Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24575 | 25 Mar 2026
Klinis : Seorang laki-laki, berusia 47 tahun, mengalami kecelakaan lalu lintas dalam sebuah kecelakaan tunggal di jalan raya. Menurut saksi mata, korban merupakan pengendara minibus, dan membawa mobilnya sendirian tanpa penumpang. Saat kejadian saksi melihat mobil tsb melaju cepat, dan mulai kehilangan kendali, oleng tanpa sebab kemudian belok kearah bahu jalan dan menabrak pohon yang ada di pinggir jalan. Saksi menduga supir mengantuk. Pada saat korban selesai dievakuasi dan dilanjutkan dengan pengkajian awal, terlihat memar pada dada korban, pernapasan di dada kanan dan kiri tidak simetris dan tampak paradoksal breathing di bagian dada kanan korban. Korban sadar dan mengeluh nyeri hebat di area dada, dan sesak napas. Dari hasil kajian didapatkan Respirasi Rate (RR) = 33 – 35 x/menit; TD = 120/90 mmHg; HR= 110x/menit; T=35,6oC. Kemudian korban diberikan tindakan stabilisasi A, B dan C serta diberikan obat analgetic, dan dievakuasi ke IGD RS X. Di IGD, Korban (klien) dilakukan pemeriksaan fisik lebih lanjut dan dilakukan pemeriksaan foto thorax. Dari hasil rontgent terlihat terdapat segmen yang mengalami fraktur, pada costa didada kanan, dan terlihat adanya hematothorax. Klien direncanakan menjalani operasi. Sambil dilakukan persiapan operasi klien tetap diobservasi ketat. Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital satu jam pertama di IGD, RR= 28-30x/menit, paradoksal breathing dada kanan (+); nyeri skala 6/10 (NRS); HR = 118 - 120 x/menit; saturasi oksigen 95% dengan tambahan oksigen via NRM 8 L/menit; TD=130/90 mmHg. Pasien kemudian diberikan analgetik tramadol dosis inisial diberikan 100 mg, dilanjutkan 50 mg setiap 10-20 menit dalam 1 jam pertama. Hasil observasi setelah 4 jam di IGD, didapatkan hasil pemeriksaan sebagai berikut: pasien gelisah, RR = 33-35x/menit; saturasi 92% dengan NRM 10 L/menit; TD=140/88 mmHg; HR= 120x/menit; T=37oC. Hasil pemeriksaan AGD: pH darah: 7,30 Bikarbonat (HCO3): 30 mEq/L Tekanan parsial oksigen (PaO2): 78 mmHg Tekanan parsial karbon dioksida (PaCO2): 50 mmHg Saturasi oksigen (SaO2): 90% (FiO2 menggunakan NRM 8 – 10 L/menit = 80%).
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas dan Nyeri Akut terkait Fraktur Costa dan Hematothorax pasca Trauma Dada
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran gas adalah keadaan dimana terjadi ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan oksigen tubuh, serta ketidakmampuan tubuh untuk mengeliminasi karbon dioksida secara adekuat. Pada kasus ini, gangguan disebabkan oleh trauma dada yang mengakibatkan fraktur costa multipel dan hematothorax. Fraktur costa menyebabkan nyeri hebat yang menghambat ekspansi dada dan pergerakan pernapasan efektif, serta dapat menyebabkan paradoksal breathing (gerakan dinding dada yang tidak normal saat inspirasi dan ekspirasi). Hematothorax (penumpukan darah di rongga pleura) secara fisik menekan jaringan paru, mengurangi kapasitas paru untuk mengembang (compliance), dan mengganggu proses difusi oksigen-karbon dioksida. Hal ini secara klinis dimanifestasikan dengan sesak napas, takipnea (RR >30x/menit), penurunan saturasi oksigen (92-95% dengan oksigen tinggi), dan hasil Analisis Gas Darah (AGD) yang menunjukkan hipoksemia (PaO2 78 mmHg) dan hiperkapnia respiratorik akut (PaCO2 50 mmHg) dengan pH asam (7.30), mengindikasikan gagal napas tipe II (hiperkapnik) yang memburuk. Kondisi ini merupakan ancaman jiwa yang memerlukan intervensi segera.
Kode SLKI: L.03110
Deskripsi : SLKI L.03110 adalah "Perbaikan pertukaran gas". Tujuan dari luaran ini adalah agar pertukaran gas klien kembali membaik, ditandai dengan parameter dalam rentang normal atau mendekati normal. Kriteria luaran yang diharapkan pada kasus ini meliputi: (1) Frekuensi pernapasan (RR) dalam rentang normal (12-20x/menit) tanpa bantuan otot pernapasan tambahan; (2) Pola pernapasan simetris dan efektif, paradoksal breathing teratasi; (3) Saturasi oksigen (SpO2) ≥95% dengan kebutuhan FiO2 yang semakin rendah; (4) Hasil Analisis Gas Darah (AGD) menunjukkan perbaikan: PaO2 >80 mmHg, PaCO2 35-45 mmHg, dan pH 7.35-7.45; (5) Klien tidak mengeluh sesak napas; (6) Bunyi napas vesikuler terdengar jelas di semua lapang paru. Pencapaian luaran ini sangat bergantung pada keberhasilan penanganan penyebabnya (stabilisasi dinding dada, drainase hematothorax, manajemen nyeri) dan terapi suportif oksigenasi.
Kode SIKI: I.08049
Deskripsi : SIKI I.08049 adalah "Manajemen jalan napas". Intervensi ini sangat krusial pada klien dengan trauma dada dan gangguan pertukaran gas. Pelaksanaannya meliputi serangkaian tindakan sistematis: (1) Mempertahankan patensi jalan napas dengan posisi semi-fowler atau fowler tinggi untuk memaksimalkan ekspansi paru. (2) Memantau status pernapasan secara ketat dan berkelanjutan (setiap 15-30 menit atau sesuai kebutuhan) meliputi frekuensi, irama, kedalaman, usaha napas, penggunaan otot bantu, dan adanya paradoksal breathing. (3) Memantau nilai saturasi oksigen secara terus menerus dengan pulse oximetry dan nilai AGD secara berkala untuk mengevaluasi efektivitas terapi. (4) Memberikan terapi oksigen sesuai kebutuhan dan resep (seperti via Non-Rebreathing Mask/NRM dengan aliran tinggi 8-10 L/menit seperti pada kasus) dan mengevaluasi respons klien. (5) Melakukan fisioterapi dada sesuai toleransi klien (seperti latihan napas dalam, batuk efektif) dengan memperhatikan manajemen nyeri terlebih dahulu. (6) Mempersiapkan dan membantu prosedur invasif jika diperlukan, seperti pemasangan chest tube untuk drainase hematothorax atau persiapan intubasi dan ventilasi mekanik jika gagal napas memburuk. (7) Berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat-obatan seperti analgesik (untuk mengurangi nyeri dan memungkinkan napas dalam) dan bronkodilator jika diperlukan. (8) Mendokumentasikan semua temuan dan tindakan yang diberikan secara akurat dan tepat waktu. Intervensi ini bertujuan untuk mendukung proses oksigenasi dan ventilasi sambil menunggu penanganan definitif penyebab gangguan.
