Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 16794 | 05 May 2025
Klinis : pasien tidak paham pentingnya nutrisi baik selama menyusui, mulai tidak suka makan sayur, jarang minum air putih,ASI susah keluar. Merasa cepat lelah dan pusing, berat badan bayi tidak bertambah dan bayinya rewel
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah penjelasan rinci dan terperinci terkait diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan yang sesuai untuk kondisi pasien yang Anda deskripsikan:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Ketidakefektifan Manajemen Nutrisi: Berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang pentingnya nutrisi yang adekuat selama menyusui. Pasien tidak paham pentingnya nutrisi yang baik selama menyusui, mulai tidak suka makan sayur, dan jarang minum air putih. Hal ini dapat mengakibatkan produksi ASI yang tidak adekuat.
2. Penurunan Produksi ASI: Berhubungan dengan kurangnya asupan nutrisi yang adekuat selama menyusui. Pasien mengalami kesulitan dalam produksi ASI, yang dapat menyebabkan berat badan bayi tidak bertambah dan bayi menjadi rewel.
3. Kelelahan: Berhubungan dengan kurangnya asupan nutrisi yang adekuat. Pasien merasa cepat lelah dan pusing, yang dapat disebabkan oleh defisiensi nutrisi, terutama karbohidrat, protein, dan vitamin.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Manajemen Nutrisi Efektif: Pasien dapat memahami pentingnya nutrisi yang adekuat selama menyusui, dapat menyusun rencana makan yang seimbang, dan dapat mempertahankan asupan nutrisi yang optimal.
2. Peningkatan Produksi ASI: Pasien dapat meningkatkan produksi ASI melalui asupan nutrisi yang adekuat, sehingga berat badan bayi dapat bertambah dan bayi tidak rewel.
3. Peningkatan Energi: Pasien dapat meningkatkan energi dan mengurangi kelelahan melalui asupan nutrisi yang adekuat, sehingga dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Nutrisi Efektif:
a. Kaji status nutrisi pasien, termasuk asupan makanan, minuman, dan kebiasaan makan.
b. Edukasi pasien tentang pentingnya nutrisi yang adekuat selama menyusui, termasuk jumlah dan jenis makanan yang dibutuhkan.
c. Bantu pasien menyusun rencana makan yang seimbang dan sesuai kebutuhan.
d. Pantau asupan nutrisi pasien dan evaluasi pencapaian tujuan.
2. Peningkatan Produksi ASI:
a. Kaji produksi ASI pasien, termasuk frekuensi dan lama menyusui, serta tanda-tanda produksi ASI yang tidak adekuat.
b. Edukasi pasien tentang teknik menyusui yang benar dan pentingnya stimulasi payudara untuk meningkatkan produksi ASI.
c. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (misalnya ahli laktasi) untuk mengatasi masalah produksi ASI.
d. Pantau produksi ASI dan evaluasi pencapaian tujuan.
3. Peningkatan Energi:
a. Kaji tingkat energi pasien, termasuk tanda-tanda kelelahan dan penyebabnya.
b. Edukasi pasien tentang pentingnya asupan nutrisi yang adekuat untuk meningkatkan energi.
c. Bantu pasien menyusun rencana aktivitas dan istirahat yang seimbang.
d. Pantau tingkat energi pasien dan evaluasi pencapaian tujuan.
