Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 22923 | 21 Nov 2025
Klinis : Ny. W, umur 57 tahun, mengeluh pandangan kabur kalau untuk membaca dan pada waktu berjalan sehingga sangat menganggu pada waktu bekerja, klien sudah lima tahun ini menderita diabetes melitus. Ny. W membaca artikel insidensi retinopathy DM sangat tinggi sekitar 40 s.d. 50 % membuat dia sangat cemas. Apakah intervensi perawatan yang dapat anda lakukan ? Select one: a. Edukasi tentang pencegahan retinopathy b. Pendampingan klg c. Edukasi tehnik relaksasi d. Monitor Nyeri e. Monitor Keadaan umum klien
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: D.0030
Deskripsi Singkat: Ansietas adalah keadaan individu atau kelompok yang mengalami perasaan gelisah (seperti perasaan khawatir yang tidak pasti atau ketakutan) dan aktivitas otonom dari sistem saraf otonom sebagai respons terhadap ancaman yang tidak jelas atau tidak dikenal. Pada kasus Ny. W, ansietas muncul sebagai respons terhadap ancaman potensial terhadap penglihatannya dan kualitas hidupnya akibat komplikasi diabetes melitus yang dia derita, yaitu retinopati diabetik. Informasi dari artikel yang dibacanya mengenai insidensi retinopati yang tinggi (40-50%) menjadi stimulus yang memicu perasaan takut, khawatir, dan gelisah. Perasaan ini diperkuat oleh gejala awal yang sudah dialami, seperti pandangan kabur saat membaca dan berjalan, yang mengganggu aktivitas pekerjaannya. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman tersebut dirasakan sangat nyata dan personal oleh Ny. W, sehingga menimbulkan respons ansietas yang signifikan.
Kode SLKI: L.03124
Deskripsi : SLKI untuk diagnosa Ansietas (D.0030) adalah "Kontrol Ansietas". Tujuan utama dari intervensi keperawatan ini adalah agar klien dapat menunjukkan kemampuan dalam mengelola perasaan ansietasnya. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: klien mampu mengidentifikasi tanda dan gejala ansietas yang dialami, menyatakan perasaan ansietasnya telah berkurang baik secara verbal maupun non-verbal, menunjukkan teknik relaksasi yang efektif untuk menurunkan ansietas, menunjukkan perilaku koping yang adaptif, serta mampu mendemonstrasikan kemampuan dalam memecahkan masalah terkait situasi yang memicu ansietas. Pada Ny. W, tujuan spesifiknya adalah dia dapat menyatakan penurunan rasa cemas tentang risiko retinopati, mengidentifikasi bahwa kekhawatirannya berasal dari informasi yang dia baca dan gejala yang dialami, serta mampu mempraktikkan teknik relaksasi untuk menenangkan diri ketika rasa cemas itu muncul.
Kode SIKI: I.01224
Deskripsi : SIKI untuk mencapai SLKI "Kontrol Ansietas" adalah "Manajemen Ansietas". Intervensi ini terdiri dari serangkaian tindakan yang terencana untuk membantu individu mengurangi tingkat ansietasnya. Tindakan-tindakan tersebut meliputi: 1) Membina hubungan saling percaya dengan klien, menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman. 2) Menggunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan. 3) Mendorong klien untuk mengekspresikan perasaan, persepsi, dan ketakutannya. Dalam kasus Ny. W, perawat perlu mendengarkan keluhannya dengan penuh empati, mengakui bahwa kekhawatirannya adalah hal yang wajar. 4) Melakukan edukasi kesehatan, termasuk memberikan informasi yang akurat dan faktual tentang retinopati diabetik, faktor risiko, pencegahan, dan tata laksana. Ini bertujuan untuk meluruskan informasi yang mungkin tidak lengkap dari artikel yang dibaca dan mengurangi ketakutan yang berlebihan. 5) Mengajarkan teknik relaksasi, seperti napas dalam, relaksasi otot progresif, atau distraksi, untuk membantu klien mengendalikan respons fisik dari ansietas. 6) Melibatkan sistem pendukung seperti keluarga (Pendampingan Keluarga) untuk memberikan dukungan emosional. 7) Mendorong partisipasi klien dalam kegiatan yang dapat mengurangi stres. 8) Memantau intensitas ansietas dan efektivitas dari koping yang digunakan klien. Dari pilihan jawaban yang ada, intervensi yang paling tepat dan langsung menangani akar masalah (ansietas akibat ketakutan akan retinopati) adalah Edukasi tentang pencegahan retinopati (yang merupakan bagian integral dari Manajemen Ansietas untuk memberikan rasa kontrol) dan Edukasi teknik relaksasi sebagai keterampilan koping. Namun, jika harus memilih satu yang paling komprehensif dalam konteks ini, edukasi pencegahan retinopati akan langsung menjawab sumber kecemasannya dengan memberikan pengetahuan dan kekuatan untuk bertindak.
