Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 19681 | 16 Jul 2025
Klinis : desa yang memiliki jumlah balita yang terancam terkena penyakit kuning, orang tua yang memiliki bayi dengan berat lahir yang kurang ( Prematur ), bayi yang tidak memiliki asupan ASI yang cukup, dan tinggal didaerah yang jauh dengan fasilitas kesehatan, serta tinggal di lingkungan yang kurang memahami akan bahayanya penyakit kuning.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI sesuai dengan kondisi yang Anda berikan, dengan tone akademis dan persona seorang pakar perawat.
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Hiperbilirubinemia Neonatus (00118)
Definisi: Keadaan di mana bayi baru lahir berisiko mengalami peningkatan kadar bilirubin dalam darah yang dapat menyebabkan kerusakan otak.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Kode: 00118
Definisi: Keadaan di mana bayi baru lahir berisiko mengalami peningkatan kadar bilirubin dalam darah yang dapat menyebabkan kerusakan otak.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Kode: 00700
Definisi: Bayi baru lahir menunjukkan kadar bilirubin dalam batas normal.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Kode: 00118
Definisi: Serangkaian tindakan yang dilakukan untuk mencegah, mengurangi, atau mengatasi risiko peningkatan kadar bilirubin pada bayi baru lahir.
2. Ketidakefektifan Menyusui (00107)
Definisi: Keadaan di mana bayi mengalami kesulitan atau ketidakmampuan untuk menyusu dengan efektif.
SDKI:
Kode: 00107
Definisi: Keadaan di mana bayi mengalami kesulitan atau ketidakmampuan untuk menyusu dengan efektif.
SLKI:
Kode: 00501
Definisi: Bayi menunjukkan kemampuan menyusu yang efektif.
SIKI:
Kode: 00107
Definisi: Serangkaian tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan bayi dalam menyusu secara efektif.
Dengan kondisi yang Anda berikan, yaitu desa yang memiliki jumlah balita yang terancam terkena penyakit kuning, orang tua yang memiliki bayi dengan berat lahir yang kurang (prematur), bayi yang tidak memiliki asupan ASI yang cukup, dan tinggal di daerah yang jauh dari fasilitas kesehatan serta lingkungan yang kurang memahami bahayanya penyakit kuning, maka diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Risiko Hiperbilirubinemia Neonatus dan Ketidakefektifan Menyusui. -
Article No. 19682 | 16 Jul 2025
Klinis : Remaja laki-laki perokok aktif berisiko tinggi mengalami gangguan pada rongga mulut seperti sariawan kronis, bercak putih atau merah, hingga risiko kanker mulut akibat paparan zat karsinogenik dari rokok. Kurangnya pengetahuan tentang tanda awal kanker mulut serta tidak adanya upaya deteksi dini menyebabkan keterlambatan dalam penanganan. Oleh karena itu, edukasi mengenai deteksi dini dan pencegahan kanker mulut menjadi penting sebagai upaya promotif dan preventif untuk melindungi kesehatan kelompok remaja ini di masa depan.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dalam kasus seorang remaja laki-laki perokok aktif yang berisiko tinggi mengalami gangguan pada rongga mulut, berikut adalah diagnosa keperawatan, penjelasan singkat, kode, dan definisi dari SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Kanker Mulut (RISKANMUL - SDKI)
Definisi: Rentan terkena kanker mulut karena paparan zat karsinogenik dari rokok.
2. Kurang Pengetahuan (KURANGPENG - SDKI)
Definisi: Kekurangan informasi kognitif yang berkaitan dengan kondisi/masalah kesehatan.
Luaran Keperawatan:
1. Pengetahuan tentang Deteksi Dini Kanker Mulut (PENGETDKL - SLKI)
Definisi: Pemahaman tentang tanda dan gejala awal kanker mulut serta pentingnya deteksi dini.
