Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24428 | 12 Mar 2026
Klinis : pasien anak berusia 3 tahun dengan keluhan pasien nyeri perut, demam naik turun, diare 8x, mual muntah 8x, mata cowong
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit
Kode SDKI: 0205
Deskripsi Singkat: Keadaan ketidakseimbangan antara asupan dan pengeluaran cairan dan/atau elektrolit yang mengakibatkan ketidakadekuatan fungsi tubuh.
Kode SLKI: 2001
Deskripsi : Keseimbangan cairan dan elektrolit tercapai. Kriteria hasil: 1) Tanda vital dalam rentang normal untuk usia (nadi, pernapasan, tekanan darah). 2) Turgor kulit baik (kembali cepat saat dicubit). 3) Membran mukosa bibir dan lidah lembab. 4) Produksi urin adekuat sesuai usia (output urin minimal 1-2 mL/kg/jam). 5) Tidak ada tanda dehidrasi lebih lanjut (mata tidak cowong, fontanel tidak cekung). 6) Hasil pemeriksaan laboratorium elektrolit (Na, K, Cl) dalam batas normal.
Kode SIKI: 3400
Deskripsi : Manajemen Cairan. Intervensi keperawatan: 1) Monitor tanda-tanda vital (suhu, nadi, pernapasan, tekanan darah) setiap 2-4 jam atau sesuai kondisi. 2) Observasi tanda-tanda dehidrasi: turgor kulit, keadaan membran mukosa (bibir, lidah), mata (cowong/sunken eyes), fontanel (pada bayi), produksi urin, dan kesadaran. 3) Ukur dan catat asupan dan keluaran cairan (intake-output) secara akurat, termasuk frekuensi dan konsistensi diare serta muntah. 4) Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai resep dokter (jenis cairan, kecepatan tetesan) dengan mempertimbangkan berat badan anak. 5) Lakukan perawatan area perianal dengan hati-hati setelah setiap episode diare untuk mencegah iritasi dan ruam popok. 6) Berikan edukasi kepada orang tua tentang pentingnya pemberian cairan oral (oralit, air putih, kuah sayur) dalam jumlah kecil namun sering untuk mengganti cairan yang hilang. 7) Monitor hasil pemeriksaan laboratorium (elektrolit, hematokrit, BUN) dan laporkan setiap kelainan. 8) Timbang berat badan setiap hari dengan timbangan yang sama dan pakaian yang sama untuk memantau kehilangan cairan. 9) Atur posisi yang nyaman untuk mengurangi nyeri perut dan mencegah aspirasi saat muntah. 10) Kolaborasi pemberian obat antiemetik dan antipiretik sesuai resep untuk mengontrol muntah dan demam.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0719
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berakhir dalam waktu 3 bulan.
Kode SLKI: 071901
Deskripsi : Kontrol nyeri. Kriteria hasil: 1) Ekspresi wajah rileks, tidak menangis atau mengerang kesakitan. 2) Dapat beristirahat dan tidur dengan cukup. 3) Perilaku bermain sesuai usia mulai kembali. 4) Melaporkan (jika bisa) atau menunjukkan melalui skala nyeri wajah (Wong-Baker Faces Scale) bahwa nyeri berkurang atau hilang (skala 0-2). 5) Tanda vital (terutama nadi dan tekanan darah) dalam batas normal untuk usia.
Kode SIKI: 0840
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi keperawatan: 1) Lakukan pengkajian nyeri komprehensif menggunakan skala yang sesuai usia (FLACC Scale atau Wong-Baker Faces Scale), lokasi, karakteristik, durasi, dan faktor pencetus/pereda. 2) Observasi tanda nonverbal nyeri pada anak: menangis, gelisah, ekspresi wajah menyeringit, postur tubuh melindungi perut, penolakan untuk makan/minum. 3) Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman, redupkan cahaya jika perlu. 4) Lakukan distraksi sesuai usia (misalnya, membacakan cerita, menonton video, bermain lembut). 5) Lakukan teknik kompres hangat pada abdomen (jika tidak kontraindikasi dengan kondisi inflamasi akut) untuk mengurangi spasme dan nyeri. 6) Atur posisi yang nyaman, seperti posisi miring dengan lutut ditekuk atau posisi sesuai kenyamanan anak. 7) Kolaborasi pemberian analgesik sesuai resep dokter (misalnya parasetamol untuk demam dan nyeri), evaluasi efektivitas dan efek sampingnya. 8) Ajarkan pada orang tua teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri pada anak. 9) Monitor dan catat respons anak terhadap intervensi nyeri yang diberikan.
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: 0702
Deskripsi Singkat: Suhu tubuh meningkat di atas rentang normal sebagai respons terhadap proses patologis.
Kode SLKI: 070201
Deskripsi : Kontrol suhu tubuh. Kriteria hasil: 1) Suhu tubuh dalam rentang normal (36,5°C - 37,5°C aksila). 2) Kulit teraba hangat, tidak panas. 3) Tidak ada menggigil (rigor). 4) Tanda vital lain (nadi, pernapasan) stabil dalam batas normal untuk usia.
