Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 20576 | 09 Aug 2025
Klinis : bengkak pada mata kanan pasien
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai seorang perawat, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk menangani kondisi bengkak pada mata kanan pasien.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi bengkak pada mata kanan pasien adalah "Gangguan Integritas Kulit". Diagnosa ini dipilih karena bengkak pada mata merupakan perubahan struktur dan fungsi kulit yang dapat mengganggu integritas kulit. Gangguan Integritas Kulit didefinisikan sebagai kerusakan atau ketidakmampuan membentuk lapisan pelindung normal kulit.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Pemulihan Integritas Kulit: Pasien akan menunjukkan tanda-tanda pemulihan integritas kulit, seperti berkurangnya bengkak pada mata kanan, kulit kembali lembab dan elastis, serta tidak ada tanda-tanda infeksi.
2. Tingkat Kenyamanan: Pasien akan melaporkan tingkat kenyamanan yang meningkat, seperti berkurangnya rasa nyeri, gatal, atau ketidaknyamanan lainnya pada mata kanan.
3. Pengetahuan Perawatan Diri: Pasien akan menunjukkan peningkatan pengetahuan tentang perawatan diri yang sesuai untuk mengatasi bengkak pada mata, seperti penggunaan kompres dingin, penggunaan obat tetes mata, dan pencegahan infeksi.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Pengkajian Komprehensif: Melakukan pengkajian menyeluruh terhadap kondisi mata kanan pasien, termasuk riwayat, tanda-tanda vital, dan pemeriksaan fisik.
2. Manajemen Perawatan Kulit: Melakukan tindakan perawatan kulit yang sesuai, seperti membersihkan mata dengan lembut, menerapkan kompres dingin, dan mengaplikasikan obat tetes mata sesuai dengan instruksi dokter.
3. Edukasi dan Konseling: Memberikan edukasi dan konseling kepada pasien dan keluarga mengenai penyebab, pencegahan, dan perawatan bengkak pada mata, serta pentingnya mematuhi regimen pengobatan.
4. Kolaborasi dengan Tenaga Kesehatan Lain: Berkolaborasi dengan dokter mata atau spesialis lainnya untuk memastikan pengobatan yang tepat dan monitoring perkembangan kondisi pasien.
5. Evaluasi dan Tindak Lanjut: Melakukan evaluasi secara berkala terhadap perkembangan kondisi pasien dan melakukan tindak lanjut yang diperlukan untuk mencapai luaran yang diharapkan.
Dengan penerapan intervensi keperawatan yang komprehensif dan kolaboratif, diharapkan dapat membantu pasien mencapai pemulihan integritas kulit, tingkat kenyamanan yang meningkat, serta peningkatan pengetahuan perawatan diri yang sesuai untuk mengatasi bengkak pada mata kanan. -
Article No. 20577 | 09 Aug 2025
Klinis : bengkak pada mata kanan pasien
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berikut adalah **Diagnosa Keperawatan** beserta penjelasan singkat **SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia)** sesuai dengan kondisi **bengkak pada mata kanan** berdasarkan standar **Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)** dengan tone akademis dan persona pakar keperawatan:
---
### **Diagnosa Keperawatan**
**Kode DX.1.3** – **Gangguan Integritas Jaringan pada Mata Kanan** *(berkaitan dengan edema/peradangan)*
#### **Penjelasan SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia)**
- **Definisi**: Gangguan pada struktur atau fungsi jaringan mata yang mengakibatkan pembengkakan, kemerahan, atau nyeri.
- **Faktor Etiologi**: Trauma, infeksi (konjungtivitis, hordeolum), alergi, atau gangguan sistemik (mis. gangguan ginjal).
- **Karakteristik Mayor**: Edema periorbital, eritema, nyeri tekan, gangguan penglihatan (jika berat).
---
### **Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)**
**Kode LO.1.3.1** – **Penyembuhan Luka/Integritas Jaringan**
- **Kriteria Evaluasi**:
- **LO.1.3.1.1**: Penurunan edema dalam 24–48 jam.
- **LO.1.3.1.2**: Tidak ada tanda infeksi (pus, demam).
- **LO.1.3.1.3**: Pasien melaporkan nyeri berkurang (skala ?3 dari 10).
---
### **Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)**
**Kode I.1.3.1** – **Manajemen Edema**
- **Intervensi Utama**:
1. **Kompres dingin** (jika trauma/akut) atau **hangat** (jika infeksi/hordeolum).
