Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 22892 | 19 Nov 2025
Klinis : pasien G1P0A0 16 minggu dengan anemia ringan dan Susp PLR dengan hb 9 gr/dl dengan keluhan sering kram pada kaki TD : 141/73, nadi 98 x/menit, rr 20 x/menit,
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Perifer Tidak Efektif dan Risiko Intoleransi Aktivitas pada Kehamilan dengan Anemia
Kode SDKI: 0022
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan oksigenasi seluler, pernapasan, atau keduanya, yang dapat terjadi pada pembuluh darah otak, jantung, dan perifer.
Kode SLKI: 2106
Deskripsi : Perawat memantau status perfusi perifer dengan melakukan pengukuran tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan) secara berkala, memeriksa suhu dan warna kulit (terutama pada ekstremitas), memeriksa pengisian kapiler, dan memantau adanya nyeri atau kram pada ekstremitas. Perawat juga memantau hasil pemeriksaan laboratorium, khususnya kadar hemoglobin dan hematokrit, serta mendokumentasikan semua temuan tersebut. Tindakan ini bertujuan untuk mendeteksi secara dini tanda-tanda gangguan perfusi yang dapat disebabkan oleh anemia, seperti penurunan suhu kulit, pucat, pengisian kapiler yang melambat (>3 detik), dan keluhan kram. Kram pada kaki, seperti yang dialami pasien, dapat menjadi salah satu manifestasi dari kurangnya suplai oksigen ke jaringan otot akibat anemia. Dengan pemantauan yang ketat, intervensi dapat segera dilakukan untuk mencegah memburuknya kondisi.
Kode SIKI: 3410
Deskripsi : Perawat melakukan manajemen nutrisi dengan cara melakukan kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun rencana diet yang kaya zat besi, asam folat, dan vitamin B12. Perawat mendiskusikan dan memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya konsumsi makanan sumber zat besi heme (seperti daging merah tanpa lemak, hati ayam) dan non-heme (seperti bayam, kacang-kacangan, dan sereal yang diperkaya zat besi), serta cara meningkatkan penyerapan zat besi (misalnya dengan mengonsumsi sumber vitamin C seperti jeruk dan tomat). Perawat juga mengajarkan untuk menghindari penghambat penyerapan zat besi seperti teh dan kopi bersamaan dengan waktu makan. Selain itu, perawat memastikan kepatuhan pasien dalam mengonsumsi suplemen zat besi yang diresepkan dan memberikan edukasi mengenai cara minum yang benar (misalnya dengan air jeruk) dan efek samping yang mungkin timbul (seperti feses berwarna hitam). Tindakan ini bertujuan untuk meningkatkan asupan dan penyerapan nutrisi pembentuk hemoglobin, sehingga kadar Hb dapat meningkat secara bertahap, yang pada akhirnya akan memperbaiki perfusi oksigen ke seluruh jaringan tubuh, termasuk otot-otot kaki, dan mengurangi keluhan kram serta mencegah risiko intoleransi aktivitas.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0023
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah seperti cedera; muncul tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan perkiraan akhirnya.
Kode SLKI: 0732
Deskripsi : Perawat melakukan manajemen nyeri dengan terlebih dahulu melakukan penilaian nyeri yang komprehensif, termasuk lokasi (kaki), karakteristik (seperti kram), intensitas (menggunakan skala nyeri), faktor yang memicu dan meredakan, serta dampaknya terhadap kenyamanan dan aktivitas pasien. Perawat memantau tanda-tanda vital yang dapat berubah akibat nyeri, seperti peningkatan denyut nadi. Perawat kemudian melakukan intervensi non-farmakologis untuk mengurangi nyeri, seperti melakukan atau mengajarkan teknik relaksasi (napas dalam), memberikan masase lembut pada area yang kram, menerapkan kompres hangat pada betis (dengan hati-hati dan memperhatikan suhu untuk menghindari luka bakar), serta membantu posisi yang nyaman untuk kaki (seperti sedikit mengangkat kaki). Perawat juga mendokumentasikan respons pasien terhadap intervensi yang diberikan. Tindakan ini bertujuan untuk mengurangi persepsi nyeri, meningkatkan kenyamanan, dan meminimalkan gangguan yang disebabkan oleh kram kaki, sehingga kualitas hidup dan istirahat pasien selama kehamilan dapat terjaga.
Kode SIKI: 3410
Deskripsi : Perawat kembali melakukan manajemen nutrisi, namun dalam konteks ini fokusnya adalah untuk mengatasi faktor penyebab nyeri kram. Meskipun penyebab kram multifaktor, defisiensi mineral seperti kalsium dan magnesium dapat menjadi pemicu. Perawat berkolaborasi untuk memastikan diet pasien juga mencakup makanan kaya kalsium (susu, yoghurt, keju, ikan teri) dan magnesium (kacang almond, pisang, alpukat, sayuran hijau). Perawat memberikan edukasi kepada pasien tentang hubungan antara asupan nutrisi dan kram otot, serta pentingnya hidrasi yang cukup karena dehidrasi ringan juga dapat memicu kram. Dengan memperbaiki status nutrisi dan hidrasi, diharapkan frekuensi dan intensitas kram dapat berkurang, sehingga nyeri akut yang dialami pasien dapat dikelola dengan lebih efektif.
Kondisi: Kurang Pengetahuan
Kode SDKI: 0027
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan atau tidak adanya informasi kognitif yang berhubungan dengan topik tertentu.
Kode SLKI: 5606
Deskripsi : Perawat melakukan proses edukasi kesehatan dengan terlebih dahulu menilai tingkat pengetahuan, kesiapan belajar, dan keyakinan pasien mengenai kondisi kehamilannya, anemia, dan keluhan kram. Perawat kemudian menyusun rencana pembelajaran yang mencakup penjelasan tentang apa itu anemia dalam kehamilan, penyebab, dampaknya bagi ibu dan janin (seperti risiko pertumbuhan janin terhambat, persalinan prematur), serta pentingnya penanganan. Perawat juga menjelaskan tentang kemungkinan hubungan antara anemia dengan keluhan kram yang dialami. Perawat menggunakan metode dan media edukasi yang mudah dipahami, seperti leaflet atau model, dan melibatkan keluarga jika memungkinkan. Perawat mendorong pasien untuk mengajukan pertanyaan dan menyimpulkan informasi yang telah diberikan. Tujuan SLKI ini adalah untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran pasien tentang kondisinya, yang merupakan langkah awal untuk menuju perubahan perilaku.
