Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 19466 | 10 Jul 2025
Klinis : nyeri akut
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci terkait kondisi nyeri akut dari perspektif seorang perawat pakar.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi nyeri akut berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) adalah "Nyeri Akut". Nyeri akut didefinisikan sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan terkait dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial atau digambarkan dalam istilah-istilah seperti itu (International Association for the Study of Pain, 2012). Nyeri akut biasanya memiliki onset yang tiba-tiba, durasi yang terbatas, dan penyebab yang dapat diidentifikasi.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Berdasarkan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), beberapa luaran yang diharapkan setelah pemberian asuhan keperawatan untuk pasien dengan nyeri akut adalah:
1. Kontrol Nyeri: Pasien melaporkan bahwa nyeri dapat dikontrol atau diminimalkan.
2. Tidak Ada Komplikasi: Pasien tidak mengalami komplikasi terkait nyeri, seperti keterbatasan mobilitas, gangguan tidur, atau penurunan fungsi.
3. Peningkatan Kemampuan Mengatasi Nyeri: Pasien menunjukkan peningkatan kemampuan dalam mengatasi nyeri, seperti menggunakan teknik manajemen nyeri yang efektif.
4. Peningkatan Kualitas Hidup: Pasien menunjukkan peningkatan kualitas hidup terkait dengan pengurangan nyeri.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
Berdasarkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), beberapa intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengelola nyeri akut dan mencapai luaran yang diharapkan adalah:
1. Manajemen Nyeri:
- Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif, termasuk lokasi, karakteristik, durasi, dan faktor-faktor yang memengaruhi nyeri.
- Memantau tanda-tanda vital dan respons pasien terhadap nyeri.
- Memberikan analgesik sesuai dengan resep dokter dan memantau efektivitasnya.
- Mengajarkan pasien teknik manajemen nyeri non-farmakologis, seperti relaksasi, distraksi, atau kompres hangat/dingin.
2. Kolaborasi:
- Berkolaborasi dengan dokter untuk menentukan penyebab nyeri dan rencana perawatan yang tepat.
- Berkoordinasi dengan tim multidisiplin, seperti fisioterapis atau ahli nutrisi, untuk memberikan perawatan yang komprehensif.
3. Edukasi dan Dukungan:
- Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang nyeri, penyebab, dan strategi pengelolaan nyeri.
- Memberikan dukungan emosional dan psikologis kepada pasien untuk mengurangi kecemasan dan meningkatkan kemampuan mengatasi nyeri.
4. Pemantauan dan Evaluasi:
- Memantau respons pasien terhadap intervensi dan efektivitas manajemen nyeri.
- Mengevaluasi pencapaian luaran yang diharapkan dan melakukan penyesuaian intervensi jika diperlukan.
Dalam mengelola nyeri akut, perawat berperan penting dalam melakukan pengkajian yang komprehensif, memberikan intervensi yang tepat, berkolaborasi dengan tim kesehatan lain, serta memberikan edukasi dan dukungan kepada pasien dan keluarga. Tujuan akhirnya adalah untuk memastikan pasien dapat mengendalikan nyeri, mencegah komplikasi, meningkatkan kemampuan mengatasi nyeri, dan pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup pasien. -
Article No. 19467 | 10 Jul 2025
Klinis : neonatal pneomonia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan untuk Neonatal Pneumonia berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) adalah sebagai berikut:
1. Diagnosa Keperawatan SDKI:
a. Kode: 00032
b. Judul: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
c. Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan bersihan jalan napas.
2. Diagnosa Keperawatan SLKI:
a. Kode: 00186
b. Judul: Gangguan Pertukaran Gas
c. Definisi: Ketidakmampuan untuk mempertahankan oksigenasi dan/atau ventilasi yang adekuat.
3. Diagnosa Keperawatan SIKI:
a. Kode: 00051
b. Judul: Risiko Infeksi
c. Definisi: Peningkatan risiko terkena penyakit atau kondisi yang disebabkan oleh organisme patogen.
