Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23097 | 01 Dec 2025
Klinis : Seorang laki-laki 26 tahun menderita DHF hari keempat mengeluh nyeri dada. Hasil pemeriksaan menunjukan kadar trombosit 16.000 per mikroliter darah. Pasien dianjurkan untuk bedrest dan mendapatkan transfusi trombosit sebanyak 5 (lima) kantong. Pemeriksaan fisik menunjukan Suhu tubuh 35.5 derajat celcius, Nadi 101x/mnt, TD 90/palpasi, respirasi 28x/menit, nampak ptekie di seluruh tubuh. Pasien mendapatkan injeksi 1 (satu) ampul dexamethasone pre transfusi.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Jaringan Tidak Efektif dan Risiko Perdarahan pada Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Trombositopenia Berat
Kode SDKI: 0026 Risiko Perdarahan
Deskripsi Singkat: Diagnosis keperawatan utama yang paling relevan adalah "Risiko Perdarahan" yang didefinisikan sebagai keadaan rentan mengalami penurunan volume darah, yang dapat mengancam jiwa. Hal ini sangat sesuai dengan kondisi pasien DBD fase kritis (hari ke-4) dengan trombosit 16.000/µL (trombositopenia berat) dan manifestasi perdarahan kulit (ptekie di seluruh tubuh). Risiko ini diperberat oleh demam, peningkatan permeabilitas kapiler, dan potensi kebocoran plasma yang ditunjukkan oleh tekanan darah rendah (90/palpasi) dan takikardia (nadi 101x/mnt). Transfusi trombosit yang direncanakan merupakan intervensi langsung untuk mengatasi risiko ini.
Kode SLKI: 2610 Manajemen Risiko Perdarahan
Deskripsi : Luaran yang diharapkan adalah terkendalinya risiko perdarahan, dengan kriteria: (1) Tanda-tanda vital dalam rentang yang diharapkan (peningkatan TD, penurunan frekuensi nadi dan respirasi), (2) Tidak ada tanda perdarahan baru atau bertambahnya ptekie, (3) Nilai laboratorium (terutama trombosit) menunjukkan perbaikan, (4) Mukosa membran lembab, dan (5) Pengisian kapiler < 3 detik. SLKI ini berfokus pada pemantauan ketat tanda-tanda perdarahan baik eksternal maupun internal, memantau respons terhadap transfusi trombosit, dan mencegah komplikasi lebih lanjut seperti perdarahan masif atau syok hipovolemik. Pemantauan ketat terhadap nyeri dada juga penting untuk menyingkirkan kemungkinan perdarahan atau efusi pleura.
Kode SIKI: 2610A Memantau tanda dan gejala perdarahan
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang spesifik dan kritis adalah pemantauan tanda dan gejala perdarahan. Ini meliputi: (1) Pemantauan ketat tanda vital (TD, nadi, respirasi, suhu) setiap 1-2 jam atau lebih sering sesuai kondisi untuk mendeteksi dini syok. TD 90/palpasi dan nadi 101 sudah mengindikasikan hipovolemia. (2) Inspeksi kulit dan membran mukosa setiap 4-8 jam untuk melihat perkembangan ptekie, ekimosis, atau perdarahan spontan baru (misal: epistaksis, gingival). (3) Observasi warna dan karakteristik dahak, muntahan, feses, dan urine untuk mendeteksi perdarahan internal. (4) Memantau keluhan nyeri abdomen atau dada (seperti yang dialami pasien) yang dapat mengindikasikan perdarahan organ dalam. (5) Evaluasi status neurologis (kesadaran, sakit kepala) untuk mendeteksi perdarahan intrakranial. (6) Memantau hasil laboratorium serial, khususnya hitung trombosit dan hematokrit (untuk melihat hemokonsentrasi atau perdarahan). (7) Memastikan tindakan pencegahan perdarahan dilakukan, seperti menghindari injeksi intramuskular, menggunakan sikat gigi sangat lembut, dan menghindari mengorek hidung. (8) Evaluasi respons setelah transfusi trombosit, baik secara klinis (perdarahan berhenti) maupun laboratoris (kenaikan hitung trombosit). Intervensi ini harus didokumentasikan dengan cermat untuk mengevaluasi tren kondisi pasien dan efektivitas terapi. Pemberian dexamethasone pre-transfusi juga perlu dipantau efek sampingnya, meskipun tujuannya untuk mencegah reaksi transfusi.
-
Article No. 23098 | 01 Dec 2025
Klinis : Seorang Laki-laki 24 tahun mengalami anemia kronis akibat hemoroid mengeluh lemas dan lelah. Hasil pemeriksaan menunjukan kadar Hb 7g/dl dan Ht 22%. Pasien akan menjalani pembedahan sehingga perlu memperbaiki profil hemodinamik. Pasien direncanakan akan mendapatkan transfusi PRC sebanyak 3 kantong. Pemeriksaan fisik menunjukan Suhu tubuh 36.5 derajat celcius, Nadi 101x/mnt, TD 90/70 mmHg, turgor 5 detik, akral dingin, mukosa kering, respirasi 28x/menit. Sesuai Instruksi pasien akan mendapatkan injeksi furosemide 1 (satu) ampul Pre transfusi jika sesuai indikasi.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Defisit Volume Cairan
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Penurunan volume cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intraseluler. Kondisi ini mengacu pada dehidrasi, kehilangan cairan, dan hipovolemia.
