Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 22763 | 14 Nov 2025
Klinis : Ketidak stabilan kadar glukosa darah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: D.0060
Deskripsi Singkat: Risiko ketidakstabilan kadar glukosa darah adalah keadaan dimana seorang individu rentan mengalami variasi kadar glukosa darah di luar rentang normal, yang dapat mengakibatkan komplikasi.
Kode SLKI: L.03121
Deskripsi : SLKI dengan kode L.03121 berfokus pada pemantauan kadar glukosa darah. Tindakan keperawatan ini melibatkan pengukuran dan pencatatan kadar glukosa darah pasien secara berkala sesuai dengan protokol yang ditetapkan, baik dalam kondisi puasa, dua jam postprandial (setelah makan), atau sewaktu. Perawat bertanggung jawab untuk memastikan akurasi alat pengukur glukosa darah (glukometer) dengan melakukan kalibrasi secara rutin dan menggunakan teknik pengambilan sampel darah yang benar untuk menghindari kesalahan hasil. Hasil pemantauan didokumentasikan dengan cermat dalam catatan keperawatan untuk memantau tren dan pola fluktuasi glukosa. Selain itu, perawat mengobservasi dan melaporkan tanda-tanda dan gejala hipoglikemia (seperti lemas, keringat dingin, gemetar, konfusius) maupun hiperglikemia (seperti poliuria, polidipsia, penglihatan kabur, lemas) kepada tim medis. Pemantauan yang konsisten dan akurat ini merupakan landasan fundamental untuk mengevaluasi efektivitas terapi, menentukan kebutuhan penyesuaian dosis insulin atau obat hipoglikemik oral, dan mencegah komplikasi akut yang mengancam jiwa.
Kode SIKI: I.01220
Deskripsi : SIKI dengan kode I.01220 adalah intervensi untuk memantau manajemen hipoglikemia dan hiperglikemia. Intervensi ini bersifat komprehensif dan proaktif. Perawat melakukan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai cara mengenali gejala dini hipoglikemia dan hiperglikemia, serta tindakan yang harus segera dilakukan. Untuk mencegah hipoglikemia, perawat memastikan jadwal makan pasien sesuai dengan waktu kerja insulin atau obat, mendorong konsumsi camilan jika diperlukan sebelum aktivitas fisik yang berat, dan mengajarkan prinsip "rule of 15" (konsumsi 15 gram karbohidrat sederhana, tunggu 15 menit, lalu periksa kembali gula darah) untuk penanganan awal hipoglikemia ringan. Di sisi lain, untuk mengelola risiko hiperglikemia, perawat mendidik pasien tentang pentingnya kepatuhan terhadap regimen terapi (insulin atau OAD), pola makan yang sesuai dengan anjuran gizi (prinsip 3J: Jadwal, Jumlah, Jenis), dan melakukan aktivitas fisik secara teratur. Perawat juga memantau adanya tanda-tanda komplikasi jangka panjang seperti luka yang sulit sembuh, gangguan sensasi pada kaki (neuropati), atau perubahan penglihatan, serta mendorong pasien untuk melakukan pemeriksaan kaki secara mandiri setiap hari. Intervensi ini juga mencakup kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun rencana diet individu dan dengan dokter untuk menyesuaikan regimen terapi farmakologis berdasarkan hasil pemantauan glukosa darah. Tujuan akhirnya adalah memberdayakan pasien untuk mengelola kondisinya secara mandiri, sehingga mencapai kadar glukosa darah yang stabil dan meningkatkan kualitas hidupnya.
