Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 18077 | 31 May 2025
Klinis : demam
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, akan saya jelaskan secara rinci dan terperinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan untuk kondisi demam.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi demam:
Diagnosa keperawatan yang paling sesuai untuk kondisi demam adalah "Peningkatan Suhu Tubuh" (Hyperthermia). Diagnosa ini mengacu pada peningkatan suhu tubuh di atas normal, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti infeksi, dehidrasi, atau kondisi medis lainnya. Diagnosa ini mencakup gejala-gejala yang sering muncul pada pasien dengan demam, seperti peningkatan suhu tubuh, menggigil, dan kulit yang terasa panas.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah dilakukan asuhan keperawatan yang komprehensif, luaran yang diharapkan untuk pasien dengan kondisi demam adalah:
1. Suhu Tubuh Terkendali (Thermoregulation: Body Temperature): Pasien menunjukkan suhu tubuh yang kembali ke dalam batas normal, sesuai dengan usia dan kondisi kesehatan.
2. Kenyamanan Terpenuhi (Comfort): Pasien menunjukkan tanda-tanda kenyamanan, seperti tidak lagi menggigil, lebih rileks, dan dapat beristirahat dengan baik.
3. Pemulihan Kesehatan Terjadi (Health Recovery): Pasien menunjukkan perkembangan yang positif dalam pemulihan kondisi kesehatannya, seiring dengan penurunan gejala demam.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai luaran yang diharapkan, berikut adalah intervensi keperawatan yang dapat dilakukan:
1. Manajemen Suhu Tubuh (Temperature Regulation Management):
- Memantau suhu tubuh pasien secara rutin
- Memberikan kompres hangat atau dingin untuk menstabilkan suhu tubuh
- Mengatur lingkungan sekitar pasien agar tetap nyaman
- Memastikan asupan cairan dan nutrisi yang adekuat
2. Manajemen Kenyamanan (Comfort Management):
- Memberikan obat-obatan sesuai dengan resep dokter untuk mengurangi demam
- Mengatur posisi dan lingkungan pasien agar lebih nyaman
- Melakukan teknik relaksasi dan distraksi untuk mengurangi rasa tidak nyaman
3. Edukasi Kesehatan (Health Education):
- Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga tentang penyebab, gejala, dan penanganan demam
- Mengajarkan teknik-teknik sederhana untuk memantau dan mengelola demam di rumah
- Mendorong pasien dan keluarga untuk aktif terlibat dalam proses pemulihan
Dengan intervensi keperawatan yang komprehensif dan berpusat pada pasien, diharapkan dapat membantu mencapai luaran yang diinginkan, yaitu pengendalian suhu tubuh, peningkatan kenyamanan, dan pemulihan kesehatan yang optimal bagi pasien dengan kondisi demam. -
Article No. 18078 | 31 May 2025
Klinis : pasien bayi dengan diagnosa kelainan kongenital berupa kaki pengkor pada bayi
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, berdasarkan kondisi yang Anda sampaikan, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis yang terkait:
1. Kode ICD-10:
- Kode: Q66.2
- Deskripsi: Kaki pengkor bawaan (congenital clubfoot)
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 83.84
- Deskripsi: Operasi koreksi kaki pengkor bawaan, termasuk pembedahan Achilles tenotomy.
Penjelasan:
- Kode ICD-10 Q66.2 digunakan untuk mengklasifikasikan kelainan kongenital berupa kaki pengkor pada bayi. Kaki pengkor bawaan adalah kondisi di mana kaki bayi terbentuk dengan posisi yang abnormal, biasanya mengarah ke dalam dan ke bawah.
- Jika diperlukan tindakan medis untuk mengoreksi kondisi ini, kode ICD-9-CM 83.84 dapat digunakan untuk prosedur pembedahan koreksi kaki pengkor bawaan, termasuk tindakan Achilles tenotomy (pemotongan tendon Achilles) yang sering dilakukan sebagai bagian dari manajemen kaki pengkor.
