Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 15594 | 15 Apr 2025
Klinis : Tidak bisa kontrol BAK, Retensi urin, terpsang kateter, tidak ada reflek kontrol kandung kemih
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Eliminasi Urin Berhubungan dengan Disfungsi Vesika Urinaria
Penjelasan:
Berdasarkan kondisi yang diberikan, pasien mengalami masalah berupa ketidakmampuan untuk mengontrol buang air kecil (BAK) atau retensi urin, serta pemasangan kateter dan tidak adanya refleks kontrol kandung kemih. Hal ini menunjukkan adanya gangguan pada eliminasi urin yang berhubungan dengan disfungsi pada vesika urinaria (kandung kemih).
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
Gangguan Eliminasi Urin adalah diagnosa keperawatan yang menggambarkan kondisi pasien yang tidak dapat mengontrol atau mengeluarkan urin secara efektif.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan untuk pasien dengan gangguan eliminasi urin adalah pemulihan fungsi eliminasi urin, pola eliminasi urin yang normal, serta pencegahan komplikasi yang dapat timbul akibat gangguan eliminasi urin.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi gangguan eliminasi urin meliputi perawatan kateter, manajemen retensi urin, latihan kontrol kandung kemih, serta pemantauan fungsi eliminasi urin. -
Article No. 15595 | 15 Apr 2025
Klinis : tidak bisa menggerakan kedua kaki, refleks tendon menurun, tidak bisa berpindaj sendiri, kekuatan otot ekstremitas bawah 0/5, no lower extrimity motor activity
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan informasi yang Anda minta dengan gaya akademis dan perspektif seorang perawat pakar.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi di atas adalah "Gangguan Mobilitas Fisik Terkait Kelemahan Otot dan Penurunan Refleks Tendon". Kondisi ini ditandai dengan tidak dapat menggerakkan kedua kaki, refleks tendon yang menurun, tidak dapat berpindah sendiri, kekuatan otot ekstremitas bawah 0/5, dan tidak ada aktivitas motorik di ekstremitas bawah. Hal ini menunjukkan adanya gangguan signifikan pada kemampuan mobilitas fisik pasien.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Peningkatan Mobilitas: Pasien dapat meningkatkan kemampuan mobilitas fisik, seperti dapat melakukan pergerakan pada ekstremitas bawah, meningkatkan kekuatan otot, dan dapat berpindah dengan bantuan atau secara mandiri.
2. Peningkatan Aktivitas Sehari-hari: Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri atau dengan minimal bantuan, seperti mandi, berpakaian, toileting, dan berpindah.
3. Pencegahan Komplikasi Imobilitas: Pasien tidak mengalami komplikasi akibat imobilitas, seperti ulkus dekubitus, kontraktur, pneumonia, atau deep vein thrombosis.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Aktivitas dan Latihan:
- Latihan rentang gerak aktif dan pasif pada ekstremitas bawah untuk meningkatkan mobilitas.
- Latihan kekuatan otot ekstremitas bawah menggunakan alat bantu atau gravitasi.
- Latihan berpindah dari tempat tidur ke kursi roda atau alat bantu lainnya.
- Mengatur posisi dan postur tubuh yang tepat untuk mencegah komplikasi.
2. Manajemen Nyeri:
- Identifikasi dan manajemen nyeri yang mungkin dialami pasien.
- Pemberian analgesik sesuai dengan kebutuhan pasien.
- Terapi nonfarmakologis, seperti kompres hangat/dingin, masase, dan relaksasi.
3. Manajemen Risiko:
- Identifikasi dan pencegahan risiko komplikasi akibat imobilitas, seperti ulkus dekubitus, kontraktur, pneumonia, dan deep vein thrombosis.
- Perawatan kulit dan pengaturan posisi untuk mencegah ulkus dekubitus.
- Mobilisasi dini dan latihan pernapasan untuk mencegah komplikasi pernapasan.
- Penggunaan alat bantu mobilisasi yang sesuai, seperti kursi roda atau walker.
4. Edukasi dan Dukungan:
- Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang kondisi, prognosis, dan manajemen perawatan.
