Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 15999 | 22 Apr 2025
Klinis : Pasien pria, usia 21 tahun, datang dengan keluhan sesak napas 2 minggu, badan sianosis, sesak napas, dan peningkatan berat badan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara jantung murmur, hasil rontgen menunjukkan adanya pembesaran jantung.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Terima kasih atas permohonan Anda. Berdasarkan informasi yang Anda berikan, saya akan memberikan rekomendasi diagnosis keperawatan, luaran/output yang diharapkan, serta intervensi keperawatan yang diperlukan.
Diagnosis Keperawatan SDKI:
Diagnosis keperawatan yang sesuai untuk kondisi pasien ini adalah "Penurunan Curah Jantung" (00029). Diagnosis ini sesuai dengan gejala yang dialami pasien, yaitu sesak napas, sianosis, dan pembesaran jantung yang menunjukkan gangguan fungsi jantung.
Penurunan Curah Jantung didefinisikan sebagai penurunan volume darah yang dipompa oleh jantung per unit waktu, yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Perfusi Jaringan Perifer Membaik (00204)
- Indikator: Warna kulit membaik, ekstremitas hangat, pengisian kapiler dalam batas normal.
2. Ventilasi Membaik (00394)
- Indikator: Frekuensi pernapasan dalam batas normal, irama pernapasan teratur, tidak ada retraksi otot bantu pernapasan.
3. Pengetahuan Tentang Penyakit Jantung Meningkat (00161)
- Indikator: Pasien dapat menjelaskan penyebab, tanda dan gejala, serta cara penanganan penyakit jantung.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Pemantauan Hemodinamik
- Tujuan: Memantau status sirkulasi dan fungsi jantung.
- Intervensi: Pantau tanda-tanda vital, ukur tekanan darah, nadi, dan saturasi oksigen; pantau intake dan output cairan.
2. Peningkatan Perfusi Jaringan
- Tujuan: Meningkatkan pengiriman oksigen dan nutrisi ke jaringan.
- Intervensi: Posisikan pasien dengan kepala tinggi, berikan oksigen sesuai kebutuhan, berikan obat-obatan sesuai instruksi dokter.
3. Edukasi Tentang Penyakit Jantung
- Tujuan: Meningkatkan pemahaman pasien tentang penyakit jantungnya.
- Intervensi: Jelaskan penyebab, tanda dan gejala, serta penanganan penyakit jantung; libatkan keluarga dalam proses edukasi.
Penjelasan yang lebih rinci:
Diagnosis keperawatan "Penurunan Curah Jantung" dipilih karena gejala sesak napas, sianosis, dan pembesaran jantung yang dialami pasien menunjukkan adanya gangguan fungsi jantung dalam memompa darah secara efektif. Luaran/output yang diharapkan adalah perbaikan perfusi jaringan perifer, peningkatan ventilasi, serta meningkatnya pengetahuan pasien tentang penyakit jantungnya. Intervensi keperawatan yang diperlukan meliputi pemantauan hemodinamik, peningkatan perfusi jaringan, serta edukasi tentang penyakit jantung agar pasien dapat memahami kondisinya dan berpartisipasi aktif dalam penanganannya.
Semoga informasi ini bermanfaat. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, jangan ragu untuk menghubungi saya. -
Article No. 16000 | 22 Apr 2025
Klinis : Pasien 21 tahun riwayat PJB, pasien mengatakan gampang lelah
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi pasien 21 tahun dengan riwayat penyakit jantung bawaan (PJB) yang mengeluhkan mudah lelah adalah "Intoleransi Aktivitas" (00092). Intoleransi Aktivitas didefinisikan sebagai ketidakcukupan energi fisiologis untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin.
Karakteristik definisi yang sesuai dengan kondisi pasien adalah:
1. Melaporkan kelelahan yang tidak sebanding dengan aktivitas.
2. Melaporkan sesak napas saat beraktivitas.
3. Melaporkan kelemahan.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah diberikan asuhan keperawatan yang komprehensif, luaran yang diharapkan adalah:
1. Toleransi Aktivitas Meningkat (0005):
- Pasien dapat melakukan aktivitas harian tanpa rasa lelah berlebih.