-
Article No. 22764 | 14 Nov 2025
Klinis : Ketidak stabilan kadar glukosa darah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: 0013
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SLKI: 3413
Deskripsi : Perilaku Manajemen Diabetes
Kode SIKI: 4413
Deskripsi : Manajemen Hiperglikemia
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI): Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah (Kode: 0013)
Definisi: Sebuah kondisi di mana seorang individu rentan mengalami variasi kadar glukosa darah dari rentang normal, yang dapat mengakibatkan komplikasi akut dan kronis. Kondisi ini bukanlah tentang hiperglikemia atau hipoglikemia yang sudah terjadi, melainkan tentang kerentanan atau potensi tinggi untuk mengalaminya. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap diagnosis ini sangat beragam, mencakup aspek pengetahuan, perilaku, fisiologis, dan psikososial. Faktor pengetahuan meliputi kurangnya pemahaman tentang penyakit diabetes, manajemen diet, pemantauan glukosa darah, penggunaan obat (insulin atau oral), dan penanganan situasi darurat. Faktor perilaku dapat berupa ketidakpatuhan terhadap terapi, pola makan yang tidak teratur, konsumsi karbohidrat sederhana berlebihan, serta gaya hidup sedentari atau kurang aktivitas fisik. Faktor fisiologis termasuk penyakit penyerta seperti infeksi, stres fisik, atau kondisi hormonal lainnya yang dapat mempengaruhi metabolisme glukosa. Sementara itu, faktor psikososial seperti stres emosional, depresi, kecemasan, dan kurangnya dukungan sosial juga berperan besar dalam menciptakan ketidakstabilan. Tujuan utama dari diagnosis ini adalah untuk mengidentifikasi individu yang berisiko dan melakukan intervensi preventif agar ketidakstabilan tersebut tidak terjadi, sehingga mencegah komplikasi lebih lanjut dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Luaran Keperawatan (SLKI): Perilaku Manajemen Diabetes (Kode: 3413)
Definisi: Tindakan yang dilakukan oleh individu untuk mengelola diagnosis diabetes dan mencegah komplikasi. Luaran ini berfokus pada kemampuan dan kemandirian pasien dalam mengendalikan penyakitnya. Perilaku manajemen diabetes yang efektif adalah kunci untuk mencapai kadar glukosa darah yang stabil. Luaran ini diharapkan dapat tercapai setelah intervensi keperawatan dilakukan. Indikator dari luaran ini sangat komprehensif. Pertama, adalah pemantauan glukosa darah mandiri, di mana pasien mampu melakukan pengecekan kadar gula darah secara rutin dan mencatat hasilnya, serta memahami interpretasi dari angka-angka tersebut. Kedua, manajemen diet, yang meliputi kemampuan pasien untuk memilih jenis makanan yang tepat (terutama karbohidrat kompleks, serat, dan membatasi gula sederhana), mengatur porsi makan sesuai kebutuhan kalori, dan memiliki jadwal makan yang teratur. Ketiga, manajemen aktivitas fisik, dimana pasien memahami jenis, intensitas, dan durasi olahraga yang aman serta dapat memadukannya dengan regimen pengobatan untuk menghindari hipoglikemia. Keempat, kepatuhan dalam penggunaan terapi farmakologis, baik insulin (termasuk teknik penyuntikan yang benar, rotasi area injeksi, dan penyesuaian dosis) maupun obat hipoglikemik oral. Kelima, perawatan kaki untuk mencegah komplikasi neuropati dan ulkus diabetik. Keenam, kemampuan dalam mengenali dan menangani episode hipoglikemia dan hiperglikemia secara mandiri. Ketujuh, memanfaatkan sistem dukungan sosial dan melakukan kunjungan rutin ke tenaga kesehatan. Ketika semua perilaku ini dapat diintegrasikan ke dalam kehidupan sehari-hari, maka risiko ketidakstabilan glukosa darah dapat diminimalisir.
Intervensi Keperawatan (SIKI): Manajemen Hiperglikemia (Kode: 4413)
Definisi: Pencegahan dan penanganan kadar glukosa darah tinggi. Meskipun namanya "Manajemen Hiperglikemia", intervensi ini bersifat komprehensif dan juga mencakup aspek pencegahan hipoglikemia untuk menciptakan kestabilan. Intervensi ini merupakan serangkaian tindakan terencana yang dilakukan perawat untuk membantu pasien mencapai luaran yang diharapkan. Tindakan-tindakan tersebut dimulai dengan pemantauan yang ketat, yaitu memantau tanda dan gejala hiperglikemia (seperti poliuria, polidipsi, polifagi, lemas, penglihatan kabur) dan hipoglikemia (seperti berkeringat, gemetar, lapar, pusing, penurunan kesadaran). Perawat juga bertanggung jawab untuk memantau hasil pemeriksaan glukosa darah baik secara mandiri maupun di laboratorium (seperti HbA1c). Edukasi adalah pilar utama intervensi ini. Perawat memberikan pendidikan kesehatan yang mendetail tentang proses penyakit diabetes, faktor risiko, komplikasi jangka pendek dan panjang, serta pentingnya pengendalian glukosa. Edukasi juga mencakup keterampilan praktis seperti teknik menyuntik insulin yang benar, cara menggunakan alat pengecek gula darah, dan cara menyimpan insulin. Perawat berkolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun rencana diet individu yang sesuai dengan kondisi, budaya, dan preferensi pasien. Dalam hal terapi obat, perawat mengajarkan cara pemberian dan penyesuaian dosis insulin berdasarkan hasil pemantauan glukosa dan asupan makanan, serta memastikan kepatuhan minum obat. Perawat juga mendorong dan memotivasi pasien untuk melakukan aktivitas fisik secara teratur dan aman. Selain itu, intervensi psikososial seperti memberikan dukungan emosional, melibatkan keluarga dalam perawatan, dan membantu pasien mengembangkan strategi koping untuk mengatasi stres juga merupakan bagian integral dari manajemen ini. Dengan pendekatan yang holistik dan berkelanjutan ini, intervensi keperawatan bertujuan untuk memberdayakan pasien sehingga mampu mengelola diabetesnya secara mandiri dan mencapai kestabilan glukosa darah yang optimal.