Kode SLKI: L.1.1.1
Deskripsi : Status hidrasi membaik. Ditandai dengan: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal yang diharapkan, 2) Turgor kulit elastis, 3) Mukosa membran lembab, 4) Pengisian kapiler kurang dari 3 detik, 5) Haluaran urine adekuat, 6) Keseimbangan cairan seimbang.
Kode SIKI: I.1.1.1
Deskripsi : 1) Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan). 2) Monitor status hidrasi (turgor kulit, pengisian kapiler, membran mukosa, rasa haus, produksi urin, berat jenis urin). 3) Monitor intake dan output cairan. 4) Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai program. 5) Atur posisi pasien untuk meningkatkan sirkulasi. 6) Lakukan perawatan kulit dan membran mukosa. 7) Berikan informasi tentang pentingnya asupan cairan. 8) Kolaborasi pemberian transfusi darah sesuai program. 9) Monitor respons dan komplikasi transfusi darah. 10) Kolaborasi pemberian diuretik sesuai indikasi.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: B.4.1
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk menuntaskan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: L.4.1.1
Deskripsi : Toleransi aktivitas meningkat. Ditandai dengan: 1) Melaporkan peningkatan energi, 2) Melakukan aktivitas sesuai tingkat kemampuan, 3) Tanda-tanda vital dalam rentang normal saat aktivitas, 4) Tidak mengalami kelelahan yang berlebihan, 5) Kebutuhan istirahat dan aktivitas seimbang.
Kode SIKI: I.4.1.1
Deskripsi : 1) Monitor respons pasien terhadap aktivitas (tanda vital, kelelahan, sesak napas). 2) Bantu pasien mengidentifikasi aktivitas yang dapat menyebabkan kelelahan. 3) Ajarkan teknik penghematan energi. 4) Rencanakan periode istirahat yang cukup sebelum dan sesudah aktivitas. 5) Bantu pasien dalam aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan. 6) Tingkatkan aktivitas secara bertahap sesuai toleransi. 7) Kolaborasi pemberian terapi oksigen jika diperlukan. 8) Berikan dukungan nutrisi untuk meningkatkan energi. 9) Edukasi pasien dan keluarga tentang penjadwalan aktivitas.
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: C.1.1
Deskripsi Singkat: Risiko mengalami penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan dari intravaskuler, interstisial, dan/atau intraseluler.
Kode SLKI: L.1.1.1
Deskripsi : Status hidrasi membaik. Ditandai dengan: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal yang diharapkan, 2) Turgor kulit elastis, 3) Mukosa membran lembab, 4) Pengisian kapiler kurang dari 3 detik, 5) Haluaran urine adekuat, 6) Keseimbangan cairan seimbang.
Kode SIKI: I.1.1.2
Deskripsi : 1) Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan). 2) Monitor status hidrasi (turgor kulit, pengisian kapiler, membran mukosa, rasa haus, produksi urin, berat jenis urin). 3) Monitor intake dan output cairan secara ketat, terutama sebelum, selama, dan setelah transfusi. 4) Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai program. 5) Kolaborasi pemberian transfusi darah sesuai program dengan mematuhi protokol. 6) Monitor respons dan komplikasi transfusi darah (reaksi alergi, kelebihan beban sirkulasi/TACO, febris). 7) Kolaborasi pemberian diuretik (seperti furosemide) sesuai indikasi sebelum/setelah transfusi untuk mencegah kelebihan beban cairan. 8) Atur kecepatan transfusi sesuai ketentuan. 9) Berikan posisi yang nyaman dan aman. 10) Edukasi pasien tentang tanda-tanda kelebihan cairan yang harus dilaporkan.
Kondisi: Risiko Syok
Kode SDKI: C.1.3
Deskripsi Singkat: Risiko terjadinya ketidakadekuatan perfusi jaringan yang mengancam jiwa.
Kode SLKI: L.1.3.1
Deskripsi : Syok teratasi. Ditandai dengan: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal yang diharapkan, 2) Pengisian kapiler kurang dari 3 detik, 3) Haluaran urine adekuat, 4) Kulit hangat dan kering, 5) Status mental baik.
Kode SIKI: I.1.3.1
Deskripsi : 1) Monitor terus menerus tanda-tanda vital dan status hemodinamik (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu). 2) Monitor tanda-tanda perfusi jaringan (warna kulit, kelembaban, suhu akral, pengisian kapiler, produksi urin, status mental). 3) Pertahankan jalan napas paten dan oksigenasi adekuat. 4) Kolaborasi pemberian terapi oksigen. 5) Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena dan transfusi darah untuk mengoptimalkan volume intravaskuler. 6) Atur posisi pasien untuk meningkatkan sirkulasi (misalnya, posisi trendelenburg modifikasi jika diperlukan dan tidak terkontraindikasi). 7) Minimalkan gangguan dan pertahankan suhu tubuh normal. 8) Kolaborasi pemberian obat-obatan inotropik/vasoaktif jika diperlukan. 9) Siapkan alat dan obat resusitasi. 10) Lakukan edukasi pada pasien dan keluarga tentang kondisi dan penanganannya.
