Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24729 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang lansia (80 th) terpasang kateter urin selama 2 minggu karena retensi urin. Saat ini urine di bag tampak keruh dan mengandung darah (hematuria). Pasien mengeluh nyeri di area suprapubik dan suhu tubuh 38,8°C.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Infeksi Saluran Kemih (ISK) terkait pemasangan kateter urin
Kode SDKI: 0017
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 1701
Deskripsi : Infeksi dicegah
Kode SIKI: 1701A
Deskripsi : Mempertahankan teknik aseptik
Kondisi: Infeksi Saluran Kemih (ISK) terkait pemasangan kateter urin
Kode SDKI: 0017
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 1702
Deskripsi : Infeksi dikendalikan
Kode SIKI: 1702A
Deskripsi : Mengidentifikasi faktor risiko infeksi
Kondisi: Infeksi Saluran Kemih (ISK) terkait pemasangan kateter urin
Kode SDKI: 0017
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 1702
Deskripsi : Infeksi dikendalikan
Kode SIKI: 1702B
Deskripsi : Memantau tanda dan gejala infeksi
Kondisi: Nyeri akut terkait inflamasi dan iritasi kandung kemih
Kode SDKI: 0023
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: 2302
Deskripsi : Nyeri terkontrol
Kode SIKI: 2302A
Deskripsi : Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif
Kondisi: Nyeri akut terkait inflamasi dan iritasi kandung kemih
Kode SDKI: 0023
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: 2302
Deskripsi : Nyeri terkontrol
Kode SIKI: 2302C
Deskripsi : Mengajarkan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri
Kondisi: Hipertermia terkait proses infeksi bakteri
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Hipertermia
Kode SLKI: 0702
Deskripsi : Suhu tubuh normal
Kode SIKI: 0702A
Deskripsi : Memonitor suhu tubuh
Kondisi: Hipertermia terkait proses infeksi bakteri
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Hipertermia
Kode SLKI: 0702
Deskripsi : Suhu tubuh normal
Kode SIKI: 0702B
Deskripsi : Memberikan tindakan untuk menurunkan suhu tubuh
-
Article No. 24730 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang lansia (80 th) terpasang kateter urin selama 2 minggu karena retensi urin. Saat ini urine di bag tampak keruh dan mengandung darah (hematuria). Pasien mengeluh nyeri di area suprapubik dan suhu tubuh 38,8°C.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Infeksi Saluran Kemih (ISK) terkait pemasangan kateter urin
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 2301
Deskripsi : Pengendalian Infeksi
Kode SIKI: 3401
Deskripsi : Manajemen Kateter Urin
Penjelasan Lengkap:
Diagnosa Keperawatan (SDKI 0016: Risiko Infeksi) dipilih karena pasien lansia dengan kateter urin jangka panjang (2 minggu) menunjukkan tanda-tanda aktual infeksi, yaitu urine keruh, hematuria, nyeri suprapubik, dan demam (38,8°C). Meskipun menggunakan istilah "risiko", SDKI mengakui bahwa adanya faktor risiko yang nyata dan manifestasi klinis sudah muncul membentuk suatu diagnosa keperawatan. Defisinya adalah ketidakmampuan klien untuk mencegah patogen masuk ke dalam tubuh akibat adanya alat invasif (kateter) yang bertindak sebagai jalan masuk mikroorganisme. Pada lansia, pertahanan tubuh umumnya menurun, dan pemasangan kateter mengganggu mekanisme pertahanan alami saluran kemih, seperti aliran urine yang terus-menerus dan sfingter uretra. Kateter menjadi tempat perlekatan biofilm bakteri, yang dapat naik ke kandung kemih dan menyebabkan infeksi (sistitis) yang ditandai dengan nyeri suprapubik, hematuria, dan piuria (urine keruh). Demam menunjukkan bahwa infeksi mungkin telah menyebar lebih dalam, seperti ke ginjal (pielonefritis). Oleh karena itu, diagnosa ini tepat untuk menggambarkan kerentanan pasien terhadap invasi patogen dan konsekuensi yang sudah terjadi.
Luaran Keperawatan (SLKI 2301: Pengendalian Infeksi) adalah tujuan yang ingin dicapai dimana klien menunjukkan tanda-tanda terkendalinya infeksi. Indikator luaran yang relevan meliputi: (1) Tanda-tanda infeksi tidak ada, yang diharapkan tercapai dengan menurunnya suhu tubuh kembali normal (36,5-37,5°C), hilangnya nyeri suprapubik, urine kembali jernih, dan tidak ada darah; (2) Hasil laboratorium dalam batas normal, seperti hitung leukosit dan kultur urine negatif; (3) Melaporkan peningkatan kenyamanan; dan (4) Melakukan perilaku untuk mencegah infeksi. Pada konteks ini, luaran utama adalah resolusi gejala akut (demam, nyeri, perubahan urine) dan pencegahan kekambuhan atau komplikasi lebih lanjut. Pencapaian luaran ini memerlukan intervensi medis (seperti pemberian antibiotik) dan intervensi keperawatan yang komprehensif untuk mengeliminasi sumber infeksi dan meningkatkan pertahanan tubuh pasien.