Dengan penerapan asuhan keperawatan yang komprehensif, diharapkan pasien dapat mencapai luaran yang diharapkan, yaitu manajemen nutrisi yang efektif, peningkatan produksi ASI, dan peningkatan energi, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan pasien dan bayi selama masa menyusui. -
Article No. 16795 | 05 May 2025
Klinis : Seorang anak laki-laki berusia 6 bulan dibawa oleh orangtuanya ke rumah sakit dengan keluhan kaki kanan dan kiri pengkor ke arah dalam. Orangtua mengatakan bahwa hal ini sudah dialami anak sejak lahir. Berdasarkan hasil anamnesa, anak sebelumnya belum pernah mengalami trauma atau cidera fisik. Hasil pemeriksaan fisik yang perawat lakukan mendapatkan hasil bahwa kesadaran anak kompos mentis. Pemeriksaan tanda-tanda vital menunjukan nadi 88x/menit, pernafasan 24 x/menit, dan suhu 36,7° C. Pada pemeriksaan kaki didapatkan deformitas equinus dan varus, didapatkan pulsasi dorsalis pedis (+) dengan capilary refill time (CRT) < 2 detik, pergerakan kaki anak aktif dengan kekuatan otot maksimal dengan nilai 5, kaki kanan dan kiri kaku, kaki depan kanan dan kiri tidak dapat diabduksikan dan dieversikan, kaki belakang kanan dan kiri tidak dapat dieversikan dari posisi varus. Ibu jari kaki kanan dan kiri terlihat relatif memendek. Bagian lateral kaki kanan dan kiri cembung, bagian medial kaki cekung dengan alur atau cekungan pada bagian medial plantar kaki. Kaki bagian belakang kanan dan kiri equinus. Tumit tertarik dan mengalami inversi, terdapat lipatan kulit transversal yang dalam pada bagian atas belakang sendi pergelangan kaki kanan dan kiri. Pada pemeriksaan penunjang berupa foto polos didapatkan tampak gambaran seperti tangga dari tulang metatarsal pada forefoot varus. Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, pasien pada kasus ini didiagnosis congenital talipes equinovarus (CTEV). DIAGNOSA KEPERAWATA PRIORITASNYA APA
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, diagnosa keperawatan prioritas yang dapat ditetapkan untuk kasus congenital talipes equinovarus (CTEV) pada anak laki-laki berusia 6 bulan adalah:
1. Gangguan Mobilitas Fisik Terkait Deformitas Ekstremitas Bawah Bawaan
- SDKI: Gangguan Mobilitas Fisik
- SLKI: Mobilitas Fisik
- SIKI: Manajemen Mobilitas
- Kode: 00085
Definisi:
Keterbatasan dalam pergerakan sendi, otot, dan tulang yang disebabkan oleh deformitas kongenital ekstremitas bawah.
Penjelasan singkat:
Anak mengalami deformitas equinus dan varus pada kedua kaki sejak lahir, yang menyebabkan keterbatasan pergerakan sendi, otot, dan tulang pada ekstremitas bawahnya. Hal ini dapat mempengaruhi mobilitas fisik anak.
2. Risiko Kerusakan Integritas Kulit Terkait Deformitas Ekstremitas Bawah Bawaan
- SDKI: Risiko Kerusakan Integritas Kulit
- SLKI: Integritas Kulit dan Jaringan
- SIKI: Manajemen Risiko Integritas Kulit
- Kode: 00047
Definisi:
Rentan mengalami kerusakan pada struktur dan fungsi kulit dan jaringan yang mendasarinya, yang disebabkan oleh deformitas ekstremitas bawah bawaan.
Penjelasan singkat:
Deformitas equinus dan varus pada kedua kaki anak dapat menyebabkan tekanan dan gesekan pada kulit, sehingga meningkatkan risiko kerusakan integritas kulit, seperti luka, iritasi, atau gangguan lainnya.
Selain dua diagnosa keperawatan prioritas di atas, perawat juga dapat mempertimbangkan diagnosa keperawatan lain yang sesuai dengan kondisi pasien, seperti risiko kecacatan fisik, risiko gangguan pertumbuhan dan perkembangan, atau diagnosa lainnya yang relevan. -
Article No. 16796 | 05 May 2025
Klinis : Pada awal tahun 2025, terjadi banjir besar yang melanda wilayah tempat tinggal Ibu X (usia 29 tahun) dan Ibu Y (usia 26 tahun). Ibu X sedang hamil dengan usia kehamilan 28 minggu (trimester III). Ia sebelumnya telah didiagnosis preeklampsia ringan dengan tekanan darah berkisar 140/90 mmHg dan edema pada ekstremitas bawah. Saat bencana banjir terjadi, Ibu X mengungsi ke tempat penampungan sementara yang padat, panas, dan minim privasi. Lingkungan tersebut memicu stres emosional, kecemasan, dan ketakutan berlebihan, terutama terhadap keselamatan janinnya. Sejak berada di pengungsian, tekanan darah Ibu X meningkat menjadi 160/100 mmHg. Ibu X terlihat gelisah dan selalu tidur larut malam. Ibu X mengeluhkan sakit kepala, nafsu makan menurun dan mengatakan ia khawatir dan takut terjadi hal buruk pada bayinya.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai untuk Kondisi Ibu X:
1. Ansietas (00146)
Definisi: Perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang timbul karena antisipasi terhadap ancaman yang diperkirakan akan terjadi.
