Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 19087 | 30 Jun 2025
Klinis : An. D, laki-laki, 16 tahun, dibawa ke puskesmas oleh ibunya karena sering mengurung diri di kamar selama dua minggu terakhir. Ibunya mengatakan An. D tampak murung, tidak mau berbicara, dan tidak bersemangat untuk pergi ke sekolah. Ia juga sering mengatakan dirinya tidak berguna dan merasa tidak disukai teman-temannya. Sebelumnya An. D adalah anak yang aktif dan ceria, tetapi sejak mendapatkan nilai ujian yang rendah dan mengalami ejekan dari teman-temannya di media sosial, ia mulai berubah. Saat wawancara, An. D tampak datar, jarang melakukan kontak mata, dan menjawab dengan suara pelan. Ia mengaku merasa sedih terus-menerus, kehilangan minat untuk bermain, dan sulit tidur di malam hari. Tidak ditemukan kelainan fisik.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang dideskripsikan, diagnosa keperawatan yang dapat ditetapkan adalah:
1. Diagnosis Keperawatan SDKI: Risiko Depresi
Kode: 10028
Definisi: Berisiko mengalami perubahan suasana hati, kognitif, dan perilaku yang secara negatif memengaruhi fungsi sehari-hari dan kesejahteraan individu.
2. Diagnosis Keperawatan SLKI: Perubahan Proses Pikir
Kode: 00130
Definisi: Perubahan kemampuan untuk berpikir, mengevaluasi, dan memproses informasi yang dapat memengaruhi fungsi sehari-hari.
3. Diagnosis Keperawatan SIKI: Koping Individu Tidak Efektif
Kode: 00069
Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan upaya kognitif dan/atau perilaku untuk mengatasi stresor atau tantangan yang dirasakan melebihi sumber daya individu.
Penjelasan singkat:
1. Risiko Depresi (SDKI): An. D menunjukkan gejala-gejala depresi, seperti murung, kehilangan minat, sulit tidur, dan merasa tidak berguna. Hal ini menempatkannya berisiko mengalami depresi yang dapat memengaruhi fungsi sehari-hari dan kesejahteraannya.
2. Perubahan Proses Pikir (SLKI): An. D menunjukkan perubahan kemampuan untuk berpikir, mengevaluasi, dan memproses informasi, ditandai dengan sulitnya melakukan kontak mata, menjawab dengan suara pelan, dan merasa tidak disukai teman-temannya.
3. Koping Individu Tidak Efektif (SIKI): An. D tampaknya tidak mampu melakukan upaya kognitif dan/atau perilaku yang efektif untuk mengatasi stresor atau tantangan yang dihadapinya, seperti nilai ujian yang rendah dan ejekan dari teman-temannya.
Kode dan definisi di atas mengacu pada Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). -
Article No. 19088 | 30 Jun 2025
Klinis : An. D, laki-laki, 16 tahun, dibawa ke puskesmas oleh ibunya karena sering mengurung diri di kamar selama dua minggu terakhir. Ibunya mengatakan An. D tampak murung, tidak mau berbicara, dan tidak bersemangat untuk pergi ke sekolah. Ia juga sering mengatakan dirinya tidak berguna dan merasa tidak disukai teman-temannya. Sebelumnya An. D adalah anak yang aktif dan ceria, tetapi sejak mendapatkan nilai ujian yang rendah dan mengalami ejekan dari teman-temannya di media sosial, ia mulai berubah. Saat wawancara, An. D tampak datar, jarang melakukan kontak mata, dan menjawab dengan suara pelan. Ia mengaku merasa sedih terus-menerus, kehilangan minat untuk bermain, dan sulit tidur di malam hari. Tidak ditemukan kelainan fisik.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang dipaparkan, berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI untuk An. D:
1. Diagnosa Keperawatan: Gangguan Proses Pikir
SDKI: Kode 00130, Definisi: Gangguan pada proses mengorganisasi ide, pikiran, dan pemrosesan informasi.
SLKI: Kode 01100, Definisi: Kemampuan individu untuk mengorganisasi ide, pikiran, dan pemrosesan informasi secara efektif.
SIKI: Kode P0130, Definisi: Intervensi untuk membantu individu mengatasi gangguan dalam proses berpikir.
2. Diagnosa Keperawatan: Isolasi Sosial
SDKI: Kode 00053, Definisi: Pengalaman individu yang merasa terpisah dari orang lain, baik secara nyata maupun persepsi.
