Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24861 | 04 Apr 2026
Klinis : 1. Di rumah 2 orang (bapak dan pak pur) 2. Istri meninggal sakit paru-paru, sesak. 7 tahun yang lalu, tahun 2019, meninggal di rumah sakit. Yang membawa ke rumah sakit anaknya yang dibangil di suruh pulang lalu diantar ke rumah sakit 3. Keseharian : mencari rumput untuk makan kambing 4. 3 bersaudara nomer 2 (no 1 dan 2 sudah menikah semua) 1 : kulon kreke, 2 bangil jual bakso 5. Pasien masak nasi, sayur beli di mlijo depan kadang dikasih anaknya yang rumahnya kulon krekel 6. Beras dapet dari panen di sawah sendiri, di selepkan sendiri manggil katanya dulu 4000 7. Penghasilan keluarga dikirim dari anak anaknya bapaknya pasaien 8. Punya kambing 5 9. Masak pake gas, air putih rebus sendiri. Di rumah punya sumur bor, ada tandon yang diarahkan ke rumah rumah 10. pasien mengatakn tidak pernah kerja hanya nunggu kiriman anaknya 11. pasien punya cucu 3 laki laki semua, dan anak 3 laki laki semua 12. pasien 7 bersaudara no 3 meninggal yang no 1, yang perempuan Cuma 1. Istri 6 bersaudara no 2 yang meninggal 2 orang. 13. Istrinya kelahiran tahun 56, meninggal sekitar usia 60 an 14. Setelah istri meninggal di rumah hanya 2 orang sama anak. Awalnya merasa bingung, pasien juga merasa bingung bagaimana ngurusin anaknya yang skizo. Kadang juga pasien merasa capek merawat anaknya. Dulu awalnya pasien suka ngelamun setelah ditinggal, sekarang sudah tidak. 15. Pasien masih sering berhubungan dengan saudara-saudara dan anak-anaknya 16. Pasien mengatakan dalam keluarga tidak ada yang sakit skizo 17. Pasien merasa sama gusti allah di ganjar ujian dengan sakitnya anaknya 18. Pasien mengatakan anaknya sakit gila 19. Tensi : 159/101 20. Pasien mengatakan punya asam urat 21. Pasien mengatakan sering ke posyandu untuk periksa 22. Pasien mengatakan lututnya sakit, kalau dibuat jalan sakit 23. Pasien mengatakan kalau malam sering kebangun untuk ke kamar mandi dan pipis 3-4 kali, pasien mengatakan mungkin karena minumnya juga banyak. Pasien mengatakan pipisnya warnya bening, dan tidak merasa ngantukan 24. Pasien mengatakan sering mengkonsumsi mie instant 25. Pasien mengatakan ibunya punya darah tinggi 26. Pasien mengatakan harapan untuk anaknya adalah semoga bisa pulih kembali seperti dahulu 27. Pasien mengatakan tidak minum kopi karena punya lambung, pasien juga tidak merokok. Katanya dulu merokok tapi sudah berhenti dahulu. Sebelum istri meninggal sudah tidak merokok
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Tekanan Darah
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan, penurunan, atau fluktuasi tekanan darah dari rentang normal yang dapat mengancam kesehatan.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Tekanan darah dalam rentang yang diharapkan.
Kode SIKI: 3540
Deskripsi : Pemantauan Tekanan Darah. Tindakan keperawatan untuk mengukur dan mengevaluasi tekanan darah arteri sistolik dan diastolik, serta mengenali variasi dan tren. Intervensi ini meliputi: memastikan kondisi pasien tenang dan nyaman sebelum pengukuran; memilih manset dan alat ukur yang tepat (dikalibrasi); menentukan lokasi pengukuran yang tepat (biasanya lengan atas); mencatat hasil pengukuran dengan akurat (sistolik, diastolik, denyut nadi); membandingkan hasil dengan nilai normal dan hasil sebelumnya; mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi seperti aktivitas, emosi, nyeri, atau konsumsi obat; mendokumentasikan temuan secara lengkap; serta melaporkan hasil yang abnormal (seperti tekanan darah 159/101 yang termasuk hipertensi derajat 2) kepada tim kesehatan. Pemantauan berkala penting untuk menilai efektivitas terapi dan mencegah komplikasi.
Kondisi: Kelelahan Peran Pengasuh
Kode SDKI: 0024
Deskripsi Singkat: Kesulitan dalam melaksanakan peran sebagai keluarga atau pengasuh yang memberikan dukungan, bantuan, dan dorongan kepada anggota keluarga atau orang terdekat yang membutuhkan.
Kode SLKI: 1611
Deskripsi : Peran pengasuhan yang efektif.
Kode SIKI: 6540
Deskripsi : Dukungan Peran Pengasuh. Tindakan keperawatan untuk memberikan bantuan, informasi, dan dukungan emosional kepada individu yang memberikan perawatan kepada orang lain. Intervensi ini meliputi: mengkaji tingkat stres, kelelahan, dan beban yang dirasakan pengasuh (pasien mengaku capek merawat anaknya); mendengarkan keluhan dan perasaan pengasuh dengan empati; memberikan informasi tentang kondisi orang yang dirawat (penyakit skizofrenia) dan perawatan yang dibutuhkan; mengajarkan keterampilan perawatan dasar dan manajemen perilaku; membantu pengasuh mengidentifikasi dan memanfaatkan sumber dukungan sosial dari keluarga (anak-anak dan saudara) dan komunitas; mendorong pengasuh untuk menjaga kesehatannya sendiri dan menyediakan waktu untuk istirahat; serta merujuk ke kelompok dukungan atau layanan sosial jika diperlukan. Tujuannya adalah meningkatkan kapasitas pengasuhan dan mencegah burnout.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau berlangsung kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 1101
Deskripsi : Kontrol nyeri.
Kode SIKI: 6540
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Tindakan keperawatan untuk meringankan atau mengurangi sensasi nyeri hingga tingkat kenyamanan yang dapat diterima pasien. Intervensi ini meliputi: melakukan pengkajian nyeri yang komprehensif (lokasi: lutut, karakteristik, intensitas, faktor pencetus dan pereda); memantau tanda-tanda vital dan respons nonverbal terhadap nyeri; memberikan terapi farmakologis sesuai instruksi (misal, obat asam urat atau analgesik) dan memantau efek samping; menerapkan terapi non-farmakologis seperti kompres hangat atau dingin pada lutut, teknik distraksi, atau relaksasi; mengajarkan pasien untuk menghindari aktivitas yang memberatkan sendi lutut; memberikan edukasi tentang hubungan antara asam urat, diet (hindari mie instan berlebihan), dan nyeri sendi; serta mengevaluasi efektivitas intervensi yang diberikan. Tujuannya meningkatkan kualitas hidup dan fungsi fisik pasien.
Kondisi: Pola Eliminasi Urine Tidak Efektif
Kode SDKI: 0012
Deskripsi Singkat: Gangguan dalam pengeluaran urine yang ditandai dengan frekuensi, urgensi, disuria, retensi, atau inkontinensia.
Kode SLKI: 0502
Deskripsi : Eliminasi urine yang adekuat.
Kode SIKI: 0580
Deskripsi : Manajemen Inkontinensia. Tindakan keperawatan untuk membantu pasien dalam mengendalikan atau menangani keluarnya urine yang tidak disengaja. Meski pasien tidak inkontinensia, intervensi ini dapat dimodifikasi untuk mengatasi pola nokturia (pipis 3-4 kali malam). Intervensi meliputi: mengkaji pola berkemih (frekuensi, volume, waktu, warna urine bening); mengidentifikasi faktor penyebab seperti asupan cairan berlebih sebelum tidur, hipertensi yang tidak terkontrol, atau masalah prostat (mengingat pasien laki-laki lanjut usia); memberikan edukasi untuk membatasi asupan cairan di malam hari, terutama yang mengandung kafein atau alkohol; menganjurkan untuk mengosongkan kandung kemih sepenuhnya sebelum tidur; memantau asupan dan haluaran cairan; serta mendorong konsultasi lebih lanjut untuk menyingkirkan penyebab medis seperti diabetes, infeksi saluran kemih, atau pembesaran prostat. Tujuannya meningkatkan kualitas tidur dan kenyamanan pasien.