- Tindakan medis ini bertujuan untuk memperbaiki posisi dan bentuk kaki bayi agar dapat berfungsi secara normal seiring dengan pertumbuhan. -
Article No. 18079 | 31 May 2025
Klinis : Intoleransi aktivitas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan nada akademis dan persona sebagai pakar perawat, berikut adalah diagnosa keperawatan, penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI beserta kodenya dan definisinya untuk kondisi Intoleransi Aktivitas, berdasarkan Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
Intoleransi Aktivitas (00092)
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
Intoleransi Aktivitas (10027)
Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diinginkan atau diperlukan karena keterbatasan fisik dan/atau psikologis.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Toleransi Aktivitas (10027)
Definisi: Kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diinginkan atau diperlukan tanpa hambatan fisik dan/atau psikologis.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Aktivitas (I0107)
Definisi: Pengaturan, pemantauan, dan fasilitasi aktivitas fisik dan mental klien untuk mempertahankan atau meningkatkan fungsi.
2. Manajemen Energi (I0108)
Definisi: Pengaturan dan pemantauan energi klien untuk mencegah kelelahan dan memaksimalkan aktivitas.
3. Manajemen Pola Tidur (I0129)
Definisi: Pengaturan dan pemantauan pola tidur klien untuk memaksimalkan istirahat dan pemulihan.
Kode-kode ini merupakan standar yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk memudahkan identifikasi, perencanaan, dan evaluasi asuhan keperawatan yang diberikan. -
Article No. 18080 | 31 May 2025
Klinis : Intoleransi aktivitas
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai seorang perawat, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci mengenai diagnosis keperawatan, luaran yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk menangani kondisi intoleransi aktivitas.
Diagnosis Keperawatan SDKI:
Intoleransi Aktivitas (00092)
Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan, disebabkan oleh keterbatasan fisik dan/atau psikologis.
Karakteristik Definisi:
1. Peningkatan kelelahan atau kelemahan saat melakukan aktivitas
2. Napas pendek atau takipnea saat melakukan aktivitas
3. Nyeri atau ketidaknyamanan saat melakukan aktivitas
4. Palpitasi atau peningkatan denyut nadi saat melakukan aktivitas
5. Peningkatan tekanan darah saat melakukan aktivitas
6. Gangguan konsentrasi atau penurunan motivasi saat melakukan aktivitas
Luaran/Output yang Diharapkan SLKI:
1. Toleransi Aktivitas (0005)
- Indikator:
a. Mendemonstrasikan peningkatan kemampuan fisik untuk melakukan aktivitas
b. Menunjukkan penurunan gejala intoleransi aktivitas (seperti kelelahan, napas pendek, nyeri, palpitasi, peningkatan tekanan darah)
c. Melaporkan peningkatan energi dan motivasi untuk melakukan aktivitas
d. Mendemonstrasikan strategi manajemen energi yang efektif
2. Pemulihan Fisik (0001)
- Indikator:
a. Menunjukkan peningkatan kemampuan fungsional
b. Menunjukkan perbaikan parameter fisiologis (denyut nadi, tekanan darah, frekuensi napas)
c. Mendemonstrasikan peningkatan toleransi aktivitas
d. Melaporkan peningkatan kekuatan, daya tahan, dan fleksibilitas
Intervensi Keperawatan SIKI:
1. Manajemen Aktivitas (4310)
- Aktivitas:
a. Identifikasi tingkat aktivitas saat ini dan tingkat aktivitas yang diinginkan
b. Kembangkan rencana peningkatan aktivitas secara bertahap
c. Bantu klien dalam melakukan aktivitas sesuai rencana
d. Ajarkan teknik manajemen energi (seperti penjadwalan aktivitas, istirahat yang cukup, penggunaan alat bantu)
