Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 22784 | 15 Nov 2025
Klinis : demam sudah 3 hari, trombositopenia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Syok Hipovolemik
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Status di mana seorang individu mengalami peningkatan kerentanan terhadap volume sirkulasi darah yang tidak adekuat yang dapat mengancam kehidupan.
Kode SLKI: L.03141
Deskripsi : Pemantauan tanda-tanda syok. Perawat secara teratur dan komprehensif memantau tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, frekuensi napas, suhu) dan tanda-tanda klinis syok lainnya seperti kulit pucat, dingin, lembab, penurunan kesadaran, penurunan produksi urin (oliguria), serta rasa haus yang berlebihan. Pemantauan dilakukan untuk mendeteksi secara dini setiap kemunduran kondisi pasien. Mempertahankan akses vena. Perawat memastikan akses intravena tetap paten dan berfungsi dengan baik untuk memungkinkan pemberian cairan atau transfusi darah jika diperlukan. Hal ini melibatkan pemasangan kanula intravena dengan ukuran yang sesuai dan perawatan lokasi insersi untuk mencegah infeksi. Memantau nilai laboratorium. Perawat memantau hasil pemeriksaan laboratorium secara berkala, khususnya jumlah trombosit, hematokrit, dan hemoglobin, untuk menilai tingkat keparahan trombositopenia dan kehilangan darah yang mungkin terjadi. Penurunan hematokrit yang signifikan dapat mengindikasikan perdarahan internal. Manajemen suhu. Perawat melakukan intervensi untuk mengelola demam, seperti kompres hangat di lipatan tubuh (aksila, lipat paha) dan pemberian obat antipiretik sesuai resep, untuk mengurangi risiko peningkatan metabolisme dan kehilangan cairan yang memperberat kondisi. Edukasi pasien dan keluarga. Perawat memberikan penjelasan kepada pasien dan keluarga tentang kondisi pasien, tanda-tanda syok yang perlu diwaspadai, pentingnya tirah baring, serta menghindari aktivitas yang dapat menyebabkan trauma atau perdarahan. Edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan dan partisipasi dalam perawatan.
Kode SIKI: I.01228
Deskripsi : Pantau tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, frekuensi napas, suhu) setiap 1-2 jam atau sesuai kondisi pasien. Perawat mengukur dan mencatat tekanan darah untuk mendeteksi hipotensi (tekanan darah rendah), memeriksa nadi untuk mendeteksi takikardia (denyut nadi cepat dan lemah), mengamati frekuensi dan pola napas untuk mendeteksi takipnea (napas cepat), serta memantau suhu tubuh untuk menilai respons terhadap terapi demam. Pantau tanda-tanda perdarahan. Perawat melakukan observasi ketat terhadap adanya petekie (bintik merah kecil di kulit), ekimosis (memar), epistaksis (mimisan), perdarahan gusi, hematemesis (muntah darah), melena (feses hitam), atau hematuria (darah dalam urin). Pemeriksaan kulit dan membran mukosa dilakukan secara rutin. Pantau status neurologis dan kesadaran. Perawat menilai tingkat kesadaran pasien (dari sadar penuh hingga koma) menggunakan skala GCS (Glasgow Coma Scale) jika diperlukan, serta mengamati adanya keluhan pusing, lemah, atau gelisah yang dapat mengindikasikan penurunan perfusi otak. Kaji produksi urin. Perawat mencatat jumlah dan frekuensi berkemih pasien. Produksi urin kurang dari 30 ml/jam (oliguria) merupakan tanda penurunan perfusi ginjal dan syok yang memburuk. Pengukuran balans cairan (intake dan output) sangat penting. Pertahankan tirah baring. Perawat membatasi aktivitas fisik pasien dan menganjurkan tirah baring total untuk mengurangi risiko trauma dan perdarahan spontan, serta untuk menghemat energi dan menurunkan kebutuhan metabolisme tubuh. Kolaborasi pemberian terapi cairan. Perawat berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan intravena seperti kristaloid (NaCl 0,9% atau Ringer Laktat) untuk mempertahankan tekanan darah dan volume sirkulasi. Laju pemberian cairan diatur sesuai kondisi hemodinamik pasien. Kolaborasi pemberian transfusi trombosit. Perawat mempersiapkan dan mengadministrasikan transfusi konsentrat trombosit sesuai instruksi dokter untuk mengoreksi trombositopenia yang berat dan mencegah perdarahan masif. Prosedur transfusi harus mengikuti protokol yang aman. Berikan terapi oksigen. Perawat memberikan oksigen tambahan melalui kanula nasal atau masker untuk memastikan kecukupan oksigenasi jaringan, terutama jika ada tanda-tanda distress pernapasan atau syok. Lakukan manajemen demam. Perawat memberikan kompres hangat di daerah dengan pembuluh darah besar (seperti dahi, ketiak, lipat paha) untuk memfasilitasi penguapan dan penurunan suhu tubuh. Pemberian obat antipiretik seperti parasetamol dilakukan sesuai resep, dengan menghindari obat yang mempengaruhi fungsi trombosit seperti aspirin atau NSAID. Berikan edukasi dan dukungan psikologis. Perawat menjelaskan semua prosedur yang dilakukan, menjawab pertanyaan, dan memberikan dukungan emosional kepada pasien serta keluarga untuk mengurangi kecemasan dan meningkatkan kepatuhan terhadap rencana perawatan.
-
Article No. 22785 | 15 Nov 2025
Klinis : diagnosa medis: post general onset + tonic clonic seizure + e.c ass ec stroke ICH OH-4 + eklamsia + p2002 post sc h-3 + IUD + transaminitis tipe operasi: (OT/PT 290/353) + primitua sekunder + obesitas kelas I + post sc + iud + craniotomy evakuasi ich + dekompresi + EVD klien sudah kejang, waktu melahirkan sudah tidak sadar. mual muntah pusing. keluarga tidak ada yang memiliki riwayat eklamsia TTV PX: HR: 56 SPO2: 98 TD: 173/86 Suhu: 34,1 RR: 17 sekarang pasiennya sudah ekstubasi. pasiennya dipasang vena line ngt batas 53 cm/hi-ka ukuran 16 urine catheter balon 15 ml ukuran 16 ETT batas 20 cm, cuff (ml): +7,0 CVC vena femuralis dextra 7,0 arteri line arteri radialis sinistra 7,0 kepala: ICP/EXT/EPI drainase 1/3 vacum ukuran 10 EVD 15 cm H2O
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Otak
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Kondisi ini menggambarkan keadaan di mana pasien memiliki kerentanan untuk mengalami penurunan sirkulasi darah (nutrisi dan oksigen) ke jaringan otak, yang dapat membahayakan kesehatan dan fungsi otak. Risiko ini sangat nyata pada pasien dengan kondisi pasca kejang tonik-klonik, stroke hemoragik (ICH), dan peningkatan tekanan intrakranial (TIK) yang ditandai dengan pemasangan EVD (External Ventricular Drain). Faktor-faktor seperti tekanan darah yang sangat tinggi (173/86 mmHg), riwayat eklamsia, dan prosedur bedah saraf (craniotomy) semakin memperbesar risiko ini. Ketidakefektifan perfusi dapat menyebabkan kerusakan neurologis lebih lanjut, edema serebral, atau bahkan herniasi otak.
