Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 22954 | 22 Nov 2025
Klinis : Subyektif: o Pasien sering bertanya ttg operasi o Pasien sering bertanya bagaimana perawatan luka setalah operasi Obyektif: o Pasien kelihatan tegang, o Kulit teraba dingin,
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: D.0052
Deskripsi Singkat: Ansietas adalah keadaan individu yang mengalami perasaan samar akan ketakutan dan kekhawatiran akibat ancaman yang tidak jelas atau tidak dikenal secara spesifik. Pada kasus ini, ancaman tersebut berasal dari prosedur operasi yang akan dijalani pasien. Data subjektif seperti pasien yang sering bertanya tentang operasi dan perawatan luka pasca-operasi menunjukkan adanya kekhawatiran dan ketidakpastian. Sementara itu, data objektif seperti pasien yang terlihat tegang dan kulit yang teraba dingin merupakan manifestasi fisiologis dan perilaku dari ansietas tersebut. Ketegangan otot dan vasokonstriksi perifer (yang menyebabkan kulit dingin) adalah respons tubuh terhadap sistem saraf simpatis yang aktif akibat perasaan cemas. Diagnosa ini menggambarkan keadaan psikologis dan fisiologis pasien yang sedang mempersiapkan diri menghadapi situasi yang dianggapnya mengancam.
Kode SLKI: L.03118
Deskripsi : SLKI dengan kode L.03118 berfokus pada upaya menurunkan tingkat ansietas pasien. Tujuan utamanya adalah agar pasien dapat melaporkan bahwa perasaan cemasnya telah berkurang atau terkendali. Untuk mencapai ini, perawat akan melakukan serangkaian intervensi yang terstruktur. Pertama, perawat akan menciptakan lingkungan yang tenang dan menenangkan, misalnya dengan mengurangi kebisingan, mengatur pencahayaan, dan berbicara dengan suara lembut. Kedua, perawat akan mendorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, kekhawatiran, dan persepsinya tentang operasi yang akan datang. Dengan mendengarkan secara aktif dan empatik, perawat memberikan ruang aman bagi pasien untuk mengekspresikan ketakutannya. Ketiga, perawat akan memberikan informasi yang akurat, jelas, dan mudah dipahami mengenai prosedur operasi dan perawatan luka pasca-operasi. Edukasi ini bertujuan untuk mengurangi ketidakpastian dan rasa takut terhadap hal yang tidak diketahui. Keempat, perawat akan mengajarkan teknik relaksasi sederhana, seperti napas dalam, yang dapat segera dilakukan pasien ketika merasa cemas mulai meningkat. Kelima, perawat akan melibatkan keluarga atau orang terdekat pasien untuk memberikan dukungan emosional. Keberhasilan SLKI ini diukur dari laporan verbal pasien tentang penurunan perasaan cemas, serta pengamatan terhadap tanda-tanda fisiologis seperti ketegangan otot yang berkurang dan kulit yang teraba lebih hangat, yang menunjukkan respons sistem saraf simpatis yang mulai mereda.
Kode SIKI: I.01218
Deskripsi : SIKI I.01218 merupakan implementasi konkret dari rencana perawatan untuk mengurangi ansietas. Intervensi ini dimulai dengan pendekatan terapeutik, yaitu membina hubungan saling percaya dengan pasien. Perawat memperkenalkan diri, menjelaskan peran, dan berkomunikasi dengan sikap menerima dan tidak menghakimi. Selanjutnya, perawat memvalidasi perasaan cemas pasien dengan mengatakan bahwa perasaan tersebut adalah wajar dalam situasi seperti ini. Intervensi kunci adalah memberikan informasi yang terapeutik. Perawat menjelaskan tahapan yang akan dialami pasien, mulai dari persiapan pra-operasi, proses di ruang operasi, hingga pemulihan di ruang pemulihan dan bangsal. Penjelasan tentang perawatan luka pasca-operasi diberikan secara detail, termasuk bagaimana luka akan terlihat, perawatan rutin yang akan dilakukan, dan tanda-tanda infeksi yang perlu diwaspadai. Perawat menggunakan alat bantu visual seperti gambar atau model jika memungkinkan. Untuk mengatasi gejala fisiologis, perawat mengajarkan dan mendemonstrasikan teknik relaksasi napas dalam. Pasien diminta untuk menarik napas perlahan melalui hidung, menahannya sebentar, lalu menghembuskannya perlahan melalui mulut. Perawat memandu pasien untuk melatih teknik ini beberapa kali. Perawat juga mendorong distraksi dengan aktivitas yang menenangkan, seperti mendengarkan musik lembut atau membaca, jika pasien menyukainya. Intervensi juga mencakup kolaborasi dengan keluarga, dimana perawat mengedukasi keluarga tentang kondisi pasien dan bagaimana mereka dapat memberikan dukungan, misalnya dengan menemani, mendengarkan, atau memberikan sentuhan yang menenangkan. Seluruh intervensi ini didokumentasikan dan dievaluasi efektivitasnya secara berkala untuk memastikan tingkat ansietas pasien benar-benar menurun.
-
Article No. 22955 | 22 Nov 2025
Klinis : seorang bayi usia 2 hari dengan hipospadia dan bab ada darah segar masuk ke ruang NICU. apakah diagnosa keperawatan yang sesuai?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Perubahan Eliminasi Urin
Kode SDKI: D.0187
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi adalah keadaan dimana seorang individu berisiko mengalami invasi dan multiplikasi patogen yang dapat menyebabkan penyakit. Pada bayi baru lahir, terutama yang baru menjalani prosedur atau dengan kelainan anatomi seperti hipospadia, risiko ini meningkat signifikan. Sistem imun bayi yang belum matang, kulit yang tipis, dan adanya "luka" atau insisi (baik alami seperti meatus urinarius yang abnormal maupun prosedur medis) menjadi pintu masuk bagi mikroorganisme. Bayi usia 2 hari di NICU dengan hipospadia sangat rentan karena adanya kelainan anatomi pada penis yang memungkinkan kontaminasi, serta lingkungan NICU itu sendiri yang sering kali menghadirkan patogen yang resisten. Tanda-tanda yang harus diwaspadai termasuk demam atau hipotermia, perubahan warna kulit, lesu, dan tanda-tanda lokal seperti kemerahan atau nanah di area meatus.
