Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 26480 | 27 Jul 2026
Klinis : pasien tidak bisa BAB 15 hari
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Konstipasi (Obstipasi)
Kode ICD-10: K59.0
Deskripsi Singkat : Konstipasi, atau sering disebut sembelit, adalah kondisi di mana seseorang mengalami kesulitan buang air besar (BAB) atau frekuensi BAB yang jarang. Dalam kasus ini, pasien tidak bisa BAB selama 15 hari, yang menunjukkan konstipasi kronis atau berat. Kode ICD-10 K59.0 digunakan untuk mengklasifikasikan konstipasi fungsional, yaitu konstipasi yang tidak disebabkan oleh kelainan struktural atau organik yang jelas pada usus besar. Kondisi ini sering terkait dengan faktor gaya hidup seperti kurangnya asupan serat, dehidrasi, kurang aktivitas fisik, efek samping obat, atau gangguan motilitas usus. Konstipasi yang berkepanjangan dapat menyebabkan gejala seperti perut kembung, nyeri perut, rasa tidak tuntas setelah BAB, dan feses yang keras dan kering. Penting untuk membedakan konstipasi fungsional dari konstipasi sekunder yang mungkin disebabkan oleh kondisi medis lain seperti obstruksi usus, hipotiroidisme, atau gangguan neurologis. Penanganan umumnya meliputi modifikasi diet, peningkatan asupan cairan, olahraga, dan penggunaan laksatif jika diperlukan. Kode ini sangat relevan untuk dokumentasi klinis dan kodifikasi dalam sistem rekam medis, terutama untuk pasien dengan keluhan utama sembelit berkepanjangan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 26481 | 27 Jul 2026
Klinis : pasien tidak bisa BAB 15 hari
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Konstipasi (Pasien tidak bisa BAB 15 hari)
Kode SDKI: D.0049
Deskripsi Singkat: Konstipasi adalah penurunan frekuensi defekasi normal yang disertai dengan kesulitan dan pengeluaran feses yang tidak tuntas, serta pengeluaran feses yang keras dan kering. Kondisi ini terjadi akibat gangguan pada motilitas usus, asupan serat yang tidak adekuat, kurangnya asupan cairan, efek samping obat, atau faktor psikologis. Pada pasien dengan kondisi tidak BAB selama 15 hari, konstipasi tergolong berat dan memerlukan intervensi segera untuk mencegah komplikasi seperti impaksi feses, obstruksi usus, atau hemoroid. Patofisiologi konstipasi melibatkan peningkatan waktu transit feses di kolon, yang menyebabkan absorpsi air berlebihan sehingga feses menjadi keras. Faktor risiko meliputi imobilisasi, diet rendah serat, dehidrasi, penggunaan obat opioid, dan gangguan neuromuskular. Manifestasi klinis meliputi distensi abdomen, nyeri saat defekasi, perasaan tidak tuntas setelah BAB, dan penurunan frekuensi defekasi. Pada pasien yang tidak BAB selama 15 hari, kondisi ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan signifikan, kehilangan nafsu makan, dan gangguan psikologis seperti kecemasan. Penegakan diagnosa keperawatan ini didasarkan pada data subjektif (pasien melaporkan tidak BAB) dan data objektif (palpasi abdomen teraba massa feses, bising usus menurun, atau distensi abdomen). Intervensi keperawatan harus berfokus pada pengembalian pola defekasi normal, manajemen nyeri, dan edukasi tentang perubahan gaya hidup. Kolaborasi dengan tenaga medis diperlukan untuk memberikan laksatif atau enema jika diperlukan. Penting juga untuk mengidentifikasi penyebab mendasar seperti efek samping obat atau kondisi medis lain yang mendasari. Tanpa penanganan yang tepat, konstipasi kronis dapat menyebabkan komplikasi serius seperti fisura ani, prolaps rektum, atau megakolon. Oleh karena itu, diagnosa ini menjadi prioritas dalam asuhan keperawatan untuk memulihkan fungsi eliminasi usus yang optimal.
Kode SLKI: L.04033
Deskripsi : Eliminasi fekal adalah kemampuan untuk mempertahankan pola defekasi yang normal, teratur, dan nyaman tanpa kesulitan. Pada pasien dengan konstipasi, luaran yang diharapkan meliputi peningkatan frekuensi defekasi menjadi minimal 1 kali dalam 3 hari, konsistensi feses menjadi lunak (skala Bristol tipe 3-4), tidak ada rasa nyeri saat defekasi, dan tidak ada perasaan tidak tuntas setelah BAB. Indikator keberhasilan intervensi keperawatan meliputi: (1) Frekuensi defekasi kembali normal, (2) Konsistensi feses lunak, (3) Tidak ada distensi abdomen, (4) Pasien melaporkan nyeri berkurang saat defekasi, (5) Pasien mampu mengidentifikasi faktor pencetus konstipasi, (6) Pasien menunjukkan pengetahuan tentang diet tinggi serat dan asupan cairan yang adekuat. Target luaran dapat ditetapkan dalam jangka pendek (3-7 hari) untuk memulai defekasi dan jangka panjang (7-14 hari) untuk mempertahankan pola defekasi normal. Monitoring dilakukan setiap hari untuk mengevaluasi kemajuan, termasuk observasi karakteristik feses, frekuensi BAB, dan keluhan pasien. Jika setelah 3 hari intervensi tidak ada perbaikan, perlu dilakukan evaluasi ulang dan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian laksatif atau tindakan lain. SLKI ini menekankan pada pendekatan holistik yang tidak hanya berfokus pada aspek fisik tetapi juga psikososial, seperti mengurangi kecemasan pasien terkait konstipasi. Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya pola makan, hidrasi, dan aktivitas fisik menjadi bagian integral dari pencapaian luaran ini. Dengan tercapainya luaran yang ditetapkan, pasien diharapkan dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari tanpa gangguan akibat konstipasi dan mencegah kekambuhan di masa depan.
Kode SIKI: I.01020
Deskripsi : Manajemen konstipasi adalah serangkaian intervensi keperawatan yang bertujuan untuk mengatasi dan mencegah konstipasi dengan mengembalikan pola defekasi normal. Intervensi ini mencakup tindakan mandiri perawat dan kolaboratif yang terstruktur. Tindakan mandiri meliputi: (1) Kaji pola defekasi pasien (frekuensi, konsistensi, warna, volume, dan riwayat konstipasi), (2) Auskultasi bising usus untuk menilai motilitas saluran cerna, (3) Palpasi abdomen untuk mendeteksi massa feses atau distensi, (4) Anjurkan pasien untuk meningkatkan asupan serat secara bertahap (sayur, buah, biji-bijian) hingga 25-30 gram per hari, (5) Anjurkan asupan cairan minimal 8 gelas per hari (2000-2500 ml) kecuali ada kontraindikasi, (6) Anjurkan aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki atau senam perut untuk merangsang peristaltik usus, (7) Bantu pasien ke toilet pada waktu yang sama setiap hari (misalnya setelah sarapan) untuk melatih refleks defekasi, (8) Berikan posisi semi-fowler atau duduk saat defekasi untuk memanfaatkan gravitasi, (9) Ajarkan teknik relaksasi dan pernapasan dalam untuk mengurangi kecemasan saat defekasi, (10) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian laksatif oral (seperti laktulosa atau bisakodil) atau supositoria rektal jika diperlukan, (11) Kolaborasi untuk pemberian enema (misalnya fosfat enema) jika konstipasi berat dan tidak responsif terhadap intervensi lain, (12) Lakukan evakuasi manual feses (digital removal) hanya jika terdapat impaksi feses dan setelah mendapat izin dokter, dengan teknik steril dan hati-hati untuk mencegah trauma rektal. Edukasi kesehatan meliputi: (1) Jelaskan tentang penyebab konstipasi dan pentingnya pola hidup sehat, (2) Ajarkan cara mencatat buku harian BAB untuk monitoring mandiri, (3) Informasikan tentang efek samping obat yang dapat menyebabkan konstipasi, (4) Berikan panduan diet tinggi serat dan contoh menu sehari-hari, (5) Anjurkan untuk tidak menunda keinginan BAB. Monitoring dilakukan setiap shift dengan mencatat output BAB, konsistensi feses menggunakan Bristol Stool Chart, dan keluhan pasien. Dokumentasi intervensi mencakup jenis tindakan yang dilakukan, respons pasien, dan hasil evaluasi. Pada pasien dengan konstipasi 15 hari, prioritas intervensi adalah mengeluarkan feses yang sudah mengeras dengan aman, dimulai dari intervensi non-farmakologis, kemudian farmakologis jika tidak berhasil. Perawat harus waspada terhadap tanda-tanda komplikasi seperti nyeri abdomen hebat, mual muntah, atau distensi abdomen yang progresif yang memerlukan penanganan medis segera. Pendekatan yang komprehensif dan berkesinambungan sangat penting untuk memulihkan fungsi eliminasi usus dan mencegah konstipasi berulang.