Kondisi: Risiko Gangguan Nutrisi: Lebih dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: 0003
Deskripsi Singkat: Risiko asupan nutrisi yang melebihi kebutuhan metabolik.
Kode SLKI: 0601
Deskripsi : Status nutrisi adekuat.
Kode SIKI: 5240
Deskripsi : Manajemen Berat Badan. Tindakan keperawatan untuk memfasilitasi pemeliharaan atau pencapaian berat badan optimal yang sejalan dengan nilai dan konteks kesehatan pasien. Intervensi ini meliputi: mengkaji pola makan (sering konsumsi mie instan, sayur kadang-kadang), kebiasaan makan, dan aktivitas fisik (hanya mencari rumput, tidak pernah kerja); memantau berat badan dan indeks massa tubuh secara berkala; memberikan edukasi gizi seimbang tentang bahaya konsumsi mie instan berlebihan (tinggi natrium, lemak, rendah serat) terhadap tekanan darah dan asam urat; mengajarkan pemilihan makanan yang lebih sehat dengan memanfaatkan sumber daya yang ada (sayur dari anak, beras sendiri); mendorong peningkatan aktivitas fisik ringan yang aman untuk kondisi lututnya; serta menekankan pentingnya diet rendah garam dan rendah purin untuk mengelola hipertensi dan asam urat. Tujuannya mencegah komplikasi seperti penyakit kardiovaskular yang lebih berat.
-
Article No. 24862 | 04 Apr 2026
Klinis : Ny. SM, 27 tahun, G4P3A0 usia kehamilan 28 minggu, datang dengan keluhan pusing berat sejak 2 minggu disertai lemah, tidak bertenaga, dan nafsu makan menurun. Keluhan sudah dirasakan sejak awal kehamilan namun semakin memburuk, tanpa disertai mual, muntah, nyeri perut, maupun perdarahan. Riwayat kesehatan menunjukkan anemia pada kehamilan sebelumnya hingga pernah mendapat transfusi darah, dengan Hb trimester awal 9 g/dL. Pasien tidak patuh mengonsumsi tablet Fe karena mengalami konstipasi, meskipun rutin mengonsumsi vitamin kehamilan. Pada trimester I pasien sulit makan akibat mual muntah, namun saat ini pola makan sudah cukup baik meski konsumsi zat besi belum optimal. Riwayat reproduksi: menarche usia 12 tahun, siklus haid 28–30 hari, lama 5–7 hari, HPHT 28 April 2022 dan HPL 4 Februari 2023. Riwayat persalinan sebelumnya semua normal dengan tiga anak, dan tidak pernah menggunakan kontrasepsi. Pemeriksaan fisik menunjukkan keadaan umum compos mentis, tampak lemah dan pucat, dengan tanda vital TD 100/70 mmHg, nadi 98x/menit, RR 20x/menit, suhu 36,8°C. Pemeriksaan sistematis didapatkan wajah pucat, konjungtiva anemis, mukosa bibir pucat, leher dalam batas normal, serta jantung dan paru normal. Ekstremitas tidak edema namun kulit tampak pucat. Pemeriksaan obstetri menunjukkan TFU 26,7 cm, posisi janin memanjang dengan punggung kanan, presentasi kepala, dan DJJ 145x/menit. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan Hb 7 g/dL, leukosit 8.900/mm³, trombosit 259.000/mm³, dan hematokrit 21,2%. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan penunjang, pasien didiagnosis G4P3A0 usia kehamilan 28 minggu dengan anemia sedang. Penatalaksanaan meliputi terapi medis berupa tablet Fe (maltofer) 2x sehari dan parasetamol bila perlu, serta terapi non-medis berupa edukasi diet tinggi zat besi (daging merah, hati, sayuran hijau), konsumsi vitamin C untuk meningkatkan absorpsi, menghindari penghambat penyerapan zat besi (teh, susu, roti), meningkatkan asupan serat dan cairan untuk mencegah konstipasi, serta dirujuk ke rumah sakit untuk penanganan lanjutan oleh dokter spesialis kandungan.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Jaringan Tidak Efektif dan Intoleransi Aktivitas terkait Anemia pada Kehamilan
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai oksigen dan nutrisi ke sel akibat penurunan kapasitas pengangkutan oksigen darah (Hb rendah), yang dapat mengganggu fungsi fisiologis ibu dan pertumbuhan janin.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Perfusi jaringan adekuat ditandai dengan: tekanan darah dalam rentang normal untuk individu, nadi perifer teraba dan kuat/kuat, warna kulit dan membran mukosa normal (tidak pucat atau sianosis), tingkat kesadaran normal (compos mentis), ekstremitas hangat, haluaran urin adekuat (≥30 mL/jam), tidak ada nyeri dada atau dispnea, serta nilai laboratorium (seperti Hb dan Ht) dalam rentang normal. Pada konteks kehamilan, perfusi yang adekut juga ditunjukkan dengan pertumbuhan janin sesuai usia kehamilan (TFU sesuai) dan denyut jantung janin dalam rentang normal (120-160 kali/menit).
Kode SIKI: 2010
Deskripsi : Manajemen Anemia meliputi: memantau tanda dan gejala anemia (seperti kelemahan, pusing, pucat, takikardia, sesak napas), memantau tanda-tanda vital dan status hemodinamik secara teratur, memantau hasil pemeriksaan laboratorium (Hb, Ht, hitung darah lengkap), memberikan terapi suplementasi zat besi sesuai resep (seperti tablet Fe) dan memantau kepatuhan serta efek samping (misalnya konstipasi, mual), memberikan edukasi tentang pentingnya terapi suplementasi dan strategi untuk meningkatkan kepatuhan (misalnya, konsumsi dengan vitamin C, menghindari penghambat penyerapan), memberikan edukasi tentang pola diet tinggi zat besi dan sumber makanan yang kaya zat besi (seperti daging merah tanpa lemak, hati, sayuran hijau tua, kacang-kacangan), memberikan edukasi tentang manajemen efek samping suplementasi zat besi (seperti meningkatkan asupan serat dan cairan untuk mencegah konstipasi), mengatur keseimbangan aktivitas dan istirahat untuk mencegah kelelahan, memberikan oksigen tambahan jika diperlukan, melakukan kolaborasi untuk transfusi darah jika indikasi (seperti Hb sangat rendah atau gejala berat), serta merujuk ke tenaga kesehatan lain (dokter spesialis) untuk penanganan lebih lanjut sesuai kebutuhan.