Intervensi Keperawatan (SIKI 3401: Manajemen Kateter Urin) merupakan tindakan inti untuk menangani penyebab utama masalah ini. Intervensi ini mencakup serangkaian aktivitas spesifik yang sangat relevan dengan kondisi pasien: (1) Memantau tanda dan gejala infeksi saluran kemih seperti yang telah dilakukan dengan mengidentifikasi demam, nyeri, dan karakteristik urine. Pemantauan harus berlanjut untuk menilai respons terapi. (2) Mempertahankan sistem drainase tertutup dan paten dengan memastikan tidak ada kebocoran, sambungan tidak terlepas, dan aliran urine lancar tanpa tersumbat. Sistem tertutup adalah prinsip utama pencegahan ISK terkait kateter. (3) Melakukan perawatan meatus dan kateter secara rutin dengan teknik bersih/aseptik untuk mengurangi kolonisasi bakteri di sekitar tempat masuknya kateter. (4) Mempertahankan posisi bag urine di bawah kandung kemih untuk mencegah arus balik urine yang terkontaminasi. (5) Mengganti kateter dan bag urine sesuai indikasi atau kebijakan institusi. Mengingat sudah terjadi infeksi, penggantian kateter mungkin diperlukan untuk menghilangkan biofilm bakteri. (6) Mendorong asupan cairan yang adekuat jika tidak ada kontraindikasi, untuk membantu membilas kandung kemih secara alami. (7) Mengkaji kebutuhan pemasangan kateter yang terus menerus. Ini adalah intervensi kritis: perawat harus berkolaborasi dengan dokter untuk menghentikan kateter sesegera mungkin ketika indikasi medisnya sudah tidak ada, karena kateter yang terus terpasang adalah faktor risiko utama untuk infeksi berulang. Selain SIKI 3401, intervensi pendukung seperti Manajemen Nyeri (SIKI 0801) untuk mengurangi nyeri suprapubik dan Manajemen Hipertermia (SIKI 1401) untuk menangani demam juga sangat diperlukan. Pendekatan holistik ini bertujuan untuk mengatasi infeksi, mengurangi gejala, dan mencegah komplikasi lebih lanjut pada pasien lansia yang rentan.
-
Article No. 24731 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang lansia (80 th) terpasang kateter urin selama 2 minggu karena retensi urin. Saat ini urine di bag tampak keruh dan mengandung darah (hematuria). Pasien mengeluh nyeri di area suprapubik dan suhu tubuh 38,8°C.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Infeksi Saluran Kemih (ISK) terkait pemasangan kateter urin
Kode SDKI: 00038
Deskripsi Singkat: Respon fisiologis terhadap patogen yang telah menembus pertahanan saluran kemih, ditandai dengan tanda dan gejala lokal dan sistemik.
Kode SLKI: 1901
Deskripsi : Infeksi dikendalikan. Kriteria hasil: (1) Tanda dan gejala infeksi tidak ada. (2) Hasil kultur mikroorganisme negatif. (3) Tanda-tanda vital dalam rentang normal. (4) Nilai laboratorium terkait infeksi dalam batas normal. (5) Kemampuan melakukan aktivitas sesuai kondisi. (6) Pengetahuan tentang pencegahan infeksi meningkat. (7) Tidak ada komplikasi akibat infeksi. (8) Status nutrisi adekuat. (9) Status hidrasi adekuat. (10) Kebersihan diri optimal.
Kode SIKI: 3540, 4208, 1910, 1920
Deskripsi :
3540 - Manajemen Infeksi: Intervensi untuk mencegah dan mengatasi infeksi. Tindakan keperawatan meliputi: (a) Memantau tanda-tanda infeksi sistemik dan lokal (seperti demam, menggigil, kemerahan, panas, edema, nyeri, drainage). Pada pasien ini, pemantauan ketat suhu tubuh (38,8°C), karakteristik urine (keruh, hematuria), dan keluhan nyeri suprapubik sangat penting. (b) Menggunakan teknik aseptik ketat dalam semua prosedur, terutama perawatan kateter dan pengambilan sampel urine. (c) Mengajarkan dan mendorong cuci tangan pada pasien, keluarga, dan semua petugas kesehatan. (d) Melakukan perawatan kateter urin dengan benar (menjaga sistem drainase tertutup, menjaga kantong urine di bawah kandung kemih, menghindari tarikan pada kateter, membersihkan meatus urethra secara rutin). (e) Mengkolaborasikan pemberian terapi antibiotik sesuai resep dan memantau efektivitas serta efek sampingnya. (f) Meningkatkan asupan cairan jika tidak ada kontraindikasi untuk membantu membilas saluran kemih. (g) Mengumpulkan spesimen urine untuk kultur dan sensitivitas secara aseptik untuk identifikasi patogen dan terapi yang tepat.
