Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 15149 | 09 Apr 2025
Klinis : nyeri akut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan Diagnosa Keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi nyeri akut.
Diagnosa Keperawatan: Nyeri Akut
Definisi:
Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah-istilah kerusakan tersebut.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
1. Perubahan sensori persepsi: nyeri
2. Durasi nyeri: akut
3. Karakteristik nyeri: sesuai dengan kondisi klien
SLKI (Standar luaran Keperawatan Indonesia):
1. Tingkat nyeri menurun
2. Tingkat kecemasan menurun
3. Kemampuan mengontrol nyeri meningkat
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen nyeri
2. Terapi relaksasi
3. Terapi distraksi
Penjelasan Singkat:
Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, dengan durasi yang singkat. Dalam penanganannya, perawat perlu melakukan penilaian nyeri, memberikan intervensi farmakologis dan non-farmakologis, serta memantau respon klien terhadap intervensi yang diberikan. Tujuan akhirnya adalah menurunkan tingkat nyeri, mengurangi kecemasan, dan meningkatkan kemampuan klien dalam mengontrol nyerinya. -
Article No. 15150 | 09 Apr 2025
Klinis : nyeri akut post tindakan operasi
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah penjelasan yang rinci dan terperinci mengenai diagnosis keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan untuk kondisi nyeri akut pasca tindakan operasi:
Diagnosis Keperawatan SDKI:
Diagnosis keperawatan yang sesuai untuk kondisi nyeri akut pasca tindakan operasi adalah "Nyeri Akut". Nyeri akut didefinisikan sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah-istilah kerusakan. Nyeri akut biasanya memiliki onset yang tiba-tiba, durasi terbatas, dan intensitas bervariasi dari ringan hingga berat.
Luaran/Output SLKI:
Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan pasien dapat mencapai luaran sebagai berikut:
1. Pasien melaporkan penurunan intensitas nyeri.
2. Pasien dapat mendemonstrasikan teknik manajemen nyeri yang efektif.
3. Pasien menunjukkan tanda-tanda vital yang stabil.
4. Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari sesuai toleransi.
Intervensi Keperawatan SIKI:
Untuk mencapai luaran yang diharapkan, diperlukan intervensi keperawatan sebagai berikut:
1. Lakukan pengkajian nyeri komprehensif, termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, intensitas, dan faktor yang memperberat atau memperingan nyeri.
2. Kaji tanda-tanda vital pasien secara berkala.
3. Berikan analgetik sesuai dengan instruksi medis dan pantau efektivitasnya.
4. Ajarkan teknik manajemen nyeri non-farmakologis, seperti relaksasi, terapi musik, distraksi, dan kompres hangat/dingin.
5. Dorong pasien untuk menggunakan teknik manajemen nyeri yang efektif.
6. Libatkan keluarga dalam upaya manajemen nyeri pasien.
7. Evaluasi efektivitas intervensi dan lakukan penyesuaian jika diperlukan.
8. Dokumentasikan asuhan keperawatan yang diberikan dengan lengkap.
Dengan menerapkan diagnosis keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan yang sesuai, diharapkan pasien dengan nyeri akut pasca tindakan operasi dapat diberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan efektif untuk mencapai penurunan nyeri, pemulihan, dan peningkatan kualitas hidup. -
Article No. 15151 | 09 Apr 2025
Klinis : nyeri akut post tindakan operasi
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis terkait kondisi nyeri akut post tindakan operasi.
1. Kode ICD-10:
- Kode: G89.18
- Deskripsi: Nyeri akut lainnya pasca-operasi
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 99.62
- Deskripsi: Pemberian analgesik, narkotik
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 G89.18 digunakan untuk mengkodekan kondisi nyeri akut yang terjadi setelah suatu tindakan operasi. Kode ini menggambarkan jenis nyeri yang muncul dan bersifat sementara, sebagai hasil dari prosedur pembedahan yang dilakukan.