-
Article No. 26482 | 27 Jul 2026
Klinis : resiko perdarahan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perdarahan
Kode SDKI: D.0012
Deskripsi Singkat: Risiko perdarahan adalah keadaan di mana seorang individu memiliki kerentanan terhadap penurunan volume darah yang dapat mengancam kesehatan, yang disebabkan oleh faktor-faktor internal maupun eksternal. Kondisi ini belum menunjukkan tanda-tanda perdarahan yang nyata, namun terdapat faktor risiko yang signifikan sehingga memerlukan intervensi keperawatan preventif. Faktor risiko meliputi gangguan koagulasi (seperti hemofilia, penyakit von Willebrand, atau terapi antikoagulan), trombositopenia, gangguan fungsi trombosit, trauma, prosedur invasif, hipertensi yang tidak terkontrol, penggunaan obat-obatan tertentu (seperti aspirin atau NSAID), serta kondisi patologis seperti ulkus peptikum, varises esofagus, atau tumor. Diagnosa ini ditegakkan berdasarkan analisis data subjektif (misalnya, pasien melaporkan riwayat mudah memar atau mimisan) dan data objektif (misalnya, hasil laboratorium menunjukkan PT/APTT memanjang, jumlah trombosit rendah, atau adanya tanda-tanda awal seperti petekie). Tujuan dari diagnosa ini adalah untuk mencegah terjadinya perdarahan aktif melalui pengelolaan faktor risiko, pemantauan ketat, dan edukasi pasien. Perawat harus mampu mengidentifikasi pasien yang berisiko tinggi, terutama pada populasi seperti pasien pasca operasi, pasien dengan penyakit hati kronis, atau pasien yang menjalani kemoterapi. Penegakan diagnosa ini menjadi landasan untuk merencanakan intervensi yang tepat, termasuk modifikasi lingkungan, manajemen obat, dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain. Risiko perdarahan tidak boleh dianggap remeh karena dapat berkembang menjadi perdarahan masif yang mengancam jiwa, seperti pada kasus ruptur varises esofagus atau perdarahan intrakranial. Oleh karena itu, pemantauan tanda-tanda vital, status neurologis, dan hasil laboratorium secara berkala sangat penting. Edukasi kepada pasien dan keluarga juga perlu ditekankan, misalnya tentang tanda-tanda awal perdarahan (seperti gusi berdarah, urin berwarna merah, atau tinja hitam) serta langkah-langkah yang harus dilakukan jika terjadi perdarahan. Dengan pendekatan yang komprehensif, risiko perdarahan dapat diminimalkan dan komplikasi serius dapat dicegah. Diagnosa ini juga relevan dalam konteks perawatan kritis, di mana pasien sering kali memiliki multiple faktor risiko yang saling memperburuk. Perawat harus selalu waspada dan proaktif dalam mengidentifikasi perubahan kondisi pasien, karena deteksi dini adalah kunci utama dalam manajemen risiko perdarahan.
Kode SLKI: L.02010
Deskripsi : Status perdarahan adalah kondisi yang menggambarkan tingkat risiko atau kejadian perdarahan pada pasien setelah diberikan intervensi keperawatan. Luaran ini diukur melalui indikator yang mencakup stabilitas tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, dan pernapasan), hasil laboratorium (hemoglobin, hematokrit, trombosit, PT, APTT), serta tidak adanya tanda-tanda perdarahan aktif seperti hematemesis, melena, epistaksis, petekie, atau ekimosis. Tingkat keberhasilan luaran ini dinilai dalam skala 1 (memburuk) hingga 5 (membaik), dengan target yang ditetapkan sesuai kondisi pasien. Pada pasien dengan risiko perdarahan, luaran yang diharapkan adalah tercapainya skor 4 atau 5 pada indikator-indikator tersebut, yang menandakan bahwa risiko perdarahan telah terkendali dan tidak terjadi perdarahan yang signifikan. Indikator spesifik meliputi: (1) Tekanan darah sistolik dalam rentang normal (100-120 mmHg) tanpa fluktuasi ekstrem; (2) Denyut nadi antara 60-100 kali per menit dan teratur; (3) Suhu tubuh afebris (36-37,5°C); (4) Pernapasan dalam rentang 12-20 kali per menit; (5) Hemoglobin ≥ 12 g/dL pada wanita dan ≥ 13 g/dL pada pria; (6) Hematokrit 37-47% pada wanita dan 40-54% pada pria; (7) Jumlah trombosit ≥ 150.000/µL; (8) PT dan APTT dalam batas normal (PT 11-13,5 detik, APTT 25-35 detik); (9) Tidak ada perdarahan pada kulit, mukosa, atau organ internal; (10) Tidak ada penurunan kesadaran akibat perdarahan. Luaran ini dievaluasi setiap 4-8 jam pada kondisi akut, atau setiap hari pada kondisi kronis. Apabila terjadi penyimpangan, perawat harus segera melakukan intervensi korektif. Pencapaian luaran ini juga bergantung pada faktor seperti kepatuhan pasien terhadap terapi, kontrol faktor risiko, dan respons terhadap intervensi. Dokumentasi luaran ini penting untuk menentukan efektivitas asuhan keperawatan dan sebagai dasar modifikasi rencana perawatan selanjutnya. Dengan memonitor status perdarahan secara kontinu, perawat dapat mengidentifikasi tren perbaikan atau perburukan, sehingga tindakan preventif dan kuratif dapat dilakukan secara tepat waktu. Luaran ini juga menjadi indikator kualitas pelayanan keperawatan, terutama di unit perawatan intensif atau ruang operasi.