Kondisi: Nyeri Akut terkait Kerusakan Jaringan Biomekanik (Fraktur Costa dan Trauma Dada)
Kode SDKI: D.0029
Deskripsi Singkat: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi secara tiba-tiba atau berlangsung dalam waktu terbatas. Pada kasus ini, nyeri disebabkan oleh fraktur tulang rusuk (costa) dan trauma pada jaringan lunak dada. Nyeri fraktur costa bersifat sangat tajam, menusuk, dan diperberat oleh gerakan pernapasan, batuk, atau perubahan posisi. Nyeri ini bukan hanya menyebabkan penderitaan, tetapi juga menimbulkan komplikasi pernapasan yang serius. Klien secara refleks akan membatasi pernapasan dalam (splinting) untuk menghindari nyeri, yang mengakibatkan pernapasan menjadi dangkal, penurunan ventilasi alveolar, atelektasis, dan retensi sekret. Hal ini memperburuk gangguan pertukaran gas yang sudah ada. Data klinis menunjukkan nyeri dengan skala 6/10 (NRS), takipnea, gelisah, dan pola pernapasan paradoksal yang juga dipengaruhi oleh nyeri. Manajemen nyeri yang adekuat adalah landasan utama untuk memutus siklus nyeri-gangguan pernapasan dan mencegah komplikasi lebih lanjut seperti pneumonia.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : SLKI L.03001 adalah "Kontrol nyeri". Tujuan luaran ini adalah klien mencapai tingkat kenyamanan yang dapat diterima dengan berkurangnya atau hilangnya nyeri. Kriteria luaran yang diharapkan meliputi: (1) Skala nyeri klien menurun (dari 6/10 menjadi ≤3/10 atau sesuai target yang ditetapkan) baik pada saat istirahat maupun saat bergerak atau bernapas dalam. (2) Ekspresi wajah klien rileks, tidak lagi meringis atau menunjukkan tanda distress. (3) Klien dapat menunjukkan kemampuan untuk bernapas dalam dan batuk efektif dengan nyeri minimal. (4) Tanda-tanda vital (terutama frekuensi jantung dan pernapasan) menunjukkan tren perbaikan menuju rentang normal seiring dengan terkontrolnya nyeri. (5) Klien melaporkan peningkatan kenyamanan dan mampu beristirahat. (6) Klien kooperatif dalam menjalani tindakan keperawatan dan pemeriksaan. Pencapaian kontrol nyeri yang optimal akan secara langsung mendukung perbaikan parameter pernapasan dan pertukaran gas.
Kode SIKI: I.08029
Deskripsi : SIKI I.08029 adalah "Manajemen nyeri". Intervensi ini dilakukan secara komprehensif untuk mengurangi nyeri dan meningkatkan kenyamanan klien. Tindakan yang dilakukan meliputi: (1) Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif dan berulang menggunakan skala yang valid (seperti NRS), mencakup lokasi, karakter, intensitas, faktor pencetus, dan faktor pereda. (2) Memberikan analgesik sesuai resep (seperti tramadol yang telah diberikan) secara tepat waktu, memantau efektivitasnya, dan mengobservasi efek samping (misalnya depresi pernapasan, terutama dengan opioid). (3) Menerapkan intervensi non-farmakologis untuk mengurangi nyeri dan ansietas, seperti teknik relaksasi napas dalam (jika memungkinkan), distraksi, dan penciptaan lingkungan yang tenang. (4) Membantu klien dalam posisi yang nyaman yang mendukung ekspansi dada namun tidak menambah nyeri, biasanya posisi semi-fowler dengan penyangga yang baik. (5) Melakukan stabilisasi eksternal dinding dada yang nyeri (misalnya dengan bantal atau penahan) untuk mengurangi pergerakan dan gesekan fragmen tulang selama bernapas atau bergerak. (6) Mengajarkan dan mendampingi klien untuk teknik splinting (menahan area nyeri dengan bantal atau tangan) saat akan batuk atau bergerak. (7) Meminimalkan faktor pencetus nyeri dengan membantu perawatan diri dan pergerakan dengan teknik yang tepat. (8) Mengevaluasi dan mendokumentasikan respons klien terhadap intervensi manajemen nyeri yang diberikan. Intervensi ini bersifat kolaboratif dan menjadi dasar untuk memungkinkan klien melakukan latihan pernapasan yang diperlukan.
-
Article No. 24556 | 24 Mar 2026
Klinis : bisul di bokong TelaahPasien datang dengan keluhan timbul bisul di bokong sebelah kanan, bernanah (+). demam (+) dijumpai dan kepala terasa berat sudah 3 hari ini. nyeri di ulu hati, menyesak. batuk dan pilek (+) dijumpai Riwayat Penyakit DahuluDM OKes : CM TD : 166/96 mmHg HR : 95 x/i RR : 20 x/i T : 39 C SpO2 : 99% on Room Air STATUS LOKALISATA Mata : CA (-/-), SI (-/-) Mulut : coated tongue (-), faring hiperemis (-), T1/T1 Leher : TVJ R-2cmHg, lymphadenopathy (-) Thoraks : sp ves (+/+), rh (-/-), wh (-/-), BJ 1,2 reg, murmur (-) Abdomen : soepel, NT (-), normoperistaltik, normothympani, H/L tidak teraba, Mcburney sign (-) Eks : akral hangat, CRT<2, t/v kuat, edem pretibial (-/-) Gluteus dex : abses kemerahan, nanah (+), nyeri (+), teraba panas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Ketidakefektifan Termoregulasi pada Pasien dengan Abses Gluteal dan Demam
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi adalah keadaan dimana individu berisiko mengalami invasi oleh patogen patogenik.
Kode SLKI: L.08015
Deskripsi : Kontrol Infeksi: Kemampuan untuk mencegah, menghindari, dan mengurangi risiko infeksi. SLKI ini diukur dengan kriteria hasil seperti: perilaku cuci tangan dengan benar, menjaga kebersihan lingkungan, mempertahankan integritas kulit, tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi (seperti demam, kemerahan, bengkak, nyeri, pus), dan parameter laboratorium dalam batas normal. Pada pasien ini, fokus SLKI adalah mencegah penyebaran infeksi dari abses dan mencapai resolusi infeksi yang ditandai dengan hilangnya demam, reduksi ukuran abses, dan tidak adanya nanah.