2. Kode ICD-9-CM 99.62 merujuk pada pemberian analgesik atau obat penghilang rasa sakit, terutama jenis narkotik, untuk mengatasi nyeri akut pascaoperasi. Tindakan ini biasanya dilakukan untuk mengelola dan mengendalikan rasa sakit yang dialami pasien setelah menjalani prosedur bedah.
Dalam praktik klinis, penanganan nyeri akut pascaoperasi melibatkan pendekatan yang komprehensif, termasuk pemberian analgesik, terapi fisik, dan intervensi lainnya untuk meminimalkan rasa sakit dan mempercepat pemulihan pasien. Pemantauan yang ketat dan penyesuaian pengobatan sesuai dengan respons pasien merupakan bagian penting dalam manajemen nyeri akut pascaoperasi. -
Article No. 15152 | 09 Apr 2025
Klinis : thalasemia pada anak
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi thalasemia pada anak.
Diagnosa Keperawatan:
1. Intoleransi Aktivitas
- Penjelasan: Penurunan kapasitas untuk melakukan aktivitas fisik yang diinginkan atau yang dibutuhkan dari kondisi ini.
2. Keletihan
- Penjelasan: Pengalaman subjektif yang berkelanjutan dari kekurangan energi untuk menyelesaikan aktivitas sehari-hari.
3. Perubahan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
- Penjelasan: Asupan nutrisi yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
4. Risiko Infeksi
- Penjelasan: Peningkatan risiko terkena penyakit atau organisme patogen.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Membantu menentukan diagnosis keperawatan yang tepat berdasarkan tanda dan gejala yang muncul.
- Memberikan panduan dalam pengkajian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi asuhan keperawatan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Menetapkan luaran atau hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan.
- Membantu dalam memantau dan mengevaluasi efektivitas asuhan keperawatan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Memberikan panduan dalam pemilihan intervensi keperawatan yang tepat untuk mencapai luaran yang diharapkan.
- Membantu dalam pengambilan keputusan klinis dan perencanaan asuhan keperawatan yang komprehensif.
Semoga penjelasan ini dapat membantu Anda dalam memahami diagnosa keperawatan dan standar PPNI terkait kondisi thalasemia pada anak. Jika ada pertanyaan lain, jangan ragu untuk menanyakannya. -
Article No. 15153 | 09 Apr 2025
Klinis : defisit pengetahuan tentang phbs
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan: Defisit Pengetahuan Tentang PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat)
Penjelasan:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Defisit Pengetahuan Tentang PHBS adalah suatu diagnosa keperawatan yang mengacu pada situasi di mana individu, keluarga, atau komunitas memiliki pengetahuan yang kurang atau tidak mencukupi tentang konsep dan praktik PHBS.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari diagnosa ini adalah peningkatan pengetahuan tentang PHBS, yang ditandai dengan kemampuan klien untuk menjelaskan komponen-komponen PHBS, menjelaskan manfaat PHBS, dan mendemonstrasikan praktik PHBS yang tepat.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi defisit pengetahuan tentang PHBS meliputi:
a. Edukasi tentang konsep dan praktik PHBS yang meliputi cuci tangan pakai sabun, penggunaan air bersih, penggunaan jamban sehat, aktivitas fisik, dan perilaku lainnya.
b. Pemberian informasi tentang manfaat dan dampak positif dari PHBS.
c. Pelatihan dan demonstrasi praktik PHBS yang tepat.
d. Penyediaan media informasi dan edukasi tentang PHBS.
e. Pemantauan dan evaluasi kemajuan pengetahuan dan praktik PHBS klien.
Sebagai perawat, saya berperan penting dalam meningkatkan pengetahuan dan praktik PHBS klien melalui intervensi-intervensi yang komprehensif dan kolaboratif dengan tim kesehatan lainnya. Hal ini bertujuan untuk mendukung klien dalam mencapai derajat kesehatan yang optimal melalui penerapan PHBS. -
Article No. 15154 | 09 Apr 2025
Klinis : Nyeri ulu hati, mual
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci mengenai Diagnosis Keperawatan, Luaran Asuhan Keperawatan, dan Intervensi Keperawatan yang sesuai untuk kondisi nyeri ulu hati dan mual.