Kode SIKI: I.02011
Deskripsi : Manajemen perdarahan adalah serangkaian intervensi keperawatan yang dirancang untuk mencegah, mengidentifikasi, dan mengendalikan perdarahan pada pasien yang berisiko atau mengalami perdarahan aktif. Intervensi ini mencakup tindakan observasi, preventif, dan kolaboratif yang dilakukan secara sistematis. Aktivitas utama dalam intervensi ini meliputi: (1) Identifikasi faktor risiko perdarahan melalui pengkajian riwayat kesehatan, penggunaan obat-obatan, dan hasil laboratorium; (2) Monitor tanda-tanda vital secara ketat, terutama tekanan darah dan nadi, untuk mendeteksi perubahan hemodinamik; (3) Inspeksi kulit dan membran mukosa setiap 2-4 jam untuk mendeteksi adanya petekie, ekimosis, atau hematoma; (4) Evaluasi hasil laboratorium seperti hemoglobin, hematokrit, trombosit, PT, dan APTT sesuai jadwal atau jika ada indikasi; (5) Lakukan pemeriksaan feses dan urin untuk mendeteksi darah samar; (6) Berikan terapi oksigen jika diperlukan untuk mencegah hipoksia akibat anemia; (7) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian produk darah (transfusi PRC, trombosit, atau FFP) sesuai indikasi; (8) Berikan obat-obatan hemostatik seperti vitamin K, asam traneksamat, atau desmopresin sesuai resep; (9) Pertahankan akses intravena yang paten untuk pemberian cairan atau obat emergensi; (10) Hindari pemberian obat yang meningkatkan risiko perdarahan seperti aspirin, NSAID, atau antikoagulan kecuali atas instruksi dokter; (11) Lakukan kompresi pada area perdarahan eksternal dengan kasa steril dan tekanan langsung; (12) Ajarkan pasien dan keluarga tentang tanda-tanda perdarahan (misalnya, gusi berdarah, mimisan, urin merah, tinja hitam) dan langkah-langkah pertolongan pertama; (13) Anjurkan pasien untuk menggunakan sikat gigi lembut, menghindari makanan keras, dan menjaga kelembaban mukosa oral; (14) Atur posisi pasien dengan hati-hati untuk mencegah trauma; (15) Batasi aktivitas fisik yang berat pada pasien dengan trombositopenia atau gangguan koagulasi; (16) Dokumentasikan semua temuan dan intervensi secara akurat dalam catatan keperawatan; (17) Lakukan rujukan ke fisioterapi atau okupasi terapi jika diperlukan untuk modifikasi aktivitas; (18) Evaluasi respons pasien terhadap intervensi setiap 4 jam atau lebih sering jika kondisi memburuk; (19) Libatkan keluarga dalam perawatan untuk meningkatkan kepatuhan dan kewaspadaan. Intervensi ini harus disesuaikan dengan penyebab spesifik risiko perdarahan, misalnya pada pasien dengan sirosis hati, fokus pada pemberian vitamin K dan pemantauan varises; pada pasien dengan leukemia, fokus pada pencegahan infeksi dan transfusi trombosit. Perawat juga harus siap melakukan tindakan resusitasi jika terjadi perdarahan masif, termasuk pemasangan akses intravena besar, pemberian cairan hangat, dan persiapan untuk tindakan bedah atau embolisasi. Keberhasilan intervensi ini sangat bergantung pada ketelitian observasi, kecepatan respons, dan kerja sama multidisiplin. Dokumentasi yang baik juga membantu dalam audit mutu dan penelitian keperawatan. Dengan menerapkan manajemen perdarahan secara komprehensif, perawat dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas akibat perdarahan, serta meningkatkan kualitas hidup pasien.
-
Article No. 26475 | 26 Jul 2026
Klinis : DEFISIT PERAWATAN DIRI
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Defisit Perawatan Diri
Kode SDKI: D.0109
Deskripsi Singkat: Defisit perawatan diri adalah kondisi di mana individu mengalami penurunan atau ketidakmampuan dalam melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri, seperti mandi, berpakaian, makan, dan toileting, yang disebabkan oleh faktor fisik, psikologis, atau kognitif.
Kode SLKI: L.11103
Deskripsi : Perawatan diri adalah kemampuan individu untuk melakukan aktivitas dasar perawatan diri secara mandiri, meliputi kebersihan diri, berpakaian, makan/minum, dan toileting. Status perawatan diri meningkat jika individu menunjukkan kemandirian dalam aktivitas tersebut, ditandai dengan kemampuan verbalisasi keinginan, inisiatif, dan pelaksanaan perawatan diri tanpa bantuan atau dengan bantuan minimal. Luaran ini diukur dengan skala 1 (menurun) hingga 5 (meningkat) pada indikator seperti kebersihan tubuh, kerapian berpakaian, kemampuan makan, dan kontrol eliminasi. Tujuan intervensi keperawatan adalah mencapai tingkat kemandirian optimal sesuai kondisi pasien.
Kode SIKI: I.11348
Deskripsi : Edukasi Perawatan Diri adalah intervensi keperawatan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pasien dalam melakukan perawatan diri secara mandiri melalui proses pembelajaran dan latihan. Intervensi ini meliputi: (1) Identifikasi kebutuhan dan tingkat ketergantungan pasien dalam perawatan diri; (2) Ajarkan teknik perawatan diri yang sesuai dengan kondisi fisik dan kognitif pasien, seperti cara mandi, menyikat gigi, berpakaian, dan menggunakan toilet; (3) Demonstrasikan langkah-langkah perawatan diri secara bertahap dan berikan kesempatan pasien untuk mempraktikkan; (4) Berikan umpan balik positif dan koreksi jika diperlukan; (5) Libatkan keluarga atau pengasuh dalam proses edukasi untuk mendukung kemandirian pasien; (6) Gunakan alat bantu atau modifikasi lingkungan jika diperlukan, seperti handrail, kursi mandi, atau pakaian yang mudah dikenakan; (7) Evaluasi kemajuan pasien secara berkala dan sesuaikan rencana intervensi. Intervensi ini dilakukan dengan pendekatan holistik, mempertimbangkan aspek fisik, psikologis, sosial, dan spiritual pasien. Tujuan akhir adalah pasien mampu melakukan perawatan diri secara mandiri atau dengan bantuan minimal, meningkatkan harga diri, dan mencegah komplikasi seperti infeksi atau luka tekan. Durasi intervensi disesuaikan dengan respons pasien, biasanya dilakukan setiap sesi perawatan harian hingga kemandirian tercapai.
-
Article No. 26473 | 24 Jul 2026
Klinis : Px datang dengan keluhan demam sejak kemarin sore KU: sakit sedang VAS : 3 GCS : E4 M5 V6 TTV: TD : 106/71 mmHg N : 89x/m RR : 20x/m Temp : 37,6ºC Spo2 : 99%RA
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: D.0130
Deskripsi Singkat: Hipertermia adalah suatu kondisi di mana terjadi peningkatan suhu tubuh inti di atas rentang normal (36,5–37,5°C) akibat kegagalan mekanisme termoregulasi atau respons imun tubuh terhadap infeksi. Pada pasien ini, suhu tubuh terukur 37,6°C disertai keluhan demam sejak sore hari, yang mengindikasikan adanya proses inflamasi atau infeksi akut. Data subjektif berupa keluhan demam dan data objektif suhu 37,6°C (meskipun masih dalam batas demam ringan) serta tanda-tanda vital lainnya yang relatif stabil (TD 106/71 mmHg, N 89x/m, RR 20x/m, SpO2 99% RA) menunjukkan bahwa tubuh sedang berupaya melawan patogen. Hipertermia berbeda dengan hiperpireksia (suhu >41°C) dan demam yang lebih tinggi, namun pada tahap ini sudah cukup untuk mengaktifkan respons fisiologis seperti peningkatan metabolisme basal, takikardia ringan, dan peningkatan kebutuhan oksigen. Kondisi ini memerlukan intervensi keperawatan untuk mencegah komplikasi seperti dehidrasi, kejang demam, atau kerusakan organ akibat panas berlebih. Faktor yang berhubungan dengan hipertermia antara lain proses infeksi (bakteri, virus, jamur), dehidrasi, lingkungan panas, atau respons inflamasi sistemik. Pada pasien ini, demam kemungkinan besar disebabkan oleh infeksi akut mengingat onset yang mendadak. Penegakan diagnosis ini penting untuk memandu intervensi penurunan suhu dan pemantauan ketat.
