Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 15468 | 13 Apr 2025
Klinis : Pengkajian dilakukan pada tanggal 26 Juni 2021 jam 15.00 di ruang Tjan Khee Swan Barat RS dr. Oen Solobaru. Data pada kasus ini didapatkan dengan cara wawancara kepada Ibu pasein, pengamatan langsung dan data catatan medis dan keperawatan pasien. Identitas An.A laki-laki berusia 6 tahun 1 bulan beragama Islam masuk opname tgl 25/06/201, alamat Tawang 01/01 Tawang weru Sukoharjo, diagnosa medis Sindrom nefrotik. Keluhan utama anak rewel (menangis) minta pulang, menolak petugas yang mendekat, dan berontak saat diperiksa, diberi obat maupun saat pengambilan sample pemeriksaan laboratorium. Riwayat penyakit sekarang Ibu pasien mengatakan mulai 2 minggu yang lalu bengkak wajah dan seluruh tubuh, BAK sedikit, anak susah makan, muka sembab oedema palpebra oedema seluruh tubuh. Pasien datang ke poli spesilis anak Rumah Sakit dr. Oen Solobaru, Tekanan Darah 110/50mmHg, Suhu 37°C. Pernapasan Frekuensi 26x/menit, terapi infus KaEn3A 12 tpm, Lasik 2x15 mg drip infus, Plasbumin 25% 100cc, Lameson injeksi 3x12mg, An.A di rawat di ruang Tjan Khee Swan Barat. Ibu menyatakan khawatir dengan kondisi anaknya yang lebih berat dari sebelumnya. Riwayat penyakit dahulu bulan September 2021 anak opname dengan kasus sindrom nefrotik, dan tidak melanjutkan pengobatankarena anak takut dan tidak mau dibawa/datang ke rumah sakit. Riwayat kesehatan keluarga ada yang menderita penyakit hipertensi yaitu ayah dan kakek pasien, tidak ada yang menderita penyakit ginjal maupun penyakit menular lainnya Pemeriksaan fisik didapatkan GCS E4V5M6 Tekanan Darah110/50mmHg. Suhu 37°C. Pernapasan Frekuensi 26x/menit BB:21 kg. TB: 110cm. Protein total:6.59g/dl, Albumin: 1.72 g/dl, Globulin 4.87 g/dl IMT BB/TB-21/(1.1)²=17.4 (nilai normal-2 SD sd +1 SD 13.1 s/d 18.7) TB An.A dalam rentang Normal. Wajah bulat simetris sembab (moonface), edema palpebra, bibir kering, suara ronchi pada pada paru atas kanan kiri, asites, lingkar perut 60cm, pusar datar, edema skrotum, urine warna cola sedikit, edema ekstremitas derajat 2. Kulit mengkilat mudah lecet, capilari refill 2 detik Persepsi kesehatan dan pola managemen kesehatan sejak setelah opname bulan September 2021 anak tidak mau dibawa periksa ke rumah sakit karena takut disuntik. Pola nutrisi metabolik biocemical An.A mengalami hipoalbunemia (Kadar albmin 1.72), tampak lemes, oedem pada palpebra, sembab pada wajah, acites, oedema scrotalis dan ekstremitas. Tampak lemah, An, A susah makan mengatakan perut terasa kenyang, makan hanya 30% dari porsi yang disediakan Aktifitas-pola latihan Ibu An. A mengatakan biasanya aktif bermain bersama teman-temannya, sejak sakit An.A kelelahan saat berjalan ke kamar mandi terengah-engah, lebih banyak tiduran sambil melihat TV atau main HP Pola kognitif-persepsi An.A mengatakan badan terasa tidak nyaman, nyeri sendi skala nyeri 2. badan terasa berat tidak mampu beraktivitas lama dan cepat lelah.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan data yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kasus An.A:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
2. Intoleransi aktivitas
3. Kecemasan
4. Kurang pengetahuan
Penjelasan singkat:
1. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
- SDKI: Keadaan di mana asupan zat gizi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
- SLKI: Peningkatan berat badan, peningkatan kadar albumin.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang perlu dilakukan adalah memantau asupan dan output cairan, memantau tanda-tanda ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, serta memberikan edukasi tentang diet yang sesuai.
2. Intoleransi aktivitas
- SDKI: Keterbatasan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan atau dibutuhkan.
- SLKI: Peningkatan toleransi aktivitas, peningkatan kemampuan beraktivitas.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang perlu dilakukan adalah membantu pasien beradaptasi dengan keterbatasan, memfasilitasi aktivitas sesuai kemampuan, serta memberikan edukasi tentang manajemen energi.