Kode SLKI: L.03110
Deskripsi : Luaran yang diharapkan dari SLKI ini adalah untuk mempertahankan atau meningkatkan perfusi jaringan otak. Tujuan utamanya adalah tekanan intrakranial (TIK) dalam batas normal, tekanan perfusi serebral (CPP) adekuat, dan status neurologis yang stabil atau membaik. Secara spesifik, luaran ini diukur melalui beberapa indikator kunci. Pertama, pemantauan tanda-tanda vital, khususnya tekanan darah, untuk memastikannya berada dalam rentang yang ditargetkan (biasanya sistolik di bawah 160 mmHg namun tidak terlalu rendah untuk menjaga CPP). Kedua, evaluasi status neurologis menggunakan skala seperti Glasgow Coma Scale (GCS) untuk mendeteksi setiap penurunan kesadaran. Ketiga, observasi terhadap tidak adanya atau berkurangnya gejala seperti sakit kepala hebat, mual, muntah, dan kejang berulang. Keempat, memastikan drainase EVD berfungsi dengan baik dengan karakteristik cairan serebrospinal (CSF) yang normal (jernih, tidak berdarah) dan aliran yang sesuai dengan setting yang ditentukan (15 cmH2O). Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa suplai darah dan oksigen ke otak tetap terjaga, mencegah cedera otak sekunder.
Kode SIKI: I.08089
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mendukung luaran SLKI L.03110 difokuskan pada manajemen komprehensif untuk mencegah peningkatan TIK dan mempertahankan perfusi serebral yang adekuat. Intervensi dimulai dengan pemantauan neurologis ketat setiap jam atau lebih sering jika diperlukan, termasuk penilaian GCS, reaksi pupil, dan fungsi motorik. Posisi kepala tempat tidur ditinggikan 30-45 derajat dengan kepala dalam posisi netral (tidak menekuk) untuk memfasilitasi drainase vena dan menurunkan TIK. Memantau dan menjaga patensi serta fungsi sistem EVD adalah kritis; perawat harus mengobservasi karakteristik drainase (warna, kejernihan, jumlah), memastikan sistem tertutup dan steril, serta mencatat output secara akurat. Manajemen tekanan darah dilakukan secara kolaboratif dengan dokter untuk mencapai target yang ditetapkan, seringkali menggunakan obat antihipertensi intravena yang diinfus melalui arterial line untuk monitoring yang kontinu. Meminimalkan stimulasi yang dapat meningkatkan TIK, seperti suction yang terlalu dalam atau sering, serta mempertahankan lingkungan yang tenang juga merupakan bagian penting. Memastikan oksigenasi yang adekutan dengan memantau saturasi oksigen (SpO2 98% harus dipertahankan) dan memberikan oksigen tambahan jika diperlukan. Kolaborasi pemberian obat antikejang untuk mencegah kejang berulang yang dapat dramatis meningkatkan kebutuhan metabolisme otak dan TIK. Selain itu, manajemen nyeri dan agitasi dengan sedasi atau analgesik yang sesuai untuk mencegah peningkatan TIK akibat nyeri atau stres. Intervensi ini dilakukan secara terintegrasi dan terus-menerus untuk menciptakan kondisi optimal bagi pemulihan jaringan otak.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0068
Deskripsi Singkat: Diagnosa ini menunjukkan keadaan di mana pasien sangat rentan terhadap invasi patogen karena adanya gangguan pada pertahanan tubuh. Pada pasien ini, risiko infeksi sangat tinggi karena terdapat beberapa jalur invasif yang bertindak sebagai pintu masuk potensial bagi mikroorganisme. Faktor risiko utama termasuk pemasangan berbagai alat invasif seperti EVD (drainase intrakranial), CVC (Central Venous Catheter) di vena femoralis, arterial line, urine catheter, dan NGT (Nasogastric Tube). Selain itu, kondisi pasca operasi besar (craniotomy dan sectio caesarea) meninggalkan luka bedah yang rentan, status imun mungkin tertekan pasca kejang dan stroke, serta suhu tubuh yang rendah (34.1°C) dapat mengaburkan tanda-tanda awal infeksi seperti demam.
Kode SLKI: L.03132
Deskripsi : Luaran yang diharapkan adalah pasien bebas dari tanda dan gejala infeksi. Ini dicapai dengan mempertahankan integritas kulit dan membran mukosa pada area pemasangan alat invasif dan luka operasi. Tanda-tanda vital, terutama suhu tubuh, harus kembali dan tetap dalam rentang normal. Luka bedah (di kepala dan abdomen) menunjukkan proses penyembuhan yang baik tanpa adanya tanda-tanda infeksi seperti kemerahan, bengkak, nyeri, panas, atau keluarnya pus (nanah). Drainase dari semua alat, termasuk EVD dan urine, harus jernih dan tidak keruh atau berbau tidak sedap. Hasil laboratorium seperti hitung leukosit (sel darah putih) dan kultur darah (jika dilakukan) harus dalam batas normal atau menunjukkan tidak ada pertumbuhan bakteri. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa sistem pertahanan tubuh pasien dan teknik perawatan aseptik berhasil mencegah terjadinya infeksi nosokomial yang dapat memperburuk kondisi pasien.
Kode SIKI: I.05220
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mencegah infeksi berfokus pada kontrol infeksi yang ketat dan perawatan semua jalur invasif. Intervensi inti adalah mempertahankan teknik aseptik yang steril pada setiap prosedur, terutama saat melakukan perawatan luka, mengganti balutan CVC/arterial line, dan memanipulasi sistem EVD. Perawatan kulit di sekitar area pemasangan kateter dan selang harus dilakukan secara rutin dengan pembersih antiseptik untuk mencegah kolonisasi bakteri. Selang urine harus diposisikan dengan benar untuk mencegah aliran balik, dan sistem drainasenya harus tetap tertutup. Pemantauan tanda-tanda infeksi lokal dan sistemik dilakukan setiap shift, termasuk inspeksi luka, evaluasi karakteristik drainase, dan memantau suhu tubuh meskipun hipotermia saat ini. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian antibiotik profilaksis atau terapeutik sesuai indikasi dan protokol. Edukasi kepada keluarga (meskipun pasien tidak sadar) tentang pentingnya cuci tangan sebelum dan setelah kontak dengan pasien untuk mengurangi risiko penularan. Pengaturan nutrisi yang adekuat melalui NGT juga penting untuk mendukung sistem imun pasien. Semua intervensi ini bertujuan untuk memutus rantai infeksi dan melindungi pasien yang sangat rentan ini.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0028
Deskripsi Singkat: Diagnosa ini menggambarkan pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset yang mendadak atau berlangsung kurang dari 3 bulan. Pada pasien ini, sumber nyeri sangat kompleks dan multifaktorial. Nyeri dapat berasal dari prosedur bedah besar (craniotomy evakuasi ICH dan sectio caesarea), adanya drainase intrakranial (EVD), peningkatan tekanan intrakranial itu sendiri, serta pemasangan berbagai alat invasif (CVC, arterial line, NGT). Meskipun pasien mungkin belum dapat mengkomunikasikan nyeri secara verbal karena status neurologisnya pasca kejang dan ekstubasi, adanya mual dan muntah yang dilaporkan dapat menjadi indikator nonverbal dari nyeri yang signifikan, khususnya nyeri kepala. Nyeri yang tidak terkelola dapat meningkatkan tekanan intrakranial, tekanan darah, dan menghambat proses penyembuhan.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Luaran yang diharapkan adalah terkontrolnya nyeri akut pada pasien. Ini dimanifestasikan dengan penurunan intensitas nyeri yang dapat diukur menggunakan skala nyeri perilaku (seperti Critical-Care Pain Observation Tool/CPOT) untuk pasien yang tidak dapat berkomunikasi. Tanda-tanda vital yang berhubungan dengan nyeri, seperti tekanan darah dan denyut nadi, diharapkan menuju atau berada dalam rentang normal. Perilaku pasien menjadi lebih tenang, tidak gelisah, dan tidak menunjukkan guarding (melindungi area yang sakit). Gejala yang terkait seperti mual dan muntah berkurang atau hilang. Pasien mampu beristirahat dan tidur dengan cukup. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa intervensi manajemen nyeri berhasil, yang tidak hanya meningkatkan kenyamanan pasien tetapi juga berkontribusi pada stabilisasi kondisi neurologis dan hemodinamik.
