Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24358 | 08 Mar 2026
Klinis : Pasien penurunan kesadaran RPS/ Penkes 4 jam SMRS, keluarga mengatakan ada kelemahan anggota gerak kanan, wajah perot ke kanan, muntah (+) 2x lendir, sesak napas (+), 1 hari sebelumnya pasien mengeluh pusing hilang timbul RPD/ HT (+) KU lemah, GCS E1V1M2 TD: 168/97 HR: 83 x/m RR: 14 x/m SB: 36.5 C SpO2: 94% Status generalis Mata CA -/-, SI -/-, RC -/-, pupil isokor 3mm/3mm, refleks kornea (+/+) Mulut : lidah kotor (-), mukosa bibir kering (-), bibir mencos ke kanan Thorax : SDV +/+ rhonki +/+ , wheezing -/-, retraksi -/- Jantung : BJ I-II reguler (+), murmur (-) Abdomen : supel, BU (+) dbn, timpani (+), nyeri tekan (-) Eks. superior : akral hangat (+/+), oedem (-/-), ikterik (-/-), CRT <2 detik Eks. inferior : akral hangat (+/+), oedem (-/-), ikterik (-/-), CRT <2 detik Status Neurologis Sensorik sde motorik sde Refleks fisIlogis: +2/+2 // +2/+2 Refleks patologis: (-) Meningeal sign (-) Nistagmus: (-) Blink to threat (-) Visual pursuit (-) Voluntary eye movement (-) Meningeal sign (-) NIHSS: 27 FR: hipertensi Komplikasi tirah baring: - Infeksi: - - Stress ulcer: (+) - DVT: - - Disfagia: - - cemas: - Komorbid: hipertensi Lab 06/03 hb 14.21 eritrosit 5.03 hmt 41.9 lekosit 13.33 trombosit 213 Ur: 25.1 Cr: 0.65 GDS 184 Elektrolit: Na: 138 K: 2.9 (L) Cl: 103 Ca2+: 1.1 pH: 7.45 osmolal: 290 mOsm/kg GDS 7/03: 154 CT Scan kepala non contrast 6/3 Kesan: - Intracerebral hemorrhagic di thalamus sinistra dengan perifocal oedema di sekitarnya yang extensi ke intraventrikuler dextra et sinistra cornu anterior et posterior RO Thorax PA 6/3 Kesan : - Cardiomegali dan pulmo normal - Elongatio aorta dan aortosklerosis - Skoliosis thoracalis
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kesadaran (Coma) sekunder akibat Stroke Hemoragik Intraserebral
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Penurunan kesadaran adalah keadaan di mana terjadi penurunan kemampuan seseorang untuk berespons terhadap rangsangan dari lingkungan, mulai dari kebingungan hingga koma. Pada kasus ini, penurunan kesadaran (GCS E1V1M2 = 4, termasuk koma) disebabkan oleh perdarahan intraserebral di thalamus kiri dengan perluasan ke ventrikel dan edema perifokal, yang merupakan komplikasi dari hipertensi yang tidak terkontrol. Kondisi ini mengancam jiwa karena dapat menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial, herniasi batang otak, dan kegagalan fungsi vital.
Kode SLKI: L.03106
Deskripsi : SLKI ini bertujuan untuk mempertahankan dan memulihkan tingkat kesadaran. Intervensi keperawatan yang direncanakan meliputi: 1) Memonitor dan mendokumentasikan status neurologis secara ketat setiap jam atau sesuai protokol (GCS, pupil, tanda vital, refleks) untuk mendeteksi dini tanda peningkatan tekanan intrakranial atau penurunan neurologis lebih lanjut. 2) Mempertahankan jalan napas paten dengan posisi kepala sedikit ditinggikan 30 derajat (jika tidak ada kontraindikasi spinal) dan melakukan penghisapan lendir secara rutin untuk mencegah aspirasi dan hipoksia yang dapat memperburuk cedera otak. 3) Mempertahankan kestabilan hemodinamik dengan memantau tekanan darah secara ketat sesuai target terapi (biasanya MAP 110-130 mmHg pada stroke hemoragik akut) untuk mencegah perdarahan ulang sekaligus menjaga perfusi serebral. 4) Kolaborasi pemberian terapi medis seperti osmotik diuretik (misal manitol) untuk mengurangi edema serebral, serta obat antihipertensi intravena. 5) Memberikan stimulasi sensorik yang tepat (misal, berbicara dengan tenang, sentuhan) dan menciptakan lingkungan yang tenang untuk meminimalkan stres dan agitasi. 6) Melindungi pasien dari cedera akibat kejang atau agitasi dengan memasang pengaman tempat tidur dan mempertimbangkan pemasangan spatel lidah. Tujuan akhirnya adalah kesadaran pasien mengalami perbaikan atau setidaknya tidak memburuk.
Kode SIKI: I.03106.01 - I.03106.07
Deskripsi : SIKI merupakan tindakan spesifik yang dilakukan perawat untuk mencapai SLKI. Pada kasus ini, tindakan meliputi: 1) I.03106.01: Mengkaji status neurologis (GCS, pupil, kekuatan motorik, refleks) setiap jam dan mencatatnya dalam lembar pengamatan neurologis. 2) I.03106.02: Mempertahankan posisi kepala dan leher dalam posisi netral, kepala ditinggikan 30 derajat, serta memantau kepatenan jalan napas dan melakukan suction sesuai indikasi. 3) I.03106.03: Memantau dan mencatat tekanan darah, nadi, pernapasan, dan SpO2 setiap jam atau lebih sering jika tidak stabil. Melaporkan setiap kelainan (seperti tekanan darah sistolik >180 mmHg atau <100 mmHg, bradikardia, pola napas tidak teratur) segera kepada dokter. 4) I.03106.04: Mengkolaborasikan dan mempersiapkan pemberian obat-obatan sesuai resep (seperti antihipertensi, diuretik, anticemas), serta memantau efek dan efek sampingnya. 5) I.03106.05: Memberikan stimulasi pendengaran dengan memperkenalkan diri, menjelaskan prosedur, dan berbicara dengan nada suara yang tenang setiap melakukan kontak. Menghindari percakapan negatif di sekitar pasien. 6) I.03106.06: Melindungi pasien dari cedera dengan memasang pengaman tempat tidur, menggunakan bantalan pelindung, dan memeriksa keamanan lingkungan secara berkala. 7) I.03106.07: Melakukan perawatan kulit, mulut, dan mata untuk mencegah komplikasi imobilisasi (dekubitus, ulkus kornea, infeksi mulut). Tindakan-tindakan ini harus dilakukan secara sistematis, terintegrasi, dan didokumentasikan dengan baik untuk memastikan kontinuitas asuhan dan evaluasi hasil.
