Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23207 | 07 Dec 2025
Klinis : Keluarga inti ini dipimpin oleh seorang kepala keluarga berinisial E, berusia 35 tahun dengan pendidikan terakhir SMA dan saat ini bekerja sebagai pedagang. Sementara sang istri, Ibu V, berusia 30 tahun dengan pendidikan terakhir S1 dan berprofesi sebagai karyawan perusahaan, pedagang, ibu rumah tangga. keluarga ini tinggal di Ngebel RT 08 dan tidak tinggal sendiri. Satu rumah dihuni oleh 12 orang sekitar 3-4 KK. Bapak mertua dari Ibu V telah meninggal dunia pada usia sekitar 70-an tahun karena penyakit lambung yang diduga telah lama diidap hingga muntah darah. Ibu mertua masih sehat dan tidak memiliki masalah kesehatan saat ini usianya pada kisaran 70-an tahun. Dari pasutri ini lahir lima anak: X, laki-laki, memiliki riwayat epilepsi Y, laki-laki K, laki-laki E, laki-laki, 35 tahun, TD tinggi, merokok, begadang, sakit punggung dan perut yang menyerupai dengan awal tanda gejala penyakir Alm. Bapak S, perempuan Orang tua Ibu V keduanya masih sehat-wal afiat. Sang Ibu kini berusia sekitar 60-an tahun dengan mengidap DM dan rutin insulin. Dari pasutri ini lahir tiga anak: V, perempuan, 30 tahun O, perempuan, riwayat epilepsi H, perempuan Dari keluarga ini, Ibu V mengatakan tidak ada yang memiliki tanda-gejala DM Bapak E dan Ibu V menikah pada tahun 2011. Pasutri ini dikaruniai dua anak: perempuan berusia 14 tahun laki-laki 3 tahun, riwayat epilepsi ketika demam (berulang) Tipe keluarga ini termasuk tipe keluarga extended family karena terdapat sanak keluarga yang tinggal pada satu rumah. Bapak E berasal dari Lampung sementara Ibu V berasal dari Yogyakarta. Bahasa yang digunakan sehari-hari campur antara indonesia dan jawa. Ibu V mengaku pernah mengalami culture shock karena perbedaan budaya antara Bapak E dan Ibu V, namun saat ini itu sudah tidak menjadi permasalahan lagi bahkan saat ini Ibu V mulai sedikit-sedikit memahami bahasa Lampung. Mengenali adanya masalah yang dialami oleh keluarga Ibu V selalu menyediakan obat-obatan dan memperbanyak minum untuk menghindari penyakit. Ibu V mengatakan beliau tidak mempercayai jamu ataupun mitos, beliau lebih baik untuk segera ke puskesmas atau klinik terdekat untuk konsultasi. Namun, terkadang dokter yang menangani kurang informatif sehingga Ibu V kebingungan harus melakukan apa. Selain itu, Ibu V mengatakan bahwa dirinya terkadang merasa tertekan dan khawatir dengan kesehatan suami dan anak terakhirnya karena sering terulang dan suaminya tidak menghiraukan nasihatnya untuk tidak merokok. Dari segi sosial dan ekonomi, pasangan pasutri ini keduanya aktif bekerja. Anak pertama mereka saat ini SMP dan anak terakhir belum bersekolah. Rata-rata gaji setara dengan UMR Yogyakarta. Ibu V mengatakan bahwa dirinya hanya diberikan uang harian untuk urusan rumah tangga oleh suaminya sebesar Rp 50.000 perhari. Rp 20.000 digunakan untuk uang jajan anak-anaknya sedangkan Rp 30.000 digunakan untuk membeli bahan baku makanan. Tabungan dan juga dana darurat beliau tidak tahu menahu karena uang dipegang suaminya. Namun, beliau juga menyatakan bahwa suaminya selalu mengusahakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan Ibu V juga tetap bersyukur dengan keadaannya saat ini. Keluarga ini memiliki motor untuk bepergian. Aktivitas rekreasi yang dilakukan oleh keluarga ini hanya sekedar kumpul bersama pada sore hari setelah pulang kerja sembari menonton TV, jarang untuk jalan-jalan keluar kecuali hari spesial. Bapak E biasanya memancing atau pergi keluar untuk rekreasi sedangkan Ibu V mengaku dirinya tidak pernah keluar untuk jalan-jalan sendiri. Hanya menonton TV atau drama dari ponselnya. Tahap keluarga saat ini pada tahap V dimana anak tertua saat ini sudah berusia 14 tahun dan tengah mengalami pubertas. Ibu V mengatakan anaknya saat ini sedang cuek jika diajak berbincang secara langsung sehingga Ibu V memilih untuk berbicara melalui WA untuk mempertahankan komunikasi. Ibu V juga mengatakan untuk anaknya sendiri masih sulit untuk berinisiatif membersihkan rumah atau kamarnya jadi masih perlu diingatkan berulang kali dan juga untuk batasan perizinan main baik dari Bapak E dan Ibu V hanya mengizinkan hingga pukul 21.00 WIB setelah itu harus pulang. Pada tahap perkembangan keluarga ini tugas keluarga hampir selesai.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Manajemen Regimen Terapeutik Keluarga
Kode SDKI: D.0187
Deskripsi Singkat: Risiko kerusakan kemampuan keluarga untuk mengintegrasikan dan melaksanakan program pengobatan dan promosi kesehatan ke dalam aktivitas sehari-hari untuk mencapai tujuan kesehatan.
Kode SLKI: L.15032
Deskripsi : Keluarga mampu mengelola regimen terapeutik. Kriteria hasil: 1) Mengidentifikasi regimen terapeutik yang diperlukan anggota keluarga. 2) Menjelaskan pentingnya pelaksanaan regimen terapeutik. 3) Melaksanakan regimen terapeutik sesuai anjuran. 4) Memodifikasi lingkungan untuk mendukung pelaksanaan regimen terapeutik. 5) Memantau respons terhadap regimen terapeutik. 6) Memanfaatkan sistem pelayanan kesehatan yang sesuai.
Kode SIKI: I.15249
Deskripsi : Fasilitasi manajemen regimen terapeutik keluarga. Intervensi: 1) Diskusikan dengan keluarga tentang regimen terapeutik yang harus dilakukan (pengobatan epilepsi anak, manajemen hipertensi dan gaya hidup Bapak E, pencegahan kejang demam, manajemen DM pada nenek). 2) Diskusikan pentingnya kepatuhan terhadap regimen terapeutik dan konsekuensi ketidakpatuhan. 3) Bantu keluarga mengidentifikasi hambatan dalam pelaksanaan regimen terapeutik (misal: suami tidak menghiraukan nasihat, kebingungan karena informasi dokter kurang jelas, pengelolaan keuangan yang terpusat pada suami). 4) Bantu keluarga mengembangkan strategi untuk mengatasi hambatan (misal: komunikasi efektif, mencari informasi kesehatan dari sumber terpercaya, perencanaan keuangan untuk kesehatan). 5) Ajarkan keluarga teknik perekaman/pemantauan gejala dan pemberian obat (khususnya untuk epilepsi dan hipertensi). 6) Anjurkan keluarga untuk menyiapkan daftar pertanyaan sebelum konsultasi ke fasilitas kesehatan. 7) Fasilitasi keluarga untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia (puskesmas, klinik). 8) Berikan pujian atas upaya yang telah dilakukan keluarga (seperti menyediakan obat dan memperbanyak minum).