-
Article No. 22765 | 14 Nov 2025
Klinis : hipertensi emergency
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertensi Emergency
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Risiko Penurunan Curah Jantung
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Manajemen Curah Jantung: Tindakan keperawatan untuk mengoptimalkan kontraktilitas jantung, preload, afterload, dan frekuensi jantung. Intervensi ini mencakup pemantauan ketat tanda-tanda vital, khususnya tekanan darah, denyut nadi, dan saturasi oksigen secara berkelanjutan untuk mendeteksi tanda-tanda penurunan perfusi jaringan. Tujuannya adalah mempertahankan tekanan darah dalam rentang yang ditargetkan untuk mencegah kerusakan organ lebih lanjut. Perawat akan memastikan keseimbangan cairan dengan memantau asupan dan keluaran, serta memberikan terapi obat sesuai resep (seperti vasodilator atau diuretik) dengan kecepatan dan dosis yang tepat. Posisi pasien diatur untuk memfasilitasi sirkulasi dan pernapasan yang optimal, seperti kepala tempat tidur ditinggikan. Edukasi juga diberikan kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya pembatasan cairan dan natrium, serta tanda-tanda memburuknya kondisi yang harus segera dilaporkan.
Kode SIKI: 4310
Deskripsi : Pemantauan Tekanan Darah: Tindakan pengumpulan dan analisis data tekanan darah sistolik, diastolik, dan rerata secara komprehensif. Pada hipertensi emergency, pemantauan ini bersifat intensif dan berkelanjutan, seringkali setiap 5-15 menit pada fase akut, untuk menilai respon terhadap terapi antihipertensi dan mendeteksi fluktuasi berbahaya. Perawat memilih manset tekanan darah dengan ukuran yang tepat untuk memastikan akurasi pengukuran. Selain nilai numerik, perawat juga mengamati tanda-tanda klinis terkait seperti sakit kepala hebat, penglihatan kabur, nyeri dada, sesak napas, atau penurunan kesadaran yang mengindikasikan gangguan perfusi organ vital (ensefalopati hipertensi, gagal jantung, sindrom koroner akut). Data ini didokumentasikan dengan cermat untuk mengevaluasi tren dan efektivitas intervensi. Perawat juga berperan dalam menenangkan pasien, karena kecemasan dapat memperburuk tekanan darah, dan memastikan lingkungan yang tenang untuk mendukung stabilitas hemodinamik.
-
Article No. 22766 | 14 Nov 2025
Klinis : hipertensi emergency
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: hipertensi emergency
Kode SDKI: D.0015
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan curah jantung
Kode SLKI: L.03142
Deskripsi : Curah jantung membaik, ditandai dengan: Tekanan darah dalam batas yang diharapkan; Nadi perifer dapat diraba; Kulit hangat dan kering; Tidak ada bunyi jantung tambahan (gallop); Tidak ada ortopnea; Tidak ada dispnea nokturnal paroksimal; Tidak ada edema paru; Tidak ada penurunan kesadaran; Tidak ada nyeri dada; Haluaran urine adekuat; Tidak ada kelelahan berlebihan.
Kode SIKI: I.08021
Deskripsi : Manajemen penurunan curah jantung, meliputi: Monitor tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu setiap 15 menit sampai stabil, kemudian setiap 1-4 jam sesuai kondisi; Auskultasi bunyi jantung setiap 4-8 jam; Kaji adanya gallop (S3/S4); Kaji adanya dispnea, ortopnea, batuk, sianosis, dan bunyi napas tambahan (ronkhi, mengi); Kuali kuanti haluaran urine setiap jam; Kaji status neurologis (GCS, sakit kepala, penglihatan kabur, mual, muntah) setiap 1-4 jam; Pertahankan tirah baring dalam posisi semifowler; Batasi aktivitas fisik dan hindari kelelahan; Kolaborasi pemberian terapi oksigen sesuai kebutuhan; Kolaborasi pemberian obat-obatan antihipertensi intravena sesuai protokol (misal: labetalol, nicardipine, nitroprusside) dengan monitor ketat; Atur kecepatan infus berdasarkan respons tekanan darah; Pantau efek samping obat (hipotensi, bradikardi, sianosis); Kolaborasi pemberian diuretik bila ada tanda kelebihan cairan; Batasi asupan cairan dan natrium sesuai instruksi; Berikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya kepatuhan pengobatan dan pemantauan tekanan darah.
Kode SDKI: D.0096
Deskripsi Singkat: Nyeri akut
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Nyeri terkontrol, ditandai dengan: Skala nyeri menurun; Ekspresi wajah rileks; Tanda-tanda vital dalam rentang normal; Dapat melakukan aktivitas dengan tepat; Tidak gelisah.