2. Perilaku Kesehatan Preventif (PRILKESHEP - SLKI)
Definisi: Tindakan yang dilakukan untuk mencegah timbulnya masalah kesehatan.
Intervensi Keperawatan:
1. Edukasi Kesehatan (EDUKKES - SIKI)
Definisi: Pemberian informasi kesehatan yang terencana untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang mendukung kesehatan.
2. Konseling Berhenti Merokok (KONSBER - SIKI)
Definisi: Pemberian bantuan, dukungan, dan motivasi untuk berhenti merokok.
3. Deteksi Dini Kanker Mulut (DETDKAM - SIKI)
Definisi: Pemeriksaan untuk mengidentifikasi tanda dan gejala awal kanker mulut.
Dalam kasus ini, penting untuk memberikan edukasi kesehatan terkait deteksi dini dan pencegahan kanker mulut, serta konseling berhenti merokok untuk mendukung remaja laki-laki perokok aktif dalam menjaga kesehatan rongga mulutnya di masa depan. -
Article No. 19683 | 16 Jul 2025
Klinis : Remaja laki-laki perokok aktif berisiko tinggi mengalami gangguan pada rongga mulut seperti sariawan kronis, bercak putih atau merah, hingga risiko kanker mulut akibat paparan zat karsinogenik dari rokok. Kurangnya pengetahuan tentang tanda awal kanker mulut serta tidak adanya upaya deteksi dini menyebabkan keterlambatan dalam penanganan. Oleh karena itu, edukasi mengenai deteksi dini dan pencegahan kanker mulut menjadi penting sebagai upaya promotif dan preventif untuk melindungi kesehatan kelompok remaja ini di masa depan.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
1. Risiko Kanker Mulut
- Definisi: Keadaan individu yang berisiko tinggi mengalami kanker mulut akibat paparan zat karsinogenik dari rokok.
- Faktor Risiko: Merokok, kurangnya pengetahuan tentang tanda awal kanker mulut, tidak melakukan deteksi dini.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Pengetahuan: Peningkatan Pengetahuan tentang Kanker Mulut
- Definisi: Tingkat pemahaman individu tentang konsep, proses, prosedur, atau informasi yang berkaitan dengan kanker mulut.
- Kriteria Hasil:
a. Individu dapat menjelaskan pengertian kanker mulut.
b. Individu dapat menyebutkan faktor risiko kanker mulut.
c. Individu dapat menjelaskan tanda dan gejala awal kanker mulut.
d. Individu dapat menjelaskan pentingnya deteksi dini kanker mulut.
2. Perilaku Kesehatan: Peningkatan Perilaku Pencegahan Kanker Mulut
- Definisi: Tindakan yang dilakukan individu untuk mencegah atau mengurangi risiko terjadinya kanker mulut.
- Kriteria Hasil:
a. Individu melakukan pemeriksaan rutin untuk deteksi dini kanker mulut.
b. Individu berhenti merokok atau mengurangi konsumsi rokok.
c. Individu menerapkan pola hidup sehat untuk mencegah kanker mulut.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Edukasi Kesehatan: Edukasi tentang Kanker Mulut
- Definisi: Pemberian informasi dan pemahaman tentang kanker mulut, termasuk pengertian, faktor risiko, tanda dan gejala, serta pentingnya deteksi dini.
- Aktivitas:
a. Memberikan penjelasan tentang pengertian kanker mulut.
b. Mengidentifikasi faktor risiko kanker mulut, terutama yang berkaitan dengan merokok.
c. Menjelaskan tanda dan gejala awal kanker mulut.
d. Menekankan pentingnya melakukan deteksi dini untuk mencegah keterlambatan penanganan.
e. Memberikan materi edukasi dalam bentuk leaflet, poster, atau media lainnya.
2. Dukungan Berhenti Merokok
- Definisi: Pemberian dukungan dan motivasi untuk membantu individu berhenti atau mengurangi konsumsi rokok.