Kondisi: Kecemasan
Kode SDKI: D.0012
Deskripsi Singkat: Perasaan tidak nyaman yang samar atau ancaman yang tidak jelas dari sumber yang tidak diketahui, dialami oleh seorang individu (dalam hal ini Ibu V sebagai anggota keluarga).
Kode SLKI: L.14004
Deskripsi : Kontrol kecemasan. Kriteria hasil: 1) Mengidentifikasi tanda dan gejala kecemasan. 2) Mengidentifikasi penyebab kecemasan. 3) Menggunakan strategi koping untuk mengontrol kecemasan. 4) Melaporkan penurunan tingkat kecemasan (baik secara subjektif maupun objektif). 5) Menunjukkan perilaku yang sesuai (tidak mudah tersinggung, dapat istirahat/tidur).
Kode SIKI: I.14032
Deskripsi : Manajemen kecemasan. Intervensi: 1) Dengarkan dengan penuh perhatian keluhan Ibu V tentang kekhawatirannya terhadap kesehatan suami dan anak, serta perasaannya yang tertekan. 2) Bantu Ibu V mengidentifikasi situasi yang memicu kecemasan (kekambuhan epilepsi anak, perilaku kesehatan suami yang tidak mendukung, ketidakpuasan terhadap informasi dari dokter). 3) Ajarkan teknik relaksasi sederhana (seperti napas dalam). 4) Anjurkan untuk mengekspresikan perasaan secara asertif kepada suami mengenai kekhawatirannya. 5) Diskusikan pentingnya waktu untuk diri sendiri (me-time) dan dukung untuk menemukan aktivitas rekreasi yang menenangkan. 6) Bantu Ibu V mengevaluasi cara koping yang telah digunakan (menonton drama) dan efektivitasnya. 7) Berikan informasi yang akurat tentang penyakit epilepsi, hipertensi, dan faktor risikonya untuk mengurangi kecemasan akibat ketidaktahuan.
Kondisi: Ketidakefektifan Komunikasi Keluarga
Kode SDKI: D.0028
Deskripsi Singkat: Pola pertukaran informasi verbal dan/atau nonverbal yang tidak adekuat antara anggota keluarga (pasangan suami-istri dan orang tua-anak).
Kode SLKI: L.03005
Deskripsi : Komunikasi keluarga efektif. Kriteria hasil: 1) Anggota keluarga menyampaikan pikiran dan perasaan secara terbuka. 2) Anggota keluarga saling mendengarkan dengan penuh perhatian. 3) Anggota keluarga menunjukkan saling menghargai dalam berkomunikasi. 4) Konflik dapat diselesaikan dengan cara yang konstruktif. 5) Adanya diskusi untuk pengambilan keputusan keluarga.
Kode SIKI: I.03028
Deskripsi : Peningkatan komunikasi keluarga. Intervensi: 1) Diskusikan pentingnya komunikasi terbuka dalam keluarga. 2) Identifikasi bersama hambatan komunikasi (kesibukan kerja, perbedaan latar belakang budaya, tahap perkembangan anak remaja yang "cuek", pola asuh otoriter pada izin main). 3) Anjurkan untuk menciptakan waktu khusus untuk komunikasi keluarga tanpa gangguan TV/HP. 4) Ajarkan keterampilan komunikasi efektif, seperti "I-message" (contoh: "Saya khawatir jika Bapak merokok, karena bisa memperparah tekanan darah tinggi") daripada menyalahkan. 5) Fasilitasi orang tua (khususnya Ibu V) untuk memahami karakteristik komunikasi dengan remaja. 6) Beri apresiasi pada upaya komunikasi yang sudah baik, seperti penggunaan WA untuk berkomunikasi dengan anak remaja. 7) Dorong suami-istri untuk berdiskusi tentang pengelolaan keuangan keluarga, termasuk alokasi dana untuk kesehatan dan darurat.
Kondisi: Kesiapan Meningkatkan Pengasuhan
Kode SDKI: D.0099
Deskripsi Singkat: Pola memberikan lingkungan, promosi pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serta pengasuhan yang mendukung bagi pengasuh utama (orang tua) yang dapat ditingkatkan.
Kode SLKI: L.06020
Deskripsi : Pengasuhan optimal. Kriteria hasil: 1) Orang tua menyediakan lingkungan yang aman dan mendukung. 2) Orang tua memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis anak sesuai tahap perkembangan. 3) Orang tua menerapkan disiplin yang konsisten dan sesuai usia. 4) Orang tua mendorong kemandirian anak. 5) Orang tua memantau pertumbuhan dan perkembangan anak.
Kode SIKI: I.06040
Deskripsi : Dukungan pengasuhan. Intervensi: 1) Diskusikan tugas perkembangan keluarga tahap V (keluarga dengan remaja) dan karakteristik anak remaja serta prasekolah. 2) Bantu orang tua mengidentifikasi kebutuhan pengasuhan khusus untuk anak dengan riwayat epilepsi/kejang demam (pengawasan, pemberian obat, edukasi ke sekolah). 3) Diskusikan strategi untuk meningkatkan kemandirian dan tanggung jawab anak remaja dalam membantu pekerjaan rumah tanpa terus diingatkan. 4) Diskusikan pentingnya dan cara menetapkan batasan (curfew) yang realistis dan disepakati bersama dengan anak remaja. 5) Berikan informasi tentang perkembangan remaja, termasuk perubahan psikososial dan kebutuhan privasi. 6) Dukung orang tua untuk menyediakan waktu berkualitas (quality time) meski dalam kesibukan kerja. 7) Anjurkan untuk melibatkan anak dalam aktivitas rekreasi keluarga sederhana.
