Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 22021 | 09 Oct 2025
Klinis : pasien mengatakan diare terus menerus sejak 1 hari yang lalu, frekuensi >10 kali, feses cair warna kuning. nyeri perut bagian kiri bawah terus menerus
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Diare
Kode SDKI: D.0020
Definisi dan Deskripsi SDKI (500-1000 kata): Diagnosis keperawatan Diare, dengan kode D.0020 dalam Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), didefinisikan sebagai kondisi pengeluaran feses yang sering, lunak, dan tidak berbentuk. Kondisi ini merupakan salah satu masalah gastrointestinal yang paling umum ditemui dalam praktik klinis dan dapat memengaruhi individu dari segala usia. Diare bukanlah sebuah penyakit, melainkan gejala dari suatu kondisi medis yang mendasarinya, yang dapat berkisar dari infeksi ringan yang sembuh sendiri hingga penyakit kronis yang serius. Secara fisiologis, diare terjadi ketika ada gangguan pada salah satu atau lebih mekanisme normal penyerapan dan sekresi air serta elektrolit di usus.
Patofisiologi diare dapat diklasifikasikan ke dalam empat mekanisme utama. Pertama, diare osmotik, yang terjadi ketika zat yang tidak dapat diserap (solut) tertahan di dalam lumen usus, menarik air secara osmosis dan meningkatkan volume feses. ContohArticle No. 22022 | 09 Oct 2025
Klinis : Defekasi kurang dalam 2 minggu
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Defekasi kurang dalam 2 minggu
Kode SDKI: D.0049
Definisi dan Deskripsi SDKI (500-1000 kata): Konstipasi didefinisikan sebagai penurunan frekuensi defekasi normal yang disertai dengan kesulitan dan pengeluaran feses yang tidak tuntas, dan/atau pengeluaran feses yang keras dan kering. Kondisi ini merupakan salah satu keluhan gastrointestinal yang paling umum ditemui dalam praktik klinis dan dapat memengaruhi individu dari segala usia, mulai dari bayi hingga lansia. Meskipun sering dianggap sebagai masalah ringan, konstipasi yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan komplikasi serius seperti impaksi fekal, hemoroid, fisura ani, prolaps rektum, dan bahkan dapat memengaruhi kualitas hidup secara signifikan melalui rasa tidak nyaman, nyeri, dan stres psikologis. Diagnosis keperawatan ini ditegakkan berdasarkan data subjektif dan objektif yang menunjukkan adanya perubahan pola eliminasi fekal dari kebiasaan normal individu. Gejala dan tanda mayor yang menjadi acuan utama adalah keluhan subjektif pasien mengenai frekuensi defekasi kurang dari tiga kali seminggu dan/atau pengeluaran feses yang lama dan sulit. Secara objektif, temuan yang mendukung diagnosis ini adalah feses yang keras dan kering serta penurunan bising usus atau peristaltik usus saat auskultasi abdomen. Etiologi konstipasi bersifat multifaktorial, melibatkan faktor fisiologis, psikologis, dan situasional. Dari sisi fisiologis, penurunan motilitas gastrointestinal adalah penyebab utama. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai kondisi seperti dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, gangguan endokrin (misalnya, hipotiroidisme), gangguan neurologis (misalnya, penyakit Parkinson, cedera medula spinalis, stroke), atau kelemahan otot abdomen dan dasar panggul. Pada lansia, penurunan tonus otot dan respons saraf yang melambat secara alami berkontribusi pada peningkatan risiko konstipasi. Faktor psikologis seperti depresi, kecemasan, dan kebingungan (konfusi) juga dapat memengaruhi fungsi usus. Stres emosional dapat mengubah sinyal saraf ke usus, memperlambat transit feses. Selain itu, mengabaikan dorongan untuk buang