Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23158 | 05 Dec 2025
Klinis : seorang anak usia 3 tahun dengan diagnosa epilepsi, edema ec malnutrisi, hipoalbumin, hidorsepalus, mTB, BP, dengan keluhan batuk masih, bengkak di seluruh tubuh, hasil abumin 2.60, evaluasi ppd tes positif, kejang tidak ada, kesadaran composmentis, BB: 10.88 kg
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Status dimana individu mengalami atau berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
Kode SLKI: B.1.1.1
Deskripsi : Status nutrisi membaik. Indikator: 1) Menyatakan peningkatan nafsu makan. 2) Asupan nutrisi oral sesuai dengan kebutuhan. 3) Berat badan meningkat sesuai potensi. 4) Nilai albumin serum dalam batas normal. 5) Tanda klinis malnutrisi (edema, kulit kering, rambut tipis) menurun. 6) Memiliki energi untuk beraktivitas. Pada pasien ini, fokus intervensi adalah mencapai peningkatan berat badan dari 10.88 kg (sangat rendah untuk usia 3 tahun), meningkatkan kadar albumin dari 2.60 g/dL (hipoalbuminemia berat), dan mengurangi edema generalisata yang merupakan tanda klinis malnutrisi energi-protein tipe kwashiorkor. Pemenuhan nutrisi harus dilakukan secara bertahap dan hati-hati mengingat kondisi sistemik yang kompleks (mTB, BP). Monitoring ketat asupan, toleransi, dan pertambahan berat badan sangat penting. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk formulasi diet tinggi kalori dan protein, serta suplementasi nutrisi yang diperlukan, adalah kunci. Pemberian albumin mungkin diperlukan sebagai terapi suportif, namun perbaikan jangka panjang bergantung pada perbaikan asupan dan penanganan penyakit dasarnya.
Kode SIKI: B.1.1.1.1
Deskripsi : 1) Kaji faktor penyebab ketidakseimbangan nutrisi: Pada pasien ini, penyebabnya multifaktorial: peningkatan kebutuhan metabolik akibat infeksi (mTB), kemungkinan malabsorpsi, anoreksia akibat penyakit, dan faktor sosial ekonomi. 2) Monitor asupan dan output nutrisi setiap hari: Catat semua yang masuk (makanan, cairan, nutrisi parenteral) dan yang keluar. Hitung asupan kalori dan protein harian. 3) Timbang berat badan setiap hari dengan timbangan yang sama dan kondisi yang sama (misal, pagi hari setelah BAK). 4) Kolaborasi pemberian nutrisi sesuai program: Kolaborasi dengan dokter dan ahli gizi untuk pemberian diet tinggi kalori-protein, susu formula khusus, atau nutrisi enteral/parenteral. Pastikan pemberian dilakukan dengan benar dan aman. 5) Lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan: Untuk meningkatkan kenyamanan dan nafsu makan. 6) Berikan makanan dalam porsi kecil dan sering: Untuk menghindari mual dan meningkatkan toleransi. 7) Atur posisi duduk atau semi-Fowler saat makan dan sesudahnya: Mencegah aspirasi terutama karena ada keluhan batuk dan kesadaran yang mungkin fluktuatif. 8) Monitor tanda-tanda komplikasi pemberian nutrisi: Seperti diare, mual, kembung, atau intoleransi. 9) Observasi tanda klinis perbaikan nutrisi: Pengurangan edema, peningkatan aktivitas, dan perbaikan kondisi kulit dan rambut. 10) Edukasi keluarga tentang pentingnya nutrisi dan cara pemberian makan di rumah.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: B.3.3
Deskripsi Singkat: Peningkatan risiko invasi oleh patogen, terkait dengan pertahanan tubuh yang tidak adekuat.
Kode SLKI: B.3.3.1
Deskripsi : Tidak terjadi infeksi. Indikator: 1) Tanda-tanda vital dalam batas normal. 2) Tidak ada tanda-tanda infeksi lokal (kemerahan, bengkak, nyeri, panas, pus) atau sistemik (demam, leukositosis). 3) Hasil laboratorium penunjang dalam batas normal. Pada pasien anak ini, risiko infeksi sangat tinggi karena beberapa faktor: status gizi buruk yang melemahkan sistem imun secara keseluruhan, adanya penyakit infeksi aktif (Tuberculosis milier/mTB dan kemungkinan Bronchopneumonia/BP), adanya batuk yang persisten sebagai pintu masuk dan gejala infeksi, serta kondisi hidrosefalus dan epilepsi yang mungkin memerlukan penanganan invasif. Pertahanan tubuh sangat lemah akibat hipoalbuminemia dan malnutrisi. Tujuan utama adalah mencegah infeksi nosokomial tambahan dan mengendalikan infeksi yang sudah ada. Lingkungan harus steril, isolasi mungkin diperlukan untuk mTB, dan teknik aseptik mutlak dalam semua prosedur. Pemantauan ketat tanda-tanda vital dan gejala baru infeksi sangat krusial. Keberhasilan pengendalian infeksi juga sangat bergantung pada perbaikan status nutrisi.
Kode SIKI: B.3.3.1.1
Deskripsi : 1) Monitor tanda-tanda infeksi: Suhu, denyut nadi, pernapasan setiap 4-8 jam. Amati sputum (warna, jumlah), adanya lesi kulit, atau drainase luka. 2) Lakukan cuci tangan dengan benar sebelum dan sesudah kontak dengan pasien: Hand hygiene adalah intervensi paling efektif. 3) Pertahankan teknik aseptik pada setiap tindakan: Saat memasang infus, mengganti balutan, melakukan suction, dll. 4) Lakukan perawatan luka dengan teknik steril jika ada: Misalnya area sekitar VP shunt jika ada. 5) Ajarkan keluarga dan pengunjung untuk cuci tangan: Lindungi pasien dari sumber infeksi eksternal. 6) Kolaborasi pemberian antibiotik dan terapi antituberkulosis (OAT) sesuai program: Pastikan obat diberikan tepat waktu, dosis, dan cara. Observasi efek samping obat. 7) Tingkatkan daya tahan tubuh dengan pemenuhan nutrisi: Seperti yang dijelaskan pada diagnosa pertama. 8) Anjurkan imunisasi sesuai jadwal dan kondisi: Evaluasi status imunisasi dasar. 9) Lakukan fisioterapi dada dan latihan napas dalam jika memungkinkan: Untuk mencegah penumpukan sekret dan pneumonia. 10) Batasi pengunjung yang sakit: Mencegah penularan.
Kondisi: Risiko Cedera
Kode SDKI: B.4.1
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya kerusakan fisik akibat faktor lingkungan dan kondisi klien.
Kode SLKI: B.4.1.1
Deskripsi : Tidak terjadi cedera. Indikator: 1) Lingkungan aman. 2) Tidak ada luka/cedera fisik. 3) Menggunakan alat pelindung diri sesuai kebutuhan. Meskipun saat ini kejang tidak ada dan kesadaran compos mentis, risiko cedera pada pasien ini tetap signifikan. Faktor risikonya adalah: riwayat diagnosa epilepsi yang berarti potensi kejang dapat kambuh kapan saja, kondisi hidrosefalus yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial dan gangguan keseimbangan atau kesadaran, kelemahan fisik umum akibat malnutrisi dan penyakit sistemik, serta adanya edema yang mungkin menyulitkan mobilisasi. Cedera yang dapat terjadi mulai dari trauma fisik saat kejang (jatuh dari tempat tidur, gigitan lidah), aspirasi sekret atau muntah terutama saat batuk atau kejang, hingga cedera akibat imobilisasi (dekubitus). Lingkungan perawatan harus dimodifikasi untuk meminimalkan risiko ini. Pengawasan ketat (jangan tinggal sendirian) dan edukasi keluarga tentang pertolongan pertama kejang serta pencegahan cedera sangat penting.