Kode SIKI: 6520
Deskripsi : Perawat melakukan peningkatan koping dengan cara memberikan dukungan emosional dan memfasilitasi pasien untuk mengungkapkan perasaannya terkait diagnosis anemia dan kehamilannya. Perawat mengajarkan teknik mengatasi stres sederhana, seperti relaksasi napas dalam, yang juga dapat membantu saat kram menyerang. Perawat mendorong partisipasi pasien dalam perawatan dirinya, misalnya dengan melibatkannya dalam perencanaan menu makanan kaya zat besi. Perawat juga memberikan reinforcement positif atas setiap usaha yang dilakukan pasien. Tindakan ini bertujuan untuk membangun rasa percaya diri dan kemandirian pasien dalam mengelola kesehatannya, mengurangi kecemasan, dan meningkatkan keyakinannya bahwa kondisi ini dapat diatasi dengan penanganan yang tepat, sehingga motivasi untuk patuh terhadap terapi meningkat.
-
Article No. 22893 | 19 Nov 2025
Klinis : Pasien dengan diagnosa hiperplasia prostat dan terpasang kateter urin suprapubik rencana operasi 2 minggu lagi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Gangguan Eliminasi Urin pada Pasien Hiperplasia Prostat dengan Kateter Suprapubik
Kode SDKI: D.0186
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: L.08141
Deskripsi : Pengendalian Risiko Infeksi
Kode SIKI: I.01239
Deskripsi : Manajemen Kateter
Kondisi: Risiko Infeksi dan Gangguan Eliminasi Urin pada Pasien Hiperplasia Prostat dengan Kateter Suprapubik
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Gangguan Eliminasi Urin
Kode SLKI: L.04052
Deskripsi : Eliminasi Urin
Kode SIKI: I.05177
Deskripsi : Manajemen Kandung Kemih
-
Article No. 22825 | 18 Nov 2025
Klinis : Pasien Wanita, usia 42 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan, keringat berlebih setiap malam. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru. Edema di kedua kaki, foto thorax juga menunjukkan tampak kardiomegali dan CTR >50% Tekanan darah 93/56 apakah diagnosa penurunan curah jantung bisa diangkat atau cukup risiko penurunan curah jantung saja, ata tidak perlu diangkat diagnosa terkait sirkulasi?.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Diagnosa ini dapat diangkat, bukan sekadar risiko. Berdasarkan data pasien, terdapat indikator yang kuat untuk mendukung diagnosa aktual ini. Meskipun tuberkulosis paru adalah diagnosis medis utama, kondisi pasien menunjukkan komplikasi kardiovaskular yang signifikan. Foto thorax yang menunjukkan kardiomegali dan Cardiothoracic Ratio (CTR) >50% merupakan bukti objektif adanya pembesaran jantung, yang sering kali berkorelasi dengan penurunan fungsi pompa jantung. Hal ini diperkuat dengan adanya edema di kedua kaki, yang merupakan tanda klasik gagal jantung kanan dimana jantung tidak mampu memompa darah vena kembali secara efektif, sehingga menyebabkan akumulasi cairan (edema dependen). Tekanan darah 93/56 yang termasuk hipotensi, merupakan manifestasi langsung dari penurunan curah jantung, dimana jantung tidak mampu mempertahankan tekanan perfusi yang adekuat untuk organ-organ vital. Kombinasi dari temuan radiologis (kardiomegali), tanda klinis (edema), dan tanda vital (hipotensi) membentuk sebuah pola yang konsisten dengan diagnosa penurunan curah jantung aktual, bukan hanya sebuah risiko. Oleh karena itu, diagnosa keperawatan ini sangat relevan untuk ditetapkan guna mengarahkan intervensi keperawatan yang spesifik dan menyelamatkan jiwa.
Kode SLKI: L.03113
Deskripsi : Luaran yang diharapkan dari diagnosa penurunan curah jantung adalah tercapainya status sirkulasi yang adekuat dan stabil. Secara spesifik, tujuan dari SLKI ini adalah untuk meningkatkan curah jantung hingga mencapai nilai yang memadai untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Target luaran yang harus dicapai meliputi: tekanan darah sistolik pasien meningkat dan stabil dalam rentang normal yang dapat ditoleransinya (misalnya di atas 100 mmHg), denyut nadi teraba kuat dan reguler dengan frekuensi normal, pengisian kapiler kurang dari 3 detik yang menunjukkan perfusi perifer yang baik, serta penurunan signifikan atau hilangnya edema di kedua kaki. Selain itu, tanda-tanda vital lainnya seperti frekuensi pernapasan dan suhu tubuh juga diharapkan berada dalam batas normal. Pasien diharapkan tidak menunjukkan tanda-tanda distress pernapasan yang memberat dan dapat beristirahat dengan nyaman. Pencapaian luaran ini membutuhkan pemantauan ketat dan intervensi yang berkesinambungan untuk memastikan jantung mampu kembali menjalankan fungsinya sebagai pompa yang efektif bagi seluruh sistem sirkulasi.
Kode SIKI: I.08021
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk menangani penurunan curah jantung bersifat komprehensif dan multidimensi, difokuskan pada optimasi beban kerja jantung dan meningkatkan kontraktilitas miokard. Intervensi dimulai dengan pemantauan ketat status hemodinamik, termasuk tekanan darah, denyut nadi, frekuensi jantung dan pernapasan, serta saturasi oksigen secara berkala. Pemberian terapi oksigen merupakan prioritas untuk memastikan kecukupan suplai oksigen ke miokard dan jaringan tubuh lainnya. Posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi harus dipertahankan untuk mengurangi preload dan memfasilitasi ekspansi paru, sehingga mengurangi beban kerja jantung dan pernapasan. Asupan dan output cairan harus dicatat dengan cermat untuk menilai keseimbangan cairan; pembatasan cairan dan natrium mungkin diperlukan untuk mengurangi edema dan beban volume. Kolaborasi dengan tim medis sangat penting untuk pemberian terapi farmakologis seperti diuretik (untuk mengurangi edema dan preload), inotropik (untuk meningkatkan kekuatan kontraksi jantung), dan vasodilator (untuk mengurangi afterload). Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya tirah baring, diet rendah garam, dan pemantauan tanda-tanda memburuknya kondisi (seperti sesak napas atau edema yang bertambah) juga merupakan bagian integral dari intervensi. Seluruh tindakan ini dilakukan dengan pendekatan yang lembut namun waspada untuk mencegah kelelahan lebih lanjut pada jantung yang sudah mengalami penurunan fungsi.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Diagnosa ini merupakan masalah utama yang langsung terkait dengan diagnosis medis tuberkulosis paru. Pasien datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, yang mengindikasikan adanya sekresi yang berlebihan dan kemungkinan kesulitan dalam mengeluarkannya. Adanya lesi di paru berdasarkan hasil rontgen dan suara napas bronkial di paru kanan atas menunjukkan adanya konsolidasi atau penumpukan material (seperti dahak, sel radang, dan basil) di dalam saluran napas dan alveoli. Akumulasi sekret ini menghalangi aliran udara, menyebabkan sesak napas dan memicu mekanisme batuk. Batuk yang tidak efektif dalam membersihkan sekresi ini akan memperburuk pertukaran gas dan menjadi faktor risiko untuk komplikasi lebih lanjut seperti pneumonia atau atelektasis. Oleh karena itu, masalah bersihan jalan napas yang tidak efektif perlu segera ditangani untuk memperbaiki ventilasi dan mencegah memburuknya kondisi pernapasan pasien.