Kode SIKI: I.08080
Deskripsi : Manajemen Infeksi: Tindakan untuk mencegah, memantau, dan mengobati infeksi. Intervensi keperawatan yang relevan meliputi: 1) Memantau tanda-tanda infeksi sistemik dan lokal (suhu, kemerahan, bengkak, nyeri, drainage). 2) Melakukan perawatan luka abses dengan teknik aseptik dan antiseptik sesuai protokol (misalnya, insisi dan drainase jika diperlukan, pemasangan drain, penutupan luka dengan balutan steril). 3) Mengajarkan dan mendorong perilaku cuci tangan pada pasien dan keluarga. 4) Kolaborasi pemberian terapi antibiotik sesuai resep dan memantau efek serta efek sampingnya. 5) Mengatur lingkungan untuk meminimalkan paparan patogen. 6) Memberikan pendidikan kesehatan tentang tanda-tanda infeksi yang perlu diwaspadai. 7) Memantau hasil laboratorium seperti leukosit. Intervensi ini bertujuan untuk mengendalikan infeksi lokal, mencegah sepsis, dan mendukung penyembuhan.
Kondisi: Risiko Infeksi dan Ketidakefektifan Termoregulasi pada Pasien dengan Abses Gluteal dan Demam
Kode SDKI: D.0028
Deskripsi Singkat: Ketidakefektifan Termoregulasi adalah ketidakmampuan mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal.
Kode SLKI: L.14001
Deskripsi : Kontrol Suhu Tubuh: Kemampuan untuk mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: suhu tubuh dalam rentang normal (36,5 – 37,5°C), kulit hangat dan kering, tidak menggigil, tidak berkeringat berlebihan, dan tanda-tanda vital stabil. Pada pasien dengan suhu 39°C, tujuan SLKI adalah menurunkan suhu tubuh secara bertahap ke rentang normal dan menghilangkan gejala penyerta seperti kepala terasa berat.
Kode SIKI: I.14030
Deskripsi : Manajemen Hipertermia: Tindakan untuk mengurangi peningkatan suhu tubuh. Intervensi keperawatan yang dilakukan antara lain: 1) Memantau suhu tubuh secara berkala (setiap 2-4 jam atau sesuai kebutuhan). 2) Memberikan terapi kompres hangat/tepid sponge pada area lipatan (aksila, lipat paha) dan dahi untuk memfasilitasi pelepasan panas secara konduksi dan evaporasi. Hindari kompres dingin karena dapat menyebabkan menggigil yang justru meningkatkan produksi panas. 3) Meningkatkan asupan cairan untuk mencegah dehidrasi dan membantu termoregulasi. 4) Mengatur lingkungan yang nyaman (sirkulasi udara baik, suhu ruangan sejuk). 5) Memberikan terapi antipiretik sesuai kolaborasi/resep dan memantau efektivitasnya. 6) Memantau tanda-tanda kejang atau penurunan kesadaran akibat demam tinggi. 7) Mengajarkan pada pasien/keluarga tentang tindakan penurunan demam di rumah. Intervensi ini ditujukan untuk mengembalikan set point suhu di hipotalamus ke normal dan mencegah komplikasi hipertermia.
Kondisi: Nyeri Akut pada Abses Gluteal dan Keluhan Ulu Hati
Kode SDKI: D.0029
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau berlangsung kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Kontrol Nyeri: Kemampuan untuk mengendalikan dan menoleransi pengalaman nyeri. Kriteria hasil mencakup: melaporkan nyeri berkurang (skala nyeri menurun), menunjukkan perilaku nyeri yang berkurang (tidak gelisah, ekspresi wajah rileks), tanda-tanda vital stabil, mampu melakukan aktivitas sesuai toleransi, dan tidur/istirahat cukup. Pada pasien, targetnya adalah mengurangi nyeri pada area abses dan ketidaknyamanan di ulu hati.
Kode SIKI: I.03006
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Tindakan untuk mencegah, memantau, dan mengurangi nyeri. Intervensi keperawatan yang dilakukan: 1) Menilai karakteristik nyeri (lokasi, intensitas dengan skala, kualitas, durasi, faktor pencetus dan pereda) baik pada abses maupun ulu hati. 2) Memberikan analgesik sesuai kolaborasi/resep (baik untuk nyeri inflamasi abses maupun ketidaknyamanan ulu hati) dan evaluasi efeknya. 3) Menerapkan teknik non-farmakologis seperti reposisi/pengaturan posisi tubuh untuk mengurangi tekanan pada area bokong, distraksi, dan relaksasi napas dalam. 4) Melakukan perawatan luka dengan teknik yang tepat dan lembut untuk meminimalkan trauma. 5) Memantau respons terhadap terapi nyeri dan tanda-tanda komplikasi. 6) Memberikan pendidikan tentang penggunaan obat pereda nyeri dan teknik non-farmakologis. Intervensi ini bertujuan memutus siklus nyeri, mengurangi penderitaan, dan meningkatkan kenyamanan pasien.
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Glukosa Darah pada Pasien dengan Riwayat Diabetes Melitus (DM)
Kode SDKI: D.0182
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakstabilan Glukosa Darah adalah keadaan dimana individu berisiko mengalami variasi kadar glukosa darah dari rentang normal.
Kode SLKI: L.06023
Deskripsi : Kontrol Kadar Glukosa Darah: Kemampuan untuk mempertahankan kadar glukosa darah dalam batas normal atau target. Kriteria hasil yang diharapkan: kadar glukosa darah dalam rentang target yang ditetapkan, tidak menunjukkan gejala hipo/hiperglikemia, memahami dan menjalankan regimen pengelolaan DM, serta memiliki pola makan sesuai rencana. Mengingat pasien mengalami infeksi (abses dan demam) yang merupakan stresor fisik yang dapat meningkatkan kadar glukosa darah secara signifikan, SLKI ini sangat kritis untuk mencegah dekompensasi metabolik.
Kode SIKI: I.06031
Deskripsi : Manajemen Hiperglikemia: Tindakan untuk mencegah dan mengatasi peningkatan kadar glukosa darah. Intervensi keperawatan meliputi: 1) Memantau kadar glukosa darah secara berkala (misal, setiap 6 jam atau sesuai protokol). 2) Mengobservasi tanda dan gejala hiperglikemia (poliuri, polidipsi, lemas, penurunan kesadaran) dan hipoglikemia. 3) Berkolaborasi dalam pemberian terapi insulin atau obat anti-diabetes oral sesuai kondisi akut dan resep dokter. Dosis mungkin perlu penyesuaian selama sakit. 4) Memantau asupan nutrisi dan cairan, kolaborasi dengan ahli gizi untuk penyusunan diet sesuai kebutuhan metabolik selama infeksi. 5) Memberikan pendidikan kesehatan pada pasien tentang pentingnya pemantauan glukosa darah yang lebih ketat selama sakit dan penyesuaian terapi. 6) Memantau hasil laboratorium seperti glukosa darah puasa, postprandial, dan HbA1c jika diperlukan. Tindakan ini penting karena hiperglikemia dapat memperburuk proses infeksi dan menghambat penyembuhan luka.