-
Article No. 22924 | 21 Nov 2025
Klinis : Seorang anak laki-laki usia 12 tahun dirawat dengan keluhan sering buang air kecil, cepat haus, dan berat badan menurun dalam 2 minggu terakhir. Pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu menunjukkan 420 mg/dL. Perawat menemukan pasien tampak lemas dan napasnya cepat dan dalam. Apa diagnosa keperawatan yang paling tepat? Select one: a. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan defisiensi insulin b. Risiko infeksi berhubungan dengan hiperglikemia c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum d. Risiko cedera berhubungan dengan hipoglikemia e. Gangguan pola napas berhubungan dengan hipoksia jaringan
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Diabetes Mellitus Tipe 1 dengan Ketoasidosis Diabetik
Kode ICD-10: E10.10
Deskripsi Singkat : Kode E10.10 mengacu pada Diabetes Mellitus Tipe 1 dengan ketoasidosis, tanpa menyebutkan komplikasi. Kondisi ini ditandai dengan defisiensi insulin absolut yang menyebabkan hiperglikemia berat (gula darah 420 mg/dL). Gejala klasik seperti poliuria (sering buang air kecil), polidipsia (cepat haus), dan penurunan berat badan yang tidak disengaja mendukung diagnosis diabetes. Napas yang cepat dan dalam (Kussmaul) serta kelemahan adalah tanda klinis dari ketoasidosis diabetik (DKA), suatu komplikasi akut yang mengancam jiwa. DKA terjadi karena tubuh, yang tidak dapat menggunakan glukosa sebagai energi akibat kekurangan insulin, mulai memecah lemak secara cepat. Proses ini menghasilkan keton asam yang menumpuk dalam darah, menyebabkan asidosis metabolik. Tubuh berusaha mengkompensasi dengan mengeluarkan asam melalui pernapasan yang dalam dan cepat. Kondisi ini merupakan keadaan darurat medis yang memerlukan insulin, cairan intravena, dan pemantauan ketat di rumah sakit untuk memperbaiki ketidakseimbangan metabolik yang berbahaya.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 22925 | 21 Nov 2025
Klinis : Seorang anak laki-laki usia 12 tahun dirawat dengan keluhan sering buang air kecil, cepat haus, dan berat badan menurun dalam 2 minggu terakhir. Pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu menunjukkan 420 mg/dL. Perawat menemukan pasien tampak lemas dan napasnya cepat dan dalam. Apa diagnosa keperawatan yang paling tepat? Select one: a. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan defisiensi insulin b. Risiko infeksi berhubungan dengan hiperglikemia c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum d. Risiko cedera berhubungan dengan hipoglikemia e. Gangguan pola napas berhubungan dengan hipoksia jaringan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hiperglikemia
Kode SDKI: D.0032
Deskripsi Singkat: Peningkatan kadar glukosa dalam darah di atas rentang normal.
Kode SLKI: L.03135
Deskripsi : Manajemen Hiperglikemia: Tindakan kolaboratif untuk menstabilkan kadar glukosa darah dan mencegah komplikasi. Kriteria hasil meliputi: 1) Kadar glukosa darah mendekati rentang target yang ditetapkan, 2) Asupan nutrisi dan cairan adekuat, 3) Tanda-tanda vital stabil, 4) Tidak ada tanda-tanda ketoasidosis diabetik (seperti napas Kussmaul, bau aseton, mual/muntah), 5) Klien dan keluarga menunjukkan pemahaman tentang penyebab dan penanganan hiperglikemia. Perawat akan memantau kadar glukosa darah secara berkala, memberikan terapi insulin sesuai resep, memantau tanda-tanda dehidrasi dan ketosis, serta memberikan pendidikan kesehatan mengenai manajemen diabetes.
Kode SIKI: I.01212
Deskripsi : Manajemen Hiperglikemia: Tindakan untuk mengontrol kadar glukosa darah. Intervensi keperawatan meliputi: 1) Memantau tanda dan gejala hiperglikemia (poliuria, polidipsia, penurunan berat badan, lemas, penglihatan kabur). 2) Memantau kadar glukosa darah sesuai protokol atau sesuai kebutuhan. 3) Melakukan kolaborasi pemberian insulin sesuai resep dokter. 4) Memantau tanda-tanda ketoasidosis diabetik (napas Kussmaul, bau aseton, mual, muntah, perubahan kesadaran). 5) Memantau keseimbangan cairan (tanda dehidrasi, intake dan output, turgor kulit). 6) Memberikan edukasi pada klien dan keluarga tentang penyebab hiperglikemia, tanda dan gejala, pengobatan, dan pencegahan. 7) Menganjurkan untuk meningkatkan asupan cairan non-kalori jika sadar dan tidak muntah. 8) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pengaturan diet diabetes. Tindakan ini bertujuan untuk menurunkan kadar glukosa darah ke rentang yang aman, mencegah komplikasi ketoasidosis, dan memulihkan keseimbangan cairan serta elektrolit pasien.
