Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 22748 | 13 Nov 2025
Klinis : Pasien mengatakan Merasa pusing dan berat terutama di bagian leher belakang
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau menggambarkan kondisi kerusakan tersebut (Asosiasi Internasional untuk Studi Nyeri); tiba-tiba atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat dengan durasi kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI untuk diagnosa keperawatan "Nyeri Akut" (D.0006) berfokus pada upaya untuk mengontrol dan mengurangi pengalaman nyeri pasien. Tujuannya adalah memastikan bahwa tingkat kenyamanan pasien meningkat secara signifikan. Serangkaian intervensi yang direncanakan meliputi: pertama, melakukan penilaian nyeri yang komprehensif dan berkelanjutan dengan menggunakan skala nyeri yang terstandarisasi (seperti skala 0-10, wajah, atau deskriptif) untuk menentukan karakteristik, lokasi, intensitas, dan faktor yang memperingan atau memperberat nyeri. Kedua, memantau tanda-tanda vital dan respons fisiologis serta perilaku terhadap nyeri, seperti peningkatan denyut nadi, tekanan darah, pernapasan, gelisah, atau ekspresi wajah menahan sakit. Ketiga, mengajarkan dan mendorong pasien untuk menggunakan teknik non-farmakologis dalam mengatasi nyeri, seperti distraksi (misalnya, mendengarkan musik, pernapasan dalam), relaksasi, imajinasi terbimbing, atau kompres hangat/dingin pada area yang nyeri (dalam hal ini, leher belakang). Keempat, berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesik sesuai resep, memastikan pemberian yang tepat waktu, serta memantau efektivitas dan efek samping obat. Kelima, menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk mendukung istirahat pasien, karena kelelahan dapat memperberat persepsi nyeri. Keenam, melakukan reposisi pasien secara berkala dengan teknik yang benar untuk mengurangi ketegangan pada otot leher dan punggung. Terakhir, mendidik pasien dan keluarga tentang rencana penatalaksanaan nyeri dan pentingnya melaporkan nyeri sedini mungkin, bukan menahannya. Semua tindakan ini diarahkan untuk mencapai kriteria hasil dimana pasien melaporkan penurunan skala nyeri, mampu beristirahat dengan nyaman, dan menunjukkan tanda-tanda vital yang stabil.
Kode SIKI: I.08079
Deskripsi : SIKI untuk diagnosa "Nyeri Akut" (D.0006) terdiri dari serangkaian tindakan mandiri perawat yang spesifik dan terukur. Tindakan-tindakan ini adalah: 1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif meliputi P (Provokasi/pemicu), Q (Quality/kualitas), R (Region/daerah, Radiation/penyebaran), S (Severity/keparahan), T (Time/waktu), dengan menggunakan skala nyeri yang sesuai. 2. Observasi tanda dan gejala non-verbal yang mengindikasikan nyeri, seperti perubahan pola tidur, nafsu makan, gelisah, postur tubuh melindungi area tertentu (misalnya, kaku pada leher), atau ekspresi wajah kesakitan. 3. Kaji faktor-faktor yang memperberat dan meringankan keluhan nyeri yang dialami pasien. 4. Ajarkan teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri, seperti relaksasi napas dalam, distraksi dengan melakukan aktivitas yang disukai, atau imajinasi terbimbing. 5. Lakukan manajemen lingkungan untuk menciptakan suasana yang tenang, redupkan lampu jika perlu, dan batasi pengunjung untuk meningkatkan kenyamanan. 6. Bantu pasien dalam melakukan mobilisasi atau perubahan posisi dengan teknik yang benar untuk mencegah ketegangan otot tambahan, misalnya dengan mengatur bantal untuk menyangga leher dan kepala. 7. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi farmakologis (analgesik) sesuai resep dokter, dan evaluasi respons pasien terhadap terapi tersebut. 8. Berikan kompres hangat pada area leher belakang jika tidak ada kontraindikasi, karena panas dapat membantu merelaksasi otot yang tegang dan meningkatkan aliran darah. 9. Anjurkan teknik relaksasi otot progresif khususnya pada area bahu dan leher. 10. Lakukan pendokumentasian yang akurat mengenai karakteristik nyeri, intervensi yang diberikan, dan respons pasien terhadap intervensi tersebut. Tindakan-tindakan ini bersifat dinamis dan dapat disesuaikan dengan respons dan kebutuhan individu pasien, dengan tujuan akhir memutus siklus nyeri dan meningkatkan kualitas hidup pasien selama mengalami ketidaknyamanan.