Kode SIKI: I.09002
Deskripsi : Manajemen nyeri, meliputi: Kaji nyeri (skala, lokasi, karakteristik, faktor pencetus, dan penurun) setiap 1-4 jam; Observasi respon non verbal (ekspresi wajah, posisi tubuh, gelisah); Monitor tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan) setiap 15-30 menit selama nyeri berat; Ajarkan teknik non farmakologi (nafas dalam, distraksi, relaksasi, imajinasi terbimbing); Atur posisi yang nyaman; Ciptakan lingkungan yang tenang; Kolaborasi pemberian analgetik sesuai program (misal: analgesik non-opioid atau opioid dengan monitor efek samping terutama depresi pernapasan); Evaluasi efektivitas dan efek samping analgetik 30 menit setelah pemberian (intravena) atau 1 jam setelah pemberian (oral); Dokumentasi respons pasien terhadap intervensi.
Kode SDKI: D.0128
Deskripsi Singkat: Kurang pengetahuan
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Pengetahuan meningkat, ditandai dengan: Menyatakan pemahaman tentang kondisi, penyebab, dan pengobatan; Menyatakan pemahaman tentang komplikasi; Melakukan perilaku/perawatan diri yang diperlukan; Mematuhi regimen terapeutik.
Kode SIKI: I.06101
Deskripsi : Edukasi kesehatan, meliputi: Kaji tingkat pengetahuan pasien/keluarga tentang hipertensi dan kondisi emergency; Kaji kesiapan belajar; Jelaskan pengertian hipertensi emergency, penyebab, dan bahayanya; Jelaskan pentingnya kepatuhan minum obat dan monitoring tekanan darah; Jelaskan tanda dan gejala yang memerlukan perhatian segera (sakit kepala hebat, nyeri dada, sesak napas, penurunan kesadaran, kejang); Ajarkan cara memonitor tekanan darah sendiri jika memungkinkan; Diskusikan modifikasi gaya hidup: diet rendah garam dan lemak jenuh, menjaga berat badan ideal, aktivitas fisik teratur, berhenti merokok, dan membatasi alkohol; Diskusikan pentingnya kontrol teratur; Berikan kesempatan untuk bertanya dan ulangi informasi; Libatkan keluarga dalam perawatan; Berikan materi pendidikan kesehatan tertulis yang mudah dipahami.
-
Article No. 22767 | 14 Nov 2025
Klinis : perawatan area insisi
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Perawatan Area Insisi
Kode ICD-10: Z48.0
Deskripsi Singkat : Kode ICD-10 Z48.0 secara khusus mengacu pada "Perawatan dan pemeriksaan pencangkokan dan perawatan luka insisi". Kode ini digunakan untuk mengklasifikasikan kunjungan pasien yang berhubungan dengan perawatan rutin dan pemantauan luka bedah (insisi) setelah suatu prosedur operasi. Fokusnya adalah pada perawatan pascaoperasi langsung, seperti mengganti balutan, memeriksa tanda-tanda infeksi (seperti kemerahan, bengkak, atau nanah), memantau penyembuhan jaringan, dan memastikan jahitan atau staples masih berfungsi dengan baik. Penggunaan kode ini menunjukkan bahwa kondisi medis utama yang menyebabkan operasi telah ditangani, dan sekarang pasien berada dalam fase pemulihan dan pengelolaan luka. Kode Z48.0 termasuk dalam bab "Faktor-faktor yang berpengaruh pada status kesehatan dan kontak dengan layanan kesehatan", yang berarti kode ini mewakili alasan kontak dengan sistem kesehatan, bukan penyakit atau cedera aktif itu sendiri. Kode ini sangat penting untuk pencatatan administratif, pelacakan sumber daya yang digunakan untuk perawatan lanjutan, dan memastikan kelangsungan perawatan pasien setelah mereka meninggalkan rumah sakit.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 22768 | 14 Nov 2025
Klinis : Seorang perempuan usia 45 tahun dibawa ke IGD karena demam sejak satu pekan sebelumnya dan mengalami penurunan kesadaran sejak 4 jam yang lalu. Pasien mempunyai riwayat DM tipe II selama 8 tahun. Hasil pengkajian menunjukkan terdengar suara snoring, frekuensi nafas 32 x/menit dengan pernafasan kusmaull, frekuensi nadi 134x/menit lemah, tekanan darah 83/44 mmHg, GCS E1M1V1, SpO2 98% dengan rebreathing mask 10 Lpm, suhu 38oC, dan akral teraba dingin. Tampak luka gangren di kaki kiri yang tidak kunjung sembuh sejak tiga pekan sebelumnya. Pemeriksaan GDS memakai glucometer menunjukkan nilai High dan keton urin positif 3. Hasil BGA menunjukkan PH 6,89, PCO2 30 mmHg, HCO3 7 mmol/L, PO2 200 mmHg, BE -24,4 mmol/L. Kadar keton darah 5 nmol/L dan kadar laktat darah 3,4 mmol/L
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ketoasidosis Diabetikum (KAD) dengan Syok Septik
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SLKI: L.03113
Deskripsi : Pengendalian Glikemik
Kode SIKI: I.01104