- Pasien menunjukkan peningkatan kemampuan fisik untuk melakukan aktivitas.
- Pasien menunjukkan peningkatan durasi aktivitas yang dapat dilakukan.
2. Energi Terpelihara (0006):
- Pasien menunjukkan peningkatan tingkat energi.
- Pasien dapat menyelesaikan aktivitas rutin tanpa kelelahan berlebih.
- Pasien melaporkan peningkatan kemampuan untuk beraktivitas.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan (SIKI):
Untuk mencapai luaran yang diharapkan, intervensi keperawatan yang diperlukan antara lain:
1. Manajemen Energi (4920):
- Identifikasi pola aktivitas dan istirahat pasien.
- Bantu pasien merencanakan aktivitas sehari-hari untuk mengoptimalkan energi.
- Ajarkan teknik penggunaan energi yang efisien.
- Pantau tanda-tanda kelelahan selama aktivitas.
2. Manajemen Aktivitas (0200):
- Lakukan penilaian kemampuan fungsional pasien.
- Identifikasi aktivitas yang membuat pasien mengalami kelelahan.
- Buat rencana peningkatan aktivitas secara bertahap.
- Ajarkan teknik aktivitas yang efisien dan aman.
- Berikan dukungan emosional selama pasien melakukan aktivitas.
3. Manajemen Perawatan Jantung (4046):
- Berikan edukasi tentang penyakit jantung bawaan dan penatalaksanaannya.
- Pantau tanda-tanda komplikasi akibat penyakit jantung.
- Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk pengobatan dan rehabilitasi.
- Ajarkan pasien dan keluarga tentang manajemen kondisi jantung.
Dengan intervensi keperawatan yang komprehensif dan berfokus pada peningkatan toleransi aktivitas serta manajemen energi, diharapkan pasien dapat mencapai luaran yang diinginkan, yaitu meningkatnya toleransi aktivitas dan terpeliharanya energi sehingga dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan lebih baik. -
Article No. 16001 | 22 Apr 2025
Klinis : Memberikan perlindungan hukum kepada anak terhadap segala bentuk kekerasan dan diskriminasi kepada anak, termasuk melindungi anak yang menjadi korban tindak pidana serta melindungi kepentingan-kepentingan keperdataan anak. Undang-undang nomor berapakah yang dimaksud ? a. Undang-undang No 23 tahun 2002 b. Undang-undang No 36 tahun 2009 c. Undang-undang No 36 tahun 2014 d. Undang-undang No 38 tahun 2014 e. Undang-undang No 35 tahun 2014
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan menjelaskan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi perlindungan hukum terhadap anak berdasarkan Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko trauma (NANDA-I)
Definisi: Kerentanan terhadap pengalaman fisik atau psikologis yang dapat mengganggu integritas fungsi fisik atau psikologis.
Terkait dengan: Tindak kekerasan dan diskriminasi terhadap anak.
2. Risiko Gangguan Emosional (NANDA-I)
Definisi: Kerentanan terhadap gangguan dalam respons emosional yang dapat mengganggu fungsi psikologis.
Terkait dengan: Dampak psikologis dari tindak kekerasan dan diskriminasi terhadap anak.
Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Risiko trauma: Penilaian terhadap faktor risiko yang dapat menyebabkan trauma pada anak.
- Risiko Gangguan Emosional: Penilaian terhadap faktor risiko yang dapat menyebabkan gangguan emosional pada anak.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Integritas fisik: Mempertahankan kondisi fisik yang optimal.
- Adaptasi psikologis: Memfasilitasi penyesuaian diri yang sehat secara psikologis.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Manajemen Trauma: Intervensi untuk mengurangi dampak dan mencegah komplikasi akibat trauma.
- Terapi Perilaku: Intervensi untuk memfasilitasi penyesuaian diri yang sehat secara psikologis.
Jadi, Undang-Undang yang dimaksud adalah Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. -
Article No. 16002 | 22 Apr 2025
Klinis : nyeri akut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, sebagai seorang perawat profesional, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat terkait standar SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) untuk kondisi nyeri akut.
