Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23038 | 27 Nov 2025
Klinis : - pasien saya usia 52, menderita hipertensi sejak lama - tensinya 153/89 , N : 71 - -ibu pasien ada riwayat hipertensi - suami pasien meninggal karena ada benjolan di faringnya pada tahun 2016 - pasien tinggal bersama anak, menantu, dan cucu nya - pasien berjualan di toko kelontong depan rumahnya, untuk kebutuhan harian dari hasil jualan, dan kadang-kadang anak dan menantu membantu sedikit - pasien juga berjualan kerupuk pesanan kadang sering di cicipi saat menggoreng - -pasien sering makan yang asin2 - pasien tampak bingung saat ditanya apa enyebab hipertensi - tampak tidak ada upaya non farmakologi untuk mengatasi hipertensi, hanya upaya farmakologi saja - pasien mengatakan jarang periksa rutin ke dokter, dan hanya saat obat habis saja baru periksa ke dokter - hiburan pasien saat senggang menonton lewat hp buatkan dari hasil pengkajian keluarga di atas : - ds do dan diagnosa keperawatan keluarga
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Tekanan Darah
Kode SDKI: D.0024
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakstabilan Tekanan Darah adalah keadaan dimana keluarga memiliki kerentanan terhadap ketidakmampuan dalam mempertahankan tekanan darah dalam batas normal, yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan. Berdasarkan data pengkajian, keluarga ini menunjukkan kerentanan yang tinggi. Faktor risiko utama yang teridentifikasi adalah riwayat hipertensi pada ibu pasien yang menunjukkan faktor genetik, pola konsumsi makanan asin yang berlebihan (seperti kebiasaan mencicipi kerupuk saat menggoreng), dan ketidaktahuan pasien mengenai penyebab hipertensi yang ditunjukkan dengan ekspresi bingung saat ditanya. Selain itu, upaya penanganan hipertensi hanya bergantung pada terapi farmakologi dan tidak disertai dengan upaya non-farmakologi, serta ketidakkonsistenan dalam pemeriksaan rutin ke dokter (hanya periksa saat obat habis). Faktor stresor psikologis, seperti meninggalnya suami karena penyakit, juga dapat menjadi kontributor, meskipun pasien tinggal dalam keluarga besar. Kurangnya pemahaman tentang manajemen penyakit kronis dan gaya hidup yang tidak mendukung menjadi dasar utama diagnosis ini.
Kode SLKI: L.03142
Deskripsi : Keluarga mengidentifikasi faktor risiko ketidakstabilan tekanan darah. Tujuan dari kriteria hasil ini adalah agar keluarga secara proaktif dapat mengenali berbagai elemen yang mengancam kestabilan tekanan darah anggota keluarganya. Implementasinya meliputi: keluarga (terutama pasien dan anggota lain yang terlibat dalam perawatan) mampu menyebutkan setidaknya tiga faktor risiko hipertensi yang relevan dengan kondisi mereka, seperti faktor keturunan, konsumsi garam berlebihan, stres, dan kurangnya aktivitas fisik. Keluarga juga diharapkan dapat mengidentifikasi kebiasaan spesifik yang berisiko, seperti kebiasaan mencicipi makanan asin selama proses memasak dan jarang memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Selain itu, keluarga harus mampu mengenali tanda-tanda awal tekanan darah tidak terkontrol, seperti pusing atau lemas, dan memahami dampak jangka panjang dari hipertensi yang tidak terkelola dengan baik, seperti risiko penyakit jantung atau stroke. Pendidikan kesehatan dari perawat sangat krusial untuk mencapai pemahaman ini, dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan contoh-contekstual dari kehidupan sehari-hari keluarga tersebut.
Kode SIKI: I.01264
Deskripsi : Intervensi yang diberikan adalah Manajemen Hipertensi. Intervensi ini merupakan serangkaian tindakan sistematis yang dilakukan perawat untuk membantu keluarga dalam mengendalikan tekanan darah. Langkah-langkah konkretnya dimulai dengan Pendidikan Kesehatan (I.0509), dimana perawat akan memberikan penjelasan komprehensif tentang hipertensi, termasuk definisi, penyebab (dengan menekankan faktor genetik dan gaya hidup), komplikasi, dan pentingnya pengelolaan jangka panjang. Perawat akan melatih keluarga, khususnya pasien, untuk melakukan pemantauan tekanan darah mandiri secara rutin dan mencatatnya. Selanjutnya, perawat akan melakukan Modifikasi Diet (I.0220) dengan cara berdiskusi untuk menyusun rencana diet rendah garam, memberikan alternatif bumbu pengganti garam, dan strategi menghindari "cicip-cicip" makanan asin selama memasak. Perawat juga akan mendorong Manajemen Stres (I.1330) dengan memanfaatkan hiburan yang sudah ada (menonton via HP) sebagai sarana relaksasi, serta mungkin mengenalkan teknik relaksasi sederhana seperti napas dalam. Intervensi juga mencakup memfasilitasi keluarga untuk membuat jadwal kunjungan rutin ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat (bukan hanya saat obat habis) dan memastikan kepatuhan minum obat. Kolaborasi dengan tenaga gizi untuk konsultasi diet lebih lanjut juga dapat dipertimbangkan. Evaluasi keberhasilan intervensi dilihat dari peningkatan pemahaman keluarga, perubahan perilaku diet, dan tercapainya tekanan darah yang lebih stabil.
