Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24460 | 14 Mar 2026
Klinis : Pasien Pria dengan keluhan demam i hari ada luka di betis
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons terhadap patogen atau toksin.
Kode SLKI: 1900
Deskripsi : Kontrol Infeksi. Tujuan akhirnya adalah pasien bebas dari tanda dan gejala infeksi, dengan luka menunjukkan proses penyembuhan yang adekuat. Secara spesifik, perawat akan menetapkan kriteria hasil seperti: suhu tubuh pasien dalam rentang normal (36,5 – 37,5°C), tidak ada kemerahan, bengkak, nyeri, atau nanah pada luka di betis, hasil laboratorium (seperti leukosit) dalam batas normal, pasien dan keluarga dapat mendemonstrasikan perawatan luka yang benar, serta pasien memahami tanda-tanda infeksi yang perlu dilaporkan. SLKI ini menjadi panduan untuk mengukur keberhasilan intervensi keperawatan yang diberikan.
Kode SIKI: 4230
Deskripsi : Manajemen Infeksi. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan sistematis yang dilakukan perawat untuk mencegah, mendeteksi dini, dan menangani infeksi pada pasien. Berdasarkan kondisi pasien pria dengan demam dan luka di betis, tindakan spesifik yang akan dilakukan meliputi: 1) Pemantauan ketat tanda-tanda infeksi sistemik (seperti suhu, denyut nadi, tekanan darah) dan lokal (pada luka: warna, bau, drainage, edema, nyeri). 2) Melakukan perawatan luka aseptik dengan teknik yang tepat, termasuk pembersihan luka, pemilihan balutan yang sesuai, dan penggantian balutan secara teratur. 3) Kolaborasi pemberian terapi antibiotik sesuai resep dokter dan memantau efektivitas serta efek sampingnya. 4) Mengajarkan dan mendemonstrasikan kepada pasien serta keluarga tentang teknik perawatan luka di rumah, pentingnya kebersihan tangan (hand hygiene), dan cara mencegah kontaminasi luka. 5) Meningkatkan daya tahan tubuh pasien dengan memastikan asupan nutrisi dan cairan yang adekuat, serta istirahat yang cukup. 6) Mengedukasi pasien mengenai tanda-tanda infeksi (seperti demam yang memburuk, kemerahan yang meluas, nyeri bertambah) yang mengharuskan pasien segera mencari pertolongan medis. 7) Melakukan isolasi jika diperlukan (misalnya, jika dicurigai infeksi yang resisten) untuk mencegah penularan. 8) Dokumentasi yang akurat mengenai karakteristik luka dan respons pasien terhadap terapi. Semua tindakan ini didasarkan pada prinsip pencegahan dan pengendalian infeksi, dengan tujuan menurunkan suhu demam pasien, menyembuhkan luka, dan mencegah komplikasi sepsis.
-
Article No. 24461 | 14 Mar 2026
Klinis : demam karena luka
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Demam Pasca Trauma (Demam karena Luka)
Kode ICD-10: T79.3
Deskripsi Singkat : Kondisi ini merujuk pada demam yang terjadi sebagai komplikasi langsung dari suatu luka atau trauma, seperti luka bakar, luka tusuk, luka sayat, atau fraktur terbuka. Kode T79.3 mengklasifikasikan "Sindrom pascatraumatik, tidak tergolongkan di tempat lain", yang dalam konteks ini mencakup demam pasca trauma atau demam akibat luka. Demam ini biasanya merupakan tanda respons sistemik tubuh terhadap cedera, yang dapat dipicu oleh proses inflamasi, nekrosis jaringan, atau infeksi sekunder pada area luka. Penting untuk membedakan apakah demam berasal dari respons inflamasi non-infeksi (seperti pada sindrom respons inflamasi sistemik/SIRS) atau dari infeksi aktif (seperti selulitis, osteomielitis, atau sepsis). Dalam praktik kodifikasi, kode T79.3 sering digunakan bersama dengan kode dari bab XIX (S00-T88) untuk menjelaskan jenis luka spesifiknya (misalnya, luka terbuka) dan kode tambahan dari bab I (A00-B99) jika infeksi telah dikonfirmasi. Pemilihan kode ini menekankan hubungan sebab-akibat antara trauma fisik dan timbulnya demam.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24462 | 14 Mar 2026
Klinis : demam karena luka
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Demam Pasca Trauma (Demam karena Luka)
Kode ICD-10: T79.3
Deskripsi Singkat : Kondisi ini merujuk pada demam yang terjadi sebagai komplikasi langsung dari suatu luka atau trauma, seperti luka bakar, luka tusuk, luka sayat, atau fraktur terbuka. Kode T79.3 mengklasifikasikan "Sindrom pascatraumatik, tidak tergolongkan di tempat lain", yang dalam konteks ini mencakup demam pasca trauma atau demam akibat luka. Demam ini biasanya merupakan tanda respons sistemik tubuh terhadap cedera, yang dapat dipicu oleh proses inflamasi, nekrosis jaringan, atau infeksi sekunder pada area luka. Penting untuk membedakan apakah demam berasal dari respons inflamasi non-infeksi (seperti pada sindrom respons inflamasi sistemik/SIRS) atau dari infeksi aktif (seperti selulitis, osteomielitis, atau sepsis). Dalam praktik kodifikasi, kode T79.3 sering digunakan bersama dengan kode dari bab XIX (S00-T88) untuk menjelaskan jenis luka spesifiknya (misalnya, luka terbuka) dan kode tambahan dari bab I (A00-B99) jika infeksi telah dikonfirmasi. Pemilihan kode ini menekankan hubungan sebab-akibat antara trauma fisik dan timbulnya demam.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24463 | 14 Mar 2026
Klinis : BAB berdarah yang dialami sejak 1hari yang lalu TelaahBAB berdarah dialami sudah 8x. Darah berwarna merah segar. Badan terasa lemas. Kepala pusing. Tidak nafsu makan. Perut terasa mules. Demam, batuk, pilek disangkal. Sebelumnya 1tahun yang lalu os juga mengeluhkan seperti ini. Riwayat ada ambeien disangkal Riwayat Penyakit Dahulu- OSens : CM Vas 8 TD 136/94 HR 104 RR 20 T 36.5 Spo2 99 Mata: Anemis-/- Sklera ikterik-/- Thorax: Vesikuler, Rh-/- Wh-/- Abdomen: Soepel, Peristaltik(+)N
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Perdarahan Gastrointestinal Bagian Bawah Akut
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko atau aktual penurunan volume darah sirkulasi yang dapat mengancam kehidupan.