Diagnosis Keperawatan SDKI:
Diagnosa Keperawatan yang sesuai untuk kondisi nyeri ulu hati dan mual adalah "Nyeri Akut" (SDKI, 2017). Nyeri akut didefinisikan sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial atau dijelaskan dalam istilah tersebut (NANDA-I, 2018). Pada kasus nyeri ulu hati dan mual, pasien mengalami nyeri yang bersifat akut dan dirasakan di daerah ulu hati, serta disertai dengan gejala mual.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Tingkat Nyeri Terkontrol: Pasien dapat mengendalikan nyeri ulu hati yang dirasakan dengan skor nyeri yang menurun dan dapat mengenali faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri.
2. Pengendalian Mual Terkontrol: Pasien dapat mengendalikan gejala mual yang dirasakan dengan frekuensi dan intensitas mual yang menurun.
3. Kenyamanan Meningkat: Pasien merasakan peningkatan kenyamanan secara fisik dan psikologis setelah intervensi keperawatan yang diberikan.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Nyeri:
a. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif, termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, intensitas, dan faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri.
b. Berikan analgesik sesuai dengan resep dokter untuk mengurangi nyeri.
c. Ajarkan teknik-teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri, seperti relaksasi, distraksi, dan kompres hangat.
d. Evaluasi efektivitas intervensi nyeri dan lakukan penyesuaian jika diperlukan.
2. Manajemen Mual:
a. Lakukan pengkajian mual secara komprehensif, termasuk karakteristik, frekuensi, dan faktor-faktor yang mempengaruhi mual.
b. Berikan antiemetik sesuai dengan resep dokter untuk mengurangi mual.
c. Ajarkan teknik-teknik nonfarmakologis untuk mengurangi mual, seperti teknik pernapasan dalam, relaksasi, dan distraksi.
d. Anjurkan pasien untuk mengonsumsi makanan dan minuman yang dapat membantu mengurangi mual.
e. Evaluasi efektivitas intervensi mual dan lakukan penyesuaian jika diperlukan.
3. Manajemen Kenyamanan:
a. Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang untuk pasien.
b. Berikan dukungan emosional dan psikologis kepada pasien.
c. Libatkan keluarga dalam proses perawatan untuk meningkatkan kenyamanan pasien.
d. Evaluasi tingkat kenyamanan pasien secara berkala dan lakukan penyesuaian intervensi jika diperlukan.
Dengan penerapan Diagnosis Keperawatan, Luaran Asuhan Keperawatan, dan Intervensi Keperawatan yang tepat, diharapkan pasien dengan kondisi nyeri ulu hati dan mual dapat memperoleh penanganan yang optimal dan mencapai hasil yang diharapkan. -
Article No. 15155 | 09 Apr 2025
Klinis : lemas, keringat dingin, mual, tidak nafsu makan sejak kemarin, hamil 32 minggu
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan gejala yang Anda sampaikan, yaitu lemas, keringat dingin, mual, tidak nafsu makan sejak kemarin, dan kondisi kehamilan 32 minggu, kami dapat memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat menggunakan standar SDKI (Standar Diagnostik Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
- Definisi: Asupan nutrisi yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
- Faktor Risiko: Mual, anoreksia (tidak nafsu makan), kehamilan.
Penjelasan Singkat:
SDKI:
- Definisi: Kondisi di mana asupan nutrisi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
- Faktor Risiko: Mual, anoreksia (tidak nafsu makan), kehamilan.
SLKI:
- Luaran yang diharapkan: Klien menunjukkan peningkatan berat badan sesuai usia kehamilan, klien tidak mengalami mual atau muntah, dan klien menunjukkan peningkatan nafsu makan.
SIKI:
- Intervensi Keperawatan: Pemantauan status nutrisi, pemberian informasi tentang nutrisi yang dibutuhkan selama kehamilan, pemberian antiemetik (obat anti mual) sesuai indikasi, dan pengaturan pola makan.