air besar, misalnya karena takut akan rasa sakit atau tidak adanya privasi, dapat menekan refleks defekasi dan memperburuk kondisi. Faktor situasional memegang peranan yang sangat penting. Perubahan pola makan, terutama diet rendah serat, merupakan penyebab umum. Serat berfungsi menambah massa dan kelembutan feses, sehingga mempermudah pergerakannya di sepanjang usus besar. Asupan cairan yang tidak adekuat juga menyebabkan feses menjadi keras dan sulit dikeluarkan. Kurangnya aktivitas fisik atau imobilitas (tirah baring lama) dapat memperlambat metabolisme dan motilitas usus. Penggunaan obat-obatan tertentu seperti opioid, antikolinergik, suplemen zat besi, antasida yang mengandung kalsium atau aluminium, dan beberapa jenis antidepresan juga dikenal memiliki efek samping konstipasi. Penyalahgunaan laksatif dalam jangka panjang secara paradoks juga dapat menyebabkan ketergantungan dan melemahkan fungsi usus normal. Pengkajian keperawatan yang komprehensif sangat krusial untuk mengidentifikasi penyebab yang mendasari dan merencanakan intervensi yang tepat. Perawat perlu mengumpulkan riwayat kesehatan yang detail, termasuk pola defekasi normal pasien, onset dan durasi konstipasi, konsistensi feses (menggunakan Bristol Stool Chart bisa sangat membantu), kebiasaan diet dan asupan cairan, tingkat aktivitas fisik, riwayat penggunaan obat-obatan (termasuk obat bebas dan suplemen), serta riwayat penyakit terdahulu. Pemeriksaan fisik harus mencakup inspeksi abdomen untuk melihat adanya distensi, auskultasi untuk menilai bising usus, serta palpasi untuk mendeteksi adanya massa atau nyeri tekan. Dalam beberapa kasus, pemeriksaan colok dubur mungkin diperlukan untuk mengidentifikasi adanya impaksi fekal atau masalah struktural lainnya. Penting untuk membedakan antara konstipasi fungsional (tanpa penyebab organik yang jelas) dan konstipasi sekunder akibat kondisi medis lain. Dengan memahami secara mendalam definisi, etiologi, serta manifestasi klinis dari konstipasi, perawat dapat menetapkan diagnosis yang akurat dan menyusun rencana asuhan keperawatan yang holistik dan efektif untuk memulihkan pola eliminasi fekal yang normal dan meningkatkan kenyamanan serta kualitas hidup pasien.
Kode SLKI: L.04033
Luaran yang Diharapkan: Eliminasi Fekal. Setelah dilakukan intervensi keperawatan, diharapkan eliminasi fekal membaik dengan kriteria hasil:
- Kontrol pengeluaran feses meningkat
- Keluhan defekasi lama dan sulit menurun
- Mengejan saat defekasi menurun
- Konsistensi feses membaik
- Frekuensi defekasi membaik
- Peristaltik usus membaik
- Distensi abdomen menurun
- Nyeri abdomen menurun
Kode SIKI: I.04153
Intervensi Utama: Manajemen Konstipasi.
Observasi:- Periksa tanda dan gejala konstipasi.
- Periksa pergerakan usus, karakteristik feses (konsistensi, bentuk, volume, dan warna).
- Identifikasi faktor risiko konstipasi (mis. obat-obatan, tirah baring, diet rendah serat).
- Monitor tanda dan gejala ruptur usus dan/atau peritonitis.
- Anjurkan diet tinggi serat.
- Anjurkan asupan cairan yang cukup.
- Anjurkan peningkatan aktivitas fisik, sesuai toleransi.
- Lakukan masase abdomen, jika perlu.
- Jadwalkan waktu untuk defekasi, berikan privasi.
- Gunakan pispot jika pasien tidak dapat berjalan.
- Berikan enema atau irigasi usus, jika perlu.
- Jelaskan etiologi masalah dan alasan tindakan.
- Anjurkan cara mengatasi konstipasi/impaksi.
- Jelaskan perubahan diet dan gaya hidup yang dapat mencegah konstipasi.
- Jelaskan penggunaan laksatif yang tepat.
- Kolaborasi penggunaan obat pencahar (mis. laksatif, supositoria), jika perlu.
