Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 18524 | 14 Jun 2025
Klinis : Sakit ulu hati sudah 2 hari Tidak nafsu makan Mata cekung Mual muntah Bab tidak ada sudah seminggu
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan gejala yang dideskripsikan, yaitu sakit ulu hati, tidak nafsu makan, mata cekung, mual muntah, dan bab tidak ada selama seminggu, diagnosis yang sesuai adalah:
1. Kode ICD-10:
- Kode: K59.0
- Deskripsi: Konstipasi
Penjelasan:
- Sakit ulu hati, tidak nafsu makan, dan mata cekung dapat merupakan gejala-gejala dari konstipasi.
- Mual dan muntah dapat terjadi sebagai akibat dari konstipasi yang berkepanjangan.
- Bab tidak ada selama seminggu adalah indikasi utama dari konstipasi.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 45.73
- Deskripsi: Kolonoskopi, diagnostik
Penjelasan:
- Kolonoskopi dapat dilakukan untuk mengevaluasi penyebab konstipasi dan mengatasi komplikasi yang mungkin terjadi.
- Prosedur ini dapat membantu mengidentifikasi penyebab mendasar dari gejala yang dialami pasien, seperti obstruksi, tumor, atau kondisi lainnya yang menyebabkan konstipasi.
Dengan demikian, berdasarkan gejala yang dideskripsikan, diagnosis yang sesuai adalah konstipasi (kode ICD-10: K59.0), dan tindakan medis yang mungkin diperlukan adalah kolonoskopi diagnostik (kode ICD-9-CM: 45.73). -
Article No. 18525 | 14 Jun 2025
Klinis : sakit ulu hati, tidak nafsu makan, mata cekung, mual muntah, dan bab tidak ada selama seminggu, diagnosis yang sesuai adalah:
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI beserta kodenya dan definisinya untuk kondisi yang Anda sebutkan, yaitu sakit ulu hati, tidak nafsu makan, mata cekung, mual muntah, dan bab tidak ada selama seminggu.
Diagnosa Keperawatan:
Gangguan Pertukaran Cairan dan Elektrolit (00195)
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
Kode: 00195
Definisi: Ketidakmampuan untuk mempertahankan volume dan komposisi cairan dan elektrolit yang dibutuhkan untuk fungsi tubuh.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Kode: LS 21001
Definisi: Keseimbangan cairan dan elektrolit tercapai.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Kode: IP 21001
Definisi: Serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk membantu klien mencapai keseimbangan cairan dan elektrolit.
Penjelasan singkat:
Kondisi yang Anda sebutkan, yaitu sakit ulu hati, tidak nafsu makan, mata cekung, mual muntah, dan bab tidak ada selama seminggu, mengarah pada diagnosa keperawatan Gangguan Pertukaran Cairan dan Elektrolit. Hal ini disebabkan oleh adanya kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebihan akibat gejala-gejala yang Anda sebutkan. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah memonitor status cairan dan elektrolit, memberikan terapi cairan dan elektrolit yang sesuai, serta memantau tanda-tanda dehidrasi dan komplikasi lainnya. -
Article No. 18526 | 14 Jun 2025
Klinis : sakit ulu hati, tidak nafsu makan, mata cekung, mual muntah, dan bab tidak ada selama seminggu, diagnosis yang sesuai adalah:
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk kondisi yang Anda sampaikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
Diagnosa keperawatan yang sesuai dengan kondisi tersebut adalah Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh. Diagnosa ini didasarkan pada gejala-gejala yang Anda sebutkan, yaitu: sakit ulu hati, tidak nafsu makan, mata cekung, mual muntah, dan bab tidak ada selama seminggu. Hal ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara asupan nutrisi dengan kebutuhan tubuh, yang dapat menyebabkan penurunan berat badan dan malnutrisi.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan pasien dapat mencapai luaran sebagai berikut:
1. Status Nutrisi Adekuat: Pasien dapat mempertahankan asupan nutrisi yang adekuat sesuai dengan kebutuhan tubuhnya.
2. Tidak Ada Tanda Malnutrisi: Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda malnutrisi, seperti mata cekung, penurunan berat badan, dan lain-lain.
3. Tidak Ada Komplikasi: Pasien tidak mengalami komplikasi akibat malnutrisi, seperti dehidrasi, gangguan elektrolit, dan lain-lain.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai luaran yang diharapkan, diperlukan intervensi keperawatan sebagai berikut:
1. Manajemen Nutrisi:
a. Identifikasi kebutuhan nutrisi pasien berdasarkan kondisi klinis dan antropometri.
b. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun rencana nutrisi yang adekuat.
c. Motivasi pasien untuk meningkatkan asupan nutrisi sesuai rencana.
d. Pemantauan asupan nutrisi dan status nutrisi pasien secara berkala.
2. Manajemen Mual dan Muntah:
a. Identifikasi penyebab mual dan muntah, serta intervensi yang sesuai.
b. Pemberian antiemetik sesuai indikasi untuk mengurangi mual dan muntah.
c. Pengaturan diet yang mudah dicerna dan tidak menstimulasi mual.
d. Edukasi pasien dan keluarga tentang manajemen mual dan muntah.
3. Manajemen Cairan dan Elektrolit:
a. Pemantauan status cairan dan elektrolit pasien.
b. Pemberian cairan dan elektrolit sesuai kebutuhan.
c. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk memastikan keseimbangan cairan dan elektrolit.
4. Edukasi dan Dukungan:
a. Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi yang adekuat.
b. Dukungan emosional dan psikologis untuk meningkatkan motivasi pasien.
c. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk optimalisasi asuhan keperawatan.
Dengan intervensi keperawatan yang komprehensif, diharapkan pasien dapat mencapai luaran yang diharapkan dan memulihkan status nutrisinya. -
Article No. 18527 | 14 Jun 2025
Klinis : sakit ulu hati, tidak nafsu makan, mata cekung, mual muntah, dan bab tidak ada selama seminggu, diagnosis yang sesuai adalah:
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: **Diagnosa Keperawatan dan Penjelasan SDKI - SLKI - SIKI**
**Kondisi Pasien:**
- Sakit ulu hati
- Tidak nafsu makan
- Mata cekung
- Mual muntah
- BAB tidak ada selama seminggu
**Diagnosis Medis yang Sesuai:**
*Konstipasi dengan dehidrasi sekunder akibat gangguan pencernaan.*
---
### **1. Diagnosa Keperawatan (SDKI)**
**Kode:** 00011 **Gangguan Eliminasi Feces (Konstipasi)**
**Definisi:** Penurunan frekuensi defekasi disertai kesulitan atau rasa tidak tuntas saat BAB.
**Faktor yang Berhubungan:**
- Asupan cairan dan serat tidak adekuat
- Imobilisasi/usus kurang aktif
- Efek samping obat/nyeri ulu hati
---
### **2. Luaran Keperawatan (SLKI)**
**Kode:** 1401 **Status Eliminasi Feces**
**Indikator:**
- Frekuensi BAB kembali normal (?3x/minggu) *(Skala: 15)*
- Konsistensi feces lunak *(Skala: 15)*
- Tidak ada keluhan nyeri/ketidaknyamanan saat BAB *(Skala: 15)*
**Target:** Mencapai skor ?4 pada tiap indikator dalam 3 hari.
---
### **3. Intervensi Keperawatan (SIKI)**
**Kode:** 1240 **Manajemen Konstipasi**
**Tindakan:**
- Anjurkan peningkatan asupan cairan (minimal 2 L/hari) dan serat (buah/sayur).