- Dukungan psikologis untuk meningkatkan motivasi dan kepatuhan pasien dalam menjalani program rehabilitasi.
- Kolaborasi dengan tim multidisiplin, seperti fisioterapis dan okupasi terapis, untuk mencapai tujuan rehabilitasi.
Dengan intervensi keperawatan yang komprehensif dan kolaboratif, diharapkan pasien dapat meningkatkan mobilitas fisik, kemampuan aktivitas sehari-hari, dan mencegah komplikasi akibat imobilitas. Hal ini akan membantu pasien mencapai hasil yang optimal dalam proses pemulihan. -
Article No. 15596 | 15 Apr 2025
Klinis : tidak bisa menggerakan kedua kaki, refleks tendon menurun, tidak bisa berpindaj sendiri, kekuatan otot ekstremitas bawah 0/5, no lower extrimity motor activity
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, sebagai seorang perawat profesional, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat terkait SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang Anda paparkan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Mobilitas Fisik Berhubungan dengan Kelemahan Otot Ekstremitas Bawah
Penjelasan Singkat:
a. SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
- Gangguan Mobilitas Fisik: Keterbatasan dalam pergerakan bebas dan terkoordinasi pada satu atau lebih ekstremitas.
- Faktor berhubungan: Kelemahan otot, penurunan kekuatan otot.
b. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Mobilitas Fisik: Kemampuan untuk bergerak secara bebas dan terkoordinasi.
- Luaran yang diharapkan: Pasien dapat meningkatkan mobilitas fisik ekstremitas bawah.
c. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi yang dapat dilakukan: Latihan rentang gerak, latihan kekuatan otot, perawatan kesehatan umum, manajemen nyeri, dan konseling.
- Tujuannya adalah untuk membantu pasien meningkatkan kekuatan otot, mobilitas, dan kemampuan berpindah secara mandiri.
Berdasarkan kondisi yang Anda paparkan, yaitu tidak dapat menggerakkan kedua kaki, refleks tendon menurun, tidak dapat berpindah sendiri, kekuatan otot ekstremitas bawah 0/5, dan tidak ada aktivitas motorik ekstremitas bawah, maka diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Gangguan Mobilitas Fisik Berhubungan dengan Kelemahan Otot Ekstremitas Bawah. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah latihan rentang gerak, latihan kekuatan otot, perawatan kesehatan umum, manajemen nyeri, dan konseling untuk membantu pasien meningkatkan mobilitas dan kemampuan berpindah secara mandiri. -
Article No. 15597 | 15 Apr 2025
Klinis : Risiko infeksi
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi "Risiko Infeksi":
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi "Risiko Infeksi" adalah "Risiko Infeksi". Diagnosa ini mengacu pada kerentanan individu terhadap masuknya dan berkembangnya agen patogen, yang dapat menyebabkan infeksi. Risiko infeksi dapat disebabkan oleh faktor-faktor seperti prosedur medis, penurunan sistem imun, paparan lingkungan yang tidak higienis, dan lain-lain.
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan untuk kondisi "Risiko Infeksi" adalah:
a. Kontrol Infeksi: Pasien dapat menunjukkan perilaku yang efektif untuk mencegah dan mengendalikan infeksi.
b. Integritas Kulit: Pasien dapat mempertahankan integritas kulit yang optimal.
c. Kesejahteraan: Pasien dapat mempertahankan kesejahteraan umum yang optimal.
Tujuan-tujuan ini bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi, menjaga kondisi kulit yang sehat, dan memastikan kesejahteraan umum pasien selama proses perawatan.