- Rujuk ke ahli gizi untuk modifikasi diet, jika perlu.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti diagnosis atau kodifikasi resmi.***
-
Article No. 22023 | 09 Oct 2025
Klinis : Pengeluaran fases lama dan sulit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pengeluaran fases lama dan sulit
Kode SDKI: D.0049
Definisi dan Deskripsi SDKI (500-1000 kata): Konstipasi didefinisikan sebagai penurunan frekuensi defekasi normal yang disertai dengan kesulitan dalam pengeluaran feses, perasaan evakuasi yang tidak tuntas, atau keluarnya feses yang keras dan kering. Kondisi ini merupakan salah satu keluhan gastrointestinal yang paling umum dijumpai dalam praktik klinis dan dapat memengaruhi individu dari segala usia, mulai dari bayi hingga lansia. Secara fisiologis, proses defekasi adalah hasil akhir dari pergerakan materi sisa makanan melalui usus besar (kolon). Kolon berfungsi menyerap air dan elektrolit dari sisa makanan tersebut untuk membentuk feses. Pergerakan ini didorong oleh kontraksi otot polos di dinding usus yang dikenal sebagai gerak peristaltik. Ketika pergerakan ini melambat (penurunan motilitas gastrointestinal), materi feses berada di dalam kolon untuk waktu yang lebih lama. Hal ini memberikan lebih banyak waktu bagi kolon untuk menyerap air, sehingga feses menjadi lebih keras, kering, dan sulit untuk dikeluarkan. Proses ini dapat menyebabkan individu harus mengejan secara berlebihan saat buang air besar, yang dapat menimbulkan komplikasi seperti hemoroid, fisura ani, atau bahkan prolaps rektum pada kasus yang parah.
Penyebab konstipasi bersifat multifaktorial dan dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori. Dari segi fisiologis, penurunan motilitas usus adalah penyebab utama, yang sering terjadi seiring dengan proses penuaan, di mana tonus otot usus dan respons saraf cenderung menurun. Pada bayi dan anak-anak, ketidakadekuatan pertumbuhan atau kondisi kongenital seperti penyakit Hirschsprung juga dapat menjadi penyebab. Dari segi psikologis, kondisi seperti depresi, kecemasan, atau kebingungan (konfusi) dapat memengaruhi kebiasaan buang air besar. Stres emosional dapat mengubah sinyal saraf yang mengatur fungsi usus, sering kali menyebabkan perlambatan transit kolon. Pasien dengan gangguan makan juga berisiko tinggi mengalami konstipasi.
Faktor situasional memegang peranan yang sangat signifikan. Perubahan gaya hidup dan kebiasaan sehari-hari sering menjadi pemicu utama. Asupan serat yang tidak adekuat adalah salah satu penyebab paling umum; serat berfungsi untuk menambah massa dan kelembutan feses, sehingga lebih mudah melewati usus. Demikian pula, asupan cairan yang kurang dapat menyebabkan dehidrasi, yang pada gilirannya membuat feses menjadi lebih keras. Kurangnya aktivitas fisik juga berkontribusi dengan melemahkan otot perut dan memperlambat gerak peristaltik. Kebiasaan menahan atau mengabaikan dorongan untuk buang air besar, misalnya karena tidak tersedianya toilet yang bersih atau karena kesibukan, dapat menyebabkan refleks defekasi melemah dari waktu ke waktu. Selain itu, penggunaan obat-obatan tertentu (agen farmakologis) seperti opioid, antidepresan, antasida yang mengandung aluminium atau kalsium, suplemen zat besi, dan obat antihipertensi dapat memiliki efek samping berupa konstipasi. Penyalahgunaan laksatif dalam jangka panjang juga secara paradoks dapat merusak fungsi normal usus dan menyebabkan ketergantungan.
