Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 18686 | 17 Jun 2025
Klinis : Demam, batuk lendir, pusing, lemas
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, saya akan memberikan kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis untuk kondisi yang Anda deskripsikan, dengan format yang terstruktur dan penjelasan detail.
1. Kode ICD-10:
- Kode: R50.9
- Deskripsi: Demam, tidak diklasifikasikan di tempat lain
- Kode: R05
- Deskripsi: Batuk
- Kode: R51
- Deskripsi: Sakit kepala
- Kode: R53.81
- Deskripsi: Kelelahan
Penjelasan:
- Kode R50.9 (Demam, tidak diklasifikasikan di tempat lain) digunakan untuk menggambarkan gejala demam yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam diagnosis yang lebih spesifik.
- Kode R05 (Batuk) digunakan untuk menggambarkan gejala batuk produktif dengan lendir.
- Kode R51 (Sakit kepala) digunakan untuk menggambarkan gejala pusing atau sakit kepala.
- Kode R53.81 (Kelelahan) digunakan untuk menggambarkan gejala kelelahan atau lemas.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
Tidak ada kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis yang spesifik untuk kondisi ini, karena ini merupakan gejala-gejala yang umumnya ditangani secara konservatif dengan pengobatan simptomatik.
Dalam kasus ini, tidak ada tindakan medis yang memerlukan kode ICD-9-CM, dan penanganan dapat berupa pemberian obat-obatan simptomatik, istirahat, dan pemantauan kondisi pasien. -
Article No. 18687 | 17 Jun 2025
Klinis : pasien datng dengan keluhan nyeri haid
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berdasarkan kondisi yang Anda paparkan, berikut adalah Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri Akut (10001)
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau yang digambarkan dalam istilah tersebut (International Association for the Study of Pain).
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Kode: 10001
- Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau yang digambarkan dalam istilah tersebut.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Kode: 10001
- Definisi: Tingkat keparahan nyeri yang dialami pasien berkurang.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Kode: 10001
- Definisi: Serangkaian tindakan yang ditujukan untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri yang dialami pasien.
Penjelasan singkat:
Diagnosa keperawatan Nyeri Akut (10001) sesuai dengan keluhan pasien yang mengalami nyeri haid. SDKI, SLKI, dan SIKI yang terkait memberikan definisi dan kode diagnosis, luaran, serta intervensi keperawatan yang diperlukan untuk menangani kondisi nyeri akut yang dialami pasien. -
Article No. 18611 | 16 Jun 2025
Klinis : amenorea primer dan sekunderr
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis untuk kondisi amenorea primer dan sekunder:
1. Kode ICD-10:
- Kode: N91.0
- Deskripsi: Amenorea primer
- Kode: N91.1
- Deskripsi: Amenorea sekunder
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 65.94
- Deskripsi: Dilatasi dan kuretase uterus, diagnostik
Penjelasan:
Amenorea primer adalah kondisi di mana seorang individu tidak pernah mengalami menstruasi pada usia yang seharusnya. Ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kelainan genetik, kelainan hormonal, atau malformasi organ reproduksi. Kode ICD-10 untuk amenorea primer adalah N91.0.
Amenorea sekunder adalah kondisi di mana seorang individu yang sebelumnya mengalami menstruasi, kemudian mengalami penghentian menstruasi selama lebih dari 3 bulan. Penyebabnya dapat berupa gangguan endokrin, stres, penurunan berat badan, atau penyakit kronik. Kode ICD-10 untuk amenorea sekunder adalah N91.1.
Dalam kasus ini, tidak ada kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis yang spesifik. Namun, jika diperlukan diagnosis lebih lanjut, prosedur yang mungkin dilakukan adalah dilatasi dan kuretase uterus secara diagnostik, yang memiliki kode ICD-9-CM 65.94. -
Article No. 18612 | 16 Jun 2025
Klinis : amenorea primer dan sekunderr
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, saya Perawat Profesional. Untuk kondisi amenorea primer dan sekunder, berikut diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Pola Menstruasi (00024)
Definisi: Perubahan dalam frekuensi, durasi, jumlah, atau karakteristik aliran menstruasi yang menyimpang dari pola normal.