-
Article No. 22750 | 13 Nov 2025
Klinis : gangguan pertukaran gas
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode ICD-10: J96.0
Deskripsi Singkat : Gangguan pertukaran gas adalah kondisi kegagalan pernapasan akut yang ditandai dengan ketidakmampuan sistem pernapasan untuk mempertahankan pertukaran oksigen dan karbon dioksida yang adekuat di tingkat alveolus paru-paru. Hal ini mengakibatkan hipoksemia (kadar oksigen dalam darah rendah) yang signifikan, sering kali tanpa disertai hiperkapnia (penumpukan karbon dioksida) pada tahap awal. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk pneumonia, sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS), edema paru, emboli paru, atau trauma dada. Kode ICD-10 J96.0 secara spesifik mengklasifikasikan "Gangguan pernapasan akut" yang intinya adalah kegagalan pertukaran gas ini. Kode ini berada dalam bab 'Penyakit pada sistem pernapasan' dan subkategori 'Gangguan pernapasan lainnya'. Penggunaan kode ini memerlukan dokumentasi klinis yang jelas mengenai kegagalan pernapasan akut yang berhubungan dengan hipoksemia. Dalam praktik pengkodean, kode ini sering digunakan bersamaan dengan kode untuk kondisi yang mendasarinya (misalnya, pneumonia atau sepsis) yang menyebabkan gangguan pertukaran gas tersebut, memberikan gambaran klinis yang lengkap kepada pihak pembayar dan untuk keperluan data kesehatan masyarakat.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 22751 | 13 Nov 2025
Klinis : gangguan pertukaran gas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: 3201
Deskripsi : Peningkatan pertukaran gas. Kriteria hasil: 1) Pernapasan dalam rentang normal. 2) Irama pernapasan reguler. 3) Bunyi napas bersih. 4) Tidak ada sianosis. 5) Tidak ada dispnea. 6) Tidak ada ortopnea. 7) Tidak ada takipnea. 8) Tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan. 9) Nilai analisis gas darah dalam rentang normal. 10) Saturasi oksigen dalam rentang normal. 11) Tekanan parsial oksigen (PaO2) dalam rentang normal. 12) Tekanan parsial karbondioksida (PaCO2) dalam rentang normal. 13) Status mental dalam rentang normal. 14) Tidak ada gelisah. 15) Tidak ada letargi. 16) Tidak ada kelelahan.
Kode SIKI: 4201
Deskripsi : Manajemen jalan napas. Tindakan keperawatan: 1) Buka jalan napas dengan teknik head tilt-chin lift atau jaw thrust. 2) Posisikan untuk memaksimalkan ventilasi (mis., posisi semi fowler/fowler, tripod). 3) Lakukan fisioterapi dada jika diperlukan. 4) Lakukan penghisapan lendir (suction) jalan napas. 5) Lakukan latihan napas dalam. 6) Lakukan batuk efektif. 7) Lakukan spirometri insentif. 8) Kelola kebutuhan oksigen sesuai program terapeutik. 9) Berikan oksigen sesuai program terapeutik. 10) Pantau pemberian oksigen. 11) Pantau status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya pernapasan). 12) Auskultasi bunyi napas. 13) Pantau tanda-tanda vital. 14) Pantau status hemodinamik. 15) Pantau warna kulit dan membran mukosa. 16) Pantau produksi sputum (jumlah, warna, konsistensi). 17) Pantau analisis gas darah. 18) Pantau saturasi oksigen. 19) Pantau status mental. 20) Kolaborasi pemberian bronkodilator sesuai indikasi. 21) Kolaborasi pemberian obat mukolitik sesuai indikasi. 22) Kolaborasi pemberian terapi inhalasi sesuai indikasi. 23) Kolaborasi pemberian ventilasi mekanik sesuai indikasi. 24) Ajarkan cara menghemat energi. 25) Ajarkan teknik relaksasi.