Kode SIKI: B.4.1.1.1
Deskripsi : 1) Identifikasi faktor risiko cedera: Seperti riwayat kejang, gangguan kesadaran, kelemahan, dan lingkungan. 2) Pertahankan lingkungan yang aman: Pasang side rail tempat tidur selalu terpasang, singkirkan benda tajam atau keras di sekitar tempat tidur, pastikan lantai tidak licin, pencahayaan cukup. 3) Awasi pasien secara ketat, jangan ditinggal sendirian: Terutama saat di kamar mandi atau saat mobilisasi. 4) Berikan posisi yang aman dan nyaman: Gunakan bantal penghalang jika diperlukan. Atur posisi untuk mencegah aspirasi. 5) Kolaborasi pemberian terapi antikonvulsan: Pastikan obat kejang diberikan tepat waktu untuk mempertahankan kadar terapeutik dan mencegah bangkitan kejang. 6) Ajarkan keluarga tentang tindakan saat kejang: Jangan memasukkan apa pun ke mulut, longgarkan pakaian, miringkan posisi tubuh (recovery position), amati durasi dan karakteristik kejang, segera cari bantuan. 7) Lakukan mobilisasi bertahap dengan pendampingan: Untuk mencegah jatuh akibat kelemahan. 8) Monitor tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial (pada hidrosefalus): Sakit kepala, muntah proyektil, penurunan kesadaran, kejang. 9) Lakukan perawatan kulit untuk mencegah dekubitus: Ubah posisi setiap 2 jam, gunakan alas anti dekubitus, jaga kulit tetap kering dan bersih terutama di area edema. 10) Pastikan jalan napas tetap patent: Siapkan alat suction di dekat tempat tidur, latih batuk efektif jika mampu.
-
Article No. 23159 | 05 Dec 2025
Klinis : Perempuan, 52 tahun, datang kontrol ke Puskesmas, dengan pengobatan OAT minggu ke tiga, pasien memiliki riwayat PPOK satu tahun yang lalu.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Tuberkulosis Paru dalam Pengobatan OAT dan Riwayat PPOK
Kode ICD-10: Z09.7 (Pemeriksaan tindak lanjut setelah pengobatan untuk kondisi lain) dan J44.9 (Penyakit paru obstruktif kronik, tidak spesifik)
Deskripsi Singkat : Pasien perempuan usia 52 tahun ini datang untuk kontrol rutin dalam rangka pemantauan pengobatan Tuberkulosis (TB) Paru yang sedang berjalan (OAT minggu ke-3). Oleh karena itu, kode utama yang digunakan adalah Z09.7, yang mengindikasikan kunjungan untuk pemeriksaan tindak lanjut (follow-up) setelah pengobatan untuk penyakit tertentu, dalam hal ini TB. Kode ini digunakan karena pengobatan TB masih berlangsung dan pasien datang untuk pemantauan efek terapi dan kepatuhan. Selain itu, pasien memiliki riwayat Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) yang didiagnosis satu tahun lalu. PPOK adalah penyakit peradangan paru kronis yang menyebabkan hambatan aliran udara dari paru-paru, biasanya disebabkan oleh paparan partikel atau gas berbahaya jangka panjang, seperti asap rokok. Kondisi ini bersifat menetap dan memerlukan penanganan berkelanjutan untuk mengendalikan gejala. Kode J44.9 digunakan untuk mendokumentasikan riwayat PPOK ini sebagai kondisi yang relevan dengan status kesehatan pasien saat ini. Kombinasi kode ini memberikan gambaran klinis yang lengkap: pasien sedang dalam pemantauan pengobatan untuk infeksi aktif (TB) sementara juga memiliki penyakit paru kronis yang mendasari (PPOK) yang dapat mempengaruhi perjalanan penyakit dan penatalaksanaannya.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23160 | 05 Dec 2025
Klinis : : - Sesak (+) - Seluruh badan nyeri - Nyeri dada kiri tembus hingga punggung - Nyeri perut (+) - Tangan kiri bengkak, nyeri - Sulit makan O : KU lemah TD: 125/90 N: 115 RR:21 S: 36.8 SpO2:99 Mata : CA -/-, SI -/- Mulut :lidah kotor (-), mukosa bibir kering (-), pucat (-) Thorax : simetris, retraksi -/- Paru : SDV +/+, rhonki -/-, wheezing -/- Jantung : BJ I-II regular, murmur - Abdomen : supel, BU (+) dbn, timpani (+), NT (+) Eks. superior : akral hangat +/+, oedem +/+ Eks. inferior : akral hangat +/+, oedem -/- GDS 1/12/25 69 mg/dL GDS 2/12/25 85 mg/dL GDS 3/12/25 92 mg/dL GDS 4/12/25 116 mg/dL GDS 5/12/25 97 mg/dL Lab 1/12/25 - Hb: 10.77 - AE: 3.70 - Hmt: 32.0 - AL: 164.50 - AT: 218 - Total neutrofil: 158.30 Ro. thorax 28/11/25 Kesan : - Suspect massa pulmo sinistra, DD: pancoast tumor - Besar cor normal ( saran: CT Scan thorax dengan kontras ) Ro. Lumbosaral 28/11/25 Kesan : - Pedicle corpus VL. 4-5 menghilang, curiga suatu bone metastase - Tak tampak fraktur , kompresi maupun listhesis
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dengan durasi yang dapat diperkirakan dan berakhir.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Tujuan: Nyeri klien terkontrol. Kriteria hasil: 1) Klien melaporkan nyeri berkurang atau hilang. 2) Skala nyeri menurun. 3) Ekspresi wajah rileks. 4) Tanda-tanda vital dalam rentang normal. 5) Klien dapat beristirahat, tidur, dan beraktivitas dengan nyaman. 6) Klien menunjukkan perilaku untuk mengatasi nyeri. Penjelasan: Pada pasien ini, nyeri merupakan keluhan utama yang multidimensi, meliputi seluruh badan, dada kiri yang menjalar ke punggung, perut, dan tangan kiri yang bengkak. Nyeri ini diduga kuat berkaitan dengan kondisi patologis yang mendasarinya, yaitu suspect massa pulmo sinistra (Pancoast tumor) dan curiga bone metastase di vertebra lumbal. Nyeri pada kanker, terutama yang sudah metastasis, bersifat kompleks (nosiseptif dan neuropatik) dan memerlukan manajemen komprehensif. SLKI ini menjadi fokus utama untuk meningkatkan kenyamanan dan kualitas hidup pasien, mengingat nyeri yang dirasakan sangat mengganggu, bahkan menyebabkan sulit makan dan kelemahan kondisi umum.
Kode SIKI: I.08059
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Tindakan: 1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (P, Q, R, S, T: Provokasi, Kualitas, Region, Skala, Waktu). 2) Kolaborasi pemberian analgesik sesuai program (misalnya, mengikuti prinsip tangga nyeri WHO). 3) Ajarkan teknik non-farmakologi (napas dalam, distraksi, relaksasi, posisi nyaman). 4) Lakukan reposisi dan bantu pasien menemukan posisi yang mengurangi nyeri. 5) Lakukan kompres hangat atau dingin pada area yang sesuai (misalnya, pada tangan yang bengkak dengan pertimbangan dokter). 6) Monitor dan catat efektivitas intervensi nyeri (skala nyeri, tanda vital, efek samping obat). 7) Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman. Penjelasan: Intervensi ini harus dilakukan secara terintegrasi. Pengkajian mendetail penting untuk membedakan karakteristik nyeri dari berbagai sumber (dada, tulang, perut). Pemberian analgesik memerlukan kolaborasi ketat, mungkin memerlukan opioid untuk nyeri kanker berat. Teknik non-farmakologi seperti napas dalam dapat membantu khususnya saat sesak dan nyeri dada. Reposisi penting untuk mengurangi tekanan pada area metastase tulang belakang. Kompres dapat mengurangi pembengkakan dan nyeri di tangan. Monitoring ketat diperlukan karena nyeri yang tidak terkontrol dapat memperburuk status fisiologis dan psikologis pasien, menghambat pemulihan, dan memperparah kondisi seperti sulit makan.
Kondisi: Pola Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk bernapas secara adekuat untuk mempertahankan suplai oksigen ke sel-sel tubuh, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor termasuk obstruksi jalan napas, gangguan neuromuskular, atau nyeri.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Status Pernapasan. Tujuan: Pola napas klien efektif. Kriteria hasil: 1) Frekuensi napas dalam rentang normal. 2) Irama napas reguler. 3) Klien tidak mengeluh sesak. 4) Penggunaan otot bantu napas tidak ada. 5) Bunyi napas bersih. 6) Saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang normal. Penjelasan: Meskipun saat pengukuran RR 21x/menit dan SpO2 99% dalam batas normal, pasien memiliki keluhan sesak (+) dan hasil radiologi yang menunjukkan suspect massa di paru kiri (Pancoast tumor). Tumor di apex paru ini dapat menginvasi pleura, saraf, dan struktur dinding dada, menyebabkan nyeri yang hebat dan membatasi ekspansi paru, sehingga memicu sensasi sesak. Selain itu, nyeri dada dan punggung yang dirasakan pasien dapat membatasi pergerakan dinding thoraks, menyebabkan pola napas yang dangkal dan tidak efektif untuk memaksimalkan pertukaran gas. SLKI ini bertujuan untuk memastikan fungsi pernapasan tetap adekuat meskipun ada gangguan struktural.