-
Article No. 24557 | 24 Mar 2026
Klinis : mulas-mulas ingin melahirkan, hamil ketiga TelaahPasien datang dengan keluhan perut mulas mau melahirkan yang sudah dialami sejak 3 jam SMRS. Keluar lendir darah (-). Riwayat keguguran 1x (+). Ini merupakan kehamilan ketiga. Mual (-), muntah (-), oyong (-), riwayat kaki bengkak (-). Demam (-), batuk pilek (-). BAB dan BAK dbn. Riwayat SC sebelumnya 1x (+) HPHT : 25/06/2025 Riwayat Penyakit Dahulu- OKes : CM TD : 112/69 mmHg HR : 83 x/i RR : 20 x/i T : 36 C SpO2 : 99% on Room Air STATUS LOKALISATA Mata : CA (-/-), SI (-/-) Mulut : coated tongue (-), faring hiperemis (-), T1/T1 Leher : TVJ R-2cmHg, lymphadenopathy (-) Thoraks : sp ves (+/+), rh (-/-), wh (-/-), BJ 1,2 reg, murmur (-) Abdomen : soepel, NT fundus (+), normoperistaltik, normothympani, H/L tidak teraba, TFU = 33 cm, DJJ 135x/i Eks : akral hangat, CRT<2, t/v kuat, edem pretibial (-/-) Genitalia : pembukaan 1-2 cm
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Persalinan Kala I Fase Laten pada Pasien dengan Riwayat Seksio Sesarea
Kode SDKI: D.0131
Deskripsi Singkat: Risiko tinggi gangguan proses persalinan berhubungan dengan riwayat seksio sesarea sebelumnya.
Kode SLKI: L.15048
Deskripsi : Proses persalinan berlangsung normal. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Ibu menunjukkan tanda-tanda kemajuan persalinan (pembukaan serviks, penurunan kepala, his yang adekuat) sesuai dengan fase dan kala persalinan. 2) Tidak ada tanda-tanda bahaya seperti perdarahan, ruptur uteri, gawat janin, atau infeksi. 3) Denyut jantung janin dalam batas normal (120-160 x/menit) dengan variabilitas yang baik. 4) Ibu melaporkan nyeri dapat terkelola. 5) Ibu dan keluarga menunjukkan pemahaman tentang proses persalinan dan tanda bahaya. Pada kasus ini, fokusnya adalah mempertahankan proses persalinan yang aman dengan pemantauan ketat terhadap kemungkinan komplikasi terkait riwayat SC, seperti ruptur uteri pada bekas jaringan parut.
Kode SIKI: I.15230
Deskripsi : Manajemen persalinan kala I. Intervensi keperawatan yang harus dilakukan meliputi: 1) **Pemantauan Ketat**: Melakukan pemantauan berkelanjutan terhadap kondisi ibu dan janin, termasuk tanda vital ibu (TD, Nadi, RR, Suhu) setiap 1-2 jam, kontraksi uterus (frekuensi, durasi, intensitas), dan Denyut Jantung Janin (DJJ) setiap 30 menit atau menggunakan pemantauan elektronik terus-menerus. Pengawasan khusus terhadap tanda-tanda ruptur uteri (nyeri abdomen mendadak dan hebat, perdarahan vagina, perubahan kontur abdomen, syok) sangat krusial. 2) **Asesmen Kemajuan Persalinan**: Melakukan pemeriksaan dalam secara aseptik untuk menilai pembukaan serviks, penurunan bagian terbawah janin, dan keadaan ketuban secara berkala sesuai protokol, dengan mempertimbangkan riwayat SC. 3) **Dukungan dan Edukasi**: Memberikan dukungan psikologis dan fisik kepada ibu serta keluarga. Menjelaskan proses persalinan fase laten, tanda-tanda kemajuan, dan tanda bahaya yang harus segera dilaporkan (seperti perdarahan, nyeri hebat, atau janin tidak bergerak). Menganjurkan teknik non-farmakologis untuk mengatasi nyeri (napas dalam, perubahan posisi, masase). 4) **Kolaborasi dan Persiapan**: Berkolaborasi dengan bidan atau dokter dalam penatalaksanaan persalinan. Mempersiapkan segala keperluan untuk persalinan, termasuk persiapan untuk tindakan gawat darurat seperti seksio sesarea berulang jika ditemukan tanda-tanda gawat janin, ruptur uteri, atau persalinan tidak maju. Memastikan akses intravena dan darah tersedia. 5) **Pencatatan dan Dokumentasi**: Mendokumentasikan semua temuan asesmen, intervensi, dan respon ibu serta janin secara lengkap dan akurat. Intervensi ini bertujuan untuk mendeteksi dini komplikasi, memberikan dukungan, dan memastikan tindakan cepat dan tepat jika terjadi penyimpangan dari proses persalinan normal, mengingat adanya faktor risiko riwayat operasi pada uterus.
-
Article No. 24558 | 24 Mar 2026
Klinis : benjolan di selangkangan, sulit BAB, mual muntah Telaahpasien datang dengan keluhan timbul benjolan di selangkangan sebelah kiri. benjolan sudah dialami sejak lama, namun sebelumnya masih dapat masuk sendiri, 5 hari ini tidak dapat masuk sendiri. timbul mual muntha, dan sulit BAB Riwayat Penyakit Dahulu- OKes : CM TD : 158/93 mmHg HR : 102 x/i RR : 20 x/i T : 36 C SpO2 : 99% on Room Air STATUS LOKALISATA Mata : CA (-/-), SI (-/-) Mulut : coated tongue (-), faring hiperemis (-), T1/T1 Leher : TVJ R-2cmHg, lymphadenopathy (-) Thoraks : sp ves (+/+), rh (-/-), wh (-/-), BJ 1,2 reg, murmur (-) Abdomen : soepel, NT (-), normoperistaltik, normothympani, H/L tidak teraba, Mcburney sign (-) Eks : akral hangat, CRT<2, t/v kuat, edem pretibial (-/-)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Eliminasi Feses dan Risiko Defisit Volume Cairan pada Hernia Inguinalis Terinkarserata
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Gangguan eliminasi feses adalah keadaan dimana individu mengalami atau berisiko mengalami perubahan pada pola, kebiasaan, atau karakteristik defekasi normal yang menyebabkan ketidaknyamanan, distensi abdomen, atau kesulitan mengeluarkan feses. Pada kasus ini, kondisi didukung oleh keluhan sulit BAB dan adanya hernia inguinalis yang terinkarserata (benjolan di selangkangan yang tidak dapat masuk kembali). Hernia yang terperangkap dapat menyebabkan obstruksi usus parsial atau total, yang secara mekanis menghambat perjalanan feses dan gas di dalam usus. Selain itu, nyeri dan ketidaknyamanan di area selangkangan serta abdomen dapat menghambat keinginan untuk mengejan atau kemampuan untuk buang air besar secara efektif. Kondisi ini diperberat dengan adanya mual dan muntah yang merupakan respons tubuh terhadap obstruksi dan distensi usus. Gangguan eliminasi ini bersifat akut dan terkait langsung dengan kondisi patologis yang mendasarinya, sehingga memerlukan intervensi segera untuk mencegah komplikasi lebih lanjut seperti strangulasi usus.