SLKI: Kode 01050, Definisi: Kemampuan individu untuk berinteraksi dan membangun hubungan yang bermakna dengan orang lain.
SIKI: Kode P0053, Definisi: Intervensi untuk membantu individu dalam mengatasi isolasi sosial.
3. Diagnosa Keperawatan: Koping Tidak Efektif
SDKI: Kode 00069, Definisi: Ketidakmampuan individu untuk melakukan adaptasi kognitif dan/atau perilaku yang sesuai dengan tuntutan atau stresor yang berasal dari diri sendiri atau lingkungan.
SLKI: Kode 01020, Definisi: Kemampuan individu untuk melakukan adaptasi kognitif dan/atau perilaku yang sesuai dengan tuntutan atau stresor yang berasal dari diri sendiri atau lingkungan.
SIKI: Kode P0069, Definisi: Intervensi untuk membantu individu dalam mengembangkan koping yang efektif.
Penjelasan singkat:
An. D mengalami gangguan pada proses berpikir, ditandai dengan perasaan sedih yang terus-menerus, kehilangan minat, dan sulit tidur. Ia juga mengalami isolasi sosial, tampak murung, tidak mau berbicara, dan merasa tidak disukai teman-temannya. Selain itu, An. D juga menunjukkan koping yang tidak efektif dalam menghadapi masalah, seperti mengurung diri di kamar dan merasa tidak berguna. -
Article No. 19089 | 30 Jun 2025
Klinis : An. D, laki-laki, 16 tahun, dibawa ke puskesmas oleh ibunya karena sering mengurung diri di kamar selama dua minggu terakhir. Ibunya mengatakan An. D tampak murung, tidak mau berbicara, dan tidak bersemangat untuk pergi ke sekolah. Ia juga sering mengatakan dirinya tidak berguna dan merasa tidak disukai teman-temannya. Sebelumnya An. D adalah anak yang aktif dan ceria, tetapi sejak mendapatkan nilai ujian yang rendah dan mengalami ejekan dari teman-temannya di media sosial, ia mulai berubah. Saat wawancara, An. D tampak datar, jarang melakukan kontak mata, dan menjawab dengan suara pelan. Ia mengaku merasa sedih terus-menerus, kehilangan minat untuk bermain, dan sulit tidur di malam hari. Tidak ditemukan kelainan fisik.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosis yang sesuai adalah:
1. Kode ICD-10:
- Kode: F32.0
- Deskripsi: Episode depresi ringan
Tidak ditemukan tindakan medis yang perlu dikodekan dalam ICD-9-CM Procedure.
Penjelasan:
Pasien An. D, seorang laki-laki berusia 16 tahun, menunjukkan gejala-gejala depresi ringan, termasuk:
- Sering mengurung diri di kamar selama 2 minggu terakhir
- Tampak murung, tidak mau berbicara, dan tidak bersemangat untuk pergi ke sekolah
- Merasa dirinya tidak berguna dan tidak disukai teman-temannya
- Tampak datar, jarang melakukan kontak mata, dan menjawab dengan suara pelan
- Mengaku merasa sedih terus-menerus, kehilangan minat untuk bermain, dan sulit tidur di malam hari
Gejala-gejala ini sesuai dengan kriteria diagnosis untuk Episode Depresi Ringan (F32.0) dalam ICD-10, yang ditandai oleh suasana hati yang depresi, kehilangan minat dan kegembiraan, serta berkurangnya energi yang mengarah pada peningkatan kelelahan dan penurunan aktivitas.
Tidak ditemukan informasi mengenai tindakan medis yang perlu dikodekan dalam ICD-9-CM Procedure, sehingga tidak ada kode yang dapat dilaporkan untuk prosedur/tindakan medis. -
Article No. 19090 | 30 Jun 2025
Klinis : An. D, laki-laki, 16 tahun, dibawa ke puskesmas oleh ibunya karena sering mengurung diri di kamar selama dua minggu terakhir. Ibunya mengatakan An. D tampak murung, tidak mau berbicara, dan tidak bersemangat untuk pergi ke sekolah. Ia juga sering mengatakan dirinya tidak berguna dan merasa tidak disukai teman-temannya. Sebelumnya An. D adalah anak yang aktif dan ceria, tetapi sejak mendapatkan nilai ujian yang rendah dan mengalami ejekan dari teman-temannya di media sosial, ia mulai berubah. Saat wawancara, An. D tampak datar, jarang melakukan kontak mata, dan menjawab dengan suara pelan. Ia mengaku merasa sedih terus-menerus, kehilangan minat untuk bermain, dan sulit tidur di malam hari. Tidak ditemukan kelainan fisik.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Bunuh Diri (00052)
Definisi: Kecenderungan individu untuk melukai diri sendiri secara sengaja dengan hasil yang potensial fatal.