-
Article No. 24359 | 08 Mar 2026
Klinis : pasien dengan penurunan kesadaran, kelemahan anggota gerak kiri, kejang 3x SMRS KU lemah, E3V2M4 TD 125/83 mmHg HR 122 x/mnt RR 44 x/mnt S 36,5 C SPO2 98 % Status generalis Mata CA -/-, SI -/- mulut : trismus - leher : kaku kuduk - Thorax SDV +/+ rh -/-, wh -/-, S1S2 reguler, BJ (-) Abdomen supel, BU (+), NT (-) Ext akral pucat +/+, edem -/- Status Neurologis Sensorik tidak dapat dievaluasi Kekuatan motorik: sulit untuk dievaluasi Refleks fisiologis: +3/+3//+3/+3 Refleks patologis: (-/-/-/-) Parese NC. VII (-) blink to threat (-) visual pursuit (-) voluntary eye movement (-) Meningeal sign (-) lab 3/3/26 --> 4/3/26 hb 15.23 eritrosit 4.98 hmt 45.3 lekosit 23.95 trombosit 391 Na 134 --> 137 K 2.9 --> 2.7 Cl 90 --> 92 Ca2+ 0.9 --> 0.7 pH 7.44 --> 7.40 GDS 147 ureum 44.9 kreatinin 1.91 CT scan Kesan : - Infark cerebri di occipitalis sinistra - Atrofi cerebri - Tak tampak perdarahan intracerebri maupun intracerebelli Thorax PA Kesan : - Pulmo dan besar cor normal
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah ke otak yang dapat mengakibatkan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan metabolik otak.
Kode SLKI: L.14001
Deskripsi : Perfusi serebral membaik, ditandai dengan: 1) Tekanan darah dalam parameter yang ditetapkan, 2) Status neurologis stabil/tidak memburuk, 3) Tidak ada peningkatan tekanan intrakranial, 4) GCS/Tingkat kesadaran stabil atau membaik, 5) Keseimbangan cairan dan elektrolit adekuat.
Kode SIKI: I.14001 s.d I.14025
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mempertahankan dan meningkatkan perfusi serebral meliputi: Memonitor status neurologis (GCS, pupil, tanda vital) secara ketat dan berkala; Mempertahankan posisi kepala tempat tidur 30 derajat (kecuali kontraindikasi) untuk memfasilitasi aliran balik vena; Meminimalkan stimulasi yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial (suara bising, nyeri); Memonitor dan mengelola keseimbangan cairan dan elektrolit (terutama natrium dan kalium) sesuai program terapi; Memberikan oksigenasi adekuat untuk mempertahankan saturasi oksigen >95%; Mengkolaborasi pemberian obat-obatan sesuai program (misal, antiplatelet, antihipertensi, antikonvulsan, koreksi elektrolit); Mencegah komplikasi imobilisasi (dekubitus, kontraktur, atelektasis) dengan mobilisasi bertahap dan perawatan kulit; serta Berkolaborasi dalam pemantauan tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial dan evaluasi hasil pemeriksaan penunjang.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0004
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan patensi jalan napas.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Bersihan jalan napas efektif, ditandai dengan: 1) Jalan napas paten, 2) Suara napas bersih, 3) Tidak ada sianosis, 4) Frekuensi napas dalam rentang normal, 5) Ekspansi dada simetris, 6) Nilai analisa gas darah dalam rentang normal.
Kode SIKI: I.03001 s.d I.03021
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mempertahankan dan mencapai bersihan jalan napas yang efektif meliputi: Memonitor status pernapasan (frekuensi, irama, suara napas, penggunaan otot bantu) secara berkala; Melakukan fisioterapi dada (postural drainage, perkusi, vibrasi) jika diperlukan; Melakukan penghisapan lendir (suction) secara steril dan tepat indikasi untuk membersihkan sekret; Mempertahankan posisi semi fowler atau lateral sesuai kondisi untuk memaksimalkan ekspansi paru dan mencegah aspirasi; Memonitor nilai saturasi oksigen (SpO2) dan analisa gas darah; Memberikan terapi oksigen sesuai program; Melakukan perawatan oral hygiene secara teratur; serta Mengajarkan dan mendorong latihan napas dalam jika pasien kooperatif, atau memberikan bantuan napas dengan ambu bag jika diperlukan.
Kondisi: Risiko Cedera
<>Kode SDKI: D.0060Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya kerentanan terhadap cedera fisik yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan atau gangguan fungsi tubuh akibat faktor internal dan eksternal.
Kode SLKI: L.19001
Deskripsi : Cedera tidak terjadi, ditandai dengan: 1) Tidak ada tanda-tanda cedera fisik (memar, lecet, fraktur), 2) Lingkungan aman, 3) Tanda-tanda vital dalam rentang normal, 4) Tidak terjadi kejang atau jatuh.
Kode SIKI: I.19001 s.d I.19017
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mencegah cedera meliputi: Melakukan pengkajian risiko jatuh dan kejang secara komprehensif; Memasang side rail tempat tidur dalam posisi terangkat dan selalu dalam jangkauan; Menjaga lingkungan sekitar pasien aman, terang, dan bebas dari rintangan; Menggunakan restraint yang aman dan sesuai protokol hanya jika sangat diperlukan untuk mencegah pasien menarik alat atau jatuh; Memonitor aktivitas kejang (durasi, karakteristik) dan memberikan tindakan selama dan pasca kejang; Mengkolaborasi pemberian terapi antikonvulsan sesuai program; Memastikan semua alat terpasang dengan aman dan tidak membahayakan pasien; serta Melakukan mobilisasi dengan bantuan dan pengawasan ketat, hindari membiarkan pasien sendirian terutama saat ingin ke toilet atau berpindah tempat.
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik
Kode SDKI: D.0049
Deskripsi Singkat: Keterbatasan dalam pergerakan fisik secara mandiri dan bertujuan.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Mobilitas fisik membaik, ditandai dengan: 1) Dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan, 2) Kekuatan otot membaik, 3) Rentang gerak sendi dalam batas normal/fungsional, 4) Tidak terjadi kontraktur, 5) Toleransi aktivitas meningkat.
Kode SIKI: I.09001 s.d I.09028
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk meningkatkan mobilitas fisik meliputi: Melakukan pengkajian kekuatan otot dan rentang gerak sendi secara berkala; Melakukan latihan rentang gerak sendi (Range of Motion/ROM) pasif dan aktif assistif pada ekstremitas yang lemah; Mengubah posisi pasien secara teratur setiap 2 jam untuk mencegah dekubitus dan kontraktur; Melakukan mobilisasi bertahap (dari baring, duduk, berdiri, hingga berjalan) sesuai toleransi dan kondisi neurologis pasien; Menggunakan alat bantu mobilitas (seperti tripod, walker) jika diperlukan; Melakukan kolaborasi dengan fisioterapis untuk program rehabilitasi; Mempertahankan posisi tubuh yang anatomis dan nyaman dengan bantuan bantal; serta Memonitor tanda-tanda intoleransi aktivitas seperti takikardia, sesak napas, atau kelelahan ekstrem.
