Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 21021 | 24 Aug 2025
Klinis : defisit pengetahuan tentang IUD
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosis keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI untuk kondisi defisit pengetahuan tentang IUD berdasarkan standar yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).
Diagnosis Keperawatan:
Defisit Pengetahuan (00126)
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Defisit Pengetahuan (00126)
Definisi: Kekurangan atau keterbatasan informasi kognitif yang berkaitan dengan topik yang spesifik.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Pengetahuan Peningkatan Kesehatan (1805)
Definisi: Tingkat pemahaman dan kemampuan individu atau keluarga mengenai konsep dan proses yang diperlukan untuk meningkatkan kesehatan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Edukasi Kesehatan (6550)
Definisi: Pemberian informasi dan pengajaran secara terstruktur untuk memfasilitasi pemahaman dan pembelajaran tentang kesehatan.
Dalam konteks defisit pengetahuan tentang IUD, perawat dapat memberikan intervensi edukasi kesehatan untuk meningkatkan pemahaman pasien atau individu terkait penggunaan IUD sebagai metode kontrasepsi. Edukasi dapat mencakup informasi mengenai definisi, cara kerja, efektivitas, keuntungan, efek samping, serta prosedur pemasangan dan pelepasan IUD.
Dengan memberikan edukasi yang komprehensif, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan pasien dan membantu mereka dalam mengambil keputusan yang tepat terkait penggunaan IUD sebagai metode kontrasepsi. -
Article No. 21022 | 24 Aug 2025
Klinis : defisit pengetahuan tentang IUD
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \rtf1\ansi\ansicpg1252\deff0\nouicompat\deflang1057{\fonttbl{\f0\fnil\fcharset0 Calibri;}}
{\colortbl;\red0\green0\blue0;\red0\green0\blue255;\red255\green0\blue0;}
{\*\generator Riched20 10.0.22621}\viewkind4\uc1
\pard\sa200\sl276\slmult1\f0\fs22\lang1057\b Diagnosa Keperawatan:\b0 Defisit Pengetahuan tentang IUD\par
\b Kode SDKI:\b0 D.0018\par
\b Definisi (SDKI):\b0 Keadaan individu atau kelompok dengan informasi atau pemahaman yang tidak adekuat mengenai IUD (Intrauterine Device) sebagai metode kontrasepsi, termasuk mekanisme kerja, manfaat, efek samping, prosedur pemasangan, dan perawatan lanjutan.\par
\par
\b Kriteria Hasil (SLKI):\b0\par
\b Kode SLKI:\b0 L.15018 - \i Pengetahuan: Kontrasepsi\i0\par
\b Definisi (SLKI):\b0 Tingkat pemahaman tentang metode, efek, dan penggunaan alat atau obat kontrasepsi.\par
\b Indikator Perilaku (contoh):\par
1. Menyebutkan jenis IUD yang tersedia.\par
2. Menjelaskan mekanisme kerja IUD.\par
3. Mengidentifikasi manfaat penggunaan IUD.\par
4. Menyebutkan efek samping yang mungkin terjadi.\par
5. Menjelaskan prosedur pemasangan dan pencabutan IUD.\par
6. Menyatakan pentingnya kontrol berkala.\par
7. Menyebutkan tanda-tanda komplikasi yang perlu dilaporkan.\par
\par
\b Intervensi Keperawatan (SIKI):\b0\par
\b Kode SIKI:\b0 I.15021 - \i Edukasi: Kontrasepsi\i0\par
\b Definisi (SIKI):\b0 Pemberian informasi dan pembelajaran mengenai metode kontrasepsi untuk membantu individu membuat keputusan yang terinformasi.\par
\b Aktivitas Keperawatan (contoh):\par
1. Kaji tingkat pengetahuan klien tentang IUD.\par
2. Jelaskan pengertian, jenis, dan mekanisme kerja IUD.\par
3. Informasikan manfaat, kelebihan, dan kekurangan IUD.\par
4. Diskusikan efek samping dan cara mengatasinya.\par
5. Jelaskan prosedur pemasangan, durasi penggunaan, dan pencabutan.\par
6. Ajarkan tanda-tanda komplikasi yang memerlukan konsultasi medis.\par
7. Anjurkan kontrol berkala sesuai jadual.\par
8. Berikan bahan edukasi tertulis atau visual tentang IUD.\par
9. Evaluasi pemahaman klien dengan metode \i teach back\i0 .\par
\par
\b Catatan:\b0 Kode dan definisi mengacu pada \i Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) Edisi 5-6 yang ditetapkan oleh PPNI.\par
} -
Article No. 21023 | 24 Aug 2025
Klinis : nyeri melahirkan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi nyeri melahirkan, dengan nada akademis dan persona sebagai perawat pakar.