Kode SIKI: I.07946
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk manajemen nyeri akut pada pasien kritis yang tidak dapat berkomunikasi memerlukan pendekatan yang cermat dan proaktif. Intervensi dimulai dengan penilaian nyeri yang objektif menggunakan skala perilaku seperti CPOT, yang mengevaluasi indikator seperti eks
Article No. 22786 | 15 Nov 2025
Klinis : Pasien wanita, usia 45 tahun, datang dengan keluhan luka pada kaki kanan tidak kunjung sembuh, luka terasa cenut cenut. Riwayat pasien mempunyai penyakit diabetes, tidak pernah kontrol rutin dan minum obat. Hasil pemeriksaan terdapat luka pada kaki kanan, luka terdapat lesi, berbau, hasil cek gula darah 400. Diagnosis awal adalah ulkus diabetikum.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Ulkus Diabetikum
Kode ICD-10: E11.621
Deskripsi Singkat : Ulkus diabetikum adalah luka terbuka yang terjadi pada kaki pasien diabetes, seperti yang dialami pasien wanita berusia 45 tahun ini dengan luka di kaki kanan yang tidak kunjung sembuh, terasa cenut-cenut, berlesi, dan berbau. Kondisi ini merupakan komplikasi serius dari Diabetes Mellitus Tipe 2 (E11) yang tidak terkontrol, sebagaimana ditunjukkan oleh kadar gula darah 400 mg/dL dan riwayat ketidakpatuhan pengobatan. Kode E11.621 secara spesifik mengidentifikasi ulkus diabetikum yang terlokalisasi pada kaki kanan. Kode ini berada di bawah kategori E11 (Diabetes Mellitus Tipe 2) dengan karakter tambahan yang merinci komplikasi ulkus. Perkembangan ulkus ini dipicu oleh kombinasi neuropati perifer (kerusakan saraf yang menyebabkan mati rasa dan luka tidak terasa), penyakit pembuluh darah perifer (yang mengganggu aliran darah dan penyembuhan), serta infeksi. Tanpa penanganan yang agresif—termasuk kontrol gula darah yang ketat, perawatan luka yang tepat, dan pemberian antibiotik—ulkus dapat berkembang menjadi infeksi jaringan dalam (selulitis), abses, gangren, dan pada akhirnya dapat mengakibatkan amputasi untuk mencegah penyebaran infeksi yang mengancam jiwa.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
Article No. 22787 | 15 Nov 2025
Klinis : Pasien wanita, usia 45 tahun, datang dengan keluhan luka pada kaki kanan tidak kunjung sembuh, luka terasa cenut cenut. Riwayat pasien mempunyai penyakit diabetes, tidak pernah kontrol rutin dan minum obat. Hasil pemeriksaan terdapat luka pada kaki kanan, luka terdapat lesi, berbau, hasil cek gula darah 400. Diagnosis awal adalah ulkus diabetikum.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Gangguan Integritas Jaringan
Kode SDKI: D.0019 & D.0026
Deskripsi Singkat: Berdasarkan kondisi pasien wanita usia 45 tahun dengan ulkus diabetikum, gula darah 400 mg/dL, dan riwayat diabetes yang tidak terkontrol, dua diagnosa keperawatan utama yang sangat relevan adalah Risiko Infeksi (D.0019) dan Gangguan Integritas Jaringan (D.0026). Risiko Infeksi didefinisikan sebagai keadaan rentan terhadap invasi dan multiplikasi patogen yang dapat menimbulkan respons merugikan. Defisinya adalah ketidakmampuan untuk menghindari patogen karena respons imun yang tidak adekuat, yang dalam kasus ini dipicu oleh hiperglikemia kronis. Gula darah yang sangat tinggi mengganggu fungsi sel darah putih (seperti neutrofil) dalam memfagositosis bakteri, sehingga luka menjadi media yang ideal untuk pertumbuhan mikroorganisme. Ditambah dengan keberadaan luka terbuka, lesi, dan bau, risiko ini menjadi sangat tinggi dan dapat berkembang menjadi infeksi sistemik seperti sepsis. Sementara itu, Gangguan Integritas Jaringan didefinisikan sebagai kerusakan pada membran mukosa, kornea, integumen, atau jaringan subkutan. Defisinya adalah ketidakmampuan mempertahankan struktur dan fungsi jaringan tubuh, yang disebabkan oleh kombinasi faktor internal dan eksternal. Pada pasien diabetes, faktor internal utama adalah neuropati perifer (menyebabkan mati rasa dan mengurangi sensasi nyeri, sehingga cedera sering tidak disadari) dan angiopati (penyempitan pembuluh darah yang mengurangi suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan). Faktor eksternal adalah adanya trauma atau luka. Hiperglikemia juga menyebabkan proses inflamasi yang berkepanjangan dan menghambat semua fase penyembuhan luka, mulai dari hemostasis, inflamasi, proliferasi, hingga remodeling. Kombinasi dari kedua diagnosa ini menggambarkan lingkaran setan pada ulkus diabetikum: gula tinggi merusak jaringan dan menghambat penyembuhan, sementara luka yang tidak sembuh menjadi pintu masuk infeksi yang kemudian semakin merusak jaringan lebih dalam, berpotensi hingga ke tulang (osteomielitis).
Kode SLKI: L.03132 & L.03087
Deskripsi : Untuk diagnosa Risiko Infeksi (D.0019), Luaran Keperawatan (SLKI) yang ditetapkan adalah L.03132: Infeksi tidak terjadi. Pencapaian luaran ini diukur dengan kriteria seperti: tanda-tanda vital (suhu, nadi, pernapasan) dalam rentang normal, tidak ada tanda-tanda inflamasi lokal pada luka (seperti kemerahan, bengkak, panas, dan nyeri yang memberat), tidak adanya pus atau drainase purulen dari luka, hasil pemeriksaan leukosit dalam batas normal, dan luka menunjukkan tanda-tanda penyembuhan. Sementara untuk diagnosa Gangguan Integritas Jaringan (D.0026), Luaran Keperawatannya adalah L.03087: Penyembuhan Luka. Luaran ini memiliki kriteria yang lebih spesifik terkait kondisi luka itu sendiri, meliputi: ukuran luka (panjang, lebar, kedalaman) mengecil, jaringan granulasi (jaringan merah muda yang sehat) tumbuh dan memenuhi dasar luka, jumlah jaringan nekrotik (jaringan mati berwarna hitam/kuning) berkurang hingga hilang, drainase luka (eksudat) bersifat serous (jernih) dan jumlahnya minimal, tidak adanya bau tidak sedap dari luka, serta kulit di sekitar luka (peri-wound) utuh, tidak merah, dan tidak edema. Pencapaian luaran L.03087 ini sangat bergantung pada pengendalian faktor penyebab, yaitu hiperglikemia, sehingga pencapaian kadar gula darah dalam rentang target juga menjadi indikator tidak langsung yang sangat penting. Perawat akan memantau perkembangan kedua luaran ini secara bersamaan karena keduanya saling berkaitan erat; penyembuhan luka yang baik akan mengurangi risiko infeksi, dan pencegahan infeksi akan mendukung proses penyembuhan luka.