Kode SLKI: L.03114
Deskripsi : Tindakan untuk mengendalikan infeksi merupakan serangkaian intervensi yang bertujuan mencegah dan meminimalkan risiko penularan mikroorganisme patogen. Pada kasus bayi dengan hipospadia, SLKI ini menjadi sangat krusial. Intervensi utamanya meliputi: pertama, mempertahankan teknik aseptik yang ketat selama perawatan, terutama saat handling area genital dan mengganti popok. Kedua, melakukan perawatan luka atau area meatus dengan benar sesuai protokol, menggunakan larutan antiseptik yang ditentukan. Ketiga, memantau tanda-tanda vital secara ketat, terutama suhu, karena demam atau hipotermia bisa menjadi indikator awal sepsis pada neonatus. Keempat, memastikan kebersihan tangan (hand hygiene) yang optimal bagi semua tenaga kesehatan dan pengunjung sebelum dan setelah kontak dengan bayi. Kelima, melakukan perawatan tali pusat dengan tepat jika belum puput. Keenam, memantau karakteristik urin, seperti kekeruhan atau bau, yang dapat mengindikasikan infeksi saluran kemih. Ketujuh, mengajarkan dan mendemonstrasikan teknik perawatan bayi yang aman kepada orang tua, termasuk cara membersihkan area genital yang memperhatikan anatomi hipospadia untuk mencegah kontaminasi feces.
Kode SIKI: I.01254
Deskripsi : Kriteria hasil yang diharapkan adalah bayi tetap bebas dari tanda-tanda infeksi sistemik maupun lokal. Secara spesifik, ini ditandai dengan: suhu tubuh bayi yang stabil dalam rentang normal (36,5°C - 37,5°C), tidak adanya tanda-tanda kemerahan, bengkak, atau keluarnya pus (nanah) dari area meatus urinarius atau luka jika ada. Kulit bayi tetap utuh tanpa tanda-tanda infeksi seperti selulitis. Tanda-tanda vital seperti denyut jantung dan pernapasan berada dalam batas normal untuk usia neonatus. Bayi menunjukkan perilaku yang normal, seperti aktif bergerak, memiliki refleks hisap yang kuat, dan tidak rewel berlebihan yang dapat menjadi tanda ketidaknyamanan akibat infeksi. Orang tua atau pengasuh dapat mendemonstrasikan pemahaman dan keterampilan dasar dalam mencegah infeksi selama perawatan bayi di rumah sakit dan persiapan pulang.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut didefinisikan sebagai pengalaman sensorial dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, yang onsetnya berlangsung singkat (dari beberapa detik hingga kurang dari 3 bulan). Pada bayi baru lahir, terutama yang dirawat di NICU dengan kondisi seperti hipospadia dan adanya perdarahan rektal, nyeri dapat berasal dari berbagai sumber. Prosedur invasif seperti pemasangan infus, pengambilan sampel darah, manipulasi area hipospadia selama pemeriksaan, atau iritasi dari feses yang mungkin mengandung darah dapat memicu respons nyeri. Bayi tidak dapat mengungkapkan nyeri secara verbal, sehingga perawat harus sangat peka terhadap tanda-tanda perilaku dan fisiologis. Tanda-tanda ini termasuk menangis dengan nada tinggi, ekspresi wajah menyeringai, gerakan tubuh yang tidak terkoordinasi (misalnya, mengayuh kaki), perubahan pola tidur dan menyusu, serta tanda fisiologis seperti takikardia, takipnea, peningkatan tekanan darah, dan saturasi oksigen yang tidak stabil.
Kode SLKI: L.03032
Deskripsi : Manajemen nyeri melibatkan serangkaian tindakan holistik untuk meringankan atau menghilangkan ketidaknyamanan. Pada bayi, pendekatan non-farmakologis menjadi lini pertama dan sangat penting. Intervensi ini meliputi: memberikan kenyamanan melalui sentuhan terapeutik dan swaddling (membedong) untuk memberikan rasa aman; memfasilitasi kontak kulit ke kulit (kangaroo mother care) dengan orang tua jika kondisi memungkinkan, karena telah terbukti mengurangi respons nyeri; memberikan stimulasi oral seperti empeng (pacifier) dengan sucrose (air gula) sebelum prosedur yang menyakitkan, yang bertindak sebagai analgesik non-invasif; mengatur lingkungan dengan mengurangi cahaya dan kebisingan untuk meminimalkan stimulasi berlebihan; serta melakukan posisi yang nyaman. Selain itu, perawat harus berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik farmakologis jika nyeri dinilai berat. Yang tak kalah penting adalah meminimalkan prosedur yang menyakitkan dan menggabungkannya jika memungkinkan, serta melakukan asesmen nyeri yang valid dan teratur menggunakan skala nyeri neonatal (seperti NIPS - Neonatal Infant Pain Scale) untuk mengevaluasi efektivitas intervensi.
Kode SIKI: I.01221
Deskripsi : Kriteria hasil yang diharapkan adalah bayi menunjukkan pengurangan atau penghilangan tanda-tanda nyeri. Hal ini dapat diamati dari: bayi tampak tenang dan rileks, tidak menangis atau menangis dengan nada normal, serta ekspresi wajah yang netral tanpa menyeringai. Pola tidur dan menyusu bayi membaik dan kembali normal. Parameter fisiologis seperti denyut jantung, frekuensi pernapasan, tekanan darah, dan saturasi oksigen stabil dalam rentang normal untuk usianya. Bayi dapat berpartisipasi dalam interaksi sosial yang sesuai usianya, seperti membuka mata dan merespons suara orang tua. Skor pada skala nyeri neonatal menunjukkan penurunan yang signifikan ke tingkat yang dapat diterima atau tidak ada nyeri sama sekali. Orang tua juga melaporkan bahwa bayi mereka tampak lebih nyaman dan tenang.
