Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 16919 | 07 May 2025
Klinis : mobilitas fisik
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci terkait diagnosa keperawatan, luaran yang diharapkan, dan intervensi keperawatan untuk kondisi mobilitas fisik.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi mobilitas fisik adalah "Gangguan mobilitas fisik". Diagnosa ini didefinisikan sebagai "Keterbatasan dalam gerakan fisik yang disebabkan oleh kelemahan, ketidakseimbangan, kurangnya koordinasi, atau kelelahan". Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti penyakit kronis, cedera, atau efek samping pengobatan.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah dilakukan asuhan keperawatan, luaran yang diharapkan adalah "Mobilitas fisik meningkat". Luaran ini menunjukkan bahwa pasien mampu melakukan gerakan fisik secara mandiri atau dengan bantuan minimal. Beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mengukur luaran ini antara lain:
1. Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari (mandi, berpakaian, makan, dll.) secara mandiri atau dengan bantuan minimal.
2. Pasien dapat berpindah tempat (berjalan, menggunakan kursi roda, dll.) secara mandiri atau dengan bantuan minimal.
3. Pasien dapat melakukan latihan fisik sesuai dengan kemampuannya.
4. Pasien menunjukkan peningkatan kekuatan, koordinasi, dan keseimbangan tubuh.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai luaran "Mobilitas fisik meningkat", beberapa intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain:
1. Manajemen mobilitas: Membantu pasien untuk meningkatkan mobilitas dengan melakukan latihan fisik, menggunakan alat bantu jika diperlukan, dan memberikan instruksi yang jelas.
2. Latihan rentang gerak: Melakukan latihan untuk meningkatkan fleksibilitas dan kekuatan otot, serta koordinasi gerakan.
3. Manajemen nyeri: Mengidentifikasi dan mengelola rasa nyeri yang dapat menghambat mobilitas, misalnya dengan pemberian analgesik atau teknik non-farmakologis.
4. Edukasi dan konseling: Memberikan informasi dan dukungan kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya mobilitas fisik, serta strategi untuk meningkatkannya.
5. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain: Berkolaborasi dengan fisioterapis, okupasi terapis, atau ahli lainnya untuk memberikan intervensi yang komprehensif.
Keberhasilan asuhan keperawatan untuk meningkatkan mobilitas fisik sangat bergantung pada keterlibatan aktif pasien, dukungan keluarga, dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain. Melalui intervensi yang komprehensif dan berkelanjutan, diharapkan pasien dapat mencapai luaran yang diharapkan dan meningkatkan kualitas hidupnya. -
Article No. 16920 | 07 May 2025
Klinis : mobilitas fisik
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran/output yang diharapkan, dan intervensi keperawatan untuk kondisi mobilitas fisik, dengan tone akademis dan persona pakar/perawat.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi mobilitas fisik adalah "Gangguan Mobilitas Fisik". Diagnosa ini menggambarkan adanya keterbatasan dalam kemampuan individu untuk melakukan pergerakan yang disengaja dan terarah di lingkungannya.
Ciri-ciri utama dari diagnosa ini adalah:
a. Keterbatasan dalam rentang gerak sendi, kekuatan otot, atau koordinasi.
b. Kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari yang membutuhkan pergerakan, seperti berpindah, berjalan, atau merawat diri.
c. Perubahan dalam pola atau kemampuan mobilitas.
d. Kelemahan, kelelahan, atau nyeri yang memengaruhi mobilitas.
2. Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
Setelah dilakukan asuhan keperawatan, diharapkan pasien dapat mencapai luaran/output sebagai berikut:
a. Mobilitas Fisik Meningkat
- Pasien dapat melakukan pergerakan dan perubahan posisi dengan lebih mudah.
- Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari yang membutuhkan mobilitas dengan lebih independen.
- Pasien menunjukkan peningkatan kekuatan otot, rentang gerak sendi, dan koordinasi.
b. Pencegahan Komplikasi
- Pasien dapat mencegah komplikasi yang terkait dengan gangguan mobilitas, seperti dekubitus, kontraktur, dan pneumonia.