-
Article No. 23039 | 27 Nov 2025
Klinis : Kode SIKI penerimaan pasien baru
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Respon Penerimaan Pasien Baru
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Respon penerimaan adalah respons pasien dan/atau keluarga terhadap proses masuk ke unit pelayanan kesehatan yang ditandai dengan perasaan cemas, takut, bingung, tidak nyaman, dan/atau tidak familier dengan lingkungan baru.
Kode SLKI: L.03139
Deskripsi : SLKI untuk diagnosa ini adalah "Kesiapan Meningkatkan Penerimaan". Tujuan utama dari luaran ini adalah agar pasien dan keluarga dapat menunjukkan penerimaan dan penyesuaian terhadap situasi perawatan di rumah sakit. Secara spesifik, luaran yang diharapkan meliputi: pasien dan keluarga mampu mengungkapkan perasaan dan pemahaman tentang proses penerimaan, menunjukkan perilaku kooperatif selama proses penerimaan, mengungkapkan penurunan perasaan cemas, takut, dan bingung, serta mulai mengenal dan merasa nyaman dengan lingkungan, peraturan, dan tim kesehatan di unit perawatan. Luaran ini diukur berdasarkan tingkat kemandirian pasien dan keluarga dalam beradaptasi, dimulai dari tingkat ketergantungan total (memerlukan bantuan penuh) hingga sepenuhnya mandiri (tidak memerlukan bantuan sama sekali). Pencapaian SLKI ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan yang diberikan telah berhasil memfasilitasi transisi pasien dan keluarga dari keadaan penuh ketidakpastian menuju keadaan yang lebih terkendali dan dipahami, yang merupakan fondasi penting untuk kelancaran proses asuhan keperawatan selanjutnya. Keberhasilan ini juga berdampak pada pengalaman pasien secara keseluruhan dan dapat mempengaruhi kepatuhan terhadap rencana perawatan.
Kode SIKI: I.05039
Deskripsi : SIKI untuk mendukung luaran ini adalah "Manajemen Penerimaan". Intervensi ini merupakan serangkaian tindakan sistematis yang dilakukan perawat untuk memfasilitasi adaptasi pasien dan keluarga terhadap lingkungan perawatan kesehatan yang baru. Tindakan-tantangan kunci dalam intervensi ini dimulai dengan memberikan salam yang hangat dan sopan, serta memperkenalkan diri dengan jelas kepada pasien dan keluarga. Perawat kemudian melakukan orientasi lingkungan, yaitu menjelaskan dan menunjukkan fasilitas yang tersedia di sekitar kamar pasien, seperti lokasi toilet, ruang makan, pos perawat, dan area publik lainnya. Penjelasan tentang peraturan dan tata tertib unit, termasuk jam kunjungan dan kebijakan keamanan, juga merupakan bagian integral. Perawat perlu menjelaskan peran dan tanggung jawab masing-masing anggota tim kesehatan yang akan terlibat dalam perawatan pasien. Selain aspek fisik dan prosedural, intervensi ini sangat menekankan pada pendekatan psikososial. Perawat harus mengkaji tingkat kecemasan, ketakutan, dan kebingungan yang dialami pasien serta keluarga, kemudian memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengungkapkan perasaan dan pertanyaan. Perawat memberikan informasi yang jelas dan mudah dipahami mengenai prosedur penerimaan, rencana pemeriksaan awal, dan perkiraan jadwal aktivitas. Membangun hubungan saling percara sejak awal adalah kunci, yang dilakukan dengan komunikasi terapeutik, menunjukkan empati, dan menjaga privasi serta martabat pasien. Perawat juga memastikan bahwa pasien merasa nyaman secara fisik, misalnya dengan membantu menata barang-barang pribadi atau menyesuaikan suhu ruangan. Dokumentasi yang akurat mengenai kondisi pasien, kekhawatiran yang diungkapkan, dan semua informasi yang telah diberikan juga merupakan bagian dari intervensi ini. Secara keseluruhan, Manajemen Penerimaan bukan sekadar tugas administratif, tetapi merupakan intervensi holistik yang menggabungkan aspek teknis dan humanistik untuk menciptakan landasan kepercayaan dan kenyamanan, yang sangat penting bagi keberhasilan proses penyembuhan dan kepuasan pasien.
