Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24585 | 26 Mar 2026
Klinis : Data Subjektif (Keluhan Pasien) Keluhan Utama: Gangguan pola eliminasi urin (LUTS). Riwayat Urin: Nokturia (sering kencing malam), aliran urin lambat (weak stream), perasaan tidak lampias (incomplete emptying), dan hesistansi (sulit memulai kencing). Skor IPSS: 18 (Gejala Sedang/Moderate). Seksualitas: Mengeluh erectile dysfunction (ED) derajat ringan. Psikospiritual: Merasa sedih dan bersalah karena tidak dapat menjalankan sholat secara normal; merasa terhambat dalam memenuhi kewajiban agama. 2. Data Objektif (Pemeriksaan Fisik) Tanda-Tanda Vital: TD 130/80 mmHg (Normal), Nadi 76 x/menit (Normal). Abdomen: Lembut, kandung kemih tidak teraba (tidak ada distensi akut saat pengkajian), tidak ada massa. Genitalia: Tidak ada kelainan anatomi luar. Rectal Toucher (Colok Dubur): Ukuran prostat ±30-35 gram (normal ~20g), konsistensi nontender (tidak nyeri tekan), dan bentuk simetris. Penampilan Umum: Tampak baik namun menunjukkan afek sedih terkait masalah ibadah.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Eliminasi Urin dan Distres Spiritual
Kode SDKI: D.0017 & D.0019
Deskripsi Singkat: Berdasarkan data pasien, dua diagnosa keperawatan utama yang relevan adalah: (1) **Gangguan Eliminasi Urin** (D.0017) yang didefinisikan sebagai keadaan dimana individu mengalami atau berisiko mengalami disfungsi dalam pengosongan kandung kemih; dan (2) **Distres Spiritual** (D.0019) yang didefinisikan sebagai keadaan dimana individu mengalami atau berisiko mengalami gangguan dalam sistem nilai, keyakinan, atau prinsip yang memberikan makna, tujuan, dan harapan dalam hidup, yang dapat mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan. Pada kasus ini, gangguan eliminasi urin ditandai dengan Lower Urinary Tract Symptoms (LUTS) seperti nokturia, aliran lemah, perasaan tidak lampias, dan hesitansi dengan skor IPSS 18 (moderat), didukung temuan rectal toucher prostat membesar. Gangguan ini secara langsung memicu distres spiritual, dimana pasien merasa sedih dan bersalah karena tidak dapat menjalankan ibadah sholat secara normal, yang merupakan kewajiban inti dalam agamanya, sehingga menimbulkan perasaan terhambat dalam memenuhi tujuan hidup yang bermakna.
Kode SLKI: L.03113 & L.09001
Deskripsi : Untuk mengatasi kedua diagnosa tersebut, ditetapkan luaran yang diharapkan: (1) **Fungsi Eliminasi Urin Membaik** (L.03113) dengan kriteria hasil: pola eliminasi urin dalam batas normal, tidak ada keluhan nokturia, aliran urin kuat, tidak ada perasaan tidak lampias, dan tidak ada hesitansi. Target luaran ini adalah penurunan skor IPSS dari 18 (moderat) menjadi skor ringan (<7). (2) **Kesejahteraan Spiritual Meningkat** (L.09001) dengan kriteria hasil: mampu mengekspresikan keyakinan/spiritualitas, mampu melakukan praktik spiritual/ibadah sesuai keyakinan, melaporkan perasaan damai dan penerimaan, serta menunjukkan hubungan yang harmonis dengan Tuhan, diri sendiri, dan orang lain. Secara spesifik, pasien diharapkan dapat kembali menjalankan sholat dengan normal atau menemukan adaptasi cara beribadah yang dapat diterima tanpa merasa bersalah, sehingga afek sedih berkurang dan muncul perasaan tenang.
Kode SIKI: I.05291, I.09068, I.09071, & I.09073
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang direncanakan meliputi: (1) **Manajemen Eliminasi Urin** (I.05291) dengan aktivitas: memantau pola, frekuensi, dan karakteristik urin; mendorong asupan cairan yang cukup dengan membatasi di malam hari; melatih teknik mengedan saat berkemih (jika tidak kontraindikasi) dan double voiding; serta kolaborasi dalam pemberian terapi farmakologi atau persiapan tindakan invasif sesuai indikasi medis. (2) Untuk mengatasi distres spiritual, diterapkan intervensi **Meningkatkan Koping Spiritual** (I.09068) dengan membangun hubungan saling percaya dan memberikan kesempatan pasien mengungkapkan perasaan sedih dan bersalahnya; **Konseling Spiritual** (I.09071) dengan mengajak pasien mengeksplorasi keyakinan dan sumber kekuatan spiritualnya, serta mendiskusikan kemungkinan adaptasi ibadah (misal: duduk, menggunakan alat bantu) dengan merujuk pada prinsip agama yang memberikan keringanan (rukhsah) dalam kondisi sakit; dan **Dukungan Spiritual** (I.09073) dengan memfasilitasi akses kepada pemuka agama atau sumber spiritual yang diakui pasien untuk konsultasi lebih mendalam, serta menciptakan lingkungan yang mendukung praktik spiritualnya. Pendekatan holistik ini bertujuan tidak hanya mengelola gejala fisik tetapi juga memulihkan kesejahteraan batin pasien yang terganggu akibat penyakitnya.