- Ajarkan teknik mobilisasi (jalan kaki 10 menit tiap 2 jam).
- Berikan edukasi posisi defekasi (squatting).
**Kode:** 1410 **Manajemen Dehidrasi**
**Tindakan:**
- Pantau tanda dehidrasi (turgor kulit, mata cekung, mukosa kering).
- Kolaborasi pemberian cairan IV jika diperlukan.
- Anjurkan minum oral sedikit tapi sering (contoh: 50 mL tiap 30 menit).
---
**Dasar Pemilihan Diagnosa:**
Gejala *konstipasi* (BAB absent + nyeri ulu hati) dan *dehidrasi* (mata cekung, muntah) menjadi fokus utama. Intervensi menggabungkan pendekatan non-farmakologis dan pemantauan ketat untuk mencegah komplikasi.
**Referensi:**
- *Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI) Edisi 5, 2022*
- *Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) Edisi 2, 2022*
- *Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) Edisi 2, 2022*
Format RTF terlampir. -
Article No. 18528 | 14 Jun 2025
Klinis : S: Pasien mengatakan sedih ketika mengigat kehilangan anaknya di usia 6 bulan dan kehilangan suaminya selang 2 tahun Pasien mengatakan merasa bersalah dan gagal menjadi ibu saat kehilangan anaknya Pasien mengatakan kehilangan arah saat ditinggal suaminya O: Pasien tampak sedih saat membahas tentang kehilangan orang terdekatnya
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
Diagnosa Keperawatan: Berduka Disfungsional
Definisi: Kemampuan individu yang terganggu untuk merasakan dan mengekspresikan kesedihan atau kehilangan yang dialami.
Subjektif:
- Pasien mengatakan sedih ketika mengingat kehilangan anaknya di usia 6 bulan dan kehilangan suaminya selang 2 tahun
- Pasien mengatakan merasa bersalah dan gagal menjadi ibu saat kehilangan anaknya
- Pasien mengatakan kehilangan arah saat ditinggal suaminya
Objektif:
- Pasien tampak sedih saat membahas tentang kehilangan orang terdekatnya
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Ekspresi Emosi
- Pasien dapat mengekspresikan emosi yang dialami dengan tepat
- Pasien dapat menerima dukungan emosional dari orang lain
2. Proses Berduka
- Pasien dapat menjalani tahapan berduka secara adekuat
- Pasien dapat mengidentifikasi sumber daya yang dapat membantu proses berduka
3. Adaptasi Psikologis
- Pasien dapat menyesuaikan diri dengan kehilangan yang dialami
- Pasien dapat mengembangkan strategi koping yang efektif
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Berduka
- Identifikasi reaksi berduka pasien
- Fasilitasi pengungkapan emosi yang dialami
- Berikan dukungan emosional dan spiritual
- Libatkan keluarga dalam proses berduka
2. Terapi Kognitif
- Bantu pasien mengidentifikasi pikiran dan keyakinan negatif
- Bantu pasien mengembangkan pemikiran yang lebih rasional dan adaptif
- Latih pasien menggunakan teknik relaksasi dan visualisasi positif
3. Bimbingan dan Konseling
- Bantu pasien mengembangkan strategi koping yang efektif
- Identifikasi sumber daya yang dapat mendukung proses penyesuaian diri
- Berikan edukasi tentang proses berduka dan penyesuaian diri
Penjelasan rinci:
Diagnosa keperawatan "Berduka Disfungsional" sesuai dengan kondisi pasien yang mengalami kesedihan dan kehilangan yang mendalam akibat kematian anak dan suami. Pasien menunjukkan tanda-tanda kesulitan mengekspresikan emosi, merasa gagal, dan kehilangan arah dalam hidupnya. Luaran yang diharapkan adalah pasien dapat mengekspresikan emosi secara tepat, menjalani proses berduka dengan baik, serta mampu menyesuaikan diri dengan kehilangan yang dialami. Intervensi keperawatan yang diperlukan mencakup manajemen berduka, terapi kognitif, serta bimbingan dan konseling untuk memfasilitasi proses penyesuaian diri pasien. Perawat berperan penting dalam memberikan dukungan emosional, spiritual, dan edukasi yang komprehensif agar pasien dapat beradaptasi secara optimal. -
Article No. 18529 | 14 Jun 2025
Klinis : S: Pasien mengatakan sedih ketika mengigat kehilangan anaknya di usia 6 bulan dan kehilangan suaminya selang 2 tahun Pasien mengatakan merasa bersalah dan gagal menjadi ibu saat kehilangan anaknya Pasien mengatakan kehilangan arah saat ditinggal suaminya O: Pasien tampak sedih saat membahas tentang kehilangan orang terdekatnya
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yang relevan dengan kondisi pasien, sesuai dengan panduan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
### **Diagnosa Keperawatan:**
**Gangguan Berduka (00035)**
**Definisi:** Respon alami terhadap kehilangan yang nyata atau potensial, yang dapat memengaruhi fisik, emosional, sosial, dan spiritual individu.
**Penjelasan:**
Pasien menunjukkan tanda-tanda berduka yang kompleks akibat kehilangan anak dan suami, disertai perasaan sedih, bersalah, dan kehilangan arah. Kondisi ini memerlukan pendekatan holistik untuk membantu pasien dalam proses berduka dan adaptasi terhadap kehilangan.
---
### **Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)**
**Kode SLKI: 1401 Koping Berduka**
**Indikator:**
1. Mengekspresikan perasaan kehilangan secara verbal.
2. Mengidentifikasi strategi koping yang efektif.
3. Menunjukkan penerimaan terhadap kehilangan.
4. Kembali berpartisipasi dalam aktivitas sosial.
**Target Luaran:**
- Pasien mampu mengungkapkan perasaannya terkait kehilangan.
- Pasien menunjukkan tanda-tanda adaptasi emosional.
- Pasien mulai membangun kembali tujuan hidup.
---
### **Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)**
**Kode SIKI: 5290 Dukungan Berduka**
**Intervensi Utama:**
1. **Menciptakan lingkungan terapeutik** untuk memfasilitasi ekspresi emosi.
2. **Mendorong pasien mengungkapkan perasaan** melalui komunikasi terbuka.
3. **Membantu pasien mengidentifikasi sumber dukungan sosial** (keluarga, teman, kelompok dukungan).
4. **Memberikan edukasi tentang proses berduka normal** dan tanda-tanda berduka patologis.
5. **Kolaborasi dengan tenaga kesehatan jiwa** jika diperlukan (psikolog/psikiater).
**Intervensi Tambahan:**
- **5294 Terapi Aktivitas Kelompok** (jika pasien membutuhkan interaksi sosial).
- **5280 Konseling** (untuk membantu pemrosesan emosi).
---
### **Evaluasi:**
Perkembangan pasien akan dinilai berdasarkan kemampuan untuk:
1. Mengekspresikan emosi terkait kehilangan.
2. Menggunakan strategi koping adaptif.
3. Kembali terlibat dalam aktivitas sehari-hari.
Jika gejala berduka berkepanjangan atau disertai depresi berat, rujuk ke spesialis kesehatan jiwa untuk penanganan lebih lanjut.