-
Article No. 23008 | 26 Nov 2025
Klinis : gangguan pertukaran gas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Peningkatan pertukaran gas ditandai dengan: status respirasi dalam rentang yang diharapkan, status kardiopulmonal dalam rentang yang diharapkan, status neurologis dalam rentang yang diharapkan, status gas darah dalam rentang yang diharapkan, bebas dari sianosis, bebas dari dispnea, bebas dari tanda-tanda distress pernapasan, dan mampu melakukan aktivitas sesuai toleransi. Perawat akan memantau frekuensi, irama, dan kedalaman pernapasan untuk memastikan mereka berada dalam parameter normal bagi pasien. Auskultasi bunyi napas akan dilakukan untuk mengidentifikasi adanya suara tambahan seperti wheezing, ronki, atau penurunan bunyi napas yang dapat mengindikasikan masalah. Status kardiopulmonal dipantau melalui tekanan darah, denyut nadi, dan pengisian kapiler. Evaluasi status neurologis meliputi tingkat kesadaran dan orientasi, karena hipoksia dapat menyebabkan kebingungan, gelisah, atau penurunan kesadaran. Analisis Gas Darah (AGD) merupakan tolok ukur objektif utama untuk mengevaluasi keefektifan pertukaran gas, dengan memantau nilai pH, PaO2, PaCO2, dan saturasi O2. Keberhasilan juga ditandai dengan tidak adanya sianosis (warna kebiruan pada kulit dan membran mukosa) serta tidak adanya dispnea (sesak napas) atau penggunaan otot bantu pernapasan. Pasien diharapkan dapat melakukan aktivitas sehari-hari, seperti berjalan atau merawat diri, tanpa mengalami sesak napas yang signifikan, yang menunjukkan bahwa suplai oksigen mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SIKI: 2010
Deskripsi : Manajemen jalan napas meliputi serangkaian intervensi untuk memastikan patensi dan keefektifan pertukaran gas. Intervensi dimulai dengan memposisikan pasien dalam posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi untuk memaksimalkan ekspansi paru dan memudahkan pernapasan. Pemberian terapi oksigen sesuai program dokter (misalnya, via nasal kanul atau masker) dilakukan untuk mempertahankan saturasi oksigen dalam rentang target. Fisioterapi dada, termasuk latihan napas dalam dan batuk efektif, diajarkan dan didorong untuk membersihkan sekret dari jalan napas. Jika diperlukan, dilakukan penghisapan lendir (suction) secara steril untuk membersihkan jalan napas dari sekret yang tidak dapat dikeluarkan pasien sendiri. Perawat akan memantau dan mencatat karakteristik sputum (warna, konsistensi, jumlah) sebagai indikator infeksi atau kondisi lain. Manajemen kelembaban udara, baik melalui humidifier atau nebulizer, dapat membantu mengencerkan sekret sehingga lebih mudah dikeluarkan. Pemberian bronkodilator atau obat nebulizer lainnya sesuai resep dokter juga merupakan bagian integral dari manajemen ini untuk membuka jalan napas yang menyempit. Pemantauan ketat terhadap tanda-tanda vital, status pernapasan, dan warna kulit dilakukan secara berkala untuk mengevaluasi respons pasien terhadap terapi. Edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya posisi, teknik batuk efektif, dan kepatuhan minum obat juga diberikan. Seluruh intervensi ini didokumentasikan dengan lengkap untuk memastikan kelangsungan asuhan keperawatan dan evaluasi yang berkelanjutan.
-
Article No. 23009 | 26 Nov 2025
Klinis : Dari hasil pengkajian pada siswa SD kelas 1, 3 dan 5 diperoleh data: • 29% konjugtiva anemis • 66% siswa tidak sarapan sebelum berangkat ke sekolah • 45% siswa mengatakan malu dengan teman-teman jika harus membawa makan dari rumah • 22% anak mengaku tidak sarapan karena tidak sempat • 13% anak mengganti sarapan dengan jajanan di sekolah • 45% orang tua memang tidak menyiapkan sarapan untuk anaknya di sekolah DIAGNOSA KEPERAWATAN KOMUNITAS APA SAJA YANG MUNCUL
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: D.0015
Deskripsi Singkat: Diagnosa ini muncul karena data menunjukkan prevalensi tinggi (66%) siswa yang tidak sarapan. Sarapan merupakan asupan nutrisi pertama dan kritis setelah tubuh berpuasa semalaman. Ketidaksiapan orang tua (45%) dalam menyiapkan sarapan, ketidaksempatan (22%), dan penggantian dengan jajajan (13%) merupakan faktor risiko utama yang secara langsung mengarah pada kemungkinan asupan nutrisi harian yang tidak mencukupi, terutama untuk energi dan zat gizi mikro yang diperlukan untuk konsentrasi belajar dan aktivitas fisik anak sekolah. Kondisi ini diperparah dengan temuan konjungtiva anemis pada 29% siswa, yang dapat menjadi indikator awal dari defisiensi nutrisi, seperti zat besi. Dengan demikian, komunitas (dalam hal ini siswa SD) berada dalam keadaan rentan untuk mengalami kekurangan nutrisi.
Kode SLKI: L.03018
Deskripsi : Luaran yang diharapkan adalah status nutrisi komunitas membaik. Secara spesifik, tujuan dari intervensi keperawatan komunitas ini adalah untuk meningkatkan persentase siswa yang melakukan sarapan sehat sebelum berangkat sekolah. Intervensi diharapkan dapat menurunkan angka ketidaksiapan sarapan oleh orang tua, mengurangi alasan ketidaksempatan, dan meminimalkan kebiasaan mengganti sarapan dengan jajanan yang kurang bergizi. Pencapaian luaran ini akan diukur dengan menurunnya persentase siswa yang tidak sarapan dari 66% menjadi angka yang lebih rendah, serta meningkatnya pemahaman dan praktik orang tua dalam menyiapkan sarapan bergizi. Peningkatan asupan nutrisi ini pada akhirnya diharapkan dapat memperbaiki indikator kesehatan seperti penurunan prevalensi konjungtiva anemis, yang menandakan membaiknya status gizi anak, khususnya zat besi.
Kode SIKI: I.01240
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang utama adalah Pendidikan Kesehatan tentang pentingnya sarapan dan gizi seimbang. Pendidikan ini harus diberikan secara menyeluruh kepada tiga sasaran: siswa, orang tua, dan pihak sekolah. Untuk siswa, pendidikan kesehatan difokuskan pada penyadaran tentang manfaat sarapan bagi tubuh dan otak mereka, menggunakan media yang menarik dan mudah dipahami seperti poster, lagu, atau permainan. Untuk orang tua, intervensi berupa penyuluhan tentang pentingnya sarapan, dampak negatif jika anak melewatkannya, serta tips praktis dan cepat menyiapkan sarapan bergizi meskipun dengan waktu yang terbatas. Perawat dapat mendemonstrasikan contoh menu sarapan sederhana, bergizi, dan hemat. Bagi pihak sekolah, intervensi yang dapat dilakukan adalah melakukan kolaborasi untuk membuat program "Seminggu Sarapan Sehat" atau memanfaatkan kantin sekolah untuk menyediakan pilihan sarapan bergizi dengan harga terjangkau. Selain itu, intervensi juga mencakup memfasilitasi terbentuknya kelompok dukungan orang tua untuk saling berbagi pengalaman dan solusi dalam memastikan anaknya sarapan. Pendekatan ini bertujuan untuk mengubah norma sosial di sekolah sehingga membawa bekal makanan dari rumah bukan lagi hal yang memalukan, melainkan suatu kebiasaan yang positif dan didukung oleh lingkungan.