SDKI: Verbal mencela diri sendiri, Tampak putus asa, Mengungkapkan niat bunuh diri, Penarikan sosial.
SLKI: Mengidentifikasi faktor risiko bunuh diri, Meningkatkan harapan, Kolaborasi dengan profesional kesehatan mental.
SIKI: Manajemen Risiko Bunuh Diri.
2. Gangguan Pola Tidur (00198)
Definisi: Gangguan kuantitas dan kualitas tidur yang mengganggu fungsi seseorang.
SDKI: Kesulitan memulai tidur, Terbangun di malam hari, Tidur tidak nyenyak.
SLKI: Manajemen Aktivitas Harian, Manajemen Stres, Manajemen Nyeri.
SIKI: Manajemen Insomnia.
3. Perubahan Proses Pikir (00130)
Definisi: Perubahan dalam isi, proses, atau fungsi kognitif.
SDKI: Kesulitan berkonsentrasi, Sulit membuat keputusan, Perubahan suasana hati.
SLKI: Peningkatan Proses Pikir, Manajemen Stres, Terapi Perilaku Kognitif.
SIKI: Terapi Perilaku Kognitif.
4. Isolasi Sosial (00054)
Definisi: Pengalaman individu dan persepsi negatif tentang keterhubungan dengan orang lain.
SDKI: Menarik diri dari interaksi sosial, Menolak berpartisipasi dalam kegiatan sosial, Menghindari kontak mata.
SLKI: Peningkatan Interaksi Sosial, Peningkatan Dukungan Sosial, Terapi Kelompok.
SIKI: Terapi Dukungan Emosional.
Penjelasan singkat:
An. D menunjukkan gejala depresi, seperti murung, kehilangan minat, sulit tidur, dan berpikir negatif tentang dirinya sendiri. Terdapat risiko bunuh diri yang perlu diwaspadai. Selain itu, ia juga mengalami perubahan proses pikir dan isolasi sosial. Diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Risiko Bunuh Diri, Gangguan Pola Tidur, Perubahan Proses Pikir, dan Isolasi Sosial. -
Article No. 19091 | 30 Jun 2025
Klinis : pasien datang dengan keluhan bersin-bersin, flu berat sudah 1 tahun hilang timbul
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi pasien:
Berdasarkan gejala yang dialami pasien, yaitu bersin-bersin dan flu berat yang hilang timbul selama 1 tahun, diagnosa keperawatan yang sesuai berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) adalah:
Diagnosa Keperawatan: Intoleransi Aktivitas
Definisi: Keterbatasan dalam melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan dan/atau diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
Penyebab: Penyakit/kondisi kronis, ketidakefektifan pola napas.
Gejala dan Tanda: Bersin-bersin, flu berat, kelelahan, tidak berdaya, dan penurunan toleransi terhadap aktivitas.
Penjelasan: Pasien mengalami gejala flu berat yang hilang timbul selama 1 tahun, yang dapat menyebabkan keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Hal ini sesuai dengan definisi dan karakteristik dari diagnosa keperawatan Intoleransi Aktivitas berdasarkan SDKI.
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan pasien dapat mencapai luaran sebagai berikut:
Luaran: Toleransi Aktivitas
Definisi: Kemampuan untuk melakukan aktivitas fisik, mental, dan sosial tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan.
Kriteria Hasil:
1. Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa kelelahan yang berlebihan.
2. Pasien dapat melakukan aktivitas fisik, mental, dan sosial tanpa mengalami gejala flu berat.
3. Pasien dapat mempertahankan tingkat energi yang sesuai dengan kebutuhan aktivitas.
Penjelasan: Luaran Toleransi Aktivitas sesuai dengan kondisi pasien yang mengalami keterbatasan dalam melakukan aktivitas akibat gejala flu berat yang hilang timbul. Diharapkan setelah pemberian asuhan keperawatan, pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik tanpa kelelahan yang berlebihan dan tanpa mengalami gejala flu berat.