Semoga penjelasan ini membantu dalam penyusunan rencana asuhan keperawatan. -
Article No. 18530 | 14 Jun 2025
Klinis : DATA SUBYEKTIF DATA OBYEKTIF Pasien mengatakan : 1. nyeri perut yang sudah dirasakan selama kurang lebih tiga bulan terakhir. 2. Nyeri tersebut dirasakan semakin memberat dan disertai dengan perut yang terasa tegang dan kaku, tanpa disertai perdarahan dari vagina. 3. Sekitar tiga minggu sebelum masuk rumah sakit tidak dapat buang air kecil. 4. mulai kehilangan nafsu makan dan minum 5. merasa sangat lemas, 6. P : Nyeri muncul mendadak, dipicu oleh aktivitas berlebihan dan pembesaran perut (asites). Q : Nyeri digambarkan seperti diperas, R : Abdomen S : 6 dari 10 T : Sudah berlangsung selama ±3 bulan Terus-menerus, memberat saat malam atau saat aktivitas. 7. Sesak napas juga muncul saat nyeri datang. 8. pasien mengeluhkan mual dan perut terasa tidak nyaman. 9. hanya bisa tidur selama 3 jam setiap malam dan sering terbangun. 10. mengalami gangguan dalam aktivitas sehari-hari. 11. sulit tidur akibat nyeri perut yang terus-menerus dirasakan. Ia sering terjaga di malam hari karena rasa nyeri tersebut, sehingga merasa bahwa waktu istirahatnya tidak cukup dan tidak puas dengan kualitas tidurnya. 12. Mempunyai Riwayat penyakit terdahulu mencatat adanya diagnosa NOK dan efusi pleura. 13. sering merasa khawatir, pusing, dan bingung memikirkan masa depannya, terutama setelah kehilangan suaminya. 14. Keberadaan anak pertamanya yang tinggal bersamanya menjadi sumber dukungan emosional yang sangat berarti dan memotivasinya untuk tetap kuat menjalani pengobatan. 15. Pasien hanya makan dua kali sehari, tidak menyukai buah dan susu 16. berharap kondisi kesehatannya membaik dan bisa kembali menjalani aktivitas sehari-hari secara normal, serta berharap penyakitnya dapat dikendalikan sehingga tidak membahayakan nyawanya. 17. Pasien merasa dirinya terasa tidak berdaya, lemah fisik dan mental, serta merasa takut akan masa depannya yang tidak pasti. 18. Ia merasa bahwa kondisi ini mempengaruhi citra dirinya sebagai wanita dan ibu. 19. takut meninggalkan anaknya dan merasa terbebani oleh kondisi fisik yang menurun serta ketidakpastian masa depannya. Ia juga merasa kekhawatiran mengenai proses pengobatan dan keberlanjutan hidupnya. 20. sering mengonsumsi makanan pedas, berminyak, lalapan, dan makanan yang dibakar. 21. Stres dan kondisi mental yang terganggu menyebabkan pasien sering mengabaikan edukasi dari tenaga kesehatan dan cepat lupa setelah dijelaskan. 22. Pendidikan terakhir SMP 23. mengalami katarak di kedua mata, namun masih dapat melihat walau buram. 24. jantung berdebar sedang namun tidak disertai keluhan nyeri dada. 25. Nyeri sendi pada saat melakukan aktivitas berlebihan. 1. mengalami penurunan berat badan yang signifikan dari 50 kg menjadi 39 kg. 2. pasien tampak meringis, mengerutkan dahi, dan gelisah. 3. Pasien tampak tampak lemah, bibir kering. 4. terdapat sariawan dan bercak putih pada lidah. 5. pasien menjalani pengobatan menggunakan Profonid 100 mg 6. Asupan cairan: ±1000 cc/hari 7. turgor kulit tidak elastis 8. Konjungtiva anemis 9. 10. Keadaan umum : baik, Compos mentis 11. Sistem Pernafasan a. RR : 22x/menit b. Kedalaman dangkal 12. Sistem Kardiovaskuler a. Nadi : 85x/menit b. Denyut lemah c. TD : 130/90 mmHg d. Warna kulit pucat 13. Sistem Pencernaan a. Terdapat stomatitis b. Lidah kotor c. Bising usus : 12x/menit d. Terdapat asites, perut membesar dan terasa keras saat palpasi, timpani saat perkusi. 14. Sistem Integumen a. Warna kulit pucat b. Turgor kulit buruk c. Rambut tampak rontok dan tidak baik 15. Sistem Muskuloskeletal a. Kekuatan otot b. Pasien aktivitas masih dibantu anaknya dan pasien pembatasaan aktivitas. 16. Sistem Kekebalan Tubuh a. Suhu : 36,8 °C 17. Pemeriksaan Abdomen a. Abdomen membesar b. Asites dan lingkar perut 88 cm c. Perut keras saat palpasi d. Bunyi timpani saat perkusi e. Massa multikistik ±82 x 76 mm f. Bekas luka operasi 2 jari di bawah umbilicus 18. Pemeriksaan Penunjang a. Laboratorium Hemoglobin: P1: 10,8 g/dl P2: 9,1 g/dl P3: 11,2 g/dl P4: 11,1 g/dl Leukosit: P1: 2,8 Rb/ul P2: 3,3 Rb/ul P3: 3,4 Rb/ul P4: 3,7 Rb/ul Trombosit: P3: 130 Rb/ul P4: 105 Rb/ul Eritrosit: P1: 3,64 Rb/ul P4: 3,77 Rb/ul Monosit: P1: 1% P4: 11% 19. Pemeriksaan Diagnostik : a. USG pada tanggal 17 Oktober 2018 menunjukkan adanya hidrosalping kiri dan kanan, NOK kanan, asites, dan perlekatan genitalia internal. b. USG thoraks tanggal 9 Januari 2019 menunjukkan efusi pleura kanan dan kiri dengan atelectasis. c. Foto toraks tanggal 8 Januari 2019 memperlihatkan efusi pleura bilateral dan konsolidasi di paru kanan tengah bawah. d. CT scan whole abdomen tanggal 14 Desember 2018 menunjukkan adanya massa multikistik di adneksa bilateral, asites, efusi pleura kiri, infiltrat basal paru bilateral, hepatomegali, kista ginjal bilateral, serta disarankan untuk dilakukan MRI pelvis. e. Pemeriksaan abdomen tiga posisi pada tanggal 14 Desember 2018 yang sama menunjukkan adanya asites dan suspek hepatomegali tanpa tanda-tanda ileus atau pneumoperitoneum. f. Hasil biopsi pada tanggal 14 Januari 2019 menunjukkan jaringan omentum yang mengandung sel tumor dengan struktur solid dan papiler serta mitosis atipik. 20. Terapi yang diberikan kepada pasien meliputi diet nasi 1900 kkal tidak pedas 21. Penatalaksanaan Farmakologi a. Tramal supp 3x/hari b. Profonid 100mg c. Ranitidine 2x150 mg/hari d. Ondansetron 3x8 mg/hari e. Kabiven 1000 ml/hari f. Leucogen 1amp (IV) (saat leukosit turun) g. Neurobion 2x5000 (IV) (saat Hb turun)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan data subjektif dan objektif yang Anda berikan, berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI dengan kodenya yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
1. Diagnosa Keperawatan: Nyeri Kronis
SDKI: Nyeri Kronis (10046)
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang berlangsung lebih dari 3 bulan.
