Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 17957 | 28 May 2025
Klinis : Seorang remaja putra umur 21 tahun, merasa cemas akibat mau ujian uji kompetensi. Muka murung, tegang, bingung. Sebutkan diagnosa SDKI, SLKI, SIKi dan NANDA
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi berikut:
Seorang remaja putra umur 21 tahun, merasa cemas akibat mau ujian uji kompetensi. Muka murung, tegang, bingung.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI:
a. Kecemasan (Anxiety)
Definisi: Perasaan tidak nyaman atau khawatir yang disertai dengan respons otonom, perasaan tertekan yang bersumber dari antisipasi bahaya. Gejala yang muncul pada kasus ini adalah muka murung, tegang, dan bingung.
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
a. Tingkat Kecemasan Terkendali (Anxiety Level: Controlled)
Definisi: Kemampuan individu untuk mengendalikan rasa cemas yang dialami pada tingkat yang tidak mengganggu.
Kriteria Hasil:
- Mampu mengidentifikasi penyebab kecemasan
- Mampu menggunakan teknik relaksasi untuk mengurangi kecemasan
- Mampu mengungkapkan perasaan cemas secara terbuka
- Mampu mempertahankan aktivitas dan pola tidur yang adekuat
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
a. Manajemen Kecemasan (Anxiety Management)
Definisi: Tindakan untuk mengendalikan rasa cemas yang dialami individu.
Aktivitas Keperawatan:
- Kaji tingkat kecemasan klien menggunakan skala pengukuran kecemasan
- Identifikasi penyebab dan faktor yang memengaruhi kecemasan klien
- Ajarkan teknik relaksasi (napas dalam, visualisasi, dll.) untuk mengurangi kecemasan
- Fasilitasi klien untuk mengungkapkan perasaan cemas secara terbuka
- Bantu klien mengembangkan strategi koping yang efektif untuk mengatasi kecemasan
- Kolaborasi dengan profesi lain (psikolog, konselor) jika diperlukan
Penjelasan rinci:
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai adalah "Kecemasan (Anxiety)" karena klien menunjukkan gejala-gejala kecemasan seperti muka murung, tegang, dan bingung akibat akan menghadapi ujian uji kompetensi. Tujuan Luaran (SLKI) yang diharapkan adalah "Tingkat Kecemasan Terkendali (Anxiety Level: Controlled)", dimana klien mampu mengendalikan rasa cemas yang dialami sehingga tidak mengganggu aktivitas dan pola tidurnya. Intervensi Keperawatan (SIKI) yang diperlukan adalah "Manajemen Kecemasan (Anxiety Management)" yang meliputi pengkajian, identifikasi penyebab, pemberian teknik relaksasi, fasilitasi pengungkapan perasaan, pengembangan strategi koping, serta kolaborasi dengan profesi lain jika diperlukan. Melalui intervensi ini, diharapkan klien dapat mencapai luaran yang diharapkan, yaitu mampu mengendalikan kecemasan yang dialami. -
Article No. 17958 | 28 May 2025
Klinis : Seorang remaja putra umur 21 tahun, merasa cemas akibat mau ujian uji kompetensi. Muka murung, tegang, bingung. Sebutkan diagnosa ICD
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis yang sesuai dengan kondisi yang Anda deskripsikan.
1. Kode ICD-10:
- Kode: F41.0
- Deskripsi: Gangguan Kecemasan Panik
Penjelasan:
Berdasarkan gejala yang dialami oleh pasien, yaitu merasa cemas akibat akan menghadapi ujian uji kompetensi, dengan manifestasi klinis berupa muka murung, tegang, dan bingung, maka diagnosis yang paling sesuai adalah Gangguan Kecemasan Panik (F41.0) menurut Klasifikasi Internasional Penyakit-10 (ICD-10). Gangguan kecemasan panik adalah kondisi di mana individu mengalami serangan kecemasan yang datang tiba-tiba dan tidak terduga, disertai dengan gejala fisik yang menimbulkan rasa ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Tidak ada kode ICD-9-CM prosedur/tindakan medis yang sesuai, karena tidak terdapat informasi mengenai tindakan medis yang dilakukan pada pasien.
