Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 20151 | 28 Jul 2025
Klinis : benjolan pada ketiak
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: 1. Kode ICD-10:
- Kode: R22.2
- Deskripsi: Benjolan (lump) pada ketiak (axilla)
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 86.3
- Deskripsi: Biopsi (pengambilan sampel) jaringan lunak
Penjelasan:
Kode ICD-10 R22.2 digunakan untuk mendiagnosis adanya benjolan atau massa pada area ketiak (axilla). Benjolan pada ketiak dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, seperti pembengkakan kelenjar getah bening, nodul lemak, atau tumor jinak maupun ganas.
Jika diperlukan, dapat dilakukan prosedur biopsi untuk mengambil sampel jaringan dari benjolan tersebut, yang tercakup dalam kode ICD-9-CM 86.3. Prosedur ini dilakukan untuk memperoleh diagnosis definitif melalui pemeriksaan histopatologis, sehingga dapat ditentukan penatalaksanaan yang tepat bagi pasien.
Pemeriksaan lebih lanjut, seperti pencitraan (misalnya ultrasonografi) atau pemeriksaan laboratorium, mungkin diperlukan untuk mengevaluasi karakteristik benjolan dan membantu menentukan diagnosis yang lebih spesifik. -
Article No. 20152 | 28 Jul 2025
Klinis : gangguan pertukaran gas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: **Diagnosa Keperawatan dan Penjelasan Singkat SDKI – SLKI – SIKI untuk Gangguan Pertukaran Gas**
**1. Diagnosa Keperawatan (SDKI – Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia)**
**Kode:** **00030**
**Judul:** **Gangguan Pertukaran Gas**
**Definisi:** **Kondisi di mana terjadi ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan metabolik tubuh atau gangguan eliminasi karbon dioksida pada membran alveolus-kapiler.**
**Faktor yang Berhubungan (Etiologi):**
- Gangguan ventilasi-perfusi (misalnya: atelektasis, pneumonia, PPOK).
- Penurunan kapasitas difusi oksigen (misalnya: edema paru, fibrosis paru).
- Hipoventilasi alveolar (misalnya: depresi sistem saraf pusat, obstruksi jalan napas).
**2. Kriteria Hasil (SLKI – Standar Luaran Keperawatan Indonesia)**
**Kode:** **0301**
**Judul:** **Perbaikan Pertukaran Gas**
**Indikator:**
- **Frekuensi pernapasan dalam rentang normal (12–20 kali/menit pada dewasa).**
- **Satursi oksigen (SpO?) ?95% dalam udara ruangan.**
- **Gas darah arteri (PaO?, PaCO?, pH) dalam batas normal.**
- **Tidak ada sianosis atau dispnea saat aktivitas.**
**3. Intervensi Keperawatan (SIKI – Standar Intervensi Keperawatan Indonesia)**
**Kode:** **3310**
**Judul:** **Manajemen Jalan Napas**
**Aktivitas:**
- **Memantau frekuensi, irama, dan kedalaman pernapasan.**
- **Memberikan oksigen tambahan sesuai indikasi.**
- **Melakukan fisioterapi dada (postural drainage, perkusi, vibrasi) jika diperlukan.**
- **Memposisikan pasien semi-Fowler atau Fowler untuk optimalisasi ventilasi.**
**Kode:** **3320**
**Judul:** **Manajemen Oksigenasi**
**Aktivitas:**
- **Memantau saturasi oksigen secara berkala.**
- **Memastikan alat oksigenasi berfungsi dengan baik.**
- **Edukasi pasien tentang teknik pernapasan dalam dan batuk efektif.**
**Penjelasan Singkat:**
Gangguan pertukaran gas merupakan kondisi klinis yang memerlukan pendekatan sistematis berbasis bukti. SDKI memberikan kerangka diagnosa, SLKI menetapkan target luaran, dan SIKI mengarahkan intervensi spesifik untuk memastikan perbaikan oksigenasi dan pencegahan komplikasi. Pemantauan ketat terhadap parameter respirasi dan intervensi seperti manajemen jalan napas serta oksigenasi menjadi kunci keberhasilan asuhan keperawatan.