Kode SIKI: 3900
Deskripsi : Manajemen Hipertermia. Intervensi keperawatan: 1) Monitor suhu tubuh secara berkala (setiap 2-4 jam) dan catat pola demam (naik turun). 2) Lakukan tindakan pendinginan fisik: kompres hangat di dahi, ketiak, dan lipat paha; hindari kompres dingin/es karena dapat menyebabkan menggigil. 3) Anjurkan dan bantu pemberian cairan per oral yang adekuat untuk mencegah dehidrasi dan membantu regulasi suhu. 4) Gunakan pakaian yang tipis, menyerap keringat, dan tidak terlalu tebal. 5) Atur suhu ruangan agar sejuk dan nyaman. 6) Kolaborasi pemberian antipiretik (seperti parasetamol) sesuai resep dokter, perhatikan dosis berdasarkan berat badan. 7) Observasi tanda-tanda kejang demam, terutama pada anak dengan riwayat atau suhu yang sangat tinggi (>39°C). 8) Berikan edukasi kepada orang tua tentang tata laksana demam di rumah dan tanda bahaya yang harus diwaspadai.
Kondisi: Risiko Syok Hipovolemik
Kode SDKI: 0206
Deskripsi Singkat: Keadaan rentan terhadap penurunan perfusi jaringan yang mengancam jiwa akibat kehilangan cairan intravaskuler, yang dapat mengganggu kesehatan.
Kode SLKI: 2002
Deskripsi : Status sirkulasi adekuat dipertahankan. Kriteria hasil: 1) Tanda vital stabil (tekanan darah sistolik dalam batas normal untuk usia, nadi kuat dan teratur, capillary refill time < 2 detik). 2) Kesadaran compos mentis (responsif). 3) Warna kulit normal, tidak pucat atau sianosis. 4) Produksi urin adekuat (>1 mL/kg/jam). 5) Tidak terjadi penurunan kesadaran atau tanda syok lebih lanjut.
Kode SIKI: 4040
Deskripsi : Pemantauan Syok. Intervensi keperawatan: 1) Monitor ketat tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) setiap 1-2 jam atau lebih sering sesuai kondisi. 2) Evaluasi capillary refill time (CRT) dan warna kulit/kuku secara berkala. 3) Pantau tingkat kesadaran anak (menggunakan skala AVPU: Alert, Voice, Pain, Unresponsive) setiap jam. 4) Ukur dan catat balance cairan (intake-output) secara ketat. Perhatikan penurunan output urin yang signifikan. 5) Observasi tanda-tanda syok dini: takikardia, kulit dingin/lembab, gelisah, penurunan produksi urin. 6) Siapkan akses intravena yang adekuat dan paten. 7) Kolaborasi pemberian cairan resusitasi intravena sesuai protokol atau resep dokter untuk mengatasi defisit cairan. 8) Posisikan anak dengan posisi trendelenburg (kaki lebih tinggi) jika tidak ada kontraindikasi untuk meningkatkan aliran darah ke otak. 9) Segera laporkan tanda-tanda syok yang memburuk (seperti hipotensi, nadi lemah, penurunan kesadaran) kepada dokter. 10) Berikan oksigen tambahan jika diperlukan untuk mempertahankan saturasi oksigen >95%.
-
Article No. 24429 | 12 Mar 2026
Klinis : - Pasien mengatakan anak masih sekolah dan bergantung secara finansial. - Pasien mengatakan khawatir terkait kondisi keuangan keluarga. - Pasien mengatakan tidak dapat bekerja secara optimal. DO: - Pasien mengalami keterbatasan aktivitas akibat kelemahan ekstremitas kiri.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: D.0012
Deskripsi Singkat: Ansietas adalah suatu keadaan individu atau kelompok yang mengalami perasaan gelisah (seperti perasaan khawatir yang samar atau takut akan bahaya yang tidak jelas) dan aktivitas sistem saraf otonom sebagai respons terhadap ancaman yang tidak spesifik atau tidak diketahui. Pada kasus ini, ancaman tersebut berasal dari kondisi keuangan keluarga yang tidak stabil akibat ketidakmampuan pasien bekerja optimal pasca stroke, ditambah tanggung jawab finansial terhadap anak yang masih sekolah.
Kode SLKI: L.07110
Deskripsi : SLKI L.07110 adalah "Tingkat ansietas menurun". Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: 1) Klien mampu mengidentifikasi penyebab ansietas, dalam hal ini hubungan antara kelemahan fisik, ketidakmampuan bekerja, dan tekanan keuangan. 2) Klien melaporkan penurunan perasaan tegang, khawatir, dan takut yang berlebihan terkait kondisi keuangan. 3) Klien menunjukkan tanda-tanda fisiologis ansietas menurun (seperti frekuensi nadi dan pernapasan dalam rentang normal, tidak gelisah). 4) Klien mampu mendemonstrasikan teknik relaksasi untuk mengatasi ansietas. 5) Klien mulai mengungkapkan perasaannya secara verbal dan mencari informasi atau dukungan untuk mengatasi masalah keuangan. Tujuan dari SLKI ini adalah agar klien mencapai tingkat ansietas yang dapat dikelola sehingga tidak lagi menghambat proses adaptasi dan rehabilitasi kondisi fisiknya.