-
Article No. 24863 | 04 Apr 2026
Klinis : Mrs. SM, 27 years old, is a pregnant woman who checked her health at the Lina Asep Clinic on November 12th, 2022. The patient came with complaints of severe dizziness for the last 2 weeks. In addition, patients also complain of weakness, weakness, no energy,and no appetite. Actually, all of these complaints have been felt since the beginning of pregnancy, but they were intermittent and then reappeared and got worse in the last 2 weeks. Denied complaints of nausea, vomiting, abdominal pain, and bleeding spots. The patient said that she was currently pregnant with her 4th child,aged 27-28 weeks, with active fetal movements. The patient's previous medical history had anemia,and blood transfusions were carried out at the hospital during a previous pregnancy. Examination of pregnancy at 12 weeks of gestation had an examination of hemoglobin (Hb) levels obtained at 9 mg/dl. Medical history of a new patient taking paracetamol for complaints of unbearable dizziness. The patient had been taking vitamins regularly since the beginning of her pregnancy but did not want to take iron tablets because she complained of constipation every time she took the drug. History of eating during the first trimester:Thepatient had difficulty eating due to severe nausea and vomiting, but starting from the second trimester until now, she has been able to eat normally. Every day,the patient feels that he has consumed food as he should, namely, the contents of his plate already consist of carbohydrates, protein, fat,and fiber. Consumption of red meat has also been carried out, although not routinely, but patients regularly consume vitamins and milk for pregnancy.History of first menstruation or menarche at the age of 12 years, menstrual cycles 28-30 days, menstrual duration 5-7 days, number of pads changed 3-5 times a day. The firstday of last menstruation (HPHT) is April28th,2022,and the estimated day of birth (HPL) is February 4th,2023. History of marriage:1 time in 7 years. History of childbirth:Thepatient gave birth to all her children through normal delivery. Thefirst child is a girl who is currently 6 years old with a birth weight (BW) of 3100 gr, the second child is a 3-year-old boy with a BWof 3200 gr, and the third child is a girl aged 20 months with a BW2500 gr. The patient had never used contraception before. The patient works as a housewife,and the husband works as a factory worker.From the physical examination obtained compos mentis awareness, the general condition of the patient looked mildly ill, blood pressure 100/70 mmHg, pulse 98x/minute, respiration 20x/minute, temperature 36.8°C, weight (BB) 58kg with a pre-pregnancy weight of 50kg, and height (TB) 156cm and mid-upper arm circumference (MUAC) 24 cm. The nutritional status of the patient before pregnancy has a body mass index (BMI) of 20.5 kg/m2, which is included in the normal BMI. The increase in weight up to the third trimester is still included in the normal weight gain according to the recommendations of the Institute of Medicine (IOM) 2009. Examination of the general status of the face looked pale, the eyes found anemic conjunctiva, and the sclera was not blue and not icteric. Ears,nose,throat within normal limits, mouth mucosa lips pale, thorax,heart,and lungs within normal limits. Examination of the extremities showed no edema but the skin was pale. Examination of the obstetrical status showed that the fundal height of the uterus (TFU) was 26.7 cm, the longitudinal position of the back was on the right, the head presentationand the fetal heart rate (FHR) was 145x/minute. A simple blood laboratory examination showed Hb 7 mg/dl, leukocytes 8900 mg/dl, platelets 259,000 mg/dl, and hematocrit 21.2%. Based on anamnesis physical examination and simple laboratory tests performed, the patient was diagnosed with G4P3A0,28 weeks pregnant,with moderate anemia. The management given to patients is in the form of medical and non-medical therapy. For medical therapy,the patient is given oral iron therapy with maltofer tablets 2x a day and 500 mg paracetamol tablets taken if necessary. Forpregnancy,vitamins that are routinely consumed,such as folamil genio and Cal95,can be continued. Non-medical in the form of education for diet modification by consuming foods high in iron content such as red meat, beef liver, chicken liver, fish and seafood, and green vegetables such as spinach, tofu,and beans with a varied menu so that patients don't get bored. Patients are advised to eat iron-containing foods with foods high in vitamin C together (such as tomatoes and oranges)to maximize iron absorption by the body. However, they are asked to avoid foods that can inhibit iron absorption, such as bread, tea, and milk. In addition, patients are expected to increase consumption of high-fiber foods and increase consumption of water to prevent constipation. The next step is that the patient is given a referral to the local hospital for further treatment and treatment with an obstetrician. ringkaskan kasusnya dan ubah ke bahasa indonesia. ringkaskan tetapi tetap masukkan data lab,riwayat kesehatan jika ada, riwayat reproduksi, pengkajian fisiknya pemeriksaan sistematis (kepala, wajah, leher, tengkuk, dada, payudara, punggung, ekstremitas, abdomen termasuk TFU dan Leopoid, genital jika ada) pemeriksaan patologi klinis, radiologi, dan terapinya
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Jaringan Serebral Tidak Efektif dan Risiko Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh pada Ibu Hamil dengan Anemia Sedang
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Risiko Perfusi Jaringan Serebral Tidak Efektif adalah keadaan dimana seseorang berisiko mengalami penurunan sirkulasi darah ke otak yang dapat mengakibatkan gangguan nutrisi dan oksigenasi jaringan otak. Pada kasus Mrs. SM, risiko ini ditandai dengan keluhan utama pusing berat yang memberat dalam 2 minggu terakhir, riwayat anemia sebelumnya dengan transfusi darah, dan hasil pemeriksaan laboratorium Hb 7 mg/dl yang menunjukkan anemia sedang. Penurunan kapasitas pengangkutan oksigen akibat defisiensi besi (Hb rendah) berisiko menyebabkan hipoksia jaringan serebral, dimanifestasikan secara subjektif sebagai pusing, lemas, dan tidak bertenaga. Faktor risiko spesifik pada pasien ini adalah kehamilan (meningkatkan volume plasma dan kebutuhan zat besi), riwayat kepatuhan rendah terhadap terapi besi oral karena efek samping konstipasi, serta pola makan yang meskipun dianggap lengkap oleh pasien, mungkin tidak cukup dalam kandungan dan penyerapan zat besi.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : SLKI 0801 berfokus pada Pemantauan Perfusi Jaringan. Pada kasus ini, intervensi keperawatan meliputi: 1) Memantau tanda-tanda vital (TD 100/70 mmHg, nadi 98x/menit, pernapasan 20x/menit) dan status neurologis (kesadaran compos mentis, keluhan pusing) secara berkala untuk mendeteksi tanda awal penurunan perfusi serebral seperti takikardia, hipotensi, atau perubahan kesadaran. 2) Memantau hasil pemeriksaan laboratorium (Hb, leukosit, trombosit, hematokrit) sebagai indikator objektif kapasitas angkut oksigen darah. 3) Mengkaji faktor-faktor yang memperberat keluhan pusing (misalnya, perubahan posisi) dan mengajarkan manuver untuk mencegah cedera akibat pusing. 4) Memastikan terapi medikasi (tablet Maltofer, parasetamol sesuai kebutuhan) diberikan dan dikonsumsi dengan tepat untuk mengatasi penyebab dasar anemia dan gejala pusing. 5) Kolaborasi dalam pemberian terapi oksigen jika diperlukan dan mempersiapkan rujukan ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut oleh dokter spesialis obstetri.
Kode SIKI: 3501
Deskripsi : SIKI 3501 adalah Intervensi Manajemen Nutrisi. Intervensi ini sangat relevan karena anemia pada Mrs. SM berkaitan erat dengan asupan dan penyerapan zat besi. Implementasinya meliputi: 1) Melakukan pengkajian nutrisi komprehensif, termasuk riwayat asupan (pasien mengaku piring makan lengkap karbohidrat, protein, lemak, serat; konsumsi daging merah tidak rutin; konsumsi vitamin dan susu kehamilan rutin), riwayat efek samping suplemen besi (konstipasi), dan pemeriksaan antropometri (BB 58 kg, TB 156 cm, LILA 24 cm, kenaikan BB dalam batas normal). 2) Memberikan pendidikan kesehatan (edukasi) secara spesifik tentang modifikasi diet: a) Menganjurkan konsumsi makanan sumber besi heme (daging merah, hati sapi/ayam, ikan/seafood) dan non-heme (bayam, tahu, kacang-kacangan) dengan menu bervariasi. b) Mengajarkan strategi untuk meningkatkan penyerapan zat besi, yaitu mengonsumsi sumber vitamin C (tomat, jeruk) bersamaan dengan makanan kaya zat besi. c) Memberikan informasi tentang penghambat penyerapan zat besi (teh, susu, roti) dan anjuran untuk menghindari konsumsinya bersamaan dengan makanan utama/suplemen besi. d) Mengatasi masalah konstipasi dengan anjuran meningkatkan asupan serat dan air putih, serta mendiskusikan pilihan preparat besi yang mungkin memiliki efek samping konstipasi lebih rendah. 3) Memantau kepatuhan terhadap terapi suplementasi besi oral (Maltofer 2x sehari) dan memberikan dukungan untuk mengatasi kendala kepatuhan. 4) Kolaborasi dengan ahli gizi jika diperlukan untuk penyusunan menu terperinci. Tujuan intervensi ini adalah meningkatkan asupan dan absorpsi zat besi untuk menaikkan kadar hemoglobin, yang pada akhirnya akan memperbaiki perfusi jaringan, termasuk otak.