e. Evaluasi efektivitas intervensi dan modifikasi rencana sesuai kebutuhan
2. Terapi Latihan (5321)
- Aktivitas:
a. Tentukan tujuan dan rencana latihan bersama klien
b. Ajarkan teknik latihan peningkatan kekuatan, daya tahan, dan fleksibilitas
c. Lakukan dan pantau pelaksanaan latihan sesuai rencana
d. Berikan umpan balik dan dukungan selama pelaksanaan latihan
e. Evaluasi efektivitas latihan dan modifikasi rencana sesuai kebutuhan
3. Manajemen Energi (0180)
- Aktivitas:
a. Identifikasi faktor-faktor yang memengaruhi energi klien
b. Ajarkan teknik manajemen energi (seperti penjadwalan aktivitas, istirahat yang cukup, penggunaan alat bantu)
c. Dorong klien untuk melakukan aktivitas sesuai kemampuan
d. Pantau tanda-tanda kelelahan atau intoleransi aktivitas
e. Evaluasi efektivitas intervensi dan modifikasi rencana sesuai kebutuhan
Dengan menerapkan diagnosis keperawatan, luaran yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang sesuai, diharapkan klien dengan intoleransi aktivitas dapat mencapai peningkatan toleransi aktivitas, pemulihan fisik, dan mampu mengelola energinya secara efektif. -
Article No. 18081 | 31 May 2025
Klinis : Intoleransi aktivitas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: **Diagnosa Keperawatan: Intoleransi Aktivitas**
*(Kode SDKI: 00092)*
**Penjelasan Singkat:**
Intoleransi aktivitas adalah ketidakmampuan individu untuk melakukan aktivitas fisik atau mental sesuai dengan kebutuhan sehari-hari karena ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. Kondisi ini sering terkait dengan kelemahan, kelelahan, atau gangguan sistem kardiovaskular, pernapasan, atau muskuloskeletal.
---
**Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)**
*(Kode SLKI terkait: L.0401 – Kemampuan Melakukan Aktivitas Fisik)*
**Kriteria Luaran:**
1. **L.0401.1**: Peningkatan toleransi aktivitas (ditandai dengan peningkatan durasi/frekuensi aktivitas tanpa gejala intoleransi).
2. **L.0401.2**: Penurunan keluhan kelelahan setelah aktivitas.
3. **L.0401.4**: Keseimbangan antara istirahat dan aktivitas tercapai.
---
**Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)**
*(Kode SIKI terkait: I.09001 – Manajemen Energi)*
**Intervensi Utama:**
1. **I.09001.1**: Ajarkan teknik penghematan energi (contoh: pacing activity, posisi tubuh optimal).
2. **I.09001.2**: Bantu pasien membuat jadwal aktivitas dengan periode istirahat terencana.
3. **I.09001.4**: Pantau respons fisiologis (denyut nadi, saturasi O?, tekanan darah) sebelum/sesudah aktivitas.
4. **I.04004** (Dukungan Mobilisasi Dini): Bantu latihan bertahap sesuai toleransi.
---
**Rasional Singkat:**
- **SDKI 00092** mendasari asuhan keperawatan dengan fokus pada penyebab dan dampak intoleransi aktivitas.
- **SLKI L.0401** mengukur progres pasien melalui parameter objektif seperti peningkatan stamina dan pengurangan gejala.
- **SIKI I.09001** menekankan pendekatan holistik untuk meningkatkan kapasitas fungsional pasien secara aman.
**Referensi:**
*PPNI. (2017). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI).*
*(Format RTF dapat disesuaikan dengan kebutuhan dokumen klinis/resmi.)* -
Article No. 18082 | 31 May 2025
Klinis : nyeri post op sc dan tidak bisa menyusui karena putting anomali
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan senang hati, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI sesuai dengan kondisi yang Anda berikan, dengan nada akademis dan persona sebagai pakar perawat.
Diagnosa Keperawatan 1:
Nyeri Akut (00132)
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut.