Penjelasan singkat:
Neonatal pneumonia adalah kondisi infeksi pada paru-paru yang terjadi pada bayi baru lahir. Diagnosa keperawatan yang sesuai dengan kondisi ini adalah Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif, Gangguan Pertukaran Gas, dan Risiko Infeksi. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif menggambarkan ketidakmampuan bayi untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas, sehingga dapat menyebabkan gangguan pertukaran gas. Risiko Infeksi menunjukkan peningkatan risiko bayi terkena penyakit akibat organisme patogen yang menyebabkan pneumonia. -
Article No. 19468 | 10 Jul 2025
Klinis : neonatal pneumonia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI beserta kodenya dan definisinya untuk kondisi neonatal pneumonia, dengan tone akademis dan persona pakar/perawat.
Diagnosa Keperawatan:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 00031
Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka.
2. Ketidakefektifan Pola Napas
Kode SDKI: 00032
Definisi: Perubahan dalam frekuensi, kedalaman, atau usaha bernapas yang menyebabkan ketidakadekuatan ventilasi.
3. Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: 00092
Definisi: Ketidakmampuan untuk bertoleransi terhadap aktivitas fisik.
Sistem Klasifikasi Keperawatan Indonesia (SLKI):
1. Bersihan Jalan Napas
Kode SLKI: 0101
Definisi: Kemampuan untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka dan bebas dari sekret atau obstruksi.
2. Pola Napas
Kode SLKI: 0102
Definisi: Kemampuan untuk mempertahankan pola napas yang efektif.
3. Toleransi Aktivitas
Kode SLKI: 0303
Definisi: Kemampuan untuk beradaptasi terhadap aktivitas fisik.
Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI):
1. Manajemen Jalan Napas
Kode SIKI: I0101
Definisi: Tindakan untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka dan efektif.
2. Manajemen Ventilasi
Kode SIKI: I0102
Definisi: Tindakan untuk mempertahankan ventilasi yang adekuat.
3. Manajemen Energi
Kode SIKI: I0303
Definisi: Tindakan untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat energi yang dibutuhkan untuk aktivitas.
Dalam kondisi neonatal pneumonia, diagnosis keperawatan yang relevan adalah bersihan jalan napas tidak efektif, ketidakefektifan pola napas, dan intoleransi aktivitas. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah manajemen jalan napas, manajemen ventilasi, dan manajemen energi untuk membantu mengatasi permasalahan neonatal pneumonia. -
Article No. 19469 | 10 Jul 2025
Klinis : Resiko gangguan citra tubuh b.d sering membandingkan diri dimedia sosial dan kurangnya penerimaan diri
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan rincian yang komprehensif terkait kondisi yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi ini adalah "Risiko Gangguan Citra Tubuh". Kondisi ini ditandai dengan adanya perbandingan diri yang sering dilakukan di media sosial serta kurangnya penerimaan diri. Pasien dengan risiko gangguan citra tubuh ini cenderung merasa tidak puas dengan penampilan fisiknya dan memiliki persepsi negatif terhadap tubuhnya, yang dapat berdampak pada kesehatan mental dan emosional.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Peningkatan Citra Tubuh: Pasien dapat menunjukkan penerimaan dan penghargaan terhadap kondisi fisiknya, serta mampu mengidentifikasi dan memfokuskan pada aspek positif dirinya.
2. Peningkatan Harga Diri: Pasien dapat menunjukkan perasaan berharga dan percaya diri yang meningkat, serta mampu mengatasi kritik atau perbandingan negatif terhadap dirinya.
3. Pengurangan Stres: Pasien dapat menunjukkan penurunan tingkat stres dan kecemasan yang terkait dengan citra tubuh dan penampilan fisiknya.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Terapi Kognitif-Perilaku:
- Membantu pasien mengidentifikasi dan menantang pemikiran negatif serta distorsi kognitif terkait citra tubuh.
- Mengembangkan strategi untuk mengatasi perbandingan diri di media sosial dan mempromosikan penerimaan diri.
- Melatih pasien untuk mengganti pemikiran negatif dengan perspektif yang lebih positif dan realistis.
2. Konseling Supportif:
- Memberikan dukungan emosional dan validasi perasaan pasien terkait citra tubuh.
- Membantu pasien mengeksplorasi dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi citra tubuhnya.
- Mendorong pasien untuk mengembangkan strategi koping yang sehat dalam menghadapi kritik atau perbandingan negatif.
3. Edukasi Kesehatan:
- Memberikan informasi mengenai citra tubuh yang sehat dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
- Menjelaskan tentang dampak penggunaan media sosial dan perbandingan diri terhadap citra tubuh.
