Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23569 | 09 Jan 2026
Klinis : • RR: 36 x/menit • SpO₂: 82% • TD: 85/55 mmHg • Nadi: 135 x/menit • Kesadaran: gelisah luka tusuk terbuka di dada kiri udara keluar-masuk dari luka.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas dan Perfusi Jaringan berhubungan dengan trauma dada terbuka (Open Pneumothorax/Tension Pneumothorax)
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Gangguan Pertukaran Gas adalah suatu keadaan dimana terjadi gangguan pada proses oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida antara alveoli dan sistem vaskular pulmonal. Pada kasus ini, luka tusuk terbuka di dada kiri dengan udara keluar-masuk (sucking chest wound) menyebabkan kolapsnya paru (pneumotoraks), mengganggu mekanisme ventilasi dan menciptakan ruang mati di rongga pleura. Hal ini secara langsung mengganggu proses difusi oksigen ke dalam kapiler paru, yang dimanifestasikan oleh takipnea (RR 36x/menit) dan hipoksemia berat (SpO2 82%). Gangguan perfusi jaringan juga terjadi akibat hipovolemia dari perdarahan internal yang mungkin terjadi dan syok (TD 85/55 mmHg, nadi 135 x/menit), yang mengurangi pengiriman oksigen yang sudah minim ke jaringan perifer. Kesadaran gelisah merupakan tanda klasik hipoksia serebral. Tanpa intervensi segera, kondisi ini akan berkembang menjadi gagal napas dan henti jantung.
Kode SLKI: L.03103
Deskripsi : SLKI ini berfokus pada pemulihan status oksigenasi dan ventilasi. Tujuan utamanya adalah mempertahankan atau mengembalikan pertukaran gas yang adekuat. Intervensi keperawatan yang kritis termasuk segera menutup luka dada terbuka dengan dressing tertutup di tiga sisi (occlusive dressing) untuk mencegah pneumotoraks tertutup berubah menjadi tension pneumotoraks yang lebih berbahaya, sambil tetap memungkinkan udara keluar dari rongga pleura. Pemberian oksigen dengan aliran tinggi (non-rebreather mask) atau bahkan persiapan untuk intubasi dan ventilasi mekanik sangat diperlukan untuk mengatasi hipoksemia. Memantau saturasi oksigen (SpO2), gas darah arteri (AGD), frekuensi dan usaha napas, serta tanda sianosis merupakan aktivitas berkelanjutan. Posisi semi-Fowler dapat membantu ekspansi dada yang lebih baik pada sisi yang sehat. SLKI ini juga mencakup kolaborasi segera untuk pemasangan water seal drainage (WSD) atau chest tube untuk mengembalikan tekanan negatif intrapleura dan re-ekspansi paru, yang merupakan tindakan definitif untuk mengatasi pneumotoraks.
Kode SIKI: I.09080
Deskripsi : SIKI ini merupakan tindakan spesifik untuk mengelola luka dada terbuka dan memfasilitasi pernapasan. Langkah pertama dan paling mendesak adalah melakukan penutupan luka dada dengan teknik yang tepat. Perawat menyiapkan bahan steril (seperti vaseline gauze, plastic wrap, atau bahan impermeable lainnya) dan menutup luka tersebut, kemudian merekatkannya kuat hanya di tiga sisi. Desain tiga sisi ini bertujuan untuk mencegah udara masuk saat inspirasi (yang akan memperburuk kolaps paru) tetapi memungkinkan udara yang terperangkap di rongga pleura untuk keluar saat ekspirasi, mencegah terjadinya tension pneumotoraks. Selama prosedur, pasien terus dimonitor untuk distress pernapasan. Tindakan lain yang termasuk dalam SIKI ini adalah membantu prosedur bedah atau invasif seperti torakostomi atau pemasangan chest tube dengan mempersiapkan alat, memberikan dukungan psikologis, dan memastikan lingkungan steril. Setelah chest tube terpasang, perawat bertanggung jawab untuk memantau fungsi sistem drainase, memastikan tidak ada kebocoran, mengobservasi fluktuasi cairan di chamber, dan mencatat karakter serta jumlah drainase. Manajemen nyeri yang adekuat juga bagian dari intervensi ini, karena nyeri dapat membatasi pergerakan dada dan memperburuk hipoventilasi.
-
Article No. 23540 | 09 Jan 2026
Klinis : 3 diagnosa hipospadia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pasien dengan Hipospadia Pasca-Bedah
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: L.08004
Deskripsi : Pasien bebas dari tanda dan gejala infeksi. Kriteria hasil: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal. 2) Tidak ada kemerahan, edema, nyeri, atau panas pada area luka operasi. 3) Tidak ada drainase purulen dari luka. 4) Jumlah leukosit dalam rentang normal. 5) Luka menunjukkan proses penyembuhan (granulasi, tidak ada dehisensi).
Kode SIKI: I.08060
Deskripsi : Manajemen Luka. Intervensi keperawatan: 1) Lakukan teknik aseptik dan antiseptik saat melakukan perawatan luka. 2) Observasi dan dokumentasi karakteristik luka (warna, ukuran, kedalaman, adanya eksudat, bau, dan jaringan sekitar) setiap kali mengganti balutan. 3) Pertahankan kelembaban luka yang sesuai dengan jenis balutan yang dipilih. 4) Ganti balutan sesuai jadwal atau bila basah/kotor. 5) Ajarkan pada pasien/keluarga untuk tidak menyentuh luka secara langsung. 6) Kolaborasi pemberian terapi antibiotik sesuai resep. 7) Monitor tanda-tanda vital dan hasil laboratorium (leukosit) sebagai indikator sistemik infeksi. 8) Berikan nutrisi tinggi protein dan vitamin C untuk mendukung penyembuhan jaringan.
Kondisi: Pasien dengan Hipospadia Pasca-Bedah
Kode SDKI: D.0097
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Kriteria hasil: 1) Pasien melaporkan nyeri berkurang atau hilang (skala nyeri 0-3). 2) Ekspresi wajah rileks, tidak meringis. 3) Pasien dapat beristirahat dan tidur dengan cukup. 4) Tanda vital stabil (tekanan darah, nadi, pernapasan dalam rentang normal). 5) Pasien mampu melakukan aktivitas sesuai toleransi.