4208 - Manajemen Nyeri: Intervensi untuk meringankan atau mengurangi nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi. Tindakan meliputi: (a) Melakukan pengkajian nyeri komprehensif (lokasi: suprapubik, karakteristik, intensitas, faktor pencetus dan pereda). (b) Memberikan posisi yang nyaman. (c) Menerapkan kompres hangat pada area suprapubik jika diizinkan untuk mengurangi spasme dan ketidaknyamanan. (d) Mengalihkan perhatian melalui teknik relaksasi atau distraksi. (e) Mengkolaborasikan pemberian analgesik sesuai resep dan mengevaluasi respons terapi. (f) Meminimalkan faktor yang dapat meningkatkan nyeri seperti ketegangan pada selang kateter.
1910 - Manajemen Lingkungan Terapeutik: Menyediakan lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung penyembuhan. Tindakan meliputi: (a) Memastikan lingkungan bersih dan higienis untuk mencegah infeksi tambahan. (b) Mengatur suhu ruangan yang nyaman, terutama karena pasien demam. (c) Memastikan tempat tidur bersih, kering, dan bebas dari kerutan untuk mencegah iritasi kulit dan meningkatkan kenyamanan. (d) Mengatur sirkulasi udara dan pencahayaan yang adequate.
1920 - Pemantauan Tanda-Tanda Vital: Pengukuran dan interpretasi data fisiologis secara sistematis untuk menentukan status kesehatan. Tindakan meliputi: (a) Memantau suhu tubuh secara teratur (setiap 2-4 jam selama demam) untuk menilai respons terhadap terapi antipiretik dan antibiotik. (b) Memantau denyut nadi, pernapasan, dan tekanan darah. Takikardia dan hipotensi dapat mengindikasikan sepsis, komplikasi serius dari ISK. (c) Mendokumentasikan temuan secara akurat dan melaporkan perubahan yang signifikan.
Definisi: Infeksi Saluran Kemih (ISK) terkait kateter adalah infeksi yang terjadi akibat pemasangan dan pemeliharaan kateter urin, yang menjadi jalan masuk bakteri ke dalam kandung kemih. Pada lansia, risiko ISK meningkat karena faktor seperti penurunan imunitas, adanya komorbid, dan stasis urine. Gejala klinis pada pasien ini (demam, nyeri suprapubik, urine keruh dan berdarah) sangat konsisten dengan ISK yang mungkin telah berkembang menjadi pielonefritis (infeksi ginjal) karena demam tinggi. Tatalaksana keperawatan berfokus pada pengendalian infeksi melalui terapi antibiotik yang tepat, perawatan kateter yang steril, manajemen gejala (nyeri dan demam), peningkatan daya tahan tubuh, dan pencegahan komplikasi seperti urosepsis. Penting juga untuk mempertimbangkan penghentian kateter segera jika sudah tidak diperlukan untuk menghilangkan sumber infeksi.
-
Article No. 24732 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang lansia (80 th) terpasang kateter urin selama 2 minggu karena retensi urin. Saat ini urine di bag tampak keruh dan mengandung darah (hematuria). Pasien mengeluh nyeri di area suprapubik dan suhu tubuh 38,8°C.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Infeksi Saluran Kemih (ISK) terkait pemasangan kateter urin
Kode SDKI: 00037
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 1901
Deskripsi : Pengendalian Infeksi
Kode SIKI: 3510
Deskripsi : Manajemen Perawatan Kateter
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI): Risiko Infeksi (Kode 00037)
Definisi SDKI: Kerentanan terhadap invasi dan multiplikasi patogen, yang dapat mengancam kesehatan. Pada kasus ini, kondisi pasien lansia (80 tahun) dengan kateter urin yang terpasang selama 2 minggu, urine keruh dan hematuria, nyeri suprapubik, dan demam (38,8°C) secara jelas menunjukkan bahwa risiko infeksi telah termanifestasi menjadi infeksi aktual, yaitu Infeksi Saluran Kemih (ISK) yang terkait dengan kateter (CAUTI). Meskipun kode "Risiko Infeksi" digunakan, konteks klinisnya sudah merupakan infeksi nyata. Fokus diagnosa adalah pada kerentanan tinggi pasien terhadap infeksi yang disebabkan oleh adanya benda asing (kateter) yang memfasilitasi masuknya mikroorganisme ke dalam kandung kemih. Faktor-faktor yang memperberat pada lansia meliputi penurunan fungsi imun, kemungkinan atrofi mukosa saluran kemih, dan stasis urine. Tanda-tanda seperti demam, nyeri, dan perubahan karakter urine (keruh dan berdarah) adalah indikator kuat dari respons tubuh terhadap infeksi. Diagnosa ini menjadi dasar untuk intervensi yang bertujuan mencegah penyebaran infeksi dan mengatasi sumbernya.