-
Article No. 24586 | 26 Mar 2026
Klinis : Pasien mengeluh tidak dapat menggerakkan kedua kakinya. Pasien merasakan baal (mati rasa) dari pinggang ke bawah. Pasien mengeluhkan kesulitan buang air kecil sejak kejadian kecelakaan.Pasien mengalami Kecelakaan lalu lintas dua hari yang lalu. pasien Terjatuh dari sepeda motor dengan posisi punggung terbentur keras ke aspal. Pasien mengatakan tetap sadar saat kejadian, namun langsung mengalami kelumpuhan dan mati rasa pada ekstremitas bawah. saat di IGD Pasien sempat ditangani dan saat ini dirawat di ruang bedah saraf dengan posisi supine menggunakan spinal board.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Gangguan Mobilitas Fisik adalah suatu keadaan di mana individu mengalami atau berisiko mengalami keterbatasan pergerakan fisik secara mandiri. Pada kasus pasien ini, gangguan mobilitas disebabkan oleh cedera medula spinalis (cedera tulang belakang) pasca trauma kecelakaan lalu lintas. Pasien mengalami kelumpuhan dan mati rasa pada kedua ekstremitas bawah (paraplegia) mulai dari pinggang ke bawah, yang secara langsung menghilangkan kemampuan untuk menggerakkan kaki. Kondisi ini diperparah dengan imobilisasi yang diharuskan (penggunaan spinal board) untuk mencegah kerusakan saraf lebih lanjut. Gangguan ini bersifat akut dan berat, mempengaruhi secara signifikan kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari secara independen, seperti berjalan, berpindah tempat, dan menjaga keseimbangan. Dampaknya meluas ke aspek psikologis, integritas kulit, fungsi eliminasi, dan potensi komplikasi sistemik seperti trombosis vena dalam dan atrofi otot.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : SLKI L.04001 bertujuan untuk mencapai tingkat mobilitas fisik yang optimal sesuai dengan kondisi dan kemampuan pasien. Luaran yang diharapkan meliputi: pasien dapat mempertahankan atau meningkatkan kekuatan dan rentang gerak (ROM) pada ekstremitas yang tidak terpengaruh (tangan, lengan) dan ekstremitas bawah yang lumpuh (dengan bantuan perawat). Pasien mampu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai tingkat bantuan yang ditetapkan. Pasien dan keluarga memahami dan berpartisipasi dalam program latihan dan reposisi yang ditetapkan. Tujuan kritis jangka pendek termasuk mencegah kontraktur sendi dan atrofi otot melalui latihan pasif, menjaga integritas kulit dengan perubahan posisi rutin (dengan teknik log-roll karena kondisi spinal), serta mempertahankan fungsi pernapasan optimal. Luaran jangka panjang diarahkan pada penerimaan kondisi, partisipasi dalam rehabilitasi, dan pemanfaatan alat bantu mobilitas sesuai rencana.
Kode SIKI: I.04058
Deskripsi : Intervensi I.04058 adalah serangkaian tindakan keperawatan untuk mengatasi Gangguan Mobilitas Fisik. Pertama, lakukan pemantauan neurologis berkala (pemeriksaan motorik dan sensorik) untuk mendeteksi perubahan. Kedua, kolaborasi dalam imobilisasi tulang belakang dengan spinal board dan posisi supine ketat, ajarkan dan bantu teknik log-roll setiap 2 jam untuk mencegah dekubitus. Ketiga, lakukan latihan rentang gerak (ROM) pasif pada ekstremitas bawah dan aktif pada ekstremitas atas minimal 2 kali sehari. Keempat, ajarkan dan bantu latihan penguatan otot-otot tubuh bagian atas (misalnya, menggunakan trapeze bar). Kelima, kolaborasi dengan fisioterapis untuk rencana rehabilitasi dini. Keenam, pantau tanda-tanda komplikasi imobilisasi seperti kemerahan pada kulit (terutama area sakrum dan tumit), edema, nyeri dada, atau kemerahan pada betis. Ketujuh, atur lingkungan yang aman dan gunakan alat bantu sesuai kebutuhan. Kedelapan, berikan edukasi pada pasien dan keluarga tentang pentingnya imobilisasi, perubahan posisi, dan latihan yang aman. Kesembilan, kolaborasi dalam manajemen nyeri dan manajemen eliminasi (karena ada keluhan kesulitan BAK) untuk mendukung partisipasi dalam mobilisasi. Intervensi ini bersifat holistik, protektif, dan rehabilitatif untuk meminimalkan dampak negatif imobilisasi dan mempersiapkan pasien menuju tahap pemulihan berikutnya.
Kondisi: Gangguan Eliminasi Urin
Kode SDKI: D.0015
Deskripsi Singkat: Gangguan Eliminasi Urin adalah keadaan di mana individu mengalami atau berisiko mengalami disfungsi dalam pengosongan kandung kemih. Pada pasien cedera medula spinalis ini, gangguan terjadi karena kerusakan pada saraf yang mengontrol kandung kemih dan sfingter (neurogenic bladder). Pasien mengeluh kesulitan buang air kecil sejak kecelakaan, yang mengindikasikan retensi urin. Cedera pada level torakal atau lumbal mengganggu sinyal antara kandung kemih, sumsum tulang belakang, dan otak. Kandung kemih mungkin menjadi arefleksik (tidak bisa berkontraksi) atau hiperrefleksik, sementara sfingter mungkin tidak dapat berelaksasi dengan koordinasi yang tepat. Hal ini menyebabkan pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap, retensi urin, overflow incontinence (beser meluber), dan berisiko tinggi menyebabkan infeksi saluran kemih (ISK), hidronefrosis, hingga gagal ginjal jika tidak dikelola dengan baik. Kondisi ini merupakan masalah serius yang memerlukan intervensi segera dan manajemen jangka panjang.