Kode SIKI: I.04012
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Tindakan: 1) Monitor frekuensi, irama, kedalaman napas, dan penggunaan otot bantu. 2) Auskultasi bunyi napas tiap shift. 3) Bantu pasien dalam posisi semi-Fowler atau posisi yang memudahkan napas. 4) Ajarkan teknik napas dalam dan batuk efektif (dengan modifikasi jika nyeri). 5) Monitor nilai saturasi oksigen (SpO2) secara berkala. 6) Kolaborasi pemberian oksigen jika diperlukan. 7) Lakukan latihan nafas dan batuk dengan mempertimbangkan tingkat nyeri pasien. Penjelasan: Posisi semi-Fowler dapat membantu ekspansi paru maksimal. Teknik napas dalam perlu diajarkan namun dengan hati-hati karena nyeri dada yang mungkin membatasi. Auskultasi bunyi napas penting untuk mendeteksi adanya penurunan udara (SDV +/+ mungkin berkaitan dengan massa) atau munculnya bunyi patologis baru. Meski SpO2 normal, monitoring tetap penting karena kondisi dapat memburuk dengan cepat. Intervensi ini harus dilakukan dengan sensitif terhadap nyeri pasien untuk tidak memperberat keluhan.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0014
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk menuntaskan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan, yang dimanifestasikan dengan kelemahan, kelelahan, atau respons fisiologis yang tidak normal terhadap aktivitas.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Toleransi Aktivitas. Tujuan: Klien menunjukkan peningkatan toleransi aktivitas. Kriteria hasil: 1) Klien dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan. 2) Tanda vital stabil selama dan setelah aktivitas. 3) Klien melaporkan penurunan kelemahan dan kelelahan. 4) Klien berpartisipasi dalam aktivitas perawatan diri secara bertahap. Penjelasan: Pasien datang dengan kondisi umum lemah, nyeri di seluruh badan, sesak, dan sulit makan. Kombinasi faktor-faktor ini, ditambah dengan kondisi penyakit yang mendasarinya (kanker dengan kemungkinan metastasis), sangat menguras energi pasien. Proses penyakit neoplastik sendiri sering menyebabkan kelelahan kronis (cancer-related fatigue). Intoleransi aktivitas ini bersifat multifaktorial: akibat nyeri, akibat gangguan nutrisi (sulit makan), dan akibat beban psikologis dari penyakit. Tujuan SLKI adalah mempertahankan fungsi seoptimal mungkin dan mencegah kelemahan lebih lanjut akibat imobilisasi.
Kode SIKI: I.09005
Deskripsi : Manajemen Energi. Tindakan: 1) Kaji respons fisiologis terhadap aktivitas (nadi, tekanan darah, respirasi, SpO2). 2) Bantu pasien dalam aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan. 3) Rencanakan periode istirahat yang cukup sebelum dan setelah aktivitas. 4) Ajarkan teknik penghematan energi (misalnya, duduk saat mandi, istirahat sejenak saat makan). 5) Atur lingkungan untuk meminimalkan upaya fisik pasien. 6) Tingkatkan aktivitas secara bertahap sesuai toleransi. 7) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memastikan asupan energi yang cukup. Penjelasan: Prinsip utama adalah keseimbangan antara aktivitas dan istirahat. Pasien perlu didorong untuk melakukan aktivitas ringan dalam batas nyeri dan kelelahannya untuk mencegah komplikasi imobilisasi, namun tidak boleh dipaksakan. Bantuan dalam aktivitas perawatan diri sangat diperlukan. Koordinasi dengan manajemen nyeri dan nutrisi adalah kunci, karena jika nyeri terkontrol dan asupan makan membaik, energi pasien secara alami akan meningkat.
Kondisi: Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: D.0027
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh, yang dapat disebabkan oleh faktor intake yang tidak adekuat, peningkatan kebutuhan, atau gangguan penyerapan.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Status Nutrisi. Tujuan: Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi. Kriteria hasil: 1) Asupan makanan dan cairan adekuat. 2) Berat badan stabil atau meningkat sesuai target. 3) Nilai laboratorium terkait nutrisi (seperti albumin, hemoglobin) dalam batas normal atau membaik. 4) Klien melaporkan peningkatan nafsu makan. Penjelasan: Pasien mengeluh sulit makanArticle No. 23161 | 05 Dec 2025
Klinis : Seorang laki-laki bernama Tn. R, berusia 62 tahun, datang ke instalasi gawat darurat dengan keluhan nyeri dada yang muncul tiba-tiba saat ia sedang berjalan menuju warung. Nyeri digambarkan seperti ditekan benda berat, menjalar ke rahang dan lengan kiri, disertai keringat dingin serta rasa cemas. Nyeri berlangsung sekitar 15 menit dan tidak sepenuhnya hilang meski ia berhenti beraktivitas. Pasien memiliki riwayat hipertensi selama 10 tahun dan diabetes mellitus sejak 7 tahun lalu, namun pengobatan tidak teratur. Ia juga memiliki kebiasaan merokok sejak muda, sekitar 15 batang per hari, dan jarang berolahraga. Dari riwayat keluarga, kakaknya pernah meninggal mendadak akibat serangan jantung. Saat pemeriksaan, pasien tampak gelisah, wajah pucat, dan terus memegang dada. Tekanan darah tercatat 170/100 mmHg, nadi 110 kali per menit, pernapasan 26 kali per menit, dan suhu 36,7°C. Hasil EKG menunjukkan adanya tanda infark miokard akut. Pemeriksaan laboratorium memperlihatkan kadar troponin meningkat, kolesterol total 280 mg/dL, LDL 190 mg/dL, dan gula darah sewaktu 240 mg/dL. Berat badan pasien 90 kg dengan tinggi 168 cm, sehingga indeks massa tubuhnya termasuk obesitas.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut dan Risiko Penurunan Curah Jantung terkait Infark Miokard Akut
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut. Pada Tn. R, nyeri dada akut dengan karakteristik seperti ditekan benda berat, menjalar, dan disertai tanda otonom (keringat dingin, takikardia) merupakan manifestasi utama dari iskemia dan nekrosis otot jantung akibat infark miokard akut. Nyeri ini bersifat akut, berat, dan mengancam integritas fisiologis, sehingga memerlukan intervensi segera untuk mengurangi kerusakan miokard lebih lanjut dan meringankan penderitaan pasien.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI ini bertujuan untuk mengelola nyeri akut pada Tn. R hingga tingkat yang dapat ditoleransi, yang ditandai dengan skala nyeri menurun, pasien tampak rileks, dan tanda-tanda vital menunjukkan stabilisasi. Intervensi keperawatan yang direncanakan meliputi: 1) Melakukan pengkajian nyeri komprehensif (lokasi, intensitas, skala, karakteristik, faktor pencetus dan pereda) secara berkala. 2) Memberikan terapi farmakologis (seperti nitrogliserin, morfin) sesuai instruksi dokter dengan memantau efek dan efek samping. 3) Mengajarkan dan membantu teknik non-farmakologis seperti relaksasi napas dalam dan menciptakan lingkungan yang tenang untuk mengurangi ansietas yang memperberat nyeri. 4) Memastikan istirahat fisik dan emosional untuk mengurangi beban kerja jantung. 5) Memantau respons terhadap terapi dan melaporkan setiap perubahan. Kriteria hasil yang diharapkan adalah pasien melaporkan penurunan intensitas nyeri (misal, dari skala 8 ke 3), ekspresi wajah tidak lagi menyeringai, tidak lagi memegang dada, tanda vital (nadi, tekanan darah) mulai normal, dan pasien dapat beristirahat dengan lebih nyaman.