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : Eliminasi feses efektif. Kriteria hasil ini mencakup pencapaian pola defekasi yang kembali normal dan hilangnya tanda-tanda obstruksi. Secara spesifik, pasien diharapkan dapat: 1) Mendemonstrasikan kemampuan untuk buang air besar dengan frekuensi dan konsistensi yang normal untuk dirinya, tanpa rasa sakit atau kesulitan yang berlebihan. 2) Melaporkan hilangnya perasaan kembung, penuh, atau tidak nyaman di perut. 3) Menunjukkan bunyi bising usus (peristaltik) yang normal dalam frekuensi dan karakter. 4) Tidak mengalami mual dan muntah. 5) Mempertahankan asupan nutrisi dan cairan yang adekuat. 6) Memahami faktor-faktor penyebab dan tindakan pencegahan terkait kondisi hernianya. Pencapaian SLKI ini menandakan bahwa masalah obstruksi fungsional telah teratasi, baik melalui intervensi konservatif (seperti reposisi manual) maupun pembedahan, dan fungsi gastrointestinal telah pulih.
Kode SIKI: I.05249
Deskripsi : Manajemen Konstipasi. Intervensi keperawatan ini difokuskan untuk mengatasi kesulitan BAB dan mencegah komplikasi. Implementasinya meliputi: 1) Pengkajian menyeluruh meliputi riwayat eliminasi, karakteristik feses terakhir, bunyi bising usus, distensi abdomen, dan nyeri. 2) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemeriksaan penunjang (seperti foto polos abdomen) dan pemberian terapi medis (obat analgesik, antiemetik, dan pertimbangan untuk operasi). 3) Memonitor tanda-tanda vital dan status hidrasi secara ketat mengingat adanya takikardia (HR 102x/menit) yang dapat mengindikasikan nyeri atau dehidrasi awal. 4) Memberikan edukasi pada pasien untuk menghindari mengejan yang kuat karena dapat memperburuk hernia. 5) Implementasi tindakan non-farmakologis jika aman dan sesuai instruksi dokter, seperti mobilisasi bertahap setelah tindakan reposisi atau pembedahan. 6) Memasang dan merawat nasogastric tube jika diperlukan untuk dekompresi lambung dan usus. 7) Memberikan dukungan psikologis dan informasi tentang rencana penatalaksanaan hernia. Intervensi ini bersifat kolaboratif dan kritis karena kondisi pasien berpotensi menjadi gawat darurat bedah.
Kondisi: Risiko Defisit Volume Cairan
Kode SDKI: D.0002
Deskripsi Singkat: Risiko defisit volume cairan adalah keadaan dimana individu berisiko mengalami penurunan volume sirkulasi intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular. Pada pasien ini, risiko sangat tinggi terkait dengan kondisi hernia inguinalis yang terinkarserata. Mual dan muntah yang dialami pasien menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit secara aktif dari saluran cerna bagian atas. Selain itu, obstruksi usus yang terjadi mengakibatkan penumpukan cairan di dalam lumen usus (third spacing) yang tidak dapat diserap kembali, sehingga mengurangi volume cairan yang efektif bersirkulasi. Takikardia (HR 102x/menit) bisa menjadi tanda kompensasi awal tubuh terhadap penurunan volume cairan atau respon terhadap nyeri dan ansietas. Meskipun tekanan darah masih dalam batas normal tinggi (158/93 mmHg), hal ini perlu diwaspadai sebagai respons simpatis. Jika muntah berlanjut dan intake oral terhambat, pasien dapat dengan cepat mengalami dehidrasi dari ringan hingga berat, gangguan keseimbangan elektrolit (terutama hipokalemia dan hiponatremia), dan syok hipovolemik. Oleh karena itu, diagnosis ini menjadi prioritas untuk mencegah deteriorasi kondisi sistemik pasien.
Kode SLKI: L.03002
Deskripsi : Keseimbangan cairan. Kriteria hasil yang diharapkan adalah pasien mempertahankan status hidrasi yang adekuat. Indikatornya meliputi: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal untuk pasien (tekanan darah stabil, denyut nadi <100x/menit, suhu tubuh normal). 2) Turgor kulit baik dan membran mukosa lembab. 3) Produksi urin adekuat (output >0.5 mL/kgBB/jam) dengan berat jenis urin normal. 4) Tidak ada keluhan rasa haus yang berlebihan. 5) Keseimbangan cairan intake dan output mendekati seimbang. 6) Nilai laboratorium (seperti hematokrit, natrium, kalium) dalam batas normal. 7) Tidak menunjukkan tanda dehidrasi lebih lanjut seperti mata cekung, penurunan kesadaran, atau hipotensi. Pencapaian SLKI ini menunjukkan bahwa resusitasi cairan dan pemantauan yang dilakukan telah efektif mencegah atau mengoreksi defisit volume cairan.
Kode SIKI: I.04068
Deskripsi : Manajemen Keseimbangan Cairan. Intervensi ini bertujuan untuk mempertahankan atau mengembalikan keseimbangan cairan dan elektrolit. Tindakan yang dilakukan meliputi: 1) Memonitor ketat tanda-tanda vital (TD, Nadi, RR) dan saturasi oksigen setiap 1-4 jam atau sesuai kondisi. 2) Mengukur dan mendokumentasikan intake dan output cairan secara akurat, termasuk volume muntah. 3) Melakukan pengkajian status hidrasi secara berkala (turgor kulit, capillary refill time, mata, membran mukosa). 4) Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai resep dokter, baik jenis, jumlah, maupun kecepatannya, untuk mengatasi defisit dan kebutuhan pemeliharaan. 5) Memantau hasil pemeriksaan laboratorium terkait elektrolit dan fungsi ginjal. 6) Memposisikan pasien dengan nyaman, mungkin dengan kepala agak tinggi untuk mengurangi mual, jika tidak ada kontraindikasi. 7) Memberikan perawatan mulut untuk mengurangi rasa tidak nyaman akibat muntah dan puasa. 8) Kolaborasi pemberian obat antiemetik untuk mengontrol muntah. Intervensi ini bersifat fundamental dan terus-menerus hingga risiko defisit volume cairan dapat dikelola dengan baik dan kondisi obstruksi teratasi.