Kode SLKI: L.14134
Deskripsi : Status Termoregulasi adalah luaran yang menggambarkan kemampuan tubuh dalam mempertahankan suhu inti dalam rentang normal (36,5–37,5°C) tanpa adanya fluktuasi ekstrem. Pada pasien dengan hipertermia, luaran yang diharapkan mencakup: (1) Suhu tubuh dalam rentang normal (36,5–37,5°C) dalam waktu 1x24 jam setelah intervensi; (2) Tidak ada keluhan demam atau menggigil; (3) Tanda-tanda vital stabil (nadi 60-100x/m, RR 16-20x/m, tekanan darah normal sesuai usia); (4) Kulit hangat dan kering (tidak lembab berlebihan); (5) Tidak ada tanda dehidrasi seperti turgor kulit menurun, mukosa mulut kering, atau urin pekat. Kriteria hasil ini diukur menggunakan skala Likert 1-5 (1=buruk, 5=sangat baik). Target untuk pasien ini adalah mencapai skala 4 (baik) dalam 1x24 jam dan skala 5 (sangat baik) dalam 2x24 jam. Indikator spesifik meliputi: suhu aksila 36,5–37,5°C, frekuensi nadi 60-100x/m, tidak ada akrosianosis, dan pasien melaporkan rasa nyaman. Luaran ini bersifat individual dan dapat disesuaikan dengan respons pasien. Jika demam tidak kunjung turun, perlu dievaluasi ulang penyebabnya (misal resistensi antibiotik atau infeksi sekunder). Pemantauan ketat setiap 2-4 jam diperlukan untuk mendeteksi perubahan status termoregulasi secara dini.
Kode SIKI: I.15506
Deskripsi : Manajemen Hipertermia adalah serangkaian intervensi keperawatan yang bertujuan untuk menurunkan suhu tubuh inti ke rentang normal dan mencegah komplikasi akibat demam. Intervensi ini meliputi tindakan mandiri perawat dan kolaboratif. Berdasarkan data pasien (suhu 37,6°C, VAS 3, GCS E4M5V6), intervensi yang direncanakan: (1) Observasi: Monitor suhu tubuh setiap 2 jam sekali hingga suhu normal; observasi tanda-tanda vital (TD, N, RR, SpO2) setiap 4 jam; kaji warna kulit, turgor, dan ada tidaknya menggigil; identifikasi faktor penyebab demam (infeksi, dehidrasi, lingkungan). (2) Tindakan Terapeutik: Berikan kompres hangat pada area aksila, lipat paha, dan dahi selama 15-20 menit (kompres dingin tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan menggigil dan meningkatkan produksi panas); longgarkan pakaian pasien dan gunakan selimut tipis; berikan cairan oral minimal 1500-2000 ml/hari (air putih, jus, atau oralit) untuk mencegah dehidrasi; atur suhu ruangan 24-26°C dengan ventilasi baik; anjurkan pasien untuk beristirahat total untuk mengurangi metabolisme. (3) Edukasi: Jelaskan kepada pasien dan keluarga tentang mekanisme demam sebagai respons imun; ajarkan cara mengukur suhu tubuh mandiri; informasikan tanda bahaya seperti demam >39°C, kejang, sesak napas, atau penurunan kesadaran yang memerlukan segera ke fasilitas kesehatan. (4) Kolaborasi: Jika suhu tidak turun dalam 2x24 jam atau meningkat >38,5°C, kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antipiretik (misal parasetamol 500-1000 mg setiap 6 jam jika perlu); lakukan pemeriksaan laboratorium (darah lengkap, kultur, atau urinalisis) untuk mengidentifikasi etiologi infeksi. Evaluasi intervensi dilakukan setiap 8 jam dengan membandingkan suhu terkini dengan target luaran. Dokumentasikan semua tindakan dan respons pasien. Intervensi ini bersifat dinamis; jika pasien menunjukkan tanda syok septik (hipotensi, takikardia berat, penurunan kesadaran), segera tingkatkan ke penanganan emergensi. Manajemen hipertermia yang tepat dapat mencegah kerusakan sel akibat panas dan mempercepat pemulihan.
-
Article No. 26474 | 24 Jul 2026
Klinis : sakit kepala disertai nyeri perut
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Sakit kepala disertai nyeri perut
Kode ICD-10: R51 (Sakit kepala) dan R10.4 (Nyeri perut lainnya dan tidak spesifik)
Deskripsi Singkat : Kondisi ini menggambarkan gejala sakit kepala yang terjadi bersamaan dengan nyeri perut. Kode R51 digunakan untuk sakit kepala yang tidak memiliki diagnosis spesifik penyebabnya, sementara R10.4 digunakan untuk nyeri perut yang tidak memiliki lokasi atau penyebab yang jelas. Kombinasi kedua kode ini menunjukkan bahwa pasien mengalami dua gejala nonspesifik yang mungkin terkait dengan berbagai kondisi, seperti infeksi virus sistemik, gangguan saluran pencernaan (misalnya gastroenteritis), migrain abdominal, atau gangguan somatisasi. Kode ini bersifat sementara hingga evaluasi lebih lanjut menentukan diagnosis pasti. Penting untuk dicatat bahwa penggunaan dua kode ini menandakan bahwa gejala belum dapat diklasifikasikan ke dalam satu diagnosis tunggal yang spesifik. Dalam konteks diklat dan simulasi, kombinasi kode ini mengajarkan peserta untuk tidak langsung menyimpulkan diagnosis tunggal tanpa data klinis yang memadai. Nyeri perut (R10.4) mencakup berbagai kemungkinan seperti nyeri epigastrium, nyeri perut difus, atau kram perut tanpa penyebab organik yang jelas. Sementara itu, sakit kepala (R51) dapat berkaitan dengan ketegangan otot, dehidrasi, demam, atau efek samping dari gangguan gastrointestinal. Dalam praktik klinis, dokter akan mempertimbangkan riwayat medis lengkap, pemeriksaan fisik, dan kemungkinan tes penunjang untuk menentukan apakah kedua gejala ini merupakan manifestasi dari satu penyakit (misalnya infeksi sistemik) atau dua kondisi yang terpisah. Kode ICD-10 ini membantu dalam dokumentasi awal dan pengelompokan kasus untuk keperluan statistik dan administrasi, namun tidak boleh digunakan sebagai diagnosis final tanpa verifikasi klinis yang tepat.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 26468 | 23 Jul 2026
Klinis : 1. Data apa saja yang harus digali perawat dalam melakukan pengkajian pada ibu hamil trimester 1, 2 dan 3? 2. Pemeriksaan fisik atau penunjang apa saja yang harus dilakukan pada ibu hamil trimester 1, 2 dan 3? 3. Apakah diagnosa keperawatan yang mungkin ditegakkan pada ibu hamil trimester 1, 2 dan 3? (sumber: SDKI) 4. Buatlah rencana keperawatan sesuai dengan diagnosa keperawatan pada nomer 3! (sumber: SDKI, SLKI dan SIKI)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Data Pengkajian Ibu Hamil Trimester 1 (0-12 minggu)
Kode SDKI: Tidak ada kode spesifik (merupakan data pengkajian)
Deskripsi Singkat: Data yang harus digali meliputi: (1) Identitas pasien dan suami; (2) Keluhan utama: mual, muntah (emesis gravidarum), pusing, lelah, nyeri payudara, sering buang air kecil; (3) Riwayat menstruasi: hari pertama haid terakhir (HPHT), siklus, lama haid; (4) Riwayat obstetri: gravida, para, abortus, riwayat persalinan sebelumnya; (5) Riwayat kesehatan: penyakit kronis (hipertensi, diabetes, jantung), alergi obat; (6) Riwayat bedah; (7) Riwayat keluarga: penyakit genetik, kehamilan kembar; (8) Pola nutrisi: asupan makan, mual muntah, nafsu makan; (9) Pola eliminasi: BAB, BAK; (10) Pola aktivitas dan istirahat; (11) Pola seksualitas; (12) Status psikososial: dukungan suami/keluarga, kecemasan terhadap kehamilan; (13) Pengetahuan tentang kehamilan, tanda bahaya, dan perawatan antenatal; (14) Kebutuhan spiritual.