Kode SIKI: I.03029
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi keperawatan: 1) Kaji nyeri secara komprehensif (lokasi, intensitas dengan skala, karakter, faktor pencetus dan pereda). 2) Ajarkan teknik non-farmakologi (napas dalam, distraksi, reposisi yang nyaman). 3) Lakukan perawatan luka dengan lembut untuk meminimalkan trauma. 4) Kolaborasi pemberian analgesik sesuai resep (misal: parasetamol atau obat yang lebih kuat sesuai kebutuhan), evaluasi efektivitas dan efek sampingnya. 5) Pertahankan patensi kateter untuk mencegah distensi kandung kemih yang memperberat nyeri. 6) Berikan posisi yang nyaman, hindari tekanan pada area operasi. 7) Lingkungan tenang dan nyaman untuk mendukung istirahat. 8) Edukasi pasien/orang tua untuk melaporkan nyeri secara dini.
Kondisi: Pasien dengan Hipospadia Pasca-Bedah
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko Gangguan Eliminasi Urine
Kode SLKI: L.04002
Deskripsi : Eliminasi Urine Efektif. Kriteria hasil: 1) Output urine adekuat sesuai intake (pada anak, ± 1-2 ml/kgBB/jam). 2) Urine jernih, tidak berdarah (hematuria minimal dapat diterima pasca operasi). 3) Tidak ada keluhan nyeri atau rasa penuh pada suprapubik. 4) Kateter urine patent, drainase lancar. 5) Tidak ada tanda infeksi saluran kemih.
Kode SIKI: I.04021
Deskripsi : Manajemen Kateter Urine. Intervensi keperawatan: 1) Pasang dan pertahankan kateter urine (biasanya kateter stent atau supra-pubik) dengan teknik steril. 2) Amankan kateter untuk mencegah tarikan dan trauma pada meatus. 3) Monitor dan dokumentasi jumlah, warna, dan karakter urine setiap shift. 4) Pastikan sistem drainase tertutup dan kantong urine berada di bawah level kandung kemih. 5) Jangan menjepit kateter secara sembarangan. 6) Lakukan perawatan meatus dan kateter dengan pembersihan antiseptik sesuai protokol untuk mencegah infeksi. 7) Ajarkan pasien/keluarga untuk tidak menarik kateter. 8) Kolaborasi dalam pemberian cairan yang cukup untuk menjaga aliran urine. 9) Observasi tanda-tanda obstruksi (tidak ada output, distensi kandung kemih) dan infeksi (demam, urine keruh/berbau). 10) Berikan edukasi tentang pentingnya kateter dalam proses penyembuhan anastomosis uretra.
-
Article No. 23541 | 09 Jan 2026
Klinis : 3 diagnosa hipospadia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipospadia
Kode SDKI: D.0014
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: L.03107
Deskripsi : Mencegah Infeksi
Kode SIKI: I.01296
Deskripsi : Mempertahankan teknik aseptik selama perawatan luka dan prosedur invasif. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan sistematis yang bertujuan menciptakan dan mempertahankan lingkungan bebas dari mikroorganisme patogen untuk mencegah terjadinya infeksi, khususnya pada pasien pasca operasi atau dengan luka seperti pada kasus hipospadia. Perawat akan mencuci tangan secara higienis sebelum dan setelah kontak dengan pasien atau lingkungan sekitar pasien. Selama perawatan luka di area genital pasca operasi, perawat menggunakan alat pelindung diri (APD) yang sesuai seperti sarung tangan steril. Perawat menyiapkan bidang kerja yang steril, membuka balutan luka dengan teknik aseptik, dan melakukan observasi terhadap tanda-tanda infeksi seperti kemerahan, bengkak, nyeri, panas, dan adanya drainase purulen. Pembersihan luka dilakukan dengan larutan antiseptik yang sesuai dan menggunakan kasa steril dengan teknik dari area yang paling bersih ke arah yang lebih terkontaminasi. Perawat juga akan menerapkan prinsip aseptik selama melakukan kateterisasi atau perawatan kateter jika diperlukan. Edukasi diberikan kepada keluarga/pengasuh mengenai pentingnya menjaga kebersihan tangan dan area luka, serta tanda-tanda infeksi yang harus dilaporkan. Seluruh material bekas perawatan dibuang sesuai dengan prosedur pengelolaan limbah medis. Intervensi ini bersifat kritis karena lokasi anatomi hipospadia (genital) dan adanya luka operasi meningkatkan risiko infeksi saluran kemih dan infeksi luka, yang dapat memperlambat penyembuhan dan mengganggu hasil kosmetik maupun fungsional dari reparasi.
Kondisi: Hipospadia
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Mengontrol Nyeri
Kode SIKI: I.01246
Deskripsi : Melakukan manajemen nyeri. Intervensi ini merupakan pendekatan komprehensif untuk mengurangi pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, seperti yang terjadi pada pasien pasca operasi hipospadia. Perawat secara teratur menilai karakteristik nyeri (skala, lokasi, durasi, kualitas) menggunakan alat observasi dan kuesioner yang sesuai usia (misalnya FLACC untuk bayi, Wong-Baker Faces untuk anak). Manajemen farmakologis dilaksanakan dengan pemberian analgesik sesuai resep dokter (seperti parasetamol atau ibuprofen untuk nyeri ringan-sedang, atau opioid untuk nyeri berat) dengan memperhatikan dosis, rute pemberian, dan interval waktu. Intervensi non-farmakologis diterapkan secara simultan, seperti distraksi dengan permainan, menonton video, atau mendongeng; terapi sentuhan; reposisi yang nyaman; dan teknik relaksasi sederhana. Lingkungan diatur agar tenang dan nyaman untuk mengurangi stres. Perawat juga mengedukasi orang tua tentang pentingnya pemberian analgesik secara teratur (bukan PRN saja) pada periode awal pasca operasi untuk mempertahankan kenyamanan dan memfasilitasi penyembuhan. Efektivitas intervensi dievaluasi setelah pemberian terapi, dan penyesuaian dilakukan berdasarkan respons pasien. Pengendalian nyeri yang adekuat sangat penting karena nyeri dapat menyebabkan distress, meningkatkan kecemasan, menghambat mobilisasi, serta memicu retensi urin atau menangis kuat yang dapat meningkatkan tekanan pada area jahitan.
