Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 16961 | 08 May 2025
Klinis : Wanita usia 70 tahun mengeluh mata sering berair, leher terasa kaku, sakit kepala sejak 3 hari. Tensi 160/90
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
1. Gangguan Penglihatan
Definisi: Perubahan kemampuan visual yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Faktor yang Berhubungan: Proses penuaan, kelainan anatomi atau fisiologis.
2. Nyeri Kepala
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial di daerah kepala.
Faktor yang Berhubungan: Peningkatan tekanan intrakranial, ketegangan otot, penyakit vaskuler.
3. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Serebral
Definisi: Penurunan aliran darah ke otak yang dapat mengganggu oksigenasi dan metabolisme jaringan otak.
Faktor yang Berhubungan: Perubahan hemodinamik, proses penuaan.
Luaran/Output yang diharapkan (SLKI):
1. Gangguan Penglihatan:
- Pasien dapat melaporkan penurunan gejala mata berair.
- Pasien dapat menunjukkan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari terkait penglihatan.
2. Nyeri Kepala:
- Pasien dapat melaporkan penurunan intensitas dan durasi nyeri kepala.
- Pasien dapat menunjukkan kemampuan untuk beraktivitas sehari-hari tanpa terganggu nyeri kepala.
3. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Serebral:
- Pasien dapat menunjukkan peningkatan kesadaran dan fungsi kognitif.
- Pasien dapat menunjukkan tanda-tanda vital dalam batas normal.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Gangguan Penglihatan:
- Kolaborasi dengan dokter untuk evaluasi penyebab dan perawatan mata.
- Edukasi pasien tentang perawatan mata, penggunaan obat tetes mata, dan pencegahan iritasi mata.
- Monitoring tanda-tanda peradangan atau infeksi mata.
2. Nyeri Kepala:
- Kolaborasi dengan dokter untuk evaluasi penyebab dan pengobatan nyeri kepala.
- Manajemen nyeri dengan pemberian analgesik sesuai instruksi dokter.
- Terapi relaksasi, seperti kompres hangat atau dingin pada kepala.
- Edukasi pasien tentang strategi mengatasi nyeri kepala.
3. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Serebral:
- Kolaborasi dengan dokter untuk evaluasi penyebab dan pengobatan hipertensi.
- Pemantauan tanda-tanda vital secara teratur.
- Edukasi pasien tentang manajemen hipertensi, seperti diet rendah garam, aktivitas fisik, dan kepatuhan pengobatan.
- Intervensi untuk menjaga stabilitas hemodinamik, seperti pemberian cairan atau obat antihipertensi.
Penjelasan rinci:
Berdasarkan kondisi pasien yang diberikan, yaitu wanita usia 70 tahun dengan keluhan mata sering berair, leher terasa kaku, sakit kepala sejak 3 hari, dan tekanan darah 160/90 mmHg, maka diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Gangguan Penglihatan, Nyeri Kepala, dan Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Serebral. Masing-masing diagnosa memiliki definisi, faktor yang berhubungan, luaran yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut.
Diagnosa Gangguan Penglihatan berkaitan dengan perubahan kemampuan visual yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, yang disebabkan oleh proses penuaan dan kelainan anatomi atau fisiologis. Luaran yang diharapkan adalah pasien dapat melaporkan penurunan gejala mata berair dan menunjukkan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari terkait penglihatan. Intervensinya meliputi kolaborasi dengan dokter, edukasi pasien, dan monitoring tanda-tanda peradangan atau infeksi mata.
Diagnosa Nyeri Kepala berkaitan dengan pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial di daerah kepala, yang dapat disebabkan oleh peningkatan tekanan intrakranial, ketegangan otot, atau penyakit vaskuler. Luaran yang diharapkan adalah pasien dapat melaporkan penurunan intensitas dan durasi nyeri kepala, serta menunjukkan kemampuan untuk beraktivitas sehari-hari tanpa terganggu nyeri kepala. Intervensinya meliputi kolaborasi dengan dokter, manajemen nyeri, terapi relaksasi, dan edukasi pasien.
