Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 25063 | 12 Apr 2026
Klinis : keluar darah dari jalan lahir dialami pasien sudah 1minggu ini. nyeri perut bawah pasien sedang hamil anak ke 3 dan usia kehamilan 8-9 minggu. demam tidak ada. sesak napas tidak ada. HPHT: 20-1-2026 Riwayat Penyakit Dahulu- OSENS:CM GCS :15 TD: 135/70 MMHG HR: 86 x/i RR :20 x/iT: 36.8 C SPO2: 98 % VAS: 8 KEPALA : NORMAL MATA: KONJUNGTIVA ANEMIS -/-, SKLERA IKTERIK -/- MULUT: COATED TANGUE (-) HIDUNG DAN TELINGA: NORMAL LEHER: TRACHEA MEDIAL, BENJOLAN (-), TVJ (NORMAL) THORAKS: SIMETRIS FURIFORMIS, SONOR , VESIKULAR +/+, WH -/- RH -/- ABDOMEN: H/L TIDAK TERABA, SOEPEL +, PERISTALTIK + (NORMAL) , NYERI TEKAN EPIGASTRIUM + EKSTREMITAS: AKRAL HANGAT, PITTING EDEMA -/-, CRT<2 ANUS/GENITALIA: SENS:CM GCS :15 TD: 115/70 MMHG HR: 86 x/i RR :20 x/iT: 36.8 C SPO2: 98 % VAS: 8 KEPALA : NORMAL MATA: KONJUNGTIVA ANEMIS -/-, SKLERA IKTERIK -/- MULUT: COATED TANGUE (-) HIDUNG DAN TELINGA: NORMAL LEHER: TRACHEA MEDIAL, BENJOLAN (-), TVJ (NORMAL) THORAKS: SIMETRIS FURIFORMIS, SONOR , VESIKULAR +/+, WH -/- RH -/- ABDOMEN: H/L TIDAK TERABA, SOEPEL +, PERISTALTIK + (NORMAL) , NYERI TEKAN EPIGASTRIUM + EKSTREMITAS: AKRAL HANGAT, PITTING EDEMA -/-, CRT<2 ANUS/GENITALIA: VT : 1 cm
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Perdarahan Antepartum dengan Ancaman Abortus
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Resiko tinggi perdarahan berhubungan dengan ancaman abortus pada kehamilan 8-9 minggu yang ditandai dengan keluarnya darah dari jalan lahir selama 1 minggu dan nyeri perut bawah.
Kode SLKI: L.14001
Deskripsi : Perdarahan terkontrol. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Tanda-tanda vital dalam batas normal (TD, HR, RR), 2) Tanda-tanda hipovolemia tidak ada (kulit hangat, CRT < 2 detik, kesadaran compos mentis), 3) Perdarahan pervaginam berkurang atau berhenti, 4) Tingkat nyeri (skala VAS) menurun, dan 5) Hasil pemeriksaan penunjang (seperti kadar Hb) stabil. Pada pasien ini, meski perdarahan masih berlangsung, tanda vital masih stabil (TD 115/70 mmHg, HR 86x/i, RR 20x/i, SpO2 98%) dan tidak ada tanda syok hipovolemik akut. Namun, konjungtiva anemis menunjukkan kemungkinan anemia akibat perdarahan kronis selama seminggu, sehingga kontrol perdarahan mutlak diperlukan untuk mencegah perburukan.
Kode SIKI: I.14079, I.14080, I.14046, I.13264, I.09005
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang direkomendasikan adalah: 1) I.14079 - Pemantauan Perdarahan: mengobservasi jumlah, warna, karakter, dan adanya gumpalan darah; mencatat perubahan tanda vital dan status hemodinamik tiap 1-2 jam atau sesuai kondisi; memantau tanda anemia (seperti konjungtiva pucat, kelemahan). 2) I.14080 - Manajemen Perdarahan: kolaborasi pemberian obat uterotonika sesuai resep; anjurkan tirah baring (bed rest) total; hindari aktivitas berat dan hubungan seksual. 3) I.14046 - Manajemen Nyeri: kaji karakteristik nyeri (lokasi epigastrium dan perut bawah, intensitas VAS 8); ajarkan teknik relaksasi napas dalam; kolaborasi pemberian analgesik yang aman untuk kehamilan. 4) I.13264 - Pemantauan Cairan: pantau keseimbangan cairan; kolaborasi pemberian cairan intravena jika diperlukan untuk menjaga volume sirkulasi. 5) I.09005 - Dukungan Emosional: berikan informasi jelas tentang kondisi dan penatalaksanaan; berikan kesempatan untuk mengungkapkan perasaan cemas dan takut; libatkan keluarga dalam memberikan dukungan. Intervensi ini bertujuan untuk menghentikan perdarahan, mencegah komplikasi (syok, abortus berlanjut), menurunkan nyeri, dan memberikan dukungan psikologis pada pasien dengan kehamilan yang terancam.
-
Article No. 25064 | 12 Apr 2026
Klinis : muntah muntah Telaahdialami pasien sudah 3 hari ini. muntah sudah 10 kali. nyeri perut pada bagian ulu hati. pasien sedang hamil anak pertama. usia kehamilan 15 minggu. kejang tidak ada. sesak napas tidak ada. makan tidak selera Riwayat Penyakit Dahulu- OSENS:CM GCS :15 TD: 125/70 MMHG HR: 116 x/i RR :20 x/iT: 36.8 C SPO2: 98 % VAS: 8 KEPALA : NORMAL MATA: KONJUNGTIVA ANEMIS -/-, SKLERA IKTERIK -/- MULUT: COATED TANGUE (-) HIDUNG DAN TELINGA: NORMAL LEHER: TRACHEA MEDIAL, BENJOLAN (-), TVJ (NORMAL) THORAKS: SIMETRIS FURIFORMIS, SONOR , VESIKULAR +/+, WH -/- RH -/- ABDOMEN: H/L TIDAK TERABA, SOEPEL +, PERISTALTIK + (NORMAL) , NYERI TEKAN EPIGASTRIUM + EKSTREMITAS: AKRAL HANGAT, PITTING EDEMA -/-, CRT<2 ANUS/GENITALIA: TIDAK DILAKUKAN PEMERIKSAAN
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Mual dan Muntah Berat pada Kehamilan (Hyperemesis Gravidarum)
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Risiko ketidakseimbangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan akibat muntah.
Kode SLKI: L.03118
Deskripsi : Keseimbangan cairan dan elektrolit tercapai dengan kriteria hasil: 1) Tanda-tanda vital dalam batas normal (TD: 90/60 - 140/90 mmHg, Nadi: 60-100x/menit, RR: 16-20x/menit). 2) Turgor kulit baik (kembali < 2 detik). 3) Mukosa mulut lembab. 4) Produksi urin adekuat (>30 ml/jam). 5) Keseimbangan masukan dan haluaran cairan. 6) Hasil pemeriksaan laboratorium elektrolit dalam batas normal.
Kode SIKI: I.01276
Deskripsi : Manajemen cairan dengan tindakan: 1) Monitor tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, mukosa mulut, mata cekung, produksi urin). 2) Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) setiap 4 jam atau sesuai kondisi. 3) Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai resep dokter. 4) Monitor balance cairan (intake dan output) setiap 8 jam. 5) Auskultasi bising usus. 6) Kolaborasi pemeriksaan laboratorium elektrolit (Na, K, Cl). 7) Anjurkan intake cairan per oral dalam porsi kecil tapi sering jika muntah sudah terkontrol. 8) Posisikan pasien untuk mencegah aspirasi saat muntah.
Kondisi: Mual dan Muntah Berat pada Kehamilan (Hyperemesis Gravidarum)
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologis (iritasi lambung dan peningkatan asam lambung akibat muntah berulang).
Kode SLKI: L.08011
Deskripsi : Kontrol nyeri tercapai dengan kriteria hasil: 1) Skala nyeri menurun (dari VAS 8 ke ≤ 3). 2) Ekspresi wajah rileks/tidak menyeringai kesakitan. 3) Tanda-tanda vital dalam batas normal (terutama nadi). 4) Pasien dapat menunjukkan teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri. 5) Pasien melaporkan penurunan intensitas nyeri.