Ringkasan Kasus (dalam Bahasa Indonesia):
Identitas: Ny. SM, 27 tahun, ibu rumah tangga, suami pekerja pabrik.
Keluhan Utama: Pusing berat sejak 2 minggu, disertai lemas, tidak bertenaga, tidak nafsu makan. Keluhan hilang-timbul sejak awal kehamilan, memberat 2 minggu terakhir. Menyangkal mual, muntah, nyeri perut, bercak perdarahan.
Riwayat Kesehatan & Reproduksi:
- Obstetri: G4P3A0, hamil 27-28 minggu (HPHT 28 April 2022, HPL 4 Februari 2023). Persalinan sebelumnya normal. Anak 1 (P, 6th, BB Lahir 3100 gr), Anak 2 (L, 3th, BB Lahir 3200 gr), Anak 3 (P, 20 bln, BB Lahir 2500 gr). Belum pernah KB.
- Menstruasi: Menarche 12 tahun, siklus 28-30 hari, lama 5-7 hari, ganti pembalut 3-5x/hari.
- Riwayat Medis: Anemia pada kehamilan sebelumnya, pernah transfusi darah. Hb 9 mg/dl saat pemeriksaan kehamilan 12 minggu.
- Pengobatan: Rutin vitamin kehamilan (Folamil Genio, Cal95). Menolak tablet besi karena konstipasi. Parasetamol sesekali untuk pusing.
- Nutrisi: Trimester I sulit makan karena mual muntah. Trimester II-III mampu makan normal, mengklaim piring makan lengkap (karbo, protein, lemak, serat). Konsumsi daging merah tidak rutin. Rutin susu kehamilan.
Pemeriksaan Fisik Sistematis:
- Keadaan Umum: Tampak sakit ringan, compos mentis.
- Tanda Vital: TD 100/70 mmHg, Nadi 98x/menit, RR 20x/menit, Suhu 36.8°C.
- Antropometri: BB 58 kg (BB pra-hamil 50 kg), TB 156 cm, LILA 24 cm. IMT pra-hamil 20.5 (normal). Kenaikan BB sesuai rekomendasi IOM 2009.
- Kepala & Wajah: Tampak pucat.
- Mata: Konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik.
- Telinga, Hidung, Tenggorokan: Dalam batas normal.
- Mulut: Mukosa bibir pucat.
- Leher & Tengkuk: Tidak ada pembesaran KGB atau kelainan.
- Dada & Payudara: Dalam batas normal.
- Jantung & Paru: Dalam batas normal.
- Punggung & Ekstremitas: Tidak edema, kulit pucat.
- Abdomen & Status Obstetri: TFU 26.7 cm, presentasi kepala, punggung kanan, DJJ 145x/menit. Leopold sesuai (tidak dijelaskan detail).
- Genital: Tidak dilakukan/tidak dilaporkan dalam data.
Pemeriksaan Patologi Klinis: Hb 7 mg/dl (Anemia Sedang), Leukosit 8900 mg/dl, Trombosit 259.000 mg/dl, Hematokrit 21.2%.
Pemeriksaan Radiologi: Tidak dilakukan.
Diagnosis Medis: G4P3A0, Hamil 28 minggu, Anemia Sedang.
Terapi:
- Medis: Tablet Maltofer (besi) 2x sehari, Parasetamol 500 mg jika perlu, lanjutkan vitamin kehamilan.
- Non-Medis/Edukasi: Modifikasi diet: konsumsi makanan tinggi zat besi (daging merah, hati, ikan, sayuran hijau), konsumsi bersama vitamin C (tomat, jeruk), hindari penghambat penyerapan besi (teh, susu, roti), tingkatkan serat dan air untuk cegah konstipasi.
- Rujukan: Dirujuk ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut oleh dokter spesialis Obstetri.
-
Article No. 24864 | 04 Apr 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan kerentanan terhadap invasi patogen tuberkulosis (Mycobacterium tuberculosis), yang dapat mengancam kesehatan.
Kode SLKI: L.03104
Deskripsi : SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) dengan kode L.03104 bertujuan untuk mencapai "Kontrol Infeksi". Luaran yang diharapkan adalah pasien mampu mencegah dan mengendalikan penyebaran infeksi. Pada konteks tuberkulosis paru, luaran ini dimanifestasikan melalui beberapa kriteria hasil yang esensial. Pertama, pasien menunjukkan pemahaman tentang sifat penyakit tuberkulosis yang menular melalui droplet udara saat batuk atau bersin. Kedua, pasien dan keluarganya kooperatif dalam menerapkan etika batuk yang benar, yaitu menutup mulut dan hidung dengan tisu atau lengan baju, serta membuang tisu bekas ke tempat sampah tertutup. Ketiga, pasien patuh menjalani pengobatan OAT (Obat Anti Tuberkulosis) secara lengkap dan tepat waktu sesuai jadwal yang ditetapkan, memahami konsekuensi serius dari putus obat seperti kekebalan kuman (MDR-TB). Keempat, pasien dan keluarga mampu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di rumah, seperti memastikan ventilasi udara yang baik dan pencahayaan matahari yang cukup untuk mengurangi konsentrasi kuman. Kelima, pasien dapat mengidentifikasi tanda-tanda infeksi berlanjut atau komplikasi yang memerlukan tindak lanjut medis, seperti demam yang tidak turun, batuk darah, sesak napas memberat, atau penurunan kesadaran. Pencapaian luaran ini sangat krusial untuk memutus rantai penularan, menyembuhkan pasien, dan mencegah kekambuhan.
Kode SIKI: I.05248
Deskripsi : SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dengan kode I.05248 adalah "Manajemen Infeksi". Intervensi ini merupakan serangkaian tindakan keperawatan yang komprehensif untuk mencegah, mengendalikan, dan memantau infeksi. Pada pasien dengan dugaan tuberkulosis paru, intervensi dimulai dengan pengendalian sumber infeksi, yaitu dengan mengisolasi pasien di ruangan ber ventilasi baik atau menggunakan masker bedah khusus (masker N95 bagi petugas) dan mengajarkan etika batuk. Intervensi kunci berikutnya adalah memastikan kepatuhan terapi dengan memberikan edukasi yang mendalam tentang regimen pengobatan OAT: nama obat, dosis, waktu pemberian, durasi minimal 6 bulan, dan efek samping yang mungkin timbul (seperti gangguan penglihatan, warna urin kemerahan, mual, atau nyeri sendi) serta cara mengatasinya. Perawat berkolaborasi dengan tim kesehatan untuk memfasilitasi pengumpulan spesimen dahak untuk pemeriksaan BTA guna konfirmasi diagnosis dan evaluasi pengobatan. Intervensi juga mencakup dukungan nutrisi dengan merencanakan diet tinggi kalori dan protein untuk melawan infeksi dan memperbaiki status gizi yang sering terganggu. Perawat memantau tanda-tanda klinis dan vital secara berkala, seperti suhu, pola pernapasan, karakter batuk, dan adanya dahak darah. Selain itu, perawat melakukan tracing kontak erat pasien (keluarga serumah) untuk skrining tuberkulosis. Dukungan psikososial juga diberikan untuk mengatasi stigma, kecemasan, dan meningkatkan motivasi pasien dalam menjalani pengobatan jangka panjang. Semua intervensi ini terdokumentasi dan dievaluasi perkembangannya secara berkelanjutan untuk memastikan efektivitas penatalaksanaan dan pencegahan penularan.