Kondisi: Perubahan Eliminasi Urin
Kode SDKI: D.0094
Deskripsi Singkat: Perubahan Eliminasi Urin adalah keadaan dimana seorang individu mengalami atau berisiko mengalami gangguan dalam pengeluaran urine. Pada bayi dengan hipospadia, ini adalah masalah sentral. Hipospadia adalah kelainan bawaan di mana muara uretra (meatus urinarius) tidak berada di ujung penis, tetapi di bagian bawah batang penis. Kelainan anatomi ini secara langsung mengubah pola eliminasi urin. Aliran urin mungkin tidak lurus ke depan tetapi menyemprot ke bawah atau ke berbagai arah, yang dapat menyebabkan kesulitan dalam pengukuran output urin yang akurat, meningkatkan risiko iritasi kulit di sekitar area tersebut karena paparan konstan, dan berpotensi menyebabkan retensi urin parsial jika ada stenosis (penyempitan) meatus. Pengamatan yang cermat terhadap pola berkemih, kekuatan aliran, warna, dan volume urin sangat penting untuk mendeteksi komplikasi lebih awal.
Kode SLKI: L.04015
Deskripsi : Manajemen eliminasi urin bertujuan untuk memastikan proses berkemih berlangsung adekuat dan mencegah komplikasi. Intervensi untuk bayi hipospadia meliputi: memantau dan mendokumentasikan frekuensi, volume, dan karakteristik urin (warna, kejernihan, bau) setiap kali mengganti popok. Melakukan perawatan kulit yang cermat di area genital untuk mencegah diaper dermatitis akibat aliran urin yang tidak biasa; hal ini dapat dilakukan dengan sering mengganti popok, membersihkan area dengan air hangat, dan mengaplikasikan barrier cream seperti zinc oxide. Mengobservasi arah dan kekuatan aliran urin untuk mendeteksi adanya perubahan atau obstruksi. Mengedukasi orang tua tentang kondisi hipospadia dan bagaimana cara membersihkan bayi laki-laki dengan kondisi ini, menekankan untuk membersihkan dari arah depan ke belakang untuk mencegah kontaminasi feces ke meatus. Berkolaborasi dengan tim medis untuk persiapan tindakan bedah koreksi di masa depan jika diperlukan.
Kode SIKI: I.01243
Deskripsi : Kriteria hasil yang diharapkan adalah bayi mampu menunjukkan pola eliminasi urin yang adekuat dan tidak mengalami komplikasi terkait. Secara spesifik, hal ini ditunjukkan dengan: output urin yang sesuai dengan berat badan dan usia bayi (biasanya 1-2 ml/kg/jam), urin berwarna jernih hingga kuning pucat tanpa ada tanda darah atau kekeruhan. Kulit di area genital dan sekitarnya tetap utuh, tidak ada tanda-tanda kemerahan, lecet, atau iritasi berat. Tidak ada tanda-tanda retensi urin seperti distensi kandung kemih atau bayi mengejan saat berkemih. Orang tua memahami kondisi anaknya dan dapat mendemonstrasikan perawatan kulit dan kebersihan area genital yang tepat untuk mencegah iritasi dan infeksi, serta mengetahui rencana tindak lanjut medis untuk penanganan hipospadia lebih lanjut.
-
Article No. 22956 | 22 Nov 2025
Klinis : Etiologi nyeri akut pasca persalinan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut Pasca Persalinan
Kode SDKI: D.0023
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat cedera jaringan persalinan, dengan onset aktual atau potensial selama periode nifas (6 minggu pasca persalinan).
Kode SLKI: L.08039
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Tujuan utama dari SLKI ini adalah untuk mengendalikan dan mengurangi nyeri yang dialami pasien. Intervensi keperawatan yang direncanakan mencakup: 1) Melakukan pengkajian nyeri yang komprehensif, termasuk lokasi, karakteristik, intensitas (menggunakan skala nyeri), faktor pencetus, dan faktor pereda. 2) Memantau dan mencatat respons fisiologis dan perilaku terhadap nyeri. 3) Menerapkan dan mengajarkan teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri, seperti teknik relaksasi napas dalam, distraksi (misalnya dengan mendengarkan musik atau mengobrol), serta kompres hangat atau dingin pada area yang nyeri (dengan pertimbangan kondisi luka persalinan). 4) Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesik sesuai resep, memantau efektivitasnya, dan mengawasi efek samping yang mungkin timbul. 5) Membantu pasien dalam memposisikan tubuh dengan nyaman, misalnya dengan posisi miring atau menggunakan bantal penyangga. 6) Memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga tentang manajemen nyeri, termasuk penggunaan obat pereda nyeri yang aman, terutama jika pasien menyusui. 7) Memberikan dukungan emosional dan meyakinkan pasien bahwa nyeri pasca persalinan adalah hal yang wajar namun dapat dikelola. 8) Mengevaluasi efektivitas intervensi yang telah dilakukan dalam menurunkan skala nyeri dan meningkatkan kenyamanan pasien.