Kondisi: Risiko Gangguan Harga Diri Rendah
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Diagnosa ini diangkat berdasarkan temuan bahwa 45% siswa merasa malu dengan teman-temannya jika harus membawa makan dari rumah. Perasaan malu ini merupakan manifestasi dari tekanan sosial (social pressure) dan stigma di lingkungan sekolah. Dalam tahap perkembangan anak sekolah, penerimaan dari kelompok sebaya (peer group) merupakan hal yang sangat penting. Perasaan berbeda atau tidak mengikuti "tren" yang berlaku (seperti jajan bersama) dapat memicu perasaan terisolasi, minder, dan pada akhirnya berdampak pada penilaian negatif terhadap diri sendiri (harga diri). Jika tidak diintervensi, kondisi psikologis ini dapat menghambat perkembangan sosial anak, menurunkan kepercayaan diri, dan bahkan mempengaruhi prestasi belajarnya. Data ini menunjukkan kerentanan komunitas siswa terhadap masalah kesehatan jiwa ringan yang berhubungan dengan konsep diri dan interaksi sosial.
Kode SLKI: L.08007
Deskripsi : Luaran yang diinginkan adalah anak-anak memiliki harga diri yang positif. Tujuan spesifiknya adalah menurunkan persentase siswa yang merasa malu membawa bekal dari rumah. Lingkungan sekolah diharapkan dapat menjadi tempat yang mendukung dan inklusif, di mana setiap perbedaan (termasuk dalam hal kebiasaan makan) dapat diterima. Anak-anak diharapkan mampu mengekspresikan diri tanpa takut diolok-olok, memiliki ketahanan terhadap tekanan teman sebaya, dan memiliki persepsi yang positif tentang tindakan membawa bekal sebagai suatu hal yang sehat dan positif, bukan sesuatu yang memalukan. Pencapaian luaran ini dapat dilihat dari perubahan perilaku dan pernyataan siswa, serta terciptanya iklim sosial yang lebih positif di kelas.
Kode SIKI: I.08031
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang tepat adalah Meningkatkan Harga Diri. Intervensi ini dilakukan dengan pendekatan yang berlapis. Pertama, pada level individu/kelompok kecil, perawat dapat melakukan konseling kelompok atau diskusi teman sebaya untuk membahas perasaan mereka tentang tekanan sosial dan cara mengelolanya. Teknik role-play dapat digunakan untuk melatih anak merespons ejekan atau komentar negatif dari teman. Kedua, pada level komunitas kelas/sekolah, intervensi utama adalah mengubah norma sosial. Perawat dapat berkolaborasi dengan guru untuk mengadakan lomba menghias bekal sehat, atau mengundang ahli gizi/publik figur (misalnya kakak kelas yang populer) untuk membagikan pengalaman positifnya membawa bekal. Membentuk "kader bekal sehat" di setiap kelas juga dapat menjadi strategi untuk menciptakan agent of change. Ketiga, melibatkan orang tua dengan memberikan pemahaman tentang tekanan sosial yang dihadapi anak dan pentingnya dukungan moral dari keluarga. Orang tua dapat diajak untuk menyiapkan bekal dengan kemasan yang menarik sehingga meningkatkan kebanggaan anak. Inti dari semua intervensi ini adalah menciptakan ekosistem sekolah yang memandang kebiasaan membawa bekal sebagai suatu nilai positif, sehingga menghilangkan sumber rasa malu pada anak.
Kondisi: Ketidakefektifan Peran Orang Tua
Kode SDKI: D.0066
Deskripsi Singkat: Diagnosa ini didasarkan pada data kunci bahwa 45% orang tua memang tidak menyiapkan sarapan untuk anaknya. Fakta ini mengindikasikan kegagalan atau ketidakefektifan dalam menjalankan peran orang tua, khususnya dalam memenuhi kebutuhan dasar anak, yaitu nutrisi. Peran orang tua tidak hanya menyediakan makanan, tetapi juga memastikan bahwa makanan yang dikonsumsi anak bergizi, aman, dan tepat waktu. Ketidaksiapan sarapan ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kurangnya pengetahuan tentang gizi, keterbatasan ekonomi, kesibukan kerja, atau masalah manajemen waktu di keluarga. Dampaknya langsung terlihat pada anak, yaitu mereka berangkat sekolah dengan perut kosong, yang berisiko terhadap kesehatan fisik (gizi kurang, anemia) dan konsentrasi belajar. Oleh karena itu, masalah ini bukan hanya masalah individu anak, tetapi merupakan masalah sistem keluarga, di mana peran orang tua dalam fungsi pemenuhan kesehatan tidak berjalan optimal.