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai luaran Toleransi Aktivitas, intervensi keperawatan yang diperlukan berdasarkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) adalah:
Intervensi: Manajemen Energi
Definisi: Tindakan yang dilakukan untuk mempertahankan, meningkatkan, atau memulihkan energi individu.
Aktivitas:
1. Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi energi pasien, seperti pola istirahat, nutrisi, dan kondisi kesehatan.
2. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk mengelola gejala flu berat yang dialami pasien.
3. Ajarkan teknik manajemen energi, seperti pengaturan aktivitas, istirahat yang cukup, dan nutrisi yang adekuat.
4. Monitoring tanda-tanda vital dan gejala flu berat pasien secara berkala.
5. Berikan dukungan emosional dan edukasi kepada pasien dan keluarga terkait pengelolaan kondisi kesehatan.
Penjelasan: Intervensi Manajemen Energi bertujuan untuk mempertahankan, meningkatkan, atau memulihkan energi pasien yang terbatas akibat gejala flu berat yang dialami. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan mencakup identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi energi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain, pengajaran teknik manajemen energi, monitoring tanda-tanda vital dan gejala, serta dukungan emosional dan edukasi kepada pasien dan keluarga.
Dengan menerapkan diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi yang sesuai, diharapkan asuhan keperawatan dapat membantu pasien dalam meningkatkan toleransi aktivitas dan mengelola gejala flu berat yang dialami. -
Article No. 19092 | 30 Jun 2025
Klinis : pasien datang dengan keluhan bersin-bersin dan flu berat sudah 4 hari
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan senang hati, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi pasien:
Diagnosa Keperawatan SDKI yang paling sesuai dengan kondisi pasien yang datang dengan keluhan bersin-bersin dan flu berat selama 4 hari adalah "Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif". Diagnosa ini dipilih karena pasien mengalami gejala-gejala yang mengarah pada gangguan pada sistem pernapasan, seperti bersin-bersin dan flu berat yang sudah berlangsung cukup lama.
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah dilakukan Asuhan Keperawatan, luaran/output yang diharapkan adalah:
a. Bersihan Jalan Napas Efektif
Indikator:
- Pasien dapat bernafas dengan mudah
- Tidak ada suara napas tambahan (wheezing, ronki, stridor)
- Warna kulit kembali normal
- Pasien tidak mengalami sesak napas
b. Kontrol Gejala
Indikator:
- Pasien dapat mengenali dan mengelola gejala flu yang muncul
- Pasien dapat menjelaskan faktor-faktor pemicu gejala flu
- Pasien dapat menggunakan intervensi yang tepat untuk mengurangi gejala flu
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran adalah:
a. Manajemen Jalan Napas
- Lakukan suction pada jalan napas jika diperlukan
- Berikan oksigen sesuai kebutuhan
- Ajarkan teknik batuk efektif
- Berikan humidifikasi udara
b. Manajemen Gejala
- Ajarkan pasien mengidentifikasi faktor-faktor pemicu gejala flu
- Ajarkan pasien teknik relaksasi untuk mengurangi gejala flu
- Dorong pasien untuk mengonsumsi cairan yang cukup
- Berikan terapi antipiretik dan dekongestant sesuai indikasi
c. Edukasi Kesehatan
- Edukasi pasien dan keluarga mengenai flu, gejala, dan penanganannya
- Ajarkan pasien dan keluarga teknik pencegahan penularan penyakit
Dengan intervensi-intervensi di atas, diharapkan pasien dapat mencapai luaran yang diharapkan, yaitu bersihan jalan napas yang efektif dan kemampuan dalam mengelola gejala flu. Perawat harus terus memantau perkembangan pasien dan melakukan evaluasi untuk memastikan intervensi yang diberikan efektif. -
Article No. 19093 | 30 Jun 2025
Klinis : pasien datang dengan keluhan demam dan susah tidur
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI yang sesuai dengan kondisi pasien yang Anda berikan:
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidaknyamanan fisik (NKSP)
Kode SDKI: 00132
Definisi: Pengalaman subjektif dari ketidaknyamanan fisik yang mengganggu, yang dapat memengaruhi kesehatan, aktivitas, dan fungsi peran.