2. Ketidakefektifan Fungsi Seksual (00059)
Definisi: Perubahan dalam fungsi seksual dan respon yang tidak sesuai dengan harapan individu.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
1. Gangguan Pola Menstruasi (00024)
Kode: 00024
Definisi: Perubahan dalam frekuensi, durasi, jumlah, atau karakteristik aliran menstruasi yang menyimpang dari pola normal.
2. Ketidakefektifan Fungsi Seksual (00059)
Kode: 00059
Definisi: Perubahan dalam fungsi seksual dan respon yang tidak sesuai dengan harapan individu.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Pola Menstruasi Efektif (1819)
Kode: 1819
Definisi: Kemampuan untuk mempertahankan pola menstruasi normal.
2. Fungsi Seksual Efektif (1803)
Kode: 1803
Definisi: Kemampuan untuk mengekspresikan dan menikmati respon seksual yang sesuai dengan harapan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Gangguan Pola Menstruasi (6940)
Kode: 6940
Definisi: Tindakan untuk memfasilitasi pemulihan pola menstruasi normal.
2. Manajemen Fungsi Seksual (6950)
Kode: 6950
Definisi: Tindakan untuk memfasilitasi kemampuan individu dalam mengekspresikan dan menikmati respon seksual yang sesuai dengan harapan.
Semoga informasi ini bermanfaat. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, jangan ragu untuk menanyakannya. -
Article No. 18613 | 16 Jun 2025
Klinis : amenorea
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, saya Petugas Keperawatan dengan persona sebagai pakar.
Berdasarkan kondisi yang Anda sampaikan, yaitu amenorea, maka berikut adalah Diagnosa Keperawatan, penjelasan singkat, serta kode dan definisi sesuai dengan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan:
Ketidakefektifan Pola Menstruasi (00010)
Definisi SDKI:
Perubahan pola menstruasi yang tidak sesuai dengan pola normal.
Luaran SLKI:
Pola Menstruasi Efektif (10020)
Definisi: Perubahan pola menstruasi yang sesuai dengan pola normal.
Intervensi SIKI:
Manajemen Amenorea (6660)
Definisi: Tindakan mandiri perawat untuk mengkaji, memonitor, dan memfasilitasi pemulihan pola menstruasi yang abnormal.
Kode intervensi: 6660
Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi Anda. Jika ada pertanyaan lain, jangan ragu untuk menanyakannya.
Wassalamualaikum. -
Article No. 18615 | 16 Jun 2025
Klinis : ? ASSESSMENT KEPERAWATAN Nama Pasien: Ny. M Usia: 74 tahun Jenis Kelamin: Perempuan Tanggal Pengkajian: 16 Juni 2025 Perawat Penanggung Jawab: [Nama Anda] --- ???? 1. Identitas Umum Nama: Ny. M Usia: 74 tahun Jenis kelamin: Perempuan Alamat: [isi] Agama: Islam Status pernikahan: Janda Pendidikan terakhir: SD Pekerjaan: Ibu rumah tangga Penanggung jawab: Anak kandung --- ?? 2. Keluhan Utama (Anamnesis Subjektif) “Saya sesak dari kemarin sore, makin berat sejak semalam. Lebih enak kalau duduk.” Nafsu makan ?, kadang mual, tidak muntah Tidak demam, tapi merasa lemas dan sering ngantuk Mengeluh tidak kuat jalan dan takut jatuh lagi (ada riwayat jatuh minggu lalu ? fraktur jari kaki kanan) Batuk ringan, tidak berdahak, suara napas berbunyi “grok-grok” --- ? 3. Pemeriksaan Fisik (Objektif) Tanda vital: TD: 140/80 mmHg Nadi: 83x/menit RR: 24x/menit Suhu: Afebris (36,8°C) SpO?: 88% RA ? naik ke 94% dgn O? nasal 3 LPM Kepala & leher: Tidak ada sianosis bibir Leher tidak ada distensi vena jugularis Thoraks: Simetris, namun gerakan pernapasan dangkal Suara napas: ronkhi basah kasar bilateral, wheezing (+) Jantung: S1–S2 normal, murmur tidak terdengar Ekstremitas: Akral hangat CRT <2 detik Pitting edema +/+ (pergelangan kaki hingga pretibial) Abdomen: Bising usus normal, nyeri tekan (-), tidak ada pembesaran hepar Ekstremitas bawah kanan: Fraktur digit pedis dextra (kemerahan, bengkak ringan, nyeri tekan) --- ? 