Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 18845 | 20 Jun 2025
Klinis : intervensi komunitas pada pasien hipertensi
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, izinkan saya sebagai perawat profesional untuk memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci terkait kondisi pasien hipertensi dalam konteks intervensi komunitas.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
1. Manajemen Kesehatan Komunitas
- Definisi: Ketidakmampuan komunitas untuk mengelola masalah kesehatan secara mandiri.
- Karakteristik: Komunitas tidak memiliki pengetahuan, kemampuan, atau sumber daya yang memadai untuk mengelola masalah kesehatan.
- Faktor yang Berkontribusi: Rendahnya pemahaman komunitas tentang hipertensi, kurangnya akses ke layanan kesehatan, dan rendahnya partisipasi komunitas dalam program kesehatan.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Manajemen Kesehatan Komunitas
- Definisi: Kemampuan komunitas untuk mengelola masalah kesehatan secara mandiri.
- Kriteria Hasil:
a. Komunitas memiliki pengetahuan yang memadai tentang hipertensi dan faktor risikonya.
b. Komunitas memiliki akses yang baik ke layanan kesehatan untuk deteksi dini dan pengelolaan hipertensi.
c. Komunitas berpartisipasi aktif dalam program pencegahan dan pengendalian hipertensi.
d. Terjadi penurunan prevalensi dan komplikasi hipertensi di komunitas.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
1. Edukasi Kesehatan Komunitas
- Tujuan: Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran komunitas tentang hipertensi.
- Aktivitas:
a. Melakukan penyuluhan kesehatan tentang definisi, faktor risiko, gejala, dan komplikasi hipertensi.
b. Memberikan edukasi tentang gaya hidup sehat untuk mencegah dan mengendalikan hipertensi.
c. Menggunakan media edukasi yang sesuai dengan karakteristik komunitas.
d. Melibatkan tokoh masyarakat dan pemuka agama dalam kegiatan edukasi.
2. Kemitraan Lintas Sektor
- Tujuan: Meningkatkan akses komunitas ke layanan kesehatan untuk deteksi dini dan pengelolaan hipertensi.
- Aktivitas:
a. Membangun kerjasama dengan puskesmas, rumah sakit, dan fasilitas kesehatan lainnya.
b. Memfasilitasi kegiatan skrining dan pemeriksaan tekanan darah secara rutin di komunitas.
c. Mengkoordinasikan rujukan dan tindak lanjut pasien hipertensi ke fasilitas kesehatan.
d. Melibatkan sektor terkait (pemerintah daerah, organisasi masyarakat, dll.) dalam mendukung program kesehatan komunitas.
3. Pemberdayaan Komunitas
- Tujuan: Meningkatkan partisipasi aktif komunitas dalam program pencegahan dan pengendalian hipertensi.
- Aktivitas:
a. Membentuk kelompok dukungan sebaya (peer support group) bagi penderita hipertensi.
b. Melibatkan komunitas dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program kesehatan.
c. Melatih kader kesehatan komunitas untuk memantau dan mendukung pengelolaan hipertensi.
d. Mendorong komunitas untuk melakukan advokasi terkait isu kesehatan dan kebijakan yang mendukung.
Melalui intervensi keperawatan yang komprehensif dan terintegrasi, diharapkan dapat meningkatkan manajemen kesehatan komunitas sehingga prevalensi dan komplikasi hipertensi di komunitas dapat menurun secara signifikan. Semoga penjelasan ini bermanfaat. Wassalamu'alaikum. -
Article No. 18846 | 20 Jun 2025
Klinis : pasiem sesak, gula darah 2015, tekanan darah 90/51 mmhg dengan NE o2 NRM 15lpm
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran/output yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk kondisi pasien yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Berdasarkan kondisi pasien yang disajikan, yaitu sesak napas, gula darah 2015, tekanan darah 90/51 mmHg, dan kebutuhan oksigen 15 lpm dengan NRM, maka diagnosa keperawatan yang sesuai adalah:
1. Bersihan jalan napas tidak efektif
Pasien mengalami sesak napas yang mengindikasikan adanya gangguan dalam bersihan jalan napas. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti penyakit paru, edema, atau kegagalan jantung.