- Pasien menunjukkan pemahaman tentang pentingnya menjaga mobilitas untuk mencegah komplikasi.
c. Adaptasi Terhadap Perubahan Mobilitas
- Pasien dan keluarga menunjukkan penerimaan dan adaptasi terhadap perubahan mobilitas yang terjadi.
- Pasien dan keluarga dapat mengidentifikasi dan menggunakan alat bantu mobilitas yang sesuai.
3. Intervensi Keperawatan (SIKI):
Untuk mencapai luaran/output yang diharapkan, diperlukan intervensi keperawatan yang meliputi:
a. Manajemen Mobilitas
- Mengkaji kemampuan mobilitas, termasuk rentang gerak sendi, kekuatan otot, dan koordinasi.
- Memfasilitasi latihan pergerakan dan aktivitas sehari-hari yang aman dan sesuai dengan kemampuan pasien.
- Membantu pasien menggunakan alat bantu mobilitas yang sesuai.
- Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya menjaga mobilitas.
b. Manajemen Nyeri
- Mengkaji nyeri yang memengaruhi mobilitas pasien.
- Memberikan intervensi farmakologis atau nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri.
- Mengajarkan pasien teknik manajemen nyeri yang dapat dilakukan sendiri.
c. Pencegahan Komplikasi
- Memantau tanda-tanda komplikasi yang terkait dengan gangguan mobilitas.
- Mengajarkan pasien dan keluarga cara pencegahan komplikasi, seperti latihan pergerakan, perawatan kulit, dan pola makan yang sesuai.
- Melakukan tindakan pencegahan komplikasi, seperti posisi berbaring yang tepat dan perawatan kulit.
d. Dukungan Psikologis
- Mengkaji respons emosional pasien terhadap perubahan mobilitas.
- Memberikan dukungan dan konseling untuk membantu pasien dan keluarga beradaptasi dengan perubahan mobilitas.
- Melibatkan pasien dan keluarga dalam perencanaan dan pelaksanaan asuhan keperawatan.
Dengan pendekatan yang komprehensif dan kolaboratif, diharapkan asuhan keperawatan dapat membantu pasien dengan gangguan mobilitas fisik mencapai luaran/output yang diharapkan dan meningkatkan kualitas hidup. -
Article No. 16921 | 07 May 2025
Klinis : mobilitas fisik
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan untuk kondisi mobilitas fisik, dengan tone akademis dan persona sebagai pakar perawat.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi mobilitas fisik adalah "Gangguan Mobilitas Fisik". Definisi dari diagnosa ini adalah "Keterbatasan dalam pergerakan yang disengaja dan terarah dari tubuh atau salah satu atau lebih anggota gerak". Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti penyakit, cedera, atau kondisi lainnya yang dapat membatasi kemampuan pasien untuk bergerak secara mandiri.
Luaran/Output SLKI:
Setelah diberikan asuhan keperawatan, luaran/output yang diharapkan adalah:
1. Peningkatan Kemampuan Mobilitas: Pasien dapat melakukan pergerakan tubuh atau anggota gerak secara mandiri dengan lebih baik.
2. Peningkatan Kemandirian Aktivitas Sehari-hari: Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari, seperti mandi, berpakaian, makan, dan berpindah, dengan lebih mandiri.
3. Penurunan Risiko Komplikasi Terkait Imobilitas: Pasien terhindar dari komplikasi yang dapat timbul akibat keterbatasan mobilitas, seperti dekubitus, kontraktur, dan pneumonia.
Intervensi Keperawatan SIKI:
Untuk mencapai luaran yang diharapkan, berikut adalah intervensi keperawatan yang dapat dilakukan:
1. Manajemen Mobilitas
- Bantu pasien dalam melakukan pergerakan dan aktivitas sesuai dengan kemampuannya.
- Latih pasien untuk melakukan latihan fisik yang sesuai dengan kondisinya.
- Gunakan alat bantu mobilitas, jika diperlukan, seperti walker, kursi roda, atau alat bantu jalan.
- Lakukan monitoring dan evaluasi secara berkala terhadap kemampuan mobilitas pasien.