4. Pemeriksaan Penunjang (Data Klinis Terintegrasi) Rontgen Thoraks: Infiltrat bilateral, kardiomegali, efusi pleura ringan Laboratorium: Leukosit: 16.400 ? (NLR 3,65) Ureum: 54 ? Kreatinin: 0.8 (normal) eGFR: 73 SGOT/SGPT: Normal Elektrolit: dalam batas normal EKG: Sinus rhythm reguler, tidak ada iskemia/arritmia --- ?? 5. Kebutuhan Dasar (Model Virginia Henderson) Aspek Temuan Bernapas normal Terganggu ? sesak, hipoksia Makan & minum Nafsu makan menurun Eliminasi Urine output belum tercatat Mobilisasi Terbatas akibat sesak dan fraktur Istirahat tidur Tidur terganggu karena sesak Kebersihan diri Dibantu anak Keamanan Takut jatuh, lingkungan belum disesuaikan Komunikasi Baik, orientasi waktu & tempat baik Kepercayaan / nilai Ibu rajin shalat, mengeluh tidak bisa shalat berdiri --- ? 6. Riwayat Kesehatan Penyakit saat ini: CHF, HT, curiga pneumonia ringan Penyakit terdahulu: Hipertensi, belum ada riwayat stroke/DM Obat rutin: Amlodipin 10 mg/hari Riwayat jatuh: Minggu lalu, fraktur jari kaki --- ???? 7. Riwayat Psikososial Pasien tinggal bersama anak Tidak menunjukkan tanda depresi berat Merasa "takut jadi beban", khawatir kondisi tambah parah Dukungan keluarga baik, tapi belum ada caregiver khusus ---
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan asesmen keperawatan yang telah diberikan, berikut diagnosa keperawatan SDKI yang sesuai, luaran yang diharapkan (SLKI), dan intervensi keperawatan yang diperlukan (SIKI):
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
2. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Kardiak
3. Intoleransi Aktivitas
4. Risiko Jatuh
Luaran yang Diharapkan (SLKI):
1. Bersihan Jalan Napas Efektif
- Bebas dari sumbatan jalan napas
- Frekuensi pernapasan dalam batas normal
- Saturasi oksigen dalam batas normal
- Tidak ada tanda-tanda distres pernapasan
2. Perfusi Jaringan Kardiak Efektif
- Tekanan darah dalam batas normal
- Nadi perifer teraba baik
- Tidak ada tanda-tanda gagal jantung
- Tidak ada pembengkakan pada ekstremitas
3. Toleransi Aktivitas Meningkat
- Mampu melakukan aktivitas sehari-hari dengan mandiri
- Tidak ada keluhan sesak saat beraktivitas
- Tidak ada penurunan kemampuan fungsional
4. Risiko Jatuh Menurun
- Tidak ada riwayat jatuh baru
- Lingkungan pasien aman dan disesuaikan
- Pasien mampu melakukan aktivitas dengan aman
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
- Atur posisi semi-fowler untuk memfasilitasi pernapasan
- Berikan oksigenasi sesuai kebutuhan
- Lakukan fisioterapi dada dan batuk efektif
- Monitor tanda-tanda vital dan saturasi oksigen
- Kolaborasi pemberian terapi bronkodilatator dan diuretik
2. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Kardiak
- Monitor tanda-tanda vital, intake-output, dan tanda-tanda gagal jantung
- Kolaborasi pemberian terapi kardiovaskular (misalnya: diuretik, ACE inhibitor)
- Anjurkan aktivitas fisik sesuai toleransi
- Edukasi pasien dan keluarga tentang manajemen CHF
3. Intoleransi Aktivitas
- Evaluasi kemampuan fungsional pasien
- Berikan bantuan mobilisasi sesuai kebutuhan
- Ajarkan teknik bernapas dalam dan relaksasi
- Kolaborasi pemberian terapi oksigen dan rehabilitasi
4. Risiko Jatuh
- Identifikasi faktor risiko jatuh
- Modifikasi lingkungan untuk mencegah jatuh
- Berikan alat bantu jalan sesuai kebutuhan
- Edukasi pasien dan keluarga tentang pencegahan jatuh
- Kolaborasi pemberian terapi fisik untuk meningkatkan keseimbangan
Penjelasan rinci dan terperinci untuk setiap poin di atas:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
- Pasien mengalami sesak napas, ronkhi basah kasar, dan wheezing yang mengindikasikan adanya gangguan pada bersihan jalan napas.
