Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 21162 | 27 Aug 2025
Klinis : pasien mengatakan pusing,tekanan darah menurun mual
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi berikut: pasien mengatakan pusing, tekanan darah menurun, dan mual.
Diagnosa Keperawatan yang sesuai adalah:
1. Hipovolemia
Definisi: Penurunan volume cairan ekstrasel yang menyebabkan gangguan sirkulasi.
Karakteristik Definisi:
- Pasien mengeluh pusing
- Tekanan darah menurun
- Mual
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI)
1. Stabilitas Hemodinamik
Definisi: Kemampuan untuk mempertahankan fungsi kardiovaskular yang adekuat.
Kriteria Hasil:
- Tekanan darah sistolik dalam rentang normal
- Nadi teraba kuat dan teratur
- Tidak ada tanda-tanda hipovolemia (seperti pusing, mual, atau kulit pucat)
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI)
1. Manajemen Hipovolemia
Definisi: Tindakan untuk mempertahankan volume cairan yang adekuat.
Aktivitas Keperawatan:
- Kaji tanda-tanda hipovolemia (pusing, mual, tekanan darah menurun)
- Berikan cairan intravena sesuai dengan kebutuhan
- Monitor intake dan output cairan
- Monitor tanda-tanda vital secara berkala
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk pemberian terapi cairan yang tepat
Penjelasan rinci dan terperinci:
Diagnosa Keperawatan Hipovolemia dipilih karena kondisi pasien menunjukkan tanda-tanda penurunan volume cairan ekstrasel, yaitu pusing, tekanan darah menurun, dan mual. Hipovolemia dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kehilangan cairan berlebihan, kurang asupan cairan, atau perdarahan.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan adalah Stabilitas Hemodinamik, yang mencakup pemulihan fungsi kardiovaskular yang adekuat. Kriteria hasil yang diharapkan adalah tekanan darah sistolik dalam rentang normal, nadi teraba kuat dan teratur, serta tidak ada tanda-tanda hipovolemia lainnya.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran adalah Manajemen Hipovolemia. Aktivitas keperawatan yang dapat dilakukan mencakup pengkajian tanda-tanda hipovolemia, pemberian cairan intravena sesuai kebutuhan, pemantauan intake dan output cairan, pemantauan tanda-tanda vital secara berkala, serta kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk memberikan terapi cairan yang tepat. Tujuan dari intervensi ini adalah untuk mempertahankan volume cairan yang adekuat dan memperbaiki kondisi hemodinamik pasien. -
Article No. 21062 | 26 Aug 2025
Klinis : Pasien mengatakan mual sejak kemarin, tidak bisa tidur, gula darah 215, makanan masuk sedikit, nafsu makan kurang
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi berikut:
- Pasien mengatakan mual sejak kemarin, tidak bisa tidur, gula darah 215, makanan masuk sedikit, nafsu makan kurang.
Berdasarkan kondisi yang diberikan, diagnosa keperawatan SDKI yang sesuai adalah:
a. Mual (00134): Sensasi tidak nyaman di perut yang dapat menyebabkan rasa ingin muntah.
b. Gangguan Pola Tidur (00198): Gangguan dalam kuantitas dan/atau kualitas tidur yang mengganggu fungsi sehari-hari.
c. Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh (00002): Asupan nutrisi yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
a. Mual (00134):
- Pasien melaporkan mual berkurang.
- Pasien menunjukkan tanda-tanda vital yang stabil.
- Pasien mendemonstrasikan teknik untuk mengurangi mual.
b. Gangguan Pola Tidur (00198):
- Pasien melaporkan pola tidur yang membaik.
- Pasien menunjukkan tanda-tanda vital yang stabil.
- Pasien mendemonstrasikan teknik untuk meningkatkan kualitas tidur.
c. Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh (00002):
- Pasien menunjukkan peningkatan berat badan.
- Pasien melaporkan peningkatan nafsu makan.
- Pasien mendemonstrasikan pemilihan dan konsumsi makanan yang sesuai.