Kode SLKI: L.05002
Deskripsi : SLKI L.05002 bertujuan untuk mempertahankan atau mengembalikan pola eliminasi urin yang optimal dan mencegah komplikasi. Luaran yang diharapkan meliputi: pasien tidak mengalami distensi kandung kemih, volume residu urin pasca pengosongan minimal, dan tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi saluran kemih (demam, urin keruh/berbau, dysuria). Pasien dan keluarga memahami dan dapat melakukan (dengan bantuan) teknik manajemen eliminasi urin yang ditetapkan, seperti kateterisasi intermitten steril. Pasien mempertahankan keseimbangan cairan dengan asupan dan output yang adekuat. Tujuan jangka panjang termasuk mencapai pola eliminasi yang dapat diprediksi, mencegah kerusakan ginjal, dan mempertahankan kualitas hidup terkait fungsi eliminasi.
Kode SIKI: I.05030
Deskripsi : Intervensi I.05030 adalah manajemen gangguan eliminasi urin. Pertama, lakukan pemantauan ketat terhadap output urin (jumlah, warna, karakteristik) dan tanda retensi (distensi abdomen suprapubik, ketidaknyamanan). Kedua, lakukan palpasi dan perkusi area kandung kemih secara rutin. Ketiga, kolaborasi dalam pemasangan kateter urin (mungkin kateter indwelling sementara atau program kateterisasi intermitten steril/CISC) sesuai instruksi dokter untuk mengosongkan kandung kemih dan mengukur residu urin. Keempat, ajarkan dan latih (jika memungkinkan) pasien/keluarga tentang teknik kateterisasi intermitten yang aman dan steril. Kelima, pantau tanda-tanda infeksi saluran kemih dan lakukan pemeriksaan urinalisis rutin. Keenam, atur asupan cairan yang cukup dan teratur (sekitar 1500-2000 ml/hari jika tidak ada kontraindikasi) untuk mencegah stasis urin dan pembentukan batu. Ketujuh, berikan edukasi tentang pentingnya higiene perineal yang baik untuk mencegah infeksi. Kedelapan, kolaborasi dengan dokter dan ahli urologi untuk rencana manajemen jangka panjang, termasuk kemungkinan pelatihan kandung kemih atau penggunaan obat-obatan. Intervensi ini bersifat preventif, kuratif, dan edukatif untuk menjaga fungsi ginjal dan mencegah komplikasi infeksi.
-
Article No. 24587 | 26 Mar 2026
Klinis : Pasien mengeluh tidak dapat menggerakkan kedua kakinya. Pasien merasakan baal (mati rasa) dari pinggang ke bawah. Pasien mengeluhkan kesulitan buang air kecil sejak kejadian kecelakaan.Pasien mengalami Kecelakaan lalu lintas dua hari yang lalu. pasien Terjatuh dari sepeda motor dengan posisi punggung terbentur keras ke aspal. Pasien mengatakan tetap sadar saat kejadian, namun langsung mengalami kelumpuhan dan mati rasa pada ekstremitas bawah. saat di IGD Pasien sempat ditangani dan saat ini dirawat di ruang bedah saraf dengan posisi supine menggunakan spinal board.Khawatir tidak bisa berjalan dan takut kehilangan kerja. Bertanya kemungkinan sembuh. Wajah cemas & murung. Kecemasan sedang. DS: Pasien menyatakan, "Saya tidak lagi seperti dulu". Pasien mengungkapkan rasa khawatir tidak dapat berjalan kembali. DO : Pasien terlihat murung. Pasien tampak cemas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Cedera Medula Spinalis (Trauma Spinal) dengan Defisit Neurologis
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Gangguan mobilitas fisik adalah keadaan ketika seseorang mengalami atau berisiko mengalami keterbatasan pergerakan fisik secara independen.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Mobilitas fisik membaik. Kriteria hasil: 1) Rentang gerak sendi dipertahankan atau meningkat, 2) Kekuatan otot dipertahankan atau meningkat, 3) Melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kemampuan, 4) Menggunakan alat bantu mobilitas dengan tepat, 5) Tidak terjadi komplikasi imobilisasi (kontraktur, atrofi, dekubitus, dll).
Kode SIKI: I.04080, I.09001, I.04079, I.04081, I.09005
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang direncanakan meliputi: 1) I.04080: Manajemen Mobilitas - Memfasilitasi pergerakan pasien dengan cedera medula spinalis akut, termasuk penggunaan spinal board, log rolling untuk perawatan kulit dan linen, serta kolaborasi untuk alat bantu mobilitas. 2) I.09001: Manajemen Nyeri - Mengkaji dan menangani nyeri yang mungkin timbul dari trauma dan spasme otot. 3) I.04079: Pemantauan Neurologis - Melakukan pemantauan ketat terhadap fungsi sensorik dan motorik (kekuatan otot, sensasi) di bawah tingkat cedera untuk mendeteksi perubahan neurologis. 4) I.04081: Manajemen Eliminasi Urin - Mengatasi retensi urin dengan teknik seperti Credé atau kateterisasi intermiten, serta memantau tanda-tanda infeksi saluran kemih. 5) I.09005: Dukungan Emosional - Memberikan kesempatan pasien mengekspresikan perasaan ketakutan, kecemasan, dan kesedihan; memberikan informasi yang jujur namun mendukung tentang kondisi dan proses rehabilitasi; serta melibatkan keluarga dalam memberikan dukungan.