Kode SLKI: L.03013
Deskripsi : Luaran yang diharapkan dari intervensi keperawatan untuk masalah ini adalah tercapainya bersihan jalan napas yang paten dan efektif. Secara klinis, ini ditandai dengan bunyi napas yang bersih (bebas dari wheezing atau ronchi) pada auskultasi, batuk yang produktif dan efektif dalam mengeluarkan dahak, serta penurunan frekuensi dan upaya batuk. Pasien akan melaporkan atau menunjukkan penurunan rasa sesak di dada dan mampu bernapas dengan lebih lega. Parameter objektif seperti frekuensi pernapasan akan kembali dalam rentang normal, dan saturasi oksigen akan terjaga di atas 95%. Selain itu, sekresi atau dahak yang dihasilkan akan berkurang jumlah dan kekentalannya, serta lebih mudah untuk dikeluarkan. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa saluran pernapasan pasien telah terbebas dari obstruksi, memungkinkan pertukaran gas yang optimal.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mengatasi bersihan jalan napas tidak efektif difokuskan pada memobilisasi dan mengeluarkan sekret. Tindakan yang dapat dilakukan antara lain adalah memposisikan pasien secara optimal (misalnya, posisi duduk atau semi-Fowler) untuk memaksimalkan ekspansi dada. Ajarkan dan bantu pasien dalam latihan napas dalam dan batuk efektif. Fisioterapi dada seperti perkusi dan vibrasi dapat membantu mengelupas dan menggerakkan sekret dari dinding saluran napas ke saluran yang lebih besar sehingga mudah dibatukkan. Hidrasi yang adekuat, baik secara oral atau intravena, sangat penting untuk mengencerkan dahak sehingga lebih mudah dikeluarkan. Penggunaan humidifier atau nebulizer juga dapat membantu melembabkan saluran napas dan mengencerkan sekresi. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat mukolitik atau bronkodilator jika diperlukan. Pemantauan karakteristik sputum (warna, jumlah, konsistensi) juga merupakan bagian dari intervensi untuk menilai efektivitas terapi dan perkembangan infeksi.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0069
Deskripsi Singkat: Meskipun tidak disebutkan secara eksplisit dalam keluhan utama, proses inflamasi aktif akibat infeksi tuberkulosis di paru sangat mungkin menimbulkan sensasi nyeri. Nyeri dapat bersifat pleuritik (tajam, seperti ditusuk, dan memberat saat menarik napas dalam atau batuk) akibat iritasi pada pleura, atau dapat berupa nyeri dada yang tumpul dan menetap karena peradangan parenkim paru dan pembesaran kelenjar getah bening mediastinum. Batuk yang terus-menerus selama 2 minggu juga dapat menyebabkan nyeri otot-otot aksesori pernapasan dan dinding dada. Nyeri yang tidak tertangani dapat membatasi mobilitas dada, menghambat kemampuan batuk efektif, dan memperburuk sesak napas, sehingga menjadi penghambat dalam proses penyembuhan. Oleh karena itu, asesmen lebih lanjut mengenai ada tidaknya serta karakteristik nyeri sangat penting, dan diagnosa ini dapat diangkat jika ditemukan.
Kode SLKI: L.10011
Deskripsi : Luaran yang diharapkan untuk diagnosa nyeri akut adalah tercapainya kenyamanan dan pengendalian nyeri yang memadai bagi pasien. Targetnya adalah penurunan skala intensitas nyeri yang dilaporkan pasien hingga ke tingkat yang dapat ditoleransi atau bahkan hilang sama sekali. Pasien akan mampu menunjukkan kemampuan untuk beristirahat dan tidur dengan nyenyak, serta dapat melakukan aktivitas ringan dan latihan napas dalam tanpa terganggu oleh nyeri. Ekspresi wajah pasien akan tampak rileks, tidak lagi meringis atau tegang. Perilaku gelisah yang mungkin ditunjukkan sebelumnya akan berkurang atau hilang. Pasien juga diharapkan mampu mendemonstrasikan teknik non-farmakologis yang diajarkan untuk mengatasi nyeri, menunjukkan partisipasi aktif dalam manajemen nyerinya sendiri.
Kode SIKI: I.09160
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk menangani nyeri akut meliputi pendekatan farmakologis dan non-farmakologis. Langkah pertama adalah melakukan asesmen nyeri yang komprehensif menggunakan skala yang valid
Article No. 22826 | 18 Nov 2025
Klinis : gangguan persepsi sensori
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Gangguan Persepsi Sensorik
Kode ICD-10: R48
Deskripsi Singkat : Gangguan persepsi sensori, diklasifikasikan di bawah kode R48 di ICD-10, mengacu pada disfungsi dalam kemampuan untuk memproses dan menafsirkan informasi yang diterima dari indera. Kode ini mencakup gangguan seperti agnosia (ketidakmampuan untuk mengenali objek, orang, suara, atau bau meskipun indera itu sendiri utuh), halusinasi (persepsi sensori tanpa adanya rangsangan eksternal), dan ilusi (interpretasi yang salah dari rangsangan sensori yang nyata). Gangguan ini bukan penyakit tersendiri melainkan gejala yang muncul dari berbagai kondisi medis yang mendasari, termasuk gangguan neurologis (seperti demensia, stroke, atau tumor otak), gangguan kejiwaan (seperti skizofrenia atau gangguan mood berat), keracunan zat, atau kondisi medis lainnya. Kode R48 adalah kode dari Bab XVIII (Gejala, Tanda, dan Temuan Klinis dan Laboratorium Abnormal, Tidak Diklasifikasikan di Tempat Lain), yang berarti ia digunakan ketika gangguan persepsi merupakan gejala dominan yang memerlukan perhatian medis tanpa diagnosis pasti dari kondisi yang mendasarinya. Pengkodean yang tepat memerlukan identifikasi etiologi jika diketahui, karena gangguan persepsi dapat dikaitkan dengan kode lain yang lebih spesifik. Evaluasi menyeluruh diperlukan untuk menentukan penyebabnya, yang dapat mencakup pemeriksaan neurologis, pencitraan otak, dan penilaian status mental.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
Article No. 22827 | 18 Nov 2025
Klinis : gangguan persepsi sensori
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi
Kode SDKI: 0027
Deskripsi Singkat: Perubahan dalam jumlah atau pola stimulus yang datang disertai dengan respons yang kurang, berlebihan, terdistorsi, atau terganggu.