-
Article No. 24360 | 08 Mar 2026
Klinis : penurunan kesadaran KU lemah, E3V1M1 TD 128/70 HR 97 RR 20 Suhu 37 SpO2 99% on NRM 15 LPM qSofa 2 News Score : 10 (RR +3, supplement oxygen +2, HR +2, AVPU +3) -> High Risk Mata : CA (-/-), SI (-/-), mata cowong (-/-) Mulut : lidah kotor (-), mukosa bibir kering (-), Thoraks : simetris kanan dan kiri, retraksi (-) Jantung : BJ I-II reguler (+), murmur (-) Paru : SDV (+/+), RBH (-/-), RBK (+/+), wheezing (-/-) Abdomen : distended (-) supel (+), BU (+) meningkat, timpani (+), nyeri tekan (-) Eks. Superior : akral hangat (+/+), oedem (-/-) Eks. Inferior : akral hangat (+/+), ulkus (-/-) Lab 03/03 -> 06/03 HB 14.76 -> 11.83 AE 5.20 -> 4.19 HMT 43.1 -> 36.2 AL 25.32 -> 16.87 AT 263 -> 160 GDS 691 C -> 650 C UR 147.7 C -> 193.3 C CR 2.13 H -> 3.30 Natrium 136 -> 145 Kalium 6.1 C -> 6.2 Chlorida 98 -> 110 Calsium 1.2 -> 1.1 pH 7.24 L -> 7.30 SGOT 34 -> 360 SGPT 53 -> 177 Lab 06/03 PT 12.1 INR 1.10 D-Dimer 6090 H APTT 39.4 Albumin 06/03 -> 07/03 (Post Transfusi) 2.30 -> 2.7 AGD 05/03 pH 7.34 L PCO2 30.6 PO2 253 HCO3 16.6 Rontgen Thorax 04/03 Kesan : - Bronchopneumonia - Besar cor normal CURB -65 : 4 -> HIGH RISK PSI : 190 --> Risk class V Kultur Darah -> menunggu hasil GDS 07/03 299
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kesadaran (Gangguan Kesadaran)
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Penurunan kesadaran adalah keadaan dimana individu mengalami penurunan kemampuan untuk berespon terhadap rangsangan dari lingkungan, mulai dari kebingungan ringan hingga koma. Pada kasus ini, pasien memiliki skor E3V1M1 (skor GCS 5) yang menunjukkan penurunan kesadaran berat (koma). Kondisi ini disebabkan oleh faktor patofisiologis kompleks yang melibatkan gangguan metabolik (hiperglikemia berat, asidosis, gangguan elektrolit), infeksi sistemik berat (bronkopneumonia dengan skor CURB-65 dan PSI tinggi), serta kemungkinan komplikasi ginjal (peningkatan kreatinin) dan hati (peningkatan SGOT/SGPT). Penurunan kesadaran merupakan ancaman langsung terhadap kehidupan karena berisiko menyebabkan kegagalan jalan napas, aspirasi, dan kegagalan multi organ.
Kode SLKI: L.03103
Deskripsi : SLKI L.03103 adalah "Tingkat kesadaran membaik". Tujuan keperawatan utama adalah memulihkan kesadaran pasien ke tingkat optimal yang memungkinkan. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: peningkatan skor Glasgow Coma Scale (GCS) mendekati 15, pasien mampu membuka mata secara spontan, memberikan respons verbal yang sesuai (orientasi orang, tempat, waktu), dan melakukan pergerakan motorik sesuai perintah. Selain itu, tanda-tanda vital harus stabil dalam rentang normal untuk pasien, dan tidak ada tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial. Pencapaian SLKI ini memerlukan penanganan penyebab dasar seperti koreksi hiperglikemia dan asidosis, pemberian antibiotik yang adekuat untuk pneumonia, serta dukungan sistemik untuk mengatasi gagal ginjal akut dan gangguan hati. Pemantauan neurologis ketat setiap jam dan dokumentasi trend GCS sangat penting untuk mengevaluasi kemajuan.
Kode SIKI: I.08090
Deskripsi : SIKI I.08090 adalah "Mempertahankan jalan napas". Intervensi ini penting karena pasien dengan penurunan kesadaran berat sangat berisiko mengalami obstruksi jalan napas oleh lidah, sekret, atau aspirasi. Tindakan spesifik meliputi: penempatan posisi lateral atau semi-prone jika memungkinkan untuk mencegah aspirasi, pembersihan jalan napas dengan pengisapan lendir (suction) secara rutin dan bila diperlukan, pemberian oksigen sesuai kebutuhan (saat ini NRM 15 LPM), dan persiapan alat bantu napas jika terjadi kegagalan pernapasan. Perawat juga harus memantau efektivitas pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, penggunaan otot bantu), saturasi oksigen (SpO2), dan suara napas. Selain itu, perlu dilakukan perlindungan terhadap trauma dengan mengamankan area sekitar tempat tidur dan menghindari restraint yang tidak perlu. Kolaborasi dengan tim medis untuk intubasi elektif mungkin diperlukan jika status kesadaran memburuk atau ada tanda-tanda kelelahan napas. Intervensi ini juga mencakup edukasi kepada keluarga tentang kondisi pasien dan alasan tindakan yang dilakukan.
Kondisi: Hiperglikemia
Kode SDKI: D.0094
Deskripsi Singkat: Hiperglikemia adalah kondisi dimana kadar glukosa darah meningkat melebihi nilai normal. Pada pasien ini, kadar GDS sangat tinggi (691 mg/dL turun ke 650 mg/dL, lalu 299 mg/dL), yang mengindikasikan krisis hiperglikemik seperti Diabetic Ketoacidosis (DKA) atau Hyperosmolar Hyperglycemic State (HHS). Hiperglikemia berat berkontribusi signifikan terhadap penurunan kesadaran melalui mekanisme diuresis osmotik (menyebabkan dehidrasi dan gangguan elektrolit), asidosis metabolik (pH 7.24, HCO3 rendah), dan hiperviskositas darah. Kondisi ini juga memperburuk infeksi dan menghambat proses penyembuhan. Hiperglikemia pada pasien ini merupakan masalah keperawatan utama yang memerlukan penanganan segera dan pemantauan ketat.
Kode SLKI: L.03012
Deskripsi : SLKI L.03012 adalah "Kadar glukosa darah dalam rentang yang diharapkan". Tujuannya adalah mencapai dan mempertahankan kadar glukosa darah yang aman dan mendekati target. Kriteria hasil meliputi: penurunan bertahap kadar glukosa darah ke target yang ditentukan (biasanya 150-250 mg/dL dalam fase kritis), tercegahnya hipoglikemia sebagai komplikasi terapi, tanda-tanda dehidrasi dan asidosis membaik (pengisian kapiler, tekanan darah, pH darah), dan output urine yang adekuat. Pemantauan glukosa darah dilakukan secara berkala (setiap 1-2 jam awal) dan hasilnya didokumentasikan dengan baik untuk mengevaluasi respons terapi insulin.
Kode SIKI: I.08023
Deskripsi : SIKI I.08023 adalah "Manajemen Hiperglikemia". Intervensi ini meliputi pemberian insulin sesuai protokol (biasanya drip insulin kerja cepat dengan dosis disesuaikan berdasarkan hasil pemantauan glukosa darah ketat), pemantauan tanda-tanda hipoglikemia (lemas, berkeringat, takikardia, penurunan kesadaran lebih lanjut), pemberian cairan intravena sesuai resep untuk koreksi dehidrasi dan gangguan elektrolit (terutama kalium yang tinggi dan natrium), serta pemantauan balance cairan (input-output). Perawat juga harus memantau tanda-tanda perbaikan status mental seiring dengan normalisasi gula darah dan elektrolit. Kolaborasi dengan dokter dan ahli gizi untuk penyesuaian terapi dan rencana diet apabila pasien sudah dapat makan.