Kondisi: Ansietas Berhubungan dengan Perubahan Status Kesehatan dan Ketidakpastian Masa Depan
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Ansietas adalah keadaan perasaan gelisah, ketegangan, atau khawatir yang tidak jelas sumbernya, disertai dengan atau tanpa aktivasi otonom, yang dialami oleh individu dalam menanggapi ancaman yang tidak spesifik.
Kode SLKI: L.09002
Deskripsi : Ansietas teratasi. Kriteria hasil: 1) Mengungkapkan perasaan ansietas menurun, 2) Mengidentifikasi penyebab ansietas, 3) Mendemonstrasikan teknik relaksasi untuk menurunkan ansietas, 4) Tanda-tanda fisiologis ansietas (seperti takikardia, ketegangan otot) menurun, 5) Ekspresi wajah dan perilaku lebih tenang.
Kode SIKI: I.09005, I.09010, I.09012
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang direncanakan meliputi: 1) I.09005: Dukungan Emosional - Membangun hubungan terapeutik, mendengarkan aktif keluhan pasien ("tidak bisa berjalan", "takut kehilangan kerja"), memberikan empati, dan memvalidasi perasaannya. 2) I.09010: Manajemen Ansietas - Mengajarkan teknik relaksasi sederhana seperti napas dalam, memberikan informasi yang akurat dan bertahap tentang prognosis dan rencana rehabilitasi untuk mengurangi ketidakpastian, serta mendorong partisipasi dalam perawatan diri sesuai kemampuan untuk meningkatkan rasa kontrol. 3) I.09012: Peningkatan Koping - Membantu pasien mengidentifikasi kekuatan dan dukungan sosial yang dimiliki, serta mengeksplorasi strategi koping adaptif yang pernah berhasil di masa lalu untuk menghadapi situasi saat ini.
Kondisi: Gangguan Eliminasi Urin (Retensi Urin) Berhubungan dengan Cedera Neurologis
Kode SDKI: D.0020
Deskripsi Singkat: Gangguan eliminasi urin adalah keadaan ketika seseorang mengalami atau berisiko mengalami disfungsi dalam pengeluaran urine.
Kode SLKI: L.02002
Deskripsi : Eliminasi urin efektif. Kriteria hasil: 1) Volume urin output dalam batas normal, 2) Tidak terdapat distensi kandung kemih, 3) Mengungkapkan tidak ada keluhan sulit berkemih atau rasa penuh pada bladder, 4) Tidak terjadi infeksi saluran kemih.
Kode SIKI: I.02007, I.04081, I.02011
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang direncanakan meliputi: 1) I.02007: Pemantauan Eliminasi Urin - Memantau intake-output cairan, mendistensi kandung kemih melalui palpasi dan perkusi, serta mencatat karakteristik urin. 2) I.04081: Manajemen Eliminasi Urin - Melakukan kateterisasi intermiten steril sesuai protokol untuk mengosongkan kandung kemih dan mencegah overdistensi, serta melatih pasien/keluarga jika memungkinkan untuk program kateterisasi mandiri jangka panjang. 3) I.02011: Manajemen Retensi Urin - Menerapkan teknik stimulasi seperti Credé atau Valsalva (jika diinstruksikan dan aman), serta memposisikan pasien senyaman mungkin untuk berkemih.
-
Article No. 24588 | 26 Mar 2026
Klinis : Riwayat Kesehatan Keluhan Utama Diare cair (3-5 kali/hari) selama 3 hari, muntah tidak proyektil (3 kali), bercak putih di mulut, dan demam. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien sering mengalami demam, diare, batuk, dan sariawan sejak usia 3 bulan. Berat badan tidak naik secara adekuat akibat infeksi berulang. Pasien baru terdiagnosis HIV 1 bulan sebelum masuk RS. Riwayat Kelahiran & Imunisasi Lahir cukup bulan, persalinan pervaginam spontan, berat lahir 2500 gram. Imunisasi dasar lengkap. Riwayat Nutrisi Mendapat ASI eksklusif hingga usia 15 bulan. Riwayat Keluarga Ibu positif HIV (tidak diskrining saat hamil), memiliki riwayat tato dan pasangan pengguna narkoba. Ayah memiliki hasil tes HIV non-reaktif. Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum Tampak sakit kronis, sangat lemah, namun sadar penuh. Tanda-tanda Vital Dalam batas normal. Antrometri & Nutrisi Berat Badan: 6,4 kg (Z-score antara -2 SD dan -3 SD BB/TB). Tinggi Badan: Di bawah -3 SD (Stunting). Penampilan: Wajah tampak seperti orang tua (old man face), tulang rusuk menonjol (piano sign), pengecilan otot (wasting), dan kulit bokong keriput (baggy pants). Kepala & Mulut Mata cekung, bibir kering (tanda dehidrasi), dan terdapat plak putih pada lidah serta mukosa bukal (oral thrush) Abdomen Bising usus meningkat, tidak ada nyeri tekan. Pemeriksaan Penunjang Penatalaksanaan Medis Antiretroviral (ARV): Kombinasi dosis tetap (Lamivudine, Nevirapine, dan Zidovudine) 1 tablet/hari. Profilaksis: Cotrimoxazole 240 mg/hari. Antijamur: Nystatin 100.000 IU (2 kali sehari). Suplemen: Zinc 20 mg/hari selama 10 hari. Lainnya: Rehidrasi cairan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan dan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh pada Anak dengan HIV/AIDS dan Infeksi Oportunistik
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan volume cairan, elektrolit, atau darah intavaskular. Pada pasien ini, risiko ini dimanifestasikan oleh diare cair yang berkepanjangan (3-5 kali/hari selama 3 hari), muntah, serta tanda klinis dehidrasi seperti mata cekung dan bibir kering. Kehilangan cairan yang terus-menerus melalui diare dan muntah, ditambah dengan asupan yang mungkin terganggu akibat malaise dan oral thrush, sangat meningkatkan risiko dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit, yang dapat memperburuk kondisi umum dan fungsi organ.
