Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24800 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang anak (8 th) dengan Demam Berdarah Dengue (DBD) hari ke-5. Hasil pemeriksaan: terdapat ptekie di lengan, gusi berdarah, nilai Trombosit 45.000/uL, dan Hematokrit meningkat 25% dari nilai dasar.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perdarahan
Kode SDKI: 0206
Deskripsi Singkat: Risiko Perdarahan adalah keadaan di mana individu rentan mengalami kehilangan darah yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 0910
Deskripsi : SLKI 0910: Manajemen Risiko Perdarahan. Tujuan dari SLKI ini adalah agar risiko perdarahan pada pasien dapat dicegah atau diminimalkan. Luaran yang diharapkan meliputi: (1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal, (2) Tidak ada tanda perdarahan aktif atau bertambahnya tanda perdarahan, (3) Nilai laboratorium terkait hemostasis (seperti trombosit, hematokrit, masa perdarahan) mendekati atau dalam rentang normal, (4) Pasien dan keluarga memahami tanda-tanda perdarahan yang perlu dilaporkan. Pada konteks pasien anak DBD hari ke-5 ini, fokus SLKI adalah memantau ketat tanda perdarahan (seperti perluasan petekie, epitaksis, perdarahan gusi, melena, hematemesis) dan mencegah trauma yang dapat memicu perdarahan. Pemantauan tanda vital (terutama tekanan darah dan nadi) sangat penting untuk mendeteksi syok dini akibat perdarahan. Selain itu, SLKI ini mencakup edukasi pada orang tua untuk mengenali tanda bahaya seperti anak gelisah, lemas, nyeri perut hebat, muntah darah, atau BAB hitam, serta menghindari aktivitas berlebihan dan obat-obatan yang mempengaruhi fungsi trombosit seperti aspirin.
Kode SIKI: 2610
Deskripsi : SIKI 2610: Pemantauan Perdarahan. Intervensi keperawatan ini terdiri dari serangkaian tindakan sistematis untuk mengobservasi, mendeteksi, dan mendokumentasikan tanda-tanda perdarahan. Pada pasien anak DBD dengan trombosit 45.000/uL dan peningkatan hematokrit, tindakan spesifik meliputi: (1) Observasi dan dokumentasi frekuensi, lokasi, dan karakteristik perdarahan (misalnya, memetakan petekie, mencatat frekuensi gusi berdarah). (2) Memantau tanda-tanda vital dan tanda-tanda syok (nadi cepat dan lemah, tekanan darah menurun, capillary refill time memanjang, produksi urin menurun) setiap 1-2 jam atau sesuai kondisi kritis. (3) Memeriksa adanya perdarahan tersembunyi melalui pemeriksaan feses dan muntahan terhadap darah samar (guaia test). (4) Memantau hasil laboratorium serial, terutama hitung trombosit dan hematokrit. Peningkatan hematokrit (hemokonsentrasi) merupakan indikator kebocoran plasma dan risiko syok, sementara trombositopenia meningkatkan risiko perdarahan. (5) Melindungi pasien dari trauma: menghindari injeksi intramuskular, pengukuran tekanan darah yang terlalu kuat, dan prosedur invasif lainnya. Memberikan sikat gigi yang sangat lembut atau kasa untuk membersihkan mulut. (6) Mengajarkan orang tua dan anak (sesuai kemampuan) untuk melaporkan segera jika muncul memar baru, mimisan, atau perdarahan lainnya. (7) Mencatat asupan dan keluaran cairan untuk menilai keseimbangan cairan dan mendeteksi perdarahan internal. Intervensi ini dilakukan secara kontinu dan terintegrasi dengan manajemen cairan untuk mencegah komplikasi fatal seperti syok hipovolemik atau perdarahan masif.
-
Article No. 24801 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang perempuan (42 th) mengeluh adanya benjolan di leher yang ikut bergerak saat menelan. Pasien sering merasa kepanasan, banyak berkeringat, tremor pada tangan, dan berat badan turun 5 kg dalam 2 minggu meskipun nafsu makan meningkat.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertiroidisme (Diduga Penyakit Graves)
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh berhubungan dengan peningkatan metabolisme dan intoleransi aktivitas.
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : Status Nutrisi. Tujuan keperawatan adalah agar status nutrisi pasien membaik dan seimbang dengan kebutuhan metaboliknya. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Pasien menunjukkan peningkatan berat badan yang sesuai dengan tujuan, mencapai dan mempertahankan berat badan dalam rentang normal untuk tinggi badan dan usia. 2) Asupan nutrisi oral memadai untuk memenuhi kebutuhan metabolik yang meningkat, ditunjukkan dengan konsumsi makanan tinggi kalori dan protein sesuai rencana. 3) Nilai laboratorium terkait nutrisi (seperti albumin, pre-albumin) dalam batas normal. 4) Pasien melaporkan peningkatan energi dan penurunan kelelahan. 5) Pasien dan keluarga dapat mengidentifikasi makanan yang sesuai dan strategi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tinggi kalori dan protein. Intervensi keperawatan diarahkan untuk memantau berat badan, kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun diet tinggi kalori, protein, dan vitamin, serta memberikan pendidikan kesehatan.