2. Manajemen Aktivitas Sehari-hari
- Bantu pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari, seperti mandi, berpakaian, makan, dan berpindah.
- Ajarkan teknik-teknik yang dapat memudahkan pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
- Libatkan keluarga dalam membantu pasien melakukan aktivitas sehari-hari.
- Berikan motivasi dan dukungan kepada pasien untuk meningkatkan kemandirian dalam aktivitas sehari-hari.
3. Pencegahan Komplikasi Terkait Imobilitas
- Lakukan pengkajian risiko komplikasi terkait imobilitas, seperti dekubitus, kontraktur, dan pneumonia.
- Implementasikan tindakan pencegahan, seperti perubahan posisi, perawatan kulit, dan latihan pernapasan.
- Berikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai pencegahan komplikasi terkait imobilitas.
- Lakukan monitoring dan evaluasi secara berkala terhadap kondisi pasien.
Dengan melaksanakan intervensi keperawatan yang komprehensif, diharapkan dapat membantu pasien mencapai luaran yang diinginkan, yaitu peningkatan kemampuan mobilitas, kemandirian aktivitas sehari-hari, dan pencegahan komplikasi terkait imobilitas. -
Article No. 16922 | 07 May 2025
Klinis : pasien lansia mengatakan pandangan matanya kabur dan harus memakai kacamata saat membaca
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI untuk kondisi pasien lansia yang mengatakan pandangan matanya kabur dan harus memakai kacamata saat membaca.
Diagnosa Keperawatan:
Gangguan Penglihatan (Kode: 00059)
Definisi:
Gangguan Penglihatan adalah ketidakmampuan untuk melihat dengan jelas atau tidak ada penglihatan.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Kode: 00059
Definisi: Ketidakmampuan untuk melihat dengan jelas atau tidak ada penglihatan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Kode: LS 00059
Definisi: Keadaan di mana individu dapat melakukan aktivitas penglihatan dengan baik.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Kode: IP 00059
Definisi: Serangkaian tindakan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien mencapai luaran yang diharapkan terkait dengan gangguan penglihatan.
Penjelasan singkat:
Gangguan penglihatan pada pasien lansia yang mengatakan pandangan matanya kabur dan harus memakai kacamata saat membaca merupakan kondisi umum yang sering terjadi pada populasi lanjut usia. Hal ini dapat disebabkan oleh perubahan struktural dan fungsional pada mata, seperti penurunan kemampuan akomodasi, penurunan sensitivitas kontras, dan penurunan kemampuan adaptasi terhadap cahaya. Diagnosa keperawatan ini bertujuan untuk membantu pasien mencapai luaran yang diharapkan terkait dengan gangguan penglihatan, seperti kemampuan melakukan aktivitas penglihatan dengan baik. -
Article No. 16864 | 07 May 2025
Klinis : Keluhan Utama: Klien gelisah sejak 3 hari ini dengan gejala: Emosi labil, cenderung mengikuti kemauan sendiri, kadang marah tanpa sebab, mengancam dan memukul dan membunuh denga satu warga, berkata kasar dan kotor, merusak perabotan rumah tangga, merusak kulkas dan pintu, mengancam akan membakar rumah, banyak diam, bicara ngaur, bicara sebdiri, menangis tanpa sebab, melihat bayanagn hitam dan mendengar suara bisikan, kadang telanjang-telanjang dalam rumah, jalan keluar rumah tanpa arah pulang dicari, curiga dijahati dan dibicarakan orang lain, merasa diri paling hebat dan benar, tidur malam kurang, makan kurang, mandi dan kebersihan diri kurang, BAB dan BAK ditempatnya. Riwayat didapatkan dari: Alloanamnesis: Nurdiati
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan keluhan yang disampaikan, berikut diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
1. Diagnosa Keperawatan: Risiko Perilaku Kekerasan
- SDKI: Risiko Perilaku Kekerasan (10027)
- SLKI: Mengontrol Perilaku Kekerasan (C-00-02)
- SIKI: Intervensi Terapeutik: Manajemen Perilaku Kekerasan (M 0110)
Definisi: Kondisi di mana individu berisiko menunjukkan perilaku yang dapat menyebabkan kerusakan fisik pada diri sendiri atau orang lain.
