Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 22843 | 18 Nov 2025
Klinis : Seorang pria berusia 50 tahun baru saja menjalani prosedur pemasangan kateter urin sebagai bagian dari penanganan retensi urin akut. Pasien memiliki riwayat diabetes mellitus tipe 2 yang terkontrol, namun kondisi medis ini membuatnya lebih rentan terhadap infeksi, terutama infeksi saluran kemih (ISK). Kateter urin dipasang selama 48 jam untuk membantu mengatasi retensi urin. Selama periode ini, perawat harus memantau kondisi pasien untuk mencegah infeksi atau komplikasi terkait kateter
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan kerentanan terhadap invasi patogen yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: L.03148
Deskripsi : Pencegahan Infeksi: Tindakan untuk mengurangi risiko invasi dan multiplikasi patogen. Intervensi keperawatan ini mencakup serangkaian tindakan sistematis yang bertujuan untuk memutus rantai infeksi. Pada pasien dengan kateter urin, fokus utama adalah pada manajemen kateter yang steril dan aseptik. Perawat akan memastikan sistem drainase kateter tetap tertutup dan tidak terganggu untuk mencegah akses bakteri dari luar. Kantong urine harus selalu berada di posisi yang lebih rendah dari kandung kemih untuk mencegah aliran balik urine yang terkontaminasi. Perawatan daerah meatus uretra (lubang kencing) dilakukan dengan teknik aseptik menggunakan air dan sabun atau larutan antiseptik sesuai kebijakan institusi, dengan tujuan mengurangi kolonisasi mikroorganisme di sekitar area pemasangan kateter. Perawat juga akan memantau tanda-tanda infeksi, memastikan aliran urine lancar tanpa tersumbat, dan menghindari tension atau tarikan pada kateter. Edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya kebersihan tangan (hand hygiene) sebelum dan setelah menyentuh area kateter juga merupakan komponen krusial. Pemasangan kateter hanya dilakukan dengan indikasi yang kuat dan diupayakan untuk dilepas secepat mungkin, karena durasi pemasangan kateter merupakan faktor risiko utama untuk terjadinya Infeksi Saluran Kemih (ISK).
Kode SIKI: I.01271
Deskripsi : Kriteria Luaran: Pasien bebas dari tanda dan gejala infeksi. Kriteria hasil ini dievaluasi melalui pemantauan ketat terhadap kondisi klinis pasien. Pasien dikatakan mencapai luaran ini jika tidak menunjukkan demam (suhu tubuh dalam rentang normal 36,5 - 37,5°C). Urine yang keluar melalui kateter harus jernih, tidak keruh, dan tidak berbau busuk, yang mengindikasikan tidak adanya pertumbuhan bakteri yang signifikan. Pasien juga tidak boleh mengeluhkan rasa nyeri, panas, atau tidak nyaman di area suprapubik (di atas tulang kemaluan) atau sepanjang saluran kemih, yang merupakan tanda iritasi atau infeksi. Hasil pemeriksaan laboratorium, seperti urinalisis dan kultur urine, diharapkan menunjukkan tidak adanya piuria (sel darah putih dalam urine) dan tidak ada pertumbuhan bakteri patogen. Kulit di sekitar area insersi kateter tetap utuh, tanpa tanda-tanda peradangan seperti kemerahan, bengkak, atau adanya nanah. Dengan tercapainya kriteria ini, dapat disimpulkan bahwa tindakan pencegahan infeksi yang dilakukan telah efektif dan risiko ISK terkait kateter telah berhasil diminimalisir.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0028
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, yang terjadi secara tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berlangsung dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Tindakan untuk meringankan atau mengurangi nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi pasien. Pada konteks pasien dengan kateter urin, nyeri dapat timbul dari prosedur pemasangan itu sendiri, iritasi kandung kemih dan uretra oleh balon kateter, atau spasme (kejang) otot kandung kemih. Perawat akan melakukan penilaian nyeri yang komprehensif dengan menggunakan skala nyeri yang valid (seperti Numeric Rating Scale/NRS) untuk menentukan karakteristik, lokasi, durasi, dan intensitas nyeri. Intervensi non-farmakologis dapat diterapkan, seperti teknik relaksasi napas dalam atau distraksi untuk mengalihkan perhatian pasien dari rasa tidak nyaman. Memastikan posisi selang kateter yang benar dan tidak tertekuk dapat mengurangi tarikan dan iritasi mekanis. Jika nyeri disebabkan oleh spasme kandung kemih, konsultasi dengan dokter mungkin diperlukan untuk pemberian obat antispasmodik. Perawat juga berkolaborasi dengan tim medis untuk pemberian analgesik sesuai resep jika nyeri mencapai tingkat yang mengganggu kenyamanan pasien. Edukasi kepada pasien tentang sensasi yang mungkin dialami dan kapan harus melaporkan nyeri yang tidak tertahankan merupakan bagian penting dari manajemen ini, sehingga pasien merasa terlibat dalam perawatan dirinya sendiri.
Kode SIKI: I.01295
Deskripsi : Kriteria Luaran: Tingkat nyeri pasien terkontrol. Kriteria ini dinilai tercapai ketika pasien melaporkan penurunan skala nyeri ke tingkat yang dapat diterima, biasanya di bawah 3 pada skala 0-10. Ekspresi wajah pasien tampak rileks, tidak lagi meringis atau tegang. Perilaku gelisah yang mungkin ditunjukkan sebelumnya telah berkurang atau hilang. Pasien mampu beristirahat dengan tenang dan dapat melakukan aktivitas ringan di tempat tidur tanpa terganggu oleh rasa sakit. Tanda-tanda vital yang sempat meningkat karena respons stres terhadap nyeri (seperti tekanan darah dan denyut nadi) kembali dalam rentang normal untuk pasien tersebut. Pasien juga dapat mendemonstrasikan atau menyatakan pemahaman tentang metode non-farmakologis yang digunakan untuk mengatasi nyeri ringan. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa ketidaknyamanan yang terkait dengan keberadaan kateter urin telah berhasil dikelola dengan baik.
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Perasaan gelisah yang samar-samar atau tidak nyaman yang ditimbulkan oleh persepsi ancaman yang sumbernya tidak diketahui atau tidak spesifik.
