Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 19335 | 06 Jul 2025
Klinis : sesak nafas sejak 1 bulan yang lalu hilang timbul memberat 1 hari sebelum masuk RS, ekg nstemi
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci terkait diagnosa keperawatan, luaran/output yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang diperlukan berdasarkan kondisi yang Anda berikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Berdasarkan kondisi pasien yang mengalami sesak nafas sejak 1 bulan yang lalu, hilang timbul, dan memberat 1 hari sebelum masuk rumah sakit, serta hasil EKG yang menunjukkan NSTEMI (Non-ST Elevation Myocardial Infarction), maka diagnosa keperawatan yang sesuai adalah:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan bersihan jalan napas yang optimal.
Faktor yang berhubungan: Penyakit kardiovaskular (NSTEMI)
2. Pola Napas Tidak Efektif
Definisi: Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat.
Faktor yang berhubungan: Penyakit kardiovaskular (NSTEMI)
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Bersihan Jalan Napas Efektif
- Pasien dapat mengeluarkan sekret dari saluran pernapasan dengan efektif.
- Pasien dapat mempertahankan saturasi oksigen dalam batas normal.
- Tidak ada tanda-tanda obstruksi jalan napas.
2. Pola Napas Efektif
- Pasien dapat bernapas dengan irama dan kedalaman yang normal.
- Pasien tidak mengalami sesak napas atau kesulitan bernapas.
- Pasien dapat mempertahankan ventilasi yang adekuat.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
a. Lakukan monitoring respirasi dan oksigenasi secara berkala.
b. Berikan posisi semi-fowler untuk memfasilitasi ekspansi paru.
c. Berikan oksigen sesuai kebutuhan untuk mempertahankan saturasi oksigen.
d. Lakukan suction atau fisioterapi dada jika diperlukan untuk membantu mengeluarkan sekret.
e. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (dokter, fisioterapis) untuk penatalaksanaan lebih lanjut.
2. Pola Napas Tidak Efektif
a. Lakukan monitoring respirasi dan oksigenasi secara berkala.
b. Berikan posisi semi-fowler untuk memfasilitasi ekspansi paru.
c. Berikan oksigen sesuai kebutuhan untuk mempertahankan ventilasi yang adekuat.
d. Ajarkan teknik-teknik pernapasan yang benar kepada pasien.
e. Berikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang manajemen penyakit kardiovaskular.
f. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (dokter, fisioterapis) untuk penatalaksanaan lebih lanjut.
Penjelasan rinci:
Diagnosa keperawatan yang dipilih berdasarkan kondisi pasien yang mengalami sesak napas dan hasil EKG NSTEMI adalah Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif dan Pola Napas Tidak Efektif. Kedua diagnosa ini berkaitan dengan penyakit kardiovaskular yang dialami pasien.
Luaran/output yang diharapkan adalah pasien dapat mempertahankan bersihan jalan napas yang efektif, serta pola napas yang efektif. Hal ini ditandai dengan kemampuan pasien mengeluarkan sekret, mempertahankan saturasi oksigen, tidak ada tanda-tanda obstruksi jalan napas, serta pasien dapat bernapas dengan irama dan kedalaman yang normal tanpa mengalami sesak napas.
Intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran tersebut meliputi monitoring respirasi dan oksigenasi, pemberian posisi semi-fowler, pemberian oksigen, suction atau fisioterapi dada jika diperlukan, serta edukasi dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain. Intervensi-intervensi tersebut bertujuan untuk memfasilitasi bersihan jalan napas dan mempertahankan ventilasi yang adekuat pada pasien. -
Article No. 19336 | 06 Jul 2025
Klinis : Seorang laki-laki berusia 22 tahun masuk RS dengan keluhan diare selama 4 hari. Saat dikaji klien tampak lemah dan muntah-muntah, feses klien tampak cair. Suhu tubuh klien 380C, frekuensi denyut jantung 98x/menit dan frek pernafasan 30x/menit, mata klien tampak cekung, bibir tampak kering dan turgor kulit buruk Apa Diagnosa Utama pada pasien dan tuliskan Intervensinya ?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI untuk kondisi pasien yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan Utama:
1. Defisit Volume Cairan (00027)
Definisi: Pengurangan cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraseluler.
SDKI:
- Indikator: Dehidrasi, turgor kulit buruk, mata cekung, bibir kering.
- Penyebab: Kehilangan cairan melalui diare dan muntah.