Kode SIKI: I.05095
Deskripsi : Manajemen Hipertiroid. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan keperawatan untuk menstabilkan kondisi pasien hipertiroid, mengurangi gejala, dan mencegah komplikasi. Tindakan spesifik meliputi: 1) Memantau tanda-tanda vital (terutama frekuensi jantung, irama, dan tekanan darah) secara ketat untuk mendeteksi takikardia atau aritmia. 2) Mengkaji status nutrisi dan hidrasi, termasuk berat badan, asupan-output, serta tanda-tanda dehidrasi. 3) Menyediakan lingkungan yang tenang dan sejuk, membatasi pengunjung/aktivitas untuk mengurangi stimulasi dan menghemat energi pasien. 4) Melakukan kolaborasi pemberian terapi obat anti-tiroid, beta-blocker, atau terapi yodium radioaktif sesuai resep, serta memantau efek dan efek sampingnya. 5) Memberikan perawatan kulit untuk area yang banyak berkeringat. 6) Memantau adanya tremor, kecemasan, dan gangguan tidur, serta memberikan dukungan psikologis. 7) Melindungi kornea jika ada gejala oftalmopati (seperti penutupan mata tidak sempurna). 8) Pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga tentang penyakit, rencana pengobatan, pentingnya kepatuhan minum obat, diet, dan tanda-tanda bahaya yang harus dilaporkan (seperti palpitasi hebat, demam tinggi, agitasi berat - yang mungkin mengindikasikan badai tiroid). Intervensi ini bersifat komprehensif untuk mengatasi dampak peningkatan hormon tiroid pada berbagai sistem tubuh.
-
Article No. 24802 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang perempuan (48 th) dengan kanker serviks stadium lanjut mengeluh nyeri di area panggul yang terus menerus. Pasien tampak kurus (TB 155 cm, BB 38 kg), nafsu makan hilang, dan hanya menghabiskan 3 sendok makan tiap porsi.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut/Kronis
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut (International Association for the Study of Pain); awitan yang tiba-tiba atau lambat dari intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diperkirakan dan durasi ≤ 3 bulan (akut) atau > 3 bulan (kronis).
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Pasien mampu mengontrol nyeri. Kriteria hasil: 1) Menyatakan nyeri terkontrol. 2) Mengenali faktor penyebab. 3) Melaporkan tidak adanya perilaku yang menunjukkan nyeri (seperti tidak mengekspresikan wajah kesakitan, tidak gelisah). 4) Mendemonstrasikan teknik nonfarmakologi untuk mengatasi nyeri. 5) Menggunakan analgesik sesuai resep. 6) Mempertahankan tingkat fungsi yang diinginkan. 7) Tidur dan istirahat dengan adekuat.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Tindakan keperawatan: 1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas/skala nyeri, faktor pencetus, dan faktor penghilang). 2) Observasi petunjuk non-verbal dari ketidaknyamanan, terutama pada pasien yang tidak mampu berkomunikasi dengan baik. 3) Kaji faktor-faktor yang memperberat dan memperingan nyeri. 4) Ajarkan teknik nonfarmakologi (relaksasi napas dalam, distraksi, imajinasi terbimbing, masase, kompres hangat/dingin sesuai indikasi). 5) Kolaborasi pemberian analgesik sesuai protokol (prinsip dosis tepat, interval tepat, rute tepat). 6) Evaluasi efektivitas intervensi pengendalian nyeri (menggunakan skala nyeri). 7) Berikan informasi tentang nyeri dan penanganannya. 8) Fasilitasi dukungan spiritual dan psikologis. 9) Modifikasi lingkungan untuk mendukung kenyamanan. 10) Dokumentasi respons nyeri dan intervensi yang diberikan.
Kondisi: Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: D.0026
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Status nutrisi pasien adekuat. Kriteria hasil: 1) Menunjukkan peningkatan berat badan yang diinginkan sesuai tujuan. 2) Menunjukkan nilai laboratorium terkait nutrisi dalam rentang normal. 3) Mengungkapkan pemahaman tentang pilihan makanan yang sesuai. 4) Melaporkan peningkatan nafsu makan. 5) Tidak menunjukkan tanda malnutrisi (edema, rambut mudah rontok, kulit kering). 6) Mengonsumsi makanan sesuai dengan kebutuhan kalori harian.
Kode SIKI: I.03003
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. Tindakan keperawatan: 1) Kaji status nutrisi secara komprehensif (riwayat diet, antropometri, pemeriksaan fisik, data biokimia). 2) Timbang berat badan secara teratur. 3) Identifikasi faktor penyebab anoreksia atau penurunan asupan (mual, nyeri, depresi, efek samping terapi). 4) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori dan jenis diet. 5) Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering dengan kandungan nutrisi dan kalori tinggi. 6) Ciptakan lingkungan makan yang nyaman dan menarik. 7) Atur posisi yang nyaman saat makan. 8) Berikan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan. 9) Kolaborasi pemberian suplemen nutrisi oral atau terapi nutrisi lainnya sesuai indikasi. 10) Pantau tanda-tanda komplikasi malnutrisi. 11) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi dan strategi peningkatan asupan.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0028
Deskripsi Singkat: Peningkatan risiko terpapar patogen.
Kode SLKI: L.19001
Deskripsi : Pasien bebas dari infeksi. Kriteria hasil: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal. 2) Tidak menunjukkan tanda dan gejala infeksi (demam, kemerahan, edema, nyeri, drainage purulen). 3) Menunjukkan perilaku untuk mencegah infeksi (mencuci tangan, menjaga kebersihan diri). 4) Nilai laboratorium penanda infeksi dalam batas normal.
Kode SIKI: I.19001
Deskripsi : Pencegahan Infeksi. Tindakan keperawatan: 1) Pantau tanda-tanda vital, terutama suhu tubuh. 2) Lakukan teknik aseptik pada semua prosedur. 3) Tingkatkan kebersihan diri pasien (perawatan kulit, mulut, area perianal). 4) Anjurkan dan bantu cuci tangan yang efektif. 5) Batasi pengunjung yang sedang sakit. 6) Lakukan perawatan luka dengan teknik steril jika ada. 7) Kolaborasi pemberian terapi antibiotik jika diperlukan. 8) Anjurkan asupan nutrisi yang adekuat untuk mendukung sistem imun. 9) Edukasi pasien dan keluarga tentang tanda-tanda infeksi dan langkah pencegahannya. 10) Pertahankan lingkungan yang bersih di sekitar pasien.
