Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 20960 | 22 Aug 2025
Klinis : Pasien perempuan usia VL e.r. dorsalis pedis dengan ruptur tendon extensor. Pasien dibawa dengan keluhan luka di area punggung kaki kanan post KLL ganda. Tidak ada trauma kepala, pingsan -, kejang -, muntah - , keluar darah dari hidung dan telinga -, tidak ada pembengkakan pada kelopak mata dan kemerahan di belakang telinga.Tidak ada nyeri dada dan sesak, tidak ada nyeri perut. Alergi disangkal RPO : TTD 1x 1, vitamin 1x1 Pasien menyebutkan tidak pernah imunisasi TT Tidak ada riwayat sakit tertentu Pasien hamil anak kedua. TD 125/81 mmgHg Nadi 80 x/mnt Skala Nyeri: P : Aktivitas Q : Perih R : Satu tempat S : 7 (VAS Nyeri Berat) T : Hilang timbul. Hasil rontgen Kesan: Fraktur avulsi korteks lateral proximal shaft metatarsal II pedis dextra, Symphalangism digit V pedis dextra
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: {\rtf1\ansi\ansicpg1252\cocoartf2706\cocoasubrtf200
{\fonttbl\f0\fswiss\fcharset0 Helvetica;}
{\colortbl;\red255\green255\blue255;}
\paperw11900\paperh16840\margl1440\margr1440\vieww11520\viewh8400\viewkind0
\pard\tx720\tx1440\tx2160\tx2880\tx3600\tx4320\tx5040\tx5760\tx6480\tx7200\tx7920\tx8640\pardirnatural\partightenfactor0
\f0\fs24 \cf0 Berdasarkan data klinis yang disampaikan, berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI sesuai standar Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):\
\
\b DIAGNOSA KEPERAWATAN:\b0 \
\b Nyeri Akut\b0 (Kode: D.0006) berhubungan dengan kerusakan jaringan sekunder akibat fraktur avulsi dan ruptur tendon ekstensor pedis dextra.\
\
\b SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia) - D.0006:\b0 \
Definisi: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, yang terjadi secara tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berlangsung dalam waktu terbatas.\
\
\b SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):\b0 \
\b Luaran: Tingkat Nyeri\b0 (Kode: L.04001)\\
Kriteria evaluasi: \
- Skala nyeri menurun (target: ?3 pada VAS)\\
- Ekspresi nyeri verbal/nonverbal menurun\\
- Tanda-tanda vital dalam rentang normal\\
- Klien mampu melakukan aktivitas sesuai toleransi\
\
\b SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):\b0 \
\b Intervensi: Manajemen Nyeri\b0 (Kode: I.08010)\\
Tindakan utama: \
1. Monitor karakteristik nyeri (PQRST)\\
2. Ajarkan teknik nonfarmakologis (napas dalam, distraksi)\\
3. Kolaborasi pemberian analgetik sesuai resep\\
4. Lakukan reposisi yang nyaman pada ekstremitas\\
5. Edukasi tentang penggunaan kruk atau imobilisasi area nyeri\
\
\b Catatan Akademis:\b0 \
Pada pasien dengan fraktur avulsi dan ruptur tendon, nyeri berat (VAS=7) memerlukan pendekatan multimodal. Pertimbangan khusus diperlukan mengingat status kehamilan, sehingga pemilihan analgetik harus mempertimbangkan keamanan fetal. Dokumentasi respons nyeri dan evaluasi efektivitas intervensi menjadi parameter krusial dalam asuhan keperawatan.\
\
\cf2 \i \ *Catatan: Diagnosa dan intervensi keperawatan bersifat dinamis dan harus dievaluasi secara berkala sesuai perkembangan kondisi klien. Implementasi disesuaikan dengan kebijakan institusi dan protokol klinis setempat.\i0 \cf0 \
} -
Article No. 20961 | 22 Aug 2025
Klinis : luaran dan intervensi risiko gangguan perkembangan pada bayi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI untuk kondisi risiko gangguan perkembangan pada bayi, sesuai dengan kode dan definisi yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Gangguan Perkembangan (00112)
Definisi: Rentan mengalami perubahan negatif dalam kemampuan fisik, kognitif, psikososial, dan/atau perilaku yang dapat terjadi sepanjang rentang kehidupan.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Kode: 00112
Definisi: Rentan mengalami perubahan negatif dalam kemampuan fisik, kognitif, psikososial, dan/atau perilaku yang dapat terjadi sepanjang rentang kehidupan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Kode: 1822 Perkembangan Bayi
Definisi: Kemampuan bayi untuk mencapai tahap-tahap perkembangan yang sesuai dengan usia.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Kode: 6720 Stimulasi Perkembangan Bayi
Definisi: Pemberian rangsangan yang bertujuan untuk mendukung perkembangan fisik, kognitif, psikososial, dan perilaku bayi.