SLKI:
- Hasil yang Diharapkan: Pasien mencapai keseimbangan cairan yang adekuat.
- Intervensi: Pantau intake dan output cairan, berikan cairan intravena, monitor tanda-tanda vital, dan kolaborasi pemberian obat antidiare.
SIKI:
- Kode: 6220 Manajemen Cairan
- Definisi: Mempertahankan dan memulihkan keseimbangan cairan yang optimal.
Intervensi Keperawatan:
1. Monitor intake dan output cairan secara ketat.
2. Berikan cairan intravena untuk mengganti kehilangan cairan akibat diare dan muntah.
3. Monitor tanda-tanda vital seperti suhu, nadi, dan frekuensi napas.
4. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat antidiare yang sesuai.
5. Dokumentasikan semua intervensi dan respons pasien.
Dengan pendekatan ini, diharapkan pasien dapat mencapai keseimbangan cairan yang adekuat dan mengatasi dehidrasi yang terjadi. -
Article No. 19337 | 06 Jul 2025
Klinis : Seorang laki – laki berumur 48 tahun dirawat di RS dengan keluhan nyeri pada mata kanan. Skala nyeri 7 (1-10) disertai mual dan muntah. Hasil pengkajian peningkatan tekanan intraokuler, mata kanan merah dan bengkak, melihat bayangan pelangi disekitar cahaya dan belum mengetahui kondisi penyakitnya, TD 120/80 mmHg, frekuensi nadi 94x/menit, frekuensi nafas 28x/menit. Apakah masalah keperawatan utama yang muncul pada kasus tersebut? Diagnosa keperawatan apa yang harus diangkat dari kasus diatas dan uraikan intervensi keperawatan nya ?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI beserta kodenya dan definisinya yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan Utama:
Nyeri Akut (10019)
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam istilah-istilah tersebut.
Penjelasan Singkat:
Berdasarkan kasus yang dipaparkan, pasien mengalami keluhan nyeri pada mata kanan dengan skala nyeri 7 (1-10) disertai mual dan muntah. Hasil pengkajian menunjukkan adanya peningkatan tekanan intraokuler, mata kanan yang merah dan bengkak, serta pasien melihat bayangan pelangi di sekitar cahaya. Hal ini menunjukkan adanya kondisi patologis pada mata kanan pasien yang dapat menyebabkan nyeri akut.
Intervensi Keperawatan:
1. Pengkajian nyeri menggunakan alat ukur yang valid dan reliabel
2. Identifikasi penyebab, karakteristik, lokasi, durasi, frekuensi, dan faktor yang memperberat atau memperingan nyeri
3. Kolaborasi pemberian analgesik sesuai indikasi
4. Berikan intervensi nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri, seperti kompres hangat/dingin, distraksi, relaksasi, dan terapi musik
5. Monitor tanda-tanda vital dan respons pasien terhadap intervensi nyeri
6. Edukasi pasien dan keluarga mengenai manajemen nyeri
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
10019 Nyeri Akut
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
10001 Tingkat Nyeri Menurun
10003 Pengendalian Nyeri Meningkat
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
I0020 Manajemen Nyeri
I0186 Terapi Komplementer: Kompres Hangat/Dingin
I0214 Edukasi Manajemen Nyeri
Selain diagnosa utama Nyeri Akut, terdapat kemungkinan diagnosis keperawatan lain yang dapat muncul, misalnya Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan nyeri dan penurunan visus. -
Article No. 19338 | 06 Jul 2025
Klinis : seorang pasien dengan keluhan mual muntah dan bab cair pasien mual muntah >5x berisi ampas makanan. keluhan di sertai bab cair >7x. TD:130/80, N:100 RR:20 Tax:37,5 SpO2:98 apa masalah keperawatannya?
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Berdasarkan gejala yang dipaparkan, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah:
1. Diare (SDKI)
Definisi: Buang air besar dengan frekuensi lebih dari 3 kali per hari dengan konsistensi lembek atau cair.
Penyebab: Faktor infeksi (misalnya bakteri, virus, parasit), faktor diet/nutrisi, faktor psikologis, dan faktor lainnya.
Tanda dan gejala: Frekuensi buang air besar meningkat (>3 kali per hari), konsistensi feses lembek atau cair, nyeri perut, mual, muntah, dan dehidrasi.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Pemulihan Keseimbangan Cairan (SLKI)
Definisi: Kemampuan tubuh untuk mempertahankan volume dan komposisi cairan internal dalam batas normal.