-
Article No. 24803 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang perempuan (60 th) penderita Diabetes Melitus. Pasien mengeluh luka di tumit kanan yang sudah mencapai tulang (stadion IV). Lukanya berbau busuk, banyak jaringan nekrotik hitam, dan terdapat rembesan nanah. Kadar GDS 420 mg/dL.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Gangguan Integritas Jaringan Kulit yang Aktual
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Risiko infeksi adalah keadaan dimana individu rentan terhadap invasi dan multiplikasi patogen, yang dapat mengancam kesehatan. Pada kasus ini, risiko telah menjadi aktual (infeksi aktual) yang ditunjukkan dengan adanya nanah dan bau busuk. Gangguan integritas jaringan kulit adalah keadaan dimana kulit dan jaringan di bawahnya mengalami kerusakan. Kondisi ini sangat relevan karena pasien memiliki luka kronis stadium IV (mencapai tulang) dengan jaringan nekrotik, yang secara langsung mengganggu kontinuitas dan fungsi kulit sebagai barier protektif pertama tubuh.
Kode SLKI: 3401
Deskripsi : SLKI 3401 berfokus pada Pengendalian Infeksi. Tujuan utamanya adalah agar infeksi pada pasien dapat teratasi atau terkendali. Indikator keberhasilannya meliputi: tanda-tanda infeksi sistemik (seperti demam, leukositosis) menurun atau hilang; tanda-tanda infeksi lokal (seperti kemerahan, bengkak, nyeri, panas, dan pus/nanah) berkurang atau hilang; hasil kultur mikroorganisme menunjukkan pertumbuhan negatif atau berkurang; dan luka menunjukkan proses penyembuhan (granulasi, epitelisasi). Dalam konteks pasien ini, target spesifiknya adalah menghilangkan bau busuk, menghentikan rembesan nanah, membersihkan jaringan nekrotik hitam, dan mencegah penyebaran infeksi ke tulang (osteomielitis) atau sepsis. Perawat akan merencanakan intervensi seperti perawatan luka steril, debridemen, pemberian antibiotik sesuai program, dan pemantauan ketat tanda-tanda infeksi.
Kode SIKI: 4201
Deskripsi : SIKI 4201 adalah Manajemen Luka. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan untuk membersihkan, melindungi, dan memfasilitasi penyembuhan luka. Langkah-langkahnya meliputi: 1) **Asesmen Komprehensif Luka**: mencatat lokasi (tumit kanan), ukuran, kedalaman (mencapai tulang), karakteristik jaringan (nekrotik hitam, slough, granulasi), jumlah dan jenis eksudat (nanah), serta adanya bau (busuk). Penggunaan skala seperti TIME (Tissue, Infection/Inflammation, Moisture, Edge) sangat tepat. 2) **Perawatan Luka dengan Teknik Aseptik**: membersihkan luka dengan larutan steril yang sesuai (misal, NaCl 0.9%) dan melakukan debridemen (autolitik, enzimatik, mekanik, atau bedah) untuk mengangkat jaringan nekrotik yang menjadi media pertumbuhan bakteri. 3) **Pemilihan Balutan yang Tepat**: menggunakan balutan modern yang dapat menciptakan lingkungan lembab, mengelola eksudat berlebih, dan mengontrol bau (misal, balutan hidrofiber dengan silver, balutan karbon). 4) **Pencegahan Tekanan**: tumit adalah area tekanan tinggi, sehingga diperlukan alat bantu seperti bantal tumit atau posisi pengaturan untuk menghilangkan tekanan secara total dari area luka. 5) **Edukasi Pasien/Keluarga**: meski kondisi akut, edukasi tentang pentingnya tidak menekan luka dan menjaga kebersihan tetap diberikan. 6) **Kolaborasi**: dengan dokter untuk debridemen bedah, pemberian antibiotik sistemik, dan pengelolaan diabetes yang merupakan faktor kausatif utama. Pengelolaan glukosa darah (GDS 420 mg/dL) adalah bagian integral dari manajemen luka ini, karena hiperglikemia akan mengganggu fungsi leukosit, memperburuk sirkulasi, dan menghambat penyembuhan. Tanpa kontrol glikemik yang baik, upaya perawatan luka akan sia-sia. Oleh karena itu, intervensi ini harus berjalan paralel dengan manajemen hiperglikemia (kolaborasi dengan tim medis untuk insulin therapy).
-
Article No. 24804 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang pasien (20 th) dengan cedera kepala ringan mengeluh pusing dan mual setelah terjatuh. Pasien terus bertanya "Saya ada di mana?" setiap 5 menit meskipun sudah dijelaskan berulang kali.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Proses Pikir
Kode SDKI: D.0066
Deskripsi Singkat: Keadaan ketidakmampuan seseorang dalam membentuk pemikiran yang koheren dan logis, yang dapat dimanifestasikan dengan disorientasi, kebingungan, dan gangguan daya ingat.