Dalam kasus ini, penanganan yang mungkin diberikan adalah berupa pendekatan psikologis, seperti konseling atau terapi kognitif-perilaku, untuk membantu pasien mengelola kecemasannya dalam menghadapi ujian uji kompetensi. Namun, tidak ada informasi spesifik mengenai tindakan medis yang dilakukan, sehingga tidak ada kode ICD-9-CM prosedur/tindakan medis yang dapat diberikan. -
Article No. 17959 | 28 May 2025
Klinis : halusinasi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI untuk kondisi halusinasi, dengan tone akademis dan persona sebagai pakar perawat.
Diagnosa Keperawatan:
Halusinasi (NANDA-I: 00059)
Definisi:
Persepsi sensori palsu yang terjadi dalam ketiadaan stimulus eksternal yang sebenarnya.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Kode: 00056
Judul: Halusinasi
Definisi: Persepsi sensorik palsu yang terjadi dalam ketiadaan stimulus eksternal yang sebenarnya.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Kode: 00056
Judul: Perilaku Halusinasi Terkontrol
Definisi: Kemampuan klien untuk mengenali, mengontrol, dan merespons halusinasi secara adaptif.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Kode: 00056
Judul: Manajemen Halusinasi
Definisi: Serangkaian tindakan keperawatan yang dilakukan untuk membantu klien dalam mengenali, mengontrol, dan merespons halusinasi secara adaptif.
Penjelasan Singkat:
Halusinasi adalah persepsi sensorik palsu yang terjadi tanpa adanya stimulus eksternal yang sebenarnya. Diagnosa keperawatan ini berkaitan dengan kemampuan klien untuk mengenali, mengontrol, dan merespons halusinasi secara adaptif. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) menyediakan definisi dan kode untuk halusinasi, Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) menyediakan definisi dan kode untuk perilaku halusinasi terkontrol, dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) menyediakan definisi dan kode untuk manajemen halusinasi. Penggunaan SDKI, SLKI, dan SIKI membantu perawat dalam menerapkan proses keperawatan secara terstruktur dan komprehensif. -
Article No. 17960 | 28 May 2025
Klinis : Anak C usia 15 tahun adalah korban perkosaan yang dilakukan oleh orang yang tidak dikenal. Anak C selalu menangis, tidak mau keluar kamar dan menolak bertemu dengan semua orang kecuali ibunya. Saat perawat melakukan kunjungan rumah anak C mengatakan hidupnya hancur, tidak berguna, dan ingin mati. Apakah Diagnosa keperawatan aktual pasien tersebut?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda paparkan, berikut adalah Diagnosa Keperawatan aktual yang dapat ditetapkan untuk pasien Anak C:
1. Diagnosa Keperawatan:
Kode: 00150
Judul: Resiko Bunuh Diri
Definisi: Keadaan di mana individu memiliki niat dan/atau rencana untuk menghilangkan nyawa sendiri.
Penjelasan:
Anak C menunjukkan tanda-tanda depresi yang signifikan, seperti selalu menangis, tidak mau keluar kamar, menolak bertemu orang lain, dan menyatakan keinginan untuk mati. Hal ini menempatkannya pada risiko tinggi untuk melakukan tindakan bunuh diri. Diagnosa keperawatan ini perlu segera ditangani untuk mencegah terjadinya upaya bunuh diri.
2. Diagnosa Keperawatan:
Kode: 00124
Judul: Disfungsi Seksual
Definisi: Perubahan dalam fungsi seksual yang dianggap tidak memuaskan, tidak sesuai, atau tidak diharapkan oleh individu.