Gejala dan tanda konstipasi dibedakan menjadi mayor dan minor. Gejala mayor subjektif yang dilaporkan oleh pasien adalah frekuensi defekasi kurang dari dua kali seminggu dan keluhan pengeluaran feses yang lama serta sulit. Secara objektif, perawat dapat menemukan feses yang keras saat inspeksi atau palpasi rektal, serta penurunan suara bising usus (peristaltik) saat auskultasi abdomen. Gejala minor subjektif termasuk perasaan harus mengejan dengan kuat saat defekasi. Tanda minor objektif yang dapat diobservasi meliputi distensi abdomen (perut kembung dan terasa penuh), teraba massa feses pada rektum atau kolon, dan terkadang pasien tampak lemah secara umum.
Konstipasi sering kali terkait dengan berbagai kondisi klinis lainnya. Pada pasien dengan tirah baring lama, imobilitas menjadi faktor risiko utama. Gangguan neurologis seperti cedera medula spinalis, stroke, penyakit Parkinson, dan sklerosis multipel dapat mengganggu sinyal saraf yang mengontrol fungsi usus. Gangguan endokrin seperti hipotiroidisme (memperlambat metabolisme tubuh secara keseluruhan) dan hiperkalsemia juga dapat menyebabkan konstipasi. Masalah struktural pada saluran cerna, seperti tumor usus, striktur, atau lesi pada rektum dan anus (misalnya, hemoroid yang nyeri), dapat menghalangi jalannya feses secara mekanis. Oleh karena itu, dalam melakukan pengkajian keperawatan, penting untuk mengidentifikasi penyebab yang mendasari dan faktor-faktor yang berkontribusi untuk merancang intervensi yang tepat dan efektif.Kode SLKI: L.04033
Luaran yang Diharapkan: Setelah dilakukan intervensi keperawatan, diharapkan Eliminasi Fekal membaik dengan kriteria hasil:
- Kontrol pengeluaran feses meningkat
- Keluhan defekasi lama dan sulit menurun
- Mengejan saat defekasi menurun
- Konsistensi feses membaik
- Frekuensi defekasi membaik
- Peristaltik usus membaik
- Distensi abdomen menurun
Kode SIKI: I.04153
Intervensi Utama: Manajemen Konstipasi
Observasi
- Periksa tanda dan gejala konstipasi.
- Periksa pergerakan usus, karakteristik feses (konsistensi, bentuk, volume, dan warna).
- Identifikasi faktor risiko konstipasi (misalnya, obat-obatan, tirah b
-
Article No. 22024 | 09 Oct 2025
Klinis : terdengar ronki pada pemeriksaan paru
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: terdengar ronki pada pemeriksaan paru
Kode SDKI: D.0001
Definisi dan Deskripsi SDKI (500-1000 kata): Diagnosis keperawatan yang paling relevan untuk kondisi terd
Article No. 22025 | 09 Oct 2025
Klinis : bersihan jalan napas tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Definisi dan Deskripsi SDKI (500-1000 kata): Bersihan jalan napas tidak efektif adalah suatu kondisi klinis yang didefinisikan sebagai ketidakmampuan individu untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan guna mempertahankan jalan napas yang paten atau terbuka. Kondisi ini merupakan salah satu masalah pernapasan yang paling umum ditemui dalam praktik keperawatan dan dapat mengancam jiwa jika tidak ditangani dengan tepat, karena jalan napas yang paten adalah prasyarat fundamental untuk ventilasi dan oksigenasi yang adekuat. Gangguan ini dapat terjadi pada berbagai tingkat usia, mulai dari neonatus hingga lansia, dan disebabkan oleh beragam faktor etiologi yang dapat diklasifikasikan menjadi penyebab fisiologis dan situasional.