2. Gangguan pola tidur (TIRS)
Kode SDKI: 00198
Definisi: Gangguan dalam kualitas, kuantitas, dan ritme tidur yang mengganggu fungsi sehari-hari.
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia)
- Merupakan standar yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk mengidentifikasi masalah-masalah kesehatan yang dialami oleh pasien.
- Kode SDKI terdiri dari 5 digit angka yang unik untuk setiap diagnosa keperawatan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia)
- Merupakan standar yang ditetapkan oleh PPNI untuk menggambarkan hasil atau luaran yang diharapkan dari intervensi keperawatan.
- Kode SLKI terdiri dari 5 digit angka yang unik untuk setiap luaran keperawatan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia)
- Merupakan standar yang ditetapkan oleh PPNI untuk menggambarkan tindakan keperawatan yang dilakukan untuk mencapai luaran yang diharapkan.
- Kode SIKI terdiri dari 5 digit angka yang unik untuk setiap intervensi keperawatan.
Dalam konteks pasien dengan keluhan demam dan susah tidur, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Ketidaknyamanan fisik (NKSP) dan Gangguan pola tidur (TIRS). Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut dapat ditemukan dalam SIKI. -
Article No. 19094 | 30 Jun 2025
Klinis : Ibu Siti, seorang perempuan berusia 82 tahun, tinggal bersama anak perempuannya di rumah. Ibu Siti mengalami penurunan mobilitas akibat osteoporosis dan masalah persendian yang mempengaruhi aktivitas hariannya. Selain itu, ia juga sering mengalami incontinensia yang memburuk selama beberapa bulan terakhir. Ibu Siti sangat taat beragama, tetapi belakangan ini merasa kesulitan dalam menjaga kebersihan diri terutama dalam melakukan wudhu dan ibadah harian karena masalah eliminasi yang dihadapinya. Saat ini, Ibu Siti sedang menjalani perawatan di rumah oleh keluarganya dengan bantuan seorang perawat home care. Ibu Siti juga menggunakan alat bantu seperti commode chair untuk buang air besar. Anak dan perawat yang merawatnya merasa khawatir dengan keadaan kesehatannya, terutama karena Ibu Siti juga mulai menunjukkan gejala ketidaknyamanan emosional seperti mudah cemas dan marah karena keterbatasannya.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan rekomendasi diagnosa, luaran, dan intervensi keperawatan yang sesuai untuk kondisi Ibu Siti berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI).
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Penurunan Mobilitas Fisik berhubungan dengan penurunan fungsi muskuloskeletal akibat osteoporosis dan masalah persendian.
2. Inkontinensia Urin berhubungan dengan perubahan fisiologis akibat usia lanjut.
3. Gangguan Kebersihan Diri berhubungan dengan keterbatasan fisik dalam melakukan aktivitas perawatan diri, terutama terkait dengan ibadah.
4. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan dan keterbatasan fisik.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Penurunan Mobilitas Fisik:
a. Mobilitas dalam rentang gerak sendi yang optimal.
b. Kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
c. Kemampuan beradaptasi dengan alat bantu mobilitas.
2. Inkontinensia Urin:
a. Tidak terjadi inkontinensia urin.
b. Kemampuan mengontrol eliminasi urin.
c. Tidak terjadi komplikasi akibat inkontinensia urin.
3. Gangguan Kebersihan Diri:
a. Kebersihan diri yang optimal.
b. Kemampuan melakukan ritual kebersihan diri sesuai keyakinan.
c. Tidak terjadi infeksi akibat kebersihan diri yang tidak adekuat.
4. Kecemasan:
a. Kecemasan menurun.
b. Kemampuan beradaptasi dengan keterbatasan fisik.
c. Partisipasi dalam aktivitas sehari-hari meningkat.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Penurunan Mobilitas Fisik:
a. Latihan rentang gerak sendi.
b. Latihan aktivitas sehari-hari dengan bantuan.
c. Edukasi penggunaan alat bantu mobilitas.
2. Inkontinensia Urin:
a. Manajemen inkontinensia urin.
b. Latihan kontrol eliminasi urin.
c. Edukasi penanganan inkontinensia urin.
3. Gangguan Kebersihan Diri:
a. Bantuan perawatan diri sesuai kemampuan.
b. Edukasi kebersihan diri sesuai keyakinan.
c. Kolaborasi dengan keluarga dan perawat home care.
