Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23244 | 09 Dec 2025
Klinis : intergritas kulit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Gangguan Integritas Kulit
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Kerentanan terhadap kerusakan pada epidermis dan/atau dermis, yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 1601
Deskripsi : Integritas kulit dapat dipertahankan. Intervensi keperawatan untuk SLKI ini berfokus pada pencegahan kerusakan kulit. Tindakan yang dilakukan meliputi: (1) Melakukan pengkajian kulit secara teratur dan sistematis, termasuk mencatat faktor risiko seperti imobilitas, inkontinensia, status nutrisi, dan perfusi jaringan. (2) Mempertahankan kebersihan kulit dengan membersihkan secara lembut menggunakan sabun pH netral dan air hangat, serta segera mengeringkannya, terutama pada area lipatan. (3) Mengaplikasikan pelembab untuk menjaga kelembaban kulit dan penghalang kulit. (4) Melakukan perubahan posisi secara teratur dan menggunakan teknik perpindahan yang tepat untuk mengurangi tekanan, gesekan, dan gaya geser. (5) Menggunakan alat bantu seperti bantal, matras tekanan khusus, atau pelindung tumit untuk mendistribusikan tekanan. (6) Memastikan asupan nutrisi dan hidrasi yang adekuat untuk mendukung kesehatan kulit. (7) Melindungi kulit dari paparan kelembaban berlebih akibat inkontinensia dengan menggunakan pelindung kulit dan produk penyerap yang tepat. (8) Mendidik pasien dan keluarga tentang strategi pencegahan dan tanda-tanda awal kerusakan kulit.
Kode SIKI: 3540
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mencegah gangguan integritas kulit dilakukan melalui tindakan proteksi kulit. Perawat secara proaktif melindungi kulit dari cedera mekanis, kimia, dan fisik. Tindakan spesifik mencakup: (a) Inspeksi kulit setidaknya sekali sehari, memperhatikan warna, kelembaban, suhu, turgor, dan integritas, terutama di atas tonjolan tulang dan area yang tertekan. (b) Meminimalkan tekanan pada kulit dengan jadwal perubahan posisi yang individual, menggunakan bantuan alat angkat daripada menarik pasien di atas tempat tidur untuk mengurangi gesekan. (c) Memilih dan menggunakan permukaan tempat tidur atau kursi yang sesuai untuk mengurangi tekanan. (d) Mengelola kelembaban kulit dengan menjaga kebersihan, menggunakan krim penghalang untuk area yang terpapar urine atau feses, dan memastikan linen tetap kering dan bebas dari kerutan. (e) Mengoptimalkan status nutrisi dengan memantau asupan protein, kalori, vitamin (seperti vitamin C dan A), mineral (seperti Zinc), dan cairan, serta berkolaborasi dengan ahli gizi jika diperlukan. (f) Memfasilitasi mobilisasi sesuai toleransi untuk meningkatkan sirkulasi. (g) Menggunakan teknik perawatan kulit yang tepat saat membersihkan, menghindari penggosokan kuat, dan menggunakan produk perawatan kulit yang tidak mengiritasi. (h) Mendokumentasikan temuan dan intervensi secara akurat untuk memantau efektivitas dan mengubah rencana jika diperlukan. Intervensi ini bersifat holistik, menggabungkan perawatan fisik langsung dengan pendidikan dan modifikasi lingkungan untuk menciptakan kondisi optimal bagi kulit untuk tetap utuh dan sehat, sehingga mencegah komplikasi seperti ulkus dekubitus yang dapat memperburuk kondisi pasien, meningkatkan biaya perawatan, dan menurunkan kualitas hidup.
-
Article No. 23245 | 09 Dec 2025
Klinis : Jika Albumin 1.6 g/dL (3.4 - 4.8) pada pasien Ca Mammae sinistra disertai dengan pembengkakan pada tangan kiri. Diagnosa keperawatan, intervensi dan evaluasi apa yang harus di ambil
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh dan Risiko Gangguan Integritas Kulit serta Risiko Infeksi terkait Hipoalbuminemia dan Limfedema pada Ca Mammae Sinistra
Kode SDKI: B.4
Deskripsi Singkat: Diagnosa Keperawatan "Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh" ditegakkan berdasarkan nilai albumin 1.6 g/dL yang jauh di bawah normal (3.4-4.8 g/dL). Hipoalbuminemia berat ini merupakan indikator kuat dari malnutrisi protein-energi, yang umum terjadi pada pasien kanker akibat peningkatan kebutuhan metabolik dari penyakit, anoreksia, efek samping pengobatan, dan katabolisme protein. Kondisi ini secara langsung berkontribusi pada pembengkakan (edema/limfedema) pada tangan kiri karena albumin berperan penting dalam menjaga tekanan onkotik plasma. Rendahnya albumin menyebabkan cairan merembes dari pembuluh darah ke jaringan interstitial, memicu edema. Pada pasien kanker payudara kiri, pembengkakan tangan kiri sangat mungkin merupakan limfedema sekunder akibat terapi bedah atau radiasi yang mengganggu sistem limfatik aksila, dan hipoalbuminemia memperberat kondisi ini. Selain itu, hipoalbuminemia menimbulkan risiko serius terhadap integritas kulit (kulit menjadi tipis, kering, mudah rusak) dan menurunkan daya tahan tubuh terhadap infeksi, sehingga perlu dipertimbangkan juga diagnosis risiko seperti Risiko Gangguan Integritas Kulit dan Risiko Infeksi.