2. **Pemantauan tanda inflamasi** (eritema, suhu lokal, nyeri).
3. **Kolaborasi pemberian obat** (antibiotik topikal jika infeksi, antihistamin jika alergi).
4. **Edukasi pasien** untuk menghindari menggosok mata dan menjaga higienitas.
**Kode I.1.1.2** – **Manajemen Nyeri** *(jika nyeri signifikan)*
- **Intervensi**:
- Pemberian analgesik sesuai resep (parasetamol/NSAID).
- Teknik relaksasi untuk mengurangi ketidaknyamanan.
---
### **Catatan Akademis**
1. **Diagnosa harus spesifik**: Bedakan antara edema akibat trauma, infeksi, atau alergi melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik.
2. **SLKI harus terukur**: Misal, "Edema berkurang 50% dalam 24 jam" agar evaluasi objektif.
3. **SIKI berbasis bukti**: Kompres hangat efektif untuk hordeolum, sedangkan kompres dingin untuk trauma.
Semoga penjelasan ini memenuhi kebutuhan klinis dan akademis Anda. Jika diperlukan penyesuaian lebih lanjut, silakan berikan data tambahan.
*(Sumber: Buku SDKI-SLKI-SIKI Edisi Terkini PPNI, 2023)*
---
**Format RTF** dapat disesuaikan dengan kebutuhan dokumen klinis/resep elektronik. -
Article No. 20578 | 09 Aug 2025
Klinis : Mata kanan nyeri dan bengkak sejak 5 hari yll, semakin lama semakin besar. Lodokan (+) sempat keluar pus (+) Awalnya tampak seperti timbilan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, yaitu mata kanan nyeri dan bengkak sejak 5 hari yang lalu, semakin lama semakin besar, dengan lodokan (+) dan sempat keluar pus (+), awalnya tampak seperti timbilan, maka dapat ditetapkan diagnosa keperawatan sebagai berikut:
1. Diagnosa Keperawatan (SDKI):
Kode: 10051
Judul: Risiko Infeksi
Definisi: Kerentanan terhadap invasi dan multiplikasi organisme patogen, yang dapat membahayakan kesehatan.
2. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI):
Kode: 10051.1
Judul: Pencegahan Infeksi
Definisi: Kemampuan individu/keluarga/komunitas untuk mencegah terjadinya infeksi.
3. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI):
Kode: 10051.1.1
Judul: Manajemen Infeksi
Definisi: Serangkaian tindakan keperawatan untuk mencegah dan mengendalikan infeksi.
Penjelasan singkat:
Diagnosa Keperawatan "Risiko Infeksi" ditegakkan karena adanya tanda-tanda infeksi pada mata kanan, seperti nyeri, bengkak, lodokan, dan keluarnya pus. Hal ini menunjukkan adanya risiko terjadinya infeksi yang dapat membahayakan kesehatan pasien.
Untuk mengatasi masalah ini, intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah Manajemen Infeksi, yang meliputi tindakan-tindakan untuk mencegah dan mengendalikan infeksi, seperti pemberian antibiotik, perawatan luka, dan pemantauan tanda-tanda infeksi.
Diharapkan dengan penerapan intervensi keperawatan yang tepat, dapat meningkatkan kemampuan pasien/keluarga/komunitas dalam mencegah terjadinya infeksi, sehingga dapat mencapai luaran yang diharapkan. -
Article No. 20579 | 09 Aug 2025
Klinis : Mata kanan nyeri dan bengkak sejak 5 hari yll, semakin lama semakin besar. Lodokan (+) sempat keluar pus (+) Awalnya tampak seperti timbilan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: **Diagnosa Keperawatan dan Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI**
**Kondisi Klien**:
Mata kanan nyeri dan bengkak sejak 5 hari yang lalu, semakin membesar, lodokan (+), keluar pus (+), awalnya tampak seperti timbilan (hordeolum).
### **1. Diagnosa Keperawatan (SDKI)**
**Kode**: 0016 – **Nyeri Akut**
**Definisi**: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi secara tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat.
**Faktor yang Berhubungan**:
- Proses inflamasi pada mata (hordeolum/abses).
- Adanya pus (nanah) dan pembengkakan.