Penjelasan:
Anak C mengalami trauma akibat peristiwa perkosaan yang dialaminya. Hal ini dapat menyebabkan disfungsi seksual, seperti ketakutan, kecemasan, atau penolakan terhadap aktivitas seksual di masa depan. Diagnosa ini perlu dipertimbangkan untuk membantu Anak C memulihkan kesehatan seksualnya.
3. Diagnosa Keperawatan:
Kode: 00146
Judul: Kecemasan
Definisi: Respon emosional dan fisiologis individu terhadap sumber ancaman yang tidak jelas atau tidak diketahui.
Penjelasan:
Anak C menunjukkan gejala kecemasan yang ditandai dengan selalu menangis, tidak mau keluar kamar, dan menolak bertemu dengan orang lain. Diagnosa ini perlu ditangani untuk membantu Anak C mengatasi kecemasan dan memulihkan kondisi psikologisnya.
Berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), diagnosa keperawatan aktual yang dapat ditetapkan untuk Anak C adalah Risiko Bunuh Diri, Disfungsi Seksual, dan Kecemasan. -
Article No. 17961 | 28 May 2025
Klinis : Seorang laki-laki usia 16 tahun diantar ke UGD dengan diare disertai muntah-muntah. Hasil pemeriksaan didapat akral teraba dingin, turgor kulit kurang elastis, mukosa membran mulut kering, frekuensi denyut nadi 120x/menit, teraba lemah, tekanan darah 90/60 mmHg. Pasien menunjukkan mengalami hypovolemia yang disebabkan oleh output masif.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
1. Diagnosa Keperawatan:
Hipovolemia
2. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Kode: 00027
Definisi: Penurunan volume cairan intravaskular yang menyebabkan penurunan volume darah yang beredar.
3. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Kode: 00011
Judul: Keseimbangan Cairan
Definisi: Tercapainya dan dipertahankannya volume dan komposisi cairan tubuh yang sesuai.
4. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Kode: 01302
Judul: Manajemen Cairan
Definisi: Serangkaian tindakan yang dilakukan untuk mengatur dan mempertahankan keseimbangan cairan tubuh.
Penjelasan Singkat:
Pasien mengalami hipovolemia, yaitu penurunan volume cairan intravaskular yang menyebabkan penurunan volume darah yang beredar. Hal ini ditandai dengan akral teraba dingin, turgor kulit kurang elastis, mukosa membran mulut kering, frekuensi denyut nadi tinggi, teraba lemah, dan tekanan darah rendah. Tujuan utama penatalaksanaan keperawatan adalah untuk mempertahankan keseimbangan cairan tubuh (SLKI) melalui manajemen cairan (SIKI) yang sesuai, seperti pemberian cairan intravena, monitoring intake dan output, serta pemantauan tanda-tanda vital. -
Article No. 17962 | 28 May 2025
Klinis : Anak C usia 15 tahun adalah korban perkosaan yang dilakukan oleh orang yang tidak dikenal. Anak C selalu menangis, tidak mau keluar kamar dan menolak bertemu dengan semua orang kecuali ibunya. Saat perawat melakukan kunjungan rumah anak C mengatakan hidupnya hancur, tidak berguna, dan ingin mati. Apakah Diagnosa keperawatan aktual pasien tersebut?