Kode SLKI: B.4.1, M.2.1, M.3.1
Deskripsi : Intervensi keperawatan (SLKI) difokuskan pada penanganan multifaktor. Pertama, Manajemen Nutrisi (B.4.1): Meliputi kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun diet tinggi protein dan tinggi kalori yang disesuaikan dengan toleransi pasien, mungkin dalam porsi kecil namun sering. Memantau asupan dan keluaran cairan, serta berat badan secara berkala. Memberikan edukasi tentang pentingnya protein untuk sintesis albumin dan penyembuhan. Dapat pula mempertimbangkan suplementasi nutrisi oral atau, jika diperlukan, dukungan nutrisi parenteral sesuai kolaborasi dengan dokter. Kedua, Manajemen Edema (M.2.1): Khusus untuk menangani pembengkakan tangan kiri. Intervensi meliputi elevasi ekstremitas yang terkena, perawatan kulit yang lembut untuk mencegah cedera, penggunaan teknik drainase limfatik manual (jika diinstruksikan oleh terapis), dan edukasi mengenai perlindungan lengan kiri dari tekanan, cedera, serta infeksi. Pemantauan lingkar lengan secara teratur untuk menilai perkembangan edema. Ketiga, Perawatan Kulit (M.3.1): Untuk mencegah gangguan integritas kulit akibat edema dan malnutrisi. Dilakukan dengan menjaga kebersihan kulit, menggunakan pelembab non-alkohol, menghindari gesekan dan tekanan, serta menginspeksi kulit secara rutin terutama di area yang bengkak untuk mendeteksi dini tanda kemerahan, lecet, atau ruptur.
Kode SIKI: B.4.1.1, B.4.1.2, B.4.1.3, M.2.1.1, M.2.1.2, M.3.1.1, M.3.1.2
Deskripsi : Kriteria hasil (SIKI) yang diharapkan mencerminkan perbaikan dari kondisi pasien. Untuk nutrisi (B.4.1.1, B.4.1.2, B.4.1.3): Pasien menunjukkan peningkatan asupan nutrisi dan cairan sesuai target yang ditetapkan, berat badan meningkat atau stabil (tidak turun lebih lanjut), dan yang terpenting, nilai laboratorium (terutama albumin serum) menunjukkan tren peningkatan mendekati rentang normal. Untuk manajemen edema (M.2.1.1, M.2.1.2): Pembengkakan pada tangan kiri berkurang, yang dapat diukur melalui penurunan lingkar lengan dan pengamatan klinis. Pasien juga mampu mendemonstrasikan perilaku perawatan diri untuk mengelola limfedema, seperti teknik elevasi dan perawatan kulit yang aman. Untuk perawatan kulit (M.3.1.1, M.3.1.2): Integritas kulit tetap utuh, tidak ada tanda-tanda kerusakan kulit (lecet, luka, infeksi) di area yang edema maupun area tekanan. Pasien memahami dan berpartisipasi dalam tindakan pencegahan kerusakan kulit. Secara keseluruhan, evaluasi keberhasilan intervensi adalah kombinasi dari perbaikan parameter biokimia (albumin), antropometri (berat badan, lingkar lengan), klinis (pengurangan edema, kulit utuh), dan peningkatan pengetahuan serta keterlibatan pasien dalam perawatan dirinya.
-
Article No. 23246 | 09 Dec 2025
Klinis : Jika Albumin 1.6 g/dL (3.4 - 4.8) pada pasien Ca Mammae sinistra disertai dengan pembengkakan pada tangan kiri. Diagnosa keperawatan apa yang harus di ambil? Tangannya yang bengkak dibalut oleh perban elastis untuk mengurangi pembengkakan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh dan Risiko Gangguan Integritas Kulit serta Risiko Infeksi terkait Hipoalbuminemia dan Limfedema pada Ca Mammae Sinistra
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh adalah keadaan dimana individu berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Pada kasus ini, hipoalbuminemia berat (albumin 1.6 g/dL) merupakan penanda laboratorium kunci yang menunjukkan defisit nutrisi protein-energi yang serius. Albumin disintesis di hati dan merupakan protein plasma utama yang berfungsi menjaga tekanan onkotik koloid, mengangkut berbagai zat (seperti hormon, obat-obatan, asam lemak), dan berperan dalam penyembuhan luka. Kadar albumin yang sangat rendah (<2.0 g/dL) menunjukkan malnutrisi berat, peningkatan katabolisme akibat proses keganasan (Ca Mammae), atau kombinasi keduanya. Kondisi ini diperparah oleh penyakit kanker yang meningkatkan kebutuhan energi dan protein tubuh (sindrom kaheksia kanker), sementara asupan mungkin terganggu akibat efek samping terapi, anoreksia, atau mual. Hipoalbuminemia menyebabkan edema karena penurunan tekanan onkotik, yang pada pasien ini dimanifestasikan sebagai pembengkakan tangan kiri (limfedema sekunder pasca pengobatan kanker payudara). Selain itu, risiko gangguan integritas kulit dan infeksi juga meningkat secara signifikan karena peran albumin dalam proses regenerasi jaringan dan respon imun.