Kode SLKI: L.03149
Deskripsi : SLKI L.03149 berfokus pada pemulihan orientasi dan proses pikir klien. Tujuan utamanya adalah agar klien mampu menunjukkan orientasi yang baik terhadap orang, tempat, dan waktu, serta berpikir logis dan koheren sesuai dengan kapasitasnya. Luaran yang diharapkan meliputi: klien dapat menyebutkan identitas dirinya dengan benar, mengenali orang-orang di sekitarnya (seperti perawat atau keluarga), mengetahui di mana ia berada (misalnya, nama rumah sakit atau ruangan), dan menyadari waktu (hari, tanggal, atau situasi). Klien juga diharapkan dapat mengikuti percakapan dengan topik yang relevan, memberikan respons yang sesuai dengan pertanyaan, serta mengurangi atau menghentikan pertanyaan berulang yang menunjukkan kebingungan. Selain itu, luaran mencakup penurunan tanda-tanda distress seperti kecemasan atau agitasi yang disebabkan oleh disorientasi. Pencapaian luaran ini dinilai melalui observasi perilaku, percakapan, dan respons klien terhadap intervensi yang diberikan secara berkala.
Kode SIKI: I.05261
Deskripsi : SIKI I.05261 merupakan serangkaian intervensi keperawatan untuk menangani gangguan proses pikir dan disorientasi. Intervensi ini dimulai dengan pendekatan terapeutik, yaitu berkomunikasi dengan klien menggunakan suara yang tenang, jelas, dan penuh empati. Perawat memperkenalkan diri setiap kali berinteraksi dan menyebutkan nama klien dengan sopan. Intervensi kunci adalah reorientasi realitas yang dilakukan secara konsisten dan sabar. Setiap kali klien bertanya "Saya ada di mana?", perawat memberikan jawaban yang singkat, jelas, dan faktual (contoh: "Anda sedang di IGD Rumah Sakit Sehat, Bapak jatuh tadi pagi dan kami sedang memeriksa Bapak"). Informasi ini diulang dengan kalimat yang sama tanpa menunjukkan frustrasi. Perawat juga melakukan orientasi dengan menggunakan alat bantu seperti jam, kalender, atau jendela untuk menunjukkan siang/malam, serta menyebutkan nama hari dan tanggal. Lingkungan dibuat senyaman mungkin, mengurangi kebisingan dan cahaya yang menyilaukan untuk menurunkan stimulasi sensorik yang dapat memperburuk kebingungan. Perawat memantau tanda-tanda vital dan status neurologis (seperti tingkat kesadaran, pupil, dan kekuatan motorik) secara ketat karena kondisi ini berhubungan dengan cedera kepala. Kolaborasi dengan tim medis dilakukan untuk evaluasi lebih lanjut dan pemberian terapi sesuai indikasi. Dukungan emosional diberikan dengan meyakinkan klien bahwa ia berada di tempat yang aman dan ditangani oleh tenaga profesional. Keluarga dilibatkan untuk membantu dalam proses reorientasi dengan memberikan informasi yang konsisten. Seluruh intervensi didokumentasikan dengan rinci untuk memantau perkembangan atau perubahan status klien.
-
Article No. 24805 | 31 Mar 2026
Klinis : 1. Pasien hanya memiliki 1 anak perempuan sudah menikah 2. Dalam 1 rumah ada 5 orang, 3 kepala keluarga 3. Pasien berbicara tidak nyambung, berbicara incoherent 4. Pasien tidak pernah mengkonsumsi obat dan tidak ke puskesmas 5. Genogram : suami meninggal, 6. Pasien kelahiran tahun 63 7. Pemikiran pasien masih tertinggal di masa lalu, mengatakan bahwa beliau habis nyoblos pak harto 8. Keluarga pasien tidak mendukung untuk minum obat dan ke puskesmas karena khawatir akan kondisi ibunya kalau minum obat malah sakitnya kemana mana dan tidak terbiasa minum obat 9. Pasien bisa sholat lengkap, hanya ingatan ada yang hilang, orientasi waktu 10. Pasien seperti itu sudah lama mulai anak pasien kecil 11. Pasien mengatakan sekarang tahun 1993 12. Keluarga pasien mengatakan bahwa keluarga sebelumnya juga ada yang pernah sakit jiwa 13. Keluarga pasien mengatakan tidak ada gangguan tidur 14. Keluarga pasien mengatakan dulu pernah kecelakaan dan terkena sakit kepala, dan tidak minum obat sama sekali 15. Keluarga pasien mengatakan rambut pasien warna hitam tidak putih, sholat masih rajin. Pasien masih mau ikut sholat ke masjid. Kemarin sholat idul fitri 16. Faktor kesepian menjadikan pasien memiliki kejiwaan 17. Keluarga pasien mengatakan ingatan pasien yang hilang cuma dengan orangtua, mengatakan semua yang ada di rumah dianggap seperti anaknya. 18. Pasien suka memasak, kadang seharian suka masak, kadang kalau masak selalu banyak. Jadi sama keluarga dikasih alat masak yang kecil-kecil. Karena dulu waktu jaman dahulu di rumah orangnya banyak jadi seperti kebiasaan 19. Keluarga pasien mengatakan, pasien masih puasa juga. 20. Keluarga pasien mengatakan kemarin waktu halal bihalal ke rumah-rumah tetangga, passien bercerita kalau sholat ied datang awal, pasien mengatakan berangkat shubuh untuk sholat ied 21. Pasien mengatakan hari itu pasien membuat sapu lidi, jadi pasien selalu kayak membuat kesibukan 22. Saat ditanya apa denger orang bisik2 pasien tidak bisa fokus 23. Keluarga pasien mengatakan orang2 jaman dulu, temen2nya, ingat semua, yang sekarang tidak ingat 24. Keluarga pasien mengatakan dulu denger bisik-bisik, dan penglihatan, sekarang jarang. Sosok merah, gak pake baju. 25. pasien dulu suka menulis, tapi semua nama orang di arang dan dibelakang nama selalu dikasih akhiran ti, pasien bisa mencuci sendiri, mandi sendiri, habis mandi baju langsung dicuci. keluarga pasien mengatakan sehari pasien ganti baju 2x
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Proses Pikir
Kode SDKI: D.0031
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana individu mengalami disorganisasi dalam proses berpikir yang ditandai dengan gangguan dalam pembentukan dan pengorganisasian ide, yang dimanifestasikan melalui bicara yang tidak koheren, inkoheren, atau tidak logis.