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan analisis yang rinci dan terperinci terkait diagnosa keperawatan, luaran yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk kondisi anak C yang merupakan korban perkosaan.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosa keperawatan aktual yang sesuai untuk kondisi anak C adalah:
1. Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah Kronis
Anak C menunjukkan gejala-gejala harga diri rendah yang kronis, seperti merasa hidupnya hancur, tidak berguna, dan ingin mati. Hal ini merupakan dampak psikologis yang sering dialami oleh korban perkosaan.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Peningkatan Harga Diri
Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan anak C dapat meningkatkan harga dirinya dan memiliki pandangan positif terhadap dirinya sendiri. Indikator keberhasilan dapat dilihat dari:
a. Anak C mampu mengidentifikasi hal-hal positif dalam dirinya
b. Anak C mampu mengekspresikan perasaan dan pikiran secara terbuka
c. Anak C mampu membuat rencana untuk mencapai tujuan hidup yang bermakna
2. Penurunan Gejala Depresi
Selain peningkatan harga diri, diharapkan asuhan keperawatan dapat menurunkan gejala depresi yang dialami anak C, seperti selalu menangis, tidak mau keluar kamar, dan menginginkan kematian. Indikator keberhasilan dapat dilihat dari:
a. Anak C mampu mengontrol emosi negatif yang muncul
b. Anak C mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri
c. Anak C mampu mengekspresikan harapan dan keinginan untuk hidup
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Terapi Kognitif Perilaku (Cognitive Behavioral Therapy/CBT)
Intervensi ini bertujuan untuk membantu anak C mengubah pola pikir negatif menjadi lebih positif dan adaptif. Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan:
a. Identifikasi dan restrukturisasi kognitif negatif
b. Latihan pemecahan masalah
c. Relaksasi dan manajemen stres
2. Terapi Supportif
Intervensi ini bertujuan untuk memberikan dukungan emosional dan psikologis bagi anak C. Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan:
a. Konseling individual
b. Terapi kelompok dengan sesama korban perkosaan
c. Melibatkan keluarga dalam proses penyembuhan
3. Edukasi dan Pengembangan Keterampilan
Intervensi ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anak C dalam mengelola kondisinya. Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan:
a. Edukasi tentang dampak psikologis perkosaan dan cara mengatasi
b. Pelatihan manajemen stres dan koping adaptif
c. Pengembangan keterampilan sosial dan komunikasi
Keseluruhan intervensi keperawatan ini diharapkan dapat membantu anak C dalam meningkatkan harga diri, menurunkan gejala depresi, dan mencapai kualitas hidup yang lebih baik. -
Article No. 17963 | 28 May 2025
Klinis : pasien datang dengan gatal - gatal
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci terkait dengan kondisi pasien yang datang dengan keluhan gatal-gatal, berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI).
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi pasien dengan keluhan gatal-gatal adalah "Intoleransi Aktivitas" (SDKI, 2017). Intoleransi Aktivitas didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan atau diperlukan, yang disebabkan oleh perasaan tidak nyaman atau ketidakstabilan fisiologis.
Dalam kasus gatal-gatal, pasien dapat mengalami keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari akibat rasa gatal yang mengganggu. Hal ini dapat menyebabkan gangguan dalam melakukan perawatan diri, pekerjaan, dan aktivitas lainnya.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Toleransi Aktivitas Meningkat
- Kriteria hasil: Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa mengalami rasa gatal yang mengganggu.
- Indikator: Pasien dapat melakukan aktivitas perawatan diri, pekerjaan, dan aktivitas lainnya tanpa kendala.
2. Kenyamanan Meningkat
- Kriteria hasil: Pasien merasa nyaman dan bebas dari rasa gatal.
- Indikator: Pasien menunjukkan ekspresi wajah dan perilaku yang rileks, serta dapat beristirahat dengan nyaman.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Gatal
- Tujuan: Mengurangi rasa gatal yang dialami pasien.
- Aktivitas:
- Identifikasi penyebab dan faktor-faktor yang memicu gatal.
- Berikan obat-obatan topikal atau sistemik sesuai dengan resep dokter.
- Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi untuk mengurangi rasa gatal.
- Anjurkan pasien untuk menghindari bahan-bahan yang dapat memicu gatal.
- Ajarkan pasien untuk merawat kulit dengan lembut dan menggunakan pelembab.
2. Manajemen Aktivitas
- Tujuan: Membantu pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
- Aktivitas:
- Identifikasi kemampuan dan keterbatasan pasien dalam melakukan aktivitas.
- Berikan bantuan atau alat bantu sesuai kebutuhan pasien.
- Ajarkan teknik-teknik untuk melakukan aktivitas dengan nyaman.
- Dorong pasien untuk melakukan aktivitas secara bertahap sesuai dengan toleransinya.