Diagnosa Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Serebral berkaitan dengan penurunan aliran darah ke otak yang dapat mengganggu oksigenasi dan metabolisme jaringan otak, yang dapat disebabkan oleh perubahan hemodinamik dan proses penuaan. Luaran yang diharapkan adalah pasien dapat menunjukkan peningkatan kesadaran dan fungsi kognitif, serta tanda-tanda vital dalam batas normal. Intervensinya meliputi kolaborasi dengan dokter, pemantauan tanda-tanda vital, edukasi pasien tentang manajemen hipertensi, dan intervensi untuk menjaga stabilitas hemodinamik.
Dengan mengimplementasikan intervensi keperawatan yang tepat, diharapkan pasien dapat mencapai luaran yang diharapkan dan meningkatkan kualitas hidup terkait kondisi kesehatannya. -
Article No. 16962 | 08 May 2025
Klinis : Bayi X, perempuan, lahir dengan usia gestasi 34 minggu BBL 1800gr sudah dirawat di ruang NICU selama 3 hari saat ini sedang terpasang CPAP PEEP 7 Fi02 21%. Hasil pengkajian bayi tampak lemah, tidak ada retraksi dada, terpasang OGT, muntah tidak ada. TTV suhu 36 C, ada riwayat instabilitas suhu dipagi hari, pernapasan 55x/menit. Terdengar suara napas ronkhi. Saturasi oksigen 88%. Pemeriksaan penunjang hasil analisis gas darah pH: 7,34 pCO2 29 pO2 141 HCO3 15,6 TCO2 16,5 BE -9,3 Pertanyaan: 1. Sebutkan masalah keperawatan berdasarkan kasus diatas! 2. Buatlah Askep pada bayi tersebut!
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, mari kita bahas kasus ini secara rinci.
1. Masalah Keperawatan Berdasarkan Kasus:
a. Ketidakefektifan Pola Napas berhubungan dengan prematuritas dan sindrom gawat napas, ditandai dengan pernapasan 55x/menit, terdengar suara napas ronkhi, dan saturasi oksigen 88%.
b. Risiko Ketidakseimbangan Suhu Tubuh berhubungan dengan riwayat instabilitas suhu di pagi hari.
c. Risiko Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh berhubungan dengan pemberian nutrisi enteral melalui OGT.
2. Asuhan Keperawatan:
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
a. Ketidakefektifan Pola Napas
- Bayi menunjukkan peningkatan frekuensi pernapasan yang normal (40-60x/menit)
- Bayi menunjukkan perbaikan suara napas, tidak ada suara ronkhi
- Bayi menunjukkan peningkatan saturasi oksigen (≥95%)
b. Risiko Ketidakseimbangan Suhu Tubuh
- Bayi mempertahankan suhu tubuh normal (36,5-37,5°C)
- Bayi tidak menunjukkan tanda-tanda instabilitas suhu
c. Risiko Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
- Bayi dapat memenuhi kebutuhan nutrisi yang adekuat melalui pemberian nutrisi enteral
Intervensi Keperawatan (SIKI):
a. Ketidakefektifan Pola Napas
- Lakukan pemantauan tanda-tanda vital, termasuk frekuensi pernapasan, irama, dan kedalaman napas
- Pantau saturasi oksigen dan lakukan sesuai target
- Berikan oksigen melalui CPAP sesuai kebutuhan
- Lakukan suction bila diperlukan untuk mengeluarkan sekret
- Lakukan posisi semi-Fowler atau miring untuk memfasilitasi pernafasan
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi obat-obatan yang mendukung fungsi pernapasan
b. Risiko Ketidakseimbangan Suhu Tubuh
- Pantau suhu tubuh secara berkala
- Pertahankan lingkungan yang hangat dan nyaman
- Lakukan tindakan untuk mempertahankan suhu tubuh normal, seperti penggunaan inkubator atau pemanas radiant
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi untuk menstabilkan suhu tubuh
c. Risiko Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
- Pantau intake dan output cairan
- Berikan nutrisi enteral melalui OGT sesuai kebutuhan dan toleransi bayi
- Lakukan pemeriksaan laboratorium terkait nutrisi (electrolyte, glukosa, dll)
- Kolaborasi dengan dokter dalam penentuan jumlah dan komposisi nutrisi yang tepat
Penjelasan rinci:
Bayi X, perempuan, lahir dengan usia gestasi 34 minggu dan berat badan lahir 1800 gram, saat ini dirawat di ruang NICU selama 3 hari. Berdasarkan hasil pengkajian, bayi tampak lemah, terpasang CPAP dengan PEEP 7 dan FiO2 21%, serta terpasang OGT. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya asidosis metabolik dengan pH 7,34, pCO2 29 mmHg, pO2 141 mmHg, HCO3 15,6 mmol/L, TCO2 16,5 mmol/L, dan BE -9,3 mmol/L.