Kode SLKI: L.03104
Deskripsi : Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Terjaga
Kode SIKI: I.01259
Deskripsi : Pemantauan Tanda-Tanda Perdarahan
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosis Keperawatan (SDKI - D.0016: Risiko Penurunan Volume Cairan): Berdasarkan data pasien, yaitu BAB berdarah merah segar sebanyak 8 kali dalam 1 hari, disertai keluhan badan lemas, kepala pusing, tidak nafsu makan, dan tanda vital menunjukkan takikardia (HR 104) serta tekanan darah yang cenderung tinggi (136/94) yang dapat merupakan respons kompensasi dini terhadap kehilangan volume, pasien berisiko tinggi mengalami penurunan volume cairan. Meskipun tanda vital lain masih dalam batas normal dan mata tidak anemis, frekuensi BAB berdarah yang tinggi mengindikasikan kehilangan darah aktif. Riwayat serupa satu tahun lalu meningkatkan kerentanan pasien. Defisit SDKI D.0016 adalah keadaan dinamis dimana individu mengalami atau berisiko mengalami kehilangan vascular, interstitial, atau cairan intraseluler. Etiologi pada kasus ini adalah kehilangan cairan aktif melalui saluran gastrointestinal (hematochezia). Tujuan utama adalah mencegah progresi menjadi syok hipovolemik dengan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.
Luaran Keperawatan (SLKI - L.03104: Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Terjaga): Luaran yang diharapkan dari intervensi keperawatan adalah tercapainya "Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Terjaga". Indikator pencapaiannya meliputi: tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah, nadi, suhu), turgor kulit baik, membran mukosa lembab, produksi urine adekuat (>0.5 mL/kgBB/jam), haluaran cairan seimbang dengan asupan, dan tidak ada keluhan pusing atau lemas yang berat. Pada pasien ini, targetnya adalah menghentikan perdarahan, menstabilkan tanda vital (terutama menurunkan frekuensi nadi ke rentang normal), menghilangkan keluhan pusing dan lemas, serta memastikan tidak ada episode BAB berdarah lebih lanjut. Pemantauan ketat terhadap frekuensi dan karakteristik BAB serta tanda vital adalah kunci untuk mengevaluasi pencapaian luaran ini.
Intervensi Keperawatan (SIKI - I.01259: Pemantauan Tanda-Tanda Perdarahan): Intervensi utama yang direkomendasikan adalah "Pemantauan Tanda-Tanda Perdarahan". Intervensi ini mencakup aktivitas sistematis untuk mendeteksi secara dini adanya perdarahan aktif atau tanda-tanda syok. Implementasinya meliputi: 1) Pengkajian: Memantau dan mendokumentasikan tanda vital (TD, Nadi, RR, Suhu) setiap 1-2 jam atau sesuai kondisi, menilai warna kulit dan kelembaban membran mukosa, mengkaji karakteristik dan frekuensi BAB (warna, jumlah, konsistensi), memantau nilai laboratorium seperti hemoglobin, hematokrit, dan hitung trombosit, serta mengkaji keluhan nyeri abdomen atau rasa ingin BAB terus-menerus (tenesmus). 2) Edukasi: Memberikan penjelasan pada pasien dan keluarga untuk segera melaporkan jika ada BAB berdarah lagi, pusing hebat, atau lemas yang memberat. 3) Kolaborasi: Berkolaborasi dengan tim medis untuk pemberian terapi cairan intravena jika diperlukan, pemberian obat hemostatik, dan persiapan pemeriksaan penunjang seperti kolonoskopi untuk identifikasi sumber perdarahan. Intervensi pendukung lainnya yang relevan adalah Manajemen Cairan (I.05010) untuk memastikan asupan cairan yang adekuat, baik oral maupun parenteral, dan Edukasi Kesehatan (I.09004) mengenai kondisi dan rencana penatalaksanaannya. Fokus intervensi adalah pada observasi ketat, pencegahan komplikasi, dan penanganan segera untuk mengontrol sumber perdarahan.
-
Article No. 24466 | 14 Mar 2026
Klinis : Seorang wanita 73 tahun datang ke Instalasi Gawat Darurat setelah mengalami jatuh yang diikuti nyeri akut pada pinggul kanan dan tidak mampu menumpu berat badan, tanpa adanya cedera lain. Riwayat penyakit sebelumnya meliputi disabilitas belajar, osteoartritis, gangguan pendengaran, epilepsi, dan hipertensi, namun tidak ada diagnosis diabetes sebelumnya dengan kadar gula darah normal saat masuk rumah sakit. Pasien sebelumnya dapat bergerak secara mandiri dengan bantuan satu orang perawat/caregiver untuk perawatan diri dan aktivitas sehari-hari. Hasil Pemeriksaan pencitraan menunjukkan bahwa pasien mengalami fraktur leher femur kanan tipe intrakapsular, yang kemudian dilakukan tindakan operasi hemiarthroplasty pada hari berikutnya. Dua hari setelah operasi pasien mengalami muntah, mengalami acute kidney injury (AKI), dan pada malam hari saturasi oksigen menurun hingga 92% dengan pemberian oksigen 35%. Pasien kemudian mendapat terapi untuk aspiration pneumonia dan sementara waktu tidak diperbolehkan makan atau minum melalui mulut karena risiko aspirasi berulang. Tim terapi wicara dan bahasa merekomendasikan pemasangan nasogastric tube (NGT). Pemeriksaan gas darah vena menunjukkan kadar natrium meningkat menjadi 154 mmol/L. Pemeriksaan gula darah menunjukkan kadar 24,8 mmol/L meskipun pasien sebelumnya tidak memiliki diagnosis diabetes. Pada pemeriksaan klinis pasien tampak mengalami dehidrasi. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar ureum serum 11,1 mmol/L dan osmolalitas serum 343,9 mOsm/kg dengan kadar keton serum dan urin tidak signifikan serta tidak ditemukan asidosis. Berdasarkan hasil tersebut pasien didiagnosis mengalami Hyperosmolar Hyperglycemic State (HHS) dan diberikan terapi sesuai pedoman yang berlaku. Pemeriksaan HbA1c menunjukkan nilai 55 mmol/mol sehingga ditegakkan diagnosis Diabetes Mellitus tipe 2. Tim diabetes kemudian memulai terapi insulin rutin tiga hari setelah diagnosis ditegakkan.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: D.0015
Deskripsi Singkat: Risiko perubahan kadar glukosa darah dari rentang normal yang diinginkan.