Kode SIKI: I.09066
Deskripsi : Manajemen nyi dengan tindakan: 1) Kaji karakteristik nyeri (skala, lokasi, durasi, faktor pencetus dan pereda) menggunakan skala VAS. 2) Monitor tanda-tanda vital, khususnya nadi dan tekanan darah. 3) Ajarkan teknik relaksasi napas dalam untuk mengurangi nyeri dan mual. 4) Lakukan distraksi seperti mendengarkan musik. 5) Kolaborasi pemberian obat antiemetik dan analgesik yang aman untuk kehamilan sesuai resep dokter. 6) Anjurkan posisi yang nyaman untuk mengurangi ketegangan abdomen. 7) Berikan kompres hangat pada area epigastrium jika tidak ada kontraindikasi. 8) Lakukan pendampingan dan dukungan emosional.
Kondisi: Mual dan Muntah Berat pada Kehamilan (Hyperemesis Gravidarum)
Kode SDKI: D.0181
Deskripsi Singkat: Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum akibat ketidakseimbangan nutrisi dan cairan.
Kode SLKI: L.03015
Deskripsi : Toleransi aktivitas meningkat dengan kriteria hasil: 1) Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari (perawatan diri) dengan bantuan minimal. 2) Tanda-tanda vital (nadi, pernapasan, tekanan darah) dalam batas normal sebelum, selama, dan setelah aktivitas. 3) Pasien melaporkan penurunan perasaan lelah dan kelemahan. 4) Tidak terjadi dispnea, pusing, atau pucat saat beraktivitas.
Kode SIKI: I.04031
Deskripsi : Manajemen energi dengan tindakan: 1) Kaji respons fisiologis terhadap aktivitas (nadi, RR, TD, warna kulit). 2) Bantu pasien dalam aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan. 3) Rencanakan periode istirahat yang cukup sebelum dan setelah aktivitas. 4) Anjurkan aktivitas bertahap sesuai toleransi. 5) Atur lingkungan yang nyaman dan tenang untuk mendukung istirahat. 6) Kolaborasi pemberian terapi nutrisi dan cairan untuk memperbaiki kondisi umum. 7) Bantu pasien dalam mobilisasi aman untuk mencegah risiko jatuh akibat kelemahan.
Kondisi: Mual dan Muntah Berat pada Kehamilan (Hyperemesis Gravidarum)
Kode SDKI: D.0030
Deskripsi Singkat: Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan memasukkan, mencerna, atau mengabsorbsi makanan akibat mual dan muntah berlebihan.
Kode SLKI: L.03030
Deskripsi : Status nutrisi membaik dengan kriteria hasil: 1) Asupan makanan dan cairan meningkat. 2) Frekuensi muntah berkurang. 3) Berat badan stabil atau tidak turun signifikan (pada ibu hamil diharapkan ada kenaikan sesuai usia kehamilan). 4) Pasien melaporkan peningkatan nafsu makan. 5) Tanda klinis kekurangan nutrisi tidak ada (seperti kelemahan ekstrem).
Kode SIKI: I.11266
Deskripsi : Manajemen mual dan muntah dengan tindakan: 1) Kaji frekuensi, pemicu, dan karakteristik muntah. 2) Kaji asupan nutrisi dan cairan per oral. 3) Anjurkan pola makan kecil tapi sering (6-8 kali/hari) dengan porsi kecil. 4) Anjurkan makanan kering (biskuit, roti) dan tinggi karbohidrat kompleks saat bangun pagi. 5) Hindari makanan berlemak, berminyak, dan berbau tajam. 6) Berikan cairan di sela waktu makan, bukan bersamaan. 7) Kolaborasi pemberian terapi nutrisi dan vitamin (terutama B6) sesuai resep. 8) Monitor berat badan secara berkala. 9) Lakukan perawatan mulut sebelum dan setelah makan untuk meningkatkan kenyamanan.
-
Article No. 25065 | 12 Apr 2026
Klinis : Pasien datang dengan keluhan penurunan kesadaran setelah mengalami kecelakaan lalu lintas sepeda motor pada tanggal 10 April 2026. Pasien diketahui mengendarai sepeda motor dan terjatuh setelah menabrak kendaraan di depannya. Saat kejadian, pasien tidak menggunakan helm.Menurut saksi, setelah kejadian pasien sempat tidak sadar kurang lebih 5 menit, kemudian sadar kembali tetapi tampak bingung. Pasien juga dilaporkan mengalami muntah sebanyak 2 kali setelah kecelakaan. Saat ini pasien tampak mengantuk dan kontak tidak adekuat.Keluhan lain seperti sesak napas, demam, dan batuk disangkal oleh keluarga. Riwayat penyakit sebelumnya seperti hipertensi dan diabetes tidak ada. Riwayat konsumsi alkohol tidak diketahui.Hasil pemeriksaan tanda vital didapatkan tekanan darah 110/70 mmHg, suhu 36,7°C, frekuensi napas 24x/menit, dan nadi 98x/menit. Pemeriksaan kesadaran menunjukkan GCS 13 (E3 V2 M5).
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Penurunan Perfusi Jaringan Otak
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah yang mengancam kehidupan ke otak.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Perfusi jaringan otak membaik. Kriteria hasil: 1) Tekanan darah dalam rentang yang diharapkan; 2) Status neurologis dalam batas normal; 3) Tidak ada tanda peningkatan tekanan intrakranial; 4) Kesadaran compos mentis; 5) Fungsi kognitif baik.
Kode SIKI: 3401, 3402, 3403, 3404, 3405, 3406, 3407, 3408, 3409
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mengatasi risiko penurunan perfusi otak meliputi serangkaian tindakan sistematis. Pertama, Pemantauan Neurologis (3401) dilakukan secara ketat dan berkala, termasuk menilai tingkat kesadaran dengan GCS (saat ini E3 V2 M5=10, perlu dikoreksi, karena totalnya 10, bukan 13), ukuran dan reaksi pupil, kekuatan motorik, serta tanda-tanda iritasi meningeal. Pemantauan ini vital untuk mendeteksi secara dini deteriorasi neurologis. Kedua, Manajemen Jalan Napas (3402) menjadi prioritas mutlak mengingat penurunan kesadaran dan riwayat muntah, dengan memastikan patensi jalan napas, posisi semi-fowler atau lateral jika aman, dan kesiapan alat suction untuk mencegah aspirasi. Ketiga, Pemantauan Hemodinamik (3403) mencakup tekanan darah, nadi, pernapasan, dan saturasi oksigen untuk memastikan tekanan perfusi serebral yang adekuat dan mendeteksi syok atau hipertensi refleks. Keempat, Manajemen Cairan (3404) diatur dengan ketat, seringkali dengan pembatasan cairan dan pemberian cairan isotonik sesuai order, untuk mencegah edema serebral yang dapat memperburuk tekanan intrakranial. Kelima, Pemberian Oksigen (3405) diberikan untuk mempertahankan saturasi oksigen >95%, guna memenuhi kebutuhan metabolisme otak yang iskemik. Keenam, Manajemen Posisi (3406) dengan meninggikan kepala tempat tidur 30-45 derajat dan menjaga kepala dalam posisi netral (midline) bertujuan untuk memfasilitasi drainase vena dari otak dan menurunkan tekanan intrakranial. Ketujuh, Manajemen Lingkungan (3407) dilakukan dengan mengurangi stimulus eksternal seperti cahaya dan suara, membatasi aktivitas yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial (misalnya mengejan, batuk, fleksi leher), serta melakukan perawatan dengan teknik cluster untuk meminimalkan gangguan. Kedelapan, Kolaborasi Pemberian Obat (3408) seperti osmotik diuretik (misal manitol), antikejang, atau analgesik sesuai instruksi dokter, dengan memantau efek dan efek sampingnya. Terakhir, Edukasi pada Keluarga (3409) mengenai kondisi pasien, tujuan perawatan, dan pentingnya melaporkan setiap perubahan status neurologis yang mereka amati. Keseluruhan intervensi ini bertujuan untuk mencegah atau meminimalkan kerusakan otak sekunder akibat hipoksia, edema, atau peningkatan tekanan intrakranial pasca trauma kepala yang dialami pasien.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan perkiraan waktu berakhirnya.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Kontrol nyeri. Kriteria hasil: 1) Pasien melaporkan nyeri terkontrol; 2) Skala nyeri menurun; 3) Ekspresi wajah rileks; 4) Tanda vital dalam rentang normal; 5) Dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan.