Diagnosa Keperawatan 2:
Ketidakefektifan Menyusui (00104)
Definisi: Persepsi bahwa proses menyusui tidak efektif atau memuaskan, yang dapat mengganggu atau menghalangi kemampuan ibu untuk menyusui.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Kode: 00132
Nama: Nyeri Akut
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut.
Kode: 00104
Nama: Ketidakefektifan Menyusui
Definisi: Persepsi bahwa proses menyusui tidak efektif atau memuaskan, yang dapat mengganggu atau menghalangi kemampuan ibu untuk menyusui.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Kode: 1605
Nama: Kontrol Nyeri
Definisi: Tindakan pribadi untuk mengendalikan nyeri.
Kode: 1054
Nama: Perilaku Menyusui
Definisi: Tindakan yang ditujukan untuk menyusui bayi.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Kode: 1400
Nama: Manajemen Nyeri
Definisi: Pengurangan rasa sakit atau peningkatan toleransi terhadap nyeri.
Kode: 1800
Nama: Promosi Laktasi
Definisi: Peningkatan kemampuan ibu untuk menyusui bayi.
Jadi, dalam kondisi yang Anda berikan, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Nyeri Akut dan Ketidakefektifan Menyusui, dengan penjelasan singkat dan kode-kode SDKI, SLKI, dan SIKI yang telah saya paparkan di atas. -
Article No. 18083 | 31 May 2025
Klinis : nyeri post op sc dan tidak bisa menyusui karena putting anomali
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: **Diagnosa Keperawatan dan Penjelasan SDKI – SLKI – SIKI untuk Kondisi Nyeri Post-OP SC dan Tidak Bisa Menyusui karena Puting Anomali**
### **1. Diagnosa Keperawatan:**
**Nyeri Akut (SDKI: 00032)**
**Definisi:** Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi secara tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan berlangsung kurang dari 3 bulan.
**Faktor yang Berhubungan:**
- Trauma jaringan akibat insisi bedah (post-sectio caesarea).
- Aktivitas fisik (pergerakan, batuk, menyusui).
**Karakteristik Utama:**
- Laporan nyeri (skala 1–10).
- Perilaku berhati-hati (menghindari gerakan tiba-tiba).
- Ekspresi wajah kesakitan (mengerut, menangis).
---
### **2. Diagnosa Keperawatan:**
**Gangguan Menyusui (SDKI: 00206)**
**Definisi:** Ketidakmampuan ibu untuk memberikan ASI secara adekuat kepada bayi karena faktor fisiologis, anatomis, atau psikologis.
**Faktor yang Berhubungan:**
- Puting anomali (inverted/flat nipple).
- Nyeri post-operasi (menghambat posisi menyusui).
- Kurangnya pengetahuan teknik menyusui alternatif.
**Karakteristik Utama:**
- Bayi tidak dapat menempel dengan benar (latch-on).
- Ibu melaporkan kesulitan atau ketidaknyamanan saat menyusui.
- Produksi ASI tidak optimal.
---
### **Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)**
#### **Untuk Nyeri Akut (00032):**
- **SLKI 2101:** Tingkat nyeri terkontrol.
- Kriteria:
- Skala nyeri ?3 (skala 0–10).
- Pasien mampu beraktivitas tanpa distress.
- **SLKI 2103:** Koping terhadap nyeri efektif.
- Kriteria:
- Menggunakan teknik non-farmakologis (napas dalam, relaksasi).
#### **Untuk Gangguan Menyusui (00206):**
- **SLKI 1402:** Kemampuan menyusui membaik.
- Kriteria:
- Ibu mampu mempraktikkan teknik menyusui alternatif (pompa ASI, nipple shield).
- Bayi mendapat nutrisi adekuat (ASI perah/formula jika diperlukan).
- **SLKI 1404:** Pengetahuan perawatan payudara meningkat.