**Kode**: 0003 – **Risiko Infeksi**
**Definisi**: Peningkatan kerentanan terhadap invasi patogen, yang dapat membahayakan kesehatan.
**Faktor yang Berhubungan**:
- Adanya pus dan lodokan (+) menunjukkan infeksi bakteri (biasanya *Staphylococcus aureus*).
- Gangguan integritas kulit/kelopak mata.
---
### **2. Luaran Keperawatan (SLKI)**
**Kode**: 1401 – **Tingkat Nyeri**
**Indikator**:
- Skala nyeri menurun (dari skala 0–10).
- Klien melaporkan penurunan ketidaknyamanan.
- Tidak ada tanda non-verbal nyeri (menggosok mata, wajah meringis).
**Kode**: 1103 – **Status Infeksi**
**Indikator**:
- Tidak ada pus atau lodokan.
- Pembengkakan berkurang.
- Suhu tubuh dalam batas normal (tanda sistemik infeksi terkendali).
---
### **3. Intervensi Keperawatan (SIKI)**
**Kode**: 2310 – **Manajemen Nyeri**
**Tindakan**:
- Kompres hangat steril untuk mengurangi nyeri dan drainase pus.
- Observasi skala nyeri menggunakan *Pain Scale* (numerik/Wong-Baker).
- Kolaborasi pemberian analgesik topikal/sistemik sesuai resep.
**Kode**: 6530 – **Perawatan Luka Infeksi**
**Tindakan**:
- Bersihkan area mata dengan larutan saline steril.
- Ajarkan klien untuk tidak menggosok/menekan mata.
- Kolaborasi pemberian antibiotik topikal (salep mata) atau oral.
**Kode**: 5602 – **Edukasi Kesehatan**
**Tindakan**:
- Ajarkan teknik higiene mata (cuci tangan sebelum menyentuh mata).
- Anjurkan untuk tidak berbagi handuk atau alat rias mata.
- Jelaskan tanda komplikasi (misal: selulitis orbita).
---
**Catatan Akademis**:
- **Hordeolum/abses mata** umumnya disebabkan infeksi bakteri dan memerlukan penanganan steril untuk mencegah penyebaran.
- Pemantauan tanda sistemik (demam, sakit kepala) penting untuk mendeteksi komplikasi.
- Dokumentasikan perkembangan luka dan respons terapi secara berkala.
Sumber: *Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) – PPNI*.
Format RTF terlampir dapat disesuaikan dengan kebutuhan dokumentasi klinis. -
Article No. 20580 | 09 Aug 2025
Klinis : lemas diare sejak 4 hari smrs, muntah terus menerus tiap makan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, berikut adalah Diagnosa Keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
1. Diagnosa Keperawatan: Defisit Volume Cairan
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): D.0063
- Definisi: Penurunan cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraseluler.
2. Diagnosa Keperawatan: Mual
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): D.0150
- Definisi: Sensasi tidak nyaman dan tidak nyaman yang berasal dari perut, sering diikuti oleh keinginan untuk muntah.
3. Diagnosa Keperawatan: Diare
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): D.0042
- Definisi: Pengeluaran feses cair atau semi-cair lebih dari tiga kali per hari.
4. Diagnosa Keperawatan: Intoleransi Makan
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): D.0118
- Definisi: Ketidakmampuan untuk mentoleransi atau mencerna makanan yang dibutuhkan untuk mempertahankan keseimbangan nutrisi.
Penjelasan singkat SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) untuk masing-masing diagnosa:
1. Defisit Volume Cairan
- SLKI: L.0056 - Keseimbangan Cairan
- SIKI: I.0089 - Manajemen Cairan
2. Mual
- SLKI: L.0161 - Kontrol Mual
- SIKI: I.0172 - Manajemen Mual
3. Diare
- SLKI: L.0040 - Kontrol Diare
- SIKI: I.0059 - Manajemen Diare
4. Intoleransi Makan
- SLKI: L.0117 - Toleransi Makan
- SIKI: I.0129 - Manajemen Intoleransi Makan
Dengan tone akademis dan persona pakar/perawat, perawat dapat memberikan penjelasan yang lebih rinci dan komprehensif terkait masing-masing diagnosa dan intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi kondisi pasien. -
Article No. 20581 | 09 Aug 2025
Klinis : lemas diare sejak 4 hari smrs, muntah terus menerus tiap makan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berdasarkan kondisi yang Anda sampaikan, berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
1. Diagnosa Keperawatan:
Risiko dehidrasi (00028)
Definisi SDKI:
Risiko mengalami kehilangan cairan dan elektrolit yang melebihi jumlah yang masuk ke dalam tubuh.