Kode SLKI: L.15009
Deskripsi : Luaran yang diharapkan adalah peningkatan kemampuan orang tua dalam menjalankan perannya. Secara spesifik, orang tua diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya tentang pentingnya sarapan dan gizi seimbang untuk anak usia sekolah. Mereka juga diharapkan mampu mengidentifikasi dan mengatasi hambatan yang menyebabkan mereka tidak menyiapkan sarapan, seperti masalah manajemen waktu atau keterbatasan anggaran. Pada akhirnya, luaran yang ingin dicapai adalah peningkatan persentase orang tua yang secara konsisten dan mandiri menyiapkan sarapan bergizi untuk anaknya sebelum berangkat sekolah. Pencapaian ini akan berdampak langsung pada penurunan angka anak yang tidak sarapan dan peningkatan status gizi komunitas anak sekolah tersebut.
Kode SIKI: I.15021
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang utama adalah Meningkatkan Peran Orang Tua. Intervensi ini difokuskan pada pemberdayaan orang tua. Langkah pertama adalah melakukan assessment mendalam untuk memahami akar masalah mengapa orang tua tidak menyiapkan sarapan, apakah karena ketidaktahuan, ketidakmampuan, atau ketidakpedulian. Berdasarkan assessment tersebut, perawat dapat menyelenggarakan program parenting yang berfokus pada pendidikan gizi dan manajemen rumah tangga. Materi yang diberikan meliputi: (1) Pentingnya sarapan bagi tumbuh kembang dan prestasi belajar anak, (2) Dampak negatif jika anak tidak sarapan, (3) Perencanaan menu sarapan bergizi dengan biaya terjangkau, (4) Teknik menyiapkan sarapan cepat saji yang sehat (meal prep), dan (5) Strategi melibatkan anak dalam menyiapkan sarapan untuk meningkatkan minat anak. Perawat dapat menggunakan metode demonstrasi memasak, berbagi resep, atau kunjungan rumah untuk memberikan bimbingan yang lebih personal. Membentuk kelompok dukungan orang tua (parenting support group) juga sangat efektif agar mereka dapat saling berbagi pengalaman dan solusi. Intervensi ini bertujuan untuk membangun kemandirian dan tanggung jawab orang tua dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak, yang merupakan fondasi dari peran pengasuhan yang efektif.
-
Article No. 23010 | 26 Nov 2025
Klinis : pasien datang dengan penurunan kesadaran, gds awal 28
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Hipoglikemia
Kode ICD-10: E16.2
Deskripsi Singkat : Kondisi pasien yang datang dengan penurunan kesadaran dan nilai Glucose Dextrose Stick (GDS) awal 28 mg/dL sangat mengarah pada diagnosis hipoglikemia, yaitu suatu keadaan dimana kadar gula (glukosa) dalam darah berada di bawah batas normal. Glukosa merupakan sumber energi utama bagi otak, sehingga kadar yang sangat rendah dapat dengan cepat menyebabkan gangguan fungsi otak, yang dimanifestasikan sebagai penurunan kesadaran, mulai dari kebingungan, lemah, hingga koma. Kode ICD-10 E16.2 secara spesifik mengklasifikasikan "Hipoglikemia, tidak ditentukan". Kode ini digunakan ketika hipoglikemia didokumentasikan sebagai suatu kondisi, tetapi penyebab pastinya (misalnya, akibat obat diabetes, insulinoma, atau gangguan hormonal lainnya) belum ditentukan atau tidak disebutkan secara spesifik dalam dokumentasi klinis saat itu. Dalam konteks pelatihan, ini menekankan pentingnya pencatatan yang akurat untuk membedakan antara hipoglikemia sebagai diagnosis utama dan hipoglikemia sebagai komplikasi dari kondisi lain, seperti pengobatan diabetes.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23011 | 26 Nov 2025
Klinis : pasien datang dengan penurunan kesadaran, gds awal 28
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Serebral
Kode SDKI: 0021
Deskripsi Singkat: Berisiko mengalami penurunan sirkulasi darah ke otak yang dapat menyebabkan gangguan metabolisme sel-sel otak.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Perfusi Serebral. Tujuan dari intervensi keperawatan adalah untuk mempertahankan atau meningkatkan perfusi serebral yang adekuat. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: tingkat kesadaran pasien membaik atau kembali normal (dari GCS 28 menuju GCS 15), pasien menunjukkan orientasi yang baik terhadap orang, tempat, dan waktu, tidak terdapat atau berkurangnya tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial seperti sakit kepala hebat, muntah proyektil, atau papiledema, tanda-tanda vital (terutama tekanan darah dan denyut nadi) stabil dan dalam rentang yang dapat diterima untuk mendukung perfusi otak, tidak terdapat atau berkurangnya defisit neurologis fokal seperti kelemahan anggota gerak, gangguan bicara, atau penurunan sensorik, serta fungsi kognitif seperti memori dan konsentrasi menunjukkan perbaikan. Pemantauan ketat terhadap status neurologis dan tanda-tanda vital merupakan indikator kunci keberhasilan SLKI ini.