-
Article No. 23099 | 01 Dec 2025
Klinis : DS: Istri mengatakan pasien hanya minum obat saat kambuh, tidak kontrol rutin, menggunakan resep lama ibunya, tidak paham pencegahan. DO: Tidak ada jadwal terapi, belum patuh manajemen pengobatan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ketidakpatuhan Terapeutik
Kode SDKI: 0118
Deskripsi Singkat: Perilaku individu dan/atau keluarga yang tidak sesuai dengan rekomendasi terapeutik atau pencegahan kesehatan yang disepakati, terkait dengan kondisi penyakit, kemampuan, dan/atau tujuan kesehatan.
Kode SLKI: 4327
Deskripsi : Kepatuhan terhadap program terapeutik. Ditandai dengan: 1) Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan, 2) Mengungkapkan pemahaman tentang program terapeutik, 3) Mengungkapkan kesediaan untuk mematuhi program terapeutik, 4) Melaksanakan program terapeutik sesuai anjuran, 5) Memantau kemajuan sesuai program terapeutik, 6) Memanfaatkan sistem pendukung untuk meningkatkan kepatuhan.
Kode SIKI: 4327A
Deskripsi : Kaji faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan terhadap program terapeutik. Intervensi ini melibatkan pengkajian mendalam terhadap berbagai aspek yang menjadi penghambat kepatuhan pasien dan keluarga. Perawat perlu mengeksplorasi faktor pengetahuan, seperti tingkat pemahaman tentang penyakit, tujuan pengobatan, konsekuensi ketidakpatuhan, dan cara pencegahan kekambuhan. Pada kasus ini, jelas terdapat defisit pengetahuan dimana pasien tidak paham pencegahan dan hanya minum obat saat kambuh. Selain itu, faktor sikap dan keyakinan perlu dikaji, misalnya persepsi tentang manfaat obat, kekhawatiran akan efek samping, atau keyakinan bahwa obat hanya diperlukan saat gejala muncul. Faktor sosial-ekonomi juga berperan, seperti biaya kontrol rutin dan obat. Faktor sistem layanan kesehatan, seperti kualitas komunikasi tenaga kesehatan sebelumnya, juga mempengaruhi. Perawat harus mendengarkan secara empatik penjelasan istri dan pasien mengenai alasan menggunakan resep lama ibunya, ketidakteraturan kontrol, dan pola minum obat. Pengkajian ini tidak menghakimi tetapi bertujuan memahami akar masalah untuk merencanakan intervensi yang tepat. Hasil pengkajian ini menjadi dasar untuk menentukan intervensi selanjutnya, seperti edukasi kesehatan, modifikasi rencana terapi bersama pasien, atau memfasilitasi akses ke layanan kesehatan.
-
Article No. 23100 | 01 Dec 2025
Klinis : 1. Observasi - Identifikasi tingkat pengetahuan pasien dan keluarga terkait terapi asma. - Kaji pola konsumsi obat selama ini (frekuensi, dosis, waktu minum). - Monitor tanda kekambuhan yang sering muncul di rumah. 2. Terapeutik: - Fasilitasi pembuatan jadwal minum obat 1 minggu bersama keluarga. - Anjurkan penyediaan obat pengontrol sesuai anjuran medis (bila diresepkan ulang oleh tenaga kesehatan). - Diskusikan manajemen terapi jangka panjang merujuk pada Pedoman GINA. - Ajarkan pengenalan tanda bahaya serangan asma yang membutuhkan rujukan. 3. Edukasi: - Berikan edukasi bahwa obat reliever seperti Salbutamol harus sesuai resep dokter dan bukan hanya saat kambuh bila ada resep pengontrol. - Jelaskan pentingnya kepatuhan terapi pengontrol seperti inhaler kortikosteroid bila nanti diberikan (mis. merk umum keluarga: Ventolin bila berbentuk inhaler, sesuai resep dokter). - Edukasi penghindaran pencetus lingkungan terutama udara dingin, kelelahan, dan asap pembakaran. - Motivasi keluarga mendampingi pasien kontrol berkala ke fasilitas terdekat seperti Puskesmas Dawe.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakpatuhan Terapeutik pada Pasien Asma
Kode SDKI: 0110
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakpatuhan Terapeutik didefinisikan sebagai kondisi di mana individu, keluarga, atau komunitas rentan terhadap ketidakmampuan atau ketidakmauan untuk mengikuti rekomendasi terapeutik yang telah disepakati bersama tenaga kesehatan, yang dapat mengakibatkan hasil kesehatan yang tidak optimal atau komplikasi. Pada kasus asma, ketidakpatuhan sering terjadi pada penggunaan obat pengontrol (controller) jangka panjang, pemahaman yang keliru tentang fungsi obat reliever, dan ketidakkonsistenan dalam menghindari faktor pencetus.