Kode SLKI: 020058
Deskripsi : SLKI 020058: Manajemen Nutrisi. Tujuan intervensi keperawatan adalah untuk meningkatkan status nutrisi pasien, dengan kriteria hasil: 1) Peningkatan berat badan menuju rentang ideal, 2) Peningkatan kadar albumin serum menuju nilai normal (3.4-4.8 g/dL), 3) Asupan nutrisi oral/protein yang adekuat sesuai kebutuhan yang dihitung, 4) Penurunan tanda klinis malnutrisi (seperti kelelahan, penurunan massa otot). Perawat akan melakukan kolaborasi dengan ahli gizi untuk menghitung kebutuhan kalori dan protein berdasarkan kondisi pasien (kanker, adanya edema). Intervensi mencakup pemberian edukasi tentang pentingnya diet tinggi protein dan tinggi kalori, pemilihan jenis makanan yang mudah dikonsumsi dan disukai pasien, serta monitoring asupan dan toleransi makanan. Jika asupan oral tidak mencukupi, perawat akan mempersiapkan pasien untuk pemberian nutrisi enteral atau parenteral sesuai indikasi dan kolaborasi dengan dokter. Monitoring berat badan, lingkar lengan, dan pemeriksaan laboratorium (albumin, prealbumin) dilakukan secara berkala untuk mengevaluasi keberhasilan intervensi. Manajemen nutrisi yang adekuat juga akan berdampak tidak langsung pada pengurangan edema dengan memperbaiki tekanan onkotik plasma.
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : SIKI 4410: Manajemen Limfedema. Tujuan intervensi adalah untuk mengurangi pembengkakan (edema) pada ekstremitas atas kiri dan mencegah komplikasi. Intervensi ini sangat relevan karena pasien telah menunjukkan limfedema dan mendapatkan penatalaksanaan awal berupa perban elastis. Intervensi keperawatan meliputi: 1) Pemantauan dan Pengkajian: Mengukur lingkar lengan secara berkala untuk menilai perkembangan edema, menilai integritas kulit pada area yang bengkak (risiko rusak/lecet), menilai tingkat nyeri atau ketidaknyamanan, serta memantau tanda-tanda infeksi (eritema, panas, demam). 2) Perawatan Kulit: Menjaga kebersihan kulit pada ekstremitas yang edema dengan sabun lembut dan pelembab untuk mencegah kekeringan dan pecah-pecah, yang merupakan pintu masuk infeksi. 3) Manajemen Kompresi: Memastikan perban elastis atau stoking kompresi dipasang dengan benar (tekanan gradien), tidak terlalu ketat yang dapat menghambat aliran darah, dan melepasnya sesuai protokol untuk perawatan kulit. Mendidik pasien dan keluarga tentang teknik pemasangan dan perawatan alat kompresi. 4) Elevasi: Menganjurkan dan membantu elevasi lengan yang bengkak di atas level jantung ketika duduk atau berbaring untuk memanfaatkan gravitasi dalam mengurangi pembengkakan. 5) Latihan Gerak: Mendorong latihan gerak ringan yang aman untuk ekstremitas tersebut (sesuai anjuran fisioterapi) untuk merangsang pompa otot dan aliran limfe. 6) Edukasi dan Pencegahan: Memberikan edukasi untuk melindungi lengan yang terkena dari cedera, suntikan, pengukuran tekanan darah, paparan panas berlebihan, dan aktivitas berat yang dapat memperburuk kondisi. 7) Kolaborasi: Merujuk ke terapis limfedema atau fisioterapi untuk terapi dekongesti kompleks (Complex Decongestive Therapy/CDT) yang lebih komprehensif jika diperlukan. Intervensi ini secara sinergis dengan manajemen nutrisi bertujuan untuk mengurangi edema, meningkatkan kenyamanan pasien, dan mencegah komplikasi serius seperti selulitis atau limfangitis.
-
Article No. 23247 | 09 Dec 2025
Klinis : koping stress tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Koping Stress Tidak Efektif
Kode SDKI: 00069
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk mengelola respons fisiologis atau psikologis secara konstruktif terhadap peristiwa atau situasi yang dipersepsikan sebagai mengancam, menantang, atau berbahaya.