-
Article No. 22752 | 13 Nov 2025
Klinis : gangguan pertukaran gas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: 0006
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran gas adalah suatu kondisi di mana terjadi ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan oksigen pada tingkat alveolus-kapiler, yang mengakibatkan penurunan kadar oksigen dalam darah (hipoksemia) dan/atau peningkatan kadar karbon dioksida (hiperkapnia). Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk gangguan pada membran alveolus-kapiler (seperti pada edema paru atau pneumonia), ketidakseimbangan ventilasi-perfusi (V/Q mismatch), atau shunt anatomi. Manifestasi klinis yang sering muncul meliputi sesak napas (dispnea), sianosis (warna kebiruan pada kulit dan membran mukosa), gelisah, penurunan kesadaran, takipnea (pernapasan cepat), dan takikardia (denyut jantung cepat). Diagnosa ini menekankan pada ketidakmampuan tubuh untuk mempertahankan pertukaran gas yang adekuat, yang merupakan fungsi vital untuk metabolisme seluler. Gangguan ini dapat bersifat akut, seperti pada sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS), atau kronis, seperti pada penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi adanya defisit dalam proses pertukaran gas sehingga intervensi keperawatan yang tepat dapat direncanakan dan dilaksanakan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut seperti kerusakan organ akibat hipoksia.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : SLKI 0401 berfokus pada pemantauan status pernapasan dan oksigenasi untuk mendeteksi secara dini setiap perubahan atau deteriorasi. Tujuannya adalah memastikan bahwa pertukaran gas dapat dipertahankan atau ditingkatkan ke tingkat yang optimal. Intervensi ini melibatkan pengkajian yang komprehensif dan berkelanjutan. Pertama, perawat akan memantau frekuensi, irama, dan kedalaman pernapasan, serta penggunaan otot bantu pernapasan, yang dapat mengindikasikan peningkatan kerja napas. Pemantauan tanda-tanda vital, termasuk denyut nadi dan saturasi oksigen (SpO2) menggunakan pulse oksimeter, dilakukan secara rutin. Auskultasi suara napas sangat kritis untuk mengidentifikasi adanya suara tambahan seperti ronki, wheezing, atau penurunan suara napas yang dapat mengindikasikan adanya cairan, sekret, atau bronkospasme. Perawat juga mengobservasi warna kulit dan membran mukosa untuk mendeteksi sianosis, serta status mental pasien karena hipoksia dapat menyebabkan gelisah, kebingungan, atau penurunan kesadaran. Pemeriksaan analisis gas darah (AGD) dipantau untuk menilai secara objektif kadar oksigen (PaO2), karbon dioksida (PaCO2), pH, dan bikarbonat. Selain itu, pemantauan respons pasien terhadap terapi oksigen dan intervensi lainnya sangat penting untuk mengevaluasi efektivitas penatalaksanaan. Dokumentasi yang akurat dan detail dari semua temuan ini memungkinkan penyesuaian rencana perawatan yang cepat dan tepat.
Kode SIKI: 4201
Deskripsi : SIKI 4201 adalah intervensi pemberian terapi oksigen, yang merupakan tindakan mendasar dan esensial dalam menangani gangguan pertukaran gas. Tujuannya adalah untuk meningkatkan konsentrasi oksigen yang diinspirasi, sehingga meningkatkan tekanan parsial oksigen dalam alveoli (PAO2) dan pada akhirnya meningkatkan saturasi oksigen hemoglobin dalam darah (SaO2). Intervensi ini dimulai dengan penilaian kebutuhan oksigen berdasarkan kondisi klinis pasien dan hasil pemeriksaan seperti saturasi oksigen dan analisis gas darah. Perawat memilih dan mempersiapkan alat pemberian oksigen yang sesuai dengan kebutuhan pasien, mulai dari kanul nasal (untuk aliran rendah), masker sederhana, masker venturi (untuk konsentrasi oksigen yang lebih tepat), hingga masker non-rebreathing dengan reservoir bag untuk kebutuhan oksigen konsentrasi tinggi. Perawat harus memastikan bahwa alat berfungsi dengan baik dan sambungannya aman. Selama pemberian, laju aliran (flow rate) oksigen ditetapkan dan dipantau sesuai resep dokter, sambil terus memantau respons pasien. Kelembaban oksigen perlu dipertimbangkan terutama untuk pemberian jangka panjang untuk mencegah kekeringan pada saluran napas. Keselamatan adalah prioritas utama; perawat harus memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang larangan merokok di area pemberian oksigen karena risiko kebakaran. Perawat juga memantau efektivitas terapi dengan mengevaluasi perbaikan saturasi oksigen, penurunan sesak napas, dan perbaikan tanda-tanda klinis lainnya. Selain itu, perawat harus waspada terhadap potensi komplikasi seperti depresi pernapasan pada pasien dengan retensi karbon dioksida (misalnya pada PPOK) yang memerlukan oksigen dengan konsentrasi terkontrol. Tindakan ini memerlukan keterampilan teknis dan penilaian klinis yang tajam untuk memastikan terapi yang aman dan efektif.