Kode SLKI: Tidak ada kode spesifik
Deskripsi : Pengkajian pada trimester 1 berfokus pada konfirmasi kehamilan, penentuan usia gestasi, identifikasi faktor risiko awal, dan adaptasi fisik-psikologis ibu terhadap kehamilan. Data yang digali mencakup 14 domain utama yang saling terkait untuk memberikan gambaran holistik kondisi ibu. Domain identitas penting untuk membangun hubungan terapeutik. HPHT menjadi data vital untuk menghitung usia kehamilan dan taksiran persalinan. Riwayat obstetri dan kesehatan memberikan informasi tentang potensi komplikasi seperti plasenta previa (riwayat SC) atau hipertensi gestasional. Pola nutrisi dan eliminasi sangat relevan karena 70-80% ibu hamil mengalami mual muntah pada trimester ini, yang dapat menyebabkan dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit jika berat. Status psikososial tidak boleh diabaikan karena trimester 1 seringkali menjadi periode ambivalensi dan kecemasan tinggi terkait penerimaan kehamilan dan perubahan fisik.
Kode SIKI: Tidak ada kode spesifik
Deskripsi : Pemeriksaan fisik dan penunjang pada trimester 1 meliputi: (1) Pemeriksaan fisik: tanda vital (TD, Nadi, RR, Suhu), berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh; inspeksi muka (cloasma gravidarum), leher (pembesaran tiroid), payudara (hiperpigmentasi areola, puting menonjol, kolostrum), abdomen (belum teraba fundus uteri), ekstremitas (edema, varises); palpasi abdomen (belum teraba bagian janin); auskultasi (denyut jantung janin mulai terdengar dengan Doppler pada minggu 10-12); pemeriksaan dalam (inspekulo dan palpasi bimanual) untuk menilai serviks, uterus, dan adneksa. (2) Pemeriksaan penunjang: tes kehamilan (urine/serum hCG), pemeriksaan darah lengkap (Hb, Ht, leukosit, trombosit, golongan darah, rhesus), urinalisis (protein, glukosa, sedimen), serologi (VDRL/TPHA, HBsAg, HIV), gula darah puasa, pemeriksaan TORCH (jika indikasi), dan USG obstetri awal untuk konfirmasi kehamilan intrauterin, jumlah janin, detak jantung janin, dan penentuan usia gestasi melalui crown-rump length (CRL).
Kondisi: Data Pengkajian Ibu Hamil Trimester 2 (13-27 minggu)
Kode SDKI: Tidak ada kode spesifik
Deskripsi Singkat: Data yang digali meliputi: (1) Keluhan utama: nyeri punggung bawah, kram kaki, heartburn, sesak napas ringan, gerakan janin mulai terasa (quickening pada 16-20 minggu), perubahan kulit (striae gravidarum, linea nigra); (2) Riwayat kehamilan saat ini: perkembangan keluhan trimester 1, hasil skrining antenatal; (3) Pola nutrisi: peningkatan nafsu makan, asupan zat besi dan kalsium; (4) Pola eliminasi: konstipasi, sering BAK; (5) Pola aktivitas: toleransi aktivitas, pekerjaan; (6) Status psikososial: penerimaan kehamilan, persiapan menjadi orang tua, bonding dengan janin; (7) Pengetahuan: tanda bahaya kehamilan trimester 2 (perdarahan, gerakan janin berkurang, sakit kepala hebat), persiapan persalinan, perawatan payudara; (8) Kepatuhan kunjungan antenatal; (9) Penggunaan obat-obatan/suplemen; (10) Dukungan keluarga dan sosial.
Kode SLKI: Tidak ada kode spesifik
Deskripsi : Trimester 2 sering disebut sebagai "periode emas" kehamilan karena keluhan fisik trimester 1 mulai mereda dan risiko keguguran menurun. Pengkajian berfokus pada pemantauan pertumbuhan janin, adaptasi fisik ibu terhadap pembesaran uterus, dan transisi psikologis menuju peran sebagai ibu. Data quickening (gerakan janin pertama) sangat penting sebagai indikator kesejahteraan janin dan bonding awal. Nyeri punggung bawah dan kram kaki umum terjadi akibat perubahan postur dan defisiensi kalsium/magnesium. Heartburn terjadi karena relaksasi sfingter esofagus akibat progesteron. Pola nutrisi perlu dikaji untuk memastikan asupan kalori, protein, zat besi, kalsium, dan asam folat yang adekuat guna mendukung pertumbuhan janin yang cepat. Konstipasi sering terjadi akibat tonus otot usus yang menurun. Status psikososial menjadi krusial karena ibu mulai merasakan gerakan janin, yang dapat meningkatkan ikatan emosional namun juga kecemasan tentang kesehatan janin. Dukungan suami dan keluarga sangat mempengaruhi adaptasi psikologis ibu. Pengetahuan tentang tanda bahaya seperti perdarahan, gerakan janin berkurang, dan sakit kepala hebat perlu digali untuk deteksi dini preeklamsia dan solusio plasenta.
Kode SIKI: Tidak ada kode spesifik
Deskripsi : Pemeriksaan fisik dan penunjang pada trimester 2 meliputi: (1) Pemeriksaan fisik: tanda vital (khususnya tekanan darah untuk skrining preeklamsia), berat badan (kenaikan 0,5-1 kg/minggu), tinggi fundus uteri (TFU) diukur dengan pita meter (setinggi umbilikus pada 20 minggu, 1 jari di atas pusat pada 22 minggu, 2 jari di atas pusat pada 24 minggu, 3 jari di atas pusat pada 26 minggu, setinggi prosesus xifoideus pada 28 minggu); palpasi Leopold untuk menentukan letak janin (kepala/bokong), punggung, dan bagian kecil janin; auskultasi denyut jantung janin (DJJ) normal 120-160 x/menit; inspeksi kulit (striae, linea nigra, cloasma); pemeriksaan ekstremitas (edema, varises, refleks patella untuk skrining preeklamsia); (2) Pemeriksaan penunjang: USG obstetri (skrining anatomi janin pada 18-22 minggu untuk menilai struktur otak, jantung, ginjal, tulang belakang, ekstremitas, jenis kelamin, plasenta, dan volume cairan ketuban); tes toleransi glukosa oral (TTGO) pada 24-28 minggu untuk skrining diabetes melitus gestasional; ulang pemeriksaan Hb pada 24-28 minggu untuk skrining anemia; skrining preeklamsia dengan rasio sFlt-1/PlGF jika ada faktor risiko; kultur urin jika ada gejala infeksi saluran kemih.