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran pada kondisi "Risiko Infeksi" meliputi:
a. Manajemen Risiko Infeksi:
- Identifikasi faktor risiko infeksi pada pasien
- Edukasi pasien dan keluarga tentang pencegahan infeksi
- Penggunaan teknik aseptik saat melakukan prosedur keperawatan
- Pemantauan tanda-tanda infeksi
b. Perawatan Kulit:
- Pemeliharaan kebersihan dan integritas kulit
- Penggunaan teknik perawatan kulit yang sesuai
- Identifikasi dan penanganan lesi kulit
c. Dukungan Kesejahteraan:
- Identifikasi kebutuhan kesejahteraan pasien
- Pemberian dukungan emosional dan psikologis
- Kolaborasi dengan tim kesehatan lain sesuai kebutuhan
Tujuan dari intervensi-intervensi ini adalah untuk mengurangi risiko infeksi, menjaga integritas kulit, dan memastikan kesejahteraan pasien secara menyeluruh. Perawat berperan penting dalam mengidentifikasi dan mengelola faktor-faktor risiko, memberikan edukasi dan dukungan, serta melakukan tindakan keperawatan yang sesuai untuk mencapai luaran yang diharapkan. -
Article No. 15598 | 15 Apr 2025
Klinis : Pasien mengatakan belum BAB sejak kecelakaan dan dirawat, no reflex bowel stimulation, decrease defecation reflex dou to medullary injury
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan mencoba memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai standar SDKI - SLKI - SIKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia, Standar Luaran Keperawatan Indonesia, Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang Anda berikan.
Diagnosa Keperawatan:
Konstipasi berhubungan dengan penurunan refleks defekasi akibat cedera medula spinalis
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Konstipasi: Keadaan di mana frekuensi, konsistensi, dan/atau pengeluaran feses tidak normal.
- Penyebab: Penurunan refleks defekasi akibat cedera medula spinalis.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Pengeluaran feses normal
- Tidak ada distensi abdomen
- Tidak ada rasa tidak nyaman akibat konstipasi
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Manajemen konstipasi: Intervensi untuk membantu memulihkan pola defekasi normal.
- Stimulasi reflek defekasi: Intervensi untuk membantu memulihkan refleks defekasi.
- Perawatan eliminasi: Intervensi untuk membantu pasien memenuhi kebutuhan eliminasi.
Dengan menggunakan standar SDKI - SLKI - SIKI, perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang terstruktur dan berpedoman pada praktik berbasis bukti untuk mengatasi masalah konstipasi pada pasien dengan cedera medula spinalis. -
Article No. 15599 | 15 Apr 2025
Klinis : Total immobilization (paraplegia) Prolonged lying down, risk of pressure on skin Urinary retention (risk of genital area skin moisture)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat terkait SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi total immobilization (paraplegia), prolonged lying down dengan risiko terjadinya tekanan pada kulit, serta urinary retention dengan risiko kelembaban area genital.
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Integritas Kulit Tergangggu berhubungan dengan total immobilisasi dan prolonged lying down.
2. Risiko Inkontinensia Urin berhubungan dengan urinary retention.
Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
1. Risiko Integritas Kulit Tergangggu: Keadaan di mana individu berisiko mengalami perubahan struktur dan fungsi kulit yang normal.
2. Risiko Inkontinensia Urin: Keadaan di mana individu berisiko mengalami ketidakmampuan untuk mengendalikan pengeluaran urin secara sukarela.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Integritas Kulit Terpelihara: Kondisi di mana struktur dan fungsi kulit normal dipertahankan.
2. Kontrol Inkontinensia Urin: Kondisi di mana individu mampu mengendalikan pengeluaran urin secara sukarela.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Perawatan Kulit: Serangkaian tindakan untuk mempertahankan integritas kulit.