Kode SLKI: L.08011
Deskripsi : Klien dapat mendemonstrasikan proses pikir yang logis dan terorganisir. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Klien dapat berbicara secara koheren dan relevan dengan topik pembicaraan; 2) Asosiasi ide klien teratur dan mudah diikuti; 3) Klien dapat mempertahankan alur pembicaraan tanpa melompat-lompat topik yang tidak terkait; 4) Isi pembicaraan klien sesuai dengan realitas; dan 5) Klien dapat mengidentifikasi jika ada gangguan dalam pikirannya.
Kode SIKI: I.08011
Deskripsi : Intervensi untuk meningkatkan proses pikir yang logis. Intervensi keperawatan meliputi: 1) Membangun hubungan saling percaya dengan pendekatan yang tenang dan menerima; 2) Berbicara dengan klien menggunakan kalimat sederhana, jelas, dan topik konkret (misal: kegiatan harian, masak-memasak) daripada topik abstrak; 3) Melakukan validasi dan klarifikasi ketika klien berbicara tidak nyambung, contoh: "Ibu tadi bilang habis nyoblos, maksudnya bagaimana?" untuk memahami kerangka pikir klien tanpa menyangkal; 4) Melatih klien untuk fokus pada satu topik pembicaraan pada satu waktu, mengingatkan dengan lembut jika melantur; 5) Melibatkan klien dalam aktivitas terstruktur dan berulang yang disukainya (seperti membuat sapu lidi, memasak dengan porsi kecil) untuk membantu mengorganisir pikiran melalui tindakan; 6) Memberikan orientasi realitas secara halus dan berulang mengenai waktu, orang, dan tempat dalam konteks kegiatan (misal: "Sekarang kita mau masak untuk makan siang, tahun 2024"); 7) Kolaborasi dengan tenaga kesehatan jiwa untuk terapi modalitas lainnya dan manajemen farmakoterapi jika diperlukan; serta 8) Melakukan pendidikan kesehatan pada keluarga tentang kondisi klien, cara berkomunikasi yang efektif, dan pentingnya dukungan serta pengobatan berkelanjutan untuk mengurangi kekhawatiran keluarga yang keliru tentang obat.
Kondisi: Gangguan Memori
Kode SDKI: D.0015
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana individu mengalami penurunan kemampuan untuk mengingat atau mengenali informasi yang sebelumnya dipelajari atau peristiwa yang baru terjadi, yang dapat bersifat sementara atau menetap.
Kode SLKI: L.01221
Deskripsi : Klien dapat mempertahankan fungsi memori optimal. Kriteria hasil meliputi: 1) Klien dapat mengingat informasi atau peristiwa penting secara akurat; 2) Klien dapat mengenali orang-orang terdekat dan lingkungannya; 3) Klien dapat mengingat dan melaksanakan rutinitas harian dengan bantuan minimal; 4) Klien dapat menggunakan strategi untuk membantu mengingat; dan 5) Keluarga memahami cara membantu klien dalam mengatasi keterbatasan memorinya.
Kode SIKI: I.01229
Deskripsi : Intervensi untuk meningkatkan memori. Intervensi keperawatan meliputi: 1) Melakukan orientasi realitas berulang dengan cara yang tidak mengancam, menggunakan alat bantu seperti kalender besar, jam, dan foto keluarga dengan label nama; 2) Merangsang memori jangka panjang yang masih baik (misal: mengajak bercerita tentang masa lalu, resep masakan jaman dulu, kegiatan sholat) untuk meningkatkan harga diri dan koneksi emosional; 3) Menciptakan rutinitas harian yang konsisten dan terstruktur (waktu makan, mandi, sholat, aktivitas) untuk mengurangi kebingungan; 4) Melatih klien menggunakan alat bantu memori sederhana seperti catatan atau daftar kegiatan; 5) Melibatkan klien dalam aktivitas kognitif sederhana yang disukai (menulis dengan pengawasan, merapikan alat masak); 6) Meminimalkan distraksi lingkungan saat klien perlu mengingat instruksi; 7) Memberikan penguatan positif ketika klien berhasil mengingat sesuatu; 8) Edukasi keluarga untuk selalu memperkenalkan diri, menyebutkan hubungan kekerabatan, dan tidak memarahi klien saat lupa; serta 9) Menyarankan keluarga untuk mengawasi aktivitas yang berpotensi bahaya akibat lupa (seperti kompor saat memasak) dengan cara yang bijak, seperti menyediakan alat masak kecil seperti yang sudah dilakukan.
Kondisi: Risiko Cedera
Kode SDKI: D.0290
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana individu rentan mengalami cedera fisik akibat faktor internal (kondisi kesehatan) dan/atau eksternal (lingkungan) yang dapat mengancam kesehatan dan keselamatan.
Kode SLKI: L.19021
Deskripsi : Klien bebas dari cedera. Kriteria hasil meliputi: 1) Klien dapat mengidentifikasi faktor risiko cedera di lingkungannya; 2) Klien dapat mendemonstrasikan perilaku untuk mencegah cedera; 3) Lingkungan klien aman dan bebas dari bahaya; 4) Tidak ada tanda-tanda cedera pada klien; dan 5) Keluarga dapat memodifikasi lingkungan untuk mencegah cedera.