-
Article No. 22926 | 21 Nov 2025
Klinis : Ny. W, umur 57 tahun, mengeluh pandangan kabur kalau untuk membaca dan pada waktu berjalan sehingga sangat menganggu pada waktu bekerja, klien sudah lima tahun ini menderita diabetes melitus. Ny. W membaca artikel insidensi retinopathy DM sangat tinggi sekitar 40 s.d. 50 % membuat dia sangat cemas. Apakah intervensi perawatan yang dapat anda lakukan ? Select one: a. Edukasi tentang pencegahan retinopathy b. Pendampingan klg c. Edukasi tehnik relaksasi d. Monitor Nyeri e. Monitor Keadaan umum klien
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: 0012
Deskripsi Singkat: Ansietas adalah keadaan individu yang mengalami perasaan gelisah (suatu kekhawatiran yang tidak pasti) dan aktivasi sistem saraf otonom dalam menanggapi ancaman yang tidak spesifik atau samar-samar, yang sumbernya sebagian besar tidak diketahui atau tidak dikenali. Pada kasus Ny. W, ansietas muncul sebagai respons terhadap ancaman kesehatan yang nyata, yaitu risiko tinggi retinopati diabetik yang dapat menyebabkan kebutaan. Ancaman ini dipersepsikan dari informasi yang dia baca dan diperkuat oleh gejala penglihatan kabur yang sudah dialaminya. Perasaan tidak berdaya dan takut terhadap masa depan, terutama terkait kemampuan bekerja dan kemandiriannya, menjadi sumber tekanan psikologis yang signifikan. Defisit pengetahuan tentang kondisi penyakitnya dan cara pencegahannya memperburuk perasaan tidak pasti ini. Ansietas yang dialami dapat memanifestasikan secara fisik (seperti ketegangan, sulit tidur) dan kognitif (kekhawatiran berlebihan, sulit konsentrasi), yang pada akhirnya dapat mengganggu kepatuhan dalam mengelola diabetesnya.
Kode SLKI: 2218
Deskripsi : SLKI untuk ansietas berfokus pada upaya menurunkan tingkat kecemasan klien hingga mencapai tingkat yang dapat ditoleransi. Intervensi ini melibatkan serangkaian tindakan terapeutik. Pertama, membina hubungan saling percaya dengan klien dengan pendekatan yang tenang, empatik, dan menerima. Kedua, mendorong klien untuk mengekspresikan perasaan, persepsi, dan ketakutannya secara verbal. Pada Ny. W, penting untuk mengidentifikasi pikiran spesifik apa yang paling membuatnya cemas (misalnya, takut menjadi buta, takut kehilangan pekerjaan). Ketiga, memberikan informasi yang akurat dan faktual tentang hubungan antara diabetes dan retinopati, proses skrining, serta langkah-langkah pencegahan dan tatalaksana yang tersedia. Informasi ini bertujuan untuk mengoreksi kesalahpahaman dan mengurangi ketidakpastian. Keempat, melibatkan klien dalam proses perencanaan perawatan untuk meningkatkan rasa kontrol dirinya. Kelima, mengajarkan dan mendorong pelaksanaan teknik manajemen stres seperti latihan pernapasan dalam, relaksasi otot progresif, atau distraksi. Tujuan akhirnya adalah klien melaporkan penurunan perasaan gugup dan khawatir, mampu mengidentifikasi strategi koping yang efektif, serta menunjukkan tanda-tanda fisiologis yang menurun seperti penurunan denyut nadi dan pernapasan yang lebih teratur.
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : SIKI untuk ansietas adalah tindakan sistematis untuk memantau intensitas dan dampak dari perasaan cemas yang dialami klien. Aktivitas ini dimulai dengan pengkajian menyeluruh terhadap tanda dan gejala ansietas, baik subjektif (keluhan klien tentang kekhawatiran, ketakutan) maupun objektif (perilaku gelisah, tremor, ekspresi wajah tegang, takikardia, hiperventilasi). Perawat harus menilai faktor-faktor pemicu atau yang memperberat ansietas, yang dalam kasus Ny. W adalah gejala penglihatan kabur dan informasi medis yang dia terima. Selanjutnya, perawat memantau respons klien terhadap intervensi yang diberikan, seperti apakah teknik relaksasi berhasil menenangkannya atau apakah edukasi yang diberikan mengurangi kebingungannya. Perawat juga mengobservasi dampak ansietas terhadap fungsi klien, termasuk pola tidur, nafsu makan, dan kemampuan untuk mengikuti rencana perawatan diabetesnya. Pemantauan dilakukan secara berkala dan berkelanjutan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi dan mendeteksi adanya peningkatan atau penurunan tingkat ansietas. Data yang dikumpulkan dari pemantauan ini menjadi dasar untuk mengevaluasi hasil dan merevisi rencana keperawatan jika diperlukan.
Intervensi Keperawatan yang Direkomendasikan: Dari pilihan yang diberikan, intervensi yang paling tepat adalah c. Edukasi tehnik relaksasi. Intervensi ini secara langsung menangani diagnosa keperawatan utama, yaitu Ansietas (SDKI 0012), dan merupakan pelaksanaan konkret dari SLKI 2218 (Manajemen Ansietas). Mengajarkan teknik relaksasi seperti pernapasan dalam atau relaksasi otot progresif akan memberikan Ny. W alat yang langsung dapat digunakan untuk mengelola perasaan cemasnya saat kekhawatiran itu muncul, terutama ketika memikirkan kondisi matanya atau masa depannya. Ini memberdayakannya dengan mekanisme koping yang sehat. Sementara opsi a (Edukasi pencegahan retinopati) juga sangat penting dan termasuk dalam SLKI 2218 sebagai pemberian informasi, namun dalam konteks pertanyaan yang spesifik menanyakan intervensi untuk menangani kecemasan yang sudah ada, edukasi relaksasi lebih langsung dan segera dampaknya terhadap kondisi emosionalnya. Opsi lainnya (b, d, e) meskipun berguna, tidak secara spesifik menargetkan reduksi ansietas seperti halnya teknik relaksasi.