-
Article No. 22753 | 13 Nov 2025
Klinis : gangguan pertukaran gas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran gas adalah suatu kondisi di mana terjadi ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan oksigen pada tingkat alveolus-kapiler membran, yang mengakibatkan ketidakefektifan pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk gangguan pada membran alveolus-kapiler (seperti pada edema paru, pneumonia, atau sindrom gangguan pernapasan akut/ARDS), ketidakseimbangan ventilasi-perfusi (V/Q mismatch), atau penurunan luas permukaan difusi. Manifestasi klinis yang sering muncul meliputi sesak napas (dispnea), hipoksemia (penurunan kadar oksigen dalam darah), sianosis (warna kebiruan pada kulit dan membran mukosa), takipnea (pernapasan cepat), gelisah, penurunan kesadaran, dan penggunaan otot bantu pernapasan. Diagnosa ini berfokus pada ketidakmampuan tubuh untuk mempertahankan pertukaran gas yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan. Tujuan utama dari perawatan keperawatan adalah untuk mengoptimalkan oksigenasi, meminimalkan kerja pernapasan, dan mencegah komplikasi lebih lanjut seperti gagal napas.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : SLKI 0401 berfokus pada upaya untuk meningkatkan status pernapasan dan mempertahankan pertukaran gas yang optimal. Intervensi ini melibatkan serangkaian tindakan yang komprehensif dan berkelanjutan. Pertama, memantau frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha pernapasan secara ketat dan berkala untuk mendeteksi perubahan awal yang mengindikasikan memburuknya kondisi. Kedua, memposisikan pasien dalam posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi untuk memaksimalkan ekspansi dada dan memudahkan pernapasan, serta mempertimbangkan posisi pronasi jika diindikasikan untuk meningkatkan oksigenasi pada kondisi tertentu seperti ARDS. Ketiga, memberikan terapi oksigen sesuai resep dan memantau efektivitasnya melalui pemantauan saturasi oksigen (SpO2) dan analisis gas darah arteri, sambil memastikan kelembaban oksigen yang diberikan agar tidak mengiritasi saluran napas. Keempat, mendorong dan membimbing pasien untuk melakukan latihan napas dalam dan batuk efektif guna mencegah atelektasis dan membersihkan sekret. Kelima, melakukan fisioterapi dada seperti perkusi, vibrasi, dan postural drainage jika terdapat sekret yang berlebihan. Keenam, mempertahankan kebersihan jalan napas dengan suction jika pasien tidak mampu membersihkan sekret sendiri. Ketujuh, memastikan hidrasi yang adekuat untuk mengencerkan sekret, namun membatasi cairan jika terdapat edema paru. Kedelapan, memantau status hemodinamik dan keseimbangan cairan karena berkaitan langsung dengan pertukaran gas. Kesembilan, memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang teknik pernapasan, pentingnya pengobatan, dan tanda-tanda memburuknya kondisi yang harus dilaporkan. Kesepuluh, kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian bronkodilator, kortikosteroid, atau terapi nebulizer sesuai kebutuhan, serta mempersiapkan dan membantu prosedur intubasi dan ventilasi mekanik jika diperlukan.
Kode SIKI: 3401
Deskripsi : SIKI 3401 bertujuan untuk mengevaluasi keberhasilan intervensi keperawatan dengan mengukur kriteria hasil yang spesifik dan terukur. Kriteria hasil yang diharapkan adalah sebagai berikut: Pertama, pasien menunjukkan perbaikan dalam pertukaran gas yang dibuktikan dengan nilai analisis gas darah arteri dalam rentang normal atau mendekati normal untuk pasien (misalnya, PaO2 > 80 mmHg, PaCO2 35-45 mmHg, pH 7.35-7.45, saturasi oksigen > 95%). Kedua, pasien tidak menunjukkan tanda-tanda distress pernapasan, seperti sesak napas (dispnea) saat istirahat atau aktivitas ringan, penggunaan otot bantu pernapasan, retraksi interkostal, atau cuping hidung. Ketiga, bunyi napas pasien bersih, jernih, dan terdengar sama (simetris) di kedua lapang paru tanpa adanya suara tambahan seperti ronki, wheezing, atau stridor yang mengindikasikan obstruksi atau konsolidasi. Keempat, pasien mampu mempertahankan jalan napas yang paten secara mandiri atau dengan bantuan minimal, ditandai dengan batuk efektif yang dapat mengeluarkan sekret dan tidak ada akumulasi sekret yang menyumbat. Kelima, frekuensi pernapasan pasien berada dalam rentang normal yang sesuai dengan usianya (misalnya, 12-20 kali per menit untuk dewasa) dan irama pernapasan teratur. Keenam, status mental dan tingkat kesadaran pasien membaik atau tetap alert dan oriented, tidak terdapat gelisah, cemas, atau letargi yang dapat menjadi tanda hipoksia. Ketujuh, warna kulit dan membran mukosa pasien normal, tidak pucat atau sianotik (kebiruan). Kedelapan, pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara bertahap tanpa mengalami sesak napas yang signifikan, menunjukkan peningkatan toleransi aktivitas. Kriteria ini dievaluasi secara berkelanjutan untuk menentukan efektivitas rencana asuhan keperawatan dan kebutuhan untuk modifikasi intervensi.