Kode SIKI: I.08039
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi spesifik yang dilakukan perawat untuk mencapai tujuan dalam SLKI meliputi: 1) Mengkaji nyeri setiap 4 jam atau sesuai kebutuhan menggunakan skala numerik (0-10) atau skala wajah (Wong-Baker Faces) jika pasien mengalami kesulitan komunikasi. 2) Mengobservasi tanda-tanda nonverbal ketidaknyamanan, seperti wajah meringis, gelisah, mengepal tangan, atau menolak untuk bergerak. 3) Mengajarkan dan membimbing pasien untuk melakukan relaksasi napas dalam (tarik napas perlahan melalui hidung, tahan sebentar, lalu hembuskan perlahan melalui mulut) selama 5-10 menit saat nyeri muncul atau sebelum aktivitas yang memicu nyeri. 4) Melakukan distraksi terapeutik dengan mengajak pasien berbicara tentang topik yang disukai, menawarkan untuk menonton TV, atau mendengarkan musik. 5) Menerapkan kompres hangat pada area punggung bawah atau perut (kecuali pada area luka operasi segar) untuk mengurangi nyeri kram uterus (afterpains), atau kompres dingin pada area perineum yang edema dan nyeri akibat episiotomi atau laserasi. 6) Membantu dan mengajarkan pasien teknik menyusui yang benar untuk mencegah puting lecet yang dapat menimbulkan nyeri tambahan. 7) Melakukan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik seperti parasetamol atau ibuprofen, serta memberikan obat tepat waktu sesuai jadwal untuk mencegah nyeri menjadi berat. 8) Memastikan lingkungan sekitar pasien tenang dan nyaman untuk mendukung istirahat. 9) Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang penyebab nyeri pasca persalinan (kontraksi uterus, luka jahitan, pembengkakan payudara) dan pentingnya melaporkan jika nyeri tidak terkendali. 10) Mendorong mobilisasi bertahap sesuai toleransi untuk meningkatkan sirkulasi dan mengurangi kekakuan otot. 11) Mencatat semua intervensi yang diberikan dan respons pasien secara akurat dalam dokumentasi keperawatan untuk evaluasi berkelanjutan.
-
Article No. 22915 | 21 Nov 2025
Klinis : TD: 90/50 mmHg ● Nadi: 115 x/menit ● RR: 26 x/menit ● Suhu: 36.5°C ● SpO₂: 90% Pemeriksaan fisik: ● Edema pitting ekstrem ● Bunyi jantung S3 ● Distensi vena jugularis ● Kelemahan ekstrem Tes diagnostik: ● BNP: sangat tinggi ● ECHO: EF 20% ● Rontgen: kardiomegali
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Gagal Jantung Kongestif Akut pada Disfungsi Sistolik
Kode ICD-10: I50.23
Deskripsi Singkat : Kondisi ini menggambarkan episode akut gagal jantung kongestif yang terjadi pada pasien dengan disfungsi sistolik yang mendasarinya, ditandai dengan ketidakmampuan ventrikel kiri untuk memompa darah secara efektif. Hal ini dibuktikan dengan fraksi ejeksi (EF) yang sangat rendah, yaitu 20%, yang mengkonfirmasi kegagalan pompa jantung. Tanda-tanda klinis yang mendukung diagnosis ini meliputi hipotensi (TD 90/50 mmHg), takikardia (Nadi 115/menit), takipnea (RR 26/menit), dan saturasi oksigen rendah (SpO₂ 90%) yang menunjukkan gangguan perfusi dan oksigenasi. Temuan fisik seperti bunyi jantung S3 (galop), distensi vena jugularis (peningkatan tekanan vena sentral), edema pitting ekstrem (akumulasi cairan), dan kelemahan ekstrem semakin memperkuat diagnosis. Pemeriksaan penunjang seperti kadar BNP yang sangat tinggi (penanda stres jantung) dan rontgen yang menunjukkan kardiomegali (pembesaran jantung) memberikan konfirmasi objektif. Kode I50.23 secara spesifik mengidentifikasi gagal jantung akut yang dikaitkan dengan gagal jantung sistolik kronis, menangkap kompleksitas kondisi dimana episode akut bertumpu pada disfungsi jantung kronis yang parah.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 22916 | 21 Nov 2025
Klinis : teknik latihan penguatan sendi
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Teknik Latihan Penguatan Sendi
Kode ICD-10: Z50.1
Deskripsi Singkat : Kode Z50.1 mengacu pada "Terapi fisik dan modalitas terapi lainnya" yang digunakan untuk menangani pasien yang menjalani rehabilitasi fisik. Teknik latihan penguatan sendi adalah bagian integral dari fisioterapi yang bertujuan untuk meningkatkan stabilitas, rentang gerak, dan kekuatan otot di sekitar sendi. Latihan ini sering kali diresepkan untuk individu yang pulih dari cedera sendi, pembedahan (seperti penggantian sendi), atau yang mengelola kondisi kronis seperti osteoarthritis. Tujuannya adalah untuk mengurangi nyeri, mencegah kekakuan, meningkatkan fungsi fisik secara keseluruhan, dan meminimalkan risiko cedera di masa depan. Kode ini tidak menggambarkan penyakit atau cedera itu sendiri, melainkan mencatat alasan kontak dengan layanan kesehatan, yaitu untuk menerima perawatan rehabilitatif. Penggunaan kode ini tepat untuk dokumentasi kunjungan pasien yang berfokus pada sesi terapi fisik yang melibatkan latihan-latihan spesifik untuk memperkuat sendi. Hal ini membantu dalam perencanaan perawatan, penagihan, dan analisis data kesehatan populasi terkait layanan rehabilitasi.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 22918 | 21 Nov 2025
Klinis : px kontrol pernah ranap dengan keluhan ada bisikan dan ada riwayat bunuh diri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Bunuh Diri
Kode SDKI: 0017
Deskripsi Singkat: Risiko Bunuh Diri adalah keadaan dimana seorang individu berisiko untuk melukai atau mengakhiri hidupnya sendiri. Pada pasien dengan kondisi seperti yang dijelaskan, yaitu adanya pengalaman persepsi sensorik berupa bisikan (auditory hallucination) yang sering kali bersifat memerintah (command hallucination) untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain, serta riwayat upaya bunuh diri sebelumnya, risiko ini menjadi sangat signifikan. Faktor-faktor ini merupakan prediktor kuat untuk perilaku bunuh diri di masa depan. Diagnosa ini menekankan pada keadaan rentan yang memerlukan intervensi segera dan berkelanjutan untuk melindungi keselamatan jiwa pasien. Tujuan utama perawatan adalah menciptakan lingkungan yang aman, membangun koping yang adaptif, dan mengurangi intensitas serta dampak dari halusinasi yang dialami.