Definisi SLKI:
Tindakan keperawatan untuk mencegah atau mengatasi masalah kekurangan cairan dan elektrolit.
Definisi SIKI:
Intervensi keperawatan untuk mencegah atau mengatasi kehilangan cairan dan elektrolit yang melebihi jumlah yang masuk ke dalam tubuh.
2. Diagnosa Keperawatan:
Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh (00002)
Definisi SDKI:
Asupan nutrisi yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
Definisi SLKI:
Tindakan keperawatan untuk mempertahankan atau meningkatkan status nutrisi yang seimbang.
Definisi SIKI:
Intervensi keperawatan untuk mempertahankan atau meningkatkan asupan nutrisi yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
Tone: Akademis
Persona: Pakar/Perawat
Penjelasan singkat:
Berdasarkan kondisi yang Anda sampaikan, yaitu lemas, diare sejak 4 hari, muntah terus menerus setiap makan, maka dapat ditetapkan dua diagnosa keperawatan utama, yaitu risiko dehidrasi dan ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh. Kedua diagnosa ini sesuai dengan definisi yang ditetapkan oleh PPNI dalam SDKI, SLKI, dan SIKI. -
Article No. 20582 | 09 Aug 2025
Klinis : lemas diare sejak 4 hari smrs, muntah terus menerus tiap makan
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk kondisi yang Anda berikan, dengan tone akademis dan persona sebagai seorang pakar atau perawat.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
Diagnosa Keperawatan yang sesuai untuk kondisi lemas, diare sejak 4 hari, dan muntah terus-menerus setiap makan adalah:
a. Risiko Hipovolemia berhubungan dengan kehilangan cairan dan elektrolit akibat diare dan muntah.
Rasional: Kondisi diare dan muntah yang terus-menerus dapat menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit, sehingga timbul risiko hipovolemia atau penurunan volume cairan di dalam tubuh.
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
a. Keseimbangan Cairan: Meningkat
Rasional: Setelah diberikan asuhan keperawatan yang tepat, diharapkan terjadi peningkatan keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh pasien, sehingga dapat mencegah terjadinya hipovolemia.
b. Hidrasi: Membaik
Rasional: Melalui intervensi keperawatan yang tepat, diharapkan dapat meningkatkan hidrasi pasien, sehingga dapat mengatasi kondisi lemas dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
a. Manajemen Cairan
- Pantau intake dan output cairan pasien secara ketat.
- Berikan cairan pengganti sesuai dengan kebutuhan pasien, seperti pemberian cairan intravena atau minuman elektrolit.
- Pantau tanda-tanda vital dan berat badan pasien untuk menilai status hidrasi.
Rasional: Intervensi ini bertujuan untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh pasien, sehingga dapat mencegah terjadinya hipovolemia.
b. Manajemen Mual dan Muntah
- Berikan antiemetik (obat anti-mual) sesuai dengan resep dokter.
- Anjurkan pasien untuk makan makanan yang ringan dan mudah dicerna.
- Hindari makanan yang dapat memicu mual dan muntah.
Rasional: Intervensi ini bertujuan untuk mengatasi gejala mual dan muntah yang dialami pasien, sehingga dapat meningkatkan asupan nutrisi dan cairan.
c. Edukasi Nutrisi dan Cairan
- Edukasikan kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya asupan cairan dan nutrisi yang adekuat.
- Ajarkan teknik pemberian makanan dan minuman yang tepat untuk mengatasi gejala mual dan muntah.
Rasional: Intervensi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman pasien dan keluarga tentang pentingnya asupan cairan dan nutrisi yang adekuat, sehingga dapat membantu dalam proses pemulihan.
Penjelasan di atas memberikan informasi yang rinci dan terperinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran/output yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk menangani kondisi lemas, diare, dan muntah terus-menerus pada pasien. Dengan pendekatan ini, diharapkan perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan efektif untuk mencapai hasil yang optimal bagi pasien. -
Article No. 20583 | 09 Aug 2025
Klinis : pasien yang mengalami asma pada praktik keperawatan Pasien berusia 35 tahun pekerjaan pegawai gudang dengan keluhan sesak napas sejak 1 hari yang lalu. Sesak disertai bunyi ngik dan batuk, memberat terutama saat malam dan menjelang pagi, saat cuaca dingin, dan setelah bersih-bersih rumah.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI beserta kodenya dan definisinya untuk kondisi pasien dengan asma:
Diagnosa Keperawatan:
Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (00031)
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (00031)
Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang bebas.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Bersihan Jalan Napas (0410)
Definisi: Kemampuan untuk mempertahankan jalan napas yang bebas dari obstruksi.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Manajemen Jalan Napas (6540)
Definisi: Memfasilitasi pembebasan jalan napas, termasuk pengisapan lendir, pengaturan posisi, dan pemberian bronkodilator.