Kode SIKI: 2801, 2802, 2803, 2804, 2805, 2806
Deskripsi : Penatalaksanaan nyeri akut pada pasien trauma kepala memerlukan pendekatan hati-hati karena gejala nyeri dapat tumpang tindih dengan tanda peningkatan tekanan intrakranial. Intervensi dimulai dengan Pengkajian Nyeri Komprehensif (2801) menggunakan metode PQRST (Provocation/Palliation, Quality, Region/Radiation, Severity, Time) dan skala yang sesuai, dengan memperhatikan bahwa pasien mungkin tidak dapat berkomunikasi secara adekuat sehingga perlu observasi tanda nonverbal seperti gelisah, mengerang, atau perubahan tanda vital. Manajemen Lingkungan (2802) untuk kenyamanan, seperti pengaturan cahaya, suhu, dan kebisingan, dapat membantu mengurangi beban sensoris yang memperberat persepsi nyeri. Terapi Nonfarmakologi (2803) seperti kompres dingin pada area memar atau hematoma (jika tidak ada luka terbuka), reposisi dengan teknik yang aman, dan teknik distraksi sederhana dapat diterapkan. Namun, pada kasus trauma kepala dengan penurunan kesadaran, intervensi farmakologi sering menjadi utama melalui Kolaborasi Pemberian Analgesik (2804). Pemilihan analgesik harus hati-hati; opioid mungkin diperlukan untuk nyeri berat tetapi diawasi ketat karena dapat menekan pernapasan dan mengaburkan penilaian neurologis. Analgesik non-opioid seperti parasetamol sering menjadi pilihan pertama. Evaluasi Respons Terapi (2805) dilakukan secara berkala setelah pemberian obat untuk menilai efektivitas dan efek samping, sekaligus terus memantau status neurologis. Edukasi pada Pasien dan Keluarga (2806) mengenai pentingnya melaporkan nyeri, rencana terapi nyeri, dan efek samping obat yang mungkin terjadi, sangat penting meskipun kesadaran pasien menurun, keluarga dapat menjadi informan kunci. Pendekatan holistik dan waspada ini bertujuan mengontrol nyeri tanpa mengorbankan keselamatan neurologis pasien.
Kondisi: Risiko Cedera
Kode SDKI: 0019
<>Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya kerentanan terhadap cedera fisik yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 1901
Deskripsi : Pencegahan cedera. Kriteria hasil: 1) Pasien bebas dari cedera; 2) Lingkungan aman; 3) Penggunaan alat protektif sesuai indikasi; 4) Keluarga memahami upaya pencegahan cedera.
Kode SIKI: 4301, 4302, 4303, 4304, 4305
Deskripsi : Risiko cedera pada pasien ini sangat tinggi akibat penurunan kesadaran (GCS 10), kebingungan, dan mengantuk yang dapat menyebabkan pasien jatuh dari tempat tidur, menarik selang infus/NGT, atau mengalami trauma tambahan. Intervensi keperawatan difokuskan pada penciptaan lingkungan yang aman dan pengawasan ketat. Pengawasan Ketat (4301) adalah intervensi utama, mungkin memerlukan penempatan pasien di ruang yang mudah diawasi (dekat pos perawat) dan pemeriksaan berkala. Penggunaan Alat Protektif/Restraint (4302) seperti pagar tempat tidur yang selalu terpasang dan dalam posisi terangkat, serta mungkin sabuk pengaman (restraint) yang lembut sesuai kebijakan institusi dan dengan persetujuan keluarga setelah dilakukan edukasi, diperlukan untuk mencegah jatuh. Namun, restraint harus menjadi pilihan terakhir dan diawasi secara ketat. Manajemen Lingkungan Aman (4303) meliputi penataan kamar agar bebas dari barang berbahaya, pencahayaan yang cukup, lantai tidak licin, dan penempatan bel pasien dalam jangkauan (meski pasien mungkin tidak dapat menggunakannya). Peralatan medis seperti infus dan monitor harus diamankan dengan baik. Pencegahan Cedera akibat Prosedur (4304) dilakukan dengan memastikan semua prosedur seperti pemasangan jalur infus atau kateter dilakukan dengan teknik steril dan aman, serta semua alat diperiksa fungsi dan keamanannya sebelum digunakan. Terakhir, Edukasi pada Keluarga/Pengasuh (4305) tentang risiko cedera, pentingnya tidak meninggalkan pasien sendirian, cara memanggil perawat, dan tujuan pemasangan pagar tempat tidur, sangat penting untuk membangun kemitraan dalam menjaga keselamatan pasien. Semua intervensi ini bertujuan untuk meminimalkan kejadian yang tidak diinginkan dan memastikan pasien tetap aman selama fase ketidakstabilan neurologis ini.
-
Article No. 25066 | 12 Apr 2026
Klinis : muntah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Muntah
Kode SDKI: B.1.1.1
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SLKI: L.1.1.1
Deskripsi : Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Terjaga
Kode SIKI: I.1.1.1
Deskripsi : Pemantauan Keseimbangan Cairan
Kondisi: Muntah
Kode SDKI: B.1.1.2
Deskripsi Singkat: Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SLKI: L.1.1.1
Deskripsi : Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Terjaga
Kode SIKI: I.1.1.1
Deskripsi : Pemantauan Keseimbangan Cairan
Kondisi: Muntah
Kode SDKI: B.1.1.3
Deskripsi Singkat: Risiko Syok Hipovolemik
Kode SLKI: L.1.1.1
Deskripsi : Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Terjaga
Kode SIKI: I.1.1.1
Deskripsi : Pemantauan Keseimbangan Cairan
Kondisi: Muntah
Kode SDKI: B.1.1.4
Deskripsi Singkat: Syok Hipovolemik
Kode SLKI: L.1.1.1
Deskripsi : Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Terjaga
Kode SIKI: I.1.1.1
Deskripsi : Pemantauan Keseimbangan Cairan
Kondisi: Muntah
Kode SDKI: B.1.1.5
Deskripsi Singkat: Risiko Aspirasi
Kode SLKI: L.1.2.1
Deskripsi : Jalan Napas Bersih dan Paten
Kode SIKI: I.1.2.1
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas
Kondisi: Muntah
Kode SDKI: B.1.1.6
Deskripsi Singkat: Aspirasi
Kode SLKI: L.1.2.1
Deskripsi : Jalan Napas Bersih dan Paten
Kode SIKI: I.1.2.1
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas
Kondisi: Muntah
Kode SDKI: B.1.1.7
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: L.2.1.1
Deskripsi : Tingkat Nyeri Terkontrol
Kode SIKI: I.2.1.1
Deskripsi : Manajemen Nyeri
Kondisi: Muntah
Kode SDKI: B.1.1.8
Deskripsi Singkat: Kecemasan
Kode SLKI: L.3.1.1
Deskripsi : Tingkat Kecemasan Terkontrol
Kode SIKI: I.3.1.1
Deskripsi : Manajemen Kecemasan
-
Article No. 25067 | 12 Apr 2026
Klinis : Benjolan pada punggung kiri dan merah TelaahDialami pasien sudah 3 minggu ini. Ukuran sekitar 10cm x 10cm, merah, nyeri tekan. Demam hilang timbul. Sesak napas tidak ada. Ukuran bengkak makin lama makin membesar. Pasien ada riawayat sakit dm tipe 2 Riwayat Penyakit Dahuluht dm tipe 2 OSENS:CM GCS :15 TD: 165/80 MMHG HR: 86 x/i RR :20 x/iT: 38 C SPO2: 98 % VAS: 8 KEPALA : NORMAL MATA: KONJUNGTIVA ANEMIS -/-, SKLERA IKTERIK -/- MULUT: COATED TANGUE (-) HIDUNG DAN TELINGA: NORMAL LEHER: TRACHEA MEDIAL, BENJOLAN (-), TVJ (NORMAL) THORAKS: SIMETRIS FURIFORMIS, SONOR , VESIKULAR +/+, WH -/- RH -/- PUNGGUNG KIRI MERAH UKURAN 10CMX10CM, NYERI TEKAN. ABDOMEN: H/L TIDAK TERABA, SOEPEL +, PERISTALTIK + (NORMAL) EKSTREMITAS: AKRAL HANGAT, PITTING EDEMA -/-, CRT<2 ANUS/GENITALIA: TIDAK DILAKUKAN PEMERIKSAAN
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Nyeri Akut terkait Abses/Karbunkel pada Punggung dengan Komorbid Diabetes Mellitus Tipe 2
Kode SDKI: 0206 Risiko Infeksi
Deskripsi Singkat: Status dimana individu mengalami peningkatan risiko terpapar organisme patogen. Pada kasus ini, risiko infeksi sangat tinggi karena adanya luka terbuka (benjolan merah yang membesar dan nyeri), proses inflamasi aktif (demam), dan faktor predisposisi utama yaitu Diabetes Mellitus (DM) tipe 2 yang tidak terkontrol (dilihat dari tekanan darah 165/80 mmHg). Hiperglikemia pada DM menyebabkan gangguan fungsi neutrofil dan menurunkan imunitas seluler, sehingga memperlambat penyembuhan dan meningkatkan risiko infeksi menyebar (selulitis, sepsis). Benjolan yang membesar dan demam hilang timbul merupakan tanda bahwa pertahanan tubuh tidak mampu mengatasi infeksi lokal, sehingga berisiko menjadi infeksi sistemik.