-
Article No. 22754 | 13 Nov 2025
Klinis : ansietas b.d krisis situasional d.d pasien tampak gelisah, tegang, dan mengatakan takut menghadapi operasi lagi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ansietas b.d krisis situasional d.d pasien tampak gelisah, tegang, dan mengatakan takut menghadapi operasi lagi
Kode SDKI: A0015
Deskripsi Singkat: Ansietas adalah keadaan individu yang mengalami perasaan gelisah (suatu kekhawatiran yang tidak jelas atau ketakutan yang disertai gejala otonom) sebagai respons terhadap suatu ancaman yang tidak spesifik atau samar-samar.
Kode SLKI: L19048
Deskripsi : Tercapainya penurunan tingkat ansietas ditandai dengan pasien mampu mengidentifikasi tanda dan gejala ansietas, mengungkapkan perasaan ansietas secara verbal, mengidentifikasi mekanisme koping yang efektif, menunjukkan teknik relaksasi untuk menurunkan ansietas, melaporkan penurunan perasaan tegang dan takut, serta menunjukkan penampilan yang tenang dan mampu beristirahat dengan cukup. Perawat akan memantau tanda-tanda fisiologis dan perilaku ansietas, mendengarkan dengan penuh perhatian ekspresi perasaan pasien, menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman, mendorong pasien untuk mengungkapkan ketakutan dan kecemasannya, mengajarkan teknik relaksasi seperti napas dalam dan distraksi, serta melibatkan keluarga dalam memberikan dukungan emosional. Intervensi ini bertujuan untuk membantu pasien mengembangkan koping yang adaptif dalam menghadapi situasi yang penuh tekanan, yaitu prosedur operasi.
Kode SIKI: I01279
Deskripsi : Manajemen Ansietas adalah tindakan keperawatan untuk meminimalkan atau mengurangi ansietas. Tindakan ini meliputi pendekatan terapeutik yang komprehensif. Pertama, perawat membina hubungan saling percaya dengan pasien, memperkenalkan diri, dan menggunakan komunikasi terbuka. Kedua, perawat mengkaji tingkat ansietas pasien (ringan, sedang, berat, atau panik) berdasarkan tanda-tanda subjektif dan objektif seperti gelisah, tegang, takikardia, dan keluhan takut. Ketiga, perawat mendorong pasien untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran secara verbal tentang ketakutannya terhadap operasi, memberikan validasi bahwa perasaan tersebut wajar. Keempat, perawat memberikan informasi yang akurat dan jujur tentang prosedur operasi, proses pra-bedah, dan apa yang diharapkan pasca-operasi untuk mengurangi ketakutan akan hal yang tidak diketahui. Kelima, perawat mengajarkan dan mendemonstrasikan teknik relaksasi, seperti latihan napas dalam dan progresif muscle relaxation, serta teknik distraksi seperti mendengarkan musik atau membayangkan hal yang menyenangkan. Keenam, perawat memfasilitasi dukungan spiritual jika pasien menghendaki, seperti berdoa atau meditasi. Ketujuh, perawat memodifikasi lingkungan untuk mengurangi stimulasi yang tidak perlu, seperti mengurangi kebisingan dan memastikan privasi. Kedelapan, perawat melibatkan keluarga untuk memberikan dukungan emosional dan kehadiran yang menenangkan. Kesembilan, perawat memantau efektivitas intervensi dan mengevaluasi penurunan tanda-tanda ansietas. Seluruh tindakan ini dilakukan dengan penuh empati, kesabaran, dan profesionalisme untuk memberdayakan pasien dalam mengelola perasaannya dan menghadapi situasi krisis dengan lebih baik.
-
Article No. 22755 | 13 Nov 2025
Klinis : 1. Anak laki-laki usia 4 tahun dirawat di ruang rawat anak dengan fraktur tibia dextra, ibu mengatakan anaknya sering menangis karena nyeri pada bagian kakinya yang sudah di operasi. Hasil pemeriksaan suhu 37,4 C, nadi 110x/menit, frekuensi napas 23x/menit, skala nyeri 5.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0718
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau berlangsung secara tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berakhir dalam waktu 3 bulan.
Kode SLKI: 0740
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Tindakan keperawatan untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri. Tindakan ini mencakup penilaian nyeri yang komprehensif menggunakan skala yang sesuai (seperti Wong-Baker FACES untuk anak), pemberian analgesik sesuai resep dokter (misalnya parasetamol atau ibuprofen), serta penerapan intervensi non-farmakologis. Intervensi non-farmakologis meliputi teknik distraksi seperti membacakan cerita, menonton film kartun, atau bermain game sederhana yang tidak melibatkan pergerakan kaki. Teknik relaksasi seperti napas dalam dan sentuhan terapeutik juga dapat diterapkan. Selain itu, perawat akan memposisikan pasien dengan nyaman untuk mengurangi ketegangan pada area yang nyeri, misalnya dengan menyangga kaki yang fraktur menggunakan bantal. Pemantauan efektivitas intervensi dan evaluasi tingkat nyeri secara berkala merupakan bagian integral dari manajemen nyeri ini untuk memastikan kenyamanan pasien.