-
Article No. 22927 | 21 Nov 2025
Klinis : Ny. S, usia 36 tahun datang ke IGD RS dengan keluhan sesak nafas hebat 2 jam sebelum masuk rumah sakit (SMRS). Sesak nafas sudah dirasakan sejak 4 hari SMRS. Sesak napas disertai bunyi ‘ngik-ngik’, dirasakan hilang timbul, terasa memberat saat banyak melakukan aktivitas dan cuaca dingin. Sesak napas yang dirasakan mengganggu tidur, pada saat sesak datang pasien lebih banyak memposisikan diri dengan duduk dari pada berbaring. Pasien juga mengeluhkan demam, batuk disertai dahak berwarna putih. Pasien terakhir kali mengeluhkan sesak 1 bulan yang lalu. Pasien belum pernah berobat kerumah sakit, jika keluhan muncul pasien hanya berobat di klinik dan diberikan obat. Pasien memiliki alergi terhadap debu, cuaca dingin terlebih pada saat hujan dan aktivitas berlebihan, riwayat asma sejak ±28 tahun lalu, riwayat minum obat 6 bulan disangkal dan tidak memiliki riwayat penyakit diabetes mellitus dan hipertensi. Ibu pasien seorang penderita asma. Pasien berkerja sebagai pedagang di pasar, tidak merokok dan tidak minum-minuman beralkohol. Dokter melakukan pemeriksaan fisik didapatkan RR 32x/menit SpO2 94% dan menduga Ny. S mengalami serangan asma sehingga merencanakan akan melakukan beberapa pemeriksaan penunjang untuk membantu memastikan penyakit Ny. S. Dari hasil pemeriksaan tersebut, dokter mendiagnosis asma eksaserbasi. Bagaimana tatalaksana, konseling dan asuhan keperawatan yang dapat diberikan pada pasien dan keluarganya ?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten. Pada kasus Ny. S, kondisi ini ditandai dengan sesak napas hebat, bunyi 'ngik-ngik' (mengi), batuk dengan dahak putih, dan peningkatan frekuensi pernapasan (RR 32x/menit). Eksaserbasi asma menyebabkan bronkospasme, inflamasi, dan peningkatan produksi sekresi (dahak) yang menyumbat jalan napas. Pasien juga menunjukkan posisi duduk (ortopnea) sebagai upaya kompensasi untuk mempermudah pernapasan, yang mengindikasikan beratnya gangguan bersihan jalan napas. Faktor alergi seperti debu dan cuaca dingin serta aktivitas berlebihan merupakan pemicu yang memperburuk kondisi ini.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan tercapainya manajemen jalan napas yang optimal dengan kriteria hasil sebagai berikut: Pola napas kembali efektif, ditandai dengan frekuensi pernapasan dalam rentang normal (16-20x/menit), saturasi oksigen (SpO2) ≥95%, dan tidak adanya bunyi napas abnormal seperti mengi. Pasien mampu menunjukkan teknik batuk efektif dan latihan napas dalam untuk mengeluarkan sekresi. Jalan napas tetap paten, yang dibuktikan dengan tidak adanya keluhan sesak napas, mampu berbicara dalam kalimat lengkap tanpa terputus, serta tidak menggunakan otot bantu pernapasan. Selain itu, pasien dan keluarga dapat mendemonstrasikan perilaku untuk mencegah kekambuhan, seperti menghindari faktor pemicu yang sudah diidentifikasi (debu, cuaca dingin, aktivitas berlebihan). Pencapaian SLKI ini diukur melalui pemantauan tanda-tanda vital, auskultasi bunyi napas, observasi upaya pernapasan, dan evaluasi kemampuan pasien serta keluarga dalam edukasi yang diberikan.
Kode SIKI: I.08039
Deskripsi : Untuk mencapai tujuan dalam SLKI, intervensi keperawatan yang dilakukan adalah Manajemen Jalan Napas. Intervensi ini meliputi serangkaian tindakan yang komprehensif. Pertama, memantau status pernapasan secara ketat termasuk frekuensi, irama, kedalaman napas, penggunaan otot bantu, dan saturasi oksigen. Kedua, membantu pasien dalam posisi semi-Fowler atau duduk (posisi yang nyaman bagi pasien) untuk memaksimalkan ekspansi paru. Ketiga, mengajarkan dan mendorong pasien untuk melakukan latihan napas dalam dan batuk efektif guna mengeluarkan sekresi. Keempat, melakukan fisioterapi dada (jika diindikasikan dan tidak kontraindikasi) untuk membantu mobilisasi dahak. Kelima, memastikan hidrasi yang adekuat (baik secara oral atau intravena) untuk mengencerkan sekresi sehingga lebih mudah dikeluarkan. Keenam, berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi oksigen untuk mempertahankan SpO2 >94%, pemberian obat bronkodilator (seperti salbutamol) melalui nebulizer untuk melebarkan jalan napas, dan pemberian kortikosteroid untuk mengurangi inflamasi. Ketujuh, mengajarkan pasien dan keluarga tentang teknik relaksasi untuk mengurangi kecemasan yang dapat memperburuk sesak. Terakhir, memberikan edukasi kesehatan mengenai faktor pemicu asma, pentingnya minum obat sesuai resep, dan cara menggunakan inhaler dengan benar. Semua tindakan ini didokumentasikan dan dievaluasi perkembangannya secara berkala.