Kode SLKI: 2120 Manajemen Infeksi
Deskripsi : Tindakan keperawatan untuk mencegah dan menangani infeksi. SLKI ini meliputi: 1) Memantau tanda-tanda infeksi sistemik dan lokal (seperti suhu tubuh, karakteristik lesi, leukosit). Pasien sudah menunjukkan demam dan lesi membesar. 2) Melakukan perawatan luka steril sesuai protokol, mungkin termasuk insisi dan drainase oleh dokter. 3) Memastikan kepatuhan terapi antibiotik sesuai resep. 4) Melakukan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang teknik perawatan luka di rumah, pentingnya kebersihan, dan tanda-tanda infeksi yang harus diwaspadai. 5) Mengendalikan faktor risiko, dalam hal ini dengan berkolaborasi untuk mengontrol kadar gula darah pasien. Pengendalian glikemik yang baik adalah kunci utama dalam mencegah perluasan infeksi dan mempercepat penyembuhan. 6) Menerapkan prinsip pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI), seperti cuci tangan sebelum dan setelah kontak dengan luka.
Kode SIKI: 4501 Pengendalian Infeksi
Deskripsi : Kemampuan klien dalam mencegah dan mengelola risiko infeksi. Hasil yang diharapkan adalah: 1) Klien dan keluarga dapat mendemonstrasikan perawatan luka dengan teknik aseptik. 2) Klien memahami pentingnya mengontrol gula darah dan dapat menjelaskan rencana pengobatan DM-nya. 3) Klien dapat menyebutkan tanda-tanda infeksi (seperti demam, nyeri meningkat, kemerahan meluas, nanah) yang harus segera dilaporkan. 4) Klien menunjukkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) seperti menjaga kebersihan kulit sekitar luka dan seluruh tubuh. 5) Adanya penyembuhan luka yang progresif, ditandai dengan berkurangnya ukuran benjolan, warna kemerahan, nyeri, dan demam. 6) Tidak adanya tanda-tanda penyebaran infeksi lebih lanjut.
Kondisi: Risiko Infeksi dan Nyeri Akut terkait Abses/Karbunkel pada Punggung dengan Komorbid Diabetes Mellitus Tipe 2
Kode SDKI: 0420 Nyeri Akut
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan. Pada pasien ini, nyeri akut disebabkan oleh proses inflamasi dan tekanan jaringan akibat abses (benjolan) berukuran 10x10 cm di punggung kiri. Nyeri bersifat tekan (nyeri tekan positif) dengan skala intensitas tinggi (VAS: 8). Proses inflamasi melepaskan mediator kimia seperti bradikinin dan prostaglandin yang mensensitisasi nosiseptor. Adanya demam juga dapat memperberat persepsi nyeri. Nyeri ini dapat membatasi mobilitas pasien, mengganggu tidur, dan meningkatkan stres, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi kontrol gula darah.
Kode SLKI: 2260 Manajemen Nyeri
Deskripsi : Tindakan keperawatan untuk meringankan atau mengurangi nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi oleh klien. SLKI ini mencakup: 1) Melakukan pengkajian nyeri komprehensif secara berkala menggunakan skala nyeri (VAS), termasuk lokasi, karakteristik, faktor pencetus, dan penurun. 2) Memberikan terapi farmakologis (analgesik) sesuai resep dokter dan mengevaluasi efektivitas serta efek sampingnya. 3) Menerapkan intervensi non-farmakologis untuk mengurangi nyeri, seperti mengajarkan teknik distraksi, relaksasi napas dalam, atau reposisi posisi tubuh yang nyaman (misalnya, tidur miring ke kanan). 4) Memberikan kompres hangat atau dingin sesuai indikasi (biasanya kompres hangat dapat membantu mengurangi nyeri pada inflamasi lokal sebelum drainase). 5) Melakukan edukasi pada pasien tentang pentingnya melaporkan nyeri dan tidak menahannya. 6) Mengurangi faktor yang memperberat nyeri, seperti dengan perawatan luka yang hati-hati dan lembut. 7) Memodifikasi lingkungan untuk mendukung kenyamanan.
Kode SIKI: 1400 Kontrol Nyeri
Deskripsi : Kemampuan klien dalam mengendalikan dan menanggulangi nyeri. Hasil yang diharapkan adalah: 1) Klien melaporkan penurunan intensitas nyeri (target VAS ≤ 3). 2) Klien dapat mendemonstrasikan setidaknya satu teknik non-farmakologis untuk mengatasi nyeri. 3) Klien menunjukkan tanda-tanda fisiologis dan perilaku berkurangnya nyeri, seperti ekspresi wajah rileks, mampu istirahat/tidur, dan partisipasi dalam perawatan diri. 4) Klien memahami regimen pengobatan nyerinya. 5) Fungsi mobilitas dan aktivitas sehari-hari klien membaik seiring dengan berkurangnya nyeri.
Kondisi: Risiko Infeksi dan Nyeri Akut terkait Abses/Karbunkel pada Punggung dengan Komorbid Diabetes Mellitus Tipe 2
Kode SDKI: 0106 Hipertermia
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal yang terjadi sebagai respons terhadap proses patologis, dalam hal ini infeksi. Suhu tubuh pasien 38°C menunjukkan adanya hipertermia yang disebabkan oleh respon inflamasi sistemik terhadap infeksi pada abses di punggung. Demam hilang timbul menunjukkan bahwa tubuh sedang berusaha melawan infeksi melalui pelepasan pirogen endogen yang mengatur ulang termostat di hipotalamus. Hipertermia meningkatkan metabolisme basal, yang dapat menyebabkan dehidrasi, takikardia, dan pada pasien DM, dapat memperburuk kontrol glikemik karena peningkatan kebutuhan insulin.