3. Kecemasan
- SDKI: Respon emosional dan psikologis individu terhadap sumber ancaman, bahaya, atau tantangan yang tidak jelas dan nonspesifik.
- SLKI: Penurunan kecemasan, peningkatan kemampuan koping.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang perlu dilakukan adalah menciptakan lingkungan yang nyaman, memfasilitasi komunikasi terapeutik, serta memberikan terapi relaksasi.
4. Kurang pengetahuan
- SDKI: Kurangnya informasi kognitif terkait kondisi kesehatan, perawatan kesehatan, dan pengobatan.
- SLKI: Peningkatan pengetahuan.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang perlu dilakukan adalah memberikan edukasi terkait penyakit, manajemen penyakit, dan proses pengobatan.
Secara keseluruhan, diagnosa keperawatan ini memberikan gambaran komprehensif tentang permasalahan kesehatan An.A yang meliputi masalah nutrisi, aktivitas, kecemasan, dan pengetahuan. Intervensi keperawatan yang diberikan harus berfokus pada penanganan masalah-masalah tersebut sesuai dengan standar SDKI, SLKI, dan SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia. -
Article No. 15469 | 13 Apr 2025
Klinis : Pengkajian dilakukan pada tanggal 26 Juni 2021 jam 15.00 di ruang Tjan Khee Swan Barat RS dr. Oen Solobaru. Data pada kasus ini didapatkan dengan cara wawancara kepada Ibu pasein, pengamatan langsung dan data catatan medis dan keperawatan pasien. Identitas An.A laki-laki berusia 6 tahun 1 bulan beragama Islam masuk opname tgl 25/06/201, alamat Tawang 01/01 Tawang weru Sukoharjo, diagnosa medis Sindrom nefrotik. Keluhan utama anak rewel (menangis) minta pulang, menolak petugas yang mendekat, dan berontak saat diperiksa, diberi obat maupun saat pengambilan sample pemeriksaan laboratorium. Riwayat penyakit sekarang Ibu pasien mengatakan mulai 2 minggu yang lalu bengkak wajah dan seluruh tubuh, BAK sedikit, anak susah makan, muka sembab oedema palpebra oedema seluruh tubuh. Pasien datang ke poli spesilis anak Rumah Sakit dr. Oen Solobaru, Tekanan Darah 110/50mmHg, Suhu 37°C. Pernapasan Frekuensi 26x/menit, terapi infus KaEn3A 12 tpm, Lasik 2x15 mg drip infus, Plasbumin 25% 100cc, Lameson injeksi 3x12mg, An.A di rawat di ruang Tjan Khee Swan Barat. Ibu menyatakan khawatir dengan kondisi anaknya yang lebih berat dari sebelumnya. Riwayat penyakit dahulu bulan September 2021 anak opname dengan kasus sindrom nefrotik, dan tidak melanjutkan pengobatankarena anak takut dan tidak mau dibawa/datang ke rumah sakit. Riwayat kesehatan keluarga ada yang menderita penyakit hipertensi yaitu ayah dan kakek pasien, tidak ada yang menderita penyakit ginjal maupun penyakit menular lainnya Pemeriksaan fisik didapatkan GCS E4V5M6 Tekanan Darah110/50mmHg. Suhu 37°C. Pernapasan Frekuensi 26x/menit BB:21 kg. TB: 110cm. Protein total:6.59g/dl, Albumin: 1.72 g/dl, Globulin 4.87 g/dl IMT BB/TB-21/(1.1)²=17.4 (nilai normal-2 SD sd +1 SD 13.1 s/d 18.7) TB An.A dalam rentang Normal. Wajah bulat simetris sembab (moonface), edema palpebra, bibir kering, suara ronchi pada pada paru atas kanan kiri, asites, lingkar perut 60cm, pusar datar, edema skrotum, urine warna cola sedikit, edema ekstremitas derajat 2. Kulit mengkilat mudah lecet, capilari refill 2 detik Persepsi kesehatan dan pola managemen kesehatan sejak setelah opname bulan September 2021 anak tidak mau dibawa periksa ke rumah sakit karena takut disuntik. Pola nutrisi metabolik biocemical An.A mengalami hipoalbunemia (Kadar albmin 1.72), tampak lemes, oedem pada palpebra, sembab pada wajah, acites, oedema scrotalis dan ekstremitas. Tampak lemah, An, A susah makan mengatakan perut terasa kenyang, makan hanya 30% dari porsi yang disediakan Aktifitas-pola latihan Ibu An. A mengatakan biasanya aktif bermain bersama teman-temannya, sejak sakit An.A kelelahan saat berjalan ke kamar mandi terengah-engah, lebih banyak tiduran sambil melihat TV atau main HP Pola kognitif-persepsi An.A mengatakan badan terasa tidak nyaman, nyeri sendi skala nyeri 2. badan terasa berat tidak mampu beraktivitas lama dan cepat lelah. Diagnosa ansietas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan data pengkajian yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan, penjelasan singkat, serta SDKI, SLKI, dan SIKI yang sesuai dengan standar Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
1. Diagnosa Keperawatan: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Penjelasan Singkat:
- Pasien mengalami edema, bengkak pada wajah dan seluruh tubuh, serta asites yang mengindikasikan adanya masalah keseimbangan cairan dan elektrolit.