Kriteria hasil:
a. Frekuensi defekasi menurun (<3 kali per hari)
b. Konsistensi feses normal
c. Tanda-tanda vital dalam batas normal (TD, nadi, respirasi, suhu)
d. Tidak terjadi dehidrasi
e. Berat badan stabil
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Diare (SIKI)
Tujuan: Mengendalikan gejala diare dan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.
Intervensi:
a. Kaji frekuensi, konsistensi, dan jumlah feses
b. Pantau tanda-tanda vital (TD, nadi, respirasi, suhu)
c. Berikan diet BRAT (Banana, Rice, Applesauce, Toast) dan hindari makanan berserat tinggi
d. Berikan cairan oral untuk mengganti cairan yang hilang
e. Berikan obat antidiare sesuai instruksi dokter
f. Ajarkan teknik higienis dan mencuci tangan
g. Pantau status hidrasi (turgor kulit, mukosa, output urin)
h. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi cairan intravena jika dibutuhkan
Penjelasan rinci:
Diagnosa keperawatan "Diare" dipilih karena pasien mengalami gejala buang air besar dengan frekuensi yang meningkat (>7 kali per hari) dan konsistensi yang cair. Hal ini sesuai dengan definisi diare dalam SDKI.
Luaran/output yang diharapkan adalah "Pemulihan Keseimbangan Cairan" karena pasien mengalami kehilangan cairan akibat diare. Kriteria hasil yang diharapkan adalah frekuensi defekasi menurun, konsistensi feses normal, tanda-tanda vital stabil, tidak terjadi dehidrasi, dan berat badan stabil.
Intervensi keperawatan yang diperlukan adalah "Manajemen Diare" untuk mengendalikan gejala diare dan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit. Intervensi meliputi pengkajian, pemantauan tanda-tanda vital, pemberian diet dan cairan oral, pemberian obat antidiare, edukasi, dan kolaborasi dengan dokter untuk terapi cairan intravena jika diperlukan.
Dengan penerapan intervensi keperawatan yang tepat, diharapkan luaran yang diinginkan dapat tercapai, yaitu pemulihan keseimbangan cairan pada pasien. -
Article No. 19339 | 06 Jul 2025
Klinis : Seorang laki – laki berumur 50 tahun dirawat di RS dengan keluhan kedua kaki tidak bisa digerakkan. Pada pemeriksaan kekuatan otot ekstremitas bawah kedua kaki hanya bisa digeser, tak mampu mengangkat kakinya. Kulit klien tampak kotor dan berbau, terdapat luka lecet / dekubitus di area bokong Apa diagnose keperawatan yang utama pada kasus diatas dan berikan inetrvensinya ?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dalam kasus seorang laki-laki berusia 50 tahun yang dirawat di rumah sakit dengan keluhan kedua kakinya tidak bisa digerakkan, kekuatan otot ekstremitas bawah hanya dapat digeser tanpa mampu mengangkat kaki, serta kulit kotor, berbau, dan terdapat luka lecet/dekubitus di area bokong, maka dapat ditetapkan diagnosis keperawatan utama sebagai berikut:
1. Diagnosa Keperawatan Utama:
Diagnosa: Mobilitas Fisik Terganggu (MOBFIT)
Kode SDKI: 13104
Definisi: Keterbatasan dalam gerakan fisik yang disengaja dan terarah, yang menyebabkan hambatan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
2. Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
a. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia)
- Merupakan standar yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk diagnosis keperawatan.
- Berisi daftar diagnosis keperawatan beserta definisi, karakteristik, faktor terkait, dan faktor risiko.
b. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia)
- Merupakan standar yang ditetapkan oleh PPNI untuk luaran atau hasil yang diharapkan dari asuhan keperawatan.
- Berisi daftar luaran keperawatan beserta definisi, kriteria hasil, dan intervensi keperawatan.
c. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia)
- Merupakan standar yang ditetapkan oleh PPNI untuk intervensi keperawatan.
- Berisi daftar intervensi keperawatan beserta definisi, aktivitas, dan kriteria hasil.
3. Intervensi Keperawatan:
Berdasarkan diagnosis keperawatan Mobilitas Fisik Terganggu (MOBFIT), berikut beberapa intervensi keperawatan yang dapat dilakukan:
a. Kode SIKI: M0105
Judul: Mobilisasi
Definisi: Membantu klien untuk melakukan pergerakan yang bertujuan untuk mempertahankan atau meningkatkan fungsi fisik.