Kode SLKI: 4309
Deskripsi : SLKI dengan kode 4309 berfokus pada upaya pencegahan bunuh diri. Tujuan akhirnya adalah memastikan pasien bebas dari perilaku atau upaya untuk melukai diri sendiri. Implementasi SLKI ini melibatkan serangkaian tindakan yang komprehensif dan berkesinambungan. Pertama, perawat akan melakukan pengawasan ketat dan kontinu, mungkin dalam bentuk observasi one-on-one atau pengawasan tingkat tinggi, terutama saat pasien mengalami peningkatan kecemasan atau agitasi. Kedua, lingkungan harus diamankan dari segala benda yang berpotensi digunakan untuk melukai diri, seperti pisau, obat-obatan dalam dosis besar, tali, atau kaca. Kolaborasi dengan keluarga untuk memahami dan mendukung proses ini sangat vital. Ketiga, perawat akan membangun hubungan terapeutik yang kuat berdasarkan rasa percaya dan empati, mendorong pasien untuk mengungkapkan perasaan putus asa, kesepian, atau niat bunuh dirinya tanpa takut dihakimi. Keempat, intervensi juga termasuk membantu pasien mengidentifikasi pemicu pikiran bunuh diri, mengenali tanda-tanda peringatan dini pada dirinya sendiri, dan mengembangkan rencana koping yang spesifik untuk dijalankan ketika pikiran tersebut muncul, seperti menghubungi orang terpercaya, terapis, atau layanan darurat.
Kode SIKI: 3540
Deskripsi : SIKI dengan kode 3540 adalah manajemen halusinasi, yang menjadi intervensi keperawatan utama dalam kasus ini karena keluhan "ada bisikan" merupakan faktor pencetus langsung risiko bunuh diri. Tindakan ini dirancang untuk membantu pasien mengendalikan dan mengurangi pengalaman halusinasinya. Prosesnya dimulai dengan membangun hubungan saling percaya. Perawat kemudian akan mengajarkan pasien untuk memvalidasi realitas, yaitu dengan cara menanyakan "Apakah Anda mendengar sesuatu yang saya tidak dengar?" untuk menyadarkan pasien bahwa suara itu tidak nyata. Teknik mematikan suara (voice dismissal) diajarkan, dimana pasien secara tegas menyuruh suara halusinasi untuk pergi. Teknik lain yang efektif adalah pengalihan perhatian, seperti mengajak pasien terlibat dalam aktivitas yang membutuhkan konsentrasi (bercakap-cakap, bermain puzzle, olahraga ringan) untuk mengalihkan fokus dari suara halusinasi. Perawat juga membantu pasien mengidentifikasi isi, frekuensi, dan situasi pemicu halusinasi, sehingga antisipasi dapat dilakukan. Mengembangkan mekanisme koping positif, seperti mendengarkan musik melalui headphone, berdoa, atau latihan relaksasi napas dalam, adalah bagian integral dari SIKI ini. Kolaborasi dengan tim medis untuk terapi farmakologi yang tepat guna mengurangi gejala psikotik juga sangat penting. Evaluasi keberhasilan dilihat dari penurunan frekuensi dan intensitas halusinasi, serta kemampuan pasien untuk mengabaikan atau mengontrol bisikan tersebut, yang pada akhirnya akan menurunkan risiko untuk bertindak berdasarkan perintah halusinasi yang membahayakan dirinya.
-
Article No. 22919 | 21 Nov 2025
Klinis : Menyusui tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Menyusui tidak efektif
Kode SDKI: 0027
Deskripsi Singkat: Menyusui tidak efektif adalah suatu keadaan di mana seorang ibu, bayi, atau anak mengalami kesulitan atau hambatan selama proses menyusui yang mengakibatkan ketidakpuasan atau kegagalan dalam mencapai tujuan menyusui. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik dari pihak ibu seperti puting susu datar atau nyeri, maupun dari pihak bayi seperti pelekatan yang tidak tepat, reflek menghisap yang lemah, atau kondisi medis tertentu seperti tongue-tie. Dampaknya adalah asupan nutrisi bayi tidak optimal, yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangannya, serta menimbulkan stres dan kecemasan pada ibu. Diagnosa ini memerlukan intervensi keperawatan yang komprehensif untuk mengidentifikasi akar masalah, memberikan edukasi, dan dukungan praktis agar proses menyusui dapat berjalan dengan lancar dan efektif.
Kode SLKI: 4025
Deskripsi : Manajemen Menyusui. Intervensi ini bertujuan untuk memfasilitasi keberhasilan menyusui dengan serangkaian tindakan yang sistematis dan terukur. Tindakan keperawatan dimulai dengan melakukan asesmen yang mendalam terhadap teknik menyusui, termasuk mengobservasi posisi ibu dan bayi, serta mengevaluasi kualitas pelekatan bayi pada payudara. Perawat akan mendemonstrasikan dan mengajarkan berbagai posisi menyusui yang nyaman dan efektif, seperti posisi cradle, cross-cradle, football hold, atau berbaring miring, yang disesuaikan dengan kondisi ibu dan bayi. Intervensi juga mencakup edukasi kepada ibu tentang pentingnya frekuensi menyusui yang cukup (8-12 kali dalam 24 jam) dan tanda-tanda bayi mendapatkan ASI yang cukup, seperti bayi terlihat tenang setelah menyusu, popok basah 6-8 kali sehari, serta berat badan yang meningkat sesuai grafik pertumbuhan. Perawat akan membantu ibu dalam menangani masalah umum seperti puting lecet dengan memberikan saran perawatan puting yang benar, menganjurkan pelembab alami seperti ASI sendiri, dan mengajarkan teknik pelepasan mulut bayi yang aman untuk mencegah trauma. Selain itu, perawat memberikan dukungan psikologis dengan mendengarkan keluhan ibu, menenangkan kecemasan, serta membangun kepercayaan diri ibu bahwa ia mampu menyusui bayinya. Dalam kasus yang memerlukan, perawat dapat berkolaborasi dengan konsultan laktasi untuk penanganan yang lebih spesifik. Pemantauan asupan dan output bayi juga menjadi bagian penting dari intervensi ini untuk memastikan kecukupan nutrisi. Tujuan akhirnya adalah membangun hubungan menyusui yang memuaskan dan berkelanjutan antara ibu dan bayi.