Penjelasan singkat:
Pasien dengan asma mengalami penyempitan dan peradangan pada saluran pernapasan, yang menyebabkan sesak napas, mengi, dan batuk. Diagnosa keperawatan "Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif" menggambarkan ketidakmampuan pasien untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas, sehingga jalan napas tidak dapat dipertahankan dalam keadaan bebas. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah Manajemen Jalan Napas, yang bertujuan untuk memfasilitasi pembebasan jalan napas, termasuk pengisapan lendir, pengaturan posisi, dan pemberian bronkodilator. -
Article No. 20584 | 09 Aug 2025
Klinis : Pasien anak perempuan, usia 5 tahun, mengalami demam tinggi selama 3 hari, ruam merah di kulit, bintik Koplik di mukosa mulut, batuk kering, dan mata merah. Hasil pemeriksaan menunjukkan kemungkinan campak.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: **Diagnosa Keperawatan dan Penjelasan SDKI - SLKI - SIKI untuk Pasien Anak dengan Gejala Campak**
**Diagnosa Keperawatan:**
**Gangguan Integritas Kulit** *(Kode SDKI: 0601)* terkait ruam merah dan bintik Koplik akibat infeksi virus campak.
**Penjelasan Singkat:**
1. **SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia)**
- **Kode 0601: Gangguan Integritas Kulit**
*Definisi:* Perubahan kondisi kulit yang mengganggu struktur dan fungsi normal, ditandai dengan ruam, eritema, atau lesi.
*Faktor yang Berhubungan:* Infeksi virus (campak), inflamasi, dan respons imun.
2. **SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia)**
- **Kode 0601: Penyembuhan Luka/Integritas Kulit Meningkat**
*Indikator:*
- Ruam berkurang (Skala 1–5: dari "tidak ada perbaikan" hingga "sembuh total").
- Tidak ada lesi baru.
- Kulit kembali elastis dan tidak eritema.
3. **SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia)**
- **Kode 0601: Perawatan Kulit**
*Tindakan:*
- Observasi karakteristik ruam dan area yang terinfeksi.
- Jaga kebersihan kulit dengan mandi air hangat dan sabun hipoalergenik.
- Hindari penggarukan untuk mencegah infeksi sekunder.
- Berikan kompres dingin untuk mengurangi gatal.
---
**Diagnosa Keperawatan Tambahan:**
**Hipertermia** *(Kode SDKI: 0007)* terkait proses infeksi virus campak.
**Penjelasan Singkat:**
1. **SDKI**
- **Kode 0007: Hipertermia**
*Definisi:* Suhu tubuh di atas rentang normal akibat ketidakseimbangan produksi dan eliminasi panas.
2. **SLKI**
- **Kode 0007: Termoregulasi**
*Indikator:*
- Suhu tubuh dalam rentang normal (36,5–37,5°C).
- Tidak ada menggigil atau diaforesis berlebihan.
3. **SIKI**
- **Kode 3800: Manajemen Hipertermia**
*Tindakan:*
- Pantau suhu tubuh tiap 4 jam.
- Berikan antipiretik sesuai resep (misal: parasetamol).
- Gunakan kompres hangat di aksila dan lipatan paha.
- Anjurkan asupan cairan adekuat.
---
**Catatan Akademis:**
- **Bintik Koplik** dan **ruam makulopapular** adalah tanda patognomonik campak. Intervensi keperawatan harus fokus pada manajemen gejala dan pencegahan komplikasi (misal: pneumonia atau ensefalitis).
- Kode SDKI-SLKI-SIKI mengacu pada **PPNI (2017–2019)** dan memerlukan adaptasi berdasarkan perkembangan klinis pasien.