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
a. Mual (00134):
- Pantau tanda-tanda vital pasien.
- Bantu pasien mengidentifikasi faktor-faktor pemicu mual.
- Ajarkan teknik manajemen mual, seperti relaksasi, pernafasan dalam, dan distraksi.
- Pertimbangkan pemberian antiemetik sesuai indikasi.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk mengatasi penyebab mual.
b. Gangguan Pola Tidur (00198):
- Kaji pola tidur pasien dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
- Ajarkan teknik manajemen tidur, seperti sleep hygiene dan relaksasi.
- Hindari stimulan sebelum tidur dan sediakan lingkungan yang nyaman.
- Pertimbangkan pemberian obat tidur sesuai indikasi.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk mengatasi penyebab gangguan tidur.
c. Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh (00002):
- Kaji status nutrisi pasien, termasuk asupan, berat badan, dan riwayat makan.
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun rencana diet yang sesuai.
- Bantu pasien dalam memilih dan mengonsumsi makanan yang bergizi.
- Pantau intake dan output cairan serta timbang badan secara teratur.
- Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi yang adekuat.
Semoga penjelasan ini dapat membantu Anda dalam merencanakan asuhan keperawatan yang komprehensif untuk pasien dengan kondisi yang Anda paparkan. Jika ada pertanyaan lain, jangan ragu untuk menanyakannya. -
Article No. 21063 | 26 Aug 2025
Klinis : Pasien datang dengan keluhan batuk berdahak sudah 3 hari
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah penjelasan rinci mengenai diagnosa, luaran, dan intervensi keperawatan yang sesuai untuk kondisi pasien dengan keluhan batuk berdahak selama 3 hari:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi pasien dengan keluhan batuk berdahak selama 3 hari adalah "Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif". Diagnosa ini mencerminkan adanya ketidakmampuan pasien untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan, yang ditandai dengan gejala batuk produktif. Kondisi ini dapat menyebabkan ventilasi dan oksigenasi yang tidak optimal.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Bersihan Jalan Napas: Pasien dapat mempertahankan jalan napas yang bersih dan bebas dari obstruksi.
2. Status Pernapasan: Pasien menunjukkan pola pernapasan yang efektif dan oksigenasi yang adekuat.
3. Pengendalian Batuk: Pasien dapat mengendalikan batuk secara efektif dan produktif.
4. Pengetahuan: Pasien memahami penyebab, tanda dan gejala, serta tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah bersihan jalan napas.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Jalan Napas
- Auskultasi suara napas dan identifikasi adanya suara napas tambahan
- Lakukan fisioterapi dada untuk membantu pengeluaran sekresi
- Berikan posisi semifowler untuk memfasilitasi pernapasan
- Berikan oksigen sesuai kebutuhan untuk mempertahankan oksigenasi
- Anjurkan pasien untuk melakukan latihan batuk efektif dan melakukan deep breathing
2. Manajemen Batuk
- Identifikasi pola dan karakteristik batuk
- Ajarkan teknik batuk efektif untuk mengeluarkan sekresi
- Berikan obat antitusif atau mukolitik sesuai indikasi medis
- Anjurkan pasien untuk minum air hangat atau teh herbal untuk melembabkan tenggorokan
3. Edukasi Kesehatan
- Jelaskan penyebab dan gejala batuk berdahak
- Ajarkan pasien tentang cara perawatan diri yang tepat, termasuk hidrasi, istirahat, dan menjaga kebersihan
- Motivasi pasien untuk melakukan tindakan-tindakan yang dapat membantu pengeluaran sekresi
Penerapan intervensi keperawatan yang komprehensif dan berpusat pada pasien diharapkan dapat membantu pasien mencapai luaran yang diharapkan, yaitu mempertahankan jalan napas yang bersih, status pernapasan yang efektif, serta pengendalian batuk yang optimal. -
Article No. 21064 | 26 Aug 2025
Klinis : pasien datang dengan keluhan mata bertambah rabun
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Terima kasih atas pertanyaan Anda. Sebagai perawat profesional, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
Berdasarkan keluhan pasien yang datang dengan mata bertambah rabun, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah "Gangguan Penglihatan" (SDKI). Diagnosa ini mencakup perubahan atau penurunan kemampuan visual yang mempengaruhi fungsi dan aktivitas sehari-hari pasien.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah dilakukan asuhan keperawatan, luaran atau hasil yang diharapkan adalah:
1. Peningkatan Penglihatan: Pasien menunjukkan peningkatan kemampuan visual, seperti tajam penglihatan yang membaik, berkurangnya kabur, dan kemampuan melihat jarak jauh yang meningkat.