Kode SLKI: L.03116
Deskripsi : Keseimbangan cairan dan elektrolit tercapai. Untuk mencapai luaran ini, intervensi keperawatan harus difokuskan pada pemantauan ketat tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, mata, fontanel, produksi urin), pemberian dan pemantauan terapi rehidrasi oral (sesuai rencana medis pemberian zinc dan cairan), serta edukasi keluarga tentang pentingnya rehidrasi. Perawat juga harus memantau respons terhadap terapi antidiare dan antiemetik jika diberikan, serta mendokumentasikan asupan dan haluaran cairan secara akurat. Pencapaian SLKI ini ditandai dengan tanda vital stabil, turgor kulit baik, mukosa bibir lembab, mata tidak cekung, dan produksi urin adekuat sesuai usia dan berat badan.
Kode SIKI: I.05138
Deskripsi : Manajemen Diare. Intervensi ini secara langsung menangani penyebab utama risiko ketidakseimbangan volume cairan. Implementasinya meliputi: 1) Mengkaji karakteristik diare (frekuensi, volume, konsistensi, warna). 2) Melakukan dan mendokumentasikan penimbangan berat badan harian untuk memantau kehilangan cairan. 3) Memberikan cairan rehidrasi oral (misalnya oralit) sesuai protokol dan anjuran medis, dengan teknik pemberian sedikit-sedikit namun sering untuk mencegah muntah. 4) Memberikan suplementasi zinc sesuai resep (20 mg/hari selama 10 hari) karena terbukti mempercepat penyembuhan diare. 5) Mempertahankan higiene perianal yang bersih dan kering untuk mencegah iritasi kulit dan infeksi sekunder dengan menggunakan air hangat dan mengeringkannya dengan lembut. 6) Memantau tanda-tanda dehidrasi dan syok. 7) Melakukan edukasi kepada keluarga tentang teknik pemberian cairan, pemberian zinc, dan perawatan kulit area popok.
Kondisi: Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: D.0030
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik. Diagnosa ini sangat menonjol pada pasien ini, yang ditunjukkan oleh berat badan sangat rendah (Z-score BB/TB antara -2 dan -3 SD), stunting (TB <-3 SD), dan tanda-tanda wasting klinis yang berat seperti old man face, piano sign (tulang rusuk menonjol), pengecilan otot, dan baggy pants. Penyebabnya multifaktorial: 1) Peningkatan kebutuhan metabolik akibat infeksi berulang (HIV, diare, oral thrush, demam). 2) Asupan yang tidak adekuat akibat anoreksia, mual, muntah, dan nyeri saat menelan karena kandidiasis oral (oral thrush). 3) Gangguan absorpsi nutrisi di usus akibat diare kronis dan infeksi HIV itu sendiri (enteropati). 4) Riwayat berat badan yang tidak naik secara adekuat. Kondisi malnutrisi berat ini memperlemah sistem imun lebih lanjut, menciptakan siklus ganas antara infeksi dan malnutrisi.
Kode SLKI: L.03004
Deskripsi : Status nutrisi membaik. Luaran ini diharapkan dengan peningkatan asupan nutrisi dan penanganan penyebab malnutrisi. Tujuan spesifik meliputi: peningkatan berat badan secara bertahap, peningkatan nafsu makan, dan penyembuhan luka di mulut. Perawat harus menetapkan target kenaikan berat badan yang realistis. Pencapaian SLKI dapat diukur melalui pemantauan berat badan serial, pengukuran lingkar lengan atas, penilaian klinis pengisian jaringan subkutan dan massa otot, serta laporan keluarga tentang peningkatan asupan makanan dan minuman pasien.