2. Diagnosa Keperawatan: Gangguan Proses Pikir
- SDKI: Gangguan Proses Pikir (10018)
- SLKI: Meningkatkan Proses Pikir (C-00-01)
- SIKI: Intervensi Terapeutik: Manajemen Gejala Psikotik (M 0340)
Definisi: Kondisi di mana individu menunjukkan perubahan dalam kemampuan berpikir, termasuk persepsi, atensi, kognisi, dan proses mental lainnya.
3. Diagnosa Keperawatan: Gangguan Pola Tidur
- SDKI: Gangguan Pola Tidur (10030)
- SLKI: Meningkatkan Pola Tidur (C-00-03)
- SIKI: Intervensi Terapeutik: Manajemen Pola Tidur (M 0830)
Definisi: Kondisi di mana individu mengalami perubahan dalam jumlah, kualitas, atau pola tidur yang mengganggu fungsi sehari-hari.
4. Diagnosa Keperawatan: Defisit Perawatan Diri
- SDKI: Defisit Perawatan Diri (10004)
- SLKI: Meningkatkan Perawatan Diri (C-00-04)
- SIKI: Intervensi Terapeutik: Peningkatan Perawatan Diri (M 0210)
Definisi: Kondisi di mana individu mengalami keterbatasan dalam melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri.
Catatan: Diagnosa keperawatan di atas didasarkan pada gejala yang disampaikan, dan intervensi keperawatan dapat disesuaikan dengan kondisi klien setelah dilakukan pengkajian lebih lanjut. -
Article No. 16865 | 07 May 2025
Klinis : Keluhan Utama: Klien gelisah sejak 3 hari ini dengan gejala: Emosi labil, cenderung mengikuti kemauan sendiri, kadang marah tanpa sebab, mengancam dan memukul dan membunuh denga satu warga, berkata kasar dan kotor, merusak perabotan rumah tangga, merusak kulkas dan pintu, mengancam akan membakar rumah, banyak diam, bicara ngaur, bicara sebdiri, menangis tanpa sebab, melihat bayanagn hitam dan mendengar suara bisikan, kadang telanjang-telanjang dalam rumah, jalan keluar rumah tanpa arah pulang dicari, curiga dijahati dan dibicarakan orang lain, merasa diri paling hebat dan benar, tidur malam kurang, makan kurang, mandi dan kebersihan diri kurang, BAB dan BAK ditempatnya. Riwayat didapatkan dari: Alloanamnesis: Nurdiati
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi di atas adalah:
1. Risiko perilaku kekerasan
- Definisi: Ketidakmampuan individu untuk mengontrol perilaku agresif yang dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain.
- Karakteristik utama: Tanda-tanda perilaku agresif seperti emosi labil, marah tanpa sebab, mengancam, memukul, berkata kasar, dan merusak properti.
2. Halusinasi
- Definisi: Persepsi sensorik yang terjadi tanpa adanya stimulus eksternal yang sesuai.
- Karakteristik utama: Melihat bayangan hitam dan mendengar suara bisikan.
3. Gangguan proses pikir
- Definisi: Gangguan dalam proses berpikir, termasuk gangguan dalam perhatian, konsentrasi, persepsi, dan kemampuan abstraksi.
- Karakteristik utama: Bicara ngawur, bicara sendiri, dan merasa diri paling hebat dan benar.
4. Defisit perawatan diri
- Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas perawatan diri secara mandiri.
- Karakteristik utama: Kurang dalam mandi, kebersihan diri, BAB, dan BAK.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Risiko perilaku kekerasan:
- Klien dapat mengendalikan perilaku agresif dan tidak melakukan tindakan kekerasan.
- Klien dapat mengungkapkan perasaan dan marah dengan cara yang tepat.
2. Halusinasi:
- Klien mampu mengenali halusinasi yang dialami.
- Klien dapat mengontrol respon terhadap halusinasi.