Penyebab fisiologis dari bersihan jalan napas tidak efektif sangat bervariasi. Salah satu penyebab utamanya adalah hipersekresi jalan napas, di mana kelenjar mukosa memproduksi lendir atau sputum secara berlebihan. Kondisi seperti bronkitis kronis, asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), dan fibrosis kistik sering kali disertai dengan produksi mukus yang kental dan melimpah, yang sulit untuk dikeluarkan oleh mekanisme pembersihan alami tubuh. Selain itu, spasme jalan napas atau bronkospasme, yang merupakan penyempitan otot polos di sekitar bronkus, dapat menjebak sekret dan menghalangi aliran udara, seperti yang sering terjadi pada serangan asma akut. Disfungsi neuromuskular juga menjadi faktor signifikan; kondisi seperti stroke, cedera tulang belakang, Myasthenia Gravis, atau Guillain-Barré Syndrome melemahkan otot-otot pernapasan, termasuk diafragma dan otot interkostal, sehingga kekuatan untuk melakukan batuk yang kuat dan efektif menurun drastis. Adanya benda asing yang terhirup ke dalam jalan napas, baik pada anak-anak maupun orang dewasa, secara mekanis akan menghalangi aliran udara dan memicu respons inflamasi. Pada pasien yang terpasang jalan napas buatan seperti selang endotrakeal (ETT) atau trakeostomi, mekanisme batuk alami terganggu dan pembersihan sekret bergantung sepenuhnya pada intervensi eksternal seperti suctioning. Proses infeksi pada saluran napas, seperti pneumonia atau bronkiolitis, menyebabkan peradangan dan peningkatan produksi sekret purulen yang kental, yang semakin memperburuk obstruksi.
Gejala dan tanda yang muncul pada pasien dengan bersihan jalan napas tidak efektif dikategorikan menjadi mayor dan minor. Tanda mayor objektif adalah yang paling khas dan sering menjadi dasar penegakan diagnosis. Ini termasuk batuk yang tidak efektif, yaitu batuk yang lemah, dangkal, dan tidak mampu memobilisasi sekret dari saluran napas bagian bawah. Pasien mungkin juga tidak mampu batuk sama sekali karena kelemahan ekstrem atau penurunan kesadaran. Adanya sputum yang berlebih, yang bisa terlihat saat pasien mencoba batuk atau terdengar sebagai suara gemericik (ronkhi basah), adalah tanda kunci lainnya. Suara napas tambahan seperti mengi (wheezing), yang merupakan suara siulan bernada tinggi saat ekspirasi akibat penyempitan jalan napas, atau ronkhi kering, yang merupakan suara kasar dan bergetar akibat adanya sekret kental di saluran napas besar, juga merupakan temuan auskultasi yang penting. Pada neonatus, adanya mekonium di jalan napas setelah proses persalinan merupakan tanda mayor yang spesifik.
Sementara itu, gejala dan tanda minor memberikan data pendukung yang memperkuat diagnosis. Secara subjektif, pasien mungkin mengeluhkan dispnea (sesak napas), kesulitan berbicara karena napas yang pendek, atau ortopnea (sesak napas saat berbaring datar yang membaik saat duduk). Secara objektif, perawat dapat mengobservasi adanya gelisah atau agitasi, yang merupakan tanda awal hipoksia. Sianosis, yaitu perubahan warna kebiruan pada kulit dan membran mukosa, adalah tandaArticle No. 22026 | 09 Oct 2025
Klinis : DO: Keadaan umum lemah TTV TD : 176/96 mmHg Suhu : 36,5°C RR : 24x / menit HR : 89x / menit SpO2 : 97% Terpasang oksigen 3 lpm Pengkajian nyeri P : nyeri bertambah ketika beraktivitas Q : seperti tertekan R : nyeri di ulu hati dan di daerah dada S : skala 5 T : hilang timbul Terdapat pembesaran hati (hepatomegali) EF 16% DS: Klien mengeluh sesak napas Klien mengeluh nyeri pada bagian ulu hati dan di daerah dada Klien mengeluh merasa lemah
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Penyakit Jantung Hipertensif dengan Gagal Jantung Kongestif