Kode SLKI: 4310
Deskripsi : Manajemen Ketidakpatuhan. Deskripsi lengkap: Tindakan keperawatan untuk meningkatkan kepatuhan terhadap rejimen terapeutik. Intervensi yang dilakukan berdasarkan kondisi pasien meliputi: (1) Mengkaji tingkat pengetahuan dan persepsi pasien/keluarga tentang penyakit asma dan terapinya, termasuk pola konsumsi obat (frekuensi, dosis, waktu) dan pemantauan tanda kekambuhan di rumah. (2) Memfasilitasi pembuatan jadwal minum obat (seperti untuk satu minggu) bersama keluarga untuk meningkatkan keteraturan. (3) Menganjurkan dan memastikan ketersediaan obat pengontrol sesuai resep medis. (4) Melakukan diskusi dan edukasi mengenai manajemen terapi jangka panjang berdasarkan pedoman standar (seperti GINA), dengan menekankan perbedaan mendasar antara obat pengontrol (harus digunakan rutin) dan obat reliever (digunakan saat gejala). (5) Mengajarkan pengenalan tanda-tanda bahaya serangan asma yang memerlukan rujukan segera ke fasilitas kesehatan. (6) Memberikan edukasi spesifik tentang penghindaran pencetus lingkungan individu seperti udara dingin, kelelahan, dan asap pembakaran. (7) Memotivasi dan melibatkan keluarga untuk mendukung pasien dalam kontrol berkala ke fasilitas kesehatan terdekat (misalnya Puskesmas). Tujuan akhir intervensi ini adalah membangun pemahaman, kemauan, dan kemampuan pasien serta keluarga untuk secara konsisten menjalankan terapi, sehingga dapat mengontrol gejala asma, mencegah kekambuhan, dan meningkatkan kualitas hidup.
Kode SIKI: 4310A
Deskripsi : Kepatuhan terhadap rejimen terapeutik. Kriteria hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan adalah: (1) Pengetahuan pasien dan keluarga tentang penyakit asma dan terapi meningkat, yang ditunjukkan dengan kemampuan menyebutkan jenis obat (pengontrol vs pereda), fungsi, dosis, dan waktu minum yang benar. (2) Pasien dan keluarga dapat secara mandiri membuat dan mengikuti jadwal minum obat yang terstruktur. (3) Obat-obatan yang diperlukan, terutama obat pengontrol, tersedia di rumah dan digunakan sesuai resep, bukan hanya saat kambuh. (4) Pasien dan keluarga mampu mengidentifikasi faktor pencetus pribadi dan menerapkan strategi penghindaran secara konsisten. (5) Pasien dan keluarga mampu mengenali tanda-tanda peringatan dini dan tanda bahaya serangan asma yang memerlukan tindakan segera atau rujukan. (6) Terjadi peningkatan dalam keteraturan kontrol berkala ke fasilitas kesehatan yang didukung oleh keluarga. (7) Frekuensi kekambuhan asma dan penggunaan obat reliever yang tidak terencana menurun. (8) Pasien melaporkan peningkatan kualitas hidup terkait pengelolaan penyakitnya. Keberhasilan ini diukur melalui evaluasi verbal, observasi perilaku, dan pemantauan catatan kesehatan pasien.
-
Article No. 23101 | 01 Dec 2025
Klinis : Pasien usia 62 tahun dengan keluhan pusing berputar, badan lemas
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Vertigo Sentral dan Asthenia
Kode ICD-10: H81.4 (Vertigo sentral) dan R53.1 (Kelemahan)
Deskripsi Singkat : Pasien mengalami dua gejala utama yang dikodekan secara terpisah. Kode H81.4 mengacu pada Vertigo Sentral, yaitu sensasi pusing berputar yang berasal dari gangguan pada sistem saraf pusat (otak dan batang otak), berbeda dengan vertigo perifer yang berasal dari telinga bagian dalam. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai masalah seperti gangguan pembuluh darah otak (misalnya insufisiensi vertebrobasilar), migrain, tumor, atau penyakit degeneratif. Gejala pusing seringkali tidak disertai gangguan pendengaran atau tinitus, namun dapat disertai tanda neurologis lain. Kode R53.1 menggambarkan Kelemahan (Asthenia), yaitu keluhan subjektif badan lemas, mudah lelah, atau kurang energi tanpa kelemahan otot yang spesifik. Kelemahan ini merupakan gejala non-spesifik yang dapat berkaitan dengan berbagai kondisi, mulai dari proses infeksi, gangguan metabolik, anemia, hingga kondisi kronis atau psikologis. Dalam konteks pasien usia 62 tahun, kombinasi gejala ini memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk menyingkirkan penyebab serius seperti gangguan sirkulasi otak atau kondisi sistemik lainnya. Pengkodean terpisah memungkinkan pelacakan yang lebih akurat untuk setiap keluhan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23102 | 01 Dec 2025
Klinis : Pasien usia 62 tahun dengan keluhan pusing berputar, badan lemas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Tekanan Darah
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan, peningkatan, atau fluktuasi tekanan darah arteri sistolik dan/atau diastolik dari rentang yang dianggap normal bagi individu, yang dapat mengancam kesehatan.