SLKI: Manajemen Nyeri (10015)
Definisi: Kemampuan individu untuk mengontrol dan mengatasi nyeri.
SIKI: Manajemen Nyeri (10003)
Definisi: Serangkaian tindakan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri yang dirasakan individu.
2. Diagnosa Keperawatan: Gangguan Pola Tidur
SDKI: Gangguan Pola Tidur (10032)
Definisi: Perubahan dalam kualitas dan/atau kuantitas tidur yang mengganggu fungsi sehari-hari.
SLKI: Kualitas Tidur (10018)
Definisi: Kemampuan individu untuk mencapai dan mempertahankan pola tidur yang sehat.
SIKI: Manajemen Gangguan Tidur (10045)
Definisi: Serangkaian tindakan yang dilakukan untuk mengidentifikasi dan mengatasi gangguan tidur.
3. Diagnosa Keperawatan: Kelelahan
SDKI: Kelelahan (10041)
Definisi: Pengalaman subyektif akan kurangnya energi dan kapasitas yang menurun untuk melakukan aktivitas fisik dan mental.
SLKI: Manajemen Energi (10011)
Definisi: Kemampuan individu untuk mengatur penggunaan energi secara efektif.
SIKI: Manajemen Kelelahan (10067)
Definisi: Serangkaian tindakan yang dilakukan untuk mengurangi dan mencegah kelelahan.
4. Diagnosa Keperawatan: Defisit Perawatan Diri
SDKI: Defisit Perawatan Diri (10024)
Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan satu atau lebih aktivitas perawatan diri.
SLKI: Kemandirian Perawatan Diri (10008)
Definisi: Kemampuan individu untuk melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri.
SIKI: Bantuan Perawatan Diri (10009)
Definisi: Serangkaian tindakan yang dilakukan untuk membantu individu dalam melakukan aktivitas perawatan diri.
5. Diagnosa Keperawatan: Ansietas
SDKI: Ansietas (10001)
Definisi: Respon emosional dan psikologis individu terhadap sumber stres atau ancaman yang tidak jelas dan mengakibatkan ketidaknyamanan dan kekhawatiran.
SLKI: Manajemen Ansietas (10004)
Definisi: Kemampuan individu untuk mengenali, mengelola, dan mengatasi kecemasan.
SIKI: Manajemen Ansietas (10002)
Definisi: Serangkaian tindakan yang dilakukan untuk mengenali, mengelola, dan mengatasi kecemasan. -
Article No. 18531 | 14 Jun 2025
Klinis : DATA SUBYEKTIF DATA OBYEKTIF Pasien mengatakan : 1. nyeri perut yang sudah dirasakan selama kurang lebih tiga bulan terakhir. 2. Nyeri tersebut dirasakan semakin memberat dan disertai dengan perut yang terasa tegang dan kaku, tanpa disertai perdarahan dari vagina. 3. Sekitar tiga minggu sebelum masuk rumah sakit tidak dapat buang air kecil. 4. mulai kehilangan nafsu makan dan minum 5. merasa sangat lemas, 6. P : Nyeri muncul mendadak, dipicu oleh aktivitas berlebihan dan pembesaran perut (asites). Q : Nyeri digambarkan seperti diperas, R : Abdomen S : 6 dari 10 T : Sudah berlangsung selama ±3 bulan Terus-menerus, memberat saat malam atau saat aktivitas. 7. Sesak napas juga muncul saat nyeri datang. 8. pasien mengeluhkan mual dan perut terasa tidak nyaman. 9. hanya bisa tidur selama 3 jam setiap malam dan sering terbangun. 10. mengalami gangguan dalam aktivitas sehari-hari. 11. sulit tidur akibat nyeri perut yang terus-menerus dirasakan. Ia sering terjaga di malam hari karena rasa nyeri tersebut, sehingga merasa bahwa waktu istirahatnya tidak cukup dan tidak puas dengan kualitas tidurnya. 12. Mempunyai Riwayat penyakit terdahulu mencatat adanya diagnosa NOK dan efusi pleura. 13. sering merasa khawatir, pusing, dan bingung memikirkan masa depannya, terutama setelah kehilangan suaminya. 14. Keberadaan anak pertamanya yang tinggal bersamanya menjadi sumber dukungan emosional yang sangat berarti dan memotivasinya untuk tetap kuat menjalani pengobatan. 15. Pasien hanya makan dua kali sehari, tidak menyukai buah dan susu 16. berharap kondisi kesehatannya membaik dan bisa kembali menjalani aktivitas sehari-hari secara normal, serta berharap penyakitnya dapat dikendalikan sehingga tidak membahayakan nyawanya. 17. Pasien merasa dirinya terasa tidak berdaya, lemah fisik dan mental, serta merasa takut akan masa depannya yang tidak pasti. 18. Ia merasa bahwa kondisi ini mempengaruhi citra dirinya sebagai wanita dan ibu. 19. takut meninggalkan anaknya dan merasa terbebani oleh kondisi fisik yang menurun serta ketidakpastian masa depannya. Ia juga merasa kekhawatiran mengenai proses pengobatan dan keberlanjutan hidupnya. 20. sering mengonsumsi makanan pedas, berminyak, lalapan, dan makanan yang dibakar. 21. Stres dan kondisi mental yang terganggu menyebabkan pasien sering mengabaikan edukasi dari tenaga kesehatan dan cepat lupa setelah dijelaskan. 22. Pendidikan terakhir SMP 23. mengalami katarak di kedua mata, namun masih dapat melihat walau buram. 24. jantung berdebar sedang namun tidak disertai keluhan nyeri dada. 25. Nyeri sendi pada saat melakukan aktivitas berlebihan. 1. mengalami penurunan berat badan yang signifikan dari 50 kg menjadi 39 kg. 2. pasien tampak meringis, mengerutkan dahi, dan gelisah. 3. Pasien tampak tampak lemah, bibir kering. 4. terdapat sariawan dan bercak putih pada lidah. 5. pasien menjalani pengobatan menggunakan Profonid 100 mg 6. Asupan cairan: ±1000 cc/hari 7. turgor kulit tidak elastis 8. Konjungtiva anemis 9. 10. Keadaan umum : baik, Compos mentis 11. Sistem Pernafasan a. RR : 22x/menit b. Kedalaman dangkal 12. Sistem Kardiovaskuler a. Nadi : 85x/menit b. Denyut lemah c. TD : 130/90 mmHg d. Warna kulit pucat 13. Sistem Pencernaan a. Terdapat stomatitis b. Lidah kotor c. Bising usus : 12x/menit d. Terdapat asites, perut membesar dan terasa keras saat palpasi, timpani saat perkusi. 14. Sistem Integumen a. Warna kulit pucat b. Turgor kulit buruk c. Rambut tampak rontok dan tidak baik 15. Sistem Muskuloskeletal a. Kekuatan otot b. Pasien aktivitas masih dibantu anaknya dan pasien pembatasaan aktivitas. 