Kode SLKI: 1400
Deskripsi : Koping. Tujuan keperawatan adalah pasien dapat menunjukkan kemampuan untuk mengelola stres secara adaptif. Luaran yang diharapkan meliputi: (1) Mengidentifikasi sumber stresor dan reaksi personal terhadapnya. (2) Mengungkapkan perasaan dan pikiran terkait situasi stres. (3) Mendemonstrasikan penggunaan teknik relaksasi atau metode koping yang sesuai untuk mengurangi ketegangan. (4) Melaporkan penurunan gejala fisik dan emosional yang terkait stres (seperti gelisah, insomnia, palpitasi). (5) Mengembangkan dan menggunakan strategi pemecahan masalah untuk menghadapi situasi yang menantang. (6) Memanfaatkan sistem pendukung sosial (keluarga, teman, tenaga profesional) secara efektif. (7) Menunjukkan peningkatan dalam fungsi peran dan aktivitas kehidupan sehari-hari. Pencapaian luaran ini menunjukkan perbaikan dalam kemampuan koping, diukur melalui observasi perilaku, laporan subjektif pasien, dan penilaian klinis.
Kode SIKI: 3290
Deskripsi : Manajemen Koping. Intervensi keperawatan yang komprehensif untuk membantu pasien mengembangkan dan menggunakan strategi adaptif dalam menghadapi stres. Intervensi ini meliputi: (1) Membangun hubungan terapeutik yang empatik dan mendukung untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi ekspresi perasaan. (2) Mengkaji bersama pasien sumber stresor internal dan eksternal, serta respons fisiologis, emosional, dan perilaku yang muncul. (3) Membantu pasien mengidentifikasi kekuatan pribadi dan mekanisme koping yang pernah berhasil digunakan di masa lalu. (4) Mengajarkan dan melatih teknik relaksasi, seperti napas dalam, relaksasi otot progresif, guided imagery, atau mindfulness. (5) Melatih keterampilan pemecahan masalah secara sistematis: mendefinisikan masalah, mengidentifikasi alternatif solusi, mengevaluasi konsekuensi, memilih tindakan, dan mengevaluasi hasil. (6) Mendorong ekspresi perasaan secara verbal atau melalui media lain (seperti menulis jurnal) untuk memfasilitasi katarsis dan pemahaman. (7) Memfasilitasi modifikasi lingkungan untuk mengurangi paparan stresor jika memungkinkan. (8) Mendorong keterlibatan dalam aktivitas yang memberikan rasa pencapaian dan kesenangan (aktivitas terapeutik). (9) Melakukan latihan asertif dan pelatihan komunikasi untuk meningkatkan kemampuan menghadapi konflik interpersonal. (10) Mengkoordinasikan dan memfasilitasi pemanfaatan sistem pendukung sosial, termasuk keluarga dan kelompok dukungan. (11) Memberikan edukasi tentang respons tubuh terhadap stres dan hubungan pikiran-tubuh. (12) Memantau tanda-tanda eskalasi stres dan risiko terhadap diri sendiri atau orang lain. (13) Kolaborasi dengan tenaga kesehatan mental (psikolog, psikiater) jika diperlukan terapi modalitas lebih lanjut. Intervensi ini dilaksanakan secara individual, sensitif terhadap budaya, dan dievaluasi secara berkala untuk menyesuaikan pendekatan berdasarkan respons pasien.
-
Article No. 23248 | 09 Dec 2025
Klinis : koping stress tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Koping Stress Tidak Efektif
Kode SDKI: 00069
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan dalam mengelola respons fisiologis atau psikologis terhadap peristiwa atau situasi yang penuh tekanan, yang mengakibatkan kegagalan untuk beradaptasi atau memenuhi peran dan fungsi yang diharapkan. Hal ini ditandai dengan perilaku maladaptif, distres emosional, dan gangguan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.
Kode SLKI: 1400
Deskripsi : SLKI 1400: Manajemen Koping. Tujuan akhir dari intervensi keperawatan adalah pasien mampu mendemonstrasikan koping yang efektif. Kriteria hasilnya meliputi: (1) Mengidentifikasi kekuatan dan sumber koping pribadi; (2) Mengungkapkan perasaan dan emosi secara tepat; (3) Menggunakan strategi koping adaptif untuk mengelola stres; (4) Melaporkan penurunan tingkat stres dan kecemasan yang dirasakan; (5) Menunjukkan peningkatan dalam fungsi peran dan partisipasi dalam hubungan sosial; (6) Membuat keputusan yang konstruktif terkait masalah yang dihadapi; serta (7) Mengakses dan menggunakan sistem pendukung yang tersedia secara efektif. Pencapaian SLKI ini diukur melalui observasi perilaku, laporan subjektif pasien, dan peningkatan objektif dalam kemampuan menyelesaikan masalah serta berinteraksi dengan lingkungan.