Kode SLKI: L.03108
Deskripsi : Kadar glukosa darah dalam rentang yang diinginkan.
Kode SIKI: I.01244
Deskripsi : Memantau kadar glukosa darah.
Kondisi: Risiko Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat: Risiko mengalami kelebihan, kekurangan, atau perpindahan cepat cairan atau elektrolit tubuh.
Kode SLKI: L.03004
Deskripsi : Keseimbangan cairan dan elektrolit.
Kode SIKI: I.01209
Deskripsi : Memantau keseimbangan cairan.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0007
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons terhadap patogen.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Bebas dari infeksi.
Kode SIKI: I.01221
Deskripsi : Memantau tanda dan gejala infeksi.
Kondisi: Risiko Aspirasi
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Risiko masuknya sekret oral, gastrointestinal, atau isi reflukat ke dalam jalan napas.
Kode SLKI: L.04005
Deskripsi : Bebas dari aspirasi.
Kode SIKI: I.01005
Deskripsi : Manajemen jalan napas.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0029
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat, dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi, dan durasi kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Kontrol nyeri.
Kode SIKI: I.01159
Deskripsi : Manajemen nyeri.
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik
Kode SDKI: D.0046
Deskripsi Singkat: Keterbatasan dalam pergerakan fisik mandiri yang disengaja dalam lingkungan.
Kode SLKI: L.06001
Deskripsi : Kemampuan mobilitas.
Kode SIKI: I.01088
Deskripsi : Manajemen mobilitas.
-
Article No. 24467 | 14 Mar 2026
Klinis : pasien dengan penurunan kesadaran RPD:riwayat transfusi darah 4 kantong 2 minggu yang lalu, batu empedu 2 tahun yang lalu , riwayat batu ginjal, dan stroke 2 tahun yang lalu KU lemah, GCS E3V2M4 TD : 181/113 N : 122 S: 36,5 RR : 30 SPO2 : 97% Status generalis Mata RC +/+, isokor 3mm/3mm, CA +/+ Thorax SDV +/+ RBH -/- RBK +/+ WHZ -/- Abdomen supel, BU (+), NT (-) Ext atas akral hangat , CRT < 2 detik Ext Bawah akral hangat , CRT < 2 detik Status Neurologis Sensorik sde motorik sde Refleks fisiologis: +3/+3// +3/+3 Refleks patologis: (-) Nistagmus: (-) NIHSS: 33 --> 30 --> 30 --> 26 --> 22 FR: riwayat stroke, jantung Komplikasi tirah baring: - Infeksi: - - Stress ulcer: - - DVT: - - Disfagia: - - cemas: - Komorbid: lab 08/03/26 hb 13.44 eritrosit 5.37 hmt 41.3 lekosit 9.12 trombosit 229 Na 135 K 4.6 Cl 103 Ca2+ 1.1 pH 7.59 GDS 133 SGOT 54 SGPT 30 ur 40.7 kr 0.82 CT scan Kesan : - Infark cerebri di periventrikel lateralis bilateral - Atrofi cerebri - Tak tampak perdarahan intracerebri maupun intracerebeli Ro thorax Kesan : - Pulmo normal - Cardiomegali
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Penurunan Perfusi Jaringan Otak
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah ke jaringan otak yang dapat mengakibatkan ketidakpuasan kebutuhan oksigen dan nutrisi. Pada pasien ini, kondisi ini sangat relevan mengingat riwayat stroke, hasil CT scan yang menunjukkan infark cerebri (stroke iskemik) baru di periventrikel lateralis bilateral, dan adanya tanda-tanda hipertensi berat (TD 181/113 mmHg) serta takikardia (N: 122). Kombinasi faktor-faktor ini meningkatkan risiko terjadinya penurunan perfusi lebih lanjut, memperburuk area infark, atau memicu kejadian iskemik baru. Penurunan kesadaran (GCS E3V2M4 = 9) dan skor NIHSS yang tinggi (awal 33) merupakan manifestasi langsung dari gangguan perfusi otak yang telah terjadi. Hipertensi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan vasospasme atau kegagalan autoregulasi serebral, sementara takikardia dapat mengurangi waktu pengisian ventrikel dan menurunkan curah jantung, yang pada akhirnya memengaruhi aliran darah ke otak.
Kode SLKI: L.08031
Deskripsi : Perfusi jaringan otak membaik, ditandai dengan: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang yang diharapkan (terutama tekanan darah dan denyut nadi yang terkontrol); 2) Status neurologis stabil atau membaik (peningkatan skor GCS, penurunan skor NIHSS); 3) Tidak ada keluhan sakit kepala hebat, mual, muntah proyektil, atau kejang baru. Pada pasien ini, tujuan SLKI adalah mencapai tekanan darah yang terkontrol secara bertahap untuk mempertahankan perfusi serebral adekuat tanpa menyebabkan hipoperfusi, memantau tren perbaikan neurologis (NIHSS telah menunjukkan tren menurun: 33 -> 22), dan mencegah komplikasi lebih lanjut seperti edema otak atau transformasi hemoragik. Pemantauan ketat terhadap kesadaran, tanda vital, dan fungsi neurologis fokal adalah inti dari luaran ini.