Penjelasan singkat:
Diagnosa Keperawatan "Risiko Gangguan Perkembangan" mengidentifikasi bahwa bayi rentan mengalami perubahan negatif dalam kemampuan fisik, kognitif, psikososial, dan/atau perilaku yang dapat terjadi sepanjang rentang kehidupan. Luaran yang diharapkan adalah Perkembangan Bayi, yaitu kemampuan bayi untuk mencapai tahap-tahap perkembangan yang sesuai dengan usia. Intervensi yang dapat dilakukan adalah Stimulasi Perkembangan Bayi, yaitu pemberian rangsangan yang bertujuan untuk mendukung perkembangan fisik, kognitif, psikososial, dan perilaku bayi. -
Article No. 20962 | 22 Aug 2025
Klinis : gout
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis gout, serta kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis yang mungkin terkait dengan kondisi tersebut:
1. Kode ICD-10:
- Kode: M10
- Deskripsi: Gout
Gout adalah gangguan metabolik yang ditandai dengan akumulasi kristal asam urat di dalam sendi dan jaringan lain, menyebabkan radang dan nyeri. Kondisi ini dapat disebabkan oleh peningkatan produksi asam urat atau gangguan dalam ekskresinya.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 81.97
- Deskripsi: Aspirasi cairan atau jaringan sendi
Prosedur ini dapat dilakukan untuk mengambil sampel cairan sendi untuk analisis dan menegakkan diagnosa gout. Selain itu, aspirasi sendi juga dapat digunakan untuk mengurangi nyeri dan inflamasi pada serangan akut gout.
Secara umum, penatalaksanaan gout dapat meliputi pemberian obat anti-inflamasi, penurun kadar asam urat, serta modifikasi gaya hidup, seperti pengaturan asupan makanan dan cairan. Penanganan yang tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang, seperti kerusakan sendi permanen. -
Article No. 20963 | 22 Aug 2025
Klinis : tukak lambung
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, dokter. Untuk kondisi tukak lambung, berikut kode ICD-10 dan ICD-9-CM yang sesuai:
1. Kode ICD-10:
- Kode: K25
- Deskripsi: Tukak lambung
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 44.41
- Deskripsi: Pengobatan ulkus lambung dengan endoskopi, tanpa reseksi
Penjelasan detail:
1. Kode ICD-10 K25 digunakan untuk mendiagnosis tukak lambung. Tukak lambung merupakan lesi atau luka pada dinding lambung yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti infeksi bakteri Helicobacter pylori, penggunaan obat-obatan tertentu, stres, dan faktor-faktor lainnya.
2. Tindakan medis yang mungkin dilakukan untuk menangani tukak lambung adalah pengobatan dengan endoskopi, tanpa reseksi. Kode ICD-9-CM 44.41 mencakup prosedur ini, yaitu penglihatan dan pemeriksaan lambung secara visual menggunakan endoskop, serta pengobatan lesi atau tukak yang ditemukan tanpa melakukan reseksi atau pembedahan pada lambung.
Sebagai catatan, penentuan kode diagnosa dan prosedur harus dilakukan dengan cermat dan teliti berdasarkan dokumentasi klinis yang lengkap dan akurat. Saya sarankan untuk selalu merujuk pada pedoman dan aturan pengkodean terbaru yang berlaku. -
Article No. 20964 | 22 Aug 2025
Klinis : vomitus
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Sebagai seorang dokter atau perekam medik, saya akan memberikan informasi yang diperlukan mengenai kode ICD-10 untuk diagnosis vomitus, serta kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis yang mungkin terkait.
1. Kode ICD-10:
- Kode: R11.2
- Deskripsi: Vomitus, tidak terspesifikasi
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 94.1
- Deskripsi: Pemberian antiemetik (obat anti-mual dan muntah)
Penjelasan:
- Kode ICD-10 R11.2 digunakan untuk mengklasifikasikan kondisi vomitus atau muntah yang tidak terspesifikasi. Ini mencakup gejala atau tanda umum dari muntah tanpa identifikasi penyebab yang mendasarinya.
- Dalam kasus vomitus, pemberian antiemetik atau obat anti-mual dan muntah (kode ICD-9-CM 94.1) merupakan salah satu tindakan medis yang mungkin dilakukan untuk mengatasi gejala tersebut.