- Aktivitas:
a. Mengkaji kesiapan individu untuk berhenti merokok.
b. Memberikan motivasi dan dukungan untuk berhenti merokok.
c. Mengidentifikasi strategi yang efektif untuk berhenti merokok, seperti terapi pengganti nikotin atau konseling.
d. Memantau progres individu dalam upaya berhenti merokok.
e. Memberikan penguatan positif terhadap setiap kemajuan yang dicapai.
3. Skrining Kesehatan: Skrining Kanker Mulut
- Definisi: Pemeriksaan awal untuk mendeteksi adanya tanda atau gejala awal kanker mulut.
- Aktivitas:
a. Melakukan pemeriksaan visual rongga mulut untuk mengidentifikasi adanya lesi, bercak, atau perubahan pada jaringan.
b. Merujuk individu ke fasilitas kesehatan yang kompeten untuk pemeriksaan lebih lanjut jika ditemukan kelainan.
c. Memberikan edukasi tentang pentingnya melakukan pemeriksaan rutin untuk deteksi dini kanker mulut.
Dengan pemberian asuhan keperawatan yang komprehensif, diharapkan remaja laki-laki perokok aktif dapat meningkatkan pengetahuan, mengubah perilaku, dan melakukan deteksi dini untuk mencegah terjadinya kanker mulut di masa depan. -
Article No. 19684 | 16 Jul 2025
Klinis : Gangguan perfusi plasenta (D.0114)
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai seorang perawat yang berpengalaman, saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci terkait dengan kondisi Gangguan perfusi plasenta (D.0114) berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI).
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi Gangguan perfusi plasenta (D.0114) adalah Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Perifer (D.0003). Diagnosa ini mengacu pada ketidakadekuatan aliran darah ke jaringan, yang dapat menyebabkan perubahan fungsi jaringan. Dalam kasus Gangguan perfusi plasenta, ketidakefektifan perfusi pada jaringan plasenta dapat mengganggu pertukaran oksigen dan nutrisi antara ibu dan janin.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Perfusi Jaringan Perifer Membaik (L.0043): Indikator yang dapat digunakan untuk mengevaluasi luaran ini adalah peningkatan aliran darah ke jaringan, perbaikan warna kulit, dan pemulihan fungsi jaringan.
2. Kesejahteraan Janin Membaik (L.0021): Indikator yang dapat digunakan adalah peningkatan denyut jantung janin, pergerakan janin, dan pertumbuhan janin yang optimal.
3. Manajemen Nyeri Efektif (L.0033): Indikator yang dapat digunakan adalah berkurangnya keluhan nyeri yang dirasakan oleh pasien.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Pemantauan Perfusi Jaringan (I.0043):
- Mengkaji tanda-tanda vital, warna, suhu, dan sensasi ekstremitas.
- Memantau aliran darah, perfusi jaringan, dan tekanan darah.
- Mengkaji tanda-tanda gangguan perfusi, seperti pucat, sianosis, atau edema.
2. Manajemen Ketidaknyamanan (I.0033):
- Mengkaji karakteristik nyeri yang dialami, seperti lokasi, kualitas, durasi, dan intensitas.
- Memberikan intervensi non-farmakologis untuk mengurangi nyeri, seperti relaksasi, terapi panas/dingin, atau distraksi.
- Berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk pemberian analgesik, jika diperlukan.
3. Peningkatan Kesejahteraan Janin (I.0021):
- Memantau tanda-tanda vital ibu dan denyut jantung janin secara berkala.
- Mengkaji pergerakan janin dan pertumbuhan janin.
- Memberikan dukungan emosional dan edukasi kepada ibu untuk menjaga kesejahteraan janin.
- Berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk intervensi medis, jika diperlukan.