Kode SIKI: I.11220
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. Intervensi ini komprehensif untuk mengatasi defisit nutrisi. Langkah-langkahnya meliputi: 1) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori, protein, dan mikronutrien yang tinggi sesuai kondisi HIV dan malnutrisi. 2) Memberikan diet tinggi kalori dan tinggi protein dalam porsi kecil namun sering (misalnya 6-8 kali/hari) untuk mengatasi kapasitas lambung yang terbatas dan mudah kenyang. 3) Memodifikasi tekstur makanan menjadi lunak atau cair jika diperlukan karena adanya oral thrush untuk mengurangi nyeri saat menelan. 4) Memberikan edukasi dan demonstrasi kepada keluarga tentang pemberian makanan padat yang kaya nutrisi. 5) Memastikan pemberian suplemen multivitamin dan mineral sesuai resep. 6) Melakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan dengan larutan yang sesuai (misalnya NaCl 0.9%) atau sesuai anjuran untuk oral thrush, untuk meningkatkan kenyamanan dan nafsu makan. 7) Memantau dan mencatat asupan makanan dan cairan secara detail (jumlah, jenis, toleransi). 8) Menciptakan lingkungan makan yang tenang dan menyenangkan.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0058
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons terhadap patogen. Pasien memiliki faktor risiko yang sangat tinggi untuk infeksi berulang dan infeksi oportunistik. Dasar utamanya adalah imunodefisiensi akibat infeksi HIV yang baru terdiagnosis. Ditambah dengan status malnutrisi berat yang lebih lanjut melemahkan sistem imun. Bukti infeksi yang sedang berlangsung adalah oral thrush (kandidiasis) dan riwayat infeksi berulang (diare, batuk, sariawan) sejak usia dini. Risiko infeksi lain seperti pneumonia, tuberkulosis, diare kronis, dan sepsis sangat tinggi. Pemberian ARV dan kotrimoksazol profilaksis adalah upaya medis utama untuk mengurangi risiko ini, tetapi peran perawat dalam pencegahan infeksi nosokomial dan pengawasan dini tanda infeksi sangat krusial.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Risiko infeksi berkurang. Luaran ini ditandai dengan tidak munculnya infeksi baru selama perawatan, penyembuhan infeksi yang sudah ada (oral thrush), dan pemahaman keluarga tentang tindakan pencegahan infeksi. Parameter pencapaiannya antara lain: suhu tubuh dalam batas normal, tidak ada tanda-tanda infeksi baru (seperti batuk, sesak, diare yang memberat, lesi kulit), serta plak putih di mulut berkurang atau hilang setelah terapi antijamur.
Kode SIKI: I.08446
Deskripsi : Proteksi Infeksi. Intervensi ini bertujuan meminimalkan paparan patogen dan meningkatkan pertahanan tubuh pasien. Kegiatannya meliputi: 1) Menerapkan kewaspadaan standar dan tambahan (seperti kewaspadaan kontak) dengan ketat, termasuk cuci tangan sebelum dan setelah kontak, penggunaan APD yang sesuai. 2) Memastikan pemberian obat antiretroviral (ARV) dan kotrimoksazol profilaksis tepat waktu serta memantau efek sampingnya. 3) Memastikan pemberian obat antijamur (Nystatin) untuk oral thrush dengan teknik yang benar (dioleskan pada area berplak). 4) Mengajarkan dan mendemonstrasikan kepada keluarga teknik cuci tangan yang benar. 5) Membatasi pengunjung yang sakit. 6) Memelihara integritas kulit dengan perawatan kulit yang baik, terutama area perianal yang rentan iritasi akibat diare. 7) Memantau tanda-tanda vital dan gejala sistemik infeksi secara rutin. 8) Edukasi keluarga tentang pentingnya menghindari sumber infeksi di rumah dan tanda-tanda infeksi yang harus diwaspadai.
Kondisi: Kelelahan
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Perasaan lelah yang luar biasa dan berkepanjangan yang mengurangi kapasitas untuk kerja fisik dan mental. Pada pasien anak ini, kelelahan dimanifestasikan secara klinis dengan "tampak sakit kronis, sangat lemah". Kelelahan ini disebabkan oleh kombinasi dari: 1) Penyakit kronis (HIV/AIDS). 2) Proses infeksi aktif (diare, kandidiasis, demam). 3) Status malnutrisi berat dan anemia (yang sering menyertai). 4) Kemungkinan efek samping pengobatan ARV awal. Kelelahan ini berdampak pada kemampuan anak untuk bermain, belajar, makan, dan berinteraksi, sehingga juga mempengaruhi kualitas hidup dan proses penyembuhan.
Kode SLKI: L.09002
Article No. 24589 | 26 Mar 2026
Klinis : PENGKAJIAN Identitas Pasien Nama : An. RP Usia : 1 Tahun 8 Bulan Jenis Kelamin : Perempuan Diagnosa Medis : HIV Infection + Severe Acute Malnutrition (SAM) Riwayat Kesehatan Keluhan Utama Diare cair (3-5 kali/hari) selama 3 hari, muntah tidak proyektil (3 kali), bercak putih di mulut, dan demam. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien sering mengalami demam, diare, batuk, dan sariawan sejak usia 3 bulan. Berat badan tidak naik secara adekuat akibat infeksi berulang. Pasien baru terdiagnosis HIV 1 bulan sebelum masuk RS. Riwayat Kelahiran & Imunisasi Lahir cukup bulan, persalinan pervaginam spontan, berat lahir 2500 gram. Imunisasi dasar lengkap. Riwayat Nutrisi Mendapat ASI eksklusif hingga usia 15 bulan. Riwayat Keluarga Ibu positif HIV (tidak diskrining saat hamil), memiliki riwayat tato dan pasangan pengguna narkoba. Ayah memiliki hasil tes HIV non-reaktif. Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum Tampak sakit kronis, sangat lemah, namun sadar penuh. Tanda-tanda Vital Dalam batas normal. Antrometri & Nutrisi Berat Badan: 6,4 kg (Z-score antara -2 SD dan -3 SD BB/TB). Tinggi Badan: Di bawah -3 SD (Stunting). Penampilan: Wajah tampak seperti orang tua (old man face), tulang rusuk menonjol (piano sign), pengecilan otot (wasting), dan kulit bokong keriput (baggy pants). Kepala & Mulut Mata cekung, bibir kering (tanda dehidrasi), dan terdapat plak putih pada lidah serta mukosa bukal (oral thrush) Abdomen Bising usus meningkat, tidak ada nyeri tekan. Pemeriksaan Penunjang Penatalaksanaan Medis Antiretroviral (ARV): Kombinasi dosis tetap (Lamivudine, Nevirapine, dan Zidovudine) 1 tablet/hari. Profilaksis: Cotrimoxazole 240 mg/hari. Antijamur: Nystatin 100.000 IU (2 kali sehari). Suplemen: Zinc 20 mg/hari selama 10 hari. Lainnya: Rehidrasi cairan dan manajemen nutrisi fase rehabilitasi.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Status dimana individu mengalami atau berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
Kode SLKI: B.1.1.1
Deskripsi : Status nutrisi membaik. Ditandai dengan: 1) Peningkatan berat badan sesuai target, 2) Asupan nutrisi oral sesuai kebutuhan, 3) Tidak ada tanda-tanda malnutrisi akut (wasting) yang memburuk, 4) Nilai laboratorium terkait nutrisi (seperti albumin, limfosit total) dalam batas normal atau menunjukkan perbaikan, 5) Peningkatan nafsu makan, 6) Toleransi terhadap diet yang diberikan, 7) Peningkatan kekuatan dan massa otot, 8) Kulit dan rambut tampak sehat, 9) Aktivitas dan tumbuh kembang sesuai usia, 10) Pengetahuan keluarga tentang nutrisi yang adekuat meningkat.