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas terkait Pneumonia
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran gas adalah kondisi dimana terjadi ketidakseimbangan antara ventilasi dan perfusi alveolar, mengakibatkan hipoksemia atau hiperkapnia. Pada pasien ini, diagnosis bronkopneumonia (dikonfirmasi radiologis) dan temuan fisik RBK (+/+) menunjukkan adanya konsolidasi dan sekret yang mengganggu pertukaran gas. Meskipun SpO2 99% dengan oksigen tinggi, ini merupakan kompensasi dengan pemberian oksigen. Nilai AGD menunjukkan adanya asidosis respiratorik kompensasi (pH rendah, PCO2 rendah, HCO3 rendah) yang lebih mengarah ke asidosis metabolik primer. Infeksi berat (ditunjukkan oleh qSOFA, CURB-65, PSI tinggi, dan D-Dimer sangat tinggi) dapat berkembang menjadi Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) dan gagal napas, terutama dengan latar belakang penurunan kesadaran yang meningkatkan risiko atelektasis dan aspirasi.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : SLKI L.04001 adalah "Pertukaran gas adekuat". Tujuan keperawatan adalah mempertahankan oksigenasi dan ventilasi yang adekuat. Kriteria hasil meliputi: saturasi oksigen (SpO2) ≥95% dengan kebutuhan oksigen yang semakin menurun, hasil analisis gas darah dalam rentang normal (pH 7.35-7.45, PaO2 >80 mmHg, PaCO2 35-45 mmHg, HCO3 22-26 mEq/L), bunyi napas bersih atau membaik (pengurangan ronkhi), tidak ada sianosis atau penggunaan otot bantu napas, serta frekuensi pernapasan dalam rentang normal (12-20x/menit). Pencapaian SLKI ini menunjukkan bahwa infeksi paru merespons terapi dan fungsi paru membaik.
Kode SIKI: I.08006
Deskripsi : SIKI I.08006 adalah "Manajemen jalan napas". Intervensi ini fokus pada memastikan patensi jalan napas dan mengoptimalkan pertukaran gas. Tindakan spesifik meliputi: pemberian oksigen sesuai target saturasi, melakukan fisioterapi dada (postural drainage, perkusi, vibrasi) jika kondisi pasien memungkinkan dan aman, mendorong (jika sadar) atau melakukan latihan napas dalam dengan bantuan, memantau efektivitas batuk dan membantu pengeluaran sekret, serta melakukan suction endotrakeal atau orofaringeal secara steril sesuai kebutuhan. Posisi semi-Fowler atau perubahan posisi secara berkala sangat penting untuk meningkatkan ekspansi paru. Pemantauan ketat tanda-tanda distress pernapasan (peningkatan RR, retraksi, paradoksal breathing) dan kolaborasi untuk pemeriksaan AGD serial serta pemberian antibiotik dan bronkodilator sesuai resep juga merupakan bagian dari intervensi ini.
-
Article No. 24361 | 08 Mar 2026
Klinis : Sesak, muntah, lemas, post kejang, pasien sebelumnya sudah pernah periksan ke sp.pd dengan ckd namun beum HD Riw. HT tidak rutin minum obat, CKD KU Sedang GCS E4V5M6 TD: 185/77 mmHg SB: 36,5 C HR: 83x/mnt RR: 15x/mnt SpO2 : 100% Status Generalisata Mata: CA +/+, SI -/- Leher:dbn Thorax: Simetris ka/ki Paru: Sdv +/+, Wh -/- RBH +/+ Abdomen: supel, BU (+), nyeri tekan epigastric (-) Genitalia : Tidak ada kelainan Extremitas Superior: Akral hangat +/+, CRT <2detik, edema -/- Extremitas Inferior: Akral hangat +/+, CRT <2detik,edema -/- Lab (05/03) --> (06/03) Post TRF PRC on HD I Hb 3.9 --> 7.38 AE 1.39 --> 2.66 Hmt 11.4 --> 21.1 AL 7.38 --> 7.71 AT 244 --> 120 GDS 162 Ur 365.9 --> 154.1 Kr 24.11 --> 10.58 HbsAg (-) Anti-HIV NR Anti HCV (-) Fungsi Hepar (05/03) SGOT 17 SGPT 13 GDS Stik (06/03) : 118 mg/dL
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Ketidakadekuatan volume darah yang dipompa oleh jantung untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Curah jantung membaik. Ditandai dengan: 1) Tekanan darah dalam rentang normal yang diharapkan, 2) Denyut nadi dalam rentang normal yang diharapkan, 3) Nadi perifer teraba kuat dan simetris, 4) Kulit hangat dan kering, 5) Tidak ada edema paru, 6) Tidak ada dispneu/ortopneu, 7) Tidak ada penurunan kesadaran, 8) Haluaran urine adekuat, 9) Nilai laboratorium terkait dalam rentang normal.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : 1. Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) dan saturasi oksigen. 2. Monitor status hemodinamik (CVP, tekanan arteri jika terpasang). 3. Monitor status pernapasan (irama, kedalaman, usaha napas, bunyi napas). 4. Monitor status sirkulasi (warna, suhu, kelembaban kulit, pengisian kapiler, nadi perifer). 5. Monitor status neurologis (tingkat kesadaran, orientasi, GCS). 6. Monitor keseimbangan cairan (balance intake dan output, berat badan harian, tanda kelebihan atau kekurangan cairan). 7. Kolaborasi pemberian terapi oksigen sesuai kebutuhan. 8. Kolaborasi pemberian terapi farmakologi (inotropik, vasodilator, diuretik) sesuai program. 9. Atur posisi pasien untuk memaksimalkan pernapasan dan kenyamanan (misalnya, semi-Fowler). 10. Batasi aktivitas fisik dan anjurkan tirah baring sesuai kondisi. 11. Berikan dukungan psikologis dan edukasi pada pasien serta keluarga tentang kondisi dan penatalaksanaannya.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0011
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau yang diinginkan.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Toleransi aktivitas membaik. Ditandai dengan: 1) Mampu melakukan aktivitas sesuai kemampuan, 2) Tanda vital dalam batas normal selama dan setelah aktivitas, 3) Tidak mengeluh lemas, 4) Tidak mengalami sesak napas selama dan setelah aktivitas, 5) Tidak mengalami nyeri dada selama dan setelah aktivitas.