-
Article No. 24865 | 04 Apr 2026
Klinis : kasus untuk 3S Salin roda ini ini kasusnya Seorang bayi (2 bulan) dibawa dengan keluhan batuk berdahak. Terdapat banyak sekret di jalan napas, frekuensi napas 50x/menit, dan terdengar suara gurgling
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 00031
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Bersihan jalan napas. Tujuan keperawatan adalah agar jalan napas pasien tetap paten dengan suara napas bersih, tidak ada suara tambahan (seperti gurgling, ronchi, wheezing), dan pasien mampu mengeluarkan sekret secara efektif. Pada bayi 2 bulan, kriteria keberhasilan meliputi frekuensi napas dalam rentang normal untuk usianya (30-40x/menit), tidak terdengar suara gurgling atau ronchi saat auskultasi, sekret dapat dikeluarkan dengan bantuan penghisapan lendir (suction) jika diperlukan, serta tidak menunjukkan tanda-tanda distress pernapasan seperti retraksi dinding dada, nasal flaring, atau sianosis. Pencapaian SLKI ini ditandai dengan penurunan frekuensi napas dari 50x/menit mendekati normal, berkurang atau hilangnya suara gurgling, dan jalan napas yang lebih bersih dari sekret.
Kode SIKI: 3210
Deskripsi : Manajemen jalan napas. Intervensi keperawatan ini mencakup serangkaian tindakan untuk memastikan patensi jalan napas dan pertukaran gas yang optimal. Pada kasus bayi 2 bulan dengan batuk berdahak, sekret banyak, dan suara gurgling, tindakan spesifik yang dilakukan meliputi: (1) Memposisikan bayi dengan kepala sedikit ekstensi (sniffing position) atau miring untuk memudahkan drainase sekret, menghindari posisi tengkurap jika tidak diawasi ketat. (2) Melakukan fisioterapi dada seperti perkusi dan vibrasi dengan teknik yang tepat dan lembut untuk membantu mengeluarkan dahak. (3) Melakukan penghisapan lendir (suction) pada jalan napas atas (hidung dan mulut) dan jika terindikasi serta terampil, pada jalan napas bawah (tracheal suction) dengan teknik steril, untuk membersihkan sekret yang tidak bisa dikeluarkan bayi. (4) Memonitor frekuensi, irama, dan usaha napas serta adanya suara napas tambahan setiap 1-2 jam atau sesuai kebutuhan. (5) Memberikan oksigen humidifikasi jika diperlukan untuk mengencerkan sekret dan mempertahankan saturasi oksigen. (6) Mempertahankan hidrasi adekuat dengan pemberian ASI atau cairan yang cukup untuk mengencerkan sekret. (7) Mengajarkan dan mendemonstrasikan kepada orang tua cara melakukan penghisapan lendir ringan di rumah dan mengenali tanda-tanda distress pernapasan yang memerlukan penanganan segera. (8) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat pengencer dahak atau bronkodilator jika diresepkan. Seluruh tindakan dilakukan dengan prinsip atraumatik, menjaga kenyamanan bayi, dan meminimalkan risiko infeksi.
-
Article No. 24866 | 04 Apr 2026
Klinis : Keluhan hari ini nyeri dada sudah berkurang, sesak napas dan berdebar disangkal ku lemah,kes.cm sesak nafas ,skala nyeri 4 TD: 152/91 mmHg N: 90 x/menit RR : 20 x/menit S:37,1 SPO2: 99
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat, diperkirakan berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Kontrol Nyeri: Tindakan untuk mengontrol nyeri. Intervensi keperawatan ini mencakup serangkaian tindakan komprehensif yang bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan pengalaman nyeri akut pada pasien. Fokusnya adalah pada penilaian nyeri yang komprehensif dan berkelanjutan, termasuk lokasi, karakteristik, onset, durasi, frekuensi, dan faktor pencetus serta peredanya. Perawat mengobservasi tanda-tanda verbal dan non-verbal ketidaknyamanan. Manajemen farmakologis dilakukan dengan pemberian analgesik sesuai resep, memantau efektivitas dan efek sampingnya, serta menerapkan prinsip pemberian obat tepat waktu, tepat dosis, dan tepat cara. Secara non-farmakologis, perawat dapat menerapkan teknik distraksi, relaksasi (seperti napas dalam dan guided imagery), terapi dingin atau panas, serta reposisi untuk meningkatkan kenyamanan. Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang sifat nyeri, rencana penatalaksanaan, dan penggunaan skala nyeri juga merupakan bagian integral. Tujuan akhir adalah mempertahankan tingkat nyeri pada skala yang dapat ditoleransi pasien, meningkatkan kemampuan fungsional, dan mencegah komplikasi terkait nyeri yang tidak terkontrol seperti peningkatan stres, takikardia, dan hipertensi.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Kontrol Nyeri: Tindakan untuk mengontrol nyeri. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup penurunan skala nyeri yang dilaporkan pasien menjadi pada tingkat yang dapat ditoleransi (biasanya skala 0-3 pada skala 0-10). Pasien mampu mendemonstrasikan teknik non-farmakologis yang diajarkan untuk mengatasi nyeri, seperti teknik relaksasi napas. Pasien melaporkan peningkatan kenyamanan dan kemampuan untuk beristirahat atau beraktivitas sesuai tingkat kemampuan. Tanda-tanda vital (seperti tekanan darah dan denyut nadi) menunjukkan tren menuju rentang normal pasien, yang dapat mengindikasikan berkurangnya respons stres terhadap nyeri. Pasien dan keluarga memahami rencana penatalaksanaan nyeri dan dapat berpartisipasi aktif dalam pelaporannya. Selain itu, tidak terdapat tanda-tanda distress yang berat atau komplikasi yang timbul akibat nyeri yang tidak tertangani.
Kondisi: Risiko Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0020
Deskripsi Singkat: Risiko volume darah yang dipompa oleh ventrikel tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Pemantauan Kardiovaskuler: Tindakan untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi tentang kondisi kardiovaskuler pasien. Intervensi ini berfokus pada pengawasan ketat terhadap status hemodinamik pasien untuk mendeteksi dini tanda-tanda penurunan fungsi pompa jantung. Perawat secara teratur memantau dan mendokumentasikan tanda-tanda vital, khususnya tekanan darah (seperti hipertensi 152/91 mmHg yang dapat meningkatkan afterload), denyut nadi (90x/menit), dan saturasi oksigen (SpO2 99%). Perawat mengobservasi adanya gejala seperti dispnea, ortopnea, kelemahan, kelelahan, perubahan status mental, dan edema perifer. Pemeriksaan fisik jantung dan paru, seperti auskultasi bunyi jantung (gallop, murmur) dan suara napas (ronkhi, krekels), dilakukan secara berkala. Pemantauan balance cairan (intake dan output) serta berat badan harian juga penting untuk mendeteksi retensi cairan. Perawat memastikan kepatuhan terhadap terapi farmakologis seperti antihipertensi, dan mengedukasi pasien tentang pembatasan aktivitas, diet rendah garam, serta tanda-tanda perburukan yang harus dilaporkan. Tujuannya adalah mempertahankan curah jantung yang adekuat dengan parameter dalam batas normal, mencegah dekompensasi jantung, dan meminimalkan gejala.