Kode SIKI: I.08087, I.08094, I.05229, I.04043
Deskripsi : Untuk mencapai luaran yang diharapkan, Intervensi Keperawatan (SIKI) yang direncanakan harus komprehensif. Pertama, I.08087: Manajemen Luka. Ini adalah intervensi inti yang meliputi pembersihan luka secara steril dengan teknik aseptik menggunakan larutan fisiologis normal saline untuk menghilangkan debris dan mikroorganisme. Dilakukan debridemen (pengangkatan jaringan nekrotik) secara lembut untuk mempersiapkan dasar luka yang sehat bagi pertumbuhan jaringan granulasi. Pemilihan balutan (dressing) yang tepat sangat krusial; mungkin diperlukan balutan modern seperti hidrogel atau alginat yang dapat menjaga kelembaban luka, mengangkat jaringan mati, dan mengelola eksudat. Perawat juga akan mendokumentasikan karakteristik luka (lokasi, ukuran, kedalaman, jenis jaringan, eksudat) secara berkala untuk menilai perkembangan. Kedua, I.08094: Perawatan Kaki Diabetik. Intervensi ini berfokus pada edukasi dan perlindungan. Perawat akan mengajarkan pasien untuk melakukan inspeksi kaki setiap hari, mencari adanya lecet, retak, kemerahan, atau perubahan lainnya. Pasien diajari cara mencuci kaki dengan air hangat (bukan panas) dan sabun lembut, mengeringkannya dengan hati-hati terutama di sela-sela jari, serta menghindari penggunaan bantalan pemanas langsung ke kaki karena risiko luka bakar akibat neuropati. Ketiga, I.05229: Manajemen Hiperglikemia. Intervensi ini bertujuan mengatasi akar masalah. Perawat akan berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi insulin atau obat antidiabetes oral sesuai resep, dan memantau respons gula darah pasien secara ketat (seperti pemantauan glukosa darah kapiler). Edukasi mengenai pentingnya kepatuhan minum obat dan kontrol rutin ditekankan. Keempat, I.04043: Edukasi Kesehatan. Intervensi ini membahas modifikasi gaya hidup. Perawat memberikan penyuluhan tentang prinsip diet diabetes (pengaturan karbohidrat, gula, dan lemak), pentingnya aktivitas fisik ringan yang aman untuk menurunkan gula darah dan meningkatkan sirkulasi, serta manajemen stres. Semua intervensi ini harus dilakukan secara terintegrasi dan berkelanjutan untuk memutus rantai patofisiologi ulkus diabetikum dan mencegah komplikasi yang lebih serius seperti amputasi.
Article No. 22772 | 15 Nov 2025
Klinis : Data Subjektif Pasien terpasang ETT dan tersedasi Data Objektif • Akral dingin, kering, pucat • Tampak mottle pada ekstremitas bawah • CRT>3 detik • TD: 57/30 mmHg , HR:165 x/ menit T: 360 RR: 33 x/menit. • CPB 178 menit, AoX 111 menit • Pasien dengan . Dan dengan support Vascon 0,1 mcg/kgbb/menit, adrenaline 0,15 mcg/kgbb/menit.. CVP 13. • Produksi urine output 0 cc/kgbb. Balance cairan 1 jam pertama -53 cc. • 2 jam post operasi urine output 0,7 cc/kgbb, balance cairan -58cc. • Hasil Lab AGD post operasi tanggal 10/10/2025 jam 15.25 wib BE -5.9 mmoL, Lactat 7,2 mmoL. EKG Sinus Takikardi HR 165x/menit Echo : Hasil Echo tanggal 11/02/2025 : • Kontraktilitas LV baik EF 85%, Kontraktilitas RV baik Hasil Echo Post Op Tanggal 10/10/2025 : • Residual VSD inlet muscular diameter 4-5mm, bidirectional shunt • Kontraktilitas LV baik, EF 54%, kontraktilitas RV menurun, TAPSE 6mm • Tampak DCRV dengan PG 41mmHg katup Aorta, LVOT diameter 4mm, annulus Aorta 8mm. Kesan ada penyempitan LVOT, LV-Ao PG 23mmHg. Katup pulmonal anastomosis RV-Contegra baik PS Mild.. • Katup Pulmonal anastomosis RV-Contegra baik PS Mild relative, PR Mild-moderate, RPA 4mm, LPA 6mm, PG 7mmHg, gradient RPA 14mmHg, LPA 19mmHg. Suspek stenosis pangkal RPA dan stenosis LPA Mild. • Katup Trikuspid TR moderate, TVG 46mmHg. Tidak ada MR. Terapi : - Adrenaline 0,05 mcg/kgbb/menit - Vascon 0,05 mcg/kgbb/menit - Inovad 0,75 mcg/kgbb/menit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Kondisi dimana darah yang dipompa oleh jantung tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh, yang ditandai dengan tanda-tanda klinis seperti hipotensi, takikardi, penurunan kesadaran, penurunan produksi urin, dan kulit dingin serta pucat.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Tujuan keperawatan adalah untuk mempertahankan atau mengembalikan curah jantung yang adekuat. Luaran yang diharapkan meliputi: tekanan darah sistolik dalam rentang yang diharapkan untuk usia, denyut nadi dalam rentang normal untuk usia, nadi perifer teraba kuat dan simetris, kulit hangat dan kering, pengisian kapiler kurang dari 2-3 detik, haluaran urin adekuat (pada bayi dan anak > 1-2 mL/kg/jam, pada neonatus > 2 mL/kg/jam), status mental baik (responsif, tenang, dan kooperatif), serta tidak ada edema paru (suara nafas bersih, tidak ada dispneu atau ortopneu).
Kode SIKI: I.09139
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mengatasi penurunan curah jantung meliputi beberapa tindakan kritis. Pertama, pantau dan catat tekanan darah, nadi (laju, irama, dan kekuatan), pernapasan (laju, irama, dan kedalaman), serta suhu tubuh secara berkala. Kedua, kaji kualitas dan kekuatan nadi perifer, warna, suhu, dan kelembaban kulit, serta waktu pengisian kapiler. Ketiga, pantau status hemodinamik invasif/noninvasif seperti tekanan arteri rata-rata (MAP) dan Central Venous Pressure (CVP) secara terus menerus. Keempat, pantau haluaran urin setiap jam dan hitung balance cairan secara ketat. Kelima, berikan terapi oksigen sesuai program dan pantau saturasi oksigen. Keenam, kolaborasi dalam pemberian terapi farmakologi seperti inotropik, vasopresor, dan vasodilator sesuai resep, dengan memantau efek dan dampaknya. Ketujuh, kaji tingkat nyeri dan berikan manajemen nyeri yang tepat. Kedelapan, pertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dengan memantau asupan dan keluaran, serta hasil pemeriksaan laboratorium seperti analisis gas darah dan laktat. Terakhir, lakukan manajemen jalan napas dan bantu perawatan ventilator untuk memastikan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat.