Kondisi: Hipospadia
Kode SDKI: D.0181
Deskripsi Singkat: Risiko Disfungsi Eliminasi Urine
Kode SLKI: L.04006
Deskripsi : Mempertahankan Eliminasi Urine
Kode SIKI: I.05004
Deskripsi : Memasang dan merawat kateter urine. Intervensi ini ditujukan untuk memastikan drainase urine yang adekuat, melindungi area operasi dari kontaminasi urine, dan memantau fungsi ginjal pasca reparasi hipospadia. Perawat memasang kateter urine (biasanya kateter stent atau kateter Foley ukuran kecil) dengan teknik aseptik ketat. Kateter difiksasi dengan aman pada paha atau abdomen untuk menghindari tarikan dan trauma pada meatus uretra yang baru dibentuk. Sistem drainase dijaga tetap tertutup dan tergantung di bawah level kandung kemih untuk mencegah reflux. Perawat memantau jumlah, warna, dan karakteristik urine output secara ketat (per shift atau lebih sering jika diperlukan), mencatat adanya hematuria yang mungkin terjadi pada awal pasca operasi. Perawatan meatus dilakukan setiap hari dengan pembersihan antiseptik dan pengolesian salep antibiotik sesuai protokol. Perawat mengajarkan pada orang tua cara merawat kateter di rumah jika kateter akan dipasang dalam waktu lama, termasuk menjaga kebersihan, menghindari tersangkut, dan mengenali tanda-tanda komplikasi seperti obstruksi (tidak ada urine keluar), infeksi (urine keruh/berbau), atau lepasnya kateter. Intervensi ini vital karena keberhasilan operasi hipospadia sangat bergantung pada penyembuhan jaringan yang tidak teriritasi oleh urine, sehingga pengalihan urine via kateter memungkinkan luka operasi tetap kering dan sembuh dengan optimal.
-
Article No. 23542 | 09 Jan 2026
Klinis : 3 diagnosa hipospadia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipospadia
Kode SDKI: D.0138
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: L.03102
Deskripsi : Tindakan keperawatan untuk meminimalkan risiko infeksi pada pasien dengan hipospadia, terutama terkait dengan luka pasca operasi dan pemasangan kateter. Intervensi mencakup pemantauan tanda-tanda infeksi (seperti demam, kemerahan, bengkak, nyeri, atau keluarnya nanah dari lokasi operasi), menjaga kebersihan dan kekeringan area genital, melakukan perawatan luka dan kateter dengan teknik aseptik ketat, serta memastikan drainase urin yang lancar. Edukasi kepada orang tua atau pengasuh tentang tanda-tanda infeksi yang harus diwaspadai, pentingnya kebersihan tangan, dan cara merawat area operasi serta kateter di rumah juga merupakan bagian kritis. Pemberian antibiotik sesuai resep dan memantau respons terapi juga termasuk dalam lingkup intervensi ini. Tujuannya adalah mencegah terjadinya infeksi saluran kemih atau infeksi luka yang dapat memperlambat penyembuhan dan menimbulkan komplikasi lebih lanjut.
Kode SIKI: I.01258
Deskripsi : Kriteria hasil yang diharapkan adalah pasien bebas dari tanda dan gejala infeksi. Secara spesifik, tanda-tanda vital (suhu, nadi, pernapasan) dalam rentang normal sesuai usia. Luka operasi menunjukkan proses penyembuhan yang baik tanpa adanya indikasi inflamasi seperti kemerahan (rubor), bengkak (tumor), nyeri (dolor), panas (kalor), atau keluarnya pus (functio laesa). Urine tetap jernih, tidak keruh, dan tidak berbau busuk. Pasien atau keluarga dapat mendemonstrasikan perawatan luka dan kateter dengan benar, memahami tanda-tanda infeksi, dan melaporkan secara dini jika ada keluhan yang mencurigakan. Hasil laboratorium (seperti leukosit) berada dalam batas normal, menunjukkan tidak adanya respons sistemik terhadap infeksi.
Kondisi: Hipospadia
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: L.03007
Deskripsi : Tindakan keperawatan untuk mengelola nyeri pasca operasi pada pasien hipospadia. Intervensi dimulai dengan penilaian nyeri yang komprehensif menggunakan skala yang sesuai usia (seperti FLACC untuk bayi/anak) untuk menentukan lokasi, intensitas, karakter, dan faktor pemicu atau pereda nyeri. Manajemen nyeri meliputi pemberian analgesik farmakologis sesuai resep (seperti parasetamol atau obat antiinflamasi nonsteroid) dengan mempertimbangkan waktu puncak obat dan sebelum prosedur yang menimbulkan nyeri (seperti perawatan luka). Intervensi non-farmakologis juga sangat penting, seperti teknik distraksi (misalnya, bermain, menonton video), terapi sentuhan, posisi yang nyaman yang tidak menekan area operasi, dan memberikan kenyamanan lingkungan (suasana tenang, redup cahaya). Edukasi kepada orang tua tentang cara menilai nyeri pada anak, pentingnya pemberian obat nyeri secara teratur pada awal masa pasca operasi, dan teknik non-farmakologis yang dapat dilakukan di rumah. Dokumentasi respons terhadap intervensi nyeri dilakukan secara berkala untuk mengevaluasi efektivitas penatalaksanaan.