Kondisi: Data Pengkajian Ibu Hamil Trimester 3 (28-40 minggu)
Kode SDKI: Tidak ada kode spesifik
Deskripsi Singkat: Data yang digali meliputi: (1) Keluhan utama: sesak napas, nyeri punggung berat, kontraksi Braxton Hicks, kesulitan tidur, sering BAK, edema kaki, wasir, varises; (2) Gerakan janin: frekuensi, kekuatan, pola (minimal 10 gerakan dalam 12 jam); (3) Pola nutrisi: asupan serat, cairan, pantangan makanan; (4) Pola eliminasi: konstipasi, hemoroid, frekuensi BAK; (5) Status psikososial: kecemasan menghadapi persalinan, persiapan menyusui, perawatan bayi, baby blues, dukungan suami/keluarga; (6) Pengetahuan: tanda-tanda persalinan (kontraksi teratur, ketuban pecah, perdarahan), kapan harus ke rumah sakit, perawatan nifas, perawatan tali pusat, imunisasi bayi; (7) Rencana persalinan: tempat, penolong, transportasi, donor darah; (8) Kepatuhan kunjungan (setiap 2 minggu pada 28-36 minggu, setiap minggu setelah 36 minggu); (9) Kesiapan finansial dan logistik (pakaian bayi, perlengkapan persalinan).
Kode SLKI: Tidak ada kode spesifik
Article No. 26470 | 23 Jul 2026
Klinis : 1. Keluarga pasien mengatakan ada gangguan aktivitas jika nyeri nya muncul pada saat bermain 2. keluarga pasien mengatakan anaknya sering mengeluhkan nyeri pada leher sebelah kiri sehingga pasien rewel dan aktivitas bermain berkurang 3. 1. pasien tampak kaku dalam menggerakkan lehernya 2. Pergerakan leher sedikit terbatas 3. Pasien tampak lebih banyak berbaring daripada duduk apakah bisa termasuk gangguan mobilitas fisik
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik
Kode SDKI: D.0054
Deskripsi Singkat: Gangguan mobilitas fisik adalah keterbatasan dalam pergerakan fisik tubuh atau satu atau lebih ekstremitas secara mandiri. Pada kondisi pasien ini, nyeri pada leher sebelah kiri yang muncul saat bermain menyebabkan pasien rewel, aktivitas bermain berkurang, kaku dalam menggerakkan leher, pergerakan leher terbatas, dan lebih banyak berbaring daripada duduk. Hal ini jelas menunjukkan adanya hambatan dalam kemampuan pasien untuk menggerakkan tubuhnya secara bebas dan melakukan aktivitas sehari-hari, terutama bermain yang merupakan aktivitas utama anak. Nyeri menjadi faktor penyebab utama yang membatasi rentang gerak (range of motion) leher, sehingga pasien cenderung mempertahankan posisi statis (berbaring) untuk menghindari nyeri. Kekakuan dan keterbatasan pergerakan leher merupakan manifestasi klinis langsung dari gangguan mobilitas fisik. Dengan demikian, diagnosis ini sangat tepat karena mencakup seluruh data subjektif (keluhan nyeri dan penurunan aktivitas bermain) dan data objektif (kekakuan, keterbatasan gerak, posisi berbaring) yang disajikan.
Kode SLKI: L.05042
Deskripsi : Mobilitas Fisik meningkat. Definisi: Kemampuan individu untuk bergerak secara bebas, terkoordinasi, dan bertujuan dalam lingkungannya. Luaran yang diharapkan untuk pasien dengan gangguan mobilitas fisik akibat nyeri leher adalah: (1) Pergerakan ekstremitas meningkat, yang dapat diukur dari kemampuan pasien untuk memutar leher ke kiri dan kanan, menengadah, dan menunduk tanpa rasa nyeri yang berarti. (2) Kekuatan otot meningkat, khususnya otot-otot leher dan bahu. (3) Rentang gerak (ROM) meningkat, yang ditandai dengan berkurangnya kekakuan dan pasien mampu menggerakkan leher lebih leluasa. (4) Nyeri berkurang, karena nyeri merupakan faktor utama yang menghambat mobilitas. (5) Aktivitas bermain kembali normal atau sesuai usia, di mana pasien kembali aktif duduk, berlari, atau bermain tanpa rewel akibat nyeri leher. (6) Kemampuan berpindah posisi (misalnya dari berbaring ke duduk) meningkat tanpa bantuan atau keluhan. (7) Pasien tidak lagi lebih banyak berbaring, melainkan dapat duduk dan beraktivitas sesuai tahap perkembangannya. Kriteria hasil ini dievaluasi secara bertahap, misalnya dalam skala 1 (sangat menurun) hingga 5 (sangat meningkat). Targetnya adalah pasien mencapai skala 4 atau 5 dalam waktu tertentu setelah intervensi keperawatan.
Kode SIKI: I.05193
Deskripsi : Latihan Mobilitas Fisik. Definisi: Melakukan aktivitas yang dirancang untuk mempertahankan atau meningkatkan mobilitas fisik dan fungsi tubuh. Intervensi keperawatan utama untuk mencapai luaran mobilitas fisik meningkat pada pasien ini meliputi: (1) Identifikasi toleransi fisik terhadap pergerakan, yaitu mengkaji sejauh mana pasien mampu bergerak tanpa memicu nyeri hebat. (2) Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum dan sesudah latihan jika diperlukan, terutama jika ada kondisi komorbid. (3) Libatkan keluarga untuk memotivasi pasien, karena anak-anak memerlukan dukungan orang tua untuk berpartisipasi dalam latihan. (4) Fasilitasi aktivitas bermain yang tidak memperberat nyeri leher, misalnya bermain puzzle, menggambar, atau menyusun balok sambil duduk tegak. (5) Ajarkan teknik peregangan leher yang aman, seperti memutar leher perlahan ke kiri dan kanan, menengadah dan menunduk dengan bimbingan, dilakukan saat nyeri minimal. (6) Lakukan kompres hangat pada area leher yang kaku selama 10-15 menit sebelum latihan untuk mengurangi kekakuan otot. (7) Anjurkan posisi tidur yang tepat, yaitu menggunakan bantal rendah atau tidak terlalu tinggi untuk menjaga keselarasan leher. (8) Kolaborasi dengan fisioterapis untuk latihan rentang gerak (ROM) pasif dan aktif pada leher. (9) Edukasi keluarga tentang pentingnya pemberian analgesik sesuai resep dokter 30 menit sebelum latihan untuk mengurangi nyeri. (10) Evaluasi respons pasien terhadap latihan, apakah terjadi peningkatan pergerakan atau justru peningkatan nyeri. Intervensi ini bersifat individual dan disesuaikan dengan usia serta toleransi nyeri pasien. Tujuan akhirnya adalah pasien dapat kembali bermain dengan leluasa tanpa hambatan nyeri leher.