Kode-kode tersebut dapat digunakan untuk dokumentasi medis dan pelaporan kondisi pasien dengan vomitus serta tindakan medis yang dilakukan untuk penanganannya. -
Article No. 20965 | 22 Aug 2025
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: 1. Kode ICD-10:
- Kode: A15.0
- Deskripsi: Tuberkulosis paru dengan konfirmasi bakteriologis dan histologis
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 87.44
- Deskripsi: Bronchoscopy dengan biopsi jaringan pernapasan
Berdasarkan kasus pasien pria berusia 45 tahun dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan, serta hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas dan adanya lesi di paru, diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
Kode ICD-10 yang sesuai adalah A15.0, yang menggambarkan tuberkulosis paru dengan konfirmasi bakteriologis dan histologis. Pasien mungkin memerlukan prosedur bronchoscopy dengan biopsi jaringan pernapasan (kode ICD-9-CM 87.44) untuk konfirmasi diagnosis dan menentukan rencana penatalaksanaan yang tepat. -
Article No. 20966 | 22 Aug 2025
Klinis : Pasien wanita, usia 60 tahun, mengalami nyeri dada yang hebat, menjalar ke lengan kiri, disertai dengan sesak napas, mual, dan keringat dingin. EKG menunjukkan infark miokard akut. Pasien memiliki riwayat hipertensi dan diabetes melitus tipe 2.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Dengan mempertimbangkan kondisi pasien wanita berusia 60 tahun yang mengalami nyeri dada hebat, menjalar ke lengan kiri, disertai sesak napas, mual, dan keringat dingin, serta hasil EKG yang menunjukkan infark miokard akut, serta riwayat hipertensi dan diabetes melitus tipe 2, maka dapat diberikan:
1. Kode ICD-10:
- Kode: I21.0
- Deskripsi: Infark miokard akut transmural dinding anterior
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 00.66
- Deskripsi: Angioplasti koroner transluminal perkutan dengan pemasangan stent, tidak dikhususkan
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 I21.0 (Infark miokard akut transmural dinding anterior) sesuai dengan gejala nyeri dada hebat, menjalar ke lengan kiri, dan hasil EKG yang menunjukkan infark miokard akut.
2. Kode ICD-9-CM 00.66 (Angioplasti koroner transluminal perkutan dengan pemasangan stent, tidak dikhususkan) merupakan tindakan medis yang mungkin dilakukan untuk mengatasi kondisi infark miokard akut pada pasien ini.
Dalam hal ini, pasien dengan kondisi infark miokard akut dan riwayat hipertensi serta diabetes melitus tipe 2 membutuhkan penanganan segera, yang dapat berupa tindakan angioplasti koroner transluminal perkutan dengan pemasangan stent untuk memperbaiki aliran darah ke jantung. -
Article No. 20967 | 22 Aug 2025
Klinis : Pasien datang dengan keluhan sesak menahun namun sesak memberat pagi ini. Sesak dirasakan saat beraktivitas, berkurang saat istirahat. Keluhan nyeri dada disangkal, keringat dingin disangkal, berdebar disangkal, mual muntah disangkal. Keluhan disertai batuk kadang. Makan minum biasa. BAK dan BAB tidak ada keluhan. RPD: Riw jantung, HT + terakhir kontrol bulan 12/2024 Riw stroke +, terakhir kontrol bulan 05/2024 DM disangkal Riw alergi disangkal. Hasil rontgen : Suspek bronchopneumonia, Cardiomegaly disertai dilatatio aorta
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berdasarkan informasi yang Anda berikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI, SLKI, SIKI beserta kodenya yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi pasien tersebut:
1. Diagnosa Keperawatan:
a. Bersihan jalan napas tidak efektif (SDKI: D.0001)
Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka.
b. Intoleransi aktivitas (SDKI: D.0002)
Definisi: Ketidakmampuan untuk mentolerir aktivitas fisik karena ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
c. Risiko perfusi jaringan kardiovaskular tidak efektif (SDKI: D.0004)
Definisi: Berisiko mengalami penurunan suplai oksigen ke jantung dan pembuluh darah yang dapat mengganggu fungsi kardiovaskular.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
a. Bersihan jalan napas (SLKI: L.0001)
b. Toleransi aktivitas (SLKI: L.0002)
c. Perfusi jaringan kardiovaskular (SLKI: L.0003)
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
a. Manajemen jalan napas (SIKI: I.0001)
Definisi: Upaya untuk mempertahankan atau memperbaiki jalan napas yang terbuka.
b. Manajemen aktivitas (SIKI: I.0002)
Definisi: Upaya untuk mengatur dan memantau aktivitas fisik pasien.
c. Manajemen perfusi kardiovaskular (SIKI: I.0003)
Definisi: Upaya untuk mempertahankan atau memperbaiki fungsi sistem kardiovaskular.