Kode SIKI: I.08001, I.08002, I.08003, I.09001
Deskripsi : Intervensi keperawatan spesifik yang dilakukan untuk mencapai SLKI L.08001 meliputi: I.08001 (Manajemen Nyeri): Meliputi tindakan seperti mengkaji nyeri setiap 15-30 menit selama fase akut, memberikan analgesik sesuai order dengan tepat waktu, mengevaluasi efektivitas analgesik dalam 15-30 menit pemberian, dan mendokumentasikan respons. I.08002 (Manajemen Kecemasan): Mengingat Tn. R tampak cemas dan gelisah, intervensi ini penting karena kecemasan dapat meningkatkan kebutuhan oksigen jantung. Tindakannya meliputi pendekatan yang tenang dan meyakinkan, memberikan informasi yang jujur dan jelas tentang prosedur, mendengarkan keluhannya dengan empati, dan melibatkan keluarga untuk dukungan emosional. I.08003 (Terapi Distraksi): Mengalihkan perhatian pasien dari nyeri, misalnya dengan mengajak bicara tentang topik yang menenangkan atau mengatur pernapasan. I.09001 (Manajemen Perfusi Jaringan): Sangat krusial karena nyeri berasal dari iskemia miokard. Intervensi ini mencakup pemantauan ketat tanda vital, oksigenasi (pemberian O2), memastikan akses intravena paten untuk pemberian obat emergensi, serta memantau hasil EKG dan enzim jantung secara berkelanjutan untuk mendeteksi perluasan infark. Semua intervensi ini dilakukan secara integratif, dimana pengurangan nyeri akan membantu menurunkan beban kerja jantung dan meningkatkan perfusi, sementara pengelolaan kecemasan akan mendukung efektivitas manajemen nyeri.
Kondisi: Risiko Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0020
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan curah jantung adalah keadaan dimana seorang individu berisiko mengalami ketidakadekuatan darah yang dipompa oleh jantung untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Pada Tn. R, risiko ini sangat tinggi dan nyata akibat nekrosis otot jantung dari infark miokard akut. Fungsi pompa ventrikel kiri terganggu, yang dapat bermanifestasi sebagai penurunan curah jantung. Faktor risiko yang memperberat adalah hipertensi yang tidak terkontrol (TD 170/100 mmHg), takikardia (nadi 110x/menit), dan riwayat panjang merokok serta diabetes yang memperberat penyakit arteri koroner. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi syok kardiogenik.
Kode SLKI: L.09002
Deskripsi : SLKI ini bertujuan untuk mempertahankan curah jantung yang adekuat pada Tn. R, yang ditandai dengan tanda vital dalam rentang yang dapat diterima (tekanan darah mendekati normal, nadi <100x/menit), tidak ada tanda gagal jantung (seperti sesak napas, ortopnea, crackles paru), haluaran urin adekuat (>30 mL/jam), dan status mental baik. Perawat akan berperan dalam memantau dan mendeteksi dini tanda penurunan curah jantung serta melaksanakan intervensi untuk meminimalkan beban kerja jantung dan mengoptimalkan preload, afterload, serta kontraktilitas.
Kode SIKI: I.09001, I.09003, I.09004, I.10001
Deskripsi : Intervensi keperawatan spesifik untuk mencegah penurunan curah jantung meliputi: I.09001 (Manajemen Perfusi Jaringan): Fokus pada pemantauan hemodinamik ketat termasuk tekanan darah, nadi, tekanan nadi, pengisian kapiler, dan warna kulit. Memantau balance cairan (intake-output) ketat untuk mencegah overload yang memberatkan jantung. I.09003 (Manajemen Curah Jantung): Tindakan spesifik seperti memposisikan pasien semi-Fowler untuk memudahkan pernapasan dan mengurangi beban jantung, memberikan terapi oksigen sesuai order, memberikan obat-obatan inotropik, vasodilator, atau diuretik sesuai order dengan pengawasan ketat respons dan efek samping, serta membatasi aktivitas fisik dengan tirah baring. I.09004 (Resusitasi Jantung): Meskipun bertujuan preventif, perawat harus mempersiapkan alat dan kesiapan tim untuk tindakan resusitasi jika terjadi henti jantung. I.10001 (Manajemen Energi): Mengatur aktivitas pasien dengan teknik penghematan energi, membantu dalam aktivitas perawatan diri jika diperlukan, dan menjadwalkan periode istirahat yang cukup di antara intervensi terapeutik untuk mencegah kelelahan yang memberatkan jantung. Intervensi-intervensi ini saling terkait; manajemen nyeri dan kecemasan yang baik (dari diagnosa pertama) juga berkontribusi besar dalam menurunkan kebutuhan oksigen miokard dan mencegah penurunan curah jantung lebih lanjut.
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: D.0059
Deskripsi Singkat: Risiko ketidakstabilan kadar glukosa darah adalah keadaan dimana seorang individu berisiko mengalami variasi kadar glukosa darah dari rentang normal. Tn. R memiliki risiko sangat tinggi karena riwayat Diabetes Mellitus (DM) yang pengobatannya tidak teratur dan stres fisiologis berat akibat infark miokard akut. Stres ini memicu pelepasan hormon kontra-regulator (seperti kortisol dan katekolamin) yang menyebabkan hiperglikemia, seperti terlihat dari GDS 240 mg/dL. Hiperglikemia akut pada infark miard dapat memperluas area nekrosis, meningkatkan risiko aritmia, dan memperburuk outcome. Oleh karena itu, pengendalian glikemik yang ketat merupakan bagian integral dari penanganan.
Kode SLKI: L.06005
Deskripsi : SLKI ini bertujuan untuk mencapai dan mempertahankan kadar glukosa darah Tn. R dalam rentang target yang ditetapkan selama perawatan akut. Kriteria hasilnya meliputi kadar glukosa darah dalam batas yang diterima (misalnya, 140-180 mg/dL), tidak ada episode hipoglikemia, dan tanda-tanda ketoasidosis diabetik tidak muncul. Perawat akan berperan dalam pemantauan glikemik yang sering dan pemberian terapi insulin sesuai protokol.
Kode SIKI: I.06001, I.06002, I.06003
Deskripsi : Intervensi keperawatan spesifik meliputi: I.06001 (Manajemen Hiperglikemia): Melakukan pemantauan kadar glukosa darah berkala (setiap 1-4 jam sesuai kondisi) dengan metode akurat. Memberikan insulin intravena sesuai protokol sliding scale atau infus kontinu yang diorder dokter dengan ketepatan dosis dan waktu. Memantau tanda-tanda hipoglikemia sebagai efek samping terapi. I.06002 (Pengawasan Hipoglikemia): Waspada terhadap gejala seperti diaphoresis, lemas, palpitasi, atau penurunan kesadaran, dan siap dengan protokol pemberian glukosa 40% atau cairan dekstrosa jika terjadi. I.06003 (Edukasi Manajemen Diabetes): Meskipun dalam fase akut, edukasi sederhana tentang pentingnya pengendalian gula darah dalam konteks penyakit jantung dapat diberikan. Kolaborasi dengan tim dokter dan ahli gizi untuk penatalaksanaan diet sesuai kondisi akut dan penyakit penyerta juga merupakan bagian dari intervensi ini. Pengendalian glikemik yang
Article No. 23162 | 05 Dec 2025
Klinis : Seorang laki-laki bernama Tn. R, berusia 62 tahun, datang ke instalasi gawat darurat dengan keluhan nyeri dada yang muncul tiba-tiba saat ia sedang berjalan menuju warung. Nyeri digambarkan seperti ditekan benda berat, menjalar ke rahang dan lengan kiri, disertai keringat dingin serta rasa cemas. Nyeri berlangsung sekitar 15 menit dan tidak sepenuhnya hilang meski ia berhenti beraktivitas. Pasien memiliki riwayat hipertensi selama 10 tahun dan diabetes mellitus sejak 7 tahun lalu, namun pengobatan tidak teratur. Ia juga memiliki kebiasaan merokok sejak muda, sekitar 15 batang per hari, dan jarang berolahraga. Dari riwayat keluarga, kakaknya pernah meninggal mendadak akibat serangan jantung. Saat pemeriksaan, pasien tampak gelisah, wajah pucat, dan terus memegang dada. Tekanan darah tercatat 170/100 mmHg, nadi 110 kali per menit, pernapasan 26 kali per menit, dan suhu 36,7°C. Hasil EKG menunjukkan adanya tanda infark miokard akut. Pemeriksaan laboratorium memperlihatkan kadar troponin meningkat, kolesterol total 280 mg/dL, LDL 190 mg/dL, dan gula darah sewaktu 240 mg/dL. Berat badan pasien 90 kg dengan tinggi 168 cm, sehingga indeks massa tubuhnya termasuk obesitas.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut dan Risiko Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut. Pada kasus Tn. R, nyeri akut terkait dengan iskemia miokard akibat oklusi arteri koroner, dimanifestasikan oleh nyeri dada tiba-tiba seperti ditekan benda berat, menjalar ke rahang dan lengan kiri, disertai keringat dingin dan ekspresi wajah yang meringis/gelisah.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI ini bertujuan untuk mengontrol nyeri yang dialami pasien. Intervensi keperawatan difokuskan pada pengurangan atau penghilangan nyeri. Pada Tn. R, kriteria hasil yang diharapkan meliputi: (1) Pasien melaporkan penurunan intensitas nyeri (skala 0-10) menjadi ≤3 dalam waktu 30 menit setelah intervensi farmakologis dan non-farmakologis; (2) Pasien menunjukkan tanda-tanda nyeri berkurang, seperti ekspresi wajah rileks, dapat beristirahat, dan tanda vital (terutama nadi dan tekanan darah) mendekati rentang normal pasien; (3) Pasien mampu mendemonstrasikan teknik relaksasi pernapasan dalam untuk mengatasi sensasi nyeri; dan (4) Pasien mengungkapkan pemahaman tentang hubungan antara aktivitas dan nyeri serta pentingnya melaporkan nyeri dengan segera. Pencapaian SLKI ini sangat krusial karena nyeri yang tidak terkontrol meningkatkan beban kerja jantung dan risiko komplikasi lebih lanjut.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : SIKI ini mencakup serangkaian tindakan untuk mengelola nyeri akut. Implementasinya pada Tn. R meliputi: (1) Lakukan pengkajian nyeri komprehensif secara berkala (PQRST: Provokasi, Kualitas, Radiasi, Skala, Waktu) setiap 15-30 menit di fase akut; (2) Kolaborasi pemberian analgesik (misalnya, morfin sulfat) sesuai protokol nyeri dada akut untuk mengurangi nyeri, ansietas, dan beban kerja jantung; (3) Berikan terapi oksigen sesuai order untuk memenuhi kebutuhan oksigen miokard dan mengurangi iskemia; (4) Anjurkan dan bantu pasien dalam posisi semi-Fowler untuk memfasilitasi pernapasan dan mengurangi ketegangan pada dada; (5) Ajarkan dan dampingi teknik relaksasi napas dalam dan distraksi; (6) Pertahankan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk mengurangi ansietas yang dapat memperberat persepsi nyeri; (7) Monitor efek samping terapi analgesik, terutama depresi pernapasan; dan (8) Berikan edukasi kepada pasien untuk segera melaporkan jika nyeri muncul kembali atau berubah karakter. Tindakan ini harus dilakukan secara cepat, sistematis, dan terintegrasi dengan terapi medis untuk revaskularisasi.