Kode SIKI: 0739
Deskripsi : Pemantauan Nyeri: Pengumpulan sistematis dan berkelanjutan tentang data dan informasi terkait nyeri untuk menentukan status nyeri klien dan kebutuhan tindakan selanjutnya. Tindakan ini dimulai dengan menilai karakteristik nyeri, termasuk lokasi (tibia dextra), kualitas, intensitas (menggunakan skala nyeri numerik atau wajah seperti Wong-Baker FACES yang sesuai untuk anak 4 tahun), durasi, dan faktor yang memperberat atau meringankan. Pada pasien anak, pengkajian juga melibatkan observasi perilaku seperti ekspresi wajah, tangisan, postur tubuh, dan kemampuan untuk dihibur. Perawat akan mendokumentasikan skala nyeri (dalam kasus ini 5) sebelum dan setelah intervensi untuk mengevaluasi efektivitas terapi. Pemantauan tanda-tanda vital (seperti nadi 110x/menit yang dapat meningkat akibat nyeri) dan respons nonverbal terhadap nyeri juga sangat penting, terutama pada anak yang mungkin kesulitan mengungkapkan perasaannya secara verbal. Data ini digunakan untuk menyesuaikan rencana asuhan keperawatan dan berkolaborasi dengan tim kesehatan lain jika nyeri tidak terkontrol.
-
Article No. 22756 | 13 Nov 2025
Klinis : Seorang anak perempuan usia 7 tahun, dibawa oleh ibunya ke RS dengan keluhan badan panas sudah 3 hari tidak turun. Saat dilakukan pemeriksaaan, badan teraba panas, Suhu tubuh 38,7 oC, Nadi 80 x/menit, uji tourniquet petekie (+), konjungtiva ananemis, hasil laboratorium Hb 11,8 gr%, Ht : 40 %, trombosit 100 rb/μL, Leukosit 8,97 rb/μL. Diagnosa medis Dengue Haemoragic Fever.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: 0012
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal untuk individu yang berisiko atau mengalami komplikasi. Kondisi ini ditandai dengan suhu tubuh di atas rentang normal, kulit kemerahan atau hangat, peningkatan frekuensi pernapasan, takikardia, dan kejang. Pada kasus pasien anak dengan Demam Berdarah Dengue (DBD), hipertermia merupakan manifestasi utama dari infeksi virus dengue. Suhu tubuh 38,7°C yang dialami pasien jelas berada di atas rentang normal dan berlangsung selama 3 hari, menunjukkan respon inflamasi sistemik yang signifikan. Hipertermia pada DBD bukan hanya sekadar gejala, tetapi merupakan bagian dari patofisiologi penyakit yang dapat memperburuk kondisi, seperti meningkatkan risiko kebocoran plasma dan dehidrasi. Tubuh berusaha melawan virus dengan memproduksi pirogen endogen yang 'mengatur ulang' termostat di hipotalamus, sehingga tubuh merasa kedinginan dan berusaha menghasilkan panas melalui mekanisme menggigil dan vasokonstriksi pembuluh darah perifer. Pada anak-anak, respon demam bisa lebih dramatis dan berisiko menimbulkan kejang demam. Oleh karena itu, manajemen hipertermia pada DBD harus hati-hati, menghindari obat antiinflamasi nonsteroid (seperti ibuprofen atau aspirin) yang dapat meningkatkan risiko perdarahan, dan lebih mengutamakan terapi fisik serta parasetamol sesuai dosis. Defisit pengetahuan orang tua tentang penanganan demam di rumah juga sering menjadi faktor yang memperberat kondisi anak sebelum dibawa ke rumah sakit.
Kode SLKI: 0912
Deskripsi : Manajemen Hipertermia. Intervensi keperawatan ini bertujuan untuk mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal yang diharapkan. Pada pasien anak dengan DBD, implementasi SLKI ini meliputi beberapa tindakan kritis. Pertama, memantau suhu tubuh secara teratur, minimal setiap 4 jam atau lebih sering jika suhu sangat tinggi, untuk menilai tren dan efektivitas intervensi. Kedua, melakukan tindakan pendinginan secara fisik, seperti kompres hangat (bukan air dingin atau es) di daerah lipatan tubuh seperti ketiak dan lipat paha, serta memastikan sirkulasi udara ruangan yang baik. Kompres hangat membantu pusat pengatur suhu di hipotalamus menyesuaikan diri tanpa menyebabkan menggigil yang justru meningkatkan produksi panas. Ketiga, memberikan terapi farmakologis antipiretik (biasanya parasetamol) sesuai program medis dan dosis berat badan, dengan ketat memantau interval pemberian untuk menghindari overdosis dan toksisitas hati. Keempat, mendorong asupan cairan oral yang adekuat (air putih, jus, atau oralit) untuk mencegah dehidrasi yang diperparah oleh penguapan melalui keringat dan hiperventilasi. Kelima, mempertahankan kebutuhan nutrisi dengan memberikan makanan lunak dan mudah dicerna, karena metabolisme tubuh meningkat selama demam. Keenam, memantau tanda-tanda komplikasi seperti kejang, penurunan kesadaran, atau dehidrasi berat. Selain itu, edukasi kepada orang tua tentang tata laksana demam di rumah, tanda bahaya yang harus diwaspadai, dan pentingnya pemenuhan cairan merupakan bagian integral dari manajemen ini. Tindakan ini harus dilakukan secara holistik sambil terus memantau tanda-tanda perdarahan atau kebocoran plasma yang merupakan komplikasi utama DBD.