Kode SLKI: 1360 Manajemen Hipertermia
Deskripsi : Tindakan keperawatan untuk mengurangi suhu tubuh tinggi. SLKI ini meliputi: 1) Memantau suhu tubuh secara teratur (setiap 2-4 jam). 2) Memberikan terapi antipiretik sesuai resep dokter. 3) Menerapkan tindakan pendinginan fisik seperti kompres hangat di aksila dan lipat paha (hindari kompres dingin/alkohol karena dapat menyebabkan menggigil), serta memastikan lingkungan sejuk dan nyaman. 4) Meningkatkan asupan cairan untuk mencegah dehidrasi akibat peningkatan penguapan dan berkeringat. 5) Memantau tanda-tanda vital lain (nadi, pernapasan) dan status hidrasi (turgor kulit, mukosa). 6) Memberikan edukasi pada pasien dan keluarga tentang pentingnya minum cairan dan melaporkan jika demam tidak turun.
Kode SIKI: 0300 Keseimbangan Suhu Tubuh
Deskripsi : Kemampuan klien dalam mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal. Hasil yang diharapkan adalah: 1) Suhu tubuh kembali normal (36,5 – 37,5°C). 2) Klien tidak mengalami komplikasi terkait demam seperti dehidrasi atau menggigil hebat. 3) Klien dan keluarga memahami cara mengatasi demam di rumah. 4) Tanda-tanda vital lain stabil seiring dengan normalnya suhu tubuh.
-
Article No. 25068 | 12 Apr 2026
Klinis : Kasus : Hasil pengkajian perawat di sebuah sekolah dasar didapatkan hasil 67% belum mengetahui cara cuci tangan yang benar, 46% pernah mengalami diare dan 52% mengalami ISPA dalam 3 bulan terakhir. Hasil observasi terdapat 4 wastafel di area sekolah dan 6 kamar mandi untuk seluruh siswa. Tidak ada sabun di wastafel dan kamar mandi siswa.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya masuk dan multiplikasi patogen.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Perilaku pencegahan infeksi.
Kode SIKI: 3520
Deskripsi : Edukasi: Proses penyakit.
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI): Risiko Infeksi (Kode 0004)
Definisi SDKI 0004 adalah "Risiko meningkatnya masuk dan multiplikasi patogen." Pada kasus ini, data pengkajian menunjukkan sejumlah besar faktor risiko yang secara signifikan meningkatkan kerentanan siswa terhadap infeksi. Pertama, pengetahuan yang tidak adekuat tentang cuci tangan yang benar (67%) merupakan faktor perilaku utama. Cuci tangan adalah langkah pertama dan paling kritis dalam memutus rantai infeksi. Ketidaktahuan cara yang benar membuat tindakan pencegahan ini tidak efektif. Kedua, riwayat kejadian infeksi yang tinggi (46% diare dan 52% ISPA dalam 3 bulan) menunjukkan bahwa lingkungan dan perilaku sudah berpotensi menimbulkan penyakit menular. Riwayat ini juga mengindikasikan sistem imun anak-anak mungkin sedang tertekan atau terpapar terus-menerus. Ketiga, faktor lingkungan sangat mendukung penularan: ketersediaan fasilitas cuci tangan (wastafel dan kamar mandi) yang mungkin tidak proporsional dengan jumlah siswa, dan yang paling krusial adalah ketiadaan sabun di semua titik cuci tangan. Sabun esensial untuk menghilangkan kuman secara mekanis dan kimiawi. Tanpa sabun, air hanya membilas kotoran secara fisik tanpa membunuh atau mengangkat mikroorganisme dengan efektif. Kombinasi dari defisit pengetahuan, riwayat infeksi berulang, dan dukungan lingkungan yang tidak memadai ini menciptakan sebuah situasi di mana risiko masuk dan berkembang biaknya patogen (seperti bakteri penyebab diare atau virus penyebab ISPA) sangat tinggi. Oleh karena itu, diagnosa "Risiko Infeksi" sangat tepat untuk menggambarkan kerentanan kolektif populasi siswa di sekolah tersebut.
Luaran Keperawatan (SLKI): Perilaku Pencegahan Infeksi (Kode 0801)
Definisi SLKI 0801 adalah "Perilaku pencegahan infeksi." Luaran ini dipilih sebagai tujuan dari intervensi keperawatan komunitas (sekolah). Tujuannya adalah untuk mengubah status dari "risiko" menjadi "terkendali" dengan cara meningkatkan perilaku sehat siswa. Luaran ini diharapkan dapat tercapai dengan memodifikasi faktor-faktor risiko yang telah diidentifikasi. Indikator pencapaian luaran ini dapat meliputi: peningkatan persentase siswa yang mengetahui dan mendemonstrasikan teknik cuci tangan 6 langkah WHO yang benar, peningkatan penggunaan sabun saat cuci tangan, serta penurunan angka kejadian diare dan ISPA pada periode berikutnya setelah intervensi. Fokus luaran adalah pada kemampuan dan kemauan siswa untuk melakukan tindakan protektif secara mandiri, seperti mencuci tangan pada waktu-waktu kritis (sebelum makan, setelah dari toilet, setelah bermain), menutup mulut saat batuk/bersin dengan etika yang benar, serta tidak berbagi alat makan atau minum. Dengan tercapainya luaran ini, diharapkan rantai penularan infeksi dapat diputus sehingga risiko infeksi menurun.
Intervensi Keperawatan (SIKI): Edukasi: Proses Penyakit (Kode 3520)
Definisi SIKI 3520 adalah "Edukasi: Proses penyakit." Intervensi ini adalah tindakan utama yang paling relevan untuk mengatasi akar masalah, yaitu defisit pengetahuan. Edukasi yang diberikan harus disesuaikan dengan usia anak sekolah dasar. Penjelasan tentang proses penyakit tidak perlu terlalu kompleks secara medis, tetapi lebih menekankan pada konsep sebab-akibat yang mudah dipahami. Perawat perlu menjelaskan hubungan antara kuman (patogen), cara penularannya (misalnya melalui tangan yang kotor atau udara saat batuk), dan penyakit yang ditimbulkan (diare dengan gejala seperti mencret dan sakit perut; ISPA dengan gejala seperti batuk, pilek, dan demam). Edukasi ini harus dikaitkan langsung dengan perilaku pencegahan, terutama cuci tangan pakai sabun. Demonstrasi praktik cuci tangan yang benar harus menjadi bagian inti dari edukasi ini. Selain itu, edukasi juga dapat mencakup pentingnya menggunakan fasilitas sanitasi dengan benar dan membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) lainnya. Intervensi ini tidak hanya ditujukan pada siswa, tetapi juga perlu melibatkan guru dan pihak sekolah untuk memastikan ketersediaan sarana pendukung, seperti penyediaan sabun secara berkelanjutan di wastafel dan kamar mandi. Dengan memberikan pemahaman tentang bagaimana penyakit terjadi dan menyebar, diharapkan siswa termotivasi untuk mengadopsi perilaku pencegahan infeksi secara sukarela dan berkelanjutan, yang pada akhirnya akan mencapai luaran yang diharapkan.
-
Article No. 25069 | 12 Apr 2026
Klinis : Ds : - Mengeluh keputihan berbau tidak sedap sejak ±3 bulan - Keputihan bercampur darah -Nyeri saat berhubungan seksual -Perdarahan di luar siklus menstruasi Do : Terdapat lesi pada serviks Lesi mudah berdarah saat disentuh Hasil pap smear menunjukkan sel abnormal
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Perubahan Integritas Jaringan Serviks terkait Proses Penyakit Neoplastik
Kode SDKI: D.0188
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons terhadap patogen atau kondisi patologis lainnya.
Kode SLKI: L.15039
Deskripsi : Pengendalian Infeksi: Tindakan untuk mencegah dan menangani infeksi. Penjelasan: Pada kasus ini, fokus SLKI adalah pada tindakan untuk mencegah infeksi sekunder akibat lesi serviks yang terbuka dan mudah berdarah, serta mengatasi keputihan berbau yang mengindikasikan infeksi. Perawat akan memantau tanda-tanda infeksi sistemik dan lokal, mendemonstrasikan dan mendorong perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) khususnya kebersihan genital, mengajarkan cara membersihkan area genital dengan benar dari arah depan ke belakang, serta menjelaskan pentingnya menghindari iritan seperti pembalut berparfum atau douching. Edukasi juga mencakup penggunaan antibiotik jika diresepkan, pentingnya menghindari hubungan seksual selama proses penyembuhan atau menggunakan metode proteksi sesuai anjuran, dan memastikan lingkungan yang bersih untuk mengurangi paparan patogen. Tindakan ini bertujuan memutus rantai infeksi, mengurangi keputihan patologis, dan mencegah komplikasi seperti penyakit radang panggul.