Kode SLKI: L.07031
Deskripsi : Penurunan Kecemasan: Tindakan untuk meminimalkan perasaan gelisah, khawatir, dan ketakutan. Pemasangan kateter urin dan diagnosis retensi urin akut dapat menjadi pengalaman yang menimbulkan stres dan kecemasan bagi pasien. Perasaan malu, khawatir tentang prosedur, ketakutan akan rasa sakit, dan kekhawatiran mengenai dampak jangka panjang terhadap fungsi tubuhnya dapat memicu ansietas. Perawat melakukan pendekatan terapeutik dengan memperkenalkan diri, menjelaskan semua prosedur yang akan dilakukan dengan bahasa yang mudah dimengerti, dan menjawab semua pertanyaan pasien dengan sabar. Membangun hubungan saling percaya adalah landasan dari intervensi ini. Perawat mendengarkan keluhan dan kekhawatiran pasien dengan empati tanpa menghakimi. Teknik relaksasi sederhana seperti pernapasan dalam dapat diajarkan untuk membantu pasien menenangkan diri. Melibatkan pasien dalam proses perawatan, seperti memintanya untuk memperhatikan karakteristik urine, dapat memberikan rasa kontrol sehingga mengurangi perasaan tidak berdaya. Dukungan emosional dan kepastian bahwa perasaan cemasnya adalah wajar juga sangat membantu. Lingkungan yang tenang dan privasi yang terjaga selama perawatan kateter turut berkontribusi dalam menurunkan tingkat kecemasan pasien.
Kode SIKI: I.01250
Deskripsi : Kriteria Luaran: Tingkat kecemasan pasien menurun. Keberhasilan intervensi ditandai dengan penurunan tingkat kecemasan yang dilaporkan oleh pasien sendiri atau yang diamati oleh perawat. Pasien tampak lebih tenang, tidak lagi terlihat tegang atau waspada berlebihan. Pola tidur dan nafsu makan pasien mulai membaik. Pasien mampu mengungkapkan perasaan dan pikirannya dengan lebih jelas dan teratur, menunjukkan bahwa beban kecemasan telah berkurang. Perilaku seperti gemetar, berkeringat dingin, atau gelisah yang sebelumnya muncul sudah tidak terlihat. Pasien dapat berpartisipasi aktif dalam perawatan dirinya dan menunjukkan pemahaman yang baik tentang informasi yang diberikan oleh tenaga kesehatan. Pencapaian luaran ini penting karena kondisi psikologis yang tenang dapat mendukung proses penyembuhan secara keseluruhan dan meningkatkan kepatuhan pasien terhadap rencana perawatan.
-
Article No. 22844 | 18 Nov 2025
Klinis : kejang terus menerus selama 7hari, demam naik turun,
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Otak dan Kejang Berulang
Kode SDKI: 0613
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah ke otak yang dapat membahayakan kesehatan dan fungsi jaringan otak, serta potensi terjadinya episode kejang tambahan.
Kode SLKI: 3408
Deskripsi : SLKI 3408 berfokus pada upaya untuk mempertahankan dan memulihkan perfusi jaringan otak yang adekuat. Tujuan utamanya adalah memastikan otak menerima oksigen dan nutrisi yang cukup untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Intervensi keperawatan dalam SLKI ini mencakup pemantauan ketat terhadap status neurologis pasien, termasuk tingkat kesadaran (dengan menggunakan skala GCS atau AVPU), ukuran dan reaksi pupil, serta fungsi motorik dan sensorik. Perawat akan memantau tanda-tanda vital seperti tekanan darah (untuk menghindari hipotensi atau hipertensi berat yang dapat mempengaruhi tekanan intrakranial), denyut nadi, laju pernapasan, dan saturasi oksigen. Posisi kepala tempat tidur ditinggikan sekitar 30 derajat (kecuali ada kontraindikasi seperti syok atau trauma spinal) untuk memfasilitasi drainase vena dan mengurangi tekanan intrakranial. Pemberian oksigen tambahan dilakukan untuk menjaga saturasi oksigen di atas 95%, sehingga memastikan kecukupan oksigenasi otak. Selain itu, perawat akan memastikan keseimbangan cairan dan elektrolit tetap dalam batas normal, karena baik dehidrasi maupun overhidrasi dapat mempengaruhi tekanan intrakranial dan perfusi serebral. Pemeriksaan gas darah arteri mungkin diperlukan untuk menilai keseimbangan asam-basa dan kecukupan ventilasi. Semua intervensi ini dilakukan secara berkelanjutan dan didokumentasikan dengan cermat untuk mendeteksi secara dini setiap perubahan status neurologis pasien yang dapat mengindikasikan memburuknya perfusi otak.
Kode SIKI: 4206
Deskripsi : SIKI 4206 secara khusus menangani manajemen dan pengendalian kejang. Tindakan ini dimulai dengan memastikan keamanan pasien selama episode kejang untuk mencegah cedera fisik. Perawat akan memasang padding atau bantalan lunak pada sisi tempat tidur, menghindari restrain atau menahan paksa pasien, dan meletakkan pasien pada posisi miring (recovery position) jika memungkinkan setelah kejang untuk menjaga jalan napas tetap terbuka dan memungkinkan drainase sekret. Selama kejang, perawat tidak akan memasukkan benda apapun ke dalam mulut pasien. Tindakan utama adalah pemberian obat antikonvulsan atau antiepilepsi sesuai resep dokter, baik secara intravena, intramuskular, atau melalui jalur lain yang ditentukan. Perawat harus memiliki pengetahuan tentang dosis, cara pemberian, efek terapeutik, dan efek samping dari obat-obatan ini (seperti fenitoin, fenobarbital, diazepam, atau midazolam). Pemantauan respons terapi sangat penting, termasuk pengamatan terhadap berkurangnya frekuensi, durasi, dan intensitas kejang. Perawat juga bertanggung jawab untuk memantau efek samping obat, seperti sedasi berlebihan, depresi pernapasan, atau hipotensi. Selain intervensi farmakologis, perawat akan memastikan lingkungan yang tenang dan redup cahaya untuk meminimalkan stimulasi yang dapat memicu kejang. Setelah kejang berakhir (periode pasca-iktal), perawat akan terus memantau status neurologis, tingkat kesadaran, tanda-tanda vital, dan memberikan dukungan emosional serta edukasi kepada keluarga tentang kondisi pasien dan tindakan yang dilakukan. Dokumentasi yang rinci mengenai karakteristik kejang (waktu mulainya, bagian tubuh yang terlibat, durasi, dan karakteristik pasca-iktal) sangat penting untuk evaluasi pengobatan.