2. Manajemen Inkontinensia: Serangkaian tindakan untuk mengatasi masalah inkontinensia urin.
Sebagai perawat, saya akan berfokus pada pencegahan komplikasi dan pemeliharaan kondisi pasien melalui intervensi keperawatan yang komprehensif. Tujuan utama adalah mempertahankan integritas kulit dan mengontrol inkontinensia urin pada pasien dengan total immobilisasi (paraplegia) dan risiko tekanan pada kulit serta kelembaban area genital. -
Article No. 15600 | 15 Apr 2025
Klinis : Kasus 2 (sistem saraf) Seorang pasien perempuan berusia 52 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan sakit kepala yang semakin parah selama 3 bulan terakhir, terutama di pagi hari. Pasien juga mengeluhkan mual, muntah, dan gangguan penglihatan berupa pandangan kabur. Keluarga melaporkan bahwa pasien telah mengalami kelemahan pada sisi kanan tubuh dan kesulitan berbicara selama dua minggu terakhir. Data dari pemeriksaan fisik: Kesadaran: GCS 13 (E3V4M6). Tekanan darah: 150/90 mmHg, HR: 82x/menit, RR: 18x/menit, Suhu: 37,2°C. Pemeriksaan neurologis: Hemiparesis kanan (kekuatan otot 3/5). Refleks patologis (+) Babinski kanan. Papiledema (+) (pada pemeriksaan funduskopi). Tes lapang pandang menunjukkan hemianopsia temporal. Hasil Pemeriksaan Penunjang CT-Scan Kepala: Tampak massa hiperdense pada lobus parietalis kiri dengan efek massa dan edema perilesional, garis tengah otak sedikit bergeser ke kanan. MRI Kepala: Lesi berukuran 4 cm x 3,5 cm x 3 cm pada lobus parietalis kiri, tampak peninggian dengan kontras, edema perilesional luas dan pergeseran garis tengah minimal. Pemeriksaan Laboratorium: Hitung darah lengkap: Leukosit 9.800/µL, Hb 13,2 g/dL, Trombosit 280.000/µL. Elektrolit dalam batas normal. Elektroensefalografi (EEG): Tidak ada aktivitas epileptiform, tetapi ditemukan gelombang lambat pada area lesi. Pasien dijadwalkan menjalani terapi kortikosteroid untuk mengurangi edema serebral dan bedah saraf untuk eksplorasi dan pengangkatan massa.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah diagnosa keperawatan SDKI, luaran/output yang diharapkan setelah asuhan keperawatan (SLKI), dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran (SIKI) untuk kasus tersebut:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Defisit Perawatan Diri (SDKI: 2016) berhubungan dengan hemiparesis/kelemahan sisi kanan tubuh.
2. Gangguan Persepsi Sensori (SDKI: 2016) berhubungan dengan lesi di lobus parietalis kiri yang menyebabkan gangguan penglihatan berupa hemianopsia temporal.
3. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Serebral (SDKI: 2016) berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial akibat massa dan edema pada lobus parietalis kiri.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Defisit Perawatan Diri: Pasien akan dapat melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri atau dengan bantuan minimal.
2. Gangguan Persepsi Sensori: Pasien akan dapat mengenali dan menyesuaikan diri dengan gangguan penglihatan yang terjadi.
3. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Serebral: Pasien akan menunjukkan tanda-tanda peningkatan perfusi jaringan serebral yang membaik.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Defisit Perawatan Diri:
a. Identifikasi tingkat ketergantungan pasien dalam melakukan aktivitas perawatan diri.
b. Berikan bantuan dan bimbingan sesuai dengan kemampuan pasien untuk melakukan perawatan diri.
c. Latih pasien dalam melakukan aktivitas perawatan diri secara bertahap.
d. Dorong keluarga untuk terlibat dalam membantu pasien.
2. Gangguan Persepsi Sensori:
a. Evaluasi persepsi sensorik pasien, terutama pada fungsi penglihatan.
b. Ajarkan pasien teknik kompensasi untuk mengatasi gangguan penglihatan, seperti penggunaan alat bantu.
c. Modifikasi lingkungan untuk mengurangi risiko cedera akibat gangguan penglihatan.
d. Berikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang manajemen gangguan persepsi sensorik.
3. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Serebral:
a. Pantau tanda-tanda vital dan neurologi pasien secara berkala.
b. Berikan terapi farmakologis sesuai dengan rencana pengobatan, seperti pemberian kortikosteroid.
c. Posisikan pasien sesuai dengan rekomendasi untuk meningkatkan perfusi serebral.
d. Lakukan kolaborasi dengan tim medis dalam memantau dan mengevaluasi efektivitas terapi.