Article No. 26472 | 23 Jul 2026
Klinis : Risiko perfusi cerebral tidak efektif pada pasien ich
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif pada Pasien ICH (Intracerebral Hemorrhage)
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko perfusi serebral tidak efektif adalah diagnosis keperawatan yang mengacu pada kerentanan seseorang terhadap penurunan sirkulasi darah ke jaringan otak, yang dapat mengganggu metabolisme dan fungsi neurologis. Pada pasien dengan perdarahan intraserebral (ICH), kondisi ini sangat kritis karena perdarahan itu sendiri menyebabkan efek massa, edema serebral, peningkatan tekanan intrakranial (TIK), dan vasospasme, yang semuanya menghambat aliran darah ke area otak yang sehat. Definisi SDKI untuk risiko perfusi serebral tidak efektif adalah "berisiko mengalami penurunan sirkulasi darah ke otak yang dapat mengganggu metabolisme seluler dan fungsi neurologis." Faktor risiko yang relevan pada ICH meliputi perdarahan aktif, hipertensi sistemik yang tidak terkontrol, koagulopati, penggunaan antikoagulan atau antiplatelet, peningkatan tekanan intrakranial, edema serebral, dan adanya lesi struktural seperti aneurisma atau malformasi arteriovena. Pasien dengan ICH juga berisiko mengalami hipoperfusi sekunder akibat penurunan tekanan perfusi serebral (CPP) yang dihitung dari MAP dikurangi TIK. Jika CPP turun di bawah 60-70 mmHg, maka risiko iskemia serebral sekunder meningkat secara signifikan. Diagnosis ini bersifat aktual jika sudah terjadi gangguan perfusi, namun dalam konteks risiko, intervensi difokuskan pada pencegahan dan deteksi dini. Penegakan diagnosis ini memerlukan pengkajian komprehensif meliputi tanda-tanda vital (khususnya tekanan darah dan nadi), status neurologis (GCS, pupil, kekuatan motorik), dan faktor risiko individual. Perawat harus mampu mengidentifikasi perubahan halus seperti penurunan kesadaran, sakit kepala hebat, muntah proyektil, atau perubahan tanda pupil yang mengindikasikan peningkatan TIK dan risiko perfusi yang memburuk. Dokumentasi yang akurat dan pemantauan serial sangat penting untuk mengevaluasi efektivitas intervensi dan mencegah komplikasi ireversibel seperti herniasi otak atau infark serebral luas.
Kode SLKI: L.02014
Deskripsi : Luaran yang diharapkan dari diagnosis risiko perfusi serebral tidak efektif adalah tercapainya status perfusi serebral yang optimal, yang diukur menggunakan SLKI dengan kode L.02014. Deskripsi dari SLKI ini adalah "perfusi serebral" yang didefinisikan sebagai "adekuatnya aliran darah ke otak untuk mempertahankan fungsi neurologis." Kriteria hasil yang spesifik meliputi beberapa indikator yang dapat diukur secara objektif. Indikator pertama adalah tingkat kesadaran, yang diharapkan meningkat atau stabil dengan skala GCS 15 atau sesuai baseline. Indikator kedua adalah tekanan perfusi serebral (CPP) yang dipertahankan dalam rentang 60-70 mmHg atau lebih. Indikator ketiga adalah tekanan intrakranial (TIK) yang terkontrol, idealnya di bawah 20 mmHg. Indikator keempat adalah fungsi kognitif dan motorik yang stabil atau membaik, seperti tidak adanya defisit neurologis baru atau perburukan defisit yang sudah ada. Indikator kelima adalah tanda-tanda vital yang stabil, khususnya tekanan darah sistolik yang dijaga dalam rentang yang ditentukan (misalnya 140-160 mmHg pada ICH akut untuk mencegah perdarahan ulang namun tetap mempertahankan perfusi). Indikator lainnya meliputi tidak adanya tanda-tanda peningkatan TIK seperti sakit kepala hebat, muntah, papiledema, atau perubahan pola napas (Cheyne-Stokes). SLKI ini juga mencakup aspek subjektif seperti pasien tidak mengeluh pusing berat atau penglihatan kabur. Target waktu pencapaian luaran bervariasi tergantung keparahan ICH dan respons terhadap terapi, namun umumnya dievaluasi setiap 4-8 jam pada fase akut. Skala pengukuran menggunakan skala 1-5, dengan 1 berarti sangat memburuk dan 5 berarti sangat membaik. Perawat harus mencatat perkembangan pasien secara serial, misalnya jika pada hari pertama GCS 10, maka target pada hari kedua adalah GCS 12, dan seterusnya hingga mencapai target optimal. Keberhasilan luaran ini juga bergantung pada kolaborasi interdisipliner, terutama dengan dokter neurologi dan intensivis, serta kepatuhan terhadap protokol manajemen ICH seperti pengontrolan tekanan darah, manajemen TIK, dan pencegahan kejang.
Kode SIKI: I.02014 dan I.02015
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk risiko perfusi serebral tidak efektif pada pasien ICH tercakup dalam SIKI dengan kode I.02014 yaitu "Manajemen Perfusi Serebral" dan I.02015 yaitu "Pemantauan Tekanan Intrakranial." Deskripsi dari SIKI I.02014 adalah "serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan untuk mempertahankan atau meningkatkan aliran darah ke otak dan mencegah komplikasi yang berhubungan dengan hipoperfusi atau hiperperfusi serebral." Intervensi ini meliputi beberapa aktivitas inti. Pertama, pemantauan tanda-tanda vital secara ketat setiap 1-2 jam atau lebih sering jika kondisi tidak stabil, dengan fokus pada tekanan darah sistolik (target 140-160 mmHg sesuai pedoman), denyut nadi, suhu, dan saturasi oksigen. Kedua, pemantauan status neurologis menggunakan GCS, ukuran dan reaksi pupil, serta kekuatan motorik ekstremitas setiap 1-4 jam, dan melaporkan setiap perubahan signifikan segera ke dokter. Ketiga, posisikan kepala pasien pada posisi netral dengan elevasi 30-45 derajat untuk memfasilitasi drainase vena dan menurunkan TIK, serta hindari fleksi atau rotasi leher yang berlebihan. Keempat, berikan oksigen tambahan untuk mempertahankan SpO2 di atas 95% guna mencegah hipoksia yang dapat memperburuk edema serebral. Kelima, kolaborasi dalam pemberian terapi medis seperti antihipertensi (misal nicardipin, labetalol), diuretik osmotik (manitol), atau sedasi sesuai order. Keenam, batasi asupan cairan sesuai instruksi untuk mencegah overload cairan yang dapat meningkatkan edema. Ketujuh, ciptakan lingkungan yang tenang dan kurangi stimulasi berlebihan untuk mencegah peningkatan TIK akibat agitasi. Kedelapan, monitor nilai laboratorium seperti AGD, elektrolit, dan koagulasi untuk mendeteksi faktor risiko tambahan.