-
Article No. 22845 | 18 Nov 2025
Klinis : kejang terus menerus selama 7hari, demam naik turun,
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Otak
Kode SDKI: 0633
Deskripsi Singkat: Berisiko mengalami penurunan sirkulasi darah ke otak yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 3401
Deskripsi : Perfusi jaringan otak membaik atau tetap adekuat. Tujuan dari SLKI ini adalah untuk memastikan bahwa aliran darah, oksigen, dan nutrisi ke jaringan otak tetap terjaga dalam batas normal, sehingga fungsi neurologis dapat dipertahankan. Kriteria utamanya meliputi tingkat kesadaran yang baik (compos mentis atau GCS 15), tidak adanya kejang, tanda-tanda vital (terutama tekanan darah dan denyut nadi) dalam rentang yang dapat diterima untuk mendukung perfusi otak, serta tidak ada keluhan sakit kepala hebat, pusing, atau penglihatan kabur yang mengindikasikan iskemia serebral. Perawat akan terus memantau status neurologis secara ketat, termasuk pemeriksaan GCS, reaksi pupil, dan fungsi motorik/sensorik, untuk mendeteksi secara dini setiap tanda penurunan perfusi. Selain itu, keseimbangan cairan dan elektrolit juga dijaga untuk mendukung volume intravaskuler yang adekuat. Intervensi seperti posisi kepala tempat tidur ditinggikan 30 derajat (kecuali ada kontraindikasi) dapat dilakukan untuk meningkatkan aliran balik vena dan mengurangi tekanan intrakranial, sehingga turut mendukung perfusi otak yang optimal.
Kode SIKI: 4370
Deskripsi : Intervensi keperawatan ini berfokus pada upaya mempertahankan dan meningkatkan aliran darah serta oksigenasi ke jaringan otak. Langkah pertama dan terpenting adalah memantau status neurologis secara ketat dan berkelanjutan, termasuk menilai tingkat kesadaran (menggunakan Glasgow Coma Scale/GCS), ukuran dan reaksi pupil, kekuatan motorik, dan fungsi sensorik setiap jam atau lebih sering sesuai kebutuhan. Pemantauan tanda-tanda vital, khususnya tekanan darah, sangat krusial untuk memastikan tekanan perfusi serebral yang adekuat; hipotensi harus dihindari karena dapat mengurangi aliran darah ke otak. Oksigenasi harus dioptimalkan dengan memberikan oksigen tambahan jika diperlukan dan memantau saturasi oksigen. Untuk mencegah komplikasi lebih lanjut, manajemen kejang adalah prioritas; perawat akan mengadministrasikan obat antikonvulsan sesuai resep, memastikan lingkungan yang tenang, dan siap dengan alat suction dan pengaman jalan napas. Posisikan pasien dengan kepala tempat tidur ditinggikan 30 derajat untuk memfasilitasi drainase vena dan mengurangi tekanan intrakranial. Keseimbangan cairan harus dikelola dengan hati-hati, menghindari baik dehidrasi maupun kelebihan cairan yang dapat memperburuk edema serebral. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian terapi farmakologis seperti antikonvulsan, diuretik (jika ada edema), dan obat untuk mengontrol demam juga merupakan bagian integral dari intervensi ini. Edukasi kepada keluarga tentang tanda-tanda bahaya yang harus dilaporkan, seperti penurunan kesadaran atau kejang berulang, juga sangat penting dilakukan.
-
Article No. 22846 | 18 Nov 2025
Klinis : kejang terus menerus selama 7hari, demam naik turun,
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Kejang Berkelanjutan dan Demam
Kode SDKI: 0083
Deskripsi Singkat: Risiko Cedera
Kode SLKI: 3418
Deskripsi : SLKI 3418 berfokus pada upaya untuk meminimalkan risiko cedera pada pasien yang mengalami kejang. Intervensi keperawatan ini mencakup serangkaian tindakan protektif dan pengamanan yang komprehensif. Pertama, perawat akan memastikan lingkungan sekitar pasien aman dengan menjauhkan benda-benda keras, tajam, atau berbahaya yang dapat melukai pasien selama kejang. Posisi tempat tidur harus diturunkan dan dipasang pagar tempat tidur, serta lantai di sekitarnya dapat dilapisi dengan matras atau bantal jika memungkinkan. Selama kejang berlangsung, perawat tidak akan menahan gerakan pasien secara paksa, tetapi akan membimbing gerakannya dengan lembut untuk mencegah trauma. Peletakan bantal atau penahan lunak di sekeliling pasien dapat mencegah benturan. Penting untuk tidak memasukkan apapun ke dalam mulut pasien karena justru berisiko menyebabkan patah gigi, tersedak, atau cedera pada rahang. Memposisikan pasien dalam posisi miring (recovery position) setelah kejang mereda membantu menjaga jalan napas tetap terbuka dan memungkinkan drainase sekresi (seperti air liur atau muntahan) sehingga mencegah aspirasi. Pemantauan tanda-tanda vital dan karakteristik kejang (durasi, frekuensi, bagian tubuh yang terlibat) sangat penting untuk evaluasi. Selain itu, edukasi kepada keluarga tentang langkah-langkah pertolongan pertama selama kejang dan cara menciptakan lingkungan yang aman di rumah merupakan bagian integral dari intervensi ini, yang bertujuan untuk memberdayakan keluarga dalam memberikan perawatan yang optimal dan mengurangi rasa takut serta kecemasan mereka ketika menyaksikan serangan kejang.
Kode SIKI: 4418
Deskripsi : SIKI 4418 mengukur keberhasilan dari intervensi keperawatan yang dilakukan untuk mencegah cedera. Kriteria utamanya adalah pasien tetap bebas dari cedera fisik, yang berarti tidak terdapat memar, luka, lecet, fraktur, atau trauma lainnya yang diakibatkan langsung oleh episode kejang. Keberhasilan ini juga ditandai dengan tidak adanya komplikasi pernapasan seperti aspirasi, yang dinilai dari bunyi napas yang bersih dan saturasi oksigen dalam batas normal. Lingkungan fisik di sekitar pasien harus secara konsisten dalam keadaan aman, terbukti dari tidak adanya benda berbahaya di zona risiko dan penggunaan alat protektif seperti pagar tempat tidur yang selalu terpasang dengan benar. Keluarga atau pengasuh pasien juga menjadi subjek evaluasi; mereka harus mampu mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan dalam melindungi pasien dari cedera selama kejang. Ini termasuk menunjukkan cara memposisikan pasien dengan benar, tidak memasukkan benda ke dalam mulut, dan mengetahui kapan harus segera meminta bantuan medis darurat. Kriteria hasil ini tidak hanya bersifat reaktif (setelah kejang) tetapi juga proaktif, yaitu dengan teridentifikasinya faktor-faktor risiko potensial di lingkungan dan telah dilakukan tindakan untuk memodifikasinya. Dengan demikian, SIKI ini menilai aspek keselamatan secara holistik, mulai dari integritas fisik pasien, keamanan lingkungan, hingga kompetensi pengasuh dalam mencegah cedera sekunder akibat kejang.