Kode SIKI: I.01204
Deskripsi : Kriteria hasil yang diharapkan adalah nyeri pasien terkontrol atau hilang. Hal ini ditandai dengan skor nyeri yang dilaporkan atau diamati berada dalam rentang yang dapat diterima (misalnya, 0-3 pada skala 0-10 atau skala FLACC 0-3). Ekspresi wajah pasien tampak rileks, tidak menangis atau mengerang kesakitan. Pasien dapat beristirahat dan tidur dengan cukup. Perilaku seperti gelisah, rewel, atau menolak untuk bergerak berkurang atau tidak ada. Pasien atau keluarga dapat menyebutkan metode yang efektif untuk mengurangi nyeri dan melaporkan bahwa nyeri tidak mengganggu aktivitas istirahat atau bermain. Tanda-tanda vital yang terkait dengan nyeri (seperti peningkatan denyut jantung dan tekanan darah) kembali normal.
Kondisi: Hipospadia
Kode SDKI: D.0185Deskripsi Singkat: Risiko Kerusakan Integritas Kulit
Kode SLKI: L.09020
Deskripsi : Tindakan keperawatan untuk melindungi integritas kulit di area genital dan sekitarnya pasca operasi hipospadia. Risiko kerusakan kulit dapat berasal dari paparan urine (inkontinensia atau kebocoran), gesekan dari pakaian atau popok, serta kelembaban berlebih. Intervensi keperawatan meliputi inspeksi kulit secara teratur di sekitar luka operasi dan area yang terkena balutan atau kateter untuk mendeteksi dini tanda iritasi, ruam, atau lecet. Menjaga area tetap bersih dan kering merupakan prioritas, dengan mengganti popok segera setelah basah atau terkontaminasi feces. Penggunaan barrier cream atau salep pelindung yang diresepkan dapat melindungi kulit dari iritan seperti urine. Memastikan balutan luka tetap kering dan aman, serta memposisikan pasien untuk menghindari tekanan langsung pada area operasi. Edukasi kepada orang tua tentang teknik mengganti popok yang aman (dengan menghindari mengangkat kedua kaki secara bersamaan untuk mengurangi tekanan pada jahitan), pentingnya frekuensi penggantian popok yang sering, dan cara mengamati kulit untuk tanda-tanda masalah. Kolaborasi dalam pemilihan jenis kateter dan balutan yang sesuai juga penting untuk meminimalkan trauma kulit.
Kode SIKI: I.04003
Deskripsi : Kriteria hasil yang diharapkan adalah integritas kulit tetap terjaga. Kulit di sekitar area operasi dan tempat pemasangan kateter/balutan tetap utuh, tanpa adanya kemerahan, lecet, ruam, atau tanda kerusakan lainnya. Luka operasi menunjukkan penyembuhan primer tanpa komplikasi. Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda ketidaknyamanan yang berhubungan dengan kondisi kulit. Orang tua atau pengasuh mendemonstrasikan kemampuan dalam merawat kulit dan mengganti popok dengan teknik yang benar, serta memahami tanda-tanda kerusakan kulit yang perlu dilaporkan.
-
Article No. 23543 | 09 Jan 2026
Klinis : 3 diagnosa hipospadia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipospadia
Kode SDKI: D.0015
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: L.03107
Deskripsi : Tindakan Keperawatan: Pencegahan Infeksi
Kode SIKI: I.01244
Deskripsi : Kriteria Hasil: Tidak ada tanda dan gejala infeksi (rubor, kalor, dolor, tumor, fungsiolesa).
Kondisi: Hipospadia
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: L.03043
Deskripsi : Tindakan Keperawatan: Manajemen Nyeri
Kode SIKI: I.01208
Deskripsi : Kriteria Hasil: Tingkat nyeri terkontrol (skala nyeri 0-4 atau sesuai target yang ditetapkan).
Kondisi: Hipospadia
Kode SDKI: D.0181
Deskripsi Singkat: Risiko Gangguan Eliminasi Urine
Kode SLKI: L.03023
Deskripsi : Tindakan Keperawatan: Manajemen Eliminasi Urine
Kode SIKI: I.01156
Deskripsi : Kriteria Hasil: Pola eliminasi urine normal (jumlah, warna, frekuensi, bau).
-
Article No. 23544 | 09 Jan 2026
Klinis : 3 diagnosa hipospadia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pasien dengan Hipospadia
Kode SDKI: D.0134
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : Tindakan Keperawatan untuk Mencegah Infeksi. Intervensi keperawatan ini bertujuan untuk meminimalkan risiko masuk dan penyebaran agen infeksius pada pasien yang rentan, seperti pasien pasca operasi hipospadia. Fokus utamanya adalah menciptakan dan mempertahankan lingkungan aseptik selama perawatan luka dan kateter. Perawat akan melakukan cuci tangan secara ketat sebelum dan setelah kontak dengan pasien atau area perawatan. Perawatan luka operasi dilakukan dengan teknik steril, termasuk pembersihan dengan larutan antiseptik yang sesuai dan penutupan dengan balutan steril yang kering. Perawatan kateter urine (jika terpasang) dilakukan dengan sistem tertutup, memastikan tidak ada kebocoran, dan menjaga kantong drainase berada di bawah level kandung kemih untuk mencegah reflux. Perawat memantau tanda-tanda infeksi lokal (seperti kemerahan, bengkak, nyeri, nanah) dan sistemik (demam, malaise) secara berkala. Edukasi diberikan kepada keluarga/pasien tentang pentingnya menjaga kebersihan area genital, cara merawat luka dan kateter di rumah (jika diperbolehkan), serta tanda-tanda infeksi yang harus segera dilaporkan. Pemantauan hasil laboratorium seperti leukosit juga dilakukan. Semua tindakan ini didokumentasikan dengan baik untuk memastikan kontinuitas perawatan.