- Luaran yang diharapkan adalah pasien dapat mempertahankan bersihan jalan napas yang efektif, ditandai dengan bebas dari sumbatan jalan napas, frekuensi pernapasan dalam batas normal, saturasi oksigen dalam batas normal, dan tidak ada tanda-tanda distres pernapasan.
- Intervensi keperawatan yang diperlukan meliputi pengaturan posisi semi-fowler, pemberian oksigenasi, fisioterapi dada dan batuk efektif, pemantauan tanda-tanda vital dan saturasi oksigen, serta kolaborasi pemberian terapi bronkodilatator dan diuretik.
2. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Kardiak
- Pasien memiliki riwayat hipertensi dan gejala gagal jantung, seperti edema perifer, yang menunjukkan adanya gangguan pada perfusi jaringan kardiak.
- Luaran yang diharapkan adalah pasien dapat mempertahankan perfusi jaringan kardiak yang efektif, ditandai dengan tekanan darah dalam batas normal, nadi perifer teraba baik, tidak ada tanda-tanda gagal jantung, dan tidak ada pembengkakan pada ekstremitas.
- Intervensi keperawatan yang diperlukan meliputi pemantauan tanda-tanda vital, intake-output, dan tanda-tanda gagal jantung, kolaborasi pemberian terapi kardiovaskular (misalnya: diuretik, ACE inhibitor), anjuran aktivitas fisik sesuai toleransi, serta edukasi pasien dan keluarga tentang manajemen CHF.
3. Intoleransi Aktivitas
- Pasien mengalami keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari akibat sesak napas dan riwayat jatuh, yang menunjukkan adanya intoleransi aktivitas.
- Luaran yang diharapkan adalah pasien dapat meningkatkan toleransi aktivitas, ditandai dengan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari dengan mandiri, tidak ada keluhan sesak saat beraktivitas, dan tidak ada penurunan kemampuan fungsional.
- Intervensi keperawatan yang diperlukan meliputi evaluasi kemampuan fungsional pasien, pemberian bantuan mobilisasi sesuai kebutuhan, pengajaran teknik bernapas dalam dan relaksasi, serta kolaborasi pemberian terapi oksigen dan rehabilitasi.
4. Risiko Jatuh
- Pasien memiliki riwayat jatuh minggu lalu yang mengakibatkan fraktur jari kaki, serta merasa takut jatuh lagi, sehingga teridentifikasi berisiko jatuh.
- Luaran yang diharapkan adalah risiko jatuh pada pasien menurun, ditandai dengan tidak ada riwayat jatuh baru, lingkungan pasien aman dan disesuaikan, serta pasien mampu melakukan aktivitas dengan aman.