**Referensi:**
- **PPNI. (2017). *Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), dan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI).* Edisi 1.**
*(Format RTF dapat disesuaikan dengan kebutuhan dokumen klinis atau akademik.)* -
Article No. 20153 | 28 Jul 2025
Klinis : radang paru
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis radang paru serta kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis yang mungkin terkait:
1. Kode ICD-10:
- Kode: J15.9
- Deskripsi: Pneumonia, tidak diklasifikasikan di tempat lain
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 96.04
- Deskripsi: Pemberian oksigen suplemen
Penjelasan:
Radang paru atau pneumonia adalah infeksi pada jaringan paru-paru yang dapat disebabkan oleh berbagai jenis mikroorganisme, seperti bakteri, virus, atau jamur. Kode ICD-10 J15.9 mencakup pneumonia yang tidak diklasifikasikan di tempat lain, yang berarti tidak termasuk dalam kategori pneumonia spesifik lainnya seperti pneumonia lobar, pneumonia virus, atau pneumonia aterogenik.
Dalam penanganan radang paru, salah satu tindakan medis yang mungkin dilakukan adalah pemberian oksigen suplemen, yang tercakup dalam kode ICD-9-CM 96.04. Pemberian oksigen tambahan bertujuan untuk meningkatkan pasokan oksigen ke jaringan tubuh, yang dapat terganggu akibat infeksi pada paru-paru.
Kode-kode ini dapat digunakan oleh dokter, perekam medis, atau tenaga kesehatan lainnya dalam mencatat dan mendokumentasikan diagnosis dan tindakan medis yang dilakukan pada pasien dengan radang paru. -
Article No. 20154 | 28 Jul 2025
Klinis : flek paru
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis untuk kondisi flek paru:
1. Kode ICD-10:
- Kode: J86.0
- Deskripsi: Abses paru
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 33.21
- Deskripsi: Drenase abses paru, terbuka
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 J86.0 (Abses paru) sesuai dengan kondisi flek paru, yang menunjukkan adanya lesi fokal atau kumpulan nanah dalam jaringan paru. Flek paru dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, jamur, atau proses patologis lainnya yang menyebabkan pembentukan abses pada jaringan paru.
2. Jika pasien memerlukan tindakan medis untuk mengatasi abses paru, maka prosedur yang dapat dilakukan adalah drenase abses paru secara terbuka, yang tercakup dalam kode ICD-9-CM 33.21. Tindakan ini dilakukan untuk evakuasi dan drainase nanah dari dalam abses paru, sehingga dapat membantu penyembuhan dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Sebagai dokter atau perekam medis, penting untuk melakukan kodefikasi yang tepat berdasarkan kondisi klinis pasien dan tindakan medis yang dilakukan, agar dapat mendukung proses dokumentasi, penagihan, dan analisis data kesehatan yang akurat. -
Article No. 20155 | 28 Jul 2025
Klinis : paru paru basah
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis untuk kondisi "paru-paru basah" dalam format yang terstruktur.
1. Kode ICD-10:
- Kode: J15.9
- Deskripsi: Pneumonia bakteri, tidak diklasifikasikan di tempat lain
Pneumonia adalah infeksi yang menyebabkan peradangan dan pembengkakan di satu atau kedua paru-paru. Pneumonia bakteri, yang tercakup dalam kode ICD-10 J15.9, adalah jenis pneumonia yang disebabkan oleh bakteri, bukan virus atau penyebab lainnya. Kondisi ini ditandai dengan gejala seperti batuk, demam, kesulitan bernapas, dan produksi dahak.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 99.15
- Deskripsi: Pemberian antibiotik intravena
Pada kasus pneumonia bakteri, pemberian antibiotik intravena (kode ICD-9-CM 99.15) merupakan salah satu tindakan medis yang umum dilakukan. Antibiotik diberikan untuk mengatasi infeksi bakteri dan membantu penyembuhan paru-paru.