- Pasien juga mengalami hipoalbuminemia, tampak lemah, susah makan, dan hanya mengonsumsi 30% dari porsi yang disediakan.
- Kondisi ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
SDKI: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
SLKI: Peningkatan status nutrisi
SIKI: Manajemen nutrisi
2. Diagnosa Keperawatan: Intoleransi aktivitas
Penjelasan Singkat:
- Pasien mengalami kelelahan saat berjalan ke kamar mandi, terengah-engah, dan lebih banyak beristirahat.
- Pasien juga tampak lemah dan mudah lelah saat beraktivitas.
- Kondisi ini menunjukkan adanya intoleransi aktivitas.
SDKI: Intoleransi aktivitas
SLKI: Peningkatan toleransi aktivitas
SIKI: Manajemen aktivitas
3. Diagnosa Keperawatan: Ansietas
Penjelasan Singkat:
- Pasien menunjukkan perilaku rewel (menangis), menolak petugas yang mendekat, dan berontak saat diperiksa, diberi obat, atau saat pengambilan sample pemeriksaan laboratorium.
- Ibu pasien juga menyatakan khawatir dengan kondisi anaknya yang lebih berat dari sebelumnya.
- Kondisi ini menunjukkan adanya ansietas pada pasien.
SDKI: Ansietas
SLKI: Penurunan ansietas
SIKI: Manajemen ansietas
Kesimpulan:
Berdasarkan data pengkajian yang diberikan, terdapat tiga diagnosa keperawatan utama yang sesuai dengan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia, yaitu Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, Intoleransi aktivitas, dan Ansietas. Masing-masing diagnosa keperawatan memiliki penjelasan singkat dan kaitannya dengan standar SDKI, SLKI, dan SIKI. -
Article No. 15470 | 13 Apr 2025
Klinis : Pengkajian dilakukan pada tanggal 26 Juni 2021 jam 15.00 di ruang Tjan Khee Swan Barat RS dr. Oen Solobaru. Data pada kasus ini didapatkan dengan cara wawancara kepada Ibu pasein, pengamatan langsung dan data catatan medis dan keperawatan pasien. Identitas An.A laki-laki berusia 6 tahun 1 bulan beragama Islam masuk opname tgl 25/06/201, alamat Tawang 01/01 Tawang weru Sukoharjo, diagnosa medis Sindrom nefrotik. Keluhan utama anak rewel (menangis) minta pulang, menolak petugas yang mendekat, dan berontak saat diperiksa, diberi obat maupun saat pengambilan sample pemeriksaan laboratorium. Riwayat penyakit sekarang Ibu pasien mengatakan mulai 2 minggu yang lalu bengkak wajah dan seluruh tubuh, BAK sedikit, anak susah makan, muka sembab oedema palpebra oedema seluruh tubuh. Pasien datang ke poli spesilis anak Rumah Sakit dr. Oen Solobaru, Tekanan Darah 110/50mmHg, Suhu 37°C. Pernapasan Frekuensi 26x/menit, terapi infus KaEn3A 12 tpm, Lasik 2x15 mg drip infus, Plasbumin 25% 100cc, Lameson injeksi 3x12mg, An.A di rawat di ruang Tjan Khee Swan Barat. Ibu menyatakan khawatir dengan kondisi anaknya yang lebih berat dari sebelumnya. Riwayat penyakit dahulu bulan September 2021 anak opname dengan kasus sindrom nefrotik, dan tidak melanjutkan pengobatankarena anak takut dan tidak mau dibawa/datang ke rumah sakit. Riwayat kesehatan keluarga ada yang menderita penyakit hipertensi yaitu ayah dan kakek pasien, tidak ada yang menderita penyakit ginjal maupun penyakit menular lainnya Pemeriksaan fisik didapatkan GCS E4V5M6 Tekanan Darah110/50mmHg. Suhu 37°C. Pernapasan Frekuensi 26x/menit BB:21 kg. TB: 110cm. Protein total:6.59g/dl, Albumin: 1.72 g/dl, Globulin 4.87 g/dl IMT BB/TB-21/(1.1)²=17.4 (nilai normal-2 SD sd +1 SD 13.1 s/d 18.7) TB An.A dalam rentang Normal. Wajah bulat simetris sembab (moonface), edema palpebra, bibir kering, suara ronchi pada pada paru atas kanan kiri, asites, lingkar perut 60cm, pusar datar, edema skrotum, urine warna cola sedikit, edema ekstremitas derajat 2. Kulit mengkilat mudah lecet, capilari refill 2 detik Persepsi kesehatan dan pola managemen kesehatan sejak setelah opname bulan September 2021 anak tidak mau dibawa periksa ke rumah sakit karena takut disuntik. Pola nutrisi metabolik biocemical An.A mengalami hipoalbunemia (Kadar albmin 1.72), tampak