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: D.0013
Deskripsi Singkat: Kondisi dimana seorang individu berisiko mengalami penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraselular yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan antara kebutuhan tubuh dan suplai cairan.
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : Tujuan keperawatan adalah untuk mempertahankan keseimbangan volume cairan. Luaran yang diharapkan meliputi: membran mukosa lembab, turgor kulit elastis, produksi urin sesuai dengan usia dan berat badan (pada bayi dan anak > 1-2 mL/kg/jam, pada neonatus > 2 mL/kg/jam), balance cairan seimbang, tanda-tanda vital dalam rentang normal, tidak ada edema, dan berat badan stabil.
Kode SIKI: I.15063
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mencegah atau menangani risiko ketidakseimbangan volume cairan meliputi beberapa tindakan. Pertama, pantau asupan dan keluaran cairan secara akurat, hitung balance cairan setiap shift atau sesuai protokol. Kedua, pantau tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) dan status hemodinamik (seperti CVP) secara berkala. Ketiga, kaji tanda-tanda klinis dehidrasi atau kelebihan cairan seperti turgor kulit, membran mukosa, adanya edema, dan berat badan. Keempat, kolaborasi dalam pemberian terapi cairan intravena sesuai resep, termasuk pemantauan laju tetesan dan jenis cairan. Kelima, pantau hasil pemeriksaan laboratorium yang terkait seperti elektrolit, hematokrit, dan albumin. Keenam, kaji status respirasi (suara nafas, usaha nafas) untuk mendeteksi dini edema paru. Terakhir, berikan edukasi kepada keluarga tentang pentingnya pemantauan asupan dan keluaran cairan.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Kondisi dimana seorang individu tidak mampu membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten, yang pada kasus ini disebabkan oleh pemasangan ETT (Endotracheal Tube) dan sedasi.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Tujuan keperawatan adalah untuk mencapai dan mempertahankan bersihan jalan napas yang efektif. Luaran yang diharapkan meliputi: suara nafas bersih, tidak ada suara tambahan (seperti mengi, ronki), frekuensi pernapasan dalam rentang normal, irama pernapasan teratur, mampu mengeluarkan sekret secara efektif (atau sekret dapat dikeluarkan dengan suction), saturasi oksigen dalam rentang normal, dan tidak menunjukkan tanda-tanda distress pernapasan.
Kode SIKI: I.05115
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mengatasi bersihan jalan napas tidak efektif pada pasien terpasang ETT meliputi beberapa tindakan kritis. Pertama, lakukan auskultasi suara nafas sebelum dan setelah suction untuk mendeteksi adanya sekret. Kedua, lakukan fisioterapi dada dan suction jalan napas secara teratur dan sesuai kebutuhan dengan teknik steril untuk menjaga patensi ETT. Ketiga, pastikan posisi ETT telah terfiksasi dengan baik dan aman, serta periksa kedalaman pipa. Keempat, berikan oksigenasi yang adekuat sebelum, selama, dan setelah prosedur suction. Kelima, pantau status pernapasan secara terus menerus termasuk frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas, serta saturasi oksigen. Keenam, kolaborasi dalam pemberian nebulisasi atau obat bronkodilator jika diperlukan. Ketujuh, ubah posisi pasien secara periodik (misalnya setiap 2 jam) untuk mencegah atelektasis dan memudahkan drainase sekret. Terakhir, pantau dan pertahankan tekanan cuff ETT pada tingkat yang aman untuk mencegah komplikasi.
Article No. 22773 | 15 Nov 2025
Klinis : Seorang klien dengan inisial Tn. R seorang pensiunan guru, usia 67 tahun dengan status menikah. Klien bertempat tinggal di salah satu kecamatan kabupaten Kebumen. Klie memiliki riwayat hipertensi sejak 10 tahun, terkontrol dengan obat. Riwayat keluarga, Ayah klien mengalami kebutaan pada usia lanjut. Klien tidak memiliki riwayat alergi. Klien mengeluh penglihatan kabur pada kedua mata sejak 1 tahun terakhir, terutama saat membaca dan berkendara di malam hari. Klien memeriksakan matanya ke poli mata pada tanggal 16 September 2025 dan dokter menganjurkan klien operasi mata, Saat dikaji oleh perawat pada tanggal 17 September 2025 sebelum klien menjalani operasi, klien mengatakan pandangan semakin buram, seolah-olah melihat melalui kaca berembun. Kesulitan mengenali wajah orang dari kejauhan. Hasil Pengkajian • Keadaan umum: Baik, kesadaran compos mentis • Tanda vital: TD 140/90 mmHg, Nadi 84 x/menit, RR 20 x/menit, Suhu 36,8 °C • Pemeriksaan mata: o Visus: OD 6/60, OS 6/40 o Pupil bulat, refleks cahaya positif o Lensa tampak keruh putih keabu-abuan pada pemeriksaan oftalmoskopi • Pemeriksaan penunjang: o Slit lamp examination: Lensa menunjukkan kekeruhan difus (cataract senilis matur) o Tonometri: Tekanan intraokular dalam batas normal (15 mmHg)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Persepsi Sensori: Penglihatan
Kode SDKI: 0023
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana individu mengalami atau berisiko mengalami perubahan dalam jumlah pola stimulus penglihatan yang disertai dengan respons yang menghambat atau memperlambat.
Kode SLKI: 0915
Deskripsi : Peningkatan Fungsi Penglihatan. Kriteria Hasil: 1) Mengidentifikasi objek dan orang dalam lingkungan. 2) Mengenali bahaya lingkungan. 3) Mengidentifikasi perubahan dalam fungsi penglihatan. 4) Menggunakan cahaya yang cukup untuk aktivitas. 5) Menggunakan alat bantu penglihatan dengan tepat. 6) Mempertahankan integritas kornea dan konjungtiva. 7) Mengungkapkan penerimaan terhadap perubahan kemampuan penglihatan.
Kode SIKI: 3544
Deskripsi : Manajemen Kebutaan / Gangguan Penglihatan. Tindakan Keperawatan: 1) Kaji ketajaman penglihatan. 2) Kaji kemampuan klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari. 3) Orientasikan klien terhadap lingkungan. 4) Bantu klien mengidentifikasi dan mengingat lokasi benda-benda pribadi. 5) Tempatkan benda-benda pribadi dalam jangkauan klien. 6) Anjurkan klien menggunakan indera pendengaran dan perabaan. 7) Bantu klien menggunakan alat bantu penglihatan. 8) Berikan pencahayaan yang cukup tanpa silau. 9) Anjurkan keluarga untuk mendampingi klien dalam beraktivitas. 10) Kolaborasi pemberian terapi sesuai indikasi.