2. Peningkatan Kemandirian: Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri tanpa hambatan visual yang signifikan.
3. Penurunan Risiko Cedera: Pasien dapat menghindari risiko cedera akibat gangguan penglihatan, seperti terjatuh atau menabrak objek.
4. Peningkatan Kualitas Hidup: Pasien menunjukkan peningkatan kesejahteraan dan kepuasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari akibat perbaikan fungsi visual.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan (SIKI):
Untuk mencapai luaran yang diharapkan, berikut adalah intervensi keperawatan yang dapat dilakukan:
1. Asesmen Penglihatan: Melakukan asesmen yang komprehensif terkait fungsi penglihatan pasien, termasuk tajam penglihatan, lapang pandang, adaptasi cahaya, dan lainnya.
2. Edukasi dan Konseling: Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai gangguan penglihatan yang dialami, penyebabnya, dan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah.
3. Kolaborasi dengan Spesialis: Berkoordinasi dengan spesialis oftalmologi untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan menentukan intervensi medis yang tepat, seperti pemberian kacamata, obat-obatan, atau tindakan operatif.
4. Manajemen Lingkungan: Mengatur lingkungan sekitar pasien agar aman dan mendukung fungsi visual, misalnya dengan penerangan yang cukup, kontras warna yang baik, dan menghilangkan potensi bahaya.
5. Latihan Fungsi Visual: Memberikan latihan-latihan khusus untuk meningkatkan fungsi visual, seperti latihan akomodasi, konvergensi, dan sensitivitas kontras.
6. Dukungan Psikososial: Memberikan dukungan psikologis kepada pasien agar dapat beradaptasi dengan perubahan fungsi visual dan meningkatkan kualitas hidup.
Melalui penerapan intervensi keperawatan yang komprehensif, diharapkan pasien dapat mencapai luaran yang diharapkan, yaitu peningkatan penglihatan, kemandirian, penurunan risiko cedera, dan peningkatan kualitas hidup. -
Article No. 21065 | 26 Aug 2025
Klinis : pasien datang dengan keluhan sakit pinggang
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan kondisi pasien yang datang dengan keluhan sakit pinggang, berikut adalah diagnosis keperawatan, penjelasan singkat, serta kode dan definisi dari SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosis Keperawatan:
1. Nyeri Akut (00132)
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau yang dijelaskan dalam istilah seperti kerusakan tersebut (International Association for the Study of Pain).
SLKI:
1. Kontrol Nyeri (1605)
Definisi: Kemampuan individu untuk mengendalikan rasa nyeri.
SIKI:
1. Manajemen Nyeri (1400)
Definisi: Tindakan untuk memfasilitasi pengurangan nyeri dan peningkatan toleransi terhadap nyeri yang tidak dapat dihilangkan.