lemes, oedem pada palpebra, sembab pada wajah, acites, oedema scrotalis dan ekstremitas. Tampak lemah, An, A susah makan mengatakan perut terasa kenyang, makan hanya 30% dari porsi yang disediakan Aktifitas-pola latihan Ibu An. A mengatakan biasanya aktif bermain bersama teman-temannya, sejak sakit An.A kelelahan saat berjalan ke kamar mandi terengah-engah, lebih banyak tiduran sambil melihat TV atau main HP Pola kognitif-persepsi An.A mengatakan badan terasa tidak nyaman, nyeri sendi skala nyeri 2. badan terasa berat tidak mampu beraktivitas lama dan cepat lelah. Diagnosa ansietas
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi di atas adalah:
1. Resiko Gangguan Proses Tumbuh Kembang
- Definisi: Rentan mengalami hambatan dalam proses tumbuh kembang yang normal akibat kondisi medis, psikologis, atau sosial.
- Karakteristik Definisi: Anak usia 6 tahun dengan sindrom nefrotik mengalami pembengkakan di seluruh tubuh, susah makan, dan menjadi lebih lemah secara fisik. Hal ini dapat menghambat tumbuh kembangnya.
2. Nyeri Akut
- Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau dijelaskan dalam istilah kerusakan tersebut.
- Karakteristik Definisi: Anak mengeluhkan nyeri sendi dengan skala 2, serta merasakan tubuh terasa berat dan tidak nyaman.
3. Ansietas
- Definisi: Perasaan tidak nyaman atau khawatir yang disebabkan oleh antisipasi bahaya.
- Karakteristik Definisi: Anak menolak petugas yang mendekat, berontak saat diperiksa, diberi obat, atau saat pengambilan sampel laboratorium. Ibu pasien juga merasa khawatir dengan kondisi anak yang lebih berat dari sebelumnya.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Resiko Gangguan Proses Tumbuh Kembang:
- Tumbuh kembang sesuai usia
- Tidak ada hambatan dalam tumbuh kembang
- Peningkatan berat badan dan tinggi badan sesuai usia
2. Nyeri Akut:
- Nyeri terkontrol
- Ekspresi nyeri menurun
- Dapat beraktivitas tanpa hambatan nyeri
3. Ansietas:
- Kecemasan menurun
- Mampu mengendalikan kecemasan
- Kooperatif dalam menerima perawatan
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Resiko Gangguan Proses Tumbuh Kembang:
- Identifikasi faktor risiko tumbuh kembang
- Pantau status tumbuh kembang
- Kolaborasi dalam menangani kondisi medis yang menghambat tumbuh kembang
- Dukung pola makan dan nutrisi yang adekuat
2. Nyeri Akut:
- Lakukan pengkajian nyeri komprehensif
- Berikan manajemen nyeri farmakologis dan non-farmakologis
- Ajarkan teknik manajemen nyeri
- Kolaborasi dengan tim kesehatan dalam penanganan nyeri
3. Ansietas:
- Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman
- Berikan informasi yang jelas dan rinci tentang perawatan
- Libatkan keluarga dalam perawatan anak
- Kembangkan hubungan saling percaya dengan anak
- Ajarkan teknik manajemen kecemasan
Setiap intervensi perlu dilakukan secara komprehensif dan berpusat pada kebutuhan anak dan keluarga untuk mencapai luaran yang diharapkan. -
Article No. 15471 | 13 Apr 2025
Klinis : Pemeriksaan Fisik: Demam tinggi (39,5°C) Sakit kepala hebat Perubahan perilaku (menjadi lebih rewel dan mudah marah) Kejang Penurunan kesadaran (letargi) Hemiparesis (kelemahan pada satu sisi tubuh) Afasia (kesulitan bicara atau memahami bahasa) Pemeriksaan Penunjang: Lumbal Pungsi (CSF): Tekanan cairan serebrospinal (CSF) meningkat. Jumlah sel darah putih (leukosit) meningkat, didominasi oleh limfosit. Protein CSF meningkat. Glukosa CSF normal. PCR (Polymerase Chain Reaction) CSF: Positif untuk Herpes Simplex Virus (HSV). MRI (Magnetic Resonance Imaging) otak: Menunjukkan peradangan pada lobus temporal. EEG (Elektroensefalografi): Menunjukkan aktivitas elektromagnetik abnormal.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosa keperawatan SDKI yang sesuai adalah:
1. Risiko Infeksi Otak (RIRK)
Definisi: Rentan terhadap masuknya agen patogen ke dalam otak, yang dapat menyebabkan infeksi.