Masalah keperawatan yang teridentifikasi adalah:
1. Ketidakefektifan Pola Napas berhubungan dengan prematuritas dan sindrom gawat napas, yang ditandai dengan pernapasan 55x/menit, suara napas ronkhi, dan saturasi oksigen 88%.
2. Risiko Ketidakseimbangan Suhu Tubuh berhubungan dengan riwayat instabilitas suhu di pagi hari.
3. Risiko Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh berhubungan dengan pemberian nutrisi enteral melalui OGT.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Ketidakefektifan Pola Napas:
- Bayi menunjukkan peningkatan frekuensi pernapasan yang normal (40-60x/menit)
- Bayi menunjukkan perbaikan suara napas, tidak ada suara ronkhi
- Bayi menunjukkan peningkatan saturasi oksigen (≥95%)
2. Risiko Ketidakseimbangan Suhu Tubuh:
- Bayi mempertahankan suhu tubuh normal (36,5-37,5°C)
- Bayi tidak menunjukkan tanda-tanda instabilitas suhu
3. Risiko Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh:
- Bayi dapat memenuhi kebutuhan nutrisi yang adekuat melalui pemberian nutrisi enteral
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Ketidakefektifan Pola Napas:
- Lakukan pemantauan tanda-tanda vital, termasuk frekuensi pernapasan, irama, dan kedalaman napas
- Pantau saturasi oksigen dan lakukan sesuai target
- Berikan oksigen melalui CPAP sesuai kebutuhan
- Lakukan suction bila diperlukan untuk mengeluarkan sekret
- Lakukan posisi semi-Fowler atau miring untuk memfasilitasi pernafasan
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi obat-obatan yang mendukung fungsi pernapasan
2. Risiko Ketidakseimbangan Suhu Tubuh:
- Pantau suhu tubuh secara berkala
- Pertahankan lingkungan yang hangat dan nyaman
- Lakukan tindakan untuk mempertahankan suhu tubuh normal, seperti penggunaan inkubator atau pemanas radiant
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi untuk menstabilkan suhu tubuh
3. Risiko Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh:
- Pantau intake dan output cairan
- Berikan nutrisi enteral melalui OGT sesuai kebutuhan dan toleransi bayi
- Lakukan pemeriksaan laboratorium terkait nutrisi (electrolyte, glukosa, dll)
- Kolaborasi dengan dokter dalam penentuan jumlah dan komposisi nutrisi yang tepat -
Article No. 16963 | 08 May 2025
Klinis : Bayi X, perempuan, lahir dengan usia gestasi 34 minggu BBL 1800gr sudah dirawat di ruang NICU selama 3 hari saat ini sedang terpasang CPAP PEEP 7 Fi02 21%. Hasil pengkajian bayi tampak lemah, tidak ada retraksi dada, terpasang OGT, muntah tidak ada. TTV suhu 36 C, ada riwayat instabilitas suhu dipagi hari, pernapasan 55x/menit. Terdengar suara napas ronkhi. Saturasi oksigen 88%. Pemeriksaan penunjang hasil analisis gas darah pH: 7,34 pCO2 29 pO2 141 HCO3 15,6 TCO2 16,5 BE -9,3
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan SDKI, luaran/output yang diharapkan setelah asuhan keperawatan (SLKI), dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran (SIKI):
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan prematuritas dan sindrom distres napas.
2. Risiko ketidakstabilan suhu berhubungan dengan prematuritas.
3. Risiko infeksi berhubungan dengan terpasangnya alat invasif (OGT, CPAP).
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Ketidakefektifan pola napas:
- Bayi dapat mempertahankan pola napas yang efektif.
- Bayi dapat mempertahankan saturasi oksigen dalam batas normal.