Kode SIKI: 4230
Deskripsi : SIKI 4230: Peningkatan Koping. Intervensi keperawatan ini berfokus pada membantu pasien mengembangkan dan memperkuat kemampuan kognitif dan perilaku untuk mengelola tuntutan internal dan eksternal yang dianggap melebihi sumber daya yang dimiliki. Intervensi spesifik meliputi: (a) Membangun hubungan terapeutik untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi ekspresi perasaan. (b) Mengajarkan teknik relaksasi, seperti napas dalam dan relaksasi otot progresif, untuk mengurangi ketegangan fisiologis. (c) Melatih keterampilan pemecahan masalah secara sistematis: mengidentifikasi masalah, mengeksplorasi alternatif solusi, mengevaluasi konsekuensi, dan mengimplementasikan pilihan. (d) Membantu pasien mengidentifikasi dan memodifikasi pola pikir negatif atau distorsi kognitif yang memperburuk stres melalui pendekatan kognitif sederhana. (e) Mendorong aktivitas fisik yang sesuai dan teknik manajemen waktu. (f) Memfasilitasi mobilisasi sistem pendukung, baik dari keluarga, teman, atau kelompok komunitas. (g) Melakukan role-play untuk melatih respons yang lebih adaptif dalam situasi penuh tekanan. (h) Memberikan pendidikan kesehatan tentang respons tubuh terhadap stres dan pentingnya koping sehat. (i) Meningkatkan harga diri dengan mengakui keberhasilan sekecil apa pun. (j) Kolaborasi dengan tenaga profesional lain seperti psikolog atau konselor jika diperlukan. Implementasi SIKI ini bersifat individual, disesuaikan dengan sumber stres, kepribadian, budaya, dan sumber daya pasien, dengan evaluasi berkelanjutan terhadap efektivitas strategi koping yang diterapkan.
-
Article No. 23249 | 09 Dec 2025
Klinis : koping stress tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Koping Stres Tidak Efektif
Kode SDKI: 00069
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk mengelola respons fisiologis atau psikologis secara konstruktif terhadap peristiwa atau situasi kehidupan yang penuh tekanan.
Kode SLKI: 1400
Deskripsi : Koping. SLKI ini menggambarkan kemampuan klien untuk mengelola stres secara adaptif. Indikator yang diharapkan mencakup: (1) Mengidentifikasi sumber stresor secara akurat; (2) Mengekspresikan perasaan dan pikiran terkait stresor; (3) Menggunakan strategi koping yang adaptif dan mengurangi yang maladaptif; (4) Melaporkan penurunan tingkat distress emosional dan fisiologis; (5) Mempertahankan fungsi peran dan aktivitas sehari-hari; (6) Memanfaatkan dukungan sosial yang tersedia; (7) Mengevaluasi efektivitas strategi koping yang digunakan; (8) Mengembangkan rencana untuk mengatasi stresor di masa depan. Tujuan akhirnya adalah klien dapat mendemonstrasikan perilaku dan respons emosional yang adaptif dalam menghadapi stresor, sehingga kualitas hidup dan fungsi optimalnya tetap terjaga.
Kode SIKI: 3220
Deskripsi : Peningkatan Koping. Intervensi keperawatan ini berfokus pada membantu klien mengembangkan dan memperkuat kemampuan untuk mengatasi stresor internal dan eksternal. Aktivitas keperawatan meliputi: (1) Membangun hubungan terapeutik yang mendukung dan empatik untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi ekspresi perasaan; (2) Mengkaji bersama klien sumber stresor, persepsi klien terhadap stresor, serta strategi koping yang pernah digunakan (baik adaptif maupun maladaptif); (3) Membantu klien mengidentifikasi dan mengekspresikan perasaan seperti cemas, marah, atau putus asa secara verbal; (4) Mengajarkan dan melatih keterampilan koping spesifik, seperti teknik relaksasi (napas dalam, relaksasi otot progresif), teknik distraksi, dan restrukturisasi kognitif (mengganti pikiran negatif dengan yang lebih realistis); (5) Mendorong aktivitas fisik yang sesuai dan manajemen pola hidup sehat (nutrisi, tidur) untuk meningkatkan ketahanan terhadap stres; (6) Memfasilitasi peningkatan dukungan sosial dengan mengidentifikasi anggota keluarga atau kelompok pendukung yang dapat diandalkan; (7) Membantu klien mengevaluasi konsekuensi dari setiap pilihan koping dan memilih strategi yang paling menguntungkan; (8) Memberikan reinforcement positif terhadap setiap kemajuan atau upaya adaptif yang dilakukan klien; (9) Kolaborasi dengan tenaga profesional lain (psikolog, konselor) jika diperlukan; (10) Membantu klien menyusun rencana tindakan konkret untuk menghadapi stresor saat ini dan potensial di masa depan. Intervensi ini bersifat holistik, ditujukan untuk memberdayakan klien sehingga mereka bukan hanya mengatasi krisis saat ini, tetapi juga membangun ketahanan (resilience) untuk tantangan selanjutnya.