Kode SIKI: B.1.1.1.1 - B.1.1.1.10
Deskripsi : Intervensi keperawatan difokuskan pada manajemen nutrisi yang komprehensif. Pertama, lakukan pengukuran antropometri (BB, TB, LILA) secara berkala dan plot pada kurva pertumbuhan untuk memantau tren. Kedua, kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun diet tinggi kalori dan protein dengan tekstur yang sesuai, serta rencana pemberian makan yang sering dalam porsi kecil. Ketiga, lakukan pemberian makan atau bantu anak dalam proses makan dengan teknik yang tepat dan sabar. Keempat, ciptakan lingkungan makan yang tenang dan nyaman. Kelima, berikan edukasi kepada orang tua tentang pentingnya kepatuhan diet, cara menyiapkan makanan bernutrisi tinggi, dan mengenali tanda anak kenyang atau lapar. Keenam, monitor tanda-tanda intoleransi makanan seperti mual, muntah, atau diare. Ketujuh, lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan untuk mengatasi oral thrush dan meningkatkan kenyamanan saat mengunyah. Kedelapan, kolaborasi pemberian suplemen nutrisi (seperti zinc, vitamin) sesuai resep. Kesembilan, pantau hasil laboratorium yang terkait status nutrisi. Kesepuluh, dukung dan motivasi orang tua untuk terlibat aktif dalam proses pemenuhan nutrisi anak.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: B.3.2
Deskripsi Singkat: Peningkatan kerentanan terhadap invasi patogen yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: B.3.2.1
Deskripsi : Risiko infeksi tidak terjadi. Ditandai dengan: 1) Tanda-tanda vital dalam batas normal, 2) Tidak ada tanda-tanda infeksi lokal (seperti kemerahan, bengkak, nyeri, pus) atau sistemik (demam, leukositosis), 3) Hasil pemeriksaan mikrobiologi negatif, 4) Luka (jika ada) menunjukkan proses penyembuhan, 5) Status pertahanan tubuh adekuat (misalnya, jumlah CD4 pada pasien HIV dalam batas aman), 6) Kepatuhan terhadap terapi antimikroba/profilaksis, 7) Pengetahuan dan perilaku pencegahan infeksi oleh pasien/keluarga meningkat, 8) Lingkungan sekitar pasien bersih dan mendukung pencegahan infeksi.
Kode SIKI: B.3.2.1.1 - B.3.2.1.10
Deskripsi : Intervensi keperawatan bertujuan untuk meminimalkan paparan patogen dan meningkatkan pertahanan tubuh. Pertama, lakukan cuci tangan secara ketat sebelum dan sesudah kontak dengan pasien. Kedua, gunakan alat pelindung diri (APD) yang sesuai saat melakukan prosedur. Ketiga, ajarkan dan pantau pelaksanaan kebersihan tangan pada keluarga. Keempat, lakukan perawatan mulut teratur dengan larutan antijamur untuk mengontrol oral thrush dan mencegah penyebaran. Kelima, pantau tanda-tanda vital dan gejala infeksi baru (demam, perubahan sekret, batuk) setiap hari. Keenam, kolaborasi pemberian terapi antiretroviral (ARV) dan profilaksis cotrimoxazole secara tepat waktu, serta edukasi pentingnya kepatuhan absolut. Ketujuh, lakukan perawatan kulit untuk menjaga integritasnya sebagai pertahanan pertama. Kedelapan, batasi pengunjung yang sakit dan lakukan isolasi protektif jika diperlukan. Kesembilan, pastikan imunisasi sesuai jadwal dan status (dengan pertimbangan kondisi imun). Kesepuluh, edukasi keluarga tentang pencegahan infeksi di rumah, seperti kebersihan makanan/minuman, lingkungan, dan mengenali tanda infeksi yang perlu segera dilaporkan.
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: B.2.1
Deskripsi Singkat: Risiko mengalami penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstisial, atau intraselular.