Penjelasan Singkat:
Pasien datang dengan keluhan sakit pinggang, yang dapat diidentifikasi sebagai diagnosis keperawatan "Nyeri Akut" (00132). Ini adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan. Luaran yang diharapkan adalah "Kontrol Nyeri" (1605), yaitu kemampuan individu untuk mengendalikan rasa nyeri. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah "Manajemen Nyeri" (1400), yang melibatkan tindakan untuk memfasilitasi pengurangan nyeri dan peningkatan toleransi terhadap nyeri yang tidak dapat dihilangkan. -
Article No. 21066 | 26 Aug 2025
Klinis : MUSKULOSKELETAL KASUS 2 FRAKTUR Seorang pasien, seorang wanita berusia 41 tahun, dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) setelah mengalami kecelakaan lalu lintas. Pasien adalah pengendara sepeda motor yang mengalami kecelakaan akibat tertabrak sepeda motor lain dari arah samping kiri. Pasien jatuh ke kanan dan menabrak pembatas jalan. Pada saat kejadian, pasien dalam keadaan sadar, tanpa tanda-tanda cedera kepala. Pada cruris kanan, terdapat swelling dan deformitas tanpa adanya vulnus apertum. Nyeri tekan dan krepitasi ditemukan pada palpasi, yang disertai dengan ketidakmampuan pasien melakukan knee flexion dan keterbatasan rentang gerak (ROM). Pemeriksaan x-ray dan CT scan menunjukkan adanya fraktur komunitif pada genu kanan. Saat ini pasien dirawat diruang trauma post operasi ORIF hari ke – 2 dan dalam kondisi tidak saadar atau disorientasi. Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital menunjukkan tekanan darah 120/70 mmHg, frekuensi pernapasan 20 kali per menit, nadi 82 kali per menit, dan suhu tubuh 36,8ºC. Selanjutnya, kaki pasien tampak dibalut dengan tensocrepe dan verban. Hasil pengkajian didapatkan verban dan tensocrepe tampak basah dan terdapat rembesan darah. Drainase aktif dengan jumlah volume ± 30 ml/24 jam. Pasien mengatakan nafsu makan sedikit menurun karena nyeri post operasi dan sedikit mual. Saat ini pasien menggunakan folley catheter untuk BAK. Saat pengkajian tampak urine berwarna kuning jernih. Tidak terdapat informasi khusus mengenai pola eliminasi pada pasien ini. Pasien mengeluh mengalami gangguan tidur akibat nyeri yang dialami nya saat ini, pasien mengatakan sulit untuk memulai tidur dan sering terbangun ketika tidur malam hari. Pasien mengatakan sulit memulai tertidur lagi ketika terbangun dan mengatakan mungkin hanya tidur tertidur ± 5 jam. Pasien melaporkan adanya nyeri hebat pada kaki kanan, yang terus-menerus dan mengganggu. Hasil pengkajian didapatkan pasien mengeluh nyeri muncul sepanjang waktu nyeri seperti tertusuk – tusuk dan seperti disayat pada daerah operasi ORIF, nyeri berkurang setelah mendapatkan analgesik dan skala nyeri 6. Tidak ada keluhan lain terkait penglihatan, pendengaran, atau kemampuan berpikir. Pasien juga menunjukkan kecemasan terkait kondisi cederanya, khawatir bahwa ia mungkin tidak bisa pulih sepenuhnya. Pasien adalah seorang ibu rumah tangga yang aktif dalam mengurus keluarga dan pekerjaan rumah. Cedera yang dialaminya menimbulkan kekhawatiran akan kemampuannya untuk kembali menjalankan peran dan tanggung jawabnya. Pasien merasa terganggu dengan kondisi fisiknya yang terbatas dan takut menjadi beban bagi keluarganya. Ia juga merasa cemas tentang kemungkinan perlunya operasi dan rehabilitasi jangka panjang. Pasien seorang ibu dari dua anak dan istri yang sangat terlibat dalam keluarga. Sebelum kecelakaan, ia berperan sebagai pengurus utama rumah tangga. Cedera ini menyebabkan Ny. H tidak mampu menjalankan peran tersebut. Suaminya kini harus mengambil alih sebagian besar tugas rumah tangga. Selanjutnya, pasien mengatakan tidak masalah terkait fungsi seksual atau reproduksi. Namun, ia khawatir