Diagnosa Keperawatan:
Nyeri Akut (00132)
Definisi:
Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut.
Karakteristik Utama:
1. Melaporkan pengalaman nyeri
2. Perubahan ekspresi wajah
3. Perubahan postur tubuh
4. Perubahan tekanan darah, nadi, dan pernapasan
Faktor Berhubungan:
1. Agen cedera biologis
2. Agen cedera fisik
3. Agen cedera kimiawi
4. Agen cedera psikologis
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Tingkat Nyeri Terkontrol (1311)
2. Perilaku Mengendalikan Nyeri (1605)
3. Kepuasan Terhadap Manajemen Nyeri (1605)
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Nyeri (1400)
2. Analgesik Pemberian Obat (2210)
3. Distraksi (5820)
Penjelasan Singkat:
Diagnosa keperawatan "Nyeri Akut" menggambarkan pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial. Karakteristik utamanya meliputi melaporkan pengalaman nyeri, perubahan ekspresi wajah, postur tubuh, serta tanda-tanda vital.
Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) mencakup tujuan yang ingin dicapai, seperti tingkat nyeri terkontrol, perilaku mengendalikan nyeri, dan kepuasan terhadap manajemen nyeri. Sedangkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) mencakup tindakan keperawatan yang dapat dilakukan, seperti manajemen nyeri, pemberian analgesik, dan teknik distraksi.
Sebagai perawat profesional, saya akan menggunakan standar-standar tersebut untuk memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan berkualitas tinggi dalam mengelola kondisi nyeri akut pada pasien. -
Article No. 16003 | 22 Apr 2025
Klinis : nyeri akut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan standar SDKI-SLKI-SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi nyeri akut, dengan tone akademis dan persona sebagai pakar perawat.
Diagnosa Keperawatan:
Nyeri Akut
Definisi:
Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut (International Association for the Study of Pain, 1979).
Karakteristik Mayor:
1. Melaporkan pengalaman nyeri
2. Ekspresi wajah yang menunjukkan nyeri
3. Perubahan tanda-tanda vital
4. Perilaku protektif
Faktor yang Berhubungan:
1. Agen cedera biologis
2. Agen cedera kimiawi
3. Agen cedera fisik
Tujuan Keperawatan:
1. Klien dapat melaporkan penurunan intensitas nyeri.
2. Klien dapat mendemonstrasikan strategi koping yang efektif untuk mengatasi nyeri.
3. Klien dapat menunjukkan perilaku relaksasi saat nyeri terjadi.
Intervensi Keperawatan:
1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif.
2. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk memberikan terapi analgesik yang sesuai.
3. Ajarkan klien teknik relaksasi dan distraksi untuk mengurangi nyeri.
4. Libatkan keluarga dalam memberikan dukungan emosional dan fisik kepada klien.
5. Evaluasi efektivitas intervensi dan modifikasi rencana asuhan keperawatan jika diperlukan.
Evaluasi:
1. Klien dapat melaporkan penurunan intensitas nyeri.
2. Klien dapat mendemonstrasikan strategi koping yang efektif untuk mengatasi nyeri.
3. Klien dapat menunjukkan perilaku relaksasi saat nyeri terjadi.
Penjelasan Singkat SDKI-SLKI-SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) merupakan standar yang menjadi acuan bagi perawat dalam menentukan diagnosa keperawatan. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) merupakan standar yang menjadi acuan bagi perawat dalam menentukan hasil atau luaran yang diharapkan dari asuhan keperawatan. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) merupakan standar yang menjadi acuan bagi perawat dalam menentukan intervensi keperawatan yang akan dilakukan. Standar-standar ini dikembangkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk menjamin kualitas dan keseragaman praktik keperawatan di Indonesia. -
Article No. 16004 | 22 Apr 2025
Klinis : Seorang perempuan berusia 12 tahun dirawat di rumah sakit dengan keluhan utama nyeri perut kanan bagian bawah dengan keluhan nyeri skala 7. Nyeri perut disertai dengan muntah 3x berisi sisa makanan. Tindakan non farmakologis stimulasi kutaneus apakah yang cocok untuk anak tersebut ? a. Kompres hangat abdomen b. Kompres dingin abdomen c. Relaksasi nafas dalam d. Massage konstipasi e. Massage abdomen
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi pasien tersebut adalah:
1. Nyeri akut
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial atau digambarkan dalam istilah-istilah kerusakan tersebut.