- Intervensi keperawatan yang diperlukan meliputi identifikasi faktor risiko jatuh, modifikasi lingkungan untuk mencegah jatuh, pemberian alat bantu jalan sesuai kebutuhan, edukasi pasien dan keluarga tentang pencegahan jatuh, serta kolaborasi pemberian terapi fisik untuk meningkatkan keseimbangan. -
Article No. 18616 | 16 Jun 2025
Klinis : ? ASSESSMENT KEPERAWATAN Nama Pasien: Ny. M Usia: 74 tahun Jenis Kelamin: Perempuan Tanggal Pengkajian: 16 Juni 2025 Perawat Penanggung Jawab: [Nama Anda] --- ???? 1. Identitas Umum Nama: Ny. M Usia: 74 tahun Jenis kelamin: Perempuan Alamat: [isi] Agama: Islam Status pernikahan: Janda Pendidikan terakhir: SD Pekerjaan: Ibu rumah tangga Penanggung jawab: Anak kandung --- ?? 2. Keluhan Utama (Anamnesis Subjektif) “Saya sesak dari kemarin sore, makin berat sejak semalam. Lebih enak kalau duduk.” Nafsu makan ?, kadang mual, tidak muntah Tidak demam, tapi merasa lemas dan sering ngantuk Mengeluh tidak kuat jalan dan takut jatuh lagi (ada riwayat jatuh minggu lalu ? fraktur jari kaki kanan) Batuk ringan, tidak berdahak, suara napas berbunyi “grok-grok” --- ? 3. Pemeriksaan Fisik (Objektif) Tanda vital: TD: 140/80 mmHg Nadi: 83x/menit RR: 24x/menit Suhu: Afebris (36,8°C) SpO?: 88% RA ? naik ke 94% dgn O? nasal 3 LPM Kepala & leher: Tidak ada sianosis bibir Leher tidak ada distensi vena jugularis Thoraks: Simetris, namun gerakan pernapasan dangkal Suara napas: ronkhi basah kasar bilateral, wheezing (+) Jantung: S1–S2 normal, murmur tidak terdengar Ekstremitas: Akral hangat CRT <2 detik Pitting edema +/+ (pergelangan kaki hingga pretibial) Abdomen: Bising usus normal, nyeri tekan (-), tidak ada pembesaran hepar Ekstremitas bawah kanan: Fraktur digit pedis dextra (kemerahan, bengkak ringan, nyeri tekan) --- ? 4. Pemeriksaan Penunjang (Data Klinis Terintegrasi) Rontgen Thoraks: Infiltrat bilateral, kardiomegali, efusi pleura ringan Laboratorium: Leukosit: 16.400 ? (NLR 3,65) Ureum: 54 ? Kreatinin: 0.8 (normal) eGFR: 73 SGOT/SGPT: Normal Elektrolit: dalam batas normal EKG: Sinus rhythm reguler, tidak ada iskemia/arritmia --- ?? 5. Kebutuhan Dasar (Model Virginia Henderson) Aspek Temuan Bernapas normal Terganggu ? sesak, hipoksia Makan & minum Nafsu makan menurun Eliminasi Urine output belum tercatat Mobilisasi Terbatas akibat sesak dan fraktur Istirahat tidur Tidur terganggu karena sesak Kebersihan diri Dibantu anak Keamanan Takut jatuh, lingkungan belum disesuaikan Komunikasi Baik, orientasi waktu & tempat baik Kepercayaan / nilai Ibu rajin shalat, mengeluh tidak bisa shalat berdiri --- ? 6. Riwayat Kesehatan Penyakit saat ini: CHF, HT, curiga pneumonia ringan Penyakit terdahulu: Hipertensi, belum ada riwayat stroke/DM Obat rutin: Amlodipin 10 mg/hari Riwayat jatuh: Minggu lalu, fraktur jari kaki --- ???? 7. Riwayat Psikososial Pasien tinggal bersama anak Tidak menunjukkan tanda depresi berat Merasa "takut jadi beban", khawatir kondisi tambah parah Dukungan keluarga baik, tapi belum ada caregiver khusus ---
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis:
1. Kode ICD-10:
- Kode: I50.0
- Deskripsi: Gagal jantung kongestif (CHF)
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 93.90
- Deskripsi: Pemberian oksigen, tidak terspesifikasi
Penjelasan:
- Kode ICD-10 I50.0 (Gagal jantung kongestif) sesuai dengan gejala sesak napas, edema perifer, dan tanda-tanda klinis lain yang mengarah pada diagnosis CHF.