bahwa cedera ini dan ketidakmampuan fisiknya dapat mempengaruhi keintiman dengan suaminya, meskipun belum ada perubahan yang signifikan dalam hubungan tersebut sejak operasi ORIF. Pasien mengatakan tidak stres menghadapi kondisi ini karena support suami dan keluarga sangat membantu nya. Pasien mengatakan selalu berbicara dengan keluarga dan berdoa terkait kondisinya saat ini. Pasien merasa banyak mendapat dukungan dalam menghadapi situasi ini. Pasien memiliki keyakinan agama yang kuat. Hal ini terlihat dalam rutinitas sehar-hari pasien selama perawatan dimana pasien tetap menjalankan aktivitas ibadah sholat meskipun dalam kondisi terbatas. Pasien mengatakan dalam doanya ia meminta agar dapat pulih sepenuhnya dan kembali menjalani hidup normal. Hasil pemeriksaan penunjang pre-op ORIF Saat ini pasien mendapatkan therapy : IVFD RL 500cc 20 tetes/menit Cefriaxson 2x1 gram /12 Jam (IV) Ranitidine 2x1 gram /12 Jam (IV) Ketorolac 2 x 30 mg/12 jam (IV)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kasus yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI yang dapat ditetapkan untuk kondisi muskuloskeletal dengan kasus fraktur:
1. Diagnosa Keperawatan: Gangguan Mobilitas Fisik
SDKI Kode: 00085
Definisi: Keterbatasan dalam pergerakan independen, yang bertujuan untuk berpindah atau bergerak secara bebas di lingkungan.
2. Diagnosa Keperawatan: Nyeri Akut
SDKI Kode: 00132
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau dijelaskan dalam istilah kerusakan tersebut.
3. Diagnosa Keperawatan: Kecemasan
SDKI Kode: 00146
Definisi: Perasaan tidak nyaman atau khawatir yang disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya.
4. Diagnosa Keperawatan: Gangguan Pola Tidur
SDKI Kode: 00198
Definisi: Gangguan kuantitas dan kualitas tidur yang mengganggu fungsi sehari-hari.
5. Diagnosa Keperawatan: Gangguan Integritas Kulit
SDKI Kode: 00046
Definisi: Kerusakan epidermis dan/atau dermis.
Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) adalah daftar diagnosis keperawatan yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) adalah daftar luaran keperawatan yang ditetapkan oleh PPNI.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) adalah daftar intervensi keperawatan yang ditetapkan oleh PPNI.
Masing-masing diagnosis keperawatan memiliki kode dan definisi yang telah ditetapkan oleh PPNI. Contoh: Gangguan Mobilitas Fisik (SDKI Kode: 00085) didefinisikan sebagai keterbatasan dalam pergerakan independen, yang bertujuan untuk berpindah atau bergerak secara bebas di lingkungan. -
Article No. 21067 | 26 Aug 2025
Klinis : pasien suspek TB. Terlihat syok. lemes. diagnosa dokter syok hipovolemik. asering 1500cc/24 jam. tidak nafsu makan dan minum
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan senang hati, saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci terkait kondisi pasien yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
1. Hipovolemia berhubungan dengan kehilangan cairan dan elektrolit sekunder akibat syok hipovolemik.
Penjelasan: Pasien mengalami syok hipovolemik yang ditandai dengan gejala seperti lemas, asering (pengeluaran cairan melebihi 1500 cc/24 jam), dan tidak nafsu makan/minum. Kondisi ini menunjukkan adanya kehilangan cairan dan elektrolit yang signifikan, sehingga diagnosa keperawatan yang tepat adalah Hipovolemia.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Keseimbangan Cairan: Pasien akan menunjukkan tanda-tanda restorasi volume cairan yang adekuat, seperti peningkatan tekanan darah, denyut nadi yang kuat, dan produksi urin yang memadai.
2. Perfusi Jaringan: Pasien akan menunjukkan peningkatan perfusi jaringan yang ditandai dengan membaik-nya warna kulit, suhu ekstremitas, dan pengisian kapiler.