Melalui penerapan diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi yang sesuai, diharapkan dapat membantu meningkatkan perfusi jaringan plasenta, kesejahteraan janin, dan mengelola nyeri yang dialami oleh pasien, sehingga dapat mencapai hasil asuhan keperawatan yang optimal. -
Article No. 19685 | 16 Jul 2025
Klinis : Penurunan jumlah air ketuban (AFI < 5 cm) Gerakan janin menurun Tanda-tanda hipoksia janin (misalnya: CTG non-reassuring) Pertumbuhan janin terhambat (IUGR)
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan informasi yang rinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang sesuai untuk kondisi yang Anda berikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Risiko Perfusi Jaringan Janin Terganggu
- Definisi: Berisiko mengalami penurunan aliran darah dan oksigen ke jaringan janin yang dapat mengancam kesehatan dan kehidupan janin.
- Faktor Risiko: Penurunan jumlah air ketuban (AFI < 5 cm), gerakan janin menurun, tanda-tanda hipoksia janin (misalnya: CTG non-reassuring), dan pertumbuhan janin terhambat (IUGR).
Luaran/Output yang Diharapkan SLKI:
1. Tanda-tanda vital janin dalam batas normal
- Kriteria Hasil:
- Frekuensi jantung janin 120-160 kali per menit
- Pergerakan janin adekuat
- Tidak ada tanda-tanda hipoksia janin
2. Pertumbuhan janin sesuai usia kehamilan
- Kriteria Hasil:
- Berat badan janin sesuai persentil
- Lingkar kepala, abdomen, dan panjang tungkai janin sesuai usia kehamilan
3. Cairan amnion dalam batas normal
- Kriteria Hasil:
- Volume air ketuban (AFI) 5-20 cm
Intervensi Keperawatan SIKI:
1. Pemantauan Kesejahteraan Janin
- Observasi tanda-tanda vital janin (frekuensi jantung, pergerakan)
- Pemantauan CTG (Cardiotocography) secara berkala
- Pemeriksaan USG untuk menilai volume air ketuban dan pertumbuhan janin
2. Manajemen Cairan
- Pemberian cairan intravena sesuai indikasi
- Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat-obatan yang dapat meningkatkan volume air ketuban
3. Edukasi dan Dukungan Psikologis
- Berikan edukasi kepada ibu mengenai kondisi janin dan pentingnya pemantauan yang ketat
- Berikan dukungan emosional dan psikologis kepada ibu untuk meningkatkan koping dan mengurangi kecemasan
Penjelasan:
Diagnosa keperawatan "Risiko Perfusi Jaringan Janin Terganggu" dipilih karena kondisi yang Anda gambarkan, yaitu penurunan jumlah air ketuban, gerakan janin menurun, tanda-tanda hipoksia janin, dan pertumbuhan janin terhambat, meningkatkan risiko terjadinya gangguan aliran darah dan oksigen ke jaringan janin. Tujuan asuhan keperawatan adalah untuk mempertahankan kesejahteraan janin, memastikan pertumbuhan janin yang optimal, dan menjaga volume air ketuban dalam batas normal.
Intervensi keperawatan yang diperlukan meliputi pemantauan kesejahteraan janin secara ketat, manajemen cairan untuk menjaga volume air ketuban, serta edukasi dan dukungan psikologis bagi ibu. Kolaborasi dengan dokter juga diperlukan untuk pemberian terapi farmakologis yang dapat meningkatkan volume air ketuban jika diperlukan.