Kode SIKI: I.09270
Deskripsi : Memantau Suhu Tubuh. Ini adalah tindakan spesifik dan terukur dari SLKI Manajemen Hipertermia. Pada konteks pasien DBD anak, pemantauan suhu tubuh bukan hanya sekadar mengukur angka, tetapi sebuah proses pengkajian yang komprehensif. Pertama, perawat memilih termometer yang tepat (aksila, timpani, atau temporal, hindari rektal karena risiko perdarahan pada trombositopenia). Pengukuran dilakukan dengan teknik yang benar untuk memastikan akurasi. Kedua, frekuensi pemantauan disesuaikan dengan kondisi pasien; dalam fase kritis DBD, pemantauan bisa dilakukan setiap 2-3 jam. Data suhu dicatat secara akurat dalam lembar pengawasan untuk melihat pola demam, yang dapat memberikan petunjuk klinis. Ketiga, pemantauan tidak hanya pada angka suhu, tetapi juga pada tanda dan gejala yang menyertai, seperti menggigil (yang menandakan fase kenaikan suhu), kulit kemerahan atau pucat, berkeringat (yang menandakan fase penurunan suhu), serta perubahan status mental seperti gelisah atau lemas. Keempat, perawat juga memantau respons terhadap terapi antipiretik dan pendinginan fisik, mencatat berapa derajat penurunan suhu dan berapa lama efeknya bertahan. Kelima, hasil pemantauan ini harus segera dikomunikasikan kepada tim medis, terutama jika terjadi hiperpireksia (suhu >40°C) atau jika demam tidak respons terhadap terapi, karena dapat mengindikasikan komplikasi atau infeksi sekunder. Tindakan ini sangat vital karena suhu tubuh adalah parameter utama untuk menilai perkembangan penyakit dan keefektifan intervensi yang dilakukan, sekaligus menjadi data objektif untuk mengevaluasi rencana keperawatan dan medis.
-
Article No. 22757 | 13 Nov 2025
Klinis : pasien pemeberian produk darah krna hb rendah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan dan Komplikasi terkait Transfusi Darah
Kode SDKI: 0012
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SLKI: 4417
Deskripsi : Manajemen Transfusi Daru
Kode SIKI: 4417A
Deskripsi : Monitor tanda dan gejala reaksi transfusi
Kondisi: Risiko Infeksi dan Gangguan Integritas Jaringan
Kode SDKI: 0020
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 1930
Deskripsi : Manajemen Infeksi
Kode SIKI: 1930A
Deskripsi : Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan
Kondisi: Ansietas terkait Prosedur Transfusi Darah
Kode SDKI: 0019
Deskripsi Singkat: Ansietas
Kode SLKI: 5400
Deskripsi : Manajemen Ansietas
Kode SIKI: 5400A
Deskripsi : Identifikasi tingkat ansietas
-
Article No. 22724 | 12 Nov 2025
Klinis : “Risiko kerusakan hati lanjut” terkait infeksi virus hepatitis.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Kerusakan Hati Lanjut
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Risiko Kerusakan Hati Lanjut adalah keadaan di mana seorang individu memiliki kerentanan terhadap perkembangan deteriorasi fungsi hati yang dapat mengarah pada sirosis, gagal hati, atau karsinoma hepatoseluler, yang dapat membahayakan kesehatan. Diagnosa ini sangat relevan dalam konteks infeksi virus hepatitis, di mana respons inflamasi kronis terhadap virus secara terus-menerus merusak sel-sel hati (hepatosit). Kerusakan ini, jika tidak dikendalikan, akan menyebabkan akumulasi jaringan parut (fibrosis) yang menggantikan jaringan hati yang sehat, sehingga mengganggu kemampuan hati untuk melakukan fungsi vitalnya. Fungsi-fungsi ini termasuk detoksifikasi darah, produksi protein penting seperti albumin dan faktor pembekuan, penyimpanan glikogen untuk energi, dan metabolisme bilirubin. Risiko ini dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti jenis virus hepatitis (dengan Hepatitis B dan C cenderung kronis), durasi infeksi, kepatuhan terhadap pengobatan antivirus, gaya hidup (seperti konsumsi alkohol yang memperberat kerusakan), dan adanya komorbiditas seperti obesitas atau diabetes. Tujuan utama keperawatan adalah untuk mencegah atau memperlambat progresi kerusakan hati melalui pendidikan kesehatan, pemantauan ketat, dan promosi perilaku sehat, sehingga mempertahankan kualitas hidup pasien dan mencegah komplikasi yang mengancam jiwa.