Kode SLKI: B.2.1.1
Deskripsi : Keseimbangan cairan tercapai. Ditandai dengan: 1) Tanda-tanda vital stabil (terutama nadi dan tekanan darah), 2) Turgor kulit elastis, membran mukosa lembab, tidak ada mata cekung, 3) Balance cairan intake dan output seimbang, 4) Berat badan stabil (tidak fluktuasi akut), 5) Frekuensi dan konsistensi BAB normal (tidak diare), 6) Tidak ada muntah, 7) Nilai laboratorium terkait (seperti elektrolit, hematokrit) dalam batas normal, 8) Anak tidak menunjukkan tanda haus berlebihan atau penurunan produksi urin.
Kode SIKI: B.2.1.1.1 - B.2.1.1.10
Deskripsi : Intervensi keperawatan difokuskan pada pemantauan dan koreksi kehilangan cairan. Pertama, pantau tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, mata cekung, fontanel, membran mukosa) setiap shift. Kedua, ukur dan catat intake (minum, infus) dan output (urin, diare, muntah) secara akurat. Ketiga, timbang berat badan harian dengan timbangan yang sama dan waktu yang konsisten. Keempat, kolaborasi pemberian terapi rehidrasi oral (oralit) atau intravena sesuai protokol dan kondisi anak. Kelima, berikan cairan secara bertahap dan kecil-sering jika ada muntah. Keenam, pantau frekuensi dan karakter diare serta muntah. Ketujuh, kolaborasi pemberian terapi antidiare atau antiemetik sesuai resep. Kedelapan, pantau hasil pemeriksaan elektrolit dan berikan koreksi sesuai kolaborasi. Kesembilan, berikan edukasi kepada orang tua tentang cara pemberian cairan yang aman di rumah dan tanda dehidrasi yang harus diwaspadai. Kesepuluh, atur lingkungan yang nyaman untuk mengurangi kehilangan cairan melalui keringat.
Kondisi: Kecemasan Orang Tua
Kode SDKI: D.4.1
Deskripsi Singkat: Perasaan gelisah, khawatir, atau ketakutan yang dialami orang tua/keluarga terkait kondisi kesehatan anak dan perawatan yang diberikan.
Kode SLKI: D.4.1.1
Deskripsi : Kecemasan orang tua berkurang. Ditandai dengan: 1) Orang tua dapat mengungkapkan perasaan dan kekhawatirannya, 2) Orang tua menunjukkan pemahaman tentang kondisi anak dan rencana perawatan, 3) Ekspresi wajah dan bahasa tubuh orang tua lebih tenang, 4) Orang tua dapat berpartisipasi aktif dalam perawatan anak, 5) Orang tua dapat mengidentifikasi sumber dukungan yang dimiliki, 6) Orang tua menunjukkan kemampuan koping yang adaptif, 7) Orang tua mengajukan pertanyaan yang relevan tentang perawatan, 8) Pola tidur dan istirahat orang tua membaik.
Kode SIKI: D.4.1.1.1 - D.4.1.1.10
Deskripsi : Intervensi keperawatan berfokus pada dukungan psikologis dan edukasi. Pertama, bangun hubungan saling percaya dengan pendekatan empati dan komunikasi terapeutik. Kedua, dengarkan dengan aktif kekhawatiran dan pertanyaan orang tua tanpa menghakimi. Ketiga, berikan informasi yang jujur, jelas, dan konsisten tentang diagnosis HIV, malnutrisi, serta rencana pengobatan. Keempat, jelaskan semua prosedur perawatan yang akan dilakukan pada anak. Kelima, libatkan orang tua dalam perawatan sehari-hari sesuai kemampuan (seperti memegang, menyuapi, memandikan) untuk meningkatkan rasa kontrol. Keenam, ajarkan teknik manajemen stres sederhana (seperti napas dalam). Ketujuh, fasilitasi orang tua untuk bertemu dengan konselor atau kelompok dukungan (support group) bagi orang tua dengan anak HIV. Kedelapan, berikan pujian atas upaya dan keterlibatan orang tua dalam peraw
Article No. 24590 | 26 Mar 2026
Klinis : Mr. Arif Nugroho, a 30-year-old male, was brought to the Emergency Department after falling while playing basketball. The patient reported that he jumped to catch the ball and landed awkwardly on his left arm. Immediately after the fall, he felt severe pain in his left shoulder and noticed that he was unable to move his arm. He also stated that the shape of his shoulder looked unusual compared to normal. His teammates helped him sit down and brought him to the hospital. Upon arrival at the Emergency Department, the patient appeared uncomfortable and was holding his left arm close to his body. He complained of severe pain in his left shoulder, which he rated as 8 out of 10 on the pain scale. His vital signs were as follows: blood pressure 128/82 mmHg, heart rate 92 beats per minute, respiratory rate 20 breaths per minute, temperature 36.7°C, and oxygen saturation 98% on room air. Physical examination revealed visible deformity of the left shoulder with limited range of motion. The patient was unable to lift or rotate his left arm due to pain. Swelling and tenderness were noted around the shoulder joint. Neurovascular assessment showed that the radial pulse was present and capillary refill was less than two seconds. However, the patient complained of numbness around the shoulder area. An X-ray examination confirmed an anterior dislocation of the left shoulder joint without associated fracture. The physician performed a closed reduction procedure under analgesia. After the reduction, the patient’s arm was immobilized using a sling, and he was advised to rest the affected arm. The patient was admitted for short observation and pain management. During hospitalization, the patient continued to complain of moderate pain and expressed concern about how long it would take for him to return to his normal activities, including sports and work.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berikut adalah Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi Keperawatan untuk Mr. Arif Nugroho, yang disusun berdasarkan Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).