-
Article No. 23208 | 07 Dec 2025
Klinis : Perifer
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Penyakit Vaskular Perifer
Kode ICD-10: I73.9
Deskripsi Singkat : Istilah "Perifer" dalam konteks medis umumnya merujuk pada penyakit vaskular perifer (PVD/PAD), yaitu gangguan sirkulasi yang mempengaruhi pembuluh darah di luar jantung dan otak, terutama di arteri yang menyuplai darah ke tungkai. Kode I73.9 mengindikasikan "Penyakit vaskular perifer, tidak spesifik". Kondisi ini sering disebabkan oleh aterosklerosis (penumpukan plak di dinding arteri) yang menyebabkan penyempitan atau penyumbatan, mengurangi aliran darah ke ekstremitas. Gejala khas termasuk klaudikasio intermiten (nyeri otot saat beraktivitas yang hilang saat istirahat), kaki terasa dingin, kulit pucat atau kebiruan, luka yang sulit sembuh di kaki, dan pada kasus berat dapat terjadi gangren. Kode ini digunakan ketika dokumentasi klinis tidak menyebutkan etiologi yang lebih spesifik seperti aterosklerosis (I70.2-) atau penyakit oklusif arteri perifer. Penentuan kode yang lebih tepat memerlukan informasi detail mengenai lokasi anatomi, penyebab, dan ada/tidaknya komplikasi seperti ulserasi atau gangren.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23171 | 06 Dec 2025
Klinis : Berdasarkan hasil observasi aktivitas pasien, Ny. R terlihat gelisah dengan pasien sering mondar-mandir di dalam ruang perawatan. pasien cukup kooperatif saat berinteraksi dengan orang lain, Kontak mata ada. Namun terkadang, wajah pasien berubah menjadi tegang, mudah tersinggung dan wajahnya memerah. pasien mengatakan sering memendam perasaan dan masalah dan tidak mau bercerita dengan orang lain baik itu orang tua, maupun saudaranya.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: 0009
Deskripsi Singkat: Ansietas adalah perasaan tidak nyaman atau ketakutan yang disertai dengan respons otonom (sumber respons seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu); perasaan was-was karena antisipasi terhadap bahaya. Ini adalah sinyal peringatan adanya ancaman yang akan datang, memungkinkan individu untuk mengambil tindakan untuk menghadapi ancaman tersebut.
Kode SLKI: 1301
Deskripsi : Kontrol Ansietas. Deskripsi: Kemampuan individu untuk mengurangi atau menghilangkan perasaan tegang, gelisah, dan khawatir yang dialami. Pada kasus Ny. R, tujuan keperawatan adalah meningkatkan kontrol terhadap ansietas yang dialami. Indikator pencapaiannya meliputi: 1) Mengidentifikasi tanda dan gejala ansietas yang dialami, 2) Mengidentifikasi faktor penyebab ansietas, 3) Melaporkan penurunan perasaan tegang dan gelisah, 4) Menunjukkan ekspresi wajah yang rileks dan postur tubuh yang tenang, 5) Menunjukkan kemampuan untuk beristirahat dan tidur dengan adekuat, serta 6) Menggunakan strategi koping yang adaptif untuk mengatasi ansietas. Dari kondisi Ny. R, terlihat bahwa ia belum mampu mengontrol ansietasnya dengan baik, ditandai dengan perilaku mondar-mandir, wajah tegang, mudah tersinggung, dan memendam perasaan.
Kode SIKI: 4510
Deskripsi : Manajemen Ansietas. Deskripsi: Tindakan keperawatan untuk membantu individu mengenali dan mengurangi perasaan gelisah, khawatir, dan ketakutan. Intervensi ini sangat relevan untuk Ny. R dan mencakup serangkaian tindakan yang terstruktur. Pertama, perawat perlu menciptakan lingkungan yang terapeutik dan membangun hubungan saling percaya (trust). Kedua, mendorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, dan kekhawatirannya, serta mendengarkan dengan penuh perhatian dan empati tanpa menghakimi. Ketiga, membantu pasien mengidentifikasi penyebab ansietas dan tanda-tandanya (seperti mondar-mandir, wajah memerah, dan mudah tersinggung). Keempat, mengajarkan teknik relaksasi sederhana seperti napas dalam (deep breathing) atau relaksasi progresif untuk mengurangi ketegangan fisik. Kelima, membantu pasien mengeksplorasi dan mengidentifikasi mekanisme koping yang biasa digunakan serta mendorong pengembangan koping yang lebih adaptif, seperti berbicara dengan orang terpercaya daripada memendam masalah. Keenam, memberikan informasi yang akurat tentang kondisinya untuk mengurangi ansietas akibat ketidaktahuan. Ketujuh, melibatkan keluarga jika memungkinkan, untuk memberikan dukungan sosial. Tindakan-tindakan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran diri pasien terhadap kondisinya, memberikan alat untuk mengelola gejala, dan pada akhirnya mencapai outcome kontrol ansietas (SLKI 1301) di mana pasien dapat melaporkan dan menunjukkan penurunan gejala ansietas serta menggunakan strategi koping yang efektif.
-
Article No. 23172 | 06 Dec 2025
Klinis : nyeri akut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 00032
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau menyerupai kerusakan jaringan yang berlangsung kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 1400
Deskripsi : Kontrol Nyeri. SLKI ini menggambarkan hasil keperawatan yang diharapkan, yaitu pasien mampu mengontrol nyeri. Kriteria hasilnya meliputi: 1) Pasien melaporkan nyeri dapat ditoleransi atau terkontrol; 2) Menunjukkan perilaku untuk mengontrol nyeri (misalnya, istirahat, teknik relaksasi); 3) Mematuhi regimen pengobatan nyeri yang ditentukan; 4) Fungsi fisik dan psikologis membaik; 5) Tanda-tanda vital dalam rentang normal; serta 6) Menunjukkan pengetahuan tentang penyebab nyeri dan manajemennya. Tujuan akhirnya adalah mengurangi persepsi nyeri, meningkatkan kenyamanan, dan meminimalkan dampak nyeri pada aktivitas hidup sehari-hari. Perawat berperan dalam memfasilitasi pencapaian kriteria ini melalui intervensi yang komprehensif.
Kode SIKI: 1401
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi keperawatan ini adalah tindakan yang dilakukan perawat untuk membantu mengurangi atau menghilangkan nyeri. Aktivitasnya sangat komprehensif dan meliputi: 1) Melakukan pengkajian nyeri yang komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, intensitas menggunakan skala, dan faktor pemicu/pereda). 2) Memantau faktor-faktor yang dapat memperberat atau meringankan nyeri. 3) Memberikan obat analgesik sesuai resep, mempertimbangkan rute pemberian, dan memantau efek serta efek sampingnya. 4) Menggunakan pendekatan non-farmakologis seperti teknik distraksi (mendengarkan musik, menonton TV), relaksasi (nafas dalam, guided imagery), terapi panas/dingin, masase, dan posisi yang nyaman. 5) Memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga tentang regimen terapi nyeri, teknik manajemen nyeri non-farmakologis, dan pentingnya melaporkan nyeri secara dini. 6) Menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk mendukung istirahat. 7) Melibatkan keluarga dalam perawatan untuk memberikan dukungan emosional dan bantuan dalam teknik non-farmakologis. 8) Mengevaluasi efektivitas intervensi yang diberikan dan menyesuaikan rencana perawatan berdasarkan respons pasien. Intervensi ini bersifat holistik, menggabungkan pendekatan biopsikososio-spiritual, dan menekankan pada keamanan serta pemberdayaan pasien untuk mengelola nyerinya sendiri. Prinsip utamanya adalah nyeri adalah pengalaman subjektif, sehingga laporan pasien adalah yang paling utama dan harus dihargai. Manajemen nyeri yang efektif tidak hanya meningkatkan kenyamanan tetapi juga mempercepat proses penyembuhan, mencegah komplikasi imobilisasi, dan meningkatkan kualitas hidup pasien secara keseluruhan selama masa sakit akut.