-
Article No. 22928 | 21 Nov 2025
Klinis : Seorang anak laki-laki 10 tahun datang dengan keluhan sering BAK, cepat haus, dan berat badan menurun meskipun makan banyak. Pemeriksaan: GDS 310 mg/dL, ditemukan glukosa dan keton pada urin. Apa diagnosa keperawatan utama yang muncul? Select one: a. Ketidakseimbangan kadar glukosa darah b. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh c. Risiko infeksi d. Risiko defisit volume cairan e. Defisit pengetahuan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ketidakseimbangan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Kondisi dimana individu mengalami atau berisiko mengalami peningkatan atau penurunan kadar glukosa darah dari rentang nilai normal. Pada kasus ini, fokusnya adalah pada hiperglikemia yang ditandai dengan GDS 310 mg/dL, poliuria, polidipsia, penurunan berat badan, dan adanya keton dalam urin.
Kode SLKI: L.03118
Deskripsi : SLKI untuk diagnosa ini adalah "Kadar Glukosa Darah Terkontrol". Tujuan dari kriteria hasil ini adalah untuk menstabilkan kadar glukosa darah pasien dalam rentang target yang ditetapkan, sehingga mencegah komplikasi akut seperti ketoasidosis diabetik (DKA). Perawat akan memantau tanda-tanda dan gejala hiperglikemia (seperti poliuria, polidipsia, penurunan berat badan) dan memastikan mereka teratasi. Selain itu, hasil yang diharapkan termasuk pasien dan keluarga dapat mendemonstrasikan pemahaman tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kadar glukosa darah, mengenali tanda-tanda hipoglikemia dan hiperglikemia, serta melakukan tindakan yang tepat. Pemantauan kadar glukosa darah secara mandiri dan sesuai anjuran juga menjadi bagian penting dari kriteria hasil ini. Pada anak ini, tujuan utamanya adalah menurunkan GDS dari 310 mg/dL ke rentang yang lebih aman dan menghilangkan keton dari urin.
Kode SIKI: I.05020
Deskripsi : SIKI untuk mengatasi ketidakseimbangan glukosa darah mencakup serangkaian intervensi yang komprehensif. Pertama, perawat akan melakukan pemantauan ketat terhadap tanda-tanda vital dan status neurologis untuk mendeteksi dini memburuknya kondisi. Memantau kadar glukosa darah secara berkala adalah inti dari intervensi ini. Perawat akan berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi insulin, memastikan dosis, waktu, dan teknik penyuntikan yang tepat, serta memantau respons terapi. Edukasi kepada anak dan keluarganya merupakan pilar utama. Perawat akan mengajarkan tentang penyakit diabetes, faktor pemicu, teknik penyuntikan insulin, pemantauan glukosa darah mandiri, dan perencanaan makan yang sesuai. Manajemen nutrisi dengan menyusun rencana diet seimbang yang disesuaikan dengan kebutuhan anak, termasuk pengaturan karbohidrat, juga dilaksanakan. Perawat juga akan memantau asupan dan output cairan untuk mencegah dehidrasi akibat poliuria, serta memeriksa adanya keton dalam urin. Intervensi juga mencakup edukasi tentang aktivitas fisik yang aman dan pengaruhnya terhadap kadar glukosa darah. Membantu anak dan keluarga untuk mengidentifikasi dan mengelola stres, serta membangun sistem dukungan, juga merupakan bagian dari intervensi keperawatan yang holistik. Tindakan ini dilakukan untuk segera mengatasi hiperglikemia akut dan membekali keluarga dengan pengetahuan serta keterampilan untuk manajemen jangka panjang.
-
Article No. 22929 | 21 Nov 2025
Klinis : Seorang wanita , usia 47 tahun di rawat di ruang penyakit dalam dengan diagnose diabetes melitus, telah diberikan terapi insulin . Saat pengkajian didapatkan keluhan keluar banyak air keringat, tremor dan mual muntah, selera makanmenurun. Apakah masalah keperawatan yang terjadi pada kasus diatas ? Select one: a. Resiko tinggi cidera b. Resiko kekurangan volume cairan c. Perubahan perfusi cerebral d. Gangguan rasa nyaman e. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Glukosa Darah
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko perubahan kadar glukosa darah/serum dari rentang normal. Berdasarkan data klinis pasien (wanita, 47 tahun, DM dengan terapi insulin, keluhan banyak keringat, tremor, mual muntah, dan selera makan menurun), kondisi ini sangat relevan karena gejala yang dialami sangat mengarah pada hipoglikemia, suatu komplikasi akut dari terapi insulin yang menyebabkan ketidakstabilan glukosa darah yang berbahaya.
Kode SLKI: L.03118
Deskripsi : Mempertahankan kadar glukosa darah dalam rentang yang dapat diterima. Intervensi keperawatan dalam SLKI ini berfokus pada pemantauan tanda-tanda dan gejala hipo/hiperglikemia, memantau asupan nutrisi dan cairan, memantau hasil pemeriksaan glukosa darah, serta melakukan edukasi kesehatan kepada pasien dan keluarga tentang manajemen diabetes, termasuk cara mengenali dan menangani episode hipoglikemia. Perawat akan mengajarkan pasien untuk mengenali gejala awal seperti tremor dan berkeringat, serta tindakan yang harus segera dilakukan seperti mengonsumsi gula sederhana. Selain itu, SLKI ini juga mencakup kolaborasi dengan tim medis untuk menyesuaikan dosis insulin sesuai dengan kondisi dan asupan makan pasien, mengingat pasien mengalami mual muntah dan nafsu makan menurun yang dapat memicu hipoglikemia.