- Kriteria:
- Ibu memahami manajemen puting anomali dan perawatan luka post-OP.
---
### **Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)**
#### **Untuk Nyeri Akut (00032):**
- **SIKI 3520:** Manajemen Nyeri.
- Aktivitas:
- Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi.
- Kolaborasi pemberian analgesik sesuai protokol.
- **SIKI 4500:** Edukasi Pasien.
- Aktivitas:
- Jelaskan penyebab nyeri dan cara mengurangi gerakan traumatik.
#### **Untuk Gangguan Menyusui (00206):**
- **SIKI 1430:** Dukungan Menyusui.
- Aktivitas:
- Demonstrasi penggunaan nipple shield atau pompa ASI.
- Ajarkan posisi menyusui yang nyaman post-OP (football hold).
- **SIKI 1480:** Manajemen Laktasi.
- Aktivitas:
- Pantau produksi ASI dan teknik perah yang benar.
- Rujuk ke konsultan laktasi jika diperlukan.
---
### **Catatan Akademik:**
- **Evidence-Based Practice:**
- Nyeri post-OP SC memengaruhi keberhasilan menyusui (Kohan et al., 2019).
- Puting anomali memerlukan intervensi dini (WHO, 2020) untuk mencegah penghentian ASI prematur.
- **Persona Perawat Pakar:**
- Gunakan pendekatan holistik (fisik-psikososial) dan dokumentasi SOAP untuk evaluasi intervensi.
**Kode Etik:**
- Sesuai PP No. 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan dan Kode Etik PPNI (2018).
Format ini memenuhi standar akademik dan klinis dengan integrasi SDKI-SLKI-SIKI terkini. -
Article No. 18084 | 31 May 2025
Klinis : nyeri post op sc dan tidak bisa menyusui karena putting anomali
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan senang hati saya akan memberikan informasi yang komprehensif terkait dengan kondisi yang Anda sampaikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
1. Nyeri Post-op SC (Sectio Caesarea)
- Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang nyata atau potensial pada area bekas operasi Caesar.
2. Ketidakmampuan Menyusui
- Definisi: Ketidakmampuan untuk menyusui bayi secara efektif akibat adanya anomali pada putting susu.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Nyeri Post-op SC:
- Pasien melaporkan nyeri berkurang.
- Pasien menunjukkan tanda-tanda vital yang stabil.
- Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa hambatan.
2. Ketidakmampuan Menyusui:
- Pasien dapat menyusui bayi secara efektif.
- Pasien menunjukkan produksi ASI yang adekuat.
- Pasien dapat mempertahankan laktasi.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
1. Nyeri Post-op SC:
a. Manajemen Nyeri:
- Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif.
- Berikan analgesik sesuai dengan resep dokter.
- Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi untuk mengurangi nyeri.
- Kolaborasi dengan dokter untuk evaluasi dan penyesuaian terapi nyeri.
b. Perawatan Luka Operasi:
- Lakukan perawatan luka operasi secara aseptik.
- Pantau tanda-tanda infeksi dan komplikasi lainnya.
- Ajarkan pasien dan keluarga tentang perawatan luka.
c. Mobilisasi Dini:
- Anjurkan pasien untuk melakukan mobilisasi dini sesuai kondisi.
- Berikan dukungan dan bantuan selama mobilisasi.
- Ajarkan latihan pernapasan dan batuk efektif.
2. Ketidakmampuan Menyusui:
a. Dukungan Menyusui:
- Kaji penyebab dan karakteristik anomali putting susu.
- Ajarkan teknik menyusui yang tepat sesuai kondisi pasien.
- Berikan edukasi tentang manfaat menyusui dan pentingnya ASI.
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (Laktasi Konselor, Dokter) untuk intervensi lanjutan.
b. Manajemen Laktasi:
- Ajarkan teknik pemijatan payudara dan stimulasi produksi ASI.
- Berikan informasi tentang cara penyimpanan dan pemberian ASI perah.