-
Article No. 23173 | 06 Dec 2025
Klinis : pemberian makan enteral
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pemberian Makan Enteral
Kode SDKI: 0205
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SLKI: 2001
Deskripsi : Status Nutrisi
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : Manajemen Pemberian Makan Enteral
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI): Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh (Kode 0205)
Definisi: Keadaan rentan mengalami asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik, yang dapat mengakibatkan penurunan berat badan yang tidak diinginkan, kekurangan energi, dan gangguan fungsi tubuh. Pada konteks pemberian makan enteral, risiko ini muncul karena pasien bergantung sepenuhnya pada nutrisi yang diberikan melalui selang, di mana terdapat berbagai faktor yang dapat menghambat pemenuhan kebutuhan nutrisi secara optimal. Faktor risiko tersebut meliputi ketidaktepatan formula nutrisi, gangguan toleransi (seperti diare, mual, kembung), masalah teknis pada selang (tersumbat, tergeser), atau ketidakstabilan kondisi klinis pasien yang mempengaruhi metabolisme nutrisi. Tujuan diagnosa ini adalah untuk mengidentifikasi dan meminimalkan faktor-faktor risiko tersebut agar kebutuhan nutrisi pasien dapat terpenuhi secara adekuat melalui terapi nutrisi enteral.
Luaran Keperawatan (SLKI): Status Nutrisi (Kode 2001)
Definisi: Kondisi yang menggambarkan keseimbangan antara asupan nutrisi dengan kebutuhan tubuh untuk pertumbuhan, pemeliharaan jaringan, dan aktivitas. Luaran ini diharapkan dapat tercapai atau membaik setelah intervensi keperawatan. Indikator luaran yang spesifik untuk pasien dengan pemberian makan enteral meliputi: berat badan stabil atau meningkat sesuai target, nilai laboratorium (seperti albumin, prealbumin, hemoglobin) dalam rentang normal, tidak menunjukkan tanda-tanda malnutrisi (seperti kelemahan, kulit kering, rambut rontok), serta memiliki energi yang cukup untuk aktivitas. Pemantauan status nutrisi secara berkala menjadi tolok ukur keberhasilan manajemen pemberian makan enteral dalam mencegah atau mengatasi risiko ketidakseimbangan nutrisi.
Intervensi Keperawatan (SIKI): Manajemen Pemberian Makan Enteral (Kode 4410)
Definisi: Tindakan keperawatan untuk memfasilitasi pemberian nutrisi melalui saluran pencernaan dengan menggunakan selang, serta mencegah dan menangani komplikasinya. Intervensi ini bersifat komprehensif dan meliputi beberapa aktivitas kritikal. Pertama, Penilaian: mengevaluasi posisi selang (dengan auskultasi atau radiologi sebelum pemberian awal), menilai sisa lambung, memantau tanda-tanda intoleransi (distensi abdomen, diare, mual), dan mengevaluasi status hidrasi serta integritas kulit sekitar selang. Kedua, Persiapan dan Pemberian: memastikan kebersihan tangan, memposisikan pasien semi-Fowler (30-45 derajat), memeriksa tanggal kadaluarsa formula, menghangatkan formula sesuai suhu ruang, memberikan dengan metode bolus/intermitten/kontinu sesuai resep, serta membilas selang dengan air sebelum dan sesudah pemberian serta saat pergantian formula. Ketiga, Pemantauan dan Pencegahan Komplikasi: memantau berat badan dan pemeriksaan lab, mencegah aspirasi dengan mempertahankan posisi kepala tinggi, mencegah penyumbatan dengan pembilasan rutin, merawat area insersi selang nasogastrik atau stoma gastrostomi untuk mencegah infeksi dan iritasi. Keempat, Edukasi: memberikan pendidikan kepada pasien dan keluarga tentang tujuan pemberian makan enteral, tanda-tanda komplikasi, dan perawatan selang di rumah jika diperlukan. Intervensi ini memerlukan ketelitian, pengetahuan aseptik, dan pemahaman fisiologi pencernaan untuk memastikan nutrisi terserap optimal dan meningkatkan luaran status nutrisi pasien.
-
Article No. 23174 | 06 Dec 2025
Klinis : mencret sudah 5 kali, demam 39, mual muntah,
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Diare dan Demam Akut dengan Risiko Defisit Volume Cairan
Kode SDKI: 0201
Deskripsi Singkat: Risiko Defisit Volume Cairan
Kode SLKI: 2001
Deskripsi : Status Keseimbangan Cairan
Kode SIKI: 4201, 4202, 4203, 4204, 4205, 4206, 4207, 4208, 4209, 4210, 4211, 4212, 4213
Deskripsi : Berdasarkan kondisi pasien dengan mencret 5 kali, demam 39°C, mual, dan muntah, diagnosis keperawatan yang paling relevan adalah **Risiko Defisit Volume Cairan (SDKI 0201)**. Defisinya adalah **keadaan dinamis dimana individu berisiko mengalami penurunan volume cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intraseluler**. Kondisi ini berisiko terjadi karena kehilangan cairan aktif melalui diare dan muntah, serta peningkatan kehilangan cairan tidak terasa (insensible loss) akibat demam tinggi yang meningkatkan proses evaporasi. Tanpa intervensi, kondisi ini dapat berkembang menjadi defisit volume cairan aktual yang mengarah pada hipovolemia, syok, dan gangguan fungsi organ.
**Penjelasan SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) 0201: Risiko Defisit Volume Cairan**
Diagnosis ini dipilih karena pasien menunjukkan faktor risiko yang jelas. Diare yang sudah terjadi 5 kali menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit (terutama natrium, kalium, dan bikarbonat) secara masif dari saluran cerna. Mual dan muntah lebih lanjut menghambat upaya rehidrasi oral dan memperparah kehilangan cairan. Demam tinggi (39°C) secara signifikan meningkatkan kebutuhan metabolisme dan kehilangan cairan melalui penguapan dari kulit dan pernapasan. Kombinasi ketiga gejala ini menciptakan keadaan dimana asupan cairan tidak mampu mengimbangi kehilangannya, sehingga risiko defisit volume cairan sangat tinggi. Tujuan utama keperawatan adalah mencegah terjadinya defisit aktual dengan memantau tanda-tanda dini dan melakukan intervensi rehidrasi yang tepat.
**Penjelasan SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) 2001: Status Keseimbangan Cairan**
Luaran yang diharapkan untuk diagnosis ini adalah **Status Keseimbangan Cairan**. Luaran ini diukur dengan kriteria seperti: tanda vital dalam rentang normal (nadi kuat dan teratur, tekanan darah stabil), turgor kulit elastis (kembali dalam < 2 detik), membran mukosa lembab, produksi urin adekuat (≥ 0,5 mL/kgBB/jam), dan tidak ada rasa haus yang berlebihan. Pada pasien ini, tujuan intervensi adalah mencapai dan mempertahankan semua kriteria tersebut. Pemantauan ketat terhadap tanda-tanda dehidrasi (seperti turgor kulit yang menurun, mata cekung, fontanel cekung pada bayi, penurunan kesadaran, dan oliguria) menjadi indikator keberhasilan atau kegagalan mencapai luaran ini. Peningkatan frekuensi diare atau muntah, serta demam yang menetap, dapat menghambat pencapaian luaran, sehingga memerlukan evaluasi dan penyesuaian intervensi.