Penyebab: Agen cedera biologis, kimia, fisik, atau psikologis.
2. Risiko konstipasi
SDKI:
Definisi: Berisiko mengalami penurunan frekuensi, kesulitan, atau ketidaknyamanan dalam defekasi.
Penyebab: Penurunan asupan cairan, aktivitas fisik, dan/atau serat.
Tindakan non-farmakologis yang sesuai untuk anak tersebut adalah:
a. Kompres hangat abdomen
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Intervensi: Memberikan kompres hangat pada abdomen untuk mengurangi nyeri.
Definisi: Pemberian kompres air hangat pada abdomen untuk mengurangi nyeri.
Penjelasan: Kompres hangat abdomen dapat membantu meningkatkan aliran darah, mengurangi spasme otot, dan memberikan efek relaksasi pada otot-otot perut, sehingga dapat membantu mengurangi nyeri perut yang dialami anak.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi: Memberikan kompres hangat pada bagian tubuh untuk mengurangi nyeri.
Aktivitas: Mengukur suhu air kompres, Mengompres abdomen dengan air hangat. -
Article No. 16005 | 22 Apr 2025
Klinis : resiko infeksi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi "Risiko Infeksi".
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Infeksi
Definisi:
Risiko Infeksi adalah kerentanan terhadap invasi dan multiplikasi organisme patogen yang dapat menimbulkan kerusakan selular.
Faktor Risiko:
1. Prosedur invasif
2. Sistem imun terganggu
3. Paparan terhadap agen infeksi
4. Gaya hidup yang tidak sehat
5. Malnutrisi
Tujuan Keperawatan (SLKI):
1. Tidak terjadi infeksi
2. Tanda-tanda infeksi menurun
3. Perilaku pencegahan infeksi meningkat
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Manajemen Infeksi
- Identifikasi faktor risiko infeksi
- Observasi tanda dan gejala infeksi
- Kolaborasi pemberian terapi antibiotik atau antiviral
2. Edukasi Kesehatan
- Ajarkan teknik cuci tangan yang benar
- Berikan edukasi tentang pencegahan infeksi
3. Perawatan Luka
- Aseptik saat merawat luka
- Observasi tanda-tanda infeksi pada luka
Dengan penerapan diagnosa, tujuan, dan intervensi keperawatan yang tepat, diharapkan risiko infeksi pada pasien dapat diminimalkan dan dikelola dengan baik. Peran perawat sangat penting dalam menjaga keselamatan pasien dan mencegah terjadinya komplikasi akibat infeksi. -
Article No. 16006 | 22 Apr 2025
Klinis : Seorang anak berusia 3 tahun masuk IGD dengan keluhan demam tinggi, mual, muntah, tidak nafsu makan, badan lemah dan diare dengan frekuensi 2 kali per 24 jam. Hasil pengkajian : suhu tubuh anak 39,4˚C, kulit teraba hangat, frekuensi napas 30 x/menit dan frekuensi nadi 105 x/menit. Apakah masalah keperawatan yang tepat? a. Mual b. Diare c. Hipertermi d. Defisit nutrisi e. Intoleransi aktivitas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang diberikan, masalah keperawatan yang tepat adalah:
d. Defisit nutrisi
Penjelasan:
Diagnosa Keperawatan: Defisit Nutrisi
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Defisit Nutrisi adalah keadaan dimana individu mengalami asupan nutrisi yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
Tanda dan gejala yang muncul pada kasus ini adalah:
- Demam tinggi
- Mual
- Muntah
- Tidak nafsu makan
- Badan lemah
- Diare
Kondisi ini menunjukkan adanya gangguan dalam asupan dan absorbsi nutrisi yang dapat menyebabkan defisit nutrisi pada anak.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan adalah peningkatan status nutrisi, yang ditandai dengan peningkatan berat badan, intake nutrisi yang adekuat, dan tanda-tanda vital dalam batas normal.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain:
- Monitor status nutrisi
- Atur diet sesuai kebutuhan
- Berikan makanan yang mudah dicerna