- Kolaborasi dengan tim kesehatan lain (fisioterapis, okupasi terapis) untuk rehabilitasi, jika diperlukan.
3. Manajemen Kenyamanan
- Tujuan: Meningkatkan kenyamanan pasien.
- Aktivitas:
- Identifikasi sumber rasa tidak nyaman yang dirasakan pasien.
- Berikan intervensi untuk mengurangi rasa gatal, seperti penggunaan obat-obatan topikal atau sistemik.
- Ajarkan teknik relaksasi, distraksi, dan manajemen stres untuk meningkatkan kenyamanan.
- Ciptakan lingkungan yang nyaman dan mendukung pemulihan pasien.
- Kolaborasi dengan tim kesehatan lain (psikolog, ahli nutrisi) jika diperlukan.
Melalui diagnosa keperawatan yang tepat, luaran yang jelas, dan intervensi keperawatan yang komprehensif, diharapkan pasien dengan keluhan gatal-gatal dapat memperoleh perawatan yang efektif dan mencapai hasil yang optimal. -
Article No. 17964 | 28 May 2025
Klinis : kaki kiri yang terdapat luka membuat tn. S terbatas aktivitasnya, dan saat melakukan aktivitas membutuhkan bantuan keluarga sehingga tn. S merasa sering merepotkan keluarganya dan tidak bisa lagi ke ladang untuk bekerja.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan kondisi yang dipaparkan, diagnosis dan tindakan medis yang sesuai adalah sebagai berikut:
1. Kode ICD-10:
- Kode: L97.2
- Deskripsi: Ulkus lain pada anggota badan bawah, tidak diklasifikasikan di tempat lain
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 97.02
- Deskripsi: Debridemen luka ulkus atau jaringan nekrosis, anggota badan bawah
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 L97.2 menggambarkan kondisi Tn. S, yaitu adanya luka pada kaki kiri yang membuatnya terbatas dalam beraktivitas dan membutuhkan bantuan keluarga. Kode ini menunjukkan ulkus lain pada anggota badan bawah, yang tidak diklasifikasikan di tempat lain.
2. Kode ICD-9-CM Procedure 97.02 menunjukkan bahwa Tn. S mungkin memerlukan tindakan debridemen luka ulkus atau jaringan nekrosis pada anggota badan bawah. Debridemen merupakan prosedur pembersihan dan penyingkiran jaringan mati atau nekrotik dari luka, untuk memfasilitasi penyembuhan.
Berdasarkan kondisi Tn. S yang terbatas dalam beraktivitas dan membutuhkan bantuan keluarga, serta tidak dapat lagi bekerja di ladang, tindakan medis yang tepat adalah melakukan perawatan luka yang komprehensif, termasuk debridemen luka jika diperlukan, serta pemberian bantuan dan dukungan yang sesuai untuk meningkatkan kemandirian Tn. S dalam beraktivitas sehari-hari. -
Article No. 17965 | 28 May 2025
Klinis : kaki kiri yang terdapat luka membuat tn. S terbatas aktivitasnya, dan saat melakukan aktivitas membutuhkan bantuan keluarga sehingga tn. S merasa sering merepotkan keluarganya dan tidak bisa lagi ke ladang untuk bekerja.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang Anda sampaikan dengan nada akademis dan persona sebagai pakar perawat.
Diagnosa Keperawatan:
1. Keterbatasan Mobilitas Fisik (SDKI: Kode D.0101)
Definisi: Keterbatasan dalam gerakan fisik yang disengaja dan terkontrol dari satu atau lebih ekstremitas.
2. Beban Perawatan Keluarga (SDKI: Kode D.0112)
Definisi: Persepsi kesulitan dalam memenuhi tanggung jawab perawatan terhadap anggota keluarga.
3. Gangguan Aktivitas Produktif (SDKI: Kode D.0117)
Definisi: Penurunan atau tidak adanya kemampuan untuk terlibat dalam aktivitas yang menghasilkan manfaat atau keuntungan.