Kode SIKI: I.01221
Deskripsi : Intervensi ini melibatkan pemantauan ketat terhadap kadar glukosa darah pasien, baik secara mandiri dengan glukometer maupun melalui pemeriksaan laboratorium jika diperlukan. Perawat akan mendokumentasikan frekuensi, karakteristik, dan faktor pemicu gejala yang dialami pasien. Intervensi utama termasuk memantau tanda-tanda vital dan status neurologis untuk mendeteksi penurunan kesadaran, memeriksa kulit terhadap kondisi diaforesis (berkeringat banyak), serta memantau asupan dan output cairan. Perawat akan berkolaborasi untuk menyesuaikan terapi insulin, mungkin dengan menunda atau mengurangi dosis jika asupan makanan tidak adekuat akibat mual dan muntah. Edukasi pasien dan keluarga adalah komponen kritis, yang meliputi pengenalan gejala hipoglikemia (seperti yang dialami pasien: keringat, tremor, mual), penyebabnya (terlambat makan, dosis insulin berlebihan, muntah), dan tindakan segera yang harus diambil (mengonsumsi 15-20 gram karbohidrat sederhana). Perawat juga akan mendiskusikan pentingnya pola makan teratur meskipun nafsu makan menurun, misalnya dengan makan dalam porsi kecil namun sering. Intervensi ini bertujuan untuk menstabilkan kondisi akut pasien dan mencegah terjadinya hipoglikemia yang lebih berat yang dapat mengancam jiwa.
-
Article No. 22930 | 21 Nov 2025
Klinis : keluhan keluar banyak air keringat, tremor dan mual muntah, selera makanmenurun. Select one: a. Resiko tinggi cidera b. Resiko kekurangan volume cairan c. Perubahan perfusi cerebral d. Gangguan rasa nyaman e. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Resiko kekurangan volume cairan
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Resiko kekurangan volume cairan adalah kondisi di mana seorang individu berisiko mengalami penurunan volume sirkulasi darah, cairan interstitial, atau intraselular. Kondisi ini ditandai dengan faktor risiko seperti kehilangan cairan aktif (misalnya, melalui keringat berlebih, muntah, diare), asupan cairan yang tidak adekuat, atau gangguan dalam regulasi cairan tubuh. Pada pasien dengan keluhan berkeringat banyak, mual muntah, dan penurunan selera makan, terdapat risiko signifikan untuk mengalami dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit. Keringat yang berlebihan (diaforesis) menyebabkan hilangnya air dan elektrolit seperti natrium dan klorida secara terus-menerus. Mual dan muntah lebih lanjut memperparah kehilangan cairan ini dengan mencegah asupan oral yang adekuat dan menyebabkan kehilangan cairan lambung yang kaya akan asam dan elektrolit. Penurunan selera makan (anoreksia) berkontribusi pada asupan cairan dan nutrisi yang tidak mencukupi, sehingga memperburuk defisit volume cairan. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang dari risiko menjadi defisit volume cairan aktual, yang ditandai dengan gejala seperti takikardia, hipotensi, penurunan turgor kulit, dan penurunan output urin, yang pada akhirnya dapat menyebabkan syok hipovolemik dan kegagalan organ.
Kode SLKI: 1416
Deskripsi : SLKI 1416 berfokus pada pemantauan dan pencegahan defisit volume cairan. Tujuannya adalah untuk mempertahankan atau mengembalikan keseimbangan cairan yang adekuat. Intervensi keperawatan yang spesifik meliputi: (1) Memantau tanda-tanda vital (denyut nadi, tekanan darah, frekuensi pernapasan, suhu) secara ketat dan berkala untuk mendeteksi tanda-tanda awal dehidrasi seperti takikardia dan hipotensi ortostatik. (2) Memantau dan mencatat asupan dan output cairan (balance cairan) secara akurat untuk mengevaluasi status hidrasi. Ini termasuk mengukur volume muntahan, memperkirakan kehilangan keringat, dan mendorong asupan cairan oral sesuai toleransi. (3) Memantau tanda-tanda klinis dehidrasi, seperti turgor kulit, kelembaban membran mukosa, dan produksi urin. Kulit yang kering dan turgor yang menurun, serta mukosa mulut yang kering, adalah indikator penting. (4) Mempertahankan akses vaskular yang adekuat (misalnya, kanul intravena) untuk pemberian cairan jika diperlukan. (5) Meningkatkan asupan cairan oral dengan memberikan cairan dalam jumlah kecil namun sering, menawarkan jenis cairan yang disukai pasien, dan menggunakan strategi seperti es batu atau minuman elektrolit jika memungkinkan. (6) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian terapi cairan intravena jika asupan oral tidak mencukupi atau kehilangan cairan sangat signifikan. (7) Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya hidrasi, tanda-tanda dehidrasi yang perlu diwaspadai, dan cara untuk meningkatkan asupan cairan.