Deskripsi : Manajemen Hipoglikemia / Hiperglikemia
Kondisi: Ketoasidosis Diabetikum (KAD) dengan Syok Septik
Kode SDKI: D.0021
Deskripsi Singkat: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Status Pernapasan
Kode SIKI: I.05001
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas
Kondisi: Ketoasidosis Diabetikum (KAD) dengan Syok Septik
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Penurunan Curah Jantung
Kode SLKI: L.02001
Deskripsi : Status Sirkulasi
Kode SIKI: I.04001
Deskripsi : Manajemen Syok
Kondisi: Ketoasidosis Diabetikum (KAD) dengan Syok Septik
Kode SDKI: D.0095
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: L.10001
Deskripsi : Status Infeksi
Kode SIKI: I.09001
Deskripsi : Pencegahan Infeksi
-
Article No. 22769 | 14 Nov 2025
Klinis : Seorang perempuan usia 45 tahun dibawa ke IGD karena demam sejak satu pekan sebelumnya dan mengalami penurunan kesadaran sejak 4 jam yang lalu. Pasien mempunyai riwayat DM tipe II selama 8 tahun. Hasil pengkajian menunjukkan terdengar suara snoring, frekuensi nafas 32 x/menit dengan pernafasan kusmaull, frekuensi nadi 134x/menit lemah, tekanan darah 83/44 mmHg, GCS E1M1V1, SpO2 98% dengan rebreathing mask 10 Lpm, suhu 38oC, dan akral teraba dingin. Tampak luka gangren di kaki kiri yang tidak kunjung sembuh sejak tiga pekan sebelumnya. Pemeriksaan GDS memakai glucometer menunjukkan nilai High dan keton urin positif 3. Hasil BGA menunjukkan PH 6,89, PCO2 30 mmHg, HCO3 7 mmol/L, PO2 200 mmHg, BE -24,4 mmol/L. Kadar keton darah 5 nmol/L dan kadar laktat darah 3,4 mmol/L
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Ketoasidosis Diabetik dengan Sepsis
Kode ICD-10: E10.11 & A41.9
Deskripsi Singkat : Pasien ini mengalami kondisi gawat darurat yang mengancam jiwa berupa Ketoasidosis Diabetik (KAD) yang dipicu oleh infeksi sepsis. KAD adalah komplikasi akut dari Diabetes Mellitus (DM) yang ditandai dengan triad hiperglikemia (gula darah sangat tinggi hingga tidak terbaca), ketosis (positif 3 pada keton urin dan peningkatan keton darah), dan asidosis metabolik berat (pH darah 6.89, HCO3 sangat rendah, Base Excess -24.4). Gambaran klinis seperti penurunan kesadaran berat (GCS E1M1V1), napas Kussmaul, dan syok (tekanan darah sangat rendah, nadi lemah, akral dingin) sangat konsisten dengan KAD berat. Infeksi yang mendasari, diduga sepsis, berasal dari gangren kaki kiri yang tidak kunjung sembuh. Hal ini dibuktikan dengan demam, takipnea, takikardia, dan peningkatan kadar laktat darah (3.4 mmol/L). Kode E10.11 merepresentasikan Ketoasidosis Diabetik pada Diabetes Mellitus Tipe 1, namun dalam konteks kasus ini dengan DM tipe 2 yang berat dan presentasi seperti KAD, pengkodean ini sering digunakan untuk menangkap keparahan presentasi asam ketoasidosisnya. Kode A41.9 mewakili Sepsis yang tidak ditentukan, yang menjelaskan respons sistemik terhadap infeksi gangren tersebut. Kedua kondisi ini saling memperburuk, di mana infeksi meningkatkan resistensi insulin dan memperparah KAD, sementara KAD melemahkan sistem imun dan memperburuk infeksi.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 22770 | 14 Nov 2025
Klinis : Seorang perempuan usia 45 tahun dibawa ke IGD karena demam sejak satu pekan sebelumnya dan mengalami penurunan kesadaran sejak 4 jam yang lalu. Pasien mempunyai riwayat DM tipe II selama 8 tahun. Hasil pengkajian menunjukkan terdengar suara snoring, frekuensi nafas 32 x/menit dengan pernafasan kusmaull, frekuensi nadi 134x/menit lemah, tekanan darah 83/44 mmHg, GCS E1M1V1, SpO2 98% dengan rebreathing mask 10 Lpm, suhu 38oC, dan akral teraba dingin. Tampak luka gangren di kaki kiri yang tidak kunjung sembuh sejak tiga pekan sebelumnya. Pemeriksaan GDS memakai glucometer menunjukkan nilai High dan keton urin positif 3. Hasil BGA menunjukkan PH 6,89, PCO2 30 mmHg, HCO3 7 mmol/L, PO2 200 mmHg, BE -24,4 mmol/L. Kadar keton darah 5 nmol/L dan kadar laktat darah 3,4 mmol/L
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ketoasidosis Diabetikum (KAD) dengan Syok Septik
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakstabilan Kadar Gula Darah
Kode SLKI: L.03142
Deskripsi : Pemantauan Ketidakstabilan Kadar Gula Darah
Kode SIKI: I.05239
Deskripsi : Manajemen Ketoasidosis Diabetikum
Kondisi: Ketoasidosis Diabetikum (KAD) dengan Syok Septik
Kode SDKI: D.0067
Deskripsi Singkat: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SLKI: L.03021