Diagnosa Keperawatan:
Nyeri Akut (NOAK)
Definisi SDKI:
Nyeri Akut (NOAK) adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau dijelaskan dalam istilah kerusakan semacam itu. Nyeri akut adalah nyeri yang terjadi secara tiba-tiba, bersifat sementara, dan biasanya berhubungan dengan suatu penyebab yang dapat diidentifikasi.
Kode SDKI: NOAK
Definisi SLKI:
Manajemen Nyeri (MNYI) adalah kemampuan individu dalam mengidentifikasi, mengurangi, dan mengontrol nyeri yang dirasakan.
Kode SLKI: MNYI
Definisi SIKI:
Pengkajian Nyeri (PNYI) adalah tindakan keperawatan yang dilakukan untuk mengidentifikasi karakteristik, lokasi, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri yang dialami individu.
Kode SIKI: PNYI
Sebagai perawat pakar, saya dapat menegakkan diagnosa keperawatan Nyeri Akut (NOAK) pada pasien yang mengalami nyeri melahirkan. Diagnosa ini didasarkan pada pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat proses persalinan. Dalam memberikan asuhan keperawatan, saya akan fokus pada Manajemen Nyeri (MNYI) untuk membantu pasien mengidentifikasi, mengurangi, dan mengontrol nyeri yang dirasakan, serta melakukan Pengkajian Nyeri (PNYI) untuk mendapatkan gambaran komprehensif mengenai karakteristik, lokasi, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri pasien. -
Article No. 21024 | 24 Aug 2025
Klinis : Sesek,pusing,ngliwet badan lemes
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI untuk kondisi yang Anda sebutkan, dengan nada akademis dan persona sebagai pakar perawat.
Diagnosa Keperawatan:
1. Pola Napas Tidak Efektif (00032)
Definisi: Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat.
SDKI (Standar Diagnostik Keperawatan Indonesia):
Pola Napas Tidak Efektif
Kode: 00032
Definisi: Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Pola Napas Efektif
Kode: 00032
Definisi: Tercapainya ventilasi yang adekuat.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Jalan Nafas
Kode: 00032
Definisi: Mempertahankan atau memulihkan jalan nafas terbuka untuk memfasilitasi pertukaran gas.
2. Manajemen Kelelahan (00093)
Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari.
SDKI (Standar Diagnostik Keperawatan Indonesia):
Kelelahan
Kode: 00093
Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Pemulihan Kelelahan
Kode: 00093
Definisi: Pemulihan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Energi
Kode: 00093
Definisi: Membantu klien untuk mengatur aktivitas dan istrahat untuk mencapai keseimbangan energi.
Jadi, berdasarkan gejala yang Anda sebutkan, yaitu sesak, pusing, badan lemas, maka diagnosa keperawatan yang dapat ditetapkan adalah Pola Napas Tidak Efektif dan Kelelahan. Penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI untuk masing-masing diagnosa juga telah saya berikan. -
Article No. 21025 | 24 Aug 2025
Klinis : Seorang laki-laki, 45 tahun, dibawa ke UGD akibat kecelakaan lalu lintas. Keluarga mengatakan pasien sempat muntah menyembur. Hasil pemeriksaan: pupil anisokor, deformitas tulang kepala, hematom periorbita, TD 162/95 mmHg, frekuensi nadi 58 kali / menit, frekuensi napas 30 kali / menit; GCS 12, fraktur tertutup pada tibia fibula. Pertanyaan 1. Sebutkan 3 diagnosa keperawatan yang muncul pada kasus di atas sesuai SDKI 2. Sebutkan 3 intervensi mandiri keperawatan dengan kasus di atas sesuai SIKI ?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI sesuai dengan kondisi yang Anda berikan.
1. Diagnosa Keperawatan sesuai SDKI:
a. Risiko Cedera Intrakranial (10024)
Definisi: Risiko mengalami kerusakan struktur dan fungsi otak akibat trauma atau luka pada kepala.
b. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (10009)
Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari jalan napas untuk mempertahankan bersihan jalan napas.
c. Nyeri Akut (10029)
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam istilah kerusakan.
2. Intervensi Mandiri Keperawatan sesuai SIKI:
a. Pemantauan Tanda Tanda Vital (80153)
Definisi: Pengumpulan dan pemantauan data tanda-tanda vital secara berkala untuk mendeteksi perubahan kondisi kesehatan.
b. Manajemen Nyeri (80122)
Definisi: Serangkaian kegiatan untuk mengidentifikasi dan mengendalikan faktor-faktor yang menyebabkan atau memperburuk nyeri.
c. Manajemen Jalan Napas (80124)
Definisi: Serangkaian kegiatan untuk mempertahankan dan memfasilitasi fungsi pernapasan yang adekuat.