3. Gangguan proses pikir:
- Klien dapat mempertahankan atensi dan konsentrasi.
- Klien dapat berpikir secara logis dan realistis.
4. Defisit perawatan diri:
- Klien dapat melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri.
- Klien dapat mempertahankan kebersihan dan kerapihan diri.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Risiko perilaku kekerasan:
- Monitoring perilaku
- Manajemen agresi
- Terapi aktivitas
- Pendidikan kesehatan
2. Halusinasi:
- Terapi realitas
- Terapi kognitif
- Terapi lingkungan
- Pemberian obat antipsikotik
3. Gangguan proses pikir:
- Terapi aktivitas
- Peningkatan konsentrasi
- Pemberian obat antipsikotik
4. Defisit perawatan diri:
- Perawatan diri
- Bantuan perawatan diri
- Perawatan kebersihan
Penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin di atas:
Perawat perlu melakukan penilaian komprehensif terhadap kondisi klien, termasuk riwayat dan tanda-tanda gejala yang muncul. Berdasarkan penilaian tersebut, perawat dapat menegakkan diagnosa keperawatan yang sesuai. Diagnosa keperawatan yang teridentifikasi mencakup risiko perilaku kekerasan, halusinasi, gangguan proses pikir, dan defisit perawatan diri.
Risiko perilaku kekerasan merupakan kondisi di mana klien memiliki kemampuan yang terbatas dalam mengontrol perilaku agresif yang dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Hal ini tercermin dari gejala seperti emosi labil, kecenderungan mengikuti kemauan sendiri, marah tanpa sebab, mengancam, memukul, dan merusak properti.
Halusinasi adalah persepsi sensorik yang terjadi tanpa adanya stimulus eksternal yang sesuai. Dalam kasus ini, klien mengalami halusinasi penglihatan (melihat bayangan hitam) dan halusinasi pendengaran (mendengar suara bisikan).
Gangguan proses pikir merujuk pada gangguan dalam proses berpikir, termasuk perhatian, konsentrasi, persepsi, dan kemampuan abstraksi. Gejala yang muncul adalah bicara ngawur, bicara sendiri, dan merasa diri paling hebat dan benar.
Defisit perawatan diri adalah ketidakmampuan klien untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas perawatan diri secara mandiri. Dalam kasus ini, klien mengalami kurang dalam mandi, kebersihan diri, BAB, dan BAK.
Luaran yang diharapkan setelah asuhan keperawatan adalah klien dapat mengendalikan perilaku agresif dan tidak melakukan tindakan kekerasan, mengenali halusinasi yang dialami dan mengontrol respon terhadapnya, mempertahankan atensi dan konsentrasi serta berpikir secara logis dan realistis, serta dapat melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri dan mempertahankan kebersihan dan kerapihan diri.
Untuk mencapai luaran tersebut, perawat perlu melakukan intervensi keperawatan yang komprehensif dan terintegrasi. Intervensi yang dapat dilakukan mencakup monitoring perilaku, manajemen agresi, terapi aktivitas, pendidikan kesehatan, terapi realitas, terapi kognitif, terapi lingkungan, pemberian obat antipsikotik, peningkatan konsentrasi, perawatan diri, dan bantuan perawatan diri.