Harapan saya, penjelasan ini dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai pendekatan asuhan keperawatan yang komprehensif untuk mengelola kondisi yang Anda kemukakan. Jangan ragu untuk menanyakan hal-hal lain yang masih belum jelas. -
Article No. 19686 | 16 Jul 2025
Klinis : Penurunan jumlah air ketuban (AFI < 5 cm) Gerakan janin menurun Tanda-tanda hipoksia janin (misalnya: CTG non-reassuring) Pertumbuhan janin terhambat (IUGR)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI untuk kondisi yang Anda sebutkan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan (00025)
- SDKI: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
- SLKI: Risiko Perubahan Kesehatan
- SIKI: Manajemen Cairan
2. Risiko Distres Janin (00700)
- SDKI: Risiko Distres Janin
- SLKI: Risiko Perubahan Kesehatan
- SIKI: Pemantauan Janin
3. Pertumbuhan dan Perkembangan Janin Terganggu (00818)
- SDKI: Pertumbuhan dan Perkembangan Janin Terganggu
- SLKI: Perubahan Kesehatan
- SIKI: Pemantauan Janin
Penjelasan Singkat:
1. Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan (00025)
- Definisi: Keadaan di mana individu berisiko mengalami kelebihan atau kekurangan cairan, yang dapat membahayakan kesehatan.
- Kode: 00025
2. Risiko Distres Janin (00700)
- Definisi: Keadaan di mana janin berisiko mengalami penurunan oksigenasi, perfusi, atau fungsi metabolik yang dapat mengancam kelangsungan hidup atau kesejahteraan.
- Kode: 00700
3. Pertumbuhan dan Perkembangan Janin Terganggu (00818)
- Definisi: Keadaan di mana janin mengalami hambatan dalam pertumbuhan dan perkembangan yang normal, yang dapat mengancam kelangsungan hidup atau kesejahteraan.
- Kode: 00818
Keterangan:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia)
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia)
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia)
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) adalah organisasi profesi perawat di Indonesia yang bertanggung jawab dalam menetapkan standar-standar tersebut. -
Article No. 19687 | 16 Jul 2025
Klinis : Penurunan jumlah air ketuban (AFI < 5 cm) Gerakan janin menurun Tanda-tanda hipoksia janin (misalnya: CTG non-reassuring) Pertumbuhan janin terhambat (IUGR)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: **Diagnosa Keperawatan dan Penjelasan SDKI - SLKI - SIKI**
*(Berdasarkan Standar PPNI untuk Kondisi Obstetri dengan Komplikasi)*
---
### **1. Diagnosa Keperawatan**
**Kode DX.0004** – **Gangguan Pertukaran Gas Janin**
*(Definisi: Ketidakmampuan janin untuk mempertahankan pertukaran oksigen dan karbon dioksida secara adekuat akibat penurunan perfusi plasenta atau hipoksia.)*
**Faktor Etiologi (SDKI):**
- Penurunan volume cairan amnion (AFI <5 cm).
- Restriksi pertumbuhan janin (IUGR).
- Hipoksia janin (CTG non-reassuring).
---
### **2. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)**
**Kode SDKI.04005** – **Gangguan Pertukaran Gas Janin**
**Definisi:**
Kondisi di mana janin mengalami gangguan dalam memperoleh oksigen dan mengeliminasi karbon dioksida akibat faktor maternal, plasenta, atau janin.
**Kriteria Mayor:**
- Gerakan janin menurun (<10 gerakan dalam 12 jam).
- Indeks Cairan Amnion (AFI) <5 cm (oligohidramnion).
- Hasil CTG menunjukkan variabilitas denyut jantung janin yang minimal/tidak ada (non-reassuring).
- Pertumbuhan janin di bawah persentil 10 (IUGR).
---
### **3. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)**
**Kode SLKI.04005** – **Status Pertukaran Gas Janin Membaik**
**Indikator Luaran:**
- AFI dalam batas normal (5–25 cm).
- Gerakan janin ≥10 kali/12 jam.
- Denyut jantung janin reaktif (variabilitas normal pada CTG).
- Pertumbuhan janin sesuai usia gestasi (pemantauan USG serial).
**Skala Pengukuran:**
- **1 (Buruk)** → Tidak ada perbaikan.
- **2 (Cukup)** → Peningkatan gerakan janin, tetapi AFI tetap rendah.
- **3 (Baik)** → Semua indikator dalam batas normal.