Dalam praktik klinis, diagnosis pneumonia bakteri berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisik, dan hasil pemeriksaan penunjang seperti rontgen dada. Selain pemberian antibiotik, penatalaksanaan lainnya dapat meliputi istirahat yang cukup, intake cairan yang adekuat, dan suplementasi oksigen jika diperlukan. -
Article No. 20156 | 28 Jul 2025
Klinis : abses paru
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis untuk kondisi abses paru:
1. Kode ICD-10:
- Kode: J85.2
- Deskripsi: Abses paru
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 34.02
- Deskripsi: Drainase terbuka dari abses paru atau empiema dengan insisi.
Penjelasan detail:
1. Kode ICD-10 J85.2 untuk Abses Paru:
- Kode J85 dalam klasifikasi ICD-10 mencakup "Abses pada paru, mediastinum, dan rongga pleura".
- Kode J85.2 secara spesifik menunjukkan "Abses paru".
- Kondisi ini merujuk pada pembentukan kantung nanah atau cairan purulen di dalam jaringan paru, yang dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, jamur, atau parasit.
2. Kode ICD-9-CM Prosedur 34.02 untuk Drainase Abses Paru:
- Kode 34.02 dalam klasifikasi ICD-9-CM merujuk pada "Drainase terbuka dari abses paru atau empiema dengan insisi".
- Prosedur ini dilakukan untuk mengeluarkan cairan atau nanah yang terkumpul dalam abses paru, dengan melakukan insisi dan drainase secara terbuka.
- Tindakan ini bertujuan untuk mengurangi tekanan dalam rongga paru, mencegah penyebaran infeksi, dan memfasilitasi penyembuhan.
Dalam praktik klinis, diagnosis abses paru berdasarkan temuan klinis, pemeriksaan radiologis, dan pemeriksaan penunjang lainnya. Sementara tindakan drainase dilakukan sesuai dengan evaluasi dan rencana penatalaksanaan yang ditentukan oleh dokter yang menangani pasien. -
Article No. 20157 | 28 Jul 2025
Klinis : ppnemonia
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan kode ICD-10 untuk diagnosis pneumonia, serta kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis yang mungkin terkait, dengan format yang terstruktur dan penjelasan detail.
1. Kode ICD-10:
- Kode: J15
- Deskripsi: Pneumonia bakterial, tidak diklasifikasikan di tempat lain. Kode J15 mencakup berbagai jenis pneumonia bakterial, termasuk pneumonia yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, Klebsiella pneumoniae, Staphylococcus aureus, dan bakteri lainnya.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 99.15
- Deskripsi: Pemberian terapi oksigen. Prosedur ini melibatkan pemberian oksigen tambahan kepada pasien dengan pneumonia untuk membantu memenuhi kebutuhan oksigen tubuh.
- Kode: 99.04
- Deskripsi: Pemberian antibiotik intravena. Pasien dengan pneumonia biasanya memerlukan pemberian antibiotik melalui infus intravena untuk mengatasi infeksi bakteri.
- Kode: 99.13
- Deskripsi: Pemberian terapi cairan intravena. Pasien dengan pneumonia sering mengalami dehidrasi dan membutuhkan cairan intravena untuk menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh.
Penjelasan detail:
- Kode ICD-10 J15 mencakup berbagai jenis pneumonia bakterial yang dapat terjadi, dan merupakan diagnosis utama untuk pasien dengan gejala-gejala pneumonia.
- Beberapa prosedur atau tindakan medis yang mungkin dilakukan untuk menangani pasien dengan pneumonia, seperti pemberian oksigen, antibiotik intravena, dan terapi cairan intravena, memiliki kode ICD-9-CM yang sesuai.