Kode SIKI: I.15001
Deskripsi : Monitor Tanda dan Gejala Infeksi. Kriteria hasil ini mengukur keberhasilan intervensi pencegahan infeksi. Pasien diharapkan menunjukkan tidak adanya tanda-tanda infeksi selama masa perawatan. Kriteria spesifik meliputi: suhu tubuh dalam rentang normal (afebris), tidak ada kemerahan (eritema), bengkak (edema), rasa hangat, atau nyeri tekan yang berlebihan di area luka operasi atau muara kateter. Drainase dari luka bersifat serosa (jernih) dan tidak purulen (nanah). Tidak ada bau tidak sedap dari luka atau urine. Jumlah leukosit dalam darah berada dalam batas normal. Pasien atau keluarga dapat menyebutkan tanda-tanda infeksi yang perlu diwaspadai dan memahami langkah-langkah pencegahan yang harus dilakukan di rumah. Kateter urine berfungsi dengan baik, aliran urine lancar, dan sistem drainase tetap tertutup tanpa kontaminasi.
Kondisi: Pasien dengan Hipospadia
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: L.03009
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi ini ditujukan untuk mengurangi dan mengontrol nyeri pasca operasi yang dialami pasien hipospadia. Nyeri dapat berasal dari insisi bedah, spasme kandung kemih akibat kateter, atau ketegangan pada jahitan. Perawat melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif menggunakan skala yang sesuai dengan usia pasien (misalnya, FLACC untuk anak, Numeric Rating Scale untuk dewasa), meliputi lokasi, intensitas, karakter, durasi, dan faktor pemicu serta pereda. Intervensi non-farmakologis diterapkan, seperti teknik distraksi (bermain, menonton), relaksasi, dan posisi nyaman yang tidak menekan area operasi. Kolaborasi dengan dokter dilakukan untuk pemberian analgesik farmakologis sesuai resep (seperti parasetamol atau obat antiinflamasi nonsteroid), dengan mempertimbangkan rute pemberian dan jadwal yang tepat untuk mempertahankan kenyamanan. Perawat juga mengelola faktor penyebab nyeri, misalnya dengan memastikan kateter tidak tertarik atau tertekuk sehingga tidak menimbulkan spasme. Edukasi diberikan kepada pasien/keluarga tentang pentingnya melaporkan nyeri, cara menggunakan skala nyeri, dan metode non-farmakologis yang dapat dilakukan secara mandiri. Evaluasi efektivitas intervensi nyeri dilakukan secara berkala setelah pemberian tindakan.
Kode SIKI: I.03002
Deskripsi : Tingkat Nyeri Terkontrol. Kriteria hasil ini mengevaluasi keberhasilan manajemen nyeri. Pasien diharapkan melaporkan atau menunjukkan penurunan skala nyeri ke tingkat yang dapat ditoleransi (biasanya skala ≤3 dari 10). Perilaku yang mengindikasikan nyeri (seperti menangis, gelisah, melindungi area tubuh) berkurang atau hilang. Pasien dapat beristirahat dengan tenang, tidur dengan nyenyak, dan berpartisipasi dalam aktivitas perawatan diri yang sesuai. Ekspresi wajah pasien tampak rileks, tidak mengerut kesakitan. Pasien atau keluarga mampu mendemonstrasikan teknik non-farmakologis untuk mengatasi nyeri dan memahami regimen pengobatan nyeri yang diresepkan.
Kondisi: Pasien dengan Hipospadia
Kode SDKI: D.0186
Deskripsi Singkat: Risiko Gangguan Eliminasi Urine
Kode SLKI: L.04011
Deskripsi : Manajemen Kateter Urine. Intervensi ini fokus pada pemasangan, perawatan, dan monitoring kateter urine yang sering kali dipasang pasca operasi hipospadia untuk melindungi anastomosis (penyambungan) uretra dan memastikan penyembuhan. Perawat memastikan pemasangan kateter dilakukan dengan teknik steril untuk mencegah infeksi. Kateter difiksasi dengan baik pada paha atau perut untuk mencegah traksi (tarikan) yang dapat menyebabkan trauma pada uretra yang baru diperbaiki. Sistem drainase dijaga tetap tertutup dan kantong urine ditempatkan di bawah level kandung kemih. Perawat memantau haluaran urine (output) setiap jam atau sesuai protokol, mencatat warna, kejernihan, dan jumlahnya. Aliran urine harus lancar; jika terhambat, perawat melakukan tindakan seperti memeriksa posisi selang atau melakukan irrigasi ringan sesuai instruksi dokter. Area meatus (lubang kencing) dibersihkan secara rutin dengan antiseptik untuk mencegah infeksi. Perawat juga memberikan edukasi kepada keluarga tentang pentingnya tidak menarik kateter, menjaga sistem tertutup, dan mengenali tanda-tanda masalah seperti urine keruh, berdarah, atau tidak ada output. Persiapan untuk pencabutan kateter juga dilakukan, termasuk melatih pasien untuk berkemih kembali secara normal.
Kode SIKI: I.04005
Deskripsi : Eliminasi Urine Adekuat. Kriteria hasil ini menunjukkan bahwa fungsi eliminasi urine pasien terjaga dengan baik selama dan setelah pemasangan kateter. Output urine dalam 24 jam sesuai dengan intake cairan dan usia pasien (misalnya, 1-2 ml/kgBB/jam pada anak). Urine jernih, kuning muda, tanpa sedimen atau darah yang signifikan. Tidak ada distensi kandung kemih setelah kateter dicabut, dan pasien mampu berkemih spontan dengan aliran yang baik, lurus (mengindikasikan perbaikan hipospadia yang berhasil), dan tanpa retensi urine. Tidak ada kebocoran urine dari area operasi. Pasien tidak mengalami disuria (nyeri saat berkemih) yang berat setelah kateter dilepas. Keluarga memahami tujuan pemasangan kateter dan perawatan dasar yang diperlukan.