**Penjelasan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia)**
Intervensi keperawatan yang direncanakan bersifat komprehensif untuk mengatasi penyebab dan mencegah komplikasi. Kode SIKI yang relevan meliputi:
- **4201 (Manajemen Cairan):** Intervensi utama berupa pemberian cairan rehidrasi oral (oralit) jika pasien mampu menelan dan tidak muntah berulang, atau persiapan pemberian cairan intravena sesuai instruksi dokter untuk koreksi defisit yang lebih berat. Memantau balance cairan (intake dan output) secara ketat.
- **4202 (Pemantauan Cairan):** Mengobservasi dan mendokumentasikan tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan) secara berkala, memantau tanda-tanda dehidrasi dan kelebihan cairan, serta memonitor hasil laboratorium (seperti hematokrit, elektrolit, BUN).
- **4203 (Resusitasi Cairan):** Bersiap melakukan tindakan resusitasi cairan cepat jika muncul tanda syok hipovolemik (seperti tekanan darah sangat rendah, nadi cepat dan lemah, penurunan kesadaran).
- **4204 (Pengaturan Infus):** Memasang, merawat, dan mengatur kecepatan infus sesuai program terapi yang ditetapkan.
- **4205 (Edukasi: Kebutuhan Cairan):** Memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien/keluarga tentang pentingnya minum cairan lebih banyak, mengenali tanda dehidrasi, dan cara membuat/memberikan oralit.
- **4206 (Manajemen Mual):** Melakukan intervensi untuk mengurangi mual, seperti memberikan minuman hangat sedikit-sedikit tapi sering, menghindari aroma yang merangsang mual, dan posisi nyaman.
- **4207 (Manajemen Muntah):** Memposisikan pasien untuk mencegah aspirasi, memberikan hygiene oral setelah muntah, dan memantau karakteristik muntahan.
- **4208 (Manajemen Diare):** Memantau frekuensi, volume, dan konsistensi feses. Memberikan perawatan hygiene area perianal untuk mencegah iritasi kulit.
- **4209 (Manajemen Demam):** Melakukan tindakan untuk menurunkan suhu tubuh seperti kompres hangat (di aksila dan lipat paha), memberikan terapi farmakologis antipiretik sesuai instruksi, dan mendorong asupan cairan.
- **4210 (Manajemen Nutrisi):** Menganjurkan diet yang sesuai, seperti memberikan makanan lunak, rendah serat, dan mudah dicerna secara bertahap setelah mual muntah berkurang.
- **4211 (Manajemen Medikasi):** Memberikan obat-obatan seperti antibiotik (jika penyebab infeksi bakteri), antipiretik, atau antiemetik sesuai resep dokter dan memantau efek sampingnya.
- **4212 (Pengawasan Tanda Vital):** Dilakukan secara ketat dan berkelanjutan untuk mendeteksi perubahan status klinis secara dini.
- **4213 (Konsultasi Kolaborasi):** Berkolaborasi dengan dokter untuk penyesuaian terapi cairan dan medikasi, serta merujuk ke ahli gizi jika diperlukan.
Keseluruhan intervensi ini dirancang secara sinergis untuk mengatasi ketidakseimbangan cairan dari berbagai sisi, memutus siklus kehilangan cairan, dan mendukung pemulihan pasien.
-
Article No. 23176 | 06 Dec 2025
Klinis : DPH-4 KU: kelemahan anggota gerak kanan, tampak lemah, bicara sedikit nglantur RPS: Pasien dtg keluhan lemes, keringat dingin, tidak mau diajak komunikasi sejak sore. mual ( + ) muntah terus menerus sejak sore. muntah darah R/ CKD V ( HD senin dan kamis di RS attin Ngawi ) O : KU : sedang, CM TD : 135/108 mmhg N : 101 x/mnt R : 20 xc/mnt S : 36 C SPo2 98 % Kepala : mesocephal Mata : CA (+/+), SI (-/-) Mulut : lidah kotor (-), mukosa bibir kering (-) Thoraks : simetris kanan dan kiri, retraksi (-) Jantung : BJ I-II reguler, murmur (-) Paru : SDV (+/+), RBH (-/-), RBK (-/-), wheezing (-/-) Abdomen : supel, BU (+) dbn, timpani (+), nyeri tekan (-) Eks. Superior : akral hangat (+/+), oedem (-/-), kelemahan Motorik (D) Eks. Inferior : akral hangat (+/+), oedem (-/-), Kelemahan Motorik (D) Lab (03/12/2025) Hb 8.75 Hct 25.9 AE 2.99 AL 13.39 AT 155 Ur 139.1 Cr 10.34 GDS 168 CT-Scan Kesan: - ICH di parietalis sinistra dengan perifocal oedema di sekitarnya - IVH di ventrikel lateralis bilateral dan ventrikel III
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Berisiko mengalami penurunan sirkulasi darah ke otak yang dapat mengakibatkan kerusakan jaringan otak. Kondisi ini sangat relevan mengingat pasien memiliki riwayat CKD V yang merupakan faktor risiko utama untuk hipertensi dan gangguan pembekuan darah, serta hasil CT-Scan yang menunjukkan perdarahan intraserebral (ICH) dan intraventrikular (IVH) di sisi kiri otak. Perdarahan ini menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial dan edema perifokal, yang secara langsung mengancam perfusi (aliran darah) ke jaringan otak di sekitarnya. Gangguan perfusi ini bermanifestasi secara klinis sebagai kelemahan motorik pada anggota gerak kanan (hemiparese) dan bicara yang sedikit nglantur (disartria), yang merupakan tanda defisit neurologis fokal akibat kerusakan pada area motorik dan bahasa di hemisfer serebral kiri.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Perfusi serebral membaik, ditandai dengan: 1) Tanda-tanda vital dalam batas yang diharapkan atau mendekati target (misalnya, tekanan darah terkontrol untuk mencegah perdarahan ulang atau iskemia sekunder); 2) Status neurologis stabil atau membaik, seperti tidak ada penurunan kesadaran lebih lanjut, kekuatan motorik tidak memburuk, dan fungsi bicara tidak mengalami deteriorasi; 3) Tidak ada keluhan sakit kepala hebat yang progresif atau muntah proyektil yang menandakan peningkatan tekanan intrakranial; serta 4) Hasil pemantauan neurologis (seperti skor GCS) tetap stabil atau menunjukkan tren perbaikan. Tujuan utamanya adalah mencegah perluasan perdarahan dan edema, sehingga aliran darah ke jaringan otak yang masih sehat dapat terjaga.