-
Article No. 24559 | 24 Mar 2026
Klinis : sesak nafas Telaahsesak nafas dialami os memberat dalam 5hari ini, sesak memberat jika os tidur terlentang, gampang capek jika aktivitas, kaki bengkak (-) perut terasa begah dan mual (+) muntah (-). BAK & BAB (+) N. sebelumnya os sudah berobat, namun keluhan tdk berkurang Riwayat Penyakit DahuluHT, lambung OSens : CM TD : 177/87 HR : 89x RR : 26x Temp : 36C SPO2 : 96% VAS : 8 DOE (+) NTE (+)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Pertukaran Gas. Kriteria hasil yang diharapkan: 1. Klien menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan yang adekuat, dibuktikan dengan analisis gas darah dalam rentang normal. 2. Klien menunjukkan perilaku mempertahankan jalan napas paten. 3. Klien menunjukkan bunyi napas bersih dan jernih pada auskultasi. 4. Klien menunjukkan pola napas dalam dan teratur, dengan frekuensi dalam rentang normal. 5. Klien menunjukkan tidak adanya sianosis. 6. Klien menunjukkan tidak adanya dispnea atau ortopnea. 7. Klien menunjukkan tidak adanya kelelahan otot pernapasan. 8. Klien menunjukkan status mental dalam rentang normal. 9. Klien menunjukkan nilai saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang normal. 10. Klien menunjukkan tidak adanya tanda-tanda hipoksia.
Kode SIKI: 3310
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Intervensi keperawatan: 1. Monitor status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas). 2. Auskultasi bunyi napas, catat area penurunan atau tidak adanya ventilasi dan adanya bunyi tambahan. 3. Monitor pola batuk dan sekret. 4. Posisikan klien untuk memaksimalkan ventilasi (misalnya, kepala tempat tidur tinggi, posisi semi-Fowler/Fowler). 5. Bantu klien latihan napas dalam dan batuk efektif. 6. Lakukan fisioterapi dada jika diindikasikan. 7. Berikan oksigen sesuai program terapi. 8. Monitor respons hemodinamik terhadap peningkatan beban kerja pernapasan. 9. Monitor status mental dan tanda-tanda awal hipoksia/hipoksemia. 10. Monitor nilai analisis gas darah (jika tersedia) dan saturasi oksigen (SpO2). 11. Kolaborasi pemberian obat bronkodilator, mukolitik, atau lainnya sesuai indikasi. 12. Ajarkan klien dan keluarga tentang teknik pernapasan dan batuk efektif. 13. Anjurkan istirahat untuk menurunkan konsumsi oksigen. 14. Atur lingkungan yang nyaman dan tenang untuk menurunkan kebutuhan oksigen.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: 0201
Deskripsi : Toleransi Aktivitas. Kriteria hasil yang diharapkan: 1. Klien melaporkan peningkatan toleransi aktivitas. 2. Klien menunjukkan penurunan keluhan sesak napas (dispnea) dan kelelahan saat aktivitas. 3. Klien menunjukkan tanda-tanda vital dalam rentang normal saat aktivitas. 4. Klien mampu melakukan aktivitas sehari-hari sesuai tingkat kemampuannya. 5. Klien menunjukkan keseimbangan antara aktivitas dan istirahat. 6. Klien menggunakan teknik penghematan energi selama melakukan aktivitas. 7. Klien mengidentifikasi faktor yang menyebabkan intoleransi aktivitas. 8. Klien mematuhi program aktivitas yang telah direncanakan.
Kode SIKI: 0201
Deskripsi : Manajemen Energi. Intervensi keperawatan: 1. Monitor respons klien terhadap aktivitas (perubahan TD, nadi, pernapasan, dan kelelahan). 2. Kaji faktor yang menyebabkan kelelahan. 3. Ajarkan teknik penghematan energi. 4. Bantu klien mengidentifikasi aktivitas yang dapat dilakukan. 5. Rencanakan kemajuan aktivitas bertahap sesuai toleransi. 6. Jadwalkan periode istirahat yang cukup sebelum dan sesudah aktivitas. 7. Bantu dalam aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan. 8. Atur lingkungan untuk memudahkan aktivitas klien. 9. Kolaborasi dengan tim gizi untuk memastikan asupan nutrisi yang adekuat. 10. Anjurkan aktivitas ringan yang disukai klien. 11. Berikan motivasi untuk meningkatkan partisipasi dalam aktivitas. 12. Ajarkan keluarga untuk membantu dan mendukung klien dalam aktivitas.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau berlangsung kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Kriteria hasil yang diharapkan: 1. Klien melaporkan penurunan intensitas nyeri (skala nyeri menurun). 2. Klien menunjukkan tanda-tanda vital dalam rentang normal. 3. Klien menunjukkan ekspresi wajah rileks dan dapat beristirahat atau tidur dengan nyaman. 4. Klien mampu melakukan aktivitas sesuai tingkat kemampuan tanpa dipengaruhi nyeri. 5. Klien mendemonstrasikan penggunaan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri. 6. Klien mengidentifikasi faktor pemicu dan pencetus nyeri. 7. Klien mematuhi regimen terapi nyeri yang ditentukan.
Kode SIKI: 0840
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi keperawatan: 1. Kaji nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas menggunakan skala nyeri, dan faktor pencetus). 2. Observasi tanda-tanda nonverbal ketidaknyamanan atau nyeri (perubahan tanda vital, ekspresi wajah, perilaku). 3. Evaluasi pengalaman nyeri sebelumnya dan strategi penanganannya. 4. Berikan lingkungan yang nyaman dan tindakan kenyamanan (reposisi, masase). 5. Ajarkan dan bantu penggunaan teknik nonfarmakologi (relaksasi napas dalam, distraksi, imajinasi terbimbing). 6. Lakukan kolaborasi pemberian analgesik sesuai program terapi, pantau efektivitas dan efek samping. 7. Evaluasi efektivitas intervensi pengendalian nyeri. 8. Berikan informasi tentang nyeri dan penanganannya kepada klien dan keluarga. 9. Kaji dampak nyeri terhadap fungsi dan kualitas hidup. 10. Dukung dan fasilitasi klien dalam mengekspresikan perasaan tentang nyeri yang dialami.
-
Article No. 24553 | 23 Mar 2026
Klinis : abortus
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Abortus
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Risiko Perfusi Jaringan Perifer Tidak Efektif
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : Perfusi jaringan perifer membaik. Kriteria Hasil: 1) Kulit hangat, 2) Nadi perifer teraba, 3) Warna kulit normal, 4) Capillary refill time < 3 detik, 5) Tidak ada edema, 6) Tekanan darah dalam rentang normal, 7) Denyut nadi dalam rentang normal, 8) Tidak ada nyeri pada ekstremitas, 9) Sensasi utuh.
Kode SIKI: I.05280
Deskripsi : Manajemen Perdarahan. Tindakan Keperawatan: 1) Monitor tanda-tanda perdarahan (perdarahan aktif, perubahan warna kulit, perubahan tanda vital, penurunan kesadaran), 2) Monitor hasil pemeriksaan laboratorium (Hb, Ht, trombosit), 3) Atur posisi pasien sesuai kondisi (misalnya, trendelenburg), 4) Lakukan kompres dingin pada area perdarahan, 5) Kolaborasi pemberian cairan intravena, 6) Kolaborasi pemberian transfusi darah, 7) Kolaborasi pemberian terapi oksigen, 8) Kolaborasi pemberian terapi farmakologis (uterotonika, antibiotik), 9) Lakukan pemantauan intake dan output, 10) Berikan dukungan psikologis pada pasien dan keluarga.