Kode SIKI: I.19029
Deskripsi : Intervensi untuk mencegah cedera. Intervensi keperawatan meliputi: 1) Melakukan assessment risiko cedera menyeluruh, termasuk riwayat kecelakaan dan sakit kepala, gangguan persepsi (dulu ada penglihatan sosok), dan potensi bahaya dari aktivitas memasak; 2) Memodifikasi lingkungan rumah: memastikan pencahayaan cukup, lantai tidak licin, menyimpan benda tajam dan alat masak (terutama yang besar) di tempat aman, serta pengawasan pada penggunaan kompor; 3) Mengajarkan keluarga tentang pentingnya pengawasan tanpa membuat klien merasa diawasi, terutama saat klien melakukan aktivitas berisiko seperti memasak atau keluar rumah (sholat ke masjid); 4) Membuat identifikasi diri pada klien (gelang atau kartu) yang berisi nama, alamat, dan nomor telepon keluarga untuk berjaga-jaga jika klien keluar dan disorientasi; 5) Memastikan klien menggunakan alas kaki yang aman; 6) Memantau kemungkinan sakit kepala atau gangguan penglihatan yang dapat meningkatkan risiko jatuh; 7) Kolaborasi dengan keluarga untuk membuat jadwal pendampingan aktivitas klien; serta 8) Edukasi keluarga tentang tanda-tanda memburuknya kondisi yang dapat meningkatkan risiko cedera dan kapan harus mencari bantuan.
Kondisi: Ketidakefektifan Manajemen Kesehatan Keluarga
Kode SDKI: D.0163
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana keluarga mengalami ketidakmampuan dalam mengelola program terapeutik dan adaptasi terhadap situasi kesehatan salah satu anggotanya, yang dapat menghambat pencapaian tujuan kesehatan.
Kode SLKI: L.35031
Deskripsi : Keluarga dapat mengelola program kesehatan anggota keluarganya. Kriteria hasil meliputi: 1) Keluarga dapat mengidentifikasi kebutuhan kesehatan anggota keluarga yang sakit; 2) Keluarga dapat mendemonstrasikan keterampilan merawat anggota keluarga yang sakit; 3) Keluarga dapat memanfaatkan sumber daya yang tersedia (puskesmas, tenaga kesehatan); 4) Keluarga berpartisipasi dalam pengambilan keputusan perawatan; dan 5) Keluarga melaksanakan rencana perawatan yang telah disepakati.
Kode SIKI: I.35034
Deskripsi : Intervensi untuk meningkatkan manajemen kesehatan keluarga. Intervensi keperawatan meliputi: 1) Menjalin kemitraan dengan keluarga, menghargai usaha mereka selama ini (seperti mengatur alat masak, menemani kegiatan), sambil membuka wawasan baru; 2) Memberikan pendidikan kesehatan yang komprehensif tentang gangguan jiwa pada lansia (seperti gejala, perjalanan penyakit, faktor risiko genetik yang disebutkan keluarga), untuk mengurangi stigma dan kesalahpahaman; 3) Meluruskan miskonsepsi keluarga tentang pengobatan ("khawatir sakitnya kemana-mana") dengan penjelasan bahwa obat dapat menstabilkan kimia otak, mengurangi gejala seperti bicara incoherent dan halusinasi, serta mencegah perburukan; 4) Melibatkan keluarga dalam perencanaan perawatan, menekankan bahwa dukungan mereka sangat crucial; 5) Melatih keluarga keterampilan komunikasi terapeutik, cara menghadapi perilaku klien, dan teknik orientasi realitas; 6) Memfasilitasi keluarga untuk mengakses layanan kesehatan (puskesmas) dengan mungkin mendampingi kunjungan pertama; 7) Membantu keluarga mengidentifikasi kekuatan internal (kebersamaan, kesabaran, agama) dan sumber eksternal (dukungan tetangga, layanan kesehatan); 8) Mendukung keluarga untuk membagi peran perawatan agar tidak membebani satu orang; serta 9) Memberikan reinforcement positif atas setiap kemajuan kecil dalam perawatan yang dilakukan keluarga.
-
Article No. 24806 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang wanita (38 th) dengan riwayat gastritis sering mengeluh nyeri ulu hati terutama saat telat makan atau stres. Pasien sering mengonsumsi kopi 4 gelas sehari dan suka makan pedas.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan durasi kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Tujuan keperawatan utama adalah mengatasi nyeri pasien. Luaran yang diharapkan adalah Tingkat Nyeri Terkontrol. Indikator luaran ini meliputi: (1) Melaporkan nyeri hilang/terkontrol; (2) Menunjukkan ekspresi wajah rileks; (3) Menunjukkan posisi tubuh nyaman; (4) Tanda vital dalam rentang normal; (5) Tidak menunjukkan perilaku melindungi area nyeri; dan (6) Mengikuti program penatalaksanaan nyeri. Pada pasien ini, targetnya adalah pasien dapat melaporkan penurunan atau hilangnya nyeri ulu hati, menunjukkan tanda-tanda fisik yang rileks, dan berpartisipasi dalam rencana perawatan untuk mengelola gastritisnya.