- Kode ICD-9-CM 93.90 (Pemberian oksigen, tidak terspesifikasi) berkaitan dengan pemberian oksigen nasal 3 LPM untuk meningkatkan saturasi oksigen pasien.
Dalam kasus ini, tidak ditemukan adanya tindakan medis lain yang memerlukan kode ICD-9-CM prosedur, sehingga hanya pemberian oksygen yang tercatat. -
Article No. 18617 | 16 Jun 2025
Klinis : ???? 1. Identitas Umum Nama: Ny. Masenah Usia: 74 tahun Jenis kelamin: Perempuan Alamat: [isi] Agama: Islam Status pernikahan: Janda Pendidikan terakhir: SD Pekerjaan: Ibu rumah tangga Penanggung jawab: Anak kandung --- ?? 2. Keluhan Utama (Anamnesis Subjektif) “Saya sesak dari kemarin sore, makin berat sejak semalam. Lebih enak kalau duduk.” Nafsu makan ?, kadang mual, tidak muntah Tidak demam, tapi merasa lemas dan sering ngantuk Mengeluh tidak kuat jalan dan takut jatuh lagi (ada riwayat jatuh minggu lalu ? fraktur jari kaki kanan) Batuk ringan, tidak berdahak, suara napas berbunyi “grok-grok” --- ? 3. Pemeriksaan Fisik (Objektif) Tanda vital: TD: 140/80 mmHg Nadi: 83x/menit RR: 24x/menit Suhu: Afebris (36,8°C) SpO?: 88% RA ? naik ke 94% dgn O? nasal 3 LPM Kepala & leher: Tidak ada sianosis bibir Leher tidak ada distensi vena jugularis Thoraks: Simetris, namun gerakan pernapasan dangkal Suara napas: ronkhi basah kasar bilateral, wheezing (+) Jantung: S1–S2 normal, murmur tidak terdengar Ekstremitas: Akral hangat CRT <2 detik Pitting edema +/+ (pergelangan kaki hingga pretibial) Abdomen: Bising usus normal, nyeri tekan (-), tidak ada pembesaran hepar Ekstremitas bawah kanan: Fraktur digit pedis dextra (kemerahan, bengkak ringan, nyeri tekan) --- ? 4. Pemeriksaan Penunjang (Data Klinis Terintegrasi) Rontgen Thoraks: Infiltrat bilateral, kardiomegali, efusi pleura ringan Laboratorium: Leukosit: 16.400 ? (NLR 3,65) Ureum: 54 ? Kreatinin: 0.8 (normal) eGFR: 73 SGOT/SGPT: Normal Elektrolit: dalam batas normal EKG: Sinus rhythm reguler, tidak ada iskemia/arritmia --- ?? 5. Kebutuhan Dasar (Model Virginia Henderson) Aspek Temuan Bernapas normal Terganggu ? sesak, hipoksia Makan & minum Nafsu makan menurun Eliminasi Urine output belum tercatat Mobilisasi Terbatas akibat sesak dan fraktur Istirahat tidur Tidur terganggu karena sesak Kebersihan diri Dibantu anak Keamanan Takut jatuh, lingkungan belum disesuaikan Komunikasi Baik, orientasi waktu & tempat baik Kepercayaan / nilai Ibu rajin shalat, mengeluh tidak bisa shalat berdiri --- ? 6. Riwayat Kesehatan Penyakit saat ini: CHF, HT, curiga pneumonia ringan Penyakit terdahulu: Hipertensi, belum ada riwayat stroke/DM Obat rutin: Amlodipin 10 mg/hari Riwayat jatuh: Minggu lalu, fraktur jari kaki --- ???? 7. Riwayat Psikososial Pasien tinggal bersama anak Tidak menunjukkan tanda depresi berat Merasa "takut jadi beban", khawatir kondisi tambah parah Dukungan keluarga baik, tapi belum ada caregiver khusus
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, saya dapat memberikan beberapa diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI untuk kondisi Ny. Masenah, dengan kode dan definisinya sesuai dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
1. Diagnosis Keperawatan: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
- SDKI: Kode 00031, Definisi - Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan bersihan jalan napas.