-
Article No. 22847 | 18 Nov 2025
Klinis : kejang terus menerus selama 7hari, demam naik turun,
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Kejang Berkelanjutan (Status Epileptikus) dengan Demam
Kode SDKI: 0181 Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Deskripsi Singkat: Diagnosis keperawatan ini menggambarkan keadaan di mana seorang individu memiliki kerentanan untuk mengalami penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular, yang dapat membahayakan kesehatan. Pada pasien dengan kejang berkelanjutan dan demam, risiko ini sangat tinggi. Kejang yang berkepanjangan menyebabkan peningkatan aktivitas metabolik yang dramatis, menghasilkan panas dan keringat yang berlebihan (diaforesis), yang menyebabkan kehilangan cairan yang signifikan melalui evaporasi. Demam yang naik turun lebih lanjut memperburuk keadaan dengan meningkatkan laju metabolisme basal dan kehilangan cairan insensibel. Selain itu, selama kejang, kemampuan pasien untuk memasukkan cairan secara oral sangat terbatas atau tidak ada sama sekali, sehingga asupan cairan menjadi nol. Kombinasi dari peningkatan kehilangan cairan dan penurunan asupan ini menciptakan risiko tinggi untuk dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit, yang dapat memperburuk kondisi neurologis dan mempengaruhi stabilitas kardiovaskular.
Kode SLKI: 1406 Pemantauan Keseimbangan Cairan
Deskripsi : Luaran yang diharapkan dari intervensi keperawatan adalah terkendalinya risiko ketidakseimbangan volume cairan, yang ditandai dengan tanda-tanda vital dalam rentang normal, turgor kulit baik, membran mukosa lembab, dan keseimbangan masukan serta haluaran cairan yang adekuat. Secara spesifik, tujuan perawatan adalah mempertahankan volume cairan yang seimbang dengan parameter hemodinamik yang stabil. Tekanan darah, denyut nadi, dan laju pernapasan pasien harus tetap dalam batas normal yang dapat diterima untuk usianya, tanpa adanya tanda-tanda syok hipovolemik seperti takikardia atau hipotensi. Turgor kulit akan kembali elastis ketika dicubit, menunjukkan hidrasi jaringan yang cukup. Membran mukosa mulut dan bibir harus tetap lembab, bukan kering atau pecah-pecah. Asupan cairan, baik melalui oral (jika memungkinkan) maupun intravena, harus seimbang dengan haluaran urin yang adekuat, menunjukkan fungsi ginjal yang baik dan perfusi yang cukup. Pemantauan berat badan harian juga penting untuk mendeteksi perubahan cairan yang cepat. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa tubuh pasien mampu mempertahankan homeostasis cairan meskipun berada di bawah tekanan fisiologis dari kejang dan demam.
Kode SIKI: 2120 Manajemen Kejang
Deskripsi : Intervensi keperawatan ini merupakan tindakan inti dan mendesak dalam menangani pasien dengan kejang berkelanjutan. Tujuannya adalah untuk menghentikan aktivitas kejang, mencegah cedera, mempertahankan fungsi vital, dan mengidentifikasi serta menangani penyebab yang mendasarinya. Tindakan pertama adalah memastikan jalan napas paten. Pasien diposisikan dalam posisi miring (recovery position) jika memungkinkan untuk mencegah aspirasi air liur atau muntahan. Bantuan pernapasan dengan ambu bag dan oksigenasi diberikan jika terjadi depresi pernapasan. Perawat akan segera memasang akses intravena untuk pemberian obat antiepileptik darurat seperti diazepam, midazolam, atau lorazepam sesuai protokol dokter. Selama kejang, pasien dilindungi dari cedera dengan mengamankan lingkungan sekitarnya (misalnya, memagari tempat tidur, meletakkan bantalan di pinggir tempat tidur), tanpa menahan gerakan pasien secara paksa. Pemantauan neurologis ketat dilakukan, termasuk durasi, frekuensi, dan karakteristik kejang. Tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, saturasi oksigen) dipantau secara berkelanjutan. Manajemen demam juga merupakan bagian integral, yang meliputi pemberian antipiretik dan tindakan pendinginan fisik (seperti kompres hangat di lipatan tubuh) untuk menurunkan suhu tubuh dan mengurangi beban metabolik. Dokumentasi yang akurat dan rinci mengenai serangan kejang sangat penting untuk evaluasi pengobatan. Intervensi ini bekerja secara sinergis dengan Manajemen Cairan (SIKI 2020) karena dengan mengendalikan kejang, sumber utama kehilangan cairan dan peningkatan metabolisme dapat dikurangi, sehingga secara tidak langsung mendukung tercapainya keseimbangan volume cairan.
-
Article No. 22848 | 18 Nov 2025
Klinis : Nyeri pada lutut sebelah kiri, kesulitan untuk ditekuk dan dibuat jalan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, yang muncul tiba-tiba atau berlangsung singkat, dengan durasi kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 0730
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Tujuan utama dari SLKI ini adalah untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri yang dialami pasien, meningkatkan kenyamanan, dan memulihkan fungsi. Intervensi keperawatan yang direncanakan mencakup serangkaian tindakan holistik. Pertama, perawat akan melakukan asesmen nyeri yang komprehensif dan berkelanjutan, termasuk lokasi, karakteristik, intensitas (menggunakan skala nyeri), faktor yang memperberat dan meringankan, serta respons emosional pasien. Perawat akan mengajarkan dan mendorong penggunaan teknik non-farmakologis untuk mengatasi nyeri, seperti distraksi (misalnya mendengarkan musik, menonton TV), relaksasi (napas dalam, relaksasi otot progresif), dan terapi dingin atau panas pada area lutut yang nyeri. Posisi tubuh akan diatur untuk memastikan kenyamanan dan mengurangi tekanan pada lutut, misalnya dengan meninggikan kaki yang sakit. Perawat akan mengelola terapi farmakologis (obat pereda nyeri) sesuai resep dokter, memantau efektivitasnya, serta mengawasi efek samping yang mungkin timbul. Edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai nyeri, manajemennya, dan pentingnya melaporkan nyeri secara dini juga merupakan komponen kunci. Selain itu, perawat akan menciptakan lingkungan yang tenang dan mendukung untuk memfasilitasi penyembuhan dan mengurangi kecemasan yang dapat memperberat persepsi nyeri. Evaluasi terhadap respons pasien terhadap intervensi yang diberikan dilakukan secara berkala untuk menyesuaikan rencana perawatan.