Perawat harus mempertimbangkan kebutuhan klien secara holistik dan melibatkan keluarga atau significant others dalam proses perawatan. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain, seperti dokter dan psikolog, juga diperlukan untuk memaksimalkan hasil dari asuhan keperawatan. -
Article No. 16866 | 07 May 2025
Klinis : Keluhan Utama: Klien gelisah sejak 3 hari ini dengan gejala: Emosi labil, cenderung mengikuti kemauan sendiri, kadang marah tanpa sebab, mengancam dan memukul dan membunuh denga satu warga, berkata kasar dan kotor, merusak perabotan rumah tangga, merusak kulkas dan pintu, mengancam akan membakar rumah, banyak diam, bicara ngaur, bicara sebdiri, menangis tanpa sebab, melihat bayanagn hitam dan mendengar suara bisikan, kadang telanjang-telanjang dalam rumah, jalan keluar rumah tanpa arah pulang dicari, curiga dijahati dan dibicarakan orang lain, merasa diri paling hebat dan benar, tidur malam kurang, makan kurang, mandi dan kebersihan diri kurang, BAB dan BAK ditempatnya. Riwayat didapatkan dari: Alloanamnesis: Nurdiati
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: **Diagnosa Keperawatan dan Penjelasan SDKI - SLKI - SIKI**
**Diagnosa Keperawatan:**
**Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi (SDKI Code: 00023)**
**Penjelasan Singkat:**
Klien mengalami gangguan persepsi berupa halusinasi auditorik (mendengar suara bisikan) dan visual (melihat bayangan hitam), disertai perilaku tidak terarah seperti bicara sendiri, emosi labil, dan agresivitas. Kondisi ini mengindikasikan gangguan persepsi sensori yang memerlukan intervensi keperawatan untuk meminimalkan dampak halusinasi dan meningkatkan koping klien.
**SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):**
- **Kode SLKI 1401:** Klien mampu mengidentifikasi tanda halusinasi dan melaporkan kepada perawat.
- **Kode SLKI 1403:** Klien mampu mengontrol respons terhadap halusinasi dengan teknik distraksi.
**SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):**
- **Kode SIKI 3540:** *Manajemen Halusinasi* – Intervensi untuk mengurangi frekuensi dan intensitas halusinasi melalui pendekatan terapeutik, seperti validasi pengalaman klien dan pengalihan perhatian.
- **Kode SIKI 5340:** *Peningkatan Koping* – Membantu klien mengembangkan strategi koping adaptif untuk mengelola stres dan persepsi sensori yang terganggu.
---
**Diagnosa Keperawatan:**
**Perilaku Kekerasan (SDKI Code: 00138)**
**Penjelasan Singkat:**
Klien menunjukkan perilaku agresif (mengancam, memukul, merusak barang) yang berpotensi membahayakan diri sendiri atau orang lain. Perilaku ini terkait dengan gangguan psikotik, emosi labil, dan persepsi yang terganggu.
**SLKI:**
- **Kode SLKI 2101:** Klien tidak mencederai diri sendiri atau orang lain selama perawatan.
- **Kode SLKI 2103:** Klien mengungkapkan perasaan secara verbal tanpa kekerasan.
**SIKI:**
- **Kode SIKI 4500:** *Manajemen Perilaku Kekerasan* – Mengidentifikasi pemicu, memberikan lingkungan aman, dan menerapkan teknik de-eskalasi.
- **Kode SIKI 2460:** *Pembatasan Fisik* (jika diperlukan) – Hanya digunakan sebagai upaya terakhir dengan protokol ketat.
---
**Diagnosa Keperawatan:**
**Defisit Perawatan Diri (SDKI Code: 00109)**
**Penjelasan Singkat:**
Klien mengalami penurunan kemampuan merawat diri (kebersihan, makan, tidur, BAB/BAK tidak terkontrol) akibat gangguan mental yang memengaruhi motivasi dan fungsi sehari-hari.
**SLKI:**
- **Kode SLKI 0301:** Klien mampu mandi, berpakaian, dan menjaga kebersihan diri dengan bantuan minimal.
- **Kode SLKI 0303:** Pola tidur dan makan klien membaik sesuai kebutuhan fisiologis.
**SIKI:**
- **Kode SIKI 4120:** *Bantuan Aktivitas Kehidupan Sehari-hari (AKS)* – Membantu klien dalam perawatan diri secara bertahap.
- **Kode SIKI 5240:** *Edukasi Kesehatan* – Memberikan panduan tentang pentingnya kebersihan dan nutrisi.
---
**Catatan:**
- **Tone Akademis:** Penjelasan disusun berdasarkan bukti ilmiah dan standar PPNI.
- **Persona Pakar/Perawat:** Rekomendasi intervensi mengacu pada *Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI), SLKI, dan SIKI Edisi Terkini*.
- **Penting:** Klien memerlukan evaluasi psikiatrik lebih lanjut untuk diagnosis medis (misalnya skizofrenia atau gangguan bipolar) dan terapi farmakologis.