Kode SIKI: 1416
Deskripsi : SIKI 1416 mengukur kriteria hasil yang diharapkan setelah intervensi keperawatan dilakukan, dengan tujuan akhir mencegah terjadinya defisit volume cairan. Kriteria hasil yang dinilai meliputi: (1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal yang dapat diterima untuk pasien (misalnya, denyut nadi kurang dari 100 kali/menit, tekanan darah sistolik stabil). (2) Keseimbangan cairan yang seimbang atau positif, di mana asupan cairan setara atau melebihi output cairan. (3) Turgor kulit elastis dan membran mukosa lembab, menunjukkan hidrasi jaringan yang adekuat. (4) Produksi urin yang adekuat, biasanya lebih dari 0,5 mL/kg/jam, dengan warna urin yang jernih atau kuning muda. (5) Pasien melaporkan peningkatan asupan cairan dan mampu mentolerir cairan oral tanpa muntah. (6) Tidak terdapat tanda-tanda dehidrasi berat seperti hipotensi signifikan, takikardia berat, atau penurunan kesadaran. (7) Pasien dan keluarga dapat menyebutkan setidaknya dua tanda dehidrasi dan dua strategi untuk meningkatkan asupan cairan di rumah. Pencapaian kriteria hasil ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan telah efektif dalam mengelola faktor risiko dan mencegah perkembangan menjadi kondisi defisit volume cairan yang aktual, sehingga status klinis pasien menjadi lebih stabil.
-
Article No. 22931 | 21 Nov 2025
Klinis : Pasien DM Tipe 1 mengalami poliuria dan polidipsia. Perawat melakukan pemantauan intake-output cairan dan tanda dehidrasi. Tindakan tersebut untuk mengatasi masalah keperawatan apa? Select one: a. Gangguan perfusi jaringan b. Risiko hipoglikemia c. Ketidakseimbangan kadar glukosa darah d. Risiko defisit volume cairan e. Ketidakefektifan perfusi perifer
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Defisit Volume Cairan
Kode SDKI: D.0015
Deskripsi Singkat: Risiko Defisit Volume Cairan adalah keadaan di mana seorang individu berisiko mengalami penurunan volume sirkulasi darah, cairan intravaskular, atau interstitial. Kondisi ini merupakan ancaman yang dapat mengganggu fungsi fisiologis normal tubuh, termasuk perfusi jaringan dan keseimbangan elektrolit. Pada pasien Diabetes Mellitus (DM) Tipe 1, risiko ini sangat nyata dan langsung terkait dengan komplikasi akut penyakitnya, terutama ketika kontrol glikemik buruk. Patofisiologi utamanya berpusat pada hiperglikemia. Kadar glukosa darah yang sangat tinggi melebihi ambang batas ginjal (sekitar 180 mg/dL) menyebabkan glukosa diekskresikan ke dalam urin (glikosuria). Karena sifat osmotiknya, glukosa dalam tubulus ginjal menarik air secara pasif, leading kepada diuresis osmotik yang dimanifestasikan sebagai poliuria (pengeluaran urin dalam jumlah banyak dan sering). Kehilangan cairan yang masif dan terus-menerus inilah yang menjadi penyebab utama defisit volume cairan. Sebagai kompensasi terhadap kehilangan cairan dan untuk mencoba mengencerkan darah yang mengental akibat hiperglikemia, pusat haus di hipotalamus dirangsang, menyebabkan pasien mengalami polidipsia (rasa haus yang berlebihan). Meskipun mekanisme kompensasi ini ada, pada banyak kasus, asupan cairan oral seringkali tidak mampu mengimbangi laju kehilangan cairan melalui urin, terutama pada anak-anak, lansia, atau individu dengan gangguan kesadaran. Jika tidak tertangani, defisit volume cairan dapat berlanjut menjadi syok hipovolemik dan memicu krisis diabetik yang lebih berbahaya, yaitu Ketoasidosis Diabetik (DKA). Dalam DKA, defisit cairan diperparah oleh muntah dan pernapasan Kussmaul yang meningkatkan kehilangan cairan insensibel. Oleh karena itu, diagnosis keperawatan "Risiko Defisit Volume Cairan" sangat relevan untuk pasien DM Tipe 1 yang menunjukkan gejala poliuria dan polidipsia, karena tindakan keperawatan yang proaktif sangat penting untuk mencegah dekompensasi lebih lanjut.
Kode SLKI: L.03116
Deskripsi : SLKI L.03116 berfokus pada upaya mempertahankan atau mengembalikan keseimbangan cairan tubuh menuju keadaan yang normal. Tujuan akhir dari serangkaian intervensi ini adalah untuk mencegah terjadinya defisit volume cairan yang aktual atau, jika sudah terjadi, untuk mengoreksinya. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi tanda-tanda vital yang stabil dalam rentang normal untuk pasien (tekanan darah, denyut nadi, frekuensi pernapasan), pengisian kapiler yang cepat (kurang dari 2 detik), turgor kulit yang baik, membran mukosa yang lembab, dan keseimbangan antara asupan dan pengeluaran cairan (intake-output) yang mendekati seimbang atau positif. Pada konteks pasien DM Tipe 1, hasil yang spesifik juga termasuk penurunan frekuensi poliuria dan intensitas polidipsia seiring dengan membaiknya kontrol gula darah. Pemantauan berat badan harian juga merupakan komponen SLKI yang krusial, karena penurunan berat badan yang cepat dalam waktu singkat seringkali mencerminkan kehilangan cairan, bukan massa lemak. Selain parameter fisiologis, SLKI ini juga mencakup aspek pengetahuan, di mana pasien dan keluarga diharapkan dapat memahami faktor-faktor penyebab risiko defisit cairan (seperti hubungan antara gula darah tinggi dan sering buang air kecil) serta mengenali tanda-tanda dini dehidrasi yang harus diwaspadai. Pencapaian SLKI ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan yang dilakukan efektif dalam mempertahankan homeostasis cairan dan mencegah komplikasi yang lebih serius, sehingga menjadi indikator keberhasilan asuhan keperawatan secara langsung terkait dengan diagnosis D.0015.