-
Article No. 23250 | 09 Dec 2025
Klinis : Nyeri akut
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode ICD-10: R52.0
Deskripsi Singkat : Nyeri akut merujuk pada sensasi tidak menyenangkan dan pengalaman emosional yang terkait dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset yang relatif cepat dan durasi terbatas (biasanya kurang dari 3-6 bulan). Ini berfungsi sebagai sinyal peringatan biologis penting dari tubuh. Kode R52.0 diklasifikasikan di bawah gejala dan tanda umum (Bab XVIII), tepatnya dalam kategori "Nyeri, tidak diklasifikasikan di tempat lain". Penggunaan kode ini tepat ketika nyeri adalah gejala utama yang dilaporkan dan belum dapat dikaitkan dengan diagnosis penyakit spesifik yang mendasarinya (misalnya, radang sendi, patah tulang, atau infeksi). Dalam konteks pelatihan, kode ini menggarisbawahi pentingnya mendokumentasikan nyeri sebagai entitas yang signifikan sambil menekankan bahwa kodifikasi akhir harus didasarkan pada diagnosis etiologi yang pasti setelah penyelidikan klinis lengkap. Pengkodean yang akurat untuk nyeri memfasilitasi pelacakan, manajemen, dan penelitian terkait perawatan nyeri.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23209 | 08 Dec 2025
Klinis : Meskipun Daycare telah menginisiasi pelatihan regulasi emosi bagi staf pengasuh, terdapat celah signifikan dalam manajemen risiko psikososial. Tidak adanya program pencegahan burnout yang formal dan berkelanjutan serta sistem dukungan kesehatan mental yang eksplisit, menimbulkan kerentanan terhadap Sindrom Kelelahan Peran Pengasuh (Caregiver Role Strain). Mengingat peran pengasuh adalah pekerjaan yang intens dan penuh tekanan emosional, risiko burnout yang tinggi dapat secara langsung menurunkan kualitas pengawasan dan pelayanan, yang pada gilirannya meningkatkan potensi kesalahan dalam perawatan anak dan mengancam keselamatan.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Sindrom Kelelahan Peran Pengasuh (Caregiver Role Strain)
Kode SDKI: 00263
Deskripsi Singkat: Risiko sindrom kelelahan peran pengasuh adalah keadaan rentan pada individu yang memberikan perawatan dan dukungan kepada orang lain, baik secara fisik, emosional, sosial, dan/atau finansial, yang dapat menyebabkan stres, kelelahan fisik dan emosional, serta penurunan kapasitas untuk melanjutkan peran pengasuhan secara efektif. Kondisi ini ditandai dengan adanya faktor-faktor risiko yang dapat mengganggu keseimbangan antara tuntutan peran pengasuhan dengan sumber daya yang dimiliki oleh pengasuh. Faktor risiko tersebut meliputi beban perawatan yang tinggi, kurangnya pengetahuan atau keterampilan dalam memberikan perawatan, kurangnya dukungan sosial dan finansial, serta tidak adanya waktu untuk diri sendiri. Dalam konteks profesional seperti staf pengasuh di daycare, risiko ini diperparah oleh lingkungan kerja yang intens, tekanan emosional yang konstan, dan kurangnya sistem pendukung formal dari institusi. Jika tidak diintervensi, risiko ini dapat berkembang menjadi sindrom kelelahan peran pengasuh yang nyata, yang berdampak buruk pada kesejahteraan pengasuh dan kualitas serta keamanan perawatan yang diberikan kepada anak.
Kode SLKI: 4606
Deskripsi : Manajemen stres peran pengasuh. Tujuan dari luaran keperawatan ini adalah agar pengasuh (dalam hal ini staf daycare) dapat mendemonstrasikan kemampuan mengelola stres yang terkait dengan peran pengasuhannya. Luaran yang diharapkan mencakup pengasuh mampu mengidentifikasi sumber stres dan tanda-tanda awal kelelahan emosional atau fisik. Pengasuh dapat menggunakan strategi koping yang adaptif dan sehat untuk mengurangi ketegangan, seperti teknik relaksasi, manajemen waktu, dan komunikasi asertif. Selain itu, pengasuh diharapkan dapat mempertahankan keseimbangan antara tanggung jawab pekerjaan dan kebutuhan pribadinya, serta secara proaktif mencari dan memanfaatkan sistem dukungan yang tersedia, baik dari rekan kerja, supervisor, maupun program institusi. Pencapaian luaran ini ditandai dengan penurunan keluhan somatik terkait stres, peningkatan kepuasan kerja, dan kemampuan untuk mempertahankan kualitas pengasuhan yang konsisten dan aman. Intervensi keperawatan diarahkan untuk membangun ketahanan (resilience) dan mencegah eskalasi stres menjadi burnout yang berdampak klinis.