Kode SLKI: 2419
Deskripsi : Manajemen Halusinasi
Kode SIKI: 4419
Deskripsi : Intervensi untuk mengontrol halusinasi
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI) - Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi (Kode 0027)
Definisi dari diagnosa ini adalah suatu keadaan diimana individu mengalami perubahan dalam jumlah, pola, atau interpretasi stimulus yang datang dari lingkungan maupun dari dalam diri sendiri. Perubahan ini dapat memanifestasikan sebagai respons yang kurang (hiposensitivitas), berlebihan (hipersensitivitas), terdistorsi, atau terganggu terhadap stimulus tersebut. Pada konteks halusinasi, yang terjadi adalah persepsi sensori tanpa adanya stimulus eksternal yang nyata. Individu dapat mendengar, melihat, mencium, merasakan, atau meraba sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Halusinasi pendengaran (auditori) adalah yang paling umum ditemui. Kondisi ini sering kali terkait dengan gangguan jiwa seperti skizofrenia, gangguan mood psikotik, gangguan stres pascatrauma, atau kondisi organik seperti demensia dan keracunan zat. Dampak dari gangguan persepsi sensori ini sangat signifikan, mencakup kesulitan dalam konsentrasi, isolasi sosial, penurunan kemampuan dalam merawat diri, serta perilaku yang dapat membahayakan diri sendiri atau orang lain akibat respons terhadap halusinasinya. Tujuan utama perawat adalah untuk membantu klien mengenali halusinasinya, mengembangkan strategi koping yang adaptif, dan meningkatkan koneksinya dengan realitas.
Luaran Keperawatan (SLKI) - Manajemen Halusinasi (Kode 2419)
Luaran ini mendefinisikan tujuan yang ingin dicapai, yaitu kemampuan klien untuk mengelola pengalaman halusinasinya. Manajemen halusinasi yang efektif ditandai dengan serangkaian perilaku dan keadaan kognitif klien. Indikator luaran ini meliputi: klien mampu mengenali dan melaporkan tanda-tanda awal munculnya halusinasi, mengidentifikasi faktor pemicu halusinasi, menyatakan perasaan yang dialami saat halusinasi muncul (seperti takut, cemas, atau marah), serta mampu mengungkapkan isi halusinasinya kepada perawat atau orang yang dipercaya. Selanjutnya, klien diharapkan dapat menerapkan teknik koping yang telah dipelajari untuk mengontrol atau mengurangi intensitas halusinasi, seperti teknik mengalihkan perhatian (misalnya dengan beraktivitas fisik, mendengarkan musik, atau mengobrol), menggunakan perintah tegas untuk "menyuruh" halusinasi pergi, dan meningkatkan kontak dengan realitas melalui interaksi sosial. Luaran yang berhasil juga tercermin dari penurunan frekuensi, durasi, dan intensitas episode halusinasi, peningkatan kemampuan klien dalam berinteraksi secara sosial, serta peningkatan partisipasi dalam aktivitas terapeutik dan kehidupan sehari-hari. Tercapainya luaran ini menunjukkan bahwa klien telah memperoleh kembali kendali atas pikirannya dan dapat berfungsi dengan lebih baik.
Intervensi Keperawatan (SIKI) - Intervensi untuk Mengontrol Halusinasi (Kode 4419)
Ini adalah serangkaian tindakan yang direncanakan dan dilaksanakan oleh perawat untuk membantu klien mencapai luaran "Manajemen Halusinasi". Intervensi ini bersifat komprehensif dan berfokus pada pendekatan terapeutik. Tindakan-tindakan kunci meliputi: Membangun hubungan saling percaya (trusting relationship) sebagai landasan semua intervensi terapeutik. Perawat mendengarkan dengan penuh empati dan tanpa menghakimi ketika klien bercerita tentang halusinasinya. Mengobservasi perilaku nonverbal klien yang mungkin mengindikasikan sedang berhalusinasi, seperti melihat ke arah yang kosong, berbicara sendiri, atau telinga seperti mendengarkan sesuatu. Membantu klien untuk mengidentifikasi situasi, pikiran, atau perasaan yang biasanya memicu halusinasi. Mengajarkan dan melatih klien berbagai teknik koping, seperti teknik mengalihkan perhatian (misalnya, menyuruh klien melakukan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi), meningkatkan stimulus sensori (misalnya, mendengarkan musik melalui headphone), dan menggunakan pernyataan positif untuk melawan isi halusinasi yang negatif. Mendorong klien untuk meningkatkan interaksi sosial dan partisipasi dalam kegiatan kelompok untuk membantunya tetap terhubung dengan realitas. Melibatkan keluarga dalam proses perawatan dengan memberikan edukasi tentang kondisi klien dan cara merespons yang tepat ketika klien mengalami halusinasi, misalnya dengan tidak menertawakan atau menantang keyakinan klien secara konfrontatif, tetapi dengan mengarahkannya pada realitas dengan lembut. Kolaborasi dengan tim medis untuk terapi farmakologis juga merupakan bagian penting, termasuk memastikan kepatuhan minum obat dan memantau efek sampingnya. Melalui intervensi-intervensi yang sistematis dan berkelanjutan ini, perawat memberdayakan klien untuk mengambil peran aktif dalam mengelola gangguannya dan secara bertahap meningkatkan kualitas hidupnya.
Article No. 22828 | 18 Nov 2025
Klinis : Gangguan rasa nyaman b.d gangguan stimulus lingkungan (D. 0074) dibuktikan dengan: DS: Pasien mengatakan: 1. tidak nyaman karena terpasang kateter 2. ruangan cukup bising karena suara alat 3. kurangnya privasi karena area terlalu terbuka DO: Pasien tampak: 1. terpasang DC 2. bingung 3. tingkat perhatian tinggi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Rasa Nyaman
Kode SDKI: D.0074
Deskripsi Singkat: Gangguan Rasa Nyaman adalah keadaan di mana seorang individu mengalami perasaan tidak nyaman secara fisik, psikologis, lingkungan, atau sosial yang bersifat subjektif. Kondisi ini dapat bervariasi intensitasnya, dari ringan hingga berat, dan dapat mengganggu kemampuan individu untuk beristirahat, tidur, atau melakukan aktivitas sehari-hari. Pada kasus ini, gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gangguan stimulus lingkungan, yang berarti ketidaknyamanan tersebut dipicu atau diperburuk oleh faktor-faktor di sekitar pasien. Data subjektif dari pasien yang menyatakan tidak nyaman karena terpasang kateter, ruangan yang bising, dan kurangnya privasi merupakan indikator kuat dari diagnosis ini. Ketidaknyamanan ini bersifat multifaktorial, meliputi ketidaknyamanan fisik dari pemasangan alat invasif (kateter), ketidaknyamanan sensorik akibat kebisingan, serta ketidaknyamanan psikososial karena merasa privasinya terganggu. Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan lingkungan yang tidak mendukung penyembuhan dan dapat meningkatkan stres pasien, yang pada akhirnya memperlambat proses pemulihan. Tujuan utama dari diagnosis keperawatan ini adalah untuk mengidentifikasi, memvalidasi, dan kemudian melakukan intervensi untuk mengurangi atau menghilangkan sumber ketidaknyamanan tersebut, sehingga meningkatkan kualitas hidup dan kepuasan pasien selama perawatan.