Sumber:
- *PPNI. (2019). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), dan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI).*
*(Format RTF dapat disesuaikan dengan template institusi terkait.)* -
Article No. 20585 | 09 Aug 2025
Klinis : 1.Pengkajian ?Data Subjektif: a.Pasien mengatakan sering melewatkan sarapan. b.Pasien mengatakan tidak terlalu menyukai sayuran hijau. c.Pasien mengatakan tidak mengonsumsi suplemen asam folat sebelum dan awal kehamilan karena merasa “cukup sehat”. d.Pasien mengeluh mudah lelah. e.Pasien mengungkapkan rasa menyesal karena kurangnya pengetahuan berpotensi membahayakan janin. ?Data Objektif: a.Tekanan darah: 110/70 mmHg (normal). b.Berat badan: 52 kg (turun 10%). c.Kulit tampak agak pucat. d.Kadar asam folat: 2,3 ng/mL (nilai normal: >4 ng/mL). e.USG: janin tunggal, usia kehamilan sesuai. 2.Diagnosa Keperawatan (contoh) ?Defisit nutrisi berhubungan dengan keengganan untuk makan dibuktikan dengan kadar asam folat rendah (2,3 ng/mL) serta berat badan menurun 10% dari berat badan ideal. ?Defisit pengetahuan tentang gaya hidup sehat berhubungan dengan kurang terpapar informasi dibuktikan dengan sebelum dan awal kehamilan pasien tidak mengonsumsi suplemen asam folat karena merasa "cukup sehat".
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: **Diagnosa Keperawatan dan Penjelasan SDKI – SLKI – SIKI**
Berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat berdasarkan **Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)** yang ditetapkan oleh **Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)** untuk kondisi pasien:
---
### **1. Defisit Nutrisi**
**Kode SDKI:** **B.1.1** (*Defisit Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh*)
**Penjelasan:**
Pasien mengalami penurunan berat badan (10%), kadar asam folat rendah (2,3 ng/mL), dan keluhan mudah lelah, menunjukkan asupan nutrisi yang tidak adekuat, khususnya asam folat. Kondisi ini berisiko memengaruhi pertumbuhan janin dan kesehatan ibu.
**SLKI:** **B.1.1.1** (*Status Nutrisi Meningkat*)
**Kriteria Luaran:**
- Peningkatan kadar asam folat (>4 ng/mL).
- Kenaikan berat badan sesuai kebutuhan kehamilan.
- Pasien mampu mengidentifikasi makanan kaya nutrisi.
**SIKI:** **B.1.1.1.1** (*Manajemen Nutrisi*)
**Intervensi:**
- Edukasi tentang makanan tinggi asam folat (sayuran hijau, kacang-kacangan, buah).
- Kolaborasi pemberian suplemen asam folat sesuai resep.
- Pemantauan berat badan dan kadar laboratorium.
---
### **2. Defisit Pengetahuan tentang Gaya Hidup Sehat**
**Kode SDKI:** **A.11.1** (*Defisit Pengetahuan: Kurang Pemahaman tentang Kesehatan*)
**Penjelasan:**
Pasien tidak mengonsumsi suplemen asam folat karena merasa "cukup sehat", menunjukkan kurangnya pemahaman tentang pentingnya nutrisi selama kehamilan.
**SLKI:** **A.11.1.1** (*Pengetahuan tentang Kesehatan Meningkat*)
**Kriteria Luaran:**
- Pasien menyatakan pentingnya asam folat untuk kehamilan.
- Pasien mampu menyebutkan sumber makanan dan suplemen yang diperlukan.
**SIKI:** **A.11.1.1.1** (*Edukasi Kesehatan*)
**Intervensi:**
- Memberikan informasi tentang kebutuhan nutrisi ibu hamil.
- Diskusi risiko defisiensi asam folat (misalnya, neural tube defect pada janin).
- Melibatkan pasien dalam perencanaan diet.
---
### **Catatan Tambahan**
- **Tone Akademis:** Diagnosa dirumuskan berdasarkan data subjektif dan objektif dengan pendekatan **evidence-based nursing**.
- **Peran Perawat:** Fokus pada **edukasi, monitoring, dan kolaborasi** untuk memastikan luaran keperawatan tercapai.
Semoga penjelasan ini membantu dalam penyusunan dokumentasi keperawatan. Jika diperlukan penyesuaian lebih lanjut, silakan diskusikan dengan tim kesehatan terkait.
**Salam profesional,**
*[Nama Perawat/Asisten Klinis]*