Kode SIKI: L-402501 - L-402515
Deskripsi : Kriteria hasil yang diharapkan setelah dilakukan intervensi keperawatan adalah tercapainya proses menyusui yang efektif dan memuaskan. Secara spesifik, bayi menunjukkan kemampuan pelekatan yang benar, ditandai dengan mulut bayi terbuka lebar, bibir bawah terbuka keluar, dagu menempel pada payudara, dan areola lebih banyak terlihat di bagian atas daripada bawah. Bayi mampu menghisap dengan kuat dan ritmis, serta terdengar suara menelan ASI. Ibu melaporkan tidak merasa nyeri selama menyusui, yang menunjukkan tidak adanya trauma pada puting susu. Dari sisi nutrisi, bayi menunjukkan tanda-tanda kecukupan ASI yang jelas, seperti berat badan bayi meningkat sesuai dengan kurva pertumbuhan yang diharapkan, bayi buang air kecil sebanyak 6-8 kali per hari dengan urine berwarna jernih atau kuning pucat, serta frekuensi buang air besar yang normal sesuai usianya. Bayi tampak puas dan tenang setelah sesi menyusui, dan dapat tidur dengan nyenyak. Ibu secara mandiri dan percaya diri mampu memposisikan bayi dengan benar untuk menyusui tanpa memerlukan bantuan yang signifikan. Ibu juga mendemonstrasikan pemahaman yang baik tentang teknik menyusui yang benar, cara memompa dan menyimpan ASI jika diperlukan, serta mampu mengidentifikasi dan merespons tanda-tanda lapar pada bayi. Keberhasilan juga ditunjukkan dengan ibu yang melaporkan kepuasan dan pengalaman positif dalam proses menyusui, serta memiliki rencana untuk melanjutkan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama dan dilanjutkan dengan MP-ASI hingga dua tahun atau lebih. Stres dan kecemasan terkait menyusui pada ibu berkurang secara signifikan, digantikan dengan perasaan percaya diri dan ikatan (bonding) yang kuat dengan bayinya.
-
Article No. 22920 | 21 Nov 2025
Klinis : Seorang laki - laki berumur 40 tahun di rawat di ruang penyakit dalam dengan diagnosa medis Diabetes melitus . Klien mengeluh badan lemah, tak bertenaga, sering kencing, cepat merasa lapar ingin makan terus, turgor kulit menurun dan mukosa bibir kering. Tekanan darah 130/80 mmHg, nadi 88 x/menit,pernafasan 22x/menit, suhu badan 38 derajat celsius, Gula darah puasa 210 mgdl. Apakah prioritas masalah keperawatan klien tersebut ? Select one: a. Kekurangan volume cairan b. Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh c. Gangguan rasa nyaman d. Resiko tinggi cidera e. Immobilitas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Kekurangan Volume Cairan
Kode SDKI: B.1
Deskripsi Singkat: Kekurangan volume cairan adalah keadaan dimana seorang individu yang berisiko mengalami penurunan volume cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular. Defisit ini terjadi ketika output cairan melebihi intake cairan, mengakibatkan dehidrasi dan potensi gangguan fungsi sistem tubuh. Pada pasien Diabetes Melitus (DM), kondisi ini sangat krusial karena hiperglikemia (gula darah tinggi) menyebabkan diuresis osmotik. Ginjal berusaha membuang kelebihan glukosa melalui urine, yang secara bersamaan menarik sejumlah besar air dan elektrolit (seperti natrium dan kalium). Proses inilah yang menjadi akar masalah dari gejala yang dialami pasien, seperti sering kencing (poliuria), badan lemah, turgor kulit menurun, dan mukosa bibir kering. Jika tidak ditangani dengan cepat, kekurangan volume cairan dapat berkembang menjadi syok hipovolemik dan ketoasidosis diabetik, sebuah komplikasi yang mengancam jiwa.
Kode SLKI: B.1.1
Deskripsi : Tujuan utama dari SLKI B.1.1 adalah untuk memulihkan dan mempertahankan keseimbangan cairan tubuh secara adekuat. Luaran yang diharapkan meliputi: Tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan) kembali dalam rentang normal atau dapat ditoleransi oleh pasien. Tekanan darah 130/80 mmHg dan nadi 88x/menit pada pasien ini masih dalam batas normal, namun perlu dipantau ketat karena dapat berubah dengan cepat jika dehidrasi memburuk. Pernapasan 22x/menit yang sedikit meningkat bisa menjadi kompensasi awal tubuh terhadap asidosis. Membran mukosa (seperti bibir) menjadi lembab dan basah, bukan kering seperti yang dikeluhkan. Turgor kulit membaik, yang ditandai dengan kulit yang kembali elastis ketika dicubit secara perlahan. Produksi urine menjadi adekuat, biasanya lebih dari 30 ml/jam, dengan warna urine yang jernih atau kuning muda, bukan pekat akibat diuresis osmotik. Keseimbangan cairan (balance cairan) tercapai, di mana intake cairan yang masuk setara atau sedikit lebih banyak dari output yang keluar. Pasien melaporkan penurunan rasa haus dan kelemahan secara subjektif. Nilai laboratorium, seperti kadar glukosa darah dan hematokrit, menunjukkan perbaikan menuju rentang normal.