Kode dan definisi yang saya berikan di atas berasal dari Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). -
Article No. 21026 | 24 Aug 2025
Klinis : Dyspnea ADHF/ NRM 15 lpm, RR 25 x/menit. TD 90/60 support dengan Dobutamin 5 mcg/kg/menit. lasix 5 mg/jam
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, sebagai seorang perawat profesional, saya akan memberikan analisis yang rinci dan terperinci terkait kondisi pasien yang Anda sampaikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
Berdasarkan kondisi pasien yang ditandai dengan Dyspnea ADHF/NRM 15 lpm, RR 25 x/menit, TD 90/60 dengan support Dobutamin 5 mcg/kg/menit dan Lasix 5 mg/jam, maka diagnosa keperawatan yang sesuai adalah:
1. Gangguan Pertukaran Gas (00030)
Definisi: Kekurangan oksigen dan/atau penumpukan karbondioksida pada tingkat seluler.
Karakteristik Definisi: Dispnea, takipnea, sianosis, dan perubahan saturasi oksigen.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Perbaikan Pertukaran Gas (0402)
Indikator:
- Frekuensi pernapasan dalam batas normal (0402.1)
- Irama pernapasan teratur (0402.2)
- Saturasi oksigen dalam batas normal (0402.3)
- Tidak ada tanda-tanda sianosis (0402.4)
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Jalan Napas (3120)
Tujuan: Mempertahankan jalan napas yang paten untuk memfasilitasi pertukaran gas yang adekuat.
Aktivitas:
- Kaji status pernapasan pasien (frekuensi, irama, kedalaman, dan ketidaknyamanan)
- Monitor oksigenasi jaringan (saturasi oksigen, warna kulit)
- Berikan oksigen sesuai kebutuhan
- Pertahankan posisi semi-fowler untuk memfasilitasi ekspansi paru
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain dalam pemberian terapi oksigen, ventilasi mekanik, atau intervensi lain yang diperlukan
2. Manajemen Cairan (4120)
Tujuan: Mempertahankan volume cairan yang adekuat untuk mendukung fungsi kardiovaskular.
Aktivitas:
- Monitor intake dan output cairan
- Pantau tanda-tanda dehidrasi atau overload cairan
- Berikan cairan intravena sesuai kebutuhan
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain dalam pemberian terapi cairan, diuretik, atau intervensi lain yang diperlukan
3. Manajemen Kardiovaskular (4040)
Tujuan: Mempertahankan fungsi kardiovaskular yang optimal.
Aktivitas:
- Monitor tanda-tanda vital, irama jantung, dan perfusi perifer
- Pantau efek terapi vasopressor atau inotropik yang diberikan
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain dalam pemberian terapi kardiovaskular yang diperlukan
Penjelasan rinci:
Diagnosa keperawatan "Gangguan Pertukaran Gas" dipilih karena pasien mengalami gejala dispnea, takipnea, dan penurunan saturasi oksigen yang merupakan tanda-tanda gangguan pertukaran gas. Luaran yang diharapkan adalah perbaikan pertukaran gas, ditandai dengan frekuensi pernapasan normal, irama pernapasan teratur, saturasi oksigen dalam batas normal, dan tidak ada tanda-tanda sianosis.
Intervensi keperawatan yang diperlukan meliputi manajemen jalan napas untuk mempertahankan jalan napas yang paten, manajemen cairan untuk mempertahankan volume cairan yang adekuat, dan manajemen kardiovaskular untuk mempertahankan fungsi kardiovaskular yang optimal. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain, seperti pemberian oksigen, terapi cairan, dan terapi kardiovaskular, juga diperlukan untuk mencapai tujuan luaran yang diharapkan.
Semoga penjelasan ini dapat membantu Anda dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, jangan ragu untuk menghubungi saya.
Wassalamualaikum. -
Article No. 21027 | 24 Aug 2025
Klinis : Dyspnea ADHF/ NRM 15 lpm, RR 20 x/menit. TD 90/60 support dengan Dobutamin 5 mcg/kg/menit. lasix 5 mg/jam. Saturasi 98%
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, Selamat siang. Berikut adalah penjelasan rinci terkait kondisi yang Anda berikan:
Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
Berdasarkan kondisi yang disebutkan, yaitu Dyspnea ADHF (Acute Decompensated Heart Failure) dengan dukungan O2 15 lpm, RR 20x/menit, TD 90/60 mmHg dengan tukak Dobutamin 5 mcg/kg/menit, dan pemberian Lasix 5 mg/jam, maka diagnosa keperawatan yang sesuai adalah:
1. Pola Napas Tidak Efektif
Definisi: Ketidakmampuan untuk bernapas dengan nyaman, yang dapat mengancam kesehatan.