Kode SIKI: I.09001
Deskripsi : 1. Monitor respons pasien terhadap aktivitas (tanda vital, keluhan sesak, lelah, nyeri dada). 2. Kaji faktor penyebab intoleransi aktivitas (kelemahan, nyeri, gangguan pola tidur, gangguan sistem pernapasan/kardiovaskular). 3. Bantu pasien mengidentifikasi aktivitas yang dapat dan tidak dapat dilakukan. 4. Rencanakan periode istirahat yang cukup sebelum dan setelah aktivitas. 5. Bantu pasien dalam aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan. 6. Anjurkan aktivitas secara bertahap (latihan rentang gerak pasif/aktif, duduk di tepi tempat tidur, ambulasi sesuai toleransi). 7. Atur lingkungan untuk memudahkan pasien dalam beraktivitas. 8. Kolaborasi pemberian terapi oksigen selama aktivitas jika diperlukan. 9. Edukasi pasien dan keluarga tentang teknik penghematan energi dan pentingnya keseimbangan aktivitas-istirahat.
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Berisiko mengalami penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular.
Kode SLKI: L.06001
Deskripsi : Keseimbangan volume cairan membaik. Ditandai dengan: 1) Tanda vital dalam rentang normal, 2) Mukosa bibir lembab, 3) Turgor kulit baik, 4) Tidak ada edema, 5) Balance cairan seimbang, 6) Berat badan stabil, 7) Elektrolit dalam rentang normal.
Kode SIKI: I.06001
Deskripsi : 1. Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan) dan suhu. 2. Monitor status hidrasi (turgor kulit, mukosa mulut, rasa haus, produksi air mata). 3. Monitor balance cairan (catat intake dan output secara akurat setiap 24 jam). 4. Monitor berat badan harian dengan timbangan yang sama, waktu yang sama, dan pakaian yang sama. 5. Monitor tanda kelebihan cairan (edema, distensi vena leher, bunyi napas crackles, sesak napas, peningkatan tekanan darah). 6. Monitor hasil pemeriksaan laboratorium (elektrolit, ureum, kreatinin, hematokrit). 7. Kolaborasi pembatasan asupan cairan sesuai program terapi (pada kondisi overload cairan). 8. Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai program (jika diperlukan). 9. Kolaborasi pelaksanaan hemodialisis sesuai jadwal. 10. Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya pembatasan cairan dan diet sesuai kondisi penyakit ginjal kronik.
Kondisi: Risiko Cedera
Kode SDKI: D.0023
Deskripsi Singkat: Peningkatan kerentanan terhadap cedera fisik yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: L.19001
Deskripsi : Risiko cedera menurun. Ditandai dengan: 1) Lingkungan aman dan bebas bahaya, 2) Tidak ada cedera, 3) Menggunakan alat bantu dengan tepat, 4) Keluarga memahami upaya pencegahan cedera.
Kode SIKI: I.19001
Deskripsi : 1. Identifikasi faktor risiko cedera pada pasien (riwayat kejang, lemas, penurunan kesadaran, hipotensi ortostatik pasca dialisis, gangguan penglihatan). 2. Monitor status neurologis (tingkat kesadaran, GCS) secara berkala. 3. Pastikan lingkungan aman (pagar tempat tidur terpasang, lantai tidak licin, pencahayaan cukup, barang-barang dalam jangkauan). 4. Gunakan restraint yang aman sesuai indikasi dan kebijakan. 5. Bantu pasien dalam mobilisasi dan aktivitas untuk mencegah jatuh. 6. Anjurkan pasien meminta bantuan saat akan berpindah atau beraktivitas jika merasa lemas. 7. Kolaborasi pemberian terapi antikejang jika diperlukan. 8. Edukasi pasien dan keluarga tentang faktor risiko cedera dan langkah pencegahannya. 9. Pasang tanda risiko jatuh di dekat tempat tidur pasien.
-
Article No. 24362 | 08 Mar 2026
Klinis : Nyeri paha kanan Status Lokalis_ R. Femur (D) L: Open wound (-), hiperemis (-), ekimosis (-), swelling (+), deformitas (+) F: NT (+), krepitasi (+), tidak terdapat neurovascular disturbance, CRT < 2 detik M: ROM terbatas nyeri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang diperkirakan atau dapat diprediksi dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Pengendalian Nyeri: Tindakan untuk mengontrol dan mengurangi nyeri. SLKI ini memiliki beberapa indikator, di antaranya: 1) Melaporkan nyeri terkontrol; 2) Mendemonstrasikan teknik nonfarmakologis untuk mengatasi nyeri; 3) Mematuhi regimen farmakologis yang diresepkan; 4) Fungsi fisik dan psikologis tetap terjaga; 5) Tanda-tanda vital dalam rentang normal. Pada pasien dengan fraktur femur, tujuan utamanya adalah mencapai tingkat kenyamanan yang dapat diterima pasien, yang ditunjukkan dengan skala nyeri yang menurun, mampu beristirahat, dan berpartisipasi dalam terapi fisik yang diperlukan.
Kode SIKI: I.08079
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Memberikan tindakan untuk meringankan nyeri. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan sistematis yang dilakukan perawat. Pertama, Pengkajian Nyeri Komprehensif: Mengkaji karakteristik nyeri (lokasi, intensitas dengan skala, kualitas, durasi, faktor pencetus dan pereda) secara berkala. Pada kasus fraktur femur, nyeri biasanya bersifat tajam, berat, diperburuk oleh gerakan, dan disertai dengan tanda fisik seperti swelling dan deformitas. Kedua, Intervensi Farmakologis: Memberikan analgetik sesuai resep (seperti NSAID atau opioid) dengan mempertimbangkan waktu pemberian (misalnya, sebelum latihan atau perawatan) dan memantau efek samping. Ketiga, Intervensi Nonfarmakologis: Menerapkan teknik seperti imobilisasi bagian yang sakit dengan bidai atau traksi, reposisi dengan hati-hati, kompres dingin untuk mengurangi pembengkakan dan nyeri, serta teknik distraksi atau relaksasi. Keempat, Edukasi: Memberikan penjelasan tentang penyebab nyeri, perkiraan durasi, dan pentingnya melaporkan nyeri secara dini. Kelima, Evaluasi: Memantau dan mendokumentasikan respons pasien terhadap intervensi yang diberikan, termasuk perubahan skala nyeri, tanda vital, dan kemampuan mobilitas. Pendekatan multimodal (gabungan obat dan non-obat) sangat penting untuk manajemen nyeri fraktur yang efektif.
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik
Kode SDKI: D.0011
Deskripsi Singkat: Keterbatasan dalam pergerakan fisik secara mandiri yang disengaja.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Kemampuan Mobilisasi: Tindakan untuk mengubah atau mempertahankan posisi tubuh. Indikatornya meliputi: 1) Melakukan perubahan posisi; 2) Melakukan transfer dengan bantuan; 3) Melakukan ambulasi dengan bantuan; 4) Menggunakan alat bantu mobilisasi dengan tepat; 5) Mempertahankan posisi tubuh yang align. Pada pasien fraktur femur, tujuan realistis awal adalah pasien dapat melakukan perubahan posisi di tempat tidur dengan bantuan, melakukan transfer dari tempat tidur ke kursi roda dengan aman menggunakan alat bantu dan bantuan perawat, serta menjaga alignment ekstremitas yang cidera selama mobilisasi.