Kode SIKI: B.1.1.1 - B.1.1.10
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk menangani kekurangan volume cairan bersifat komprehensif dan sistematis. Pertama, pantau tanda-tanda vital dan status neurologis secara ketat dan berkelanjutan untuk mendeteksi secara dini tanda-tanda syok atau penurunan kesadaran. Kedua, lakukan pemantauan keseimbangan cairan dengan mencatat semua intake (minuman, infus) dan output (urine, muntah) setiap 1-8 jam tergantung kondisi. Output urine yang rendah adalah tanda dehidrasi yang berbahaya. Ketiga, kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian terapi cairan intravena (infus) sesuai resep, biasanya menggunakan cairan kristaloid seperti NaCl 0.9% untuk mengembalikan volume intravaskular. Keempat, bantu pasien untuk meningkatkan intake cairan per oral jika sadar dan mampu menelan, dengan memberikan air putih dalam porsi kecil namun sering. Kelima, lakukan kolaborasi pemberian terapi insulin sesuai resep. Insulin adalah kunci utama untuk mengatasi penyebab dehidrasi, karena dengan menurunkan gula darah, diuresis osmotik akan berhenti. Pantau kadar gula darah secara berkala untuk mengevaluasi efektivitas terapi. Keenam, lakukan perawatan kulit dan membran mukosa untuk mencegah komplikasi seperti kulit kering pecah-pecah atau bibir sariawan. Oleskan pelembap pada kulit dan pelindung bibir (lip balm). Ketujuh, timbang berat badan pasien setiap hari dengan skala yang sama dan pakaian yang sama, karena penurunan berat badan yang cepat dapat mengindikasikan kehilangan cairan. Kedelapan, edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya hidrasi yang cukup, tanda-tanda dehidrasi yang harus diwaspadai, dan hubungan antara kontrol gula darah dengan keseimbangan cairan. Kesembilan, atur posisi pasien untuk kenyamanan dan memfasilitasi sirkulasi yang baik. Terakhir, kolaborasi dengan ahli gizi untuk memastikan pasien menerima nutrisi yang sesuai dengan kondisi metaboliknya, yang juga dapat mempengaruhi status hidrasi. Semua intervensi ini harus didokumentasikan dengan baik untuk evaluasi perkembangan pasien.
-
Article No. 22921 | 21 Nov 2025
Klinis : Pasien laki – laki, berusia 58 tahun, periksa di poliklinik penyakit dalam dengan diagnosis medis DM tipe II. Hasil pengkajian diperoleh : pasien sudah menderita DM selama dua tahun, kontrol gula darah jika ingat, tidak ada pengaturan makan, mendapatkan obat OHO namun jarang diminum, kadar gula darah sewaktu 250 mg/dL, HbA1c 8%. Apakah diagnosa keperawatan utama yang terjadi pada pasien tersebut? Select one: a. Koping individu inefektif b.d ketidakadekuatan system pendukung b. Ketidakstabilan kadar gula darah b.d resistensi insulin c. Ketidakpatuhan b.d program terapi yang lama d. Resiko ketidakstabilan kadar gula darah b.d kurang patuh pada rencana manajemen diabetes e. Pemeliharaan kesehatan tidak efektif b.d ketidakmampuan membuat penilaian yang tepat
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pemeliharaan Kesehatan Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0023
Deskripsi Singkat: Pola pemeliharaan kesehatan yang tidak memadai untuk mencapai tujuan kesehatan yang spesifik. Kondisi ini ditandai dengan minimnya tindakan untuk mengendalikan faktor risiko penyakit, kegagalan dalam mempertahankan lingkungan yang mendukung kesehatan, serta ekspresi ketidakmampuan untuk mengelola penyakit. Pada pasien ini, hal ini dimanifestasikan melalui ketidakkonsistenan dalam minum obat OHO, tidak adanya pengaturan makan, dan kontrol gula darah yang hanya dilakukan jika ingat, yang semuanya menyebabkan hasil gula darah sewaktu dan HbA1c yang tinggi.
Kode SLKI: L.03131
Deskripsi : Manajemen Terapi Penyakit: Tindakan keperawatan untuk mengontrol gejala dan mengurangi perkembangan penyakit. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan yang bertujuan membantu pasien memahami, menerima, dan mengelola penyakit kronisnya, dalam hal ini Diabetes Mellitus tipe 2. Implementasinya meliputi: (1) Edukasi kesehatan yang komprehensif dan berulang mengenai penyakit DM, komplikasinya, dan pentingnya pengendalian gula darah jangka panjang. (2) Melakukan kolaborasi dengan pasien dan keluarga untuk menyusun rencana pengobatan yang realistis, termasuk jadwal minum obat yang disesuaikan dengan rutinitas harian pasien untuk meningkatkan kepatuhan. (3) Melatih pasien dan keluarga tentang teknik pemantauan gula darah mandiri, termasuk cara menggunakan glukometer dan mencatat hasilnya dalam buku catatan kesehatan. (4) Bekerja sama dengan ahli gizi untuk menyusun rencana diet yang sesuai dengan budaya, preferensi, dan kondisi ekonomi pasien, sehingga lebih mudah untuk diikuti. (5) Memfasilitasi pasien untuk mengidentifikasi hambatan yang menyebabkan ketidakteraturan pengobatan (seperti lupa, efek samping, atau biaya) dan bersama-sama mencari solusi praktis. (6) Memberikan dukungan psikososial dan motivasi berkelanjutan untuk membangun keyakinan pasien bahwa ia mampu mengelola penyakitnya. (7) Menjalin komunikasi yang efektif untuk memastikan pasien memahami hubungan antara tindakannya (minum obat, diet) dengan hasil kesehatannya (kadar gula darah).