Kode SIKI: I.08060
Deskripsi : Intervensi untuk mengoptimalkan perfusi serebral meliputi: 1) Memantau status neurologis secara ketat dan berkelanjutan (GCS, NIHSS, pupil, fungsi motorik/sensorik) setiap jam atau sesuai protokol. 2) Memantau dan mengelola tekanan darah secara ketat sesuai target terapi (biasanya tidak menurunkan terlalu agresif pada fase akut stroke iskemik), bekerjasama dengan tim medis. 3) Memposisikan kepala tempat tidur 30 derajat (kecuali ada kontraindikasi) untuk meningkatkan aliran balik vena dan mengurangi tekanan intrakranial. 4) Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, menghindari cairan hipotonis yang dapat memperburuk edema serebral. 5) Memberikan oksigen tambahan jika diperlukan untuk mempertahankan SpO2 > 95%. 6) Menghindari faktor yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial seperti batuk, mengejan, fleksi atau rotasi leher berlebihan, dan nyeri. 7) Kolaborasi pemberian terapi farmakologis sesuai instruksi (antihipertensi, antiplatelet/antikoagulan jika diindikasikan, statin). 8) Edukasi keluarga tentang pentingnya pemantauan dan pembatasan aktivitas. Intervensi ini bertujuan menciptakan kondisi optimal untuk perfusi otak, mencegah cedera sekunder, dan mendukung pemulihan neurologis.
Kondisi: Gangguan Persepsi Sensori: Kinestetik
Kode SDKI: D.0059
Deskripsi Singkat: Perubahan dalam jumlah atau pola stimulus yang masuk disertai dengan respons yang menghambat, mendistorsi, atau mengganggu perilaku. Pada pasien dengan penurunan kesadaran (GCS 9) dan riwayat stroke, gangguan pada sistem saraf pusat secara langsung mengganggu kemampuan otak untuk memproses dan menginterpretasi informasi sensori dari tubuh dan lingkungan. Hasil CT scan menunjukkan infark dan atrofi cerebri, yang mengindikasikan kerusakan struktural pada area otak yang bertanggung jawab untuk integrasi sensori. Pasien mungkin tidak dapat merasakan atau menanggapi rangsangan nyeri, posisi tubuh (propriosepsi), atau sentuhan dengan tepat. Hal ini meningkatkan risiko cedera, seperti terjatuh dari tempat tidur, dekubitus, atau kontraktur sendi. Gangguan persepsi ini juga berkontribusi pada ketidakmampuan pasien untuk berpartisipasi dalam perawatan diri dan membuatnya sepenuhnya bergantung pada perawat.
Kode SLKI: L.03065
Deskripsi : Persepsi sensori membaik, ditandai dengan: 1) Pasien menunjukkan respons yang tepat terhadap stimulus sensori (misalnya, menarik anggota gerak saat dirangsang nyeri, membuka mata saat dipanggil). 2) Pasien terlindungi dari cedera akibat gangguan persepsi. 3) Tidak terjadi komplikasi imobilisasi seperti kontraktur atau dekubitus. Luaran yang diharapkan adalah peningkatan tingkat kesadaran dan responsivitas pasien, serta terpeliharanya integritas kulit dan sistem muskuloskeletal melalui perawatan yang diberikan oleh perawat dan keluarga.
Kode SIKI: I.03029
Deskripsi : Intervensi untuk mengelola gangguan persepsi sensori meliputi: 1) Memberikan stimulasi sensori yang terarah dan bermakna, seperti berbicara dengan suara tenang, menyentuh sebelum melakukan tindakan, memperdengarkan musik lembut. 2) Melakukan orientasi realitas setiap kali berinteraksi (menyebutkan nama, waktu, tempat). 3) Melindungi pasien dari cedera dengan menggunakan bingkai tempat tidur, memastikan lingkungan aman. 4) Melakukan perawatan kulit yang ketat (perubahan posisi setiap 2 jam, penggunaan alas anti dekubitus, menjaga kulit tetap bersih dan kering) untuk mencegah luka tekan. 5) Melakukan latihan rentang gerak (range of motion/ROM) pasif pada ekstremitas untuk mencegah kontraktur dan mempertahankan fungsi sendi. 6) Memposisikan tubuh dengan alignment yang benar. 7) Memantau dan melindungi area-area yang berisiko tinggi terhadap cedera tekanan. Intervensi ini bertujuan untuk memberikan stimulasi yang aman, mencegah komplikasi imobilisasi, dan mempertahankan fungsi fisik pasien selama fase penurunan kesadaran.
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: D.0098
Deskripsi Singkat: Risiko variasi kadar glukosa darah dari rentang normal. Pasien memiliki nilai GDS 133 mg/dL yang menunjukkan hiperglikemia. Hiperglikemia pada fase akut stroke iskemik merupakan faktor prognostik yang buruk dan dapat memperluas area infark dengan meningkatkan edema serebral, stres oksidatif, dan gangguan pada sawar darah otak. Riwayat transfusi darah juga dapat mempengaruhi metabolisme glukosa. Kondisi stres fisik akibat stroke itu sendiri dapat memicu respons hormonal (seperti peningkatan hormon kortisol dan katekolamin) yang menyebabkan peningkatan produksi glukosa hati dan resistensi insulin, sehingga memperburuk kontrol glikemik. Mengelola kadar glukosa darah sangat penting untuk mendukung penyembuhan neurologis dan mencegah komplikasi infeksi.
Kode SLKI: L.10030
Deskripsi : Kadar glukosa darah stabil, ditandai dengan: 1) Kadar glukosa darah dalam rentang target yang ditetapkan (biasanya mendekati normoglikemi). 2) Tidak ada tanda-tanda hipoglikemia (berkeringat, gelisah, penurunan kesadaran lebih lanjut) atau hiperglikemia berat (dehidrasi, ketoasidosis). Tujuan luaran adalah mencapai dan mempertahankan kontrol glikemik yang optimal untuk mendukung metabolisme otak dan mencegah kerusakan neurologis tambahan.
Kode SIKI: I.10015
Deskripsi : Intervensi untuk mengelola kadar glukosa darah meliputi: 1) Memantau kadar glukosa darah secara berkala sesuai instruksi (biasanya setiap 6 jam atau lebih sering). 2) Kolaborasi pemberian terapi insulin sesuai protokol (seringkali insulin drip atau subcutaneous sliding scale) untuk mencapai target glikemik. 3) Memantau tanda-tanda hipo dan hiperglikemia, terutama karena gejala hipoglikemia dapat tertutup oleh penurunan kesadaran stroke. 4) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori dan jenis nutrisi yang tepat, terutama jika ada rencana pemberian nutrisi enteral. 5) Memastikan hidrasi adekuat. Intervensi ini bersifat kolaboratif dan membutuhkan koordinasi dengan tim medis dan gizi untuk menyesuaikan terapi berdasarkan hasil pemantauan berkelanjutan.