Penjelasan SDKI, SLKI, dan SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) merupakan standar yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk menentukan diagnosa keperawatan yang sesuai dengan kondisi pasien. Kode-kode tersebut digunakan untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan diagnosa keperawatan yang ditemukan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) adalah standar yang ditetapkan untuk menentukan hasil akhir yang diharapkan dari intervensi keperawatan yang dilakukan. SLKI memberikan panduan dalam mengevaluasi efektivitas intervensi keperawatan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) adalah standar yang ditetapkan untuk menentukan tindakan keperawatan yang dapat dilakukan untuk mencapai hasil yang diharapkan. SIKI memberikan panduan dalam merencanakan dan melaksanakan intervensi keperawatan yang sesuai dengan diagnosa keperawatan.
Dalam kasus Tn. S, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Keterbatasan Mobilitas Fisik, Beban Perawatan Keluarga, dan Gangguan Aktivitas Produktif. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan mencakup peningkatan mobilitas, dukungan bagi keluarga, dan rehabilitasi untuk membantu Tn. S kembali melakukan aktivitas produktif. -
Article No. 17966 | 28 May 2025
Klinis : kaki kiri yang terdapat luka membuat tn. S terbatas aktivitasnya, dan saat melakukan aktivitas membutuhkan bantuan keluarga sehingga tn. S merasa sering merepotkan keluarganya dan tidak bisa lagi ke ladang untuk bekerja.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang dideskripsikan, berikut adalah diagnosa keperawatan, luaran/output yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang diperlukan:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Mobilitas Fisik Terganggu
Definisi: Keterbatasan dalam gerakan fisik yang disengaja dan mandiri di lingkungan.
Karakteristik Mayor: Keterbatasan dalam aktivitas sehari-hari, Keterbatasan dalam berpindah tempat.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Mobilitas
- Klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan mandiri.
- Klien dapat berpindah tempat dengan aman dan mandiri.
- Klien dapat kembali bekerja di ladang tanpa bantuan orang lain.
2. Peran
- Klien dapat melakukan peran sebagai anggota keluarga dengan baik.
- Klien tidak lagi merasa menjadi beban bagi keluarganya.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan (SIKI):
1. Manajemen Aktivitas
- Lakukan pengkajian menyeluruh mengenai kemampuan klien dalam aktivitas sehari-hari.
- Kolaborasikan dengan tim kesehatan lain (fisioterapis, okupasi terapis) untuk menyusun rencana peningkatan mobilitas.
- Ajarkan teknik-teknik pergerakan yang aman dan efektif untuk membantu klien dalam melakukan aktivitas.
- Berikan motivasi dan dukungan kepada klien untuk melakukan aktivitas secara mandiri.
2. Manajemen Peran
- Kaji peran dan tanggung jawab klien dalam keluarga.
- Berikan edukasi kepada keluarga mengenai kondisi klien dan kemampuannya saat ini.
- Kolaborasikan dengan keluarga untuk menyusun rencana dukungan yang sesuai dengan kondisi klien.
- Dorong klien untuk terlibat dalam aktivitas keluarga sesuai dengan kemampuannya.
- Bantu klien dalam menyesuaikan perannya di dalam keluarga.
Penjelasan:
Diagnosa keperawatan "Mobilitas Fisik Terganggu" dipilih karena klien mengalami keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan berpindah tempat akibat luka di kaki kirinya. Luaran/output yang diharapkan adalah klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dan berpindah tempat secara mandiri, serta dapat kembali menjalankan perannya dalam keluarga tanpa merasa menjadi beban.
Intervensi keperawatan yang diperlukan mencakup manajemen aktivitas untuk membantu klien meningkatkan mobilitas dan kemandirian, serta manajemen peran untuk membantu klien menyesuaikan perannya dalam keluarga. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain dan melibatkan keluarga sangat penting dalam mencapai tujuan asuhan keperawatan.