4. Kecemasan:
a. Terapi relaksasi.
b. Dukungan psikososial.
c. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (psikolog, konselor).
Dalam memberikan asuhan keperawatan kepada Ibu Siti, perawat harus mempertimbangkan aspek holistik, memberikan perawatan yang berpusat pada pasien, dan melibatkan keluarga sebagai bagian integral dari proses pemulihan. Pendekatan yang komprehensif dan kolaboratif sangat penting untuk mencapai hasil yang optimal bagi Ibu Siti. -
Article No. 19095 | 30 Jun 2025
Klinis : pasien post stroke sudah 2 tahun
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci terkait kondisi pasien post stroke yang sudah 2 tahun, sesuai dengan format yang Anda berikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
Diagnosa keperawatan yang paling sesuai untuk kondisi pasien post stroke yang sudah 2 tahun adalah "Mobilitas Fisik Terganggu". Diagnosa ini mencerminkan adanya keterbatasan kemampuan pasien dalam melakukan pergerakan tubuh secara mandiri akibat dampak jangka panjang dari stroke yang dialami.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Mobilitas Fisik: Pasien mampu melakukan pergerakan tubuh secara mandiri dengan bantuan minimal.
2. Kemampuan Perawatan Diri: Pasien mampu melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri dengan bantuan minimal.
3. Integritas Kulit: Tidak terjadi kerusakan kulit akibat imobilitas.
4. Fungsi Neuromuskular: Terjadi peningkatan kekuatan dan koordinasi otot-otot tubuh.
5. Kualitas Hidup: Pasien dapat meningkatkan kualitas hidupnya sesuai dengan kondisi kesehatan yang dialami.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Mobilitas
- Lakukan asesmen mobilitas pasien
- Tingkatkan aktivitas fisik secara bertahap sesuai kemampuan pasien
- Latih teknik pergerakan dan perpindahan yang aman
- Berikan alat bantu mobilitas yang sesuai
2. Perawatan Diri
- Lakukan asesmen kemampuan perawatan diri pasien
- Berikan bantuan dan pelatihan untuk aktivitas perawatan diri
- Modifikasi lingkungan untuk memudahkan aktivitas perawatan diri
- Kolaborasi dengan terapis okupasi untuk program pelatihan perawatan diri
3. Pencegahan Kerusakan Kulit
- Lakukan asesmen risiko kerusakan kulit
- Terapkan teknik posisi tubuh dan pergeseran berat badan yang tepat
- Berikan perawatan kulit secara rutin
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemenuhan nutrisi
4. Terapi Neuromuskular
- Lakukan asesmen fungsi neuromuskular
- Berikan program latihan fisik dan terapi okupasi yang terstruktur
- Pantau perkembangan kekuatan dan koordinasi otot
- Kolaborasi dengan fisioterapis untuk program rehabilitasi
5. Peningkatan Kualitas Hidup
- Lakukan asesmen kualitas hidup pasien
- Berikan dukungan psikologis dan edukasi terkait kondisi kesehatan
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk intervensi holistik
- Libatkan keluarga dalam proses peningkatan kualitas hidup pasien
Penerapan intervensi keperawatan yang komprehensif dan kolaboratif diharapkan dapat membantu pasien post stroke yang sudah 2 tahun untuk mencapai luaran yang diharapkan dan meningkatkan kualitas hidupnya. -
Article No. 19096 | 30 Jun 2025
Klinis : pasien mengeluh sakit kepala
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri Akut (00132)
Definisi: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial atau digambarkan dalam istilah-istilah tersebut.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Kode: 00132
Definisi: Keadaan yang tidak menyenangkan yang dirasakan individu akibat adanya stimulasi sensorik atau potensi kerusakan jaringan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Kode: 00406
Definisi: Derajat kenyamanan fisik yang dirasakan individu.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Kode: 00132
Definisi: Serangkaian tindakan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan aktual atau potensial pada suatu bagian tubuh.
Penjelasan singkat:
Pasien mengeluh sakit kepala, yang merupakan gejala dari Nyeri Akut. Perawat harus mengkaji faktor-faktor yang menyebabkan nyeri kepala, menilai intensitas dan karakteristik nyeri, serta memberikan intervensi yang tepat untuk mengurangi nyeri, seperti pemberian analgesik, kompres hangat/dingin, relaksasi, dan edukasi.