Kode SIKI: I.08031
Deskripsi : SIKI I.08031 merupakan realisasi dari rencana keperawatan untuk mengatasi Risiko Defisit Volume Cairan. Tindakan ini bersifat komprehensif dan dimulai dengan pemantauan ketat terhadap status cairan pasien, yang dalam soal diwujudkan dengan "pemantauan intake-output cairan dan tanda dehidrasi". Pemantauan intake-output yang akurat memungkinkan perawat untuk mengkuantifikasi secara objektif apakah asupan cairan mampu mengimbangi output yang tinggi akibat poliuria. Tindakan spesifik lainnya termasuk memantau tanda-tanda vital secara berkala, khususnya tekanan darah (apakah ada hipotensi ortostatik) dan denyut nadi (apakah ada takikardia sebagai kompensasi), serta menilai turgor kulit, pengisian kapiler, dan kelembapan membran mukosa. Perawat juga akan mencatat berat badan pasien setiap hari dengan timbangan yang sama dan pada waktu yang sama untuk mendeteksi perubahan halus yang signifikan. Intervensi penting berikutnya adalah kolaborasi untuk mengatasi akar masalahnya, yaitu hiperglikemia. Ini melibatkan pemberian insulin sesuai instruksi dokter dan pemantauan kadar glukosa darah secara teratur. Tanpa pengendalian gula darah, upaya rehidrasi akan seperti menuang air ke ember yang bocor. Perawat juga berperan dalam memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya minum cairan yang cukup, bahkan sebelum merasa haus, dan jenis cairan yang dianjurkan (biasanya air putih). Dalam situasi di mana defisit cairan sudah signifikan atau pasien tidak dapat minum secara adekuat, perawat akan berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian cairan intravena. Seluruh tindakan ini terdokumentasi dalam SIKI I.08031, yang menekankan pendekatan sistematis, dari pengkajian, intervensi langsung, edukasi, hingga kolaborasi, guna memastikan risiko defisit volume cairan dapat dikelola dan dicegah komplikasinya, sehingga tujuan dalam SLKI L.03116 dapat tercapai.
-
Article No. 22932 | 21 Nov 2025
Klinis : Pasien laki – laki berusia 58 tahun datang di poliklinik penyakit dalam dengan diagnosis medis DM tipe II. Hasil pengkajian diperoleh : pasien sudah menderita DM selama dua tahun, kontrol gula darah jika ingat, tidak ada pengaturan makan, mendapatkan obat OAD namun jarang diminum, kadar gula darah sewaktu 250 mg/dL, HbA1c 8%. Apakah diagnosa keperawatan utama yang terjadi pada pasien tersebut? Select one: a. Ketidakstabilan kadar gula darah b.d resistensi insulin b. Ketidakpatuhan b.d program terapi yang lama c. Koping individu inefektif b.d ketidakadekuatan system pendukung d. Pemeliharaan kesehatan tidak efektif b.d ketidakmampuan membuat penilaian yang tepat e. Resiko ketidakstabilan kadar gula darah b.d kurang patuh pada rencana manajemen diabetes
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pemeliharaan Kesehatan Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0025
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk mengidentifikasi, mengelola, dan/atau mencari bantuan untuk mempertahankan kesehatan.
Kode SLKI: L.03148
Deskripsi : Manajemen Program Terapeutik: Tindakan keperawatan untuk meminimalkan atau mengatasi efek samping pengobatan, dan memfasilitasi kepatuhan terhadap program terapeutik. Intervensi keperawatan yang dilakukan antara lain: memantau respons terhadap terapi, mengidentifikasi faktor yang menghambat kepatuhan, memberikan pendidikan kesehatan tentang penyakit, pengobatan, diet, dan olahraga, melibatkan keluarga dalam perawatan, serta mengevaluasi pemahaman dan kemajuan pasien. Tujuannya adalah agar pasien dapat memahami dan menjalankan program terapi dengan baik untuk mencapai hasil kesehatan yang optimal.
Kode SIKI: I.01253
Deskripsi : Manajemen Program Terapeutik: Kemampuan klien dalam mengelola program terapeutik yang ditandai dengan: mengungkapkan pemahaman tentang penyakit, mengungkapkan pemahaman tentang regimen terapi, melakukan perilaku/kegiatan untuk mengelola efek samping terapi, mematuhi regimen terapi, memantau kemajuan kondisi, serta memanfaatkan sumber daya pendukung yang tersedia. Kriteria hasil ini mengukur sejauh mana pasien telah berhasil mengintegrasikan rencana perawatan ke dalam kehidupan sehari-hari mereka, yang ditunjukkan dengan kepatuhan, pemantauan mandiri, dan pemahaman yang komprehensif.