Berdasarkan standar PPNI, diagnosa keperawatan yang sesuai dengan kondisi yang Anda sampaikan adalah Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh. Perawat akan melakukan intervensi untuk memantau status nutrisi, memberikan informasi tentang nutrisi yang dibutuhkan selama kehamilan, memberikan antiemetik (obat anti mual) sesuai indikasi, dan mengatur pola makan, sehingga diharapkan klien dapat menunjukkan peningkatan berat badan sesuai usia kehamilan, tidak mengalami mual atau muntah, dan menunjukkan peningkatan nafsu makan. -
Article No. 15156 | 09 Apr 2025
Klinis : bayi baru lahir
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai seorang perawat, saya akan memberikan analisis yang terperinci untuk kondisi bayi baru lahir sesuai dengan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI).
Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai untuk Kondisi Bayi Baru Lahir:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
- Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan jalan napas yang dapat mengakibatkan penumpukan sekret atau benda asing di saluran napas.
- Faktor Terkait: Prematuritas, anomali kongenital, kelemahan otot pernapasan.
- Gejala dan Tanda: Pernapasan cuping hidung, retraksi dinding dada, suara napas berisik, sianosis, perubahan pola napas.
2. Risiko Intoleransi Aktivitas
- Definisi: Berisiko mengalami ketidakmampuan untuk mentoleransi aktivitas fisik akibat ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen atau nutrisi.
- Faktor Terkait: Kondisi klinis yang mempengaruhi kemampuan fisik, seperti kelahiran prematur, gangguan kardiovaskular atau respirasi.
- Gejala dan Tanda: Kelelahan, dispnea, takikardi, pucat, perubahan tekanan darah.
3. Risiko Hipotermi
- Definisi: Berisiko mengalami penurunan suhu tubuh di bawah 36°C (96,8°F) akibat ketidakmampuan untuk mempertahankan suhu tubuh normal.
- Faktor Terkait: Usia gestasi yang kurang, luas permukaan tubuh yang besar, paparan lingkungan dingin, malnutrisi.
- Gejala dan Tanda: Suhu tubuh rendah, menggigil, kulit pucat, takikardi, apatis.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Bersihan Jalan Napas Efektif
- Definisi: Kemampuan untuk membersihkan jalan napas secara efektif.
- Indikator:
- Pernapasan efektif tanpa suara napas berisik.
- Tidak ada retraksi dinding dada.
- Tidak ada sianosis.
- Saturasi oksigen dalam batas normal.
2. Toleransi Aktivitas Membaik
- Definisi: Kemampuan untuk mentoleransi aktivitas fisik.
- Indikator:
- Tidak ada tanda-tanda intoleransi aktivitas (dispnea, takikardi, hipotensi).
- Tidak ada kelelahan yang berlebihan.
- Mampu melakukan aktivitas sesuai usia dan kondisi.
3. Suhu Tubuh Stabil
- Definisi: Kemampuan untuk mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal.
- Indikator:
- Suhu tubuh dalam rentang 36-37,5°C (96,8-99,5°F).
- Tidak ada tanda-tanda hipotermi (menggigil, kulit pucat, apatis).
- Tidak memerlukan intervensi untuk meningkatkan suhu tubuh.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
1. Intervensi untuk Bersihan Jalan Napas Efektif:
- Monitoring respirasi dan oksigenasi
- Manajemen jalan napas
- Suction jalan napas
- Pemberian oksigen sesuai kebutuhan
- Posisioning tubuh untuk memfasilitasi ekspansi paru
2. Intervensi untuk Toleransi Aktivitas Membaik:
- Manajemen energi
- Peningkatan mobilitas
- Manajemen kardiovaskular
- Pemantauan tanda-tanda intoleransi aktivitas
- Edukasi kepada keluarga tentang aktivitas yang aman
3. Intervensi untuk Suhu Tubuh Stabil:
- Kontrol lingkungan untuk mencegah hipotermi
- Manajemen suhu tubuh
- Pemantauan suhu tubuh secara berkala
- Penggunaan selimut atau inkubator sesuai kebutuhan
- Edukasi kepada keluarga tentang pencegahan hipotermi
Dengan menerapkan diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi yang sesuai, perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan tepat sasaran untuk memenuhi kebutuhan bayi baru lahir, sehingga dapat mencapai hasil perawatan yang optimal. -
Article No. 15157 | 09 Apr 2025
Klinis : Seorang perempuan yang berasal dari suku batak, Ny. R berusia 43 tahun dirawat di rumah sakit jiwa karena mengalami gangguan kecemasan berat. Dalam budaya Batak, perempuan sering di dorong untuk menjadi kuat dan tidak menunjukkan kelemahan termasuk dalam menghadapi stress dan masalah emosional. Ny. R enggan berbicara tentang masalahnya karena merasa hal itu tabu dan menunjukkan kelemahan.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi Ny. R.