Deskripsi : Pemeliharaan Bersihan Jalan Napas
Kode SIKI: I.05110
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas
Kondisi: Ketoasidosis Diabetikum (KAD) dengan Syok Septik
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Penurunan Curah Jantung
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Pemantauan Tanda-Tanda Vital
Kode SIKI: I.05005
Deskripsi : Resusitasi Cairan
Kondisi: Ketoasidosis Diabetikum (KAD) dengan Syok Septik
Kode SDKI: D.0126
Deskripsi Singkat: Perfusi Perifer Tidak Efektif
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Pemantauan Tanda-Tanda Vital
Kode SIKI: I.05005
Deskripsi : Resusitasi Cairan
Kondisi: Ketoasidosis Diabetikum (KAD) dengan Syok Septik
Kode SDKI: D.0096
Deskripsi Singkat: Hipertermia
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Pemantauan Tanda-Tanda Vital
Kode SIKI: I.05130
Deskripsi : Manajemen Hipertermia
Kondisi: Ketoasidosis Diabetikum (KAD) dengan Syok Septik
Kode SDKI: D.0088
Deskripsi Singkat: Kerusakan Integritas Jaringan
Kode SLKI: L.03121
Deskripsi : Penyembuhan Luka: Tahap 1
Kode SIKI: I.05211
Deskripsi : Perawatan Luka
-
Article No. 22771 | 14 Nov 2025
Klinis : menurut kasus ini Seorang perempuan usia 45 tahun dibawa ke IGD karena demam sejak satu pekan sebelumnya dan mengalami penurunan kesadaran sejak 4 jam yang lalu. Pasien mempunyai riwayat DM tipe II selama 8 tahun. Hasil pengkajian menunjukkan terdengar suara snoring, frekuensi nafas 32 x/menit dengan pernafasan kusmaull, frekuensi nadi 134x/menit lemah, tekanan darah 83/44 mmHg, GCS E1M1V1, SpO2 98% dengan rebreathing mask 10 Lpm, suhu 38oC, dan akral teraba dingin. Tampak luka gangren di kaki kiri yang tidak kunjung sembuh sejak tiga pekan sebelumnya. Pemeriksaan GDS memakai glucometer menunjukkan nilai High dan keton urin positif 3. Hasil BGA menunjukkan PH 6,89, PCO2 30 mmHg, HCO3 7 mmol/L, PO2 200 mmHg, BE -24,4 mmol/L. Kadar keton darah 5 nmol/L dan kadar laktat darah 3,4 mmol/L buatkan intervensi nya dengan menggunakan sumber SLKI dan SIKI, dan berikan kode nya (buat secara tabel) Gangguan Pertukaran Gas (D.003) b.d ketidakseimbangan venntilasi-perfussi d.d PCO2 menurun, PH arteri menurun, adanya bunyi napas tambahan (snoring). Pola Napas Tidak Efektif (D.0005) b.d penurunan energi d.d Frekuensi napas 32 kali/menit, pola napas abnormal (kussmaul), adanya bunyi napas tambahan (snoring). Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009) b.d Kekurangan volume cairan d.d Nadi 134 X/menit, lemah, Akral teraba dingin, PH 6,89, PCO2 30 mmHg, HCO3 7 mmol/L, PO2 200 mmHg, BE -24,4 mmol/L. Hipovolemia (D.0023) b.d Kegagalan Mekanisme Regulasi d.d Frekuensi nadi 134 X/menit, nadi teraba lemah, tekanan darah menurun 83/44 mmHg. Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah (D.0027) b.d Resistensi insulin d.d Riwayat DM tipe 2 8 tahun, GDS tinggi, keton urin +3. Hipertermia (D.0130) b.d proses penyakit d.d suhu tubuh 38 C. Risiko Aspirasi (D.0006) d.d Penurunan tingkat kesadaran. Risiko Syok (D.039) d.d kekurangan volume cairan. Risiko Infeksi (D.0142) d.d Tampak luka gangren di kaki kiri yang tidak kunjung sembuh sejak tiga pekan sebelumnya.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas (D.003)
Kode SDKI: D.003
Deskripsi Singkat: Gangguan Pertukaran Gas didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana terjadi ketidakseimbangan antara ventilasi (aliran udara ke dalam dan ke luar paru-paru) dan perfusi (aliran darah di kapiler paru) yang mengakibatkan gangguan pada proses pertukaran oksigen (O2) dan karbon dioksida (CO2) di tingkat alveolus. Hal ini menyebabkan ketidakmampuan tubuh untuk mempertahankan kadar oksigen dan karbon dioksida arteri dalam batas normal. Pada kasus ini, gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kondisi asidosis metabolik berat yang dialami pasien, yang ditandai dengan nilai pH arteri yang sangat rendah (6,89) dan penurunan PCO2 (30 mmHg) sebagai upaya kompensasi respiratori yang tidak adekuat. Pola pernapasan Kussmaul yang cepat dan dalam merupakan mekanisme tubuh untuk mengeluarkan lebih banyak CO2 (asam volatil) guna mengoreksi asidosis metabolik. Namun, pada kondisi kritis ini, mekanisme kompensasi tersebut sudah tidak mampu menyeimbangkan gangguan asam-basa yang berat, sehingga pertukaran gas tetap terganggu. Bunyi napas tambahan (snoring) juga dapat mengindikasikan adanya obstruksi parsial jalan napas yang memperburuk ventilasi.