Luaran Keperawatan (SLKI): Pengendalian Infeksi (Kode 1901)
Definisi SLKI: Tindakan untuk mencegah dan mengurangi risiko penyebaran infeksi. Luaran yang diharapkan dari intervensi keperawatan adalah infeksi pada pasien dapat dikendalikan dan disembuhkan. Kriteria luaran yang spesifik dalam kasus ini meliputi: (1) Suhu tubuh kembali dalam rentang normal (36,5°C - 37,5°C), (2) Nyeri suprapubik berkurang atau hilang, (3) Urine kembali jernih dan tidak mengandung darah (hematuria teratasi), (4) Tidak ada penyebaran infeksi ke ginjal (ditandai dengan tidak adanya nyeri pinggang, demam yang lebih tinggi, atau menggigil), dan (5) Hasil kultur urine menunjukkan berkurangnya atau hilangnya koloni bakteri. Pengendalian infeksi pada pasien dengan kateter memerlukan pendekatan multimodal, termasuk pemberian antibiotik sesuai resep, perawatan kateter yang steril, dan meningkatkan daya tahan tubuh pasien. SLKI ini menjadi tujuan yang terukur untuk mengevaluasi keberhasilan asuhan keperawatan dan intervensi medis yang diberikan.
Intervensi Keperawatan (SIKI): Manajemen Perawatan Kateter (Kode 3510)
Definisi SIKI: Penatalaksanaan kateter urine eksternal dan internal. Ini adalah intervensi kunci dalam menangani pasien ini, karena kateter yang terpasang lama adalah sumber utama infeksi. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan: (1) Pemantauan dan Observasi: Memantau tanda-tanda infeksi (suhu, karakter urine, nyeri), mengukur output urine, dan mengobservasi kondisi meatus uretra serta kulit di sekitar kateter untuk tanda iritasi atau inflamasi. (2) Perawatan Kateter dengan Teknik Steril/Aseptik: Membersihkan daerah meatus dan kateter dengan pembersih sesuai protokol (biasanya setiap hari setelah BAB/BAK dan jika kotor), menjaga sistem drainase tertutup dan tidak terganggu, memastikan bag drainase selalu berada di bawah kandung kemih untuk mencegah arus balik urine, serta menghindari menarik-narik kateter. (3) Pendidikan dan Kolaborasi: Berkolaborasi dengan tim medis untuk evaluasi kebutuhan pemasangan kateter yang berkelanjutan—mengingat kateter telah terpasang 2 minggu, pertimbangan untuk mencabut atau mengganti kateter sangat penting. Diskusikan kemungkinan alternatif seperti toileting terjadwal jika retensi urin sudah membaik. Mengajarkan pada keluarga (jika terlibat) tentang tanda-tanda infeksi dan pentingnya higiene. (4) Peningkatan Eliminasi Alami: Mendorong asupan cairan yang adekuat (jika tidak terkontraindikasi) untuk membantu membilas saluran kemih secara alami. (5) Penggantian Peralatan: Mengganti bag drainase dan selang sesuai kebijakan institusi atau jika terkontaminasi. Intervensi ini tidak berdiri sendiri; harus dikombinasikan dengan SIKI lain seperti Pemberian Obat (SIKI 2820) untuk pemberian antibiotik dan analgesik sesuai resep, serta Manajemen Nyeri (SIKI 1400). Pendekatan komprehensif ini bertujuan untuk mengatasi infeksi, mengurangi ketidaknyamanan pasien, dan mencegah komplikasi lebih lanjut seperti urosepsis.
-
Article No. 24733 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang lansia (80 th) terpasang kateter urin selama 2 minggu karena retensi urin. Saat ini urine di bag tampak keruh dan mengandung darah (hematuria). Pasien mengeluh nyeri di area suprapubik dan suhu tubuh 38,8°C.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Infeksi Saluran Kemih (ISK) terkait pemasangan kateter urin
Kode SDKI: 0017
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 1701
Deskripsi : Infeksi dicegah
Kode SIKI: 1701A
Deskripsi : Mempertahankan teknik aseptik. Perawat secara ketat menerapkan dan mempertahankan prinsip aseptik selama semua prosedur yang berhubungan dengan kateter, terutama saat pemasangan, perawatan daerah insersi, dan pengambilan sampel urine. Ini termasuk cuci tangan yang efektif sebelum dan setelah kontak, penggunaan alat pelindung diri yang sesuai, dan pembersihan area meatal dengan teknik yang benar secara rutin. Teknik aseptik adalah batu penjuru pencegahan ISK nosokomial dan sangat krusial pada pasien lansia yang sistem imunnya menurun. Penerapan yang konsisten bertujuan memutus rantai penularan mikroorganisme dari lingkungan atau petugas ke sistem kemiah pasien melalui lumen kateter atau di sepanjang permukaan luar kateter.
Kondisi: Infeksi Saluran Kemih (ISK) terkait pemasangan kateter urin
Kode SDKI: 0017
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 1701
Deskripsi : Infeksi dicegah
Kode SIKI: 1701C
Deskripsi : Mempertahankan sistem drainase urine yang tertutup. Perawat memastikan sistem drainase kateter tetap tertutup rapat dan tidak terganggu. Ini berarti menghindari pemutusan sambungan yang tidak perlu antara kateter dan selang drainase, serta antara selang dan bag urine. Sistem tertutup mencegah masuknya bakteri dari lingkungan luar ke dalam saluran kemih. Perawat juga memastikan bag urine selalu berada di posisi yang lebih rendah dari kandung kemih pasien (tidak boleh diletakkan di lantai) untuk mencegah aliran balik urine yang terkontaminasi ke kandung kemih. Pemeriksaan rutin terhadap kebocoran sistem dan menjaga patensi aliran urine untuk mencegah stasis juga merupakan bagian dari intervensi ini, karena urine yang tergenang dalam bag atau selang dapat menjadi media pertumbuhan bakteri.