Kode SIKI: 3520
Deskripsi : Pemantauan neurologis. Intervensi ini meliputi: 1) Melakukan pengukuran dan pencatatan tanda-tanda vital (TD, N, R, S) secara berkala dengan frekuensi ketat sesuai kondisi kritis pasien, karena hipertensi (TD 135/108 mmHg) dapat memperburuk perdarahan, sedangkan hipotensi dapat menyebabkan iskemia sekunder. 2) Memantau status neurologis secara komprehensif dan berkelanjutan menggunakan alat seperti Glasgow Coma Scale (GCS), pemeriksaan pupil (CA, SI), dan fungsi motorik/sensorik (kelemahan sisi kanan). Perubahan seperti penurunan kesadaran, pelebaran pupil pada sisi yang sakit, atau peningkatan kelemahan harus segera dilaporkan. 3) Memantau dan mendokumentasikan karakteristik bicara (disartria) serta fungsi menelan untuk mengantisipasi risiko aspirasi. 4) Mengobservasi adanya gejala peningkatan tekanan intrakranial seperti sakit kepala hebat, muntah proyektil, dan perubahan pola pernapasan. 5) Memastikan kepala tempat tidur ditinggikan sekitar 30 derajat untuk memfasilitasi drainase vena serebral dan menurunkan tekanan intrakranial. 6) Kolaborasi dalam pemberian terapi medis seperti antihipertensi, obat anti-edema (misalnya manitol), dan mempersiapkan tindakan lebih lanjut jika diperlukan. 7) Meminimalkan stimulasi yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial (seperti batuk, mengejan, suara bising) dan menjaga lingkungan yang tenang.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 0008
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan patensi jalan napas. Pada pasien ini, risiko tinggi terjadi karena adanya penurunan kesadaran (tidak mau diajak komunikasi) dan kelemahan otot-otot pernapasan serta refleks batuk yang mungkin terganggu akibat efek dari perdarahan intraserebral (ICH) dan tekanan intrakranial yang meningkat. Selain itu, pasien dengan kelemahan motorik hemiparese kanan berisiko tinggi untuk aspirasi, terutama jika disertai disfagia (gangguan menelan) yang sering menyertai disartria. Riwayat mual dan muntah terus-menerus, termasuk muntah darah, semakin meningkatkan risiko aspirasi isi lambung atau darah ke dalam paru-paru, yang dapat menyebabkan obstruksi jalan napas, pneumonia aspirasi, dan kegagalan pernapasan.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Bersihan jalan napas efektif, ditandai dengan: 1) Jalan napas paten tanpa suara tambahan (seperti mengorok, stridor, atau ronki basah kasar); 2) Frekuensi dan irama pernapasan dalam rentang normal (20-30x/menit pada dewasa) dan teratur; 3) Saturasi oksigen (SpO2) dipertahankan ≥95% dengan atau tanpa bantuan oksigen; 4) Suara napas vesikuler jelas di semua lapang paru; 5) Pasien mampu mengeluarkan sekret secara efektif dengan batuk atau dengan bantuan suction; serta 6) Tidak ada tanda-tanda sianosis atau distress pernapasan (retraksi, penggunaan otot bantu napas).
Kode SIKI: 3180
Deskripsi : Manajemen jalan napas. Intervensi ini mencakup: 1) Memantau status pernapasan secara ketat: frekuensi, irama, kedalaman, usaha napas, penggunaan otot bantu, dan adanya sianosis. 2) Auskultasi suara napas tiap 2-4 jam atau sesuai kebutuhan untuk mendeteksi adanya ronki, wheezing, atau penurunan suara napas yang mengindikasikan obstruksi atau kolaps. 3) Mempertahankan posisi kepala sedikit elevasi (jika tidak kontraindikasi dengan kondisi neurologis) dan posisi miring untuk mencegah aspirasi lidah dan sekret. 4) Melakukan suction pada orofaring/nasofaring sesuai indikasi berdasarkan adanya suara sekret atau penurunan saturasi. Teknik suction harus steril dan hati-hati untuk menghindari peningkatan tekanan intrakranial. 5) Kolaborasi dalam pemberian terapi oksigen sesuai kebutuhan untuk mempertahankan SpO2 >95%. 6) Melakukan fisioterapi dada seperti perkusi, vibrasi, dan postural drainage jika diperlukan, dengan mempertimbangkan kondisi neurologis yang tidak stabil. 7) Memantau kemampuan batuk dan menelan; menunda pemberian oral sampai fungsi menelan dievaluasi aman untuk mencegah aspirasi. 8) Menjaga alat bantu jalan napas (seperti kanul nasal, masker) tetap bersih dan berfungsi baik.
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: 0003
Deskripsi Singkat: Berisiko mengalami kelebihan atau kekurangan cairan dan elektrolit tubuh. Pasien berada dalam dua kondisi yang saling bertolak belakang namun berisiko tinggi. Di satu sisi, pasien mengalami muntah terus-menerus (termasuk muntah darah) yang dapat menyebabkan kehilangan cairan (hipovolemia) dan elektrolit. Di sisi lain, pasien memiliki diagnosis CKD V (gagal ginjal stadium akhir) yang menjalani hemodialisis, di mana ginjal tidak mampu mengeluarkan kelebihan cairan dan produk sisa metabolisme (seperti ureum dan kreatinin yang sangat tinggi: Ur 139.1, Cr 10.34). Kondisi ini berisiko menyebabkan kelebihan cairan (hipervolemia) yang dapat memicu edema paru, hipertensi, dan memberatkan edema perifokal di otak. Selain itu, perdarahan intraserebral itu sendiri dapat mengganggu pusat pengaturan keseimbangan cairan di hipotalamus. Oleh karena itu, keseimbangan yang sangat teliti antara asupan dan haluaran cairan sangat krusial.
Kode SLKI: 0601
Deskripsi : Keseimbangan cairan dan elektrolit tercapai, ditandai dengan: 1) Tanda-tanda vital stabil (terutama tekanan darah dan nadi); 2) Keseimbangan cairan (balance) input dan output dalam 24 jam mendekati target yang ditetapkan (biasanya sedikit negatif atau sesuai ultrafiltrasi dialysis); 3) Tidak terdapat tanda kelebihan cairan seperti edema perifer, edema paru (dengung basah), atau distensi vena jugularis; 4) Tidak terdapat tanda dehidrasi seperti mukosa bibir kering, turgor kulit menurun, dan hipotensi ortostatik; 5) Berat badan stabil antar waktu hemodialisis tanpa kenaikan yang signifikan; serta 6) Nilai elektrolit (Natrium, Kalium) dalam batas aman untuk pasien ginjal kronik.
Kode SIKI: 4120
Deskripsi : Manajemen cairan/elektrolit. Intervensi ini meliputi: 1) Memantau ketat asupan (intake) dan haluaran (output) cairan setiap jam atau setiap shift, termasuk cairan infus, minum, dan output urin (meskipun pada CKD V output urin mungkin sangat sedikit atau anuria). 2) Mengukur berat badan harian dengan timbangan yang sama, pada waktu yang sama, dan dengan pakaian yang sama untuk menilai retensi cairan. 3) Memantau tanda-tanda klinis kelebihan cairan: edema, crackles pada paru, sesak napas, peningkatan tekanan darah, dan peningkatan CVP jika terpasang. 4) Memantau tanda-tanda dehidrasi: turgor kulit, mukosa
Article No. 23177 | 06 Dec 2025
Klinis : pola nafas tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pola Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 00032
Deskripsi Singkat: Pengalaman aktual atau potensial terhadap perubahan pola napas yang tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan tubuh.