Kode SLKI: L.03102
Deskripsi : SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) dengan kode L.03102 untuk diagnosis Gangguan Rasa Nyaman adalah "Tingkat Kenyamanan Meningkat". Luaran ini mengukur keberhasilan intervensi keperawatan dalam meningkatkan rasa nyaman pasien. Pencapaian luaran ini ditandai dengan beberapa indikator yang dapat diobservasi dan dilaporkan oleh pasien. Pertama, pasien mampu melaporkan atau mendemonstrasikan berkurangnya atau hilangnya sensasi tidak nyaman yang dirasakan. Kedua, pasien menunjukkan kemampuan untuk beristirahat dan tidur dengan lebih baik, yang merupakan indikator vital dari tercapainya kenyamanan. Ketiga, ekspresi wajah dan bahasa tubuh pasien menjadi lebih rileks, tidak lagi menunjukkan tanda-tanda ketegangan, kecemasan, atau kesakitan. Keempat, tanda-tanda vital pasien (seperti denyut nadi, tekanan darah, dan frekuensi pernapasan) berada dalam rentang yang normal untuk pasien tersebut, mengindikasikan berkurangnya stres fisiologis. Kelima, pasien mampu berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan atau diperlukan, yang sebelumnya mungkin terganggu oleh ketidaknyamanan. Dalam konteks kasus ini, luaran yang diharapkan adalah pasien melaporkan bahwa perasaan tidak nyaman akibat kateter, kebisingan, dan kurang privasi telah berkurang; pasien tampak lebih tenang dan tidak bingung; serta tingkat kewaspadaan yang berlebihan (high attention) menurun menjadi tingkat yang normal karena lingkungan sudah dirasakan lebih aman dan nyaman.
Kode SIKI: I.08091
Deskripsi : SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dengan kode I.08091 untuk diagnosis Gangguan Rasa Nyaman adalah "Manajemen Lingkungan". Intervensi ini berfokus pada memodifikasi lingkungan fisik dan sosial sekitar pasien untuk menciptakan suasana yang mendukung kenyamanan, kesembuhan, dan rasa aman. Intervensi ini sangat relevan karena masalah utamanya adalah gangguan stimulus lingkungan. Pelaksanaannya melibatkan serangkaian tindakan yang terstruktur. Pertama, perawat perlu memantau dan mengidentifikasi faktor-faktor di lingkungan yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan, seperti kebisingan, pencahayaan, suhu, dan tata ruang. Berdasarkan data pasien, intervensi spesifik yang harus dilakukan adalah mengurangi kebisingan dengan meminimalkan suara alat, menutup pintu ruangan, atau menggunakan white noise jika memungkinkan. Kedua, perawat harus mengatur posisi pasien dan tempat tidur untuk memastikan kenyamanan fisik, termasuk memeriksa dan mengamankan pemasangan kateter serta selang lainnya untuk mengurangi iritasi. Ketiga, sangat penting untuk memfasilitasi privasi pasien. Ini dapat dilakukan dengan menggunakan penyekat atau tirai secara konsisten selama prosedur perawatan, menjaga pintu tertutup, dan menutupi tubuh pasien dengan selimut saat tidak dilakukan tindakan. Keempat, perawat dapat mengatur jadwal kunjungan dan membatasi pengunjung untuk mengurangi stimulasi berlebihan yang dapat memperburuk kebingungan pasien. Kelima, melibatkan pasien dan keluarga dalam pengaturan lingkungan sesuai preferensi mereka, seperti mengatur pencahayaan yang redup di malam hari, dapat meningkatkan rasa kontrol dan kenyamanan pasien. Keenam, memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya lingkungan yang tenang untuk pemulihan. Tindakan-tindakan ini dilakukan secara holistik dan berkesinambungan untuk menciptakan lingkungan terapeutik yang secara aktif mengurangi stimulus tidak menyenangkan dan mempromosikan rasa nyaman secara keseluruhan.
Article No. 22829 | 18 Nov 2025
Klinis : • 29% konjugtiva anemis • 66% siswa tidak sarapan sebelum berangkat ke sekolah • 45% siswa mengatakan malu dengan teman-teman jika harus membawa makan dari rumah • 22% anak mengaku tidak sarapan karena tidak sempat • 13% anak mengganti sarapan dengan jajanan di sekolah • 45% orang tua memang tidak menyiapkan sarapan untuk anaknya di sekolah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: ```html
Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi Berdasarkan SDKI, SLKI, SIKI
Berdasarkan data kondisi pasien yang diberikan, yaitu:
- 29% konjungtiva anemis
- 66% siswa tidak sarapan sebelum berangkat ke sekolah
- 45% siswa mengatakan malu dengan teman-teman jika harus membawa makan dari rumah
- 22% anak mengaku tidak sarapan karena tidak sempat
- 13% anak mengganti sarapan dengan jajanan di sekolah
- 45% orang tua memang tidak menyiapkan sarapan untuk anaknya di sekolah
Analisis data menunjukkan adanya masalah gizi yang signifikan pada populasi siswa, ditandai dengan asupan makanan yang tidak adekuat, pilihan makanan yang kurang sehat, serta faktor penghambat seperti kurangnya dukungan keluarga, keterbatasan waktu, dan faktor psikososial (rasa malu). Konjungtiva anemis menjadi indikator objektif adanya defisiensi mikronutrien, kemungkinan besar zat besi, yang merupakan konsekuensi dari pola makan yang buruk.
1. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)
SDKI adalah standar yang digunakan oleh perawat di Indonesia untuk mengidentifikasi dan mendokumentasikan masalah kesehatan pasien yang dapat diatasi melalui intervensi keperawatan. Ini menyediakan terminologi standar untuk diagnosis keperawatan, memastikan konsistensi dan kejelasan dalam praktik keperawatan.
Komponen
Kode & Definisi
Penjelasan Berdasarkan Kasus
Diagnosis Keperawatan
D.0019 Defisit Nutrisi
Definisi: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme.
Diagnosis ini paling relevan karena data menunjukkan mayoritas siswa tidak sarapan, mengganti sarapan dengan jajanan, dan adanya tanda anemis. Ini secara langsung mengindikasikan ketidakcukupan asupan nutrisi esensial.