3. Tidak Ada Tanda-Tanda Syok: Pasien akan menunjukkan tidak ada tanda-tanda syok, seperti takikardia, penurunan tekanan darah, dan penurunan kesadaran.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Cairan
a. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian cairan intravena yang sesuai, seperti cairan kristaloid (misalnya: Ringer Laktat, Normal Saline).
b. Pantau intake dan output cairan secara ketat, termasuk pengeluaran urin, muntah, dan diare.
c. Pertahankan akses intravena yang adekuat untuk pemberian cairan dan obat-obatan.
2. Pemantauan Tanda Vital
a. Ukur dan catat tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, respirasi, suhu) secara berkala.
b. Pantau perubahan tanda-tanda vital yang dapat mengindikasikan perbaikan atau penurunan kondisi.
3. Manajemen Nutrisi
a. Berikan nutrisi enteral atau parenteral sesuai dengan kebutuhan pasien.
b. Dorong pasien untuk mengonsumsi makanan dan minuman sesuai dengan toleransinya.
c. Pantau intake dan output cairan untuk memastikan keseimbangan cairan yang adekuat.
4. Manajemen Kenyamanan
a. Berikan tindakan keperawatan untuk meningkatkan kenyamanan pasien, seperti posisi yang nyaman dan manajemen nyeri.
b. Libatkan keluarga dalam mendukung kenyamanan pasien.
Penjelasan rinci untuk setiap poin di atas:
1. Diagnosa Keperawatan SDKI:
- Hipovolemia berhubungan dengan kehilangan cairan dan elektrolit sekunder akibat syok hipovolemik.
- Pasien mengalami syok hipovolemik yang ditandai dengan gejala seperti lemas, asering (pengeluaran cairan melebihi 1500 cc/24 jam), dan tidak nafsu makan/minum. Kondisi ini menunjukkan adanya kehilangan cairan dan elektrolit yang signifikan, sehingga diagnosa keperawatan yang tepat adalah Hipovolemia.
2. Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
- Keseimbangan Cairan: Pasien akan menunjukkan tanda-tanda restorasi volume cairan yang adekuat, seperti peningkatan tekanan darah, denyut nadi yang kuat, dan produksi urin yang memadai.
- Perfusi Jaringan: Pasien akan menunjukkan peningkatan perfusi jaringan yang ditandai dengan membaik-nya warna kulit, suhu ekstremitas, dan pengisian kapiler.
- Tidak Ada Tanda-Tanda Syok: Pasien akan menunjukkan tidak ada tanda-tanda syok, seperti takikardia, penurunan tekanan darah, dan penurunan kesadaran.
3. Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
- Manajemen Cairan:
- Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian cairan intravena yang sesuai, seperti cairan kristaloid (misalnya: Ringer Laktat, Normal Saline).
- Pantau intake dan output cairan secara ketat, termasuk pengeluaran urin, muntah, dan diare.
- Pertahankan akses intravena yang adekuat untuk pemberian cairan dan obat-obatan.
- Pemantauan Tanda Vital:
- Ukur dan catat tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, respirasi, suhu) secara berkala.
- Pantau perubahan tanda-tanda vital yang dapat mengindikasikan perbaikan atau penurunan kondisi.
- Manajemen Nutrisi:
- Berikan nutrisi enteral atau parenteral sesuai dengan kebutuhan pasien.
- Dorong pasien untuk mengonsumsi makanan dan minuman sesuai dengan toleransinya.
- Pantau intake dan output cairan untuk memastikan keseimbangan cairan yang adekuat.
- Manajemen Kenyamanan:
- Berikan tindakan keperawatan untuk meningkatkan kenyamanan pasien, seperti posisi yang nyaman dan manajemen nyeri.
- Libatkan keluarga dalam mendukung kenyamanan pasien.