Aktivitas:
- Lakukan pengkajian fungsi muskuloskeletal
- Fasilitasi aktivitas fisik sesuai kemampuan klien
- Bantu klien dalam melakukan latihan pergerakan sendi dan otot
- Kolaborasi dengan fisioterapis untuk rencana rehabilitasi
b. Kode SIKI: P0106
Judul: Perawatan Luka
Definisi: Tindakan keperawatan untuk mempertahankan integritas kulit dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Aktivitas:
- Lakukan pengkajian luka dan kulit
- Bersihkan dan rawat luka sesuai prosedur
- Terapkan balutan yang sesuai
- Kolaborasi dengan tim medis untuk penanganan luka
Dengan penerapan intervensi keperawatan yang komprehensif, diharapkan dapat membantu meningkatkan mobilitas fisik dan merawat luka klien sehingga dapat mencapai hasil yang optimal. -
Article No. 19340 | 06 Jul 2025
Klinis : Seorang laki – laki berumur 50 tahun dirawat di RS dengan keluhan kedua kaki tidak bisa digerakkan. Pada pemeriksaan kekuatan otot ekstremitas bawah kedua kaki hanya bisa digeser, tak mampu mengangkat kakinya. Kulit klien tampak kotor dan berbau, terdapat luka lecet / dekubitus di area bokong Apa diagnose keperawatan yang utama pada kasus diatas dan berikan inetrvensinya ?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan utama dan penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI yang relevan dengan kasus yang Anda berikan.
Diagnosa Keperawatan Utama:
1. Gangguan Mobilitas Fisik (MOBFIT) [00085]
Definisi: Keterbatasan dalam pergerakan, kontrol, atau koordinasi satu atau lebih ekstremitas.
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
MOBFIT [00085] merupakan salah satu diagnosa keperawatan yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Diagnosa ini menggambarkan keterbatasan pasien dalam pergerakan, kontrol, atau koordinasi satu atau lebih ekstremitas.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Beberapa luaran keperawatan yang dapat diterapkan untuk diagnosa ini antara lain:
1. Kemampuan Melakukan Aktivitas Mandiri [1800]
2. Pergerakan Sendi [0206]
3. Pemulihan Mobilitas [0210]
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi diagnosa ini antara lain:
1. Perawatan Aktivitas Fisik [0200]
2. Peningkatan Mobilitas [0208]
3. Perawatan Luka [3660]
Intervensi Keperawatan:
1. Perawatan Aktivitas Fisik [0200]:
- Lakukan latihan pergerakan sendi dan otot ekstremitas bawah secara bertahap.
- Dorong pasien untuk berpartisipasi aktif dalam latihan.
- Berikan alat bantu mobilisasi sesuai kebutuhan pasien.
2. Peningkatan Mobilitas [0208]:
- Bantu pasien untuk melakukan pergerakan dan posisi yang nyaman.
- Tingkatkan frekuensi latihan pergerakan ekstremitas bawah.
- Kolaborasi dengan fisioterapis untuk program latihan yang sesuai.
3. Perawatan Luka [3660]:
- Bersihkan area luka dekubitus dengan cairan antiseptik.
- Aplikasikan balutan yang sesuai untuk mempercepat penyembuhan luka.
- Lakukan perawatan luka secara rutin dan terjadwal.
Dengan intervensi keperawatan yang komprehensif, diharapkan kondisi pasien dapat meningkat, mobilitas fisik dapat dipulihkan, dan luka dekubitus dapat sembuh dengan baik. -
Article No. 19341 | 06 Jul 2025
Klinis : Seorang laki – laki berumur 50 tahun dirawat di RS dengan keluhan kedua kaki tidak bisa digerakkan. Pada pemeriksaan kekuatan otot ekstremitas bawah kedua kaki hanya bisa digeser, tak mampu mengangkat kakinya. Kulit klien tampak kotor dan berbau, terdapat luka lecet / dekubitus di area bokong Apa diagnose keperawatan yang utama pada kasus diatas dan berikan inetrvensinya ?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosis keperawatan utama dan penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI untuk kasus tersebut.