Kode SIKI: 0730A
Deskripsi : Lakukan asesmen nyeri secara komprehensif. Tindakan spesifik ini merupakan fondasi dari seluruh manajemen nyeri. Perawat mengumpulkan data subjektif dan objektif tentang pengalaman nyeri pasien. Hal ini dimulai dengan menanyakan kepada pasien untuk mendeskripsikan nyerinya menggunakan pertanyaan terbuka. Perawat menilai intensitas nyeri dengan menggunakan skala yang valid dan sesuai (misalnya, Skala Numerik 0-10, dimana 0 berarti tidak nyeri dan 10 adalah nyeri terhebat yang pernah dibayangkan). Karakteristik nyeri (seperti tajam, tumpul, berdenyut) dan lokasinya (lutut kiri, dengan penyebaran jika ada) dicatat dengan jelas. Perawat juga mengidentifikasi faktor-faktor yang memicu, memperberat, atau meringankan nyeri, misalnya nyeri bertambah saat berjalan atau menekuk lutut, dan berkurang saat diistirahatkan. Asesmen juga mencakup observasi terhadap tanda-tanda nonverbal dari nyeri, seperti ekspresi wajah meringis, postur tubuh yang melindungi lutut, gelisah, atau keterbatasan dalam bergerak. Pengaruh nyeri terhadap aktivitas hidup sehari-hari (seperti kesulitan berjalan, gangguan tidur, dan perubahan mood) juga dievaluasi. Asesmen ini tidak hanya dilakukan sekali, tetapi harus dilakukan secara berulang, sebelum, selama, dan setelah pemberian intervensi untuk mengevaluasi efektivitasnya. Dokumentasi yang akurat dan terperinci dari semua temuan asesmen sangat penting untuk komunikasi antar tim kesehatan dan untuk penyesuaian rencana perawatan.
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Keterbatasan dalam pergerakan fisik yang independen dan bertujuan pada satu atau lebih ekstremitas.
Kode SLKI: 0120
Deskripsi : Manajemen Mobilitas. Tujuan SLKI ini adalah untuk mempertahankan atau memulihkan mobilitas pasien, mencegah komplikasi imobilisasi, dan memaksimalkan kemandirian fungsional. Rencana intervensi difokuskan pada aktivitas yang aman dan bertahap. Perawat akan melakukan asesmen terhadap tingkat ketergantungan pasien menggunakan skala fungsional (misalnya, skala 0-4) untuk mengidentifikasi area mana yang membutuhkan bantuan. Perawat akan membantu pasien dalam melakukan latihan Rentang Gerak (Range of Motion/ROM) baik aktif, aktif asistif, atau pasif pada ekstremitas yang terganggu (lutut kiri) dan yang sehat untuk menjaga kekuatan otot dan fleksibilitas sendi. Bantuan dalam perubahan posisi di tempat tidur atau kursi akan diberikan secara teratur untuk meningkatkan kenyamanan dan sirkulasi. Perawat akan melatih dan mendampingi pasien dalam penggunaan alat bantu mobilitas yang sesuai (seperti tongkat atau walker) untuk memfasilitasi ambulasi (berjalan) yang aman, dengan memperhatikan teknik yang benar untuk mencegah cedera lebih lanjut. Lingkungan akan diatur untuk meminimalkan risiko jatuh, misalnya dengan menjauhkan barang-barang penghalang, memastikan pencahayaan yang cukup, dan lantai tidak licin. Perawat juga akan memantau dan mendokumentasikan kemajuan mobilitas pasien, serta memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya aktivitas, teknik perpindahan yang aman, dan program latihan di rumah. Kolaborasi dengan fisioterapis juga mungkin dilakukan untuk rencana latihan yang lebih spesifik.
Kode SIKI: 0120G
Deskripsi : Bantu melakukan ambulasi. Tindakan ini merupakan implementasi langsung dari upaya meningkatkan mobilitas. Sebelum memulai, perawat melakukan asesmen kesiapan pasien, termasuk tingkat nyeri, kekuatan otot, keseimbangan, dan tanda-tanda vital. Perawat kemudian menjelaskan prosedur ambulasi kepada pasien untuk mengurangi kecemasan dan mendapatkan kerjasama. Pasien didudukkan di tepi tempat tidur terlebih dahulu (duduk dangling) selama beberapa menit untuk menilai toleransinya terhadap perubahan posisi dan mencegah hipotensi ortostatik. Perawat membantu pasien untuk berdiri dengan posisi yang stabil, memberikan dukungan fisik yang diperlukan, misalnya dengan memegang pinggang atau lengan pasien. Jika menggunakan alat bantu, perawat memastikan alat tersebut dalam kondisi baik dan pasien memahami cara menggunakannya dengan benar. Selama ambulasi, perawat berjalan di samping pasien, siap memberikan bantuan jika terjadi ketidakstabilan. Jarak dan durasi ambulasi disesuaikan dengan toleransi pasien dan ditingkatkan secara bertahap. Setelah ambulasi, perawat membantu pasien kembali ke tempat tidur atau kursi dengan aman dan nyaman, kemudian mengevaluasi respons pasien terhadap aktivitas tersebut, termasuk tingkat kelelahan dan perubahan pada nyeri lututnya. Tindakan ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan fungsi fisik tetapi juga membangun kepercayaan diri pasien dalam bergerak kembali.