Saya berharap penjelasan yang rinci dan terperinci ini dapat membantu Anda dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif bagi pasien suspek TB dengan syok hipovolemik. Jangan ragu untuk menanyakan lebih lanjut jika Anda membutuhkan informasi tambahan. -
Article No. 21068 | 26 Aug 2025
Klinis : pasien lemas, hampir pingsan, badan terasa sakit-sakit, pasien merasa demam namun saat di suhu, suhu normal karena pasien baru meminum paracetamol
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Dengan kondisi yang Anda deskripsikan, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis yang mungkin sesuai:
1. Kode ICD-10:
- Kode: R53.81
- Deskripsi: Kelelahan
Penjelasan:
- Gejala lemas, hampir pingsan, dan badan terasa sakit-sakit dapat diklasifikasikan sebagai kelelahan (R53.81) menurut Klasifikasi Internasional Penyakit Revisi Kesepuluh (ICD-10).
- Kode R53.81 digunakan untuk kondisi yang ditandai dengan perasaan lelah yang berlebihan dan tidak dapat dijelaskan oleh aktivitas fisik atau kondisi medis lainnya.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 99.25
- Deskripsi: Pemberian analgesik antipiretik
Penjelasan:
- Jika pasien telah meminum paracetamol untuk menurunkan demam, maka tindakan medis yang sesuai adalah pemberian analgesik antipiretik, yang dapat dikodekan dengan kode 99.25 dalam Klasifikasi Internasional Penyakit, Revisi Kesembilan, Modifikasi Klinis (ICD-9-CM).
- Kode 99.25 mencakup pemberian obat-obatan yang berfungsi untuk mengurangi rasa nyeri (analgesik) dan menurunkan suhu tubuh (antipiretik).
Dalam praktik klinis, dokter atau perekam medis akan menggunakan kode-kode ini untuk mendokumentasikan diagnosis dan tindakan medis yang dilakukan pada pasien, sehingga dapat digunakan untuk berbagai keperluan, seperti penagihan asuransi, analisis epidemiologi, dan pelaporan data kesehatan. -
Article No. 21069 | 26 Aug 2025
Klinis : pasien lemas, hampir pingsan, badan terasa sakit-sakit, pasien merasa demam namun saat di suhu, suhu normal karena pasien baru meminum paracetamol
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta, dengan tone akademis dan persona sebagai pakar perawat.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi pasien:
Berdasarkan gejala yang Anda deskripsikan, yaitu pasien merasa lemas, hampir pingsan, badan terasa sakit-sakit, dan merasa demam namun suhu tubuh normal setelah mengonsumsi paracetamol, maka diagnosa keperawatan SDKI yang sesuai adalah:
a. Ketidakseimbangan Temperatur Tubuh
Definisi: Ketidakmampuan untuk mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal.
Karakteristik Definisi: Pasien merasa demam namun suhu tubuh normal setelah mengonsumsi obat penurun demam.
b. Perubahan Perfusi Jaringan
Definisi: Perubahan dalam pengiriman oksigen dan nutrisi ke jaringan.
Karakteristik Definisi: Pasien merasa lemas, hampir pingsan, dan badan terasa sakit-sakit.