Diagnosis Keperawatan Utama:
Risiko Kerusakan Integritas Kulit berhubungan dengan imobilitas fisik (NANDA-I Kode: 00047)
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Risiko Kerusakan Integritas Kulit: Rentan mengalami kerusakan pada lapisan epidermis dan/atau dermis akibat faktor internal dan/atau eksternal.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Integritas Kulit: Kondisi utuh dan tidak rusak pada lapisan epidermis dan/atau dermis.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Perawatan Luka (Kode: 03.06): Serangkaian tindakan untuk merawat luka agar tetap bersih, lembab, dan terproteksi sehingga proses penyembuhan berjalan optimal.
Intervensi Keperawatan:
1. Lakukan penilaian risiko kerusakan kulit menggunakan instrumen asesmen yang sesuai (misal: Braden Scale).
2. Pertahankan posisi dan mobilisasi tubuh untuk mencegah penekanan pada area tubuh yang rentan.
3. Jaga kebersihan kulit dengan memandikan klien secara rutin dan lembut.
4. Lakukan perawatan luka pada area dekubitus dengan menerapkan prinsip perawatan luka yang lembab.
5. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain (dokter, fisioterapis) untuk menangani masalah imobilitas.
6. Edukasikan klien dan keluarga tentang pencegahan dan perawatan luka dekubitus.
7. Monitor tanda-tanda infeksi pada luka dan lakukan tindakan yang sesuai.
Dengan intervensi keperawatan yang komprehensif dan kolaborasi tim kesehatan, diharapkan dapat mencegah terjadinya kerusakan integritas kulit yang lebih luas dan memfasilitasi penyembuhan luka pada klien. -
Article No. 19343 | 06 Jul 2025
Klinis : Seorang laki – laki berumur 50 tahun dirawat di RS dengan keluhan kedua kaki tidak bisa digerakkan. Pada pemeriksaan kekuatan otot ekstremitas bawah kedua kaki hanya bisa digeser, tak mampu mengangkat kakinya. Kulit klien tampak kotor dan berbau, terdapat luka lecet / dekubitus di area bokong Apa diagnose keperawatan yang utama pada kasus diatas dan berikan inetrvensinya ?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan utama dan penjelasan singkat tentang SDKI, SLKI, dan SIKI untuk kasus yang Anda jelaskan.
Diagnosa Keperawatan Utama:
1. Gangguan Mobilitas Fisik (00085)
Definisi: Keterbatasan dalam ukuran atau gerakan satu atau lebih ekstremitas.
Penjelasan SDKI, SLKI, dan SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
1. Gangguan Mobilitas Fisik (00085)
Definisi: Keterbatasan dalam ukuran atau gerakan satu atau lebih ekstremitas.
Kode: 00085
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Mobilitas Fisik (0208)
Definisi: Kemampuan untuk bergerak secara bebas dan mandiri.
Kode: 0208
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Peningkatan Mobilitas (6490)
Definisi: Memfasilitasi pergerakan fisik yang bebas dan mandiri.
Kode: 6490
2. Perawatan Luka (3660)
Definisi: Perlindungan dan perawatan untuk luka.
Kode: 3660
3. Perawatan Kebersihan Diri (1801)
Definisi: Bantuan untuk melakukan aktivitas kebersihan diri.
Kode: 1801
Intervensi Keperawatan:
1. Peningkatan Mobilitas (6490)
- Evaluasi status mobilitas fisik pasien
- Bantu pasien melakukan latihan mobilisasi ekstremitas bawah
- Kolaborasi dengan tim medis untuk terapi fisik dan okupasi
2. Perawatan Luka (3660)
- Bersihkan dan rawat luka dekubitus di area bokong
- Berikan perawatan luka sesuai kondisi luka
3. Perawatan Kebersihan Diri (1801)
- Bantu pasien untuk mandi dan membersihkan diri
- Beri edukasi pentingnya menjaga kebersihan diri
Dengan intervensi keperawatan yang komprehensif, diharapkan pasien dapat meningkatkan mobilitas fisik, perawatan luka, dan kebersihan diri sehingga dapat mencapai kemandirian yang optimal. -
Article No. 19344 | 06 Jul 2025
Klinis : Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang dengan keluhan lemas disertai demam sejak 4 hari yang lalu, mual (+), muntah (+) 3x, nafsu makan meman, AC (+
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, berikut adalah Diagnosa Keperawatan, penjelasan singkat, kode, serta definisi berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan:
1. Defisiensi Volume Cairan (00027)
Definisi: Penurunan cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraseluler.
2. Hipertermia (00007)
Definisi: Peningkatan suhu tubuh di atas kisaran normal.