Kode SIKI: I.1526
Deskripsi : Manajemen Luka: Tindakan untuk mempercepat penyembuhan dan mencegah komplikasi pada luka. Penjelasan: Meskipun lesi pada serviks bukan luka eksternal yang dapat dirawat langsung, prinsip manajemen luka diterapkan secara holistik. Intervensi keperawatan berfokus pada "luka" atau kerusakan jaringan serviks. Perawat akan memantau karakteristik lesi (ukuran, kecenderungan berdarah) melalui laporan pasien dan hasil pemeriksaan. Peran kunci adalah memfasilitasi penyembuhan dengan mendukung terapi medis (seperti kauterisasi, prosedur LEEP, atau lainnya yang akan direkomendasikan berdasarkan hasil pap smear) dan meminimalkan trauma lebih lanjut. Edukasi kepada pasien sangat penting: menjelaskan penyebab nyeri saat berhubungan seksual dan pentingnya menghindari hubungan seksual atau aktivitas yang dapat menyebabkan trauma langsung pada serviks untuk mencegah perdarahan dan memperburuk lesi. Perawat juga akan mengajarkan pemantauan perdarahan di luar siklus, termasuk mencatat frekuensi dan jumlahnya, serta memberikan konseling gizi untuk asupan protein dan vitamin C yang adekuat guna mendukung regenerasi sel. Selain itu, perawat memberikan dukungan psiko-edukasi untuk mengurangi kecemasan terkait prosedur dan diagnosis sel abnormal, karena stres dapat menghambat proses penyembuhan.
Kondisi: Nyeri Akut terkait Proses Penyakit dan Intervensi pada Serviks
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah seperti cedera; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dan perkiraan akhir.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Kontrol Nyeri: Tindakan untuk mengurangi atau meringankan nyeri. Penjelasan: SLKI ini diarahkan untuk mengelola keluhan nyeri saat berhubungan seksual (dispareunia) yang dialami pasien. Tujuannya adalah mengurangi intensitas nyeri, meningkatkan kenyamanan, dan memulihkan fungsi seksual yang terganggu. Perawat akan melakukan penilaian nyeri komprehensif menggunakan skala nyeri, termasuk lokasi, karakteristik, faktor pemicu (seperti hubungan seksual), dan faktor yang meredakan. Intervensi non-farmakologis yang dapat diberikan termasuk teknik relaksasi, distraksi, dan terapi panas pada area perut bawah untuk mengurangi ketegangan otot panggul. Edukasi utama adalah menjelaskan hubungan antara lesi serviks, peradangan, dan nyeri selama penetrasi, serta pentingnya komunikasi terbuka dengan pasangan dan mengeksplorasi aktivitas seksual yang tidak menimbulkan trauma pada serviks. Perawat juga akan mengoordinasikan pemberian analgesik sesuai resep dokter jika diperlukan, dan memantau efektivitasnya.
Kode SIKI: I.09075
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri. Penjelasan: Intervensi ini melengkapi SLKI dengan tindakan yang lebih spesifik dan terkoordinasi. Perawat akan menciptakan lingkungan yang tenang untuk mengurangi stres yang dapat memperberat persepsi nyeri. Posisi tubuh yang nyaman akan diajarkan untuk mengurangi tekanan pada panggul. Teknik pernapasan dalam dan relaksasi progresif akan dilatihkan kepada pasien untuk digunakan saat nyeri muncul atau sebelum aktivitas yang berpotensi menimbulkan nyeri. Perawat akan berkolaborasi dengan tim medis untuk memastikan regimen analgesik yang tepat jika nyeri disebabkan oleh proses inflamasi aktif. Selain itu, konseling mengenai penundaan hubungan seksual hingga lesi sembuh atau setelah tindakan medis dilakukan merupakan bagian integral dari manajemen nyeri ini, untuk mencegah nyeri berulang dan mempercepat penyembuhan jaringan.
Kondisi: Ansietas terkait Diagnosis dan Prosedur Medis (Hasil Pap Smear Abnormal)
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Perasaan gelisah yang samar atau tidak menyenangkan disertai respons otonom (sumbernya seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu); perasaan khawatir akibat antisipasi bahaya.
Kode SLKI: L.07001
Deskripsi : Pengendalian Ansietas: Tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan perasaan gelisah, khawatir, dan ketakutan. Penjelasan: Diagnosis "sel abnormal" dari pap smear sering kali menimbulkan ketakutan akan kanker, prosedur lebih lanjut, dan dampak pada kehidupan serta fungsi seksual. SLKI ini bertujuan mengurangi tingkat ansietas pasien, meningkatkan pemahaman, dan mengembangkan koping yang adaptif. Perawat akan menilai tingkat ansietas, sumber ketakutan, dan mekanisme koping yang biasa digunakan pasien. Intervensi utama berupa memberikan informasi yang jelas, akurat, dan mudah dipahami tentang arti hasil pap smear abnormal, bahwa hal itu tidak selalu berarti kanker, tetapi merupakan tanda peringatan yang memerlukan evaluasi lebih lanjut. Perawat menjelaskan langkah-langkah diagnostik berikutnya (seperti kolposkopi, biopsi) secara prosedural untuk mengurangi ketakutan akan hal yang tidak diketahui. Memberikan kesempatan pasien untuk bertanya dan mengungkapkan perasaannya secara empatik sangat penting. Teknik relaksasi sederhana juga diajarkan untuk mengelola gejala ansietas.
Kode SIKI: I.07130
Deskripsi : Pengurangan Ansietas: Tindakan untuk mengurangi rasa gelisah, khawatir, dan ketakutan. Penjelasan: Intervensi ini menekankan pada tindakan menenangkan dan membangun rasa aman. Perawat akan menggunakan pendekatan komunikasi terapeutik, mendengarkan secara aktif tanpa menghakimi. Dukungan emosional diberikan dengan meyakinkan pasien bahwa perasaannya wajar dan bahwa tim kesehatan akan mendampinginya melalui proses diagnosis dan perawatan. Perawat dapat membantu pasien mengidentifikasi dukungan sosial dari keluarga atau pasangan, serta mendorong untuk melibatkan mereka dalam proses edukasi jika pasien mengizinkan. Perawat juga akan memfasilitasi konseling jika ansietas sangat berat, serta membantu pasien fokus pada hal-hal yang dapat dikendalikan (seperti menjaga kebersihan, menghadiri janji temu, dan menjalani gaya hidup sehat) daripada pada ketakutan akan masa depan. Membantu pasien memahami alur perawatan dapat memberikan rasa kontrol dan mengurangi kecemasan.
-
Article No. 25070 | 12 Apr 2026
Klinis : Penurunan kesadaran post KLL, mual (-), muntah (-), demam (-) Primary Survey A: Clear, Stable C-Spine B: Pengembangan dada simetris kanan = kiri, RR: 26x/menit, C: TD 152/80 mmHg, HR: 91x/menit, SpO2: 99% on NRM 10 LPM D: GCS E2V2M3, pupil isokor (4mm/4mm), RC (+/+), lateralisasi (-) E: T: 36,6°C Secondary Survey Kepala: hematom (+) Vulnus Laceratum R. Parietal 3x2×2cm Mata: hematom periorbita (-/-), perdarahan subconjungtiva (-/-) Hidung: rhinorhea (-/-) Telinga: ottorhagia (+/-) Mulut: perdarahan (-), gigi tanggal (-) Wajah: krepitasi (-), jejas (-) Leher: jejas (-) Thorax: jejas (-), nyeri tekan (-), krepitasi (-) Abdomen: jejas (-), nyeri tekan (-) Ekstremitas atas: Vulnus Laceratum R. Parietal (+), ROM s.d.e, akral hangat, CRT <2” Ekstremitas bawah: Krepitasi (-), ROM s.d.e, akral hangat, CRT< 2” Status Lokalis R. Clavicula (D) L: Open wound (-), ekimosis (-), deformitas (+), swelling (-) F: NT (+), krepitasi (+) M: ROM Terbatas nyeri Lab RSSP 11/04/2026 Hb 11.55 AE 3.86 HMT 32.2 AL 22.49 AT 467 PT 12.4 APTT 1.13 INR 55.1 GDS 148 SGOT 45 SGPT 30 UR 62.1 CR 1.19 HbsAg (-) Anti HIV NR CT Scan Kepala 3D RSSP 11/04/2026 Kesan: SAH Frontotemporoparietalis sinistra SDH Frontotemporoparietalis sinistra Edema Cerebri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Penurunan Perfusi Jaringan Otak
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah dan oksigen ke jaringan otak yang dapat mengakibatkan kerusakan neurologis ireversibel.
Kode SLKI: 0901
Deskripsi : Perfusi jaringan otak membaik atau tetap adekuat, ditandai dengan: 1) Tekanan darah dalam rentang yang dapat diterima; 2) Status neurologis stabil atau membaik; 3) Tidak ada tanda peningkatan tekanan intrakranial (TIK); 4) Keseimbangan cairan dan elektrolit terjaga. Intervensi keperawatan difokuskan pada pemantauan ketat tanda-tanda neurologis (GCS, pupil, tanda-tanda lateralisasi), mempertahankan tekanan darah sistemik yang adekuat untuk menjamin perfusi otak, meminimalkan stimulasi yang dapat meningkatkan TIK (seperti batuk, muntah, nyeri), menjaga posisi kepala elevasi 30 derajat, memantau keseimbangan cairan, dan berkolaborasi dalam pemberian terapi medis seperti osmotik diuretik jika diperlukan.
Kode SIKI: 4501
Deskripsi : Pemantauan Neurologis. Intervensi ini meliputi pengkajian berkelanjutan dan pencatatan status neurologis pasien untuk mendeteksi dini perubahan yang mengancam jiwa. Pada pasien ini, meliputi pemantauan GCS (saat ini E2V2M3=7, menunjukkan penurunan kesadaran) secara ketat setiap 30 menit hingga 1 jam, mencatat tren perubahannya. Memeriksa ukuran, bentuk, dan reaksi pupil terhadap cahaya (isokor 4mm/4mm, RC +/+) untuk mendeteksi tanda herniasi. Mengobservasi adanya tanda-tanda lateralisasi atau postur abnormal. Memantau tanda-tanda vital dengan perhatian khusus pada pola pernapasan (RR 26x/menit, sedikit meningkat) dan tekanan darah (152/80 mmHg, meningkat mungkin sebagai respons Cushing untuk mempertahankan perfusi otak). Memantau suhu tubuh untuk menghindari hipertermia yang dapat memperburuk edema serebri. Semua temuan didokumentasikan dengan jelas untuk evaluasi tren dan respons terapi.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat dan intensitas ringan hingga berat.
Kode SLKI: 1001
Deskripsi : Kontrol nyeri tercapai, ditandai dengan: 1) Skala nyeri menurun atau dalam rentang yang ditargetkan; 2) Pasien menunjukkan tanda-tanda nyeri berkurang (ekspresi wajah rileks, dapat beristirahat); 3) Fungsi fisik membaik (contoh: ROM meningkat). Intervensi keperawatan meliputi pengkajian nyeri komprehensif menggunakan skala yang sesuai (misalnya, CPOT untuk pasien dengan penurunan kesadaran), pemberian analgesik sesuai kolaborasi dan evaluasi efektivitasnya, serta intervensi non-farmakologis seperti reposisi yang nyaman, imobilisasi area fraktur (clavicula dextra), dan menciptakan lingkungan yang tenang. Pada pasien trauma kepala, pemilihan analgesik harus hati-hati untuk tidak menutupi gejala neurologis atau menurunkan kesadaran lebih lanjut.
Kode SIKI: 2801
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi sistematis untuk mengurangi nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi. Pada pasien ini, meliputi pengkajian karakteristik nyeri dari fraktur clavicula (deformitas+, nyeri tekan+, krepitasi+, ROM terbatas) dan luka di kepala, meskipun pasien tidak sadar penuh, nyeri tetap perlu dikelola karena dapat meningkatkan tekanan intrakranial. Menggunakan alat observasi untuk nyeri seperti Critical-Care Pain Observation Tool (CPOT) yang menilai indikator perilaku (ekspresi wajah, gerakan tubuh, kepatuhan ventilator/komunikasi, dan tonus otot). Memberikan analgesik sesuai instruksi dokter (biasanya opioid dengan monitoring ketat efek samping depresi pernapasan). Melakukan imobilisasi ekstremitas yang terkena untuk mengurangi pergerakan yang memperberat nyeri. Mendokumentasikan respons terhadap intervensi yang diberikan.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons tubuh terhadap patogen.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Risiko infeksi berkurang atau tidak terjadi infeksi, ditandai dengan: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal; 2) Tidak ada tanda inflamasi lokal (rubor, kalor, dolor, tumor, functio laesa) pada area luka; 3) Hasil laboratorium penunjang infeksi dalam batas normal. Intervensi keperawatan difokuskan pada pencegahan infeksi melalui teknik aseptik ketat dalam perawatan luka (Vulnus Laceratum di kepala dan kemungkinan luka dari fraktur terbuka), menjaga integritas selaput mukosa dan kulit, mempertahankan status nutrisi yang adekuat, memantau tanda-tanda sistemik infeksi (seperti demam, leukositosis), serta pemberian antibiotik profilaksis atau terapeutik sesuai kolaborasi.
Kode SIKI: 6520
Deskripsi : Perawatan Luka. Intervensi untuk mempertahankan integritas kulit dan jaringan, serta mempercepat penyembuhan luka. Pada pasien ini, meliputi inspeksi dan perawatan rutin Vulnus Laceratum di regio parietal kanan (3x2x2 cm) dengan teknik steril. Membersihkan luka sesuai protokol, mengganti balutan secara teratur, dan mengobservasi karakteristik luka (warna jaringan, eksudat, bau, tanda-tanda infeksi). Selain itu, memantau area ottorhagia (perdarahan telinga) kanan, hindari membersihkan atau menyumbat liang telinga, cukup menampung drainase dengan kasa steril longgar dan memantau jumlah serta karakter cairan. Perawatan kulit secara umum juga penting untuk mencegah dekubitus mengingat pasien imobil dan penurunan kesadaran. Semua tindakan didokumentasikan dengan rinci.
-
Article No. 25071 | 12 Apr 2026
Klinis : batuk (+), sesak sedikit Pasien datang dengan keluhan kelemahan ekstremitas kanan, sesak napas, batuk, tidak bisa mengeluarkan dahak Riw = stroke KU lemah, CM TD:137/75 N:76 R:22 S:36 SP02:96 Mata : CA -/- SI -/- refleks cahaya (+/+) Mulut : dbn leher: dbn Thorax : Simetris ka/ki BJ I-II, reguler, bising (-) Paru : SDV +/+ rbh -/- rbk -/- whz -/- Abdomen :supel, BU (+) , NT (-) Genitalia : tidak ada kelainan Ekstremitas atas : akral hangat (+/+), edema -/-, CRT <2 , KM 5/5 Ekstremitas bawah : akral hangat (+/+), edema -/-, CRT <2 , KM 5/5 Sensorik : + II + + II + Motorik : +2/+2/+2 II +4/+4/ +4 +2/+2/+2 II +4/+4/ +4 Refleks fisiologis: +2 ||+2 +2 || +2 Refleks patologis: - || - - || - Clonus - || - Nistagmus: (-) NIHHS : 8 Komplikasi tirah baring: - Infeksi: - - Stress ulcer: - - DVT: - - Disfagia: - - Cemas: - Hasil Lab Darah Rutin (10/04/26) Darah Rutin Hemoglobin 14.28 Eritrosit 5.13 Hematokrit 40.8 Lekosit 17.00 (H) Trombosit 190 Golongan Darah O Glukosa Darah Glukosa Darah Sewaktu 138 Fungsi Ginjal Ureum 36.4 Kreatinin 1.10 Hasil Rontgen Thorax (10/04/26) Kesan : - TB paru aktif - Besar cor normal Hasil CT scan kepala non-kontras (10/04/26) Kesan: - Infark cerebri di vermis cerebelli dextra dengan perifocal oedema di sekitarnya. - Atrophy cerebri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Kondisi dimana terjadi ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan oksigen tubuh, serta ketidakmampuan untuk mengeluarkan karbon dioksida secara adekuat, yang berisiko menimbulkan hipoksemia dan hiperkapnia.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Pertukaran gas membaik. Ditandai dengan: 1) Pola napas efektif (eupnea); 2) Bunyi napas bersih; 3) Tidak ada sianosis; 4) Tidak ada dispnea/ortopnea; 5) Tidak ada penggunaan otot bantu napas; 6) Analisis gas darah dalam batas normal; 7) Saturasi oksigen (SpO2) dalam batas normal.