Kode SIKI: I.09023
Deskripsi : Manajemen Mobilisasi: Membantu pasien untuk mengubah posisi atau berpindah tempat. Intervensi ini dimulai dengan Pengkajian Kemampuan dan Hambatan: Menilai kekuatan otot, rentang gerak (ROM), tingkat nyeri, keseimbangan, dan faktor psikologis seperti ketakutan untuk bergerak. Pada fraktur femur, ROM terbatas dan nyeri adalah hambatan utama. Selanjutnya, Perencanaan Mobilisasi: Berkolaborasi dengan tim fisioterapi untuk membuat rencana mobilisasi bertahap, dimulai dari latihan di tempat tidur (seperti ankle pump) hingga ambulasi parsial dengan weight-bearing sesuai izin. Implementasi: Membantu pasien dalam perubahan posisi setiap 2 jam untuk mencegah dekubitus, menggunakan teknik yang aman untuk menjaga alignment tulang (misalnya, log-roll), dan menggunakan alat bantu mekanik seperti trapeze bar. Melakukan transfer dengan teknik yang benar, misalnya menggunakan gait belt dan kursi roda. Mengajarkan dan mendampingi pasien dalam penggunaan alat bantu jalan (walker atau kruk) dengan pembebanan berat badan yang ditentukan. Edukasi dan Keamanan: Memberikan instruksi tentang pembatasan gerakan, pentingnya mobilisasi dini yang aman untuk mencegah komplikasi (seperti trombosis, pneumonia, atrofi otot), serta memastikan lingkungan aman dari hambatan untuk mencegah jatuh. Evaluasi: Memantau toleransi pasien terhadap aktivitas, adanya peningkatan nyeri, dan kepatuhan terhadap protokol pembebanan berat badan.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0068
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons tubuh terhadap patogen.
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : Pengendalian Infeksi: Tindakan untuk mencegah dan mendeteksi dini infeksi. Indikatornya antara lain: 1) Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi; 2) Melakukan perilaku pencegahan infeksi; 3) Mempertahankan integritas kulit; 4) Mempertahankan status nutrisi yang adekuat; 5) Suhu tubuh dalam rentang normal. Pada pasien dengan fraktur tertutup yang akan atau telah menjalani tindakan operatif (seperti ORIF), tujuan utamanya adalah mencegah terjadinya infeksi luka operasi atau infeksi sistemik, yang ditandai dengan tidak adanya demam, tidak adanya kemerahan, bengkak, hangat, atau drainase purulen di area cidera, serta nilai laboratorium (seperti leukosit) dalam batas normal.
Kode SIKI: I.15070
Deskripsi : Pengawasan Infeksi: Mengidentifikasi faktor risiko dan deteksi dini infeksi. Intervensi ini bersifat preventif dan monitoring. Pengkajian Risiko: Mengidentifikasi faktor risiko seperti prosedur invasif (pemasangan akses IV, kateter, atau operasi), kerusakan integritas kulit (walaupun open wound negatif, swelling dan deformitas menunjukkan trauma jaringan), dan status imun pasien. Pencegahan: Menerapkan prinsip aseptik ketat dalam semua prosedur perawatan luka atau invasif. Pada pasien pra-operasi, memastikan kulit area operasi bersih. Pada pasien pasca-operasi, melakukan perawatan luka sesuai protokol dengan memantau tanda infeksi. Mendorong intake nutrisi tinggi protein dan vitamin C untuk penyembuhan. Pemantauan dan Deteksi Dini: Memantau tanda-tanda vital secara teratur, terutama suhu tubuh. Mengobservasi area fraktur (walaupun tertutup) untuk mendeteksi perubahan seperti peningkatan swelling, kemerahan, rasa hangat, atau nyeri yang bertambah. Memantau hasil laboratorium seperti hitung leukosit dan LED. Mengajarkan pada pasien dan keluarga tanda-tanda infeksi yang harus dilaporkan segera. Kolaborasi: Berkolaborasi dalam pemberian antibiotik profilaksis jika diresepkan. Intervensi ini sangat kritis karena infeksi pada tulang (osteomielitis) merupakan komplikasi serius yang sulit ditangani pada fraktur.
-
Article No. 24364 | 08 Mar 2026
Klinis : pemantauan tekanan intrakranial (I.06198)
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Pemantauan Tekanan Intrakranial
Kode ICD-10: Z01.818
Deskripsi Singkat : Kode Z01.818 digunakan untuk mencatat kunjungan pasien yang menjalani pemeriksaan khusus lainnya, dalam hal ini adalah pemantauan tekanan intrakranial (TIK). Ini adalah kode faktor kontak/penyebab eksternal, bukan kode untuk penyakit atau cedera itu sendiri. Pemantauan TIK adalah prosedur medis penting yang dilakukan untuk mengukur tekanan di dalam rongga tengkorak, biasanya pada pasien dengan cedera otak traumatis berat, perdarahan intrakranial, tumor otak, atau hidrosefalus. Prosedur ini melibatkan penempatan sensor (transduser) di dalam atau di luar otak untuk memberikan pembacaan tekanan secara berkelanjutan. Data yang diperoleh sangat kritis untuk menilai keparahan kondisi, memandu pengobatan (seperti pemberian obat diuretik atau keputusan untuk operasi), dan mencegah kerusakan otak lebih lanjut akibat tekanan tinggi yang dapat mengganggu aliran darah dan fungsi otak. Kode ini dicatat dalam rekam medis untuk mendokumentasikan alasan spesifik dari kontak dengan layanan kesehatan tersebut, terlepas dari diagnosis penyakit yang mendasarinya.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24365 | 08 Mar 2026
Klinis : masyarakat masih membuang sampah di sungai ataupun dibakar
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Paparan Polusi Udara dari Sumber Komunitas
Kode ICD-10: Z58.6
Deskripsi Singkat : Kode Z58.6 mengindikasikan "Kontak dengan layanan kesehatan karena paparan polusi udara dari sumber komunitas". Kondisi ini merujuk pada situasi di mana individu atau masyarakat terpapar polutan udara yang berasal dari praktik pembuangan sampah yang tidak tepat, seperti pembakaran sampah di tempat terbuka atau pembuangan ke badan air yang menyebabkan pencemaran udara sekunder. Paparan ini dapat menyebabkan atau memperburuk berbagai masalah kesehatan, termasuk iritasi saluran pernapasan (mata, hidung, tenggorokan), eksaserbasi asma, bronkitis, dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular serta kanker dalam jangka panjang. Asap dari pembakaran sampah mengandung partikel halus (PM2.5/PM10), karbon monoksida, dioksin, furan, dan senyawa organik volatil berbahaya. Penggunaan kode ini tepat dalam konteks rekam medis untuk menandai alasan kontak dengan layanan kesehatan yang terkait dengan faktor risiko lingkungan ini, meskipun belum tentu ada diagnosis penyakit spesifik. Kode ini berada di bawah bab "Faktor-faktor yang mempengaruhi status kesehatan dan kontak dengan layanan kesehatan", sehingga lebih menggambarkan faktor risiko atau alasan konsultasi daripada penyakit itu sendiri.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24366 | 08 Mar 2026