-
Article No. 23545 | 09 Jan 2026
Klinis : 3 diagnosa hipospadia
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Hipospadia
Kode ICD-10: Q54
Deskripsi Singkat : Hipospadia adalah kelainan bawaan lahir (kongenital) pada laki-laki di mana letak lubang uretra (meatus uretra eksterna) tidak berada di ujung penis, melainkan berada di bagian bawah batang penis, di bawah kepala penis (glans), atau di daerah perineum (skrotum). Kondisi ini terjadi akibat kegagalan proses penutupan alur uretra selama perkembangan janin di dalam rahim. Kode ICD-10 Q54 mencakup berbagai jenis dan derajat keparahan hipospadia, termasuk hipospadia kelenjar (paling ringan, lubang di dekat ujung kepala penis), hipospadia penis (lubang di sepanjang batang penis), hipospadia penoskrotal (lubang di pertemuan penis dan skrotum), dan hipospadia perineal (paling berat, lubang di belakang skrotum). Kondisi ini sering kali disertai dengan kelainan lain seperti kelengkungan penis ke bawah (chordee) dan kulup yang tidak lengkap menutupi bagian atas kepala penis (dorsal hood). Penanganan utama adalah dengan pembedahan rekonstruktif untuk memperbaiki posisi lubang uretra dan meluruskan penis, biasanya dilakukan pada usia anak-anak. Kode Q54 digunakan untuk mencatat diagnosis ini dalam sistem rekam medis, yang penting untuk perencanaan perawatan, statistik kesehatan, dan asuransi.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23546 | 09 Jan 2026
Klinis : 3 diagnosa hipospadia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pasien dengan Hipospadia
Kode SDKI: D.0068
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: L.03135
Deskripsi : Tindakan Keperawatan: Pencegahan Infeksi. Intervensi ini mencakup upaya sistematis untuk meminimalkan risiko terjadinya infeksi pada pasien. Pada konteks hipospadia, terutama pada periode pra dan pasca operasi, fokus utama adalah pada perawatan luka dan pemeliharaan integritas kulit serta mukosa. Perawat akan memastikan teknik aseptik ketat selama perawatan luka operasi di daerah genital. Edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya menjaga kebersihan area operasi, cara memandikan yang aman, dan tanda-tanda infeksi seperti kemerahan, bengkak, nyeri, demam, atau nanah menjadi bagian krusial. Pemantauan tanda-tanda vital secara berkala untuk mendeteksi demam sebagai indikasi sistemik infeksi juga dilakukan. Selain itu, perawat akan mengelola terapi antibiotik sesuai resep dokter, memastikan dosis dan waktu pemberian tepat untuk mencapai kadar terapeutik yang optimal dalam pencegahan infeksi. Penggunaan kateter urine (jika dipasang) memerlukan perawatan ekstra untuk mencegah infeksi saluran kemih, termasuk menjaga sistem drainase tertutup dan mengganti kantong drainase dengan teknik steril.
Kode SIKI: I.01229
Deskripsi : Kriteria Hasil: Pencegahan Infeksi. Kriteria ini mengukur keberhasilan intervensi pencegahan infeksi. Hasil yang diharapkan adalah pasien bebas dari tanda dan gejala infeksi lokal maupun sistemik selama masa perawatan. Secara spesifik, luka operasi menunjukkan proses penyembuhan yang normal tanpa tanda inflamasi seperti kemerahan (rubor), panas (kalor), bengkak (tumor), nyeri (dolor), dan gangguan fungsi (functio laesa). Tanda-tanda vital pasien berada dalam rentang normal, khususnya suhu tubuh. Hasil pemeriksaan laboratorium seperti hitung leukosit dan kultur urine (jika dilakukan) tetap dalam batas normal, menunjukkan tidak adanya proses infeksi. Pasien dan keluarga juga mampu mendemonstrasikan dan menjelaskan kembali teknik perawatan luka dan kebersihan diri yang telah diajarkan, menunjukkan pemahaman dan kemandirian dalam mencegah infeksi. Tidak adanya komplikasi infeksi pasca operasi merupakan indikator utama keberhasilan dari intervensi keperawatan ini.
Kondisi: Pasien dengan Hipospadia
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: L.03003
Deskripsi : Tindakan Keperawatan: Manajemen Nyeri. Intervensi ini ditujukan untuk mengurangi dan mengontrol pengalaman nyeri yang dialami pasien. Nyeri pada pasien hipospadia pasca operasi bersifat multifaktor, berasal dari insisi bedah, spasme otot, adanya kateter, atau pembalutan luka. Perawat melakukan pengkajian nyeri komprehensif menggunakan skala yang sesuai usia (misalnya, Wong-Baker FACES, Numeric Rating Scale) untuk menentukan lokasi, karakteristik, intensitas, dan faktor pencetus serta pereda nyeri. Manajemen farmakologis dilakukan dengan pemberian analgesik sesuai resep, baik secara rutin maupun sesuai kebutuhan, dengan mempertimbangkan waktu puncak kerja obat dan sebelum aktivitas yang memicu nyeri seperti penggantian balutan. Selain itu, intervensi non-farmakologis sangat penting, seperti teknik distraksi (bermain, menonton), relaksasi, reposisi tubuh yang nyaman (misalnya, menghindari tekanan langsung pada area operasi), dan terapi lingkungan yang tenang. Edukasi kepada pasien dan orang tua tentang pentingnya melaporkan nyeri secara dini dan tidak menahannya juga merupakan bagian dari intervensi untuk meningkatkan kerjasama dan efektivitas penatalaksanaan nyeri.
Kode SIKI: I.09004
Deskripsi : Kriteria Hasil: Tingkat Kenyamanan: Nyeri. Kriteria hasil ini mengevaluasi keberhasilan manajemen nyeri. Hasil yang diharapkan adalah penurunan skala nyeri yang dilaporkan pasien hingga ke tingkat yang dapat ditoleransi atau bahkan hilang sama sekali. Pasien menunjukkan perilaku dan tanda fisiologis yang sesuai, seperti tidak menangis, tidak gelisah, ekspresi wajah rileks, mampu beristirahat dan tidur dengan cukup, serta nafsu makan tetap terjaga. Tanda-tanda vital yang berhubungan dengan nyeri (seperti peningkatan denyut nadi dan tekanan darah) kembali ke baseline pasien. Pasien atau keluarga mampu mendemonstrasikan teknik non-farmakologis yang diajarkan untuk mengatasi nyeri. Laporan verbal dari pasien (atau orang tua untuk pasien anak) mengonfirmasi bahwa nyeri dapat dikelola dengan baik dan tidak mengganggu aktivitas istirahat atau aktivitas ringan yang diizinkan.