- SLKI: Kode 15001, Definisi - Kemampuan untuk mempertahankan bersihan jalan napas.
- SIKI: Kode N-0201, Definisi - Tindakan untuk memfasilitasi pengeluaran sekret atau benda asing dari saluran napas.
2. Diagnosis Keperawatan: Perfusi Jaringan Tidak Efektif
- SDKI: Kode 00024, Definisi - Penurunan sirkulasi darah ke satu atau lebih bagian tubuh.
- SLKI: Kode 15002, Definisi - Kemampuan untuk mempertahankan sirkulasi darah yang adekuat ke seluruh tubuh.
- SIKI: Kode N-0205, Definisi - Tindakan untuk memfasilitasi pemenuhan kebutuhan oksigen dan nutrisi ke jaringan.
3. Diagnosis Keperawatan: Intoleransi Aktivitas
- SDKI: Kode 00092, Definisi - Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan atau diperlukan, akibat keterbatasan fisik dan/atau psikologis.
- SLKI: Kode 15010, Definisi - Kemampuan untuk melakukan aktivitas rutin yang diinginkan atau diperlukan.
- SIKI: Kode N-0208, Definisi - Tindakan untuk memfasilitasi keterlibatan individu dalam aktivitas yang diinginkan atau diperlukan.
4. Diagnosis Keperawatan: Risiko Jatuh
- SDKI: Kode 00155, Definisi - Peningkatan kerentanan untuk jatuh yang dapat menyebabkan cidera fisik.
- SLKI: Kode 15014, Definisi - Kemampuan untuk mencegah jatuh.
- SIKI: Kode N-0210, Definisi - Tindakan untuk mencegah cidera akibat jatuh.
Penjelasan singkat untuk masing-masing diagnosis keperawatan:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif: Pasien mengalami sesak napas, ronkhi basah kasar, dan wheezing yang mengganggu bersihan jalan napas.
2. Perfusi Jaringan Tidak Efektif: Pasien mengalami hipoksia (SpO2 rendah) yang dapat mengganggu perfusi jaringan.
3. Intoleransi Aktivitas: Pasien mengalami keterbatasan aktivitas akibat sesak napas dan fraktur jari kaki.
4. Risiko Jatuh: Pasien memiliki riwayat jatuh minggu lalu dengan fraktur jari kaki, serta merasa takut jatuh lagi. -
Article No. 18618 | 16 Jun 2025
Klinis : henti nafa, henti jantung
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci mengenai kondisi henti nafas dan henti jantung, sesuai dengan format yang Anda berikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Diagnosa Keperawatan: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan bersihan jalan napas.
Penyebab: Henti napas
2. Diagnosa Keperawatan: Perfusi Jaringan Kardiak Tidak Efektif
Definisi: Ketidakmampuan untuk mempertahankan pasokan oksigen dan nutrisi yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan metabolik jaringan jantung.
Penyebab: Henti jantung
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Bersihan Jalan Napas
- Klien menunjukkan bersihan jalan napas yang efektif.
- Klien dapat mempertahankan pola napas yang normal.
- Tidak ada tanda-tanda obstruksi jalan napas.
2. Perfusi Jaringan Kardiak
- Klien menunjukkan perfusi jaringan jantung yang efektif.
- Klien memiliki irama jantung yang normal.
- Tidak ada tanda-tanda hipoperfusi jaringan jantung.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Intervensi untuk Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif:
- Lakukan ventilasi mekanik jika diperlukan.
- Lakukan suction pada jalan napas.
- Berikan oksigen sesuai kebutuhan.
- Pantau pola napas dan saturasi oksigen.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk penanganan lebih lanjut.