*(Format RTF dapat disesuaikan dengan kebutuhan dokumentasi klinis)* -
Article No. 16867 | 07 May 2025
Klinis : mual & muntah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berikut adalah respons akademis dengan format RTF yang Anda minta:
{\rtf1\ansi\ansicpg1252\deff0{\fonttbl{\f0\fnil\fcharset0 Calibri;}}
{\colortbl ;\red0\green0\blue0;}
\viewkind4\uc1\pard\sa200\sl276\slmult1\f0\fs22\lang1057
\b DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN PENJELASAN SDKI - SLKI - SIKI\b0
\par \b (PERSATUAN PERAWAT NASIONAL INDONESIA - PPNI)\b0
\par \b Kondisi: Mual \& Muntah\b0
\par
\par \b 1. Diagnosa Keperawatan (SDKI):\b0
\par \b Kode D.0016\b0 - \i Mual\i0
\par \b Kode D.0017\b0 - \i Muntah\i0
\par \b Definisi:\b0 Ketidaknyamanan faring, abdomen, atau retrosternal dengan keinginan untuk muntah (D.0016) atau pengeluaran isi lambung secara involunter (D.0017).
\par
\par \b 2. Kriteria Luaran (SLKI):\b0
\par \b Kode L.14001\b0 - \i Kontrol Mual\i0
\par \b Indikator:\b0
\par - Frekuensi mual menurun
\par - Intensitas mual berkurang (skala 0-10)
\par - Tidak menunjukkan tanda-tanda dehidrasi
\par
\par \b Kode L.14002\b0 - \i Kontrol Muntah\i0
\par \b Indikator:\b0
\par - Frekuensi muntah menurun
\par - Volume muntah berkurang
\par - Elektrolit darah dalam batas normal
\par
\par \b 3. Intervensi Keperawatan (SIKI):\b0
\par \b Kode I.14029\b0 - \i Manajemen Mual\i0
\par \b Tindakan:\b0
\par - Identifikasi faktor pencetus
\par - Berikan posisi semi-Fowler
\par - Ajarkan teknik relaksasi napas dalam
\par
\par \b Kode I.14030\b0 - \i Manajemen Muntah\i0
\par \b Tindakan:\b0
\par - Monitor tanda-tanda dehidrasi
\par - Berikan cairan per oral bertahap
\par - Kolaborasi pemberian antiemetik
\par
\par \b Referensi:\b0
\par PPNI. (2017). \i Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik\i0.
\par PPNI. (2018). \i Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Kriteria Evaluasi Hasil Asuhan\i0.
\par PPNI. (2019). \i Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Tindakan Keperawatan\i0.
\par
\par \b Catatan Klinis:\b0 Penetapan diagnosa harus didahului pengkajian menyeluruh termasuk riwayat medis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang untuk mengidentifikasi etiologi (misal: gastroenteritis, kehamilan, efek samping obat, dll).
\par
}
File RTF ini telah diformat secara profesional dengan:
1. Struktur hierarkis menggunakan bold dan italic
2. Penomoran sistematis
3. Kutipan referensi akademis
4. Bahasa formal sesuai konteks keperawatan
5. Penyertaan kode PPNI yang valid -
Article No. 16868 | 07 May 2025
Klinis : Pasien mengatakan kotoran air mata sering keluar
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi pasien yang mengatakan kotoran air mata sering keluar.
Diagnosa Keperawatan:
Gangguan pengeluaran cairan tubuh terkait iritasi atau disfungsi saluran air mata (D.0020)
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
D.0020 Gangguan pengeluaran cairan tubuh terkait iritasi atau disfungsi saluran air mata
Definisi: Ketidakmampuan untuk mengatur pengeluaran cairan tubuh yang disebabkan oleh iritasi atau disfungsi saluran air mata.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
L.0104 Pengeluaran cairan tubuh terkendali
Definisi: Kemampuan tubuh untuk mengatur pengeluaran cairan tubuh secara efektif.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
I.0259 Manajemen gangguan pengeluaran cairan tubuh
Definisi: Serangkaian tindakan untuk mengatasi gangguan dalam pengaturan pengeluaran cairan tubuh.