Kode SIKI: I.09001
Deskripsi : Pemantauan Kardiovaskuler: Tindakan untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi tentang kondisi kardiovaskuler pasien. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi tanda-tanda vital yang stabil dan berada dalam rentang yang dapat diterima untuk pasien (tekanan darah mendekati target, denyut nadi teratur dan tidak berlebihan). Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan curah jantung yang nyata seperti sesak napas (dispnea), ortopnea, kelemahan berlebihan, atau penurunan kesadaran. Status respirasi dan saturasi oksigen tetap adekuat. Tidak terdapat bukti retensi cairan yang signifikan (edema, peningkatan berat badan tiba-tiba, intake-output tidak seimbang). Pasien memahami pembatasan aktivitas dan dapat berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari tanpa menimbulkan distress kardiovaskuler. Laporan elektrokardiogram (jika dilakukan) tidak menunjukkan aritmia yang mengancam jiwa. Data pemantauan yang akurat dan lengkap tersedia untuk evaluasi perkembangan kondisi pasien.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0091
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: L.04005
Deskripsi : Manajemen Energi: Tindakan untuk mempertahankan energi dan meningkatkan toleransi aktivitas. Intervensi ini ditujukan untuk membantu pasien yang mengalami kelemahan (seperti yang dilaporkan "ku lemah") dalam mengatur penggunaan energinya agar seimbang dengan kemampuannya. Perawat melakukan penilaian terhadap tingkat kelemahan, pola napas, dan tanda vital sebelum, selama, dan setelah aktivitas. Perawat bersama pasien menyusun rencana aktivitas yang teratur dengan periode istirahat yang cukup di sela-sela aktivitas. Aktivitas dilakukan secara bertahap, dimulai dari perawatan diri sederhana di tempat tidur, duduk di sisi tempat tidur, hingga berjalan jarak pendek dengan bantuan sesuai kebutuhan. Perawat mengajarkan teknik penghematan energi, seperti duduk saat melakukan aktivitas, memecah tugas menjadi bagian-bagian kecil, dan menghindari aktivitas yang menahan napas (mengejan). Lingkungan diatur untuk meminimalkan energi yang dikeluarkan (misalnya, menempatkan barang-barang yang sering digunakan dalam jangkauan). Nutrisi dan hidrasi yang adekuat juga dipastikan untuk mendukung produksi energi. Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya keseimbangan aktivitas dan istirahat sangat ditekankan.
Kode SIKI: I.04005
Deskripsi : Manajemen Energi: Tindakan untuk mempertahankan energi dan meningkatkan toleransi aktivitas. Kriteria hasil yang diharapkan adalah pasien melaporkan peningkatan tingkat energi dan penurunan perasaan lelah. Pasien mampu melakukan aktivitas perawatan diri yang direncanakan tanpa mengalami peningkatan distress yang signifikan, seperti sesak napas, nyeri dada, takikardia (denyut nadi meningkat >20x/menit dari baseline), atau hipotensi. Pasien mendemonstrasikan penggunaan teknik penghematan energi secara mandiri. Terjadi peningkatan bertahap dalam durasi dan intensitas aktivitas yang dapat ditoleransi. Tanda-tanda vital sebelum dan setelah aktivitas tetap stabil. Pasien dan keluarga dapat mengidentifikasi tanda-tanda kelelahan dan tahu kapan harus beristirahat. Kualitas hidup pasien terkait kemampuan fungsionalnya menunjukkan perbaikan.
-
Article No. 24867 | 04 Apr 2026
Klinis : Pasien datang dengan keluhan penurunan kesadaran sejak 30 menit SMRS. Keluarga pasien mengaku pasien tiba tiba pasien jatuh tidak sadarkan diri. Mual (+) muntah (+) Ku sedang, GCS E2V2M5 TD : 152/107 SB: 36.2 RR: 20 x/m HR: 91 x/m SpO2: 94% RA Status Generalis K/L: CA (-/-), SI (-/-) Thorax : vesikular (+/+), rh (-/-), wh (-/-) Abdomen : BU (+), soepel (+), nyeri tekan (-) Ekstremitas atas : akral hangat (+/+), edema -/-, CRT <2 Kekuatan otot sde Ekstremitas bawah : akral hangat (+/+), edema -/-, CRT <2, kekuatan otot sde
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kesadaran (GCS E2V2M5) dengan Hipertensi Berat
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Serebral
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Perfusi Serebral
Kode SIKI: 3510
Deskripsi : Pemantauan Neurologis
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI): Risiko Ketidakefektifan Perfusi Serebral (Kode 0004)
Definisi: Berisiko mengalami penurunan sirkulasi darah ke otak yang dapat mengakibatkan kerusakan jaringan. Pada kasus ini, kondisi pasien sangat mengarah pada risiko ini. Pasien datang dengan penurunan kesadaran mendadak (Glasgow Coma Scale/E2V2M5=9) yang merupakan tanda utama gangguan fungsi otak. Tekanan darah yang sangat tinggi (152/107 mmHg) menunjukkan adanya krisis hipertensi, yang merupakan faktor risiko utama untuk gangguan perfusi serebral seperti stroke hemoragik atau ensefalopati hipertensif. Keluhan mual dan muntah juga sering menyertai peningkatan tekanan intrakranial. Meskipun tanda vital lain dan status umum masih dalam batas relatif normal, kombinasi penurunan kesadaran dan hipertensi berat menciptakan situasi yang sangat rentan terhadap ketidakefektifan perfusi otak, baik berupa iskemia maupun perdarahan.
Luaran Keperawatan (SLKI): Perfusi Serebral (Kode 1401)
Definisi: Luaran ini mengukur tingkat keberhasilan dalam mempertahankan atau mengembalikan aliran darah yang adekuat ke otak. Tujuan utama dari intervensi keperawatan pada pasien ini adalah untuk mencapai luaran "Perfusi Serebral Tercapai". Indikator pencapaiannya meliputi: tingkat kesadaran yang membaik (GCS mendekati atau mencapai 15), tekanan darah yang terkontrol dalam rentang yang ditargetkan (biasanya sistolik <140 mmHg untuk kasus ini), tidak ada keluhan sakit kepala hebat, mual, atau muntah, serta fungsi motorik dan sensorik yang utuh. Pemantauan terhadap luaran ini harus dilakukan secara ketat dan berkelanjutan karena perubahan dapat terjadi dengan cepat. Target jangka pendek mungkin stabilisasi kondisi, sedangkan target jangka panjang adalah mencegah defisit neurologis permanen.
Intervensi Keperawatan (SIKI): Pemantauan Neurologis (Kode 3510)
Definisi: Pengumpulan dan analisis data pasien secara komprehensif untuk mencegah atau mendeteksi komplikasi sistem saraf. Pada pasien dengan risiko tinggi ini, intervensi Pemantauan Neurologis menjadi kritis. Intervensi ini harus dilaksanakan secara sistematis dan sering (misalnya, setiap 30 menit hingga 1 jam, atau sesuai protokol). Aktivitas yang termasuk dalam intervensi ini adalah: 1) Pengkajian GCS secara berkala dan teliti (membandingkan hasil E2V2M5 dengan data sebelumnya untuk mendeteksi perbaikan atau perburukan). 2) Pemeriksaan tanda vital, khususnya tekanan darah dan nadi, untuk menilai respon terhadap terapi dan mendeteksi fluktuasi berbahaya. 3) Pemeriksaan pupil (ukuran, kesamaan, reaksi terhadap cahaya) untuk mendeteksi tanda peningkatan tekanan intrakranial. 4) Pemeriksaan kekuatan motorik dan sensasi pada keempat ekstremitas (seperti yang telah dimulai dalam pengkajian) untuk mendeteksi kelemahan atau paralisis baru. 5) Memantau adanya kejang atau perubahan pola pernapasan (seperti Cheyne-Stokes). 6) Mendokumentasikan semua temuan dengan akurat dan melaporkan setiap perubahan negatif segera kepada tim medis. Selain itu, perawat juga harus melakukan pemantauan keselamatan karena penurunan kesadaran membuat pasien berisiko tinggi terhadap cedera, seperti jatuh dari tempat tidur atau aspirasi. Intervensi ini tidak berdiri sendiri tetapi berintegrasi dengan intervensi lain seperti manajemen hipertensi dan pemberian oksigen jika diperlukan, dengan tujuan akhir mencapai luaran perfusi serebral yang adekuat.