Faktor yang Berhubungan: Penyakit jantung, edema paru, Acute Decompensated Heart Failure (ADHF)
2. Perfusi Jaringan Tidak Efektif
Definisi: Penurunan sirkulasi darah ke jaringan perifer yang dapat mengancam kesehatan.
Faktor yang Berhubungan: Penurunan curah jantung, Acute Decompensated Heart Failure (ADHF), hipotensi
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Pola Napas Tidak Efektif:
- Pasien menunjukkan pola napas yang dalam dan teratur
- Pasien menunjukkan SpO2 yang meningkat menjadi 98-100%
- Pasien menunjukkan RR yang menurun menjadi 12-20x/menit
2. Perfusi Jaringan Tidak Efektif:
- Pasien menunjukkan peningkatan tekanan darah menjadi 110/70 mmHg
- Pasien menunjukkan peningkatan nadi perifer yang kuat dan teratur
- Pasien menunjukkan peningkatan suhu kulit ekstremitas
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Pola Napas Tidak Efektif:
- Monitor dan catat pola napas, frekuensi, irama, dan kedalaman
- Berikan oksigenasi sesuai kebutuhan (15 lpm)
- Kolaborasi pemberian terapi diuretik (Lasix 5 mg/jam)
- Kolaborasi pemberian inotropik (Dobutamin 5 mcg/kg/menit)
- Ajarkan teknik napas dalam dan latihan batuk efektif
2. Perfusi Jaringan Tidak Efektif:
- Monitor tanda-tanda vital secara berkala
- Kolaborasi pemberian cairan intravena dan vasopresor (Dobutamin)
- Posisikan pasien dengan kepala tempat tidur elevasi 30-45 derajat
- Pantau intake dan output cairan
- Kaji tanda-tanda sirkulasi perifer (suhu, warna, dan nadi)
Penjelasan Rinci:
Diagnosa keperawatan yang ditetapkan adalah Pola Napas Tidak Efektif dan Perfusi Jaringan Tidak Efektif. Hal ini didasarkan pada gejala klinis yang ditunjukkan pasien, yaitu Dyspnea ADHF dengan dukungan oksigen 15 lpm, RR 20x/menit, dan hipotensi (TD 90/60 mmHg) yang membutuhkan dukungan Dobutamin dan diuretik (Lasix).
Luaran/output yang diharapkan adalah stabilisasi pola napas dengan penurunan RR menjadi 12-20x/menit, peningkatan SpO2 menjadi 98-100%, serta peningkatan tekanan darah menjadi 110/70 mmHg, perbaikan sirkulasi perifer, dan peningkatan suhu ekstremitas.
Intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran tersebut meliputi pemantauan keadaan pernapasan dan sirkulasi, pemberian oksigen, kolaborasi terapi farmakologis, serta edukasi dan latihan teknik napas dalam dan batuk efektif. Semua intervensi ini bertujuan untuk memulihkan fungsi kardiopulmonal dan memperbaiki perfusi jaringan.
Semoga penjelasan ini bermanfaat. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, silakan ditanyakan. Wassalamualaikum. -
Article No. 21028 | 24 Aug 2025
Klinis : gangguan rasa nyaman b.d gejala penyakit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi "gangguan rasa nyaman b.d gejala penyakit" dengan nada akademis dan persona sebagai pakar/perawat.
Diagnosa Keperawatan:
Gangguan Rasa Nyaman (00214)
Definisi:
Pengalaman subyektif dan kompleks dari ketidaknyamanan, ketegangan, atau kekhawatiran yang disebabkan oleh respon fisiologis, psikologis, spiritual, atau emosional terhadap stimulus yang dirasakan.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Kode: 00214
Definisi: Pengalaman subyektif dan kompleks dari ketidaknyamanan, ketegangan, atau kekhawatiran yang disebabkan oleh respon fisiologis, psikologis, spiritual, atau emosional terhadap stimulus yang dirasakan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Kode: 10011 Kenyamanan Fisik
Definisi: Persepsi individu terhadap ketenangan, ketentraman, dan kepuasan yang dirasakan dari aspek fisik.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Kode: 6320 Manajemen Rasa Nyaman
Definisi: Tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan perasaan tenang, bebas dari ketegangan atau kekhawatiran, dan kepuasan yang dialami pasien.
Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat perlu melakukan pengkajian komprehensif, menetapkan diagnosa keperawatan yang sesuai, merencanakan intervensi yang tepat, dan melakukan evaluasi untuk memastikan tercapainya luaran yang diharapkan. Pemahaman terhadap SDKI, SLKI, dan SIKI menjadi sangat penting bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas dan berpusat pada pasien. -
Article No. 21029 | 24 Aug 2025
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosis awal pada pasien pria usia 45 tahun dengan keluhan batuk berdahak, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan, serta hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas dan lesi di paru, adalah:
1. Kode ICD-10:
- Kode: A15.0
- Deskripsi: Tuberkulosis paru dengan konfirmasi bakteriologis dan histologis
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 87.49
- Deskripsi: Pemeriksaan kultur jaringan lain, termasuk pemeriksaan sitologis
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 A15.0 (Tuberkulosis paru dengan konfirmasi bakteriologis dan histologis) digunakan untuk menegakkan diagnosis tuberkulosis paru pada pasien ini, dengan mempertimbangkan gejala klinis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan radiologis.
2. Kode ICD-9-CM 87.49 (Pemeriksaan kultur jaringan lain, termasuk pemeriksaan sitologis) dapat digunakan untuk prosedur pengambilan sampel jaringan atau cairan untuk pemeriksaan kultur dan analisis sitologi, yang mungkin diperlukan untuk konfirmasi diagnosis tuberkulosis.
Dalam praktik klinis, pemeriksaan lebih lanjut seperti uji sensitivitas obat-obatan, tes diagnostik lainnya, dan perawatan yang sesuai akan diperlukan untuk mengelola kondisi pasien dengan tepat. -
Article No. 21030 | 24 Aug 2025
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi pasien tersebut:
Berdasarkan kondisi pasien yang diberikan, yaitu pasien pria usia 45 tahun dengan keluhan batuk berdahak, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan, serta hasil pemeriksaan yang menunjukkan adanya lesi di paru dengan diagnosis awal tuberkulosis paru, maka diagnosa keperawatan SDKI yang sesuai adalah:
a. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Bersihan jalan napas tidak efektif ditandai dengan adanya batuk berdahak, suara napas bronkial, dan hasil rontgen yang menunjukkan adanya lesi di paru. Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan ventilasi dan oksigenasi.
b. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas
Ketidakefektifan bersihan jalan napas ditandai dengan adanya sekresi yang berlebihan dan kesulitan dalam mengeluarkan dahak, serta sesak napas yang dialami oleh pasien.
c. Intoleransi Aktivitas
Intoleransi aktivitas ditandai dengan adanya keluhan kehilangan nafsu makan dan penurunan fungsi fisiologis pasien, yang dapat menyebabkan penurunan kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
a. Bersihan Jalan Napas
- Pasien dapat mengeluarkan dahak dengan efektif
- Pasien dapat mempertahankan patensi jalan napas
- Tidak ada komplikasi pernapasan, seperti pneumonia atau atelektasis
b. Toleransi Aktivitas
- Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan
- Pasien dapat mempertahankan atau meningkatkan status nutrisi
- Pasien dapat berpartisipasi dalam perawatan diri
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
a. Intervensi untuk Bersihan Jalan Napas:
- Lakukan terapi inhalasi, seperti bronkodilator dan mukolitik, untuk membantu mengeluarkan dahak
- Lakukan tindakan batuk efektif dan latihan pernapasan untuk meningkatkan kemampuan pasien dalam mengeluarkan dahak
- Lakukan suction jika diperlukan untuk membantu mengeluarkan dahak
- Berikan posisi semi-fowler untuk memfasilitasi drainase jalan napas
- Pantau tanda-tanda vital dan oksigenasi pasien
b. Intervensi untuk Toleransi Aktivitas:
- Lakukan pengkajian status nutrisi pasien dan berikan intervensi nutrisi yang sesuai, seperti pemberian makanan tambahan atau suplemen, untuk mempertahankan atau meningkatkan status nutrisi
- Lakukan pengkajian tingkat aktivitas pasien dan berikan latihan fisik yang sesuai untuk meningkatkan toleransi aktivitas
- Ajarkan teknik-teknik konservasi energi dan manajemen kelelahan kepada pasien
- Libatkan pasien dalam perawatan diri sesuai dengan kemampuannya
Penjelasan di atas mencakup diagnosa keperawatan SDKI, luaran/output yang diharapkan setelah asuhan keperawatan (SLKI), dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran (SIKI) berdasarkan kondisi pasien yang diberikan. Semoga penjelasan ini dapat memberikan pemahaman yang jelas dan komprehensif.