Penjelasan dan Rasionalisasi:
Berdasarkan data yang diperoleh dari Tn. R, diagnosa keperawatan yang paling tepat adalah Gangguan Persepsi Sensori: Penglihatan (SDKI 0023). Defisini dari diagnosa ini adalah keadaan dimana individu mengalami atau berisiko mengalami perubahan dalam jumlah pola stimulus penglihatan yang disertai dengan respons yang menghambat atau memperlambat. Hal ini secara jelas ditunjukkan oleh keluhan klien, yaitu penglihatan kabur pada kedua mata sejak 1 tahun terakhir, pandangan buram seperti melihat melalui kaca berembun, kesulitan membaca, berkendara di malam hari, dan kesulitan mengenali wajah orang dari kejauhan. Data objektif dari pemeriksaan visus (OD 6/60, OS 6/40) yang jauh di bawah normal dan temuan lensa yang keruh putih keabu-abuan (katarak senilis matur) pada oftalmoskopi dan slit lamp merupakan bukti klinis yang kuat dari gangguan persepsi sensori ini. Kondisi ini secara langsung menghambat kemampuan klien untuk menerima dan memproses stimulus visual dari lingkungannya, yang berdampak pada aktivitas hidup sehari-hari dan keselamatannya.
Tujuan keperawatan yang ingin dicapai dirumuskan dalam SLKI 0915: Peningkatan Fungsi Penglihatan. SLKI ini berfokus pada hasil yang diharapkan setelah intervensi keperawatan dan medis dilakukan. Pada konteks Tn. R, tujuan utamanya adalah mempertahankan dan memaksimalkan fungsi penglihatan yang masih ada serta mencegah komplikasi, sambil menunggu tindakan operasi. Kriteria hasil seperti "mengidentifikasi objek dan orang" serta "mengenali bahaya lingkungan" sangat relevan mengingat keluhan klien. "Menggunakan alat bantu penglihatan dengan tepat" dapat mencakup penggunaan kacamata atau alat pembesar sementara. "Mempertahankan integritas kornea dan konjungtiva" penting untuk mencegah infeksi pasca-operasi nantinya. Yang tak kalah penting adalah "mengungkapkan penerimaan terhadap perubahan kemampuan penglihatan", yang menargetkan aspek psikologis klien dalam menerima kondisinya dan keputusan untuk operasi.
Untuk mencapai tujuan tersebut, intervensi keperawatan yang direncanakan adalah SIKI 3544: Manajemen Kebutaan / Gangguan Penglihatan. Tindakan-tindakan dalam SIKI ini bersifat komprehensif, mulai dari asesmen berkelanjutan, intervensi langsung, hingga edukasi dan kolaborasi. "Mengkaji ketajaman penglihatan dan kemampuan aktivitas sehari-hari" merupakan dasar untuk mengevaluasi perkembangan dan menentukan prioritas perawatan. Tindakan seperti "mengorientasikan klien terhadap lingkungan", "membantu klien mengidentifikasi lokasi benda", dan "menempatkan benda dalam jangkauan" adalah tindakan safety yang krusial untuk mencegah cedera seperti jatuh atau tersandung. "Menganjurkan klien menggunakan indera pendengaran dan perabaan" adalah strategi kompensasi untuk mengoptimalkan indera lain yang masih berfungsi dengan baik. "Memberikan pencahayaan yang cukup tanpa silau" sangat membantu klien dengan katarak karena silau sering memperparah keluhan penglihatan kabur. "Menganjurkan keluarga mendampingi" melibatkan sistem pendukung klien, yang sangat penting mengingat klien adalah lansia. Terakhir, "kolaborasi pemberian terapi" dalam hal ini adalah mempersiapkan klien untuk tindakan operasi katarak yang telah dianjurkan oleh dokter, yang merupakan terapi definitif untuk mengatasi akar masalah gangguan penglihatannya.
Secara keseluruhan, rangkaian SDKI, SLKI, dan SIKI ini membentuk suatu proses keperawatan yang terstruktur dan holistik. Diagnosa ditegakkan berdasarkan analisis data yang kuat, tujuan dirumuskan secara terukur dan realistis, serta intervensi dirancang untuk mengatasi masalah aktual dan potensial klien, dengan mempertimbangkan aspek biologis, psikologis, sosial, dan keselamatan. Pendekatan ini memastikan bahwa perawatan yang diberikan kepada Tn. R tidak hanya menunggu tindakan operasi, tetapi juga aktif mempertahankan kualitas hidupnya dan mencegah komplikasi selama masa pra-operatif.
Article No. 22774 | 15 Nov 2025
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Tuberkulosis Paru
Kode ICD-10: A15.0
Deskripsi Singkat : Tuberkulosis (TB) paru adalah penyakit menular yang terutama menyerang jaringan paru-paru, disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Gejala khasnya, seperti yang dialami pasien, termasuk batuk berdahak berkepanjangan (lebih dari 2 minggu), demam, sesak napas, kehilangan nafsu makan, dan berkeringat di malam hari. Temuan pemeriksaan fisik seperti suara napas bronkial dan bukti lesi (kerusakan jaringan) pada rontgen dada menguatkan kecurigaan klinis terhadap TB paru. Kode ICD-10 A15.0 secara spesifik mengacu pada "Tuberculosis of lung, confirmed by sputum microscopy with or without culture." Kode ini digunakan ketika diagnosis tuberkulosis paru telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan mikroskopis dahak (BTA), dengan atau tanpa konfirmasi biakan. Pengkodean ini membedakannya dari diagnosis yang hanya berdasarkan klinis atau radiologis tanpa konfirmasi bakteriologis. Kode A15.0 berada di bawah bab "Certain infectious and parasitic diseases" dan mencerminkan standar pelaporan internasional untuk penyakit tuberkulosis yang dikonfirmasi di paru-paru, yang sangat penting untuk program pengendalian dan surveilans TB.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
Article No. 22775 | 15 Nov 2025
Klinis : Seorang klien dengan inisial Tn. R seorang pensiunan guru, usia 67 tahun dengan status menikah. Klien bertempat tinggal di salah satu kecamatan kabupaten Kebumen. Klie memiliki riwayat hipertensi sejak 10 tahun, terkontrol dengan obat. Riwayat keluarga, Ayah klien mengalami kebutaan pada usia lanjut. Klien tidak memiliki riwayat alergi. Klien mengeluh penglihatan kabur pada kedua mata sejak 1 tahun terakhir, terutama saat membaca dan berkendara di malam hari. Klien memeriksakan matanya ke poli mata pada tanggal 16 September 2025 dan dokter menganjurkan klien operasi mata, Saat dikaji oleh perawat pada tanggal 17 September 2025 sebelum klien menjalani operasi, klien mengatakan pandangan semakin buram, seolah-olah melihat melalui kaca berembun. Kesulitan mengenali wajah orang dari kejauhan. Hasil Pengkajian • Keadaan umum: Baik, kesadaran compos mentis • Tanda vital: TD 140/90 mmHg, Nadi 84 x/menit, RR 20 x/menit, Suhu 36,8 °C • Pemeriksaan mata: o Visus: OD 6/60, OS 6/40 o Pupil bulat, refleks cahaya positif o Lensa tampak keruh putih keabu-abuan pada pemeriksaan oftalmoskopi • Pemeriksaan penunjang: o Slit lamp examination: Lensa menunjukkan kekeruhan difus (cataract senilis matur) o Tonometri: Tekanan intraokular dalam batas normal (15 mmHg)
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Katarak Senilis Matur
Kode ICD-10: H25.1