Kode SLKI: 2401
Deskripsi : Tekanan Darah dalam Rentang Normal. Kriteria hasil: 1) Tekanan darah sistolik dalam rentang target yang ditetapkan. 2) Tekanan darah diastolik dalam rentang target yang ditetapkan. 3) Denyut nadi dalam rentang normal. 4) Melaporkan tidak adanya pusing atau sakit kepala. 5) Melaporkan tidak adanya lemas. 6) Kulit hangat dan kering. 7) Membran mukosa lembab. 8) Mengidentifikasi faktor risiko ketidakstabilan tekanan darah. 9) Melakukan tindakan untuk mengontrol tekanan darah.
Kode SIKI: 3401
Deskripsi : Pemantauan Tekanan Darah. Tindakan keperawatan: 1) Identifikasi faktor risiko perubahan tekanan darah (misal: riwayat hipertensi, hipotensi, dehidrasi, penyakit jantung, efek pengobatan). 2) Kaji tekanan darah, denyut nadi, frekuensi napas, suhu, dan saturasi oksigen. 3) Kaji keluhan pusing, sakit kepala, lemas, mual, penglihatan kabur, atau palpitasi. 4) Kaji warna, kelembaban, dan suhu kulit. 5) Kaji status hidrasi (turgor kulit, membran mukosa, balance cairan). 6) Kaji respons emosional (cemas, takut). 7) Pantau hasil pemeriksaan penunjang terkait (seperti laboratorium). 8) Ajarkan pasien/keluarga cara memantau tekanan darah dan gejala yang perlu diwaspadai. 9) Anjurkan perubahan posisi bertahap (dari tidur ke duduk, lalu berdiri). 10) Kolaborasi pemberian terapi cairan atau obat-obatan sesuai resep. 11) Evaluasi respons pasien terhadap intervensi yang diberikan.
-
Article No. 23103 | 01 Dec 2025
Klinis : Pasien usia 62 tahun dengan keluhan pusing berputar, badan lemas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Tekanan Darah
Kode SDKI: 00094
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan, peningkatan, atau fluktuasi tekanan darah sistolik dan/atau diastolik dari rentang normal yang dapat mengancam kesehatan.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Tekanan darah dalam rentang yang diharapkan. SLKI ini memiliki kriteria hasil: (1) Tekanan darah sistolik dan diastolik dalam rentang yang ditetapkan. (2) Nadi dalam rentang normal. (3) Tidak adanya keluhan pusing, sakit kepala, atau penglihatan kabur. (4) Kulit hangat, kering, dan warna kulit normal. (5) Keseimbangan cairan dan elektrolit adekuat. (6) Menunjukkan perilaku untuk mempertahankan tekanan darah dalam rentang normal. Pada pasien dengan keluhan pusing berputar (vertigo) dan lemas, tujuan utamanya adalah mencapai tekanan darah yang stabil dalam rentang aman untuk mengurangi gejala dan mencegah komplikasi seperti sinkop atau cedera akibat jatuh. Pemantauan tekanan darah secara berkala sangat penting untuk mengevaluasi efektivitas intervensi dan terapi. Stabilitas tekanan darah juga mencerminkan keseimbangan sistem kardiovaskuler, volume cairan, dan respon terhadap pengobatan.
Kode SIKI: 2610
Deskripsi : Pemantauan Tekanan Darah. Intervensi ini meliputi pengukuran dan interpretasi tekanan darah sistolik dan diastolik untuk mendeteksi adanya perubahan atau penyimpangan dari rentang normal. Penjelasan: Pada pasien usia 62 tahun dengan pusing berputar dan lemas, pemantauan tekanan darah adalah intervensi keperawatan yang fundamental dan kritis. Langkah ini dilakukan untuk mengidentifikasi apakah gejala tersebut disebabkan oleh hipotensi (misalnya ortostatik), hipertensi, atau fluktuasi tekanan darah. Teknik pengukuran harus akurat, mencakup pengukuran pada kedua lengan dan dalam berbagai posisi (berbaring, duduk, berdiri) jika dicurigai hipotensi ortostatik. Perawat harus menginterpretasikan hasil pengukuran dalam konteks riwayat kesehatan pasien, obat-obatan yang dikonsumsi (seperti antihipertensi atau diuretik), dan kondisi klinis lainnya. Data ini menjadi dasar untuk kolaborasi dengan tim medis dalam penyesuaian terapi, pemberian edukasi, dan intervensi lebih lanjut. Pemantauan yang rutin dan terdokumentasi dengan baik membantu dalam menilai tren tekanan darah, respon terhadap intervensi, dan mendeteksi dini adanya komplikasi potensial.
-
Article No. 23104 | 01 Dec 2025
Klinis : Gaya Hidup Tidak Sehat pada komunitas di kota yang menganggap begadang atau minum kopi sampai larut malam adalah tanda “Kerja keras”
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Gangguan Keseimbangan Energi
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Kondisi di mana individu atau komunitas berisiko mengalami ketidakseimbangan antara asupan energi (melalui nutrisi, stimulan) dengan pengeluaran energi (melalui aktivitas, metabolisme, dan pemulihan) yang dapat mengancam kesehatan.