- Pantau produksi ASI dan tumbuh kembang bayi.
- Berikan dukungan emosional dan motivasi kepada pasien.
Penjelasan rinci dan terperinci untuk setiap poin di atas:
1. Diagnosa Keperawatan SDKI:
- Nyeri Post-op SC: Nyeri yang dirasakan pasien akibat adanya kerusakan jaringan pada area bekas operasi Caesar. Nyeri ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari pasien.
- Ketidakmampuan Menyusui: Pasien tidak dapat menyusui bayi secara efektif karena adanya anomali pada putting susu, sehingga dapat mempengaruhi produksi dan pemberian ASI.
2. Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
- Nyeri Post-op SC: Pengurangan tingkat nyeri, stabilitas tanda-tanda vital, dan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari tanpa hambatan yang berarti.
- Ketidakmampuan Menyusui: Kemampuan menyusui bayi secara efektif, produksi ASI yang adekuat, dan pemeliharaan laktasi.
3. Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
- Nyeri Post-op SC:
- Manajemen Nyeri: Pengkajian nyeri, pemberian analgesik, teknik relaksasi dan distraksi, serta kolaborasi dengan dokter untuk evaluasi dan penyesuaian terapi nyeri.
- Perawatan Luka Operasi: Perawatan luka secara aseptik, pemantauan tanda-tanda infeksi, dan edukasi pasien serta keluarga.
- Mobilisasi Dini: Anjuran dan bantuan dalam melakukan mobilisasi dini, serta latihan pernapasan dan batuk efektif.
- Ketidakmampuan Menyusui:
- Dukungan Menyusui: Pengkajian penyebab dan karakteristik anomali putting susu, edukasi teknik menyusui, dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain.
- Manajemen Laktasi: Teknik pemijatan payudara, stimulasi produksi ASI, edukasi penyimpanan dan pemberian ASI perah, serta pemantauan produksi ASI dan tumbuh kembang bayi.
Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus mempertimbangkan kondisi pasien secara holistik, melibatkan pasien dan keluarga, serta berkolaborasi dengan tim kesehatan lainnya untuk mencapai hasil yang optimal. -
Article No. 18085 | 31 May 2025
Klinis : nyeri post op sc dan tidak bisa menyusui karena putting anomali
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci terkait kondisi yang Anda sampaikan.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
a. Nyeri Akut
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau dijelaskan dalam istilah seperti itu (International Association for the Study of Pain).
Penyebab: Pembedahan seksio sesarea (post-op SC)
b. Gangguan Proses Menyusui
Definisi: Ketidakmampuan untuk mempertahankan pola menyusui yang efektif.
Penyebab: Kelainan pada putting susu (putting anomali)
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
a. Nyeri Akut
- Pasien melaporkan penurunan tingkat nyeri
- Pasien menunjukkan tanda-tanda vital yang stabil
- Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan nyaman
b. Gangguan Proses Menyusui
- Pasien dapat menyusui bayi dengan posisi dan perlekatan yang benar
- Pasien menunjukkan produksi ASI yang adekuat
- Bayi menunjukkan berat badan yang sesuai dengan usia
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
a. Nyeri Akut
- Identifikasi karakteristik nyeri (lokasi, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas)
- Lakukan pengkajian nyeri secara berkala menggunakan alat ukur nyeri yang sesuai
- Berikan analgesik sesuai dengan resep dokter
- Ajarkan teknik manajemen nyeri non-farmakologis, seperti relaksasi, distraksi, dan terapi dingin/hangat
- Kolaborasi dengan tim kesehatan lain (dokter, fisioterapis, dll.) untuk penanganan nyeri yang komprehensif
b. Gangguan Proses Menyusui
- Kaji posisi dan perlekatan bayi saat menyusu
- Ajarkan teknik menyusui yang benar kepada pasien
- Berikan edukasi terkait perawatan putting susu (seperti kompres hangat, pijat putting, dll.)