Etiologi: Kondisi pasien terindikasi adanya infeksi virus Herpes Simplex yang menyerang sistem saraf pusat.
2. Gangguan Integritas Kognitif (GIKT)
Definisi: Gangguan dalam fungsi intelektual yang dapat mengganggu kemampuan berpikir, belajar, dan mengingat.
Etiologi: Infeksi virus Herpes Simplex pada sistem saraf pusat dapat menyebabkan perubahan perilaku, penurunan kesadaran, afasia, dan gangguan kognitif lainnya.
3. Gangguan Mobilitas Fisik (GMFK)
Definisi: Keterbatasan dalam gerakan fisik yang disebabkan oleh gangguan muskuloskeletal, neurovaskular, atau faktor lainnya.
Etiologi: Hemiparesis (kelemahan satu sisi tubuh) merupakan manifestasi klinis dari infeksi virus Herpes Simplex pada sistem saraf pusat.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Risiko Infeksi Otak (RIRK)
a. Tekanan Darah: Tanda-tanda vital dalam batas normal
b. Suhu Tubuh: Suhu tubuh kembali normal
c. Gejala Infeksi: Tidak ada tanda-tanda infeksi sistemik
d. Kemampuan Pertahanan Tubuh: Meningkat
2. Gangguan Integritas Kognitif (GIKT)
a. Orientasi: Membaik
b. Kemampuan Berbahasa: Membaik
c. Kemampuan Memproses Informasi: Membaik
d. Tingkat Kesadaran: Membaik
3. Gangguan Mobilitas Fisik (GMFK)
a. Fungsi Motorik: Membaik
b. Koordinasi: Membaik
c. Kekuatan Otot: Membaik
d. Kemampuan Aktivitas Fisik: Membaik
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Risiko Infeksi Otak (RIRK)
a. Observasi Tanda-tanda Vital
b. Pemantauan Suhu Tubuh
c. Pemantauan Tanda dan Gejala Infeksi
d. Manajemen Demam
e. Terapi Antivirus
2. Gangguan Integritas Kognitif (GIKT)
a. Orientasi Realitas
b. Stimulasi Kognitif
c. Terapi Wicara
d. Manajemen Perilaku
3. Gangguan Mobilitas Fisik (GMFK)
a. Terapi Latihan Motorik
b. Mobilisasi Progresif
c. Terapi Okupasi
d. Pelatihan Aktivitas Kehidupan Sehari-hari
Penjelasan yang rinci:
Dalam kondisi ini, pasien menunjukkan gejala infeksi virus Herpes Simplex pada sistem saraf pusat, yang menyebabkan berbagai komplikasi, seperti demam tinggi, gangguan kesadaran, gangguan kognitif, dan gangguan mobilitas fisik. Oleh karena itu, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Risiko Infeksi Otak, Gangguan Integritas Kognitif, dan Gangguan Mobilitas Fisik.
