuk mengurangi edema otak, memonitor respons terapi dan efek samping pemberian manitol (seperti ketidakseimbangan elektrolit), mempertahankan lingkungan yang tenang dan membatasi pengunjung untuk meminimalkan stimulasi yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial, kolaborasi dalam persiapan dan pemantauan pasien pasca tindakan operatif (kraniotomi dekompresif), melakukan perawatan luka operasi dengan teknik aseptik untuk mencegah infeksi, serta mengajarkan pada keluarga untuk segera melaporkan jika ada tanda-tanda penurunan kesadaran, kejang, atau sakit kepala hebat.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0020
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, yang terjadi secara tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berlangsung dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Nyeri terkontrol. Tujuan keperawatan yang diharapkan adalah: pasien melaporkan penurunan intensitas nyeri (skala nyeri menurun), tanda-tanda vital dalam batas normal, perilaku dan ekspresi wajah menunjukkan kenyamanan (tidak gelisah, tidak mengekspresikan kesakitan), pasien mampu beristirahat dan tidur dengan cukup, serta mampu melakukan aktivitas sesuai toleransi tanpa dihambat nyeri.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas nyeri dengan menggunakan skala nyeri (numerik atau wajah), mengobservasi tanda-tanda non-verbal dari nyeri seperti gelisah, ekspresi wajah meringis, menangis, postur tubuh protektif, dan perubahan tanda vital (takikardia, hipertensi), menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk mendukung kenyamanan pasien, melakukan reposisi dan teknik perawatan diri dengan lembut untuk menghindari manipulasi berlebihan pada area yang nyeri, mengajarkan teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri seperti distraksi (misalnya mendengarkan musik), relaksasi napas dalam, atau imajinasi terbimbing, memberikan terapi farmakologis (analgesik) sesuai resep dokter dan mempertimbangkan jenis, dosis, dan rute pemberian yang tepat, memonitor efektivitas analgesik dan efek samping yang timbul (seperti mual, sedasi), melakukan kolaborasi dengan tim medis jika nyeri tidak terkontrol dengan regimen analgesik yang diberikan, mendokumentasikan respons nyeri sebelum dan sesudah intervensi untuk mengevaluasi keefektifan manajemen nyeri, serta memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang penyebab nyeri, rencana pengobatan, dan kapan harus melaporkan nyeri yang tidak tertahankan.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0056
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan kerentanan terhadap invasi agen patogen yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : Infeksi tidak terjadi. Tujuan keperawatan yang diharapkan adalah: tanda-tanda vital dalam batas normal (tidak ada demam), luka operasi bersih, kering, tidak ada kemerahan, bengkak, nyeri, atau nanah, hasil pemeriksaan laboratorium (seperti leukosit) dalam batas normal, tidak ada tanda-tanda infeksi sistemik seperti menggigil atau disorientasi.
Kode SIKI: I.11001
Deskripsi : Pencegahan Infeksi. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: mempertahankan teknik aseptik dan steril selama melakukan perawatan luka operasi (kraniotomi), melakukan pemantauan ketat terhadap tanda-tanda infeksi pada luka seperti eritema, edema, nyeri tekan, peningkatan suhu lokal, dan adanya drainage purulen, memonitor tanda-tanda vital terutama suhu tubuh untuk mendeteksi demam sebagai indikator infeksi sistemik, melakukan kebersihan tangan (hand hygiene) secara rutin sebelum dan setelah kontak dengan pasien atau lingkungan pasien, memberikan perawatan kebersihan diri pada pasien untuk mengurangi beban mikroorganisme, memastikan semua alat medis yang digunakan dalam keadaan steril atau bersih, memberikan terapi antibiotik profilaksis atau terapeutik sesuai resep dokter tepat waktu dan memonitor efektivitas serta efek sampingnya, melakukan kolaborasi dengan tim gizi untuk memastikan asupan nutrisi yang adekuat guna mendukung sistem imun pasien, memisahkan pasien dari individu lain yang memiliki infeksi untuk mencegah penularan, mendidik pasien dan keluarga tentang tanda dan gejala infeksi serta pentingnya melaporkan segera jika ada kemerahan, nyeri, bengkak, atau demam, serta memantau hasil pemeriksaan laboratorium seperti hitung leukosit untuk mendeteksi adanya infeksi.
-
Article No. 22712 | 10 Nov 2025
Klinis : penurunan curah jantung
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode ICD-10: I50.9
Deskripsi Singkat : Penurunan curah jantung (Low Cardiac Output) adalah suatu sindrom klinis di mana jantung tidak mampu memompa darah dalam volume yang cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Kondisi ini bukanlah diagnosis yang berdiri sendiri, melainkan merupakan manifestasi atau komplikasi dari berbagai penyakit jantung dan sistemik lainnya, seperti gagal jantung, kardiomiopati, infark miokard, aritmia berat, tamponade jantung, atau syok. Gejalanya dapat bervariasi, mulai dari kelelahan, lemas, pusing, hingga yang lebih berat seperti penurunan kesadaran, penurunan produksi urin (oliguria), serta tangan dan kaki yang dingin akibat perfusi jaringan yang buruk. Kode I50.9 dalam ICD-10 secara resmi merujuk pada 'Gagal Jantung, tidak ditentukan' (Heart failure, unspecified). Penggunaan kode ini untuk menandai 'penurunan curah jantung' adalah karena kondisi tersebut merupakan inti patofisiologi dari gagal jantung sindromik. Kode ini digunakan ketika dokumentasi klinis tidak secara spesifik menyebutkan jenis gagal jantung (seperti sistolik atau diastolik) atau penyebab pastinya. Penting untuk mencatat bahwa dalam praktik pengkodean resmi, jika penyebab dasar dari penurunan curah jantung diketahui (misalnya, infark miokard akut atau kardiomiopati dilatasi), kode untuk kondisi yang mendasarilah tersebut yang harus diutamakan, dan I50.9 dapat digunakan sebagai kode tambahan jika diperlukan untuk menggambarkan keadaan gagal jantungnya.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***