Faktor yang Berhubungan: Perubahan lingkungan, trauma, stres berat.
2. Resiko Peningkatan Tekanan Darah (00268)
Definisi: Berisiko mengalami peningkatan tekanan darah di atas rentang normal.
Faktor Risiko: Stres emosional, preeklampsia.
3. Pola Tidur Terganggu (00198)
Definisi: Gangguan dalam jumlah dan kualitas tidur yang mengganggu fungsi sehari-hari.
Faktor yang Berhubungan: Stres, kecemasan.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Ansietas Berkurang (1402)
Indikator:
- Pasien dapat mengenali penyebab kecemasan
- Pasien dapat mengidentifikasi strategi koping yang efektif
- Pasien menunjukkan penurunan tanda-tanda fisik kecemasan
2. Tekanan Darah Terkendali (0902)
Indikator:
- Tekanan darah sistolik dalam batas normal
- Tekanan darah diastolik dalam batas normal
- Tidak ada tanda-tanda komplikasi akibat hipertensi
3. Pola Tidur yang Membaik (0004)
Indikator:
- Pasien dapat tidur dengan mudah
- Pasien merasa terpuaskan dengan kualitas tidurnya
- Pasien menunjukkan peningkatan tingkat istirahat dan energi
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
1. Untuk Ansietas Berkurang (1402):
- Manajemen Ansietas (5820)
- Terapi Relaksasi (6040)
- Pendidikan Kesehatan (5510)
2. Untuk Tekanan Darah Terkendali (0902):
- Pemantauan Tanda-Tanda Vital (6680)
- Manajemen Hipertensi (6820)
- Edukasi Manajemen Hipertensi (7130)
3. Untuk Pola Tidur yang Membaik (0004):
- Manajemen Tidur (1850)
- Terapi Relaksasi (6040)
- Pengaturan Lingkungan: Kenyamanan (6482)
Penjelasan rinci:
Berdasarkan kondisi Ibu X, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah ansietas, resiko peningkatan tekanan darah, dan pola tidur terganggu. Luaran yang diharapkan adalah ansietas berkurang, tekanan darah terkendali, dan pola tidur yang membaik. Intervensi keperawatan yang diperlukan mencakup manajemen ansietas, terapi relaksasi, pendidikan kesehatan, pemantauan tanda-tanda vital, manajemen hipertensi, edukasi manajemen hipertensi, manajemen tidur, dan pengaturan lingkungan untuk kenyamanan. Tujuan intervensi ini adalah untuk mengatasi kecemasan, menstabilkan tekanan darah, dan memperbaiki pola tidur Ibu X, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan ibu dan janinnya selama masa pengungsian. -
Article No. 16797 | 05 May 2025
Klinis : Ibu Y adalah ibu menyusui dengan bayi berusia 2 minggu. Ia juga mengungsi akibat banjir dan tinggal di lokasi yang sama. Di tempat pengungsian, Ibu Y menunjukkan tanda-tanda stres psikologis seperti mudah menangis, gelisah, dan menyatakan kekhawatiran tidak mampu merawat bayinya. Ia mengeluh produksi ASI menurun, payudara terasa kosong meskipun bayinya terus menyusu. Bayi tsb rewel, sering menangis, dan buang air kecil berkurang. Kini Ibu Y merasa tidak mampu melakukan apapun untuk mengatasi masalahnya.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
1. Ketidakefektifan Menyusui (00007)
Definisi: Ketidakmampuan untuk menggunakan teknik menyusui yang efektif untuk memperoleh dan/atau mempertahankan produksi ASI yang memadai.