Kode SLKI: 2416
Deskripsi : SLKI 2416 berfokus pada upaya untuk mempertahankan atau meningkatkan fungsi hati. Intervensi keperawatan untuk kriteria hasil ini melibatkan pemantauan ketat terhadap tanda-tanda klinis dan biokimia fungsi hati. Perawat akan mengobservasi pasien untuk mendeteksi gejala seperti jaundice (kuning pada kulit dan mata), urin berwarna gelap seperti teh, feses pucat, kelelahan ekstrem, mual, muntah, nyeri pada kuadran kanan atas abdomen, serta akumulasi cairan di perut (asites) atau edema di tungkai. Pemantauan laboratorium yang teratur sangat penting, termasuk kadar enzim hati (ALT, AST), bilirubin, albumin, dan waktu protrombin (INR) untuk menilai kemampuan sintesis protein dan pembekuan darah. Perawat juga akan mendidik pasien dan keluarga tentang pentingnya menghindari substansi yang bersifat hepatotoksik, terutama alkohol dan obat-obatan tertentu yang dapat dimetabolisme oleh hati (seperti parasetamol dosis tinggi atau beberapa jenis obat herbal). Pendidikan mengenai pentingnya nutrisi seimbang juga diberikan, menekankan diet tinggi kalori dan protein (kecuali jika ada ensefalopati hepatikum) serta rendah lemak jenuh. Perawat akan mendorong istirahat yang cukup untuk menghemat energi dan memfasilitasi regenerasi sel hati. Selain itu, perawat memastikan kepatuhan pasien terhadap regimen pengobatan antivirus yang diresepkan, karena terapi ini adalah kunci dalam menekan replikasi virus dan mengurangi peradangan hati. Dukungan emosional dan psikososial juga merupakan bagian integral untuk membantu pasien mengatasi kecemasan dan ketakutan akan penyakit kronisnya.
Kode SIKI: 4250
Deskripsi : SIKI 4250 adalah intervensi keperawatan spesifik yang ditujukan untuk meminimalkan cedera atau kerusakan pada sel-sel hati. Tindakan ini bersifat protektif dan preventif. Langkah pertama adalah melakukan pengkajian yang komprehensif untuk mengidentifikasi faktor risiko spesifik yang dapat memperburuk kondisi hati pasien, seperti kebiasaan mengonsumsi alkohol, penggunaan obat-obatan bebas, atau paparan terhadap bahan kimia industri. Berdasarkan pengkajian ini, perawat kemudian merancang dan melaksanakan program pendidikan kesehatan yang terstruktur. Pendidikan ini mencakup penjelasan mendetail tentang penyakit hepatitis, proses perjalanan penyakit dari hepatitis kronis menuju sirosis, dan pentingnya modifikasi gaya hidup. Perawat akan secara aktif menasihati pasien untuk berhenti total mengonsumsi alkohol dan memberikan informasi tentang sumber daya untuk berhenti merokok jika diperlukan. Perawat juga mengajarkan pasien untuk selalu berkonsultasi dengan dokter atau apoteker sebelum mengonsumsi obat apa pun, termasuk suplemen dan obat herbal, untuk mencegah beban metabolisme berlebih pada hati yang sudah rentan. Intervensi lain termasuk memantau asupan nutrisi dan hidrasi, memastikan pasien mengonsumsi diet yang tidak memberatkan hati, serta mendorong aktivitas fisik ringan yang sesuai dengan kondisi untuk mencegah kelemahan otot. Perawat akan bekerja sama dengan tim kesehatan lain, seperti dokter dan ahli gizi, untuk memastikan pendekatan yang holistik. Selain itu, perawat memfasilitasi skrining rutin untuk komplikasi seperti varises esofagus atau karsinoma hepatoseluler sesuai protokol. Dengan menerapkan SIKI ini, perawat berperan sentral dalam membentuk "perisai" bagi hati pasien melalui serangkaian tindakan edukatif, suportif, dan kolaboratif yang bertujuan memutus rantai faktor-faktor yang dapat memicu kerusakan hati lebih lanjut.