-
Article No. 22849 | 18 Nov 2025
Klinis : Data Subjektif : - Mengungkapkan tidak memahami masalah kesehatan yang diderita : Ny. S memiliki riwayat hipertensi dengan TD : 138/90 mmhg, tetapi menurutnya itu sudah tidak termasuk dalam hipertensi - Mengungkapkan kesulitan dalam menjalani program pengobatan : Ny. S mengatakan tahu bahwa cara mengatasi hipertensi yaitu mengonsumsi obat namun menurutnya mengkonsumsi obat-obatan jangka panjang dapat menimbulkan efek samping Data Objektif : - Gagal melakukan tindakan untuk mengurangi faktor risiko : Keluarga Ny. S masih mengonsumsi makanan yang tinggi garam walaupun mengetahui pantangan untuk hipertensi - Aktivitas keluarga untuk mengatasi masalah kesehatan tidak tepat : Keluarga tidak rutin memeriksakan kesehatannya ke fasilitas kesehatan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ketidakefektifan Manajemen Kesehatan Keluarga
Kode SDKI: D.0025
Deskripsi Singkat: Suatu kondisi dimana keluarga tidak mampu mengelola program terapeutik untuk mencapai tujuan kesehatan spesifik.
Kode SLKI: L.03125
Deskripsi : Keluarga mampu mengelola program terapeutik. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Keluarga mengidentifikasi masalah kesehatan yang dihadapi, 2) Keluarga menyatakan pemahaman tentang sifat masalah kesehatan dan regimen terapeutik, 3) Keluarga mematuhi regimen terapeutik yang dianjurkan, 4) Keluarga memodifikasi lingkungan untuk mendukung regimen terapeutik, 5) Keluarga memantau kemajuan dan respons terhadap regimen terapeutik, serta 6) Keluarga melakukan tindakan untuk mengurangi faktor risiko.
Kode SIKI: I.01219
Deskripsi : Intervensi untuk meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengelola program terapeutik. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Diskusikan dengan keluarga tentang masalah kesehatan yang dihadapi, 2) Diskusikan dengan keluarga tentang faktor risiko yang dapat memperberat kondisi kesehatan, 3) Diskusikan dengan keluarga tentang pentingnya mematuhi regimen terapeutik, 4) Anjurkan keluarga untuk menghubungi tenaga kesehatan jika terjadi masalah dalam pelaksanaan regimen terapeutik, 5) Fasilitasi keluarga untuk mengakses fasilitas pelayanan kesehatan, 6) Libatkan keluarga dalam pengambilan keputusan tentang regimen terapeutik, 7) Bantu keluarga mengidentifikasi sumber daya yang dimiliki untuk mendukung regimen terapeutik, 8) Ajarkan keluarga tentang teknik manajemen stres, 9) Monitor pemahaman keluarga tentang masalah kesehatan dan regimen terapeutik, serta 10) Monitor kepatuhan keluarga terhadap regimen terapeutik. Penjelasan mendalam: Diagnosa Keperawatan "Ketidakefektifan Manajemen Kesehatan Keluarga" sangat tepat untuk kondisi Ny. S dan keluarganya karena data yang ada menunjukkan kegagalan sistem keluarga dalam mengintegrasikan program perawatan hipertensi ke dalam kehidupan sehari-hari. Data subjektif mengungkapkan miskonsepsi yang mendasar, yaitu keyakinan bahwa tekanan darah 138/90 mmHg bukan lagi termasuk hipertensi. Padahal, menurut standar JNC 7 dan 8, nilai tersebut masih dikategorikan dalam Stage 1 Hypertension. Kesalahpahaman ini menjadi akar masalah, karena tanpa pengakuan terhadap adanya masalah, kepatuhan terhadap terapi akan sangat rendah. Selain itu, terdapat ketakutan yang irasional mengenai konsumsi obat jangka panjang, yang menunjukkan kurangnya pemahaman tentang rasio manfaat-resiko terapi farmakologis untuk kondisi kronis seperti hipertensi. Data objektif memperkuat diagnosis ini dengan menunjukkan bahwa pengetahuan tersebut tidak diterjemahkan ke dalam perilaku. Konsumsi makanan tinggi garam yang masih berlanjut adalah bukti nyata ketidakefektifan manajemen, karena diet rendah natrium adalah pilar utama non-farmakologis dalam penatalaksanaan hipertensi. Ketidakteraturan dalam memeriksakan kesehatan ke fasilitas kesehatan lebih lanjut mencerminkan sikap pasif dan kurangnya komitmen untuk pemantauan jangka panjang, yang sangat krusial bagi penyakit yang seringkali asimtomatik seperti hipertensi. Tujuan dari SLKI L.03125 adalah mengubah keadaan ini secara holistik. Keluarga diharapkan tidak hanya patuh secara buta, tetapi memahami sifat penyakitnya, sehingga dapat membuat keputusan kesehatan yang tepat secara mandiri. Pemantauan menjadi tanggung jawab keluarga, bukan semata-mata tanggung jawab tenaga kesehatan saat kunjungan. Intervensi keperawatan (SIKI I.01219) dirancang untuk menangani setiap aspek masalah. Diskusi tentang masalah kesehatan dan faktor risiko bertujuan untuk meluruskan miskonsepsi dan membangun persepsi yang akurat. Melibatkan keluarga dalam pengambilan keputusan (seperti memilih jenis makanan yang disukai namun tetap sehat) meningkatkan rasa kepemilikan dan komitmen. Mengajarkan manajemen stres juga relevan, karena stres dapat mempengaruhi tekanan darah dan seringkali menjadi pemicu untuk kembali ke kebiasaan lama, seperti mengonsumsi makanan tidak sehat. Memfasilitasi akses ke fasilitas kesehatan dan memonitor pemahaman serta kepatuhan adalah bentuk dukungan berkelanjutan dari perawat untuk memastikan keluarga tidak merasa sendirian dalam menjalani proses ini. Defisit yang mendasari diagnosis ini adalah kurangnya pengetahuan yang komprehensif dan akurat, adanya keyakinan kesehatan yang keliru, ketidakmampuan dalam mengidentifikasi dan memanfaatkan sumber daya, serta kemungkinan kurangnya dukungan sosial dalam keluarga untuk mempertahankan perilaku sehat. Dengan pendekatan SDKI, SLKI, dan SIKI ini, perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang terstruktur dan terukur untuk membangun kemandirian keluarga Ny. S dalam mengendalikan hipertensi dan mencegah komplikasi jangka panjang.