Kondisi: Risiko Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0020
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan curah jantung adalah keadaan rentan terhadap ketidakadekuatan darah yang dipompa oleh jantung untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh, yang dapat mengancam jiwa. Pada Tn. R, risiko ini terkait dengan kerusakan otot jantung (infark miokard akut) yang mengganggu fungsi pompa, dibuktikan oleh hasil EKG dan peningkatan troponin, serta diperberat oleh faktor hipertensi dan takikardia yang ada.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : SLKI ini bertujuan untuk mempertahankan curah jantung yang adekuat. Kriteria hasil yang diharapkan untuk Tn. R adalah: (1) Tanda vital stabil dalam rentang yang dapat diterima (tekanan darah sistolik >90 mmHg dan <140 mmHg, nadi 60-100 kali/menit, pernapasan 12-20 kali/menit); (2) Kualitas nadi perifer teraba kuat dan simetris; (3) Kulit hangat dan kering, tidak pucat ataupun sianosis; (4) Haluaran urine adekuat (>30 mL/jam) yang menunjukkan perfusi ginjal yang baik; (5) Tidak ada tanda distress pernapasan (dispnea, ortopnea) atau edema paru; (6) Tingkat kesadaran baik (compos mentis) tanpa tanda penurunan perfusi serebral seperti gelisah atau konfusi; dan (7) Hasil pemeriksaan laboratorium (seperti elektrolit dan fungsi ginjal) dalam batas normal. Pemantauan ketat terhadap parameter-parameter ini menjadi indikator utama keberhasilan intervensi dalam mencegah syok kardiogenik.
Kode SIKI: I.09001
Deskripsi : SIKI ini meliputi tindakan untuk memantau dan mempertahankan curah jantung. Implementasi pada Tn. R meliputi: (1) Monitor terus menerus tanda vital, saturasi oksigen, dan irama jantung melalui alat monitor; (2) Kaji status hemodinamik secara berkala (nadi apikal, pengisian kapiler, suhu ekstremitas); (3) Keseimbangan cairan: catat balance cairan ketat, timbang berat badan harian, pantau haluaran urine; (4) Kolaborasi pemberian terapi farmakologi sesuai order (seperti nitrat, beta blocker, ACE inhibitor, diuretik) dengan memantau efek dan efek sampingnya; (5) Bantu pasien dalam posisi yang meningkatkan kenyamanan dan sirkulasi (biasanya kepala tempat tidur ditinggikan); (6) Batasi aktivitas fisik dengan tirah baring dan bantu dalam aktivitas perawatan diri untuk mengurangi beban kerja jantung; (7) Berikan oksigen tambahan sesuai kebutuhan untuk meningkatkan suplai oksigen ke miokard; (8) Pantau hasil laboratorium (troponin serial, elektrolit, BUN/kreatinin, gas darah); dan (9) Observasi tanda dini gagal jantung atau syok (hipotensi, takikardia, oliguria, distress pernapasan, penurunan kesadaran). Intervensi ini bersifat preventif dan suportif untuk mendukung fungsi jantung selama proses penyembuhan.
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Ansietas adalah perasaan gelisah, ketegangan, atau kekhawatiran yang tidak jelas dan tidak nyaman sebagai respons terhadap ancaman yang tidak spesifik. Pada Tn. R, ansietas terkait dengan ancaman terhadap status kesehatan, perubahan peran, dan lingkungan yang asing (IGD), serta krisis situasional akibat nyeri hebat dan diagnosis serangan jantung. Hal ini dimanifestasikan oleh perilaku gelisah, ekspresi wajah tegang, dan laporan subjektif rasa cemas.
Kode SLKI: L.14001
Deskripsi : SLKI ini bertujuan untuk mengurangi tingkat ansietas pasien. Kriteria hasil yang diharapkan untuk Tn. R meliputi: (1) Pasien dapat mengungkapkan perasaan cemasnya dan faktor pemicu secara verbal; (2) Pasien melaporkan penurunan perasaan cemas (skala 0-10) menjadi tingkat ringan; (3) Pasien menunjukkan perilaku yang lebih tenang, seperti tidak gelisah, mampu beristirahat, dan kooperatif selama tindakan; (4) Tanda vital (nadi dan pernapasan) menunjukkan tren penurunan menuju rentang normal; (5) Pasien mampu mengidentifikasi dan mendemonstrasikan setidaknya satu strategi koping untuk mengurangi kecemasan (seperti napas dalam); dan (6) Pasien mengungkapkan pemahaman tentang kondisi dan rencana perawatannya, yang dapat mengurangi ketidakpastian.
Kode SIKI: I.14001
Deskripsi : SIKI ini mencakup tindakan untuk mengurangi ansietas. Implementasi pada Tn. R meliputi: (1) Lakukan pendekatan dengan tenang, percaya diri, dan empati; gunakan komunikasi terapeutik; (2) Berikan informasi yang jujur, jelas, dan singkat tentang kondisi, prosedur, dan lingkungan IGD untuk mengurangi ketidakpastian; (3) Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan dan kekhawatirannya; dengarkan dengan penuh perhatian; (4) Ajarkan teknik relaksasi sederhana seperti napas dalam perlahan dan panduan imajinasi; (5) Kurangi stimulasi lingkungan yang tidak perlu (kebisingan, lalu lintas orang); (6) Libatkan keluarga dalam memberikan dukungan emosional sesuai kondisi pasien; (7) Kolaborasi pemberian ansiolitik jika diperlukan sesuai order; (8) Bantu pasien mengidentifikasi kekuatan koping yang dimilikinya di masa lalu; dan (9) Berikan penjelasan tentang setiap tindakan yang akan dilakukan sebelum memulainya. Mengelola ansietas sangat penting karena ansietas meningkatkan aktivitas simpatis yang dapat memperburuk iskemia miokard.