Kode SLKI: L.03101, L.03102, L.03103, L.03104, L.03105, L.03106
Deskripsi : Luaran yang diharapkan (SLKI) untuk diagnosa Gangguan Pertukaran Gas adalah tercapainya pertukaran gas yang adekuat. Hal ini dapat diukur melalui beberapa indikator, antara lain: (L.03101) Pernapasan reguler, yang berarti frekuensi napas kembali dalam rentang normal dan pola napas teratur, tidak lagi menunjukkan pola Kussmaul. (L.03102) Tidak adanya sianosis, menunjukkan bahwa saturasi oksigen tetap adekuat tanpa tanda kebiruan pada kulit atau membran mukosa. (L.03103) Tidak adanya dispnea, di mana pasien tidak lagi merasa sesak napas atau berusaha keras untuk bernapas. (L.03104) Tidak adanya bunyi napas tambahan, seperti snoring, yang mengindikasikan jalan napas yang paten. (L.03105) Nilai analisa gas darah (AGD) dalam batas normal, yang menjadi tujuan utama, yaitu perbaikan pH, PCO2, HCO3, dan Base Excess. (L.03106) Tingkat kesadaran membaik, dari E1M1V1 menuju GCS 15, karena hipoksia dan asidosis yang mempengaruhi fungsi serebral dapat teratasi.
Kode SIKI: I.07939, I.07948, I.08021, I.07946, I.07949, I.07950, I.07951
Deskripsi : Intervensi keperawatan (SIKI) untuk mengatasi Gangguan Pertukaran Gas difokuskan pada mempertahankan dan meningkatkan oksigenasi serta keseimbangan asam-basa. (I.07939) Manajemen Jalan Napas, dengan memastikan jalan napas tetap terbuka, mungkin dengan menggunakan airway adjunct atau posisi yang mencegah obstruksi akibat snoring. (I.07948) Manajemen Pernapasan, dengan memantau frekuensi, irama, dan kedalaman pernapasan serta pola Kussmaul. (I.08021) Terapi Oksigen, yang telah dilakukan dengan rebreathing mask 10 Lpm, perlu terus dipantau dan disesuaikan untuk mempertahankan SpO2 yang adekuat. (I.07946) Monitoring Tanda Vital, termasuk frekuensi napas, nadi, dan SpO2 secara ketat. (I.07949) Pemeriksaan Analisa Gas Darah (AGD), untuk mengevaluasi efektivitas intervensi dan melihat tren perbaikan pH, PCO2, dan HCO3. (I.07950) Pemeriksaan Radiologi, seperti foto thorax, dapat dipertimbangkan untuk menyingkirkan kemungkinan patologi paru lain. (I.07951) Ventilatory Assistance, siapkan alat bantu napas jika terjadi kegagalan napas dan GCS yang sangat rendah, mengingat penurunan kesadaran yang signifikan.
Kondisi: Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Pola Napas Tidak Efektif adalah suatu kondisi di mana laju, irama, kedalaman, atau pola pernapasan tidak mampu mempertahankan ventilasi yang adekuat untuk pertukaran gas. Pada pasien ini, pola napas tidak efektif secara langsung berhubungan dengan penurunan energi yang ekstrem akibat krisis metabolik (DKA dan kemungkinan sepsis). Tubuh berusaha mengkompensasi asidosis metabolik berat (pH 6,89) dengan meningkatkan laju dan kedalaman pernapasan, yang dimanifestasikan sebagai pernapasan Kussmaul (frekuensi 32x/menit). Namun, upaya kompensasi ini justru menjadi tidak efektif karena sangat menguras energi pasien yang sudah dalam kondisi lemah akibat infeksi (gangren) dan hiperglikemia. Selain itu, bunyi snoring menunjukkan adanya hambatan pada jalan napas atas, yang semakin memperburuk efektivitas pola napas. Penurunan kesadaran (GCS E1M1V1) juga merupakan faktor kontribusi utama, karena dapat menekan pusat pernapasan dan menghambat kemampuan pasien untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: L.03001, L.03002, L.03003, L.03004, L.03005
Deskripsi : Luaran yang diharapkan untuk diagnosa Pola Napas Tidak Efektif adalah terpulihnya pola pernapasan yang efektif. Indikatornya meliputi: (L.03001) Pola napas efektif, ditandai dengan hilangnya pola Kussmaul dan frekuensi napas yang kembali ke rentang normal (12-20x/menit). (L.03002) Tidak adanya dispnea, yang berarti pasien tidak menunjukkan tanda-tanda distress pernapasan. (L.03003) Tidak adanya bunyi napas tambahan, seperti snoring, yang menandakan jalan napas telah terbebas dari obstruksi. (L.03004) Penggunaan otot bantu napas tidak ada, menunjukkan bahwa pernapasan sudah tidak memerlukan usaha ekstra. (L.03005) Ekspansi dada simetris, mengindikasikan bahwa kedua paru dapat mengembang dengan baik selama proses inspirasi.