SIKI I.02015 yaitu "Pemantauan Tekanan Intrakranial" memiliki deskripsi "observasi dan evaluasi tekanan di dalam rongga tengkorak secara kontinu atau intermiten untuk mengidentifikasi perubahan yang memerlukan intervensi segera." Intervensi ini spesifik untuk pasien yang terpasang alat pemantau TIK (ventrikulostomi atau monitor intraparenkim). Aktivitasnya meliputi: kalibrasi alat pemantau sesuai protokol, catat nilai TIK setiap jam atau lebih sering jika ada perubahan, hitung CPP (CPP = MAP - TIK) dan laporkan jika CPP < 60 mmHg, observasi bentuk gelombang TIK (normal memiliki bentuk P1, P2, P3), perhatikan adanya peningkatan mendadak atau gelombang plateau (indikasi herniasi impending), dan pastikan drainase ventrikel berfungsi jika terpasang. Kedua intervensi ini harus didokumentasikan secara rinci dan dievaluasi efektivitasnya setiap shift. Perawat juga harus memberikan edukasi kepada keluarga tentang tanda-tanda bahaya seperti penurunan kesadaran mendadak, kejang, atau pupil yang tidak sama besar, serta pentingnya mempertahankan tirah baring dan menghindari manuver Valsava seperti mengejan saat BAB. Kolaborasi dengan fisioterapi untuk latihan rentang gerak pasif juga penting untuk mencegah komplikasi imobilisasi namun harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak meningkatkan TIK. Dengan implementasi SIKI yang komprehensif dan konsisten, risiko perfusi serebral tidak efektif dapat diminimalkan, sehingga luaran pasien ICH dapat ditingkatkan secara signifikan.
Article No. 26463 | 22 Jul 2026
Klinis : Keluhan Utama : pasien mengeluh nyeri pinggang kiri yang sudah dirasakan sejak 1 minggu terakhir, memberat dalam 12 jam lalu, nyeri pinggang dirasakan menjalar ke kaki kiri dan terasa pedih, keluhan dirasakan terutama saat beraktifitas, riwayat jatuh disangkal.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Low back pain (LBP) / Nyeri pinggang mekanik dengan radikulopati (diduga terkait herniasi nukleus pulposus atau gangguan diskus intervertebralis lumbal)
Kode ICD-10: M54.5 (Low back pain, unspecified) atau M51.1 (Lumbar and other intervertebral disc disorders with radiculopathy) – bergantung pada hasil pencitraan definitif
Deskripsi Singkat: Kondisi ini menggambarkan nyeri pada daerah pinggang kiri yang bersifat mekanik (berkaitan dengan aktivitas) dan menjalar ke tungkai kiri sesuai distribusi saraf, dengan karakter pedih. Nyeri yang memberat dalam 12 jam terakhir dan tidak ada riwayat trauma (jatuh) mengarahkan pada penyebab degeneratif atau biomekanik, seperti herniasi diskus intervertebralis lumbal (L4-L5 atau L5-S1) yang menekan akar saraf (radikulopati). Kode M54.5 (Low back pain, unspecified) digunakan jika belum ada konfirmasi spesifik melalui MRI atau CT scan. Bila terdapat bukti herniasi diskus dengan gejala radikulopati (nyeri menjalar ke kaki), kode yang lebih tepat adalah M51.1 (Lumbar and other intervertebral disc disorders with radiculopathy). Nyeri menjalar ke kaki kiri (sciatica) merupakan tanda iritasi saraf skiatik, dan sifat pedih menunjukkan komponen neuropatik. Pada simulasi diklat, kodifikasi sementara M54.5 dapat diterima, namun untuk akurasi pengkodean klinis, diperlukan dokumentasi hasil pencitraan dan pemeriksaan neurologis (misalnya tes Lasegue/SLR positif).
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 1047 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 1829 1830 1831 1832 1833 1834 1835 1836 1837 1838 1839 1840 1841 1842 1843 1844 1845 1846 1847 1848 1849 1850 1851 1852 1853 1854 1855 1856 1857 1858 1859 1860 1861 1862 1863 1864 1865 1866 1867 1868 1869 1870 1871 1872 1873 1874 1875 1876 1877 1878 1879 1880 1881 1882 1883 1884 1885 1886 1887 1888 1889 1890 1891 1892 1893 1894 1895 1896 1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1964 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058 2059 2060 2061 2062 2063 2064 2065 2066 2067 2068 2069 2070 2071 2072 2073 2074 2075 2076 2077 2078 2079 2080 2081 2082 2083 2084 2085 2086 2087 2088 2089 2090 2091 2092 2093 2094 2095 2096 2097 2098 2099 2100 2101 2102 2103 2104 2105 2106 2107 2108 2109 2110 2111 2112 2113 2114 2115 2116 2117 2118 2119 2120 2121 2122 2123 2124 2125 2126 2127 2128 2129 2130 2131 2132 2133 2134 2135 2136 2137 2138 2139 2140 2141 2142 2143 2144 2145 2146 2147 2148 2149 2150 2151 2152 2153 2154 2155 2156 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2167 2168 2169 2170 2171 2172 2173 2174 2175 2176 2177 2178 2179 2180 2181 2182 2183 2184 2185 2186 2187 2188 2189 2190 2191 2192 2193 2194 2195 2196 2197 2198 2199 2200 2201 2202 2203 2204 2205 2206 2207 2208 2209 2210 2211 2212 2213 2214 2215 2216 2217 2218 2219 2220 2221 2222 2223 2224 2225 2226 2227 2228 2229 2230 2231 2232 2233 2234 2235 2236 2237 2238 2239 2240 2241 2242 2243 2244 2245 2246 2247 2248 2249 2250 2251 2252 2253 2254 2255 2256 2257 2258 2259 2260 2261 2262 2263 2264 2265 2266 2267 2268 2269 2270 2271 2272 2273 2274 2275 2276 2277 2278 2279 2280 2281 2282 2283 2284 2285 2286 2287 2288 2289 2290 2291 2292 2293 2294 2295 2296 2297 2298 2299 2300 2301 2302 2303 2304 2305 2306 2307 2308 2309 2310 2311 2312 2313 2314 2315 2316 2317 2318 2319 2320 2321 2322 2323 2324 2325 2326 2327 2328 2329 2330 2331 2332 2333 2334 2335 2336 2337 2338 2339 2340 2341 2342 2343 2344 2345 2346 2347 2348 2349 2350 2351 2352 2353 2354 2355 2356 2357 2358 2359 2360 2361 2362 2363 2364 2365 2366 2367 2368 2369 2370 2371 2372 2373 2374 2375 2376 2377 2378 2379 2380 2381 2382 2383 2384 2385 2386 2387 2388 2389 2390 2391 2392 2393 2394 2395 2396 2397 2398 2399 2400 2401 2402 2403 2404 2405 2406 2407 2408 2409 2410 2411 2412 2413 2414 2415 2416 2417 2418 2419 2420 2421 2422 2423 2424 2425 2426 2427 2428 2429 2430 2431 2432 2433 2434 2435 2436 2437 2438 2439 2440 2441 2442 2443 2444 2445 2446 2447 2448 2449 2450 2451 2452 2453 2454 2455 2456 2457 2458 2459 2460 2461 2462 2463 2464 2465 2466 2467 2468 2469 2470 2471 2472 2473 2474 2475 2476 2477 2478 2479 2480 2481 2482 2483 2484 2485 2486 2487 2488 2489 2490 2491 2492 2493 2494 2495 2496 2497 2498 2499 2500 2501 2502 2503 2504 2505 2506 2507 2508 2509 2510 2511 2512 2513 2514 2515 2516 2517 2518 2519 2520 2521 2522 2523 2524 2525 2526 2527 2528 2529 2530 2531 2532 2533 2534 2535 2536 2537 2538 2539 2540 2541 2542 2543 2544 2545 2546 2547 2548 2549 2550 2551 2552 2553 2554 2555 2556 2557 2558 2559 2560 2561 2562 2563 2564 2565 2566 2567 2568 2569 2570 2571 2572 2573 2574 2575 2576 2577 2578 2579 2580 2581 2582 2583 2584 2585 2586 2587 2588 2589 2590 2591 2592 2593 2594 2595