Setiap diagnosa keperawatan memiliki luaran/output yang diharapkan dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Intervensi keperawatan yang diberikan bertujuan untuk mengatasi infeksi, memulihkan fungsi kognitif, dan meningkatkan mobilitas fisik pasien. -
Article No. 15472 | 13 Apr 2025
Klinis : Pemeriksaan Fisik: Demam tinggi (39,5°C) Sakit kepala hebat Perubahan perilaku (menjadi lebih rewel dan mudah marah) Kejang Penurunan kesadaran (letargi) Hemiparesis (kelemahan pada satu sisi tubuh) Afasia (kesulitan bicara atau memahami bahasa) Pemeriksaan Penunjang: Lumbal Pungsi (CSF): Tekanan cairan serebrospinal (CSF) meningkat. Jumlah sel darah putih (leukosit) meningkat, didominasi oleh limfosit. Protein CSF meningkat. Glukosa CSF normal. PCR (Polymerase Chain Reaction) CSF: Positif untuk Herpes Simplex Virus (HSV). MRI (Magnetic Resonance Imaging) otak: Menunjukkan peradangan pada lobus temporal. EEG (Elektroensefalografi): Menunjukkan aktivitas elektromagnetik abnormal.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Infeksi intrakranial berhubungan dengan infeksi Herpes Simplex Virus (HSV) yang ditandai dengan demam tinggi, sakit kepala hebat, perubahan perilaku, kejang, penurunan kesadaran, hemiparesis, dan afasia.
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Infeksi intrakranial: Kerusakan atau gangguan pada struktur dan fungsi otak yang disebabkan oleh mikroorganisme patogen.
- Tanda dan gejala: Demam, sakit kepala, perubahan perilaku, kejang, penurunan kesadaran, hemiparesis, afasia.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Pemulihan fungsi neurologis
- Pemulihan status mental
- Pemulihan gerak tubuh
- Pemulihan komunikasi
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Manajemen infeksi
- Manajemen tanda vital
- Manajemen status neurologis
- Manajemen kejang
- Manajemen gangguan komunikasi
Berdasarkan pemeriksaan penunjang, hasil lumbal pungsi menunjukkan peningkatan tekanan cairan serebrospinal, jumlah sel darah putih, dan protein, serta hasil PCR positif untuk Herpes Simplex Virus (HSV). Selain itu, MRI otak menunjukkan peradangan pada lobus temporal dan EEG menunjukkan aktivitas elektromagnetik abnormal, mendukung diagnosis infeksi intrakranial.
Perawatan yang komprehensif, termasuk penanganan infeksi, kontrol tanda vital, manajemen status neurologis, manajemen kejang, dan intervensi untuk mengatasi gangguan komunikasi, akan sangat penting dalam mengelola kondisi ini. -
Article No. 15473 | 13 Apr 2025
Klinis : perfusi jaringan otak
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci terkait diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan untuk kondisi perfusi jaringan otak.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi perfusi jaringan otak adalah "Gangguan Perfusi Jaringan Otak". Diagnosa ini menggambarkan adanya penurunan aliran darah dan oksigenasi ke jaringan otak, yang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, seperti stroke, cedera kepala, atau gangguan suplai darah ke otak.
Luaran/Output SLKI:
Setelah diberikan asuhan keperawatan, luaran yang diharapkan adalah:
1. Perfusi Jaringan Otak Membaik: Pasien menunjukkan peningkatan aliran darah dan oksigenasi ke jaringan otak, yang ditandai dengan perbaikan fungsi neurologis, pemulihan kesadaran, dan penurunan tanda-tanda gangguan perfusi otak.
2. Manajemen Perfusi Jaringan Otak Efektif: Pasien dan/atau keluarga mampu mengelola faktor-faktor yang memengaruhi perfusi jaringan otak, seperti kontrol tekanan darah, pengaturan aktivitas, dan pengelolaan gejala.
3. Pencegahan Komplikasi Efektif: Pasien tidak mengalami komplikasi akibat gangguan perfusi jaringan otak, seperti infark otak, edema otak, atau perdarahan intrakranial.
Intervensi Keperawatan SIKI:
Untuk mencapai luaran yang diharapkan, intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah:
1. Pemantauan Tanda-Tanda Vital dan Neurologis: Melakukan pemantauan berkala terhadap tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, respirasi, suhu) dan status neurologis (kesadaran, fungsi motorik, sensorik, dan kognitif) pasien untuk mendeteksi perubahan dan memantau efektivitas intervensi.
2. Manajemen Oksigenasi: Memberikan oksigen tambahan sesuai kebutuhan pasien, memastikan adekuatnya ventilasi, dan mempertahankan saturasi oksigen yang optimal untuk menjaga oksigenasi jaringan otak.