Karakteristik Definisi:
- Produksi ASI tidak memadai
- Teknik menyusui tidak efektif
- Ketidakpuasan dalam menyusui
- Bayi tidak puas setelah menyusu
2. Kecemasan (00146)
Definisi: Perasaan tidak nyaman atau khawatir yang disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya. Respon ini dapat diantisipasi, disadari, atau tidak disadari.
Karakteristik Definisi:
- Mudah menangis
- Gelisah
- Khawatir terhadap kemampuan untuk merawat bayi
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Efektivitas Menyusui (0007)
- Indikator:
- Produksi ASI memadai
- Bayi puas setelah menyusu
- Teknik menyusui efektif
- Kepuasan dalam menyusui
2. Tingkat Kecemasan (1402)
- Indikator:
- Ekspresi wajah tenang
- Mampu mengontrol kekhawatiran
- Tidak menunjukkan gejala kecemasan (mudah menangis, gelisah)
- Mampu merawat bayi dengan tenang
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Untuk Efektivitas Menyusui (0007):
- Manajemen Laktasi (6710)
- Identifikasi faktor-faktor yang memengaruhi produksi ASI
- Ajarkan teknik menyusui yang efektif
- Bantu ibu dalam mempertahankan produksi ASI yang memadai
- Peningkatan Pengetahuan: Menyusui (5520)
- Berikan informasi dan edukasi tentang manfaat dan teknik menyusui yang benar
- Dukungan Emosional (5270)
- Berikan dukungan dan empati selama proses menyusui
2. Untuk Tingkat Kecemasan (1402):
- Manajemen Kecemasan (5820)
- Identifikasi dan bantu ibu mengatasi penyebab kecemasan
- Ajarkan teknik relaksasi dan manajemen stres
- Dukungan Emosional (5270)
- Dengarkan dengan aktif dan berikan validasi atas perasaan ibu
- Terapi Modalitas: Psikoedukasi (5100)
- Berikan informasi dan edukasi tentang kecemasan dan cara mengatasinya
Penjelasan rinci:
Diagnosa keperawatan yang sesuai dengan kondisi Ibu Y adalah Ketidakefektifan Menyusui dan Kecemasan. Ibu Y mengalami masalah dalam produksi ASI dan teknik menyusui yang tidak efektif, serta menunjukkan tanda-tanda stres psikologis seperti mudah menangis, gelisah, dan khawatir tidak mampu merawat bayinya.
Luaran yang diharapkan setelah asuhan keperawatan adalah Efektivitas Menyusui, di mana produksi ASI memadai, bayi puas setelah menyusu, teknik menyusui efektif, dan ibu merasa puas dalam menyusui. Serta Tingkat Kecemasan yang menurun, di mana ibu menunjukkan ekspresi tenang, mampu mengontrol kekhawatiran, tidak lagi menunjukkan gejala kecemasan, dan dapat merawat bayinya dengan tenang.
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah Manajemen Laktasi untuk mengatasi masalah menyusui, Peningkatan Pengetahuan: Menyusui dan Dukungan Emosional untuk memberikan informasi dan dukungan dalam proses menyusui. Sedangkan untuk mengatasi kecemasan, dapat dilakukan Manajemen Kecemasan, Dukungan Emosional, dan Terapi Modalitas: Psikoedukasi. Intervensi-intervensi ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan ibu dalam menyusui dan mengatasi kecemasan yang dialaminya. -
Article No. 16798 | 05 May 2025
Klinis : Bayi usia 2 bulan dirawat karena batuk berlendir, sesak nafas dan demam. Hasil pengkajian didapatkan kesadaran compos mentis, suhu 35,7C, nadi 123x/mnt, RR 52/mnt, TB 50cm, BB saat ini 4,1 kg LK 39cm LD 35cm. anak tidak mengalami kaku kuduk, tidak ada pembesaran limfe, konjungtiva merah muda, sklera tidak ikterik, nafas cepat dan ada pernafasan cuping hidung, mukosa bibir dan mulut lembab, ronchi di paru-paru sebelah kiri. Hasil laboratorium Hb 12,5gr/dl, eritrosit 4,36, leukosit 20,62, terpasang 02 kanul 2 It/mnt
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, untuk kondisi bayi usia 2 bulan dengan gejala batuk berlendir, sesak nafas, dan demam, dapat ditegakkan beberapa diagnosa keperawatan sesuai dengan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Berikut adalah penjelasan singkatnya:
1. Diagnosa Keperawatan:
a. Pola Napas Tidak Efektif (SDKI Kode: 00032)
Definisi: Ketidakmampuan untuk memelihara pertukaran gas yang adekuat.