Penjelasan rinci:
Diagnosa keperawatan SDKI dirumuskan berdasarkan masalah kesehatan utama yang dialami pasien, yaitu hemiparesis, gangguan penglihatan, dan peningkatan tekanan intrakranial. Luaran/output yang diharapkan dan intervensi keperawatan dirancang untuk mengatasi masalah-masalah tersebut secara komprehensif, dengan fokus pada pemulihan fungsi, kompensasi gangguan, dan stabilisasi kondisi pasien. Kolaborasi dengan tim medis juga diperlukan untuk memberikan perawatan yang optimal. -
Article No. 15601 | 15 Apr 2025
Klinis : Kasus 2 (sistem saraf) Seorang pasien perempuan berusia 52 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan sakit kepala yang semakin parah selama 3 bulan terakhir, terutama di pagi hari. Pasien juga mengeluhkan mual, muntah, dan gangguan penglihatan berupa pandangan kabur. Keluarga melaporkan bahwa pasien telah mengalami kelemahan pada sisi kanan tubuh dan kesulitan berbicara selama dua minggu terakhir. Data dari pemeriksaan fisik: Kesadaran: GCS 13 (E3V4M6). Tekanan darah: 150/90 mmHg, HR: 82x/menit, RR: 18x/menit, Suhu: 37,2°C. Pemeriksaan neurologis: Hemiparesis kanan (kekuatan otot 3/5). Refleks patologis (+) Babinski kanan. Papiledema (+) (pada pemeriksaan funduskopi). Tes lapang pandang menunjukkan hemianopsia temporal. Hasil Pemeriksaan Penunjang CT-Scan Kepala: Tampak massa hiperdense pada lobus parietalis kiri dengan efek massa dan edema perilesional, garis tengah otak sedikit bergeser ke kanan. MRI Kepala: Lesi berukuran 4 cm x 3,5 cm x 3 cm pada lobus parietalis kiri, tampak peninggian dengan kontras, edema perilesional luas dan pergeseran garis tengah minimal. Pemeriksaan Laboratorium: Hitung darah lengkap: Leukosit 9.800/µL, Hb 13,2 g/dL, Trombosit 280.000/µL. Elektrolit dalam batas normal. Elektroensefalografi (EEG): Tidak ada aktivitas epileptiform, tetapi ditemukan gelombang lambat pada area lesi. Pasien dijadwalkan menjalani terapi kortikosteroid untuk mengurangi edema serebral dan bedah saraf untuk eksplorasi dan pengangkatan massa.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, dapat disusun diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI berdasarkan standar Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kasus sistem saraf sebagai berikut:
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Mobilitas Fisik Berhubungan dengan Penurunan Kekuatan Otot
2. Nyeri Akut Berhubungan dengan Peningkatan Tekanan Intrakranial
3. Perubahan Persepsi Sensorik Berhubungan dengan Gangguan Fungsi Saraf
Penjelasan Singkat:
1. Gangguan Mobilitas Fisik Berhubungan dengan Penurunan Kekuatan Otot
- SDKI: Gangguan Mobilitas Fisik
- SLKI: Kemampuan Mobilitas
- SIKI: Perawatan Mobilitas
Pasien mengalami kelemahan pada sisi kanan tubuh (hemiparesis) yang menyebabkan gangguan dalam pergerakan dan mobilitas.
2. Nyeri Akut Berhubungan dengan Peningkatan Tekanan Intrakranial
- SDKI: Nyeri Akut
- SLKI: Pengendalian Nyeri
- SIKI: Manajemen Nyeri
Pasien mengalami sakit kepala yang semakin parah, terutama di pagi hari, yang kemungkinan disebabkan oleh peningkatan tekanan intrakranial akibat adanya massa pada lobus parietalis kiri.
3. Perubahan Persepsi Sensorik Berhubungan dengan Gangguan Fungsi Saraf
- SDKI: Perubahan Persepsi Sensorik
- SLKI: Fungsi Sensorik
- SIKI: Perawatan Sensorik
Pasien mengalami gangguan penglihatan berupa pandangan kabur dan hemianopsia temporal yang merupakan manifestasi dari lesi pada lobus parietalis kiri.
