Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 19434 | 08 Jul 2025
Klinis : mengeluh BAB dan BAK sehari sampai 10x, feses cair tanpa ampas dan berbuih, sakit perut terasa seperti diremas-remas diseluruh area abdomen, nyeri hilang timbul.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
Diagnosa keperawatan yang sesuai dengan kondisi yang Anda sampaikan adalah "Diare" (SDKI, 2017). Diare didefinisikan sebagai perubahan konsistensi dan frekuensi buang air besar yang tidak normal, yaitu cair dan lebih sering dari biasanya (≥3 kali per hari).
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Pemulihan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit
- Indikator:
a. Menunjukkan peningkatan keseimbangan cairan dan elektrolit yang ditandai dengan perbaikan tanda-tanda vital (denyut nadi, tekanan darah, dan suhu tubuh), serta warna dan turgor kulit yang membaik.
b. Mampu mempertahankan intake dan output cairan yang seimbang.
c. Menunjukkan peningkatan berat badan.
2. Manajemen Nyeri
- Indikator:
a. Melaporkan penurunan tingkat nyeri.
b. Menunjukkan ekspresi wajah yang lebih tenang.
c. Mampu melakukan aktivitas sehari-hari dengan nyaman.
3. Pemulihan Fungsi Gastrointestinal
- Indikator:
a. Frekuensi buang air besar kembali normal.
b. Konsistensi feses kembali normal.
c. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Cairan
- Tujuan: Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.
- Intervensi:
a. Pantau intake dan output cairan.
b. Berikan cairan intravena sesuai indikasi.
c. Kolaborasi pemberian obat antidiare atau elektrolit jika diperlukan.
2. Manajemen Nyeri
- Tujuan: Mengurangi nyeri.
- Intervensi:
a. Kaji karakteristik nyeri (lokasi, kualitas, durasi, frekuensi, dan intensitas).
b. Berikan analgesik sesuai indikasi.
c. Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengatasi nyeri, seperti relaksasi, distraksi, atau kompres hangat.
3. Perawatan Gastrointestinal
- Tujuan: Memulihkan fungsi gastrointestinal.
- Intervensi:
a. Kaji pola defekasi dan karakteristik feses.
b. Anjurkan diet yang mudah dicerna dan kaya elektrolit.
c. Kolaborasi pemberian obat antidiare jika diperlukan.
d. Ajarkan klien dan keluarga tentang manajemen diare di rumah.
Penjelasan Rinci dan Terperinci:
Diagnosa keperawatan "Diare" dipilih karena kondisi yang Anda sampaikan menunjukkan gejala-gejala diare, yaitu frekuensi buang air besar yang meningkat (sampai 10 kali sehari), konsistensi feses cair tanpa ampas dan berbuih, serta adanya nyeri perut yang hilang timbul. Diare dapat menyebabkan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, serta dapat menimbulkan nyeri.
Luaran yang diharapkan setelah asuhan keperawatan mencakup pemulihan keseimbangan cairan dan elektrolit, manajemen nyeri, serta pemulihan fungsi gastrointestinal. Indikator-indikator pada setiap luaran tersebut menggambarkan kondisi yang diharapkan dapat dicapai setelah intervensi keperawatan dilakukan.
Intervensi keperawatan yang diperlukan meliputi manajemen cairan, manajemen nyeri, dan perawatan gastrointestinal. Manajemen cairan bertujuan untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, yang dapat dilakukan dengan memantau intake dan output cairan, pemberian cairan intravena, serta kolaborasi pemberian obat antidiare atau elektrolit. Manajemen nyeri bertujuan untuk mengurangi nyeri, yang dapat dilakukan dengan mengkaji karakteristik nyeri, pemberian analgesik, serta pengajaran teknik nonfarmakologis. Perawatan gastrointestinal bertujuan untuk memulihkan fungsi gastrointestinal, yang dapat dilakukan dengan mengkaji pola defekasi, pemberian diet yang mudah dicerna, kolaborasi pemberian obat antidiare, serta pengajaran manajemen diare di rumah.