- Tindakan-tindakan ini bertujuan untuk membantu pasien dalam pernapasan, mengatasi infeksi bakteri, dan menjaga keseimbangan cairan serta elektrolit dalam tubuh, yang merupakan hal-hal penting dalam penatalaksanaan pneumonia. -
Article No. 20158 | 28 Jul 2025
Klinis : pasien datang dengan keluhan pusing, ada benjolan di belakang telinga dan ada terasa benjolan di ounggung belakang
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi pasien:
Berdasarkan gejala yang dialami pasien, yaitu pusing, benjolan di belakang telinga, dan benjolan di punggung belakang, maka diagnosa keperawatan SDKI yang sesuai adalah:
a. Nyeri Akut
Pasien mengalami gejala pusing yang dapat disebabkan oleh adanya kelainan atau gangguan pada sistem saraf pusat, seperti peningkatan tekanan intrakranial. Selain itu, adanya benjolan di belakang telinga dan punggung belakang juga dapat menyebabkan rasa nyeri.
b. Risiko Peningkatan Tekanan Intrakranial
Benjolan di belakang telinga dan punggung belakang dapat menjadi indikasi adanya peningkatan tekanan intrakranial, yang berpotensi menyebabkan komplikasi yang lebih serius jika tidak segera ditangani.
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
a. Nyeri Akut
- Pasien melaporkan nyeri berkurang
- Pasien dapat beraktivitas sesuai kemampuan tanpa mengeluhkan nyeri
- Pasien menunjukkan ekspresi wajah yang rileks
b. Risiko Peningkatan Tekanan Intrakranial
- Tidak terjadi peningkatan tekanan intrakranial
- Tidak terjadi komplikasi akibat peningkatan tekanan intrakranial
- Pasien menunjukkan tanda-tanda vital yang stabil
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
a. Nyeri Akut
- Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, intensitas, dan faktor yang mempengaruhi)
- Berikan analgesik sesuai dengan resep dokter
- Ajarkan teknik non-farmakologi untuk mengurangi nyeri, seperti relaksasi, distraksi, dan terapi dingin/panas
- Libatkan keluarga dalam memberikan dukungan dan pengalihan perhatian pasien
b. Risiko Peningkatan Tekanan Intrakranial
- Lakukan pemantauan tanda-tanda vital secara teratur
- Pertahankan posisi kepala elevasi 30-45 derajat
- Batasi asupan cairan sesuai kebutuhan
- Berikan obat-obatan yang dapat menurunkan tekanan intrakranial, jika diresepkan oleh dokter
- Kolaborasi dengan dokter untuk melakukan pemeriksaan diagnostik, seperti CT scan, untuk mengidentifikasi penyebab peningkatan tekanan intrakranial
- Siapkan pasien untuk tindakan medis yang mungkin diperlukan, seperti drainase cairan atau pembedahan
Penjelasan di atas mencakup diagnosa keperawatan SDKI, luaran/output yang diharapkan setelah asuhan keperawatan (SLKI), dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran (SIKI) berdasarkan kondisi pasien yang disajikan. Saya berharap penjelasan ini dapat membantu Anda memahami pendekatan keperawatan yang sesuai untuk menangani kasus ini. -
Article No. 20159 | 28 Jul 2025
Klinis : klien laki-laki berusia 30 tahun dengan tidak ada keluhan dan membawa hasil lab positif sipilis
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi tersebut:
1. Risiko Infeksi Seksual
Definisi: Rentan terhadap serangan patogen yang dapat ditularkan melalui aktivitas seksual.
Etiologi: Hasil pemeriksaan laboratorium positif untuk infeksi sipilis.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Kontrol Infeksi
Definisi: Kemampuan individu untuk mencegah atau mengendalikan infeksi.
Kriteria Hasil:
a. Menunjukkan pemahaman tentang penyakit menular seksual dan cara penularannya.
b. Menunjukkan pemahaman tentang pentingnya perilaku seksual yang aman.
c. Menunjukkan pemahaman tentang pentingnya pemeriksaan dan pengobatan yang tepat.
d. Melaporkan gejala infeksi seksual dengan segera.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Edukasi Kesehatan
Definisi: Memberikan informasi yang terstruktur dan terencana untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan klien dalam mengelola masalah kesehatan.
Aktivitas:
a. Jelaskan penyakit menular seksual, termasuk sipilis, dan cara penularannya.
b. Jelaskan pentingnya perilaku seksual yang aman, seperti penggunaan kondom.
c. Jelaskan pentingnya pemeriksaan dan pengobatan yang tepat untuk infeksi seksual.
d. Dorong klien untuk segera melaporkan gejala infeksi seksual.