3. Mual (00134)
Definisi: Sensasi tidak nyaman di perut yang mengarah pada keinginan untuk muntah.
Penjelasan singkat:
1. Defisiensi Volume Cairan (00027):
- Kode SLKI: Keseimbangan Cairan (2002)
- Kode SIKI: Manajemen Cairan (I0014)
Pasien mengalami penurunan volume cairan tubuh akibat gejala mual dan muntah yang terjadi.
2. Hipertermia (00007):
- Kode SLKI: Suhu Tubuh (0800)
- Kode SIKI: Manajemen Demam (I0118)
Pasien mengalami peningkatan suhu tubuh yang ditandai dengan demam.
3. Mual (00134):
- Kode SLKI: Kontrol Mual (0302)
- Kode SIKI: Manajemen Mual dan Muntah (I0064)
Pasien mengalami keluhan mual yang disertai dengan muntah.
Definisi:
1. Defisiensi Volume Cairan (00027):
Penurunan cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraseluler.
2. Hipertermia (00007):
Peningkatan suhu tubuh di atas kisaran normal.
3. Mual (00134):
Sensasi tidak nyaman di perut yang mengarah pada keinginan untuk muntah. -
Article No. 19345 | 06 Jul 2025
Klinis : pasien berumur 3 tahun terlihat lemas
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi pasien berumur 3 tahun yang terlihat lemas adalah "Intoleransi Aktivitas" (SDKI, 2017). Intoleransi Aktivitas didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan atau diperlukan karena keterbatasan fisiologis dan/atau psikologis.
Dalam kasus ini, pasien berusia 3 tahun yang terlihat lemas menunjukkan gejala yang mengindikasikan adanya intoleransi aktivitas. Pasien mungkin mengalami penurunan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari akibat dari kondisi fisik yang lemah.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
Setelah diberikan asuhan keperawatan yang sesuai, diharapkan pasien dapat mencapai luaran/output sebagai berikut:
1. Peningkatan Toleransi Aktivitas
- Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan bantuan yang minimal.
- Pasien menunjukkan peningkatan kemampuan fisik untuk melakukan aktivitas.
- Pasien melaporkan peningkatan energi dan pengurangan kelelahan saat beraktivitas.
2. Peningkatan Pengetahuan
- Pasien dan keluarga memahami faktor-faktor yang mempengaruhi toleransi aktivitas.
- Pasien dan keluarga dapat mengidentifikasi strategi untuk meningkatkan toleransi aktivitas.
3. Peningkatan Partisipasi
- Pasien terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan aktivitas yang sesuai dengan kemampuannya.
- Pasien berpartisipasi dalam aktivitas yang dapat meningkatkan toleransi aktivitasnya.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
Untuk mencapai luaran/output yang diharapkan, berikut adalah intervensi keperawatan yang diperlukan:
1. Manajemen Energi
- Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi toleransi aktivitas pasien.
- Bantu pasien untuk mengatur dan merencanakan aktivitas sehari-hari sesuai dengan kemampuannya.
- Anjurkan pasien untuk beristirahat yang cukup sebelum dan setelah melakukan aktivitas.
- Ajarkan teknik-teknik konservasi energi, seperti mengatur jadwal aktivitas dan menggunakan alat bantu.
2. Peningkatan Aktivitas
- Kembangkan rencana aktivitas yang sesuai dengan kemampuan dan toleransi pasien.
- Berikan latihan fisik yang bertahap dan terukur untuk meningkatkan kekuatan, daya tahan, dan toleransi aktivitas.
- Libatkan pasien dan keluarga dalam perencanaan dan pelaksanaan aktivitas.
- Berikan umpan balik dan motivasi positif selama pasien melakukan aktivitas.
3. Edukasi Kesehatan
- Berikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang faktor-faktor yang mempengaruhi toleransi aktivitas.
- Ajarkan strategi untuk meningkatkan toleransi aktivitas, seperti manajemen energi, aktivitas bertahap, dan penggunaan alat bantu.
- Dorong pasien dan keluarga untuk aktif terlibat dalam perawatan dan pengambilan keputusan.
Dengan intervensi keperawatan yang komprehensif dan berpusat pada pasien, diharapkan pasien dapat meningkatkan toleransi aktivitasnya, memiliki pengetahuan yang baik, dan berpartisipasi aktif dalam perawatannya, sehingga dapat mencapai luaran/output yang diharapkan.