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
a. Ketidakseimbangan Temperatur Tubuh
- Suhu tubuh dalam batas normal
- Tidak ada keluhan rasa demam
- Pasien dapat mengelola suhu tubuh dengan baik
b. Perubahan Perfusi Jaringan
- Pasien menunjukkan tanda-tanda vital yang stabil
- Tidak ada keluhan lemas atau hampir pingsan
- Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
a. Ketidakseimbangan Temperatur Tubuh
- Pantau suhu tubur pasien secara berkala
- Berikan obat penurun demam sesuai indikasi
- Edukasi pasien tentang pengelolaan suhu tubuh
- Lakukan tindakan penurunan suhu tubuh jika perlu (kompres hangat/dingin)
b. Perubahan Perfusi Jaringan
- Pantau tanda-tanda vital pasien secara berkala
- Berikan cairan intravena jika perlu untuk menjaga hidrasi
- Bantu pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari
- Berikan oksigen jika diperlukan untuk meningkatkan perfusi jaringan
- Edukasi pasien tentang manajemen aktivitas dan istirahat
Dengan penerapan intervensi keperawatan yang tepat, diharapkan pasien dapat mencapai luaran/output yang diharapkan, yaitu stabilnya suhu tubuh, tidak ada keluhan lemas atau hampir pingsan, serta pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik. -
Article No. 21070 | 26 Aug 2025
Klinis : pasien lemas, hampir pingsan, badan terasa sakit-sakit, pasien merasa demam namun saat di suhu, suhu normal karena pasien baru meminum paracetamol
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \rtf1\ansi\ansicpg1252\deff0\nouicompat{\fonttbl{\f0\fnil\fcharset0 Calibri;}}
{\colortbl;\red0\green0\blue0;\red0\green0\blue255;}
{\*\generator Riched20 10.0.22621}\viewkind4\uc1
\pard\sa200\sl276\slmult1\f0\fs22\lang1057
\par \b Berdasarkan data klinis yang disampaikan, berikut adalah diagnosa keperawatan yang relevan beserta penjelasan singkat sesuai standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):\b0
\par
\par \b 1. Diagnosa Keperawatan:\b0 Risiko Ketidakstabilan Suhu Tubuh (SDKI Kode: 00005)
\par \b Penjelasan SDKI:\b0 Diagnosa ini merujuk pada kondisi di mana pasien berisiko mengalami ketidakmampuan mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal. Data subjektif pasien merasa demam meskipun suhu tubuh normal setelah konsumsi parasetamol menunjukkan potensi fluktuasi suhu yang tidak stabil.
\par \b SLKI (Kode: 080901):\b0 Pemantauan Suhu Tubuh - Perawat akan memantau suhu tubuh secara berkala dan mendokumentasikan tren perubahan suhu.
\par \b SIKI (Kode: 0809):\b0 Manajemen Hipertermia - Intervensi termasuk memantau efek farmakologis antipiretik, memastikan hidrasi adekuat, dan memberikan edukasi mengenai manajemen suhu tubuh.
\par
\par \b 2. Diagnosa Keperawatan:\b0 Kelelahan (SDKI Kode: 00093)
\par \b Penjelasan SDKI:\b0 Kondisi ini ditandai dengan perasaan lemas yang mengarah pada hampir pingsan, serta badan terasa sakit-sakit, yang mengindikasikan penurunan kapasitas fisik dan energi untuk melakukan aktivitas.
\par \b SLKI (Kode: 020601):\b0 Manajemen Energi - Perawat akan membantu pasien dalam mengatur aktivitas untuk mengoptimalkan konservasi energi dan mencegah kelelahan berlebih.
\par \b SIKI (Kode: 0206):\b0 Terapi Aktivitas - Intervensi meliputi perencanaan periode istirahat yang cukup, memodifikasi lingkungan untuk mengurangi tuntutan energi, dan memantau respons fisiologis terhadap aktivitas.
\par
\par \b 3. Diagnosa Keperawatan:\b0 Nyeri Akut (SDKI Kode: 00132)
\par \b Penjelasan SDKI:\b0 Pasien melaporkan badan terasa sakit-sakit, yang mengindikasikan pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial.
\par \b SLKI (Kode: 140101):\b0 Pengendalian Nyeri - Perawat akan melakukan assessment karakteristik nyeri dan respons pasien terhadap intervensi nyeri.
\par \b SIKI (Kode: 1401):\b0 Manajemen Nyeri - Intervensi termasuk pemberian analgesik sesuai indikasi, teknik non-farmakologis (seperti reposisi), dan evaluasi efektivitas penatalaksanaan nyeri.
\par
\par \b Catatan Klinis:\b0 Penting untuk melakukan assessment lebih lanjut mengenai etiologi dasar dari gejala yang muncul (misalnya infeksi, inflamasi, atau penyebab lainnya) dan mempertimbangkan interaksi antara ketiga diagnosa tersebut dalam perencanaan asuhan keperawatan yang komprehensif.
\par
\par }