Article No. 23163 | 05 Dec 2025
Klinis : Seorang laki-laki bernama Tn. R, berusia 62 tahun, datang ke instalasi gawat darurat dengan keluhan nyeri dada yang muncul tiba-tiba saat ia sedang berjalan menuju warung. Nyeri digambarkan seperti ditekan benda berat, menjalar ke rahang dan lengan kiri, disertai keringat dingin serta rasa cemas. Nyeri berlangsung sekitar 15 menit dan tidak sepenuhnya hilang meski ia berhenti beraktivitas. Pasien memiliki riwayat hipertensi selama 10 tahun dan diabetes mellitus sejak 7 tahun lalu, namun pengobatan tidak teratur. Ia juga memiliki kebiasaan merokok sejak muda, sekitar 15 batang per hari, dan jarang berolahraga. Dari riwayat keluarga, kakaknya pernah meninggal mendadak akibat serangan jantung. Saat pemeriksaan, pasien tampak gelisah, wajah pucat, dan terus memegang dada. Tekanan darah tercatat 170/100 mmHg, nadi 110 kali per menit, pernapasan 26 kali per menit, dan suhu 36,7°C. Hasil EKG menunjukkan adanya tanda infark miokard akut. Pemeriksaan laboratorium memperlihatkan kadar troponin meningkat, kolesterol total 280 mg/dL, LDL 190 mg/dL, dan gula darah sewaktu 240 mg/dL. Berat badan pasien 90 kg dengan tinggi 168 cm, sehingga indeks massa tubuhnya termasuk obesitas.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut dan Risiko Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut. Pada Tn. R, nyeri dada akut dengan karakteristik seperti ditekan benda berat, menjalar, dan disertai tanda otonom (keringat dingin, takikardia) merupakan manifestasi utama dari iskemia miokard akut akibat infark. Nyeri ini bersifat akut, tiba-tiba, dan intens, yang secara signifikan mengganggu kenyamanan serta meningkatkan respons stres tubuh.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI ini bertujuan agar nyeri pasien dapat teratasi. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: (1) Pasien melaporkan penurunan skala nyeri (misalnya, dari skala 8-9 menjadi ≤3 pada skala 0-10). (2) Tanda-tanda vital menunjukkan perbaikan (denyut nadi mendekati normal, tekanan darah menurun). (3) Ekspresi wajah pasien lebih rileks, tidak lagi meringis atau memegang dada. (4) Pasien dapat beristirahat dengan tenang dan berpartisipasi dalam aktivitas perawatan diri terbatas tanpa provokasi nyeri. (5) Pasien memahami faktor pemicu dan mampu mengidentifikasi karakteristik nyeri yang memerlukan pelaporan segera. Pencapaian SLKI ini diukur melalui skala nyeri verbal/visual, observasi perilaku, dan monitoring tanda vital secara berkala.
Kode SIKI: I.08030
Deskripsi : Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan sistematis untuk mengelola nyeri akut. Pertama, lakukan pengkajian nyeri komprehensif dengan metode PQRST (Provocation/Palliation, Quality, Region/Radiation, Severity, Time) segera saat kedatangan dan secara berkala. Kedua, berikan terapi farmakologis sesuai instruksi dokter (seperti nitrogliserin, morfin, analgesik) dengan memantau efek dan efek sampingnya. Ketiga, terapkan metode non-farmakologis seperti menciptakan lingkungan yang tenang, teknik relaksasi napas dalam, dan pendampingan untuk mengurangi kecemasan yang memperberat persepsi nyeri. Keempat, edukasi pasien tentang pentingnya melaporkan nyeri dan tidak menahannya. Kelima, kolaborasi dalam pemberian oksigen untuk mengurangi iskemia miokard. Keenam, monitor respons pasien terhadap intervensi yang diberikan dan dokumentasi secara akurat. Tindakan ini harus dilakukan dengan cepat, empatik, dan terintegrasi dengan penanganan kegawatan jantung lainnya.
Kondisi: Risiko Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0020
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan curah jantung adalah keadaan rentan dimana volume darah yang dipompa oleh jantung per menit tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh, yang dapat mengancam jiwa. Pada Tn. R, risiko ini sangat tinggi karena adanya infark miokard akut yang merusak fungsi pompa jantung. Faktor risiko yang memperberat adalah hipertensi yang tidak terkontrol (TD 170/100 mmHg), takikardia (nadi 110x/menit), riwayat diabetes, dan obesitas. Kerusakan otot jantung dapat menurunkan kontraktilitas, mengakibatkan output jantung tidak adekuat, yang berpotensi menyebabkan syok kardiogenik atau gagal jantung.
Kode SLKI: L.03002
Deskripsi : SLKI ini bertujuan agar curah jantung pasien tetap adekuat. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: (1) Tanda vital stabil dalam rentang yang dapat diterima untuk pasien (tekanan darah mendekati normal, frekuensi nadi 60-100x/menit, pernapasan 12-20x/menit). (2) Status perfusi perifer adekuat ditandai kulit hangat dan kering, pengisian kapiler < 3 detik, nadi perifer teraba kuat dan simetris. (3) Haluaran urin adekuat (>30 mL/jam). (4) Tidak ada tanda distress pernapasan (dispnea, ortopnea). (5) Tingkat kesadaran baik (compos mentis). (6) Hasil pemeriksaan penunjang (seperti EKG, tekanan vena sentral) menunjukkan perbaikan atau tidak memburuk. Pemantauan ketat dan berkelanjutan sangat penting untuk mendeteksi dini tanda penurunan curah jantung.
Kode SIKI: I.03006
Deskripsi : Intervensi ini berfokus pada pemantauan dan dukungan untuk mencegah penurunan curah jantung. Pertama, pantau tanda vital, status hemodinamik, dan oksimetri nadi secara ketat dan kontinu. Kedua, kaji status perfusi perifer (warna, suhu, pengisian kapiler, nadi) dan neurologis (tingkat kesadaran) secara berkala. Ketiga, atur posisi semi-Fowler untuk memfasilitasi pernapasan dan mengurangi beban jantung. Keempat, batasi aktivitas fisik, bantu dalam aktivitas perawatan diri untuk menghemat energi dan mengurangi konsumsi oksigen miokard. Kelima, kolaborasi pemberian terapi farmakologi sesuai order (seperti vasodilator, diuretik, inotropik) dengan memantau respons dan efek samping. Keenam, pertahankan keseimbangan cairan, monitor balance cairan ketat, dan ukur haluaran urin setiap jam. Ketujuh, berikan oksigen sesuai kebutuhan untuk mempertahankan saturasi O2 >95%. Kedelapan, edukasi pasien untuk segera melaporkan gejala seperti sesak napas, palpitasi, atau kelemahan mendadak.
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: D.0182
Deskripsi Singkat: Risiko ketidakstabilan kadar glukosa darah adalah keadaan rentan terhadap variasi kadar glukosa darah di luar rentang normal, yang dapat mengancam kesehatan. Pada Tn. R, risiko ini sangat nyata dengan gula darah sewaktu 240 mg/dL dan riwayat diabetes mellitus yang pengobatannya tidak teratur. Hiperglikemia akut pada situasi infark miokard sangat berbahaya karena dapat memperburuk iskemia miokard, meningkatkan risiko aritmia, dan menghambat proses penyembuhan. Stres fisik akibat nyeri dan kecemasan juga dapat semakin meningkatkan kadar glukosa darah.
Kode SLKI: L.18024
Deskripsi : SLKI ini bertujuan agar kadar glukosa darah pasien terkontrol. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: (1) Kadar glukosa darah mendekati rentang target yang ditetapkan (biasanya 140-180 mg/dL dalam kondisi akut). (2) Pasien bebas dari tanda dan gejala hipoglikemia (berkeringat, gemetar, lemas) atau hiperglikemia berat (polidipsi, poliuri, penurunan kesadaran). (3) Pasien dan keluarga memahami pentingnya kontrol glikemik dalam penanganan kondisi jantungnya. (4) Terapi insulin atau obat anti-diabetes lainnya diberikan secara tepat dan respons glikemik terpantau. Pencapaian target glikemik yang ketat merupakan bagian integral dari tata laksana sindrom koroner akut.
Kode SIKI: I.18023
Deskripsi : Intervensi ini mencakup tindakan untuk memantau dan mengontrol kadar glukosa darah. Pertama, lakukan pemantauan glukosa darah kapiler secara berkala (setiap 1-4 jam sesuai kondisi dan protokol). Kedua, kolaborasi pemberian insulin sesuai sliding scale atau infus kontinu berdasarkan hasil pemantauan dan instruksi dokter. Ketiga, kaji tanda dan gejala hipo/hiperglikemia setiap kali melakukan pemeriksaan glukosa darah. Keempat, edukasi pasien tentang hubungan antara kontrol gula darah dengan pemulihan jantung, meskipun dalam kondisi darurat. Kelima, kolaborasi dengan tim gizi untuk penyediaan diet sesuai kebutuhan kalori dan kondisi metabolik pasien. Keenam, dokumentasikan semua hasil pengukuran, dosis insulin yang diberikan, dan respons pasien. Tindakan ini harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari fluktuasi glukosa yang ekstrem yang dapat memperburuk prognosis.