16. Sistem Kekebalan Tubuh a. Suhu : 36,8 °C 17. Pemeriksaan Abdomen a. Abdomen membesar b. Asites dan lingkar perut 88 cm c. Perut keras saat palpasi d. Bunyi timpani saat perkusi e. Massa multikistik ±82 x 76 mm f. Bekas luka operasi 2 jari di bawah umbilicus 18. Pemeriksaan Penunjang a. Laboratorium Hemoglobin: P1: 10,8 g/dl P2: 9,1 g/dl P3: 11,2 g/dl P4: 11,1 g/dl Leukosit: P1: 2,8 Rb/ul P2: 3,3 Rb/ul P3: 3,4 Rb/ul P4: 3,7 Rb/ul Trombosit: P3: 130 Rb/ul P4: 105 Rb/ul Eritrosit: P1: 3,64 Rb/ul P4: 3,77 Rb/ul Monosit: P1: 1% P4: 11% 19. Pemeriksaan Diagnostik : a. USG pada tanggal 17 Oktober 2018 menunjukkan adanya hidrosalping kiri dan kanan, NOK kanan, asites, dan perlekatan genitalia internal. b. USG thoraks tanggal 9 Januari 2019 menunjukkan efusi pleura kanan dan kiri dengan atelectasis. c. Foto toraks tanggal 8 Januari 2019 memperlihatkan efusi pleura bilateral dan konsolidasi di paru kanan tengah bawah. d. CT scan whole abdomen tanggal 14 Desember 2018 menunjukkan adanya massa multikistik di adneksa bilateral, asites, efusi pleura kiri, infiltrat basal paru bilateral, hepatomegali, kista ginjal bilateral, serta disarankan untuk dilakukan MRI pelvis. e. Pemeriksaan abdomen tiga posisi pada tanggal 14 Desember 2018 yang sama menunjukkan adanya asites dan suspek hepatomegali tanpa tanda-tanda ileus atau pneumoperitoneum. f. Hasil biopsi pada tanggal 14 Januari 2019 menunjukkan jaringan omentum yang mengandung sel tumor dengan struktur solid dan papiler serta mitosis atipik. 20. Terapi yang diberikan kepada pasien meliputi diet nasi 1900 kkal tidak pedas 21. Penatalaksanaan Farmakologi a. Tramal supp 3x/hari b. Profonid 100mg c. Ranitidine 2x150 mg/hari d. Ondansetron 3x8 mg/hari e. Kabiven 1000 ml/hari f. Leucogen 1amp (IV) (saat leukosit turun) g. Neurobion 2x5000 (IV) (saat Hb turun)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: **Diagnosa Keperawatan Berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI (PPNI)**
Berikut adalah diagnosa keperawatan yang relevan untuk pasien berdasarkan data subjektif dan objektif, disertai penjelasan singkat sesuai Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).
---
### **1. Nyeri Akut (SDKI: 00032)**
**Definisi:** Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, intensitas ringan hingga berat, dan durasi kurang dari 3 bulan.
**Data Pendukung:**
- Nyeri abdomen (skala 6/10) dengan karakteristik seperti "diperas".
- Nyeri memberat saat malam atau aktivitas.
- Pasien meringis, gelisah, dan tampak kesakitan.
- Asites dan massa multikistik abdomen.
**SLKI (Luaran):**
- **0003201:** Nyeri berkurang atau terkontrol.
- **0003203:** Ekspresi wajah rileks.
**SIKI (Intervensi):**
- **0801:** Manajemen Nyeri (pemberian analgesik seperti Tramal, posisi nyaman).
- **0803:** Terapi Relaksasi (napas dalam, distraksi).
---
### **2. Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh (SDKI: 00002)**
**Definisi:** Asupan nutrisi tidak mencukupi kebutuhan metabolik, menyebabkan penurunan berat badan, kelemahan, atau defisiensi nutrisi.
**Data Pendukung:**
- Penurunan berat badan dari 50 kg ? 39 kg.
- Asupan hanya 2x/hari, tidak suka buah/susu.
- Turgor kulit buruk, bibir kering, konjungtiva anemis.
- Hb rendah (9,111,2 g/dL).
**SLKI:**
- **0000201:** Peningkatan asupan nutrisi.
- **0000204:** Berat badan stabil/meningkat.
**SIKI:**
- **0401:** Manajemen Nutrisi (diet 1900 kkal, suplemen Kabiven).
- **0403:** Edukasi Gizi (peningkatan protein dan kalori).
---
### **3. Gangguan Pola Tidur (SDKI: 00095)**
**Definisi:** Gangguan kuantitas/kualitas tidur yang menyebabkan ketidaknyamanan atau mengganggu fungsi sehari-hari.
**Data Pendukung:**
- Tidur hanya 3 jam/malam, sering terbangun karena nyeri.
- Kelelahan dan lemas.
**SLKI:**
- **0009501:** Durasi tidur meningkat.
- **0009503:** Pasien melaporkan perbaikan kualitas tidur.
**SIKI:**
- **2001:** Terapi Tidur (rutinitas tidur, lingkungan nyaman).
- **0801:** Manajemen Nyeri (untuk mengurangi nyeri pengganggu tidur).
---
### **4. Ansietas (SDKI: 00146)**
**Definisi:** Perasaan khawatir, ketakutan, atau gelisah akibat ancaman persepsi yang tidak jelas sumbernya.
**Data Pendukung:**
- Khawatir akan masa depan, takut meninggalkan anak.
- Stres mengganggu adherence pengobatan.
**SLKI:**
- **0014601:** Ansietas terkontrol.
- **0014604:** Pasien mampu menggunakan strategi koping.
**SIKI:**
- **5401:** Dukungan Emosional (pendekatan terapeutik).
- **5410:** Edukasi Manajemen Stres.
---
### **5. Ketidakefektifan Koping (SDKI: 00124)**
**Definisi:** Ketidakmampuan mengelola stresor secara adaptif, mengakibatkan gangguan fungsi sosial atau kesehatan.
**Data Pendukung:**
- Perasaan tidak berdaya, takut akan ketidakpastian.
- Mengabaikan edukasi kesehatan karena stres.
**SLKI:**
- **0012401:** Mengidentifikasi strategi koping efektif.
**SIKI:**
- **5230:** Konseling Koping.
- **5240:** Dukungan Sosial (melibatkan keluarga).
---
### **6. Risiko Infeksi (SDKI: 00004)**
**Definisi:** Peningkatan kerentanan terhadap invasi patogen.
**Data Pendukung:**
- Leukosit rendah (2,83,7 Rb/ul).
- Stomatitis, trombositopenia.
**SLKI:**
- **0000401:** Tidak menunjukkan tanda infeksi.
**SIKI:**
- **1800:** Pemantauan Tanda Infeksi.
- **6520:** Proteksi Infeksi (cuci tangan, perawatan luka).
---
### **7. Intoleransi Aktivitas (SDKI: 00092)**
**Definisi:** Ketidakcukupan energi fisik atau psikologis untuk menjalani aktivitas sehari-hari.
**Data Pendukung:**
- Lemas, aktivitas dibantu anak.
- Sesak napas saat beraktivitas.
**SLKI:**
- **0009201:** Peningkatan toleransi aktivitas.
**SIKI:**
- **0201:** Manajemen Energi (pacing aktivitas).
- **0204:** Latihan Mobilisasi Bertahap.
---
### **Catatan:**
- Kode SDKI/SLKI/SIKI mengacu pada **PPNI Edisi Terkini**.
- Intervensi disesuaikan dengan kondisi pasien dan kolaborasi tim kesehatan.
Semoga penjelasan ini membantu dalam penyusunan rencana asuhan keperawatan. -
Article No. 18532 | 14 Jun 2025
Klinis : DATA SUBYEKTIF DATA OBYEKTIF Pasien mengatakan : 1. nyeri perut yang sudah dirasakan selama kurang lebih tiga bulan terakhir. 2. Nyeri tersebut dirasakan semakin memberat dan disertai dengan perut yang terasa tegang dan kaku, tanpa disertai perdarahan dari vagina. 3. Sekitar tiga minggu sebelum masuk rumah sakit tidak dapat buang air kecil. 4. mulai kehilangan nafsu makan dan minum 5. merasa sangat lemas, 6. P : Nyeri muncul mendadak, dipicu oleh aktivitas berlebihan dan pembesaran perut (asites). Q : Nyeri digambarkan seperti diperas, R : Abdomen S : 6 dari 10 T : Sudah berlangsung selama ±3 bulan Terus-menerus, memberat saat malam atau saat aktivitas. 7. Sesak napas juga muncul saat nyeri datang. 8. pasien mengeluhkan mual dan perut terasa tidak nyaman. 9. hanya bisa tidur selama 3 jam setiap malam dan sering terbangun. 10. mengalami gangguan dalam aktivitas sehari-hari. 11. sulit tidur akibat nyeri perut yang terus-menerus dirasakan. Ia sering terjaga di malam hari karena rasa nyeri tersebut, sehingga merasa bahwa waktu istirahatnya tidak cukup dan tidak puas dengan kualitas tidurnya. 12. Mempunyai Riwayat penyakit terdahulu mencatat adanya diagnosa NOK dan efusi pleura. 13. sering merasa khawatir, pusing, dan bingung memikirkan masa depannya, terutama setelah kehilangan suaminya. 14. Keberadaan anak pertamanya yang tinggal bersamanya menjadi sumber dukungan emosional yang sangat berarti dan memotivasinya untuk tetap kuat menjalani pengobatan. 15. Pasien hanya makan dua kali sehari, tidak menyukai buah dan susu 16. berharap kondisi kesehatannya membaik dan bisa kembali menjalani aktivitas sehari-hari secara normal, serta berharap penyakitnya dapat dikendalikan sehingga tidak membahayakan nyawanya. 17. Pasien merasa dirinya terasa tidak berdaya, lemah fisik dan mental, serta merasa takut akan masa depannya yang tidak pasti. 18. Ia merasa bahwa kondisi ini mempengaruhi citra dirinya sebagai wanita dan ibu. 19. takut meninggalkan anaknya dan merasa terbebani oleh kondisi fisik yang menurun serta ketidakpastian masa depannya. Ia juga merasa kekhawatiran mengenai proses pengobatan dan keberlanjutan hidupnya. 20. sering mengonsumsi makanan pedas, berminyak, lalapan, dan makanan yang dibakar. 21. Stres dan kondisi mental yang terganggu menyebabkan pasien sering mengabaikan edukasi dari tenaga kesehatan dan cepat lupa setelah dijelaskan. 22. Pendidikan terakhir SMP 23. mengalami katarak di kedua mata, namun masih dapat melihat walau buram. 24. jantung berdebar sedang namun tidak disertai keluhan nyeri dada. 25. Nyeri sendi pada saat melakukan aktivitas berlebihan. 1. mengalami penurunan berat badan yang signifikan dari 50 kg menjadi 39 kg. 2. pasien tampak meringis, mengerutkan dahi, dan gelisah. 3. Pasien tampak tampak lemah, bibir kering. 4. terdapat sariawan dan bercak putih pada lidah. 5. pasien menjalani pengobatan menggunakan Profonid 100 mg 6. Asupan cairan: ±1000 cc/hari 7. turgor kulit tidak elastis 8. Konjungtiva anemis 9. 10. Keadaan umum : baik, Compos mentis 11. Sistem Pernafasan a. RR : 22x/menit b. Kedalaman dangkal 12. Sistem Kardiovaskuler a. Nadi : 85x/menit b. Denyut lemah c. TD : 130/90 mmHg d. Warna kulit pucat 13. Sistem Pencernaan a. Terdapat stomatitis b. Lidah kotor c. Bising usus : 12x/menit d. Terdapat asites, perut membesar dan terasa keras saat palpasi, timpani saat perkusi. 14. Sistem Integumen a. Warna kulit pucat b. Turgor kulit buruk c. Rambut tampak rontok dan tidak baik 15. Sistem Muskuloskeletal a. Kekuatan otot b. Pasien aktivitas masih dibantu anaknya dan pasien pembatasaan aktivitas. 16. Sistem Kekebalan Tubuh a. Suhu : 36,8 °C 17. Pemeriksaan Abdomen a. Abdomen membesar b. Asites dan lingkar perut 88 cm c. Perut keras saat palpasi d. Bunyi timpani saat perkusi e. Massa multikistik ±82 x 76 mm f. Bekas luka operasi 2 jari di bawah umbilicus 18. Pemeriksaan Penunjang a. Laboratorium Hemoglobin: P1: 10,8 g/dl P2: 9,1 g/dl P3: 11,2 g/dl P4: 11,1 g/dl Leukosit: P1: 2,8 Rb/ul P2: 3,3 Rb/ul P3: 3,4 Rb/ul P4: 3,7 Rb/ul Trombosit: P3: 130 Rb/ul P4: 105 Rb/ul Eritrosit: P1: 3,64 Rb/ul P4: 3,77 Rb/ul Monosit: P1: 1% P4: 11% 19. Pemeriksaan Diagnostik : a. USG pada tanggal 17 Oktober 2018 menunjukkan adanya hidrosalping kiri dan kanan, NOK kanan, asites, dan perlekatan genitalia internal. b. USG thoraks tanggal 9 Januari 2019 menunjukkan efusi pleura kanan dan kiri dengan atelectasis. c. Foto toraks tanggal 8 Januari 2019 memperlihatkan efusi pleura bilateral dan konsolidasi di paru kanan tengah bawah. d. CT scan whole abdomen tanggal 14 Desember 2018 menunjukkan adanya massa multikistik di adneksa bilateral, asites, efusi pleura kiri, infiltrat basal paru bilateral, hepatomegali, kista ginjal bilateral, serta disarankan untuk dilakukan MRI pelvis. e. Pemeriksaan abdomen tiga posisi pada tanggal 14 Desember 2018 yang sama menunjukkan adanya asites dan suspek hepatomegali tanpa tanda-tanda ileus atau pneumoperitoneum. f. Hasil biopsi pada tanggal 14 Januari 2019 menunjukkan jaringan omentum yang mengandung sel tumor dengan struktur solid dan papiler serta mitosis atipik. 20. Terapi yang diberikan kepada pasien meliputi diet nasi 1900 kkal tidak pedas 21. Penatalaksanaan Farmakologi a. Tramal supp 3x/hari b. Profonid 100mg c. Ranitidine 2x150 mg/hari d. Ondansetron 3x8 mg/hari e. Kabiven 1000 ml/hari f. Leucogen 1amp (IV) (saat leukosit turun) g. Neurobion 2x5000 (IV) (saat Hb turun)
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: 1. Kode ICD-10:
- Kode: C56.9
- Deskripsi: Keganasan pada ovarium, tidak dispesifikasi
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 54.21
- Deskripsi: Laparotomi eksplorasi
Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosis utama pasien adalah keganasan pada ovarium (C56.9). Pasien mengeluhkan berbagai gejala yang sesuai dengan diagnosis ini, seperti nyeri perut, asites, penurunan berat badan, dan temuan pemeriksaan penunjang berupa massa multikistik di adneksa bilateral. Selain itu, hasil biopsi juga menunjukkan adanya jaringan tumor.