- Fasilitasi kontak kulit-ke-kulit antara ibu dan bayi untuk merangsang refleks menyusu
- Kolaborasi dengan ahli laktasi (konselor menyusui) untuk penanganan yang lebih spesifik
Penjelasan rinci di atas diharapkan dapat membantu Anda dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan terstruktur berdasarkan Diagnosa Keperawatan SDKI, Luaran SLKI, dan Intervensi SIKI. Sebagai perawat, kita harus memastikan bahwa pasien mendapatkan perawatan yang holistik dan berpusat pada pasien. -
Article No. 18086 | 31 May 2025
Klinis : pasien tidak bisa menyusui karena putting anomali
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci terkait kondisi pasien yang tidak bisa menyusui karena putting anomali, sesuai dengan format yang Anda minta.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
Diagnosa keperawatan yang sesuai dengan kondisi pasien yang tidak bisa menyusui karena putting anomali adalah "Ketidakefektifan Menyusui" (00104). Diagnosa ini mencerminkan masalah yang dihadapi pasien dalam melakukan proses menyusui secara efektif.
Penjelasan:
Ketidakefektifan Menyusui didefinisikan sebagai "Ketidakmampuan untuk mengalami peningkatan atau pemeliharaan produksi ASI dan/atau masalah pengisapan yang menghambat kapasitas bayi untuk menyusu secara efektif." Kondisi putting anomali yang dialami pasien dapat menyebabkan masalah dalam proses menyusui, sehingga diagnosa ini sesuai untuk menggambarkan masalah yang dihadapi.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah diberikan asuhan keperawatan, luaran/output yang diharapkan adalah:
1. Keefektifan Menyusui (0001)
2. Pengetahuan: Laktasi (1810)
3. Kepuasan Ibu dalam Menyusui (1866)
Penjelasan:
1. Keefektifan Menyusui (0001): Luaran ini menggambarkan kemampuan ibu untuk menyusui bayinya secara efektif, termasuk dalam hal produksi ASI dan pengisapan bayi yang optimal.
2. Pengetahuan: Laktasi (1810): Luaran ini menggambarkan pemahaman ibu tentang proses laktasi, termasuk cara menyusui yang tepat dan perawatan payudara.
3. Kepuasan Ibu dalam Menyusui (1866): Luaran ini menggambarkan tingkat kepuasan ibu dalam melakukan proses menyusui, yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kemampuan menyusui yang efektif.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai luaran/output yang diharapkan, berikut intervensi keperawatan yang diperlukan:
1. Manajemen Laktasi (6832)
2. Konseling Menyusui (6840)
3. Bimbingan Menyusui (6854)
4. Perawatan Payudara (3586)
Penjelasan:
1. Manajemen Laktasi (6832): Intervensi ini bertujuan untuk memaksimalkan produksi dan pengeluaran ASI, termasuk dengan memberikan informasi dan dukungan kepada ibu.
2. Konseling Menyusui (6840): Intervensi ini bertujuan untuk memberikan informasi, dukungan, dan edukasi kepada ibu terkait teknik menyusui yang tepat, perawatan payudara, dan manajemen laktasi.
3. Bimbingan Menyusui (6854): Intervensi ini bertujuan untuk membantu ibu dalam mempraktikkan teknik menyusui yang benar, termasuk dengan menggunakan putting tiruan atau alat bantu menyusui jika diperlukan.
4. Perawatan Payudara (3586): Intervensi ini bertujuan untuk menjaga kesehatan payudara ibu, termasuk dengan melakukan perawatan putting dan payudara secara rutin.
Dengan menerapkan intervensi-intervensi tersebut, diharapkan dapat membantu mencapai luaran/output yang diinginkan, yaitu peningkatan keefektifan menyusui, pengetahuan ibu tentang laktasi, dan kepuasan ibu dalam menyusui.