Penyebab (Etiologi)
Berhubungan dengan Kurang Asupan Makanan
(Faktor pendukung: ketidakmampuan mengakses makanan, faktor psikologis, kurangnya dukungan keluarga, kurangnya waktu)
66% siswa tidak sarapan, 13% mengganti dengan jajanan, dan 45% orang tua tidak menyiapkan sarapan secara langsung menunjukkan kurangnya asupan makanan yang berkualitas. Faktor "malu" dan "tidak sempat" adalah penyebab sekunder yang berkontribusi pada kurangnya asupan.
Gejala dan Tanda Mayor (Data Penunjang)
- Objektif: Konjungtiva anemis (29%)
- Subjektif:
- 66% siswa tidak sarapan sebelum berangkat ke sekolah
- 13% anak mengganti sarapan dengan jajanan di sekolah
- 45% siswa mengatakan malu dengan teman-teman jika harus membawa makan dari rumah
- 22% anak mengaku tidak sarapan karena tidak sempat
- 45% orang tua memang tidak menyiapkan sarapan untuk anaknya di sekolah
Konjungtiva anemis adalah tanda objektif defisiensi nutrisi. Data persentase siswa yang tidak sarapan, pilihan jajanan, alasan malu, tidak sempat, dan kurangnya persiapan dari orang tua merupakan data subjektif dan objektif (hasil observasi perilaku/wawancara) yang mendukung diagnosis defisit nutrisi.
Article No. 22830 | 18 Nov 2025
Klinis : SESAK NAPAS
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: SESAK NAPAS
Kode SDKI: 00032
Deskripsi Singkat: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Pertukaran Gas Membaik
Kode SIKI: 3310
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas
Penjelasan Lengkap:
Diagnosis Keperawatan (SDKI - Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Diagnosis keperawatan yang paling relevan untuk kondisi sesak napas adalah Gangguan Pertukaran Gas (Kode: 00032). Definisi dari diagnosis ini adalah suatu kondisi dimana terjadi ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan oksigen serta eliminasi karbon dioksida pada membran alveoli-kapiler. Pada pasien dengan sesak napas, proses difusi oksigen dari alveoli ke dalam darah kapiler paru terganggu, atau terjadi gangguan dalam pengangkutan oksigen ke jaringan. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti penumpukan cairan di alveoli (edema paru, pneumonia), kolapsnya alveoli (atelektasis), penyempitan saluran napas (asma, PPOK), atau ketidakseimbangan antara perfusi (aliran darah) dan ventilasi (aliran udara). Tanda dan gejala utama yang mendukung diagnosis ini meliputi sesak napas (dispnea), peningkatan frekuensi napas (takipnea), penggunaan otot bantu napas, sianosis (warna kebiruan pada kulit dan membran mukosa), gelisah, penurunan kesadaran, dan hasil analisis gas darah yang abnormal (seperti penurunan kadar oksigen atau peningkatan kadar karbon dioksida dalam darah). Fokus utama perawat adalah mengidentifikasi penyebab yang mendasari dan meminimalkan dampak dari gangguan pertukaran gas ini.
Luaran Keperawatan (SLKI - Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan untuk diagnosis Gangguan Pertukaran Gas adalah Pertukaran Gas Membaik (Kode: 0401). Luaran ini didefinisikan sebagai perbaikan dalam pertukaran oksigen dan karbon dioksida di tingkat alveoli. Pencapaian luaran ini ditandai dengan beberapa indikator yang dapat diobservasi dan diukur. Pertama, pernapasan menjadi efektif ditandai dengan frekuensi napas yang kembali dalam rentang normal, tidak ada lagi penggunaan otot bantu napas, dan dada bergerak simetris. Kedua, status oksigenasi membaik yang dapat dilihat dari warna kulit dan membran mukosa yang kembali merah muda (tidak pucat atau sianosis), serta saturasi oksigen dalam darah (SpO2) yang mencapai ≥94% tanpa bantuan oksigen atau sesuai target yang ditetapkan. Ketiga, status mental pasien membaik, pasien tampak tenang, tidak gelisah, dan sadar penuh. Keempat, hasil analisis gas darah menunjukkan perbaikan, seperti peningkatan tekanan parsial oksigen (PaO2) dan normalnya tekanan parsial karbon dioksida (PaCO2). Perawat akan memantau indikator-indikator ini secara berkala untuk mengevaluasi keberhasilan intervensi yang diberikan.
Intervensi Keperawatan (SIKI - Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan utama yang dilakukan untuk menangani sesak napas dan mencapai luaran "Pertukaran Gas Membaik" adalah Manajemen Jalan Napas (Kode: 3310). Intervensi ini didefinisikan sebagai upaya memfasilitasi patensi jalan napas dan memaksimalkan pertukaran gas. Kegiatan dalam intervensi ini sangat komprehensif dan sistematis. Pertama, pemantauan dan pengkajian meliputi memonitor status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas), mengauskultasi suara napas untuk mendeteksi adanya wheezing, ronchi, atau penurunan suara napas, serta memantau saturasi oksigen secara terus menerus. Kedua, mempertahankan dan membersihkan jalan napas dengan memposisikan pasien dalam posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi untuk memudahkan ekspansi dada, mendorong batuk efektif dan napas dalam, serta melakukan fisioterapi dada dan suctioning (pengisapan lendir) jika diperlukan untuk membersihkan sekret. Ketiga, pemberian terapi oksigen sesuai dengan instruksi dokter, memastikan kanul atau masker oksigen terpasang dengan benar dan aliran oksigen sesuai yang diresepkan, serta memantau keefektifan terapi oksigen tersebut. Keempat, kolaborasi dan edukasi dengan bekerja sama dengan tim medis lain untuk pemberian obat bronkodilator atau nebulizer, serta mengajarkan pasien dan keluarga tentang teknik pernapasan dalam dan batuk efektif. Semua tindakan ini bertujuan untuk memastikan jalan napas tetap terbuka, mengurangi resistensi saluran napas, dan memaksimalkan pertukaran oksigen serta karbon dioksida, sehingga secara bertahap sesak napas dapat teratasi dan pertukaran gas membaik.
Article No. 22831 | 18 Nov 2025
Klinis : Data Subjektif: - Tn. A mengeluh BAK seperti tidak tuntas. - Tn. A mengeluh sering bangun malam untuk BAK (nokturia). - Tn. A merasa harus mengejan setiap kali BAK, karena merasa seperti ada hambatan ingin berkemih. - Tn. A mengatakan keluar darah saat berkemih. Data Objektif: - Frekuensi BAK meningkat. - Kandung kemih teraba penuh setelah BAK.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Eliminasi Urine
Kode SDKI: D.0013
Deskripsi Singkat: Gangguan Eliminasi Urine adalah keadaan ketika seorang individu mengalami atau berisiko mengalami disfungsi dalam proses pengosongan kandung kemih. Pada kasus Tn. A, gangguan ini dimanifestasikan oleh gejala-gejala klasik retensi urine dan obstruksi saluran kemih bagian bawah, yang sangat umum terkait dengan pembesaran prostat jinak (Benign Prostatic Hyperplasia/BPH). Keluhan utama seperti perasaan tidak tuntas setelah berkemih (perasaan residu), nokturia (sering berkemih di malam hari), peningkatan frekuensi berkemih di siang hari, kebutuhan mengejan (straining), dan hematuria (darah dalam urine) secara kolektif menggambarkan suatu sindrom obstruksi dan iritasi yang mengganggu pola eliminasi normal. Kondisi ini bukan hanya masalah fisik, tetapi juga berdampak signifikan pada kualitas hidup, pola tidur, tingkat kecemasan, dan aktivitas sehari-hari pasien.