Kondisi: Pasien dengan Hipospadia
Kode SDKI: D.0185
Deskripsi Singkat: Risiko Kerusakan Integritas Kulit
Kode SLKI: L.03112
Deskripsi : Tindakan Keperawatan: Perawatan Luka. Intervensi ini berfokus pada pemeliharaan integritas kulit dan mempercepat penyembuhan luka operasi di daerah genital. Perawat melakukan pengkajian luka secara teratur, mencatat karakteristik luka (warna jaringan granulasi, adanya eksudat, bau, dan keadaan sekitarnya), serta memantau tanda-tanda penyembuhan atau komplikasi. Perawatan luka dilakukan dengan teknik aseptik, menggunakan larutan dan balutan yang sesuai dengan kondisi luka dan instruksi dokter. Perlindungan luka dari trauma lebih lanjut atau kontaminasi feces dan urine adalah prioritas, mungkin dengan menggunakan teknik pembalutan khusus atau pelindung. Perawat juga mengajarkan dan memastikan bahwa pasien dan keluarga memahami cara merawat luka di rumah, termasuk frekuensi penggantian balutan, tanda-tanda infeksi yang harus diwaspadai, dan pentingnya menjaga area tersebut tetap kering dan bersih. Nutrisi yang adekuat untuk penyembuhan luka, seperti asupan protein dan vitamin C yang cukup, juga menjadi bagian dari edukasi yang diberikan.
Kode SIKI: I.09024
Deskripsi : Kriteria Hasil: Penyembuhan Luka: Tahap Pertama. Kriteria ini mengukur kemajuan proses penyembuhan luka. Hasil yang diharapkan adalah luka menunjukkan progres penyembuhan yang optimal tanpa komplikasi. Secara spesifik, luka operasi menunjukkan pembentukan jaringan granulasi yang sehat (berwarna merah muda), pengisian defek luka secara bertahap, serta berkurangnya ukuran luka. Eksudat yang muncul minimal, serous (jernih), dan tidak berbau. Kulit di sekitar luka utuh, tidak menunjukkan tanda-tanda iritasi, maserasi, atau alergi terhadap balutan. Tidak terjadi perdarahan aktif atau hematoma. Pasien dan keluarga melaporkan tidak adanya nyeri yang signifikan pada area luka dan mampu melakukan perawatan luka mandiri dengan teknik yang benar sesuai yang telah diajarkan, menunjukkan kemandirian dalam memantau dan menjaga integritas kulit selama masa penyembuhan.
-
Article No. 23547 | 09 Jan 2026
Klinis : 3 diagnosa hisprung
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Hirschsprung Disease (Penyakit Hirschsprung)
Kode ICD-10: Q43.1
Deskripsi Singkat : Penyakit Hirschsprung (Hirschsprung Disease/HD) adalah kelainan bawaan (kongenital) yang ditandai dengan tidak adanya sel ganglion parasimpatis (aganglionosis) pada pleksus mienterikus (Auerbach) dan pleksus submukosa (Meissner) di dinding usus besar (kolon). Bagian usus yang terkena ini kehilangan kemampuan untuk melakukan peristaltik (gerakan mendorong tinja), sehingga menyebabkan obstruksi fungsional. Gejala biasanya muncul sejak masa neonatus, dengan tanda utama berupa keterlambatan pengeluaran mekonium lebih dari 48 jam setelah lahir, muntah, distensi abdomen, dan pada anak yang lebih besar dapat berupa konstipasi kronis yang berat dan gagal tumbuh. Diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan kontras enema, manometri anorektal, dan biopsi hisap atau biopsi full-thickness rektum yang menunjukkan tidak adanya sel ganglion. Penatalaksanaan definitif adalah pembedahan untuk mengangkat segmen usus yang aganglionik dan melakukan anastomosis (prosedur pull-through). Kode ICD-10 Q43.1 dikategorikan di bawah 'Malformasi kongenital lainnya pada sistem pencernaan' dan secara spesifik mencakup penyakit Hirschsprung serta megakolon kongenital (aganglionik).
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23548 | 09 Jan 2026
Klinis : 3 diagnosa hisprung
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Eliminasi Feses (Konstipasi) pada Penyakit Hirschsprung
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Keadaan ketidakmampuan atau kesulitan mengeluarkan feses dari rektum.
Kode SLKI: L.08102
Deskripsi : Pasien menunjukkan eliminasi feses yang adekuat. Indikator: 1) Frekuensi defekasi dalam rentang normal untuk usia dan pola individu. 2) Feses lunak, terbentuk, dan mudah dikeluarkan. 3) Tidak ada nyeri atau ketidaknyamanan saat defekasi. 4) Tidak ada distensi abdomen. 5) Tidak ada retensi feses atau impaksi. 6) Bunyi usus dalam rentang normal. 7) Nafsu makan baik. Pada penyakit Hirschsprung, tujuan SLKI ini adalah hasil yang diharapkan setelah intervensi keperawatan dan medis (seperti irrigasi rektal, diet, atau pasca-operasi pull-through). Perawat berupaya agar pasien mencapai kriteria ini meskipun memiliki kondisi dasar, dengan memfokuskan pada manajemen konstipasi dan pencegahan komplikasi seperti enterokolitis. Pencapaian SLKI dinilai melalui pemantauan frekuensi BAB, konsistensi feses, gejala distensi, dan kesejahteraan umum pasien.