Kondisi: Nyeri Akut terkait inflamasi kandung kemih (sistitis)
Kode SDKI: 0020
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: 2002
Deskripsi : Tingkat nyeri terkontrol
Kode SIKI: 2002A
Deskripsi : Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif. Perawat melakukan pengkajian nyeri yang mendalam menggunakan metode PQRST (Provocation/Palliation, Quality, Region/Radiation, Severity, Time) atau skala nyeri yang sesuai untuk lansia (misalnya, Wong-Baker Faces atau Numeric Rating Scale). Pengkajian mencakup karakteristik nyeri suprapubik (seperti rasa terbakar, tekan, atau kram), intensitasnya, faktor yang memperberat dan meringankan, serta dampaknya terhadap kenyamanan dan aktivitas pasien. Pada lansia, pengkajian harus sensitif karena kemungkinan adanya keterbatasan komunikasi atau kepercayaan bahwa nyeri adalah hal yang wajar di usia tua. Pengkajian yang akurat dan berkelanjutan ini menjadi dasar untuk mengevaluasi efektivitas intervensi yang diberikan dan kebutuhan penyesuaian terapi.
Kondisi: Hipertermia terkait proses infeksi bakteri
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Hipertermia
Kode SLKI: 0701
Deskripsi : Suhu tubuh normal
Kode SIKI: 0701A
Deskripsi : Memonitor suhu tubuh. Perawat melakukan pemantauan suhu tubuh secara teratur dan akurat sesuai kondisi pasien, misalnya setiap 2-4 jam atau sesuai protokol. Pemantauan tidak hanya pada nilai suhu (38,8°C) tetapi juga pola (kontinu, intermiten), serta gejala penyerta seperti menggigil, diaforesis (berkeringat), kulit kemerahan, atau takikardia. Pemantauan yang ketat penting untuk menilai perkembangan infeksi, respons tubuh terhadap terapi antipiretik dan antibiotik, serta mendeteksi dini komplikasi seperti syok septik. Data ini dicatat dengan cermat untuk evaluasi tren dan pengambilan keputusan klinis oleh tim kesehatan.
Kondisi: Gangguan Eliminasi Urine: Retensi Urin (dasar pemasangan kateter) dan pola perubahan terkait ISK
Kode SDKI: 0011
Deskripsi Singkat: Gangguan Eliminasi Urine
Kode SLKI: 1102
Deskripsi : Eliminasi urine efektif
Kode SIKI: 1102B
Deskripsi : Memonitor karakteristik urine. Perawat melakukan observasi dan pencatatan yang cermat terhadap karakteristik urine di bag drainage, meliputi warna, kejernihan, bau, dan jumlah (output). Pada kasus ini, urine yang keruh dan mengandung darah (hematuria) adalah tanda utama infeksi dan iritasi mukosa kandung kemih. Perawat memantau perubahan karakteristik ini sebagai indikator respons terhadap terapi antibiotik. Pengamatan juga mencakup adanya sedimen, lendir, atau gumpalan. Pemantauan output urine per jam penting untuk memastikan fungsi ginjal yang adekuat dan mendeteksi obstruksi dini pada kateter. Data ini sangat berharga untuk diagnosis dan evaluasi keberhasilan penanganan ISK.
-
Article No. 24734 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang lansia (80 th) terpasang kateter urin selama 2 minggu karena retensi urin. Saat ini urine di bag tampak keruh dan mengandung darah (hematuria). Pasien mengeluh nyeri di area suprapubik dan suhu tubuh 38,8°C.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Infeksi Saluran Kemih (ISK) terkait pemasangan kateter urin
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 1900
Deskripsi : Pengendalian Infeksi
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : Manajemen Infeksi
Kondisi: Nyeri Akut terkait inflamasi kandung kemih (sistitis)
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: 1400
Deskripsi : Kontrol Nyeri
Kode SIKI: 2250
Deskripsi : Manajemen Nyeri
Kondisi: Hipertermia terkait proses infeksi bakteri
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Hipertermia
Kode SLKI: 1801
Deskripsi : Status Termoregulasi
Kode SIKI: 3900
Deskripsi : Manajemen Hipertermia
-
Article No. 24735 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang lansia (80 th) terpasang kateter urin selama 2 minggu karena retensi urin. Saat ini urine di bag tampak keruh dan mengandung darah (hematuria). Pasien mengeluh nyeri di area suprapubik dan suhu tubuh 38,8°C.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Infeksi Saluran Kemih (ISK) terkait pemasangan kateter urin
Kode SDKI: 0003
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi adalah keadaan dimana individu berisiko mengalami invasi oleh agen patogen.