Kode SIKI: I.11021
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang direkomendasikan adalah Manajemen Nyeri. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan sistematis untuk melakukan asesmen nyeri secara komprehensif dan memberikan terapi non-farmakologis serta kolaborasi pemberian terapi farmakologis. Penjelasan rinci: Pertama, perawat melakukan asesmen nyeri secara komprehensif dengan menggunakan metode PQRST (Provocation/Palliation, Quality, Region/Radiation, Severity, Time) untuk menggali karakteristik nyeri ulu hati pasien, termasuk pemicu (telat makan, stres, makanan pedas/berkafein) dan cara meredakannya. Kedua, memberikan edukasi kesehatan yang mendalam tentang hubungan antara gaya hidup dan nyeri gastritis. Perawat akan menjelaskan patofisiologi sederhana bagaimana kopi (4 gelas/hari) merangsang asam lambung berlebih dan makanan pedas mengiritasi mukosa lambung yang sudah meradang, serta bagaimana stres memengaruhi sistem saraf enterik. Ketiga, menerapkan terapi non-farmakologis seperti teknik relaksasi napas dalam atau distraksi untuk mengatasi nyeri yang dipicu stres. Keempat, berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian dan pemantauan efektivitas obat-obatan seperti antasida, H2 blocker, atau PPI sesuai resep. Kelima, membantu pasien mengidentifikasi dan memodifikasi faktor risiko dengan menyusun jadwal makan teratur (3x sehari dengan camilan sehat), merencanakan pengurangan konsumsi kopi secara bertahap (misal, menjadi 1-2 gelas/hari atau beralih ke decaf), serta mengurangi makanan pedas. Keenam, mengajarkan pasien untuk mengenali tanda-tanda awal nyeri dan tindakan mandiri yang dapat dilakukan. Intervensi ini bersifat holistik karena tidak hanya berfokus pada penghilangan gejala, tetapi juga pada modifikasi perilaku dan pemberdayaan pasien untuk mengelola kondisinya secara mandiri, sehingga mencegah kekambuhan dan meningkatkan kualitas hidup.
-
Article No. 24807 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang remaja (17 th) didiagnosa menderita gagal ginjal kronik dan harus menjalani hemodialisa seumur hidup. Pasien mengatakan, "Lebih baik saya mati saja daripada harus mencuci darah terus. Hidup saya sudah tidak ada gunanya."
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Bunuh Diri
Kode SDKI: 00146
Deskripsi Singkat: Risiko Bunuh Diri adalah keadaan dimana individu berisiko untuk mengakhiri hidupnya sendiri secara sengaja.
Kode SLKI: 4600A
Deskripsi : Pasien terlindung dari perilaku bunuh diri. Indikator yang relevan dalam konteks kasus ini meliputi: (4600A.1) Mengungkapkan perasaan dan pikiran; (4600A.2) Mengidentifikasi sumber-sumber harapan; (4600A.3) Mengidentifikasi alasan untuk hidup; (4600A.4) Mengungkapkan tidak ada keinginan untuk mati atau bunuh diri; (4600A.5) Menggunakan strategi koping yang adaptif; (4600A.6) Mendapatkan dukungan sosial; (4600A.7) Lingkungan aman dari alat/bahan yang dapat digunakan untuk melukai diri; (4600A.8) Mendapatkan terapi kognitif-perilaku; (4600A.9) Mendapatkan terapi modalitas keperawatan lainnya. Tujuan utama dari SLKI ini adalah memastikan keamanan pasien, mengurangi isolasi emosional, dan membangun kembali makna serta harapan hidup.
Kode SIKI: 4601
Deskripsi : Intervensi untuk Risiko Bunuh Diri. Intervensi keperawatan yang harus dilakukan meliputi: (4601.1) Kaji risiko bunuh diri (ide, rencana, alat, intensi, riwayat percobaan); (4601.2) Lakukan kontrak tidak bunuh diri (suicide precaution agreement); (4601.3) Temani/awasi ketat sesuai tingkat risiko; (4601.4) Amankan lingkungan dari alat/bahan berbahaya; (4601.5) Berikan terapi modalitas keperawatan: terapi suportif; (4601.6) Libatkan keluarga dalam pengawasan dan pemberian dukungan; (4601.7) Kolaborasi pemberian farmakoterapi (jika diperlukan); (4601.8) Kolaborasi rujuk ke profesional kesehatan mental (psikiater, psikolog); (4601.9) Ajarkan strategi koping dan teknik manajemen stres. Dalam kasus remaja dengan GGK ini, intervensi harus sangat sensitif. Pengkajian mendalam terhadap pernyataan "lebih baik mati" sangat kritis untuk memahami tingkat keputusasaan dan niatnya. Kontrak tidak bunuh diri menjadi dasar komitmen verbal atau tertulis untuk tidak melukai diri dan memberitahu perawat/keluarga jika ide tersebut muncul. Pengawasan dan pengamanan lingkungan adalah tindakan protektif langsung. Terapi suportif dengan pendekatan empati dan tanpa menghakimi sangat penting untuk membangun hubungan terapeutik. Perawat perlu mendengarkan aktif, mengakui penderitaan pasien, dan tidak menyangkal perasaannya. Melibatkan keluarga untuk meningkatkan sistem pendukung dan mengedukasi mereka tentang tanda-tanda peringatan adalah langkah krusial. Kolaborasi dengan psikiater mungkin diperlukan untuk evaluasi lebih lanjut dan manajemen depresi atau gangguan penyesuaian. Selain itu, intervensi harus diintegrasikan dengan edukasi dan dukungan mengenai penyakit ginjal kronik dan hemodialisa, membantu remaja menemukan makna baru dan tujuan hidup meski dengan kondisi kronisnya, serta menghubungkannya dengan kelompok pendukung (support group) pasien muda dengan kondisi serupa untuk mengurangi perasaan terisolasi.