Kode SLKI: 3201
Deskripsi : SLKI 3201: Perbaikan Pola Napas. Deskripsi: Pola napas membaik untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: (1) Frekuensi napas dalam rentang normal sesuai usia, (2) Irama napas teratur, (3) Kedalaman napas adekuat (pengembangan dada simetris), (4) Tidak ada penggunaan otot bantu napas, (5) Tidak ada bunyi napas abnormal (seperti mengi, ronki, atau stridor), (6) Nilai gas darah arteri (analisis gas darah) dalam batas normal, (7) Saturasi oksigen (SpO2) dalam batas normal yang ditargetkan, (8) Pasien melaporkan atau menunjukkan tidak adanya sesak napas atau distress pernapasan, (9) Ekspansi dada adekuat dan simetris, serta (10) Bunyi napas bersih di semua lapang paru. Pencapaian SLKI ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan berhasil mengatasi ketidakefektifan pola napas, memulihkan pertukaran gas yang optimal, dan menghilangkan distress pernapasan yang dialami pasien. Pemantauan terus menerus terhadap parameter-parameter ini penting untuk memastikan stabilitas kondisi pasien.
Kode SIKI: 4320
Deskripsi : SIKI 4320: Manajemen Pernapasan. Deskripsi: Memfasilitasi pernapasan yang adekuat dan mempertahankan jalan napas. Intervensi ini melibatkan serangkaian tindakan yang komprehensif dan sistematis. Pertama, memantau frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas secara berkala. Kedua, mendengarkan bunyi napas untuk mengidentifikasi adanya abnormalitas. Ketiga, memposisikan pasien (seperti semi-Fowler atau Fowler tinggi) untuk memaksimalkan ekspansi dada dan memudahkan pernapasan. Keempat, mengajarkan dan mendorong latihan napas dalam serta batuk efektif. Kelima, memberikan terapi oksigen sesuai resep dan memantau keefektifannya. Keenam, melakukan fisioterapi dada jika diperlukan. Ketujuh, mempertahankan kebersihan dan patensi jalan napas, termasuk suction jika ada sekret. Kedelapan, memantau status oksigenasi melalui pulse oximetry dan analisis gas darah. Kesembilan, memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang teknik pernapasan serta tanda-tanda distress yang harus dilaporkan. Kesepuluh, mengatur lingkungan yang nyaman dengan sirkulasi udara baik. Kesebelas, mengelola kecemasan yang dapat memperburupola napas. Intervensi ini bersifat holistik, tidak hanya teknis tetapi juga psiko-edukatif, bertujuan untuk mengatasi penyebab, meningkatkan ventilasi-alveolar, dan mencegah komplikasi seperti atelektasis atau pneumonia. Evaluasi respons pasien terhadap setiap tindakan dilakukan secara terus menerus untuk menyesuaikan pendekatan.
Article No. 23178 | 06 Dec 2025
Klinis : pola nafas tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pola Nafas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0011
Deskripsi Singkat: Pengalaman subjektif gangguan pada inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan tubuh.
Kode SLKI: L.03101
Deskripsi : Pola nafas efektif.
Kode SIKI: I.01291
Deskripsi : Manajemen jalan nafas.
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI - D.0011): Pola Nafas Tidak Efektif didefinisikan sebagai pengalaman subjektif gangguan pada proses inspirasi dan/atau ekspirasi yang membuatnya tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Defisini ini menekankan pada persepsi klien terhadap kesulitan bernafasnya, yang dapat bermanifestasi sebagai dispnea (sesak nafas), takipnea (nafas cepat), bradipnea (nafas lambat), atau pola nafas yang tidak teratur seperti Cheyne-Stokes atau Kussmaul. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk obstruksi jalan nafas (seperti pada asma, COPD, atau benda asing), gangguan neuromuskular (misalnya cedera medula spinalis, miastenia gravis), nyeri dada, kecemasan, efusi pleura, atau kondisi paru seperti pneumonia dan edema paru. Tanda objektif yang sering menyertai antara lain penggunaan otot bantu nafas, retraksi interkostal, nasal flaring, penurunan saturasi oksigen (SpO2), perubahan tingkat kesadaran, dan bunyi nafas abnormal (wheezing, ronki, stridor). Diagnosa ini menjadi dasar perencanaan asuhan keperawatan yang berfokus pada upaya mempertahankan atau mengembalikan pertukaran gas yang optimal.
Luaran Keperawatan (SLKI - L.03101): Luaran yang diharapkan dari intervensi keperawatan adalah tercapainya "Pola Nafas Efektif". Kriteria luaran ini mencakup beberapa indikator yang dapat diukur dan diamati, antara lain: frekuensi nafas dalam rentang normal sesuai usia, irama nafas yang teratur dan tanpa usaha berlebihan, tidak adanya dispnea atau sianosis, saturasi oksigen (SpO2) dalam batas normal (biasanya >95%), bunyi nafas bersih di seluruh lapang paru, serta kemampuan klien untuk melakukan aktivitas tanpa gangguan pernafasan. Perawat akan memantau dan mengevaluasi perkembangan klien menuju kriteria-kriteria ini sebagai tolok ukur keberhasilan asuhan. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa gangguan pertukaran gas telah teratasi atau terminimalisir, dan kebutuhan oksigenasi tubuh terpenuhi.
Intervensi Keperawatan (SIKI - I.01291): Untuk mencapai luaran tersebut, intervensi utama yang direkomendasikan adalah "Manajemen Jalan Nafas". Intervensi ini didefinisikan sebagai upaya memfasilitasi patensi jalan nafas dan mempertahankan pertukaran gas yang adekuat. Aktivitas spesifik yang dilakukan perawat dalam intervensi ini sangat komprehensif, meliputi: (1) Pemantauan: mengobservasi frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha nafas; memonitor saturasi oksigen dan tanda vital secara berkala; auskultasi bunyi nafas untuk mendeteksi adanya abnormalitas; menilai warna kulit dan membran mukosa untuk tanda sianosis. (2) Tindakan Fisik: memposisikan klien semi-Fowler atau Fowler tinggi untuk memaksimalkan ekspansi dada; melakukan fisioterapi dada dan latihan batuk efektif jika diperlukan; melakukan suction untuk membersihkan sekret dari jalan nafas; mengajarkan teknik pernafasan dalam dan bibir dirapatkan (pursed-lip breathing). (3) Manajemen Terapi: memberikan terapi oksigen sesuai program dan memantau keefektifannya; memberikan nebulisasi atau inhaler sesuai resep; memastikan hidrasi yang adekuat untuk mengencerkan sekret. (4) Pendidikan dan Dukungan: mengajarkan klien dan keluarga untuk mengenali tanda-tanda distress pernafasan; memberikan dukungan psikologis untuk mengurangi kecemasan yang dapat memperburuk sesak; mendorong istirahat untuk menghemat energi. Intervensi ini bersifat dinamis dan disesuaikan dengan penyebab dasar dan respons individu klien, dengan tujuan akhir memastikan jalan nafas tetap terbuka dan pertukaran gas berlangsung optimal untuk mendukung fungsi vital tubuh.