2. Manajemen Risiko
Definisi: Mengidentifikasi dan mengelola faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya masalah kesehatan.
Aktivitas:
a. Identifikasi faktor-faktor risiko yang dapat meningkatkan risiko infeksi seksual, seperti perilaku seksual yang berisiko.
b. Kembangkan rencana untuk mengurangi faktor-faktor risiko tersebut.
c. Monitor dan evaluasi efektivitas rencana yang telah dibuat.
3. Dukungan Emosional
Definisi: Memberikan dukungan dan empati untuk membantu klien mengatasi masalah emosional yang terkait dengan kondisi kesehatannya.
Aktivitas:
a. Dengarkan dan validasi perasaan klien tentang diagnosa infeksi seksual.
b. Berikan dukungan dan empati untuk membantu klien mengatasi rasa malu, cemas, atau stigma yang mungkin timbul.
c. Bantu klien mengembangkan strategi koping yang efektif untuk mengatasi masalah emosional.
Dengan intervensi keperawatan yang komprehensif, diharapkan klien dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya dalam mencegah, mengendalikan, dan mengelola infeksi seksual, sehingga dapat mencapai luaran yang diharapkan, yaitu kontrol infeksi yang optimal. -
Article No. 20160 | 28 Jul 2025
Klinis : klien laki-laki berusia 30 tahun dengan tidak ada keluhan dan membawa hasil lab positif sipilis
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi tersebut:
Diagnosa Keperawatan yang sesuai untuk klien laki-laki berusia 30 tahun dengan hasil laboratorium positif sipilis tanpa adanya keluhan adalah "Risiko Penularan Penyakit". Diagnosa ini dipilih karena meskipun klien tidak menunjukkan gejala, hasil laboratorium menunjukkan adanya infeksi sipilis, sehingga terdapat risiko penularan penyakit kepada orang lain.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah diberikan Asuhan Keperawatan, diharapkan klien dapat mencapai luaran/output sebagai berikut:
1. Pengetahuan Tentang Kesehatan: Klien menunjukkan pemahaman yang baik tentang penyakit sipilis, termasuk cara penularan, gejala, dan pentingnya pengobatan.
2. Perilaku Kesehatan Promotif: Klien menunjukkan perilaku yang mendukung kesehatan, seperti mengikuti program pengobatan, menghindari kontak seksual tanpa pelindung, dan melakukan skrining/pemeriksaan rutin.
3. Pengendalian Infeksi: Tidak terjadi penularan penyakit sipilis kepada orang lain selama masa perawatan.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai luaran/output yang diharapkan, berikut adalah intervensi keperawatan yang diperlukan:
1. Edukasi Kesehatan
- Memberikan informasi yang komprehensif kepada klien tentang penyakit sipilis, termasuk cara penularan, gejala, dampak, dan pentingnya pengobatan.
- Menjelaskan kepada klien pentingnya melakukan skrining/pemeriksaan rutin dan mengikuti program pengobatan secara teratur.
- Mendiskusikan dengan klien tentang cara-cara mencegah penularan penyakit, seperti penggunaan kondom saat berhubungan seksual.
2. Manajemen Infeksi
- Memantau tanda-tanda dan gejala infeksi pada klien.
- Memastikan klien mengikuti program pengobatan yang telah ditetapkan oleh tenaga kesehatan.
- Melakukan koordinasi dengan tim kesehatan lainnya (misalnya dokter, petugas laboratorium) untuk memantau perkembangan kondisi klien.
3. Dukungan Emosional
- Memberikan dukungan dan empati kepada klien untuk mengurangi kecemasan atau stigma yang mungkin dirasakan.
- Mendorong klien untuk terbuka dan membicarakan perasaannya terkait kondisi kesehatan yang dialami.
- Memberikan informasi tentang sumber-sumber dukungan atau konseling yang dapat diakses klien.
Dengan intervensi keperawatan yang komprehensif dan berpusat pada klien, diharapkan klien dapat meningkatkan pengetahuan, mengembangkan perilaku sehat, dan mencegah penularan penyakit, sehingga dapat mencapai luaran/output yang diharapkan.