-
Article No. 24808 | 31 Mar 2026
Klinis : Mrs. Siti, a 75-year-old woman, is admitted to the hospital with complaints of chronic pain in her lower back and joints. She has a history of osteoarthritis and hypertension. Mrs. Siti reports difficulty performing activities of daily living due to her pain, which has been progressively worsening over the past year. Assessment: Nursing assessment reveals a limited range of motion, joint stiffness, and increased blood pressure readings. Mrs. Siti’s pain is rated 7 out of 10 on the scale. Vital signs are within normal limits except for elevated blood pressure.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Kronis
Kode SDKI: 0001
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang berlangsung atau berulang selama lebih dari 3 bulan.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Deskripsi: Tindakan keperawatan untuk meminimalkan atau meringankan nyeri. Intervensi ini mencakup: 1) Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif meliputi lokasi, karakteristik, onset, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas serta faktor presipitasi. 2) Mengobservasi petunjuk non-verbal dari ketidaknyamanan, terutama pada pasien yang tidak mampu berkomunikasi dengan baik. 3) Memastikan pemberian analgesik sesuai resep dan memantau efektivitas serta efek sampingnya. 4) Mengajarkan dan mendukung penggunaan teknik non-farmakologis untuk mengatasi nyeri seperti distraksi, relaksasi, imajinasi terbimbing, terapi musik, atau aplikasi panas/dingin. 5) Melakukan reposisi dan mobilisasi pasien dengan teknik yang tepat untuk meningkatkan kenyamanan. 6) Memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga tentang manajemen nyeri, rencana pengobatan, dan tujuan pengendalian nyeri. 7) Mengevaluasi dan mendokumentasikan respons pasien terhadap intervensi pengurangan nyeri. Pada kasus Mrs. Siti, intervensi ini akan fokus pada penilaian nyeri osteoartritisnya yang kronis, memastikan regimen obat nyeri (mungkin OAINS dengan pertimbangan hipertensi) diberikan dengan tepat, serta mengajarkan teknik pengalihan dan modifikasi aktivitas untuk mengatasi nyeri saat melakukan ADL.
Kode SIKI: 080101
Deskripsi : Kemampuan Mengontrol Nyeri. Kriteria hasil: Pasien menunjukkan kemampuan dalam mengontrol nyeri. Indikator yang dapat diobservasi meliputi: 1) Pasien mampu melaporkan penurunan intensitas nyeri (skala nyeri turun dari 7 menjadi ≤4, misalnya). 2) Pasien mendemonstrasikan teknik non-farmakologis yang dipelajari untuk mengatasi nyeri. 3) Pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari dengan gangguan nyeri yang minimal. 4) Tanda-tanda vital dalam rentang normal yang diharapkan (peningkatan tekanan darah akibat nyeri dapat terkontrol). 5) Ekspresi wajah dan bahasa tubuh menunjukkan kenyamanan (tidak meringis, tidak gelisah). 6) Pasien melaporkan peningkatan kualitas tidur dan istirahat. 7) Pasien mengungkapkan pemahaman tentang rencana manajemen nyeri jangka panjang. Untuk Mrs. Siti, hasil yang diharapkan adalah ia dapat melaporkan penurunan skala nyeri, menunjukkan penggunaan teknik relaksasi atau distraksi saat nyeri meningkat, dan mampu melakukan aktivitas perawatan diri dengan lebih mandiri karena nyeri yang lebih terkendali.
-
Article No. 24809 | 31 Mar 2026
Klinis : pasien mengeluh mual muntah 3 kali, badan lemas dan selera makan menurun
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: 0203
Deskripsi Singkat: Risiko kehilangan cairan aktif atau berhentinya asupan cairan yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan antara kebutuhan dan suplai cairan tubuh.
Kode SLKI: 2001
Deskripsi : Keseimbangan Cairan. Pasien mempertahankan keseimbangan cairan yang adekuat, yang ditunjukkan oleh: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal untuk usia. 2) Membran mukosa lembab. 3) Pengisian kapiler kurang dari 3 detik. 4) Haluaran urine adekuat (0,5-1,5 ml/kgBB/jam pada dewasa). 5) Berat badan stabil. 6) Tidak ada rasa haus yang berlebihan. 7) Turgor kulit baik. 8) Tidak ada edema. 9) Elektrolit serum dalam rentang normal. 10) Tidak ada perubahan status mental yang terkait dengan ketidakseimbangan cairan.
Kode SIKI: 4400
Deskripsi : Manajemen Cairan. Tindakan untuk mempromosikan keseimbangan cairan dan mencegah komplikasi akibat asupan cairan yang tidak adekuat atau berlebihan. Tindakan keperawatan meliputi: 1) Memonitor status hidrasi (tanda vital, turgor kulit, membran mukosa, pengisian kapiler, haluaran urine, dan berat badan). 2) Mengidentifikasi faktor risiko atau penyebab ketidakseimbangan cairan (seperti mual muntah, demam, diare). 3) Memperkirakan keseimbangan cairan (intake dan output) secara akurat. 4) Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai resep. 5) Memfasilitasi asupan cairan per oral sesuai toleransi dan kebutuhan (misalnya, memberikan cairan sedikit-sedikit tapi sering, menggunakan cairan yang disukai pasien, menghindari pemberian dalam volume besar sekaligus). 6) Memposisikan pasien untuk mencegah aspirasi selama muntah atau pemberian minum. 7) Memonitor hasil laboratorium terkait (seperti elektrolit, hematokrit, BUN). 8) Memberikan edukasi pada pasien dan keluarga tentang pentingnya asupan cairan, tanda-tanda dehidrasi, dan cara mengatasi mual ringan di rumah. 9) Melakukan kolaborasi atau rujukan untuk penanganan penyebab mual muntah (misalnya, pemberian obat antiemetik). 10) Memodifikasi lingkungan untuk mengurangi pemicu mual (seperti bau makanan).