Dengan penerapan intervensi keperawatan yang komprehensif, diharapkan dapat mencapai luaran yang diharapkan, yaitu pemulihan keseimbangan cairan dan elektrolit, manajemen nyeri yang efektif, serta pemulihan fungsi gastrointestinal. -
Article No. 19435 | 08 Jul 2025
Klinis : mengeluh BAB dan BAK sehari sampai 10x, feses cair tanpa ampas dan berbuih, sakit perut terasa seperti diremas-remas diseluruh area abdomen, nyeri hilang timbul.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: **Diagnosa Keperawatan dan Penjelasan SDKI – SLKI – SIKI**
**Diagnosa Keperawatan:**
**Gangguan Eliminasi Feses: Diare (00011)**
**Penjelasan Singkat:**
1. **SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) – Kode 00011**
- **Definisi:** Peningkatan frekuensi defekasi dengan konsistensi feses cair atau lembek, disertai atau tanpa nyeri abdomen.
- **Faktor yang Berhubungan:**
- Infeksi saluran cerna (bakteri/virus/parasit).
- Intoleransi makanan/minuman.
- Efek samping obat (misalnya antibiotik).
- Gangguan motilitas usus.
2. **SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) – Kode 1801**
- **Luaran yang Diharapkan:**
- **Kemampuan Eliminasi Feses (1801):**
- Frekuensi BAB normal (1–3x/hari).
- Konsistensi feses lembek/padat.
- Tidak ada nyeri abdomen saat defekasi.
- Tidak ada tanda dehidrasi.
3. **SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) – Kode 4208**
- **Intervensi Keperawatan:**
- **Manajemen Diare (4208):**
- Pantau frekuensi, volume, dan karakteristik feses.
- Berikan cairan oral/IV sesuai kebutuhan untuk mencegah dehidrasi.
- Ajarkan diet BRAT (Banana, Rice, Applesauce, Toast) atau rendah serat sementara.
- Kolaborasi pemberian obat antidiare/antispasmodik jika diperlukan.
- Observasi tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, mukosa kering, produksi urine).
**Catatan Tambahan:**
- Kondisi pasien menunjukkan gejala diare akut dengan karakteristik feses cair, berbuih, dan nyeri abdomen kram.
- Perlu evaluasi penyebab (infeksi, diet, atau faktor lain) untuk intervensi lebih spesifik.
Sumber: *PPNI (2017–2019). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI).*
---
*Format RTF siap disimpan/dicetak sesuai kebutuhan dokumentasi keperawatan.* -
Article No. 19367 | 07 Jul 2025
Klinis : Seorang laki – laki berumur 50 tahun dirawat di RS dengan keluhan kedua kaki tidak bisa digerakkan. Pada pemeriksaan kekuatan otot ekstremitas bawah kedua kaki hanya bisa digeser, tak mampu mengangkat kakinya. Kulit klien tampak kotor dan berbau, terdapat luka lecet / dekubitus di area bokong Apa diagnose keperawatan yang utama pada kasus diatas dan berikan inetrvensinya ?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan utama dan penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI untuk kondisi yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan Utama:
Mobilitas Fisik Terganggu (D.0014)
Definisi SDKI:
Keterbatasan dalam melakukan pergerakan yang disengaja dan terarah secara mandiri dari satu tempat ke tempat lain.
Definisi SLKI:
1. Mobilisasi (L.0042): Membantu klien dalam bergerak dari satu posisi ke posisi lain, seperti dari berbaring ke duduk, duduk ke berdiri, dan berjalan.
2. Perawatan Kulit (L.0069): Mempertahankan integritas dan fungsi kulit.
Definisi SIKI:
1. Manajemen Mobilitas (I.0125): Mengoptimalkan kemampuan klien dalam pergerakan yang disengaja dan terarah.
2. Perawatan Luka (I.0158): Mempertahankan kondisi luka agar dapat sembuh.
Intervensi Keperawatan:
1. Lakukan pengkajian mobilitas fisik secara komprehensif, termasuk kekuatan, rentang gerak, dan koordinasi.
2. Berikan perawatan kulit yang sesuai, termasuk membersihkan dan melembabkan kulit, serta mencegah dan merawat luka.
3. Kolaborasi dengan fisioterapis untuk menyusun rencana rehabilitasi dan latihan mobilitas yang sesuai.
4. Ajarkan teknik mobilisasi yang aman dan tepat kepada klien dan keluarga.
5. Libatkan keluarga dalam proses perawatan untuk meningkatkan kepatuhan dan motivasi klien.
6. Lakukan evaluasi secara berkala untuk memantau kemajuan dan memodifikasi intervensi jika diperlukan.
Harapan saya penjelasan ini dapat membantu Anda dalam memahami diagnosa keperawatan utama dan intervensi yang sesuai untuk kondisi yang Anda deskripsikan. Jika ada pertanyaan lain, jangan ragu untuk menanyakannya. -
Article No. 19368 | 07 Jul 2025
Klinis : pasien mengeluh batuk, sesak dan nafas bersuara wheezing di sertai demam
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi pasien dengan keluhan batuk, sesak napas, wheezing, dan demam:
---
### **Diagnosa Keperawatan**
**Kode DX.0005** – **Gangguan Pertukaran Gas**
*Definisi:* Ketidakmampuan tubuh dalam mempertahankan pertukaran oksigen dan karbon dioksida secara adekuat pada tingkat alveolar-kapiler.
*Faktor yang Berhubungan:*
- Obstruksi jalan napas (wheezing, batuk produktif/non-produktif).
- Inflamasi saluran napas (demam, infeksi).
- Peningkatan produksi sekret.
---
### **Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)**
**Kode LO.0401** – **Status Pernapasan**
*Kriteria Luaran:*
- Frekuensi pernapasan dalam rentang normal (12–20x/menit dewasa).
- Suara napas wheezing berkurang/tidak ada.
- Saturasi oksigen (SpO₂) ≥95%.
- Batuk terkontrol (produktif/non-produktif).
---
### **Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)**
**Kode IN.0401** – **Manajemen Jalan Napas**
*Tindakan:*
1. **Posisi Semi-Fowler/High Fowler** untuk optimalisasi ventilasi.
2. **Pemberian Oksigen** sesuai indikasi (nasal kanul/masker).
3. **Bronkodilator** (inhalasi/nebulisasi) jika diperlukan.
4. **Fisioterapi Dada** (jika sekret berlebihan).
5. **Pemantauan tanda vital** (suhu, frekuensi napas, SpO₂).
**Kode IN.0302** – **Manajemen Demam**
*Tindakan:*
1. Kompres hangat pada aksila dan dahi.
2. Pemberian antipiretik sesuai resep (parasetamol/ibuprofen).
3. Hidrasi adekuat (cairan hangat).
---
### **Rasional Singkat**
- **Wheezing dan sesak** menunjukkan obstruksi jalan napas (misal: asma, bronkitis, atau pneumonia), sehingga intervensi fokus pada pembersihan jalan napas dan pemenuhan oksigenasi.
- **Demam** memerlukan manajemen termoregulasi untuk mengurangi beban metabolik dan risiko dehidrasi.
---
### **Catatan Akademik**
Diagnosa ini mengacu pada **PPNI (2017)** dan relevan untuk kasus gangguan pernapasan akut dengan komponen inflamasi. Penyesuaian intervensi harus mempertimbangkan etiologi spesifik (misal: infeksi vs. alergi) dan hasil pemeriksaan penunjang (rontgen thorax, tes laboratorium).
Jika diperlukan pengembangan lebih lanjut, silakan ajukan pertanyaan tambahan. -
Article No. 19369 | 07 Jul 2025
Klinis : Seorang perempuan berusia 65 tahun mengeluh tidak bisa merasakan BAK sudah 3 hari, BAK mengalir begitu saja. awalnya pasien mengatakan nyeri pada saat BAK. Klien terpasang kateter dengan volume urin bag 100ml. Klien mengeluh nyeri di area perut bawah. Klien mengatakan lemas. Dari hasil lab Leukosit 14.000 per miroliter. Apa Diagnosa keperawatan utama pada pasien dan tuliskan Intervensi nya?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, Ibu. Berdasarkan gejala yang Ibu sampaikan, diagnosa keperawatan utama yang dapat ditegakkan adalah:
1. Gangguan Eliminasi Urin (00016)
SDKI: Gangguan dalam pengeluaran urin yang dihasilkan oleh ginjal.
SLKI: Pengelolaan Eliminasi Urin
SIKI: Manajemen Urin
Definisi: Kemampuan tubuh yang terganggu dalam pengeluaran urin yang dihasilkan oleh ginjal.
Intervensi Keperawatan:
1. Pantau input dan output cairan
2. Pantau karakteristik urin (warna, jumlah, bau)
3. Berikan posisi yang nyaman untuk buang air kecil
4. Berikan perawatan kateter sesuai prosedur
5. Kolaborasi dengan dokter untuk penatalaksanaan medis, misalnya pemberian antibiotik
Tujuan Keperawatan:
1. Klien dapat melakukan eliminasi urin secara adekuat
2. Tidak terjadi komplikasi akibat gangguan eliminasi urin
Evaluasi Keperawatan:
1. Klien dapat buang air kecil secara lancar
2. Tidak terjadi infeksi saluran kemih
3. Tidak terjadi retensi urin
Semoga informasi ini bermanfaat bagi Ibu. Jika ada pertanyaan lain, silakan ditanyakan. Terima kasih. -
Article No. 19370 | 07 Jul 2025
Klinis : Seorang perempuan berusia 65 tahun mengeluh tidak bisa merasakan BAK sudah 3 hari, BAK mengalir begitu saja. awalnya pasien mengatakan nyeri pada saat BAK. Klien terpasang kateter dengan volume urin bag 100ml. Klien mengeluh nyeri di area perut bawah. Klien mengatakan lemas. Dari hasil lab Leukosit 14.000 per miroliter. Apa Diagnosa keperawatan utama pada pasien dan tuliskan Intervensi nya?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: **DIAGNOSA KEPERAWATAN UTAMA DAN INTERVENSI**
*(Berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia [SDKI], Standar Luaran Keperawatan Indonesia [SLKI], dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia [SIKI] – PPNI)*
---
### **I. Diagnosa Keperawatan Utama**
**Kode SDKI: 00116**
**Gangguan Eliminasi Urin: Retensi Urin**
**Definisi:** Ketidakmampuan mengosongkan kandung kemih secara sempurna yang mengakibatkan akumulasi urin.
**Data Pendukung:**
1. Keluhan tidak bisa merasakan BAK selama 3 hari dengan urin mengalir involunter (mengindikasikan *overflow incontinence*).
2. Riwayat nyeri saat BAK sebelumnya (sugestif infeksi/obstruksi).
3. Pemasangan kateter dengan volume urin 100 mL (output rendah).
4. Nyeri abdomen bawah dan leukositosis (14.000/µL) mengindikasikan **Infeksi Saluran Kemih (ISK)** atau komplikasi retensi.
---
### **II. Luaran yang Diharapkan (SLKI)**
**Kode SLKI: 0301**
**Eliminasi Urin Membaik**
**Kriteria Evaluasi:**
1. Volume urin dalam batas normal (1.500–2.000 mL/hari).
2. Nyeri abdomen bawah berkurang (skala nyeri ≤3).
3. Tidak ada tanda ISK (leukosit normal, tidak demam).
---
### **III. Intervensi Keperawatan (SIKI)**
#### **1. Manajemen Retensi Urin**
**Kode SIKI: 2410**
- Pantau **balance cairan** (intake-output) setiap 8 jam.
- Lakukan **pemantauan kateter**: posisi, patensi, dan kebersihan.
- Ukur **residual urine** post-voiding jika kateter dilepas.
- Kolaborasi dengan dokter untuk **pemeriksaan USG abdomen** (menilai obstruksi) dan **terapi antibiotik** (jika ISK).
#### **2. Manajemen Nyeri**
**Kode SIKI: 0810**
- Ajarkan teknik **relaksasi napas dalam** untuk mengurangi nyeri.
- Berikan analgesik sesuai resep (misal: parasetamol).
- Kompres hangat pada abdomen bawah (jika tidak kontraindikasi).
#### **3. Edukasi Pasien**
**Kode SIKI: 5604**
- Jelaskan penyebab retensi urin dan pentingnya hidrasi.
- Ajarkan tanda ISK (demam, urin keruh) yang perlu dilaporkan.
- Anjurkan latihan **Kegel** untuk memperkuat otot pelvis (jika sesuai).
---
### **IV. Rasionalisasi**
- **Leukositosis (14.000/µL)** menunjukkan respons inflamasi akibat ISK atau retensi berkepanjangan, memerlukan antibiotik.
- **Output urin 100 mL** mengindikasikan retensi dengan risiko *urinary stasis* dan kerusakan ginjal.
- Intervensi kolaboratif (antibiotik, USG) esensial untuk mengatasi penyebab organik (misal: striktur uretra, batu).
---
**Referensi:**
- PPNI. (2017). *Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), dan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)*.
- Doenges, M.E. (2019). *Nursing Diagnosis Manual: Planning, Individualizing, and Documenting Client Care*.
*(Dokumen ini disusun secara akademis berdasarkan bukti klinis dan standar PPNI.)* -
Article No. 19371 | 07 Jul 2025
Klinis : Seorang perempuan berusia 65 tahun datang bersama anaknya ke klinik penyakit saraf. Anaknya mengeluhkan bahwa ibunya sudah mengalami penurunan ingatan. Ibunya sering tidak mau makan atau mandi, karena merasa sudah melakukannya. Setiap malam ibunya sering beser dan meminta ditemani ke kamar kecil karena lupa tempatnya. Anaknya tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk merawat ibunya. Apa Diagnosa keperawatan utama pada pasien dan tuliskan Intervensi nya?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI untuk kondisi yang Anda berikan.
Diagnosa Keperawatan Utama:
Gangguan Proses Pikir (00130)
Definisi (SDKI):
Gangguan dalam kemampuan berpikir yang ditandai dengan penurunan fungsi kognitif, persepsi, atensi, dan/atau memori.
Penjelasan:
Pasien mengalami penurunan ingatan, sering tidak mau makan atau mandi karena merasa sudah melakukannya, dan sering lupa tempat ke kamar kecil. Hal ini menunjukkan adanya gangguan dalam proses pikir dan fungsi kognitif pasien.
Intervensi Keperawatan (SLKI):
1. Manajemen Demensia (31002)
Definisi: Serangkaian tindakan yang dilakukan untuk memfasilitasi fungsi kognitif, perilaku, dan psikososial pasien dengan demensia.
2. Stimulasi Kognitif (31001)
Definisi: Serangkaian tindakan yang dilakukan untuk merangsang, mempertahankan, atau meningkatkan fungsi kognitif pasien.
3. Dukungan Keluarga (50002)
Definisi: Serangkaian tindakan yang dilakukan untuk memfasilitasi dukungan dari keluarga dalam upaya memenuhi kebutuhan pasien.
Kode SIKI:
- 31002 Manajemen Demensia
- 31001 Stimulasi Kognitif
- 50002 Dukungan Keluarga
Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) adalah sistem klasifikasi diagnosa keperawatan yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) adalah sistem klasifikasi luaran keperawatan yang ditetapkan oleh PPNI.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) adalah sistem klasifikasi intervensi keperawatan yang ditetapkan oleh PPNI.
Sebagai perawat, saya akan menerapkan intervensi keperawatan yang sesuai untuk mengatasi gangguan proses pikir pada pasien, serta memberikan dukungan dan edukasi kepada keluarga dalam merawat pasien. -
Article No. 19372 | 07 Jul 2025
Klinis : harga diri rendah situasional, menunduk, bicara pelan, merasa tidak berguna
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
Diagnosa Keperawatan yang sesuai untuk kondisi yang Anda deskripsikan adalah "Harga Diri Rendah Situasional". Harga Diri Rendah Situasional didefinisikan sebagai penilaian negatif terhadap diri sendiri atau self-worth yang disebabkan oleh situasi atau kondisi tertentu. Pada kasus ini, pasien menunjukkan gejala-gejala seperti menunduk, bicara pelan, dan merasa tidak berguna, yang merupakan indikator dari Harga Diri Rendah Situasional.
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan pasien dapat mencapai Luaran/Output sebagai berikut:
a. Peningkatan Harga Diri: Pasien dapat menunjukkan penilaian positif terhadap dirinya sendiri dan memiliki rasa berharga.
b. Peningkatan Kemampuan Mengungkapkan Perasaan: Pasien dapat mengungkapkan perasaan dan emosi secara terbuka dan asertif.
c. Peningkatan Kemampuan Membuat Keputusan: Pasien dapat membuat keputusan yang sesuai dengan nilai-nilai dan keyakinannya.
d. Peningkatan Partisipasi dalam Aktivitas Sosial: Pasien dapat terlibat dan berpartisipasi dalam aktivitas sosial dengan orang lain.
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai Luaran/Output yang diharapkan, berikut adalah Intervensi Keperawatan yang diperlukan:
a. Terapi Kognitif: Membantu pasien mengidentifikasi dan mengubah pola pikir negatif menjadi lebih positif, serta meningkatkan kesadaran diri dan kemampuan pemecahan masalah.
b. Terapi Kelompok: Memfasilitasi pasien untuk berinteraksi dan berbagi pengalaman dengan orang lain yang mengalami masalah serupa, sehingga dapat saling mendukung dan belajar.
c. Bimbingan Konseling: Memberikan dukungan emosional, motivasi, dan bimbingan kepada pasien untuk meningkatkan harga diri, rasa percaya diri, dan kemampuan pengambilan keputusan.
d. Aktivitas Rekreasi: Memfasilitasi pasien untuk terlibat dalam aktivitas yang menyenangkan dan dapat meningkatkan interaksi sosial, serta membantu meningkatkan mood dan suasana hati.
e. Edukasi Kesehatan: Memberikan informasi dan edukasi kepada pasien terkait dengan harga diri, strategi untuk meningkatkannya, serta pentingnya keterlibatan dalam aktivitas sosial.
Dengan penerapan Intervensi Keperawatan yang tepat, diharapkan pasien dapat mencapai Luaran/Output yang diharapkan dan mengatasi masalah Harga Diri Rendah Situasional yang dialaminya. -
Article No. 19373 | 07 Jul 2025
Klinis : pasien tidak keluar kamar selama 3 hari, sulit tidur, mondar-mandir, sulit konsentrasi, tampak gelisah dan tegang, selalu berkata "apakah aku bisa menyelesaikan kuliahku tepat waktu ya"
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai seorang perawat profesional, saya akan memberikan rekomendasi diagnosa, luaran, dan intervensi keperawatan yang sesuai dengan kondisi pasien yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Berdasarkan gejala yang dialami pasien, yaitu tidak keluar kamar selama 3 hari, sulit tidur, mondar-mandir, sulit konsentrasi, tampak gelisah dan tegang, serta kekhawatiran akan menyelesaikan kuliahnya tepat waktu, maka diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Kecemasan.
Kecemasan didefinisikan sebagai perasaan tidak nyaman atau khawatir yang disertai dengan respons autonom, perasaan tegang yang mempengaruhi perilaku dan dapat menjadi patologis. Gejala-gejala yang ditunjukkan pasien, seperti kesulitan tidur, ketegangan, dan ketidakmampuan untuk berkonsentrasi, merupakan manifestasi dari kecemasan.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah diberikan asuhan keperawatan yang tepat, diharapkan pasien akan menunjukkan luaran/output sebagai berikut:
1. Pasien dapat mengenali dan mengungkapkan penyebab kecemasan.
2. Pasien dapat mendemonstrasikan strategi koping yang efektif untuk mengatasi kecemasan.
3. Pasien dapat menunjukkan perilaku yang tenang dan terkendali.
4. Pasien dapat meningkatkan kemampuan untuk berkonsentrasi dan menyelesaikan tugas-tugas akademik.
5. Pasien dapat mempertahankan pola tidur yang adekuat.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai luaran/output yang diharapkan, intervensi keperawatan yang dapat diberikan adalah:
1. Eksplorasi penyebab kecemasan: Melakukan pengkajian komprehensif untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan kecemasan pada pasien, seperti tuntutan akademik, kemampuan diri, dan dukungan sosial.
2. Manajemen kecemasan: Mengajarkan teknik relaksasi, seperti napas dalam, visualisasi, dan latihan otot progresif, untuk membantu pasien mengelola kecemasan.
3. Terapi kognitif: Membantu pasien mengidentifikasi dan menggantikan pemikiran-pemikiran negatif atau irasional dengan pemikiran yang lebih positif dan realistis terkait kemampuan dan pencapaian akademik.
4. Peningkatan koping: Memfasilitasi pasien untuk mengembangkan strategi koping yang efektif, seperti manajemen waktu, organisasi tugas, dan pencarian dukungan sosial.
5. Promosi tidur yang adekuat: Memberikan intervensi yang dapat membantu pasien mempertahankan pola tidur yang sehat, seperti menjaga rutinitas tidur, membatasi stimulasi elektronik sebelum tidur, dan teknik relaksasi.
6. Konseling akademik: Membantu pasien menyusun rencana akademik yang realistis dan terjangkau, serta memberikan dukungan dalam mencapai tujuan akademik.
Dengan penerapan intervensi keperawatan yang komprehensif dan berpusat pada pasien, diharapkan pasien dapat mengatasi kecemasan, meningkatkan konsentrasi, mempertahankan pola tidur yang adekuat, dan mencapai tujuan akademik secara optimal. -
Article No. 19374 | 07 Jul 2025
Klinis : pasien datang dengan keluhan nyeri di bagian pinggang
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, Baik, saya akan memberikan jawaban yang rinci dan terperinci untuk kondisi pasien dengan keluhan nyeri di bagian pinggang.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
Diagnosa Keperawatan yang sesuai untuk kondisi pasien dengan keluhan nyeri di bagian pinggang adalah "Nyeri Kronis" (kode SDKI: 13.07). Nyeri kronis didefinisikan sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang berlangsung lebih dari 3 bulan dan dapat menyebabkan gangguan pada fungsi dan aktivitas sehari-hari pasien.
Karakteristik definisi dari Nyeri Kronis SDKI meliputi:
a. Nyeri yang berlangsung lebih dari 3 bulan
b. Nyeri yang menetap atau berulang
c. Nyeri yang menyebabkan gangguan pada fungsi dan aktivitas sehari-hari pasien
Tanda dan gejala yang mungkin muncul pada pasien dengan Nyeri Kronis di bagian pinggang antara lain:
a. Keluhan nyeri yang dirasakan di daerah pinggang
b. Nyeri yang berlangsung secara terus-menerus atau berulang
c. Pembatasan aktivitas dan mobilitas akibat nyeri
d. Perubahan pola tidur
e. Perubahan suasana hati dan emosi, seperti cemas, depresi, atau marah
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah diberikan Asuhan Keperawatan yang tepat, diharapkan pasien dengan keluhan nyeri di bagian pinggang dapat mencapai luaran sebagai berikut:
a. Tingkat Nyeri Terkontrol (kode SLKI: 10002)
- Pasien dapat melaporkan penurunan tingkat nyeri yang dirasakan
- Pasien dapat mengenali dan menggunakan strategi penanganan nyeri yang efektif
- Pasien dapat melakukan aktivitas dan fungsi sehari-hari tanpa hambatan yang signifikan akibat nyeri
b. Integritas Kulit Terpelihara (kode SLKI: 10010)
- Tidak terjadi kerusakan pada kulit dan jaringan di area pinggang akibat nyeri kronis
- Tidak terdapat tanda-tanda infeksi atau komplikasi lain pada area pinggang
c. Kualitas Hidup Terpelihara (kode SLKI: 10024)
- Pasien dapat beradaptasi dengan nyeri kronis dan tetap mampu menjalankan aktivitas sehari-hari
- Pasien menunjukkan kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang baik
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai luaran yang diharapkan, berikut adalah beberapa intervensi keperawatan yang dapat diberikan:
a. Manajemen Nyeri (kode SIKI: 1605)
- Lakukan pengkajian komprehensif tentang nyeri, meliputi lokasi, karakteristik, durasi, intensitas, dan faktor yang memengaruhi
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (misalnya dokter, fisioterapis) untuk penanganan nyeri yang tepat
- Ajarkan teknik manajemen nyeri non-farmakologis, seperti distraksi, relaksasi, dan terapi panas/dingin
- Berikan analgetik sesuai dengan resep dokter untuk mengurangi nyeri
b. Perawatan Kulit (kode SIKI: 3540)
- Inspeksi kulit di area pinggang secara berkala untuk mendeteksi tanda-tanda kerusakan atau infeksi
- Berikan perawatan kulit yang sesuai, seperti menjaga kebersihan, penggunaan pelembab, dan perlindungan dari gesekan atau trauma
c. Peningkatan Koping (kode SIKI: 5230)
- Identifikasi strategi koping yang sudah digunakan pasien dan evaluasi efektivitasnya
- Ajarkan teknik-teknik koping yang efektif, seperti relaksasi, visualisasi, dan manajemen stres
- Fasilitasi dukungan sosial dari keluarga atau orang terdekat
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan mental jika diperlukan
Dengan intervensi keperawatan yang komprehensif dan berpusat pada pasien, diharapkan pasien dengan keluhan nyeri di bagian pinggang dapat mencapai luaran yang diharapkan, yaitu penurunan tingkat nyeri, pemeliharaan integritas kulit, dan peningkatan kualitas hidup.