Terkait dengan tindakan medis, pasien telah menjalani laparotomi eksplorasi (kode ICD-9-CM 54.21) yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis dan menentukan penatalaksanaan selanjutnya. Pemeriksaan penunjang lain seperti USG, CT scan, dan foto toraks juga telah dilakukan untuk mendukung diagnosis dan mengevaluasi kondisi pasien. -
Article No. 18533 | 14 Jun 2025
Klinis : DATA SUBYEKTIF DATA OBYEKTIF Pasien mengatakan : 1. nyeri perut yang sudah dirasakan selama kurang lebih tiga bulan terakhir. 2. Nyeri tersebut dirasakan semakin memberat dan disertai dengan perut yang terasa tegang dan kaku, tanpa disertai perdarahan dari vagina. 3. Sekitar tiga minggu sebelum masuk rumah sakit tidak dapat buang air kecil. 4. mulai kehilangan nafsu makan dan minum 5. merasa sangat lemas, 6. P : Nyeri muncul mendadak, dipicu oleh aktivitas berlebihan dan pembesaran perut (asites). Q : Nyeri digambarkan seperti diperas, R : Abdomen S : 6 dari 10 T : Sudah berlangsung selama ±3 bulan Terus-menerus, memberat saat malam atau saat aktivitas. 7. Sesak napas juga muncul saat nyeri datang. 8. pasien mengeluhkan mual dan perut terasa tidak nyaman. 9. hanya bisa tidur selama 3 jam setiap malam dan sering terbangun. 10. mengalami gangguan dalam aktivitas sehari-hari. 11. sulit tidur akibat nyeri perut yang terus-menerus dirasakan. Ia sering terjaga di malam hari karena rasa nyeri tersebut, sehingga merasa bahwa waktu istirahatnya tidak cukup dan tidak puas dengan kualitas tidurnya. 12. Mempunyai Riwayat penyakit terdahulu mencatat adanya diagnosa NOK dan efusi pleura. 13. sering merasa khawatir, pusing, dan bingung memikirkan masa depannya, terutama setelah kehilangan suaminya. 14. Keberadaan anak pertamanya yang tinggal bersamanya menjadi sumber dukungan emosional yang sangat berarti dan memotivasinya untuk tetap kuat menjalani pengobatan. 15. Pasien hanya makan dua kali sehari, tidak menyukai buah dan susu 16. berharap kondisi kesehatannya membaik dan bisa kembali menjalani aktivitas sehari-hari secara normal, serta berharap penyakitnya dapat dikendalikan sehingga tidak membahayakan nyawanya. 17. Pasien merasa dirinya terasa tidak berdaya, lemah fisik dan mental, serta merasa takut akan masa depannya yang tidak pasti. 18. Ia merasa bahwa kondisi ini mempengaruhi citra dirinya sebagai wanita dan ibu. 19. takut meninggalkan anaknya dan merasa terbebani oleh kondisi fisik yang menurun serta ketidakpastian masa depannya. Ia juga merasa kekhawatiran mengenai proses pengobatan dan keberlanjutan hidupnya. 20. sering mengonsumsi makanan pedas, berminyak, lalapan, dan makanan yang dibakar. 21. Stres dan kondisi mental yang terganggu menyebabkan pasien sering mengabaikan edukasi dari tenaga kesehatan dan cepat lupa setelah dijelaskan. 22. Pendidikan terakhir SMP 23. mengalami katarak di kedua mata, namun masih dapat melihat walau buram. 24. jantung berdebar sedang namun tidak disertai keluhan nyeri dada. 25. Nyeri sendi pada saat melakukan aktivitas berlebihan. 1. mengalami penurunan berat badan yang signifikan dari 50 kg menjadi 39 kg. 2. pasien tampak meringis, mengerutkan dahi, dan gelisah. 3. Pasien tampak tampak lemah, bibir kering. 4. terdapat sariawan dan bercak putih pada lidah. 5. pasien menjalani pengobatan menggunakan Profonid 100 mg 6. Asupan cairan: ±1000 cc/hari 7. turgor kulit tidak elastis 8. Konjungtiva anemis 9. 10. Keadaan umum : baik, Compos mentis 11. Sistem Pernafasan a. RR : 22x/menit b. Kedalaman dangkal 12. Sistem Kardiovaskuler a. Nadi : 85x/menit b. Denyut lemah c. TD : 130/90 mmHg d. Warna kulit pucat 13. Sistem Pencernaan a. Terdapat stomatitis b. Lidah kotor c. Bising usus : 12x/menit d. Terdapat asites, perut membesar dan terasa keras saat palpasi, timpani saat perkusi. 14. Sistem Integumen a. Warna kulit pucat b. Turgor kulit buruk c. Rambut tampak rontok dan tidak baik 15. Sistem Muskuloskeletal a. Kekuatan otot b. Pasien aktivitas masih dibantu anaknya dan pasien pembatasaan aktivitas. 16. Sistem Kekebalan Tubuh a. Suhu : 36,8 °C 17. Pemeriksaan Abdomen a. Abdomen membesar b. Asites dan lingkar perut 88 cm c. Perut keras saat palpasi d. Bunyi timpani saat perkusi e. Massa multikistik ±82 x 76 mm f. Bekas luka operasi 2 jari di bawah umbilicus 18. Pemeriksaan Penunjang a. Laboratorium Hemoglobin: P1: 10,8 g/dl P2: 9,1 g/dl P3: 11,2 g/dl P4: 11,1 g/dl Leukosit: P1: 2,8 Rb/ul P2: 3,3 Rb/ul P3: 3,4 Rb/ul P4: 3,7 Rb/ul Trombosit: P3: 130 Rb/ul P4: 105 Rb/ul Eritrosit: P1: 3,64 Rb/ul P4: 3,77 Rb/ul Monosit: P1: 1% P4: 11% 19. Pemeriksaan Diagnostik : a. USG pada tanggal 17 Oktober 2018 menunjukkan adanya hidrosalping kiri dan kanan, NOK kanan, asites, dan perlekatan genitalia internal. b. USG thoraks tanggal 9 Januari 2019 menunjukkan efusi pleura kanan dan kiri dengan atelectasis. c. Foto toraks tanggal 8 Januari 2019 memperlihatkan efusi pleura bilateral dan konsolidasi di paru kanan tengah bawah. d. CT scan whole abdomen tanggal 14 Desember 2018 menunjukkan adanya massa multikistik di adneksa bilateral, asites, efusi pleura kiri, infiltrat basal paru bilateral, hepatomegali, kista ginjal bilateral, serta disarankan untuk dilakukan MRI pelvis. e. Pemeriksaan abdomen tiga posisi pada tanggal 14 Desember 2018 yang sama menunjukkan adanya asites dan suspek hepatomegali tanpa tanda-tanda ileus atau pneumoperitoneum. f. Hasil biopsi pada tanggal 14 Januari 2019 menunjukkan jaringan omentum yang mengandung sel tumor dengan struktur solid dan papiler serta mitosis atipik. 20. Terapi yang diberikan kepada pasien meliputi diet nasi 1900 kkal tidak pedas 21. Penatalaksanaan Farmakologi a. Tramal supp 3x/hari b. Profonid 100mg c. Ranitidine 2x150 mg/hari d. Ondansetron 3x8 mg/hari e. Kabiven 1000 ml/hari f. Leucogen 1amp (IV) (saat leukosit turun) g. Neurobion 2x5000 (IV) (saat Hb turun)
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan data subjektif dan objektif yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan SDKI yang sesuai, luaran/output yang diharapkan setelah asuhan keperawatan (SLKI), serta intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran (SIKI):
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Nyeri Kronis berhubungan dengan proses penyakit/cedera, seperti yang ditunjukkan oleh pasien mengeluhkan nyeri perut yang terus-menerus selama kurang lebih 3 bulan, dengan nyeri yang semakin memberat dan disertai perut yang terasa tegang dan kaku.