Kode SDKI: D.0024
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SLKI: L.03004
Deskripsi : Keseimbangan cairan tercapai. Kriteria Hasil: 1) Tanda vital dalam rentang normal, 2) Mukosa bibir lembab, 3) Turgor kulit baik, 4) Balance cairan seimbang, 5) Tidak ada rasa haus berlebihan, 6) Produksi urine adekuat (0,5-1 ml/kgBB/jam), 7) Berat badan stabil.
Kode SIKI: I.04016
Deskripsi : Manajemen Keseimbangan Cairan. Tindakan Keperawatan: 1) Monitor tanda-tanda dehidrasi atau kelebihan cairan, 2) Monitor tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan) tiap 1-2 jam atau sesuai kondisi, 3) Monitor intake dan output cairan secara ketat, 4) Monitor turgor kulit dan keadaan mukosa mulut, 5) Kolaborasi pemberian cairan intravena sesuai program, 6) Anjurkan intake oral sesuai toleransi dan program, 7) Timbang berat badan setiap hari, 8) Monitor hasil laboratorium (elektrolit, Hb, Ht).
Kode SDKI: D.0098
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Kriteria Hasil: 1) Melaporkan nyeri berkurang/hilang (skala 0-3), 2) Ekspresi wajah rileks, 3) Dapat beristirahat/tidur dengan nyenyak, 4) Tanda vital dalam rentang normal, 5) Dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan.
Kode SIKI: I.09080
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Tindakan Keperawatan: 1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (PQRST), 2) Ajarkan teknik non-farmakologi (nafas dalam, distraksi, relaksasi), 3) Atur posisi yang nyaman, 4) Berikan kompres hangat pada abdomen bawah (kecuali ada kontraindikasi seperti perdarahan aktif), 5) Kolaborasi pemberian analgesik sesuai program, 6) Evaluasi efektivitas intervensi nyeri.
Kode SDKI: D.0125
Deskripsi Singkat: Berduka
Kode SLKI: L.14001
Deskripsi : Koping Berduka. Kriteria Hasil: 1) Mengekspresikan perasaan kehilangan, 2) Mengidentifikasi sistem pendukung yang dimiliki, 3) Melaporkan penurunan distress emosional, 4) Melakukan aktivitas sehari-hari secara bertahap, 5) Memiliki harapan untuk masa depan.
Kode SIKI: I.14043
Deskripsi : Dukungan dalam Berduka. Tindakan Keperawatan: 1) Ciptakan lingkungan yang terapeutik dan empatik, 2) Bantu pasien/keluarga mengidentifikasi dan mengekspresikan perasaan kehilangan, kesedihan, dan rasa bersalah, 3) Validasi perasaan pasien sebagai respon normal, 4) Berikan informasi tentang proses berduka yang normal, 5) Anjurkan dukungan dari pasangan, keluarga, atau kelompok support jika ada, 6) Kolaborasi dengan konselor atau tenaga spiritual jika diperlukan, 7) Hargai mekanisme koping dan keyakinan budaya/spiritual pasien.
-
Article No. 24554 | 23 Mar 2026
Klinis : pasien dengan abortus
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Abortus
Kode ICD-10: O03.9
Deskripsi Singkat : Abortus (keguguran) adalah penghentian kehamilan secara spontan sebelum janin mencapai viabilitas, umumnya sebelum usia kehamilan 22 minggu. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti kelainan kromosom pada janin, masalah pada rahim atau serviks, infeksi, gangguan hormonal, atau penyakit kronis ibu. Kode ICD-10 O03.9 mengacu pada "Abortus spontan, tidak lengkap, tanpa komplikasi". Blok kode O00-O08 mencakup kehamilan yang berakhir dengan abortus. Kode ini digunakan untuk mencatat keguguran spontan di mana sebagian produk konsepsi (jaringan janin dan plasenta) masih tertinggal di dalam rahim, namun prosesnya tidak disertai komplikasi akut lain seperti infeksi berat, syok, atau perdarahan yang memerlukan transfusi. Dalam konteks pelatihan, pemilihan kode ini menekankan pentingnya ketelitian dalam membedakan jenis abortus (spontan vs. diinduksi), kelengkapannya, serta ada tidaknya komplikasi, karena setiap aspek tersebut memiliki kode ICD-10 yang berbeda dan implikasi klinis serta administratif yang spesifik.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24555 | 23 Mar 2026
Klinis : pasien dengan abortus
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pasien dengan Abortus
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Risiko Perdarahan
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Perdarahan dapat dicegah
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Pantau tanda-tanda perdarahan (tanda vital, pengisian kapiler, warna kulit dan membran mukosa, tingkat kesadaran, keluaran urin). Pantau jumlah dan karakteristik perdarahan (warna, konsistensi, jumlah pembalut yang digunakan, ada/tidaknya gumpalan). Anjurkan tirah baring sesuai indikasi. Kolaborasi pemberian terapi oksigen sesuai indikasi. Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai indikasi. Kolaborasi pemberian obat uterotonika sesuai indikasi. Kolaborasi persiapan tindakan kuretase jika diperlukan. Ajarkan untuk melaporkan jika terjadi peningkatan perdarahan, nyeri hebat, atau demam.
Kondisi: Pasien dengan Abortus
Kode SDKI: D.0020
Deskripsi Singkat: Perdarahan
Kode SLKI: L.08002
Deskripsi : Perdarahan dapat dikendalikan
Kode SIKI: I.08002
Deskripsi : Pantau dan catat karakteristik perdarahan (jumlah, warna, frekuensi, ada/tidaknya gumpalan). Pantau tanda-tanda vital dan tanda-tanda syok hipovolemik (takikardia, hipotensi, pucat, kulit dingin dan lembab, penurunan kesadaran, penurunan keluaran urin). Pertahankan tirah baring. Lakukan tindakan untuk meminimalkan perdarahan (misalnya, kompres uterus). Kolaborasi pemberian terapi oksigen sesuai indikasi. Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena dan transfusi darah sesuai indikasi. Kolaborasi pemberian obat uterotonika (oksitosin, misoprostol) sesuai indikasi. Kolaborasi persiapan dan bantu tindakan kuretase atau pembedahan jika diperlukan. Berikan dukungan psikologis untuk mengurangi kecemasan yang dapat memperburuk respons fisiologis.