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memberikan terapi nutrisi yang tepat
Jadi, masalah keperawatan yang paling tepat untuk kasus ini adalah Defisit Nutrisi. -
Article No. 16007 | 22 Apr 2025
Klinis : Anak perempuan usia 8 tahun dirawat diruang Cempaka. Hasil pengkajian perawat anak mengeluh sesak napas, frekuensi pernapasan 30x/menit, nadi 120x/menit, suhu 370 C, hasil auskultasi terdaengar suara napas tambahan Crekles, dahak sulit keluar, hasil observasi terdapat retraksi dada. Anak dilatih batuk efektif dahak tidak keluar. Apakah tindakan selanjutnya yang harus dilakukan perawat untuk keefektifan jalan napas? a. Fibrasi b. Nebilizer c. Sauction d. Clapping e. Nafas dalam
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan data yang diberikan, diagnosa keperawatan yang tepat untuk kondisi anak perempuan usia 8 tahun tersebut adalah:
Diagnosa Keperawatan:
Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Penjelasan singkat berdasarkan SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif adalah ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari diagnosa ini adalah Bersihan Jalan Napas Efektif, yaitu kemampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi diagnosa Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif antara lain:
1. Suction: Membersihkan jalan napas dari sekret/lendir yang tersumbat dengan alat suction.
2. Nebulizer: Memberikan terapi inhalasi menggunakan alat nebulizer untuk melembabkan dan mencairkan sekret.
3. Latihan batuk efektif: Mengajarkan dan melatih pasien untuk melakukan batuk efektif untuk mengeluarkan sekret.
4. Postural drainage: Mengubah posisi tubuh pasien untuk memfasilitasi pengeluaran sekret.
5. Clapping: Melakukan tindakan menepuk-nepuk dada pasien untuk membantu pengeluaran sekret.
Berdasarkan data yang diberikan, tindakan selanjutnya yang harus dilakukan perawat untuk meningkatkan efektifitas jalan napas adalah Suction (Sauction).
Dengan nada tenang dan profesional, sebagai seorang perawat anak yang berpengalaman:
"Berdasarkan kondisi anak saat ini, tindakan yang perlu dilakukan selanjutnya adalah suction atau penyedotan untuk membersihkan jalan napas dari sekret/lendir yang tersumbat. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka dan memfasilitasi proses pernapasan anak. Perawat akan segera mempersiapkan alat suction dan melakukan tindakan suction secara hati-hati dan lembut untuk membantu anak mengatasi kesulitan bernapas." -
Article No. 16008 | 22 Apr 2025
Klinis : Seorang laki-laki berusia 62 tahun tiba di Unit Gawat Darurat (UGD) diantar oleh keluarganya. Pasien tampak gelisah, pucat, dan berkeringat dingin. Keluarga melaporkan pasien mengeluh nyeri dada hebat seperti tertindih benda berat sejak 30 menit yang lalu, menjalar ke lengan kiri dan rahang. Pasien juga mengeluh sesak napas dan lemas.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
1. Nyeri Akut
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut.
Penyebab: Infark miokard (serangan jantung)
2. Penurunan Curah Jantung
Definisi: Ketidakmampuan jantung untuk memompa volume darah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
Penyebab: Infark miokard (serangan jantung)
3. Intoleransi Aktivitas
Definisi: Ketidakmampuan untuk mentoleransi atau menyelesaikan aktivitas hidup sehari-hari.
Penyebab: Kelemahan dan sesak napas akibat infark miokard (serangan jantung)
Luaran/Output yang Diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Kontrol Nyeri
Definisi: Kemampuan untuk mengatur atau mengendalikan pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial.
Kriteria Hasil:
- Pasien melaporkan nyeri berkurang.