3. Manajemen Tekanan Darah: Melakukan intervensi farmakologis dan non-farmakologis untuk mengontrol tekanan darah pada target yang sesuai, sehingga menjaga perfusi jaringan otak.
4. Manajemen Aktivitas dan Mobilisasi: Mengatur dan memantau aktivitas pasien untuk meminimalkan penggunaan energi dan menjaga stabilitas hemodinamik, serta melakukan mobilisasi dini dan progresif untuk meningkatkan aliran darah ke otak.
5. Edukasi dan Konseling: Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai kondisi, faktor risiko, dan manajemen yang tepat untuk menjaga perfusi jaringan otak, serta memberikan konseling untuk meningkatkan kepatuhan dan kemampuan dalam perawatan mandiri.
6. Kolaborasi Interprofesional: Berkolaborasi dengan tim kesehatan lain, seperti dokter, ahli gizi, dan terapis, untuk mengoptimalkan asuhan komprehensif dalam mengelola gangguan perfusi jaringan otak.
Dengan menerapkan diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan yang sesuai, diharapkan dapat membantu pasien dengan gangguan perfusi jaringan otak untuk mencapai perbaikan perfusi, manajemen efektif, dan pencegahan komplikasi yang optimal. -
Article No. 15474 | 13 Apr 2025
Klinis : perfusi jaringan otak
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci terkait diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan untuk kondisi perfusi jaringan otak.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi perfusi jaringan otak adalah "Gangguan Perfusi Jaringan Serebral". Diagnosa ini menggambarkan adanya penurunan suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan otak, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti strok, trauma kepala, atau kondisi medis lainnya. Penegakan diagnosa ini memerlukan pengkajian yang komprehensif, termasuk pemeriksaan neurologis, pemeriksaan penunjang (CT scan, MRI), dan pemantauan tanda-tanda vital.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah dilakukan asuhan keperawatan, luaran yang diharapkan adalah "Perfusi Jaringan Serebral Membaik". Luaran ini mencakup parameter-parameter seperti:
1. Peningkatan kesadaran dan status neurologis pasien
2. Perbaikan fungsi motorik dan sensorik
3. Stabilitas tanda-tanda vital (tekanan darah, saturasi oksigen, denyut nadi)
4. Tidak ada tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial
5. Tidak ada komplikasi lebih lanjut (seperti infark, perdarahan, atau edema otak)
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai luaran "Perfusi Jaringan Serebral Membaik", beberapa intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah:
1. Pemantauan tanda-tanda vital secara berkala, termasuk tekanan darah, saturasi oksigen, dan denyut nadi.
2. Manajemen oksigenasi, seperti pemberian oksigen tambahan, pengaturan posisi pasien, dan penggunaan alat bantu pernapasan jika diperlukan.
3. Manajemen intake dan output cairan, untuk menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit.
4. Penatalaksanaan nyeri, jika pasien mengalami nyeri kepala atau gejala lainnya.
5. Perawatan terkait penurunan tingkat kesadaran, seperti pencegahan aspirasi, dekubitus, dan kontraktur.
6. Rehabilitasi fisik dan terapi okupasi untuk membantu pemulihan fungsi motorik dan sensorik.
7. Edukasi dan dukungan psikologis bagi pasien dan keluarga.
8. Kolaborasi dengan tim multidisiplin (dokter, fisioterapis, terapis okupasi, dll.) untuk perawatan komprehensif.
Penerapan intervensi-intervensi tersebut secara komprehensif dan terkoordinasi diharapkan dapat mencapai luaran yang diinginkan, yaitu perbaikan perfusi jaringan serebral pada pasien. -
Article No. 15475 | 13 Apr 2025
Klinis : kapan munculnya sdki
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi yang Anda tanyakan.
Diagnosa Keperawatan:
Berdasarkan kondisi yang diberikan, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Risiko Infeksi. Risiko Infeksi merupakan kerentanan individu terhadap invasi dan multiplikasi organisme patogen, yang dapat membahayakan kesehatan.
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia)
SDKI adalah sekumpulan pernyataan yang terstandar dan disepakati oleh profesi keperawatan di Indonesia, yang menggambarkan respons manusia (individu, keluarga, dan komunitas) terhadap masalah kesehatan/proses kehidupan, serta merupakan inti praktik keperawatan.