Kode SIKI: 6540
Deskripsi : Peningkatan koping. Intervensi ini berfokus pada membantu staf pengasuh mengembangkan dan memperkuat kemampuan koping yang konstruktif untuk menghadapi tuntutan dan stresor dalam peran pengasuhan profesional. Aktivitas spesifik meliputi: pertama, pengkajian mendalam terhadap sumber stres individu dan pola koping yang selama ini digunakan, mengidentifikasi yang maladaptif. Kedua, memberikan edukasi tentang stres, tanda-tanda burnout, dan pentingnya kesehatan mental bagi pengasuh. Ketiga, melatih keterampilan koping spesifik seperti latihan pernapasan dalam, relaksasi otot progresif, teknik grounding untuk mengelola distres akut, serta pelatihan asertivitas untuk mengkomunikasikan batasan dan kebutuhan. Keempat, memfasilitasi sesi kelompok dukungan sebaya (peer support) di mana staf dapat berbagi pengalaman dan solusi dalam lingkungan yang aman dan tidak menghakimi. Kelima, berkolaborasi dengan manajemen daycare untuk mengadvokasi dan membantu merancang program pencegahan burnout yang formal dan berkelanjutan, termasuk penjadwalan yang manusiawi, penyediaan ruang istirahat, dan akses ke konseling. Keenam, mendorong dan memodelkan perilaku perawatan diri (self-care) serta membantu staf menciptakan rencana keseimbangan hidup-kerja yang realistis. Intervensi ini bersifat holistik, menggabungkan pendekatan individu dan sistemik untuk membangun lingkungan kerja yang mendukung ketahanan psikologis.
-
Article No. 23210 | 08 Dec 2025
Klinis : Meskipun Daycare telah menginisiasi pelatihan regulasi emosi bagi staf pengasuh, terdapat celah signifikan dalam manajemen risiko psikososial. Tidak adanya program pencegahan burnout yang formal dan berkelanjutan serta sistem dukungan kesehatan mental yang eksplisit, menimbulkan kerentanan terhadap Sindrom Kelelahan Peran Pengasuh (Caregiver Role Strain). Mengingat peran pengasuh adalah pekerjaan yang intens dan penuh tekanan emosional, risiko burnout yang tinggi dapat secara langsung menurunkan kualitas pengawasan dan pelayanan, yang pada gilirannya meningkatkan potensi kesalahan dalam perawatan anak dan mengancam keselamatan.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Sindrom Kelelahan Peran Pengasuh (Caregiver Role Strain)
Kode ICD-10: Z73.6
Deskripsi Singkat : Sindrom Kelelahan Peran Pengasuh (Caregiver Role Strain) adalah suatu kondisi stres dan kelelahan yang dialami oleh individu yang memberikan perawatan dan pengasuhan kepada orang lain, dalam konteks ini adalah staf pengasuh di daycare. Kondisi ini muncul dari tuntutan fisik, emosional, dan psikososial yang berkelanjutan dari peran pengasuhan yang intens, tanpa dukungan atau mekanisme koping yang memadai. Kode Z73.6 berada dalam bab "Faktor-faktor yang mempengaruhi status kesehatan dan kontak dengan pelayanan kesehatan" dan dikategorikan di bawah "Masalah terkait dengan kesulitan mengatur kehidupan". Kode ini digunakan untuk mengidentifikasi keadaan di mana beban peran pengasuhan menimbulkan tekanan yang signifikan, berisiko menyebabkan kelelahan (burnout), penurunan kualitas perawatan, dan gangguan pada kesejahteraan pengasuh itu sendiri. Dalam skenario daycare, ketiadaan program pencegahan burnout yang formal dan sistem dukungan kesehatan mental memperburuk kerentanan ini, yang pada akhirnya dapat mengancam keselamatan dan kualitas pengasuhan anak. Pengkodean ini menandakan kebutuhan akan intervensi dan dukungan untuk pengasuh, bukan sebagai diagnosis penyakit, tetapi sebagai faktor risiko yang memerlukan perhatian manajerial dan dukungan psikososial.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23211 | 08 Dec 2025
Klinis : Meskipun Daycare telah menginisiasi pelatihan regulasi emosi bagi staf pengasuh, terdapat celah signifikan dalam manajemen risiko psikososial. Tidak adanya program pencegahan burnout yang formal dan berkelanjutan serta sistem dukungan kesehatan mental yang eksplisit, menimbulkan kerentanan terhadap Sindrom Kelelahan Peran Pengasuh (Caregiver Role Strain). Mengingat peran pengasuh adalah pekerjaan yang intens dan penuh tekanan emosional, risiko burnout yang tinggi dapat secara langsung menurunkan kualitas pengawasan dan pelayanan, yang pada gilirannya meningkatkan potensi kesalahan dalam perawatan anak dan mengancam keselamatan.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Sindrom Kelelahan Peran Pengasuh (Caregiver Role Strain)
Kode SDKI: 00266