Kode SIKI: 2610
Deskripsi : Pemantauan Neurologis. Intervensi ini melibatkan serangkaian tindakan sistematis dan berkelanjutan untuk mengumpulkan dan menganalisis data tentang fungsi sistem saraf pasien. Pada pasien dengan penurunan kesadaran dan GDS 28, pemantauan neurologis menjadi sangat kritis. Tindakan yang dilakukan meliputi: Memantau dan mendokumentasikan status neurologis secara komprehensif dan berkala menggunakan alat ukur standar seperti Glasgow Coma Scale (GCS). Pada kasus ini, GDS (Glasgow Depression Scale) kemungkinan adalah kesalahan penulisan atau interpretasi, dan yang dimaksud adalah GCS (Glasgow Coma Scale) dengan skor 28 yang tidak mungkin karena skor maksimal GCS adalah 15. Asumsinya adalah pasien datang dengan penurunan kesadaran yang signifikan (misalnya, GCS rendah). Pemantauan mencakup evaluasi tingkat kesadaran (apakah sadar penuh, somnolen, sopor, atau koma), pola pernapasan (apakah ada Cheyne-Stokes, ataupun lainnya yang mengindikasikan gangguan batang otak), reaksi pupil terhadap cahaya (ukuran, bentuk, kesamaan, dan reaksi), serta fungsi motorik dan sensorik (respon terhadap nyeri, kekuatan otot, dan refleks). Memantau tanda-tanda vital seperti tekanan darah (baik hipertensi maupun hipotensi dapat mempengaruhi perfusi otak), denyut nadi (apakah ada bradikardia yang dapat mengindikasikan peningkatan TIK), laju dan pola pernapasan. Memposisikan kepala tempat tidur dengan elevasi 30-45 derajat (jika tidak ada kontraindikasi seperti syok atau trauma spinal) untuk mempromosikan drainase vena dan menurunkan tekanan intrakranial. Meminimalkan stimulasi yang tidak perlu (seperti suara bising atau cahaya terang) dan menghindari manuver yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial, misalnya menekan leher atau melakukan suction yang terlalu agresif. Memastikan jalan napas tetap paten dan oksigenasi yang adekutan dengan pemberian oksigen tambahan jika diperlukan, karena hipoksia dapat memperburuk kerusakan neurologis. Berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi farmakologi seperti osmotik diuretik (contohnya manitol) untuk menurunkan edema serebral, serta mempersiapkan dan membantu dalam prosedur diagnostik seperti CT-Scan atau MRI kepala. Dokumentasi yang akurat dan detail setiap perubahan status neurologis, sekecil apapun, sangat penting untuk mendeteksi deteriorasi secara dini dan mengevaluasi efektivitas intervensi yang diberikan.
-
Article No. 23012 | 26 Nov 2025
Klinis : pasien datang dengan penurunan kesadaran, gula darah awal 28
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Kadar Gula Darah
Kode SDKI: 0022
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakstabilan Kadar Gula Darah didefinisikan sebagai keadaan dimana seorang individu rentan mengalami variasi kadar glukosa darah dari rentang normal, yang dapat mengakibatkan komplikasi. Pada kasus ini, pasien datang dengan kondisi gula darah yang sangat rendah (hipoglikemia berat) yaitu 28 mg/dL, disertai penurunan kesadaran, yang merupakan manifestasi akut dan mengancam jiwa dari ketidakstabilan gula darah tersebut. Defisini ini menekankan pada kerentanan, dan data klinis pasien (gula darah 28 dan penurunan kesadaran) adalah bukti yang mendukung bahwa risiko ini telah menjadi masalah aktual yang memerlukan intervensi segera. Hipoglikemia berat seperti ini sering terjadi pada pasien diabetes yang menggunakan insulin atau obat penurun gula darah oral, di mana terjadi ketidakseimbangan antara asupan makanan, aktivitas fisik, dan dosis obat. Penurunan kesadaran (dari somnolen hingga koma) adalah tanda bahwa otak sudah mengalami krisis energi karena kekurangan glukosa yang merupakan sumber bahan bakar utama. Jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat, kondisi ini dapat menyebabkan kejang, kerusakan neurologis permanen, dan kematian. Diagnosa ini memfokuskan perhatian perawat pada pemantauan yang ketat, pemberian terapi untuk menormalkan gula darah, dan pendidikan kesehatan untuk mencegah terulangnya kejadian di masa depan.
Kode SLKI: 2125
Deskripsi : SLKI dengan kode 2125 berfokus pada Tindakan untuk Mengatasi Hipoglikemia. Tujuan utamanya adalah untuk menstabilkan kadar gula darah pasien ke dalam rentang yang aman dan memulihkan kesadarannya. Intervensi keperawatan yang kritis dan mendesak meliputi: pertama, pemberian glukosa intravena (seperti dextrose 40%) secara bolus sesuai protokol darurat medis. Ini adalah tindakan penyelamatan jiwa yang langsung menyediakan sumber glukosa ke dalam sirkulasi darah untuk segera digunakan oleh sel-sel otak. Kedua, pemantauan tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) dan status neurologis (tingkat kesadaran menggunakan skala GCS, respon pupil, adanya kejang) secara ketat dan berkelanjutan setiap 5-15 menit hingga kondisi stabil. Ketiga, setelah pasien sadar dan mampu menelan, pemberian karbohidrat sederhana dan kompleks secara oral (seperti jus buah dilanjutkan dengan roti atau biskuit) untuk mempertahankan kenaikan gula darah. Keempat, memastikan akses intravena tetap paten untuk pemberian cairan atau obat lain jika diperlukan. Kelima, kolaborasi dengan tim medis untuk mengevaluasi ulang regimen terapi diabetes pasien (dosis insulin atau obat oral) guna mencegah hipoglikemia berulang. Keberhasilan SLKI ini diukur dari peningkatan kadar gula darah menjadi >70 mg/dL dan perbaikan tingkat kesadaran pasien hingga kembali sadar sepenuhnya dan responsif.