---
### **4. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)**
**Kode SIKI.04005** – **Manajemen Hipoksia Janin**
**Intervensi Utama:**
- **Pemantauan Ketat DJJ (Kode SIKI.04010):**
- Lakukan CTG kontinu untuk menilai variabilitas dan deselerasi.
- Hitung gerakan janin tiap 12 jam.
- **Optimalisasi Oksigenasi Maternal (Kode SIKI.04015):**
- Berikan oksigen nasal 2–4 L/menit jika diperlukan.
- Posisikan ibu dalam *left lateral tilt* untuk meningkatkan perfusi plasenta.
- **Kolaborasi dengan Dokter (Kode SIKI.04020):**
- Rujuk untuk USG Doppler arteri umbilikalis jika IUGR berat.
- Persiapan persalinan dini jika hipoksia progresif (seksio sesarea).
**Intervensi Pendukung:**
- Edukasi ibu tentang tanda gawat janin (gerakan janin berkurang, nyeri abdomen).
- Hidrasi maternal adekuat untuk meningkatkan volume cairan amnion.
---
### **5. Rekomendasi Tambahan**
- **Prioritas:** Pemantauan ketat DJJ dan persiapan tindakan obstetri emergensi.
- **Dokumentasi:** Catat hasil CTG, AFI, dan respons intervensi setiap 2–4 jam.
*(Referensi: Buku Standar PPNI Edisi 2021; ACOG Practice Bulletin No. 204, 2019)*
---
**Format RTF siap digunakan.** Jika memerlukan penyesuaian kode atau penjelasan lebih mendalam, informasikan kebutuhan spesifik Anda. -
Article No. 19688 | 16 Jul 2025
Klinis : 1. Respirasi : Dispnie ringan, Takipnie , saturasi Oksigen < 95% 2. Sirkulasi : Tekanan darah Normal atau meningkat bila ada preeklampsia sebagai penyerta, Pada janin: bradikardia atau variabilitas denyut jantung janin menurun (hasil CTG tidak reassuring). 3. Nutrisi dan Cairan : Nafsu makan menurun, Dehidrasi ringan hingga sedang, 4. Neurosensori : Cemas berlebihan, Sulit tidur karena stres, Pusing 5. Aktivitas dan Istirahat : Cepat lelah saat beraktivitas, Gangguan tidur karena nyeri abdomen atau kecemasan, Lemas dan mudah lelah, Penurunan gerak janin 6. Nyeri dan Kenyamanan : Nyeri ringan–sedang pada perut bagian bawah, Ketidaknyamanan karena tekanan rahim yang lebih kaku (karena volume cairan rendah) 1. Keamanan dan Proteksi : Demam pada ibu
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang Anda berikan.
1. Respirasi:
Diagnosa Keperawatan: Pola Napas Tidak Efektif
SDKI Kode: 00032
Definisi: Ketidakmampuan untuk mempertahankan pola napas yang memberikan ventilasi adekuat.
SLKI Kode: L-0207
Definisi: Kemampuan seseorang untuk melakukan pernapasan secara efektif.
SIKI Kode: E-0202
Definisi: Tindakan untuk membantu mengatur pola napas dan ventilasi yang efektif.
2. Sirkulasi:
Diagnosa Keperawatan: Ketidakstabilan Hemodinamik
SDKI Kode: 00039
Definisi: Ketidakmampuan untuk mempertahankan tekanan darah, denyut jantung, dan curah jantung dalam batas normal.
SLKI Kode: S-0105
Definisi: Kemampuan seseorang untuk mempertahankan stabilitas sirkulasi.
SIKI Kode: C-0202
Definisi: Tindakan untuk mempertahankan stabilitas hemodinamik.
3. Nutrisi dan Cairan:
Diagnosa Keperawatan: Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
SDKI Kode: 00002
Definisi: Asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
SLKI Kode: N-0101
Definisi: Kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.
SIKI Kode: N-0101
Definisi: Tindakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.
4. Neurosensori:
Diagnosa Keperawatan: Kecemasan
SDKI Kode: 00146
Definisi: Perasaan tidak nyaman atau khawatir yang disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya.
SLKI Kode: M-0101
Definisi: Kemampuan seseorang untuk mengelola kecemasan.
SIKI Kode: M-0101
Definisi: Tindakan untuk membantu mengelola kecemasan.
5. Aktivitas dan Istirahat:
Diagnosa Keperawatan: Intoleransi Aktivitas
SDKI Kode: 00092
Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin.
SLKI Kode: A-0102
Definisi: Kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
SIKI Kode: A-0102
Definisi: Tindakan untuk membantu meningkatkan toleransi aktivitas.
6. Nyeri dan Kenyamanan:
Diagnosa Keperawatan: Nyeri Akut
SDKI Kode: 00132
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial.
SLKI Kode: N-0301
Definisi: Kemampuan seseorang untuk mengelola nyeri.
SIKI Kode: N-0301
Definisi: Tindakan untuk membantu mengelola nyeri.
7. Keamanan dan Proteksi:
Diagnosa Keperawatan: Risiko Infeksi
SDKI Kode: 00004
Definisi: Peningkatan risiko terpapar oleh agen biologis yang dapat menyebabkan penyakit.
SLKI Kode: S-0302
Definisi: Kemampuan seseorang untuk melindungi diri dari infeksi.
SIKI Kode: S-0302
Definisi: Tindakan untuk mencegah dan mengendalikan infeksi.
Harap perhatikan bahwa ini adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI yang sesuai dengan kondisi yang Anda berikan. Diagnosa dan intervensi keperawatan yang tepat harus ditentukan oleh perawat setelah melakukan pengkajian yang komprehensif pada pasien. -
Article No. 19689 | 16 Jul 2025
Klinis : 1. Respirasi : Dispnie ringan, Takipnie , saturasi Oksigen < 95% 2. Sirkulasi : Tekanan darah Normal atau meningkat bila ada preeklampsia sebagai penyerta, Pada janin: bradikardia atau variabilitas denyut jantung janin menurun (hasil CTG tidak reassuring). 3. Nutrisi dan Cairan : Nafsu makan menurun, Dehidrasi ringan hingga sedang, 4. Neurosensori : Cemas berlebihan, Sulit tidur karena stres, Pusing 5. Aktivitas dan Istirahat : Cepat lelah saat beraktivitas, Gangguan tidur karena nyeri abdomen atau kecemasan, Lemas dan mudah lelah, Penurunan gerak janin 6. Nyeri dan Kenyamanan : Nyeri ringan–sedang pada perut bagian bawah, Ketidaknyamanan karena tekanan rahim yang lebih kaku (karena volume cairan rendah) 1. Keamanan dan Proteksi : Demam pada ibu
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai seorang perawat, saya akan memberikan diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI dengan kode dan definisinya yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi yang Anda deskripsikan.
1. Respirasi:
Diagnosa Keperawatan: Pola Napas Tidak Efektif (00032)
SDKI: Perubahan dalam frekuensi, kedalaman, atau irama pernapasan yang dapat mengganggu ventilasi.
SLKI: Perbaikan pola napas.
SIKI: Manajemen Jalan Napas (6540).
2. Sirkulasi:
Diagnosa Keperawatan: Ketidakseimbangan Perfusi Jaringan Utero-Plasenta (00204)
SDKI: Kurangnya aliran darah ke plasenta yang dapat mengganggu pertukaran gas dan nutrisi janin.
SLKI: Peningkatan perfusi jaringan utero-plasenta.
SIKI: Manajemen Preeklampsia/Eklampsia (6720).
3. Nutrisi dan Cairan:
Diagnosa Keperawatan: Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh (00002)
SDKI: Asupan nutrisi yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
SLKI: Peningkatan asupan nutrisi.
SIKI: Manajemen Cairan (4120).
4. Neurosensori:
Diagnosa Keperawatan: Kecemasan (00146)
SDKI: Respon emosional dan perilaku terhadap sumber stres atau perubahan yang dirasakan.
SLKI: Penurunan kecemasan.
SIKI: Manajemen Kecemasan (5820).
5. Aktivitas dan Istirahat:
Diagnosa Keperawatan: Intoleransi Aktivitas (00092)
SDKI: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin.
SLKI: Peningkatan toleransi aktivitas.
SIKI: Manajemen Aktivitas (0200).
6. Nyeri dan Kenyamanan:
Diagnosa Keperawatan: Nyeri Akut (00132)
SDKI: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial.
SLKI: Penurunan nyeri.
SIKI: Manajemen Nyeri (1400).
7. Keamanan dan Proteksi:
Diagnosa Keperawatan: Hipertermia (00007)
SDKI: Peningkatan suhu tubuh di atas batas normal.
SLKI: Penurunan suhu tubuh.
SIKI: Manajemen Demam (3740).
Semoga penjelasan ini dapat membantu Anda dalam memahami diagnosa keperawatan dan manajemen terkait kondisi yang Anda deskripsikan. Jangan ragu untuk bertanya jika ada hal yang perlu dijelaskan lebih lanjut. -
Article No. 19690 | 16 Jul 2025
Klinis : gatal
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran/output yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk kondisi gatal berdasarkan standar SDKI, SLKI, dan SIKI.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi gatal adalah "Pruritus" berdasarkan Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI). Pruritus didefinisikan sebagai sensasi tidak menyenangkan pada kulit yang menimbulkan keinginan untuk menggaruk. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti alergi, infeksi, penyakit kulit, atau faktor psikologis.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan pasien dengan pruritus dapat mencapai luaran/output sebagai berikut berdasarkan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI):
1. Kontrol Gatal: Pasien mampu mengendalikan sensasi gatal pada kulit.
2. Integritas Kulit: Kulit pasien tetap dalam kondisi baik, tidak terjadi kerusakan akibat garukan.
3. Kenyamanan: Pasien merasakan kenyamanan setelah intervensi keperawatan.
4. Pengetahuan tentang Pruritus: Pasien memahami tentang pruritus, penyebab, dan cara penanganannya.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan (SIKI):
Untuk mencapai luaran/output yang diharapkan, diperlukan intervensi keperawatan yang sesuai berdasarkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), antara lain:
1. Manajemen Gatal:
- Identifikasi penyebab gatal dan faktor yang memperberat.
- Lakukan tindakan untuk mengurangi gatal, seperti pemberian pelembab, antihistamin, atau kompres dingin.
- Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi untuk mengurangi sensasi gatal.
- Beri edukasi tentang perawatan kulit dan cara menghindari faktor pemicu gatal.
2. Perawatan Kulit:
- Observasi kondisi kulit, ada tidaknya kerusakan akibat garukan.
- Lakukan perawatan kulit sesuai kebutuhan, seperti pemberian pelembab atau emolien.
- Ajarkan pasien tentang cara merawat kulit yang benar.
3. Manajemen Kenyamanan:
- Identifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kenyamanan pasien.
- Lakukan intervensi untuk meningkatkan kenyamanan, seperti pengaturan lingkungan, distraksi, atau pemberian analgesik.
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain jika diperlukan.
4. Edukasi Kesehatan:
- Berikan edukasi tentang pruritus, penyebab, dan penanganannya.
- Ajarkan teknik pengendalian gatal dan perawatan kulit yang tepat.
- Libatkan keluarga dalam pemberian edukasi untuk mendukung proses penyembuhan.
Dengan penerapan diagnosa keperawatan, luaran/output, dan intervensi keperawatan yang sesuai, diharapkan pasien dengan kondisi gatal (pruritus) dapat memperoleh perawatan yang komprehensif dan mencapai hasil yang optimal.