Kode SLKI: L.1.1.1
Deskripsi : Setelah diberikan intervensi keperawatan, komunitas mampu mengidentifikasi perilaku yang menyebabkan ketidakseimbangan energi. Kriteria hasil meliputi: 1) Komunitas menyebutkan minimal tiga dampak negatif dari kebiasaan begadang dan konsumsi kafein berlebihan terhadap kesehatan fisik dan mental. 2) Komunitas mengungkapkan kesadaran akan adanya kontradiksi antara nilai "kerja keras" yang diagungkan dengan konsep produktivitas berkelanjutan yang memerlukan istirahat cukup. 3) Komunitas dapat menjelaskan hubungan antara pola tidur, asupan stimulan, dengan risiko penyakit seperti gangguan kardiovaskular, kecemasan, dan penurunan fungsi kognitif. 4) Terbentuknya kelompok diskusi dalam komunitas untuk membahas alternatif pola kerja yang lebih sehat.
Kode SIKI: I.1.1.1
Deskripsi : Intervensi untuk mengatasi risiko gangguan keseimbangan energi pada komunitas dengan budaya begadang dan minum kopi berlebihan meliputi: 1) **Pendidikan Kesehatan (Health Education)**: Menyelenggarakan penyuluhan tentang fisiologi tidur dan pentingnya siklus sirkadian, menjelaskan dampak kafein terhadap kualitas tidur dan tingkat stres, serta mengajarkan teknik manajemen waktu dan prioritas tugas untuk mengurangi kebutuhan begadang. Edukasi dilakukan dengan bahasa yang relevan dengan konteks pekerjaan mereka, menggunakan contoh konkret dampak kelelahan kronis terhadap keselamatan kerja dan kualitas keputusan. 2) **Penguatan dan Dukungan (Strengthening and Support)**: Memfasilitasi pembentukan kelompok dukungan sebaya (peer support group) dalam komunitas untuk saling mengingatkan tentang pentingnya istirahat, berbagi pengalaman mengatasi kebiasaan begadang, dan menciptakan norma sosial baru yang mendukung gaya hidup sehat. Perawat berperan sebagai fasilitator dan konsultan bagi kelompok ini. 3) **Konseling (Counseling)**: Melakukan konseling individu atau kelompok untuk mengeksplorasi keyakinan dan nilai yang mengaitkan begadang dengan etos kerja, membantu merekonstruksi pemahaman bahwa kerja keras yang cerdas adalah yang disertai dengan manajemen energi dan pemulihan yang optimal. Teknik konseling motivasional dapat digunakan untuk membangkitkan keinginan intrinsik untuk berubah. 4) **Kolaborasi (Collaboration)**: Berkolaborasi dengan pemimpin komunitas, perusahaan, atau tokoh kunci yang dihormati untuk mengkampanyekan "Budaya Kerja Sehat", misalnya dengan menetapkan kebijakan tidak mengirim email kerja di luar jam kantor, menyediakan area relaksasi non-kafein, atau mengadakan seminar tentang produktivitas dan kesehatan tidur. 5) **Survei dan Pemantauan Lingkungan (Surveillance and Environmental Monitoring)**: Melakukan asesmen sederhana terhadap pola tidur dan konsumsi kafein anggota komunitas secara anonim untuk dijadikan data dasar, kemudian memantau perubahan perilaku setelah intervensi dilakukan secara berkala. Intervensi ini dirancang tidak untuk menghakimi budaya yang ada, tetapi untuk memberdayakan komunitas dengan pengetahuan dan keterampilan agar dapat membuat pilihan yang lebih sehat tanpa meninggalkan nilai produktivitas yang mereka junjung.