SDKI dikembangkan oleh PPNI dan pertama kali diterbitkan pada tahun 2017. SDKI menjadi acuan bagi praktisi keperawatan dalam menentukan diagnosa keperawatan yang sesuai dengan kondisi pasien.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia)
SLKI adalah sejumlah pernyataan terstandar dan disepakati oleh profesi keperawatan di Indonesia, yang menggambarkan hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan. SLKI dikembangkan oleh PPNI dan pertama kali diterbitkan pada tahun 2019.
SLKI menjadi acuan bagi praktisi keperawatan dalam merumuskan luaran atau hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan yang diberikan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia)
SIKI adalah sekumpulan pernyataan terstandar dan disepakati oleh profesi keperawatan di Indonesia, yang menggambarkan tindakan keperawatan yang dilakukan untuk mencapai luaran keperawatan yang diharapkan. SIKI dikembangkan oleh PPNI dan pertama kali diterbitkan pada tahun 2018.
SIKI menjadi acuan bagi praktisi keperawatan dalam menentukan intervensi keperawatan yang sesuai dengan diagnosa keperawatan dan luaran yang diharapkan.
Dalam konteks ini, SDKI, SLKI, dan SIKI merupakan standar yang dikembangkan oleh PPNI sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas praktik keperawatan di Indonesia. Penggunaannya diharapkan dapat membantu perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang terstandar dan berkualitas. -
Article No. 15476 | 13 Apr 2025
Klinis : kapan munculnya sdki, sertakan jurnal dan sitasi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai seorang perawat profesional, saya akan menjelaskan tentang Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang dikeluarkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).
SDKI, SLKI, dan SIKI merupakan standar yang disusun oleh PPNI untuk menjamin kualitas praktik keperawatan di Indonesia. Standar-standar ini dikembangkan berdasarkan bukti ilmiah terkini dan konsensus para pakar keperawatan.
SDKI pertama kali diperkenalkan pada tahun 2012 (Persatuan Perawat Nasional Indonesia, 2017). SDKI berisi daftar diagnosis keperawatan yang dapat digunakan oleh perawat dalam praktik klinis. Setiap diagnosis disertai dengan definisi, penyebab, tanda dan gejala, serta faktor yang mempengaruhi.
Contoh diagnosis keperawatan yang dapat diterapkan untuk kondisi tertentu adalah:
1. Diagnosis Keperawatan: Nyeri Akut
- Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial.
- Penyebab: Agen cedera fisik, agen penyakit, agen psikologis.
- Tanda dan Gejala: Keluhan nyeri, ekspresi wajah menunjukkan nyeri, peningkatan tanda-tanda vital.
- Faktor yang Mempengaruhi: Usia, jenis kelamin, budaya, coping, dan lain-lain.
SLKI dan SIKI juga dikembangkan oleh PPNI sebagai kelanjutan dari SDKI. SLKI berisi luaran atau hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan, sedangkan SIKI berisi daftar intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mencapai luaran tersebut.
Penerapan SDKI, SLKI, dan SIKI dalam praktik keperawatan dapat meningkatkan kualitas asuhan keperawatan dan memastikan perawat memberikan intervensi yang tepat untuk mencapai hasil yang optimal bagi pasien.
Referensi:
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat PPNI. -
Article No. 15477 | 13 Apr 2025
Klinis : pasien mengatakan sulit tidur dan sering terbangun akibat nyeri tiba tiba muncul
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan kondisi yang dideskripsikan, yaitu pasien mengeluhkan sulit tidur dan sering terbangun akibat nyeri tiba-tiba muncul, maka dapat diberikan kode diagnosis dan prosedur medis sebagai berikut:
1. Kode ICD-10:
- Kode: G44.209
- Deskripsi: Nyeri kepala tipe cluster, tidak spesifik
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 99.39
- Deskripsi: Pemberian analgesik atau anestetik lainnya, tidak diklasifikasikan di tempat lain
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 G44.209 (Nyeri kepala tipe cluster, tidak spesifik) dipilih karena gejala yang diutarakan oleh pasien, yaitu nyeri tiba-tiba muncul yang dapat mengganggu tidur, sesuai dengan karakteristik nyeri kepala tipe cluster.
2. Kode ICD-9-CM 99.39 (Pemberian analgesik atau anestetik lainnya, tidak diklasifikasikan di tempat lain) dapat digunakan untuk mencatat pemberian obat penghilang rasa sakit atau obat penenang yang diberikan untuk mengatasi keluhan nyeri yang dialami oleh pasien.
Dalam praktik klinis, diagnosis dan rencana penatalaksanaan lebih lanjut akan ditentukan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang dilakukan oleh dokter yang menangani pasien.