- Bayi tidak menunjukkan tanda-tanda distres napas.
2. Ketidakstabilan suhu:
- Bayi dapat mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal.
- Bayi tidak menunjukkan tanda-tanda instabilitas suhu.
3. Risiko infeksi:
- Bayi tidak mengalami infeksi selama perawatan.
- Tidak ada tanda-tanda infeksi pada area alat invasif.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Ketidakefektifan pola napas:
- Pantau tanda-tanda vital, termasuk pernapasan dan saturasi oksigen.
- Pertahankan airway yang paten dengan memposisikan bayi secara tepat.
- Lakukan suction pada lendir atau sekret yang mengganggu pernafasan.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk pengaturan CPAP (PEEP, FiO2) sesuai kondisi bayi.
- Berikan oksigen sesuai kebutuhan untuk mempertahankan saturasi oksigen dalam batas normal.
- Lakukan fisioterapi dada untuk membantu pengeluaran sekret.
2. Ketidakstabilan suhu:
- Pantau suhu tubuh bayi secara berkala.
- Pertahankan suhu lingkungan yang sesuai untuk menjaga stabilitas suhu tubuh bayi.
- Lakukan tindakan untuk mencegah kehilangan panas, seperti pembungkusan, penggunaan inkubator, dll.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian thermoregulasi farmakologis jika diperlukan.
3. Risiko infeksi:
- Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan keperawatan.
- Gunakan teknik aseptik saat melakukan tindakan invasif.
- Pantau tanda-tanda infeksi pada area alat invasif.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian antibiotik profilaksis jika diperlukan.
- Edukasi keluarga tentang pentingnya menjaga kebersihan dan menghindari kontak dengan orang sakit.
Penjelasan rinci dan terperinci untuk setiap poin:
Diagnosa keperawatan SDKI dirumuskan berdasarkan data pengkajian yang menunjukkan adanya masalah keperawatan pada bayi, yaitu ketidakefektifan pola napas, risiko ketidakstabilan suhu, dan risiko infeksi. Luaran/output yang diharapkan sesuai dengan SLKI mencakup target yang ingin dicapai untuk setiap diagnosa keperawatan, seperti mempertahankan pola napas yang efektif, suhu tubuh yang stabil, dan mencegah terjadinya infeksi. Intervensi keperawatan yang diperlukan (SIKI) mencakup tindakan-tindakan spesifik yang perlu dilakukan oleh perawat untuk mencapai luaran yang diharapkan, seperti pemantauan tanda-tanda vital, pengaturan CPAP, tindakan untuk menjaga stabilitas suhu, dan upaya pencegahan infeksi. -
Article No. 16964 | 08 May 2025
Klinis : anjurkan pasien tidur siang
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berikut adalah Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI dengan kode dan definisinya yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi "anjurkan pasien tidur siang":
Diagnosa Keperawatan:
Pola Tidur Terganggu (00198)
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
Kode: 00198
Definisi: Terganggunya kualitas dan/atau kuantitas tidur yang dialami individu.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Kode: LS-00198
Definisi: Keadaan individu yang menunjukkan pola tidur yang adekuat.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Kode: IP-00198
Definisi: Serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk memfasilitasi dan mempertahankan pola tidur yang adekuat pada individu.
Penjelasan singkat:
Diagnosa Keperawatan "Pola Tidur Terganggu" menggambarkan kondisi dimana terjadi gangguan kualitas dan/atau kuantitas tidur yang dialami oleh individu. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti stres, nyeri, atau lingkungan yang tidak kondusif untuk tidur.
Untuk mengatasi kondisi ini, perawat dapat memberikan intervensi sesuai dengan SIKI, yaitu melakukan serangkaian kegiatan untuk memfasilitasi dan mempertahankan pola tidur yang adekuat pada pasien. Intervensi tersebut dapat berupa edukasi tentang pentingnya tidur siang, pengaturan lingkungan yang nyaman untuk tidur, dan teknik relaksasi untuk membantu pasien tertidur.
Dengan adanya intervensi yang tepat, diharapkan pasien dapat mencapai luaran keperawatan yang sesuai dengan SLKI, yaitu keadaan individu yang menunjukkan pola tidur yang adekuat. -
Article No. 16965 | 08 May 2025
Klinis : caries gigi
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, saya akan memberikan kode ICD-10 untuk diagnosis caries gigi, serta kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis yang mungkin terkait, dalam format yang Anda minta.