Article No. 23179 | 06 Dec 2025
Klinis : pola nafas tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pola Nafas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Pola napas yang tidak memenuhi kebutuhan ventilasi tubuh.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Perawatan untuk mempertahankan jalan napas paten dan memenuhi kebutuhan oksigenasi.
Kode SIKI: I.04001
Deskripsi : Diagnosa Keperawatan "Pola Nafas Tidak Efektif" (D.0001) didefinisikan sebagai kondisi di mana pola pernapasan seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan ventilasi tubuh secara adekuat. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari gangguan pada sistem pernapasan itu sendiri (seperti obstruksi jalan napas, penurunan ekspansi paru, atau gangguan pertukaran gas), hingga faktor nyeri, kecemasan, kelemahan otot pernapasan, atau gangguan neurologis. Tanda dan gejalanya sangat bervariasi, dapat mencakup frekuensi napas yang abnormal (takipnea atau bradipnea), kedalaman napas yang tidak normal (hiperventilasi atau hipoventilasi), penggunaan otot aksesori pernapasan, dispnea (sesak napas), sianosis, gelisah, penurunan saturasi oksigen (SpO2), dan perubahan pada bunyi napas seperti wheezing atau ronki. Diagnosa ini memerlukan asesmen yang komprehensif untuk mengidentifikasi penyebab yang mendasarinya, karena penatalaksanaannya sangat bergantung pada etiologi tersebut. Tujuannya adalah untuk mengembalikan pola napas yang efektif guna memastikan kecukupan oksigenasi dan eliminasi karbon dioksida, sehingga mencegah komplikasi seperti hipoksia jaringan, asidosis respiratorik, atau gagal napas.
Untuk mengatasi diagnosa ini, ditetapkan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) dengan kode L.04001, yaitu "Perawatan untuk mempertahankan jalan napas paten dan memenuhi kebutuhan oksigenasi." Luaran yang diharapkan mencakup tercapainya parameter pernapasan yang adekuat dan stabil. Secara spesifik, luaran ini diukur melalui kriteria hasil seperti: jalan napas yang paten (bebas dari sumbatan), pola napas yang efektif (frekuensi dan irama dalam rentang normal), pertukaran gas yang adekuat (ditandai dengan saturasi oksigen >95% pada kondisi normal, nilai gas darah arteri dalam batas normal, dan tidak ada sianosis), serta tidak adanya keluhan dispnea atau penggunaan otot bantu napas yang berlebihan. Selain itu, pasien diharapkan menunjukkan tingkat kesadaran yang baik, mampu melakukan aktivitas tanpa distress pernapasan yang signifikan, dan memahami tindakan yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan pernapasannya. Pencapaian luaran ini bersifat bertahap, dimulai dari status pernapasan yang terganggu (keadaan akut) menuju status yang stabil dan terkontrol.
Untuk mencapai luaran tersebut, perawat melaksanakan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) dengan kode I.04001. Intervensi ini merupakan serangkaian tindakan yang terencana dan ilmiah. Tindakan utamanya dimulai dengan pemantauan ketat terhadap status pernapasan, termasuk frekuensi, irama, kedalaman, usaha napas, dan penggunaan otot aksesori, serta pemantauan saturasi oksigen secara berkala. Perawat memposisikan pasien untuk memaksimalkan ekspansi paru, biasanya dalam posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi, serta membantu dan mengajarkan teknik pernapasan dalam (napas dalam) dan batuk efektif. Manajemen jalan napas sangat krusial, yang dapat meliputi penghisapan lendir (suction) jika diperlukan, pemberian oksigen sesuai program terapi, dan pemberian nebulizer atau inhaler sesuai resep. Perawat juga mengelola faktor-faktor yang memperberat, seperti pemberian analgesik untuk mengatasi nyeri yang menghambat pernapasan atau teknik relaksasi untuk mengurangi kecemasan. Edukasi kepada pasien dan keluarga merupakan bagian integral, mencakup pentingnya posisi, teknik pernapasan, pencegahan infeksi, dan kapan harus mencari bantuan medis. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain, seperti dokter untuk pemberian terapi farmakologi atau fisioterapis untuk latihan pernapasan, juga dilaksanakan. Seluruh intervensi ini didokumentasikan dan dievaluasi secara terus-menerus untuk menilai kemajuan pasien dan menentukan perlu tidaknya modifikasi rencana keperawatan. Pendekatan yang holistik dan evidence-based ini bertujuan tidak hanya untuk mengatasi gejala, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup dan kemandirian pasien dalam mengelola kondisinya.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 1047 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 1829 1830 1831 1832 1833 1834 1835 1836 1837 1838 1839 1840 1841 1842 1843 1844 1845 1846 1847 1848 1849 1850 1851 1852 1853 1854 1855 1856 1857 1858 1859 1860 1861 1862 1863 1864 1865 1866 1867 1868 1869 1870 1871 1872 1873 1874 1875 1876 1877 1878 1879 1880 1881 1882 1883 1884 1885 1886 1887 1888 1889 1890 1891 1892 1893 1894 1895 1896 1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1964 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058 2059 2060 2061 2062 2063 2064 2065 2066 2067 2068 2069 2070 2071 2072 2073 2074 2075 2076 2077 2078 2079 2080 2081 2082 2083 2084 2085 2086 2087 2088 2089 2090 2091 2092 2093 2094 2095 2096 2097 2098 2099 2100 2101 2102 2103 2104 2105 2106 2107 2108 2109 2110 2111 2112 2113 2114 2115 2116 2117 2118 2119 2120 2121 2122 2123 2124 2125 2126 2127 2128 2129 2130 2131 2132 2133 2134 2135 2136 2137 2138 2139 2140 2141 2142 2143 2144 2145 2146 2147 2148 2149 2150 2151 2152 2153 2154 2155 2156 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2167 2168 2169 2170 2171 2172 2173 2174 2175 2176 2177 2178 2179 2180 2181 2182 2183 2184 2185 2186 2187 2188 2189 2190 2191 2192 2193 2194 2195 2196 2197 2198 2199 2200 2201 2202 2203 2204 2205 2206 2207 2208 2209 2210 2211 2212 2213 2214 2215 2216 2217 2218 2219 2220 2221 2222 2223 2224 2225 2226 2227 2228 2229 2230 2231 2232 2233 2234 2235 2236 2237 2238 2239 2240 2241 2242 2243 2244 2245 2246 2247 2248 2249 2250 2251 2252 2253 2254 2255 2256 2257 2258 2259 2260 2261 2262 2263 2264 2265 2266 2267 2268 2269 2270 2271 2272 2273 2274 2275 2276 2277 2278 2279 2280