Kode SLKI: L.03132
Deskripsi : SLKI L.03132 berfokus pada pemulihan dan pemeliharaan eliminasi urine yang efektif. Tujuan utamanya adalah agar pasien dapat mencapai pengosongan kandung kemih yang tuntas dan mempertahankan pola berkemih yang normal. Implementasi SLKI ini melibatkan serangkaian intervensi pemantauan dan manajemen. Pertama, perawat akan memantau karakteristik urine, termasuk warna (terutama untuk mendeteksi hematuria), kejernihan, bau, dan jumlah output setiap kali berkemih (volume voiding). Pengukuran residu urine pasca berkemih (post-void residual/PVR) sangat krusial, baik melalui palpasi (seperti yang terlihat pada pengkajian dimana kandung kemih masih teraba penuh) atau dengan kateterisasi intermitten, untuk mengkuantifikasi tingkat retensi. Perawat juga akan mendokumentasikan pola berkemih pasien, termasuk frekuensi, urgensi, dan adanya nokturia, untuk mengevaluasi perkembangan kondisi. Selain itu, perawat akan mempromosikan teknik berkemih yang optimal, seperti memberikan privasi yang cukup, posisi berkemih yang nyaman (misalnya berdiri untuk laki-laki), dan melakukan manuver Crede (penekanan lembut di atas area kandung kemih) jika diindikasikan dan aman. Edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai kondisi, tujuan pengobatan, dan tanda-tanda komplikasi (seperti retensi urine total atau infeksi) juga merupakan bagian integral dari luaran ini. Kesuksesan SLKI ini ditandai dengan berkurang atau hilangnya keluhan retensi urine, volume residu urine yang menurun drastis atau normal (<50-100 mL), dan pola berkemih yang kembali dalam rentang normal.
Kode SIKI: I.0283
Deskripsi : SIKI I.0283 merupakan intervensi keperawatan spesifik untuk menangani gangguan eliminasi urine. Intervensi ini bersifat komprehensif, dimulai dari pengkajian yang mendalam. Perawat akan mengkaji riwayat eliminasi urine pasien, termasuk pola biasa, onset dan perkembangan gejala, serta faktor-faktor yang memperberat atau meringankan keluhan. Pengkajian fisik difokuskan pada pemeriksaan abdomen untuk mendeteksi distensi kandung kemih, dan jika kompeten, melakukan pemeriksaan rektal digital untuk mengestimasi ukuran dan konsistensi prostat. Aspek fungsional juga dinilai, seperti kemampuan pasien untuk mengenali sensasi ingin berkemih, mobilitas menuju kamar mandi, dan penggunaan alat bantu. Berdasarkan pengkajian, intervensi manajemen dilakukan. Ini dapat mencakup pemasangan kateter urine (baik kateter menetap atau kateterisasi intermitten) untuk mengosongkan kandung kemih secara langsung pada retensi akut, serta memantau fungsi kateter jika terpasang. Perawat akan menerapkan teknik stimulasi untuk memicu berkemih, seperti menyalurkan air keran (bladder training), memberikan rasa nyaman dan privasi, atau memandu pasien untuk melakukan latihan otot dasar panggul jika sesuai. Manajemen cairan adalah strategi kunci; perawat akan mengatur asupan cairan dengan membatasi di malam hari untuk mengurangi nokturia, sambil memastikan hidrasi yang adequate di siang hari. Menghindari zat yang dapat mengiritasi kandung kemih seperti kafein, alkohol, dan minuman bersoda juga sangat dianjurkan. Pemberian obat-obatan sesuai resep (seperti alpha-blocker atau 5-alpha reductase inhibitor untuk BPH) dan memantau efek serta efek sampingnya adalah tanggung jawab perawat. Seluruh proses ini didokumentasikan dengan cermat, dan edukasi berkelanjutan diberikan kepada pasien untuk memberdayakannya dalam mengelola kondisinya, termasuk kapan harus mencari bantuan medis lebih lanjut.
Article No. 22832 | 18 Nov 2025
Klinis : Gejala dan Tanda Mayor Data Subjektif: (tidak tersedia) Data Objektif - Kurang menunjukkan pemahaman tentang perilaku sehat: Klien mengatakan jarang memperhatikan pola makan - Tidak mampu menjalankan perilaku sehat: Klien mengatakan sulit mengatur pola makannya dan suka mengkonsumsi makanan yang asin dan berminyak Gejala dan Tanda Minor Data Subjektif: (tidak tersedia) Data Objektif - Memiliki riwayat perilaku mencari bantuan kesehatan yang kurang: Klien memeriksakan kesehatan ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mengambil obat antihipertensi namun tidak rutin - Kurang menunjukkan minat untuk meningkatkan perilaku sehat: Klien yang tidak rutin meminum obat antihipertensinya serta kurang menyadari pentingnya kepatuhan dalam pengobatan untuk mengontrol tekanan darah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perilaku Kesehatan
Kode SDKI: D.0025
Deskripsi Singkat: Risiko Perilaku Kesehatan adalah keadaan di mana seorang individu, keluarga, kelompok, atau komunitas rentan untuk melakukan tindakan atau kebiasaan yang dapat menyebabkan penyakit, gangguan kesehatan, atau kegagalan untuk mempertahankan kesehatan yang optimal. Diagnosis ini mengantisipasi kemungkinan terjadinya masalah kesehatan di masa depan akibat pola perilaku yang tidak sehat. Pada kasus pasien ini, risiko tersebut sangat nyata dan termanifestasi dalam beberapa pola perilaku yang konsisten. Pasien menunjukkan kurangnya pemahaman tentang perilaku sehat, yang menjadi dasar dari semua tindakannya. Hal ini diperparah dengan ketidakmampuan untuk menjalankan perilaku sehat itu sendiri, meskipun mungkin ia telah mendapatkan informasi. Kebiasaan mengonsumsi makanan asin dan berminyak merupakan faktor risiko langsung untuk memperburuk kondisi hipertensi. Lebih lanjut, riwayat mencari bantuan kesehatan yang tidak rutin dan kurangnya minat untuk meningkatkan perilaku sehat, seperti ketidakpatuhan minum obat antihipertensi, menunjukkan bahwa pasien berada dalam siklus perilaku berisiko yang dapat menyebabkan komplikasi hipertensi yang lebih serius, seperti stroke, penyakit jantung, atau gagal ginjal. Diagnosis ini menekankan pada aspek "risiko", yang berarti intervensi keperawatan yang tepat waktu dan efektif sangat penting untuk mencegah realisasi risiko tersebut menjadi masalah kesehatan aktual.