- Mengajarkan teknik manajemen stres dan promosi kesejahteraan psikologis.
4. Terapi Kelompok:
- Memfasilitasi diskusi dan berbagi pengalaman antara pasien dengan permasalahan citra tubuh yang serupa.
- Mendorong pasien untuk saling memberikan dukungan dan umpan balik positif.
- Membantu pasien mengembangkan strategi koping dan meningkatkan harga diri secara kolektif.
Melalui intervensi keperawatan yang komprehensif dan berfokus pada aspek kognitif, emosional, dan sosial, diharapkan pasien dapat mencapai peningkatan citra tubuh, harga diri, dan pengurangan stres yang terkait dengan kondisi tersebut. -
Article No. 19470 | 10 Jul 2025
Klinis : Resiko gangguan citra tubuh b.d sering membandingkan diri dimedia sosial dan kurangnya penerimaan diri
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Dengan mempertimbangkan kondisi yang Anda deskripsikan, berikut adalah kode ICD-10 yang sesuai:
1. Kode ICD-10:
- Kode: F45.22
- Deskripsi: Gangguan citra tubuh
Penjelasan:
Kode F45.22 dalam ICD-10 menggambarkan kondisi gangguan citra tubuh yang berhubungan dengan ketidakpuasan terhadap penampilan fisik seseorang. Hal ini dapat terkait dengan adanya kecenderungan untuk membandingkan diri dengan orang lain di media sosial dan kurangnya penerimaan diri.
Pasien dengan kondisi ini biasanya menunjukkan kekhawatiran yang berlebihan terhadap penampilan fisik mereka, yang dapat mengganggu fungsi sosial, pekerjaan, atau area penting lainnya dalam kehidupan. Pengkajian dan intervensi yang tepat sangat penting untuk membantu pasien mencapai penerimaan diri yang lebih baik.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: Tidak ada kode ICD-9-CM prosedur yang spesifik untuk kondisi ini.
- Deskripsi: Tidak ada tindakan medis yang spesifik yang tercatat dalam ICD-9-CM untuk kondisi gangguan citra tubuh. Penanganan biasanya melibatkan pendekatan psikologis, seperti terapi kognitif-perilaku, konseling, atau dukungan psikologis lainnya.
Catatan: Kode ICD-9-CM tidak lagi digunakan secara luas, dan telah digantikan oleh sistem klasifikasi ICD-10 yang lebih komprehensif. Namun, beberapa fasilitas kesehatan masih mungkin menggunakan kode ICD-9-CM untuk prosedur tertentu. -
Article No. 19471 | 10 Jul 2025
Klinis : pasien datang dengan keluhan nyeri di bagian rahang terasa bengkak, dan sariawan di bibir
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang diminta:
1. Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
Diagnosa Keperawatan yang sesuai untuk kondisi pasien dengan keluhan nyeri di bagian rahang terasa bengkak dan sariawan di bibir adalah:
a. Nyeri Akut
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam istilah-istilah tersebut.
Penyebab yang mungkin:
- Proses penyakit (sariawan)
- Trauma (bengkak di rahang)
b. Integritas Kulit Terganggu
Definisi: Kerusakan pada epidermis dan/atau dermis.
Penyebab yang mungkin:
- Perubahan integritas kulit (sariawan di bibir)
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
a. Nyeri Akut
- Pasien melaporkan penurunan nyeri sesuai tujuan.
- Pasien mendemonstrasikan teknik pengelolaan nyeri yang efektif.
- Pasien menunjukkan tanda-tanda vital dalam batas normal.
b. Integritas Kulit Terganggu
- Luka sariawan di bibir menunjukkan perbaikan.
- Pasien melaporkan tidak ada tanda-tanda infeksi pada luka.
- Pasien menunjukkan peningkatan kemampuan dalam merawat luka.
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
a. Nyeri Akut
- Lakukan pengkajian nyeri komprehensif, termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor presipitasi.
- Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik sesuai indikasi.
- Ajarkan teknik non-farmakologi untuk mengelola nyeri, seperti relaksasi, distraksi, dan kompres hangat.
- Pantau tanda-tanda vital secara berkala.
b. Integritas Kulit Terganggu
- Lakukan perawatan luka sariawan di bibir secara aseptik.
- Berikan edukasi kepada pasien tentang perawatan luka dan pencegahan infeksi.
- Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat topikal sesuai indikasi.