-
Article No. 24468 | 14 Mar 2026
Klinis : nyeri dada berkurang, sesak berkurang, pusing cekot-cekot KU lemah, CM TD : 121/69 HR : 61 RR : 19 S : 36.6 SpO2 : 98% on O2 JVP 5+3 RBH +/+ WHZ -/- edem -/- CKMB datang 17 CKMB pagi 143
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 00032
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut (International Association for the Study of Pain); onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan durasi ≤ 3 bulan.
Kode SLKI: 0901
Deskripsi : Pasien mengungkapkan nyeri berkurang atau terkontrol. Meskipun data menunjukkan keluhan nyeri dada berkurang, kondisi ini masih relevan sebagai tujuan akhir dari manajemen nyeri. SLKI ini mengukur keberhasilan intervensi keperawatan dalam mengurangi pengalaman nyeri pasien. Kriteria evaluasinya meliputi pasien melaporkan nyeri berkurang, mampu menunjukkan metode nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri, dan tanda-tanda vital serta perilaku kembali ke kondisi dasar. Dalam konteks pasien ini, pengurangan nyeri dada merupakan indikator positif, namun perlu pemantauan berkelanjutan karena nyeri akut pada kondisi jantung dapat kambuh. Perawat harus terus menilai karakteristik nyeri (lokasi, intensitas, durasi) dan respons pasien terhadap terapi yang diberikan. Pencapaian SLKI ini tidak hanya tentang hilangnya sensasi nyeri, tetapi juga tentang peningkatan kenyamanan dan kemampuan pasien untuk berpartisipasi dalam aktivitas perawatan diri tanpa dibatasi oleh nyeri.
Kode SIKI: 2610
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi ini mencakup pemberian terapi farmakologis dan nonfarmakologis untuk meredakan atau mengurangi nyeri, serta memantau efektivitas dan efek sampingnya. Pada pasien dengan kondisi seperti ini, tindakan spesifik meliputi: 1) Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif dan berkala menggunakan skala yang valid. 2) Mengkolaborasikan pemberian analgetik sesuai instruksi (misalnya, nitrogliserin, morfin) dengan memantau tekanan darah dan respons nyeri. 3) Memberikan terapi oksigen untuk mengurangi iskemia miokard penyebab nyeri. 4) Menerapkan intervensi nonfarmakologis seperti lingkungan yang tenang, posisi yang nyaman, dan teknik relaksasi. 5) Memantau tanda-tanda vital (TD, HR, RR) sebelum dan sesudah intervensi nyeri. 6) Mengobservasi efek samping medikasi, seperti hipotensi atau bradikardia (sesuai data HR 61). 7) Mendidik pasien untuk segera melaporkan jika nyeri muncul kembali. Intervensi ini sangat krusial karena nyeri dada yang tidak tertangani dapat meningkatkan stres kardiak dan memperburuk kondisi. SIKI 2610 juga menekankan pada pendokumentasian yang akurat mengenai respons pasien, yang dalam kasus ini telah menunjukkan kemajuan dengan berkurangnya keluhan nyeri dada.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: 00094
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau yang diinginkan.
Kode SLKI: 0901
Deskripsi : Pasien menunjukkan peningkatan toleransi aktivitas. Data kondisi pasien menunjukkan KU lemah, yang merupakan manifestasi dari intoleransi aktivitas. SLKI ini bertujuan agar pasien dapat melakukan aktivitas secara bertahap tanpa mengalami kelemahan berlebihan, sesak, atau peningkatan nyeri. Kriteria pencapaiannya meliputi pasien mampu melakukan aktivitas perawatan diri dengan bantuan minimal, tanda vital stabil selama dan setelah aktivitas (TD, HR, RR, SpO2 dalam batas aman), serta tidak mengalami kelelahan yang memberatkan. Meskipun sesak telah berkurang, kelemahan tubuh (KU lemah) masih menjadi hambatan. Perencanaan aktivitas bertahap dimulai dari aktivitas di tempat tidur, duduk di tepi tempat tidur, hingga ambulasi terbatas, dengan terus memantau respons kardiovaskular. Pencapaian SLKI ini penting untuk mencegah deconditioning dan mempersiapkan pasien untuk pemulangan. Perawat harus mendokumentasikan jenis aktivitas, durasi, dan respons pasien setiap kali latihan dilakukan.
Kode SIKI: 0201
Deskripsi : Manajemen Energi. Intervensi ini berfokus pada pengaturan penggunaan energi untuk menyelesaikan aktivitas sehari-hari tanpa menimbulkan kelelahan berlebih. Tindakan spesifik untuk pasien ini meliputi: 1) Mengkaji faktor penyebab kelemahan (misalnya, akibat nyeri, iskemia miokard, atau efek samping pengobatan). 2) Menyusun jadwal aktivitas dan istirahat yang seimbang, memastikan periode istirahat yang cukup sebelum dan setelah aktivitas. 3) Membantu pasien dalam aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan untuk menghemat energi. 4) Memantau respons kardiovaskular dan pernapasan (HR, RR, TD, SpO2) sebelum, selama, dan setelah aktivitas. 5) Mendorong partisipasi dalam aktivitas secara bertahap sesuai rencana yang ditetapkan. 6) Mengajarkan teknik penghematan energi, seperti duduk saat mandi atau menyisir rambut. 7) Berkolaborasi dengan tim gizi untuk memastikan asupan nutrisi yang mendukung peningkatan energi. Intervensi ini sangat relevan mengingat KU pasien yang masih lemah, sehingga diperlukan pendekatan terstruktur untuk mencegah memburuknya kondisi jantung akibat aktivitas yang berlebihan.