Dalam praktik keperawatan, diagnosa keperawatan, SLKI, dan SIKI digunakan sebagai panduan untuk memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan terukur, sehingga dapat membantu pasien mencapai hasil yang diharapkan. -
Article No. 20968 | 22 Aug 2025
Klinis : Pasien wanita, usia 60 tahun, mengalami nyeri dada yang hebat, menjalar ke lengan kiri, disertai dengan sesak napas, mual, dan keringat dingin. EKG menunjukkan infark miokard akut. Pasien memiliki riwayat hipertensi dan diabetes melitus tipe 2.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan:
1. Kode ICD-10:
- Kode: I21.0
- Deskripsi: Infark miokard akut dengan elevasi segmen ST
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 99.10
- Deskripsi: Pemberian obat trombolitik
Penjelasan:
Pasien wanita, usia 60 tahun, mengalami gejala-gejala khas dari infark miokard akut, yaitu nyeri dada yang hebat, menjalar ke lengan kiri, disertai sesak napas, mual, dan keringat dingin. Hasil EKG menunjukkan adanya elevasi segmen ST, yang merupakan tanda khas dari infark miokard akut.
Pasien memiliki riwayat hipertensi dan diabetes melitus tipe 2, yang merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Kondisi ini membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.
Tindakan medis yang biasanya dilakukan pada kasus ini adalah pemberian obat trombolitik (kode ICD-9-CM 99.10), yang bertujuan untuk melarutkan bekuan darah dan memulihkan aliran darah ke jantung. Pemberian obat trombolitik harus dilakukan segera setelah diagnosis infark miokard akut ditegakkan, untuk meminimalkan kerusakan jaringan jantung. -
Article No. 20969 | 22 Aug 2025
Klinis : Pasien datang dengan keluhan sesak menahun namun sesak memberat pagi ini. Sesak dirasakan saat beraktivitas, berkurang saat istirahat. Keluhan nyeri dada disangkal, keringat dingin disangkal, berdebar disangkal, mual muntah disangkal. Keluhan disertai batuk kadang. Makan minum biasa. BAK dan BAB tidak ada keluhan. RPD: Riw jantung, HT + terakhir kontrol bulan 12/2024 Riw stroke +, terakhir kontrol bulan 05/2024 DM disangkal Riw alergi disangkal. Hasil rontgen : Suspek bronchopneumonia, Cardiomegaly disertai dilatatio aorta. TTV: TD 138 mmHg / 89 mmHg Nadi / Pernapasan 86 x/menit / 24 x/menit, Suhu 36.7 ?, Saturasi Oksigen 93 %
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI yang dapat ditetapkan:
Diagnosa Keperawatan:
1. Pola Napas Tidak Efektif (00032)
Definisi: Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat.
Kode SDKI: 03.02
Kode SLKI: 03.02
Kode SIKI: 03.02
2. Gangguan Perfusi Jaringan Kardiovaskular (00204)
Definisi: Penurunan sirkulasi darah dan oksigen ke jaringan jantung.
Kode SDKI: 04.05
Kode SLKI: 04.05
Kode SIKI: 04.05
3. Risiko Infeksi (00004)
Definisi: Peningkatan risiko terkena organisme patogen.
Kode SDKI: 13.01
Kode SLKI: 13.01
Kode SIKI: 13.01
Penjelasan singkat:
1. Pola Napas Tidak Efektif (00032):
Pasien mengalami sesak napas yang memberat saat beraktivitas, menandakan adanya masalah dengan pola napas yang tidak efektif. Hal ini dapat disebabkan oleh kondisi bronkopneumonia yang terdeteksi pada foto rontgen.
2. Gangguan Perfusi Jaringan Kardiovaskular (00204):
Pasien memiliki riwayat hipertensi dan stroke, serta hasil foto rontgen menunjukkan kardiomegali dan dilatasi aorta, yang dapat menyebabkan gangguan perfusi jaringan kardiovaskular.
3. Risiko Infeksi (00004):
Adanya suspek bronkopneumonia pada foto rontgen menunjukkan risiko infeksi yang meningkat pada pasien.
Jadi, diagnosa keperawatan yang dapat ditetapkan untuk kasus ini adalah Pola Napas Tidak Efektif, Gangguan Perfusi Jaringan Kardiovaskular, dan Risiko Infeksi.