Kode SIKI: 4501
Deskripsi : SIKI dengan kode 4501 adalah Pemantauan Kadar Gula Darah. Ini adalah intervensi fundamental dan berkelanjutan yang menjadi dasar evaluasi keberhasilan penanganan hipoglikemia dan pencegahan komplikasi lebih lanjut. Pada fase akut, pemantauan dilakukan dengan sangat intensif, yaitu setiap 15-30 menit setelah pemberian dextrose hingga kadar gula darah stabil di atas 70 mg/dL, kemudian dilanjutkan setiap 1-2 jam selama beberapa jam berikutnya, dan selanjutnya setiap 4-6 jam sesuai kondisi pasien. Perawat harus terampil dalam teknik pengambilan sampel darah kapiler menggunakan device glukometer yang terkalibrasi dengan benar, memastikan area tusukan bersih untuk menghindari infeksi dan mendapatkan hasil yang akurat. Selain mengukur angka, perawat juga harus jeli mengobservasi tanda-tanda klinis hipoglikemia lainnya seperti diaforesis (keringat dingin), tremor, palpitasi, lemah, dan lapar, meskipun pada pasien dengan penurunan kesadaran tanda-tanda ini mungkin tidak teramati. Dokumentasi yang akurat dan real-time terhadap setiap hasil pengukuran sangat krusial untuk melacak tren respons terapi dan menjadi bahan komunikasi dengan tim kesehatan lain. Pemantauan juga mencakup pengamatan terhadap kemungkinan "rebound hyperglycemia" (kenaikan gula darah yang berlebihan) sebagai respons pemberian dextrose atau mekanisme tubuh. Data dari pemantauan ini digunakan untuk menyesuaikan terapi, menentukan waktu pemberian nutrisi, dan sebagai dasar untuk memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya pemantauan mandiri di rumah serta mengenali gejala awal hipoglikemia.
-
Article No. 23013 | 26 Nov 2025
Klinis : DO : Ny. K tampak gelisah Ny. K bersikap protektif yaitu menghindari rasa sakit DS : Ny. K mengeluh nyeri hilang timbul. Ny, K mengatakan “Nyeri hilang timbul kalau lagi lelah atau capek” Ny. K mengatakan “Skala nyeri dari 0-10 itu 4”
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0007
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, yang muncul tiba-tiba atau berlangsung singkat, dengan durasi kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Pasien mampu mengendalikan nyeri dengan kriteria hasil: 1) Mendemonstrasikan penggunaan metode nonfarmakologis yang tepat untuk mengatasi nyeri, 2) Menggunakan analgesik sesuai resep untuk mengontrol nyeri, 3) Melaporkan bahwa nyeri berkurang atau hilang setelah intervensi, 4) Mempertahankan tingkat nyeri pada skala yang dapat ditoleransi (misalnya, skala nyeri 0-3), 5) Menunjukkan tanda-tanda vital dalam rentang normal, 6) Dapat beristirahat dan tidur dengan cukup, 7) Dapat melakukan aktivitas sehari-hari sesuai tingkat kemampuan, 8) Menunjukkan ekspresi wajah yang rileks dan postur tubuh yang normal, 9) Tidak menunjukkan perilaku gelisah atau protektif karena nyeri, 10) Mengungkapkan pemahaman tentang faktor pemicu dan cara mengelola nyeri.
Kode SIKI: I.08065
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi keperawatan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri, mencakup tindakan-tindakan: 1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif meliputi lokasi, karakteristik, onset, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas nyeri (menggunakan skala 0-10). 2) Observasi tanda-tanda non-verbal ketidaknyamanan atau distress (ekspresi wajah, postur tubuh, gelisah). 3) Kaji faktor yang memperberat dan meringankan nyeri (seperti kelelahan atau aktivitas berlebihan yang dialami Ny. K). 4) Ajarkan dan bantu pasien menggunakan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri, seperti distraksi (mendengarkan musik, menonton TV), relaksasi (napas dalam, imajinasi terbimbing), dan teknik sentuhan terapeutik (kompres hangat atau dingin pada area nyeri jika tepat). 5) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian analgesik sesuai indikasi dan evaluasi efektivitas serta efek sampingnya. 6) Lakukan reposisi atau bantu pasien dalam menemukan posisi yang nyaman untuk mengurangi tekanan pada area yang sakit. 7) Lingkungan yang tenang dan nyaman untuk mendukung istirahat dan mengurangi stimulasi yang dapat memperberat nyeri. 8) Ajarkan pasien dan keluarga tentang penggunaan skala nyeri untuk memantau efektivitas intervensi. 9) Anjurkan teknik manajemen energi dan keseimbangan aktivitas-istirahat untuk mencegah kelelahan yang memicu nyeri. 10) Berikan edukasi tentang rencana terapi nyeri dan pentingnya melaporkan nyeri secara proaktif sebelum nyeri menjadi berat. 11) Evaluasi respons pasien terhadap intervensi manajemen nyeri yang telah dilakukan dan dokumentasikan secara berkala. 12) Berikan dukungan emosional dan yakinkan pasien bahwa nyerinya sedang ditangani dengan serius.