Klinis : Wawancara : Hasil wawancara dengan orang tua menunjukkan bahwa anak sering bermain di tepi sungai tanpa pengawasan karena sebagian besar orang tua bekerja sebagai buruh harian hingga sore hari. Orang tua juga mengatakan beberapa anak pernah jatuh, terluka, bahkan hampir tenggelam saat bermain di sekitar sungai. Selain itu, orang tua mengaku belum mengetahui cara pencegahan cedera pada anak dan belum pernah mendapatkan penyuluhan mengenai keselamatan anak. Ketua RT menyatakan bahwa belum pernah ada program keselamatan anak di wilayah tersebut, dan kader posyandu juga menyampaikan bahwa tidak tersedia area bermain khusus yang aman bagi anak di lingkungan tersebut. Angket/Data Sekunder : Berdasarkan survei komunitas menunjukkan bahwa terdapat sekitar 60 anak usia 5–10 tahun di wilayah tersebut, dengan 70% orang tua bekerja di luar rumah pada siang hingga sore hari sehingga pengawasan terhadap anak menjadi terbatas. Hasil survei juga menunjukkan bahwa sebanyak 33% anak mengalami cedera ringan hingga sedang dalam enam bulan terakhir, lima anak pernah dirujuk ke Puskesmas akibat cedera, dan dua anak pernah hampir tenggelam saat bermain di sungai. Observasi Hasil observasi menunjukkan bahwa area sekitar sungai tidak memiliki pagar pengaman, permukaan tanah di sekitar sungai licin dan berbatu sehingga berisiko menyebabkan anak terpeleset. Tidak terdapat rambu peringatan bahaya di sekitar sungai maupun rambu lalu lintas di jalan lingkungan yang ramai kendaraan. Lingkungan juga tidak memiliki area bermain yang aman bagi anak serta tidak ditemukan media informasi atau poster mengenai keselamatan anak.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Cedera pada Anak
Kode SDKI: 00039
Deskripsi Singkat: Risiko cedera adalah keadaan rentan terhadap cedera fisik yang dapat mengancam jiwa atau mengganggu kesehatan, yang dapat terjadi karena ketidakmampuan untuk melindungi diri sendiri secara efektif dari sumber bahaya internal atau eksternal. Pada kasus ini, risiko cedera pada anak-anak di komunitas tersebut sangat tinggi karena interaksi antara faktor individu (usia anak 5-10 tahun yang aktif dan belum memiliki kesadaran bahaya yang matang), faktor pengasuhan (pengawasan terbatas karena orang tua bekerja), dan faktor lingkungan yang sangat berbahaya (sungai tanpa pagar dan rambu, jalan ramai, tidak ada area bermain aman). Data menunjukkan manifestasi nyata dari risiko ini, seperti cedera yang dialami 33% anak dan kejadian hampir tenggelam. Diagnosa ini menegaskan tanggung jawab perawat komunitas untuk melakukan intervensi yang menargetkan ketiga faktor tersebut secara holistik.
Kode SLKI: 1937
Deskripsi : SLKI 1937 berfokus pada upaya pencegahan cedera. Intervensi keperawatan yang direncanakan harus mencakup: (1) Edukasi kepada orang tua dan pengasuh tentang bahaya lingkungan spesifik (sungai, jalan) dan strategi pengawasan alternatif, meski mereka bekerja. (2) Edukasi kepada anak-anak usia sekolah tentang keselamatan diri, bahaya bermain di sungai, dan cara bermain aman menggunakan metode yang sesuai usia (misal, bermain peran, gambar). (3) Memfasilitasi dan mengadvokasi pembuatan atau penyediaan lingkungan yang lebih aman. Ini termasuk merencanakan program bersama ketua RT dan kader untuk memasang rambu peringatan sederhana di titik rawan, mengusulkan pembuatan pagar darurat atau pembatas alami, serta mengidentifikasi lahan yang bisa dijadikan area bermain sementara yang aman. (4) Memberdayakan kader posyandu dan tokoh masyarakat untuk menjadi agen penyebar informasi keselamatan anak dan melakukan pemantauan sederhana. (5) Mengembangkan dan menyebarkan media informasi (poster, selebaran) tentang pencegahan cedera yang ditempatkan di titik strategis seperti posyandu dan rumah warga. Tujuan akhir SLKI ini adalah menurunkan angka kejadian cedera pada anak di wilayah tersebut melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan modifikasi lingkungan.
Kode SIKI: 4601
Deskripsi : SIKI 4601 mengukur keberhasilan dari SLKI 1937 dengan menilai peningkatan pengetahuan dan perilaku keluarga serta komunitas dalam mencegah cedera. Kriteria evaluasinya meliputi: (1) Pengetahuan: Orang tua dan anak dapat menyebutkan minimal 3 sumber bahaya di lingkungan mereka dan cara menghindarinya. Orang tua memahami strategi pengawasan alternatif (misal, sistem ronda bergilir antar tetangga, penunjukan pengasuh bersama). (2) Perilaku: Terjadi penurunan frekuensi anak bermain di tepi sungai yang diamati oleh kader. Orang tua melaporkan penerapan pengawasan yang lebih ketat atau alternatif pengasuhan saat bekerja. (3) Lingkungan: Terpasangnya rambu peringatan bahaya buatan komunitas di area sungai dan jalan rawan. Tersedianya media informasi keselamatan di posyandu atau titik kumpul warga. Teridentifikasinya atau teralokasinya sebuah area yang disepakati sebagai tempat bermain yang lebih aman. (4) Kelembagaan: Terbentuknya kesepakatan atau program keselamatan anak sederhana di tingkat RT, seperti komitmen untuk patroli warga atau sosialisasi rutin. Kader posyandu aktif menyampaikan pesan keselamatan dalam setiap pertemuan. (5) Outcome: Tidak ada laporan cedera baru yang serius pada anak di wilayah tersebut dalam periode pemantauan. Indikator ini dinilai melalui wawancara ulang, observasi lingkungan, dan data sekunder dari catatan posyandu atau Puskesmas.