-
Article No. 24868 | 04 Apr 2026
Klinis : datang dengan keluhan tidak sadarkan diri sejak pukul 07:00 wib , sebelumnya pernah di rawat di RS sarila 1 minggu yang lalu. riwayat serangan stroke yang ke 3 KU lemah, Kes Sopor TD : 143/78 HR : 123 RR : 32 SPO : 95 dengan NRM 15lpm S : 36.8 Mata: CA -/-, SI -/-, reflex cahaya+/+ Leher: PKGB -/- Thorax: Simetris ka/ki, Paru: SDV +/+ , RBH +/+, wh-/- Abdomen: supel, BU (+) dbn, nyeri tekan epigastrium (-) Genitalia : Tidak ada kelainan Extremitas: Akral hangat +/+, CRT <2 detik, edema -/- sensorik: sulit dievaluasi motorik: lateralisasi (-) refleks fisiologis: +3/+1 // +1/+1 refleks patologis: (-/-// -/-) NIHHS : 29 Lab 04/04 Hemoglobin 12.34 Hematokrit 36.7 Lekosit 10.22 Trombosit 223 Neutrofil 84.2 Limfosit 10.7 Natrium (Na) 148 Kalium (K) 4.0 Chlorida (Cl) 119 Calsium (Ca2+) 1.2 pH 7.37 Glukosa Darah Sewaktu 136 Ureum 109.1 Kreatinin 1.43 Ro Thorax (4/4/26) Kesan : - Efusi pleura dextra - Besar cor tak valid dinilai CT Scan (4/4/26) Kesan : - Sinusitis maxillaris sinistra dan sphenoidales dextra - Multipel infark cerebri di lobus temporalis dextra dan di periventrikel dextra - Atrophy cerebri - Tak tampak EDH, SDH, SAH, maupun IVH pada Head CT Scan saat ini - Tak tampak gambaran herniasi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Perfusi Serebral
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Penurunan sirkulasi darah ke otak yang dapat mengakibatkan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan metabolik otak. Pada pasien ini, didukung oleh riwayat stroke berulang (ke-3), kesadaran sopor, dan temuan CT Scan multipel infark cerebri serta nilai NIHSS yang sangat tinggi (29) yang mengindikasikan defisit neurologis berat.
Kode SLKI: L.14016
Deskripsi : Perfusi serebral membaik, ditandai dengan: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang yang dapat diterima (TD, HR, RR, SpO2). 2) Tidak ada penurunan kesadaran lebih lanjut. 3) Tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial tidak ada/menurun. 4) Fungsi neurologis stabil atau membaik. Kriteria hasil ini harus dimodifikasi sesuai kondisi pasien yang kritis, dimana tujuan awal adalah stabilitas dan pencegahan memburuk. Pemantauan ketat GCS, tanda vital, dan tanda neurologis fokal adalah intervensi keperawatan utama untuk mengevaluasi pencapaian kriteria ini.
Kode SIKI: I.14095
Deskripsi : 1) Monitor status neurologis secara ketat dan berkelanjutan (tingkat kesadaran/GCS, ukuran dan reaksi pupil, kekuatan motorik, refleks) setiap jam atau sesuai protokol. 2) Monitor dan catat tanda-tanda vital (TD, Nadi, RR, Suhu, SpO2) setiap jam atau lebih sering jika tidak stabil. 3) Pertahankan posisi kepala tempat tidur 30 derajat dengan kepala dalam posisi netral untuk memfasilitasi aliran darah vena dari otak. 4) Kolaborasi pemberian terapi oksigen sesuai kebutuhan untuk mempertahankan SpO2 >95%. 5) Lakukan suction dengan teknik steril dan hati-hati jika diperlukan, batasi durasi untuk menghindari peningkatan tekanan intrakranial. 6) Kolaborasi dalam pemberian terapi medis (antihipertensi, neuroprotektor, terapi cairan) sesuai instruksi dokter dengan memantau efek dan respons pasien. 7) Minimalkan stimulasi yang tidak perlu (kebisingan, cahaya, manipulasi) yang dapat memicu peningkatan tekanan intrakranial. 8) Lakukan perawatan kulit, mobilisasi pasif, dan range of motion exercise dengan hati-hati untuk mencegah komplikasi imobilisasi. 9) Berikan edukasi dan dukungan emosional pada keluarga mengenai kondisi pasien dan rencana perawatan.
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Jalan Napas
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya ancaman obstruksi jalan napas atau ketidakmampuan membersihkan sekret. Pada pasien ini, risiko sangat tinggi karena kesadaran sopor (menurunnya refleks batuk dan kemampuan menelan), adanya efusi pleura yang dapat membatasi ekspansi paru, dan peningkatan sekret akibat temuan sinusitis serta RBH (+).
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Jalan napas tetap paten, ditandai dengan: 1) Suara napas bersih, tidak ada stridor atau mengi. 2) Frekuensi napas dalam rentang normal. 3) Tidak ada sianosis. 4) Ekspansi dada simetris. 5) Nilai analisa gas darah dalam rentang normal. Pada pasien dengan kesadaran menurun, pemantauan ketat bunyi napas, frekuensi, dan upaya napas adalah kunci untuk mendeteksi dini gangguan jalan napas.
Kode SIKI: I.09006
Deskripsi : 1) Posisikan pasien dengan posisi semi fowler atau lateral jika memungkinkan untuk mencegah aspirasi dan memaksimalkan ekspansi dada. 2) Auskultasi bunyi napas setiap 2-4 jam atau sesuai kebutuhan untuk mendeteksi adanya ronki, wheezing, atau penurunan bunyi napas. 3) Monitor pola, frekuensi, dan kedalaman pernapasan serta penggunaan otot bantu napas. 4) Lakukan fisioterapi dada (postural drainage, perkusi, vibrasi) jika diindikasikan dan kondisi pasien memungkinkan. 5) Lakukan suction jalan napas atas dan bawah dengan teknik steril, tepat indikasi, dan hati-hati untuk mencegah trauma mukosa dan hipoksia. 6) Kolaborasi pemberian oksigenasi yang adekuat (melalui kanul atau masker) sesuai hasil analisa gas darah dan saturasi oksigen. 7) Monitor produksi sputum (jumlah, warna, konsistensi). 8) Kolaborasi pemberian nebulizer atau obat bronkodilator sesuai program dokter. 9) Pertahankan kelembaban udara yang adekuat.
Kondisi: Gangguan Eliminasi Urine
Kode SDKI: D.0025
Deskripsi Singkat: Gangguan dalam proses pengeluaran urine. Pada pasien dengan stroke berat dan penurunan kesadaran, gangguan ini bersifat fungsional, yaitu ketidakmampuan untuk berkemih secara mandiri akibat kerusakan kontrol saraf pusat atau penurunan kesadaran. Hal ini berisiko menyebabkan retensi urine atau inkontinensia.
Kode SLKI: L.06005
Deskripsi : Eliminasi urine efektif, ditandai dengan: 1) Output urine dalam rentang normal (1-2 ml/kgBB/jam). 2) Kandung kemih tidak distensi. 3) Urine jernih, tidak berbau menyengat. 4) Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi saluran kemih. Tujuan pada pasien ini adalah mempertahankan haluaran urine yang adekuat dan mencegah komplikasi seperti infeksi atau kerusakan ginjal lebih lanjut, yang didukung oleh nilai ureum dan kreatinin yang sudah meningkat.
Kode SIKI: I.06029
Deskripsi : 1) Monitor dan catat intake dan output cairan setiap 24 jam. 2) Palpasi daerah suprapubik secara berkala untuk mendeteksi distensi kandung kemih. 3) Lakukan kateterisasi urine sesuai indikasi (retenksi urine) dengan teknik steril, dan rawat kateter dengan baik untuk mencegah infeksi. 4) Jika tanpa kateter, lakukan toileting assistance atau pemasangan penampung urine (kondom urinal/pads) dengan menjaga kebersihan dan keutuhan kulit area genital. 5) Monitor karakteristik urine (warna, kejernihan, bau). 6) Kolaborasi monitor fungsi ginjal (ureum, kreatinin) secara berkala. 7) Berikan perawatan kulit periarea secara rutin untuk mencegah iritasi dan dekubitus.