b. Hipertermia (SDKI Kode: 00007)
Definisi: Suhu tubuh di atas kisaran normal.
c. Risiko Infeksi (SDKI Kode: 00004)
Definisi: Rentan terhadap invasi dan multiplikasi organisme patogen yang dapat mengganggu kesehatan.
2. Penjelasan Singkat:
a. Pola Napas Tidak Efektif (SDKI Kode: 00032)
- SLKI: Pola Napas, Oksigenasi, Pertukaran Gas
- SIKI: Manajemen Jalan Napas, Manajemen Oksigenasi
b. Hipertermia (SDKI Kode: 00007)
- SLKI: Suhu Tubuh
- SIKI: Manajemen Demam
c. Risiko Infeksi (SDKI Kode: 00004)
- SLKI: Pertahanan Tubuh, Kontrol Infeksi
- SIKI: Manajemen Infeksi, Terapi Oksigen
Pada kondisi ini, bayi mengalami gejala batuk berlendir, sesak nafas, dan demam, yang menunjukkan adanya gangguan pola napas, suhu tubuh, dan risiko infeksi. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan meliputi manajemen jalan napas, manajemen oksigenasi, manajemen demam, dan manajemen infeksi, sesuai dengan SIKI yang ditetapkan oleh PPNI. -
Article No. 16799 | 05 May 2025
Klinis : Bayi usia 2 bulan dirawat karena batuk berlendir, sesak nafas dan demam. Hasil pengkajian didapatkan kesadaran compos mentis, suhu 35,7C, nadi 123x/mnt, RR 52/mnt, TB 50cm, BB saat ini 4,1 kg LK 39cm LD 35cm. anak tidak mengalami kaku kuduk, tidak ada pembesaran limfe, konjungtiva merah muda, sklera tidak ikterik, nafas cepat dan ada pernafasan cuping hidung, mukosa bibir dan mulut lembab, ronchi di paru-paru sebelah kiri. Hasil laboratorium Hb 12,5gr/dl, eritrosit 4,36, leukosit 20,62, terpasang 02 kanul 2 It/mnt
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Dengan berdasarkan informasi yang Anda berikan, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis:
1. Kode ICD-10:
- Kode: J20.9
- Deskripsi: Bronkitis akut, tidak spesifik
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 93.90
- Deskripsi: Pemberian oksigen, tidak diklasifikasikan di tempat lain
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 J20.9 (Bronkitis akut, tidak spesifik):
- Bayi usia 2 bulan dengan gejala batuk berlendir, sesak napas, dan demam menunjukkan adanya bronkitis akut.
- Kode ICD-10 J20.9 digunakan untuk bronkitis akut yang tidak diklasifikasikan secara spesifik.
2. Kode ICD-9-CM Prosedur 93.90 (Pemberian oksigen, tidak diklasifikasikan di tempat lain):
- Berdasarkan informasi bahwa bayi sedang mendapatkan terapi oksigen melalui kanul dengan laju 2 L/menit, maka dapat dikodekan menggunakan kode ICD-9-CM 93.90.
- Kode ini digunakan untuk pemberian oksigen yang tidak diklasifikasikan di tempat lain.
Dalam kondisi ini, pasien membutuhkan perawatan dan pengamatan yang cermat untuk memantau perkembangan gejala dan respons terhadap terapi oksigen. Selain itu, pemeriksaan penunjang dan pengobatan lanjutan mungkin diperlukan sesuai dengan evaluasi klinis lebih lanjut. -
Article No. 16800 | 05 May 2025
Klinis : Hemoroid interna
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis untuk kondisi hemoroid interna:
1. Kode ICD-10:
- Kode: K64.0
- Deskripsi: Hemoroid interna
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 45.21
- Deskripsi: Ligasi dan/ atau eksisi hemoroid internal
Penjelasan detail:
1. Kode ICD-10 K64.0 digunakan untuk mengkodekan kondisi hemoroid interna. Hemoroid interna adalah pembengkakan vena di dalam anus dan rektum, yang dapat menyebabkan perdarahan, nyeri, dan ketidaknyamanan. Kode ini termasuk dalam kategori "Penyakit usus, termasuk hernia" (K00-K93) pada klasifikasi ICD-10.