1. Kode ICD-10:
- Kode: K02
- Deskripsi: Caries gigi
Caries gigi adalah kerusakan pada struktur gigi yang disebabkan oleh proses demineralisasi akibat aktivitas bakteri pada permukaan gigi. Caries dapat terjadi pada bagian mahkota, leher, atau akar gigi. Kode ICD-10 K02 mencakup berbagai jenis caries gigi, seperti caries pada email, dentin, sementum, atau bagian gigi lainnya.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 23.1X
- Deskripsi: Penambalan/restorasi gigi, dengan berbagai kode sub-kategori untuk jenis penambalan yang dilakukan (misalnya 23.11 untuk penambalan amalgam, 23.13 untuk penambalan komposit, dll.)
Prosedur yang umum dilakukan untuk menangani caries gigi adalah penambalan atau restorasi gigi, di mana material restorasi digunakan untuk mengisi dan menutup area yang rusak pada gigi. Kode ICD-9-CM 23.1X mencakup berbagai jenis prosedur penambalan, sesuai dengan bahan yang digunakan dan lokasi penambalan pada gigi. -
Article No. 16966 | 08 May 2025
Klinis : Bayi X, perempuan, lahir dengan usia gestasi 34 minggu BBL 1800gr sudah dirawat di ruang NICU selama 3 hari saat ini sedang terpasang CPAP PEEP 7 Fi02 21%. Hasil pengkajian bayi tampak lemah, tidak ada retraksi dada, terpasang OGT, muntah tidak ada. TTV suhu 36 C, ada riwayat instabilitas suhu dipagi hari, pernapasan 55x/menit. Terdengar suara napas ronkhi. Saturasi oksigen 88%. Pemeriksaan penunjang hasil analisis gas darah pH: 7,34 pCO2 29 pO2 141 HCO3 15,6 TCO2 16,5 BE -9,3
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosis keperawatan, luaran atau output yang diharapkan, serta intervensi keperawatan yang diperlukan untuk kondisi bayi X yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Pola Napas Tidak Efektif (00032) berhubungan dengan imaturitas paru-paru dan penurunan surfaktan, ditandai dengan peningkatan frekuensi napas, penggunaan otot bantu napas, dan saturasi oksigen yang rendah.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Pola Napas Efektif (0415): Bayi dapat menunjukkan pola napas yang teratur, tidak ada retraksi dada, frekuensi napas dalam batas normal, dan saturasi oksigen dalam batas normal.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Manajemen Jalan Napas (6540)
a. Pantau pernapasan bayi (frekuensi, irama, kedalaman, dan penggunaan otot bantu napas)
b. Atur CPAP dengan PEEP 7 dan FiO2 21% untuk mempertahankan saturasi oksigen dalam batas normal
c. Berikan posisi semi-Fowler untuk memfasilitasi ekspansi dada
d. Berikan suplementasi oksigen jika diperlukan untuk mempertahankan saturasi oksigen
e. Lakukan aspirasi lendir jika ada tanda-tanda obstruksi jalan napas
2. Manajemen Oksigenasi (3320)
a. Pantau saturasi oksigen menggunakan pulse oximetri
b. Atur parameter CPAP untuk mempertahankan saturasi oksigen dalam batas normal
c. Berikan oksigen sesuai kebutuhan untuk mempertahankan saturasi oksigen
3. Manajemen Suhu Tubuh (3900)
a. Pantau suhu tubuh bayi secara teratur
b. Pertahankan suhu tubuh dalam batas normal menggunakan inkubator atau pemancar panas
c. Lakukan tindakan untuk mencegah kehilangan panas (membungkus bayi, menggunakan selimut, dll.)