Kode SIKI: I.07939, I.07948, I.08021, I.07946, I.07949
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk Pola Napas Tidak Efektif berfokus pada memfasilitasi dan mempertahankan ventilasi yang adekuat. (I.07939) Manajemen Jalan Napas adalah prioritas mutlak, dengan melakukan head-tilt chin-lift atau jaw-thrust (dengan memperhatikan kemungkinan trauma servikal), memasang nasopharyngeal atau oropharyngeal airway, dan melakukan suctioning jika diperlukan untuk mengatasi snoring dan menjaga patensi jalan napas. (I.07948) Manajemen Pernapasan, dengan terus memantau karakteristik pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas) serta mendokumentasikan setiap perubahan. (I.08021) Terapi Oksigen, diberikan sesuai order untuk mempertahankan saturasi oksigen >95% dan mengatasi hipoksia jaringan. (I.07946) Monitoring Tanda Vital, khususnya frekuensi napas dan SpO2, dilakukan secara berkelanjutan. (I.07949) Pemeriksaan Analisa Gas Darah (AGD), merupakan evaluasi objektif utama untuk menilai keberhasilan kompensasi respiratori terhadap asidosis metabolik dan menilai kecukupan oksigenasi.
Kondisi: Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009)
Kode SDKI: D.0009
Deskripsi Singkat: Perfusi Perifer Tidak Efektif adalah suatu kondisi dimana penurunan aliran darah ke tingkat kapiler mengakibatkan gangguan dalam memberikan nutrisi dan oksigen ke jaringan perifer, serta menghambat pengangkutan produk sisa metabolisme. Pada pasien ini, perfusi perifer tidak efektif terutama berhubungan dengan kekurangan volume cairan (hipovolemia) yang berat, yang disebabkan oleh diuresis osmotik akibat hiperglikemia ekstrem dan kehilangan cairan melalui pernapasan Kussmaul yang cepat. Hal ini dibuktikan dengan tanda-tanda klinis seperti nadi yang cepat (134x/menit) dan lemah, tekanan darah rendah (83/44 mmHg), serta akral yang teraba dingin. Asidosis metabolik berat (pH 6,89, HCO3 7 mmol/L) dan peningkatan laktat darah (3,4 mmol/L) lebih lanjut mengkonfirmasi adanya syok dan kegagalan sirkulasi yang menyebabkan hipoperfusi jaringan secara sistemik. Jaringan tidak mendapatkan suplai darah yang cukup, sehingga terjadi metabolisme anaerob yang menghasilkan asam laktat.
Kode SLKI: L.06001, L.06002, L.06003, L.06004, L.06005, L.06007
Deskripsi : Luaran yang diharapkan untuk diagnosa ini adalah membaiknya perfusi jaringan perifer. Indikator keberhasilannya adalah: (L.06001) Nadi perifer teraba, kuat dan reguler, bukan lemah seperti saat ini. (L.06002) Pengisian kapiler < 3 detik, menunjukkan bahwa aliran darah mikro kembali cepat. (L.06003) Ekst
Article No. 22733 | 13 Nov 2025
Klinis : Kejang demam
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: ```html
Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi untuk Kondisi Kejang Demam
Sebagai seorang perawat profesional, penanganan pasien dengan kejang demam memerlukan pendekatan yang sistematis dan terstandarisasi. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) telah mengembangkan tiga standar utama untuk memandu praktik keperawatan: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). Ketiga standar ini memastikan asuhan keperawatan yang komprehensif, terukur, dan berbasis bukti.
1. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)
SDKI adalah panduan yang digunakan perawat untuk menetapkan diagnosis keperawatan berdasarkan data klinis pasien. Diagnosis ini mengidentifikasi masalah kesehatan aktual atau risiko yang dapat diatasi melalui intervensi keperawatan mandiri. Untuk kondisi kejang demam, diagnosis utama yang relevan adalah Hipertermia, karena demam adalah pemicu utama kejang.