- Pantau perkembangan luka secara berkala.
Kesimpulan:
Berdasarkan kondisi pasien dengan keluhan nyeri di bagian rahang terasa bengkak dan sariawan di bibir, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Nyeri Akut dan Integritas Kulit Terganggu. Luaran yang diharapkan setelah asuhan keperawatan adalah penurunan nyeri, perbaikan luka sariawan, dan peningkatan kemampuan pasien dalam merawat luka. Intervensi keperawatan yang diperlukan mencakup pengkajian nyeri, pemberian analgesik, teknik non-farmakologi, perawatan luka, edukasi, dan kolaborasi dengan dokter. -
Article No. 19472 | 10 Jul 2025
Klinis : Seorang perempuan, umur 45 tahun, datang ke Poli ginekologi, dengan keluhan keputihan yang berbau sejak 3 bulan yang lalu. Pasien juga mengatakan, terjadi perdarahan saat berhubungan seksual, secret vagina banyak dan berwarna kuning. Perawat merencanakan untuk melakukan deteksi awal dengan pemeriksaan pap smear.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Infeksi (00004)
Definisi: Peningkatan risiko masuknya patogen ke dalam organisme atau penyebaran organisme patogen dari satu tempat ke tempat lain.
2. Gangguan Pola Seksual (00065)
Definisi: Ekspresi seksual yang tidak sesuai dengan harapan individu atau pasangan.
Penjelasan SDKI - SLKI - SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
1. Risiko Infeksi (00004)
Kode: 10001
Definisi: Peningkatan risiko masuknya patogen ke dalam organisme atau penyebaran organisme patogen dari satu tempat ke tempat lain.
2. Gangguan Pola Seksual (00065)
Kode: 10014
Definisi: Ekspresi seksual yang tidak sesuai dengan harapan individu atau pasangan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Risiko Infeksi (00004)
Kode: 20001
Definisi: Perkembangan dan penyebaran patogen yang dapat menyebabkan penyakit.
2. Fungsi Seksual (00059)
Kode: 20013
Definisi: Kemampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas seksual yang memuaskan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Risiko Infeksi (6486)
Definisi: Tindakan untuk mengurangi risiko infeksi yang dapat terjadi.
2. Konseling Seksual (6972)
Definisi: Pemberian informasi dan dukungan untuk membantu individu atau pasangan dalam mengatasi masalah seksual.
Dengan kondisi pasien yang mengeluhkan keputihan berbau, perdarahan saat berhubungan seksual, serta secret vagina yang banyak dan berwarna kuning, perawat dapat menetapkan diagnosa keperawatan Risiko Infeksi dan Gangguan Pola Seksual. Rencana tindakan yang dapat dilakukan adalah Manajemen Risiko Infeksi dan Konseling Seksual. -
Article No. 19473 | 10 Jul 2025
Klinis : benjolan dileher sebelah kiri terasa nyeri, dilakukan operasi pengangkatan tumor dan dikirim ke patologi anatomi dengan hasil PA limfadenopati
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis:
1. Kode ICD-10:
- Kode: C77.0
- Deskripsi: Metastasis ke limfe leher
2. Kode ICD-9-CM Procedure:
- Kode: 40.11
- Deskripsi: Eksisi atau destruksi lesi atau jaringan limfatik di leher
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 C77.0 (Metastasis ke limfe leher) sesuai dengan kondisi benjolan di leher sebelah kiri yang terasa nyeri. Hal ini menunjukkan adanya metastasis ke kelenjar getah bening di leher.
2. Kode ICD-9-CM 40.11 (Eksisi atau destruksi lesi atau jaringan limfatik di leher) sesuai dengan tindakan operasi pengangkatan tumor yang dilakukan. Prosedur ini melibatkan penghapusan atau penghancuran lesi atau jaringan limfatik di area leher.
Hasil pemeriksaan patologi anatomi menunjukkan limfadenopati, yang berarti adanya pembengkakan atau pembesaran kelenjar getah bening. Hal ini sesuai dengan diagnosis ICD-10 C77.0 (Metastasis ke limfe leher). -
Article No. 19474 | 10 Jul 2025
Klinis : pasien luka didada dari hasil rontgen terdapat serpihan besi didinding dada dilakukan operasi untuk mengambil serpihan besi dan untuk debridement luka
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan kondisi yang dipaparkan, untuk diagnosis dan tindakan medis yang dilakukan pada pasien, dapat digunakan kode-kode berikut:
1. Kode ICD-10:
- Kode: S27.8
- Deskripsi: Cedera traumatik lain pada dada, termasuk luka dinding dada.