Kode SIKI: I.03131
Deskripsi : Manajemen Terapi Penyakit: Kemampuan klien dalam mengontrol gejala dan mengurangi perkembangan penyakit. Kriteria hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan adalah: (1) Klien dapat menyebutkan dengan benar nama obat yang dikonsumsi, dosis, waktu minum, dan fungsinya. (2) Klien mendemonstrasikan kemampuan untuk memantau gula darahnya sendiri secara mandiri dan teratur. (3) Klien menyusun dan menerapkan jadwal minum obat yang konsisten, misalnya dengan menggunakan pengingat alarm atau kotak pil. (4) Klien dapat mengidentifikasi makanan yang harus dibatasi dan yang dianjurkan sesuai kondisi DM-nya. (5) Klien membuat dan mencatat rencana menu makan sehari-hari yang seimbang. (6) Klien melaporkan peningkatan pemahaman tentang pentingnya kepatuhan berobat dan pengaturan pola hidup dalam mengendalikan penyakit. (7) Klien menunjukkan perilaku proaktif dalam mencari informasi dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan. (8) Terjadi penurunan nilai kadar gula darah sewaktu dan HbA1c menuju target yang ditetapkan. (9) Klien dapat menjelaskan tanda dan gejala hipoglikemi dan hiperglikemi serta tindakan yang harus dilakukan. (10) Klien mengungkapkan komitmen untuk secara konsisten mengontrol kesehatannya ke fasilitas pelayanan kesehatan.
-
Article No. 22922 | 21 Nov 2025
Klinis : Seorang klien laki-laki usia 40 tahun datang ke Poliklinik untuk memeriksakan kesehatannya. Klien mengeluh BB turun dari 65 kg menjadi 60 kg dalam 1 bulan. Hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan data Gula darah Puasa 139 mg/dl. Apakah intervensi keperawatan sesuai kasus tersebut ? Select one: a. Manajemen nutrisi b. Foot care (perawatan kaki) c. Manajemen kaki d. Manajemen hiperglikemia e. Dukungan psikososial
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Glukosa Darah
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakstabilan Glukosa Darah adalah keadaan di mana seorang individu rentan mengalami variasi kadar glukosa darah dari rentang normal, yang dapat mengakibatkan komplikasi. Pada kasus ini, klien menunjukkan tanda-tanda awal gangguan metabolisme glukosa dengan hasil Gula Darah Puasa 139 mg/dl, yang masuk dalam kategori prediabetes (impaired fasting glucose), dan penurunan berat badan yang tidak diinginkan (5 kg dalam 1 bulan). Kombinasi gejala ini menunjukkan tubuh tidak mampu mempertahankan homeostasis glukosa secara optimal, menjadikan klien berisiko tinggi berkembang menjadi diabetes melitus tipe 2 dan mengalami komplikasi terkait.
Kode SLKI: L.03132
Deskripsi : SLKI L.03132 adalah Kemampuan Klien Mengelola Terapi yang Diresepkan. Tujuan utama dari luaran ini adalah agar klien mampu mendemonstrasikan pemahaman dan keterampilan dalam mengelola kondisinya untuk mencegah progresivitas menjadi diabetes yang nyata. Luaran yang diharapkan mencakup: 1) Klien dapat menjelaskan hubungan antara penurunan berat badan dan kadar gula darah yang tinggi, 2) Klien dapat mengidentifikasi faktor risiko pribadi (seperti pola makan, aktivitas fisik, riwayat keluarga), 3) Klien dapat menyusun rencana pola makan seimbang yang sesuai dengan kebutuhannya, 4) Klien dapat merencanakan program aktivitas fisik yang teratur, dan 5) Klien bersedia untuk melakukan pemantauan gula darah mandiri dan kontrol kesehatan berkala. Pencapaian luaran ini sangat krusial untuk mengembalikan kontrol glikemik dan mencegah komplikasi jangka panjang.
Kode SIKI: I.05244
Deskripsi : SIKI I.05244 adalah Manajemen Hiperglikemia. Intervensi ini merupakan serangkaian tindakan keperawatan yang terencana dan sistematis untuk mencegah dan menangani peningkatan kadar glukosa darah. Penjelasan rinci dari intervensi ini meliputi: Pertama, **Edukasi dan Konseling Gizi**: Perawat berkolaborasi dengan ahli gizi untuk memberikan pendidikan nutrisi yang komprehensif. Hal ini mencakup penjelasan tentang jenis karbohidrat kompleks vs sederhana, pentingnya serat, pengaturan porsi makan (metode piring sehat), dan pemilihan makanan dengan indeks glikemik rendah. Klien juga akan dibimbing untuk membuat diary makanan untuk meningkatkan kesadaran akan pola makannya. Kedua, **Promosi Aktivitas Fisik**: Perawat membantu klien merancang program latihan yang aman dan realistis, seperti jalan cepat selama 30 menit sebanyak 3-5 kali per minggu. Aktivitas fisik membantu meningkatkan sensitivitas insulin, sehingga sel-sel tubuh dapat menggunakan glukosa darah lebih efektif, yang pada akhirnya menurunkan kadar gula darah. Ketiga, **Pemantauan Glikemik**: Perawat mengajarkan klien pentingnya pemantauan gula darah rutin, baik di fasilitas kesehatan maupun secara mandiri jika memungkinkan, untuk mengevaluasi efektivitas perubahan gaya hidup. Keempat, **Manajemen Berat Badan**: Perawat mendiskusikan strategi untuk mencapai dan mempertahankan berat badan ideal, karena penurunan berat badan meskipun kecil (5-10% dari berat badan total) dapat secara signifikan meningkatkan kontrol glikemik. Kelima, **Edukasi Pengobatan**: Meskipun pada tahap prediabetes terapi obat mungkin belum diresepkan, perawat memberikan informasi tentang kemungkinan terapi farmakologis di masa depan jika perubahan gaya hidup tidak cukup. Keenam, **Pemantauan Tanda dan Gejala**: Perawat mengajarkan klien untuk mengenali gejala hiperglikemia (seperti sering haus, sering buang air kecil, lemas) dan hipoglikemia. Tindakan ini dilakukan melalui pendekatan kolaboratif, memberdayakan klien untuk menjadi aktor utama dalam pengelolaan kesehatannya sendiri guna mencegah onset diabetes melitus.