2. Kode ICD-9-CM 45.21 adalah kode prosedur yang digunakan untuk ligasi dan/atau eksisi hemoroid internal. Prosedur ini melibatkan pengikat atau pemotongan hemoroid yang berada di dalam anus dan rektum, dengan tujuan untuk menghilangkan atau mengurangi gejala hemoroid. Kode ini termasuk dalam kategori "Prosedur pada saluran pencernaan" (45-49) pada klasifikasi ICD-9-CM.
Penggunaan kode-kode ini penting untuk dokumentasi medis yang akurat, penagihan yang sesuai, serta analisis epidemiologi dan penelitian medis terkait kondisi hemoroid interna. -
Article No. 16801 | 05 May 2025
Klinis : Pasien ca uterus metastasis hepar
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan menjelaskan secara rinci dan terperinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran yang diharapkan, serta intervensi keperawatan yang diperlukan untuk kondisi pasien kanker uterus dengan metastasis ke hati.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Nyeri Kronis berhubungan dengan penyakit progresif dan metastasis kanker
- Pasien mengalami nyeri yang persisten dan terkait dengan penyakit kanker uterus yang telah menyebar ke hati. Nyeri kronis dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan kualitas hidup pasien.
2. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan kelemahan, kelelahan, dan efek samping pengobatan
- Pasien mengalami penurunan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri akibat kelelahan dan kelemahan yang disebabkan oleh penyakit dan pengobatan kanker.
3. Risiko Infeksi berhubungan dengan penurunan sistem imun dan efek samping pengobatan
- Pasien memiliki risiko tinggi terkena infeksi karena sistem kekebalan tubuh yang menurun akibat penyakit dan pengobatan kanker.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Pasien melaporkan nyeri terkontrol pada level yang dapat ditoleransi.
- Indikator: Pasien dapat mengendalikan nyeri dengan menggunakan manajemen nyeri yang efektif.
2. Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri sesuai dengan kemampuannya.
- Indikator: Pasien dapat melakukan aktivitas dasar dengan bantuan minimal atau tanpa bantuan.
3. Pasien bebas dari infeksi selama masa perawatan.
- Indikator: Tanda-tanda vital normal, tidak ada tanda-tanda infeksi, dan tidak ada kultur positif.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Manajemen Nyeri:
- Identifikasi karakteristik nyeri pasien (lokasi, durasi, intensitas, dll.)
- Lakukan pengkajian nyeri secara berkala dan dokumentasikan
- Berikan analgesik sesuai dengan resep dokter
- Ajarkan teknik manajemen nyeri non-farmakologis (relaksasi, distraksi, dll.)
- Evaluasi efektivitas intervensi dan lakukan penyesuaian jika diperlukan
2. Peningkatan Aktivitas:
- Kaji tingkat aktivitas dan kemampuan fungsional pasien
- Bantu pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan toleransinya
- Ajarkan teknik konservasi energi dan manajemen kelelahan
- Kolaborasi dengan tim rehab untuk menyusun rencana latihan yang sesuai
- Motivasi dan dukung pasien untuk tetap aktif sesuai kemampuannya
3. Pencegahan Infeksi:
- Kaji tanda-tanda infeksi secara berkala
- Pastikan prosedur perawatan dilakukan dengan teknik aseptik yang benar
- Berikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pencegahan infeksi
- Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian antibiotik dan pemantauan status imun
Penjelasan yang diberikan di atas mencakup diagnosa keperawatan, luaran yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mengelola kondisi pasien kanker uterus dengan metastasis ke hati secara komprehensif. Diharapkan informasi ini dapat membantu perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang tepat dan terencana untuk pasien. -
Article No. 16802 | 05 May 2025
Klinis : demam tinggi sejak pagi tadi batuk pilek sudah 4 hari ini muntah 3x diare mulai hari ini sudah 3x, ampas + lendir + warna kuning
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Terima kasih atas permintaan Anda. Berikut adalah pembahasan rinci mengenai kondisi yang Anda deskripsikan:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Hipertermia berhubungan dengan infeksi akut, ditandai dengan suhu tubuh ≥38°C.
2. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekresi berlebih, ditandai dengan batuk dan pilek.
3. Risiko dehidrasi berhubungan dengan muntah dan diare, ditandai dengan tanda-tanda dehidrasi.
4. Diare berhubungan dengan infeksi, ditandai dengan frekuensi buang air besar ≥3x/hari dengan konsistensi encer, terdapat lendir, dan warna kuning.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Suhu tubuh dalam batas normal (36,5-37,5°C).
2. Jalan napas efektif, ditandai dengan pernapasan tidak memberatkan dan tidak ada suara napas tambahan.
3. Cairan dan elektrolit seimbang, ditandai dengan tanda-tanda vital stabil, mukosa lembab, dan turgor kulit baik.
4. Diare terkendali, ditandai dengan frekuensi buang air besar ≤2x/hari dengan konsistensi yang membaik.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Manajemen demam:
- Monitor suhu tubuh secara berkala.
- Berikan obat penurun panas sesuai resep.
- Berikan kompres dingin untuk menurunkan suhu.
- Anjurkan klien untuk banyak minum.
2. Manajemen jalan napas:
- Auskultasi suara napas, observasi adanya sekresi.
- Berikan obat pelega tenggorokan atau ekspektoran sesuai resep.
- Ajarkan teknik batuk efektif dan napas dalam.
3. Manajemen cairan dan elektrolit:
- Pantau tanda-tanda vital dan intake-output cairan.
- Berikan cairan pengganti elektrolit sesuai resep.
- Anjurkan klien untuk banyak minum air putih atau oralit.
4. Manajemen diare:
- Pantau frekuensi dan karakteristik buang air besar.
- Berikan obat antidiare sesuai resep.
- Anjurkan klien untuk mengonsumsi makanan dan minuman yang mudah dicerna.
Kesimpulan, diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi di atas merupakan pendekatan komprehensif untuk menangani kondisi yang Anda deskripsikan. Penerapan asuhan keperawatan yang tepat akan membantu mencapai hasil yang optimal bagi klien. Jangan ragu untuk berdiskusi lebih lanjut jika Anda memiliki pertanyaan atau membutuhkan klarifikasi. -
Article No. 16803 | 05 May 2025
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Dengan rincian informasi yang Anda berikan, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis yang sesuai:
1. Kode ICD-10:
- Kode: A15.0
- Deskripsi: Tuberkulosis paru dengan konfirmasi bakteriologis dan histologis
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 87.44
- Deskripsi: Kultur sputum untuk bakteri atau jamur
Penjelasan:
Berdasarkan gejala yang dialami pasien, yaitu batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan, serta hasil pemeriksaan yang menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas dan lesi di paru, diagnosis awal yang tepat adalah tuberkulosis paru.
Kode ICD-10 yang sesuai adalah A15.0, yang mencakup tuberkulosis paru dengan konfirmasi bakteriologis dan histologis. Ini menggambarkan bahwa diagnosis tuberkulosis paru telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium dan/atau biopsi.
Selanjutnya, untuk prosedur/tindakan medis yang mungkin dilakukan, kode ICD-9-CM yang sesuai adalah 87.44, yang mengacu pada kultur sputum untuk deteksi bakteri atau jamur. Pemeriksaan ini dapat membantu mengidentifikasi agen penyebab tuberkulosis paru dan membantu dalam perencanaan pengobatan yang tepat.
Penting untuk dicatat bahwa konfirmasi diagnosis dan penentuan tindakan medis selanjutnya harus dilakukan oleh dokter yang menangani pasien secara komprehensif, dengan mempertimbangkan seluruh kondisi klinis dan hasil pemeriksaan penunjang yang ada.