Kondisi: Risiko Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: 00292
Deskripsi Singkat: Risiko terjadinya ketidakadekuatan darah yang dipompa oleh jantung untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SLKI: 0902
Deskripsi : Curah jantung dan perfusi jaringan adekuat dipertahankan. SLKI ini bersifat preventif, bertujuan untuk mencegah terjadinya penurunan curah jantung. Kriteria keberhasilannya adalah tanda-tanda vital dalam rentang normal yang dapat diterima untuk pasien (TD 121/69, HR 61, RR 19, SpO2 98%), tidak adanya tanda hipoperfusi (akral hangat, pengisian kapiler < 3 detik, produksi urin adekuat), dan tidak ada keluhan sesak napas atau nyeri dada yang memberat. Meskipun data saat ini stabil, peningkatan enzim CKMB dari 17 menjadi 143 mengindikasikan adanya kerusakan miokard yang dapat mengancam fungsi pompa jantung. JVP 5+3 juga perlu dipantau sebagai indikator tekanan pengisian jantung. SLKI ini menekankan pada pemantauan berkelanjutan untuk mendeteksi dini tanda-tanda penurunan, seperti hipotensi, takikardia, dispnea, atau penurunan kesadaran. Pencapaian SLKI ini ditandai dengan stabilitas hemodinamik selama periode observasi.
Kode SIKI: 0406
Deskripsi : Pemantauan Hemodinamik. Intervensi ini melibatkan pengukuran dan interpretasi data invasif dan non-invasif untuk menentukan integritas kardiovaskular. Tindakan spesifik yang harus dilakukan perawat meliputi: 1) Memantau dan mendokumentasikan tanda-tanda vital (TD, Nadi, RR, Suhu) secara teratur dan lebih sering jika kondisi berisiko. 2) Memantau status oksigenasi (SpO2) dan memberikan terapi oksigen sesuai kebutuhan. 3) Mengobservasi tanda-tanda klinis penurunan curah jantung seperti kelemahan, pusing, perubahan mental, nadi perifer lemah, dan penurunan output urin. 4) Memantau hasil pemeriksaan penunjang, khususnya peningkatan enzim jantung (CKMB) dan elektrolit. 5) Mengkaji tekanan vena jugularis (JVP) sebagai bagian dari pemeriksaan fisik kardiovaskular. 6) Membatasi asupan cairan dan memantau keseimbangan cairan jika diperlukan. 7) Memastikan istirahat fisik dan emosional untuk mengurangi beban kerja jantung. 8) Segera melaporkan setiap perubahan atau temuan yang mengkhawatirkan kepada dokter. Intervensi ini sangat kritis mengingat data laboratorium yang menunjukkan infark miokard akut (peningkatan CKMB), yang secara langsung mengancam curah jantung.
-
Article No. 24470 | 14 Mar 2026
Klinis : eorang anak laki-laki, berusia 14 bulan, berat badan 7.200 gram, panjang badan 69 cm, dibawa oleh ayah dan ibunya ke RSUP A sebagai rujukan dari RSUD B. Saat datang ke rumah sakit, anak tampak kurang aktif, bibir dan sekitar mulut sianosis. Berdasarkan penuturan dari ibunya, anak mengalami kesulitan minum, dan sering mengalami kebiruan terutama di bibir dan sekitar mulut. Anak lahir ditolong petugas kesehatan di Puskesmas terdekat dan saat pulang anak dapat menyusu, tetapi sejak usia sekitar 2 bulan anaknya mengalami kesulitan saat menyusu, kelelahan, dan berkeringat. Anak juga sering mengalami batuk pilek yang disertai demam. Anak ini berbeda dengan kakaknya, yang pada usia kurang dari 1 tahun kakanya sudah bisa berjalan, sedangkan anak ini baru bisa duduk dan itupun tidak bisa lama. Pada usia 10 bulan, anak sempat dirawat, dan dari catatan medik didapatkan takikardia dan takipnea, murmur sistolik pada tepi atas sternum kiri, dan mid diastolik di area apex. Pada pemeriksaan fisik, saat ini tampak bentuk dada kiri agak menonjol. BJ I normal terdengar keras, BJ II keras dengan split yang tidak begitu jelas, HR 124 kali/menit, RR 32 kali/menit, terdengar murmur sistolik pada tepi kiri sternum atas, dan tampak clubbing of finger. Dari pemeriksaan lebih lanjut didapatkan bahwa anak mengalami hambatan penutupan duktus arteriosus dengan pirau yang cukup besar dan sudah menimbulkan Sindroma Eisenmenger
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas dan Intoleransi Aktivitas terkait Defek Jantung Bawaan (Patent Ductus Arteriosus dengan Sindroma Eisenmenger)
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran gas adalah kondisi dimana terjadi penurunan kemampuan tubuh untuk melakukan pertukaran oksigen dan karbon dioksida secara adekuat pada tingkat alveolar-membran kapiler. Pada kasus ini, gangguan disebabkan oleh pirau (shunt) kanan-ke-kiri sekunder akibat Patent Ductus Arteriosus (PDA) yang telah berkembang menjadi Sindroma Eisenmenger. Duktus arteriosus yang tidak menutup menyebabkan aliran darah dari aorta (tekanan tinggi) ke arteri pulmonalis (tekanan rendah). Seiring waktu, aliran darah yang berlebihan ke sirkulasi paru menyebabkan hipertensi pulmonal yang irreversible. Ketika tekanan di arteri pulmonalis melebihi tekanan aorta, arah pirau berbalik menjadi kanan-ke-kiri. Darah yang miskin oksigen dari ventrikel kanan dialirkan ke aorta sistemik, menyebabkan hipoksemia sistemik kronis. Hal ini dimanifestasikan secara klinis sebagai sianosis sentral (bibir dan sekitar mulut), clubbing finger, takipnea, dan intoleransi aktivitas (anak kurang aktif, cepat lelah saat menyusu). Hipoksia jaringan yang kronis juga menjelaskan keterlambatan perkembangan motorik (hanya bisa duduk sebentar dibanding kakaknya yang sudah bisa berjalan di usia yang sama).