Kondisi: Pasien dengan Abortus
Kode SDKI: D.0096
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Nyeri dapat dikendalikan
Kode SIKI: I.04001
Deskripsi : Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (lokasi, intensitas, skala, karakter, durasi, faktor pencetus dan pereda). Ajarkan dan anjurkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri (teknik napas dalam, distraksi, relaksasi, posisi yang nyaman). Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman. Kolaborasi pemberian analgesik sesuai program terapi (misalnya, antispasmodik atau analgetik sesuai indikasi). Evaluasi keefektifan intervensi pengelolaan nyeri. Pantau efek samping pemberian obat. Berikan informasi tentang penyebab nyeri dan penatalaksanaannya untuk mengurangi kecemasan.
Kondisi: Pasien dengan Abortus
Kode SDKI: D.0127
Deskripsi Singkat: Berduka
Kode SLKI: L.14001
Deskripsi : Proses berduka dapat dihadapi
Kode SIKI: I.14001
Deskripsi : Kaji respons psikologis dan emosional pasien serta pasangan/keluarga (syok, penyangkalan, marah, tawar-menawar, depresi, penerimaan). Tunjukkan sikap penerimaan, empati, dan dukungan tanpa menghakimi. Fasilitasi ekspresi perasaan (kesedihan, rasa bersalah, kemarahan) melalui komunikasi terapeutik. Validasi bahwa perasaan berduka adalah respons yang normal. Berikan kesempatan untuk melakukan ritual atau spiritual sesuai keyakinan pasien/keluarga (jika diinginkan). Kolaborasi dengan konselor spiritual atau psikolog jika diperlukan. Berikan informasi tentang kelompok pendukung (support group) jika tersedia. Lindungi dari komentar atau pertanyaan yang tidak sensitif dari orang lain. Bantu pasangan untuk berkomunikasi dan saling mendukung dalam proses berduka.
Kondisi: Pasien dengan Abortus
Kode SDKI: D.0180
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: L.11001
Deskripsi : Infeksi dapat dicegah
Kode SIKI: I.11001
Deskripsi : Pantau tanda-tanda infeksi (demam, menggigil, takikardia, nyeri abdomen bertambah, cairan vagina berbau, leukositosis). Lakukan perawatan perineum dengan teknik aseptik (jika ada perdarahan). Ajarkan dan anjurkan kebersihan diri yang adekuat (cara membersihkan vulva dari arah depan ke belakang, mengganti pembalut secara teratur). Anjurkan untuk tidak melakukan hubungan seksual, douching, atau menggunakan tampon sesuai anjuran dokter. Kolaborasi pemberian antibiotik profilaksis atau terapi sesuai indikasi. Ajarkan untuk mengenali tanda-tanda infeksi dan segera melaporkan. Tingkatkan asupan nutrisi dan cairan untuk mendukung daya tahan tubuh.
-
Article No. 24550 | 22 Mar 2026
Klinis : Pasien umur 14th sering sakit kepala, rasa kebas di kepala sampe tegang seluruh tubuh
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dan perkiraan akhir yang dapat diantisipasi.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Tujuan akhirnya adalah pasien dapat mengontrol nyeri secara mandiri. Kriteria hasilnya meliputi: 1) Pasien dapat mendemonstrasikan perilaku untuk mengontrol nyeri (misalnya, teknik relaksasi, distraksi, aktivitas yang sesuai). 2) Pasien melaporkan nyeri dapat dikontrol. 3) Pasien menggunakan analgesik sesuai anjuran. 4) Pasien mengidentifikasi faktor pencetus nyeri. 5) Pasien mematuhi regimen terapi nyeri. 6) Pasien menggunakan metode nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri. 7) Pasien melaporkan penurunan intensitas, durasi, dan frekuensi nyeri. 8) Pasien tampak tenang dan mampu istirahat/tidur.
Kode SIKI: 3520
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi keperawatan ini mencakup tindakan kompleks untuk meringankan atau mengurangi persepsi nyeri, serta memberikan kenyamanan. Aktivitas yang dilakukan perawat meliputi: 1) Lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, faktor pencetus). 2) Observasi isyarat verbal dan nonverbal ketidaknyamanan, terutama pada pasien dengan kemampuan komunikasi terbatas. 3) Gunakan pendekatan terapi farmakologis dan nonfarmakologis untuk mengatasi nyeri. 4) Ajarkan dan bantu pasien menggunakan teknik nonfarmakologi (relaksasi napas dalam, imajinasi terbimbing, distraksi, masase, kompres hangat/dingin). 5) Berikan analgesik sesuai resep dan evaluasi efektivitas serta efek sampingnya. 6) Kurangi faktor pencetus nyeri dari lingkungan. 7) Atur posisi pasien untuk kenyamanan maksimal. 8) Dukung dan bantu pasien dalam aktivitas perawatan diri saat nyeri berkurang. 9) Evaluasi efektivitas intervensi pengendalian nyeri secara berkala dan sesuaikan rencana. 10) Edukasi pasien dan keluarga tentang manajemen nyeri, termasuk penggunaan obat dan teknik nonfarmakologi. Pada kasus sakit kepala dengan ketegangan seluruh tubuh, intervensi seperti relaksasi, manajemen stres, dan posisi yang nyaman menjadi sangat krusial.
-
Article No. 24551 | 22 Mar 2026
Klinis : pasien pria berusia 28 tahun, tidak memiliki riwayat penyakit apapun, mengalami mual tidak muntah, BAB Cair 3-5 kali sehari, saat ditanya baru makan ayam dan bakso dengan porsi sambal lumayan banyak, belum minum obat apapun, dan tidak terdapat alergi obat apapun
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Gastroenteritis dan Kolitis Akut, Tidak Ditentukan
Kode ICD-10: A09.0
Deskripsi Singkat : Kondisi ini didiagnosis sebagai gastroenteritis akut, yang merupakan peradangan pada lapisan lambung dan usus. Gejala utama pasien berupa mual dan diare cair dengan frekuensi 3-5 kali per hari, yang sangat sesuai dengan gambaran klinis gastroenteritis. Riwayat konsumsi makanan seperti ayam, bakso, dan sambal dalam porsi banyak sangat relevan, karena sering dikaitkan dengan penyebab infeksi (bakteri seperti Salmonella, E. coli) atau iritasi non-infeksi (makanan pedas/berminyak) pada saluran cerna. Kode ICD-10 A09.0 digunakan untuk "Gastroenteritis dan kolitis yang tidak ditentukan asalnya" dan termasuk dalam kategori "Penyakit infeksi usus lainnya". Kode ini tepat diterapkan ketika etiologi spesifik (misalnya, bakteri, virus, atau parasit tertentu) belum dapat dipastikan dari anamnesis awal tanpa pemeriksaan penunjang lebih lanjut. Kode ini mencakup diagnosis seperti diare infeksius dan gastroenteritis akut yang tidak spesifik. Penggunaannya dalam konteks ini adalah sebagai saran kodifikasi awal berdasarkan informasi klinis yang tersedia, menekankan kemungkinan hubungan temporal antara konsumsi makanan dan onset gejala gastrointestinal akut.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***