Kode ICD-10: I11.0
Deskripsi Singkat : Penyakit Jantung Hipertensif dengan Gagal Jantung Kongestif adalah kondisi klinis di mana tekanan darah tinggi (hipertensi) yang tidak terkontrol dalam jangka panjang menyebabkan kerusakan struktural dan fungsional pada jantung, yang berujung pada kegagalan fungsi pompa jantung. Hipertensi kronis memaksa ventrikel (bilik) jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah melawan tekanan yang tinggi di pembuluh darah. Beban berlebih
Article No. 22027 | 09 Oct 2025
Klinis : DO: Keadaan umum lemah TTV TD : 176/96 mmHg Suhu : 36,5°C RR : 24x / menit HR : 89x / menit SpO2 : 97% Terpasang oksigen 3 lpm Pengkajian nyeri P : nyeri bertambah ketika beraktivitas Q : seperti tertekan R : nyeri di ulu hati dan di daerah dada S : skala 5 T : hilang timbul Terdapat pembesaran hati (hepatomegali) EF 16% DS: Klien mengeluh sesak napas Klien mengeluh nyeri pada bagian ulu hati dan di daerah dada Klien mengeluh merasa lemah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0008
Definisi dan Deskripsi SDKI (500-1000 kata): Penurunan curah jantung didefinisikan sebagai ketidakadekuatan jantung memompa darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Kondisi ini merupakan masalah fisiologis kritis yang terjadi ketika volume darah yang dipompa oleh ventrikel per menit (cardiac output) tidak mencukupi untuk mengantarkan oksigen dan nutrisi ke seluruh jaringan tubuh. Curah jantung sendiri merupakan hasil perkalian dari denyut jantung (heart rate) dan volume sekuncup (stroke volume). Gangguan pada salah satu atau kedua komponen ini dapat menyebabkan penurunan curah jantung. Volume sekuncup dipengaruhi oleh tiga faktor utama: preload (beban awal), afterload (beban akhir), dan kontraktilitas (kekuatan kontraksi otot jantung). Pada kasus ini, data klinis menunjukkan adanya disfungsi jantung yang parah, yang menjadi dasar penegakan diagnosis ini.
Data objektif yang paling signifikan adalah Ejection Fraction (EF) sebesar 16%. Fraksi ejeksi adalah persentase darah yang dipompa keluar dari ventrikel kiri pada setiap detak jantung. Nilai normalnya adalah 50-70%. EF 16% mengindikasikan gagal jantung sistolik yang sangat berat, di mana kemampuan kontraktilitas miokardium sangat menurun. Akibatnya, volume sekuncup menjadi sangat rendah, yang secara langsung menyebabkan penurunan curah jantung. Keadaan umum yang lemah dan keluhan lelah (kelemahan) adalah manifestasi klinis langsung dari hipoperfusi sistemik. Otot-otot rangka tidak menerima cukup oksigen dan nutrisi untuk melakukan aktivitas, sehingga pasien merasa sangat lemah.
Tanda-tanda vital juga mendukung diagnosis ini. Tekanan darah 176/96 mmHg menunjukkan hipertensi berat. Hipertensi kronis meningkatkan afterload, yaitu resistensi yang harus dilawan oleh ventrikel kiri saat memompa darah. Peningkatan afterload yang berkelanjutan memaksa jantung bekerja lebih keras, yang pada akhirnya dapat menyebabkan hipertrofi ventrikel dan kelelahan miokardium, yang berujung pada penurunan kontraktilitas dan curah jantung. Frekuensi pernapasan 24x/menit (takipnea) dan keluhan sesak napas (dispnea) adalah gejala dari "gagal jantung ke belakang" (backward failure). Ketika ventrikel kiri gagal memompa darah secara efektif ke sirkulasi sistemik, darah akan terbendung kembali ke sirkulasi paru. Hal ini meningkatkan tekanan hidrostatik di kapiler paru, menyebabkan cairan merembes ke ruang interstisial dan alveoli (edema paru), yang mengganggu pertukaran gas dan memicu sensasi sesak napas. Pemasangan oksigen 3 lpm mengindikasikan adanya hipoksemia atau upaya untuk meringankan kerja pernapasan dan meningkatkan saturasi oksigen.