Kode SLKI: L.03130
Deskripsi : SLKI L.03130 berfokus pada Peningkatan Perilaku Kesehatan. Tujuan akhir dari intervensi keperawatan ini adalah agar pasien dapat secara mandiri dan konsisten menerapkan perilaku hidup sehat untuk mengendalikan penyakitnya dan meningkatkan kualitas hidup. Deskripsi lengkapnya mencakup serangkaian tindakan yang sistematis. Pertama, perawat perlu mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi penghambat pasien dalam menjalankan perilaku sehat. Dalam kasus ini, hambatannya bisa berupa kurangnya pengetahuan yang mendalam, keyakinan yang salah tentang penyakit dan pengobatan, faktor ekonomi, dukungan sosial yang kurang, atau kebiasaan lama yang sulit diubah. Setelah hambatan teridentifikasi, perawat bersama pasien mengembangkan rencana untuk memodifikasi perilaku berisiko tersebut. Ini termasuk pendidikan kesehatan yang komprehensif tentang hipertensi, komplikasinya, dan pentingnya diet rendah garam serta lemak. Perawat akan melatih pasien keterampilan manajemen diri, seperti cara memantau tekanan darah secara mandiri (jika memungkinkan), membaca label makanan untuk kandungan natrium, dan teknik memodifikasi resep makanan menjadi lebih sehat. Peran perawat juga termasuk memfasilitasi pasien untuk memanfaatkan sistem layanan kesehatan dengan optimal, misalnya dengan mengingatkan jadwal kontrol ulang dan pentingnya kepatuhan farmakologis. SLKI ini dianggap berhasil ketika pasien dapat mendemonstrasikan pemahaman yang benar, menunjukkan perubahan perilaku (seperti memilih makanan sehat dan minum obat teratur), serta melaporkan peningkatan dalam kemampuan mengelola kesehatannya sendiri. Keberhasilan ini diukur melalui penurunan tekanan darah, peningkatan frekuensi kontrol berobat, dan laporan verbal pasien tentang perubahannya.
Kode SIKI: I.01291
Deskripsi : SIKI I.01291 adalah Intervensi Manajemen Perilaku Kesehatan, yang merupakan serangkaian tindakan nyata yang dilakukan perawat untuk membantu pasien dalam mengadopsi, memodifikasi, atau mempertahankan perilaku yang mendukung kesehatan. Intervensi ini bersifat holistik dan melibatkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor pasien. Tindakan spesifik dimulai dengan membangun hubungan saling percaya dan kemitraan dengan pasien. Perawat kemudian akan melakukan asesmen mendalam untuk memahami persepsi, keyakinan, nilai-nilai, dan motivasi pasien terkait kesehatan dan penyakitnya. Berdasarkan asesmen, intervensi pendidikan kesehatan yang terstruktur dan individual diberikan. Pendidikan tidak hanya sekadar memberikan informasi, tetapi juga melibatkan diskusi untuk mengklarifikasi mitos dan kesalahpahaman, misalnya tentang anggapan bahwa obat hipertensi hanya diminum saat sakit kepala saja. Perawat akan menggunakan alat bantu seperti leaflet, poster, atau model makanan untuk menjelaskan pola makan DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension). Selanjutnya, perawat menerapkan strategi modifikasi perilaku, seperti menetapkan tujuan bersama pasien (contoh: "Minggu ini, Bapak akan mengurangi konsumsi gorengan dari 7 kali menjadi 3 kali"), memberikan penguatan positif untuk setiap kemajuan yang dicapai, dan melatih teknik problem-solving untuk mengatasi tantangan, seperti bagaimana menghadapi godaan makanan tidak sehat dalam acara keluarga. Perawat juga berperan sebagai fasilitator dengan menghubungkan pasien dengan sumber daya yang dibutuhkan, seperti konsultasi gizi. Untuk meningkatkan kepatuhan minum obat, perawat dapat mengajarkan penggunaan pil box atau pengingat di ponsel. Intervensi ini bersifat berkelanjutan, dimana perawat akan melakukan evaluasi dan memodifikasi rencana intervensi berdasarkan respons dan perkembangan pasien, memastikan bahwa perubahan perilaku yang terjadi adalah perubahan yang berkelanjutan dan bukan hanya sementara.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 1047 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 1829 1830 1831 1832 1833 1834 1835 1836 1837 1838 1839 1840 1841 1842 1843 1844 1845 1846 1847 1848 1849 1850 1851 1852 1853 1854 1855 1856 1857 1858 1859 1860 1861 1862 1863 1864 1865 1866 1867 1868 1869 1870 1871 1872 1873 1874 1875 1876 1877 1878 1879 1880 1881 1882 1883 1884 1885 1886 1887 1888 1889 1890 1891 1892 1893 1894 1895 1896 1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1964 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058 2059 2060 2061 2062 2063 2064 2065 2066 2067 2068 2069 2070 2071 2072 2073 2074 2075 2076 2077 2078 2079 2080 2081 2082 2083 2084 2085 2086 2087 2088 2089 2090 2091 2092 2093 2094 2095 2096 2097 2098 2099 2100 2101 2102 2103 2104 2105 2106 2107 2108 2109 2110 2111 2112 2113 2114 2115 2116 2117 2118 2119 2120 2121 2122 2123 2124 2125 2126 2127 2128 2129 2130 2131 2132 2133 2134 2135 2136 2137 2138 2139 2140 2141 2142 2143 2144 2145 2146 2147 2148 2149 2150 2151 2152 2153 2154 2155 2156 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2167 2168 2169 2170 2171 2172 2173 2174 2175 2176 2177 2178 2179 2180 2181 2182 2183 2184 2185 2186 2187 2188 2189 2190 2191 2192 2193 2194 2195 2196 2197 2198 2199 2200 2201 2202 2203 2204 2205 2206 2207 2208 2209 2210 2211 2212 2213 2214 2215 2216 2217 2218 2219 2220 2221 2222 2223 2224 2225 2226 2227 2228 2229 2230 2231 2232 2233 2234 2235 2236 2237 2238 2239 2240 2241 2242 2243 2244 2245 2246 2247 2248 2249 2250 2251 2252 2253 2254 2255 2256 2257 2258 2259 2260 2261 2262 2263 2264 2265 2266 2267 2268 2269 2270 2271 2272 2273 2274 2275 2276 2277 2278 2279 2280