Kode SIKI: I.08095
Deskripsi : Manajemen Konstipasi. Intervensi: 1) Kaji pola eliminasi feses sebelumnya dan saat ini (frekuensi, konsistensi, warna, jumlah). 2) Auskultasi bising usus. 3) Palpasi distensi abdomen dan adanya massa feses. 4) Lakukan irrigasi rektal sesuai program/instruksi dokter untuk mengeluarkan feses yang tertahan di segmen aganglionik. 5) Ajarkan dan bantu keluarga dalam melakukan irrigasi rektal jika akan dilakukan perawatan di rumah. 6) Anjurkan peningkatan asupan cairan dan serat sesuai toleransi dan usia (pada segmen ganglionik). 7) Kolaborasi pemberian laksatif atau pelunak feses sesuai resep. 8) Monitor tanda-tanda enterokolitis Hirschsprung (demam mendadak, distensi abdomen berat, muntah bilier, diare berbau busuk, letargi, syok). 9) Ajarkan keluarga mengenali tanda bahaya dan kapan harus segera mencari pertolongan. Intervensi ini krusial karena konstipasi pada Hirschsprung bersifat obstruktif dan mekanis, sehingga memerlukan pendekatan khusus seperti irrigasi untuk membersihkan kolon bagian distal yang tidak memiliki gerakan peristaltik, sambil menunggu tindakan operasi definitif.
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan pada Pasien Hirschsprung Pra dan Pasca Operasi
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Risiko mengalami penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular.
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : Keseimbangan volume cairan tercapai. Indikator: 1) Tanda vital dalam rentang normal untuk usia. 2) Tekanan nadi stabil. 3) Nadi perifer dapat diraba dengan kekuatan normal. 4) Membran mukosa lembab. 5) Pengisian kapiler kurang dari 3 detik. 6) Produksi urin adekuat sesuai berat badan/usia. 7) Berat badan stabil. 8) Tidak ada edema. 9) Tidak ada tanda dehidrasi atau overhidrasi. Pada konteks Hirschsprung, risiko ketidakseimbangan cairan sangat tinggi akibat muntah berulang, distensi abdomen yang mengganggu intake, persiapan bowel cleansing pra-operasi, dan periode pasca-operasi pull-through dimana pasien dipuasakan dan mendapat terapi cairan intravena. SLKI ini menjadi tujuan utama untuk mencegah komplikasi seperti syok hipovolemik atau overload cairan. Pemantauan ketat intake-output, berat badan harian, dan tanda-tanda klinis dehidrasi adalah kunci evaluasi.
Kode SIKI: I.08029
Deskripsi : Manajemen Keseimbangan Cairan. Intervensi: 1) Monitor tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan) secara teratur. 2) Kaji status hidrasi (turgor kulit, mata cekung, membran mukosa, ubun-ubun pada bayi). 3) Ukur berat badan setiap hari dengan timbangan yang sama dan kondisi yang sama. 4) Catat intake dan output cairan secara akurat (termasuk cairan IV, minum, output urin, drainase luka, output dari irrigasi rektal). 5) Lakukan perawatan kolostomi atau ileostomi jika ada, pantau jumlah dan karakter output. 6) Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai resep dan evaluasi respons. 7) Kaji elektrolit serum sesuai kolaborasi. 8) Anjurkan dan bantu pemberian cairan per oral secara bertahap ketika sudah diizinkan pasca-operasi. 9) Monitor edema atau tanda kelebihan cairan. Intervensi ini bersifat preventif dan suportif, sangat vital selama fase akut enterokolitis dan fase perioperatif untuk mempertahankan homeostasis cairan dan elektrolit pasien.
Kondisi: Ansietas Orang Tua/ Keluarga terkait Kondisi Penyakit dan Penanganan Hirschsprung pada Anak
Kode SDKI: D.0052
Deskripsi Singkat: Perasaan gelisah, gugup, atau khawatir yang dialami orang tua/keluarga akibat kondisi kesehatan anak.
Kode SLKI: L.14008
Deskripsi : Ansietas orang tua/keluarga teratasi. Indikator: 1) Orang tua/keluarga mengungkapkan penurunan perasaan cemas. 2) Menunjukkan perilaku yang tenang. 3) Ekspresi wajah rileks. 4) Dapat beristirahat dengan cukup. 5) Mengajukan pertanyaan yang relevan tentang kondisi dan perawatan anak. 6) Melakukan peran perawatan pada anak dengan lebih percaya diri. 7) Menunjukkan pemahaman tentang informasi yang diberikan oleh tenaga kesehatan. Menerima diagnosis Hirschsprung yang memerlukan tindakan operasi besar dan perawatan jangka panjang merupakan beban psikologis berat bagi keluarga. SLKI ini bertujuan agar keluarga dapat beradaptasi, memahami situasi, dan berpartisipasi aktif dalam perawatan, yang pada akhirnya juga mendukung kenyamanan dan pemulihan anak. Keberhasilan intervensi edukasi dan dukungan emosional akan terlihat dari keterlibatan keluarga yang konstruktif.
Kode SIKI: I.14034
Deskripsi : Pengurangan Ansietas. Intervensi: 1) Kaji tingkat ansietas, kekhawatiran, dan pengetahuan orang tua tentang penyakit Hirschsprung, prosedur operasi, dan perawatan pasca-operasi. 2) Dengarkan dengan penuh perhatian ungkapan perasaan dan kekhawatiran orang tua. 3) Berikan informasi yang jelas, jujur, dan sesuai kebutuhan tentang kondisi anak, tujuan irrigasi rektal, prosedur operasi pull-through, dan perawatan pasca-operasi. 4) Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan pada anak sebelum pelaksanaannya. 5) Libatkan orang tua dalam perawatan anak sesuai kemampuan (misalnya, menenangkan anak, membantu pemberian minum, belajar melakukan irrigasi). 6) Berikan pujian atas upaya dan peran orang tua dalam merawat anak. 7) Kenalkan pada keluarga lain yang memiliki pengalaman serupa (jika memungkinkan). 8) Kolaborasi dengan tim dokter untuk memberikan penjelasan konsisten. 9) Rujuk ke konselor atau pekerja sosial jika ansietas sangat berat. Intervensi ini memandang keluarga sebagai unit pasien yang juga membutuhkan asuhan keperawatan. Dengan mengurangi ansietas, keluarga dapat menjadi sumber dukungan yang lebih efektif bagi anak.