Kode SLKI: 1900
Deskripsi : SLKI 1900: Manajemen Infeksi. Tindakan keperawatan untuk mencegah, mendeteksi, dan menangani infeksi. Pada kasus ini, fokusnya adalah pada deteksi dini dan penanganan ISK yang sudah terjadi. Indikator yang relevan termasuk: 1901 Memonitor tanda dan gejala infeksi (seperti demam >38°C, urine keruh, hematuria, nyeri suprapubik), 1902 Mengidentifikasi faktor risiko infeksi (seperti pemasangan kateter urin jangka panjang >2 minggu pada lansia), 1906 Melakukan tindakan untuk mengontrol penyebaran infeksi (seperti perawatan kateter aseptik, menjaga sistem drainase tertutup), dan 1910 Melakukan kolaborasi pemberian terapi antibiotik sesuai resep. Perawat harus secara ketat memantau tanda-tanda sistemik dan lokal infeksi, karena lansia mungkin tidak menunjukkan respon demam yang jelas, namun pada kasus ini demam sudah jelas ada. Pemantauan karakteristik urine (warna, kekeruhan, bau, jumlah) sangat krusial. Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya kebersihan area kateter dan tanda-tanda infeksi yang harus dilaporkan juga merupakan bagian dari manajemen ini.
Kode SIKI: 3400
Deskripsi : SIKI 3400: Manajemen Perawatan Kateter Urin. Tindakan keperawatan untuk memasang, memelihara, dan melepas kateter urin. Pada kondisi ISK yang sudah terjadi, tindakan ini menjadi sangat penting untuk mencegah infeksi lebih lanjut dan memfasilitasi penyembuhan. Indikator yang relevan meliputi: 3401 Mempertahankan sistem drainase urine yang tertutup dan steril (kantung drainase harus selalu berada di bawah kandung kemih untuk mencegah arus balik), 3402 Mengamati karakteristik urine (volume, warna, kejernihan, bau) secara berkala, dan pada kasus ini menemukan urine keruh dan hematuria yang harus didokumentasi dan dilaporkan, 3403 Memastikan kepatenan aliran urine (mencegah tekukan selang, obstruksi) untuk mengurangi stagnasi urine yang menjadi media pertumbuhan bakteri, 3404 Melakukan perawatan meatus urinarius dan kateter secara rutin dengan teknik aseptik untuk mengurangi kolonisasi bakteri, 3406 Mengganti kateter dan sistem drainase sesuai kebijakan atau indikasi (pada infeksi yang tidak teratasi, penggantian kateter mungkin diperlukan), dan 3408 Mencatat dan melaporkan output urine. Perawat harus memastikan teknik perawatan yang sangat steril, karena kateter yang sudah terpasang lama merupakan jalan masuk bakteri ke kandung kemih. Pencatatan output yang akurat membantu menilai fungsi ginjal dan respons terapi. Posisi kantung urine yang benar dan menghindari traksi pada kateter juga penting untuk mencegah trauma uretra dan kandung kemih yang dapat memperburuk infeksi dan nyeri.
-
Article No. 24736 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang lansia (80 th) terpasang kateter urin selama 2 minggu karena retensi urin. Saat ini urine di bag tampak keruh dan mengandung darah (hematuria). Pasien mengeluh nyeri di area suprapubik dan suhu tubuh 38,8°C.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Infeksi Saluran Kemih (ISK) terkait Kateter
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi adalah keadaan dimana individu berisiko mengalami invasi dan multiplikasi patogen.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Tindakan Keperawatan: Pencegahan Infeksi adalah tindakan untuk meminimalkan risiko masuk dan penyebaran mikroorganisme patogen. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan yang sangat relevan untuk pasien lansia dengan kateter urin. Pertama, perawat akan memantau tanda-tanda infeksi secara ketat, termasuk suhu tubuh (seperti demam 38,8°C), karakteristik urine (kekeruhan dan hematuria), serta keluhan nyeri suprapubik. Pemantauan ini dilakukan setidaknya setiap 8 jam atau sesuai kondisi. Kedua, perawat akan melakukan perawatan kateter dengan teknik steril, termasuk membersihkan area meatus uretra dan pipa kateter dengan antiseptik yang sesuai sesuai protokol, biasanya dua kali sehari atau bila terkontaminasi. Ketiga, perawat akan memastikan sistem drainase urine tetap tertutup dan tidak terganggu, dengan posisi bag urine selalu di bawah kandung kemih untuk mencegah arus balik. Keempat, perawat akan mendorong asupan cairan yang adekuat (jika tidak ada kontraindikasi) untuk membantu membilas saluran kemih. Kelima, perawat akan melakukan edukasi pada pasien dan keluarga tentang pentingnya kebersihan perorangan, tanda-tanda infeksi yang harus dilaporkan, dan cara mencegah tarikan pada kateter. Keenam, perawat akan berkolaborasi dengan tim medis untuk pemberian antibiotik sesuai resep jika infeksi telah terkonfirmasi. Seluruh tindakan ini didokumentasikan dengan baik untuk evaluasi keberhasilan pencegahan dan penanganan infeksi.