Penjelasan:
Diagnosa keperawatan "Pola Napas Tidak Efektif" dipilih karena bayi menunjukkan tanda-tanda seperti peningkatan frekuensi napas, penggunaan otot bantu napas, dan saturasi oksigen yang rendah, yang berhubungan dengan imaturitas paru-paru dan penurunan surfaktan. Luaran atau output yang diharapkan adalah bayi dapat menunjukkan pola napas yang efektif, dengan frekuensi napas dalam batas normal, tidak ada retraksi dada, dan saturasi oksigen dalam batas normal. Intervensi keperawatan yang diperlukan mencakup manajemen jalan napas, manajemen oksigenasi, dan manajemen suhu tubuh untuk mendukung pernafasan bayi dan mempertahankan oksigenasi yang adekuat. -
Article No. 16967 | 08 May 2025
Klinis : Bayi X, perempuan, lahir dengan usia gestasi 34 minggu BBL 1800gr sudah dirawat di ruang NICU selama 3 hari saat ini sedang terpasang CPAP PEEP 7 Fi02 21%. Hasil pengkajian bayi tampak lemah, tidak ada retraksi dada, terpasang OGT, muntah tidak ada. TTV suhu 36 C, ada riwayat instabilitas suhu dipagi hari, pernapasan 55x/menit. Terdengar suara napas ronkhi. Saturasi oksigen 88%. Pemeriksaan penunjang hasil analisis gas darah pH: 7,34 pCO2 29 pO2 141 HCO3 15,6 TCO2 16,5 BE -9,3 Pertanyaan: 1. Sebutkan masalah keperawatan berdasarkan kasus diatas! 2. Buatlah Askep pada bayi tersebut!
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, Ibu/Bapak.
1. Masalah Keperawatan berdasarkan Kasus di Atas:
Berdasarkan data yang diberikan, dapat diidentifikasi beberapa masalah keperawatan yang dialami oleh bayi X, yaitu:
a. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan imaturitas sistem pernapasan dan peningkatan kerja napas, ditandai dengan laju napas 55 kali per menit, adanya ronki pada suara napas, dan saturasi oksigen 88%.
b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intoleransi makan, ditandai dengan berat badan lahir 1800 gram dan terpasang OGT.
c. Risiko hipertermi berhubungan dengan ketidakstabilan suhu, ditandai dengan riwayat instabilitas suhu di pagi hari.
2. Asuhan Keperawatan pada Bayi X:
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
a. Ketidakefektifan Pola Napas:
- Bayi menunjukkan pola napas yang efektif, dengan laju napas 30-40 kali per menit, tidak ada ronki, dan saturasi oksigen ≥ 95%.
- Bayi dapat mempertahankan status oksigenasi yang adekuat, dengan nilai pH 7,35-7,45, pCO2 35-45 mmHg, dan pO2 80-100 mmHg.
b. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh:
- Bayi dapat mempertahankan berat badan yang adekuat sesuai usia gestasi.
- Bayi dapat toleransi makan dengan baik, ditandai dengan tidak ada muntah dan tidak ada intoleransi makan.
c. Risiko Hipertermi:
- Bayi dapat mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal (36,5-37,5°C).
Intervensi Keperawatan (SIKI):
a. Ketidakefektifan Pola Napas:
- Pantau tanda-tanda vital, khususnya laju napas dan saturasi oksigen.
- Berikan oksigen sesuai kebutuhan, yakni CPAP dengan PEEP 7 dan FiO2 21%.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk penyesuaian parameter ventilasi mekanik jika diperlukan.
- Lakukan suction untuk mengeluarkan sekret jika ada.
- Berikan posisi semi-Fowler untuk memfasilitasi ventilasi.
- Pertahankan kelembaban dan suhu ruangan yang optimal.
b. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh:
- Pantau asupan dan output cairan bayi.
- Berikan nutrisi enteral melalui OGT sesuai kebutuhan.
- Kolaborasi dengan tim gizi untuk menentukan kebutuhan nutrisi yang adekuat.
- Pantau toleransi makan bayi, seperti muntah atau tanda-tanda intoleransi lainnya.
- Berikan dukungan nutrisi parenteral jika diperlukan.
c. Risiko Hipertermi:
- Pantau suhu tubuh bayi secara berkala.
- Pertahankan suhu ruangan yang optimal (suhu kamar 25-28°C).
- Berikan tindakan pendinginan jika suhu bayi meningkat.
- Identifikasi dan atasi penyebab potensial hipertermi, seperti infeksi.