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : Perbaikan pertukaran gas adalah serangkaian intervensi keperawatan yang bertujuan untuk mengoptimalkan oksigenasi dan ventilasi untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Tujuan utamanya adalah mempertahankan atau memperbaiki saturasi oksigen dalam rentang yang dapat diterima, mengurangi beban kerja pernapasan, dan mencegah komplikasi hipoksia lebih lanjut. Pada bayi dengan Sindroma Eisenmenger, manajemen berfokus pada suportif karena koreksi bedah sudah tidak memungkinkan akibat hipertensi pulmonal yang fixed. Intervensi meliputi: pemberian oksigen secara hati-hati (meski manfaatnya terbatas, dapat membantu mengurangi vasokonstriksi paru), memposisikan anak dengan posisi yang memfasilitasi ekspansi dada (seperti semi-Fowler), memantau ketat tanda-tanda vital (HR, RR, saturasi oksigen) dan tanda sianosis. Perawat juga harus meminimalkan konsumsi oksigen dengan mengatur aktivitas, seperti menyusui dalam porsi kecil namun sering untuk mengurangi kelelahan, dan memberikan istirahat yang cukup. Edukasi kepada orang tua tentang tanda-tanda hipoksia yang memburuk (sianosis bertambah, gelisah, sesak) dan pentingnya menghindari dehidrasi (yang dapat memperburuk hiperviskositas darah) juga merupakan bagian kritis dari SLKI ini.
Kode SIKI: I.01295
Deskripsi : Manajemen oksigenasi adalah tindakan keperawatan spesifik untuk memastikan pemberian dan penggunaan oksigen yang aman dan efektif. Implementasinya pada kasus ini melibatkan beberapa langkah: pertama, melakukan pengkajian awal dan berkelanjutan terhadap status pernapasan (pola, usaha, bunyi napas) dan oksigenasi (warna kulit/mukosa, saturasi oksigen dengan pulse oximeter, adanya clubbing). Kedua, mempersiapkan dan memberikan terapi oksigen sesuai instruksi dokter, biasanya dengan kanula nasal atau masker, dengan flow rate yang ditentukan. Penting untuk memantau respons terhadap terapi oksigen. Ketiga, memastikan keamanan alat dan lingkungan (menjauhkan dari sumber api, memasang tanda "Dilarang Merokok"). Keempat, melakukan perawatan kebersihan jalan napas jika diperlukan, seperti pengisapan lendir (suction) dengan teknik steril jika anak batuk tidak efektif. Kelima, memantau efek samping terapi oksigen seperti kekeringan membran mukosa. Keenam, mendokumentasikan semua temuan dan tindakan secara akurat. Selain itu, perawat melakukan manajemen energi dengan membantu orang tua dalam teknik pemberian nutrisi yang tidak melelahkan, seperti menggunakan dot dengan lubang yang sesuai agar anak tidak menghabiskan terlalu banyak energi untuk menghisap, serta menjadwalkan aktivitas perawatan untuk memberikan periode istirahat yang panjang. Intervensi ini bertujuan untuk menurunkan kebutuhan oksigen tubuh sekaligus memaksimalkan suplai yang ada, sehingga mengurangi gejala dan meningkatkan kenyamanan anak.
-
Article No. 24471 | 14 Mar 2026
Klinis : pasien tampak gelisah riw dm + ht ku lemah, delirium T 131/68 N 92 R 22 SPo2 98 % ( Nasal canul ) GDS 90 selulitis akut on ckd hiperkalemia ringan hipoalbumin anemia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Glukosa Darah
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Risiko perubahan kadar glukosa darah dari rentang normal yang diinginkan.
Kode SLKI: L.03136
Deskripsi : Pasien mempertahankan kadar glukosa darah dalam rentang yang ditargetkan. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Kadar glukosa darah dalam rentang target yang ditetapkan (pada pasien ini, GDS 90 mg/dL dapat dianggap dalam batas normal/aman, namun riwayat DM memerlukan pemantauan ketat untuk mencegah hipo/hiperglikemia). 2) Mengenali tanda dan gejala hipoglikemia (seperti lemah, delirium, gelisah) dan hiperglikemia. 3) Melakukan tindakan yang tepat sesuai instruksi untuk mengelola kadar glukosa darah. 4) Mematuhi regimen terapi yang diresepkan. Perawat perlu memantau GDS secara berkala mengingat kondisi akut dan delirium yang dapat menyamarkan gejala gangguan glukosa.
Kode SIKI: I.05229
Deskripsi : Manajemen Hiperglikemia dan Hipoglikemia. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Memantau tanda dan gejala hipoglikemia (lemah, delirium, gelisah, takikardi) dan hiperglikemia. 2) Memantau kadar glukosa darah sesuai ketentuan (misal: sebelum makan dan sebelum tidur, atau sesuai kondisi akut). 3) Mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi kontrol glukosa seperti infeksi (selulitis), diet, dan fungsi ginjal (CKD). 4) Kolaborasi pemberian insulin atau agen antihiperglikemia oral sesuai resep dengan pertimbangan fungsi ginjal. 5) Memberikan pendidikan kesehatan pada pasien/keluarga tentang tanda-tanda gangguan glukosa dan tindakan yang harus diambil, dengan penyesuaian mengingat kondisi delirium pasien. 6) Memastikan asupan nutrisi yang adekuat dan sesuai untuk kondisi DM dan CKD.
Kondisi: Risiko Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0020
Deskripsi Singkat: Risiko tidak cukupnya darah yang dipompa oleh jantung untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SLKI: L.03004
Deskripsi : Pasien mempertahankan curah jantung yang adekuat. Kriteria hasil meliputi: 1) Tekanan darah dalam rentang yang dapat diterima (tekanan darah 131/68 mmHg pada pasien ini menunjukkan tekanan diastolik yang rendah, perlu waspada). 2) Denyut nadi dalam rentang normal (Nadi 92x/menit berada di batas atas normal/takikardi ringan, bisa merupakan kompensasi). 3) Status mental normal (pasien mengalami delirium, menunjukkan kemungkinan gangguan perfusi serebral). 4) Keseimbangan cairan. 5) Tidak menunjukkan tanda syok. Perawat harus memantau tren tekanan darah (terutama diastolik rendah), nadi, dan status mental secara ketat mengingat riwayat HT, CKD, dan kondisi akut.