Kode SIKI: 1401
Deskripsi : Kriteria Hasil: Pencegahan Infeksi tercapai ditandai dengan tidak adanya tanda dan gejala infeksi. Pada konteks pasien ini, tujuan utamanya adalah resolusi infeksi yang sedang terjadi dan pencegahan kekambuhan. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: (1) Suhu tubuh kembali dalam rentang normal (36,5 – 37,5°C) dalam 48-72 jam setelah intervensi. (2) Urine kembali jernih, tidak keruh, dan tidak mengandung darah (hematuria teratasi). (3) Keluhan nyeri suprapubik berkurang hingga hilang. (4) Tidak ada keluhan disuria atau urgensi setelah kateter dilepas (jika sudah tidak diperlukan). (5) Hasil pemeriksaan kultur urine menunjukkan tidak ada pertumbuhan bakteri atau jumlah koloni dalam batas normal. (6) Pasien dan keluarga dapat menyebutkan minimal dua tanda infeksi yang harus diwaspadai dan dua cara mencegah infeksi terkait kateter. Pencapaian kriteria ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan dan medis efektif dalam mengatasi infeksi dan memulihkan integritas saluran kemih pasien. Pemantauan berlanjut diperlukan karena pasien lansia termasuk kelompok rentan dengan risiko kekambuhan yang lebih tinggi.
-
Article No. 24737 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang lansia (80 th) terpasang kateter urin selama 2 minggu karena retensi urin. Saat ini urine di bag tampak keruh dan mengandung darah (hematuria). Pasien mengeluh nyeri di area suprapubik dan suhu tubuh 38,8°C.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Infeksi Saluran Kemih (ISK) terkait pemasangan kateter urin
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 1910
Deskripsi : Pengendalian Infeksi
Kode SIKI: 3540
Deskripsi : Manajemen Perawatan Kateter Urin
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI) - Risiko Infeksi (Kode 0007): SDKI ini dipilih karena pasien lansia dengan kateter urin jangka panjang (2 minggu) menunjukkan tanda-tanda infeksi aktif, yaitu urine keruh, hematuria, nyeri suprapubik, dan demam (38,8°C). Pemasangan kateter urin merupakan faktor risiko utama untuk infeksi saluran kemih (ISK) karena kateter bertindak sebagai jalan masuk bakteri ke dalam kandung kemih yang seharusnya steril. Pada lansia, risiko ini semakin tinggi karena penurunan fungsi sistem imun, kemungkinan adanya kondisi komorbid seperti hipertrofi prostat atau diabetes, serta penurunan mobilitas. "Risiko Infeksi" dalam konteks ini telah bermanifestasi menjadi infeksi aktual, sehingga fokus intervensi adalah mengatasi infeksi yang ada dan mencegah komplikasi lebih lanjut seperti pielonefritis atau sepsis. Tujuan keperawatan adalah menghilangkan infeksi, mencegah kekambuhan, dan meminimalkan ketidaknyamanan pasien.
Luaran Keperawatan (SLKI) - Pengendalian Infeksi (Kode 1910): SLKI ini merupakan luaran yang diharapkan dari intervensi keperawatan untuk diagnosa Risiko Infeksi. Tujuannya adalah agar pasien mencapai status bebas infeksi. Kriteria luaran yang diharapkan pada pasien ini meliputi: (1) Tanda-tanda Infeksi Tidak Ada: Suhu tubuh kembali normal (36,5-37,5°C), urine jernih dan tidak mengandung darah, nyeri suprapubik hilang, dan tidak ada keluhan disuria. (2) Pengetahuan tentang Pencegahan Infeksi: Meskipun pasien lansia, keluarga atau pengasuh memahami pentingnya perawatan kateter yang steril, menjaga asupan cairan, dan mengenali tanda-tanda infeksi berulang. (3) Perilaku Pencegahan Infeksi: Terlihat dari teknik perawatan kateter yang benar, kebersihan area perineal yang terjaga, dan kepatuhan terhadap terapi antibiotik jika diresepkan. Pencapaian luaran ini dinilai melalui pemantauan tanda vital, inspeksi urine, skala nyeri, dan wawancara dengan pasien/keluarga.
Intervensi Keperawatan (SIKI) - Manajemen Perawatan Kateter Urin (Kode 3540): Ini adalah intervensi inti untuk menangani masalah pasien. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan sistematis: (1) Pengkajian dan Pemantauan: Memantau karakteristik urine (warna, kekeruhan, bau, jumlah) setiap shift, mengobservasi tanda-tanda infeksi sistemik (demam, menggigil, perubahan status mental), dan menilai tingkat nyeri. (2) Tindakan Teknis: Memastikan sistem drainase kateter tertutup dan tidak terganggu, menjaga kantong urine di bawah level kandung kemih untuk mencegah arus balik, mengosongkan kantong urine secara teratur dengan teknik aseptik, serta melakukan perawatan area meatus kateter dengan pembersih sesuai protokol untuk mengurangi kolonisasi bakteri. (3) Edukasi dan Kolaborasi: Memberikan edukasi kepada keluarga/pengasuh tentang pentingnya menjaga kebersihan, menghindari tarikan pada kateter, dan memastikan asupan cairan yang cukup (jika tidak ada kontraindikasi) untuk melancarkan aliran urine. Kolaborasi dengan dokter sangat penting untuk pemeriksaan kultur urine dan pemberian antibiotik yang tepat sesuai sensitivitas kuman. (4) Pertimbangan Penghentian: Mengevaluasi kebutuhan terus-menerus pemasangan kateter. Karena kateter telah terpasang 2 minggu, perlu dikaji bersama dokter apakah indikasi retensi urin masih ada dan apakah kateter dapat dihentikan untuk memutus sumber infeksi utama. Semua tindakan ini bertujuan untuk mengeliminasi infeksi, memberikan kenyamanan, dan mencegah komplikasi lebih lanjut pada pasien lansia yang rentan ini.