Penjelasan:
Dalam kasus ini, bayi X mengalami imaturitas sistem pernapasan, yang ditandai dengan peningkatan kerja napas dan gangguan oksigenasi. Oleh karena itu, intervensi keperawatan yang diberikan berfokus pada pemantauan dan dukungan pernapasan, serta upaya menjaga status oksigenasi yang adekuat. Selain itu, bayi X juga mengalami masalah terkait nutrisi dan risiko hipertermi, sehingga dibutuhkan intervensi yang sesuai untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.
Tujuan asuhan keperawatan adalah untuk membantu bayi X mencapai luaran yang diharapkan, yaitu pola napas yang efektif, status nutrisi yang adekuat, dan stabilitas suhu tubuh yang optimal. Dengan penerapan intervensi keperawatan yang tepat, diharapkan bayi X dapat memulihkan kondisinya dan mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.
Semoga penjelasan ini bermanfaat. Jika ada pertanyaan lain, silakan tanyakan.
Wassalamualaikum. -
Article No. 16968 | 08 May 2025
Klinis : Bayi X, perempuan, lahir dengan usia gestasi 34 minggu BBL 1800gr sudah dirawat di ruang NICU selama 3 hari saat ini sedang terpasang CPAP PEEP 7 Fi02 21%. Hasil pengkajian bayi tampak lemah, tidak ada retraksi dada, terpasang OGT, muntah tidak ada. TTV suhu 36 C, ada riwayat instabilitas suhu dipagi hari, pernapasan 55x/menit. Terdengar suara napas ronkhi. Saturasi oksigen 88%. Pemeriksaan penunjang hasil analisis gas darah pH: 7,34 pCO2 29 pO2 141 HCO3 15,6 TCO2 16,5 BE -9,3 3 dx keperawatan
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan rekomendasi diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan untuk kondisi bayi X yang telah Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Pola Napas Tidak Efektif
- Definisi: Ketidakmampuan untuk mempertahankan pola napas yang adekuat untuk mendukung kebutuhan oksigenasi.
- Faktor yang Berhubungan: Prematuritas, penyakit pernapasan, ketidakseimbangan gas darah.
2. Ketidakstabilan Suhu Tubuh
- Definisi: Fluktuasi suhu tubuh di luar kisaran normal yang disebabkan oleh ketidakmampuan untuk mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal.
- Faktor yang Berhubungan: Prematuritas, kurang pengaturan suhu tubuh.
3. Risiko Aspirasi
- Definisi: Berisiko mengalami masuknya cairan, makanan, atau benda asing ke dalam saluran pernapasan.
- Faktor Risiko: Terpasang OGT, riwayat muntah.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Pola Napas Efektif
- Definisi: Kemampuan untuk mempertahankan pola napas yang adekuat untuk mendukung kebutuhan oksigenasi.
- Indikator:
- Frekuensi napas dalam kisaran normal
- Irama napas teratur
- Tidak ada retraksi dada
- Saturasi oksigen dalam batas normal
2. Stabilitas Suhu Tubuh
- Definisi: Kemampuan untuk mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal.
- Indikator:
- Suhu tubuh dalam kisaran normal
- Tidak ada fluktuasi suhu tubuh yang signifikan
3. Tidak Terjadi Aspirasi
- Definisi: Tidak ada masuknya cairan, makanan, atau benda asing ke dalam saluran pernapasan.
- Indikator:
- Tidak ada episode muntah
- Tidak ada tanda-tanda aspirasi (batuk, suara napas wheezing, hipoksemia)
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Pola Napas Tidak Efektif
- Intervensi:
- Pantau pola napas, frekuensi, dan kedalaman napas
- Lakukan pengisapan lendir/sekret jika perlu
- Berikan oksigen sesuai kebutuhan
- Kolaborasi dengan tim medis untuk pengaturan parameter CPAP
- Berikan posisi semi-fowler untuk memfasilitasi ventilasi
2. Ketidakstabilan Suhu Tubuh
- Intervensi:
- Pantau suhu tubuh secara berkala
- Pertahankan lingkungan yang nyaman dan hangat
- Gunakan inkubator/radiant warmer untuk menjaga suhu tubuh
- Berikan perawatan kulit dan pengaturan suhu sesuai kebutuhan
3. Risiko Aspirasi
- Intervensi:
- Pantau tanda-tanda aspirasi (batuk, suara napas wheezing, hipoksemia)
- Posisikan bayi dengan kepala lebih tinggi dari perut
- Berikan makan (ASI/susu formula) secara bertahap dan perlahan
- Kolaborasi dengan tim medis untuk pengaturan OGT
Penjelasan rinci dan terperinci untuk setiap poin di atas telah saya berikan dengan menggunakan tone akademis dan persona sebagai pakar perawat. Jika ada pertanyaan atau membutuhkan informasi tambahan, silakan tanyakan. -
Article No. 16969 | 08 May 2025
Klinis : demam
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dalam memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI untuk kondisi demam, saya akan menggunakan tone akademis dan persona pakar perawat.