Nyeri dada dan ulu hati dengan karakteristik seperti tertekan, yang bertambah saat beraktivitas, mengarah pada angina pektoris. Pada kondisi curah jantung yang rendah, perfusi ke arteri koroner juga dapat terganggu. Ditambah dengan peningkatan kebutuhan oksigen miokardium akibat hipertensi dan takipnea, terjadi ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen jantung, yang bermanifestasi sebagai nyeri iskemik. Hepatomegali (pembesaran hati) adalah tanda klasik dari "gagal jantung kanan". Kegagalan pompa jantung sisi kanan (yang seringkali merupakan akibat dari gagal jantung kiri kronis) menyebabkan darah terbendung di sirkulasi vena sistemik. Kongesti vena ini menyebabkan pembesaran organ-organ seperti hati dan dapat menyebabkan edema perifer. Dengan demikian, kombinasi dari EF yang sangat rendah, gejala hipoperfusi sistemik (lemah), gejala kongesti paru (sesak napas), dan gejala kongesti sistemik (hepatomegali) secara komprehensif menggambarkan sindrom klinis penurunan curah jantung yang berat.Kode SLKI: L.02008
Luaran yang Diharapkan: Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan **Curah Jantung Meningkat** dengan kriteria hasil:
-
Article No. 22028 | 09 Oct 2025
Klinis : DO: Keadaan umum lemah TTV TD : 176/96 mmHg Suhu : 36,5°C RR : 24x / menit HR : 89x / menit SpO2 : 97% Terpasang oksigen 3 lpm Pengkajian nyeri P : nyeri bertambah ketika beraktivitas Q : seperti tertekan R : nyeri di ulu hati dan di daerah dada S : skala 5 T : hilang timbul Terdapat pembesaran hati (hepatomegali) EF 16% DS: Klien mengeluh sesak napas Klien mengeluh nyeri pada bagian ulu hati dan di daerah dada Klien mengeluh merasa lemah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0008
Definisi dan Deskripsi SDKI (500-1000 kata): Penurunan Curah Jantung adalah kondisi ketidakadekuatan jantung dalam memompa darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Kondisi ini merupakan masalah keperawatan yang sangat serius dan seringkali menjadi pusat dari berbagai patologi kardiovaskular, terutama gagal jantung. Curah jantung (Cardiac Output) adalah volume darah yang dipompa oleh ventrikel kiri ke aorta setiap menitnya, yang merupakan hasil perkalian antara frekuensi jantung (Heart Rate) dan volume sekuncup (Stroke Volume). Penurunan curah jantung terjadi ketika salah satu atau kedua komponen ini terganggu secara signifikan.
Faktor-faktor yang memengaruhi volume sekuncup adalah preload, afterload, dan kontraktilitas.
1. **Preload:** Merujuk pada derajat regangan serabut otot jantung pada akhir diastol, sesaat sebelum kontraksi. Ini secara klinis sering dihubungkan dengan volume darah di ventrikel pada akhir diastol (End-Diastolic Volume). Pada kasus ini, adanya hepatomegali (pembesaran hati) merupakan tanda klinis dari kongesti vena sistemik, yang mengindikasikan adanya peningkatan preload pada sisi kanan jantung (gagal jantung kanan). Peningkatan preload yang berlebihan dapat meregangkan otot jantung melebihi batas optimalnya (melampaui mekanisme Frank-Article No. 22029 | 09 Oct 2025
Klinis : Pasien merasa lelah dan lemah, tidak dapat beraktivitas seperti biasa, ke kamar mandi perlu di bantu
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: ```html
Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi Berdasarkan SDKI, SLKI, SIKI PPNI
Sebagai seorang perawat profesional, penentuan diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi harus didasarkan pada standar yang telah ditetapkan untuk memastikan kualitas asuhan keperawatan yang komprehensif dan terukur. Dalam konteks Indonesia, standar ini diatur oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) melalui:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia)
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia)
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia)
Kondisi Pasien:
Pasien merasa lelah dan lemah, tidak dapat beraktivitas seperti biasa, ke kamar mandi perlu di bantu.