-
Article No. 24738 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang lansia (80 th) terpasang kateter urin selama 2 minggu karena retensi urin. Saat ini urine di bag tampak keruh dan mengandung darah (hematuria). Pasien mengeluh nyeri di area suprapubik dan suhu tubuh 38,8°C.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Infeksi Saluran Kemih (ISK) terkait pemasangan kateter urin
Kode SDKI: 00033
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 1900
Deskripsi : Pengendalian Infeksi
Kode SIKI: 4200
Deskripsi : Manajemen Kateter Urin
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI): Risiko Infeksi (Kode 00033)
Definisi SDKI: Status dinamis di mana individu rentan terhadap invasi dan perkembangbiakan patogen, yang dapat mengancam kesehatan. Pada kasus lansia ini, risiko telah menjadi realitas infeksi. Pemasangan kateter urin merupakan faktor risiko utama untuk ISK karena kateter bertindak sebagai jalan masuk bakteri ke dalam kandung kemih yang seharusnya steril. Kateter yang terpasang lama (lebih dari 2 minggu) secara signifikan meningkatkan risiko. Tanda dan gejala yang muncul (urin keruh, hematuria, nyeri suprapubik, dan demam 38,8°C) merupakan manifestasi klinis dari infeksi yang telah terjadi, sehingga diagnosis "Risiko Infeksi" tetap relevan dengan penekanan pada pencegahan komplikasi dan infeksi berulang.
Luaran Keperawatan (SLKI): Pengendalian Infeksi (Kode 1900)
Definisi SLKI: Tindakan untuk mencegah atau mengurangi risiko infeksi. Luaran yang diharapkan pada pasien ini adalah infeksi dapat dikendalikan dan disembuhkan. Kriteria luaran yang spesifik meliputi: (1) Tanda-tanda Infeksi Terkendali: Suhu tubuh kembali normal (36,5-37,5°C), urin kembali jernih dan tidak mengandung darah, nyeri suprapubik hilang atau berkurang secara signifikan. (2) Pemahaman dan Partisipasi: Pasien/keluarga memahami penyebab infeksi dan tanda-tanda yang harus diwaspadai. (3) Pencegahan Komplikasi: Tidak terjadi penyebaran infeksi ke ginjal (pielonefritis) yang ditandai dengan nyeri pinggang, menggigil, atau mual muntah. Pengendalian infeksi merupakan tujuan utama dari intervensi keperawatan dalam skenario ini.
Intervensi Keperawatan (SIKI): Manajemen Kateter Urin (Kode 4200)
Definisi SIKI: Tindakan untuk memasang, merawat, dan melepas kateter urin. Intervensi ini adalah kunci penatalaksanaan. Aktivitas keperawatan yang harus dilakukan meliputi: (1) Pengkajian dan Pemantauan: Memantau karakteristik urin (warna, kekeruhan, bau, jumlah) setiap shift, memantau suhu tubuh secara berkala, menilai tingkat nyeri. Melaporkan temuan abnormal seperti hematuria persisten atau demam tinggi. (2) Perawatan Kateter dan Kebersihan: Melakukan perawatan kateter dengan teknik steril/asEPTIK, menjaga sistem kateter tertutup dan tidak terganggu, membersihkan area meatus uretra dengan pembersih sesuai protokol, memastikan kantong urin selalu berada di bawah kandung kemih untuk mencegah arus balik. (3) Manajemen Nyeri dan Demam: Memberikan terapi farmakologis (analgesik, antipiretik, antibiotik) sesuai resep dokter. Dapat memberikan kompres hangat di area suprapubik untuk mengurangi ketidaknyamanan. (4) Hidrasi: Mendorong asupan cairan yang adekuat (jika tidak ada kontraindikasi) untuk membantu membilas saluran kemih. (5) Edukasi: Memberikan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga tentang pentingnya kebersihan, tanda-tanda infeksi, dan menghindari tarikan atau tekukan pada selang kateter. (6) Evaluasi Kebutuhan Kateter: Berkolaborasi dengan dokter untuk mengevaluasi apakah kateter masih diperlukan, karena penghentian pemakaian kateter secepat mungkin adalah langkah utama dalam mengatasi infeksi. Intervensi ini bersifat komprehensif, menggabungkan aspek teknis perawatan kateter dengan manajemen gejala dan pendidikan untuk mencegah kekambuhan.