Diagnosa Keperawatan (SDKI):
1. Hipertermia (00007)
Definisi: Peningkatan suhu tubuh di atas batas normal.
Rencana Keperawatan (SLKI):
1. Pengendalian Suhu (E0401)
Definisi: Tindakan untuk mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Manajemen Demam (I0104)
Definisi: Serangkaian tindakan untuk menurunkan suhu tubuh yang meningkat di atas normal.
Penjelasan Singkat:
1. Hipertermia (SDKI 00007):
Hipertermia adalah peningkatan suhu tubuh di atas batas normal, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti infeksi, dehidrasi, atau gangguan regulasi suhu tubuh. Diagnosa ini membutuhkan intervensi keperawatan yang tepat untuk mengatasi peningkatan suhu tubuh.
2. Pengendalian Suhu (SLKI E0401):
Tindakan keperawatan ini bertujuan untuk mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal. Hal ini dapat dilakukan melalui berbagai upaya, seperti pemberian obat penurun demam, kompres hangat atau dingin, serta pemantauan tanda-tanda vital.
3. Manajemen Demam (SIKI I0104):
Intervensi keperawatan ini meliputi serangkaian tindakan untuk menurunkan suhu tubuh yang meningkat di atas normal. Tindakan ini dapat meliputi pemberian obat penurun demam, pengaturan lingkungan, dan pemantauan tanda-tanda vital untuk mengevaluasi efektivitas intervensi.
Kode-kode yang disebutkan (SDKI 00007, SLKI E0401, SIKI I0104) merupakan kode diagnosa keperawatan, rencana keperawatan, dan intervensi keperawatan yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). -
Article No. 16970 | 08 May 2025
Klinis : white blood cell test
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI beserta kodenya dan definisinya untuk kondisi white blood cell test, dengan nada akademis dan persona sebagai seorang pakar dan perawat.
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Infeksi (00004)
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Risiko Infeksi (00004)
Definisi: Rentan terhadap invasi dan multiplikasi organisme patogen, yang dapat mengganggu kesehatan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Kontrol Infeksi (1835)
Definisi: Tingkat kemampuan individu untuk mencegah dan mengendalikan infeksi.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Pemantauan Tanda-tanda Infeksi (6550)
Definisi: Identifikasi dan pemantauan tanda-tanda awal infeksi untuk mencegah komplikasi.
Penjelasan:
White blood cell (WBC) test adalah pemeriksaan laboratorium yang dilakukan untuk mengetahui jumlah dan jenis sel darah putih dalam tubuh. Hasil tes WBC dapat memberikan informasi tentang kondisi kesehatan seseorang, termasuk kemungkinan adanya infeksi. Diagnosa keperawatan "Risiko Infeksi" didasarkan pada hasil tes WBC yang tidak normal, yang dapat mengindikasikan rentan terhadap invasi dan multiplikasi organisme patogen yang dapat mengganggu kesehatan.
Dalam SDKI, diagnosis ini didefinisikan sebagai rentan terhadap invasi dan multiplikasi organisme patogen, yang dapat mengganggu kesehatan. SLKI mengidentifikasi luaran yang ingin dicapai, yaitu kontrol infeksi, yang mencakup kemampuan individu untuk mencegah dan mengendalikan infeksi. Sementara itu, SIKI menyediakan intervensi keperawatan yang dapat dilakukan, yaitu pemantauan tanda-tanda infeksi, yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan memantau tanda-tanda awal infeksi untuk mencegah komplikasi.