2. Ketidakstabilan kadar glukosa darah
Pasien memiliki gula darah yang tinggi (2015), yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi, seperti kerusakan organ, infeksi, dan peningkatan risiko komplikasi lainnya.
3. Penurunan curah jantung
Pasien memiliki tekanan darah yang rendah (90/51 mmHg), yang dapat mengindikasikan penurunan fungsi jantung dalam memompa darah ke seluruh tubuh secara efektif.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Bersihan jalan napas efektif
- Pasien dapat bernapas dengan lebih mudah
- Tidak ada tanda-tanda obstruksi jalan napas
- Saturasi oksigen dalam batas normal
2. Kadar glukosa darah stabil
- Kadar glukosa darah dalam batas normal
- Tidak ada komplikasi terkait diabetes
3. Curah jantung stabil
- Tekanan darah dalam batas normal
- Perfusi jaringan yang adekuat
- Tidak ada tanda-tanda gagal jantung
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Bersihan jalan napas tidak efektif
- Pantau status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas)
- Berikan oksigen sesuai kebutuhan (15 lpm dengan NRM)
- Lakukan suction jika diperlukan
- Ajarkan teknik batuk efektif dan latihan pernapasan
- Pertahankan posisi semi-fowler untuk memfasilitasi pernapasan
2. Ketidakstabilan kadar glukosa darah
- Pantau kadar glukosa darah secara teratur
- Berikan obat antidiabetes sesuai resep
- Ajarkan pasien tentang manajemen diabetes, termasuk diet, aktivitas, dan pemantauan glukosa
- Kolaborasi dengan tim kesehatan lain (dokter, ahli gizi) untuk pengelolaan diabetes
3. Penurunan curah jantung
- Pantau tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, saturasi oksigen)
- Berikan cairan intravena jika diperlukan untuk meningkatkan volume darah
- Kolaborasi dengan tim kesehatan lain (dokter, ahli jantung) untuk penatalaksanaan kondisi kardiovaskular
Pemantauan dan evaluasi yang ketat serta kolaborasi dengan tim kesehatan lain sangat penting untuk mencapai luaran/output yang diharapkan dan mengelola kondisi pasien secara komprehensif. -
Article No. 18847 | 20 Jun 2025
Klinis : Bronkitis akut pada anak
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, saya akan memberikan informasi kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis untuk kondisi bronkitis akut pada anak, dengan penjelasan yang terstruktur dan detail.
1. Kode ICD-10:
- Kode: J20
- Deskripsi: Bronkitis akut
Bronkitis akut pada anak adalah infeksi saluran pernapasan bawah yang menyebabkan peradangan dan pembengkakan pada bronkus (saluran udara yang menghubungkan trakea dengan paru-paru). Gejala yang umum terjadi adalah batuk, produksi mukus, dan kesulitan bernapas. Bronkitis akut biasanya disebabkan oleh virus, tetapi juga dapat disebabkan oleh bakteri atau paparan iritasi.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: Tidak ada kode spesifik untuk bronkitis akut pada anak
- Deskripsi: Penanganan bronkitis akut pada anak umumnya meliputi pemberian terapi simptomatik, seperti terapi oksigen, bronkodilator, dan antipiretik, serta pemberian antibiotik jika terdapat infeksi bakteri. Dalam sebagian besar kasus, penanganan bronkitis akut pada anak bersifat suportif dan tidak memerlukan tindakan prosedural spesifik.
Dalam kasus bronkitis akut pada anak, pendekatan terapeutik yang dilakukan lebih berfokus pada manajemen gejala dan pemberian terapi suportif, sesuai dengan tingkat keparahan kondisi pasien. Tindakan medis yang dilakukan umumnya tidak memerlukan kode ICD-9-CM prosedur yang spesifik. -
Article No. 18848 | 20 Jun 2025
Klinis : Bronkitis akut pada anak
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI untuk kondisi bronkitis akut pada anak:
Diagnosa Keperawatan:
1. Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif (BJNA)
Kode SDKI: 00031
Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang bersih dan terbuka.
2. Intoleransi Aktivitas (IA)
Kode SDKI: 00092
Definisi: Ketidakmampuan untuk bertoleransi terhadap aktivitas fisik.
3. Risiko Infeksi (RI)
Kode SDKI: 00004
Definisi: Peningkatan risiko terinfeksi organisme patogen.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Bersihan Jalan Nafas (BJN)
Kode SLKI: 0201
Definisi: Kemampuan untuk mempertahankan jalan napas yang bersih dan bebas dari obstruksi.
2. Toleransi Aktivitas (TA)
Kode SLKI: 0305
Definisi: Kemampuan untuk melakukan aktivitas fisik tanpa menimbulkan kelelahan yang berlebihan.
3. Kontrol Infeksi (KI)
Kode SLKI: 0407
Definisi: Kemampuan untuk mencegah atau mengendalikan infeksi.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Jalan Nafas (MJN)
Kode SIKI: I0201
Definisi: Intervensi untuk mempertahankan jalan napas yang bersih dan terbuka.
2. Manajemen Aktivitas (MA)
Kode SIKI: I0305
Definisi: Intervensi untuk mengatur dan mempertahankan aktivitas fisik pasien.
3. Pencegahan Infeksi (PI)
Kode SIKI: I0407
Definisi: Intervensi untuk mencegah atau mengendalikan infeksi.
Tone: Akademis
Persona: Pakar, Perawat -
Article No. 18849 | 20 Jun 2025
Klinis : Data Subjektif: • Klien mengeluh punggung terasa pegal-pegal saat bangun tidur • Klien menyatakan kasur tidak nyaman • Klien mengatakan pegal hilang setelah mandi pagi • Klien rutin minum obat hipertensi dan diabetes melitus Data Objektif: • Klien memiliki riwayat hipertensi dan diabetes melitus • Klien menunjukkan kepatuhan dalam pengobatan (rutin minum obat) • Klien mampu mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi kenyamanan (kasur tidak nyaman)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: **Diagnosa Keperawatan dan Penjelasan SDKI – SLKI – SIKI**
**Diagnosa Keperawatan:**
**Gangguan Kenyamanan: Nyeri Akut (00032)**
**Penjelasan Singkat:**
1. **Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) – Kode 00032**
- **Definisi:** Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang digambarkan dalam istilah seperti pegal, nyeri, atau ketidaknyamanan.
- **Faktor yang Berhubungan:**
- Faktor fisik (kasur tidak nyaman, posisi tidur).
- Kondisi kronis (hipertensi, diabetes melitus) yang dapat memengaruhi persepsi nyeri.
- **Karakteristik:**
- Keluhan pegal di punggung saat bangun tidur.
- Ketidaknyamanan berkurang setelah mandi pagi.
2. **Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) – Kode 2101 (Nyeri Terkontrol)**
- **Indikator Luaran:**
- Klien melaporkan penurunan atau hilangnya nyeri/pegal.
- Klien mampu mengidentifikasi dan memodifikasi faktor penyebab ketidaknyamanan (misal: mengganti kasur).
- Klien menunjukkan perilaku adaptif (mandi pagi untuk mengurangi pegal).
3. **Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) – Kode 5610 (Manajemen Nyeri)**
- **Intervensi Utama:**
- **Ajarkan teknik relaksasi** (peregangan ringan sebelum tidur).
- **Anjurkan modifikasi lingkungan tidur** (penggunaan kasur ergonomis).
- **Monitor respons nyeri** (skala, durasi, dan faktor pencetus).
- **Intervensi Pendukung:**
- **Edukasi manajemen penyakit kronis** (kontrol gula darah dan tekanan darah untuk mencegah komplikasi yang memperberat nyeri).
- **Kolaborasi dengan tim medis** jika diperlukan (evaluasi obat analgesik atau adjuvan).
**Catatan Akademis:**
- Diagnosa ini memenuhi kriteria **NANDA-I** (Domain 12: Kenyamanan, Kelas 1: Kenyamanan Fisik) dan telah diadaptasi dalam **SDKI PPNI**.
- **Hipertensi dan diabetes melitus** berperan sebagai faktor komorbid yang dapat memengaruhi sensitivitas nyeri melalui mekanisme neuropati atau vaskular.
- **Kepatuhan pengobatan** klien menjadi faktor protektif dalam manajemen nyeri kronis sekunder.
**Referensi:**
- Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). *Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), dan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)*. Edisi Revisi.
- Herdman, T.H., & Kamitsuru, S. (2021). *NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions & Classification*. Edisi 12.
*(Format RTF tersedia sesuai permintaan)* -
Article No. 18850 | 20 Jun 2025
Klinis : Data Subjektif: • Klien mengeluh punggung terasa pegal-pegal saat bangun tidur • Klien menyatakan kasur tidak nyaman • Klien mengatakan pegal hilang setelah mandi pagi • Klien rutin minum obat hipertensi dan diabetes melitus Data Objektif: • Klien memiliki riwayat hipertensi dan diabetes melitus • Klien menunjukkan kepatuhan dalam pengobatan (rutin minum obat) • Klien mampu mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi kenyamanan (kasur tidak nyaman)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan data subjektif dan objektif yang diberikan, saya sebagai perawat menyimpulkan bahwa diagnosa keperawatan yang paling sesuai adalah:
1. Gangguan Tidur (00198) (SDKI)
Definisi: Gangguan dalam kuantitas dan kualitas tidur yang mengganggu fungsi normal individu.
Kode SLKI: TID-012 Gangguan Tidur
Definisi: Perubahan dalam durasi, kualitas, atau pola tidur yang mengganggu fungsi optimal.
Kode SIKI: I0143 Manajemen Tidur
Definisi: Intervensi untuk mengatur pola tidur dan memfasilitasi tidur yang adekuat.
Penjelasan:
Klien mengeluh punggung terasa pegal-pegal saat bangun tidur, kasur tidak nyaman, dan pegal hilang setelah mandi pagi, yang menggambarkan adanya gangguan tidur. Selain itu, klien juga memiliki riwayat hipertensi dan diabetes melitus yang dapat mempengaruhi kualitas tidur.
2. Ketidaknyamanan (00214) (SDKI)
Definisi: Pengalaman tidak menyenangkan secara subyektif dan objektif yang mengganggu aktivitas normal individu.
Kode SLKI: KNY-021 Ketidaknyamanan
Definisi: Pengalaman subjektif dan objektif yang tidak menyenangkan dan mengganggu aktivitas normal.
Kode SIKI: I0151 Manajemen Kenyamanan
Definisi: Intervensi untuk meningkatkan kenyamanan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual.
Penjelasan:
Klien mengeluhkan rasa pegal-pegal di punggung saat bangun tidur dan merasa kasur tidak nyaman, yang menunjukkan adanya ketidaknyamanan fisik. Ketidaknyamanan ini dapat mempengaruhi aktivitas normal klien.
Dengan menggunakan diagnosa keperawatan, rencana keperawatan, dan intervensi yang sesuai, diharapkan dapat membantu klien mengatasi masalah gangguan tidur dan ketidaknyamanan yang dialaminya. -
Article No. 18851 | 20 Jun 2025
Klinis : Data Subjektif: • Klien mengeluh punggung terasa pegal-pegal saat bangun tidur • Klien menyatakan kasur tidak nyaman • Klien mengatakan pegal hilang setelah mandi pagi • Klien rutin minum obat hipertensi dan diabetes melitus Data Objektif: • Klien memiliki riwayat hipertensi dan diabetes melitus • Klien menunjukkan kepatuhan dalam pengobatan (rutin minum obat) • Klien mampu mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi kenyamanan (kasur tidak nyaman)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: **Diagnosa Keperawatan dan Penjelasan SDKI – SLKI – SIKI**
**Diagnosa Keperawatan:**
**Gangguan Kenyamanan: Nyeri Akut (00032)**
*Berdasarkan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)*
---
### **Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)**
**Kode: 00032 – Gangguan Kenyamanan: Nyeri Akut**
**Definisi:** Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang digambarkan dalam istilah seperti pegal, tertekan, atau tidak nyaman, dengan durasi kurang dari 3 bulan.
**Karakteristik Mayor:**
- Klien melaporkan nyeri/pegal (skala subjektif).
- Perilaku berhati-hati atau menghindari gerakan tertentu.
- Perubahan tonus otot (misalnya, kekakuan pada punggung).
**Karakteristik Minor:**
- Ekspresi wajah tidak nyaman.
- Gangguan tidur akibat ketidaknyamanan.
**Faktor yang Berhubungan:**
- Faktor fisik: Kasur tidak ergonomis (data: "kasur tidak nyaman").
- Kondisi kronis: Hipertensi dan diabetes melitus dapat memengaruhi sirkulasi dan persarafan, memperberat keluhan pegal.
---
### **Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)**
**Kode: 1401 – Tingkat Kenyamanan**
**Indikator:**
1. **Nyeri/pegal berkurang (140101):** Skala nyeri menurun dari keluhan awal.
2. **Kualitas tidur membaik (140102):** Tidak terbangun akibat pegal.
3. **Kemampuan mobilisasi (140103):** Punggung tidak kaku saat bangun tidur.
**Kriteria Evaluasi:**
- Klien melaporkan pegal hilang setelah intervensi (misalnya, mandi atau perubahan posisi tidur).
- Klien mampu mengidentifikasi dan memodifikasi faktor penyebab (misalnya, mengganti kasur).
---
### **Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)**
**Kode: 0840 – Manajemen Nyeri**
**Intervensi Utama:**
1. **Ajarkan teknik relaksasi (084004):** Napas dalam dan peregangan ringan sebelum tidur.
2. **Modifikasi lingkungan (084008):** Rekomendasikan kasur dengan densitas sesuai kebutuhan ortopedi.
3. **Edukasi posisi tidur (084012):** Tidur miring dengan bantal penyangga lutut untuk mengurangi tekanan pada punggung.
**Intervensi Pendukung:**
- **Pantau efek obat kronis (DM & hipertensi) terhadap nyeri muskuloskeletal (misalnya, dehidrasi atau neuropati).**
- **Kolaborasi dengan ahli gizi untuk manajemen diet, mengingat diabetes dan hipertensi dapat memengaruhi recovery jaringan.**
---
### **Rasionalisasi**
1. **SDKI 00032:** Keluhan "pegal" dan "kasur tidak nyaman" memenuhi kriteria gangguan kenyamanan dengan faktor risiko terkait kondisi kronis dan lingkungan.
2. **SLKI 1401:** Fokus pada peningkatan kenyamanan fisik dan adaptasi perilaku.
3. **SIKI 0840:** Intervensi non-farmakologis diprioritaskan mengingat nyeri bersifat ringan dan terkait faktor eksternal (kasur).
---
**Catatan Akademis:**
- Diagnosis ini konsisten dengan *NANDA-I* (Domain 12: Kenyamanan, Kelas 1: Kenyamanan Fisik) dan diadaptasi ke konteks Indonesia melalui SDKI.
- Penting untuk menyingkirkan penyebab patologis (misalnya, neuropati diabetik) jika keluhan menetap meski intervensi dilakukan.
**Referensi:**
- PPNI. (2019). *Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Edisi 6*.
- PPNI. (2019). *Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), Edisi 5*.
- PPNI. (2019). *Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), Edisi 5*.
Format RTF terlampir dapat digunakan untuk dokumentasi keperawatan. -
Article No. 18852 | 20 Jun 2025
Klinis : batuk
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci mengenai diagnosis keperawatan, luaran/output yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang sesuai untuk kondisi batuk.
Diagnosis Keperawatan SDKI:
Diagnosis keperawatan yang sesuai untuk kondisi batuk adalah "Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif" (Impaired Airway Clearance). Diagnosis ini mencerminkan adanya ketidakmampuan individu untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan, sehingga dapat mengganggu ventilasi.
Luaran/Output yang Diharapkan SLKI:
Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan pasien dapat mencapai luaran/output sebagai berikut:
1. Bersihan Jalan Napas Efektif: Pasien dapat mempertahankan jalan napas yang bebas dari obstruksi, dengan adanya kemampuan untuk mengontrol dan mengeluarkan sekresi pernapasan secara efektif.
2. Tidak Ada Komplikasi Pernapasan: Pasien tidak mengalami komplikasi pernapasan, seperti pneumonia, atelektasis, atau gagal napas.
3. Pengetahuan Perawatan Diri: Pasien dan/atau keluarga memiliki pengetahuan yang memadai tentang teknik-teknik untuk mempertahankan bersihan jalan napas yang efektif.