2. Kode ICD-9-CM Procedure:
- Kode: 86.22
- Deskripsi: Debridemen luka, luka terbuka pada dada.
- Kode: 77.69
- Deskripsi: Ekstraksi benda asing dari dinding dada.
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 S27.8 (Cedera traumatik lain pada dada, termasuk luka dinding dada) digunakan karena pasien mengalami luka di dada yang terlihat dari hasil pemeriksaan rontgen, dengan adanya serpihan besi di dinding dada.
2. Kode ICD-9-CM Procedure:
- Kode 86.22 (Debridemen luka, luka terbuka pada dada) digunakan untuk tindakan pembersihan dan perawatan luka yang dilakukan pada pasien.
- Kode 77.69 (Ekstraksi benda asing dari dinding dada) digunakan untuk tindakan pengambilan serpihan besi yang terlihat di dinding dada berdasarkan hasil pemeriksaan rontgen.
Penggunaan kode-kode tersebut akan membantu dalam pencatatan dan pelaporan diagnosis serta tindakan medis yang dilakukan pada pasien dengan kondisi luka di dada akibat serpihan besi di dinding dada. -
Article No. 19475 | 10 Jul 2025
Klinis : pasien datang dengan keluhan telinga kiri nyeri sampai tidak terdengar
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan rinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran/output yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk kondisi pasien dengan keluhan telinga kiri nyeri sampai tidak terdengar.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi ini adalah:
a. Gangguan Pendengaran Sensori-Neural
- Definisi: Penurunan kemampuan mendengar yang disebabkan oleh kerusakan pada telinga dalam atau saraf pendengaran.
- Karakteristik Mayor: Pasien melaporkan gangguan pendengaran, terdengar suara yang redup atau tidak jelas, tidak dapat mendengar percakapan normal.
- Karakteristik Minor: Pasien melaporkan rasa sakit, telinga terasa penuh, pasien lebih sering meminta orang berbicara lebih keras atau mengulangi ucapannya.
2. Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI - Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
a. Peningkatan Fungsi Pendengaran
- Definisi: Pencapaian kemampuan optimal dalam mendengar dan memproses informasi yang diterima melalui telinga.
- Indikator:
1) Pasien melaporkan peningkatan fungsi pendengaran
2) Pasien dapat mendengar dengan jelas percakapan normal
3) Pasien dapat berinteraksi dengan orang lain tanpa kesulitan
4) Pasien mampu menggunakan alat bantu dengar jika diperlukan
3. Intervensi Keperawatan (SIKI - Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
a. Manajemen Nyeri
- Definisi: Serangkaian tindakan yang bertujuan untuk mengurangi atau meminimalkan rasa sakit yang dialami pasien.
- Aktivitas Keperawatan:
1) Kaji karakteristik nyeri (lokasi, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas)
2) Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk pemberian analgesik jika diperlukan
3) Ajarkan pasien teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri, seperti relaksasi, kompres hangat/dingin
4) Monitor efektivitas intervensi nyeri dan lakukan evaluasi secara berkala
b. Peningkatan Pendengaran
- Definisi: Upaya untuk meningkatkan fungsi pendengaran pasien.
- Aktivitas Keperawatan:
1) Kaji kondisi pendengaran pasien secara komprehensif
2) Berikan edukasi tentang penyebab, pencegahan, dan manajemen gangguan pendengaran
3) Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (misalnya: dokter THT) untuk pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut
4) Ajarkan pasien teknik komunikasi efektif untuk mengatasi gangguan pendengaran
5) Fasilitasi penggunaan alat bantu dengar jika diperlukan
6) Monitor perkembangan fungsi pendengaran pasien dan lakukan evaluasi secara berkala
Penjelasan di atas mencakup diagnosa keperawatan SDKI, luaran/output yang diharapkan SLKI, dan intervensi keperawatan SIKI yang diperlukan untuk menangani kondisi pasien dengan keluhan telinga kiri nyeri sampai tidak terdengar. Diharapkan penjelasan ini dapat memberikan gambaran yang jelas dan rinci untuk memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif.