Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 19733 | 16 Jul 2025
Klinis : Klien datang dengan keluhan diare, BAB 5x, muntah, mual, panas. Muka pucat dan bising usus 40x/menit. Ibu klien mengatakan setiap perawat datang anaknya selalu rewel, tampak pucat, gelisah, khwatir, dan bingung. Score Children fear's yang didapat score 3. Diagnosa adalah gastroenteritis (GEA)
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi klien dengan gastroenteritis (GEA):
1. Risiko Dehidrasi berhubungan dengan kehilangan cairan dan elektrolit akibat diare dan muntah.
Penjelasan: Klien mengalami diare dan muntah yang dapat menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan, sehingga berisiko mengalami dehidrasi.
2. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
Penjelasan: Ibu klien mengatakan bahwa setiap perawat datang, anaknya selalu rewel, tampak pucat, gelisah, khawatir, dan bingung, yang menunjukkan adanya kecemasan pada klien terkait perubahan status kesehatannya.
3. Gangguan Tidur berhubungan dengan rasa tidak nyaman akibat gejala gastroenteritis.
Penjelasan: Gejala gastroenteritis seperti diare, muntah, dan rasa mual dapat menyebabkan rasa tidak nyaman pada klien, sehingga berpotensi mengganggu pola tidur klien.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Risiko Dehidrasi
a. Outcome: Cairan dan elektrolit dalam batas normal
b. Indikator:
- Intake dan output cairan seimbang
- Turgor kulit baik
- Membran mukosa lembab
- Tidak ada tanda-tanda dehidrasi
2. Kecemasan
a. Outcome: Tingkat kecemasan menurun
b. Indikator:
- Ekspresi wajah tenang
- Verbalisasi positif mengenai kondisi kesehatan
- Tidak ada perilaku cemas (rewel, gelisah)
3. Gangguan Tidur
a. Outcome: Pola tidur membaik
b. Indikator:
- Durasi tidur meningkat
- Terbangun sesedikit mungkin
- Merasa segar saat bangun tidur
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Risiko Dehidrasi
a. Pemantauan tanda-tanda vital dan status hidrasi
b. Pemberian cairan dan elektrolit sesuai kebutuhan
c. Edukasi terkait pentingnya intake cairan yang adekuat
2. Kecemasan
a. Teknik relaksasi (napas dalam, distraksi)
b. Pemberian informasi dan dukungan psikologis
c. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (dokter, psikolog) jika perlu
3. Gangguan Tidur
a. Manajemen lingkungan untuk meningkatkan kenyamanan tidur
b. Teknik relaksasi (musik, pijat)
c. Pengaturan pola istirahat dan tidur
Penjelasan tersebut mencakup diagnosa keperawatan, luaran yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk menangani kondisi klien dengan gastroenteritis (GEA) secara komprehensif. Harapannya, asuhan keperawatan yang diberikan dapat membantu klien mencapai kondisi yang optimal. -
Article No. 19675 | 16 Jul 2025
Klinis : pasien mengatakan demam dan pusing sejak kemarin td 90/60 s:36.5
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai seorang perawat, saya akan memberikan analisis yang rinci dan terperinci untuk kondisi pasien yang Anda berikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
Berdasarkan gejala yang dialami pasien, yaitu demam dan pusing sejak kemarin, serta tanda vital tekanan darah 90/60 mmHg dan suhu 36,5°C, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah:
1. Hipertermia Berhubungan dengan Proses Penyakit Akut
Definisi: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal, yang disebabkan oleh respons fisiologis tubuh terhadap proses penyakit akut.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah diberikan asuhan keperawatan yang tepat, diharapkan pasien dapat menunjukkan:
1. Suhu tubuh dalam rentang normal (36,5-37,5°C)
2. Tanda-tanda vital dalam batas normal
3. Ketidaknyamanan akibat demam dan pusing berkurang
4. Mampu beraktivitas tanpa kelelahan yang berlebihan
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai luaran yang diharapkan, intervensi keperawatan yang perlu dilakukan adalah:
1. Pemantauan Tanda-Tanda Vital
- Mengukur suhu tubuh, nadi, respirasi, dan tekanan darah secara rutin
- Memantau perubahan tanda-tanda vital dan melaporkan hasil pemantauan kepada tenaga kesehatan
2. Manajemen Demam
- Memberikan kompres hangat untuk menurunkan suhu tubuh
- Menganjurkan pasien mengonsumsi cairan yang cukup
- Memberikan obat penurun demam sesuai resep dokter
3. Manajemen Rasa Tidak Nyaman
- Memberikan analgesik sesuai resep dokter untuk mengurangi rasa pusing
- Mengatur lingkungan yang nyaman, seperti menjaga suhu ruangan dan pencahayaan yang sesuai
- Memberikan edukasi dan dukungan emosional kepada pasien
4. Peningkatan Aktivitas
- Menganjurkan pasien untuk beristirahat yang cukup
- Membantu pasien melakukan aktivitas sesuai dengan toleransinya
- Memantau tanda-tanda kelelahan dan mengatur aktivitas pasien
Dengan penerapan intervensi keperawatan yang komprehensif, diharapkan pasien dapat mencapai luaran yang diinginkan, yaitu penurunan suhu tubuh, stabilnya tanda-tanda vital, berkurangnya ketidaknyamanan, serta peningkatan kemampuan beraktivitas. -
Article No. 19676 | 16 Jul 2025
Klinis : pasien mengatakan demam dan pusing sejak kemarin td 90/60 s:36.5 (normal)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: **Diagnosa Keperawatan dan Penjelasan SDKI - SLKI - SIKI**
**Diagnosa Keperawatan:**
**Hipertermia (SDKI: 00007)**
*Definisi:* Suhu tubuh di atas rentang normal akibat ketidakmampuan tubuh dalam mengatur suhu.
**Subjektif:** Pasien mengeluh demam dan pusing sejak kemarin.
**Objektif:** TD 90/60 (hipotensi relatif), suhu 36,5°C (normal saat pengukuran, tetapi keluhan demam subjektif perlu diwaspadai).
---
### **Standar Diagnostik Keperawatan Indonesia (SDKI)**
**Kode: 00007 – Hipertermia**
*Definisi:* Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal yang diakibatkan oleh ketidakseimbangan antara produksi panas dan pelepasan panas.
**Faktor yang Berhubungan:**
- Dehidrasi
- Infeksi (potensial)
- Gangguan regulasi suhu
---
### **Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)**
**Kode: 0801 – Suhu Tubuh**
*Kriteria Luaran:*
- Suhu tubuh dalam rentang normal (36–37,2°C)
- Tidak ada keluhan demam atau menggigil
- Tekanan darah stabil
*Indikator:*
1. Suhu tubuh stabil (36–37,2°C)
2. Pasien tidak mengeluh pusing atau lemas
3. Tekanan darah dalam rentang normal
---
### **Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)**
**Kode: 3920 – Manajemen Hipertermia**
*Intervensi Utama:*
1. **Pantau suhu tubuh** secara berkala (setiap 2–4 jam).
2. **Berikan kompres hangat/dingin** sesuai indikasi.
3. **Anjurkan asupan cairan** yang adekuat untuk mencegah dehidrasi.
4. **Kolaborasi pemberian antipiretik** jika diperlukan.
5. **Evaluasi tanda vital** (terutama tekanan darah dan suhu).
**Kode: 1400 – Manajemen Cairan**
*Intervensi Pendukung:*
- Pantau tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, mukosa mulut).
- Anjurkan minum air putih atau cairan elektrolit jika diperlukan.
---
**Catatan:**
- Meskipun suhu saat pengukuran normal, keluhan demam subjektif dan hipotensi (TD 90/60) dapat mengindikasikan dehidrasi atau infeksi awal.
- Perlu pemantauan ketat terhadap perkembangan gejala dan tanda vital.
Semoga penjelasan ini membantu. Jika ada gejala tambahan atau perubahan kondisi, evaluasi ulang diagnosa keperawatan diperlukan.
*(Ditulis dalam format RTF, sesuai permintaan.)* -
Article No. 19677 | 16 Jul 2025
Klinis : post operasi dengan nadi 87 mengeluhkan nyeri bekas operasi di jempol kaki kiri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri Akut (00132)
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam istilah-istilah tersebut.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Kode: 00132
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam istilah-istilah tersebut.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Kode: 01301
Definisi: Status nyeri yang dapat dikendalikan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Kode: 00132
Definisi: Mencegah, mengurangi, atau menghilangkan rasa nyeri yang dialami oleh pasien.
Penjelasan singkat:
Pasien post operasi dengan nadi 87 mengeluhkan nyeri bekas operasi di jempol kaki kiri. Diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Nyeri Akut, yang merupakan pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah mencegah, mengurangi, atau menghilangkan rasa nyeri yang dialami oleh pasien. -
Article No. 19678 | 16 Jul 2025
Klinis : PAsien saat ini mengeluhkan nyeri pada seluruh lapang perut, puncak nyeri pada perut kiri atas. Keluhan demam disangkal, keluhan mual dan muntah ada. Asupan makan dan minum pasien berkurang sudah sejak 3 hari terakhir, karena merasa mual dan muntah. albumin 2,4 kalsium 7.6 Tensi 85/72 GDS 72
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi pasien tersebut adalah:
1. Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit, ditandai dengan keluhan nyeri pada seluruh lapang perut, puncak nyeri pada perut kiri atas.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Kontrol Nyeri
- Pasien dapat mengontrol nyeri dengan skor nyeri ≤ 3 dari skala 0-10.
- Pasien dapat menggunakan teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri.
- Pasien dapat melaporkan penurunan intensitas nyeri.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Nyeri
- Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif, termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor presipitasi nyeri.
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk memberikan analgetik sesuai kebutuhan.
- Ajarkan teknik non-farmakologis, seperti relaksasi, distraksi, dan kompres hangat/dingin, untuk mengurangi nyeri.
- Monitoring efektivitas intervensi dan respon pasien terhadap nyeri.
2. Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh berhubungan dengan asupan makan dan minum yang berkurang sejak 3 hari terakhir, ditandai dengan adanya mual, muntah, dan penurunan berat badan.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Status Nutrisi
- Pasien dapat mempertahankan berat badan sesuai dengan berat badan ideal.
- Pasien dapat mengkonsumsi makanan dan cairan sesuai kebutuhan.
- Pasien dapat menunjukkan tanda-tanda vital dalam batas normal.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Nutrisi
- Kaji status nutrisi pasien, termasuk asupan makan dan minum, berat badan, dan tanda-tanda vital.
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun rencana nutrisi yang sesuai dengan kondisi pasien.
- Berikan makanan dan cairan yang mudah dicerna dan dapat meningkatkan asupan nutrisi pasien.
- Monitor perkembangan status nutrisi pasien secara berkala.
- Edukasi pasien dan keluarga terkait pentingnya nutrisi yang adekuat untuk pemulihan.
Penjelasan rinci:
Diagnosa keperawatan SDKI yang sesuai dengan kondisi pasien adalah nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit, dan ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh. Hal ini didasarkan pada keluhan utama pasien, yaitu nyeri pada seluruh lapang perut dengan puncak di perut kiri atas, serta penurunan asupan makan dan minum karena mual dan muntah.
Luaran yang diharapkan adalah pasien dapat mengontrol nyeri, mempertahankan status nutrisi yang adekuat, dan menunjukkan tanda-tanda vital dalam batas normal. Intervensi keperawatan yang diperlukan adalah manajemen nyeri, yang meliputi pengkajian nyeri, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk pemberian analgetik, dan pengajaran teknik non-farmakologis. Selain itu, juga diperlukan manajemen nutrisi, termasuk pengkajian status nutrisi, kolaborasi dengan ahli gizi, pemberian makanan dan cairan yang sesuai, serta edukasi kepada pasien dan keluarga.
Tone yang digunakan dalam penjelasan ini adalah akademis, dengan persona seorang pakar atau perawat yang memberikan analisis dan rekomendasi yang rinci dan terperinci berdasarkan kondisi pasien. -
Article No. 19679 | 16 Jul 2025
Klinis : PAsien saat ini mengeluhkan nyeri pada seluruh lapang perut, puncak nyeri pada perut kiri atas. Keluhan demam disangkal, keluhan mual dan muntah ada. Asupan makan dan minum pasien berkurang sudah sejak 3 hari terakhir, karena merasa mual dan muntah. terpasang NGT produksi kehijauan pasien dipuasakan albumin 2,4 kalsium 7.6 Tensi 85/72 GDS 72
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi pasien tersebut adalah:
1. Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit, ditandai dengan keluhan nyeri pada seluruh abdomen, puncak nyeri pada kuadran kiri atas perut.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
a. Pasien akan melaporkan penurunan skala nyeri dari 8 menjadi 3 dalam 3 hari.
b. Pasien akan mendemonstrasikan teknik manajemen nyeri yang efektif.
c. Pasien akan menunjukkan tanda-tanda vital dalam rentang normal.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
a. Lakukan pengkajian nyeri komprehensif, termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor yang mempengaruhi nyeri.
b. Berikan analgesik sesuai dengan resep dokter untuk mengurangi nyeri.
c. Ajarkan teknik non-farmakologis untuk mengelola nyeri, seperti relaksasi, distraksi, dan kompres hangat.
d. Monitor tanda-tanda vital secara berkala untuk mengevaluasi efektivitas manajemen nyeri.
e. Kolaborasi dengan dokter untuk menentukan penyebab nyeri dan penanganan yang tepat.
2. Penurunan intake nutrisi berhubungan dengan mual dan muntah, ditandai dengan asupan makan dan minum yang berkurang sejak 3 hari terakhir.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
a. Pasien akan menunjukkan peningkatan berat badan sebesar 2 kg dalam 1 minggu.
b. Pasien akan mendemonstrasikan peningkatan asupan makanan dan cairan yang adekuat.
c. Pasien akan menunjukkan pemeriksaan laboratorium yang membaik (albumin, kalsium).
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
a. Kaji status nutrisi pasien, termasuk riwayat asupan, berat badan, dan pemeriksaan laboratorium.
b. Berikan nutrisi enteral melalui NGT sesuai dengan kebutuhan pasien.
c. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk merencanakan dan menyesuaikan kebutuhan nutrisi pasien.
d. Monitor intake dan output cairan, serta tanda-tanda dehidrasi.
e. Berikan antiemetik sesuai resep dokter untuk mengurangi mual dan muntah.
f. Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya asupan nutrisi yang adekuat.
Penjelasan rinci:
Diagnosa keperawatan yang pertama, "Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit", didasarkan pada keluhan pasien tentang nyeri pada seluruh abdomen, dengan puncak nyeri di kuadran kiri atas perut. Hal ini mengindikasikan adanya proses patologis yang terjadi di dalam tubuh pasien. Luaran yang diharapkan adalah penurunan skala nyeri, kemampuan pasien untuk mengelola nyeri, dan stabilitas tanda-tanda vital. Intervensi keperawatan yang diperlukan mencakup pengkajian nyeri, pemberian analgesik, teknik non-farmakologis, serta kolaborasi dengan dokter untuk menentukan penyebab dan penanganan yang tepat.
Diagnosa keperawatan yang kedua, "Penurunan intake nutrisi berhubungan dengan mual dan muntah", didasarkan pada keluhan pasien tentang penurunan asupan makan dan minum sejak 3 hari terakhir, serta adanya mual dan muntah. Hal ini mengindikasikan gangguan nutrisi dan risiko malnutrisi. Luaran yang diharapkan adalah peningkatan berat badan, peningkatan asupan makanan dan cairan yang adekuat, serta perbaikan pemeriksaan laboratorium (albumin, kalsium). Intervensi keperawatan yang diperlukan mencakup pengkajian status nutrisi, pemberian nutrisi enteral melalui NGT, kolaborasi dengan ahli gizi, monitor intake-output, pemberian antiemetik, serta edukasi pasien dan keluarga.
Secara keseluruhan, asuhan keperawatan yang diberikan bertujuan untuk mengatasi nyeri dan mempertahankan status nutrisi pasien, sehingga kondisi pasien dapat membaik dan proses penyembuhan dapat berlangsung dengan optimal. -
Article No. 19680 | 16 Jul 2025
Klinis : pasien dengan HT urgensi RPD : HT tidak terkontrol sudah 8 bulan tidak mnum obat
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi pasien yang diberikan, dengan hipertensi urgensi yang tidak terkontrol selama 8 bulan karena tidak minum obat, berikut adalah Diagnosa Keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Kardiak (00201)
- SDKI: Ketidakmampuan sirkulasi darah yang adekuat ke jantung untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
- SLKI: Mempertahankan sirkulasi darah yang adekuat ke jantung.
- SIKI: Manajemen Perfusi Kardiak (10027).
2. Risiko Hipertensi Tidak Terkendali (00268)
- SDKI: Risiko ketidakmampuan untuk mempertahankan tekanan darah sistolik dan diastolik dalam rentang normal.
- SLKI: Mempertahankan tekanan darah sistolik dan diastolik dalam rentang normal.
- SIKI: Manajemen Hipertensi (10024).
3. Ketidakpatuhan (00079)
- SDKI: Perilaku individu yang tidak sesuai dengan rencana pengobatan atau kesehatan yang disepakati antara individu dan tenaga kesehatan.
- SLKI: Menunjukkan perilaku yang sesuai dengan rencana pengobatan atau kesehatan yang disepakati.
- SIKI: Peningkatan Kepatuhan (6610).
Penjelasan singkat:
1. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Kardiak (00201):
- Pasien dengan hipertensi urgensi memiliki risiko gangguan perfusi darah ke jantung, yang dapat menyebabkan komplikasi kardiovaskular.
- Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah Manajemen Perfusi Kardiak (10027), yang bertujuan untuk mempertahankan sirkulasi darah yang adekuat ke jantung.
2. Risiko Hipertensi Tidak Terkendali (00268):
- Pasien dengan hipertensi urgensi yang tidak terkontrol selama 8 bulan memiliki risiko hipertensi yang tidak terkendali.
- Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah Manajemen Hipertensi (10024), yang bertujuan untuk mempertahankan tekanan darah sistolik dan diastolik dalam rentang normal.
3. Ketidakpatuhan (00079):
- Pasien dengan hipertensi urgensi yang tidak minum obat selama 8 bulan menunjukkan perilaku ketidakpatuhan terhadap pengobatan.
- Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah Peningkatan Kepatuhan (6610), yang bertujuan untuk meningkatkan perilaku yang sesuai dengan rencana pengobatan atau kesehatan yang disepakati. -
Article No. 19681 | 16 Jul 2025
Klinis : desa yang memiliki jumlah balita yang terancam terkena penyakit kuning, orang tua yang memiliki bayi dengan berat lahir yang kurang ( Prematur ), bayi yang tidak memiliki asupan ASI yang cukup, dan tinggal didaerah yang jauh dengan fasilitas kesehatan, serta tinggal di lingkungan yang kurang memahami akan bahayanya penyakit kuning.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI sesuai dengan kondisi yang Anda berikan, dengan tone akademis dan persona seorang pakar perawat.
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Hiperbilirubinemia Neonatus (00118)
Definisi: Keadaan di mana bayi baru lahir berisiko mengalami peningkatan kadar bilirubin dalam darah yang dapat menyebabkan kerusakan otak.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Kode: 00118
Definisi: Keadaan di mana bayi baru lahir berisiko mengalami peningkatan kadar bilirubin dalam darah yang dapat menyebabkan kerusakan otak.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Kode: 00700
Definisi: Bayi baru lahir menunjukkan kadar bilirubin dalam batas normal.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Kode: 00118
Definisi: Serangkaian tindakan yang dilakukan untuk mencegah, mengurangi, atau mengatasi risiko peningkatan kadar bilirubin pada bayi baru lahir.
2. Ketidakefektifan Menyusui (00107)
Definisi: Keadaan di mana bayi mengalami kesulitan atau ketidakmampuan untuk menyusu dengan efektif.
SDKI:
Kode: 00107
Definisi: Keadaan di mana bayi mengalami kesulitan atau ketidakmampuan untuk menyusu dengan efektif.
SLKI:
Kode: 00501
Definisi: Bayi menunjukkan kemampuan menyusu yang efektif.
SIKI:
Kode: 00107
Definisi: Serangkaian tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan bayi dalam menyusu secara efektif.
Dengan kondisi yang Anda berikan, yaitu desa yang memiliki jumlah balita yang terancam terkena penyakit kuning, orang tua yang memiliki bayi dengan berat lahir yang kurang (prematur), bayi yang tidak memiliki asupan ASI yang cukup, dan tinggal di daerah yang jauh dari fasilitas kesehatan serta lingkungan yang kurang memahami bahayanya penyakit kuning, maka diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Risiko Hiperbilirubinemia Neonatus dan Ketidakefektifan Menyusui. -
Article No. 19682 | 16 Jul 2025
Klinis : Remaja laki-laki perokok aktif berisiko tinggi mengalami gangguan pada rongga mulut seperti sariawan kronis, bercak putih atau merah, hingga risiko kanker mulut akibat paparan zat karsinogenik dari rokok. Kurangnya pengetahuan tentang tanda awal kanker mulut serta tidak adanya upaya deteksi dini menyebabkan keterlambatan dalam penanganan. Oleh karena itu, edukasi mengenai deteksi dini dan pencegahan kanker mulut menjadi penting sebagai upaya promotif dan preventif untuk melindungi kesehatan kelompok remaja ini di masa depan.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dalam kasus seorang remaja laki-laki perokok aktif yang berisiko tinggi mengalami gangguan pada rongga mulut, berikut adalah diagnosa keperawatan, penjelasan singkat, kode, dan definisi dari SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Kanker Mulut (RISKANMUL - SDKI)
Definisi: Rentan terkena kanker mulut karena paparan zat karsinogenik dari rokok.
2. Kurang Pengetahuan (KURANGPENG - SDKI)
Definisi: Kekurangan informasi kognitif yang berkaitan dengan kondisi/masalah kesehatan.
Luaran Keperawatan:
1. Pengetahuan tentang Deteksi Dini Kanker Mulut (PENGETDKL - SLKI)
Definisi: Pemahaman tentang tanda dan gejala awal kanker mulut serta pentingnya deteksi dini.
2. Perilaku Kesehatan Preventif (PRILKESHEP - SLKI)
Definisi: Tindakan yang dilakukan untuk mencegah timbulnya masalah kesehatan.
Intervensi Keperawatan:
1. Edukasi Kesehatan (EDUKKES - SIKI)
Definisi: Pemberian informasi kesehatan yang terencana untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang mendukung kesehatan.
2. Konseling Berhenti Merokok (KONSBER - SIKI)
Definisi: Pemberian bantuan, dukungan, dan motivasi untuk berhenti merokok.
3. Deteksi Dini Kanker Mulut (DETDKAM - SIKI)
Definisi: Pemeriksaan untuk mengidentifikasi tanda dan gejala awal kanker mulut.
Dalam kasus ini, penting untuk memberikan edukasi kesehatan terkait deteksi dini dan pencegahan kanker mulut, serta konseling berhenti merokok untuk mendukung remaja laki-laki perokok aktif dalam menjaga kesehatan rongga mulutnya di masa depan. -
Article No. 19683 | 16 Jul 2025
Klinis : Remaja laki-laki perokok aktif berisiko tinggi mengalami gangguan pada rongga mulut seperti sariawan kronis, bercak putih atau merah, hingga risiko kanker mulut akibat paparan zat karsinogenik dari rokok. Kurangnya pengetahuan tentang tanda awal kanker mulut serta tidak adanya upaya deteksi dini menyebabkan keterlambatan dalam penanganan. Oleh karena itu, edukasi mengenai deteksi dini dan pencegahan kanker mulut menjadi penting sebagai upaya promotif dan preventif untuk melindungi kesehatan kelompok remaja ini di masa depan.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
1. Risiko Kanker Mulut
- Definisi: Keadaan individu yang berisiko tinggi mengalami kanker mulut akibat paparan zat karsinogenik dari rokok.
- Faktor Risiko: Merokok, kurangnya pengetahuan tentang tanda awal kanker mulut, tidak melakukan deteksi dini.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Pengetahuan: Peningkatan Pengetahuan tentang Kanker Mulut
- Definisi: Tingkat pemahaman individu tentang konsep, proses, prosedur, atau informasi yang berkaitan dengan kanker mulut.
- Kriteria Hasil:
a. Individu dapat menjelaskan pengertian kanker mulut.
b. Individu dapat menyebutkan faktor risiko kanker mulut.
c. Individu dapat menjelaskan tanda dan gejala awal kanker mulut.
d. Individu dapat menjelaskan pentingnya deteksi dini kanker mulut.
2. Perilaku Kesehatan: Peningkatan Perilaku Pencegahan Kanker Mulut
- Definisi: Tindakan yang dilakukan individu untuk mencegah atau mengurangi risiko terjadinya kanker mulut.
- Kriteria Hasil:
a. Individu melakukan pemeriksaan rutin untuk deteksi dini kanker mulut.
b. Individu berhenti merokok atau mengurangi konsumsi rokok.
c. Individu menerapkan pola hidup sehat untuk mencegah kanker mulut.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Edukasi Kesehatan: Edukasi tentang Kanker Mulut
- Definisi: Pemberian informasi dan pemahaman tentang kanker mulut, termasuk pengertian, faktor risiko, tanda dan gejala, serta pentingnya deteksi dini.
- Aktivitas:
a. Memberikan penjelasan tentang pengertian kanker mulut.
b. Mengidentifikasi faktor risiko kanker mulut, terutama yang berkaitan dengan merokok.
c. Menjelaskan tanda dan gejala awal kanker mulut.
d. Menekankan pentingnya melakukan deteksi dini untuk mencegah keterlambatan penanganan.
e. Memberikan materi edukasi dalam bentuk leaflet, poster, atau media lainnya.
2. Dukungan Berhenti Merokok
- Definisi: Pemberian dukungan dan motivasi untuk membantu individu berhenti atau mengurangi konsumsi rokok.
- Aktivitas:
a. Mengkaji kesiapan individu untuk berhenti merokok.
b. Memberikan motivasi dan dukungan untuk berhenti merokok.
c. Mengidentifikasi strategi yang efektif untuk berhenti merokok, seperti terapi pengganti nikotin atau konseling.
d. Memantau progres individu dalam upaya berhenti merokok.
e. Memberikan penguatan positif terhadap setiap kemajuan yang dicapai.
3. Skrining Kesehatan: Skrining Kanker Mulut
- Definisi: Pemeriksaan awal untuk mendeteksi adanya tanda atau gejala awal kanker mulut.
- Aktivitas:
a. Melakukan pemeriksaan visual rongga mulut untuk mengidentifikasi adanya lesi, bercak, atau perubahan pada jaringan.
b. Merujuk individu ke fasilitas kesehatan yang kompeten untuk pemeriksaan lebih lanjut jika ditemukan kelainan.
c. Memberikan edukasi tentang pentingnya melakukan pemeriksaan rutin untuk deteksi dini kanker mulut.
Dengan pemberian asuhan keperawatan yang komprehensif, diharapkan remaja laki-laki perokok aktif dapat meningkatkan pengetahuan, mengubah perilaku, dan melakukan deteksi dini untuk mencegah terjadinya kanker mulut di masa depan.