Kode SIKI: I.09066
Deskripsi : Manajemen jalan napas. Tindakan: 1) Monitor status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas); 2) Auskultasi bunyi napas; 3) Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (misalnya, kepala tempat tidur ditinggikan 30-45 derajat jika tidak ada kontraindikasi); 4) Ajarkan dan bantu latihan napas dalam dan batuk efektif; 5) Lakukan fisioterapi dada jika diindikasikan; 6) Berikan terapi oksigen sesuai program; 7) Monitor saturasi oksigen (SpO2) secara berkala; 8) Lakukan suction jika diperlukan; 9) Kolaborasi pemberian nebulizer/bronkodilator sesuai program; 10) Anjurkan intake cairan yang adekuat untuk mengencerkan sekret; 11) Monitor hasil analisis gas darah.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas paten, yang dapat disebabkan oleh peningkatan produksi sekret, sekret kental, batuk tidak efektif, penurunan kesadaran, atau kelemahan otot pernapasan.
Kode SLKI: L.04002
Deskripsi : Bersihan jalan napas efektif. Ditandai dengan: 1) Jalan napas paten; 2) Bunyi napas bersih; 3) Tidak ada sekret; 4) Batuk efektif; 5) Tidak ada sianosis; 6) Saturasi oksigen (SpO2) dalam batas normal; 7) Tidak ada dyspnea.
Kode SIKI: I.09067
Deskripsi : Manajemen bersihan jalan napas. Tindakan: 1) Auskultasi bunyi napas sebelum dan setelah tindakan; 2) Ajarkan dan bantu teknik batuk efektif; 3) Lakukan latihan napas dalam; 4) Lakukan postural drainage dan fisioterapi dada sesuai indikasi; 5) Lakukan suction jalan napas jika diperlukan; 6) Lakukan humidifikasi/nebulisasi; 7) Anjurkan peningkatan intake cairan jika tidak ada kontraindikasi; 8) Monitor karakteristik sputum; 9) Posisikan untuk memaksimalkan ekspansi paru; 10) Kolaborasi pemberian mukolitik atau bronkodilator sesuai program.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0076
Deskripsi Singkat: Kondisi dimana individu berisiko mengalami invasi oleh patogen, yang dipengaruhi oleh faktor-faktor yang menurunkan pertahanan tubuh, meningkatkan paparan mikroorganisme, atau keduanya.
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : Risiko infeksi tidak terjadi. Ditandai dengan: 1) Tanda-tanda vital dalam batas normal; 2) Tidak ada tanda-tanda infeksi (rubor, kalor, dolor, tumor, functio laesa); 3) Hasil laboratorium dalam batas normal; 4) Luka bersih, tidak ada tanda infeksi; 5) Menerapkan perilaku pencegahan infeksi.
Kode SIKI: I.11029
Deskripsi : Manajemen pencegahan infeksi. Tindakan: 1) Cuci tangan sebelum dan setelah melakukan tindakan; 2) Gunakan alat pelindung diri (APD) sesuai kebutuhan; 3) Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik jika ada; 4) Pantau tanda-tanda vital, khususnya suhu tubuh; 5) Pantau tanda-tanda infeksi lokal dan sistemik; 6) Anjurkan intake nutrisi dan cairan yang adekuat; 7) Ajarkan kepada pasien/keluarga tentang pentingnya kebersihan diri dan lingkungan; 8) Lakukan perawatan kebersihan diri pasien; 9) Kolaborasi pemberian terapi antibiotik sesuai program; 10) Batasi pengunjung jika diperlukan.
Kondisi: Kerusakan Mobilitas Fisik
Kode SDKI: D.0011
Deskripsi Singkat: Kondisi dimana individu mengalami atau berisiko mengalami keterbatasan pergerakan fisik yang berdampak pada kemampuan untuk bergerak secara mandiri dan aman dalam lingkungannya.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Mobilitas fisik membaik. Ditandai dengan: 1) Dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan; 2) Kekuatan otot membaik; 3) Rentang gerak sendi dalam batas normal/fungsional; 4) Koordinasi gerak membaik; 5) Tidak ada kontraktur; 6) Tidak ada atrofi otot.
Kode SIKI: I.09011
Deskripsi : Manajemen mobilitas. Tindakan: 1) Kaji kekuatan otot, tonus, dan rentang gerak sendi; 2) Bantu dan ajarkan latihan rentang gerak sendi (aktif/pasif); 3) Bantu perubahan posisi secara teratur (setiap 2 jam); 4) Gunakan alat bantu mobilitas sesuai kebutuhan (bantal, penyangga); 5) Ajarkan dan bantu teknik transfer dan ambulasi yang aman; 6) Kolaborasi dengan fisioterapis untuk program latihan; 7) Anjurkan posisi tubuh yang baik (alignment); 8) Monitor tanda-tanda komplikasi imobilisasi (dekubitus, trombosis); 9) Berikan pijatan pada area yang tertekan; 10) Anjurkan nutrisi yang adekuat untuk penyembuhan dan energi.
-
Article No. 25035 | 11 Apr 2026
Klinis : hipertermi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermi
Kode SDKI: 00007
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal yang berhubungan dengan ketidakmampuan tubuh untuk mempromosikan atau memfasilitasi disipasi panas.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Pengaturan Suhu. Tindakan keperawatan untuk memfasilitasi pemeliharaan suhu tubuh dalam rentang normal. Fokus intervensi ini adalah pada pemantauan suhu tubuh, identifikasi faktor risiko dan penyebab, serta penerapan tindakan untuk menurunkan suhu (seperti kompres, lingkungan yang sejuk, pemberian cairan) atau mencegah hipotermi jika diperlukan. Tujuannya adalah untuk mengembalikan dan mempertahankan suhu tubuh dalam batas fisiologis yang aman, mencegah komplikasi seperti dehidrasi, kejang, atau kerusakan neurologis, serta meningkatkan kenyamanan pasien. Intervensi ini mencakup edukasi pada pasien dan keluarga tentang tanda-tanda panas berlebih dan cara penanganannya.
Kode SIKI: 1401
Deskripsi : Kemampuan Mengatur Suhu Tubuh. Kriteria hasil yang diharapkan adalah suhu tubuh pasien kembali dalam rentang normal (36-37,5°C) dan dipertahankan, kulit teraba hangat dan tidak berkeringat berlebihan atau kering, tanda-tanda vital stabil, tidak ada tanda dehidrasi, serta pasien melaporkan perasaan nyaman. Pasien dan keluarga juga diharapkan mampu mendemonstrasikan pemahaman tentang faktor penyebab dan tindakan pencegahan hipertermi. Hasil ini menunjukkan keberhasilan tubuh dalam memulihkan mekanisme termoregulasi dan respons efektif terhadap intervensi yang diberikan. Evaluasi dilakukan melalui pengukuran suhu berkala, observasi tanda klinis, dan laporan subjektif pasien.