-
Article No. 24367 | 08 Mar 2026
Klinis : Wawancara : Hasil wawancara dengan orang tua menunjukkan bahwa anak sering bermain di tepi sungai tanpa pengawasan karena sebagian besar orang tua bekerja sebagai buruh harian hingga sore hari. Orang tua juga mengatakan beberapa anak pernah jatuh, terluka, bahkan hampir tenggelam saat bermain di sekitar sungai. Selain itu, orang tua mengaku belum mengetahui cara pencegahan cedera pada anak dan belum pernah mendapatkan penyuluhan mengenai keselamatan anak. Ketua RT menyatakan bahwa belum pernah ada program keselamatan anak di wilayah tersebut, dan kader posyandu juga menyampaikan bahwa tidak tersedia area bermain khusus yang aman bagi anak di lingkungan tersebut. Angket/Data Sekunder : Berdasarkan survei komunitas menunjukkan bahwa terdapat sekitar 60 anak usia 5–10 tahun di wilayah tersebut, dengan 70% orang tua bekerja di luar rumah pada siang hingga sore hari sehingga pengawasan terhadap anak menjadi terbatas. Hasil survei juga menunjukkan bahwa sebanyak 33% anak mengalami cedera ringan hingga sedang dalam enam bulan terakhir, lima anak pernah dirujuk ke Puskesmas akibat cedera, dan dua anak pernah hampir tenggelam saat bermain di sungai. Observasi Wawancara : Hasil wawancara dengan orang tua menunjukkan bahwa anak sering bermain di tepi sungai tanpa pengawasan karena sebagian besar orang tua bekerja sebagai buruh harian hingga sore hari. Orang tua juga mengatakan beberapa anak pernah jatuh, terluka, bahkan hampir tenggelam saat bermain di sekitar sungai. Selain itu, orang tua mengaku belum mengetahui cara pencegahan cedera pada anak dan belum pernah mendapatkan penyuluhan mengenai keselamatan anak. Ketua RT menyatakan bahwa belum pernah ada program keselamatan anak di wilayah tersebut, dan kader posyandu juga menyampaikan bahwa tidak tersedia area bermain khusus yang aman bagi anak di lingkungan tersebut. Angket/Data Sekunder : Berdasarkan survei komunitas menunjukkan bahwa terdapat sekitar 60 anak usia 5–10 tahun di wilayah tersebut, dengan 70% orang tua bekerja di luar rumah pada siang hingga sore hari sehingga pengawasan terhadap anak menjadi terbatas. Hasil survei juga menunjukkan bahwa sebanyak 33% anak mengalami cedera ringan hingga sedang dalam enam bulan terakhir, lima anak pernah dirujuk ke Puskesmas akibat cedera, dan dua anak pernah hampir tenggelam saat bermain di sungai. Observasi Hasil observasi menunjukkan bahwa area sekitar sungai tidak memiliki pagar pengaman, permukaan tanah di sekitar sungai licin dan berbatu sehingga berisiko menyebabkan anak terpeleset. Tidak terdapat rambu peringatan bahaya di sekitar sungai maupun rambu lalu lintas di jalan lingkungan yang ramai kendaraan. Lingkungan juga tidak memiliki area bermain yang aman bagi anak serta tidak ditemukan media informasi atau poster mengenai keselamatan anak.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Cedera pada Anak
Kode SDKI: 0029
Deskripsi Singkat: Risiko meningkat terhadap respons fisiologis dan psikologis yang mengancam integritas seseorang akibat interaksi dengan lingkungan fisik yang berbahaya, kurangnya pengawasan, dan kurangnya pengetahuan tentang pencegahan cedera.
Kode SLKI: 4301
Deskripsi : Keamanan Lingkungan Fisik: Tindakan untuk memodifikasi lingkungan fisik untuk meminimalkan cedera dan meningkatkan keselamatan. Berdasarkan data, lingkungan fisik sangat berisiko dengan adanya sungai tanpa pagar pengaman, permukaan licin dan berbatu, tidak ada rambu peringatan, serta tidak tersedianya area bermain yang aman. SLKI ini akan fokus pada upaya kolaboratif dengan komunitas (orang tua, ketua RT, kader) untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman. Intervensi dapat mencakup advokasi untuk pemasangan pagar sementara atau rambu peringatan bahaya di area sungai, identifikasi dan pengadaan lahan untuk area bermain aman, serta sosialisasi pentingnya pengawasan terhadap bahaya lingkungan. Tujuannya adalah mengurangi akses langsung anak ke sumber bahaya (sungai) dan menyediakan alternatif tempat bermain yang lebih terkontrol.
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : Edukasi Keselamatan: Memberikan informasi dan pelatihan untuk mencegah, mengenali, dan merespons faktor risiko di lingkungan. Data menunjukkan defisit pengetahuan yang signifikan: orang tua belum mengetahui cara pencegahan cedera dan belum pernah mendapat penyuluhan, tidak ada program keselamatan anak di wilayah, dan tidak ada media informasi. SIKI ini akan dilaksanakan melalui penyuluhan kelompok (misalnya di posyandu atau pertemuan warga) yang membahas bahaya bermain di sungai, pentingnya pengawasan aktif dan pengawasan oleh pengganti (saat orang tua bekerja), cara pencegahan cedera domestik dan lingkungan, serta teknik pertolongan pertama dasar. Materi edukasi akan disesuaikan dengan tingkat literasi orang tua dan menggunakan media yang mudah dipahami (poster, demonstrasi). Perawat juga akan melatih kader posyandu sebagai agen perubahan yang dapat terus mengingatkan warga. Edukasi bertujuan meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan orang tua serta pengasuh dalam melindungi anak dari cedera, sehingga dapat mengubah perilaku pengasuhan dan pengawasan.
-
Article No. 24368 | 08 Mar 2026
Klinis : masyarakat masih membuang sampah di sungai ataupun dibakar
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Gangguan Kesehatan Lingkungan dan Potensi Cedera pada Masyarakat akibat Praktik Pembuangan Sampah yang Tidak Aman
Kode SDKI: 0302
Deskripsi Singkat: Risiko Kerusakan Lingkungan
Kode SLKI: 4301
Deskripsi : Pengendalian Risiko Lingkungan
Kode SIKI: 4301A
Deskripsi : Mengidentifikasi faktor risiko lingkungan
Kode SIKI: 4301B
Deskripsi : Memantau faktor risiko lingkungan
Kode SIKI: 4301C
Deskripsi : Melindungi dari faktor risiko lingkungan
Kode SIKI: 4301D
Deskripsi : Mengurangi faktor risiko lingkungan
Kode SIKI: 4301E
Deskripsi : Mengevaluasi perkembangan pengendalian risiko lingkungan
Kondisi: Kurangnya Pengetahuan Masyarakat tentang Pengelolaan Sampah yang Benar dan Dampaknya terhadap Kesehatan
Kode SDKI: 0182
<>Deskripsi Singkat: Kurang Pengetahuan
Kode SLKI: 3210
Deskripsi : Peningkatan Pengetahuan
Kode SIKI: 3210A
Deskripsi : Menilai kesiapan belajar
Kode SIKI: 3210B
Deskripsi : Menentukan kebutuhan belajar
Kode SIKI: 3210C
Deskripsi : Menetapkan tujuan belajar
Kode SIKI: 3210D
Deskripsi : Melaksanakan pendidikan kesehatan
Kode SIKI: 3210E
Deskripsi : Mengevaluasi hasil belajar
Kondisi: Potensi Gangguan Pernapasan dan Iritasi pada Masyarakat akibat Polusi Udara dari Pembakaran Sampah
Kode SDKI: 0101
<>Deskripsi Singkat: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SLKI: 3101
Deskripsi : Pemeliharaan Bersihan Jalan Napas
Kode SIKI: 3101A
Deskripsi : Memantau status pernapasan
Kode SIKI: 3101B
Deskripsi : Memposisikan untuk memaksimalkan ventilasi
Kode SIKI: 3101C
Deskripsi : Mengajarkan batuk efektif dan latihan nafas dalam
Kode SIKI: 3101D
Deskripsi : Mengelola lingkungan untuk mengurangi polutan udara
Kode SIKI: 3101E
Deskripsi : Mengevaluasi perkembangan bersihan jalan napas