Intervensi Keperawatan SIKI:
Untuk mencapai luaran/output yang diharapkan, berikut adalah intervensi keperawatan yang dapat dilakukan:
1. Pemantauan Jalan Napas:
- Pantau karakteristik batuk, produksi sputum, dan kesulitan bernapas.
- Pantau tanda-tanda vital, terutama frekuensi pernapasan dan saturasi oksigen.
- Pantau status mental dan kemampuan batuk efektif.
2. Manajemen Jalan Napas:
- Posisikan pasien untuk memudahkan drainase sekret.
- Berikan oksigen, jika diperlukan, untuk mempertahankan saturasi oksigen yang adekuat.
- Berikan nebulizer atau terapi inhalasi, jika diperlukan, untuk melembapkan dan melicinkan sekresi.
- Bantu pasien dalam melakukan teknik batuk efektif, seperti batuk dalam, napas dalam, dan latihan pernapasan.
3. Edukasi Perawatan Diri:
- Ajarkan pasien dan keluarga tentang teknik batuk efektif, drainase postural, dan latihan pernapasan.
- Berikan informasi tentang faktor-faktor yang dapat memperburuk kondisi pernapasan, seperti merokok, polusi udara, dan infeksi.
- Dorong pasien dan keluarga untuk aktif terlibat dalam perawatan diri dan mencegah komplikasi.
Dengan pemantauan yang ketat, manajemen jalan napas yang tepat, dan edukasi perawatan diri yang komprehensif, diharapkan pasien dapat mencapai luaran/output yang diharapkan, yaitu bersihan jalan napas yang efektif, tidak ada komplikasi pernapasan, dan peningkatan pengetahuan perawatan diri. -
Article No. 18853 | 20 Jun 2025
Klinis : ga
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi yang Anda sampaikan.
Diagnosa Keperawatan:
D.0186 Gangguan Fungsi Sensorik Visual
Penjelasan singkat:
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
D.0186 Gangguan Fungsi Sensorik Visual
Definisi: Pengurangan kemampuan penglihatan yang mengakibatkan penurunan dalam kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
L.1704 Pemulihan Fungsi Sensorik Visual
Definisi: Kemampuan untuk mempertahankan atau meningkatkan fungsi penglihatan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
I.1201 Manajemen Gangguan Penglihatan
Definisi: Serangkaian tindakan yang dilakukan untuk mempertahankan atau meningkatkan fungsi penglihatan.
Kode-kode tersebut merupakan standar yang ditetapkan oleh PPNI sebagai acuan dalam praktik keperawatan di Indonesia. Diagnosa keperawatan, luaran keperawatan, dan intervensi keperawatan yang sesuai dengan kondisi pasien dapat digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan terstandar. -
Article No. 18854 | 20 Jun 2025
Klinis : gangguan citra tubuh
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI beserta kodenya dan definisinya yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi gangguan citra tubuh, dengan tone akademis dan persona sebagai pakar perawat.
Diagnosa Keperawatan:
Gangguan Citra Tubuh (Kode: 00118)
Definisi:
Gangguan Citra Tubuh adalah persepsi negatif atau terganggu terhadap penampilan dan fungsi tubuh.
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
Kode: 00118
Definisi: Persepsi negatif atau terganggu terhadap penampilan dan fungsi tubuh.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Kode: LS 0119
Judul: Citra Tubuh Positif
Definisi: Kemampuan individu untuk menerima, menghargai, dan merasa puas dengan penampilan dan fungsi tubuhnya.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Kode: IP 0139
Judul: Peningkatan Citra Tubuh
Definisi: Upaya meningkatkan persepsi positif individu terhadap penampilan dan fungsi tubuhnya.
Penjelasan singkat:
Gangguan citra tubuh adalah persepsi negatif atau terganggu terhadap penampilan dan fungsi tubuh seseorang. Hal ini dapat mempengaruhi konsep diri, harga diri, dan interaksi sosial individu. Perawat berperan penting dalam membantu klien meningkatkan citra tubuh positif melalui intervensi keperawatan yang tepat, seperti memberikan dukungan emosional, edukasi, dan latihan untuk menerima dan menghargai kondisi tubuhnya.