-
Article No. 22850 | 18 Nov 2025
Klinis : Seorang perempuan, Ny. K, 25 tahun, adalah seorang pekerja di sebuah perusahaan swasta di sebuah kota. Ia sudah menikah dan belum memiliki anak. Ny. K datang ke klinik dan mengeluhkan tengkuknya sakit dan sulit digerakkan, serta merasakan beban yang berat pada bagian bahu seperti sedang membawa beban berat. Pasien bekerja sehari-hari di depan laptop, dengan jam kerja lebih dari 10 jam/hari dan sering lembur, serta jarang berolahraga. Sekitar tiga hari ini, ia mengeluhkan sulit memulai tidur, dan sering terbangun di malam hari tanpa sebab. Ia menyukai kopi dan dapat mengonsumsi sampai 3 gelas per hari. Ny. K menyadari bahwa akhir-akhir ini ia sangat mudah tersinggung dan sakit hati dengan perkataan bosnya. Ia sering ingin berhenti bekerja dan pulang kampung meskipun gajinya pas-pasan. Ia mengeluhkan tuntutan pekerjaan yang tidak masuk akal, dengan gaji yang juga tidak begitu besar, namun ia bertahan karena masih ada utang dan tanggungan. Ia sudah membicarakan masalah ini kepada suaminya, dan suami setuju untuk datang ke klinik. Suami sangat mendukung dan nampak sangat peduli pada istrinya.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ansietas dan Nyeri Akut terkait Stres Kerja dan Gaya Hidup
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Ansietas adalah perasaan gelisah yang samar atau ancaman akibat antisipasi bahaya yang sumbernya sebagian besar tidak diketahui atau tidak dikenali oleh individu. Pada Ny. K, ansietas ini dimanifestasikan melalui keluhan fisik (nyeri tengkuk dan bahu, gangguan tidur), emosional (mudah tersinggung, sakit hati), dan kognitif (keinginan untuk berhenti kerja, perasaan terperangkap oleh utang). Sumber ansietasnya jelas, yaitu tuntutan pekerjaan yang tinggi, beban finansial, dan gaya hidup yang tidak seimbang, yang menciptakan perasaan terancam akan stabilitas hidup dan kesejahteraannya.
Kode SLKI: L.03132
Deskripsi : SLKI untuk ansietas berfokus pada upaya menurunkan tingkat kecemasan klien. Intervensi yang direncanakan meliputi: 1) Membantu klien mengidentifikasi penyebab dan pemicu ansietas, seperti tekanan kerja, jam kerja yang panjang, dan kebiasaan konsumsi kafein. 2) Mengajarkan teknik relaksasi sederhana seperti latihan napas dalam atau relaksasi otot progresif untuk mengurangi ketegangan fisik dan mental. 3) Mendorong ekspresi perasaan dan kekhawatiran dalam lingkungan yang aman dan suportif, memanfaatkan dukungan suami yang sangat peduli. 4) Kolaborasi untuk modifikasi gaya hidup, termasuk manajemen waktu kerja, pengurangan asupan kafein, dan memasukkan aktivitas fisik ringan secara bertahap ke dalam rutinitas harian. 5) Membantu klien mengeksplorasi strategi koping adaptif dan realistis dalam menghadapi tekanan di tempat kerja, serta mengidentifikasi sumber dukungan sosial yang dimilikinya.
Kode SIKI: I.01270
Deskripsi : SIKI untuk mengatasi ansietas melibatkan tindakan-tindakan konkret yang dilakukan perawat. Tindakan ini termasuk: 1) Membangun hubungan terapeutik dengan menunjukkan sikap menerima, empati, dan tidak menghakimi untuk menciptakan rasa aman. 2) Memantau tingkat ansietas klien secara berkala, baik melalui skala verbal maupun observasi perilaku (seperti ketegangan otot, gelisah). 3) Melakukan pendampingan aktif dengan mendengarkan secara aktif semua keluhan dan kekhawatiran klien tanpa interupsi. 4) Mengajarkan dan memandu klien secara langsung untuk mempraktikkan teknik relaksasi napas dalam, misalnya dengan menarik napas perlahan melalui hidung, menahannya beberapa detik, dan menghembuskannya perlahan melalui mulut. 5) Memberikan pendidikan kesehatan tentang hubungan antara stres, gaya hidup (kurang gerak, kafein), dan gejala fisik yang dialami. 6) Mendorong klien untuk mengekspresikan perasaannya secara verbal sebagai cara untuk meredakan ketegangan internal. 7) Melibatkan suami dalam proses perawatan dengan memberikan edukasi tentang cara-cara sederhana untuk memberikan dukungan emosional, seperti menjadi pendengar yang baik dan memberikan validasi atas perasaan istri. 8) Jika memungkinkan, merujuk klien untuk konseling lebih lanjut guna mengelola stres kerja dan masalah psikologis yang mendalam.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0021
Deskripsi Singkat: Nyeri akut adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, yang onsetnya baru saja terjadi atau baru berlangsung dalam waktu singkat (kurang dari 3 bulan). Pada Ny. K, nyeri akut di daerah tengkuk dan bahu secara langsung berkaitan dengan postur tubuh yang statis dan tegang dalam waktu lama saat bekerja di depan laptop, serta diperburuk oleh ketegangan otot akibat stres psikologis (ansietas). Nyeri ini bersifat multifaktorial, di mana faktor fisik (postur) dan psikogenik (stres) saling memperberat, menciptakan sensasi "beban berat" pada bahu.
Kode SLKI: L.08031
Deskripsi : SLKI untuk nyeri akut bertujuan untuk mengontrol dan mengurangi nyeri yang dialami klien. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Klien melaporkan penurunan intensitas nyeri pada skala nyeri, misalnya dari skala 7 (skala 0-10) menjadi di bawah 3. 2) Klien mampu menunjukkan perilaku yang menunjukkan kenyamanan meningkat, seperti ekspresi wajah yang lebih rileks dan mampu menggerakkan area leher dan bahu dengan lebih leluasa. 3) Klien dapat mendemonstrasikan teknik non-farmakologis yang dipelajari untuk mengatasi nyeri, seperti teknik relaksasi atau peregangan otot sederhana. 4) Klien mampu beristirahat dan tidur dengan lebih nyenyak tanpa sering terbangun karena nyeri. 5) Klien memahami faktor-faktor yang memicu dan memperberat nyerinya serta komitmen untuk memodifikasi postur kerja.