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Ansietas adalah perasaan gelisah, ketegangan, atau kekhawatiran yang tidak jelas dan tidak nyaman sebagai respons terhadap ancaman yang diantisipasi. Pada Tn. R, ansietas muncul sebagai respons terhadap nyeri dada yang hebat, ketakutan akan kematian mendadak (mengingat riwayat kakaknya), dan situasi lingkungan IGD yang asing dan penuh tekanan. Manifestasi yang terlihat adalah gelisah, ekspresi wajah cemas, takikardia, dan hiperventilasi (pernapasan 26x/menit). Ansietas ini dapat meningkatkan kerja jantung dan memperburuk iskemia miokard, sehingga perlu segera dikelola.
Kode SLKI: L.14001
Deskripsi : SLKI ini bertujuan agar tingkat kecemasan pasien menurun.Article No. 23164 | 05 Dec 2025
Klinis : Seorang laki-laki bernama Tn. R, berusia 62 tahun, datang ke instalasi gawat darurat dengan keluhan nyeri dada yang muncul tiba-tiba saat ia sedang berjalan menuju warung. Nyeri digambarkan seperti ditekan benda berat, menjalar ke rahang dan lengan kiri, disertai keringat dingin serta rasa cemas. Nyeri berlangsung sekitar 15 menit dan tidak sepenuhnya hilang meski ia berhenti beraktivitas. Pasien memiliki riwayat hipertensi selama 10 tahun dan diabetes mellitus sejak 7 tahun lalu, namun pengobatan tidak teratur. Ia juga memiliki kebiasaan merokok sejak muda, sekitar 15 batang per hari, dan jarang berolahraga. Dari riwayat keluarga, kakaknya pernah meninggal mendadak akibat serangan jantung. Saat pemeriksaan, pasien tampak gelisah, wajah pucat, dan terus memegang dada. Tekanan darah tercatat 170/100 mmHg, nadi 110 kali per menit, pernapasan 26 kali per menit, dan suhu 36,7°C. Hasil EKG menunjukkan adanya tanda infark miokard akut. Pemeriksaan laboratorium memperlihatkan kadar troponin meningkat, kolesterol total 280 mg/dL, LDL 190 mg/dL, dan gula darah sewaktu 240 mg/dL. Berat badan pasien 90 kg dengan tinggi 168 cm, sehingga indeks massa tubuhnya termasuk obesitas.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut dan Risiko Penurunan Curah Jantung terkait Infark Miokard Akut
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan durasi kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI untuk Nyeri Akut adalah Kontrol Nyeri. Tujuan akhirnya adalah pasien mampu mengontrol nyerinya. Indikator hasil keperawatan yang diharapkan meliputi: 1) Pasien melaporkan nyeri berkurang atau hilang, 2) Pasien menunjukkan perilaku mengatasi nyeri, 3) Pasien menunjukkan tanda-tanda vital dalam rentang normal, 4) Pasien menunjukkan ekspresi wajah rileks, dan 5) Pasien dapat beristirahat dan beraktivitas dengan tepat. Pada Tn. R, tujuan utamanya adalah mengurangi nyeri dada akut yang hebat, menurunkan kecemasan yang memperberat persepsi nyeri, dan menstabilkan tanda-tanda vital (tekanan darah dan nadi yang tinggi). Kontrol nyeri yang berhasil ditandai dengan laporan verbal nyeri menurun, wajah yang tidak lagi menyeringai, posisi tubuh lebih rileks, serta penurunan frekuensi nadi dan pernapasan menuju normal.
Kode SIKI: I.08070
Deskripsi : SIKI utama untuk mengatasi Nyeri Akut adalah Manajemen Nyeri. Intervensi ini mencakup tindakan sistematis untuk menilai, mengurangi, dan menghilangkan nyeri. Rencana tindakan untuk Tn. R meliputi: 1) Lakukan pengkajian nyeri komprehensif (PQRST: Provokasi, Kualitas, Radiasi, Skala, Waktu) secara berkala. 2) Kolaborasi pemberian analgesik (seperti nitrogliserin, morfin) sesuai protokol untuk mengurangi nyeri iskemik dan beban kerja jantung, dengan memantau efek samping. 3) Ajarkan teknik relaksasi napas dalam untuk mengurangi ansietas dan ketegangan otot. 4) Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman. 5) Berikan dukungan psikologis dan penjelasan tentang prosedur untuk mengurangi ketakutan. 6) Pantau tanda-tanda vital dan respons hemodinamik sebelum dan sesudah intervensi. 7) Bantu posisi yang nyaman, biasanya semi-Fowler. 8) Kolaborasi pemberian terapi oksigen untuk memenuhi kebutuhan miokard. Intervensi ini harus dilakukan segera dan dievaluasi efektivitasnya secara terus-menerus.
Kondisi: Risiko Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0020
Deskripsi Singkat: Risiko Penurunan Curah Jantung adalah keadaan rentan terhadap ketidakadekuatan darah yang dipompa oleh jantung untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh, yang dapat mengancam kehidupan.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : SLKI untuk Risiko Penurunan Curah Jantung adalah Pemeliharaan Curah Jantung. Tujuannya adalah mempertahankan curah jantung yang adekuat. Indikatornya meliputi: 1) Tekanan darah dalam rentang yang dapat diterima, 2) Nadi perifer teraba, 3) Frekuensi jantung dan irama dalam rentang normal, 4) Tidak ada dispnea atau ortopnea, 5) Haluaran urine adekuat, dan 6) Kulit hangat dan kering. Pada Tn. R dengan IMA, ancaman utama adalah syok kardiogenik dan gagal jantung. Pemantauan ketat terhadap tekanan darah (dari hipertensi ke hipotensi yang berbahaya), nadi (takikardia), pengisian kapiler, suhu ekstremitas, dan produksi urine sangat penting. Tujuan jangka pendek adalah mencegah penurunan curah jantung dengan menstabilkan kondisi hemodinamik melalui terapi medis dan keperawatan.
Kode SIKI: I.09011
Deskripsi : SIKI utama adalah Pemantauan Hemodinamik. Intervensi ini meliputi pengukuran dan interpretasi data invasif dan non-invasif untuk menentukan integritas kardiovaskular. Tindakan untuk Tn. R: 1) Pantau terus-menerus tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, saturasi oksigen) dan irama jantung melalui monitor EKG. 2) Kaji kualitas nadi perifer, pengisian kapiler, suhu dan warna kulit. 3) Pantau keseimbangan cairan (intake-output) setiap jam, perhatikan haluaran urine (target >30 mL/jam). 4) Auskultasi suara jantung dan paru (mendeteksi gallop, crackles). 5) Kolaborasi pemberian terapi obat inotropik, vasodilator, atau diuretik sesuai resep. 6) Bantu pasien dalam aktivitas untuk menghemat energi dan mengurangi beban kerja jantung. 7) Batasi asupan cairan dan natrium sesuai protokol. 8) Berikan oksigenasi yang adekuat. 9) Observasi tanda dini syok (gelisah, pucat, penurunan kesadaran, oliguri, takikardi, hipotensi).
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0011
Deskripsi Singkat: Intoleransi Aktivitas adalah keadaan dimana seseorang mengalami ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk menuntaskan atau mempertahankan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : SLKI untuk Intoleransi Aktivitas adalah Pemulihan Toleransi Aktivitas. Tujuannya adalah pasien dapat meningkatkan toleransi terhadap aktivitas secara bertahap. Indikatornya: 1) Pasien melaporkan peningkatan energi, 2) Pasien menunjukkan peningkatan kemampuan melakukan aktivitas, 3) Tanda vital stabil selama dan setelah aktivitas, 4) Tidak mengalami kelelahan berlebihan, dan 5) Tidak mengalami sesak napas atau nyeri dada saat aktivitas. Pada Tn. R, kondisi IMA akut menyebabkan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen miokard. Aktivitas sekecil apa pun dapat memicu iskemia dan nyeri. Tujuan awal adalah istirahat total untuk mengurangi beban jantung, kemudian dilanjutkan dengan aktivitas bertahap yang diawasi ketat.