Kode SIKI: I.05246
Deskripsi : SIKI I.05246 adalah "Manajemen Ansietas". Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Membina hubungan saling percaya dengan menunjukkan sikap empati, mendengarkan aktif, dan menerima tanpa menghakami semua keluhan pasien. 2) Mengkaji tingkat ansietas, sumber, dan manifestasinya secara komprehensif. 3) Mendorong ekspresi perasaan, ketakutan, dan kekhawatiran secara verbal. Perawat dapat berkata, "Coba ibu ceritakan lebih detail kekhawatiran tentang biaya sekolah anak dan kebutuhan sehari-hari." 4) Mengajarkan teknik relaksasi sederhana seperti napas dalam (deep breathing) dan relaksasi progresif untuk mengurangi ketegangan segera. 5) Membantu klien mengidentifikasi mekanisme koping yang biasa digunakan dan efektivitasnya, serta mengembangkan strategi koping adaptif baru. 6) Melibatkan keluarga (suami/istri, anak dewasa) dalam diskusi untuk membangun sistem pendukung dan mencari solusi bersama. 7) Kolaborasi dengan pekerja sosial atau konselor untuk memberikan dukungan psikososial dan eksplorasi bantuan keuangan atau program jaminan sosial yang tersedia. 8) Membantu klien menetapkan prioritas masalah dan tujuan realistis jangka pendek terkait keuangan dan rehabilitasi. 9) Meminimalkan stimulus yang dapat meningkatkan ansietas, seperti pembicaraan tentang utang atau ketidakpastian tanpa solusi. 10) Memberikan pendidikan kesehatan tentang kondisi stroke dan proses pemulihan, sehingga klien memiliki harapan realistis tentang kemungkinan kembali bekerja. Intervensi ini bersifat holistik, menggabungkan pendekatan psikologis, edukasi, dan kolaborasi untuk mengurangi beban ansietas dan memberdayakan klien menghadapi krisis keuangannya.
-
Article No. 24430 | 12 Mar 2026
Klinis : - Pasien mengatakan anak masih sekolah dan bergantung secara finansial. - Pasien mengatakan khawatir terkait kondisi keuangan keluarga. - Pasien mengatakan tidak dapat bekerja secara optimal. DO: - Pasien mengalami keterbatasan aktivitas akibat kelemahan ekstremitas kiri. Perubahan kondisi kesehatan yang menyebabkan keterbatasan dalam bekerja dan menjalankan peran sebagai kepala keluarga Risiko ketidakmampuan peran
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakmampuan Peran
Kode SDKI: D.0058
Deskripsi Singkat: Risiko ketidakmampuan peran adalah kondisi di mana individu atau keluarga rentan mengalami ketidakmampuan dalam menjalankan peran dan fungsi yang diharapkan secara sosial, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari keluarga dan masyarakat. Kondisi ini ditandai dengan adanya faktor-faktor risiko yang dapat mengganggu pemenuhan peran, seperti perubahan kondisi kesehatan, stresor psikososial, ketidakadekuatan dukungan sosial, atau perubahan struktur keluarga. Pada kasus ini, pasien mengalami perubahan mendadak dalam kondisi kesehatannya (kelemahan ekstremitas kiri) yang membatasi aktivitas dan kemampuannya untuk bekerja. Sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab secara finansial untuk anak yang masih sekolah, pasien mengalami kecemasan dan kekhawatiran yang mendalam terkait keberlangsungan ekonomi keluarga. Ketidakmampuan untuk bekerja secara optimal merupakan ancaman langsung terhadap perannya sebagai pencari nafkah, yang berpotensi menimbulkan disfungsi peran. Risiko ini mencakup tidak hanya kegagalan dalam peran pekerjaan, tetapi juga dampak pada peran sebagai ayah dan suami, dimana dukungan emosional dan pengambilan keputusan dalam keluarga juga dapat terganggu. Faktor risiko yang utama adalah perubahan fisik yang mengakibatkan disabilitas, disertai dengan tekanan psikologis berupa kecemasan dan kekhawatiran yang dapat memperburuk adaptasi terhadap peran yang baru atau yang dimodifikasi.
Kode SLKI: L.03120
Deskripsi : SLKI L.03120 berfokus pada Peningkatan Kemampuan Peran. Tujuan utama dari luaran ini adalah agar pasien mampu mengenali, menerima, dan menjalankan peran yang dimodifikasi atau baru dengan efektif, serta mempertahankan keseimbangan dalam hubungan keluarga dan sosial. Deskripsi pencapaian luaran ini meliputi beberapa aspek kritis. Pertama, pasien dapat mengidentifikasi dan mengungkapkan perasaan, kekhawatiran, serta hambatan yang dirasakan terkait dengan perannya saat ini. Kedua, pasien bersama keluarga mulai mengeksplorasi dan merencanakan penyesuaian peran yang realistis sesuai dengan kemampuan fisik dan kondisi kesehatannya yang baru. Ini mencakup pembagian tugas dalam keluarga, pencarian sumber dukungan finansial alternatif (seperti bantuan sosial, asuransi, atau pekerjaan yang dapat disesuaikan), serta pengaturan ulang prioritas keluarga. Ketiga, pasien menunjukkan keterlibatan aktif dalam pengambilan keputusan keluarga meskipun dengan keterbatasan, sehingga rasa kontrol dan harga dirinya tetap terjaga. Keempat, pasien dan keluarga mampu memanfaatkan sumber daya yang tersedia di komunitas, seperti layanan rehabilitasi medis, konseling, atau kelompok dukungan. Kelima, terjadi komunikasi yang terbuka dan saling mendukung antar anggota keluarga mengenai perubahan yang terjadi, mengurangi konflik peran dan stres. Pencapaian luaran ini diukur melalui penurunan tingkat kecemasan pasien, adanya rencana konkret untuk mengelola keuangan dan pekerjaan, serta laporan dari keluarga tentang adaptasi yang berjalan dalam dinamika rumah tangga.
Kode SIKI: I.05055
Deskripsi : Intervensi I.05055 adalah Manajemen Peran. Intervensi ini merupakan serangkaian tindakan keperawatan yang sistematis untuk membantu individu dan keluarga dalam mengatasi hambatan dalam menjalankan peran, memfasilitasi transisi peran, dan memulihkan fungsi peran yang seimbang. Implementasinya dimulai dengan Pengkajian Mendalam terhadap persepsi pasien tentang perannya, harapan keluarga, sumber stres, kekuatan koping, dan sumber daya pendukung yang tersedia. Perawat kemudian membangun hubungan terapeutik untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi pasien mengungkapkan ketakutan dan kecemasannya terkait keuangan dan masa depan keluarga. Intervensi kunci meliputi: (1) Fasilitasi Ekspresi Emosi, dengan mendorong pasien untuk mengungkapkan perasaan kehilangan, ketidakberdayaan, atau kekhawatiran tanpa penghakiman. (2) Identifikasi dan Modifikasi Peran, yaitu berkolaborasi dengan pasien dan keluarga untuk menganalisis tugas-tugas peran yang tidak dapat lagi dilakukan secara penuh, dan bersama-sama merancang pembagian tugas yang baru dan adil. (3) Penguatan Mekanisme Koping, dengan melatih teknik relaksasi dan manajemen stres untuk mengurangi kecemasan. (4) Eksplorasi Sumber Daya, membantu keluarga mengidentifikasi dan mengakses bantuan keuangan (program bantuan pemerintah, BPJS Ketenagakerjaan), layanan rehabilitasi vokasional untuk pelatihan keterampilan baru, atau dukungan dari jaringan sosial seperti keluarga besar dan komunitas keagamaan. (5) Konseling dan Edukasi Keluarga, mengedukasi keluarga tentang kondisi pasien dan pentingnya dukungan emosional serta praktis dalam proses adaptasi. (6) Rujukan dan Kolaborasi, merujuk pasien ke pekerja sosial, konselor finansial, atau psikolog klinis jika diperlukan, serta berkolaborasi dengan tim medis untuk optimasi terapi fisik guna meningkatkan kemandirian aktivitas. Seluruh intervensi didokumentasikan dan dievaluasi secara berkala untuk menilai kemajuan adaptasi peran dan mencegah terjadinya disfungsi peran yang permanen.
-
Article No. 24431 | 12 Mar 2026
Klinis : pasienn makan hanya 1/2 porsi kadang 1/4 porsi
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Penurunan Asupan Makanan
Kode ICD-10: R63.4
Deskripsi Singkat : Kode R63.4 mengindikasikan "Perubahan dan penurunan asupan makanan". Kondisi ini menggambarkan situasi di mana pasien mengalami penurunan jumlah atau porsi makanan yang dikonsumsi secara signifikan dari kebutuhan normal, seperti yang dilaporkan hanya makan setengah atau seperempat porsi. Ini bukan diagnosis penyakit spesifik, melainkan gejala atau tanda yang penting untuk dicatat dalam rekam medis. Penurunan asupan makanan dapat menjadi manifestasi dari berbagai masalah kesehatan yang mendasarinya, seperti gangguan saluran cerna, infeksi, penyakit metabolik, gangguan psikologis (misalnya depresi atau anoreksia), efek samping pengobatan, atau kondisi lain yang memengaruhi nafsu makan dan kemampuan menelan. Pencatatan ini sangat krusial untuk pemantauan status nutrisi pasien, penilaian risiko malnutrisi atau dehidrasi, dan perencanaan intervensi gizi atau medis lebih lanjut. Penggunaan kode ini dalam konteks pelatihan dan simulasi membantu peserta memahami pentingnya mendokumentasikan gejala non-spesifik secara akurat sebagai bagian dari proses pengkodean yang mengarah pada diagnosis definitif.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24432 | 12 Mar 2026
Klinis : pasienn makan hanya 1/2 porsi kadang 1/4 porsi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Risiko gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh adalah keadaan individu yang berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Kondisi ini ditandai dengan faktor risiko seperti penurunan asupan makanan, seperti yang dialami pasien yang hanya makan 1/2 hingga 1/4 porsi dari yang disajikan. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti anoreksia, mual, muntah, disfagia, kesulitan finansial, kurangnya pengetahuan, atau masalah psikologis. Jika tidak diintervensi, risiko ini dapat berkembang menjadi masalah nutrisi aktual yang berdampak pada penurunan berat badan, kelemahan otot, gangguan penyembuhan luka, penurunan fungsi imun, dan akhirnya meningkatkan morbiditas.
Kode SLKI: L.03101
Deskripsi : SLKI L.03101 adalah Peningkatan Asupan Nutrisi. Standar Luaran Keperawatan ini bertujuan agar asupan nutrisi pasien meningkat hingga memenuhi kebutuhan tubuhnya. Indikator pencapaiannya meliputi: 1) Pengetahuan pasien/keluarga tentang kebutuhan nutrisi meningkat, 2) Nafsu makan pasien membaik, 3) Porsi makan yang dikonsumsi pasien meningkat (misalnya dari 1/4 porsi menjadi 3/4 atau 1 porsi penuh), 4) Frekuensi makan sesuai kebutuhan, 5) Asupan protein, karbohidrat, dan lemak sesuai kebutuhan, 6) Tidak ada penurunan berat badan yang tidak diinginkan, dan 7) Nilai laboratorium terkait nutrisi (seperti albumin dan hemoglobin) dalam batas normal. Perawat akan memantau parameter ini untuk mengevaluasi keberhasilan intervensi dalam mengatasi risiko gangguan nutrisi. Target luaran adalah pasien dapat mencapai dan mempertahankan status gizi yang adekuat, ditunjukkan dengan peningkatan konsumsi porsi makan secara konsisten dan stabilisasi berat badan.
Kode SIKI: I.05201
Deskripsi : SIKI I.05201 adalah Manajemen Nutrisi. Intervensi keperawatan ini mencakup serangkaian tindakan yang dilakukan perawat untuk membantu pasien dalam mencapai asupan nutrisi yang optimal. Tindakan-tindakan tersebut meliputi: 1) Mengkaji faktor penyebab penurunan asupan makanan (misalnya, nyeri saat menelan, mual, depresi, atau faktor lingkungan), 2) Memantau berat badan secara teratur, 3) Berkolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori dan jenis diet yang sesuai, 4) Memberikan makanan dalam porsi kecil namun sering untuk memudahkan pasien, 5) Menciptakan lingkungan makan yang nyaman dan bebas bau tidak sedap, 6) Memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi dan cara memilih makanan yang kaya nutrisi, 7) Mendukung pasien selama waktu makan (misalnya, membantu posisi, menyiapkan makanan), 8) Memodifikasi tekstur makanan jika diperlukan (misalnya, makanan lunak atau cair), 9) Mengatur jadwal pemberian obat yang mungkin mempengaruhi nafsu makan, dan 10) Memotivasi dan memberikan pujian atas setiap peningkatan asupan. Intervensi ini bersifat holistik, tidak hanya berfokus pada makanan itu sendiri, tetapi juga pada faktor psikologis, sosial, dan lingkungan yang mempengaruhi perilaku makan pasien. Tujuannya adalah untuk menghilangkan atau meminimalkan faktor risiko sehingga risiko gangguan nutrisi tidak menjadi masalah aktual dan kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi.
-
Article No. 24433 | 12 Mar 2026
Klinis : Pandangan mata gelap, stamina, rasa lelah dan stamina menurun, jantung berdebar, hilang keseimbangan, tidak mampu berkonsentrasi, Perasaan seperti mabuk, otot terasa sakit, mual dan muntah, daya pikir menurun, berkeringat. penglihatan ganda, kelumpuhan otot-otot wajah sakit kepala yang berat kesadaran terganggu, tidak mampu berkata-kata
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Serebral
Kode SDKI: 0029
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah sirkulasi ke otak yang dapat mengakibatkan gangguan nutrisi dan oksigenasi jaringan otak.
Kode SLKI: 3401
Deskripsi : Perfusi Serebral: Tercapainya perfusi serebral yang adekuat ditandai dengan kesadaran penuh (GCS 15), tanda-tanda vital dalam rentang normal untuk pasien, tidak ada sakit kepala hebat, pusing, sinkop, atau gangguan penglihatan (pandangan gelap, penglihatan ganda), fungsi kognitif dan motorik utuh (mampu berkonsentrasi, berbicara jelas, keseimbangan baik), serta tidak ada kelumpuhan saraf kranial (seperti otot wajah).
Kode SIKI: 4320
Deskripsi : Pemantauan Neurologis: Tindakan sistematis untuk mengobservasi dan mendokumentasi status neurologis pasien guna mendeteksi dini perubahan dan mencegah komplikasi. Intervensi ini meliputi pemantauan kesadaran menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS) secara berkala, menilai ukuran dan reaksi pupil terhadap cahaya, memeriksa kekuatan motorik dan sensasi pada ekstremitas, mengobservasi fungsi saraf kranial (terutama saraf wajah saat ada kelumpuhan), serta mengevaluasi kemampuan bicara dan kognitif (konsentrasi, daya pikir). Pemantauan tanda-tanda vital, khususnya tekanan darah, nadi, dan pernapasan, juga integral karena berkaitan langsung dengan tekanan perfusi serebral. Perawat mendokumentasikan semua temuan secara akurat dan melaporkan setiap penurunan status neurologis segera kepada tim medis.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: 00094
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: 0101
Deskripsi : Toleransi Aktivitas: Pasien menunjukkan peningkatan toleransi aktivitas yang ditandai dengan kemampuan melakukan aktivitas tanpa keluhan lelah berlebihan, jantung berdebar, pandangan gelap, atau sesak napas. Tanda vital (nadi, tekanan darah, pernapasan) kembali ke baseline dalam waktu 3 menit setelah aktivitas. Pasien dapat berpartisipasi dalam aktivitas perawatan diri secara bertahap dan melaporkan peningkatan stamina serta penurunan rasa nyeri otot.
Kode SIKI: 0801
Deskripsi : Manajemen Energi: Tindakan keperawatan untuk mengoptimalkan penggunaan energi pasien dan meminimalkan kelelahan. Intervensi dimulai dengan mengajarkan teknik penghematan energi, seperti duduk saat melakukan aktivitas, menyelingi aktivitas dengan istirahat, dan memprioritaskan aktivitas yang penting. Perawat membantu dalam penjadwalan aktivitas harian yang seimbang, memastikan periode istirahat yang cukup sebelum dan setelah aktivitas yang melelahkan. Lingkungan diatur untuk meminimalkan usaha pasien (misalnya, menempatkan barang-barang yang sering digunakan dalam jangkauan). Perawat juga memantau respons fisiologis terhadap aktivitas dengan memeriksa tanda vital sebelum, selama, dan setelah aktivitas, serta mendorong pasien untuk mengenali tanda-tanda kelelahan dini seperti jantung berdebar atau pusing. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memastikan asupan nutrisi yang adekuat guna mendukung produksi energi juga merupakan bagian penting dari manajemen ini.
Kondisi: Mual
Kode SDKI: 0023
Deskripsi Singkat: Sensasi tidak nyaman yang tidak menyenangkan di bagian belakang tenggorokan dan epigastrium dengan keinginan untuk muntah.
Kode SLKI: 1601
Deskripsi : Kontrol Mual: Pasien melaporkan penurunan atau hilangnya sensasi mual, mampu mempertahankan asupan cairan dan nutrisi oral tanpa muntah, serta menunjukkan tanda-tanda hidrasi yang adekuat (turgor kulit baik, mukosa lembab, produksi urin cukup).
Kode SIKI: 1480
Deskripsi : Manajemen Mual: Serangkaian tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan sensasi mual dan mencegah muntah. Intervensi mencakup pemberian obat antiemetik sesuai resep dan memantau efektivitas serta efek sampingnya. Perawat mengatur lingkungan untuk meminimalkan pemicu mual, seperti menghilangkan bau yang kuat, memastikan ventilasi baik, dan mengurangi kebisingan. Posisi pasien diatur dengan kepala lebih tinggi atau miring untuk mencegah aspirasi jika muntah terjadi. Manajemen diet dilakukan dengan memberikan makanan dan minuman dalam porsi kecil tetapi sering, menghindari makanan berlemak, berminyak, atau terlalu manis, serta memilih makanan yang dingin atau bersuhu ruang karena lebih sedikit mengeluarkan aroma. Teknik non-farmakologis seperti relaksasi napas dalam, distraksi, atau akupresur pada titik P6 (pergelangan tangan) dapat diajarkan. Asupan cairan dipantau ketat untuk mencegah dehidrasi, dan frekuensi serta karakteristik muntah dicatat secara akurat.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Kontrol Nyeri: Pasien melaporkan penurunan skala nyeri ke tingkat yang dapat ditoleransi (misalnya, ≤3 pada skala 0-10), menunjukkan perilaku nyeri yang berkurang (tidak gelisah, ekspresi wajah rileks), mampu beristirahat dan berpartisipasi dalam aktivitas sesuai kemampuan, serta tanda-tanda vital yang stabil.
Kode SIKI: 0840
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Pendekatan komprehensif untuk mengurangi pengalaman nyeri. Dimulai dengan penilaian nyeri yang komprehensif menggunakan skala yang sesuai (numerik, wajah, verbal) termasuk lokasi, karakteristik, durasi, faktor pencetus dan pereda. Perawat memberikan analgesik sesuai resep dengan prinsip tepat waktu, tepat dosis, dan tepat cara, serta memantau efek analgesik dan efek sampingnya. Intervensi non-farmakologis diterapkan secara integratif, seperti terapi dingin/panas, reposisi atau imobilisasi area yang nyeri, teknik distraksi (misalnya, mendengarkan musik), relaksasi, dan penciptaan lingkungan yang tenang. Edukasi diberikan kepada pasien tentang pentingnya melaporkan nyeri secara dini sebelum menjadi berat dan tentang metode non-farmakologis yang dapat dilakukan secara mandiri. Perawat juga berkolaborasi dengan tim medis jika nyeri tidak terkontrol dengan regimen terapi yang ada.
-
Article No. 24434 | 12 Mar 2026
Klinis : pasien sesak nafas, RR meningkat, ronkhi positif, SPO2 90 %
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: 0006
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Status Pernapasan: Ventilasi. Didefinisikan sebagai pergerakan udara masuk dan keluar paru-paru yang adekuat. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: 1) Frekuensi pernapasan dalam rentang normal yang diharapkan, 2) Irama pernapasan reguler, 3) Tidak adanya suara napas abnormal (seperti ronkhi, wheezing), 4) Penggunaan otot bantu napas tidak ada atau minimal, 5) Saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang normal yang diharapkan, 6) Gas darah arteri dalam rentang normal. Pada kondisi pasien dengan sesak napas, RR meningkat, ronkhi positif, dan SpO2 90%, SLKI ini menjadi tujuan utama untuk dicapai, yaitu mengembalikan status ventilasi ke kondisi optimal.
Kode SIKI: 3320
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Intervensi keperawatan ini meliputi serangkaian tindakan untuk mempertahankan patensi jalan napas dan memfasilitasi pertukaran gas yang adekuat. Penjelasan rinci tindakan ini mencakup: 1) **Pemantauan dan Pengkajian**: Memantau frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha pernapasan secara ketat. Mendengarkan suara napas (seperti ronkhi yang menunjukkan adanya sekret) dan menilai saturasi oksigen secara berkala. Mengkaji faktor penyebab seperti adanya sekret, bronkospasme, atau edema. 2) **Posisi**: Menempatkan pasien dalam posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi untuk memaksimalkan ekspansi dada dan memudahkan pernapasan. 3) **Manajemen Sekret**: Melakukan fisioterapi dada, latihan napas dalam, dan batuk efektif jika pasien kooperatif. Jika diperlukan, melakukan suction untuk membersihkan jalan napas dari sekret yang menjadi penyebab ronkhi. 4) **Pemberian Oksigen**: Memberikan terapi oksigen sesuai dengan indikasi dan resep dokter untuk mempertahankan SpO2 > 95%, mengatasi hipoksemia yang ditandai dengan SpO2 90%. Oksigen diberikan melalui kanul nasal atau masker dengan aliran yang dititrasi sesuai kebutuhan. 5) **Edukasi dan Dukungan**: Mengajarkan teknik pernapasan bibir mengerucut (pursed-lip breathing) untuk mengurangi sesak dan meningkatkan pertukaran gas. Memberikan dukungan psikologis untuk mengurangi kecemasan yang dapat memperburuk sesak napas. 6) **Kolaborasi**: Berkolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat bronkodilator, mukolitik, atau diuretik sesuai penyebab dasar (misalnya, gagal jantung, PPOK, pneumonia). Memastikan hidrasi yang adekuat untuk mengencerkan sekret. 7) **Lingkungan**: Menjaga lingkungan yang nyaman, udara bersih, dan bebas dari alergen atau iritan yang dapat memicu distress pernapasan. Intervensi ini bersifat komprehensif dan dinamis, disesuaikan dengan respons pasien terhadap terapi yang diberikan, dengan tujuan akhir mencapai kriteria hasil yang ditetapkan dalam SLKI 0401 (Status Pernapasan: Ventilasi).
-
Article No. 24435 | 12 Mar 2026
Klinis : vertigo
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Vertigo
Kode ICD-10: H81.9
Deskripsi Singkat : Vertigo adalah sensasi berputar atau pusing yang membuat penderitanya merasa diri mereka atau lingkungan di sekitarnya bergerak atau berotasi padahal tidak. Ini merupakan gejala dari gangguan pada sistem vestibular, yang melibatkan telinga bagian dalam dan jalur saraf ke otak. Kode H81.9 termasuk dalam bab "Penyakit telinga dan prosesus mastoideus," lebih khusus pada blok "Gangguan pada fungsi vestibular." Kode ini merupakan kode "tidak spesifik" untuk vertigo, yang berarti digunakan ketika vertigo tidak diklasifikasikan lebih lanjut ke dalam jenis tertentu seperti vertigo perifer (misalnya, penyakit Ménière - H81.0, vertigo posisi paroksismal jinak - H81.1) atau vertigo sentral yang berasal dari otak. Penggunaan kode ini tepat dalam konteks pelatihan atau saat diagnosis definitif penyebab vertigo masih dalam pemeriksaan. Penting untuk mencatat bahwa vertigo adalah gejala, bukan penyakit, dan kodifikasi yang lebih akurat memerlukan identifikasi penyebab yang mendasarinya.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24436 | 12 Mar 2026
Klinis : vertigo
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: vertigo
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Risiko Cedera
Kode SLKI: 4500
Deskripsi : Manajemen Risiko Cedera
Kode SIKI: 4201
Deskripsi : Monitor tanda-tanda vital
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) - Risiko Cedera (Kode 0026)
Diagnosis keperawatan "Risiko Cedera" didefinisikan sebagai keadaan rentan terhadap cedera fisik yang dapat membahayakan integritas tubuh akibat kondisi interaksi dengan lingkungan. Pada pasien dengan vertigo, risiko ini sangat nyata karena gejala utama berupa sensasi berputar atau pusing yang menyebabkan gangguan keseimbangan, disorientasi, dan ketidakstabilan postural. Defisit yang mendasari diagnosis ini adalah gangguan pada sistem vestibular (telinga bagian dalam), sistem sensorik, atau integrasi neurologis yang mengatur keseimbangan. Pasien berisiko tinggi untuk terjatuh, tersandung, atau menabrak benda di sekitarnya, terutama saat berusaha berjalan atau berganti posisi (misalnya dari tidur ke duduk/duduk ke berdiri). Faktor risiko spesifik termasuk episode vertigo yang mendadak, mual dan muntah yang menyertainya, penurunan kesadaran ringan (seperti kepala terasa ringan), dan kelemahan. Tujuan utama perawat adalah mengidentifikasi faktor risiko ini dan melakukan intervensi untuk mencegah cedera sebelum terjadi.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) - Manajemen Risiko Cedera (Kode 4500)
Luaran yang diharapkan dari intervensi keperawatan adalah tercapainya "Manajemen Risiko Cedera". Ini berarti pasien mampu berpartisipasi dalam mencegah atau meminimalkan faktor risiko cedera di lingkungannya. Kriteria luaran yang diharapkan pada pasien vertigo meliputi: (1) Pengetahuan: Pasien dan keluarga dapat menjelaskan penyebab vertigo dan faktor risiko cedera yang mungkin terjadi. (2) Perilaku: Pasien menunjukkan tindakan pencegahan, seperti segera duduk atau berbaring saat serangan vertigo datang, menghindari perubahan posisi yang tiba-tiba (manuver bergerak perlahan), menggunakan alat bantu jika diperlukan (tongkat, pegangan), serta meminta bantuan saat akan mobilisasi. (3) Kondisi Fisik: Episode vertigo berkurang frekuensi dan intensitasnya, keseimbangan tubuh membaik, dan yang terpenting, tidak terjadi cedera seperti jatuh atau benturan selama periode perawatan. Pengukuran luaran ini dilakukan dengan observasi, wawancara, dan skala penilaian risiko jatuh.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) - Monitor Tanda-Tanda Vital (Kode 4201)
Intervensi keperawatan "Monitor Tanda-Tanda Vital" adalah tindakan pengukuran dan interpretasi terhadap status fisiologis dasar pasien, yang dalam konteks vertigo memiliki tujuan ganda. Pertama, untuk mengidentifikasi penyebab atau komplikasi yang mungkin mendasari vertigo. Tekanan darah (baik hipotensi ortostatik maupun hipertensi), denyut nadi (aritmia), dan suhu (infeksi) dapat memberikan petunjuk penting. Kedua, untuk menilai respons pasien terhadap terapi dan aktivitas. Prosedurnya meliputi pengukuran tekanan darah, nadi, pernapasan, dan suhu secara rutin dan khususnya sebelum serta setelah pasien melakukan mobilisasi. Perawat akan mengajarkan pasien untuk melakukan teknik perubahan posisi yang aman (duduk di tepi tempat tidur beberapa saat sebelum berdiri) dan memantau tanda-tanda hipotensi ortostatik (pusing, pandangan kabur saat berdiri). Data ini menjadi dasar untuk menyesuaikan rencana keperawatan, seperti menentukan kapan pasien aman untuk berjalan sendiri atau masih membutuhkan pendampingan. Selain SIKI 4201, intervensi lain yang sangat relevan adalah Manajemen Lingkungan (Kode 6460) untuk memastikan lingkungan aman (pencahayaan cukup, lantai tidak licin, barang-barang tidak berserakan) dan Edukasi Kesehatan (Kode 5604) untuk memberikan informasi tentang manajemen vertigo dan pencegahan jatuh.
-
Article No. 24437 | 12 Mar 2026
Klinis : Sensasi berputar Kehilangan keseimbangan Mual atau muntah Tinnitus (kiat telinga) Perubahan pendengaran Kelelahan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Cedera
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko cedera adalah keadaan dimana individu rentan mengalami cedera fisik akibat faktor internal atau eksternal yang dapat membahayakan kesehatan dan keselamatannya. Pada kasus dengan gejala sensasi berputar (vertigo), kehilangan keseimbangan, mual, tinnitus, perubahan pendengaran, dan kelelahan, risiko cedera sangat meningkat. Faktor internal utama adalah gangguan sistem vestibular (keseimbangan) dan pendengaran, yang secara langsung mengganggu persepsi posisi tubuh di ruang, stabilitas postural, dan kewaspadaan. Sensasi berputar dan kehilangan keseimbangan meningkatkan kemungkinan terjatuh, tersandung, atau menabrak benda di sekitarnya. Mual dan muntah dapat menyebabkan kelemahan, dehidrasi, dan penurunan konsentrasi, yang memperparah risiko. Tinnitus dan perubahan pendengaran mengurangi kemampuan untuk mendengar peringatan bahaya dari lingkungan. Kelelahan lebih lanjut menurunkan kapasitas fisik dan kognitif untuk merespons bahaya dengan tepat. Defisit pengetahuan pasien mengenai manajemen gejala dan modifikasi lingkungan untuk keselamatan juga menjadi faktor kontribusi. Diagnosa ini menekankan pada kerentanan dan kebutuhan untuk intervensi protektif dan edukatif.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : SLKI 0801 adalah "Perilaku Pencegahan Cedera". Luaran yang diharapkan adalah pasien mampu mengenali faktor risiko, memodifikasi lingkungan, dan menerapkan perilaku untuk mencegah cedera selama mengalami episode gejala. Secara spesifik untuk kondisi ini, perilaku pencegahan cedera mencakup: (1) Mengidentifikasi aktivitas dan situasi yang berisiko tinggi memicu jatuh (seperti berjalan di area licin, gelap, atau tidak rata, bangun dari tempat tidur terlalu cepat, menaiki tangga). (2) Memodifikasi lingkungan rumah untuk mengurangi bahaya, seperti memasang pegangan tangan di kamar mandi, menggunakan alas kaki yang tidak licin, menjaga lantai bebas dari barang berserakan, dan pencahayaan yang memadai. (3) Menggunakan alat bantu jika diperlukan, seperti tongkat atau walker untuk meningkatkan stabilitas saat berjalan. (4) Menerapkan manuver atau posisi tertentu (contoh: manuver Epley jika diindikasikan untuk BPPV, atau bangun dari tidur secara perlahan) untuk mengurangi sensasi berputar. (5) Menghindari aktivitas yang memerlukan keseimbangan prima seperti mengemudi, mengoperasikan mesin, atau bekerja di ketinggian selama gejala muncul. (6) Meminta bantuan ketika perlu melakukan mobilisasi. Pencapaian luaran ini ditandai dengan penurunan atau tidak adanya kejadian cedera seperti jatuh, terbentur, atau kecelakaan lainnya selama periode perawatan.
Kode SIKI: 0801
Deskripsi : SIKI 0801 adalah "Manajemen Lingkungan: Keselamatan". Intervensi keperawatan ini berfokus pada memodifikasi lingkungan fisik dan sosial untuk meminimalkan sumber bahaya dan mencegah cedera. Intervensi spesifik untuk pasien dengan gejala vertigo dan ketidakseimbangan meliputi: (1) Melakukan pengkajian risiko jatuh yang komprehensif, termasuk riwayat jatuh, pengobatan, dan kondisi lingkungan rumah. (2) Memastikan lingkungan perawatan (rumah sakit/rumah) aman dengan menempatkan bel panggilan dalam jangkauan, menaikkan pinggiran tempat tidur, dan menjaga jalur mobilisasi bebas hambatan. (3) Menginstruksikan pasien dan keluarga untuk mengatur ulang furniture, menyingkirkan karpet longgar, memasang pegangan dan alas anti slip di kamar mandi/toilet. (4) Menganjurkan pencahayaan yang memadai, terutama di jalur menuju kamar mandi pada malam hari. (5) Mengajarkan teknik mobilisasi aman: duduk di tepi tempat tidur beberapa saat sebelum berdiri, berjalan dengan perlahan dan jika perlu dengan pendamping, menggunakan alat bantu jalan. (6) Mengatur posisi tempat tidur untuk meminimalkan gerakan kepala yang tiba-tiba jika terkait dengan BPPV. (7) Mengkolaborasikan dengan tim kesehatan lain (dokter, fisioterapis) untuk terapi rehabilitasi vestibular dan manajemen medikasi. (8) Memberikan edukasi tentang pentingnya menghindari alkohol, kafein, dan zat yang dapat memperburuk gejala. (9) Memantau efek samping obat (seperti sedasi) yang dapat meningkatkan risiko jatuh. (10) Memberikan dukungan emosional dan motivasi untuk meningkatkan kepatuhan terhadap tindakan pencegahan. Intervensi ini dilakukan secara berkelanjutan dan dievaluasi efektivitasnya dalam mencegah insiden cedera.