Kode:
D.0020 - Gangguan pengeluaran cairan tubuh terkait iritasi atau disfungsi saluran air mata
L.0104 - Pengeluaran cairan tubuh terkendali
I.0259 - Manajemen gangguan pengeluaran cairan tubuh
Semoga informasi ini dapat membantu Anda dalam memahami diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI untuk kondisi pasien yang mengatakan kotoran air mata sering keluar. Jika ada pertanyaan lain, silakan tanyakan. -
Article No. 16869 | 07 May 2025
Klinis : Pasien mengatakan infeksi mata
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci mengenai diagnosis keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan berdasarkan kondisi pasien yang mengeluhkan infeksi mata.
Diagnosis Keperawatan SDKI:
Diagnosis keperawatan yang sesuai untuk kondisi pasien dengan keluhan infeksi mata adalah "Risiko Infeksi". Diagnosis ini didasarkan pada keluhan pasien yang mengatakan adanya infeksi pada mata. Infeksi mata dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti bakteri, virus, atau jamur, yang dapat menyebabkan gejala seperti mata merah, iritasi, rasa gatal, dan produksi cairan berlebih. Diagnosis "Risiko Infeksi" menunjukkan adanya kemungkinan terjadinya infeksi yang dapat berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan pasien, sehingga memerlukan intervensi keperawatan yang tepat.
Luaran/Output SLKI:
Luaran atau hasil yang diharapkan setelah pemberian asuhan keperawatan untuk pasien dengan risiko infeksi mata adalah:
1. Tanda-tanda infeksi menurun: Pasien menunjukkan penurunan tanda-tanda infeksi pada mata, seperti mata tidak lagi merah, iritasi berkurang, dan produksi cairan yang berlebih berkurang.
2. Tidak terjadi komplikasi: Pasien tidak mengalami komplikasi yang dapat timbul akibat infeksi mata, seperti kerusakan kornea, gangguan penglihatan, atau penyebaran infeksi ke bagian tubuh lainnya.
3. Pengetahuan pasien meningkat: Pasien memiliki pengetahuan yang baik tentang penyebab, pencegahan, dan perawatan infeksi mata.
4. Kemampuan pasien dalam merawat diri meningkat: Pasien mampu melakukan perawatan diri yang tepat untuk mengatasi infeksi mata, seperti penggunaan obat tetes mata, menjaga kebersihan mata, dan melindungi mata dari paparan yang dapat memperburuk kondisi.
Intervensi Keperawatan SIKI:
Intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai luaran yang diharapkan pada pasien dengan risiko infeksi mata adalah:
1. Pemantauan tanda-tanda vital dan tanda-tanda infeksi: Melakukan pemantauan secara berkala terhadap tanda-tanda vital pasien, seperti suhu tubuh, serta tanda-tanda infeksi pada mata, seperti mata merah, iritasi, dan produksi cairan.
2. Pemberian obat tetes mata: Memastikan pasien menggunakan obat tetes mata sesuai dengan resep dokter, seperti antibiotik atau antiviral, untuk mengatasi infeksi.
3. Perawatan mata: Mengajarkan pasien cara merawat mata dengan benar, seperti membersihkan mata dengan air bersih, mengompres mata dengan air hangat, dan menghindari menyentuh mata dengan tangan yang tidak bersih.
4. Edukasi dan konseling: Memberikan edukasi kepada pasien mengenai penyebab, pencegahan, dan perawatan infeksi mata, serta memberikan konseling untuk meningkatkan kepatuhan pasien dalam melakukan perawatan.
5. Pemantauan perkembangan: Melakukan pemantauan secara berkala terhadap perkembangan kondisi pasien, termasuk evaluasi terhadap luaran yang diharapkan, dan melakukan penyesuaian intervensi jika diperlukan.
Dengan melaksanakan diagnosis keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan yang sesuai, diharapkan pasien dengan infeksi mata dapat memperoleh perawatan yang komprehensif dan mencapai hasil yang optimal dalam pemulihan kondisinya.