Kode SIKI: I.03005
Deskripsi : SIKI yang relevan adalah Manajemen Energi. Intervensi ini mengatur energi untuk memperlancar penyembuhan dan aktivitas yang diinginkan. Tindakan: 1) Kaji respons pasien terhadap aktivitas (perubahan tanda vital, nyeri, sesak, kelelahan). 2) Bantu pasien dalam aktivitas perawatan diri sesuai toleransi. 3) Rencanakan periode istirahat yang cukup sebelum dan sesudah aktivitas atau prosedur. 4) Ajarkan teknik penghematan energi. 5) Tingkatkan aktivitas secara bertahap sesuai protokol fase rehabilitasi IMA (dari pasif, duduk, berdiri, berjalan dalam kamar). 6) Anjurkan untuk segera berhenti aktivitas jika muncul nyeri dada, sesak napas, pusing, atau kelelahan ekstrem. 7) Kolaborasi dengan tim rehabilitasi jantung untuk program aktivitas terstruktur.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0068
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi adalah keadaan rentan terhadap invasi dan multiplikasi patogen yang dapat mengancam kehidupan.
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : SLKI untuk Risiko Infeksi adalah Pengendalian Infeksi. Tujuannya adalah mencegah terjadinya infeksi. Indikator: 1) Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi (demam, kemerahan, pus), 2) Menunjukkan perilaku mencegah infeksi (cuci tangan), 3) Nilai leukosit dalam rentang normal, dan 4) Luka bersih dan kering. Pada Tn. R, risiko infeksi meningkat karena prosedur invasif yang mungkin dilakukan (seperti kateter intravena, kateter urine, atau tindakan revaskularisasi), serta kondisi dasar diabetes mellitus yang tidak terkontrol. Hiperglikemia mengganggu fungsi sel darah putih dan menyuburkan pertumbuhan mikroorganisme.
Kode SIKI: I.15001
Deskripsi : SIKI utama adalah Pencegahan Infeksi. Intervensi untuk mencegah dan mengurangi risiko infeksi. Tindakan: 1) Lakukan cuci tangan secara ketat sebelum dan setelah kontak dengan pasien atau lingkungannya. 2) Lakukan perawatan luka atau area invasif (jika ada) dengan teknik aseptik. 3) Pantau tanda-tanda infeksi sistemik dan lokal (suhu, kemerahan, bengkak, nyeri, pus). 4) Kolaborasi pemberian antibiotik profilaksis jika diindikasikan. 5) Ajarkan pasien dan keluarga pentingnya kebersihan tangan. 6) Kelola kontrol gula darah secara ketat melalui terapi insulin sesuai kolaborasi, karena kadar gula tinggi merupakan media ideal untuk infeksi. 7) Ganti perban dan balutan kateter secara rutin dan sesuai kebutuhan. 8) An
Article No. 23165 | 05 Dec 2025
Klinis : Waham
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Waham
Kode SDKI: D.0085
Deskripsi Singkat: Persepsi sensorik yang salah terhadap rangsangan internal atau eksternal yang sebenarnya.
Kode SLKI: L.08004
Deskripsi : Mengacu pada tujuan akhir keperawatan, yaitu Kontrol Waham Tercapai. Ini berarti pasien mampu: 1) Mengidentifikasi dan menyatakan bahwa pikiran atau keyakinannya adalah waham (tidak sesuai realitas). 2) Melaporkan penurunan frekuensi, intensitas, dan durasi pengalaman waham. 3) Mengenali pemicu atau situasi yang dapat memunculkan waham. 4) Menggunakan strategi koping yang adaptif (seperti teknik grounding, mengalihkan perhatian, atau mencari validasi realitas dari orang terpercaya) untuk mengelola waham ketika muncul. 5) Berpartisipasi dalam aktivitas terapeutik dan kehidupan sosial tanpa gangguan signifikan dari waham. SLKI ini menjadi panduan untuk mengevaluasi keberhasilan intervensi keperawatan yang diberikan.
Kode SIKI: I.08042
Deskripsi : Intervensi keperawatan spesifik untuk membantu pasien dengan waham, yang meliputi: 1) Membangun Hubungan Terapeutik: Pendekatan awal dengan sikap menerima tanpa menyetujui isi waham. Perawat perlu membangun rasa percaya dan aman, karena waham sering kali terkait dengan ketakutan dan kecurigaan. 2) Validasi Perasaan, Koreksi Persepsi: Mengakui perasaan takut atau cemas yang dialami pasien sebagai hal yang nyata ("Saya lihat Anda sangat ketakutan"), sambil dengan lembut menyatakan realitas yang berbeda ("Saya berada di sini bersama Anda, dan saya tidak melihat ancaman yang Anda maksud"). Hindari konfrontasi langsung atau berdebat tentang kebenaran waham. 3) Pengalihan Perhatian (Distraksi): Mengajak pasien terlibat dalam aktivitas konkret, sederhana, dan berorientasi realitas (seperti permainan, olahraga ringan, kerajinan tangan, atau percakapan tentang topik netral) untuk mengalihkan fokus dari isi waham. 4) Meningkatkan Kontak dengan Realitas: Melibatkan pasien dalam aktivitas kelompok terapeutik, terapi okupasi, atau interaksi sosial terstruktur. Menggunakan orientasi realitas dengan menyebutkan waktu, tempat, dan orang secara berkala. 5) Melatih Strategi Koping: Membantu pasien mengidentifikasi tanda-tanda awal munculnya waham dan melatih teknik untuk mengatasinya, seperti teknik pernapasan dalam, relaksasi progresif, atau "menguji realitas" dengan bertanya kepada perawat atau keluarga. 6) Manajemen Lingkungan: Menciptakan lingkungan yang tenang, tidak overstimulasi, dan aman. Mengurangi kebisingan atau kerumunan yang dapat ditafsirkan salah oleh pasien. Menjaga konsistensi dalam perawatan dan pengasuh. 7) Kolaborasi dan Edukasi: Bekerja sama dengan tim psikiatri dalam pemberian terapi farmakologi (antipsikotik) dan memantau efek serta efek sampingnya. Memberikan edukasi kepada keluarga tentang cara merespons waham pasien (tidak menghukum atau memperkuat, tetapi mengalihkan), serta pentingnya kepatuhan pengobatan. 8) Promosi Harga Diri: Memberikan pujian untuk pencapaian kecil, mendorong kemandirian dalam area yang tidak terpengaruh waham, dan membantu pasien memisahkan identitas dirinya dari penyakitnya. Intervensi ini dilakukan secara holistik, berkelanjutan, dan disesuaikan dengan fase akut atau pemulihan pasien.
Article No. 23166 | 05 Dec 2025
Klinis : nyeri akut berhubungan dengan obstruksi lumen apendiks
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Tidak ada respons dari API.
Article No. 23167 | 05 Dec 2025
Klinis : nyeri akut berhubungan dengan obstruksi lumen apendiks
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Tidak ada respons dari API.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 1047 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 1829 1830 1831 1832 1833 1834 1835 1836 1837 1838 1839 1840 1841 1842 1843 1844 1845 1846 1847 1848 1849 1850 1851 1852 1853 1854 1855 1856 1857 1858 1859 1860 1861 1862 1863 1864 1865 1866 1867 1868 1869 1870 1871 1872 1873 1874 1875 1876 1877 1878 1879 1880 1881 1882 1883 1884 1885 1886 1887 1888 1889 1890 1891 1892 1893 1894 1895 1896 1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1964 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058 2059 2060 2061 2062 2063 2064 2065 2066 2067 2068 2069 2070 2071 2072 2073 2074 2075 2076 2077 2078 2079 2080 2081 2082 2083 2084 2085 2086 2087 2088 2089 2090 2091 2092 2093 2094 2095 2096 2097 2098 2099 2100 2101 2102 2103 2104 2105 2106 2107 2108 2109 2110 2111 2112 2113 2114 2115 2116 2117 2118 2119 2120 2121 2122 2123 2124 2125 2126 2127 2128 2129 2130 2131 2132 2133 2134 2135 2136 2137 2138 2139 2140 2141 2142 2143 2144 2145 2146 2147 2148 2149 2150 2151 2152 2153 2154 2155 2156 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2167 2168 2169 2170 2171 2172 2173 2174 2175 2176 2177 2178 2179 2180 2181 2182 2183 2184 2185 2186 2187 2188 2189 2190 2191 2192 2193 2194 2195 2196 2197 2198 2199 2200 2201 2202 2203 2204 2205 2206 2207 2208 2209 2210 2211 2212 2213 2214 2215 2216 2217 2218 2219 2220 2221 2222 2223 2224 2225 2226 2227 2228 2229 2230 2231 2232 2233 2234 2235 2236 2237 2238 2239 2240 2241 2242 2243 2244 2245 2246 2247 2248 2249 2250 2251 2252 2253 2254 2255 2256 2257 2258 2259 2260 2261 2262 2263 2264 2265 2266 2267 2268 2269 2270 2271 2272 2273 2274 2275 2276 2277 2278 2279 2280