Deskripsi Singkat : Katarak Senilis Matur adalah kondisi mata yang ditandai dengan kekeruhan difus (menyebar) dan lengkap pada lensa mata yang terjadi akibat proses penuaan. Kondisi ini menyebabkan penglihatan buram, seperti melihat melalui kaca berembun, silau, sulit melihat di malam hari, dan penurunan ketajaman penglihatan secara progresif, sebagaimana dialami Tn. R dengan visus 6/60 dan 6/40. Kode ICD-10 H25.1 secara spesifik mengklasifikasikan katarak senilis jenis intumesen, yang merupakan tahap dimana lensa menjadi membengkak dan keruh seluruhnya (matur). Katarak ini merupakan penyebab kebutaan utama yang dapat diobati pada lansia. Faktor risiko termasuk hipertensi (yang sudah dikontrol pada klien) dan riwayat keluarga, meskipun kebutaan pada ayah klien tidak secara langsung dikonfirmasi disebabkan oleh katarak. Penegakan diagnosis biasanya dilakukan melalui pemeriksaan oftalmoskopi dan slit lamp yang menunjukkan lensa keruh putih keabu-abuan. Tonometri yang normal pada klien menyingkirkan kemungkinan glaukoma sebagai penyebab utama keluhannya. Penanganan definitif untuk mengembalikan penglihatan adalah dengan prosedur operasi pengangkatan lensa keruh dan implantasi lensa intraokular.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
Article No. 22776 | 15 Nov 2025
Klinis : Seorang klien dengan inisial Tn. R seorang pensiunan guru, usia 67 tahun dengan status menikah. Klien bertempat tinggal di salah satu kecamatan kabupaten Kebumen. Klie memiliki riwayat hipertensi sejak 10 tahun, terkontrol dengan obat. Riwayat keluarga, Ayah klien mengalami kebutaan pada usia lanjut. Klien tidak memiliki riwayat alergi. Klien mengeluh penglihatan kabur pada kedua mata sejak 1 tahun terakhir, terutama saat membaca dan berkendara di malam hari. Klien memeriksakan matanya ke poli mata pada tanggal 16 September 2025 dan dokter menganjurkan klien operasi mata, Saat dikaji oleh perawat pada tanggal 17 September 2025 sebelum klien menjalani operasi, klien mengatakan pandangan semakin buram, seolah-olah melihat melalui kaca berembun. Kesulitan mengenali wajah orang dari kejauhan. Hasil Pengkajian • Keadaan umum: Baik, kesadaran compos mentis • Tanda vital: TD 140/90 mmHg, Nadi 84 x/menit, RR 20 x/menit, Suhu 36,8 °C • Pemeriksaan mata: o Visus: OD 6/60, OS 6/40 o Pupil bulat, refleks cahaya positif o Lensa tampak keruh putih keabu-abuan pada pemeriksaan oftalmoskopi • Pemeriksaan penunjang: o Slit lamp examination: Lensa menunjukkan kekeruhan difus (cataract senilis matur) o Tonometri: Tekanan intraokular dalam batas normal (15 mmHg) carikan saya diagnosa penunjang
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Persepsi Sensori: Penglihatan
Kode SDKI: 0025
Deskripsi Singkat: Kondisi ini didefinisikan sebagai perubahan dalam jumlah atau pola stimulasi yang masuk disertai dengan respons yang melemah, berlebihan, terdistorsi, atau terganggu. Pada kasus Tn. R, perubahan ini secara spesifik terjadi pada indera penglihatan, yang ditandai dengan penglihatan kabur, kesulitan mengenali wajah, dan visus yang sangat menurun (OD 6/60, OS 6/40) akibat katarak senilis matur. Gangguan ini membatasi kemampuannya dalam melakukan aktivitas sehari-hari yang bergantung pada ketajaman visual, seperti membaca dan berkendara di malam hari.
Kode SLKI: 3403
Deskripsi : SLKI 3403 berfokus pada upaya untuk meningkatkan fungsi persepsi sensori. Pada Tn. R, luaran yang diharapkan adalah peningkatan ketajaman visual dan kemampuan untuk berfungsi secara maksimal dengan kemampuan penglihatan yang ada. Intervensi keperawatan akan diarahkan untuk memastikan klien dapat beradaptasi dengan lingkungannya, mengurangi risiko cedera, dan mempersiapkan diri untuk prosedur pembedahan (operasi katarak) yang bertujuan memulihkan fungsi penglihatan. Tujuan jangka pendek sebelum operasi termasuk klien dapat mengidentifikasi bahaya lingkungan dan memodifikasi lingkungan untuk keselamatan. Sementara tujuan jangka panjang pasca-operasi adalah pemulihan fungsi visual yang signifikan, memungkinkannya kembali melakukan aktivitas seperti membaca dan mengenali wajah dengan jelas, sehingga meningkatkan kualitas hidupnya secara keseluruhan.
Kode SIKI: 4250
Deskripsi : SIKI 4250 adalah manajemen untuk meningkatkan fungsi persepsi sensori. Implementasinya pada Tn. R melibatkan serangkaian tindakan komprehensif. Pertama, perawat perlu memantau status sensori secara ketat, termasuk menilai ketajaman visual, lapang pandang, dan respons terhadap cahaya sebelum dan setelah operasi. Kedua, orientasi terhadap lingkungan sangat penting; perawat harus membantu klien mengenali tata letak ruangan, lokasi barang-barang pribadi, dan menghindari adanya rintangan di jalur pergerakannya untuk mencegah jatuh. Ketiga, sebelum operasi, perawat harus memastikan informed consent telah ditandatangani setelah klien dan keluarga memahami sepenuhnya prosedur, manfaat, dan risikonya. Keempat, edukasi menjadi kunci, termasuk mengajarkan klien dan keluarga tentang kondisi katarak, proses penyembuhan pasca-operasi, pentingnya kontrol tekanan darah (mengingat riwayat hipertensi), dan teknik pemberian obat tetes mata bila diperlukan. Kelima, perawat harus memfasilitasi komunikasi yang efektif, selalu menyapa klien dengan menyebut namanya dan mengidentifikasi diri sebelum berbicara untuk mengurangi disorientasi. Keenam, kolaborasi dengan tim dokter dan ahli gizi untuk memastikan kondisi klien optimal untuk menjalani operasi, termasuk memastikan tekanan darah terkontrol. Tindakan-tindakan ini dirancang tidak hanya untuk menjaga keselamatan klien selama penglihatannya terganggu tetapi juga untuk mempersiapkan dan mendukung proses penyembuhan pasca-operasi katarak.
Article No. 22778 | 15 Nov 2025
Klinis : hipertermi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermi
Kode SDKI: 00007
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Manajemen Hipertermi
Kode SIKI: 2111, 3310, 3320, 0801
Deskripsi : Pemantauan Tanda-Tanda Vital, Manajemen Cairan, Manajemen Lingkungan Terapeutik, Manajemen Hipertermi
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI untuk Hipertermi
Diagnosis Keperawatan (SDKI): Hipertermi (Kode 00007)
Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) mendefinisikan Hipertermi sebagai suatu kondisi dimana suhu tubuh seseorang meningkat di atas rentang normal yang disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh dalam mengatur suhu atau ketidakseimbangan antara produksi panas dan pembuangan panas. Definisi ini lebih dari sekadar angka pada termometer; ini merupakan suatu keadaan fisiologis yang kompleks. Etiologi hipertermi dapat beragam, mulai dari infeksi (seperti bakteremia atau virus), dehidrasi, aktivitas fisik yang berlebihan di lingkungan panas (heat stroke), efek samping obat-obatan tertentu (misalnya anestesi atau antidepresan), hingga gangguan pada sistem saraf pusat seperti pada cedera kepala atau stroke. Tanda dan gejala utama yang menjadi karakteristik diagnosis ini tidak hanya suhu tubuh di atas 38°C, tetapi juga termasuk kulit yang teraba hangat dan kemerahan (flushing), takikardia (denyut jantung meningkat), takipnea (pernapasan cepat), diaforesis (berkeringat banyak), serta keluhan subjektif pasien seperti rasa panas, haus, malaise (lemas), dan menggigil pada fase awal. Diagnosis keperawatan ini menjadi landasan bagi perawat untuk merencanakan intervensi yang tepat guna menurunkan suhu tubuh, mencegah komplikasi, dan meningkatkan kenyamanan pasien.