2. Gangguan Pola Tidur berhubungan dengan nyeri kronis, seperti yang ditunjukkan oleh pasien hanya bisa tidur selama 3 jam setiap malam dan sering terbangun akibat nyeri perut.
3. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik, seperti yang ditunjukkan oleh pasien mengalami penurunan berat badan yang signifikan, tampak lemah, dan membutuhkan bantuan dalam beraktivitas.
4. Kekurangan Volume Cairan berhubungan dengan asupan cairan yang inadekuat, seperti yang ditunjukkan oleh pasien hanya mengonsumsi ±1000 cc/hari, turgor kulit tidak elastis, dan konjungtiva anemis.
5. Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh berhubungan dengan intake makanan yang tidak adekuat, seperti yang ditunjukkan oleh pasien mengalami penurunan berat badan yang signifikan, tampak lemah, sariawan, bercak putih pada lidah, dan hanya makan 2 kali sehari.
6. Kecemasan berhubungan dengan krisis situasional, seperti yang ditunjukkan oleh pasien merasa khawatir, pusing, dan bingung memikirkan masa depannya, terutama setelah kehilangan suaminya.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Nyeri Kronis
- Tujuan: Pasien akan melaporkan penurunan tingkat nyeri selama perawatan.
- Kriteria Hasil:
- Pasien akan melaporkan skala nyeri <4 dari 10.
- Pasien akan mendemonstrasikan strategi pengelolaan nyeri yang efektif.
- Pasien akan menunjukkan ekspresi wajah yang rileks.
2. Pola Tidur
- Tujuan: Pasien akan melaporkan peningkatan kualitas dan kuantitas tidur selama perawatan.
- Kriteria Hasil:
- Pasien akan melaporkan dapat tidur ?6 jam setiap malam.
- Pasien akan melaporkan merasa segar saat bangun tidur.
- Pasien akan melaporkan kepuasan dengan kualitas dan kuantitas tidurnya.
3. Toleransi Aktivitas
- Tujuan: Pasien akan menunjukkan peningkatan toleransi aktivitas selama perawatan.
- Kriteria Hasil:
- Pasien akan melaporkan peningkatan energi dan kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
- Pasien akan mendemonstrasikan peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
- Pasien akan melaporkan peningkatan kemampuan dalam memenuhi peran dan tanggung jawabnya.
4. Status Cairan
- Tujuan: Pasien akan menunjukkan keseimbangan cairan yang adekuat selama perawatan.
- Kriteria Hasil:
- Pasien akan melaporkan peningkatan asupan cairan.
- Pasien akan menunjukkan peningkatan turgor kulit.
- Pasien akan menunjukkan konjungtiva yang tidak anemis.
5. Status Nutrisi
- Tujuan: Pasien akan menunjukkan peningkatan status nutrisi selama perawatan.
- Kriteria Hasil:
- Pasien akan melaporkan peningkatan nafsu makan.
- Pasien akan menunjukkan peningkatan berat badan.
- Pasien akan menunjukkan perbaikan pada parameter laboratorium terkait status nutrisi.
6. Tingkat Kecemasan
- Tujuan: Pasien akan menunjukkan penurunan tingkat kecemasan selama perawatan.
- Kriteria Hasil:
- Pasien akan melaporkan penurunan tingkat kecemasan.
- Pasien akan menunjukkan ekspresi wajah yang lebih tenang.
- Pasien akan melaporkan peningkatan kemampuan untuk mengatasi masalah.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Nyeri Kronis
- Kaji karakteristik nyeri (P, Q, R, S, T)
- Berikan terapi farmakologi sesuai dengan instruksi dokter
- Ajarkan teknik nonfarmakologi untuk mengelola nyeri (misalnya relaksasi, distraksi, kompres hangat/dingin)
- Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk manajemen nyeri yang komprehensif
2. Gangguan Pola Tidur
- Kaji pola tidur pasien
- Identifikasi faktor-faktor yang mengganggu tidur
- Berikan lingkungan yang nyaman untuk tidur
- Ajarkan teknik relaksasi untuk memfasilitasi tidur
- Berikan obat tidur sesuai instruksi dokter, jika diperlukan
3. Intoleransi Aktivitas
- Kaji tingkat aktivitas pasien saat ini dan riwayat aktivitas sebelumnya
- Berikan aktivitas sesuai dengan toleransi pasien
- Ajarkan teknik konservasi energi
- Kolaborasi dengan fisioterapis untuk program rehabilitasi
4. Kekurangan Volume Cairan
- Kaji asupan dan output cairan pasien
- Berikan cairan intravena sesuai dengan kebutuhan pasien
- Pantau tanda-tanda vital dan parameter cairan
- Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya asupan cairan yang adekuat
5. Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
- Kaji status nutrisi pasien (antropometri, biokimia, klinis, dan dietary)
- Berikan intervensi nutrisi sesuai dengan kebutuhan pasien (diet, suplemen, nutrisi enteral/parenteral)
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk merencanakan dan mengevaluasi intervensi nutrisi
- Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya asupan nutrisi yang adekuat
6. Kecemasan
- Kaji tingkat kecemasan pasien
- Berikan dukungan emosional dan fasilitasi ekspresi perasaan
- Ajarkan teknik relaksasi dan manajemen stres
- Libatkan keluarga dalam memberikan dukungan
- Kolaborasi dengan psikolog/psikiater, jika diperlukan
Dalam melaksanakan asuhan keperawatan, perawat perlu mempertimbangkan kondisi pasien secara holistik, melibatkan pasien dan keluarga dalam perencanaan dan pelaksanaan intervensi, serta berkolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk mencapai luaran yang diharapkan.