Standar SDKI, SLKI, dan SIKI yang digunakan dalam diagnosa keperawatan ini merupakan acuan yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk memberikan arah dan keseragaman dalam praktik keperawatan di Indonesia. -
Article No. 15602 | 15 Apr 2025
Klinis : Kasus 2 (sistem saraf) Seorang pasien perempuan berusia 52 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan sakit kepala yang semakin parah selama 3 bulan terakhir, terutama di pagi hari. Pasien juga mengeluhkan mual, muntah, dan gangguan penglihatan berupa pandangan kabur. Keluarga melaporkan bahwa pasien telah mengalami kelemahan pada sisi kanan tubuh dan kesulitan berbicara selama dua minggu terakhir. Data dari pemeriksaan fisik: Kesadaran: GCS 13 (E3V4M6). Tekanan darah: 150/90 mmHg, HR: 82x/menit, RR: 18x/menit, Suhu: 37,2°C. Pemeriksaan neurologis: Hemiparesis kanan (kekuatan otot 3/5). Refleks patologis (+) Babinski kanan. Papiledema (+) (pada pemeriksaan funduskopi). Tes lapang pandang menunjukkan hemianopsia temporal. Hasil Pemeriksaan Penunjang CT-Scan Kepala: Tampak massa hiperdense pada lobus parietalis kiri dengan efek massa dan edema perilesional, garis tengah otak sedikit bergeser ke kanan. MRI Kepala: Lesi berukuran 4 cm x 3,5 cm x 3 cm pada lobus parietalis kiri, tampak peninggian dengan kontras, edema perilesional luas dan pergeseran garis tengah minimal. Pemeriksaan Laboratorium: Hitung darah lengkap: Leukosit 9.800/µL, Hb 13,2 g/dL, Trombosit 280.000/µL. Elektrolit dalam batas normal. Elektroensefalografi (EEG): Tidak ada aktivitas epileptiform, tetapi ditemukan gelombang lambat pada area lesi. Pasien dijadwalkan menjalani terapi kortikosteroid untuk mengurangi edema serebral dan bedah saraf untuk eksplorasi dan pengangkatan massa.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi pasien yang Anda deskripsikan, berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kasus sistem saraf:
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Mobilitas Fisik berhubungan dengan hemiparesis kanan.
2. Gangguan Persepsi Sensorik berhubungan dengan hemianopsia temporal.
3. Nyeri Akut berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial.
Penjelasan Singkat:
1. Gangguan Mobilitas Fisik berhubungan dengan hemiparesis kanan.
- SDKI: Keterbatasan dalam melakukan gerakan tubuh secara mandiri dan terkoordinasi.
- SLKI: Intervensi keperawatan untuk memfasilitasi mobilitas fisik yang terganggu.
- SIKI: Tindakan keperawatan untuk memulihkan dan mempertahankan mobilitas fisik pasien.
2. Gangguan Persepsi Sensorik berhubungan dengan hemianopsia temporal.
- SDKI: Perubahan dalam kemampuan untuk menerima, menginterpretasi, dan merespons rangsangan sensorik.
- SLKI: Intervensi keperawatan untuk memfasilitasi persepsi sensorik yang terganggu.
- SIKI: Tindakan keperawatan untuk memulihkan dan mempertahankan persepsi sensorik pasien.
3. Nyeri Akut berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial.
- SDKI: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial.
- SLKI: Intervensi keperawatan untuk mengurangi nyeri akut.
- SIKI: Tindakan keperawatan untuk mengelola nyeri akut pasien.