Luaran Keperawatan (SLKI): Manajemen Hipertermi (Kode 0801)
Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) untuk "Manajemen Hipertermi" (Kode 0801) menetapkan tujuan atau hasil (outcome) yang diharapkan setelah intervensi keperawatan dilakukan. Luaran ini diukur pada suatu skala untuk menilai kemajuan kondisi pasien. Tujuan akhirnya adalah agar suhu tubuh pasien kembali dalam rentang normal dan gejala-gejala terkait teratasi. Indikator luaran dari SLKI 0801 mencakup: 1) Suhu tubuh dalam rentang normal, yang merupakan indikator utama keberhasilan intervensi. 2) Kulit teraba hangan dan lembab, menandakan sirkulasi perifer yang baik dan mekanisme pengaturan suhu (berkeringat) berfungsi optimal. 3) Nadi dalam rentang normal, menunjukkan bahwa beban kardiovaskular akibat peningkatan metabolisme telah berkurang. 4) Frekuensi pernapasan dalam rentang normal, mengindikasikan bahwa tubuh tidak lagi berusaha membuang panas berlebihan melalui pernapasan. 5) Tekanan darah dalam rentang normal, mencerminkan stabilitas hemodinamik. 6) Tingkat kesadaran baik, karena hipertermia berat dapat menyebabkan kebingungan, delirium, atau bahkan penurunan kesadaran. Dengan mencapati luaran ini, berarti masalah hipertermi telah teratasi secara efektif.
Intervensi Keperawatan (SIKI)
Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) memberikan kerangka tindakan yang spesifik dan dapat diukur untuk menangani hipertermi. Beberapa intervensi kunci yang relevan adalah:
1. Pemantauan Tanda-Tanda Vital (Kode 2111): Ini adalah intervensi dasar yang krusial. Perawat akan memantau suhu tubuh secara berkala (misalnya setiap 2-4 jam) untuk menilai tren penurunan atau peningkatan. Pemantauan nadi, pernapasan, dan tekanan darah juga esensial untuk mendeteksi takikardia, takipnea, atau hipotensi yang dapat menyertai hipertermi. Pemantauan yang ketut memungkinkan evaluasi efektivitas intervensi dan deteksi dini komplikasi.
2. Manajemen Cairan (Kode 3310): Hipertermi menyebabkan peningkatan kehilangan cairan melalui penguapan dan keringat, yang berisiko menyebabkan dehidrasi dan memperburuk kondisi. Intervensi ini meliputi pemberian cairan intravena atau oral sesuai resep dokter dan kondisi pasien, memantau balance cairan (intake dan output), serta mendokumentasikannya. Cairan yang adequate membantu proses termoregulasi dan sirkulasi.
3. Manajemen Lingkungan Terapeutik (Kode 3320): Lingkungan fisik pasien memainkan peran penting dalam manajemen hipertermi. Perawat akan mengatur suhu ruangan agar sejuk, menggunakan kipas angin untuk sirkulasi udara (tanpa mengarah langsung ke pasien), mengurangi selimut atau pakaian yang berlebihan, serta memastikan ventilasi yang baik. Tindakan ini membantu meningkatkan kehilangan panas secara konduksi, konveksi, dan evaporasi.
4. Manajemen Hipertermi (Kode 0801): Ini adalah intervensi inti yang secara langsung menargetkan penurunan suhu tubuh. Tindakannya meliputi kompres hangat (bukan dingin, karena kompres dingin dapat menyebabkan vasokonstriksi perifer yang justru memerangkap panas di inti tubuh), mandi atau sponge dengan air hangat, serta pemberian obat antipiretik (penurun panas) seperti parasetamol atau ibuprofen sesuai resep dokter. Intervensi ini juga mencakup edukasi pada pasien dan keluarga tentang pentingnya hidrasi dan istirahat, serta tanda-tanda yang perlu diwaspadai.
Secara keseluruhan, kerangka SDKI-SLKI-SIKI memberikan pendekatan yang sistematis, terstandar, dan berbasis bukti dalam memberikan asuhan keperawatan. Untuk kasus hipertermi, ketiga standar ini saling berhubungan: Diagnosis Hipertermi (SDKI) memandu perawat untuk menetapkan Luaran Manajemen Hipertermi (SLKI), yang kemudian dicapai melalui pelaksanaan serangkaian Intervensi seperti Pemantauan Tanda Vital, Manajemen Cairan, dan Manajemen Hipertermi itu sendiri (SIKI). Pendekatan ini memastikan bahwa asuhan yang diberikan komprehensif, terukur, dan berfokus pada pemulihan pasien.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 1047 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 1829 1830 1831 1832 1833 1834 1835 1836 1837 1838 1839 1840 1841 1842 1843 1844 1845 1846 1847 1848 1849 1850 1851 1852 1853 1854 1855 1856 1857 1858 1859 1860 1861 1862 1863 1864 1865 1866 1867 1868 1869 1870 1871 1872 1873 1874 1875 1876 1877 1878 1879 1880 1881 1882 1883 1884 1885 1886 1887 1888 1889 1890 1891 1892 1893 1894 1895 1896 1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1964 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058 2059 2060 2061 2062 2063 2064 2065 2066 2067 2068 2069 2070 2071 2072 2073 2074 2075 2076 2077 2078 2079 2080 2081 2082 2083 2084 2085 2086 2087 2088 2089 2090 2091 2092 2093 2094 2095 2096 2097 2098 2099 2100 2101 2102 2103 2104 2105 2106 2107 2108 2109 2110 2111 2112 2113 2114 2115 2116 2117 2118 2119 2120 2121 2122 2123 2124 2125 2126 2127 2128 2129 2130 2131 2132 2133 2134 2135 2136 2137 2138 2139 2140 2141 2142 2143 2144 2145 2146 2147 2148 2149 2150 2151 2152 2153 2154 2155 2156 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2167 2168 2169 2170 2171 2172 2173 2174 2175 2176 2177 2178 2179 2180 2181 2182 2183 2184 2185 2186 2187 2188 2189 2190 2191 2192 2193 2194 2195 2196 2197 2198 2199 2200 2201 2202 2203 2204 2205 2206 2207 2208 2209 2210 2211 2212 2213 2214 2215 2216 2217 2218 2219 2220 2221 2222 2223 2224 2225 2226 2227 2228 2229 2230 2231 2232 2233 2234 2235 2236 2237 2238 2239 2240 2241 2242 2243 2244 2245 2246 2247 2248 2249 2250 2251 2252 2253 2254 2255 2256 2257 2258 2259 2260 2261 2262 2263 2264 2265 2266 2267 2268 2269 2270 2271 2272 2273 2274 2275 2276 2277 2278 2279 2280