- Pasien menunjukkan perilaku yang mengindikasikan pengurangan nyeri.
- Pasien menggunakan strategi pengelolaan nyeri secara efektif.
2. Stabilitas Hemodinamik
Definisi: Kemampuan untuk mempertahankan fungsi kardiovaskular yang adekuat.
Kriteria Hasil:
- Tekanan darah dalam rentang normal.
- Frekuensi nadi dalam rentang normal.
- Pasien menunjukkan perfusi perifer yang adekuat.
3. Toleransi Aktivitas
Definisi: Kemampuan untuk mentoleransi atau menyelesaikan aktivitas hidup sehari-hari.
Kriteria Hasil:
- Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan bantuan minimal.
- Pasien menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas.
- Pasien melaporkan peningkatan energi dan keadaan umum yang lebih baik.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Nyeri
- Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif.
- Berikan analgesik sesuai instruksi medis.
- Ajarkan teknik non-farmakologis untuk mengelola nyeri, seperti relaksasi dan distraksi.
- Pantau efektivitas intervensi dan lakukan penyesuaian jika diperlukan.
2. Manajemen Kardiovaskular
- Pantau tanda-tanda vital secara berkala.
- Berikan oksigen sesuai kebutuhan.
- Berikan obat-obatan kardiovaskular sesuai instruksi medis.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk penanganan kondisi kardiovaskular.
- Pantau adanya komplikasi dan lakukan intervensi yang sesuai.
3. Manajemen Aktivitas
- Kaji tingkat aktivitas dan toleransi pasien.
- Rencanakan aktivitas yang sesuai dengan kemampuan pasien.
- Ajarkan teknik konservasi energi dan pengaturan aktivitas.
- Libatkan keluarga dalam perencanaan dan pelaksanaan aktivitas.
- Pantau respons pasien terhadap aktivitas dan lakukan penyesuaian jika diperlukan.
Penjelasan rinci dan terperinci untuk setiap poin di atas:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Nyeri Akut: Pasien mengalami nyeri dada hebat, menjalar ke lengan kiri dan rahang, yang merupakan gejala khas dari infark miokard (serangan jantung).
2. Penurunan Curah Jantung: Infark miokard dapat menyebabkan kerusakan pada otot jantung, sehingga menurunkan kemampuan jantung untuk memompa darah secara efektif.
3. Intoleransi Aktivitas: Kelemahan dan sesak napas akibat infark miokard dapat menyebabkan pasien tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara optimal.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Kontrol Nyeri: Mengelola nyeri dada pasien secara efektif, sehingga pasien dapat melaporkan pengurangan nyeri dan menunjukkan perilaku yang mengindikasikan pengurangan nyeri.
2. Stabilitas Hemodinamik: Mempertahankan fungsi kardiovaskular yang adekuat, dengan tekanan darah dan frekuensi nadi dalam rentang normal, serta perfusi perifer yang baik.
3. Toleransi Aktivitas: Meningkatkan kemampuan pasien untuk melakukan aktivitas sehari-hari dengan bantuan minimal, serta menunjukkan peningkatan energi dan keadaan umum yang lebih baik.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Manajemen Nyeri: Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif, memberikan analgesik sesuai instruksi medis, mengajarkan teknik non-farmakologis untuk mengelola nyeri, serta memantau efektivitas intervensi dan melakukan penyesuaian jika diperlukan.
2. Manajemen Kardiovaskular: Memantau tanda-tanda vital secara berkala, memberikan oksigen sesuai kebutuhan, memberikan obat-obatan kardiovaskular sesuai instruksi medis, berkolaborasi dengan tim medis, serta memantau adanya komplikasi dan melakukan intervensi yang sesuai.
3. Manajemen Aktivitas: Mengkaji tingkat aktivitas dan toleransi pasien, merencanakan aktivitas yang sesuai dengan kemampuan pasien, mengajarkan teknik konservasi energi dan pengaturan aktivitas, melibatkan keluarga, serta memantau respons pasien terhadap aktivitas dan melakukan penyesuaian jika diperlukan.