Dalam kasus ini, pasien mengalami gejala-gejala yang terkait dengan peningkatan tekanan intrakranial, seperti sakit kepala, mual, muntah, gangguan penglihatan, serta hemiparesis dan hemianopsia yang menunjukkan adanya lesi di otak. Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan meliputi pemantauan tanda-tanda vital, pemantauan status neurologis, manajemen nyeri, rehabilitasi fisik, dan edukasi bagi pasien dan keluarga. -
Article No. 15603 | 15 Apr 2025
Klinis : Kasus 2 (sistem saraf) Seorang pasien perempuan berusia 52 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan sakit kepala yang semakin parah selama 3 bulan terakhir, terutama di pagi hari. Pasien juga mengeluhkan mual, muntah, dan gangguan penglihatan berupa pandangan kabur. Keluarga melaporkan bahwa pasien telah mengalami kelemahan pada sisi kanan tubuh dan kesulitan berbicara selama dua minggu terakhir. Data dari pemeriksaan fisik: Kesadaran: GCS 13 (E3V4M6). Tekanan darah: 150/90 mmHg, HR: 82x/menit, RR: 18x/menit, Suhu: 37,2°C. Pemeriksaan neurologis: Hemiparesis kanan (kekuatan otot 3/5). Refleks patologis (+) Babinski kanan. Papiledema (+) (pada pemeriksaan funduskopi). Tes lapang pandang menunjukkan hemianopsia temporal. Hasil Pemeriksaan Penunjang CT-Scan Kepala: Tampak massa hiperdense pada lobus parietalis kiri dengan efek massa dan edema perilesional, garis tengah otak sedikit bergeser ke kanan. MRI Kepala: Lesi berukuran 4 cm x 3,5 cm x 3 cm pada lobus parietalis kiri, tampak peninggian dengan kontras, edema perilesional luas dan pergeseran garis tengah minimal. Pemeriksaan Laboratorium: Hitung darah lengkap: Leukosit 9.800/µL, Hb 13,2 g/dL, Trombosit 280.000/µL. Elektrolit dalam batas normal. Elektroensefalografi (EEG): Tidak ada aktivitas epileptiform, tetapi ditemukan gelombang lambat pada area lesi. Pasien dijadwalkan menjalani terapi kortikosteroid untuk mengurangi edema serebral dan bedah saraf untuk eksplorasi dan pengangkatan massa.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kasus yang Anda berikan, berikut adalah Diagnosa Keperawatan, Penjelasan Singkat, serta Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Mobilitas Fisik berhubungan dengan kelemahan pada sisi kanan tubuh
Penjelasan Singkat:
Pasien mengalami hemiparesis kanan (kekuatan otot 3/5) yang mengganggu mobilitas fisiknya. Hal ini dapat menyebabkan keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
SDKI: Kode D.0107 Gangguan Mobilitas Fisik
SLKI: Kode L.0107 Kemandirian dalam Aktivitas Sehari-hari
SIKI: Kode I.0107 Perawatan Diri: Aktivitas Sehari-hari
2. Nyeri Akut berhubungan dengan meningkatnya tekanan intrakranial
Penjelasan Singkat:
Pasien mengalami sakit kepala yang semakin parah, terutama di pagi hari, disertai dengan mual, muntah, dan gangguan penglihatan yang menunjukkan adanya peningkatan tekanan intrakranial.
SDKI: Kode D.0076 Nyeri Akut
SLKI: Kode L.0076 Pengendalian Nyeri
SIKI: Kode I.0076 Manajemen Nyeri
3. Perubahan Persepsi Sensori berhubungan dengan adanya lesi di lobus parietalis kiri
Penjelasan Singkat:
Pasien mengalami hemianopsia temporal yang menunjukkan adanya gangguan persepsi sensorik visual akibat lesi yang terjadi di lobus parietalis kiri.
SDKI: Kode D.0131 Perubahan Persepsi Sensori
SLKI: Kode L.0131 Stabilitas Sensori
SIKI: Kode I.0131 Manajemen Perubahan Persepsi Sensori
4. Risiko Aspirasi berhubungan dengan mual dan muntah
Penjelasan Singkat:
Pasien mengalami mual dan muntah yang dapat meningkatkan risiko aspirasi, terutama saat peningkatan tekanan intrakranial.
SDKI: Kode D.0037 Risiko Aspirasi
SLKI: Kode L.0037 Bebas Risiko Aspirasi
SIKI: Kode I.0037 Pencegahan Aspirasi
Standar diagnosis, luaran, dan intervensi keperawatan di atas berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang diterbitkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).