-
Article No. 23105 | 01 Dec 2025
Klinis : anemia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Anemia
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan komponen sel darah merah yang membawa oksigen.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Perfusi jaringan perifer membaik atau dipertahankan, ditandai dengan: 1) Tanda vital dalam batas normal untuk usia; 2) Nadi perifer teraba kuat dan simetris; 3) Warna kulit dan membran mukosa normal/ tidak pucat atau sianosis; 4) Ekstremitas hangat; 5) Pengisian kapiler kurang dari 3 detik; 6) Tidak mengeluh nyeri dada, palpitasi, atau dispnea saat aktivitas; 7) Tingkat kesadaran compos mentis; 8) Produksi urin adekuat (0,5-1,5 ml/kgBB/jam); 9) Nilai laboratorium (Hb, Ht) mendekati rentang normal.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Manajemen perfusi jaringan. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan keperawatan yang komprehensif untuk memantau, meningkatkan, dan mempertahankan aliran darah yang adekuat ke jaringan perifer. Tindakan dimulai dengan pemantauan ketat tanda-tanda penurunan perfusi, seperti pucat, kulit dingin, nadi lemah, pengisian kapiler melambat (>3 detik), takikardia, hipotensi, dispnea, kelelahan, penurunan output urin, dan perubahan status mental. Pemantauan tanda vital dan oksimetri nadi dilakukan secara berkala. Pasien didorong untuk tirah baring atau membatasi aktivitas sesuai toleransi untuk mengurangi konsumsi oksigen tubuh. Posisi pasien diatur dengan elevasi kepala tempat tidur untuk memfasilitasi pernapasan dan sirkulasi, menghindari posisi yang menekan pembuluh darah. Dilakukan penjagaan suhu lingkungan agar tetap hangat untuk mencegah vasokonstriksi, menggunakan selimut jika diperlukan. Asupan nutrisi dan cairan dimonitor dan didukung, dengan mendorong konsumsi makanan kaya zat besi, asam folat, dan vitamin B12 (seperti daging merah, sayuran hijau, hati, kacang-kacangan) serta menjaga hidrasi yang adekuat sesuai kondisi jantung. Pemberian terapi oksigen sesuai indikasi dan resep untuk meningkatkan saturasi oksigen. Kolaborasi dalam pemberian transfusi darah atau produk darah sesuai protokol, dengan pemantauan ketat sebelum, selama, dan setelah transfusi terhadap reaksi transfusi. Edukasi diberikan kepada pasien dan keluarga mengenai penyebab anemia, tanda-tanda penurunan perfusi yang harus diwaspadai, pentingnya diet dan terapi obat (seperti suplemen besi), serta teknik penghematan energi. Keamanan pasien dijaga karena risiko pusing dan sinkop akibat hipoksia serebral. Seluruh intervensi didokumentasikan dengan baik dan evaluasi respons pasien terhadap terapi dilakukan secara terus-menerus untuk mencapai hasil yang diharapkan yaitu perfusi jaringan yang adekuat.
-
Article No. 23106 | 01 Dec 2025
Klinis : _Keluhan Utama_ Penurunan kesadaran post KLL _RPS_ Pasien datang dengan penurunan kesadaran post KLL 1 jam SMRS. Saat pasien sedang membonceng sepeda motor, pasien tiba-tiba mengalami kejang dalam waktu yang tidak diketahui. Pasien kemudian terjatuh dari sepeda motor ke arah belakang. Setelah kejadian, pasien tidak bisa diajak berkomunukasi, mual (-), muntah (-). Oleh penolong, pasien dibawa ke IGD RSSP Sragen. Pasien kejang 1x di IGD selama 1 menit. _RPD_ Riwayat trauma (-) Riwayat operasi (-) Riwayat sistemik (-) Riwayat alergi (-) Riwayat Obat: (+) riwayat pasien menggunakan narkoba 4 th yll O : _Primary Survey_ A: Clear, Stable C-Spine B: Pengembangan dada simetris kanan = kiri, RR: 20x/menit, C: TD 144/88 mmHg, HR: 105x/menit, SpO2: 95% on room air D: GCS E4V2M5, pupil isokor (3mm/3mm), RC (+/+), lateralisasi (-) E: T: 36.3°C _Secondary Survey_ Kepala: hematom (+), VL uk 10x3 cm Mata: hematom periorbita (-/-), perdarahan subconjungtiva (-/-) Hidung: rhinorhea (+/+) Telinga: ottorhagia (-/+) Mulut: perdarahan (+), gigi tanggal (-) Wajah: multiple VE, VL uk 1x1 cm R. Mandibula (S) Leher: jejas (-) Thorax: jejas (-), nyeri tekan (-), krepitasi (-) Abdomen: jejas (-), nyeri tekan (-) Ekstremitas atas: VE (+), ROM bebas, akral hangat, CRT 2” Ekstremitas bawah: VE (+), ROM bebas, akral hangat, CRT 2” CT Scan Kepala 3D RSSP 30/11/25_ Kesan: ⁃ Hematoma extracranial di region parietalis sinistra • Intracerebral hemorrhagic contusional di lobus parietalis sinistra dengan perifocal oedema di sekitarnya * Oedema cerebri ⁃ Fraktur os zygomaticum sinistra _RO Thorax RSSP 30/11/25_ Kesan : - Pulmo dan besar cor normal - Tak tampak hematopneumothorax - Sistema tulang intact
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Penurunan Perfusi Jaringan Otak
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah yang adekuat ke jaringan otak yang dapat mengakibatkan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan metabolisme sel-sel otak.
Kode SLKI: L.14015
Deskripsi : Perfusi jaringan otak membaik, ditandai dengan: 1) Tekanan darah dalam rentang yang diharapkan, 2) Denyut nadi dalam rentang yang diharapkan, 3) Pernapasan dalam rentang yang diharapkan, 4) Status mental dalam rentang yang diharapkan, 5) Tidak ada peningkatan tekanan intrakranial, 6) Pupil isokor dan reaktif.