-
Article No. 23014 | 26 Nov 2025
Klinis : gula darah 350 mg/dL
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Hiperglikemia
Kode ICD-10: R73.9
Deskripsi Singkat : Hasil pengukuran gula darah sebesar 350 mg/dL menunjukkan kondisi hiperglikemia, yang merupakan istilah medis untuk kadar glukosa (gula) dalam darah yang abnormally tinggi. Nilai ini jauh di atas kisaran normal (biasanya di bawah 140 mg/dL setelah makan) dan menandakan gangguan dalam regulasi gula darah tubuh. Kode ICD-10 R73.9 mengacu pada "Peningkatan kadar glukosa darah, tidak spesifik". Kode ini digunakan ketika terdapat bukti objektif kadar gula darah tinggi (seperti dari pemeriksaan darah), tetapi penyebab pastinya belum ditentukan atau belum diklasifikasikan di bawah kode yang lebih spesifik. Hiperglikemia sering dikaitkan dengan diabetes mellitus, baik tipe 1 maupun tipe 2, di mana tubuh tidak memproduksi cukup insulin atau tidak dapat menggunakan insulin secara efektif. Namun, kondisi ini juga dapat dipicu oleh faktor lain seperti stres berat, penyakit akut, infeksi, konsumsi obat-obatan tertentu (seperti kortikosteroid), atau asupan karbohidrat yang berlebihan. Hiperglikemia yang tidak ditangani dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk ketoasidosis diabetik (pada diabetes tipe 1) atau keadaan hiperglikemik hiperosmolar (pada diabetes tipe 2), yang keduanya merupakan keadaan darurat medis. Penanganan biasanya melibatkan pemberian insulin, penyesuaian obat, dan modifikasi gaya hidup. Penting untuk dicatat bahwa kode R73.9 bersifat sementara; setelah diagnosis pasti seperti diabetes mellitus ditegakkan, kode yang lebih spesifik dari kategori E08-E13 harus digunakan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23015 | 26 Nov 2025
Klinis : SIKI manajemen hiperglikemia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Manajemen Hiperglikemia
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko ketidakstabilan kadar glukosa darah
Kode SLKI: L.03132
Deskripsi : Manajemen Hiperglikemia: Tindakan keperawatan untuk mengontrol kadar glukosa darah pada pasien dengan hiperglikemia. Intervensi ini mencakup pemantauan kadar glukosa darah secara teratur, baik melalui pemeriksaan laboratorium seperti GDP, 2JPP, dan HbA1c, maupun pemantauan mandiri di rumah. Perawat berkolaborasi untuk pemberian terapi insulin atau obat hipoglikemik oral sesuai resep, memastikan dosis, waktu, dan teknik pemberian yang tepat, serta memantau efek samping seperti hipoglikemia. Edukasi pasien dan keluarga menjadi komponen krusial, meliputi pemahaman tentang kondisi hiperglikemia, faktor pemicu (seperti stres, infeksi, atau pola makan), gejala (poliuria, polidipsia, pandangan kabur, lemas), dan komplikasi jangka panjang (neuropati, nefropati, retinopati). Perawat juga mendukung modifikasi gaya hidup dengan menyusun rencana diet seimbang bersama ahli gizi, yang berfokus pada kontrol karbohidrat, pemilihan makanan dengan indeks glikemik rendah, dan pengaturan porsi makan. Promosi aktivitas fisik rutin yang aman dan sesuai kondisi pasien juga dijalankan, dengan memperhatikan waktu pemberian insulin untuk mencegah hipoglikemia pasca-latihan. Manajemen stres dan dukungan psikososial diberikan untuk membantu pasien beradaptasi dengan kondisi kronisnya. Selain itu, perawat melakukan pemantauan ketat terhadap tanda-tanda komplikasi akut seperti Ketoasidosis Diabetik (DKA) atau Status Hiperglikemik Hiperosmolar (HHS), serta mendidik pasien tentang perawatan kaki untuk mencegah ulkus diabetik. Tindakan ini bertujuan mencapai dan mempertahankan kadar glukosa darah dalam rentang target, mencegah komplikasi, serta meningkatkan kemandirian dan kualitas hidup pasien.
Kode SIKI: I.01221
Deskripsi : Pemantauan Glukosa Darah: Tindakan keperawatan untuk mengobservasi dan mengevaluasi kadar glukosa darah pasien. Intervensi ini dimulai dengan persiapan alat yang akurat, seperti glukometer yang telah dikalibrasi, strip tes yang belum kedaluwarsa, dan lancet steril. Perawat memilih lokasi penusukan yang tepat (biasanya ujung jari) dan memastikan teknik aseptik untuk mencegah infeksi. Sampel darah diambil dengan volume yang sesuai untuk alat yang digunakan, dan pembacaan hasil dilakukan dengan cermat. Hasil pemantauan dicatat secara detail, termasuk tanggal, waktu, nilai glukosa darah, hubungannya dengan waktu makan (puasa, sebelum makan, setelah makan, atau sebelum tidur), aktivitas fisik yang dilakukan, serta dosis obat atau insulin yang diterima. Perawat menganalisis pola hasil pemantauan untuk mengidentifikasi tren hiperglikemia atau hipoglikemia, serta faktor pemicunya. Berdasarkan analisis ini, perawat dapat memberikan rekomendasi penyesuaian terapi, pola makan, atau aktivitas kepada tim medis dan pasien. Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang teknik pemantauan mandiri yang benar merupakan bagian integral dari intervensi ini, mencakup cara menggunakan glukometer, interpretasi hasil, dan tindakan yang harus diambil berdasarkan hasil tersebut (misalnya, mengonsumsi karbohidrat sederhana jika hipoglikemi atau menghubungi tenaga kesehatan jika hiperglikemi berat). Pemantauan juga mencakup pengamatan tanda dan gejala klinis yang menyertai fluktuasi glukosa darah, seperti perubahan status mental, keringat dingin, gemetar (pada hipoglikemia), atau poliuria dan dehidrasi (pada hiperglikemia). Tindakan ini sangat penting untuk mengevaluasi efektivitas terapi, mencegah komplikasi akut dan kronis, serta memberdayakan pasien dalam mengelola penyakitnya secara mandiri.