2. Intervensi untuk Perfusi Jaringan Kardiak Tidak Efektif:
- Lakukan tindakan resusitasi jantung paru (RJP) jika diperlukan.
- Berikan obat-obatan vasopressor sesuai indikasi.
- Pantau tanda-tanda vital, irama jantung, dan output urine.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk penanganan lebih lanjut.
Penjelasan rinci:
Henti napas dan henti jantung merupakan kondisi gawat darurat yang membutuhkan penanganan segera. Diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif dan Perfusi Jaringan Kardiak Tidak Efektif. Tujuan asuhan keperawatan adalah mempertahankan bersihan jalan napas dan perfusi jaringan jantung yang efektif. Intervensi keperawatan yang diperlukan meliputi tindakan ventilasi mekanik, suction, pemberian oksigen, resusitasi jantung paru, pemberian obat-obatan, dan pemantauan tanda-tanda vital. Kolaborasi dengan tim medis juga diperlukan untuk penanganan lebih lanjut. -
Article No. 18619 | 16 Jun 2025
Klinis : henti nafa, henti jantung
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi henti napas dan henti jantung dengan pendekatan akademis dan persona pakar keperawatan:
---
### **Diagnosis Keperawatan**
**Kode DX.1.3: Gangguan Pertukaran Gas**
*Definisi:* Ketidakmampuan tubuh untuk mempertahankan pertukaran oksigen dan karbon dioksida secara adekuat akibat henti napas.
**Kode DX.2.1: Penurunan Curah Jantung**
*Definisi:* Ketidakmampuan jantung memompa darah secara adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh akibat henti jantung.
---
### **Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)**
1. **Kode LO.1.3.1: Pertukaran Gas Membaik**
*Kriteria:*
- Saturasi oksigen (SpO?) ? 94%.
- Nilai gas darah arteri (PaO?, PaCO?) dalam rentang normal.
- Tidak ada sianosis atau distress pernapasan.
2. **Kode LO.2.1.1: Curah Jardin Memadai**
*Kriteria:*
- Tekanan darah sistolik ? 90 mmHg.
- Denyut nadi teraba dan ritmis.
- Tidak ada tanda syok (kulit hangat, CRT < 2 detik).
---
### **Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)**
1. **Kode I.1.3.1: Manajemen Jalan Napas**
*Tindakan:*
- Bebaskan jalan napas (head tilt-chin lift/jaw thrust).
- Pasang alat bantu napas (OPA/NPA) jika diperlukan.
- Lakukan intubasi endotrakeal sesuai protokol.
2. **Kode I.2.1.1: Resusitasi Jantung Paru (RJP)**
*Tindakan:*
- Kompresi dada dengan kedalaman 5–6 cm dan kecepatan 100–120 kali/menit.
- Pemberian epinefrin sesuai protokol ACLS.
- Defibrilasi jika diperlukan (VF/pulseless VT).
3. **Kode I.1.3.2: Oksigenasi Darurat**
*Tindakan:*
- Berikan oksigenasi dengan bag-valve-mask (BVM) 15 L/menit.
- Monitor saturasi oksigen secara kontinu.
4. **Kode I.2.1.3: Pemantauan Hemodinamik**
*Tindakan:*
- Pantau EKG, tekanan darah invasif/non-invasif.
- Observasi tanda perfusi perifer.
---
### **Catatan Akademis**
- **Patofisiologi:** Henti napas dan henti jantung menyebabkan hipoksia jaringan dan kegagalan sistem sirkulasi, berpotensi menyebabkan kerusakan organ irreversible (e.g., ensefalopati hipoksik).
- **Evidence-Based Practice:** Pedoman AHA 2020 menekankan pentingnya *high-quality CPR* dan defibrilasi dini untuk meningkatkan survival rate.
- **Evaluasi:** Keberhasilan intervensi dinilai dari ROSC (*Return of Spontaneous Circulation*) dan stabilitas hemodinamik pasca-resusitasi.
Format ini memenuhi standar PPNI dan mengintegrasikan prinsip *critical care nursing* dengan pendekatan sistematis.