Kode SIKI: I.07948
Deskripsi : SIKI untuk menangani nyeri akut mencakup serangkaian tindakan: 1) Melakukan penilaian nyeri yang komprehensif dengan menggunakan metode PQRST (Provocation/Palliation, Quality, Region/Radiation, Severity, Timing) untuk memahami karakteristik nyeri secara mendalam. 2) Mengajarkan dan membantu klien melakukan teknik non-farmakologis untuk meredakan nyeri, seperti kompres hangat pada area tengkuk dan bahu untuk merelaksasi otot yang tegang. 3) Melatih klien melakukan latihan peregangan (stretching) otot leher dan bahu yang sederhana dan aman yang dapat dilakukan di sela-sela waktu kerja. 4) Memberikan edukasi ergonomi tentang posisi duduk yang benar, penempatan monitor laptop setara dengan mata, dan pentingnya melakukan istirahat singkat (micro-breaks) setiap 30-60 menit untuk meregangkan badan. 5) Kolaborasi dengan tenaga medis untuk pemberian analgetik jika nyeri sangat mengganggu dan intervensi non-farmakologis belum cukup. 6) Memantau efektivitas intervensi yang diberikan dengan mengevaluasi kembali skala nyeri klien dan menanyakan adanya efek samping dari terapi yang dilakukan. 7) Mengintegrasikan manajemen nyeri dengan manajemen ansietas, karena keduanya saling terkait, dengan menjelaskan hubungan antara ketegangan pikiran dan ketegangan otot.
-
Article No. 22851 | 18 Nov 2025
Klinis : Seorang perempuan, Ny. K, 25 tahun, adalah seorang pekerja di sebuah perusahaan swasta di sebuah kota. Ia sudah menikah dan belum memiliki anak. Ny. K datang ke klinik dan mengeluhkan tengkuknya sakit dan sulit digerakkan, serta merasakan beban yang berat pada bagian bahu seperti sedang membawa beban berat. Pasien bekerja sehari-hari di depan laptop, dengan jam kerja lebih dari 10 jam/hari dan sering lembur, serta jarang berolahraga. Sekitar tiga hari ini, ia mengeluhkan sulit memulai tidur, dan sering terbangun di malam hari tanpa sebab. Ia menyukai kopi dan dapat mengonsumsi sampai 3 gelas per hari. Ny. K menyadari bahwa akhir-akhir ini ia sangat mudah tersinggung dan sakit hati dengan perkataan bosnya. Ia sering ingin berhenti bekerja dan pulang kampung meskipun gajinya pas-pasan. Ia mengeluhkan tuntutan pekerjaan yang tidak masuk akal, dengan gaji yang juga tidak begitu besar, namun ia bertahan karena masih ada utang dan tanggungan. Ia sudah membicarakan masalah ini kepada suaminya, dan suami setuju untuk datang ke klinik. Suami sangat mendukung dan nampak sangat peduli pada istrinya.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Gangguan Somatoform dan Stres Kerja
Kode ICD-10: F45.0
Deskripsi Singkat : Berdasarkan keluhan dan riwayat Ny. K, kondisi ini mengarah pada Gangguan Somatoform, yang diklasifikasikan dalam ICD-10 sebagai F45.0. Gangguan ini ditandai dengan adanya gejala fisik (seperti nyeri tengkuk, beban pada bahu, dan insomnia) yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh kondisi medis umum dan secara kuat dipicu oleh faktor psikologis, dalam hal ini stres kerja. Kode F45.0 secara spesifik merujuk pada gangguan di mana keluhan fisik yang menonjol (seperti nyeri dan kelelahan) berhubungan erat dengan konflik atau stresor psikososial. Faktor risiko pada Ny. K sangat mendukung diagnosis ini, termasuk postur kerja statis yang buruk di depan laptop lebih dari 10 jam/hari, gaya hidup sedentari, konsumsi kafein berlebihan yang dapat memperparah kecemasan dan insomnia, serta tekanan psikologis dari tuntutan pekerjaan yang tinggi, perasaan tidak dihargai, dan masalah finansial. Keluhan fisik yang dialami merupakan manifestasi tubuh terhadap beban mental dan emosional yang berlebihan. Dukungan suami merupakan faktor protektif yang penting dalam penanganan kondisi ini. Penanganan memerlukan pendekatan holistik, termasuk terapi fisik untuk mengatasi ketegangan otot, manajemen stres, modifikasi gaya hidup, dan mungkin konseling psikologis untuk mengatasi akar permasalahan emosional dan stres kerjanya.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 22852 | 18 Nov 2025
Klinis : Laki-laki, 65 tahun, dibawa ke RS dengan keluhan nyeri hebat pada kaki kanan yang memburuk dalam 2 minggu terakhir, terutama saat berjalan sejauh 100 meter dan mereda saat istirahat (claudication). Pasien memiliki riwayat merokok 40 tahun (2 bungkus/hari), hipertensi, dan diabetes melitus tipe 2 yang tidak terkontrol baik. Pada pemeriksaan fisik ditemukan kaki kanan teraba dingin, pucat, pengisian kapiler >3 detik, serta nadi dorsalis pedis dan tibialis posterior yang melemah dibanding sisi kontralateral. Pemeriksaan ABI (Ankle-Brachial index) menunjukkan nilai 0.65 pada kaki kanan, mendukung diagnosis PAD stadium III berdasarkan klasifikasi Fontaine.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Penyakit Arteri Perifer (PAD) Stadium III (Fontaine) pada Ekstremitas Bawah Kanan dengan Ulserasi atau Gangren
Kode ICD-10: I73.9
Deskripsi Singkat : Kondisi ini menggambarkan Penyakit Arteri Perifer (PAD) stadium lanjut pada tungkai kanan, yang diklasifikasikan sebagai Stadium III menurut Fontaine. Hal ini ditandai dengan klaudikasio (nyeri kaki saat berjalan yang membaik dengan istirahat) yang memburuk dan nyeri iskemia saat istirahat, menunjukkan aliran darah yang sangat berkurang. Temuan klinis seperti kaki dingin, pucat, pengisian kapiler lambat, dan nadi yang melemah mengonfirmasi iskemia kritis. Nilai Ankle-Brachial Index (ABI) sebesar 0.65 (< 0.90) secara objektif mendiagnosis PAD. Riwayat panjang merokok, hipertensi, dan diabetes yang tidak terkontrol merupakan faktor risiko utama yang mempercepat aterosklerosis, menyebabkan penyempitan arteri di tungkai. Kode I73.9 mengacu pada 'Penyakit vaskular perifer, tidak ditentukan', yang dalam konteks ini mencakup PAD aterosklerotik yang menyebabkan iskemia ekstremitas. Kode ini menangkap esensi dari obstruksi aliran darah arteri ke ekstremitas bawah, yang menyebabkan gejala iskemik seperti yang dialami pasien, meskipun untuk spesifisitas yang lebih tinggi mengenai lokasi dan komplikasi (seperti ulserasi/gangren), kode tambahan mungkin diperlukan dalam pengaturan klinis yang sebenarnya.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***