1. Diagnosa Keperawatan (SDKI)
Berdasarkan data subjektif dan objektif dari pasien, diagnosa keperawatan yang paling relevan adalah Intoleransi Aktivitas.
Komponen
Detail
Diagnosa Keperawatan
Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI
D.0056
Definisi SDKI
Ketidakcukupan energi psikologis atau fisiologis untuk mempertahankan atau menyelesaikan aktivitas kehidupan sehari-hari yang diminta atau yang diinginkan.
Penyebab (Etiologi)
- Kelemahan umum (sesuai dengan keluhan pasien "lemah")
- Gaya hidup monoton (jika ada data pendukung)
- Imobilitas (jika ada data pendukung)
- Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen (jika ada data pendukung)
Dalam kasus ini, "Kelemahan umum" adalah penyebab yang paling langsung teridentifikasi dari keluhan pasien.
Gejala dan Tanda Mayor (Karakteristik Mayor)
- Subjektif: Mengeluh lelah, merasa lemah.
(Sesuai dengan keluhan pasien: "Pasien merasa lelah dan lemah") - Objektif:
- Frekuensi jantung meningkat >20% dari kondisi istirahat (membutuhkan pengukuran).
- Tekanan darah berubah >20% dari kondisi istirahat (membutuhkan pengukuran).
- Gambaran EKG menunjukkan aritmia saat/setelah aktivitas (membutuhkan pemeriksaan).
- Dispnea saat/setelah aktivitas (membutuhkan observasi).
- Merasa tidak nyaman setelah beraktivitas (membutuhkan konfirmasi).
- Merasa pusing saat/setelah beraktivitas (membutuhkan konfirmasi).
- Ketidakmampuan melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
(Sesuai dengan keluhan pasien: "tidak dapat beraktivitas seperti biasa, ke kamar mandi perlu di bantu")
Dari data pasien, keluhan lelah dan lemah serta ketidakmampuan beraktivitas secara mandiri adalah karakteristik mayor yang jelas.
2. Luaran Keperawatan (SLKI)
Setelah diagnosa ditegakkan, perawat perlu menetapkan luaran yang diharapkan sebagai tujuan asuhan keperawatan. Luaran ini harus spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan berbatas waktu (SMART).
Komponen
Detail
Luaran Utama
Toleransi Aktivitas
Kode SLKI
L.05047
Definisi SLKI
Kemampuan untuk melakukan aktivitas fisik secara mandiri tanpa mengalami kelelahan berlebihan.
Kriteria Hasil (Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama ...x24 jam, diharapkan Toleransi Aktivitas meningkat dengan kriteria hasil:)
- Kelelahan menurun (dari skala 3 menjadi 5: cukup menurun menjadi menurun secara signifikan).
- Kelemahan fisik menurun (dari skala 3 menjadi 5: cukup menurun menjadi menurun secara signifikan).
- Kemudahan melakukan aktivitas sehari-hari meningkat (dari skala 2 menjadi 4: cukup terganggu menjadi cukup meningkat).
- Dispnea saat aktivitas menurun (jika ada, dari skala 3 menjadi 5).
- Perasaan tidak nyaman setelah beraktivitas menurun (dari skala 3 menjadi 5).
- Frekuensi nadi saat beraktivitas membaik (dari skala 3 menjadi 5: cukup terganggu menjadi membaik).
- Tekanan darah saat beraktivitas membaik (dari skala 3 menjadi 5: cukup terganggu menjadi membaik).
(Skala 1: Menurun/Memburuk/Sangat Terganggu; 2: Cukup Menurun/Cukup Memburuk/Terganggu; 3: Sedang; 4: Cukup Meningkat/Cukup Membaik/Cukup Tidak Terganggu; 5: Meningkat/Membaik/Tidak Terganggu)
3. Intervensi Keperawatan (SIKI)
Intervensi keperawatan adalah tindakan yang dilakukan perawat untuk mencapai luaran yang diharapkan. Intervensi ini harus spesifik dan berfokus pada penyebab serta gejala yang dialami pasien.