Deskripsi Singkat: Risiko Sindrom Kelelahan Peran Pengasuh didefinisikan sebagai kerentanan individu untuk mengalami tekanan fisik, emosional, dan sosial yang berhubungan dengan pelaksanaan peran sebagai pengasuh, yang dapat mengakibatkan penurunan kapasitas untuk memberikan perawatan dan dukungan yang efektif. Kondisi ini berisiko terjadi ketika tuntutan peran pengasuhan melebihi sumber daya dan kemampuan adaptif individu. Dalam konteks profesional seperti staf daycare, kondisi ini muncul dari beban kerja emosional yang intens, paparan berkelanjutan terhadap stres, kurangnya dukungan struktural, dan tidak adanya mekanisme koping yang memadai. Faktor risiko utama yang teridentifikasi dari kasus ini adalah tidak adanya program pencegahan burnout yang formal dan berkelanjutan serta sistem dukungan kesehatan mental yang eksplisit. Tanpa intervensi, risiko ini dapat termanifestasi menjadi sindrom kelelahan yang penuh, ditandai dengan kelelahan emosional, depersonalisasi (menjadi sinis dan terpisah secara emosional dari anak asuh), dan penurunan rasa pencapaian pribadi. Dampaknya tidak hanya pada kesejahteraan pengasuh itu sendiri, tetapi juga secara langsung mengancam kualitas pengawasan, kepekaan dalam merespons kebutuhan anak, dan akhirnya keselamatan serta perkembangan optimal anak-anak di daycare tersebut. Oleh karena itu, diagnosa ini menekankan pada kebutuhan mendesak untuk intervensi proaktif yang bersifat organisasional dan individual.
Kode SLKI: 4600
Deskripsi : Manajemen Peran Pengasuhan. Tujuan utama dari SLKI ini adalah untuk membantu pengasuh (dalam hal ini staf daycare) dalam mengidentifikasi, mengakses, dan memanfaatkan sumber daya yang diperlukan untuk menyeimbangkan tuntutan peran pengasuhan dengan kesejahteraan pribadi, sehingga mencegah atau mengurangi kelelahan peran. Luaran yang diharapkan mencakup pengasuh mampu mengenali tanda-tanda awal stres dan kelelahan, mengembangkan strategi koping yang sehat, serta mempertahankan kualitas hubungan yang positif dan responsif dengan anak asuh. Implementasinya dalam setting daycare melibatkan penciptaan lingkungan kerja yang mendukung kesehatan mental. Perawat atau manajemen dapat memfasilitasi dengan menyelenggarakan sesi reguler untuk ventilasi emosi dan konseling sebaya, menegosiasikan beban kerja yang realistis, serta memastikan adanya rotasi tugas untuk memberikan variasi dan mengurangi kejenuhan. Selain itu, pengasuh didorong untuk menetapkan batasan yang sehat antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, serta berpartisipasi dalam pelatihan regulasi emosi yang telah diinisiasi secara lebih mendalam dan aplikatif. Pencapaian luaran ini diukur melalui penurunan keluhan subjektif tentang kelelahan, penurunan angka absensi sakit yang terkait stres, dan peningkatan skor pada alat ukur kesejahteraan psikologis.
Kode SIKI: 4600A
Deskripsi : Fasilitasi Dukungan Sosial. Intervensi keperawatan ini berfokus pada membantu pengasuh untuk membangun dan memanfaatkan jaringan dukungan sosial yang efektif, baik di dalam maupun di luar lingkungan kerja. Dukungan sosial merupakan faktor protektif utama terhadap caregiver role strain. Intervensi spesifik yang dapat dilakukan antara lain: pertama, Mengkaji jaringan dukung sosial yang dimiliki oleh staf pengasuh, termasuk keluarga, teman, dan rekan kerja. Kedua, Memfasilitasi pembentukan kelompok dukungan (support group) formal di antara staf daycare itu sendiri, yang difasilitasi oleh profesional (seperti perawat konselor atau psikolog) untuk berbagi pengalaman, tantangan, dan solusi dalam suasana yang aman dan tanpa penghakiman. Ketiga, Mendorong budaya kerja kolaboratif dimana pengasuh saling membantu dan memberikan umpan balik positif, mengurangi isolasi profesional. Keempat, Menghubungkan pengasuh dengan sumber daya komunitas seperti layanan konseling karyawan (Employee Assistance Program/EAP) jika tersedia, atau profesional kesehatan mental. Kelima, Melibatkan manajemen untuk secara aktif menciptakan kebijakan yang mendukung, seperti waktu istirahat yang cukup, pengakuan atas kinerja, dan saluran komunikasi terbuka untuk menyampaikan kekhawatiran. Intervensi ini juga mencakup edukasi tentang pentingnya meminta bantuan dan bahwa hal tersebut bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari praktik pengasuhan profesional yang bertanggung jawab. Dengan memperkuat sistem pendukung, ketahanan (resilience) pengasuh diharapkan meningkat sehingga dapat bertahan menghadapi tuntutan pekerjaan tanpa mengalami burnout.