Kode SIKI: I.14067
Deskripsi : 1. Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) dan saturasi oksigen secara berkala. 2. Monitor status neurologis (tingkat kesadaran/GCS, ukuran dan reaksi pupil, kekuatan motorik, tanda-tanda peningkatan TIK seperti muntah proyektil, sakit kepala) secara ketat dan berkala. 3. Pertahankan posisi kepala tempat tidur 30 derajat dengan kepala dan leher dalam posisi netral (align) untuk memfasilitasi aliran balik vena dan menurunkan tekanan intrakranial. 4. Kolaborasi pemberian terapi oksigen sesuai kebutuhan untuk mempertahankan saturasi oksigen >95%. 5. Lakukan tindakan keperawatan dengan pendekatan minimal handling untuk menghindari peningkatan tekanan intrakranial. 6. Monitor balance cairan (intake dan output) secara ketat. 7. Kolaborasi dalam pemberian terapi obat-obatan sesuai program (seperti osmotik diuretik, antikejang). 8. Berikan lingkungan yang tenang, hindari faktor pencetus kejang seperti stimulasi berlebihan. 9. Kaji dan dokumentasi karakteristik kejang jika terjadi.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0029
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, intensitas ringan hingga berat, dengan durasi kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.03002
Deskripsi : Nyeri teratasi, ditandai dengan: 1) Ekspresi wajah rileks, 2) Melaporkan nyeri berkurang/hilang, 3) Skala nyeri menurun, 4) Tanda vital dalam rentang normal, 5) Dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan.
Kode SIKI: I.03023
Deskripsi : 1. Kaji nyeri secara komprehensif meliputi lokasi (kepala, wajah, ekstremitas), karakteristik, intensitas (skala 0-10), durasi, dan faktor pencetus/penghilang. 2. Observasi tanda-tanda nonverbal nyeri seperti gelisah, wajah meringis, postur tubuh melindungi area tertentu, perubahan tanda vital (peningkatan TD dan HR). 3. Atur posisi pasien senyaman mungkin, berikan bantalan penyangga pada area yang nyeri jika memungkinkan. 4. Lakukan teknik non-farmakologi seperti distraksi, lingkungan yang tenang, dan sentuhan terapeutik. 5. Kolaborasi pemberian analgetik sesuai program dokter (baik non-opioid atau opioid) dengan mempertimbangkan status neurologis pasien. 6. Evaluasi efektivitas dan efek samping intervensi penghilang nyeri yang diberikan. 7. Berikan edukasi kepada keluarga tentang tanda nyeri pada pasien dengan penurunan kesadaran dan pentingnya melaporkan.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0098
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons tubuh terhadap patogen atau toksin yang berasal dari lingkungan internal atau eksternal.
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : Risiko infeksi tidak terjadi, ditandai dengan: 1) Tanda vital dalam rentang normal, 2) Tidak ada tanda-tanda infeksi (kemerahan, bengkak, nyeri, panas, pus) pada area luka atau fraktur terbuka, 3) Hasil laboratorium dalam rentang normal, 4) Drainase luka tidak purulen.
Kode SIKI: I.15016
Deskripsi : 1. Monitor tanda-tanda vital terutama suhu tubuh setiap 4 jam atau sesuai protokol. 2. Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik pada luka di kepala, mulut, dan ekstremitas. Perhatikan tanda infeksi seperti eritema, edema, drainase purulen, dan bau tidak sedap. 3. Lakukan perawatan kebersihan diri (mandi, perawatan mulut) untuk mempertahankan integritas kulit dan membran mukosa sebagai pertahanan pertama. 4. Monitor tanda-tanda meningitis seperti kaku kuduk, fotofobia, dan penurunan kesadaran lebih lanjut (mengingat adanya rhinorrhea dan otorrhea yang mengindikasikan kebocoran CSS). 5. Kolaborasi pemberian antibiotik profilaksis sesuai program dokter. 6. Pertahankan teknik aseptik ketat pada semua prosedur invasif (seperti akses infus). 7. Anjurkan dan bantu latihan napas dalam serta perubahan posisi untuk mencegah komplikasi pernapasan.
Kondisi: Kerusakan Integritas Jaringan
Kode SDKI: D.0066
Deskripsi Singkat: Kerusakan pada membran mukosa, kornea, atau integumen (kulit, jaringan subkutan, dan fascia).
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Integritas jaringan membaik, ditandai dengan: 1) Luka bersih dan tidak ada tanda infeksi, 2) Luka menyatu, 3) Kulit sekitar luka utuh, 4) Tidak ada drainage.
Kode SIKI: I.08025
Deskripsi : 1. Kaji luas, kedalaman, karakteristik luka (hematoma, laserasi, abrasi) dan kondisi kulit di seluruh tubuh. 2. Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik, gunakan larutan dan balutan yang sesuai. 3. Ubah posisi pasien secara berkala dengan teknik yang benar untuk menghindari tekanan pada area luka dan mencegah dekubitus. 4. Gunakan bantalan pelindung pada tonjolan tulang dan area yang tertekan. 5. Pertahankan kebersihan kulit, jaga agar tetap kering dan bersih dari kontaminasi cairan tubuh (darah, saliva). 6. Monitor area fraktur zygomaticum untuk tanda-tanda pembengkakan atau deformitas yang bertambah. 7. Kolaborasi dengan tim gizi untuk memastikan asupan protein dan vitamin C yang adekuat untuk penyembuhan jaringan. 8. Lindungi area luka dari trauma lebih lanjut.