-
Article No. 24869 | 04 Apr 2026
Klinis : S: Pasien dengan penurunan kesadaran O : KU lemah, Kes Somnolent TD : 122/70 HR : 76 RR : 55 SPO : 97 S : 36.8
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kesadaran (Somnolent)
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Penurunan Kesadaran adalah keadaan di mana individu mengalami penurunan dalam kemampuan untuk berespons terhadap rangsangan lingkungan, mulai dari kebingungan ringan hingga koma. Kondisi ini ditandai dengan perubahan tingkat kesadaran seperti letargi, somnolen, stupor, atau koma. Pada kasus ini, pasien menunjukkan kondisi somnolen, yaitu keadaan mengantuk yang dalam di mana pasien dapat dibangunkan dengan rangsangan yang kuat tetapi segera tertidur kembali ketika rangsangan dihentikan. Penurunan kesadaran merupakan gejala serius yang mengindikasikan gangguan pada fungsi otak, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti gangguan metabolik (hipoglikemia, ketoasidosis), hipoksia, trauma kepala, stroke, infeksi sistem saraf pusat, keracunan, atau gagal organ. Asuhan keperawatan berfokus pada pemantauan ketat status neurologis, mempertahankan fungsi vital, dan mengidentifikasi serta menangani penyebab yang mendasarinya. Perawat harus melakukan penilaian kesadaran secara berkala menggunakan skala seperti Glasgow Coma Scale (GCS) untuk mendeteksi perubahan secara dini. Selain itu, perlindungan jalan napas adalah prioritas mutlak karena penurunan kesadaran berisiko tinggi menyebabkan aspirasi dan kegagalan pernapasan. Intervensi juga mencakup pemenuhan kebutuhan dasar seperti nutrisi, eliminasi, dan integritas kulit, serta memberikan dukungan dan edukasi kepada keluarga mengenai kondisi pasien dan proses perawatan.
Kode SLKI: 2006
Deskripsi : SLKI 2006: Status Neurologis. Kriteria hasil yang diharapkan adalah status neurologis pasien dapat dipertahankan atau membaik. Hal ini dicapai melalui pemantauan yang komprehensif dan berkelanjutan. Perawat akan memantau dan mendokumentasikan tingkat kesadaran (menggunakan GCS), ukuran dan reaksi pupil, tanda-tanda vital (terutama pola pernapasan), serta fungsi motorik dan sensorik secara teratur dan setiap ada perubahan kondisi. Tujuannya adalah mendeteksi secara dini tanda-tanda penurunan lebih lanjut atau peningkatan. Selain itu, perawat akan mempertahankan kepala pasien dalam posisi netral dan elevasi kepala tempat tidur 30 derajat (kecuali kontraindikasi) untuk meningkatkan aliran darah otak dan mengurangi tekanan intrakranial. Perlindungan dari cedera juga merupakan bagian penting, seperti menggunakan bingkai tempat tidur dan meminimalkan risiko jatuh. Hasil yang diharapkan adalah pasien menunjukkan tingkat responsivitas yang stabil atau membaik, refleks pupil yang normal, dan tidak ada deteriorasi lebih lanjut pada fungsi neurologis. Keluarga juga akan dilibatkan dalam pengamatan sederhana dan diinformasikan tentang tanda-tanda bahaya yang perlu dilaporkan segera.
Kode SIKI: 3410
Deskripsi : SIKI 3410: Pemantauan Neurologis. Intervensi keperawatan spesifik ini melibatkan serangkaian tindakan sistematis untuk mengkaji dan mengelola pasien dengan gangguan neurologis. Pertama, perawat akan melakukan pengkajian status neurologis secara komprehensif termasuk tingkat kesadaran (GCS), orientasi, ukuran dan reaksi pupil terhadap cahaya, kekuatan motorik, dan respon sensorik. Pengkajian ini dilakukan secara rutin (misalnya setiap jam atau sesuai protokol) dan setiap kali ada perubahan kondisi. Kedua, perawat akan memantau dan mencatat tanda-tanda vital dengan cermat, memperhatikan pola pernapasan (seperti Cheyne-Stokes, Kussmaul, atau apnea) yang dapat mengindikasikan gangguan batang otak. Pada data pasien, RR 55 per menit merupakan temuan kritis yang menunjukkan distress pernapasan dan memerlukan evaluasi segera. Ketiga, perawat akan memastikan keamanan jalan napas dengan posisi yang tepat (misalnya posisi lateral atau semi-prone jika memungkinkan), melakukan penghisapan lendir jika diperlukan, dan mempersiapkan alat bantu napas. Keempat, perawat akan menciptakan lingkungan yang tenang, mengurangi stimulasi yang tidak perlu, dan menjelaskan semua prosedur kepada pasien meskipun ia tampak tidak responsif. Kelima, kolaborasi dengan tim medis untuk pemeriksaan penunjang (seperti CT scan, pemeriksaan laboratorium) dan pemberian terapi sesuai penyebab (seperti pemberian glukosa, antidotum, atau manajemen tekanan intrakranial) adalah bagian integral dari intervensi ini. Dokumentasi yang akurat dan berkelanjutan sangat penting untuk melacak tren dan mengevaluasi efektivitas intervensi.
-
Article No. 24850 | 03 Apr 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan patogen yang menginvasi tubuh, terkait dengan adanya lesi/kavitas di jaringan paru yang menjadi media pertumbuhan dan penyebaran Mycobacterium tuberculosis, serta penurunan status imunologis yang ditandai dengan demam, kelelahan, dan anoreksia.
Kode SLKI: L.14001
Deskripsi : Pasien akan menunjukkan perilaku dan kondisi yang mencegah penularan infeksi. Tujuan ini dicapai melalui serangkaian intervensi keperawatan yang bertujuan untuk memutus rantai penularan, meningkatkan daya tahan tubuh pasien, dan memastikan kepatuhan terapi. Indikator keberhasilannya meliputi: pasien memahami dan konsisten menerapkan etika batuk (menutup mulut dengan tisu/lengan), membuang dahak di tempat yang aman (sampah tertutup atau diludahkan di wadah berdesinfektan), menggunakan masker dengan benar terutama saat berinteraksi, serta memisahkan peralatan makan dan pribadi. Pasien juga akan menunjukkan peningkatan pengetahuan tentang pentingnya pengobatan lengkap dan jangka panjang, serta tanda-tanda efek samping obat yang perlu dilaporkan. Lingkungan sekitar pasien tetap aman dari risiko penularan berkat tindakan isolasi respiratori yang dilakukan. Selain itu, status nutrisi dan hidrasi pasien membaik untuk mendukung sistem imun dalam melawan infeksi.
Kode SIKI: I.13029
Deskripsi : Intervensi Keperawatan: Manajemen Infeksi. Intervensi ini melibatkan serangkaian tindakan sistematis untuk mencegah dan mengendalikan penyebaran mikroorganisme patogen. Pada pasien tuberkulosis paru, tindakan spesifik yang dilakukan perawat meliputi: pertama, menerapkan dan mengajarkan prinsip pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) khususnya Precautions Droplet/Airborne sesuai kebijakan fasilitas, termasuk penggunaan alat pelindung diri (APD) yang tepat seperti masker N95. Kedua, melakukan edukasi kesehatan secara komprehensif kepada pasien dan keluarga mengenai penyakit TB, cara penularan, pentingnya pengobatan hingga tuntas (6-8 bulan), dan konsekuensi jika terputus (Multi Drug Resistant TB). Ketiga, memantau tanda-tanda klinis dan gejala seperti karakter batuk, jumlah dan warna dahak, pola demam, serta status pernapasan secara berkala. Keempat, mengkolaborasikan pemberian terapi obat anti tuberkulosis (OAT) dan memantau efek sampingnya seperti gangguan hepatik, gangguan penglihatan, atau neuritis perifer. Kelima, mendorong peningkatan asupan nutrisi tinggi kalori dan protein serta cairan yang adekuat untuk mendukung proses penyembuhan. Keenam, melakukan skrining dan edukasi pada kontak erat pasien. Ketujuh, memastikan ventilasi ruangan yang baik jika perawatan dilakukan di rumah. Semua tindakan ini didokumentasikan dengan baik dan dievaluasi perkembangannya untuk mencegah komplikasi dan memutus rantai penularan di masyarakat.