Kode SIKI: I.05006
Deskripsi : Pemantauan Hemodinamik. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Memantau tekanan darah, nadi, frekuensi napas, dan saturasi oksigen secara teratur. 2) Mengkaji status mental dan tingkat kesadaran (delirium). 3) Memantau keseimbangan cairan (intake dan output). 4) Memantau hasil pemeriksaan laboratorium terkait (elektrolit khususnya hiperkalemia ringan yang dapat mempengaruhi irama jantung, kreatinin, Hb untuk anemia). 5) Mengkaji warna kulit, kelembaban, pengisian kapiler, dan suhu ekstremitas. 6) Kolaborasi dalam pemberian terapi cairan atau obat-obatan kardiovaskular sesuai resep dengan pertimbangan fungsi ginjal. 7) Memposisikan pasien untuk optimasi sirkulasi.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0008
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya kerentanan terhadap invasi patogen.
Kode SLKI: L.03123
Deskripsi : Pasien bebas dari tanda dan gejala infeksi. Kriteria hasil meliputi: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal (pasien demam? data T tidak diberikan dalam °C, perlu dilengkapi). 2) Tidak ada tanda inflamasi lokal (padahal pasien memiliki selulitis, sehingga tujuan SLKI adalah mencegah penyebaran). 3) Hasil laboratorium penanda infeksi dalam batas normal. 4) Meningkatkan perilaku untuk mencegah infeksi. Pada pasien ini, fokusnya adalah mencegah penyebaran infeksi selulitis dan mencegah infeksi baru mengingat kondisi imunokompromais akibat CKD, hiperglikemia, dan hipoalbuminemia.
Kode SIKI: I.05131
Deskripsi : Manajemen Infeksi. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Memantau tanda-tanda vital, khususnya suhu. 2) Melakukan perawatan luka selulitis dengan teknik aseptik dan antiseptik. 3) Memantau karakteristik luka (kemerahan, bengkak, nyeri, panas, drainage). 4) Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai resep dan evaluasi efektivitasnya. 5) Meningkatkan pertahanan tubuh dengan memastikan nutrisi adekuat (tantangan pada hipoalbumin dan anorexia pada CKD). 6) Melakukan edukasi pada pasien/keluarga tentang pentingnya kebersihan tangan dan perawatan luka. 7) Memantau hasil laboratorium seperti leukosit dan kultur.
Kondisi: Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme.
Kode SLKI: L.03048
Deskripsi : Status nutrisi pasien membaik. Kriteria hasil meliputi: 1) Berat badan stabil atau meningkat menuju target. 2) Nilai laboratorium terkait nutrisi dalam batas normal (peningkatan kadar albumin dari kondisi hipoalbumin). 3) Asupan makanan dan cairan mencukupi kebutuhan. 4) Tidak menunjukkan tanda malnutrisi. Pasien dengan CKD, infeksi akut (selulitis), dan kemungkinan anorexia memiliki risiko tinggi malnutrisi. Hipoproteinemia/hipoalbumin memperberat edema dan menghambat penyembuhan luka.
Kode SIKI: I.05118
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Mengkaji asupan makanan dan cairan pasien. 2) Memantau berat badan secara teratur. 3) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan nutrisi khusus (diet renal, cukup kalori, pembatasan kalium karena hiperkalemia ringan, dan peningkatan protein bernilai biologis tinggi dengan pertimbangan fungsi ginjal). 4) Memberikan makanan dalam porsi kecil tapi sering. 5) Memantau kadar albumin, elektrolit (K), ureum, kreatinin. 6) Kolaborasi pemberian suplemen nutrisi atau albumin sesuai indikasi. 7) Menciptakan lingkungan makan yang nyaman.
Kondisi: Kebersihan Mulut Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0044
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan gigi dan jaringan mulut secara mandiri atau dengan bantuan.
Kode SLKI: L.03107
Deskripsi : Pasien mempertahankan kebersihan mulut yang baik. Kriteria hasil meliputi: 1) Mukosa mulut lembab, bersih, dan utuh. 2) Tidak ada bau mulut. 3) Gigi dan gusi bersih. 4) Pasien/keluarga mendemonstrasikan teknik perawatan mulut yang tepat. Kondisi pasien yang lemah, delirium, dan mungkin mengalami mual atau nafsu makan menurun meningkatkan risiko kebersihan mulut yang buruk, yang dapat menjadi sumber infeksi sekunder dan memperburuk keadaan umum.
Kode SIKI: I.05194
Deskripsi : Perawatan Mulut. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Mengkaji kondisi rongga mulut (mukosa, lidah, gusi) setiap hari. 2) Membersihkan rongga mulut pasien secara teratur (setelah makan dan sebelum tidur) dengan teknik yang tepat, menggunakan sikat lembut atau kasa. 3) Menggunakan cairan pembersih mulut yang sesuai (misal, klorheksidin encer jika diinstruksikan). 4) Memelihara kelembaban bibir dengan lip balm. 5) Mengajarkan keluarga cara melakukan perawatan mulut jika pasien tidak mampu. 6) Memantau dan melaporkan tanda-tanda infeksi atau iritasi di mulut.
-
Article No. 24472 | 14 Mar 2026
Klinis : Pasien wanita, usia 30 tahun, datang dengan Frekuensi nadi meningkat (110 x/menit) Nadi teraba lemah Tekanan darah menurun (90/60 mmHg) Tekanan nadi menyempit Turgor kulit menurun Bibir pucat Perdarahan di jalan lahir akibat retensio plasenta
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipovolemia
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Penurunan volume sirkulasi darah.
Kode SLKI: L.03114
Deskripsi : Keseimbangan cairan dan elektrolit tercapai.
Kode SIKI: I.01222
Deskripsi : Pemantauan tanda-tanda vital.
Kondisi: Risiko Syok Hipovolemik
Kode SDKI: D.0021
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan perfusi jaringan yang mengancam jiwa akibat kehilangan cairan atau darah.
Kode SLKI: L.03114
Deskripsi : Keseimbangan cairan dan elektrolit tercapai.
Kode SIKI: I.01222
Deskripsi : Pemantauan tanda-tanda vital.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0029
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset yang tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08011
Deskripsi : Kontrol nyeri.
Kode SIKI: I.08030
Deskripsi : Manajemen nyeri.