Diagnosa Keperawatan:
1. Kecemasan Berat berhubungan dengan hambatan dalam mengekspresikan perasaan, sesuai dengan standar SDKI.
Penjelasan Singkat:
a. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Kecemasan Berat adalah respon individu terhadap ancaman yang dipersepsikan sebagai bahaya, yang ditandai dengan perasaan takut, khawatir, dan tegang.
- Faktor yang berhubungan: Hambatan dalam mengekspresikan perasaan.
b. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan: Klien dapat mengelola kecemasan.
- Kriteria hasil: Klien dapat mengidentifikasi penyebab kecemasan, menerapkan teknik relaksasi, dan menunjukkan ekspresi wajah dan bahasa tubuh yang tenang.
c. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan: Manajemen Kecemasan, Terapi Relaksasi, dan Dukungan Emosional.
- Tujuannya adalah membantu klien mengelola kecemasan, menurunkan ketegangan, dan meningkatkan kemampuan klien dalam mengekspresikan perasaan.
Ny. R berasal dari suku Batak, di mana budaya mereka cenderung mendorong perempuan untuk menjadi kuat dan tidak menunjukkan kelemahan, termasuk dalam menghadapi stres dan masalah emosional. Hal ini menyebabkan Ny. R enggan berbicara tentang masalahnya karena merasa hal itu tabu dan menunjukkan kelemahan. Pendekatan yang sensitif budaya dan fokus pada pengembangan kemampuan klien dalam mengekspresikan perasaan secara aman akan sangat penting dalam mengelola kecemasan berat yang dialami Ny. R. -
Article No. 15158 | 09 Apr 2025
Klinis : Seorang perempuan yang berasal dari suku batak, Ny. R berusia 43 tahun dirawat di rumah sakit jiwa karena mengalami gangguan kecemasan berat. Dalam budaya Batak, perempuan sering di dorong untuk menjadi kuat dan tidak menunjukkan kelemahan termasuk dalam menghadapi stress dan masalah emosional. Ny. R enggan berbicara tentang masalahnya karena merasa hal itu tabu dan menunjukkan kelemahan.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kasus Ny. R dengan nada akademis dan sebagai seorang perawat profesional.
Diagnosa Keperawatan:
1. Kecemasan Berat berhubungan dengan budaya dan kepercayaan yang membatasi ekspresi emosional, ditandai dengan gelisah, sulit berkonsentrasi, dan perasaan takut.
Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Kecemasan Berat: Perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang berlebihan yang disertai dengan gejala fisik, emosional, dan perilaku, yang terjadi dalam situasi tertentu dan dapat mengganggu fungsi sehari-hari.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Tingkat Kecemasan Menurun
2. Kemampuan Mengatasi Kecemasan Meningkat
3. Perilaku Adaptif Meningkat
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Kecemasan
2. Terapi Relaksasi
3. Terapi Kognitif
4. Konseling Individu
Dalam kasus Ny. R, perawat harus memahami latar belakang budaya Batak yang dapat mempengaruhi ekspresi emosional dan menciptakan lingkungan yang aman bagi Ny. R untuk berbagi mengenai masalahnya. Intervensi keperawatan yang berfokus pada manajemen kecemasan, teknik relaksasi, dan konseling individu dapat membantu Ny. R dalam mengatasi kecemasan berat yang dialaminya.